Anda di halaman 1dari 55

MATEMATIKA DISKRIT

Matriks adalah susunan skalar elemen-elemen


dalam bentuk baris dan kolom.

Matriks Diagonal
adalah matriks bujursangkar dengan a
ij
= 0
untuk i = j.
Matriks Identitas
adalah matriks diagonal dengan semua
elemen diagonal = 1
Matriks Segitiga Atas / Bawah
adalah matriks dimana elemen-elemen di
atas/di bawah diagonal bernilai 0, yaitu
a
ij
= 0 jika i < j (i >j)
Matriks Transpose
adalah matriks yang diperoleh dengan
mempertukarkan baris dan kolom.
Matriks Setangkup (Symmetry)
Sebuah matriks dikatakan setangkup atau
simetri jika A
T
= A. Dengan kata lain, elemen di
bawah diagonal adalah hasil pencerminan dari
elemen di atas diagonal terhadap sumbu
diagonal matriks.
Matriks 0/1 (zero-one)
adalah matriks yang setiap elemennya hanya
bernilai 0 atau 1.
Penjumlahan / Pengurangan Dua Buah Matriks. Dua
buah matriks dapat dijumlahkan / dikurangkan jika
ukuran keduanya sama.
Perkalian Dua Buah Matriks
Dua buah matriks dapat dikalikan jika jumlah kolom
matriks pertama sama dengan jumlah baris matriks
kedua.
Sifat-sifat operasi perkalian matriks:
1. Tidak Komutatif (AB = BA)
2. Hukum Asosiatif: (AB)C = A(BC)
3. Hukum Distributif : A(B+C) = AB + AC
4. AI = IA = A
5. A
0
= I; A
k
= AAA.A (banyaknya A = k)
6. A adalah matriks ortogonal jika AA
T
= A
T
A = I
Perkalian matriks dengan skalar
Hubungan (relationship) antara elemen
dengan elemen himpunan lainnya sering
dijumpai. Misalnya hubungan antara
mahasiswa dengan mata kuliah yang diambil,
hubungan antara orang dengan kerabatnya,
hubungan antara bilangan genap dengan
bilangan yang habis dibagi 2 dsb.
Di dalam ilmu komputer, contoh hubungan
antara program komputer dengan peubah
yang digunakan, hubungan antara bahasa
pemrograman dengan pernyataan yang sah
dll.
Relasi biner R antara A dan B adalah
himpunan bagian dari A x B.
Misalkan A={Amir, Budi, Cecep} adalah
himpunan nama mahasiswa, dan B={IF221,
IF251, IF342, IF323} adalah himpunan kode
mk di jurusan teknik informatika. Perkalian
kartesian antara A dan B menghasilkan
himpunan pasangan terurut yg jumlah
anggotanya adalah IAI.IBI=3.4=12 buah yaitu :
AxB ={(Amir,IF221),(Amir,IF251),(Amir,IF342),
(Amir,IF323),(Budi,IF221),(Budi,IF251),(Budi,
IF342),(Budi,IF323),(Cecep,IF221),
(Cecep,IF251),(Cecep,IF342),(Cecep,IF323)}
Contoh 1 :
Misalkan R adalah relasi yang menyatakan
mata kuliah yg diambil oleh mahasiswa pada
semester ganjil yaitu :
R = {(Amir,IF251),(Amir,IF323),(Budi,IF221)
(Budi,IF251),(Cecep,IF323)}
Kita dapat melihat bahwa R_(AxB), A adalah
daerah asal R dan B adalah daerah hasil R.
Pasangan terurut pada relasi dari himpunan A
ke himpunan B dapat digambarkan dengan
diagram panah, seperti yang tampak pada
gambar di bawah ini.

Relasi biner R antara A dan B adalah
himpunan bagian dari A x B.

Amir
Budi
Cecep
- IF221
- IF251
- IF342
- IF323
Daerah Hasil
(Codomain)
Daerah Asal
(Domain)
Contoh 2 :
Misalkan P={2,3,4} dan Q={2,4,8,9,15). Jika
kita definisikan relasi R dari P ke Q dengan
(p,q) e R jika p habis membagi q
Maka diperoleh :
R= {(2,2),(2,4),(2,8),(3,9),(3,15),(4,4),(4,8)}


2

3

4

2

4

8

9

15
Selain dinyatakan sebagai himpunan pasangan
terurut, ada banyak cara lain untuk
merepresentasikan atau menyajikan relasi.
Representasi Relasi dapat dinyatakan dengan:
1. Tabel
2. Matriks
3. Graf Berarah
Relasi biner dapat direpresentasikan sebagai
tabel dimana kolom pertama tabel
menyatakan daeral asal sedangkan kolom
kedua menyatakan daerah hasil. Relasi R
pada contoh 1 dan 2 dapat dinyatakan dalam
tabel.
A B
Amir
Amir
Budi
Budi
Cecep
IF251
IF323
IF221
IF251
IF323
P Q
2
2
4
2
4
3
3
2
4
4
8
8
9
15
Misalkan R adalah relasi dari A = {a
1
, a
2
, ,
a
m
} dan B = {b
1
, b
2
,,b
n
} maka R dapat
disajikan dengan matriks M=[m
ij
]




Yang dalam hal ini
A
B
Dengan kata lain, elemen matriks pada posisi
(i,j) bernilai 1 jika a
i
dihubungkan dengan b
j

dan bernilai 0 jika a
i
tidak dihubungkan
dengan b
j
.
Relasi R pada contoh 1, dapat dinyatakan
dengan matriks :
0 1 0 1
1 1 0 0
0 0 0 1
Yang dalam hal ini a
1
=Amir,a
2
=Budi,a
3
=Cecep,
dan b
1
=IF221, b
2
=IF251, b
3
=IF342 &b
4
=IF323.

Tiap elemen himpunan dinyatakan dengan
sebuah titik (dan disebut juga simpul) dan
tiap pasangan terurut dinyatakan dengan
busur yang arahnya ditunjukkan dengan
sebuah panah.
Dengan kata lain, jika (a,b)eR, maka sebuah
busur dibuat dari simpul a ke simpul b.
Simpul a disebut simpul asal dan simpul b
disebut simpul tujuan.
Pasangan terurut (a,a) dinyatakan dengan
busur dari simpul a ke simpul a sendiri. Busur
semacam itu disebut gelang (loop).
Contoh 3: misalkan R = {(a,a), (a,b), (b,a),
(b,c), (b,d), (c,a), (c,d), (d,b)} adalah relasi
pada himpunan {a,b,c,d}. R
direpresentasikan dengan graf berarah
seperti yang tampak pada gambar.
a
b
c d
Jika R adalah relasi dari himpunan A ke
himpunan B maka inversi dari R dilambangkan
dengan R
-1
.
R
-1
= {(b,a)|(a,b) e R}
Contoh 4:
Misalkan P={2,3,4} dan Q={2,4,8,9,15}, jika
didefiniskan relasi R dari P ke Q dengan
(p,q) e R jika p habis dibagi q
Maka:
R ={(2,2),(2,4),(4,4),(2,8),(4,8),(3,9),(3,15)}
R
-1
adalah invers dari relasi R, yaitu relasi dari Q
ke P dengan
(q,p) e R
-1
jika q adalah kelipatan dari p
Sehingga diperoleh
R
-1
= {(2,2),(4,2),(4,4),
(8,2),(8,4),(9,3),(15,3)}
Jika M adalah matriks
yang merepresentasikan
relasi R, maka matriks
yang merepresentasikan
relasi R
-1
, misalkan N
diperoleh dengan
melakukan transpose
terhadap matriks M

M=
1 1 1 0 0
0 0 0 1 1
0 1 1 0 0



N=

=
1 0 0
1 0 1
1 0 1
0 1 0
0 1 0


Jika relasi R
1
dan R
2
masing-masing
dinyatakan dengan matriks M
R1
dan M
R2
,
maka matriks yang menyatakan gabungan
dan irisan dari kedua relasi tersebut adalah
M
R1R2
= M
R1
v M
R2
M
R1R2
= M
R1
. M
R2
Contoh 5:
Misalkan relasi R1 dan R2 pada himpunan A
dinyatakan oleh matriks


maka matriks yang menyatakan R
1
R
2
dan
R
1
R
2
adalah




Cara lain mengkombinasikan relasi adalah
dengan mengkomposisikan dua buah relasi
atau lebih.
Misalkan R adalah relasi dari himpunan A ke
himpunan B, dan S adalah relasi dari
himpunan B ke himpunan C maka komposisi R
dan S dinotasikan dengan SoR adalah relasi
dari A ke C yang didefinisikan oleh
SoR = {(a,c)|aeA,ceC, dan untuk beberapa
beB,(a,b)eR dan (b,c)eS}


Contoh 6 :
Misalkan
R={(1,2),(1,6),(2,4),(3,4),(3,6),(3,8)}
adalah relasi dari himpunan {1,2,3} ke
himpunan {2,4,6,8} dan
S ={(2,u),(4,s),(4,t), (6,t), (8,u)} adalah
relasi dari himpunan {2,4,6,8} ke himpunan
{s,t,u}. Maka komposisi relasi R dan S adalah

SoR = {(1,u),(1,t),(2,s),(2,t),(3,s),(3,t),(3,u)}

Komposisi relasi R dan S lebih jelas jika
diperagakan dengan diagram panah seperti
yang tampak pada gambar.
Relasi pada sebuah himpunan adalah kasus
yang paling sering dijumpai. Relasi ini
mempunyai beberapa sifat yaitu :
Refleksif (Reflexive)
Simetris, asimetris dan antisimetris
Menghantar (transitive)
Relasi R pada himpunan A disebut refleksif
jika (a,a)eR untuk setiap aeA
Relasi yang bersifat refleksif mempunyai
matriks yang elemen diagonal utamanya
semua bernilai 1, atau m
ij
=1, untuk i=1,2,,n
sedangkan graf berarah dari relasi yang
bersifat refleksif dicirikan dengan adanya
gelang pada setiap simpulnya.
Contoh 7
Misalkan A ={1,2,3,4} dan relasi R di bawah ini
didefinisikan pada himpunan A, maka
(a) Relasi R={(1,1),(1,3),(2,1),(2,2),(3,3),(4,2),
(4,3),(4,4)} bersifat refleksif karena terdapat
elemen relasi yang berbentuk (a,a), yaitu
(1,1), (2,2), (3,3) dan (4,4).
(b) Relasi R ={(1,1),(2,2), (2,3),(4,2),(4,3),(4,4)}
tidak bersifat refleksif karena (3,3) e R
Contoh 8
Relasi habis membagi pada himpunan bilangan
bulat positif bersifat refleksif karena setiap bilangan
bulat posistif selalu habis membagi dirinya sendiri,
sehingga (a,a) e R untuk setiap aeA
Relasi R pada himpunan A disebut simetris
jika (a,b)eR, maka (b,a)eR, untuk semua
a,beA.
Relasi R pada himpunan A disebut asimetris
jika (a,b)eR dan (b,a) eR
Relasi R pada himpunan A disebut anti
asimetris jika (a,b)eR dan (b,a)eR maka
a=b, untuk semua a,b e A.




Contoh 9:
Misalkan A = {1,2,3,4}, dan relasi R di bawah
ini didefinisikan pada himpunan A, maka
(a) Relasi
R={(1,1),(1,2),(2,1),(2,2),(2,4),(4,2),(4,4)}
bersifat simetris
(b) Relasi R = {(1,1),(2,3),(2,4),(4,2)} bersifat
asimetris karena (2,3)eR, tetapi (3,2)eR
(c) Relasi R = {(1,1),(2,2),(3,3)} bersifat anti
asimetris karena (1,1)eR dan 1=1, (2,2)eR
dan 2=2, (3,3) eR dan 3=3.
Perhatikan bahwa R juga simetris



Relasi R pada himpunan A disebut menghantar jika
(a,b)eR, dan (b,c)eR, maka (a,c)eR untuk semua
a,b,ceA.
Contoh 10 :
a) Misalkan A={1,2,3,4}, dan relasi R di bawah ini
didefinisikan pada himpunan A, maka
R={(2,1),(3,1),(3,2),(4,1),(4,2),(4,3)}
bersifat menghantar
(a,b) (b,c) (a,c)
(3,2)
(4,2)
(4,3)
(4,3)
(2,1)
(2,1)
(3,1)
(3,2)
(3,1)
(4,1)
(4,1)
(4,2)
a) R={(1,1),(2,3),(2,4),(4,2)} tidak menghantar
karena (2,4) dan (4,2) eR, tetapi (2,2) eR,
begitu juga (4,2) dan (2,3) eR tetapi (4,3)
eR.
b) Relasi R={(1,2),(3,4)} menghantar karena
tidak ada (a,b) e R dan (b,c) e R
sedemikian sehingga (a,c) e R.

Ditinjau dari representasi relasi, relasi yang
bersifat menghantar tidak mempunyai ciri
khusus pada matriks representasinya, tetapi
sifat menghantar pada graf berarah
ditunjukkan oleh :jika ada busur dari a ke b
dan dari b ke c, maka juga terdapat busur
berarah dari a ke c.


Relasi R pada himpunan A disebut relasi
kesetaraan (equivalence relation) jika ia
refleksif, setangkup/simetris, dan
menghantar.
Secara intuitif, di dalam relasi kesetaraan,
dua benda berhubungan jika keduanya
memiliki beberapa sifat yang sama atau
memenuhi beberapa persyaratan yang sama.
Dua elemen yang dihubungkan dengan relasi
kesetaraan dinamakan setara (equivalent).
Berdasarkan sifat yang dimilikinya,
kesetaraan tersebut dijelaskan sebagai
berikut :

Karena relasi bersifat setangkup/
simetri maka dua elemen yang
dihubungkan relasi adalah setara.
Karena relasi bersifat refleksif,
maka setiap elemen setara dengan
dirinya sendiri. Karena relasi
bersifat menghantar, maka jika a
dan b setara dan b dan c setara,
maka a dan c setara.
Relasi R pada himpunan S dikatakan relasi
pengurutan parsial jika ia refleksif,
antisimetris dan menghantar. Himpunan S
bersama-sama dengan relasi R disebut
himpunan terurut secara parsial dan
dilambangkan dengan (S,R).
Relasi > pada himpunan bilangan bulat
adalah relasi pengurutan parsial, karena a >a
untuk setiap bilangan bulat a, relasi >
refleksif. Relasi > antisimetri, karena jika
a>b dan b>a, maka a=b. Relasi > menghantar,
karena jika a>b dan b>c maka a>c
Contoh pengurutan parsial yang lain adalah
relasi habis membagi. Karena setiap
bilangan bualt habis membagi dirinya sendiri
maka relasi habis membagi bersifat
refrleksif. Bersifat antisimetris karena a
habis membagi b berarti b tiak habis
membagi a kecuali jika a=b. Terakhir relasi
ini bersifat menghantar karena jika a habis
membagi b, dan b b habis membagi c maka a
habis membagi c
Misalkan R adalah relasi yang tidak refleksif. Dapat
dibuat relasi baru yang mengandung R sedemikian
sehingga relasi baru tersebut menjadi refleksif.Relasi
baru tersebut haruslah relasi terkecil yang
mengandung R.
Sebagai contoh, relasi R={(1,1),(1,3),(2,3,),(3,2)} pada
himpunan A={1,2,3} tidak refleksif. Bagaimana
membuat relasi refleksif yang sesedikit mungkin dan
mengandung R? untuk melakukan hal ini, hanya perlu
ditambahkan (2,2) dan (3,3) ke dalam R karena dua
elemen relasi ini yang belum terdapat di dalam R.
Relasi baru yang terbentuk dilambangkan dengan S,
mengandung R yaitu :
S={(1,1),(1,3),(2,2),(2,3),(3,2),(3,3)}
Sekarang, S bersifat refleksif. Relasi S disebut klosur
refleksif.


Contoh lain, misalkan
R={(1,3),(1,2),(2,1),(3,2),(3,3)} pada
himpunan A={1,2,3}. Jelas R tidak setangkup.
Bagaimana membuat relasi setangkup yang
sesedikit mungkin dan megandung R? untuk
melakukan hal ini, kita hanya perlu
menambahkan (3,1) dan (2,3) ke dalam R
karena dua elemen relasi ini yang belum
terdapat di dalam Sagar S menjadi
setangkup. Relasi baru yang terbentuk
mengandung R yaitu :


S={(1,3),(3,1),(1,2),(2,1),(3,2),(2,3),(3,3)}
Sekarang S bersifat setangkup. Relasi S
disebut klosur setangku dari R

Ada tiga jenis klosur , yaitu Klosur refleksif
(reflexive closure), klosur simetris
(symmetric closure) dan klosur menghantar
(transitive closure)

Relasi yang menghubungkan lebih dari dua
buah himpunan. Relasi n-ary mempunyai
terapan penting di dalam basis data

NIM NAMA MATAKULIAH NILAI
13598011
13598011
13598014
13598015
13598015
13598015
13598019
Amir
Amir
Santi
Irwan
Irwan
Irwan
Ahmad
Matematika Diskrit
Arsitektur Komputer
Algoritma
Algoritma
Struktur Data
Arsitektur Komputer
Algoritma
A
B
D
C
C
B
E
Fungsi sering juga disebut pemetaan atau
transformasi.
Misalkan A dan B adalah himpunan. Relasi
biner f dari A ke B merupakan suatu fungsi
jika setiap elemen di dalam A dihubungkan
dengan tepat satu elemen di dalam B. Jika f
adalah fungsi dari A ke B maka dapat
dituliskan
f: A B
yang artinya f memetakan A ke B
Fungsi dapat di spesifikasikan dalam berbagai bentuk,
diantaranya:
1. Himpunan pasangan terurut
Fungsi adalah relasi. Sedangkan relasi biasanya
dinyatakan sebagai himpunan pasangan terurut
2. Formula pengisian nilai
Fungsi dispesifikasikan dalam bentuk rumus pengisian
nilai misalnya () =
2

3. Kata-kata
Fungsi dapat dinyatakan secara eksplisit dalam
rangkaian kata-kata, misalnya adalah fungsiyang
memetakan jumlah bit 1 di dalam suatu string biner
4. Kode program (source code)
Fungsi di spesifikasikan dalam bentuk kode program
komputer. Misalnya dalam bahasa Pascal. Fungsi yang
mengembalikan nilai mutlak dari sebuah bilangan bulat x
yaitu x
Fungsi dibedakan menjadi fungsi satu ke satu, fungsi pada,
atau bukan salah satu dari keduanya.

Fungsi dikatakan satu ke satu jika tidak ada
dua elemen himpunan A yang memiliki
bayangan sama.
Gambar dibawah ini mengilustrasikan fungsi
satu ke satu




a

b

c

d





1

2

3

4

5

Contoh 11:
Relasi ={(1,w),(2,u),(3,v)} dari A={1,2,3} ke
B={u,v,w,x} adalah fungsi satu ke satu.
Relasi ={(1,w),(2,u),(3,v)} dari A={1,2,3} ke
B={u,v,w} juga fungsi satu ke satu.
Relasi =(1,u),(2,u),(3,v)} dari A={1,2,3} ke
B={u,v,w} bukan fungsi satu ke satu karena
(1)= (2) = u
Contoh 12:
Misalkan :Z Z. Tentukan apakah
=
2
+1 dan (x)=x-1 merupakan fungsi
satu ke satu?




(i) =
2
+1 bukan fungsi satu ke satu,
karena ada dua x yang bernilai mutlak sama
tetapi tandanya berbeda nilai fungsinya
sama, misalnya (2)=(-2) =5
(x)=x-1 adalah fungsi satu ke satu, misalnya
(2) =1 dan untuk (-2) =-3.
Fungsi dikatakan pada jika jika setiap
elemen himpunan B merupakan bayangan
dari atu atau lebih elemen himpunan A.
Gambar di sebelah mengilustrasikan fungsi
pada











Contoh 13:
Relasi ={(1,u),(2,u),(3,v)} dari A={1,2,3} ke B={u,v,w}
bukan fungsi pada karena w tidak termasuk jelajah
(range) dari
Relasi ={(1,w),(2,u),(3,v)} dari A={1,2,3} ke
B={u,v,w} merupakan fungsi pada karena semua
anggota B merupakan jelajah dari .
a

b

c

d

1


2


3

Jika adalah fungsi berkorespondens satu ke
sati dari A ke B, maka kita dapat menemukan
balikan atau invers dari . Fungsi invers dari
dilambangkan dengan
1
.Misalkan a
adalahanggota himpunan A dan b adalah anggota
himpunan B, maka
1
b = a jika (a)=b.
Gambar di bawah ini memperlihatkan diagram
panah yang menggambarkan
1
sebagai fungsi
.

f o g adalah fungsi yang memetakan nilai
dari g(a) ke f
(fog)(a) =f(g(a))
a g(a) f(g(a))
(fog)(a)
g(a) f(g(a))
A B
C
Contoh 14:
1. Diberika fungsi g={(1,u),(2,u),(3,v)} yang
memetakan A={1,2,3} ke B={u,v,w}, dan
fungsi f={(u,y),(v,x),(w,z)} yang memetakan
B={u,v,w} ke C={x,y,z}. Fungsi komposisi
dari A ke C adalah fog={(1,y),(2,y),(3,x)}
2. Diberikan fungsi f(x)=x-1 dan g(x)=x
2
+1.
Tentukan fog dan gof.
fog = f(g(x))=f(x
2
+1)=x
2
+1-1=x
2
gof = g(f(x))=g(x-1)=(x-1)
2
+1=x
2
-2x+2
Beberapa fungsi yang dipakai dalam ilmu
komputer:
1. Fungsi Floor dan Ceiling
2. Fungsi modulo
3. Fungsi Faktorial
4. Fungsi Eksponensial dan Logaritmik

Fungsi floor dari x : x
x menyatakan nilai bilangan bulat terbesar
yang lebih kecil atau sama dengan x
Fungsi ceiling dari x :x(
x( menyatakan nilai bilangan bulat terkecil
yang lebih besar atau sama dengan x
Contoh 15:
3.5=3 3.5(=4
0.5=0 0.5(=1
4.8=4 4.8(=5
-0.5=-1 -0.5(=0

Fungsi modulo adalah fungsi dengan operator
mod, yang dalam hal ini:
a mod m memberikan sisa pembagian bulat
bila a dibagi dengan m
a mod m = r sedemikian sehingga a=mq+r,
dengan 0sr<m
Contoh 16:
25 mod 7 = 4
15 mod 4 = 3
0 mod 5 = 0
-25 mod 7=3

Untuk sembarang bilangan bulat tidak-negatif
n, faktorial dari n dilambangkan dengan n!,
didefinisikan sebagai:



Contoh 17:
0! =1
1! = 1
4! = 1 x 2 x 3 x 4 = 24
5! = 1 x 2 x 3 x 4 x 5 = 120

Fungsi eksponensial berbentuk


Untuk kasus perpangkatan negatif,
a
-n
= 1/a
n
Fungsi logaritmik berbentuk

Contoh 18:
43 = 4.4.4 = 64

4
log 64 = 3

Fungsi f dikatakan fungsi rekursif jika definisi
fungsinya mengacu pada dirinya sendiri.
Fungsi rekursif disusun oleh dua bagian:
a. Basis
b. Rekurens
Contoh 19: