Anda di halaman 1dari 5

Nama : Abdul Rouf Kelas NPM : 1KA40 : 10111028

Manusia Dan Keindahan 1. Keindahan Jika berbicara tentang keindahan, banyak sekali keindahan yang ada dalam dunia ini. Sebelum mengenal jauh tentang keindahan, terlebih dulu harus apa itu keindahan. Kata keindahan berasal dari kata indah yang artinya bagus, cantik, elok, molek, dan sebagainya. Keindahan adalah suatu konsep abstrak yang tidak dapat dinikmati karena tidak jelas. Perbedaan keindahan menurut luasnya pengertian yaitu: 1. Keindahan dalam arti yang luas. Pengertian keindahan yang seluas-luasnya meliputi keindahan seni, keindahan alam, keindahan moral, dan keindahan intelektual. 2. Keindahan dalam arti estetis murni, menyangkut pengalaman estetis dari seseorang dalam hubungannya dengan segala sesuatu yang diserapnya. 3. Keindahan dalam arti terbatas, lebih disempitkan sehingga hanya menyangkut benda yang diserapnya dengan penglihatan. Keindahan identik dengan kebenaran. Keindahan kebenaran dan kebenaran adalah keindahan. Keduanya memiliki nilai yang sama, yaitu abadi, dan mempunyai daya tarik yang selalu bertambah. Keindahan bersifat universal, artinya tidak terikat oleh selera perseorangan, waktu dan tempat, selera mode, kedaerahan atau local. Keindahan tersusun dari berbagai keselarasan dan kebaikan dari garis, warna, bentuk, nada dan kata-kata. Ada pula yang berpendapat, bahwa keindahan adalah suatu kumpulan hubungan-hubungan yang selaras dalam suatu benda dan diantara benda itu dengan si pengamat. Keindahan mempunyai nilai estetik, nilai estetik adalah nilai suatu benda yang menyebabkan menarik minat seseorang atau suatu golongan. Nilai adalah semata-mata suatu realita psikologis yang harus dibedakan secara tegas dari kegunaan karena terdapat dalam jiwa manusia dan bukan pada benda itu sendiri. Nilai digolongkan menjadi:

Nilai ekstrinsik : sifat baik suatu benda sebagai alat untuk sesuatu hal lainnya. Nilai intrinsik : sifat baik dari benda yang bersangkutan atau sebagai suatu tujuan ataupun demi kepentingan benda itu sendiri.

Selain nilai keindahan dapat dinikmati menurut selera seni dan selera biasa. Keindahan yang didasarkan pada selera seni didukung oleh faktor kontemplasi dan ekstansi. Kontemplasi adalah: dasar dalam diri manusia untuk menciptakan sesuatu yang indah. Ekstansi adalah: dasar dalam diri manusia untuk menyatakan, merasakan dan menikmati sesuatu yang indah. Apabila kedua dasar tersebut dihubungkan dengan bentuk di luar diri manusia, maka akan terjadi penilaian bahwa sesuatu itu indah. Dalam pembahasan keindahan ini pasti dilakukan karena sebuah alasan atau motivasi dan tujuan seniman menciptakan keindahan yaitu, Tata nilai yang telah usang, maksudnya tata nilai yang terjelma dalam adat istiadat ada yang sudah tidak sesuai lagi dengan keadaan, sehingga dirasakan sebagai hambatan yang merugikan dan mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan. Kemerosotan zaman, dimana keadaan yang merendahkan derajat dan nilai kemanusiaan ditandai dengan kemerosotan moral. Penderitaan manusia, keadaan dimana tidak mempunyai daya tarik dan tidak menyenangkan, karena nilai kemanusiaan telah diabaikan, dan dikatakan tidak indah. Keagungan Tuhan, keindahan alam adalah keindahan mutlak ciptaan tuhan. Seindahindah tiruan terhadap ciptaan tuhan, tidak akan menyamai keindahan ciptaan tuhan itu sendiri. Diatas sudah membahas tentang alasan atau motivasi dan tujuan sekarang saatnya kembali membahas keindahan lagi menurut pandangan romantic. Dalam buku An Essay on Man (1954), Erns Cassirer mengatakan bahwa arti keindahan tidak bisa pernah selesai diperdebatkan. Meskipun kita menggunakan kata-kata penyair romantik John Keats (1795- 1821) sebagai pegangan. Dalam Endymion dia berkata :

A thing of beauty is a joy forever its loveliness increases, it will never pass into nothingness (bahwa sesuatu yang indah adalah keriangan selama-lamanya, kemolekannya bertambah, dan tidak pernah berlalu ketiadaan). Selain Endymion, Coleridge juga berpendapat mengenai keindahan mengutip Shakespeare (1564-1616) dalam karyanya midsummer night yaitu, Thing base and vile holding no quality/love can transpose to form and dignity (Sesuatu yang rendah dan tidak mempunyai nilai, dapat berubah dan menjadi berarti).

2. Renungan Renungan berasal dari kata renung artinya diam-diam memikirkan sesuatu dengan dalamdalam. Dalam merenung untuk menciptakan seni ada beberapa teori, yaitu : Teori Pengungkapan.

Dalil teori ini adalah art is an expression of human feeling (Seni adalah suatu pengungkapan dari perasaan manusia. Tokoh teori ekspresi ini yang paling terkenal ialah filsuf italia Benedeto Croce dan Leo Tolstoi. Benedeto Croce mengungkapkan bahwa art is expressions of impressions (Seni adalah pengungkapan dari kesan-kesan) expression adalah sama dengan intuition. Intuinsi adalah pengetahuan intuintif yang diperoleh melalui penghayatan tentang hal-hal individual yang menghasilkan gambaran angan-angan. Sedangkan menurut Leo Tolstoi, bahwa kegiatan seni adalah memunculkan dalam diri sendiri suatu perasaan yang seseorang telah mengalaminya dan setelah memunculkan itu kemudian dengan perantara berbagai gerak, garis, warna, suara dan bentuk yang diungkapkan dalam kata-kata memindahkan perasaan itu sehingga orang-orang mengalami perasaan yang sama. Teori Metafisik.

Teori seni yang bercorak metafisis merupakan salah satu teori yang tertua. Orang yang menggunakan firasat sebagai dasar merenung. Tokoh yang mengemukakan teori metafisik ini adalah Plato dan Arthur Schopenhauer (1788-1860). Plato mengemukakan bahwa teori metafisik

adalah suatu teori peniruan (imitation Theory), sedangkan menurut Arthur Schopenhauer adalah suatu bentuk dari pemahaman terhadap realita. Teori Psikologis.

Penciptaan seni didasarkan pada kejiwaan. Suatu teori lain tentang sumber seni adalah teori permainan (dikembangkan oleh Freedrick Schiller 1757- 1805 dan Herbert Spencer 1820 1903) dan teori penandaan.

3. Keserasian Keserasian berasal dari kata serasi dan dari kata rasi, artinya cocok, kena benar, dan sesuai benar. Kata cocok, kena dan sesuai itu mengandung unsur perpaduan, pertentangan, ukuran dan seimbang. Filsuf Inggris, Herbert merumuskan definisi bahwa keindahan adalah kesatuan dan hubungan-hubungan bentuk yang terdapat diantara pencerapan-pencerapan inderawi kita. Teori Objektif dan Teori Subjektif

The Liang Gie dalam bukunya garis besar estetika menjelaskan bahwa dalam menciptakan seni ada 2 teori yaitu : 1. Teori objektif berpendapat bahwa keindahan atau ciri-ciri yang mencipta nilai estetik adalah sifat (kualitas) yang memang benar melekat dalam bentuk indah yang bersangkutan, terlepas dari orang yang mengamatinya. Pendukung teori objektif adalah Plato, Hegel dan Bernard Bocanquat. 2. Teori subjektif menyatakan bahwa ciri-ciri yang menciptakan keindahan suatu benda itu tidak ada, yang ada hanya perasaan dalam diri seseorang yang mengamati sesuatu benda. Pendukung teori subjektif adalah Henry Home, Earlof Shaffesbury dan Edmund Burke. Teori Perimbangan

Teori perimbangan tentang keindahan dari bangsa Yunani Kuno dahulu dipahami pula dalam arti yang lebih terbatas yakni secara kualitatif yang diungkapkan dengan angka-angka.

Teori perimbangan berlaku dari abad ke-5 SM sampai abad ke-17 Masehi selama 22 abad. Teori tersebut runtuh karena desakan dari filsafat empirisme dan aliran-aliran termasuk dalam seni. Bagi mereka keindahan hanyalah kesan yang subjektif sifatnya. Para seniman romantik umumnya berpendapat bahwa keindahan sesungguhnya tercipta dan tidak adanya keteraturan, yakni tersusun dari daya hidup, penggambaran, pelimpahan dan pengungkapan perasaan.