Anda di halaman 1dari 7

Manusia di dalam suatu organisasi dipandang sebagai sumber daya.

Artinya, sumber daya atau penggerak dari suatu organisasi. Penggerak dari sumber daya yang lainnya, apakah itu sumber daya alam atau teknologi. Hal ini merupakan suatu penandasan kembali terhadap falsafah Man behind the gun. Roda organisasi sangat tergantung pada perilaku-perilaku manusia yang berkerja di dalamnya. Manusa yang berkualitas dalam bekerja merupakan prasyarat yang tidak dapat ditawar-tawar kembali; bahkan hukum alam semakin diperkukuh. Artinya tenaga kerja yang kurang terampil dan kurang berpengetahuan akan tersingkir dari pasar kerja. Tenaga kerja yang berkualitaslah yang dapat merebut pasar kerja. Tenaga kerja seperti apa yang dikatakan berkualitas? Sagir (1988) mengatakan, bahwa tenaga kerja yang berkualitas ditandai oleh ketrampilan yang memadai, profsional, dan kreatif. Schultz (dalam Ancok, 1989) mengatakan ada beberapa faktoryang menentukan kualitas tenaga kerja yaitu tingkat kecerdasa, bakat, sifat kepribadian, tingkat pendidikan, kualitas fisik, etos (semangat kerja), dan disiplin kerja. Kualitas manusia seperti itulah yang menjadi andalan pesatnya kemajuan Negara-negara seperti Korea Selatan, Taiwan, maupun Singapura yang dijuluki sebagai macan Asia. Bagaimana dengan kualitas tenaga kerja di Indonesia? Jika dilihat dari struktur pendidikannya, posisi tenaga kerja Indonesia kurang menguntungkan. Karena sebagian besar mempunyai tingkat pendidikan rendah. Ironisnya, kualitas etos kerja dan disiplin kerja para tenaga kerja dipandang oleh beberapa ahli masih tergolong rendah. Pengertian Disiplin Kerja Disiplin kerja dibicarakan dalam kondisi yang sering kali timbul bersifat negative. Disiplin lebih dikaitkan dengan saksi atau hukuman. Contohnya : bagi karyawan Bank, keterlambatan masuk kerja (bahkan dalam satu menit pun) berarti pemotongan gaji yang disepadankan dengan tidak masuk kerja pada hari itu. Bagi pengendara sepeda motor, tidak menggunakan helm berarti siap-siap ditilang polisi. Disiplin dalam arti yang positif seperti yang dikemukakan oleh beberapa ahli berikut ini. Hodges (dalam Yuspratiwi, 1990) mengatakan bahwa disiplin dapat diartikan sebagai sikap seseorang atau kelompok yang berniat untuk mengikuti aturan-aturan yang telah ditetapkan. Dalam kaitannya dengan pekerjaan, pengertian disiplin kerja adalah suatu sikap dan tingkah laku yang menunjukkan ketaatan karyawan terhadap peraturan organisasi. Niat untuk mentaati peraturan menurut Suryohadiprojo (1989) merupakan suatu kesadaran bahwa tanpa disadari unsur ketaatan, tujuan organisasi tidak akan tercapai. Hal itu berarti bahwa sikap dan perilaku di dorong adanya control diri yang kuat. Artinya, sikap dan perilaku untuk mentaati peraturan organisasi muncul dari dalam dirinya. Niat juga dapat diartikan sebagai keinginan untuk berbuat sesuatu atau kemauan untuk menyesuaikan diri dengan aturan-aturan. Sikap dan perilaku dalam disiplin kerja ditandai oleh berbagai inisiatif, kemauan, dan kehendak untuk mentaati peraturan. Artinya, orang yang dikatakan mempunyai

seorang karyawan tentu mempunyai aturan. merokok pada waktu terlarang dan perilaku yang menunjukkan semangat kerja yang rendah. Hal ini menimbulkan konflik sehingga orang mudah tegang. karyawan-karyawan merasa bertanggung jawab dan dapat mengatur diri sendiri unruk kepentingan organisasi. Amir adalah orang yang selalu tepat waktu sementara itu iklim di organisasi kurang menjunjung tinggi nilai-nilai penghargaan terhadap waktu. atau terpaksa c. tidak berpura-pura sakit. marah. tidak jujur. tidak ikut arus. Melalui disiplin diri. misalnya datang dan pulang sesuai dengan jadwal. Apakah karyawan serius atau tidak? Loyal atau tidak? Apakah karyawan dalam bekerja tidak pernah mengeluh. Seringkali terjadi aturan. Ia jika perlu mempelopori kepatuhan terhadap waktu kepada teman sejawatnya. meninggalkan pekerjaan tanpa ijin. Jika sebaliknya. b. sikap manja yang berlebihan. . ia akan tersisih dari teman sekerjanya. yang berarti mengakui dan menerima nilai-nilai yang ada di luar dirinya. dan tidak mencuri-curi waktu. a. membangkang.disiplin yang tinggi tidak semata-mata penuh dan taat terhdap peraturan secara kaku dan mati. dan bekerja dengan semangat tinggi? Sebaliknya. Macam-macam Disiplin kerja Ada dua macam disiplin kerja yaitu disiplin diri (self-discipline) dan disiplin kelompok. oleh karenanya ia harus menyesuaikan diri. Disiplin diri Disiplin diri menurut jasin (1989) merupakan disiplin yang dikembangkan atau dikontrol oleh diri sendiri. berkelahi. tidak manja. yang merupakan proses sosialisasi dari keluarga atau masyarakat. tetapi juga mempunyai kehendak (niat) untuk menyesuaikan diri dengan peraturan-peraturan organisasi. perilaku yang sering menunjukkan ketidakdisiplinan atau melanggar peratuan terlihat dari tingkat absensi yang tinggi. sebelum masuk dalam sebuah organisasi. Upaya dalam mentaati peraturan tidak didasarkan adanya perasaan takut. berpura-pura sakit. Kenyataan yang tidak dapat dipungkiri. nilai dan norma diri tidak sesuai dengan aturanaturan organisasi yang ada. Komitmen dan loyal pada organisasi yaitu tercermin dari bagaimana sikap dalam bekerja. ikut arus maka ia akan mengalami stress. Jika Amir memegang teguh prinsip-prinsipnya sendiri. tidak mangkir jika bekerja. Hal ini merupakan manifestasi atau aktualisasi dari tanggung jawab pribadi. atau tersinggung apabila orang terlalu menjunjung tinggi salah satu aturannya. penyalahgunaan waktu istirahat dan makan saing. Disiplin kerja tidak semata-mata patuh dan taat terhadap penggunaan jam kerja saja. Berdasarkan uraian pada bagain terdahulu maka dapat ditarik kesimpulan bahwa disiplin kerja merupakan suatu sikap dan perilaku yang berniat untuk mentaati segala peraturan organisasi yang didasarkan atas kesadaran diri untuk menyesuaikan dengan peraturan organisasi. berjudi. nilai dan norma sendiri. Berdasarkan pengertian tersebut dapat ditarik indicator-indikator disiplin kerja sebagai berikut: a. Misalnya. tetapi juga tidak kaku.

Dapat disimpulkan bahwa ada beberapa manfaat yang dapat dipetik jika karyawan mempunyai disiplin diri yaitu:  Disiplin diri adalah disiplin yang diharpkan oleh organisasi jika harapan terpenuhi karyawan akan mendapat reward (penghargaan) dari organisasi.  Melalu disiplin diri merupakan bentuk penghargaan terhadap orang lain. Melalui disiplin diri seorang karyawan selain menghargai dirinya sendiri juga menghargai orang lain. akan memperlancar kegiatan yang bersifat kelompok. Penanaman nilai-nilai disiplin dapat berkembang apabilai di dukung oleh situasi lingkungan yang kondusif yaitu situasi yang diwarnai perlakuan yang konsisten dari orang tua. Penanaman nilai-nilai yang menjunjung disiplin. guru dan pimpinan yang berdisiplin tinggi merupakan model peran yang efektif bagi berkembangnya disiplin diri. pada dasarnya karyawan telah sadar melaksanakan tanggung jawab yang telah dipikulnya. Bagaimana disiplin kelompok terbentu? Disiplin kelompok akan tercapai jika disiplin diri telah tumbuh dalam diri karyawan. merupakan bekal positif bagi tumbuh dan berkembangnya disiplin diri. akan menghambat bidang kerja lain. orang tua. Hal ini semakin memperkukuh kepercayaan diri  Penghargaan terhadap kemampuan diri. b. Andaikan satu di antara sekian ribu karyawan bekerja tidak sungguh- . Hal ini didasarkan atas pandangan bahwa jika karyawan mampu melaksanakan tugas. Hal itu berarti karyawan sanggup melaksanakan tugasnya. Contohnya semua pihak. pada dasarnya ia mampu mengaktualisasikan kemampuan dirinya. guru atau pun masyarakat. Disiplin kelompok Kegiatan organisasi bukanlah kegiatan yang bersifat individual semata. Apalagi jika tugas kelompok tersebut terkait dalam dimensi waktu. misalnya Simpati Air dengan On Flight Time Guarantee. pilot. Pada dasarnya ia menghargai potensi dan kemampuannya.Disiplin diri merupakan hasil proses belajar (sosialiasi) dari keluarga dan masyarakat. salah satunya melalu disiplin yang diterapkan oleh pihak organisasi. Misalnya jika karyawan mengerjakan tugas dan wewenang tanpa pengawasan atasan. Selain disiplin diri masih diperlukan disiplin kelompok. guru atau pimpinan. bagi rekan sejawat. suatu proses kerja yang dipengaruhi urutan waktu pengerjaannya. apakah itu dalam bentuk prestasi atau kompetisi lainnya. Hal itu berarti ia memberikan penghargaan pada potensi dan kemampuan yang melekat pada dirinya. Jika oran lain merasa dihargai. Dapat dikatakan bahwa standar ukuran prestasi. apakah itu pramugari. kelompok akan menghasilkan pekerjaan yang optimal jika masing-masing anggota kelompok dapat memberikan andil yang sesuai dengan hak dan tanggung jawabnya. akan tumbuh penghargaan serupa dari orang lain pada dirinya. Hal ini berarti setiap karyawan di Simpati akan berusaha semaksimal mungkin memenuhi standar prestasi tersebut. Disiplin diri sangat besar perannya dalam mencapai tujuan organisasi. Artinya. Di sisi lain. baik ditanamkan oleh orang tua. Selain itu. dengan diterapkannya disiplin diri. Hal ini didasarkan atas pandangan bahwa di dalam kelompok kerja terdapat standar ukuran prestasi yang telah ditentukan. dan bagian penjualan tiket akan berusaha agar pesawat dapat terbang tepat pada waktunya. Ketidakdisiplinan dalam satu bidang kerja.

dan terbuka. Faktor Lingkungan Disiplin kerja yang tinggi tidak muncul begitu saja tetapi merupakan suatu proses belajar yang terus-menerus. Sikap diharapkan akan tercermin dalam perilaku. Faktor Kepribadian Faktor yang penting dlam kepribadian seseorang adalah system nilai yang dianut. Sedikit demi sedikit. Faktor-faktor Disiplin Kerja Disiplin kerja merupakan suatu sikap dan perilaku. Misalnya. Kaitan antara disiplin diri dan disiplin kelompok dilukiskan oleh jasin (1989) seperti dua sisi dari satu mata uang. Nilai-nilai yang menjunjung disiplin yang diajarkan atau ditanamkan orang tua. maka rusaklah system aturan tersebut. Keduanya saling melengkapi dan menunjang. System nilai dalam hal ini yang berkaitan langsung dengan disiplin. Pembentukan perilaku antara factor kepribadian dan factor lingkungan (situsional). a.sungguh. disiplin kelompok juga memberikan andil bagi pengembangan disiplin diri. jika budaya atau iklim dalam organisasi tersebut merupakan kedisiplinan kerja yang tinggi. Sebaliknya. Contoh yang lain. jika hasil kerja kelompok mencapai targer yang diinginkan dan karyawan mendapatkan penghargaan maka disiplin kelompok yang selama ini diterapkan dapat memberikan Insight. Sofatnya komplementer. Adil dalam hal ini adalah memperlakukan seluruh kryawan dengan tidak mebeda-bedakan. adil bersikap positif. akan menganggu mekanisme kerja yang lain. b. . Proses pembelajaran agar dapat efektif maka pemimpin yang merupakan agen pengubah perlu memperhatikan prinsip-prinsip konsisten. guru. disiplin kelompok tidak dapat ditegakkan tanpa adanya dukungan disiplin pribadi. Sistem nilai akan terlihat dari sikap seseorang. gaji kesejahteraan dan sistemj penghargaan yang lainnya merupakan factor yang tidak boleh dilupakan. Adakalanya. Selain factor kepemimpinan. Kebiasaan bertindak disiplin ini merupakan awal terbentuknya kesadaran. Disiplin diri tidak dapat dikembangkan secara optimal tanpa dukungan disiplin kelompok. Sekali aturan yang telah disepakati dilanggar. maka mau tidak mau karyawan akan mebiasakan dirinya mengikuti irama kerja karyawan lainnya. komunikasi terbuka adalah kuncinya. Oleh karenanya. nilainilai kedisiplinan kelompok akan diinternalisasi. Karyawan menjadi sadar arti pentingnya disiplin. Hal ini disebabkan karyawan lain akan merasa terganggu karena biasanya ia akan mengajak bicara atau kemungkinan lain adalah teman sekerha timbul rasa iri. Karyawan dibiasakan bertindak dengan cara berdisiplin. dan masyarakat akan digunakan sebagai kerangka acuan bagi penerapan disiplin di tempat kerja. Konsisten adalah merperlakukan aturan secara konsisten dari waktu ke waktu.

Dengan sengaja dia tidak akan menampilan the second best (kurang dari terbaik) karena tahu tindakan itu sesungguhnya adalah bunuh diri profesi. seni. Indonesia berpotensi pula mengekspor tenaga-tenaga kerja professional dalam berbagai kelas ke mancanegara: perminyakan. Mentalitas Altruistik Seorang professional selalu di motivasi oleh keinginan mulia berbuat baik. Untuk dua hal di atas diperlukan usaha besar: membangun mentalitas professional. Jadi mentalitas pertama seorang professional adalah standar kerjanya yang tinggi yang di orientasikan pada idel kesempurnaan mutu. keindahan. 1. Mentalitas Kerja Kini adalah zaman professional. sastra. Wawasan mereka sudah cosmopolitan. untuk memuaskan dahaga manusia akan ideal mutu: kekuatan. Mereka bisa bekerja dimana saja di planet ini. Jika tidak mampu. world-class professionalism. 2. Bukan sekedar profesionalisme biasa tetapi profesionalisme kelas tinggi. Adapun cara-cara yang dapat diterapkan melalui konseling (diskusi formal). menembus batas-batas ketidakmungkinan praktis.Tindakan Pendisiplinan Tindakan pendisiplinan dapat dilaksanak dengan menggunakan prinsip dari progressive discipline. pertambangan. Bagi mereka batas-batas Negara tidak lagi relevan. Bangsa kita jelas memerlukan sebuah kelompok besar kaum professional untuk mengisi pembangunan masyarakat di segala bidang. b. Tidak terbayangkan lagi ada organisasi yang bisa bertahan tanpa profesionalisme. Prinsipnya adalah: a. dan lain-lain. Mentalitas Mutu Seorang professional menampilkan kinerja terbaik yang mungkin. kehutanan. kebergunaan. yang memampukan kita sejajar dan bermitra dengan orang-orang dan organisasiorganisasi terbaik dari seluruh dunia. Abad 21 dicirikan oleh globalisaso yang serba kompetitif dengan prubahan yang terus menggesa. Sesungguhnya. Istilah baik disini berarti berguna bagi masyarakat. Seorang professional mengusahakan dirinya selalu berada di ujung terbaik (cutting edge) bidang keahliannya. Hukuman untuk pelanggaran kecil lebih ringan daripada pelanggaran berat. Hukuman untuk pelanggaran pertama lebih ringan daripada pengulangan pelanggran. teguran lisan. teguran tertulis. kebaikan. Dia melakukannya karena hakikat profesi itu memang ingin mencapai suatu kesempurnaan nyata. Aspek ini melengkapi pengertian baik dalam mentalitas . Kaum professional dari berbagai disiplin kerja sekarang sudah merambah ke selutuh dunia. skorsing dan pemberhentian kerja. maka kita terpaksa harus mengimpor mereka dengan harga yang sangat mahal.

bahkan dengan kesediaan berkoraban. yakni Sri Paus. Bahkan bisa tak bersentuhan dengan realitas sekitarnya. Demikian pula pialang saham. dokter atau advokat memang jelas sangat bermanfaat bagi masyarakat. Mula-mula. 3. yang keinginannnya harus dipuaskan. Baik dalam mentalitas kedia ini berarti goodness yang di persembahkan bagi kemaslahatan masyarakat. tetapi menggelari mereka sebagai kaum professional adalah sebuar kerancuan istilah.pertama. Mentalitas Melayani Kaum professional tidak bekerja untuk kepuasan diri sendiri saja tanpa peduli pada sekitarnya. Seorang professional bahkan dengan tegas mematok nilai moneter atas jasa profesionalnya. 5. tak pelak lagi. Mentalitas Pembelajar Komptensi tinggi tidak tidak mungkin dicapai tanpa disiplin belajar yang tinggi dan berkesinambungan. Pilihannya ini biasanya terkait erat dengan ketertarikannya pada bidang itu. pilihan itu dipengaruhi oleh bakat dan kemampuannya yang digunakannya sebagai kalkulasi . Dengan ketegasan ini berarti sang professional berani berdiri di mahkamah tawar-menawar rasional dengan para pelanggannya. Seorang maestro seni lukis sekelas Michelangelo saja pun tetap punya pelanggan. computer programmer atau consultan investasi. atau pemakai jasa profesionalnya telah terpuaskan lebih dahulu via interaksi kerja Kaum professional lahir karena kebutuhan masyarakat pelanggam. Maka seorang professional harus bisa melayani pelanggannya sebaik-baiknya. Jadi ciri keempat pekerja professional adalah hati pembelajar yang menjadikannya terus bertumbuh dan mempertajam kompetensi kerjanya. Dan sang professional diharapkan melakukannya secara konsisten dengan segenap ketulusan dan kerendahan hati sebagai apresiasi atas kesetiaan pelanggannya di sepanjang karir profesionalnya. Maka ciri kedua profesionalisme ialah hadirnya motif altruistic dalam sikap dan falsafah kerjanya. tetapi nilai kerjai itu sendiri dibedakan demi kebaikan masyarakat yang didorong oleh kebaikan hati. 4. Maka ciri ketiga seorang pekerja professional adalah sikap melayani secara tulus dan rendah hati kepada pelanggannya dan nilai-nilai utama profesinya. yaitu mutu. Pada saat itulah seorang pekerja gagal menjadi professional. Tanpa itu maka sajian nilai sang pekerja professional semakin lama semakin tidak relevan. bahkan ada semacam rasa keterpanggilan untuk mengabdi di bidang tersebut. pelanggan. Inilah altruisme. Taat asas dengan pengertian ini. Mungkin saja teknik mencurinya atau metoda membunuhnya memang canggih dan hebat. Profesi seperti guru. Mentalitas pengabdian Seorang pekerja professional memilih dengan sadar satu bidang kerja yang akan ditekuninya sebagai profesi. belajar dan berlatih seumur hidup harus menjadi budaya kaum professional. tidak mungkin ada pencuri professional atau pembunuh professional. Sebaliknya. Dan karena tuntutan masyarakat semakin lama semakin tinggi. Kaum professional tidak melakukan onani profesi. sang penguasa Vatikan. Mutu kerja seorang professional tinggi secara teknis. kepuasannya muncul karena kontituten.

Mentalitas Etis Seorang pekerja professional. Profesi apa pun pasti terlibat menggeluti wacana moral yang relevan dengan profesi itu. demi kemanusiaan. Tetapi kemudian berkembang sebuah hubungan cinta antara sang pekerja dengan pekerjaannya. demi perdamaian. baik manis maupun pahit. Jadi ciri keenam seorang pekerja professional adalah kreativitas kerja yang lahir dari penghayatannya yang artistic atas bidang profesinya. . sesudah menguasai kompetensi teknis di bidangnya. profesi kedokteran menggeluti moralitas kehidupan. Pertanyaan penting disini. Dia akan menghayati estetika dalam profesinya. mendaki ke puncak kurva lalu menurun menuju dasar kurva. keindahan dan kekayaan ini akan memicu kegairahan baru bagi sang professional yang pada gilirannya memampukannya menjadi pekerja kreatif. Lagipula sudah diketahui bahwa motivasi uang selalu berbentuk kurva lonceng. 7. Mata hatinya terbuka lebar melihat kekayaan dan keindahan profesi yang ditekuninya. perspektif. Tampaklah bahwa menjadi professional sangat berat. berkembang terus ke tahap seni. demi bangsa. sesudah memilih untuk “menikah” dengan profesinya. Tanpa motivasi akbar dan stamina moral yang tinggi seseorang tidak mungkin menjadi professional sejati. maksudnya uang memang motivasi orang. Dia akan menemukan unsur seni dalam pekerjaanya. menerima semua konsuekensi pilihannya. Mentalitas Kreatif Seorang pekerja professional. berdaya cipta dan inovatif. demi demokrasi. Misalnya profesi hukum menggeluti moralitas di seputar keadilan. Jadi ciri keenam pekerja professional adalah kesetiaan pada kode etik profesi pilihannya. Motivasi seorang professional selalu berasal dari ruang spiritual. demi kaum papa. demi peradaban dan sebagainya. profesi bisnis menggeluti moralitas keuntungan. darimanakah seorang professional mendapatkan motivasinya sehingga ia dapat bertahan bahkan bertumbuh di arena professional itu? Pasti tidak dari sekedar uang saja meskipun dunia professional berlimpah dengan uang.peluang suksesnya disana. tingkat motivasinya akan turun kembali. Seterusnya. tetapi sesudah uang diperoleh. Dari ruang ini dapat didulang berbagai jenis motivasi luhur seperti demi Negara. begitu seterusnya dengan profesi lain. Jadi ciri kelima seorang professional sejati adalah terjalinnya dedikasi penuh cinta dengan bidang profesi yang dipilihnya. 6.