Anda di halaman 1dari 17

BAB I LAPORAN KASUS

1. Identifikasi Nama Umur Jenis Kelamin Pekerjaan Alamat Agama Bangsa Tanggal berobat Nomor Medrec : Tn. S : 66 tahun : Laki-laki : Pedagang : Ds. Tanjung Agung Banyuasin : Islam : Indonesia : 8 Maret 2012 : 005886

2. Anamnesis (Tanggal 8 Maret 2012) Keluhan Utama Sulit buang air kecil Riwayat Perjalanan Penyakit + 4 bulan SMRS, penderita mengeluh sulit BAK, BAK menetes (+), sering terasa masih bersisa (tidak lampias), BAK sedikit-sedikit, terputus dan pancarannya lemah. Penderita juga sering terbangun malam-malam untuk BAK. BAK darah (-), BAK berpasir (-), demam (-), nyeri pinggang (-), mual (-), muntah (-). + 1 bulan SMRS, penderita mengeluh semakin sulit BAK, sering terasa masih bersisa (+). Penderita lalu berobat ke poli bedah RSUD Banyuasin. Riwayat Penyakit dalam Keluarga Riwayat penyakit yang sama dalam keluarga disangkal.

1

Status Generalis Keadaan umum Kesadaran Tekanan Darah Nadi Pernapasan Suhu Kulit Kepala Pupil Leher Dada Abdomen Genitalia Anal Ekstremitas atas : sakit sedang : compos mentis : 150/80 mmHg : 86 x/menit : 22 x/menit : 36. Status Lokalis Regio CVA Kanan •I Kiri •I •P Regio supra pubis • • I : Bulging (-) P: Nyeri tekan (-) : Bulging (-) : Nyeri ketok (-) : Bulging (-) • P : Nyeri ketok (-) 2 .8 0C : Tidak ada kelainan : Tidak ada kelainan : isokor.3. refleks cahaya +/+ : Tidak ada kelainan : Tidak ada kelainan : Lihat status lokalis : Lihat status lokalis : Tidak ada kelainan : Tidak ada kelainan Ekstremitas bawah : Tidak ada kelainan b. Pemeriksaan Fisik a.

rujuk ke dokter spesialis bedah 8. nyeri tekan (-) 4. Prognosis 3 . konsistensi kenyal.5 mg  Amlodipin 1 x 5 mg  Rencana TUR-P. Penatalaksanaan  Captopril 3 x 12. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan Ultrasonografi (8 Maret 2012) Kesimpulan: pembesaran prostat terutama lobus medialis 5. Diagnosis banding  Hipertensi stage 2 + Benign Prostatic Hyperplasia  Hipertensi stage 2 + Ca Prostat 6. fungsi ginjal Urin rutin 9. Diagnosis kerja Hipertensi stage 2 + Benign Prostatic Hyperplasia 7. Rencana Pemeriksaan Cek DR.Regio Genitalia Eksterna • I : bloody discharge (-) Rectal Toucher : • • • • TSA baik Prostat teraba membesar Bagian atas tidak teraba Nodul (-).

yang menyebabkan prostat membesar. Pertumbuhan kelenjar ini sangat tergantung pada hormon testosteron. Bila mengalami pembesaran. yang di dalam sel-sel kelenjar prostat hormon ini akan dirubah menjadi metabolit aktif (DHT) dengan bantuan enzim 5α – reduktase. 4 . Pembesaran kelenjar prostat mengakibatkan terganggunya aliran urine sehingga menimbulkan gangguan miksi. Keadaan ini dialami oleh 50% pria yang berusia 60 tahun dan kurang lebih 80% pria yang berusia 80 tahun. Kelenjar prostat adalah salah satu organ genitalia pria yang terletak disebelah inferior buli-buli dan membungkus uretra posterior. Bentuknya sebesar buah kenari dengan berat normal pada orang dewasa + 20 gram. Definisi Benign Prostatic Hyperplasia merupakan pertumbuhan jinak pada kelenjar prostat. organ ini membuntu uretra pars prostatika dan menyebabkan terhambatnya aliran urine keluar dari buli-buli. Pada usia lanjut beberapa pria mengalami pembesaran prostat benigna. Dihidrotestosteron inilah yang secara langsung memacu m-RNA di dalam sel-sel kelenjar prostat untuk mensintesis protein growth factor yang memacu pertumbuhan kelenjar prostat.Quo ad vitam Quo ad functionam : bonam : dubia ad bonam BAB II TINJAUAN PUSTAKA 1.

aktivitas enzim 5α-reduktase dan jumlah reseptor androgen lebih banyak pada BPH. Telah diketahui bahwa estrogen di dalam prostat berperan dalam terjadinya proliferasi sel-sel kelenjar prostat dengan cara meningkatkan sensitifitas sel-sel prostat terhadap rangsangan hormon androgen. Pada berbagai penelitian dikatakan bahwa kadar DHT pada BPH tidak jauh berbeda dengan kadarnya pada prostat normal. 5 . kadar testosteron menurun. dan menurunkan jumlah kematian sel-sel prostat (apoptosis). b. Beberapa hipotesis yang diduga sebagai penyebab timbulnya hiperplasia prostat adalah : a. Hasil akhir dari semua keadaan ini adalah. hanya saja pada BPH. Ketidakseimbangan antara estrogen-testosteron Pada usia yang semakin tua. Dibentuk dari testosteron di dalam sel prostat oleh enzim 5α reduktase dengan bantuan koenzim NADPH. tetapi sel-sel prostat yang telah ada mempunyai umur yang lebih panjang sehingga massa prostat jadi lebih besar. meskipun rangsangan terbentuknya sel-sel baru akibat rangsangan testosteron menurun. Organ yang berada disekitar prostat 2. meningkatkan jumlah reseptor androgen.Gambar 3. DHT yang telah terbentuk berikatan dengan reseptor androgen (RA) membentuk kompleks DHT-RA pada inti sel dan selanjutnya terjadi sintesis protein growth factor yang menstimulasi pertumbuhan sel prostat. sedangkan kadar estrogen relatif tetap sehingga perbandingan antara estrogen : testosteron relatif meningkat. Teori Dihidrotestosteron Dihidrotestosteron adalah metabolit androgen yang sangat penting pada pertumbuhan sel-sel kelenjar prostat. Hal ini menyebabkan sel-sel prostat pada BPH lebih sensitif terhadap DHT sehingga replikasi sel lebih banyak terjadi dibandingkan dengan prostat normal. Etiologi Ada beberapa hipotesis menyebutkan bahwa hiperplasia prostat erat kaitannya dengan peningkatan kadar dihidrotestosteron (DHT) dan proses aging (menjadi tua).

terdapat keseimbangan antara laju proliferasi sel dengan kematian sel. serta mempengaruhi sel-sel epitel secara parakrin. selalu dibentuk sel-sel baru. e. Pada jaringan normal. yaitu sel yang mempunyai kemampuan berproliferasi sangat ekstensif. Berkurangnya jumlah sel-sel prostat yang mengalami apoptosis menyebabkan jumlah sel-sel prostat secara keseluruhan menjadi meningkat sehingga menyebabkan pertambahan massa prostat. Estrogen diduga mampu memperpanjang usia sel-sel prostat. Setelah sel-sel stroma mendapatkan stimulasi dari DHT dan estradiol. Diduga hormon androgen berperan dalam menghambat proses kematian sel karena setelah dilakukan kastrasi. Teori sel stem Untuk mengganti sel-sel yang telah menglami apoptosis. d. sehingga jika hormon ini kadarnya menurun seperti yang terjadi pada kastrasi. menyebabkan terjadinya 6 . Pada saat terjadi pertumbuhan prostat sampai pada prostat dewasa. sel-sel stroma mensintesis suatu growth factor yang selanjutnya mempengaruhi sel-sel stroma itu sendiri secara intrakrin dan autokrin. Berkurangnya kematian sel prostat Program kematian sel (apoptosis) pada sel prostat adalah mekanisme fisiologikuntuk mempertahankan homeostasis kelenjar prostat.c. penambahan jumlah sel-sel prostat baru dengan yang mati dalam keadaan seimbang. Interaksi stroma-epitel Cunha (1973) membuktikan bahwa diferensiasi dan pertumbuhan sel epitel prostat secara tidak langsung dikontrol oleh sel-sel stroma melalui suatu mediator (growth factor) tertentu. terjadi peningkatan aktivitas kematian sel kelenjar prostat. Stimulasi itu menyebabkan terjadinya proliferasi sel-sel epitel maupun sel stroma. Di dalam kelenjar prostat dikenal suatu sel stem. Pada apoptosis terjadi kondensasi dan fragmentasi sel yang selanjutnya sel-sel yang mengalami apoptosis akan difagositosis oleh sel-sel disekitarnya kemudian didegradasi oleh enzim lisosom. sedangkan faktor pertumbuhan TGFβ berperan dalam proses apoptosis. Kehidupan sel ini sangat tergantung pada keberadaan hormon androgen.

3. Sistem skoring I-PSS terdiri atas tujuh pertanyaan yang berhubungan dengan keluhan miksi (LUTS) dan satu pertanyaan yang berhubungan dengan kualitas hidup pasien. yaitu (1) ringan: skor 0-7.apoptosis. Obstruksi Hesitansi Pancaran miksi lemah Intermitensi Miksi tidak puas Menetes setelah miksi Untuk menilai tingkat keparahan dari keluhan saluran kemih bagian bawah. Sistem skoring yang dianjurkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) adalah Skor Internasional Gejala Prostat atau I-PSS (International Prostatic Symptom Score). otot buli-buli mengalami kepayahan Iritasi Frekuensi Nokturi Urgensi Disuri 7 . Pada suatu saat. Timbulnya gejala LUTS merupakan manifestasi kompensasi otot buli-buli untuk mengeluarkan urin. dan (3) berat: skor 20-35. Manifestasi klinis Obstruksi prostat dapat menimbulkan keluhan pada saluran kemih maupun keluhan di luar saluran kemih. sedangkan keluhan yang menyangkut kualitas hidup pasien diberi nilai dari 1 hingga 7. Terjadinya proliferasi sel-sel pada BPH dipostulasikan sebagai ketidaktepatan aktivitas sel stem sehingga terjadi produksi yang beerlebihan sel stroma maupun sel epitel. Setiap pertanyaan yang berhubungan denga keluhan miksi diberi nilai dari 0 sampai 5. Dari skor I-PSS itu dapat dikelompokkan gejala LUTS dalam 3 derajat. a. Keluhan pada saluran kemih bagian bawah Keluhan pada saluran kemih bagian bawah terdiri atas gejala obstruksi dan gejala iritatif. beberapa ahli/organisasi urologi membuat sistem skoring yang secara subyektif dapat diisi dan dihitung sendiri oleh pasien. (2) sedang: skor 8-19.

dan (3) setelah mengkonsumsi obat-obatan yang dapat menurunkan kontraksi otot detrusor atau yang dapat mempersempit leher buli-buli. lobus kanan dan kiri simetris dan 8 . antara lain golongan antikolinergik atau adrenergik alfa.(fatique) sehingga jatuh ke dalam fase dekompensasi yang diwujudkan dalam bentuk retensi urin akut. mengkonsumsi obat-obatan atau minuman yang mengandung diuretikum. b. Timbulnya kedua penyakit ini karena sering mengejan pada saat miksi sehingga mengakibatkan peningkatan tekanan intraabdominal. c. Pada pemeriksaan fisis mungkin didapatkan buli-buli yang terisi penuh teraba massa kistus di daerah supra simfisis akibat retensi urin. krepitasi. Gejala di luar saluran kemih Tidak jarang pasien datang berobat ke dokter karena mengeluh adanya hernia inguinalis atau hemoroid. menahan kencing terlalu lama. dan minum air dalam jumlah yang berlebihan. benjolan di pinggang (yang merupakan tanda dari hidronefrosis). (2) mukosa rektum. Colok dubur pada pembesaran prostat benigna menunjukkan konsistensi prostat kenyal seperti meraba ujung hidung. (2) massa prostat tiba-tiba membesar. yaitu setelah melakukan aktivitas seksual atau mengalami infeksi prostat akut. Timbulnya dekompensasi buli-buli biasanya oleh beberapa faktor pencetus antara lain: (1) volume buli-buli tiba-tiba terisi penuh yaitu pada cuaca dingin. dan (3) keadaan prostat antara lain: kemungkinan adanya nodul. simetri antar lobus dan batas prostat. Kadang-kadang didapatkan urin yang selalu menetes tanpa disadari oleh pasien yaitu merupakan pertanda dari inkontinensia paradoksa. konsistensi prostat. Pada colok dubur diperhatikan: (1) tonus sfingter ani/refleks bulbo-kavernosus untuk menyingkirkan adanya kelainan buli-buli neurogenik. atau demam yang merupakan tanda dari infeksi atau urosepsis. Gejala pada saluran kemih bagian atas Keluhan akibat penyulit hiperplasia prostat pada saluran kemih bagian atas berupa gejala obstruksi antara lain nyeri pinggang.

Kontraksi yang terus menerus ini menyebabkan perubahan anatomik bulibuli berupa hipertrofi otot detrusor. 5. Otot polos itu dipersarafi oleh serabut saraf simpatis yang berasal dari nervus pudendus.tidak didapatkan nodul. Pemeriksaan penunjang a. Tekanan pada kedua muara ureter ini dapat menimbulkan aliran balik urin dari buli-buli ke ureter atau terjadi refluks vesiko-ureter. sakula. Obstruksi yang diakibatkan oleh hiperplasia prostat benigna tidak hanya disebabkan oleh adanya massa prostat yang menyumbat uretra posterior. Pada BPH terjadi rasio peningkatan komponen stroma epitel. bahkan akhirnya dapat jatuh ke dalam gagal ginjal. Patogenesis Pembesaran prostat menyebabkan penyempitan lumen uretra prostatika dan menghambat aliran urin. 4. Dalam hal ini massa prostat yang menyebabkan obstruksi komponen statik sedangkan tonus otot polos yang merupakan komponen dinamik sebagai penyebab obstruksi prostat. Tekanan intravesikal yang tinggi diteruskan ke seluruh bagian buli-buli tidak terkecuali pada kedua muara ureter. hidronefrosis. konsistensi prostat keras/teraba nodul dan mungkin di antara lobus prostat tidak simetris. dan divertikel buli-buli. tetapi juga disebabkan oleh tonus otot polos yang ada pada stroma prostat. dan otot polos pada leher buli-buli. sedangkan pada karsinoma prostat. Keadaan ini menyebabkan peningkatan tekanan intravesikal. buli-buli harus berkontraksi lebih kuat guna melawan tahanan itu. rasionya meningkat menjadi 4:1. Keadaan ini jika berlangsung terus menerus akan mengakibatkan hidroureter. terbentuknya selula. oleh pasien dirasakan sebagai keluhan pada saluran kemih bagian bawah atau lower urinary tract symptom (LUTS) yang dahulu dikenal dengan gejala prostatismus. pada BPH. Jika pada prostat normal rasio stroma dibanding dengan epitel adalah 2:1. Laboratorium 9 . Untuk dapat mengeluarkan urin. trabekulasi. Perubahan struktur pada buli-buli tersebut. kapsul prostat. hal ini menyebabkan pada BPH terjadi peningkatan tonus otot polos prostat dibandingkan dengan prostat normal.

dan mencari kelainan lain yang mungkin ada di dalam buli-buli. Pemeriksaan kultur urin berguna dalam mencari jenis kuman yang menyebabkan infeksi dan sekaligus menentukan sensitifitas kuman terhadap beberapa antimikroba yang diujikan. Jika dicurigai adanya keganasan prostat perlu diperiksa kadar penanda tumor PSA. b. menentukan jumlah residual urin. divertikel. Faal ginjal diperiksa untuk mencari kemungkinan adanya penyulit yang mengenai saluran kemih bagian atas. dimaksudkan untuk mengetahui: besar atau volume kelenjar prostat. atau sakulasi buli-buli. c. sebagai guidance (petunjuk) untuk melakukan biopsi aspirasi prostat. (2) memperkirakan besarnya kelenjar prostat yang ditunjukkan oleh adanya indentasi prostat (pendesakan buli-buli oleh kelenjar prostat) atau ureter disebelah distal yang berbentuk seperti mata kail atau hooked fish. Pemeriksaan PIV dapat menerangkan kemungkinan adanya: (1) kelainan pada ginjal maupun ureter berupa hidroureter atau hidronefrosis. dan (3) penyulit yang terjadi pada buli-buli yaitu adanya trabekulasi. Pencitraan Foto polos perut berguna untuk mencari adanya batu opak di saluran kemih. Di samping itu ultrasonografi transabdominal mampu untuk mendeteksi adanya hidronefrosis ataupun kerusakan ginjal akibat obstruksi BPH yang lama. yang merupakan tanda dari suatu retensi urin. Pemeriksaan ultrasonografi transrektal atau TRUS. Pemeriksaan lain Pemeriksaan derajat obstruksi prostat dapat diperkirakan dengan cara mengukur : 10 . adanya batu/kalkulosa prostat dan kadangkala dapat menunjukkan bayangan buli-buli yang penuh terisi urin. sedangkan gula darah dimaksudkan untuk mencari kemungkinan adanya penyakit diabetes melitus yang dapat menimbulkan kelainan persarafan pada buli-buli (buli-buli neurogenik).Sedimen urin diperiksa untuk mencari kemungkinan adanya proses infeksi atau inflamasi pada saluran kemih. adanya kemungkinan pembesaran prostat maligna.

7. (5) mengurangi volume residu urin setelah miksi. sering buang air kecil. (2) meningkatkan kualitas hidup. Kadangkadang mereka yang mengeluh LUTS ringan dapat sembuh sendiri tanpa mendapatkan terapi apapun atau hanya dengan nasehat dan konsultasi saja. simetris. pembedahan. tanpa nodul. o Pancaran urin atau flow rate dapat dihitung secara sederhana yaitu dengan menghitung jumlah urin dibagi dengan lamanya miksi berlangsung (ml/detik) atau dengan alat uroflowmetri yang menyajikan gambaran grafik pancaran urin. Tujuan terapi pada pasien hiperplasia prostat adalah (1) memperbaiki keluhan miksi. a. (3) mengurangi obstruksi infravesika. Terapi Tidak semua pasien hiperplasi prostat perlu menjalani tindakan medik. Sisa urin ini dapat dihitung dengan cara melakukan kateterisasi setelah miksi atau ditentukan dengan pemeriksaan ultrasonografi setelah miksi. Pada pemeriksaan USG ditemukan adanya pembesaran prostat yang dapat disertai dengan pembesaran ginjal. Pemeriksaan rektal toucher menunjukkan adanya pembesaran prostat. buang air kecil tidak puas. atau tindakan endourologi yang kurang invasif. Hal ini dapat dicapai dengan cara medikamentosa. dan konsistensi yang kenyal. (4) mengembalikan fungsi ginjal jika terjadi gagal ginjal. sulit atau tidak bisa buang air kecil. Watchfull waiting 11 . Pemeriksaan fisik pada pasien BPH menunjukkan ada pembesaran pada suprasimfisis akibat vesika urinaria yang terisi oleh urin.o Residual urin yaitu jumlah sisa urin setelah miksi. di antara mereka akhirnya ada yang membutuhkan terapi medikamentosa atau tindakan medik yang lain karena keluhannya semakin parah. 6. Diagnosis Diagnosis BPH ditegakkan dengan anemnesis berupa penderita laki-laki yang berusia tua. dan (5) mencegah progesifitas penyakit. menetes setelah buang air kecil. Namun.

yaitu keluhan ringan yang tidak mengganggu aktivitas sehari-hari. Prostatektomi terbuka dapat dilakukan melalui pendekatan suprapubik transvesikal atau retropubik infravesikal. residu urin. (2) kurangi konsumsi makanan atau minuman yang mengiritasi buli-buli. 12 . (4) kurangi makanan pedas dan asin. paling invasif. dan kontraktur leher buli-buli. Freyer melalui pendekatan suprapubik transvesika. atau uroflowmetri. atau transperineal. serta (5) jangan menahan kencing terlalu lama. Selain kedua cara tersebut. Penyulit yang dapat terjadi setelah prostatektomi terbuka adalah inkontinensia urin.Pilihan tanpa terapi ini ditujukan untuk pasien BPH dengan skor IPSS dibawah 7. disamping itu dilakukan pemeriksaan laboratorium. Prostatektomi terbuka adalah tindakan yang paling tua yang masih banyak dikerjakan saat ini. (3) batasi penggunaan obatobat influenza yang mengandung fenilpropanolamin. b. Secara periodik pasien diminta untuk datang kontrol dengan ditanya keluhannya apakah menjadi lebih baik. Operasi o Pembedahan terbuka Beberapa macam teknik operasi prostatektomi terbuka adalah metode dari Millin yaitu melakukan enukleasi kelenjar prostat melalui pendekatan retropubik infravesika. c. Pasien tidak mendapatkan terapi apapun dan hanya diberi penjelasan mengenai suatu hal yang mungkin dapat memperburuk keluhannya. Medikamentosa Tujuan terapi medikamentosa adalah berusaha untuk: (1) mengurangi resistensi otot polos prostat sebagai komponen dinamik penyebab obstruksi infravesika dengan obat-obatan dengan penghambat adrenergik alfa dan (2) mengurangi volume prostat sebagai komponen statik dengan cara menurunkan kadar hormon testosteron/dihidrotestosteron (DHT) melalui penghambat 5αreduktase. ejakulasi retrograd. banyak terapi dengan menggunakan fitofarmaka yang mekanisme kerjanya masih belum jelas. dan paling efisien sebagai terapi BPH. misalnya (1) jangan konsumsi kopi atau alkohol setelah makan malam.

yang dimaksudkan agar tidak terjadi hantaran listrik pada saat operasi. Salah satu kerugian dari aquades adalah sifatnya yang hipotonik sehingga cairan ini dapat masuk ke sirkulasi sistemik melalui pembuluh darah vena yang terbuka pada saat reseksi. melakukan pemeriksaan ultrasonografi transrektal. Kelebihan H2O dapat menyebabkan terjadinya hiponatremi relatif atau gejala intoksikasi air atau dikenal dengan sindroma TURP. o Elektrovaporisasi prostat Cara elektrovaporisasi prostat adalah sama dengan TURP. dan pada pasien yang umurnya masih muda hanya diperlukan insisi kelenjar prostat atau TUIP (Transurethral incision of the prostate) atau insisi leher buli-buli atau BNI (Bladder Neck Incision). Sindroma ini ditandai dengan pasien yang mulai gelisah. tekanan darah meningkat. o TURP Reseksi kelenjar prostat dilakukan transuretra dengan mempergunakan cairan irigan (pembilas) agar daerah yang akan direseksi tetap terang dan tidak tertutup oleh darah. dan terdapat bradikardi. Sebelum melakukan tindakan ini. 13 . Angka mortalitas sindroma TURP ini adalah sebesar 0. Jika tidak segera diatasi. hanya saja teknik ini memakai roller ball yang spesifik dan dengan mesin diatermi yang cukup kuat. Cairan yang dipergunakan adalah berupa larutan non ionic.Dibandingkan dengan TURP dan BNI. tanpa ada pembesaran lobus medius. kesadaran somnolen. Pada hiperplasi prostat yang tidak begitu besar. sehingga mampu membuat vaporisasi kelenjar prostat. dan pengukuran kadar PSA. Cairan yang sering dipakai dan harganya cukup murah yaitu H2O steril (aquades). harus disingkirkan kemungkinan adanya karsinoma prostat dengan melakukan colok dubur.99%. penyulit yang terjadi berupa striktura uretra dan ejakulasi retrograd lebih banyak dijumpai pada prostatektomi terbuka. pasien akan mengalami edema otak yang akhirnya jatuh dalam koma dan meninggal.

pasien harus menjalani kontrol paling lambat 6 minggu pasca operasi untuk mengetahui kemungkinan terjadinya penyulit.Teknik ini cukup aman. 3 bulan. Kontrol selanjutnya setelah 3 bulan untuk mengetahui hasil akhir operasi. o Stent Stent prostat dipasang pada uretra prostatika untuk mengatasi obstruksi karena pembesaran prostat. dan residu urin pasca miksi. uroflowmetri. Pasien yang hanya mendapatkan pengawasan dianjurkan kontrol setelah 6 bulan. Stent dapat dipasang secara temporer atau permanen. Yang temporer dipasang selama 6-36 bulan dan terbuat dari bahan yang tidak diserap dan tidak mengadakan reaksi dengan jaringan. dan masa mondok di rumah sakit lebih singkat. Kontrol berkala Setiap pasien hiperplasia prostat yang telah mendapatkan pengobatan perlu kontrol secara teratur untuk mengetahui perkembangan penyakitnya. d. Stent ini dipasang intraluminal di antara leher buli-buli dan di sebelah proksimal verumontanum sehingga urin dapat leluasa melwati lumen uretra prostatika. kemudian setiap tahun untuk mengetahui apakah terjadi perbaikan klinis. tidak banyak menimbulkan perdarahan pada saat operasi. dan setiap tahun. Pasien yang mendapat terapi invasfi minimal harus menjalani kontrol secara teratur dalam jangka waktu lama. Jadwal kontrol tergantung pada tindakan apa yang sudah dijalani. Pada pasien yang mendapatkan terapi invasif minimal. 6 bulan. Seringkali stent dapat terlepas dari insersinya di uretra posterior atau mengalami enkrustasi. Penilaian dilakukan dengan pemeriksaan skor IPSS. 14 . Namun teknik ini hanya diperuntukkan pada prostat yang tidak terlalu besar (<50 gram) dan membutuhkan waktu operasi yang lebih lama. Alat ini dipasang dan dilepas kembali secara endoskopi. Pemasangan alat ini diperuntukkan bagi pasien yang tidak mungkin menjalani operasi karena risiko pembedahan yang cukup tinggi. yaitu setelah 6 minggu. Setelah pembedahan.

15 .selain dilakukan penilaian terhadap skor miksi. dilakukan pemeriksaan kultur urin.

dan quo ad functionam adalah dubia ad bonam.BAB III ANALISA KASUS Seorang pria berusia 66 tahun beralamat di desa Tanjung Agung Banyuasin berobat ke poli bedah RSUD Banyuasin pada tanggal 8 Maret 2012.5 mg. demam (-). 16 . pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang pasien ini didiagnosa dengan hipertensi stage 2 + benign prostatic hyperplasia. + 4 bulan SMRS. BAK menetes (+). terputus dan pancarannya lemah. penderita mengeluh sulit BAK. Keluhan dirasa memberat sejak + 1 bulan SMRS. bagian atas tidak teraba. Pada pemeriksaan USG didapatkan kesimpulan pembesaran prostat terutama lobus medialis. BAK berpasir (-). Pemeriksaan status lokalis pada rektal toucher ditemukan TSA baik. BAK darah (-). nyeri pinggang (-). amlodipin 1 x 5 mg dan dirujuk ke dokter spesialis bedah untuk rencana TUR-P. Penderita mengeluh sulit buang air kecil. konsistensi kenyal. nyeri tekan (-). Penatalaksanaan pada penderita ini yaitu dengan pemberian captopril 3 x 12. nodul (-). Penderita juga sering terbangun malam-malam untuk BAK. Prognosis pasien ini quo ad vitam adalah bonam. BAK sedikit-sedikit. Berdasarkan anamnesis. prostat teraba membesar. mual (-). sering terasa masih bersisa (tidak lampias). muntah (-). Pada pemeriksaan fisik status generalis ditemukan TD 150/80.

Medical Publishing Division. 2006. Edisi ke-2. 5. Mc Graw-Hill. Edisi ke-2. Schwart’z Manual of Surgery. R dan Wim de Jong. Diakses pada 12 Juni 2010 17 . CV. Reksoprodjo. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Diperoleh dari: http://www.DAFTAR PUSTAKA 1. Buku Ajar Ilmu Bedah. Sagung Seto.com/script/main/art.com/penyakit/557/Pembesaran_Prostat_Jinak_BPH_Benign_Pro static_Hyperplasia_. Diperoleh dari: http://medicastore. Anonim. Dasar-dasar urologi. 2004. dkk. Benign Prostatic Hyperplasia. Definition of benign prostatic hyperplasia. Eight Edition. 2009: 69-84 2. Sjamsuhidayat. Anonim.html. Diakses pada: 12 Juni 2010 3.medterms. USA. 6. Jakarta: EGC. et al . Purnomo BB.asp?articlekey=8946. Charles. 4. F. Soelarto. Jakarta: Binarupa Aksara. 1995.