Anda di halaman 1dari 1

Rusak Sistem, RUU Keperawatan Dianggap Tidak Penting

Keperawatan sebagai suatu profesi harus ada standarisasi proses-proses keperawatan. Maka diperlukanlah suatu undang-undang yang mengatur. Perawat bukanlah profesi pembantu dokter yang hanya menerima dan menjalankan perintah dari dokter. Perawat adalah independen, memiliki lingkup atau batasan kerja sendiri yang berbeda dari profesi kedokteran ataupun kebidanan. Selama ini profesi perawat belum begitu diakui. Terbukti dengan belum disahkannya RUU Keperawatan, bahkan pembahasannya pun cukup a lot. Yang menjadi masalah, rupa-rupanya dewan legislatif kita yang bertugas membuat peraturan, belum mengerti betul akan bidang keperawatan. Hal ini mungkin disebabkan karena tidak adanya manusia berprofesi keperawatan yang masuk di dewan legislatif. Sepertinya perlu ada pengorbanan dan sedikit paksaan agar RUU tersebut disahkan. Karena tanpa undang-undang yang mengatur, suatu sistem tidak akan mampu berjalan. Undang-undang itu mengatur keseluruhan dari sistem. Baik itu pendidikan, kurikulum, kompetensi, sistem kerja, UM, aspek legal, kode etik, dan lain sebagainya. Bayangkan saja jika hal itu tidak tertuang secara tertulis, dengan kata lain tidak ada aturan yang mengatur itu, tentunya sistem itu akan semrawut. Dalam satu wilayah bisa jadi menentukan patokan standar sendiri-sendiri yang tentunya akan berbeda dengan standar yang diterapkan di lokasi lain. Disini akan terjadi kesulitan dan akan tampak begitu tidak teraturnya sistem keperawatan yang ada di Indonesia. Akan tetapi mengapa pula hingga saat ini nampaknya para anggota DPR itu enggan membahas bahkan mengesahkan RUU Keperawatan. Mungkin inilah cerminan dari kerusakan sistem di Indonesia yang perlu dirombak total. Dewan legislatif yang memiliki fungsi advokasi bahkan bertanya, mengapa perlu membuat UU. Mereka juga terperangah bahwa keperawatan pun memiliki tenaga S2 dan S3 lulusan luar negeri, dan sebentar lagi kita akan memiliki guru besar. Lantas bagaimana mungkin keperawatan tidak memiliki patokan standar secara khusus, yang diwakilkan dalam bentuk UU Keperawatan. Setiap instansi membuat patokan sendiri. Tidak akan ada keseragaman kompetensi yang dihasilkan. Tidak adakah kepekaan dewan advokasi dalam melihat fakta yang terjadi di lapangan, dan tidakkah ada dalam benak mereka untuk memperbaiki sistem? Ini yang patut kita perjuangkan. Tanpa UU hidup perawat tidak akan pernah mencapai batas ‘layak’.

Purwoning Husnul Chotimah

-

131011017