Anda di halaman 1dari 89

Paparan Dirjend Kerjasama Industri Internasional disampaikan pada Rapat Kerja Kementerian Perindustrian

Jakarta , Februari 2011

Topik
I. II. III. IV. V. VI. VII.

Latar Belakang Visi dan Misi Indikator Kinerja Kunci Koordinasi yang Harus Dilakukan oleh Ditjen KSII Program dan Kegiatan 2011 Rencana Program dan Kegiatan Indikatif 2012 Kesimpulan
2

I. LATAR BELAKANG

3

1.1 Latar Belakang Pembentukan Ditjen KSII

 

Kompetisi di tingkat regional dan global
Liberalisasi ekonomi dan perdagangan dunia Timbulnya blok-blok ekonomi, baik pada kawasan bilateral, regional dan multilateral

Interaksi ekonomi telah menciptakan kerjasama-

kerjasama baru yang diwujudkan dalam kesepakatankesepakatan

Singapore. Nepal. Sri Lanka FTAA (by 2005) AFTA MERCOSUR Argentina..ASEAN FTA Source : CIA Factbook (2007) ASEAN Population: 575. Thailand.5 million GDP: US$ 3. Maldives. Brazil. Malaysia.ASEAN FTA Australia-New Zealand-ASEAN FTA Korea .S.991 trillion JAPAN Population: 127 million GDP PPP: US$ 4. Laos. 70 countries) ASEAN-Japan Comprehensive Economic Partnership (AJCEP) expanding to Latin America JapanMexico EPA (signed agreement) under negotiation SAPTA Bangladesh. Vietnam. Paraguay.431 billion 3 3 . Uruguay Indonesia. Cambodia Japan’s Bilaterals: • Japan-Singapore EPA • Japan-Philippines EPA • Japan-Thailand EPA • Japan-Malaysia EPA • Japan-Indonesia EPA India .38 trillion CHINA Population: 1. Brunei.NAFTA Population: 445 million GDP: US$15. Philippines. Bhutan.ASEAN FTA China . Mexico EU-MEXICO FTA ACP-EU Countries in Africa and the Caribbean (approx. Canada.857 trillion FTA Regional EU Population: 491 million GDP: US$ 14.330 billion GDP PPP: US$ 6.29 trillion FTA Canada – Chile 1997 FTA : Chile – Mexico 1999 FTA : USA – Chile 2004 FTA : USA – Singapore 2004 FTA : USA – Australia 2005 FTA : Mexico – Japan 2005 FTA : Chile – Brunei – NZ – Singapore 2006 Japan-Korea-China FTA (under negotiation) Japan-Korea FTA EU 25 countries expanding to Eastern Europe (under negotiation) Japan-Mexico EPA (signed agreement) NAFTA U. India. Pakistan. Myanmar.A.

........ 6 ...Jumlah FTA di Dunia Hingga Saat Ini ...

Tantangan : mengikuti Pola Dunia atau ‘’Teralienasi’’ ? Telah mengimplementasikan FTA Masih dalam proses negosiasi FTA .

isu internasional. • Pelaksanaan koordinasi yang belum optimal • Terbatasnya informasi tentang potensi yang dimiliki oleh negara-negara partner kerjasama. • Rendahnya inisiatif dalam mengimplementasikan kesepakatan kerjasama baik dari pihak Indonesia maupun partner kerjasama. • Komitmen pimpinan dan staf dalam menangani kerjasama Internasional • Jejaring kerja yang relatif baik. • Sarana dan prasarana kerja yang cukup memadai. • SDM.sidang maupun event-event internasional dapat diikuti dengan baik. Ancaman • Besarnya Load Pekerjaan yang ada. • Luasnya cakupan kerjasama internasional yang harus ditangani • Ekspektasi dari stake holder dilingkungan Kementerian Perindustrian maupun sektorsektor lain. • Meningkatnya tawaran kerjasama di sektor industri Kelemahan • Ukuran lembaga yang relatif kecil dibandingkan dengan pekerjaan yang ditangani • Masih terbatasnya staf yang menguasai substansi kerjasama internasional • Pemanfaatan sarana dan prasarana yang belum optimal. berkualitas cukup baik .2 Keterbatasan Pusakin Kekuatan • Kewenangan dan pengalaman yang dimiliki dalam penanganan isu. 8 . • Adanya SOP yang jelas • Adanya KPI yang terukur Peluang • Kuantitas pertemuan di fora internasional yang sangat padat. • Terbatasnya waktu dan personel sehingga tidak semua sidang .1. • Kepercayaan yang diberikan pimpinan Kementerian kepada Pusakin dalam melaksanakan Tupoksinya.

ROO. TIG). Standard. NTBs. Investasi. USA. Preferensi Perdagangan. Indonesia – Australia FTA. Jepang. Jasa. USDFS. Indonesia – Iran FTA. Lingkup Bilateral Isu – isu dalam rangka IJEPA (MIDEC. Turki. UNIDO.India FTA. TBT (Technical Regulation. Malaysia. China. AI-FTA. Australia. IPR. Indonesia – AS TIFA.1. Mexico. Arab Saudi. ASEAN–US FTA). Indonesia . ASEAN Comprehensive Investment Agreement (ACIA). Chemical Dialog). AK-FTA. ASEAN – Mitra Dialog (AC-FTA. Perdagangan dan Lingkungan (Trade and Environment). and Conformity Assesment). Korea. ASEAN Framework Agreement on Services (AFAS). Vietnam. AANZ-FTA. AJCEP-FTA. SPS. ASEAN Trade in Goods AgreementATIGA (CEPT-AFTA. 9 • • . Sidang Komisi Bersama Indonesia dengan negara lain (a. Lingkup Regional Isu – isu ASEAN Economic Community (AEC). ASEAN-EU FTA. Fasilitasi Perdagangan. D-8. Uni Eropa. APEC (Otomotive Dialog. BIMP-EAGA). Standard and Conformance. Canada). India. ASW). Rusia. Indonesia – Pakistan FTA. ASEAN – Intra regional (IMTGT. Mesir.l. Iran.3 Lingkup Kerja Sama Internasional yang telah ditangani Pusakin • Lingkup Multilateral Isu – isu Perdagangan Barang. Indonesia – EFTA.

Singapura (Bantuan Training dan Pendidikan). ST3 Bandung. UNIDO. Thailand (Bantuan Training dan Pendidikan). NEDO. Bantuan Hibah Terdiri dari bantuan Tenaga ahli. CIM. Iran (Bantuan Training). APO. Indonesia Footwear Service Center (IFSC-Italia).3 Lingkup Kerja Sama … (2) • Bantuan Proyek IGI Phase II (Jerman) yaitu bantuan untuk pengembangan sistem pendidikan dan pelatihan industri di daerah (AKA Bogor. Australia (AusAID). Malaysia (Bantuan Training). Italia (Bantuan Training). ATK Yogyakarta).1. UNCTAD. InWent). UNDP. China (Bantuan Training dan Peralatan). World Bank Programme on Climate Change. ADB. • 10 . AOTS).Jerman). Amerika Serikat (USAID-SENADA. bantuan Peralatan dan bantuan Training. antara lain Jepang (JICA. Fulbright Scholarship). Uni Eropa (TSP). JETRO. Taiwan (Bantuan Training). Swedia (Bantuan Pendidikan dan Training). GTZ. India (Bantuan Training). IDB.IDEAS. Bantuan Teknik-KITECH). ACCRA. Technical Vocational Education Training (TVET . Jerman (Bantuan Tenaga Ahli. Korea (Bantuan Training dan Pendidikan-KOICA.

Sumber investasi/teknologi. . teknologi.1. Promosi pemasaran yang terkoordinasi. baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya. Tenaga profesional. yang: (1) (2) Mencakup bahan baku/penolong. (3) (4) (5) Sumber pendanaan program.4 Kebutuhan akan Penanganan akses terhadap sumber daya industri (5 M) Dalam menciptakan peningkatan daya saing produk industri secara berkelanjutan perlu: tersedianya sumber daya yang cukup.

sehingga sangat diperlukan untuk identifikasi. dan mengusulkan berbagai kerjasama teknis yang diperlukan dalam rangka meningkatkan kemampuan daya saing eskpor produk/jasa industri. Kebutuhan penanganan hambatan akses dan pengamanan industri DN ( Deffensive and Offensive Action ) Perlunya Antisipasi terhadap Pemberlakuan FTA yang berdampak pada : 1. sehingga sangat diperlukan pemantauan implementasi FTA secara intensif serta mengusulkan berbagai kebijakan sebagai tindakan pengamanan industri dalam negeri (deffensive action). Kemungkinan membanjirnya / serbuan impor barang industri yang berpotensi merugikan serta mengancam keberadaan industri barang sejenis di dalam negeri.5. Kemungkinan terhambatnya akses produk/jasa industri ke pasar ekspor karena diberlakukannya kebijakan NTB / TBT oleh negara partner FTA. 12 . inventarisasi dan diseminasi berbagai hambatan akses masuk ke negara lain. 2.1.

Diperlukan koordinasi internal dan eksternal yang sangat intensif untuk mempertahankan kepentingan Industri Indonesia. karena hampir 90% pos tarif seluruh sektor adalah produk-produk industri (jumlah tarif menurut HS 2007 adalah 7529 HS) Dibentuknya Direktorat Jenderal Kerjasama Industri Internasional (Peraturan Menteri Perindustrian No. 105/M-IND/PER/10/2010 .

1.5 STRUKTUR ORGANISASI DITJEN KERJA SAMA INDUSTRI INTERNASIONAL DIREKTORAT JENDERAL KERJA SAMA INDUSTRI INTERNASIONAL SEKRETARIAT DIREKTORAT JENDERAL DIREKTORAT KERJA SAMA INDUSTRI INTERNASIONAL WILAYAH I DAN MULTILATERAL DIREKTORAT KERJA SAMA INDUSTRI INTERNASIONAL WILAYAH II DAN REGIONAL DIREKTORAT KETAHANAN INDUSTRI 14 .

II. VISI DAN MISI 15 .

yang hingga akhir 2010 dilaksanakan oleh Pusat Administrasi Kerjasama Internasional yaitu unit eselon II dilingkungan Sekretariat Jenderal. • Misi Kementerian Perindustrian Membangun industri manufaktur untuk menjadi tulang punggung perekonomian. • Guna mencapai Tingginya penguasaan pasar dalam dan luar negeri (Strategic Outcome Kementerian Perindustrian) maka perlu dibentuk Direktorat Jenderal Kerja Sama Industri Internasional yang memiliki fungsi Menciptakan Penyelenggaraan Kerjasama Internasional yang efektif.1 Visi Dan Misi Kementerian Perindustrian (Perpres 28/ 2008) • Visi Kementerian Perindustrian Indonesia mampu menjadi negara industri tangguh pada tahun 2025. 16 .2. Departemen Perindustrian.

2 Peta Strategi Kementerian Perindustrian VISI DAN MISI Visi : Indonesia mampu menjadi negara industri tangguh pada tahun 2025 Misi : Membangun industri manufaktur untuk menjadi tulang punggung perekonomian Perspektif Pemangku Kepentingan 1 Tingginya Nilai tambah industri Meningkatnya Akses Pasar. Akses terhadap sumber 2 investasi dan Teknologi serta Kerjasama Internasional Kokohnya basis industri industri manufaktur dan industri andalan masa depan menjadi tulang punggung perekonomian nasional 7 Meningkatnya peran industri kecil dan menengah terhadap PDB 6 Tingginya kemampuan inovasi dan penguasaan teknologi industri Tersebarnya pembangunan industri 3 Kokohnya faktorfaktor penunjang pengembangan industri 4 5 Kuat.2. Pengendalian & Evaluasi Mengoptimalkan budaya pengawasan pada unsur pimpinan dan staf Mengoptimalkan evaluasi pelaksanaan kebijakan dan efektifitas pencapaian kinerja industri Perspektif Peningkatan Kapasitas Kelembagaan SDM •Mengembangkan kemampuan SDM yang kompeten Organisasi & Ketatalaksanaan Membangun organisasi yang Profesional dan Probisnis Informasi Membangun sistem informasi industri yang terintegrasi & handal Perencanaan Meningkatkan kualitas perencanaan dan pelaporan Dana Meningkatkan Sistem Tata Kelola Keuangan dan BMN yang profesional . lengkap dan dalamnya Struktur industri Perspektif Proses Pelaksanaan Tugas Pokok Departemen Perumusan Kebijakan Mempersiapkan dan/atau Menetapkan Kebijakan dan produk hukum Industri Menetapkan rencana strategis dan/atau pengembangan industri prioritas dan industri andalan masa depan Menetapkan peta panduan pengembangan industri Mengusulkan insentif yang mendukung pengembangan ind Pelayanan & Fasilitasi Mengembangkan R&D di instansi dan industri Memfasilitasi penerapan. pengembangan dan penggunaan Kekayaan intelektual Memfasilitasi pengembangan industri Memfasilitasi promosi industri Memfasilitasi penerapan standardisasi Meningkatkan kualitas pelayanan publik Mengkoordinasikan peningkatan kualitas lembaga pendidikan dan pelatihan serta kewirausahaan Pengawasan.

3 VISI dan MISI DITJEN Kerja Sama Industri Internasional • Visi Ditjen Kerja Sama Industri Internasional Membangun Industri Nasional berdaya saing global. Memfasilitasi industri nasional dalam meningkatkan akses terhadap sumber daya industri (5M) dan hambatan kerjasama industri. 18 . • Misi Ditjen Kerja Sama Industri Internasional 1. dan mendominasi pasar global di tahun 2025.2. Mengamankan. mempertahankan dan menyelamatkan sektor industri dari dampak negatif perjanjian bebas FTA antar negara atau perjanjan – perjanjian lainnya. 2.

regulasi teknis terkait akses industri Memfasilitasi kerja sama industri di fora internasional Memfasilitasi dan menyelenggarakan promosi kerja sama industri Pengawasan. Memfasilitasi industri nasional dalam meningkatkan akses terhadap sumber daya industri (5M) dan hambatan kerjasama industri. Pengendalian & Evaluasi Mengefektifkan sistem pengendalian intern Mengoptimalkan evaluasi pelaksanaan kerjasama internasional dan efektifitas pencapaiannya Menyusun rencana fasilitasi industri sesuai kesepakatan fora internasional Menyusun posisi dan strategi dalam perundingan internasional Menyusun pengaturan implementasi kerja sama Internasional. Mengamankan. Misi : 1. VISI DAN MISI Perspektif Pemangku Kepentingan Meningkatnya Akses Pasar.2. dan mendominasi pasar global di tahun 2025. promosi investasi dan industri Mengkoordinasikan dan berperan aktif di fora internasional Memberikan pelayanan penyelesaian permasalahaan industri Perspektif Peningkatan Kapasitas Kelembagaan SDM •Meningkatkan kompetensi SDM dan budaya kerja aparatur Organisasi & Ketatalaksanaan Membangun organisasi yang Profesional dan Probisnis Informasi Membangun sistem informasi kerjasama internasional yang terintegrasi & handal Perencanaan Meningkatkan kualitas perencanaan dan pelaporan Dana Meningkatkan Sistem Tata Kelola Keuangan dan BMN yang Profesional . Akses terhadap sumber investasi dan Teknologi serta Kerjasama Internasional Terbantunya kepentingan industri Nasional untuk mengakses sumber daya industri secara efisien (5M) 5 Kuatnya Koordinasi dan Fasilitasi Pelaksanaan Kerja Sama Industri Internasional 1 2 Meningkatnya Ketahanan Industri Nasional Terlindunginya kepentingan industri dan Jasa industri dari pengaruh 3 globalisasi (Multilateral. Bilateral.4 Peta Strategi Ditjen Kerja Sama Industri Internasional Visi : Membangun Industri Nasional berdaya saing global. 2. Regional) 4 4 Meningkatnya minat investasi industri dari luar negeri ke Dalam Negeri Perspektif Proses Pelaksanaan Tugas Pokok Departemen Perumusan Kebijakan Menyusun arah Kebijakan Kerjasama Internasional di bidang industri Pelayanan & Fasilitasi Memfasilitasi kerjasama teknik LN Memfasilitasi pertukaran informasi kebijakan. mempertahankan dan menyelamatkan sektor industri dari dampak negatif perjanjian bebas FTA antar negara atau perjanjan – perjanjian lainnya.

teknologi yang tepat guna d. Memfasilitasi kepentingan industri nasional dalam perundingan FTA baik secara bilateral. murah dan mudah diperoleh. Melakukan pengamanan terhadap industri yang berdaya saing lemah dari ancaman produk impor akibat pemberlakuan FTA. bahan baku/penolong yang berkualitas. sumber pendanaan e. TUJUAN 1. 5. 6.A. Melakukan penyelamatan industri dalam negeri yang terkena dampak negatif pemberlakuan FTA. promosi pemasaran 3. 4. b. Meningkatkan ketahanan industri dalam negeri terhadap persaingan global melalui peningkatan akses terhadap sumber daya yang meliputi : a. Melakukan kajian dan evaluasi kemanfaatan kerjasama industri dan implementasi FTA bagi pengembangan industri nasional. Membina kerjasama industri dengan negara maju / lembaga donor internasional maupun dengan sesama negara berkembang dalam rangka Kerjasama Selatan-Selatan. 20 . 2. tenaga professional dibidangnya c. regional maupun multilateral.

promosi pemasaran. dukungan permodalan. SASARAN Sasaran utama yang akan dicapai Direktorat Jenderal Kerjasama Industri Internasional adalah : “Meningkatnya Akses Pasar. Untuk mengembangkan industri manufaktur diperlukan dukungan sumber daya industri yang memadahi baik dari segi jumlah dan kwalitas. Direktorat Jenderal Kerjasama Industri Internasional memiliki sasaran – sasaran penunjang yang ingin dicapai yaitu : 1. Meningkatnya Ketahanan Industri Nasional. akses sumber daya industri serta Kerjasama Industri Internasional”.B. Terbantunya kepentingan industri Nasional untuk mengakses sumber daya industri yang mencakup bahan baku/penolong. Untuk mencapai sasaran utama tersebut. Sumber daya industri tersebut mencakup sumber daya manusia. teknologi. bahan baku yang diperlukan industri. Akses terhadap sumber investasi. 21 . teknologi yang up to date serta metode pengolahan industri yang efisien 2. tenaga profesional. yakni upaya untuk meningkatkan ketahanan industri nasional sehingga industri nasional dapat mempunyai ketahanan dalam menerima pengaruh negatif dari perubahan global yang kompleks dan tidak dapat diperkirakan yang dapat mengganggu kelangsungan industry. sumber pendanaan program.

Kuatnya Koordinasi dan Fasilitasi Pelaksanaan Kerja Sama Industri Internasional. Regional). Yakni daya upaya untuk menarik minat investasi asing di sektor industri melalui kegiatan temu usaha.B. 3. Meningkatnya minat investasi industri dari luar negeri ke Dalam Negeri. pertemuan consultative dengan perwakilan Indonesia di Negara lain dan perwakilan Negara lain di Indonesia. 5. yakni daya upaya untuk mellindungi industri dan jasa industri melalui identifikasi dan memperjuangkan kepentingan industri di fora internasional serta memberikan dukungan fasilitasi kepentingan industri dan jasa industri. 22 . Yakni daya upaya untuk mengkoordinasikan dan memfasilitasikan penganan kerjasama internasional agar implementasi kerjasama industri internasional dapat dilakukan dengan baik. 4. Bilateral. SASARAN (2) Terlindunginya kepentingan industri dan Jasa industri dari pengaruh globalisasi (Multilateral.

INDIKATOR KINERJA KUNCI 23 .III.

3.1 KPI Ditjen Kerja Sama Industri Internasional
No. OUTCOME URAIAN KPI 1. Jumlah kesepakatan investasi industri Jumlah kerjasama industri internasional Jumlah jejaring kerja internasional Jumlah Kerja sama Teknik Jumlah fasilitasi yang diberikan kepada negara yang bekerjasama Jumlah penanganan kasus terkait dengan industri yang dipertahankan Jumlah penanganan kasus terkait dengan industri yang diselamatkan Jumlah asesmen terkait pengamanan industri SATUAN KPI Kesepakatan Investasi Industri Kesepakatan Jejaring kerja TARGET (2014) 8 1. Meningkatnya Akses Pasar, Akses terhadap sumber investasi dan Teknologi serta Kerjasama Internasional Membuka dan memperluas akses pasar industri ke luar negeri, peningkatan minat investasi dan transfer teknologi dari luar ke dalam negeri, serta kerjasama teknik dalam rangka perluasan pasar produk dan jasa industri.

2. 3.

8 64 16 96

2.

Terbantunya kepentingan industri Nasional untuk mengakses sumber daya industri secara efisien (5M)

Meningkatkan kerja sama teknik dan koordinasi untuk mendapatkan sumber daya industri yang tepat, mudah dan murah (man, money, material, machine, method)

1. 2.

Kerja sama Teknik Jumlah fasilitasi

3.

Meningkatnya Ketahanan Industri Nasional

Melakukan upaya secara berkesinambungan agar Industri Nasional dapat diamankan, dipertahankan dan diselamatkan dari pengaruh negatif perubahan global.

1.

Kasus

24

2.

Kasus

24

3.

Kajian Kebijakan

16 8

4.

Terlindunginya kepentingan industri dan Jasa industri dari pengaruh globalisasi (Multilateral, Bilateral, Regional) Meningkatnya minat investasi industri dari luar negeri ke Dalam Negeri

Melakukan langkah-langkah perlindungan untuk kepentingan sektor industri (produk dan jasa industri) dari persaingan global.

Jumlah kebijakan perlindungan industri dalam kerjasama industri internasional

5.

Meningkatkan promosi investasi produk dan jasa industri di dalam dan luar negeri dalam rangka meningkatkan minat investor asing. Meningkatkan fungsi koordinasi dan fasilitasi dalam pelaksanaan kerjasama industri internasional

Jumlah permintaan kesepakatan investasi langsung asing pada jenis industri tertentu 1. 2. Tingkat Kepuasan Pemangku Kepentingan Internal Tingkat Kepuasan Pemangku Kepentingan Eksternal

Permintaan Kesepakatan Investasi Persen

64

6

Kuatnya Koordinasi dan Fasilitasi Pelaksanaan Kerja Sama Industri Internasional

80

Persen

75

IV. KOORDINASI YANG HARUS DILAKUKAN OLEH DITJEN KSII

25

4.1 Peranan Ditjen KSII dari Perspektif Pemangku Kepentingan
Instansi dan Lembaga terkait Pusat / Daerah

STAKEHOLDER PERSPECTIVE
1. Terbantunya kepentingan industri Nasional untuk mengakses sumber daya industri secara efisien (5M)
Informasi daya saing industri nasional Masukan (need assessment)

STRATEGIC

CORE
Dirjen
Meningkatnya akses pasar, akses terhadap sumber daya industri (5M), teknologi dan kerjasama

2. Meningkatnya Ketahanan Industri Nasional 3.Terlindunginya kepentingan industri dan Jasa industri dari pengaruh globalisasi (Multilateral, Bilateral, Regional)

KSII

KADIN / ASOSIASI / BUMN

1, 2, 3

4. Meningkatnya minat investasi industri dari luar negeri ke Dalam Negeri

internasional

Unit-unit Kemenperin Setjen Itjen Ditjen BPKIMI

5. Kuatnya Koordinasi dan Fasilitasi Pelaksanaan Kerja Sama Industri Internasional

26

4.2 Keterkaitan Ditjen KSII dengan Instansi/Lembaga Pemerintah Pusat & Daerah
PEMANGKU KEPENTINGAN DIREKTORAT KII OUTCOME
•Terbantunya kepentingan industri Nasional untuk mengakses sumber daya industri (5M) secara efisien melalui kerja sama internasional • Terlindunginya kepentingan industri dan jasa industri dari pengaruh globalisasi (Multilateral, Bilateral)
Terwujudnya Peta Panduan penanganan hambatan kerjasama industri internasional dan pengamanan industri •Kuatnya Koordinasi dan Fasilitasi pelaksanaan kerjasama industri internasional •Terfasilitasinya kerjasama teknik dan promosi industri di LN. Terlindunginya kepentingan industri dan jasa industri dari pengaruh globalisasi (Multilateral, Bilateral)

PUSAT
• Kemendag • Kemenlu • Kemenbudpar • BKPM
DIREKTORAT KII WIL. I DIREKTORAT KII WIL. II

DIREKTORAT KI

SET DITJEN KII

DAERAH • Disperindag • Disbudpar • Pemda

DIREKTORAT KII WIL. I DIREKTORAT KII WIL. II DIREKTORAT KI

Terwujudnya Peta Panduan penanganan hambatan kerjasama industri internasional dan pengamanan industri •Kuatnya Koordinasi dan Fasilitasi pelaksanaan kerjasama industri internasional •Terfasilitasinya kerjasama teknik dan promosi industri di LN
27

SET DITJEN KII

II DIREKTORAT KI SET DITJEN KII •Kuatnya Koordinasi dan Fasilitasi pelaksanaan kerjasama industri internasional •Terfasilitasinya kerjasama teknik dan promosi industri di LN 28 . Bilateral) • Meningkatnya minat investasi industri dari luar negeri ke dalam neger • Meningkatnya Ketahanan Industri Nasional • Terfasilitasinya antisipasi hambatan kerjasama industri internasional • Terfasilitasinya keamanan dan stabilitas industri dalam negeri ASOSIASI / BUMN : • KADIN • HIPMI • ASOSIASI – INDUSTRI DIREKTORAT KII WIL. akses terhadap sumber investasi dan teknologi kerja sama internasional • Terbantunya kepentingan industri Nasional untuk mengakses sumber daya industri (5M) secara efisien melalui kerja sama internasional • Terlindunginya kepentingan industri dan jasa industri dari pengaruh globalisasi (Multilateral. I DIREKTORAT KII WIL.4.3 Keterkaitan Ditjen KSII dengan Sektor Industri PEMANGKU KEPENTINGAN DIREKTORAT KII OUTCOME • Meningkatnya akses pasar.

akses terhadap sumber investasi dan teknologi kerja sama internasional • Terbantunya kepentingan industri Nasional untuk mengakses sumber daya industri (5M) secara efisien melalui kerja sama internasional • Terlindunginya kepentingan industri dan jasa industri dari pengaruh globalisasi (Multilateral. I DIREKTORAT KII WIL.4 Keterkaitan Ditjen KSII dengan Unit Kemenperin PEMANGKU KEPENTINGAN DIREKTORAT KII OUTCOME • Meningkatnya akses pasar.4. II SETJEN DITJEN-DITJEN ITJEN BPKIMI DIREKTORAT KI • Terwujudnya perencanaan dan pelaporan yang berkualitas • Terciptanya peningkatan kompetensi SDM dan budaya kerja aparatur • Terwujudnya efektifitas dan efisiensi pengelolaan anggaran dan BMN • Terfasilitasinya kerjasama teknik dan promosi industri di LN •Terbangunnya sistem informasi kerjasama internasional yang terintegrasi dan handal 29 SET DITJEN KII . Bilateral) • Meningkatnya minat investasi industri dari luar negeri ke dalam negerI • Meningkatnya Ketahanan Industri Nasional • Terfasilitasinya antisipasi hambatan kerjasama industri internasional • Terfasilitasinya keamanan dan stabilitas industri dalam negeri UNIT KEMENPERIN DIREKTORAT KII WIL.

2011 30 .V. PROGRAM DAN KEGIATAN .

Peningkatan Kemampuan SDM Penanganan Ketahanan Industri. Penyusunan Rekomendasi Dukungan Kebijakan Teknis Kerjasama Industri Internasional Dokumen rumusan kebijakan kerja sama industri internasional wilayah I dan Multilateral Laporan perkembangan kerja sama industri internasional wilayah I dan Multilateral Laporan Kegiatan/Monev Perkembangan kerja sama industri internasional wilayah I dan Multilateral Laporan analisa kerja sama industri internasional wilayah I dan Multilateral Orang peserta Peningkatan Kemampuan SDM Penanganan Kerja Sama Industri Internasional Promosi Investasi Industri Internasional Layanan Manajemen Kinerja Direktorat Kerja Sama Industri Wilayah I dan Multilateral Dokumen rumusan kebijakan kerja sama industri internasional wilayah II dan Regional Laporan perkembangan kerja sama industri internasional wilayah II dan Regional Laporan Kegiatan/Monev Perkembangan kerja sama industri internasional wilayah II dan Regional Laporan analisa kerja sama industri internasional wilayah II dan Regional Orang peserta Peningkatan Kemampuan SDM Penanganan Kerja Sama Industri Internasional Promosi Investasi Industri Internasional Layanan Manajemen Kinerja Direktorat Kerja Sama Industri wilayah II dan Regional Bulan Layanan Perkantoran Dokumen Perencanaan dan Penganggaran Ditjen Kerja Sama Industri Internasional Laporan Kegiatan/Koordinasi/Pembinaan dan Tindak Lanjut/Monev Bidang Kerja Sama Industri Internasional Rekomendasi Dukungan Kebijakan Teknis Kerja Sama Industri Internasional 31 . Perumusan Kebijakan Peningkatan Ketahanan Industri. Analisa kinerja dan pengamanan industri dalam negeri. Perencanaan dan Penganggaran Ditjen Kerjasama Industri Internasional 3. 5.5. 7. 3. Wilayah 2. 6. Perumusan kebijakan kerja sama industri internasional Wilayah II Industri Internasional dan Regional.1 Program dan Kegiatan Ditjen Kerja Sama Industri Internasional 2011 NO PROGRAM/KEGIATAN 1 Peningkatan Ketahanan Industri RUANG LINGKUP KEGIATAN 1. 2. Wilayah 2. Koordinasi penanganan kerja sama industri internasional Wilayah I dan Multilateral I dan Multilateral. 3 Pengembangan Kerjasama 1. Analisa kerja sama industri internasional Wilayah II dan Regional. Perumusan kebijakan kerja sama industri internasional Wilayah I. Monitoring dan Evaluasi perkembangan kerja sama industri internasional Wilayah I dan Multilateral. Layanan Manajemen Kinerja Direktorat Ketahanan Industri. Industri Internasional dan Multilateral. OUTPUT Dokumen rumusan kebijakan ketahanan industri terkait kerja sama internasional Laporan identifikasi hambatan kerja sama dan industri dalam negeri Laporan analisa penanganan hambatan kerja sama industri internasional Laporan analisa kinerja dan pengamanan industri dalam negeri Laporan Kegiatan/Monev bidang ketahanan industri internasional Orang peserta Peningkatan Kemampuan SDM Penanganan ketahanan industri Layanan Manajemen Kinerja Direktorat Ketahanan Industri 2 Pengembangan Kerjasama 1. 4 Peningkatan Dukungan Fasilitasi dan Koordinasi Kerjasama Industri Internasional 1. Promosi Investasi Industri Internasional. 6. Monitoring dan Evaluasi perkembangan kerja sama industri internasional Wilayah II dan Regional. Peningkatan Kemampuan SDM Penanganan Kerjasama Industri Internasional. 5. 7. 3. Promosi Investasi Industri Internasional. Penyelenggaraan Kegiatan/Koordinasi/Pembinaan dan Tindak Lanjut/Monev Bidang Kerja Sama Industri Internasional 4. 3. 4. 4. Layanan Perkantoran 2. Layanan Manajemen Kinerja Direktorat kerja sama industri internasional Wilayah II dan Regional. 7. 5. Identifikasi hambatan kerja sama dan industri dalam negeri. Monitoring dan Evaluasi Ketahanan Industri. Koordinasi penanganan kerja sama industri internasional Wilayah II dan Regional II dan Regional. Peningkatan Kemampuan SDM Penanganan Kerjasama Industri Internasional. 4. Analisa penanganan hambatan kerja sama industry Internasional. 6. Analisa kerja sama industri internasional Wilayah I dan Multilateral . Layanan Manajemen Kinerja Direktorat kerja sama industri internasional Wilayah I dan Multilateral.

Rules of Origin (ROO) 3. Indonesia – EU (April 2011) . Government Procurement 7. Technical Cooperation / Capacity Building 8. Legal Text 32 (Februari 2011) 3. Trade Remedies 4. Indonesia – India 1. Trade in Goods (TIG) 2. Other Issues 9. Trade in Services (TIS) 5. Intellectual Property Rights (IPR) 6.5.EFTA (Akhir Januari 2011) 2. Indonesia – Australia (Maret 2011) 4.2 Persiapan Negosiasi Bilateral Indonesia (2011) 1. Indonesia .

Other Issues I. Legal Text 33 . Intellectual Property Rights (IPR) F. Technical Cooperation / Capacity Building H. Government Procurement G. Rules of Origin (ROO) C.3 Work Plans Negosiasi Indonesia – EFTA (sebuah contoh) Work Plans for: A. Trade Remedies D. Trade in Services (TIS) E. Trade in Goods (TIG) B.5.

Bilateral Export Import . Study the priority development programs of commodities/ sectors in short/ long term period F.A. Study of NTB/TBT E. Collecting Data/Information .Tariff rate of partner countries .Other relevant data/information (existing cooperation.Joint Study Group B. Study the impact of other FTAs implementation to the industry sectors 34 . Preparation A.NTB/TBT applied by partner country .Other FTAs implemented/under process by partner countries . Export-Import Analysis C. WORK PLAN KAJIAN TRADE IN GOODS No Activities Year 2011 Jan Feb March April May June July 1234123412341234123412341234 I. Competitiveness Analysis D. existing FDI by partner countries) .Export Import partner country to/from the world .

RCA. WORK PLAN KAJIAN TRADE IN GOODS (2) No Activities Year 2011 Jan Feb March April May June July 1234123412341234123412341234 II. and develop industrial/technical cooperation D. Modelling Simulation A. Weaknesses: Weak aspects of industry sector toward that of partner countries C. Communicating with private sectors D.A. B. Foreign Direct Investments. Executing SWOT Analysis A. Macro impact to the economy (CGE modelling) Micro impact to the competitiveness (G-TAP. Threats: strong possibilities to importation flood. Opportunities: Strong possibilities to increase export. Strengths: strong aspects of industry sector towards that of partner countries B.Regional Competitive Performance) C. Communicating with other related units 35 . decreasing competitiveness and domestic market share III.

Trade Facilitation. Single Undertaking: should coordinate with other working group (TIS. WORK PLAN KAJIAN TRADE IN GOODS (3) No Activities Year 2011 Jan Feb March April May June July 1234123412341234123412341234 IV. Intellectual Property Rights. Sensitive Track. Offer and Request Position C. Cooperation) B. Starting Negotiation A.A. FTA Modality (Classification. Schedule of Concession. Determining Industry Position A. and ROO) B. Trade Related Aspects of Intellectual Property Rights. Non-single Undertaking 36 . Negotiation position: by considering possibilities of negotiating technical and other cooperation V. General Exclusion D. Government Procurement. Fall-back position: Normal Track.

WORK PLAN KAJIAN RULES OF ORIGIN No Activities Year 2011 Jan Feb March April May June July 1234123412341234123412341234 I.PSR III.B.General rules (RVC) . Ministry of Trade B. Indentify of Modality A. The 2nd Meeting IE-CEPA 37 . Decision of Modality General Rules or PSR .Coordination with related sector with product falling within chapters 25 to 39 obtaned by fermentation II. Meeting Preparation of The 1st Meeting IE-CEPA with A. Identify of Characteristic Product (TIG) A. Identify of Characteristic National Product B. . The 1st Meeting IE-CEPA C. Study of Proposal EFTA about ROO ( related from product industry Nomber HS 25-39) EFTA suggest this product with process fermentasy is whole obtained Product C.

38 . IV. Activities Data (agreement) collecting Jan Feb March April Mei Juni Juli Agustus 2341234123412341234123412341234 Preliminary study on EFTA Proposal Agreement comparison III. IJ-EPA b. EFTA-Korea agreement (exclude historical background) Legal analysis on "on-going" record of discussion c. II. etc. (Identify SWOT and historical background comparison) a. WORK PLAN KAJIAN LEGAL TEXT No I.C.

VI. RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN INDIKATIF .2012 39 .

PEKERJAAN RUTIN DAN PENCAPAIAN TARGET 40 .KETERKAITAN KOMPONEN.

1 Rencana Program & Kegiatan 2012 Ditjen Kerjasama Industri Internasional         Promosi investasi sektor industri di wilayah Amerika.6. Eropa dan Timur Tengah Perumusan Kebijakan Peningkatan Kerjasama Industri Wilayah II dan Regional Koordinasi dalam rangka Working Group on Industrial Environment (WGIE-UE) Koordinasi dalam rangka perundingan EFTA Forum koordinasi pemanfaatan & penjajakan peluang kerja sama teknik luar negeri di Wilayah I Analisa Data Industri Dalam Rangka Kerjasama Forum ASEAN ASEAN Mitra Dialog Analisis Daya Saing Industri Dalam Kerjasama Internasional di Multilateral dan Regional Pemetaan kemampuan industri beberapa negara mitra kerjasama 41 .

Pasifik. Asia Selatan. Amerika.Rencana Program & Kegiatan 2012 Ditjen Kerjasama Industri Internasional        Keikutsertaan produk barang dan jasa dalam pameran internasional di wilayah Asia.negara di wilayah Asia Barat. Eropa dan Timur Tengah Implementasi Kerjasama Selatan-Selatan Fasilitasi bantuan kerjasama dari negara . Australia dan Afrika Perumusan Kebijakan Peningkatan Ketahanan Industri terkait Kerjasama Indonesia – Australia Perumusan Kebijakan Peningkatan Ketahanan Industri terkait Kerjasama Indonesia EFTA Penyusunan Country Profile dalam rangka Peningkatan Ketahanan Industri Nasional Penanganan kasus pengamanan dan hambatan yang dihadapi industri nasional 42 . Asia Timur.

Pasifik. Australia dan Afrika Monitoring dan evaluasi dalam kerangka kerja sama wilayah Asia.Rencana Program & Kegiatan 2012 Ditjen Kerjasama Industri Internasional       Pembangunan sistem informasi ketahanan industri (termasuk EWS. Asia Timur. Amerika. Eropa. EIS) Pembuatan Bulletin Ketahanan Industri Nasional Penyusunan Kebijakan perlindungan industri dalam rangka kerjasama di wilayah Asia Barat. DSS. Asia Selatan. Timur Tengah Monitoring dan Evaluasi kerja sama Multilateral dan Regional Pengembangan kapasitas SDM dalam penanganan kerja sama industri internasional 43 .

2 Rencana Program & Kegiatan 2012 Ditjen KSII yang Terkait dengan Daerah      Memfasilitasi kerjasama dalam rangka pengembangan infrastruktur teknologi Memfasilitasi promosi investasi Memfasilitasi kerjasama industri Memfasilitasi kerjasama dalam rangka Capacity Building Memfasilitasi sinkronisasi program kerjasama internasional 44 .6.

 Magang di negara atau lembaga pemberi hibah dan pertukaran pemuda 45 . alat-alat laboratorium.  Pengiriman barang/peralatan untuk sebuah kegiatan. pendidikan dan pelatihan.6.  Beasiswa untuk studi (gelar dan non-gelar). o Bantuan Proyek: diberikan dalam bentuk fasilitas pembiayaan berupa valuta asing atau valuta asing yang dirupiahkan untuk membiayai berbagai kegiatan pembangunan  (pinjaman atau hibah). Komponen kegiatan ini dapat juga berupa bantuan tenaga ahli.  Pelatihan di dalam dan luar negeri. baik di dalam maupun luar negeri. pendidikan dan pelatihan serta bantuan peralatan  (hibah) o o Bantuan ini biasanya diberikan dalam bentuk hibah berupa:  Bantuan Peralatan (permesinan.  Pelaksanaan studi proyek.3 Contoh Fasilitasi Ditjen-KSII dalam Membantu Program / Kegiatan Daerah o Bantuan Program: diberikan oleh lembaga/negara donor berupa devisa yang diperlukan untuk menutup kekosongan neraca pembayaran  (pinjaman atau hibah). berupa bantuan tenaga ahli. Bantuan Teknik: diberikan oleh lembaga/negara donor kepada proyek tertentu. dll)  Pengiriman tenaga ahli untuk kegiatan konsultasi dan tenaga ahli untuk membantu pelaksanaan tugas-tugas di lembaga/intitusi pemerintahan.

Contoh Fasilitasi Ditjen-KSII dalam Membantu Program / Kegiatan Daerah Perkembangan Kerjasama Teknik Luar Negeri Dalam 3 tahun terakhir terdapat beberapa proyek bantuan teknik luar negeri dari beberapa negara/lembaga donor yang telah dilaksanakan di lingkungan Kementerian Perindustrian yaitu : a. Jerman (GTZ dalam rangka IGI dan SedTVET) UNIDO UNDP UNI Eropa USAID Korea/KITECH Perancis ADB 46 . NEDO. i. f. d. Jepang (JICA. Jetro dlm rangka MIDEC –IJEPA) b. h. c. g. e.

dilaksanakan sebanyak 16 kegiatan yang dilaksanakan oleh 14 Balai Besar dan Baristand yang ada dibawah Kemenperin antara lain di Yogyakarta.000) dan GOI 12.322.000). Makassar. Semarang. Untuk tahun 2009-2010 dilaksanakan sebanyak 38 pelatihan dengan jumlah peserta 909 orang yang tersebar di seluruh Indonesia dengan nilai proyek Rp 8. Untuk tahun 2009.Indonesia-Jepang (JICA) Proyek Japan –ASEAN Comprehensive Human Resources Development (JACHRD) .311. Pontianak.011.000 yang ditanggung secara bersama dengan proporsi GOJ 87.951. dan bantuan peralatan. Surabaya.2% (Rp 1. Padang. Ambon.85% (Rp 7. Cakupan kegiatan proyek tidak hanya terbatas pada ICT tapi juga training di luar negeri.Grant Proyek diimplementasikan dalam bentuk In-Country Training (ICT) kepada UKM negara-negara ASEAN.541.410. 47 . Lampung dan Bandung.

dan Kerajinan Marmer Output berupa: . Markisa.Penguatan sistem penyediaan layanan pelatihan .Peningkatan kapasitas Pemprov Sulsel untuk mengembangkan dan meningkatkan strategi pengembangan industri .Indonesia-Jepang (JICA) contd The Technology Cooperation Project for Facilitation of Local Industry Development in South Sulawesi Province (On-going Project) Kerjasama bertujuan untuk meningkatkan kapasitas Sulawesi Selatan dalam rangka percepatan manufakturisasi sumberdaya lokal melalui pengembangan dan penguatan klaster dengan memanfaatkan sumberdaya lokal 4 (empat) jenis kluster yang dikembangkan.Peningkatan sistem dan strategi pengembangan klaster industri    . yaitu : Kakao. Sutra.

di PT. o Waste Heat Recovery Power Generation in the Cement Industry On-going project yang diselenggaraakan di PT Semen Padang. PN X. tahun 2003 – 2006 (Completed Project). Memasuki tahap importasi dan instalasi peralatan proyek. o The Model Project For Ethanol Production From Molasses In A Sugar Factory yang akan dilaksanakan di PT. 49 . Gempolkrep. (Completed Project). o Concerving Energy and Water in Textile Dyeing & Finishing Industry (CEW) Tahun 2006 – 2008. Memasuki tahap persiapan pelaksanaan. Proyek-proyek tersebut dilaksanakan dalam bentuk model project yang menggunakan peralatan dengan teknologi hemat energi dan ramah lingkungan. Gunung Garuda. Semen Padang) o The Model Project for High Performance Industrial Furnace (HPIF) . o Energy Audit untuk beberapa industri yang besar penggunaan energinya.Indonesia-Jepang (NEDO) New Energy Industrial Technology Development Organization Kerjasama antara NEDO dengan Kementerian Perindustrian khususnya dalam kaitannya dengan pengembangan program konservasi energi untuk sektor industri yaitu: o Application of Pre-glinder (PT.

Ditjen IAK Mou Project telah ditandatangani kedua belah pihak tanggal 2 Agustus 2010 antara Sekjen Kemenperin dengan Chairman NEDO.Kegiatan NEDO 2006-2010 (Completed. Industri Makanan dan Industri Minuman PT Dalitek Kusuma / Ditjen ILMTA Conserving Energy and Water Saving in The Textile Dying and Finishing Industry in Indonesia (Bantuan Peralatan) (2007-2008) (Completed) Waste Heat Recovery Power Generation in the Cement Industry (Bantuan Peralatan) ( 2007-2009)* (On Going) The Model Project For Ethanol Production From Molasses In A Sugar Factory (20102012) d PT. on going and Pipeline) NEDO (JEPANG) High Performance Industrial Furnance (20032006) (Completed) PT Gunung Garuda/ Ditjen ILMEA Utilization of Paper Sludge and Soil Waste (2006-2008) (completed) Energy Audit (2007) (Completed) PT Fajar Surya Wisesa/ Ditjen ILMEA PT Ciracas Indo Perdana dan PT Pulogadung Steel/ Industri Logam (Baja). Direktorat Kimia Hilir. Industri Kimia Hilir (Semen). *Masih terus berlangsung . PN X (Pipeline) Proyek dilaksanakan dalam bentuk model project yang menggunakan peralatan dengan technology yang ramah hemat energi dan ramah lingkungan PT Semen Padang.

o Mengembangkan kapasitas tenaga kerja terampil yang bersertifikat. o Mengembangkan lembaga Diklat Industri terapan yang mandiri. Sulsel dan Kalbar).Indonesia-Jerman (GTZ) Merupakan program bantuan Jerman melalui Gesellscaft Fur Technische Zusammenarbeit (GTZ) dan Kreditansal fur Wiederaufbau (KFW) dalam bentuk Hibah.Soft loan : Dikoordinasikan oleh Kemendiknas. Tujuan Proyek: o Mengembangkan sistem Diklat industri terapan di daerah. Tujuan Proyek adalah untuk meningkatkan kapasitas Institusi Pendidikan menjadi bertaraf Internasional. o Mengembangkan jaringan pelayanan konsultasi bisnis dan usaha perdagangan. Jabar. Proyek dilaksanakan di 17 institusi pendidikan dibawah Kemendiknas dan 3 (tiga) institusi dibawah Kemenperin (Completed Project). Sumbar. Sustainable Economic Development Through Technical Vocational Education Training (SED-TVET). 51 . Nilai Proyek: Tahap I 10 juta Euro dan Tahap II 6 juta Euro atau sekitar Rp 72 milyar. o Mengembangkan jaringan kemitraan antara institusi pendidikan/pelatihan dengan pelaku industri. Saat ini Kemenperin telah mengusulkan pengembangan Institusi Pendidikan di 5 Propinsi (DIY. dengan focal point proyek adalah Kemendiknas.

• Komponen 1: Supporting the development and growth of private sector and SMEs • Komponen 2: Supporting energy efficiency and environmentally sustainable Industrial development • Komponen 3: Supporting the recovery and rehabilitation of communities in the Tsunami affected areas and post conflict areas.Indonesia-UNIDO Country Service Framework for Indonesia (CSFI). o Terdiri atas 2 (dua) tahap: • Tahap I (2003 – 2006) dan Tahap II (2005 – 2007). o Proyek terdiri atas 3 komponen dan 14 kegiatan proyek. 52 . o Nilai Proyek: Tahap I US$ 7.017.510.000.000 dan Tahap II US$ 10.

ii) Trade capacity building. iv) lingkungan dan v) penguatan kerjasama selatan-selatan. Kemenperin . Dan Oktober 2010 lalu.Indonesia-UNIDO (contd) Tujuan Proyek: Meningkatkan daya saing industri Indonesia Pengembangan SMI untuk pengentasan kemiskinan Pengembangan agroindustri untuk keluar dari krisis Pengembangan industri ramah lingkungan Mendukung pengembangan sektor swasta dan UKM Efisiensi energi dan pembangunan industri berkelanjutan Rehabilitasi daerah pasca konflik dan bencana alam Realizing Minimum Living Standards for Disadvantages Communities Through Peace Building and Village Based Dev.Unido sepakati kerjasama di bidang pengembangan budidaya rumput laut (seaweed) bagi masyarakat Ambon. i) pengentasan kemiskinan. iii) energy. In Maluku Province : Bidang kerjasama meliputi. 53 .

KOICA on the Master Plan Establishment of Industrial Zone in Boyolali District (On-going Project) Diinisiasikan oleh keinginan perusahaan-perusahaan Korea di Jawa Tengah untuk merelokasi industri mereka ke Boyolali. antara kedua negara kerap dilakukan joint research and development yang bertujuan untuk meningkatkan daya saing industri Indonesia. MoU di antara kedua pihak masih dalam tahap pembahasan kedua pihak. 54 . pihak Boyolali meminta Kemenperin untuk memfasilitasi kerjasama antara Boyolali-Korea dalam rangka penyusunan Master Plan Kawasan Industri di Boyolali. dan pendidikan bagi aparatur Kemenperin. antara lain dengan menyelenggarakan penelitian bersama. expert dispatch. Dengan adanya KITC. Pada Oktober 2010.Indonesia-Korea  Indonesia .  Indonesia .KIMS on the Material and Technology Science Kerjasama diawali oleh Balai Besar Logam dan Mesin Bandung mengenai material science.  Indonesia . Pihak Kemenperin masih menunggu counterdraft dari KOICA dalam rangka penandatanganan MoU penyusunan master plan tersebut.KITECH on the establishment of Korean Institute of Industrial Technology / KITC (On Going Project) Tujuan kerjasama untuk mendirikan lembaga kerjasama bernama KITC yang bersifat nirlaba dan berfungsi sebagai penghubung pelaku ekonomi di kedua negara.

KESIMPULAN 55 .VII.

memper tahan kan dan menyelamatkan sektor industri dari dampak negatif perjanjian bebas FTA antar negara atau perjanjan – perjanjian lainnya   56 . Dibentuknya Ditjen KSII adalah untuk meningkatkan koordinasi intensif dalam memfasilitasi kebutuhan dan pengembangan (pendalaman. akses terhadap sumber daya industri (5M) termasuk teknologi dan kerjasama internasional. Outcome Antara adalah : mengamankan. Outcome Utama adalah : meningkatnya akses pasar. perluasan dan daya saing) industri nasional.

(4)Lembaga penelitian. (3)Industri. Kemendag. dst). dan masyarakat umum lainnya. Pemangku Kepentingan Ditjen KSII adalah : (1) Unit terkait Kementerian Perindustrian dan Instansi lainnya (Bappenas. (2)Instansi-instansi terkait di daerah. Kemenkeu. (5)Lembaga / Negara Donor (6)Kedutaan Besar Asing di Indonesia 57 . Kemensesneg. Kemlu. BUMN dan Asosiasi industri.

Workshop) •TOT Program •Scholarship •Development of internship program with donor country. Ditjen KSII dapat mengkoordinir berbagai kegiatan pemangku kepentingan di daerah yang terkait dengan sektor industri. dll) •Alih teknologi dan standardisasi (EU-IND standard information platform) •HRD (Training. CLP. etc) •Pengembangan sister city dan port •Penyusunan MoU. TA. etc. Koordinasi Ditjen KII dengan Daerah Pengembangan Infrastruktur Teknologi •Pengembangan Techno Park •Kerjasama lembaga R&D •Pengembangan kerjasama lembaga TI dalam rangka peningkatan akses pasar Promosi Investasi Kerjasama Industri Capacity Building Sinkronisasi Program Kerjasama Internasional •Pengembangan core competency daerah •Pengembangan kawasan ekonomi khusus/industrial zone •Pengembangan kerjasama SMI dengan pihak asing (vendor. •Sosialisasi ketentuan regulasi teknis negara mitra dagang (REACH. such as EU. etc 58 . South Korea. US. kerjasama produksi. MRA. DMF. Japan.

Thank You 59 .

LAMPIRAN 60 .

PETA STRATEGI. MISI. DAN STRUKTUR ORGANISASI ESELON II – DJ KSII [Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 105/M-IND/PER/10/2010] .Lampiran : VISI. KPI.

A. SEKRETARIAT DIREKTORAT JENDERAL .

2. dan mendominasi pasar global di tahun 2025 Misi : 1. Program dan Anggaran Ditjen KSII Menyusun standar operating prosedur (SOP) Menyusun analisa kebutuhan pegawai Pelayanan & Fasilitasi Melaksanakan pengumpulan dan pengolahan data serta penyajian informasi di bidang kerja sama industri internasional Melaksanakan Manajemen Kinerja Memfasilitasi kebutuhan sarana dan prasarana Membangun sistem informasi Kerja Sama Industri Internasional Melaksanakan urusan administrasi keuangan dan BMN Ditjen Mendeseminasikan penanganan kerja sama industri internasional Memfasilitasi kerjasama teknik LN Melakukan pelatihan kompetensi pegawai Memfasilitasi dan menyelenggarakan promosi kerja sama industri Memfasilitasi dan mengkoordinasikan regulasi dan Perjanjian di bidang KSII Pengawasan. data dan pelaporan Kerjasama Industri internasional. sistem kelola dan BMN yang profesional Dana Meningkatkan Sistem Tata Kelola Keuangan dan BMN yang Profesional 63 . Meningkatkan kualitas perencanaan. Perspektif Pemangku Kepentingan 1 Terwujudnya perencanaan dan pelaporan yang berkualitas Terciptanya peningkatan kompetensi SDM dan budaya kerja aparatur Kuatnya Koordinasi dan Fasilitasi Pelaksanaan Kerja Sama Industri Internasional 5 Terfasilitasinya Kerjasama teknik dan Promosi Industri di LN 2 3 Terwujudnya efektifitas dan efisiensi pengelolaan anggaran dan BMN 4 Terbangunnya sistem informasi kerjasama internasional yang terintegrasi & handal Perspektif Proses Pelaksanaan Tugas Pokok Perumusan Kebijakan Menyusun Rencana. Pengendalian & Evaluasi Melakukan Monitoring dan Evaluasi Kinerja KSII Mengoptimalkan pelaksanaan kebijakan KSII Perspektif Peningkatan Kapasitas Kelembagaan SDM Meningkatkan profesionalisme dan produktivitas pegawai Organisasi & Ketatalaksanaan •Menyempurnakan dan mengoptimalkan organisasi •Mengembangan sistem menajemen Informasi Membangun sistem informasi berbasis IT Perencanaan Dukungan anggaran. Meningkatkan pelayanan teknis dan administratif dalam pelaksanaan Kerjasama Industri internasional.PETA STRATEGI SEKRETARIAT DIREKTORAT JENDERAL KERJASAMA INDUSTRI INTERNASIONAL VISI DAN MISI Visi : Menjadi Fasilitator yang tangguh dalam membangun Industri Nasional berdaya saing global.

VISI DAN MISI SEKRETARIAT DITJEN KERJA SAMA INDUSTRI INTERNASIONAL Visi Sekretariat Ditjen Kerja Sama Industri Internasional Menjadi Fasilitator yang tangguh dalam membangun Industri Nasional berdaya saing global. data dan dalam pelaporan 64 . Kerjasama Industri internasional. Meningkatkan kualitas perencanaan. dan mendominasi pasar global di tahun 2025 Misi Sekretariat Ditjen Kerja Sama Industri Internasional 1. Meningkatkan pelayanan teknis dan administratif pelaksanaan Kerjasama Industri internasional. 2.

Melakukan koordinasi dan fasilitasi penanganan Kerjasama Industri Internasional. Menyelenggarakan administrasi Bantuan Luar Negeri secara efisien dan efektif.TUJUAN 1. Menyelenggarakan administrasi ketatausahaan Direktorat Jenderal secara efisien dan efektif. 4. 2. Menyusun perencanaan dan pelaporan yang berkualitas. 3. 65 .

2.SASARAN SASARAN UTAMA : Kuatnya Koordinasi dan Fasilitasi Pelaksanaan Kerja Sama Industri Internasional SASARAN PENDUKUNG : 1. 4. Terfasilitasinya Kerjasama teknik dan Promosi Industri di LN 66 . 3. Terwujudnya perencanaan dan pelaporan yang berkualitas Terciptanya peningkatan kompetensi SDM dan budaya kerja aparatur Terwujudnya efektifitas dan efisiensi pengelolaan anggaran dan BMN Terbangunnya sistem terintegrasi & handal informasi kerjasama internasional yang 5.

1 PK.5 Terfasilitasinya Kerjasama teknik dan Promosi Industri di LN PK.1.1.2.4.2 PK.4.6 PK.2.3 Terwujudnya efektifitas dan efisiensi pengelolaan anggaran dan BMN PK.2 Frekuensi Pengupdatean data Terbangunnya paperless management Jumlah pengajuan/proposal kerja sama Jumlah partisipasi dalam promosi industri 4 1 20 5 kl/bln Sistem Dokumen Kegiatan .2 PK.4 PK.5.3 PK.2 Terciptanya peningkatan kompetensi SDM PK.3.1 Terwujudnya perencanaan dan pelaporan yang berkualitas PK.1.1.1 PK.3 PK.4.1 dan budaya kerja aparatur PK.5.3 PK.3.1 PK.2 PK.4 Terbangunnya sistem informasi kerjasama PK.KPI SEKRETARIAT DITJEN KERJA SAMA INDUSTRI INTERNASIONAL Sasaran Strategis Eselon II Perspektif Pemangku Kepentingan PK.2.1 internasional yang terintegrasi & handal Kesesuaian Program dengan KIN Tingkat persetujuan rencana kegiatan (zero stars) Tersusunnya Renstra dan Renja Ditjen KSII Tersusunnya Renstra dan Renja SetDitjen KSII Tersusunnya program sesuai dengan jadwal Kementerian Perindustrian Tersusunnya pelaporan semesteran dan akhir tahun selesai tepat waktu Terselenggaranya pembinaan pegawai dan peningkatan keterampilan pegawai Standar kompetensi SDM aparatur Tingkat kedisiplinan Pegawai Tingkat pelaksanaan akuntansi dan verifikasi keuangan Tingkat ketertipan pencatatan BMN Tingkat efisiensi waktu pencarian informasi Kerja sama Industri Internasional 70 100 2 2 90 100 121 1 75 100 100 75 % % Dokumen Dokumen % % org Dokumen % % % % KPI Eselon II TARGET PK.1.2 PK.1.5 PK.

DAN PELAPORAN SUBBAGIAN RUMAH TANGGA DAN UMUM KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL 68 . EVALUASI. EVALUASI. DAN PENGELOLAAN BMN BAGIAN KEPEGAWAIAN DAN UMUM SUBBAGIAN KEPEGAWAIAN DAN MANAJEMEN KINERJA BAGIAN BANTUAN LUAR NEGERI SUBBAGIAN ADMINISTRASI BANTUAN TEKNIK SUBBAGIAN ADMINISTRASI BANTUAN PROYEK SUBBAGIAN PROGRAM SUBBAGIAN DATA. VERIFIKASI. DAN PELAPORAN BAGIAN KEUANGAN SUBBAGIAN PERBENDAHARAAN DAN PENGELOLAAN GAJI SUBBAGIAN AKUNTANSI.STRUKTUR ORGANISASI SEKRETARIAT DITJEN KERJA SAMA INDUSTRI INTERNASIONAL SEKRETARIAT DIREKTORAT JENDERAL BAGIAN PROGRAM.

DIT KERJA SAMA INTERNASIONAL WIL – I DAN MULTILATERAL .B.

Eropa dan Timur Tengah dan fora multilateral termasuk menangani hambatan non-tarif. TP12 Mengoptimalkan evaluasi pelaksanaan kerja sama internasional dan efektifitas pencapaiannya. Eropa dan Timur Tengah dan fora multilateral yang efektif dan meningkatkan investasi industri serta mengamankan industri dalam negeri. Meningkatkan kompetensi SDM dan budaya kerja aparatur ORTALA KK2. Menyelenggarakan Kerja Sama Industri Internasional di wilayah Amerika. TP10 Memberikan pelayanan penyelesaian permasalahan industri. Meningkatkan sistem tata kelola keuangan yang 70 profesional . Eropa dan Timur Tengah ke dalam negeri PK 2 Terbantunya kepentingan industri Nasional untuk mengakses sumber daya industri (5M) secara efisien melalui kerja sama internasional PK3 Terlindunginya kepentingan industri dan jasa industri dari pengaruh globalisasi (Multilateral. TP7 Menyelesaikan permasalahan terkait hambatan tarif dan non-tarif melalui negosiasi bilateral maupun multilateral. dan menyelamatkan sektor industri dari dampak negatif Perjanjian Perdagangan Bebas (FTA). 2. Mengamankan. Membangun organisasi yang Profesional dan Probisnis Informasi KK3. Pengawasan. mempertahankan. akses terhadap sumber investasi dan teknologi kerja sama internasional di wilayah Amerika. dan Timur Tengah serta Fora Multilateral. TP2 Menyusun rencana fasilitasi industri sesuai kesepakatan fora internasional. dan regulasi teknis terkait akses industri. Memfasilitasi industri nasional dalam meningkatkan akses industri di wilayah Amerika. TP8 Memfasilitasi dan menyelenggarakan promosi kerja sama industri. Eropa dan Timur Tengah serta mengambil manfaat sebesarbesarnya dari fora Multilateral untuk kepentingan nasional pada tahun 2025” PETA STRATEGI DIREKTORAT KSII WILAYAH I DAN MULTILATERAL Misi : 1. Eropa. 3. TP3 Menciptakan peluang kerja sama industri secara bilateral dan multilateral. Pelayanan & Fasilitasi TP5 Memfasilitasi kerja sama teknik luar negeri TP6 Memfasilitasi pertukaran informasi. kebijakan. Eropa dan Timur Tengah serta Fora Multilateral PK1 PK 4 Meningkatnya minat investasi industri dari negara-negara di wilayah Amerika. Perspektif Pemangku Kepentingan Meningkatnya akses pasar. Perspektif Peningkatan Kapasitas Kelembagaan SDM KK1.Visi : “Menjadikan industri nasional berdaya saing tinggi dan berpengaruh kuat di wilayah Amerika. TP4 Mewujudkan dan menyelenggarakan kerja sama industri secara bilateral dan multilateral. Pengendalian & Evaluasi TP11 Mengefektifkan sistem pengendalian internal. Meningkatkan kualitas perencanaan dan pelaporan Dana KK5. Bilateral) Perspektif Proses Pelaksanaan Tugas Pokok Perumusan Kebijakan TP1 Menyusun kebijakan kerja sama industri di wilayah Amerika. Membangun sistem infor-masi kerja sama internasional yang terintegrasi & handal Perencanaan KK4. TP9 Mengkoordinasikan dan berperan aktif pada fora internasional.

2. Memfasilitasi industri nasional dalam meningkatkan akses terhadap sumber daya industri (5M) dan hambatan kerja sama industri di wilayah Amerika. Eropa dan Timur Tengah serta mengambil manfaat sebesar-besarnya dari fora Multilateral untuk kepentingan nasional pada tahun 2025. Eropa dan Timur Tengah serta fora multilateral. mempertahankan.VISI DAN MISI DIT WILAYAH I & FORA MULTILATERAL Visi Dit Wilayah I & Fora Multilateral Menjadikan industri nasional berdaya saing tinggi dan mendominasi pasar di wilayah Amerika. Eropa dan Timur Tengah atau perjanjian-perjanjian lainnya. Mengamankan. Misi Dit Wilayah I & Fora Multilateral 1. dan menyelamatkan sektor industri dari dampak negatif Perjanjian Perdagangan Bebas (FTA) antar negara di wilayah amerika. 71 .

4. dan Timur Tengah melalui peningkatan akses terhadap sumber daya yang meliputi:  Bahan baku penolong yang berkualitas. murah dan mudah diperoleh. Membina kerja sama industri dengan negara-negara di wilayah Amerika. Melakukan pengamanan terhadap industri yang berdaya saing lemah dari ancaman produk impor akibat pemberlakuan FTA dengan negara-negara di wilayah Amerika. 5.  Teknologi yang tepat guna. Melakukan kajian dan evaluasi pemanfaatan kerja sama industri dan implementasi FTA bagi pengembangan industri nasional. 2. Eropa dan Timur Tengah atau lembaga-lembaga donor internasional maupun dengan sesama negara berkembang dalam kerangka kerja sama Selatan-Selatan. Eropa.  Promosi Pemasaran. 72 . Memfasilitasi kepentingan industri nasional dalam perundingan FTA baik secara bilateral maupun multilateral. Eropa.  Sumber pendanaan. 3. Meningkatkan ketahanan industri dalam negeri terhadap persaingan di wilayah Amerika. dan Timur Tengah.TUJUAN 1.  Tenaga profesional di bidangnya.

73 . Terbantunya kepentingan industri Nasional untuk mengakses sumber daya industri (5M) secara efisien melalui kerja sama internasional. Bilateral). Eropa dan Timur Tengah ke dalam negeri.SASARAN 1. Meningkatnya minat investasi industri dari negara-negara di wilayah Amerika. 3. Terlindunginya kepentingan industri dan jasa industri dari pengaruh globalisasi (Multilateral. 2.

3. Meningkatnya minat investasi industri dari luar negeri ke dalam negeri Meningkatkan kerja sama teknik dan koordinasi untuk mendapatkan sumber daya industri yang tepat. Machine. Jumlah permintaan kesepakatan investasi asing pada jenis industri tertentu PK4. Money.2. Jumlah jejaring kerja internasional SATUAN IKU Kesepakatan investasi industri Kesepakatan Promosi Jejaring Kerja Kerja sama teknik TARGET 2014 4 4 12 24 8 48 PK2. Jumlah kesepakatan investasi industri PK1. serta kerja sama teknik dalam rangka perluasan pasar produk dan jasa industri INDIKATOR KINERJA UTAMA (IKU) PK1. Terlindunginya kepentingan industri dan jasa industri dari pengaruh globalisasi (Multilateral. Eropa dan Timur Tengah serta Fora Multilateral URAIAN Membuka dan memperluas akses pasar industri ke luar negeri. Jumlah kerja sama industri internasional PK1. Bilateral) PK4.1.1. Jumlah kerja sama teknik PK2.KPI DIT WILAYAH I & FORA MULTILATERAL SASARAN STRATEGIS PK1.1. Jumlah promosi investasi industri Kebijakan 4 Permintaan Kesepakatan Investasi Promosi 24 12 .2. akses terhadap sumber investasi dan teknologi kerja sama internasional di wilayah Amerika. Jumlah kebijakan perlindungan industri dalam kerja sama industri internasional PK4. Meningkatnya akses pasar. Material.1. Jumlah promosi produk dan jasa industri PK1. Terbantunya kepentingan industri Nasional untuk mengakses sumber daya industri (5M) secara efisien melalui kerja sama internasional PK3. Jumlah fasilitasi yang Fasilitasi diberikan kepada negara yang bekerja sama PK3. peningkatan minat investasi dan transfer teknologi dari luar ke dalam negeri.2.4. Method) Melakukan langkah-langkah perlindungan untuk kepentingan sektor industri (produk dan jasa industri)dari persaingan global Meningkatkan promosi investasi produk dan jasa industri di dalam dan luar negeri dalam rengka meningkatkan minat investor asing PK2. mudah dan murah (5M: Man.

STRUKTUR ORGANISASI DIT WILAYAH I & MULTILATERAL DIREKTORAT KERJASAMA INDUSTRI INTERNASIONAL WILAYAH I DAN MULTILATERAL SUBBAGIAN TATA USAHA DAN MANAJEMEN KINERJA SUBDIREKTORAT AKSES INDUSTRI SEKSI AKSES INDUSTRI WILAYAH AMERIKA SEKSI AKSES INDUSTRI WILAYAH EROPA DAN TIMUR TENGAH SUBDIREKTORAT KERJA SAMA TEKNIK DAN PROMOSI INDUSTRI SEKSI KERJA SAMA TEKNIK DAN PROMOSI INDUSTRI WILAYAH AMERIKA SEKSI KERJA SAMA TEKNIK DAN PROMOSI INDUSTRI WILAYAH INDUSTRI EROPA DAN TIMUR TENGAH SUBDIREKTORAT MULTILATERAL SEKSI WTO DAN ORGANISASI KOMODITAS SEKSI FORA MULTILATERAL LAINNYA KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL 75 .

DIT KERJA SAMA INTERNASIONAL WIL – II DAN REGIONAL .C.

Asia Barat. Mengamankan dan mempertahankan sektor industri dari dampak negatif perjanjian bebas FTA antar negara atau perjanjan – perjanjian lainnya di area Asia Timur. Asia Selatan. dan fora regional di tahun 2025 Misi : 1. dan fora regional 2. Asia Selatan.9 Memberikan pelayanan penyelesaian permasalahaan industri TP.1 Meningkatkan kompetensi SDM dan budaya kerja aparatur Organisasi & Ketatalaksanaan KK. Afrika. Afrika. dan fora regional. Asia Selatan. Pasifik. regulasi teknis terkait akses industri TP.3 Terlindunginya kepentingan industri dan Jasa industri dari pengaruh globalisasi PK.2 Membangun organisasi yang profesional dan probisnis Informasi KK.11 Mengefektifkan sistem pengendalian internal TP. Afrika. Australia. Asia Selatan. Asia Barat. Asia Barat. Asia Barat.1 Meningkatnya Akses Pasar.2 Terbantunya kepentingan industri Nasional untuk mengakses sumber daya industri secara efisien (5M) 2 PK.5 Memfasilitasi pertukaran informasi kebijakan. dan Fora Regional TP. Australia.8 Mengkoordinasikan dan berperan aktif secara bilateral dan fora regional TP. Akses terhadap sumber investasi dan Teknologi serta Kerjasama di area Asia Timur.4 Mewujudkan dan menyelenggarakan kerjasama industri secara bilateral dan regional Pelayanan & Fasilitasi TP. Pasifik.PETA STRATEGI DIREKTORAT KERJASAMA INDUSTRI INTERNASIONAL WIL. Afrika. II & REGIONAL VISI DAN MISI Visi : Membangun Industri Nasional berdaya saing global dan mendominasi pasar global di area Asia Timur. dan Fora Regional 1 PK. Australia. Asia Selatan.3 Membangun sistem informasi kerjasama internasional yang terintegrasi & handal Perencanaan KK.6 Menyelesaikan hambatan tarif dan non-tarif melalui negosiasi bilateral dan fora regional TP.3 Menciptakan peluang kerjasama industri secara bilateral dan regional TP. Afrika.10 Memfasilitasi kerjasama teknik LN dan promosi industri (produk dan investasi) Pengawasan. Pengendalian & Evaluasi TP. Australia.4 Meningkatkan kualitas perencanaan dan pelaporan Dana KK.2 Menyusun rencana fasilitasi industri sesuai kesepakatan bilateral dan fora regional TP.1 Menyusun Kebijakan Kerjasama Industri di area Asia Timur.7 Memfasilitasi dan menyelenggarakan promosi kerjasama industri TP.4 Meningkatnya minat 3 investasi industri dari luar negeri ke Dalam Negeri Perspektif Proses Pelaksanaan Tugas Pokok Perumusan Kebijakan TP. Memfasilitasi industri nasional dalam meningkatkan akses terhadap sumber daya industri (5M) dan hambatan kerjasama industri di area Asia Timur.12 Mengoptimalkan evaluasi pelaksanaan kerjasama internasional dan efektifitas pencapaiannya Perspektif Peningkatan Kapasitas Kelembagaan SDM KK. Pasifik. Pasifik. Pasifik. Asia Barat. Perspektif Pemangku Kepentingan PK. Australia.5 Meningkatkan sistem tata kelola keuangan yang profesional 77 .

Pasifik. Mengamankan dan mempertahankan sektor industri dari dampak negatif perjanjian bebas FTA antar negara atau perjanjan – perjanjian lainnya di area Asia Timur. Asia Barat. dan fora regional di tahun 2025. Asia Barat. Misi Dit Wilayah II & Fora Regional 1. Asia Selatan.VISI DAN MISI DIT WILAYAH II & FORA REGIONAL Visi Dit Wilayah II & Fora Regional Membangun Industri Nasional berdaya saing global dan mendominasi pasar global di area Asia Timur. 78 . Pasifik. Pasifik. Afrika. dan fora regional 2. Australia. Asia Selatan. Memfasilitasi industri nasional dalam meningkatkan akses terhadap sumber daya industri (5M) dan hambatan kerjasama industri di area Asia Timur. dan fora regional. Australia. Afrika. Australia. Asia Barat. Asia Selatan. Afrika.

3. 5. Membina kerjasama industri dengan negara maju / lembaga donor internasional maupun dengan sesama negara berkembang dalam rangka Kerjasama Selatan-Selatan. 2. tenaga professional dibidangnya c. teknologi yang tepat guna d. Melakukan kajian dan evaluasi kemanfaatan kerjasama industri dan implementasi FTA bagi pengembangan industri nasional. Melakukan pengamanan terhadap industri yang berdaya saing lemah dari ancaman produk impor akibat pemberlakuan FTA. sumber pendanaan e. 79 .TUJUAN 1. bahan baku/penolong yang berkualitas. promosi pemasaran Memfasilitasi kepentingan industri nasional dalam perundingan FTA baik secara bilateral dan regional. murah dan mudah diperoleh b. Meningkatkan ketahanan industri dalam negeri terhadap persaingan global melalui peningkatan akses terhadap sumber daya yang meliputi : a. 4.

80 .SASARAN Terbantunya kepentingan industri Nasional untuk mengakses sumber daya industri secara efisien (5M) 2. Meningkatnya minat investasi industri dari luar negeri ke Dalam Negeri 1. Terlindunginya kepentingan industri dan Jasa industri dari pengaruh globalisasi 3.

KPI DIT WILAYAH II & REGIONAL SASARAN STRATEGIS ESELON II PK. Australia dan ASEAN.3 Terlindunginya kepentingan industri dan Jasa industri dari pengaruh globalisasi 24 12 Laporan 4 Kebijakan PK.1. Turki.d.3.1 Jumlah kesepakatan investasi industri ke luar negeri. Pasifik. Australia) PK. Turki.4 Meningkatnya minat investasi industri Meningkatkan promosi investasi produk dan PK. India. Australia.2. Akses terhadap sumber investasi dan Teknologi serta Kerjasama di area Asia Timur. investasi langsung asing pada jenis industri tertentu 12 40 Promosi Permintaan Kesepakatan Investasi . Australia) dan regional (ASEAN.1. Turki.2 Jumlah partisipasi dalam India. metode kerja.3. APEC) yang sedang dan akan melaksanakan FTA dan PK. Asia Selatan. 2 fasilitasi) Perundingan PK.1 Jumlah pelaksanaan promosi investasi jasa industri di dalam dan luar negeri dalam dari luar negeri ke dalam negeri PK. dan Fora Regional URAIAN KPI ESELON II Membuka dan memperluas akses pasar PK. PK.1. produk PK. Iran. India. China.3 Jumlah pelaksanaan promosi ASEAN Mitra.2 Jumlah negara yang difasilitasi partisipasi dalam forum bilateral dan regional ((Jepang.2014) 4 Kesepakatan Investasi Industri 4 Kesepakatan 12 Promosi 40 Jejaring Kerja 8 Kerja Sama Teknik (2 Kerjasama teknik/tahun) Jumlah Fasilitasi (6 negara min. dana) yang dibutuhkan melalui PK.1 Jumlah partisipasi dalam Melakukan langkah-langkah perlindungan negosiasi fora bilateral untuk kepentingan sektor industri (produk dan jasa industri) yang menyangkut fora bilateral (Jepang.2.3. Pakistan. serta kerjasama teknik PK.2 Jumlah kerjasama industri dalam rangka perluasan pasar produk dan internasional jasa industri nasional (Jepang.4 Jumlah jejaring kerja internasional TARGET (s.1 Jumlah kerja sama teknik Meningkatkan kerja sama teknik dan fasilitasi akses industri nasional terhadap sumber daya industri (SDM. China. PK. peningkatan minat industri investasi dan transfer teknologi dari luar ke dalam negeri.2 Terbantunya kepentingan industri Nasional untuk mengakses sumber daya industri secara efisien (5M) PK.4.3 Jumlah kebijakan perlindungan kesepakatan lainnya.4.2 Jumlah permintaan kesepakatan rangka meningkatkan minat investor asing. Iran. bahan baku. industri dalam kerjasama industri internasional 48 PK.1 Meningkatnya Akses Pasar. Iran.1. Asia Barat. APEC). Afrika.Mitra Dialog. mesin/peralatan. negosiasi fora regional ASEAN .

PASIFIK.STRUKTUR ORGANISASI DIT WILAYAH II & REGIONAL DIREKTORAT KERJASAMA INDUSTRI INTERNASIONAL WILAYAH II DAN REGIONAL SUBBAGIAN TATA USAHA DAN MANAJEMEN KINERJA SUBDIREKTORAT AKSES INDUSTRI SEKSI AKSES INDUSTRI WILAYAH ASIA TIMUR. ASIA SELATAN. ASIA SELATAN. PASIFIK. DAN AUSTRALIA SEKSI KERJA SAMA TEKNIK DAN PROMOSI INDUSTRI WILAYAH ASIA BARAT. DAN AUSTRALIA SEKSI AKSES INDUSTRI WILAYAH ASIA BARAT. DAN AFRIKA SUBDIREKTORAT REGIONAL SEKSI APEC DAN REGIONAL LAINNYA SEKSI ASEAN DAN MITRA DIALOG KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL 82 . DAN AFRIKA SUBDIREKTORAT KERJA SAMA TEKNIK DAN PROMOSI INDUSTRI SEKSI KERJA SAMA TEKNIK DAN PROMOSI INDUSTRI WILAYAH ASIA TIMUR.

DIREKTORAT KETAHANAN INDUSTRI .D.

• Membangun kerjasama untuk berbagi informasi tentang perlindungan industri nasional terhadap ancaman persaingan global. Perumusan Kebijakan 6 Fasilitasi dan Partisipasi Aktif Identifikasi peta hambatan kerjasama industri internasional 11 Monitoring dan Evaluasi Monitoring dan evaluasi pelaksanaan program ketahanan industri STRATEGIC DRIVER Proses Pelaksanaan Tugas Pokok 4 Menyusun arah kebijakan serta NSPK di bidang penanganan hambatan kerja sama industri internasional dan pengamanan industri 5 7 Menyusun posisi dan strategi dalam penanganan hambatan dan pengamanan industri melalui partisipasi aktif di fora internasional Rekomendasi strategi penanganan hambatan wilayah I dan Multilateral Rekomendasi strategi penanganan hambatan wilayah II dan Regional Pengembangan Database Kinerja Industri 8 Menyusun peta panduan dalam penanganan hambatan kerjasama industri internasional dan pengamanan industri 9 10 Capacity Building 12 SDM Meningkatkan kompetensi SDM 13 Dana Meningkatkan Sistem Tata Kelola Keuangan dan BMN yang Akuntabel 14 Sistem Informasi Membangun sistem informasi ketahanan Industri yang terintegrasi dan handal 15 Sarana & Prasarana Perencanaan. STRATEGIC OUTCOME Memenuhi harapan stake holders Meningkatnya Ketahanan Industri Nasional terhadap pengaruh globalisasi 1 Terwujudnya Peta Panduan penanganan hambatan kerjasama industri internasional dan pengamanan industri 3 2 Berkurangnya hambatan dalam bidang kerjasama industri internasional Tersedianya SDM yang memiliki pengetahuan teknis dlm penanganan hambatan Kerjasama Industri Internasional dan Pengamanan Industri Dalam Negeri. serta pemulihan yang cepat dari akibat negatif persaingan global. • Mengimplementasikan program manajemen resiko jangka panjang terkait dengan ketahanan industri • Meningkatkan profesionalisme SDM aparatur dan mengembangkan sistim administrasi guna mendukung terwujudnya good governance • Memperkuat kesiapan industri nasional dalam merencanakan respon yang tepat waktu. Pengadaan. Pemeliharaan. Pemanfaatan sarana dan prasarana rumah tangga 84 .PETA STRATEGI DIREKTORAT KETAHANAN INDUSTRI STRATEGIC OBJECTIVE Visi : “Menjadi perumus kebijakan pengamanan lingkungan industri terbaik dan sumber acuan dalam menjadikan industri nasional pada tahun 2015 lebih aman dan tahan terhadap pengaruh negatif persaingan global serta lebih mampu tumbuh dalam persaingan yang ketat” • Mengidentifikasi dan memprioritaskan pengamanan terhadap critical infrastructure dan key resources dalam pengembangan industri yang tahan terhadap ancaman persaingan global.

Menyiapkan penyusunan norma. standar. 2. Meningkatkan profesionalisme SDM aparatur dan mengembangkan administrasi guna mendukung terwujudnya good governance serta Meningkatkan informasi tentang hambatan bagi produk industri yang mengakses pasar di luar negeri. Menyiapkan langkah penanganan hambatan kerja sama industri internasional dan pengamanan industri dan menyiapkan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang penanganan hambatan kerja sama industri internasional dan pengamanan industri. dan kriteria di bidang penanganan hambatan kerja sama industri internasional dan pengamanan industri serta Meningkatkan pengetahuan Dunia Usaha di bidang penanganan hambatan kerja sama industri internasional dan pengamanan industri. prosedur. 85 .VISI DAN MISI DIT KETAHANAN INDUSTRI Visi Dit Ketahanan Industri Menjadi perumus kebijakan pengamanan lingkungan industri terbaik dan sumber acuan dalam menjadikan industri nasional pada tahun 2015 lebih aman dan tahan terhadap pengaruh negatif persaingan global serta lebih mampu tumbuh dalam persaingan yang ketat Misi Dit Ketahanan Industri 1. 3.

Meningkatkan profesionalisme SDM aparatur dan mengembangkan sistim administrasi guna mendukung terwujudnya good governance 5. 2. Memperkuat kesiapan industri nasional dalam merencanakan respon yang tepat waktu. 86 . serta pemulihan yang cepat dari akibat negatif persaingan global. Mengimplementasikan program manajemen resiko jangka panjang terkait dengan ketahanan industri 4. Membangun kerjasama untuk berbagi informasi tentang perlindungan industri nasional terhadap ancaman persaingan global. 3. Mengidentifikasi dan memprioritaskan pengamanan terhadap critical infrastructure dan key resources dalam pengembangan industri yang tahan terhadap ancaman persaingan global.TUJUAN 1.

Tersedianya langkah-langkah (pendekatan) penanganan hambatan kerja sama industri internasional dan pengamanan industri secara sistematis 2. Terwujudnya penanganan hambatan kerja sama industri internasional secara efektif dan efisien 3.SASARAN 1. Meningkatnya pemahaman dunia usaha terhadap penanganan hambatan kerja sama industri internasional dan pengamanan industri 5. Terwujudnya SDM aparatur yang handal 87 . Terwujudnya pengamanan industri secara efektif dan efisien 4.

Jumlah kasus yang tertangani 2. Negara 1) 40 (empat puluh ) 2) 200 (dua ratus) 2. Jumlah kebijakan 1.KPI DIT KETAHANAN INDUSTRI Kod e Outcome Meningkatnya Ketahanan Industri Nasional Uraian Melakukan upaya secara berkesinambungan agar Industri Nasional mampu menangkal pengaruh negatif dari perubahan global yang kompleks dan tidak dapat diperkirakan yang dapat mengganggu kelangsungan industri Menyiapkan kajian dalam upaya mengantisipasi dan menyesuaikan terhadap kecendrungan perubahan lingkungan usaha global. Menggali informasi dari sumber primer di negara mitra 1. KPI Penanganan kasus terkait ketahanan industri Satuan KPI Kasus Target (2014) 12 Kasus C1 Terwujudnya pengamanan industri nasional dari dampak negatif persaingan global 1.Rekomendasi 2. 12 (dua belas) 2. NSPK 1.Kasus yang tertangani 2. 24 (dua puluh empat) 4 (empat) C2 Tertanganinya hambatan akses pasar internasional Melakukan pendampingan dalam menangani hambatan akses pasar internasional 1. Jumlah industri/ Asosiasi . 2. Jumlah NSPK 1. Kebijakan 1. 4 (empat) C3 Terwujudnya jejaring kerja global yang kuat. Diseminasi informasi penanganan hambatan dan pengamanan Industri Nasional 1.Jumlah Rekomendasi 2. Sumber informasi 2.

STRUKTUR ORGANISASI DIT KETAHANAN INDUSTRI DIREKTORAT KETAHANAN INDUSTRI SUBBAGIAN TATA USAHA DAN MANAJEMEN KINERJA SUBDIREKTORAT PENANGANAN HAMBATAN KERJA SAMA INDUSTRI INTERNASIONAL SUBDIREKTORAT PENGAMANAN INDUSTRI I SEKSI PENGAMANAN BASIS INDUSTRI MANUFAKTUR SEKSI PENGAMANAN INDUSTRI UNGGULAN BERBASIS TEKNOLOGI TINGGI SUBDIREKTORAT PENGAMANAN INDUSTRI II SEKSI PENGAMANAN INDUSTRI AGRO SEKSI PENGAMANAN INDUSTRI KECIL DAN MENENGAH SEKSI HAMBATAN WILAYAH I SEKSI HAMBATAN WILAYAH II KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL 89 .