Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Akhlak Tasawuf merupakan disiplin ilmu murni dalam Islam. Akhlak dan
Tasawuf mempunyai hubungan yang sangat erat. Sebelum bertasawuf, seseorang
harus berakhlak sehingga bisa dikatakan bahwasanya At tashawwufu nihayatul akhlaq
sedangkan al akhlaqu bidayatut tashawwuf. Dalam tasawuf, digunakan pendekatan
suprarasional yaitu dengan intuisi / wijdan.
Intuisi disini maksudnya adalah mengosongkan diri dari dosa. Ditinjau dari
paradigma pengalamannya, tasawuf terbagi menjadi tasawuf Salaf, tasawuf Suni, dan
tasawuf Falsafi. Dalam makalah ini kami akan membahas tentang Fana dan Baqa
yang merupakan salah satu komponen dari tasawuf Suni. Setelah melalui maqam Fana
dan Baqa maka Sufi akan menemui maqam ma‟rifat.
A. Rumusan M asalah
Pe
mbahasan tentang Fana dan Baqa amatlah luas. Namun dalam makalah in
kami hanya membatasi pembahasan kami pada:
A.
1. Pengertian Fana dan Baqa
2. Konsep Fana dan Baqa menurut beberapa tokoh
3. Faham antara Fana seiring dengan Baqa
4. Tujuan dan kedudukan Fana serta Baqa
5. Tokoh yang mengembangkan Fana dan Baqa
6. Fana dan Baqa dalam pandangan al-Qur‟an
A. Tujuan
Adapun tujuan penyusunan makalah ini adalah:
A.
1. Untuk memenuhi tugas mata kuliah Akhlak Tasawuf
2. Mahasiswa memahami konsep Fana dan Baqa
3. Mahasiswa berusaha untuk mensucikan diri dari dosa
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Fana dan Baqa
Fana (ءانفلا) artinya hilang, hancur. Fana adalah proses menghancurkan diri
bagi seorang sufi agar dapat bersatu dengan Tuhan. Sedangkan Baqa (ءاقبلا) artinya
tetap, terus hidup. Baqa adalah sifat yang mengiringi dari proses fana dalam
penghancuran diri untuk mencapai ma‟rifat. Seorang sufi untuk ma‟rifat harus bisa
menghancurkan diri terlebih dahulu, dan proses penghancuran diri inilah di dalam
tasawuf disebut “Fana” yang diiringi oleh “Baqa”.[1]
Dalam „Risalatul Qusyairiyah‟ dinyatakan bahwa Fana adalah menghilangkan
sifat-sifat yang tercela dan Baqa artinya mendirikan sifat-sifat yang terpuji. Barang
siapa yang menghilangkan sifat tercela maka timbullah sifat yang terpuji. Jika sifat
tercela menguasai diri maka tertutuplah sifat yang terpuji bagi seseorang.[2]
Dari segi bahasa Al-Fana berarti hilangnya wujud sesuatu, sedangkan Fana
menurut kalangan sufi adalah hilangnya kesadaran pribadi dengan dirinya sendiri atau
dengan sesuatu yang lazim digunakan pada diri. Menurut pendapat lain Fana berarti
bergantinya sifat-sifat kemanusiaan dengan sifat-sifat ketuhanan dan dapat pula
berarti hilangnya sifat-sifat yang tercela.[3]
A. Konsep Fana dan Baqa menurut beberapa tokoh
1. Al-Qusyairi
Fana adalah gugurnya sifat-sifat tercela, sedangkan Baqa adalah berdirinya
sifat-sifat terpuji.
A.
1. Junaid al-Baghdadi
Tauhid bisa dicapai dengan membuat diri Fana dari dirinya sendiri dan alam
sekitarnya, sehingga keinginannya dikendalikan oleh Allah.
A.
1. Ibn „Arabi
Fana dalam pengertian mistik adalah hilangnya ketidaktahuan dan Baqa
pengetahuan yang pasti/ sejati yang diperoleh dengan intuisi mengenai
kesatuan esensial dari keseluruhan ini.
Fana dalam pengertian metafisika adalah hilangnya bentuk-bentuk dunia
fenomena dan berlanjutnya substansi universal yang tunggal. Hal ini ia
simpulkan dengan hilangnya sesuatu bentuk pada saat Tuhan
memanifestasikan (tajalli) diri-Nya dalam bentuk lain.
A.
1. E. A. Affifi
Pemikiran tentang Fana dan Baqa dapat dibagi ke dalam tahapan-tahapan
sebagai berikut:
a. Si Sufi menjauhkan dirinya dari dosa (al-Fana’ ‘an al-Ma’asi)
b. Memfana‟kan dirinya dari semua perbuatan (af‟al) apapun, ia hanya
menyadari bahwa Tuhan sendirilah satu-satunya pelaku segala
perbuatan (af‟al) di alam ini.
c. Memfana‟kan dirinya dari sifat-sifat dan kulitas wujud yang bersifat
mungkin, sebab semuanya merupakan kepunyaan Allah.
d. Memfana‟kan personalitas atau dzat dirinya sendiri, ia menyadari
dengan sungguh-sungguh ketidakberadaan (non-eksistensi) dari
fenomena dirinya serta baqa di dalam substansi yang tidak berubah
dan tidak hancur yang merupakaan esensinya.
e. Si Sufi melepaskan semua sifat-sifat Tuhan serta hubungannya, yaitu
ia lebih memandang Tuhan sebagai esensi dari alam ini daripada
sebagai sebab, sebagaimana pendapat para filosof. Maksudnya Si
Sufi tidak menganggap alam ini sebagai akibat dari satu sebab,
melainkan sebagai suatu realitas dalam pemunculan Tuhan (Al-Haqq
fid dzuhur).
Pada tahap kelima inilah sebagai tujuan akhir dari semua upaya para sufi
di dalam latihan mistik wahdatul wujud, yakni berupa kesadaran penuh
terhadap esensi dari semua yang ada, dan sekaligus sebagai pelaksanaan
fana dan baqa.[4]
A.
1. Muhammad Nafis
Maqam Fana adalah musyahadah secara bertahap dari maqam ke maqam
selanjutnya, sebagai berikut:
a. Maqam Tauhid al-Af‟al
b. Maqam Tauhid al-Asma‟
c. Maqam Tauhid al-Shifat
d. Maqam Tauhid al-Dzat
Kemudian Muhammad Nafis menjelaskan bahwa maqam Baqa lebih tinggi
dari maqam Fana. Maqam Fana sirna di bawah Ahadiyat Allah, sedangkan
maqam Baqa kekal dengan Wahdiyat allah. Dengan kata lain, maqam Fana itu
memandang bahwa yang maujud (ada) hanya Allah, sedangkan maqam Baqa
memandang ke-Dia-an Allah dan kemandirian-Nya meliputi segala yang ada
(zarrat al-wujud). Ia menyebut maqam Baqa sebagai maqam tajalli atau
dhuhur.
Dengan harmonis dia padukan pandangan wahdat al-Syuhud dengan wahdat
al-Wujud, yaitu memandang alam semesta yang serba majemuk ini sebagai
penampakan dari wujud Tuhan. Fana dan Baqa melalui proses yang berasal
dari ma‟rifat dapat menyampaikan pada Kasyaf, yakni terbukanya hakikat
sesuatu bagi sufi, kasyaf dapat menyampaikan Fana. Fana menyampaikan
pada Fana al-Fana, yaitu Sufi tidak melihat dan tidak merasakan bahwa dia
sendiri yang memfana‟kan dirinya, yang dia lihat dan rasakan adalah Allah
yang memfana‟kan dirinya. Dan Fana al-Fana inilah yang mengantarkan ke
tingkat Baqa.[5]
A.
1. R. A. Nicholson dalam bukunya The Mystics of Islam.
Ia mengatakan tentang tiga tingkat Fana yaitu perubahan moral, penghayatan
jiwa, dan lenyapnya kesadaran. Dalam hal ini, Imam al-Ghazali yang
membatasi sampai ke Fana tingkat dua, masih mempertahankan adanya
perbedaan yang fundamental antara hamba yang melihat dengan Tuhan yang
dilihatnya. Sebaliknya Husain bin Mansur al-Hallaj, yang menekankan
pencapaian Fana tingkat tiga cenderung ke paham Manunggaling kawula-
gusti. Dalam penghayatan ini manusia merasa mengalami sama dan jadi
seperti Tuhan itu sendiri.
Adapun salah satu jalan untuk mencapai penghayatan Fana fillah (ecstasy)
disamping mendalamnya cinta rindu, adalah dengan meditasi (pemusatan
kesadaran) dengan perantaraan zikir.[6]
A.
1. Abu Bakar M. Kalabadzi
Keluruhan (Fana) adalah suatu keadaan yang di dalamnya seluruh hasrat
meluruh darinya, sehingga para Sufi tidak mengalami perasaan apa-apa, dan
kehilangan kemampuan membedakan. Dia telah luruh dari segala sesuatu, dan
sepenuhnya terserap pada suatu yang menyebabkan dia luruh. Baqa
mengandung arti bahwa para Sufi itu meluruh dari sesuatu yang menjadi
miliknya sendiri, dan tetap tinggal dikarenakan sesuatu yang menjadi milik
Tuhan.[7]
A.
1. Abu Sa‟id al-Kharraz
Tanda keluruhan sang Sufi adalah keluruhannya dari hasratnya akan dunia ini
dan dunia nanti, kecuali hasratnya akan Tuhan.
A.
1. Abu al-Qasim Faris
Keluruhan adalah keadaan seseorang yang tidak menyaksikan sifatnya sendiri,
tapi menyaksikannya sebagai disembunyikan oleh Dia yang membuat sifat itu
lenyap. Keluruhan sifat manusia jangan ditafsirkan sebagai tidak ada, tetapi
tafsirkan bahwa sifat itu tertutup oleh suatu kesenangan yang menggantikan
realisasi rasa sakit.[8]
A. Faham antara Fana seiring dengan Baqa
Proses penghancuran diri (Fana) rupanya tidak dapat dipisahkan dari Baqa
(tetap, terus hidup), maksudnya adalah apabila proses penghilangan sifat manusia dari
hasil penghancuran diri manusia itu sendiri, maka yang muncul kemudian adalah sifat
yang ada pada manusia. Adapun salah satu paham Sufi yang menyatakan bahwa Fana
seiring Baqa:
تاقفاوملاىف يقب تافلاخملا نع ينف نم
Artinya: “Jika seseorang dapat menghilangkan maksiatnya, maka yang akan tinggal
ialah takwanya”.
Ibnu Qayyim memberikan penjelasan tentang istilah Fana dan Baqa yaitu Fana
dalam pengertian tauhid bebarengan (beriringan) dengan Baqa adalah penetapan
terhadap Tuhan yang haq dalam hatimu dan menghilangkan Tuhan selain Allah.
Disinilah bertemu antara Nafi dan Istbat. Nafi adalah fana dan Istbat adalah baqa.
A. Tujuan dan kedudukan Fana dan Baqa
Setelah mengetahui pengertian Fana dan Baqa, perlu diketahui tujuan Fana
dan Baqa adalah mencapai penyatuan secara ruhaniyah dan bathiniyiah dengan Tuhan
sehingga yang disadarinya hanya Tuhan dalam dirinya.
Sedangkan kedudukan Fana dan Baqa merupakan hal, karena hal yang
demikian itu terjadi terus menerus dan juga karena dilimpahkan oleh Tuhan. Fana
merupakan keadaan dimana seseorang hanya menyadari kehadiran Tuhan dalam
dirinya, dan kelihatannya lebih merupakan alat, jembatan atau maqam menuju ittihad
(penyatuan Rohani dengan Tuhan). Tatkala Fana dan Baqa berjalan selaras dan sesuai
dengan fungsinya maka seorang Sufi merasa dirinya bersatu dengan Tuhan, suatu
tingkatan yang mencintai dan dicintai telah menjadi satu.[9]
A. Tokoh yang mengembangkan Fana dan Baqa
Dalam sejarah tasawuf, Abu Yazid al-Bustami disebut-sebut sebagai Sufi yang
pertama kali memperkenalkan paham Fana dan Baqa. Nama kecilnya adalah Thaifur.
Nama beliau sangat istimewa dalam hati kaum Sufi seluruhnya.[10] Sebagai paham
Abu Yazid yang dapat dianggap sebagai timbulnya Fana dan Baqa adalah:
تييحف هب هتفرع مث تينفف يب هفرعا
Artinya: “Aku tahu pada Tuhan melalui diriku, hingga aku hancur, kemudian aku tahu
padanya melalui dirinya, maka aku pun hidup.”[11]
Abu Yazid adalah salah satu tokoh sufi yang telah melewati ma‟rifah melalui
Fana dan Baqa.
A. Fana dan Baqa dalam pandangan Al-Qur‟an
Fana dan Baqa merupakan jalan menuju Tuhan, hal ini sejalan dengan firman
Allah yang berbunyi:
}E©·· 4p~E W-ON_¯O4C 47.·³g¯
·gO)Þ4O ¯E©u¬4O·U·· 1E4©4N w·)U=
ºº4Ò '´)O;¯+C jEE14lg¬) ¼·gO)Þ4O
-©³4ÞÒ¡ ^¯¯´÷
Artinya: “Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia
mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam
beribadat kepada Tuhannya.”( Q. S. Al-Kahfi: 110)
Ayat tersebut memberi petunjuk bahwa Allah swt. telah memberi peluang kepada
manusia untuk bersatu dengan Tuhan secara rohaniyah atau bathiniyah, yang caranya
antara lain dengan beramal shaleh, dan beribadat semata-mata karena Allah,
menghilangkan sifat-sifat dan akhlak buruk (Fana), meninggalkan dosa dan maksiat,
dan kemudian menghias diri dengan sifat-sifat Allah, yang kemudian ini tercakup
dalam konsep Fana dan Baqa, hal ini juga dapat dipahami dari isyarat ayat di bawah
ini:
O7 ;}4` Og¯OÞU4× ±p·· ^gg÷
_O·¯¯l4C4Ò +O;_4Ò El)Þ4O Ò¬O
÷ÞUO_^¯- g¬-4O^e"-4Ò ^g_÷
Artinya: “Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu
yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (Q. S. Al-Rahman: 26-27)
BAB III
KESIMPULAN
Akhlak Tasawuf merupakan disiplin ilmu murni dalam Islam. Akhlak dan
Tasawuf mempunyai hubungan yang sangat erat. Sebelum bertasawuf, seseorang
harus berakhlak. Ditinjau dari paradigma pengalamannya, tasawuf terbagi menjadi
tasawuf Salaf, tasawuf Suni, dan tasawuf Falsafi. Dalam makalah ini kami membahas
tentang Fana dan Baqa yang merupakan salah satu komponen dari tasawuf Suni.
Setelah melalui maqam Fana dan Baqa maka Sufi akan menemui maqam ma‟rifat.
Fana adalah proses menghancurkan diri bagi seorang sufi agar dapat bersatu
dengan Tuhan. Sedangkan Baqa adalah sifat yang mengiringi dari proses fana dalam
penghancuran diri untuk mencapai ma‟rifat. Secara singkat, Fana adalah gugurnya
sifat-sifat tercela, sedangkan Baqa adalah berdirinya sifat-sifat terpuji. Adapun tujuan
Fana dan Baqa adalah mencapai penyatuan secara ruhaniyah dan bathiniyiah dengan
Tuhan sehingga yang disadarinya hanya Tuhan dalam dirinya. Sedangkan kedudukan
Fana dan Baqa merupakan hal. Dalam sejarah tasawuf, Sufi yang pertama kali
memperkenalkan paham Fana dan Baqa adalah Abu Yazid al-Bustami.
[1] A. Mustofa, Akhlak Tasawuf untuk Fakultas Tarbiyah komponen MKDK, (Bandung:
Pustaka Setia, 2007), hlm. 259.
[2] Ibid, hlm. 260.
[3] Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006), hlm. 231-232.
[4] Ahmadi Isa, Ajaran Tasawuf Muhammad Nafis dalam Perbandingan, (Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada, 2001), hlm. 144-147.
[5] Ibid, hlm. 149-151.
[6] Simuh, Tasawuf dan Perkembangannya dalam Islam, 1996, hlm. 105-109.
[7] Abu Bakr M. Kalabadzi, Menggapai Kecerdasan Sufistik, (Jakarta Selatan: Hikmah,
2002), hlm. 35-36.
[8] Ibid, hlm. 39-41.
[9] Ibid, Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, hlm. 234-235.
[10] Ibid, hlm. 235.
[11] Ibid, A. Mustofa, Akhlak tasawuf, hlm.

Rate this:






1 Votes
Like this:
Suka
Be the first to like this post.
Previous Metodologi Memahami Islam Next Takhrijul Hadits
Tinggalkan Balasan
Enter your comment here...

Fill in your details below or click an icon to log in:




Email (wajib) (Belum diterbitkan)

Nama (wajib)

Situs web

Beritahu saya balasan komentar lewat surat elektronik.

Agustus 2008
S S R K J S M
« Mei Nov »
1 2 3
4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31
Search...

the last article
 Akuntabilitas Pendidikan
 metode sosiodrama
 Nikah Beda Agama
 Akad Nikah Via Telepon
 Wali dalam Nikah
artikelQ
 artikelQ (32)
 cerpen (4)
 Free Download (4)
 info lomba (18)
 motivasi (2)
 my articles (3)
 my poem (2)
 pendidikan (17)
 resensi (7)
 wacana keislaman (25)
comment

NANING KURNIASIH on Nikah Beda Agama

PENALARAN INDUKTIF … on Analogi

abdus sukur on Profil

subahn on contoh proposal PTK

nfrozi on Profil

Ka' Ross on Profil

siti normaidah on Profil

siti normaidah on Perencanaan dan Desain Pe…

siti normaidah on contoh proposal PTK

anis wahdi on dalil-dalil naqli Filsafat Pen…
Tulisan Teratas
 Fana dan Baqa
 Manajemen Tenaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan
 Akuntabilitas Pendidikan
 Perencanaan dan Desain Pembelajaran
 dalil-dalil naqli Filsafat Pendidikan Islam
tag
2009 abbasiyah akhlak tasawuf aqiqah bali BK BP cerpen demokrasi fana dan baqa filsafat pendidikan
Islam fiqh fiqh muamalah fiqih munakahat Free Download Software Islami
hadits Idul Fitri islam KaJi KarSa lomba lomba 2009 lomba nulis mahasiswa
masail fiqh matematika maulid nabi metode pembelajaran metodologi Nganjuk
pembelajaran pendidikan pergerakan pilgub jatim PMII poem PTK puasa puisi
resensi sejarah status takhrij takhrijul hadits ulumul qur'an
Kalender
Agustus 2008
S S R K J S M
« Mei Nov »
1 2 3
4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31
Kategori
Awan Kategori
artikelQ cerpen Free Download info lomba motivasi my articles
my poem pendidikan resensi wacana keislaman

sedangkan Baqa adalah berdirinya sifat-sifat terpuji. Sedangkan Baqa (‫ )البقاء‬artinya tetap. 1. hancur. Untuk memenuhi tugas mata kuliah Akhlak Tasawuf 2. Konsep Fana dan Baqa menurut beberapa tokoh 1. sedangkan Fana menurut kalangan sufi adalah hilangnya kesadaran pribadi dengan dirinya sendiri atau dengan sesuatu yang lazim digunakan pada diri. Pengertian Fana dan Baqa Fana (‫ )الفناء‬artinya hilang.[3] A. Barang siapa yang menghilangkan sifat tercela maka timbullah sifat yang terpuji. 1. Seorang sufi untuk ma‟rifat harus bisa menghancurkan diri terlebih dahulu. Mahasiswa memahami konsep Fana dan Baqa 3. Jika sifat tercela menguasai diri maka tertutuplah sifat yang terpuji bagi seseorang.[1] Dalam „Risalatul Qusyairiyah‟ dinyatakan bahwa Fana adalah menghilangkan sifat-sifat yang tercela dan Baqa artinya mendirikan sifat-sifat yang terpuji. terus hidup. Fana adalah proses menghancurkan diri bagi seorang sufi agar dapat bersatu dengan Tuhan. Junaid al-Baghdadi .[2] Dari segi bahasa Al-Fana berarti hilangnya wujud sesuatu. Baqa adalah sifat yang mengiringi dari proses fana dalam penghancuran diri untuk mencapai ma‟rifat.A. A. Menurut pendapat lain Fana berarti bergantinya sifat-sifat kemanusiaan dengan sifat-sifat ketuhanan dan dapat pula berarti hilangnya sifat-sifat yang tercela. Al-Qusyairi Fana adalah gugurnya sifat-sifat tercela. Mahasiswa berusaha untuk mensucikan diri dari dosa BAB II PEMBAHASAN A. dan proses penghancuran diri inilah di dalam tasawuf disebut “Fana” yang diiringi oleh “Baqa”.

Hal ini ia simpulkan dengan hilangnya sesuatu bentuk pada saat Tuhan memanifestasikan (tajalli) diri-Nya dalam bentuk lain. A. ia menyadari dengan sungguh-sungguh ketidakberadaan (non-eksistensi) dari fenomena dirinya serta baqa di dalam substansi yang tidak berubah dan tidak hancur yang merupakaan esensinya. Memfana‟kan personalitas atau dzat dirinya sendiri. sehingga keinginannya dikendalikan oleh Allah. sebagaimana pendapat para filosof. c. Memfana‟kan dirinya dari semua perbuatan (af‟al) apapun. Maksudnya Si . e. Si Sufi menjauhkan dirinya dari dosa (al-Fana’ ‘an al-Ma’asi) b. Ibn „Arabi Fana dalam pengertian mistik adalah hilangnya ketidaktahuan dan Baqa pengetahuan yang pasti/ sejati yang diperoleh dengan intuisi mengenai kesatuan esensial dari keseluruhan ini. Memfana‟kan dirinya dari sifat-sifat dan kulitas wujud yang bersifat mungkin. 1. ia hanya menyadari bahwa Tuhan sendirilah satu-satunya pelaku segala perbuatan (af‟al) di alam ini. E. Affifi Pemikiran tentang Fana dan Baqa dapat dibagi ke dalam tahapan-tahapan sebagai berikut: a. d. A. 1. A.Tauhid bisa dicapai dengan membuat diri Fana dari dirinya sendiri dan alam sekitarnya. sebab semuanya merupakan kepunyaan Allah. Fana dalam pengertian metafisika adalah hilangnya bentuk-bentuk dunia fenomena dan berlanjutnya substansi universal yang tunggal. Si Sufi melepaskan semua sifat-sifat Tuhan serta hubungannya. yaitu ia lebih memandang Tuhan sebagai esensi dari alam ini daripada sebagai sebab.

[4] A. Fana dan Baqa melalui proses yang berasal dari ma‟rifat dapat menyampaikan pada Kasyaf. 1. Maqam Tauhid al-Shifat d. Pada tahap kelima inilah sebagai tujuan akhir dari semua upaya para sufi di dalam latihan mistik wahdatul wujud. sedangkan maqam Baqa kekal dengan Wahdiyat allah. Dengan kata lain. melainkan sebagai suatu realitas dalam pemunculan Tuhan (Al-Haqq fid dzuhur). yaitu memandang alam semesta yang serba majemuk ini sebagai penampakan dari wujud Tuhan. sebagai berikut: a. dan sekaligus sebagai pelaksanaan fana dan baqa. maqam Fana itu memandang bahwa yang maujud (ada) hanya Allah. Dengan harmonis dia padukan pandangan wahdat al-Syuhud dengan wahdat al-Wujud. Muhammad Nafis Maqam Fana adalah musyahadah secara bertahap dari maqam ke maqam selanjutnya. yakni berupa kesadaran penuh terhadap esensi dari semua yang ada.Sufi tidak menganggap alam ini sebagai akibat dari satu sebab. kasyaf dapat menyampaikan Fana. Ia menyebut maqam Baqa sebagai maqam tajalli atau dhuhur. sedangkan maqam Baqa memandang ke-Dia-an Allah dan kemandirian-Nya meliputi segala yang ada (zarrat al-wujud). Maqam Tauhid al-Asma‟ c. Maqam Tauhid al-Af‟al b. yaitu Sufi tidak melihat dan tidak merasakan bahwa dia . yakni terbukanya hakikat sesuatu bagi sufi. Maqam Fana sirna di bawah Ahadiyat Allah. Maqam Tauhid al-Dzat Kemudian Muhammad Nafis menjelaskan bahwa maqam Baqa lebih tinggi dari maqam Fana. Fana menyampaikan pada Fana al-Fana.

masih mempertahankan adanya perbedaan yang fundamental antara hamba yang melihat dengan Tuhan yang dilihatnya. Dalam penghayatan ini manusia merasa mengalami sama dan jadi seperti Tuhan itu sendiri.[5] A. Ia mengatakan tentang tiga tingkat Fana yaitu perubahan moral. 1. A.[6] A. 1. Abu Bakar M. dan lenyapnya kesadaran. sehingga para Sufi tidak mengalami perasaan apa-apa. dan sepenuhnya terserap pada suatu yang menyebabkan dia luruh. 1. R. Nicholson dalam bukunya The Mystics of Islam. Imam al-Ghazali yang membatasi sampai ke Fana tingkat dua. Dia telah luruh dari segala sesuatu. . kecuali hasratnya akan Tuhan. Abu Sa‟id al-Kharraz Tanda keluruhan sang Sufi adalah keluruhannya dari hasratnya akan dunia ini dan dunia nanti. Dalam hal ini. Kalabadzi Keluruhan (Fana) adalah suatu keadaan yang di dalamnya seluruh hasrat meluruh darinya. A.sendiri yang memfana‟kan dirinya. dan tetap tinggal dikarenakan sesuatu yang menjadi milik Tuhan. yang menekankan pencapaian Fana tingkat tiga cenderung ke paham Manunggaling kawulagusti. Sebaliknya Husain bin Mansur al-Hallaj. adalah dengan meditasi (pemusatan kesadaran) dengan perantaraan zikir. yang dia lihat dan rasakan adalah Allah yang memfana‟kan dirinya. dan kehilangan kemampuan membedakan. penghayatan jiwa.[7] A. Baqa mengandung arti bahwa para Sufi itu meluruh dari sesuatu yang menjadi miliknya sendiri. Adapun salah satu jalan untuk mencapai penghayatan Fana fillah (ecstasy) disamping mendalamnya cinta rindu. Dan Fana al-Fana inilah yang mengantarkan ke tingkat Baqa.

Nafi adalah fana dan Istbat adalah baqa.[8] A. maksudnya adalah apabila proses penghilangan sifat manusia dari hasil penghancuran diri manusia itu sendiri. Faham antara Fana seiring dengan Baqa Proses penghancuran diri (Fana) rupanya tidak dapat dipisahkan dari Baqa (tetap. maka yang muncul kemudian adalah sifat yang ada pada manusia. Fana merupakan keadaan dimana seseorang hanya menyadari kehadiran Tuhan dalam dirinya. Ibnu Qayyim memberikan penjelasan tentang istilah Fana dan Baqa yaitu Fana dalam pengertian tauhid bebarengan (beriringan) dengan Baqa adalah penetapan terhadap Tuhan yang haq dalam hatimu dan menghilangkan Tuhan selain Allah. Sedangkan kedudukan Fana dan Baqa merupakan hal. Tujuan dan kedudukan Fana dan Baqa Setelah mengetahui pengertian Fana dan Baqa. Tatkala Fana dan Baqa berjalan selaras dan sesuai . Adapun salah satu paham Sufi yang menyatakan bahwa Fana seiring Baqa: ‫من فني عن المخالفات بقي فىالموافقات‬ Artinya: “Jika seseorang dapat menghilangkan maksiatnya. maka yang akan tinggal ialah takwanya”. Keluruhan sifat manusia jangan ditafsirkan sebagai tidak ada. Abu al-Qasim Faris Keluruhan adalah keadaan seseorang yang tidak menyaksikan sifatnya sendiri. tetapi tafsirkan bahwa sifat itu tertutup oleh suatu kesenangan yang menggantikan realisasi rasa sakit. terus hidup). perlu diketahui tujuan Fana dan Baqa adalah mencapai penyatuan secara ruhaniyah dan bathiniyiah dengan Tuhan sehingga yang disadarinya hanya Tuhan dalam dirinya. dan kelihatannya lebih merupakan alat.1. jembatan atau maqam menuju ittihad (penyatuan Rohani dengan Tuhan). karena hal yang demikian itu terjadi terus menerus dan juga karena dilimpahkan oleh Tuhan. tapi menyaksikannya sebagai disembunyikan oleh Dia yang membuat sifat itu lenyap. A. Disinilah bertemu antara Nafi dan Istbat.

[9] A.dengan fungsinya maka seorang Sufi merasa dirinya bersatu dengan Tuhan. Abu Yazid al-Bustami disebut-sebut sebagai Sufi yang pertama kali memperkenalkan paham Fana dan Baqa. Nama beliau sangat istimewa dalam hati kaum Sufi seluruhnya. menghilangkan sifat-sifat dan akhlak buruk (Fana). A. yang caranya antara lain dengan beramal shaleh. meninggalkan dosa dan maksiat. maka aku pun hidup. Fana dan Baqa dalam pandangan Al-Qur‟an Fana dan Baqa merupakan jalan menuju Tuhan. dan kemudian menghias diri dengan sifat-sifat Allah. telah memberi peluang kepada manusia untuk bersatu dengan Tuhan secara rohaniyah atau bathiniyah. suatu tingkatan yang mencintai dan dicintai telah menjadi satu.”( Q. Nama kecilnya adalah Thaifur. hingga aku hancur. maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya. Tokoh yang mengembangkan Fana dan Baqa Dalam sejarah tasawuf. Al-Kahfi: 110) Ayat tersebut memberi petunjuk bahwa Allah swt. S. kemudian aku tahu padanya melalui dirinya.[10] Sebagai paham Abu Yazid yang dapat dianggap sebagai timbulnya Fana dan Baqa adalah: ‫اعرفه بي ففنيت ثم عرفته به فحييت‬ Artinya: “Aku tahu pada Tuhan melalui diriku. hal ini sejalan dengan firman Allah yang berbunyi:               Artinya: “Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya.”[11] Abu Yazid adalah salah satu tokoh sufi yang telah melewati ma‟rifah melalui Fana dan Baqa. yang kemudian ini tercakup . dan beribadat semata-mata karena Allah.

tasawuf terbagi menjadi tasawuf Salaf. (Bandung: Pustaka Setia. dan tasawuf Falsafi. A. hlm.” (Q. Akhlak Tasawuf. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. 231-232. hal ini juga dapat dipahami dari isyarat ayat di bawah ini:             Artinya: “Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Sedangkan Baqa adalah sifat yang mengiringi dari proses fana dalam penghancuran diri untuk mencapai ma‟rifat. Dalam makalah ini kami membahas tentang Fana dan Baqa yang merupakan salah satu komponen dari tasawuf Suni. Abuddin Nata. (Jakarta: Raja Grafindo Persada. Akhlak Tasawuf untuk Fakultas Tarbiyah komponen MKDK.dalam konsep Fana dan Baqa. [1] [2] [3] Ibid. seseorang harus berakhlak. Akhlak dan Tasawuf mempunyai hubungan yang sangat erat. Al-Rahman: 26-27) BAB III KESIMPULAN Akhlak Tasawuf merupakan disiplin ilmu murni dalam Islam. S. Fana adalah gugurnya sifat-sifat tercela. Sufi yang pertama kali memperkenalkan paham Fana dan Baqa adalah Abu Yazid al-Bustami. Setelah melalui maqam Fana dan Baqa maka Sufi akan menemui maqam ma‟rifat. Sedangkan kedudukan Fana dan Baqa merupakan hal. 2007). 260. sedangkan Baqa adalah berdirinya sifat-sifat terpuji. Secara singkat. Sebelum bertasawuf. Mustofa. 2006). Fana adalah proses menghancurkan diri bagi seorang sufi agar dapat bersatu dengan Tuhan. tasawuf Suni. Adapun tujuan Fana dan Baqa adalah mencapai penyatuan secara ruhaniyah dan bathiniyiah dengan Tuhan sehingga yang disadarinya hanya Tuhan dalam dirinya. 259. . Dalam sejarah tasawuf. hlm. Ditinjau dari paradigma pengalamannya. hlm.

hlm. Ibid. (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. 35-36. Previous Metodologi Memahami Islam Next Takhrijul Hadits Tinggalkan Balasan Enter your comment here. hlm. Abuddin Nata. 2001). Ibid. 144-147. hlm. Simuh. 105-109. 235.. hlm. Akhlak tasawuf. [8] [9] Ibid. 234-235. (Jakarta Selatan: Hikmah. 1996. Kalabadzi. [4] [5] [6] [7] Ibid. [10] [11] Rate this: 1 Votes Like this: Suka Be the first to like this post. Mustofa. . Tasawuf dan Perkembangannya dalam Islam. Menggapai Kecerdasan Sufistik. A.Ahmadi Isa. hlm. hlm. Ibid.. Abu Bakr M. 149-151. Ajaran Tasawuf Muhammad Nafis dalam Perbandingan. 2002). hlm. hlm. Akhlak Tasawuf. 39-41.

Fill in your details below or click an icon to log in:    Email (wajib) (Belum diterbitkan) Nama (wajib) Situs web Beritahu saya balasan komentar lewat surat elektronik.. Agustus 2008 S S R K J S M « Mei Nov » 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 Search.. the last article      Akuntabilitas Pendidikan metode sosiodrama Nikah Beda Agama Akad Nikah Via Telepon Wali dalam Nikah artikelQ         artikelQ (32) cerpen (4) Free Download (4) info lomba (18) motivasi (2) my articles (3) my poem (2) pendidikan (17) .

  resensi (7) wacana keislaman (25) comment NANING KURNIASIH on Nikah Beda Agama PENALARAN INDUKTIF … on Analogi abdus sukur on Profil subahn on contoh proposal PTK nfrozi on Profil Ka' Ross on Profil siti normaidah on Profil siti normaidah on Perencanaan dan Desain Pe… siti normaidah on contoh proposal PTK anis wahdi on dalil-dalil naqli Filsafat Pen… Tulisan Teratas      Fana dan Baqa Manajemen Tenaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan Akuntabilitas Pendidikan Perencanaan dan Desain Pembelajaran dalil-dalil naqli Filsafat Pendidikan Islam tag 2009 abbasiyah akhlak tasawuf aqiqah bali BK BP cerpen demokrasi fana dan baqa filsafat pendidikan Islam fiqh fiqh muamalah fiqih munakahat Free Download Software Islami hadits Idul Fitri islam KaJi KarSa lomba lomba 2009 lomba nulis mahasiswa masail fiqh matematika maulid nabi metode pembelajaran metodologi Nganjuk pembelajaran pendidikan pergerakan pilgub jatim PMII poem PTK puasa puisi resensi sejarah status takhrij takhrijul hadits ulumul qur'an .

Kalender Agustus 2008 S S R K J S M « Mei Nov » 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 Kategori Awan Kategori artikelQ cerpen Free Download info lomba my poem motivasi my articles pendidikan resensi wacana keislaman .