Anda di halaman 1dari 2

Konglomerasi Media Ancam Kebebasan Pers

04 Mar 2010
• •

Koran Tempo Nasional

JAKARTA-Praktek konglomerasi di ranah media dinilai mengancam kebebasan pers. Kesimpulan itu disampaikan oleh tiga panelis yang menjadi pembicara dalam diskusi bertajuk "Konglomerasi Media, Ancaman atau Peluang bagi Kebebasan Pers", di gedung Dewan Pers, Jakarta, kemarin. Diskusi ini diselenggarakan oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta dengan menghadirkan tiga panelis Bambang Harymurti (anggota Dewan Pers), Ignatius Haiyanto (Direktur Eksekutif Lembaga Studi Pers dan Pembangunan), dan Abdul Manan (Ketua Federasi Serikat Pekerja Media Independen).Ketua AJI Jakarta, Wahyu Dhyatmika, mengatakan diskusi digelar guna merespons maraknya kasus ketenagakerjaan yang dikelola oleh sejumlah konglomerat perusahaan media."Kasus yang cukup menonjol adalah PHK massal di Berita Kota, Suara Pembaruan, dan Indosiar"katanya. Menurut Ignatius, ancaman praktek konglomerasi media sejatinya telah lama dinyatakan oleh Robert W. McChes-ney, yakni 12 tahun silam. Profesor di Institut Riset Komunikasi, Universitas Illinois, Amerika Serikat, itu menilai konglomerasi di ranah media telah mengancam pelembagaan prinsip demokrasi. Ironisnya, fenomena itu tampaksemakin kukuh. Penyebabnya, udak ada kekuatan lain yang mampu mengimbangi nafsu para konglomerat media untuk menguasai kendali ekonomi-politik.Dampak praktek tersebut adalah terdistorsinya informasi bagi publik. Media massa kerap dijadikan corong penguasa, baik untuk kepentingan ekonomi maupun politik. Konsentrasi kepemilikan media juga kerap memicu maraknya pemutusan hubungan kerja. Dalih yang sering kali dikemukakan adalah masalah efisiensi, konvergensi, dan sinergi. Penyelewengan arus informasi sedianya dapat diimbangi jika pekerja media mampu memperkuat keberadaan serikat pekerja. "Kipi, dari sekitar 3.000 media massa di Tnah Air, jumlah serikat pekerja yang telah dibidani hanya 27.Pendapat anggota Dewan Pers, Bambang Harymurti, pun segendang-sepenarian. Menurut dia, pelembagaan prinsip kebebasan pers hanya mungkin ditegakkan dengan sejumlah prasyarat. Di antaranya, penciptaan iklim persaingan usaha yang sehat, keberadaan media publik yang independen, transparansi kepemilikan, keberimbangan posisi pemilik dan pengelola, pemisahan penyedia infrastruktur dari penyedia content, dan keeragaman pers.

Ringkasan Artikel Ini Diskusi ini diselenggarakan oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta dengan menghadirkan tiga panelis Bambang Harymurti (anggota Dewan Pers), Ignatius Haiyanto (Direktur Eksekutif Lembaga Studi Pers dan Pembangunan), dan Abdul Manan (Ketua Federasi Serikat Pekerja Media Independen).Ketua AJI Jakarta, Wahyu Dhyatmika, mengatakan diskusi digelar guna merespons maraknya kasus ketenagakerjaan yang dikelola

oleh sejumlah konglomerat perusahaan media."Kasus yang cukup menonjol adalah PHK massal di Berita Kota. Suara Pembaruan.co. dan Indosiar"katanya. Sumber : http://bataviase.id/node/117275 .