Anda di halaman 1dari 15

Artritis Reumatoid

Istilah rheumatism berasal dari bahasa Yunani, rheumatismos, yang berarti mukus; suatu cairan yang dianggap jahat, mengalir dari otak ke sendi dan struktur lain tubuh sehingga menimbulkan rasa nyeri. Beberapa penelitian menunjukkan memang ada perubahan struktur mucine sendi (mukopolisakarida, asam hialuronat) pada beberapa jenis penyakit reumatik, sehingga istilah yang telah agak lama dipakai itu agaknya masih sesuai sampai saat ini. Setiap kondisi yang disertai nyeri dan kaku pada sistem muskuloskeletal disebut reumatik, termasuk penyakit jaringan ikat (penyakit kolagen). Sedangkan istilah artritis, umumnya dipakai bila sendi merupakan tempat utama penyakit reumatik. Reumatologi adalah ilmu yang mempelajari penyakit sendi, termasuk penyakit artritis, fibrositis, bursitis, neuralgia dan kondisi lainnya yang menimbulkan nyeri somatik dan kekakuan. Hingga kini dikenal lebih dari 100 macam penyakit sendi yang seringkali memberikan gejala yang hampir sama. Oleh karena itu pendekatan diagnostik sangat diperlukan agar didapatkan diagnosis yang tepat, sehingga pasien akhirnya memperolah penatalaksanaan yang adekuat. Perlu diingat pula bahwa gangguan reumatik dapat merupakan manifestasi artikular berbagai penyakit dan sebaliknya beberapa penyakit reumatik mempunyai manifestasi ekstra-artikular pada berbagai organ. (1) 2.1. Definisi Artritis Reumatoid (AR) merupakan suatu penyakit inflamasi sistemik kronik yang walaupun manifestasi utamanya adalah poliartritis yang progesif, akan tetapi penyakit ini juga melibatkan seluruh organ tubuh.7 Terlibatnya sendi pada pasien artritis reumatoid terjadi setelah penyakit ini berkembang lebih lanjut sesuai dengan sifat progesifitasnya.3 Pada umumnya selain gejala artikular, AR dapat pula menunjukkan gejala konstitusional berupa kelemahan umum, cepat lelah atau gangguan organ non artikular lainnya.7 Artritis Reumatoid ditandai dengan adanya peradangan dari lapisan selaput sendi (sinovium) yang mana menyebabkan sakit, kekakuan, hangat, bengkak dan merah. Peradangan sinovium dapat menyerang dan merusak tulang dan kartilago. Sel penyebab radang melepaskan enzim yang dapat mencerna tulang dan kartilago. Sehingga dapat terjadi kehilangan bentuk dan kelurusan pada sendi, yang menghasilkan rasa sakit dan pengurangan kemampuan bergerak.2 Artritis adalah inflamasi dengan nyeri, panas, pembengkakan, kekakuan dan kemerahan pada sendi. Akibat artritis, timbul inflamasi umum yang dikenal sebagai artritis reumatoid yang merupakan penyakit autoimun.14 Manifestasi tersering penyakit ini adalah terserangnya sendi yang umumnya menetap dan progresif. Mula-mula yang terserang adalah sendi kecil tangan dan kaki. Seringkali keadaan ini mengakibatkan deformitas sendi dan gangguan fungsi disertai rasa nyeri.16 2.2. Epidemiologi

Pengemban HLA-DR4 memiliki resiko relatif 4:1 untuk menderita penyakit ini.1 persen).8 Sejak tahun 1930. Walaupun demikian karena pemberian hormon estrogen eksternal tidak pernah menghasilkan perbaikan sebagaimana yang diharapkan. Antigen . Serangan pada umumnya terjadi di usia pertengahan.8.1 juta orang Amerika.10 2.8 Kecenderungan wanita untuk menderita AR dan sering dijumpainya remisi pada wanita yang sedang hamil menimbulkan dugaan terdapatnya faktor keseimbangan hormonal sebagai salah satu faktor yang berpengaruh pada penyakit ini.3. Agen infeksius yang diduga merupakan penyebab AR antara lain adalah bakteri.000 pria. mekanisme ini belum diketahui dengan jelas. dengan perbandingan wanita dan pria sebesar 3:1.7 Perbandingan ini mencapai 5:1 pada wanita dalam usia subur.2 2.3 sampai 2. Faktor genetik dan beberapa faktor lingkungan telah lama diduga berperan dalam timbulnya penyakit ini. infeksi telah diduga merupakan penyebab AR. nampak lebih sering pada orang lanjut usia. yang kebanyakan wanita. sel dendritik atau makrofag yang semuanya mengekspresi determinan HLA-DR pada membran selnya. Walaupun hingga kini belum berhasil dilakukan isolasi suatu mikroorganisme dari jaringan sinovial. Etiologi Penyebab Artritis Reumatoid masih belum diketahui. Hal ini terbukti dari terdapatnya hubungan antara produk kompleks histokompatibilitas utama kelas II. akan diproses oleh antigen presenting cells (APC) yang terdiri dari berbagai jenis sel seperti sel sinoviosit A. 1. Dugaan faktor infeksi sebagai penyebab AR juga timbul karena umumnya onset penyakit ini terjadi secara mendadak dan timbul dengan disertai oleh gambaran inflamasi yang mencolok. khususnya HLA-DR4 dengan AR seropositif.Artritis Reumatoid merupakan suatu penyakit yang telah lama dikenal dan tersebar luas di seluruh dunia serta melibatkan semua ras dan kelompok etnik.8 Artritis Reumatoid menyerang 2.5 juta wanita mempunyai artritis reumatoid yang dibandingkan dengan 600. sehingga kini belum berhasil dipastikan bahwa faktor hormonal memang merupakan penyebab penyakit ini. mikoplasma atau virus. Prevalensi Artritis Reumatoid adalah sekitar 1 persen populasi (berkisar antara 0.15 Artritis Reumatoid lebih sering dijumpai pada wanita. Walaupun telah diketahui terdapat hubungan antara HSP dan sel T pada pasien AR.10 Heat shock protein (HSP) adalah sekelompok protein berukuran sedang (60 sampai 90 kDa) yang dibentuk oleh sel seluruh spesies sebagai respons terhadap stress.4. Patogenesis Dari penelitian mutakhir diketahui bahwa patogenesis AR terjadi akibat rantai peristiwa imunologis sebagai berikut : Suatu antigen penyebab AR yang berada pada membran sinovial. hal ini tidak menyingkirkan kemungkinan bahwa terdapat suatu komponen peptidoglikan atau endotoksin mikroorganisme yang dapat mencetuskan terjadinya AR.

. interleukin-4 (IL-4). Faktor reumatoid adalah suatu autoantibodi terhadap epitop fraksi Fc IgG yang dijumpai pada 70-90 % pasien AR. Produksi antibodi oleh sel B ini dibantu oleh IL-1. interleukin-3 (IL-3). Faktor reumatoid akan berikatan dengan komplemen atau mengalami agregasi sendiri. IL-2. Pada tahap selanjutnya kompleks antigen trimolekular tersebut akan mengekspresi reseptor interleukin-2 (IL-2) Pada permukaan CD4+. leukotrien. sehingga proses destruksi sendi akan berlangsung terus. Rantai peristiwa imunologis ini sebenarnya akan terhenti bila antigen penyebab dapat dihilangkan dari lingkungan tersebut. antigen atau komponen antigen umumnya akan menetap pada struktur persendian. antibodi yang dihasilkan akan membentuk kompleks imun yang akan berdifusi secara bebas ke dalam ruang sendi. Kompleks trimolekular ini dengan bantuan interleukin-1 (IL-1) yang dibebaskan oleh monosit atau makrofag selanjutnya akan menyebabkan terjadinya aktivasi sel CD4+. tumor necrosis factor b (TNF-b). Proliferasi sel CD4+ ini akan berlangsung terus selama antigen tetap berada dalam lingkunan tersebut. Prostaglandin E2 (PGE2) memiliki efek vasodilator yang kuat dan dapat merangsang terjadinya resorpsi tulang osteoklastik dengan bantuan IL-1 dan TNF-b. prostaglandin dan protease neutral (collagenase dan stromelysin) yang akan menyebabkan erosi rawan sendi dan tulang. Pengendapan kompleks imun akan mengaktivasi sistem komplemen yang akan membebaskan komponen-komplemen C5a. granulocyte-macrophage colony stimulating factor (GM-CSF) serta beberapa mediator lain yang bekerja merangsang makrofag untuk meningkatkan aktivitas fagositosisnya dan merangsang proliferasi dan aktivasi sel B untuk memproduksi antibodi.10 Tidak terhentinya destruksi persendian pada AR kemungkinan juga disebabkan oleh terdapatnya faktor reumatoid. Fagositosis kompleks imun oleh sel radang akan disertai oleh pembentukan dan pembebasan radikal oksigen bebas. Pengendapan kompleks imun juga menyebabkan terjadinya degranulasi mast cell yang menyebabkan terjadinya pembebasan histamin dan berbagai enzim proteolitik serta aktivasi jalur asam arakidonat.10 Radikal oksigen bebas dapat menyebabkan terjadinya depolimerisasi hialuronat sehingga mengakibatkan terjadinya penurunan viskositas cairan sendi. IL-2 yang diekskresi oleh sel CD4+ akan mengikatkan diri pada reseptor spesifik pada permukaannya sendiri dan akan menyebabkan terjadinya mitosis dan proliferasi sel tersebut. Setelah berikatan dengan antigen yang sesuai. infiltrasi sel PMN dan pengendapan fibrin pada membran sinovial. Selain IL-2. sehingga proses peradangan akan berlanjut terus.8.yang telah diproses akan dikenali dan diikat oleh sel CD4+ bersama dengan determinan HLA-DR yang terdapat pada permukaan membran APC tersebut membentuk suatu kompleks trimolekular. dan IL-4. Akan tetapi pada AR. Pemeriksaan histopatologis membran sinovial menunjukkan bahwa lesi yang paling dini dijumpai pada AR adalah peningkatan permeabilitas mikrovaskular membran sinovial. Selain itu radikal oksigen bebas juga merusak kolagen dan proteoglikan rawan sendi. CD4+ yang telah teraktivasi juga mensekresi berbagai limfokin lain seperti gamma-interferon. Komponenkomplemen C5a merupakan faktor kemotaktik yang selain meningkatkan permeabilitas vaskular juga dapat menarik lebih banyak sel polimorfonuklear (PMN) dan monosit ke arah lokasi tersebut.

Masuknya sel radang ke dalam membran sinovial akibat pengendapan kompleks imun menyebabkan terbentuknya pannus yang merupakan elemen yang paling destruktif dalam patogenesis AR. Hampir semua sendi diartrodial dapat terserang. 3. Terkadang kelelahan dapat demikian hebatnya. Kekakuan ini berbeda dengan kekakuan sendi pada osteoartritis. Gambaran Klinis Ada beberapa gambaran klinis yang lazim ditemukan pada penderita artritis reumatoid. anoreksia. termasuk sendi-sendi di tangan. Gambaran klinis ini tidak harus timbul sekaligus pada saat yang bersamaan oleh karena penyakit ini memiliki gambaran klinis yang sangat bervariasi. Secara histopatologis pada daerah perbatasan rawan sendi dan pannus terdapatnya sel mononukleus. Kekakuan di pagi hari selama lebih dari 1 jam: dapat bersifat generalisata tatapi terutama menyerang sendi-sendi. mikrovaskular dan berbagai jenis sel radang. . namun biasanya tidak melibatkan sendi-sendi interfalangs distal. Pannus merupakan jaringan granulasi yang terdiri dari sel fibroblas yang berproliferasi. 2.7 2. Poliartritis simetris terutama pada sendi perifer. yang biasanya hanya berlangsung selama beberapa menit dan selalu kurang dari 1 jam.5. berat badan menurun dan demam. Gejala-gejala konstitusional. misalnya lelah. umumnya banyak dijumpai kerusakan jaringan kolagen dan proteoglikan. 1.

walaupun demikian nodula-nodula ini dapat juga timbul pada tempat-tempat lainnya. Kriteria American Rheumatism Association untuk Artritis Reumatoid. Adanya nodula-nodula ini biasanya merupakan suatu petunjuk suatu penyakit yang aktif dan lebih berat. 5 . subluksasi sendi metakarpofalangeal.13 Tabel 2.Gambar 1. deformitas boutonniere dan leher angsa adalah beberapa deformitas tangan yang sering dijumpai pada penderita. Artritis erosif merupakan ciri khas penyakit ini pada gambaran radiologik. mata. Revisi 1987. Manifestasi ekstra-artikular: artritis reumatoid juga dapat menyerang organ-organ lain di luar sendi. 6. 7. Nodula-nodula reumatoid adalah massa subkutan yang ditemukan pada sekitar sepertiga orang dewasa penderita arthritis rheumatoid. dan pembuluh darah dapat rusak. Jantung (perikarditis). Peradangan sendi yang kronik mengakibatkan erosi di tepi tulang dan ini dapat dilihat pada radiogram. paru-paru (pleuritis). Pergeseran ulnar atau deviasi jari. 4 4. Pada kaki terdapat protrusi (tonjolan) kaput metatarsal yang timbul sekunder dari subluksasi metatarsal. Rheumatoid Arthritis Versus Osteoarthritis. Lokasi yang paling sering dari deformitas ini adalah bursa olekranon (sendi siku ) atau di sepanjang permukaan ekstensor dari lengan. Sendi-sendi besar juga dapat terserang dan mengalami pengurangan kemampuan bergerak terutama dalam melakukan gerak ekstensi. 5. Deformitas: kerusakan dari struktur-struktur penunjang sendi dengan perjalanan penyakit.

Manivestasi Klinis Artritis Reumatoid Walaupun gejala AR dapat timbul berupa serangan poliartritis akut yang berkembang cepat dalam beberapa hari. pergelangan tangan. siku pergelangan kaki dan MTP kiri dan kanan. MCP. seseorang dikatakan menderita artritis reumatoid jika ia sekurang-kurangnya memenuhi 4 dari 7 kriteria di atas. MCP : Metacarpophalangeal. Artritis simetris 5. Perubahan gambaran radiologis yang radiologis khas bagi arthritis reumotoid pada periksaan sinar X tangan posteroanterior atau pergelangan tangan yang harus menunjukkan adanya erosi atau dekalsifikasi tulang yang berlokalisasi pada sendi atau daerah yang berdekatan dengan sendi (perubahan akibat osteoartritis saja tidak memenuhi persyaratan). definit. Pembagian diagnosis sebagai artritis reumatoid klasik. Artritis pada persendian tangan 4. Terdapatnya titer abnormal faktor reumatoid serum yang diperiksa dengan cara yang memberikan hasil positif kurang dari 5% kelompok kontrol yang diperiksa. Artritis pada 3 daerah 3. Keterlibatan sendi yang sama (seperti yang tertera pada kriteria 2 pada kedua belah sisi. Perubahan gambaran Definisi Kekakuan pada pagi hari pada persendian dan disekitarnya. Pasien dengan dua diagnosis tidak dieksklusikan.1. keterlibatan PIP. Nodul subkutan pada penonjolan tulang atau permukaan ekstensor atau daerah juksta-artrikular yang diobservasi oleh seorang dokter. Kaku pagi hari 2. sekurangnya selama 1 jam sebelum perbaikan maksimal Pembengkakan jaringan lunak atau persendian atau lebih efusi (bukan pertumbuhan tulang) pada sekurangkurangnya 3 sendi secara bersamaan yang diobservasi oleh seorang dokter. pada umumnya gejala penyakit berkembang secara perlahan dalam masa beberapa . Sekurang-kurangnya terjadi pembengkakan satu persendian tangan seperti yang tertera diatas. Kriteria 1 sampai 4 harus terdapat minimal selama 6 minggu. Untuk keperluan klasifikasi. * PIP : Proximal Interphalangeal. Nodul rheumatoid 6. Dalam kriteria ini terdapat 14 persendian yang memenuhi kriteria yaitu PIP. MCP atau MTP bilateral dapat diterima walaupun tidak mutlak bersifat simetris. probable atau possible tidak perlu dibuat.Kriteria 1. MTP: Metatarsophalangeal 2. Faktor rheumatoid serum 7.

Gejala klinis yang berhubungan dengan aktivitas sinovitis adalah kaku pagi hari. Neuropati kompresi atau jepitan terjadi akibat pembengkakan jaringan ikat yang menekan saraf tepi. Mielopati dapat terjadi pada penderita AR karena sering terlibatnya vertebra servikalis dan menimbulkan penyempitan kanalis spinalis pada fleksi leher setelah terjadi subluksasi atlantoaksial. Jarang terjadi neuropati sensorimotor. Gejala kaku pagi hari akan menghilang jika remisi dapat tercapai. Manivestasi Artikular Manifestasi artikular ini dapat dibagi menjadi 2 kategori : 1. Lamanya kaku pagi hari pada AR agaknya berhubungan dengan lamanya imobilisasi pada saat pasien sedang tidur serta beratnya inflamasi. yang pada umumnya lebih dari 1 jam. Pada fihak lain kerusakan struktur persendian akibat kerusakan rawan sendi atau erosi tulang periartikular merupakan proses yang tidak dapat diperbaiki lagi dan memerlukan modifikasi mekanik atau pembedahan rekonstruktif. Kekakuan pada pagi hari merupakan gejala yang selalu dijumpai pada AR aktif. Penderita artritis reumatoid lanjut harus mengenakan bidai leher bila mengendarai mobil atau motor dan harus dilakukan foto leher posisi fleksi sebelum menjalani anestesi umum. 2. Dalam keadaan ini AR juga dapat bermanifestasi sebagai paurciarticular rheumatism. Inflamasi akan menyebabkan terjadinya . Manivestasi Neurologis Manivestasi neurologis sering terjadi pada penderita artritis reumatoid kronis dengan faktor reumatoid positif. Sinovitis merupakan kelainan yang umumnya bersifat reversibel dan dapat diatasi dengan pengobatan medikamentosa atau pengobatan non-surgikal lainnya. Dalam keadaan dini. Artritis reumatoid juga dapat mengakibatkan miopati.1 2. Gejala inflamasi akibat aktivitas sinovitis yang bersifat reversibel. Gejala akibat kerusakan struktur persendian yang bersifat ireversibel. Paling sering terjadi kompresi saraf medianus pada pergelangan tangan yang dikenal sebagai sindroma terowongan karpal (CTS).2. tetapi bila terjadi bersifat progresif dan dapat menyebabkan suatu penurunan kemampuan penderita dalam melakukan aktivitas.3. kaku pagi hari pada AR berlangsung lebih lama. AR dapat bermanifestasi sebagai palindromic rheumatism.11 2. Faktor lain penyebab kaku pagi hari adalah inflamasi akibat sinovitis. carpal tunnel syndrome). Adalah sangat penting untuk membedakan kedua hal ini karena penatalaksanaan kedua kelainan tersebut sangat berbeda. Neuropati sensoris bagian distal dengan disestesia atau rasa terbakar pada tangan atau kaki yang terjadi kadang sukar dibedakan dengan gejala artritisnya. Sering terjadi neuropati. yaitu gejala poliartritis yang melibatkan 4 persendian atau kurang. Kedua gambaran klinis seperti ini seringkali menyebabkan kesukaran dalam menegakkan diagnosis AR dalam masa dini. yaitu timbulnya gejala monoartritis yang hilang timbul yang berlangsung antara 3 sampai 5 hari dan diselingi dengan masa remisi sempurna sebelum bermanifestasi sebagai AR yang khas. Gejala akibat gangguan sirkulasi posterior berupa vertigo dan kelemahan akibat kompresi atau trombosis arteria vertebralis.minggu. Berbeda dengan rasa kaku yang dapat dialami oleh pasien osteoartritis atau kadang-kadang oleh orang normal.

Jika kerusakan rawan sendi terjadi pada daerah yang luas dan imobilisasi berlangsung lama. . Gejala dini AR pada Vertebra servikalis umumnya bermanifestasi sebagai kekakuan pada seluruh segmen leher disertai dengan berkurangnya lingkup gerak sendi secara menyeluruh. akan terjadi fusi tulang-tulang yang membentuk persendian.imobilisasi persendian yang jika berlangsung lama akan mengurang pergerakan sendi baik secara aktif maupun secara pasif. Gelang Bahu Peradangan pada gelang bahu akan mengurangi lingkup gerak sendi gelang bahu. Walaupun demikian. ligamen atau rawan sendi. Karena dalam aktivitas sehari-hari gerakan bahu tidak memerlukan lingkup gerak yang luas. Deformitas persendian pada AR dapat terjadi akibat beberapa mekanisme yang berhubungan dengan terjadinya sinovitis dan pembentukan pannus.C2. umumnya pada keadaan dini pasien tidak merasa terganggu dengan keterbatasan tersebu. Lebih jauh pannus yang menginvasi jaringan kolagen serta proteoglikan rawan sendi dan tulang dapat menghancurkan struktur persendian sehingga terjadi ankilosis. terdapat beberapa aspek khusus yang berhubungan dengan sendi tertentu. Gangguan stabilitas dapat jelas terlihat pada subluksasio persendian MCP akibat terjadinya perubahan arah gaya tarik tendon sepanjang aksis rotasi sehingga menyebabkan terbentuknya deviasi ulnar yang khas dan AR. Vertebra Servikalis Walaupun AR jarang melibatkan segmen vertebralis lainnya. Sinovitis akan menyebabkan kerusakan rawan sendi dan erosi tulang periartikular sehingga menyebabkan terbentuknya permukaan sendi yang tidak rata. Proses inflamasi ini melibatkan persendian diartrodial yang tidak tampak atau teraba oleh pemeriksaan.1 Otot dan tendon yang berdekatan dengan persendian yang mengalami peradangan cenderung untuk mengalami spasme dan pemendekan. Gangguan stabilitas sendi akibat peradangan dan kerusakan pada permukaan sendi apofiseal dan pengenduran ligamen juga dapat menyebabkan terjadinya subluksasio yang sering dijumpai pada C4-C5 atau C5 -C6.1 Walaupun peran sinovitis dalam menyebabkan deformitas persendian berlaku bagi semua persendian. (MCP) dan otot peroneus anterior yang berjalan sepanjang persendian talonavikularis pada arkus pedis.1 Tenosinovitis ligamen transversum C1 yang mempertahankan kedudukan prosesus odontoid C2 dapat menyebabkan timbulnya gangguan stabilitas C1. Mielopati dapat timbul akibat terjadinya erosi prosesus odontoin yang menyebabkan pengenduran dan ruptura ligamen sehingga menimbulkan penekanan pada medulla spinalis. vertebra servikalis merupakan segmen yang sering terlibat pada AR. Ligamen yang dalam keadaan normal berfungsi untuk mempertahankan kedudukan persendian yang stabil dapat pula menjadi lemah akibat sinovitis yang menetap atau pembentukan pannus yang memiliki kemampuan melarutkan kolagen tendon. Fenomen ini terutama jelas terlihat pada otot intrinsik tangan yang berjalan sepanjang persendian metacarpophalangeal. tanpa latihan pencegahan akan mudah terjadi kekakuan gelang bahu yang berat yang disebut sebagai frozen shoulder syndrome.

Walaupun . FACEP. Arthritis. keterlibatan persendian pergelangan tangan. Rheumatoid nodules at the elbow. MCP dan PIP hampir selalu dijumpai pada AR.Siku Karena terletak superfisial. heperekstensi PIP dan fleksi DIP serta boutonniere akibat fleksi PIP dan hiperekstensi DIP dapat terjadi akibat kontraktur otot serta tendon fleksor dan interoseus merupakan deformitas patognomonik yang banyak dijumpai pada AR Selain gejala yang berhubungan dengan sinovitis. Gejala ini bermanifestasi sebagai parestesia jari 4 dan 5 akan kelemahan otot fleksor jari 5 Gambar 2. Sinovitis dapat menimbulkan penekanan pada nervus ulnaris sehingga menimbulkan gejala neuropati tekanan. Rheumatoid. Gambaran swan neck deformities akibat fleksi kontraktur MCP.17 Tangan Berlainan dengan persendian distal interphalangeal (DIP) yang relatif jarang dijumpai. sinovitis artikulasio kubiti dapat dengan mudah teraba oleh pemeriksa. Photograph by David Effron MD. pada AR juga dapat dijumpai nyeri atau disfungsi persendian akibat penekana nervus medianus yang terperangkap dalam rongga karpalis yang mengalami sinovitis sehingga menyebabkan gejala carpal tunnel syndrome.

jarang. kelainan sendi panggul akibat AR umumnya sulit dideteksi dalam keadaan dini. Lutut Penebalan sinovial dan efusi lutut umumnya mudah dideteksi pada pemeriksaan. Walaupun demikian. Rheumatoid changes in the hand. Herniasi kapsul sendi kearah posterior dapat menyebabkan terbentuknya kista Baker. Tenosinovitis pada AR dapat menyebabkan terjadinya erosi tendon dan mengakibatkan terjadinya ruptur tendon yang terlibat. Rheumatoid. 17 Panggul Karena sendi panggul terletak jauh di dalam pelvis. FACEP. Kaki dan Pergelangan Kaki . Arthritis. Gambar 3. Photograph by David Effron MD. gejala gangguan sendi panggul akan berkembang lebih cepat dibandingkan gangguan pada persendian lainnya. jika destruksi rawan sendi telah terjadi. AR dapat pula menyebabkan terjadinya tenosinovitis akibat pembentukan nodul reumatoid sepanjang sarung tendon yang dapat menghambat gerakan tendon dalam sarungnya. nervus ulnaris yang berjalan dalam kanal Guyon dapat pula mengalami penekanan dengan mekanisme yang sama. Pada keadaan dini keterlibatan sendi panggul mungkin hanya dapat terlihat sebagai keterbatasan gerak yang tidak jelas atau gangguan ringan pada kegiatan tertentu seperti saat mengenakan sepatu.

Keterlibatan persendian MTP. Protein C-reaktif biasanya positif. Leukosit normal atau meningkat sedikit. 3. Pemeriksaan Penunjang Tidak banyak berperan dalam diagnosis artritis reumatoid.4. sirosis hepatis. lues. 4. semua sendi dapat terkena. Umumnya berhubungan dengan mielopati akibat ketidakstabilan vertebra servikal dan neuropati iskemik akibat vaskulitis. Sisanya dapat dijumpai pada pasien lepra. keterlibatan ini akan menimbulkan disfungsi dan rasa nyeri yang lebih berat dibandingkan dengan keterlibatan ekstremitas atas. Anemia normositik hipokrom akibat adanya inflamasi yang kronik. Komplikasi saraf yang terjadi tidak memberikan gambaran jelas. Pada pemeriksaan laboraturium terdapat: 1.5. dan sarkoidosis. . 6. 7. 2. nervue tibialis posterior dapat pula mengalami penekanan akibat sinovitis pada rongga tarsalis (tarsal tunnel) yang dapat menimbulkan gejala parestesia pada telapak kaki. sehingga sukar dibedakan antara akibat lesi artikular dan lesi neuropatik. tapi yang tersering adalah sendi metatarsofalang dan biasanya simetris. Trombosit meningkat. LED meningkat. Kemudian terjadi penyempitan sendi dan erosi. Pada periksaan rontgen. 5. 2. Sendi sakroiliaka juga sering terkena. talonavikularis dan pergelangan kaki merupakan gambaran yang khas AR. hepatitis infeksiosa. 2. Kadar albumin serum turun dan globulin naik. Komplikasi Kelainan sistem pencernaan yang sering dijumpai adalah gastritis dan ulkus peptik yang merupakan komplikasi utama penggunaan obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) atau obat pengubah perjalanan penyakit (disease modifying antirheumatoid drugs. penyakit kolagen. DMARD) yang menjadi faktor penyebab morbiditas dan mortalitas utama pada artritis reumatoid. Peradangan pada sendi talonavikularis akan menyebabkan spasme otot yang berdekatan sehingga menimbulkan deformitas berupa pronasio dan eversio kaki yang khas pada AR. namun dapat menyokong bila terdapat keraguan atau untuk melihat prognosis pasien. Pada awalnya terjadi pembengkakan jaringan lunak dan demineralisasi juksta artikular. tuberkulosis paru. endokarditis bakterialis. Tes faktor reuma biasanya positif pada lebih dari 75% pasien artritis reumatoid terutama bila masih aktif. Karena persendian kaki dan pergelangan kaki merupakan struktur yang menyangga berat badan. Walaupun jarang.

Mula khasiatnya baru terlihat setelah 3-12 bulan kemudian. OAINS diberikan sejak dini untuk mengatasi nyeri sendi akibat inflamasi yang sering dijumpai. Setelah 2-5 tahun.6 1. 3. piroksikam. atau dikombinasi. Tanpa hubungan yang baik ini agaknya akan sukar untuk dapat memelihara ketaatan pasien untuk tetap berobat dalam suatu jangka waktu yang cukup lama. sampai mencapai dosis 4 x 500 mg. dan pemfigus. atau bila respon OAINS tidak baik. Ibuprofen. pendekatan pertama yang harus dilakukan adalah segera berusaha untuk membina hubungan yang baik antara pasien dengan keluarganya dengan dokter atau tim pengobatan yang merawatnya. kemudian dinaikkan 0. Pendidikan pada pasien mengenai penyakitnya dan penatalaksanaan yang akan dilakukan sehingga terjalin hubungan baik dan terjamin ketaatan pasien untuk tetap berobat dalam jangka waktu yang lama. dan anemia hemolitik. meski masih dalam status tersangka. Aspirin Pasien dibawah 50 tahun dapat mulai dengan dosis 3-4 x 1 g/hari.2. b. OAINS yang dapat diberikan: a. Klorokuin. Setelah remisi tercapai. Penatalaksanaan Setelah diagnosis AR dapat ditegakkan. 2. berupa penurunan ketajaman penglihatan. . Efek sampingnya nausea. dermatitis makulopapular. namun efektivitasnya lebih rendah dibandingkan dengan yang lain.6 g per minggu sampai terjadi perbaikan atau gejala toksik. stomatitis.3-0. Jenis-jenis yang digunakan adalah: a. Efek samping antara lain ruam kulit urtikaria atau mobiliformis. kurang disukai karena bekerja sangat lambat. dan dyspepsia. diklofenak. Keputusan penggunaannya bergantung pada pertimbangan risiko manfaat oleh dokter. maka efektivitasnya dalam menekan proses reumatoid akan berkurang. obat ini dihentikan dan diganti dengan yang lain. ditingkatkan 500 mg per minggu. b. paling banyak digunakan karena harganya terjangkau. Jika dalam waktu 3 bulan tidak terlihat khasiatnya. muntah. c. Efek samping bergantung pada dosis harian. Sulfasalazin dalam bentuk tablet bersalut enteric digunakan dalam dosis 1 x 500 mg/hari. diare. Dosis terapi 20-30 mg/dl.6. naproksen. dosis dapat diturunkan hingga 1 g/hari untuk dipakai dalam jangka panjang sampai tercapai remisi sempurna. Umumnya segera diberikan setelah diagnosis artritis reumatoid ditegakkan. kemudian dosis ditingkatkan setiap 2-4 minggu sebesar 250-300 mg/hari untuk mencapai dosis total 4x 250-300 mg/hari. dan sebagainya. D-penisilamin. Dosis anjuran klorokuin fosfat 250 mg/hari hidrosiklorokuin 400 mg/hari. Digunakan dalam dosis 250-300 mg/hari. DMARD digunakan untuk melindungi rawan sendi dan tulang dari proses destruksi akibat artritis reumatoid. nausea.

Hal ini masih merupakan persoalan yang banyak diteliti saat ini. Penggunaan siklosporin untuk artritis reumatoid masih dalam penelitian. stomatitis. dan aplasia sumsum tulang. f. Kortikosteroid hanya dipakai untuk pengobatan artritis reumatoid dengan komplikasi berat dan mengancam jiwa. Dapat diberikan suntikan kortikosteroid intraartikular jika terdapat peradangan yang berat. Dapat dilanjutkan dengan dosis tambahan sebesar 50 mg tiap 2 minggu sampai 3 bulan. e. Efek samping jarang ditemukan.9 5. Sebelumnya. Jika diperlukan. Rehabilitasi pasien AR . Obat imunosupresif atau imunoregulator. Riwayat Penyakit alamiah Riwayat penyakit alamiah AR sangat bervariasi. Dalam dosis rendah (seperti prednison 5-7. trombositopenia.5 mg satu kali sehari) sangat bermanfaat sebagai bridging therapy dalam mengatasi sinovitis sebelum DMARD mulai bekerja. dosis harus ditingkatkan. Auro sodium tiomalat (AST) diberikan intramuskular. Bila dalam 4 bulan tidak menunjukkan perbaikan.5 mg setiap minggu. Efek samping lebih jarang dijumpai. Pada umumnya 25% pasien akan mengalami manifestasi penyakit yang bersifat monosiklik (hanya mengalami satu episode AR dan selanjutnya akan mengalami remisi sempurna).d. timbulnya efek samping jangka panjang kortikosteroid. Metotreksat sangat mudah digunakan dan waktu mula kerjanya relatif pendek dibandingkan dengan yang lain. karena obat ini memiliki efek samping yang sangat berat. Seminggu kemudian diberikan dosis penuh 50 mg/minggu selama 20 minggu. Jenis yang lain adalah auranofin yang diberikan dalam dosis 2 x 3 mg. Efek samping berupa pruritis. seminggu kemudian disusul dosis kedua sebesar 20 mg. proteinuria. Pada pihak lain sebagian besar pasien akan menderita penyakit ini sepanjang hidupnya dengan hanya diselingi oleh beberapa masa remisi yang singkat (jenis polisiklik). Dosis jarang melebihi 20 mg/minggu. umumnya pasien akan mulai merasakan bahwa remisi mulai sukar dipertahankan dengan pengobatan yang biasa digunakan selama itu.12 Penelitian jangka panjang menunjukkan bahwa dengan pengobatan yang digunakan saat ini. sebagian besar pasien AR umumnya akan dapat mencapai remisi dan dapat mempertahankannya dengan baik pada 5 atau 10 tahun pertamanya.3 4. infeksi harus disingkirkan terlebih dahulu. seperti vaskulitis. karena saat ini belum berhasil dijumpai obat yang bersifat sebagai disease controlling antirheumatic therapy (DC-ART). yang kemudian dihentikan secara bertahap. dapat diberikan dosis 50 mg setiap 3 minggu sampai keadaan remisi tercapai. Khasiatnya tidak diragukan lagi meski sering timbul efek samping. Sebagian kecil lainnya akan menderita AR yang progresif yang disertai dengan penurunan kapasitas fungsional yang menetap pada setiap eksaserbasi. Dosis dimulai 5-7. pada awal sering ditemukan diare yang dapat diatasi dengan penurunan dosis. dimulai dengan dosis percobaan pertama sebesar 10 mg. Setelah kurun waktu tersebut. Hal ini mungkin disebabkan karena pasien sukar mempertahankan ketaatannya untuk terus berobat dalam jangka waktu yang lama. Khasiat DMARD yang menurun dengan berjalannya waktu atau karena timbulnya penyakit lain yang merupakan komplikasi AR atau pengobatannya. Garam emas adalah gold standard bagi DMARD.

7 6. Sesuai dengan namanya penyakit ini melibatkan berbagai sistem organ. Bentuk ini dapat terjadi pada setiap usia. memperbaiki deviasi ulnar. Awitan sistemik (penyakit still) mengenai sekitar 20% dari semua kasus. Subtipe ini memiliki prognosis terburuk dari antara ketiga tipe dan dapat menyebabkan keterlambatan dalam pertumbuhan. Di Amerika Serikat 13.Rehabilitasi merupakan tindakan untuk mengembalikan tingkat kemampuan pasien AR dengan cara:1 · Mengurangi rasa nyeri · Mencegah terjadinya kekakuan dan keterbatasan gerak sendi · Mencegah terjadinya atrofi dan kelemahan otot · Mencegah terjadinya deformitas · Meningkatkan rasa nyaman dan kepercayaan diri · Mempertahankan kemandirian sehingga tidak bergantung kepada orang lain.000. Jenis pengobatan ini pada pasien AR umumnya bersifat ortopedik. Lima atau lebih sendi terserang pada saat yang bersamaan tetapi biasanya hanya mengkibatkan kelainan ekstra artikular yang tidak berat. Terdapat tiga subtipe AR juvenilis bila dipandang dari awitan gejalanya. dapat dilakukan pengobatan pembedahan. Anak perempuan diserang dengan rasio 2:1 bila dibandingkan dengan anak laki-laki.9/ 100. Anak laki-laki dan perempuan terserang dalam jumlah yang sebanding. misalnya sinovektoni.7. peningkatan ambang rasa nyeri dengan arus listrik. 2. total hip replacement. pendinginan. dan sebagainya. Pembedahan Jika berbagai cara pengobatan telah dilakukan dan tidak berhasil serta terdapat alasan yang cukup kuat. Artritis Reumatoid Juvenilis Anak-anak dapat terkena AR seperti orang dewasa. Bentuk ini memiliki prognosis yang lebih baik daripada awitan sistemik. latihan serta dengan menggunakan modalitas terapi fisis seperti pemanasan. . Rehabilitasi dilaksanakan dengan berbagai cara antara lain dengan mengistirahatkan sendi yang terlibat. artrodesis. namun disamping itu juga mengakibatklan poliartritis klinik. tetapi dapat juga menyebabkan keterlambatan pertumbuhan. Manfaat terapi fisis dalam pengobatan AR telah ternyata terbukti dan saat ini merupakan salah satu bagian yang tidak terpisahkan dalam penatalaksanaan AR. dan bentuk ini juga dapat terjadi pada semua umur. Awitan poliartikular bertanggung jawab atas sekitar 40% dari semua kasus.

Anak perempuan yang diserang dengan rasio 6:1 bila dibandingkan dengan laki-laki. Tidak lebih dari 4 sendi akan diserang. Artritis Reumatoid merupakan suatu penyakit autoimun sistemik menahun yang proses patologi utamanya terjadi di cairan sinovial. osteoporosis dan katarik. 3. Penatalaksanaan artritis reumatoid juvenilis serupa dengan penatalaksanaan penyakit ini pada orang dewasa. dan biasanya tidak ada atau jarang terjadi kelainan ekstra-artikular. 4. Beberapa obat imunosupresif dapat menekan fungsi sumsum tulang. namun apabila tidak segera ditangani dapat menimbulkan gejala deformitas/cacat yang menetap. akan tetapi kesembuhan penyakit sukar tercapai. dan keganasan pada anak-anak.Awitan pausiartikular bertanggung jawab atas kira-kira 40 dari semua kasus. psikologis. Kortikosteroid sistemik dapat menyebabkan keterlambatan pertumbuhan. hilangnya nafsu makan. turunnya berat badan. Bentuk ini biasanya terjadi sebelum usia 6 tahun. Penderita Artritis Reumatoid seringkali datang dengan keluhan artritis yang nyata dan tandatanda keradangan sistemik. maka penderita akan mengalami penurunan produktivitas pekerjaan karena gejala dan keluhan yang timbul menyebabkan gangguan aktivitas fisik. Tujuan pengobatan adalah menghasilkan dan mempertahankan remisi atau sedapat mungkin berusaha menekan aktivitas penyakit tersebut. Beberapa obat yang dipakai untuk orang dewasa tidak boleh diberikan pada anak-anak. demam.13 Kesimpulan 1. mempertahankan fungsi sendi dan mencegah dan/atau memeperbaiki deformaitas . dan kualitas hidup menderita. Selain itu karena penyakit ini bersifat kronis dan sering kambuh. Meskipun penderita artritis reumatoid jarang yang sampai menimbulkan kematian. 2. dan kaku sendi. nyeri. Baisanya gejala timbul perlahan-lahan seperti lelah. 5. sterilitas. Meskipun prognose untuk kehidupan penderita tidak membahayakan. Bentuk ini memiliki prognosis yang paling baik dari ketiga bentuk. Tujuan utama dari program terapi adalah meringankan rasa nyeri dan peradangan. tetapi ada beberapa perbedaan penting.