Anda di halaman 1dari 30

LEMBARAN DAERAH KOTA CILEGON

NOMOR : 45 TAHUN : 2001 SERI : D PERATURAN DAERAH KOTA CILEGON NOMOR 1 TAHUN 2001 TENTANG KEPELABUHANAN DI KOTA CILEGON

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

WALIKOTA CILEGON,

Menimbang : a. bahwa dalam rangka pelaksanaan Otonomi Daerah di bidang Perhubungan perlu dilakukan penataan dalam pengaturan kepelabuhanan di Daerah Kota Cilegon ; b. bahwa untuk maksud pada huruf a perlu disusun suatu peraturan mengenai kepelabuhanan dengan Peraturan Daerah. Mengingat : 1. Pasal 33 ayat (3) Undang-undang Dasar 1945 ; 2. Ketetapan MPR RI Nomor III/MPR/2000 tentang Sumber Hukum dan Tata Urutan Peraturan Perundang-undangan ; 3. TAP MPR Nomor IV/MPR/1999 tentang Rekomendasi Kebijakan Dalam Penyelenggaraan Otonomi Daerah ; 4. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria (Lembaran Negara 1960 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Nomor 1125) ;

5. Undang-undang Nomor 21 Tahun 1992 tentang Pelayaran (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 98, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3493) ; 6. Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara tahun 1992 Nomor 115, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3501) ; 7. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 Tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699) ; 8. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 33, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3817) ; 9. Undang-undang Nomor 15 Tahun 1999 tentang Pembentukan Kotamadya Daerah Tingkat II Depok dan Kotamadya Daerah Tingkat II Cilegon (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3828 ) ; 10. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839) ; 11. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis mengenai Dampak Lingkungan (Lembaran Negara Tahun 1993 Nomor 84, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3538) ; 12. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran dan atau Perusakan Laut (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 22, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3816) ; 13. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 54, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3952) ; 14. Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2000 tentang Tata Cara dan Teknik Penyusunan Rancangan Peraturan Daerah (Lembaran Daerah Tahun 2000 Nomor 4) ; 15. Peraturan Daerah Nomor 11 Tahun 2000 Tentang Rincian Kewenangan Yang Akan Dilaksanakan Oleh Pemerintah Kota Cilegon (Lembaran Daerah Tahun 2000 Nomor 19) ; 16. Peraturan Daerah Nomor 12 Tahun 2000 Tentang Rincian Kewenangan Yang Tidak / Belum Dilaksanakan Oleh Pemerintah Kota Cilegon (Lembaran Daerah Tahun 2000 Nomor 20).

Dengan persetujuan DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KOTA CILEGON MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN DAERAH KOTA CILEGON TENTANG KEPELABUHANAN DI KOTA CILEGON. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1

Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan : 1. "Daerah" adalah Daerah Kota Cilegon ; 2. "DPRD" adalah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Cilegon ; 3. "Pemerintah Daerah" adalah Walikota beserta perangkat Daerah sebagai Badan Eksekutif Daerah ; 4. "Walikota" adalah Walikota Cilegon ; 5. "Pemerintah" adalah Pemerintah Pusat ; 6. "Propinsi" adalah Daerah Propinsi Banten ; 7. "Kepelabuhanan" adalah meliputi segala sesuatu yang berkaitan dengan kegiatan penyelengaraan pelabuhan dan kegiatan lainnya dalam melaksanakan fungsi pelabuhan untuk menunjang kelancaran, keamanan dan ketertiban arus lalu lintas kapal, penumpang dan atau barang, keselamatan berlayar, serta tempat perpindahan intra dan atau antar moda ; 8. "Pelabuhan" adalah tempat yang terdiri dari daratan dan perairan disekitarnya dengan batas-batas tertentu sebagai tempat kegiatan pemerintahan dan kegiatan ekonomi yang dipergunakan sebagai tempat kapal bersandar, berlabuh, naik turun penumpang dan atau bongkar muat barang yang dilengkapi dengan fasilitas keselamatan pelayaran dan kegiatan penunjang pelabuhan serta sebagai tempat perpindahan intra dan antar moda transportasi ; 9. "Pelabuhan Umum" adalah pelabuhan yang diselenggarakan untuk kepentingan pelayanan masyarakat umum ; 10. "Pelabuhan Khusus" adalah pelabuhan yang diselenggarakan untuk kepentingan sendiri guna menunjang kegiatan tertentu ; 11. "Keselamatan Pelayaran" adalah suatu keadaan terpenuhinya persyaratan keselamatan yang menyangkut angkutan di perairan dan kepelabuhanan ; 12. "Administrator Pelabuhan" adalah Perangkat Daerah yang mengatur, mengawasi dan mengendalikan Penyelenggaraan Kepelabuhanan ; 13. "Penyelenggara Pelabuhan" adalah Badan yang di beri izin oleh Pemerintah Daerah untuk mengusahakan kegiatan pelabuhan ;

Untuk memanfaatan wilayah laut sebagaimana dimaksud Pasal 2. BAB II KEWENANGAN DI WILAYAH LAUT Pasal 2 1. Wilayah Laut yang dimaksud pada ayat (1) adalah sesuai dengan Tata Ruang Wilayah Kota Cilegon . Daerah mempunyai Kewenangan di Wilayah Laut I/3 (sepertiga) dari batas Laut Propinsi yang diukur dari garis pantai ke arah laut sebagaimana tercantum dalam peta terlampir yang merupakan bagian tak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini . Tanah Negara di wilayah Pantai. "Daerah Lingkungan Kerja Pelabuhan selanjutnya disingkat DLKr Pelabuhan" adalah wilayah perairan dan daratan yang dipergunakan secara langsung untuk kegiatan kepelabuhanan . "Badan" adalah sekumpulan orang dan/atau modal yang merupakan kesatuan baik yang meliputi BUMN. 16. maka Kawasan Pelabuhan digunakan untuk Penyelenggaraan Kepelabuhanan . 3. BAB III KAWASAN PELABUHAN Pasal 3 1. 15.14. . Swasta dan Koperasi . kewenangan hak pengelolaannya merupakan hak Daerah. BUMD. "Daerah Lingkungan Kepentingan Pelabuhan selanjutnya disingkat DLKp Pelabuhan" adalah perairan di sekeliling daerah lingkungan kerja perairan pelabuhan yang dipergunakan untuk menjamin keselamatan pelayaran. 2.

di tata secara terpadu guna mampu mewujudkan penyediaan jasa kepelabuhan sesuai dengan tingkat kebutuhan . guna mewujudkan Penyelenggaraan Pelabuhan yang handal. Pelabuhan sebagai salah satu unsur dalam Penyelenggaraan Pelayanan. Penyusunan tatanan kepelabuhanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2) dilakukan dengan memperhatikan : a. . dan berkemampuan tinggi. 2. sistem transportasi . d. kelestarian lingkungan . pelaksanaan kegiatan pemerintah dan kegiatan ekonomi lainnya. BAB IV TATANAN KEPELABUHANAN Pasal 4 1. Pelabuhan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditata. c. b. merupakan tempat untuk menyelenggarakan pelayanan jasa kepelabuhanan. pertumbuhan ekonomi dan perkembangan sosial .2. rencana tata ruang wilayah . menjamin efisiensi dan mempunyai daya saing global dalam rangka menunjang pembangunan daerah yang berarti tumbuh dan berkembangnya Pembangunan Nasional. Kawasan Pelabuhan dimaksud ayat (1) adalah sebagaimana diatur dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Cilegon. Pasal 5 1.

angkutan penyeberangan yang selanjutnya disebut pelabuhan penyeberangan. Pasal 6 1. fungsi pemerintahan . a. c. fungsi ekonomi pelabuhan dan penunjangnya. b. keselamatan pelayaran . Nasional dan Internasional . simpul dalam jaringan transportasi . angkutan laut yang selanjutnya disebut pelabuhan laut . Pelabuhan menurut perannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2) merupakan : . tempat distribusi. tempat kegiatan alih moda transportasi . 2. 3. 2. konsolidasi dan produksi. penunjang kegiatan industri dan perdagangan . peran dan fungsi. standarisasi. d. pintu gerbang kegiatan perekonomian Daerah. Tatanan kepelabuhanan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) sekurang-kurangnya memuat kegiatan. Pelabuhan menurut kegiatannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2) terdiri dari pelabuhan yang melayani kegiatan : a. Pasal 7 . Pelabuhan menurut fungsinya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2) untuk : . f. b. a.e.

Pelabuhan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). diselenggarakan oleh Penyelenggara Pelabuhan . pendayagunaan. Pelabuhan menurut jenis kegiatannya terdiri dari : a. pelabuhan umum yang diselenggarakan untuk melayani kepentingan masyarakat umum . b. pemantauan dan penilaian terhadap kegiatan pembangunan. pelabuhan khusus yang diselenggarakan untuk kepentingan sendiri guna menunjang kegiatan tertentu. Kegiatan pengendalian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi : . b. Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya melakukan pembinaan kepelabuhanan yang meliputi aspek pengaturan. 3. Kegiatan pengawasan sebagaimana dimaksud ayat (1) meliputi : a. 2. operasional dan pengembangan pelabuhan.1. tindakan korektif terhadap pelaksanaan kegiatan pembangunan. pengembangan pelabuhan guna mewujudkan tatanan kepelabuhanan . Pasal 8 1. 2. 3. Kegiatan pengaturan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi kegiatan penetapan kebijakan di bidang kepelabuhanan . operasional dan pengembangan pelabuhan . pengawasan dan pengendalian terhadap kegiatan pembangunan. 4. Masing-masing Penyelenggara diberikan kewenangan penuh sesuai fungsinya berdasarkan Peraturan Daerah ini.

Kewenangan Pemerintah Daerah sebagaimana ayat (1) memiliki kewenangan penuh dan tidak dapat dilimpahkan. pemberian arahan dan petunjuk dalam melaksanakan pembangunan. RENCANA INDUK PELABUHAN. 5. pemberian bimbingan dan penyuluhan kepada masyarakat mengenai hak dan kewajiban masyarakat pengguna jasa kepelabuhan. 3. Pedoman tata cara penetapan lokasi pelabuhan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dalam Keputusan Walikota. 2. BAB V PENETAPAN LOKASI PELABUHAN. Lokasi untuk penyelenggaraan pelabuhan ditetapkan oleh Walikota berdasarkan pada Tatanan Kepelabuhanan .. Lokasi penyelenggaraan pelabuhan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan berdasarkan koordinat geografis . operasional dan pengembangan pelabuhan . Bagian Kedua Rencana Induk Pelabuhan Pasal 10 . a. DAERAH LINGKUNGAN KERJA PELABUHAN DAN DAERAH LINGKUNGAN KEPENTINGAN PELABUHAN Bagian Pertama Penetapan Lokasi Pelabuhan Pasal 9 1.

Penyelenggara Pelabuhan wajib menyusun rencana Induk Pelabuhan pada lokasi yang telah ditetapkan sebagaimana dalam Pasal 9 ayat (1) . b. Rencana Induk Pelabuhan ditetapkan dan disahkan oleh Walikota . Untuk kepentingan penyelenggaraan pelabuhan. 4. 2. Rencana Induk Pelabuhan menjadi dasar yang mengikat dalam menetapkan kebijakan untuk melaksanakan kegiatan pembangunan. operasional dan pengembangan pelabuhan sesuai dengan peran dan fungsinya . .1. kegiatan Pemerintahan . kegiatan Ekonomi Kepelabuhanan dan jasa penunjangnya. Ketentuan mengenai persyaratan Penetapan Rencana Induk Pelabuhan diatur dalam Keputusan Walikota. Untuk kepentingan pelabuhan. meliputi rencana peruntukan lahan dan perairan pelabuhan untuk menentukan kebutuhan penempatan fasilitas dan kegiatan operasional pelabuhan yang meliputi : a. 3. ditetapkan batasbatas daerah lingkungan kerja pelabuhan dan daerah lingkungan kepentingan pelabuhan berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Cilegon . 5. Bagian Ketiga Daerah Lingkungan Kerja Pelabuhan dan Daerah Lingkungan Kepentingan Pelabuhan Pasal 11 1. Rencana Induk Pelabuhan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1).

dan fungsi ekonomi lainnya serta fungsi pemerintahan . naik/turun penumpang. . 3. perairan untuk tempat alih muat antar kapal.2. kolam pelabuhan untuk kebutuhan sandar olah gerak kapal. Daerah Lingkungan Kerja Pelabuhan terdiri dari : a. daerah lingkungan kerja daratan adalah wilayah daratan pada pelabuhan yang dipergunakan untuk bongkar/muat barang. Pasal 12 1. daerah lingkungan kerja perairan yang digunakan untuk kegiatan alur pelayaran. 4. Daerah Lingkungan Kerja Pelabuhan dan Daerah Lingkungan Kepentingan Pelabuhan ditetapkan oleh Walikota. dan fungsi-fungsi lain dari Pemerintah dan Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya . penyimpanan/gudang. kegiatan pemanduan. Daerah lingkungan kepentingan pelabuhan merupakan perairan pelabuhan diluar daerah lingkungan kerja perairan yang digunakan untuk keselamatan pelayaran. Penyelenggara Pelabuhan mengusulkan penetapan daerah lingkungan kerja pelabuhan dan daerah lingkungan kepentingan pelabuhan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 kepada Walikota . tempat perbaikan kapal dan fungsi ekonomi lainnya serta fungsi pemerintahan. perairan tempat labuh. b.

Pasal 14 1. peta usulan rencana daerah lingkungan kerja pelabuhan dan daerah lingkungan kepentingan pelabuhan yang ditunjukkan dengan titik-titik koordinat di atas peta topografi dan peta laut . Daerah Lingkungan Kerja Pelabuhan dan Daerah Lingkungan Kepentingan Pelabuhan yang telah ditetapkan. 2. Pasal 15 . Daerah Lingkungan Kerja dan Daerah Lingkungan Kepentingan Pelabuhan dimaksud ayat (1) masing-masing berdiri sendiri dan tidak saling membawahkan. menjadi dasar dalam melaksanakan kegiatan kepelabuhanan . c. Penyelenggara Pelabuhan diberikan kewenangan penggunaan perairan dan hak atas tanah di atas HPL Daerah . b.2. Walikota melakukan penelitian atas usulan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) terhadap : a. 2. Kajian mengenai aspek keamanan dan keselamatan pelayaran . Pasal 13 1. Hak atas HPL Daerah dimaksud ayat (1) diberikan sesuai peraturan perundangan yang berlaku. kajian mengenai aspek lingkungan.

. menyediakan dan memelihara kolam pelabuhan dan alur pelayaran . menyelesaikan sertifikat hak atas tanah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku . memasang tanda batas sesuai dengan batas-batas daerah lingkungan kerja perairan yang telah ditetapkan . di daerah lingkungan kerja perairan pelabuhan : 1. menjaga kelestarian lingkungan. 3. Di dalam daerah lingkungan kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (3). 4. 5. 4. melaksanakan pengamanan terhadap asset yang dikuasainya . menginformasikan mengenai batas-batas daerah lingkungan kerja perairan pelabuhan kepada pelaku kegiatan kepelabuhanan . 2. b. di Daerah Lingkungan Kerja Daratan Pelabuhan : 1.1. 2. memasang papan pengumuman yang memuat informasi mengenai batas-batas daerah lingkungan kerja daratan pelabuhan . memasang tanda batas sesuai dengan batas-batas daerah lingkungan kerja daratan yang telah ditetapkan . Penyelenggara Pelabuhan mempunyai kewajiban : a. 3. menyediakan sarana bantu navigasi pelayaran .

reklamasi. Pemerintah Daerah sesuai kewenangannya berkewajiban : . memelihara keamanan dan ketertiban . . salvage dan kegiatan pekerjaan di bawah air di dalam daerah lingkungan kerja pelabuhan dan daerah lingkungan kepentingan pelabuhan hanya dapat dilakukan setelah mendapat izin dari Walikota . melaksanakan pengawasan dan pengendalian terhadap penggunaan wilayah pantai. menyediakan dan memelihara alur pelayaran . menyediakan sarana bantu navigasi pelayaran . Kegiatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) harus memperhatikan : a. a. keselamatan pelayaran .5. 6. 2. Di dalam daerah lingkungan kepentingan pelabuhan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (4). Kegiatan pengerukan. melaksanakan pengamanan terhadap asset yang dimiliki berupa fasilitas pelabuhan di perairan. memelihara kelestarian lingkungan . Kegiatan membuat bangunan di daerah lingkungan kerja pelabuhan dan daerah lingkungan kepentingan pelabuhan hanya dapat dilakukan setelah mendapat izin dari Walikota . memelihara kelestarian lingkungan . 2. b. c. d. b. tatanan kepelabuhanan . Pasal 16 1. 3.

alur pelayaran. rencana induk pelabuhan . . kelestarian lingkungan. 4. Pedoman mengenai kegiatan pengerukan.c. standar disain : bangunan. b. reklamasi. kolam pelabuhan dan peralatan pelabuhan serta pelayanan operasional pelabuhan. d. wajib berpedoman : a. kehandalan fasilitas pelabuhan . salvage. urugan dan tanah timbul di daerah lingkungan kerja pelabuhan dan di daerah lingkungan kepentingan pelabuhan menjadi HPL Daerah dan diatasnya dapat dimohonkan hak atas tanahnya oleh Penyelenggara pelabuhan sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. c. keselamatan pelayaran . d. rencana induk pelabuhan . dan kegiatan pekerjaan di bawah air di daerah lingkungan kerja pelabuhan dan di daerah lingkungan kepentingan pelabuhan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku. BAB VI PEMBANGUNAN DAN PENGOPERASIAN PELABUHAN Pasal 18 Pembangunan dan pengoperasian pelabuhan. Pasal 17 Daratan hasil reklamasi.

e. disain teknis pelabuhan meliputi kondisi tanah. kelayakan teknis yang meliputi : a. topografi.e. Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). . kondisi hidrooseanografi. Pembangunan pelabuhan dilaksanakan setelah memenuhi persyaratan : a. konstruksi. memiliki penetapan lokasi pelabuhan . Pasal 19 1. c. b. memiliki rencana induk pelabuhan . dan kolam pelabuhan . c. rencana penempatan sarana bantu navigasi pelayaran. Hasil survei pelabuhan yang meliputi kondisi hidrooseanografi dan kondisi geoteknik. alur pelayaran dan kolam pelabuhan serta tata letak dan kapasitas peralatan di pelabuhan . bukti penguasaan tanah dan perairan . penempatan dan konstruksi sarana bantu navigasi. b. administrasi . Hasil studi keselamatan pelayaran meliputi jumlah. alur pelayaran. d. kelestarian lingkungan. studi kelayakan yang sekurang-kurangnya memuat : 1. ukuran dan frekwensi lalu lintas kapal. 2.

Pasal 20 Penyelenggara pelabuhan dalam melaksanakan pembangunan pelabuhan diwajibkan : a. tersedia fasilitas untuk menjamin kelancaran arus barang dan / atau penumpang .2. mentaati peraturan perundang-undangan dan ketentuan dibidang kepelabuhan. Apabila persyaratan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dipenuhi. ketertiban. Pengoperasian pelabuhan dilakukan setelah memenuhi persyaratan : a. dan kelestarian lingkungan . dan keselamatan pelayaran . Pembangunan Pelabuhan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berpedoman pada peraturan yang berlaku. b. maka dapat ditetapkan Keputusan Pelaksanaan Pembangunan oleh Walikota . 3. bertanggung jawab terhadap dampak yang timbul selama pelaksanaan pembangunan pelabuhan yang bersangkutan. Pasal 21 1. . keselamatan lalu lintas angkutan di perairan. c. pembangunan pelabuhan telah selesai dilaksanakan sesuai dengan persyaratan pembangunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 . b. keamanan.

Pasal 22 1. Pasal 24 Penyelenggara Pelabuhan yang telah mendapatkan izin operasi diwajibkan : . Pasal 23 1. Dalam keadaan tertentu. dan f. 2. 2. pengelolaan lingkungan dan memiliki peralatan pengendalian pencemaran lingkungan . memiliki sistem dan prosedur pelayanan . Penetapan peningkatan kemampuan pengoperasian pelabuhan dimaksud ayat (1) ditetapkan oleh Walikota . Pelabuhan khusus sebagaimana Pasal 7 ayat (1) butir b dapat beroperasi melayani kepentingan umum. setelah diberi izin oleh Walikota . pelabuhan khusus diwajibkan melayani kepentingan umum. Dalam hal persyaratan sebagaimana dimaksud ayat (1) dipenuhi. 2. tersedianya SDM di bidang teknis pengoperasian pelabuhan yang memiliki kualifikasi dan sertifikasi yang ditentukan.d. Penyelenggara Pelabuhan dapat meningkatkan kemampuan pengoperasian fasilitas pelabuhan dengan memperhatikan tingkat tersedianya fasilitas kepelabuhanan. dan keselamatan pelayaran . ditetapkan Keputusan Pelaksanaan Pengoperasian oleh Walikota. e.

b. mentaati peraturan perundang-undangan dan ketentuan di bidang pelayaran dan kelestarian lingkungan serta yang berkaitan dengan usaha pokoknya . . melaporkan kegiatan operasional setiap bulan kepada Walikota. penilikan kegiatan lalu lintas kapal yang masuk dan keluar pelabuhan .a. c. b. Bagian Kedua Fungsi Pemerintah Daerah Pasal 26 1. penilikan terhadap pemenuhan persyaratan kelaik-lautan kapal . bertanggung jawab sepenuhnya atas pengoperasian pelabuhan . Instansi Pemerintah Daerah merupakan pemegang fungsi pemerintahan adalah sebagai berikut : a. BAB VII FUNGSI PEMERINTAH DAN PEMERINTAH DAERAH DI PELABUHAN Bagian Kesatu Fungsi Pemerintah Pasal 25 Instansi Pemerintah merupakan pemegang fungsi pemerintahan di pelabuhan sesuai dengan kewenangannya.

g. Pelaksanaan fungsi pemerintahan adalah Administrator Pelabuhan yang dikoordinasikan oleh Walikota .c. BAB VIII PELAKSANA KEGIATAN DI PELABUHAN Pasal 27 1. 3. Pelaksana kegiatan di pelabuhan terdiri dari instansi pemerintah. fungsi-fungsi lainnya dari Pemerintahan Daerah. melakukan penilikan atas orang. d. pencegahan dan penanggulangan pencemaran perairan pelabuhan . pengamanan dan penertiban dalam daerah lingkungan kerja dan dalam daerah lingkungan kepentingan pelabuhan guna menjamin kelancaran operasional pelabuhan . Penyelenggara Pelabuhan yang memberikan pelayanan jasa di pelabuhan sesuai dengan fungsinya. tumbuh-tumbuhan. e. Pemerintah Daerah. Ketentuan lebih lanjut mengenai koordinasi pelaksanaan fungsi pemerintahan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diatur dengan Keputusan Walikota. pelaksana fungsi karantina. 2. penilikan terhadap pembangunan/pengembangan dan pengoperasian pelabuhan . pelayanan pemanduan dan penundaan kapal serta penyediaan dan pemeliharaan alur pelayaran . h. f. hewan dan ikan yang berkaitan dengan ke karantinaan dan . .

b. d. penyediaan jasa kepil . e. BUMD . d. Swasta . dan hewan serta penyediaan fasilitas naik turun penumpang dan kendaraan . penyediaan jasa Marina/pariwisata . 3. c. f. BUMN . Penyelenggara pelabuhan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah : a.2. penyediaan jasa angkutan di perairan pelabuhan . g. h. penyediaan kolam pelabuhan dan perairan untuk lalu lintas kapal dan tempat berlabuh . c. b. penyediaan alat bongkar muat serta peralatan penunjang pelabuhan . bongkar muat barang. Koperasi. Penyelenggara pelabuhan ditetapkan oleh Walikota. Pelayanan Jasa kepelabuhanan yang dilaksanakan oleh Penyelenggara Pelabuhan dapat meliputi : a. penyediaan dan pelayanan jasa gudang dan tempat penimbunan barang . BAB IX PELAYANAN JASA KEPELABUHANAN DI PELABUHAN Pasal 28 1. penyediaan dan pelayanan jasa dermaga untuk bertambat . .

curah cair. tempat tunggu kendaraan. penyediaan jaringan jalan dan jembatan. dalam aspek keselamatan pelayaran diberlakukan ketentuan dalam Peraturan Daerah ini. Pelayanan jasa kepelabuhanan di pelabuhan perikanan sebagai prasarana perikanan diatur dan ditetapkan dengan Peraturan Daerah . penyediaan tanah untuk berbagai bangunan dan lapangan sehubungan dengan kepentingan kelancaran angkutan laut dan industri . Pelayanan jasa pemanduan kapal-kapal dan pemberian jasa kapal tunda diatur dengan Keputusan Walikota. 2. Pasal 29 1. curah kering . instalasi air minum. j. BAB X KEGIATAN USAHA PENUNJANG PELABUHAN . saluran pembuangan air. bunker/depo Bahan Bakar Minyak dan pemadam kebakaran . penyediaan jasa penyeberangan . penyediaan jasa terminal peti kemas. 2. k. penyediaan jasa lainnya yang dapat menunjang pelayanan jasa kepelabuhananan. l. m. Pelayanan jasa kepelabuhanan sebagaimana dimaksud ayat (1). instalasi listrik.i.

dimana dalam keadaan tertentu yang apabila tidak tersedia akan mempengaruhi kelancaran operasional pelabuhan antara lain: 1. kegiatan yang dapat membantu kelancaran pelabuhan dan tidak akan mengganggu kelancaran operasional pelabuhan. pariwisata. dapat meliputi : 1. kegiatan perhotelan. 2. 2. dapat meliputi : 1. penyediaan depo peti kemas . kegiatan penyediaan perkantoran untuk pengguna jasa pelabuhan . dan telekomunikasi . kegiatan angkutan umum dari dan ke pelabuhan . Dalam rangka menunjang kelancaran pelayanan jasa kepelabuhanan di pelabuhan dapat diselenggarakan usaha kegiatan penunjang pelabuhan . kegiatan yang termasuk penunjang usaha pokok pelabuhan. restoran. b. penyediaan pergudangan. Usaha kegiatan penunjang pelabuhan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) terdiri dari : a. 2. penyediaan sarana umum lainnya. 3. kegiatan penyediaan fasilitas perdagangan. apabila tidak ada. kegiatan penyediaan kawasan industri . c. kegiatan yang menunjang kelancaran operasional pelabuhan. . 3. 2.Pasal 30 1. pos.

3. Pasal 32 1. .3. b. penyediaan dan pelayanan jasa dermaga untuk bertambat. BAB XI KERJA SAMA Pasal 31 1. Ketentuan lebih lanjut mengenai usaha kegiatan penunjang pelabuhan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Keputusan Walikota. Kerjasama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 ayat (1) dapat dilakukan antara lain untuk : a. prinsip kesetaraan. Kerjasama antara Pemerintah Daerah dengan Pihak lain dalam pelaksanaan pelayanan kepelabuhanan sebagaimana ayat (1) dapat dilaksanakan dengan persetujuan DPRD. bongkar muat barang dan hewan serta penyediaan fasilitas naik turun penumpang . pembangunan kolam pelabuhan dan perairan untuk lalu lintas kapal dan tempat berlabuh . dan berdasarkan kepada ketentuan yang berlaku . 2. Dalam pelaksanaan pelayanan jasa kepelabuhan Penyelenggara pelabuhan dapat melaksanakan kerjasama dengan Penyelenggara pelabuhan lainnya dan atau Pemerintah Daerah . Dalam melaksanakan kerjasama sebagaimana dalam ayat (1) berdasarkan azas saling menguntungkan.

alat bongkar muat serta peralatan pelabuhan . e. dan depo bahan bakar. angkutan di perairan pelabuhan. g. curah cair. pemanfaatan ruang luar di pelabuhan. penyediaan jasa terminal peti kemas. h. 2. BAB XII TARIF PELAYANAN JASA KEPELABUHANAN Pasal 33 Struktur. instalasi air minum. curah kering . f. Golongan. i. pemadam kebakaran. penyediaan jasa pemanduan dan penundaan . dan Jenis tarif atas jasa kepelabuhanan disusun dengan memperhatikan : . penyediaan dan pelayanan jasa gudang dan tempat penimbunan barang. d. dan penanggulangan pencemaran laut. tempat tunggu kendaraan. instalasi listrik.c. penyediaan fasilitas penyeberangan dan kapal cepat . penyediaan fasilitas keselamatan. penyediaan jaringan jalan dan jembatan. Kerjasama sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat dilaksanakan untuk satu jenis jasa atau lebih. penyediaan bangunan dan lapangan di dalam daerah lingkungan kerja pelabuhan untuk kepentingan kelancaran pelayanan jasa kepelabuhanan . penyediaan penampungan limbah di pelabuhan . saluran pembuangan air.

3. e. Ketentuan lebih lanjut mengenai jenis. c. d. Bagian Kedua Jenis Tarif Pasal 35 . pengembalian biaya dan investasi . b. 2. Golongan tarif pelayanan jasa kepelabuhanan merupakan penggolongan tarif yang ditetapkan berdasarkan jenis pelayanan jasa kepelabuhanan. dan fasilitas yang tersedia di pelabuhan . kepentingan pemakai jasa .a. peningkatan mutu pelayanan jasa kepelabuhanan . Struktur tarif pelayanan jasa kepelabuhanan merupakan kerangka tarif dikaitkan dengan tatanan waktu dan satuan ukuran dari setiap jenis pelayanan jasa kepelabuhanan atau kelompok dari beberapa jenis pelayanan jasa kepelabuhanan . struktur dan golongan tarif pelayanan jasa kepelabuhanan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). ayat (2). kepentingan pelayanan umum . dan f. ditetapkan oleh Peraturan Daerah. pertumbuhan dan pengembangan usaha . Bagian Kesatu Struktur Dan Golongan Tarif Pasal 34 1. kelestarian lingkungan. klasifikasi.

penumpang . d. BAB XIII FASILITAS PENAMPUNGAN LIMBAH DI PELABUHAN . 3. alat . barang . Jenis tarif pelayanan jasa kepelabuhanan terhadap : a. e.1. Pemungutan tarif jasa pelabuhan sebagaimana ayat (1) dilakukan oleh Penyelenggara pelabuhan dan atas tarif dimaksud dikenakan pajak dan atau retribusi untuk Daerah . 2. Pajak dan Retribusi Jasa Kepelabuhanan Pasal 36 1. Besarnya tarif jasa kepelabuhanan pada pelabuhan yang diselenggarakan oleh Penyelenggara Pelabuhan ditetapkan dengan Peraturan Daerah dengan mempertimbangkan usulan dari Penyelenggara pelabuhan . jasa lain-lain. Ketentuan lebih lanjut mengenai jenis pelayanan jasa kepelabuhanan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). 2. Bagian ketiga Besaran Tarif. ditetapkan dengan Peraturan Daerah. kapal . Besarnya pajak dan retribusi sebagaimana ayat (2) dan tata cara pemungutannya diatur dalam Peraturan Daerah. b. c.

Anggota Dewan Maritim Kota sebagaimana ayat (1) terdiri atas : a. Pasal 38 Badan Hukum Indonesia dan / atau Warga Negara Indonesia yang akan melakukan kegiatan usaha penampungan limbah minyak atau bahan berbahaya dan beracun lain dari kapal. wajib dilaksanakan oleh Penyelenggara Pelabuhan. diatur dengan Peraturan Daerah. 3. Untuk memberi pertimbangan tentang masalah-masalah teknis kemaritiman di Daerah.Pasal 37 1. b. INSA. Unsur Pemerintah Daerah . 2. GAFEKSI . 2. APBMI. BAB XIV DEWAN MARITIM KOTA Pasal 39 1. dibentuk Dewan Maritim Kota . . Pelabuhan wajib dilengkapi dengan fasilitas penampungan limbah atau bahan lain dari kapal yang menyebabkan pencemaran . Pembangunan fasilitas penampungan limbah atau bahan lain sebagaimana dimaksud ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan Ketentuan Perundang-undangan yang berlaku . Penampungan limbah minyak atau bahan berbahaya dan beracun lain sebagaimana dimaksud ayat (1). Unsur Asosiasi Pelabuhan dan Dermaga Industri.

Pasal 23 ayat (2). dengan ketentuan selambat-lambatnya dalam jangka . Pasal 20.c. Akademisi dan/atau praktisi kemaritiman. Pasal 18. Masa kerja Pengurus Dewan Maritim Kota dimaksud ayat (1) selama 3 (tiga) tahun . 4. 5. Semua pelabuhan yang telah ada dan beroperasi. Pasal 24. dapat dikenakan sanksi berupa pencabutan izin pengoperasian pelabuhan yang pelaksanaannya diatur dengan keputusan Walikota. Dewan Maritim Kota sebagaimana ayat (1) memberikan masukan diminta maupun tidak diminta kepada Pemerintah Daerah . tetap dapat beroperasi. BAB XV SANKSI Pasal 40 Pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana Pasal 15 ayat (1). BAB XVI KETENTUAN PERALIHAN Pasal 41 1. Pembentukan Dewan Maritim Kota sebagaimana ayat (1) diatur dalam Keputusan Walikota. 2. 3. Peraturan-peraturan yang mengatur mengenai kepelabuhanan dinyatakan tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan Peraturan Daerah ini .

Dengan berlakunya Peraturan daerah ini maka Dermaga Untuk Kepentingan Sendiri (DUKS) dinyatakan sebagai Pelabuhan Khusus . 3. Daerah Lingkungan Kerja Pelabuhan dan Daerah Lingkungan Kepentingan Pelabuhan yang ditetapkan dengan SKB Menteri . b. Pelindo II Cabang Banten dengan Pengelola Pelabuhan Khusus dan DUKS mengenai sewa perairan dan perjanjian kerjasama pengoperasian pelabuhan serta perjanjian lainnya yang bertentangan dengan Peraturan Daerah Ini dinyatakan tidak berlaku . BAB XVII KETENTUAN PENUTUP Pasal 42 Dengan berlakunya Peraturan Daerah ini. Perjanjian antara PT. Tanah pantai di wilayah Cilegon yang sudah menjadi Hak Pengelolaan atas nama PT (Persero) Pelindo II Cabang Banten pada saat mulai berlakunya Peraturan Daerah ini menjadi Hak Pengelolaan Daerah.waktu 4 (empat) bulan sejak Peraturan Daerah ini berlaku. kecuali Hak Pengelolaan tersebut di atas tanah yang diperoleh dengan Pembelian oleh PT. (Persero) Pelindo II Cabang Banten. Daerah Lingkungan Kerja Pelabuhan. 4. maka : a. wajib menyesuaikan dan mengajukan pembaharuan izin operasi. dan Daerah Lingkungan Kepentingan Pelabuhan berdasarkan Peraturan Daerah ini .

AL 13 tahun 1986 dan No. Ditetapkan di Cilegon pada tanggal 28 Maret 2001 WALIKOTA CILEGON. Pasal 43 Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kota Cilegon. Agar setiap orang mengetahuinya. KM 31/AL 101/PHB-86 dinyatakan tidak berlaku di Daerah Kota Cilegon. AAT SYAFA'AT H. Tb. RUSLI RIDWAN LEMBARAN DAERAH KOTA CILEGON TAHUN 2001 NOMOR 45 SERI D . Diundangkan di Cilegon pada tanggal 28 Maret 2001 SEKRETARIS DAERAH KOTA CILEGON. Ttd H.Dalam Negeri dan Menteri Perhubungan No.