Anda di halaman 1dari 7

1. Tujuan Dasar Bedah a.

Menghilangkan kondisi patologis Tujuan terapeutik dari semua prosedur bedah ekstirpatif adalah untuk membuang keseluruhan lesi dan tidak meninggalkan sel yang dapat berproliferasi dan menyebabkan rekurensi. b. Rehabilitasi fungsional pasien Setelah prosedur pengangkatan lesi dilakukan, hal yang paling penting adalah memperhatikan defek residual akibat bedah ekstirpatif tersebut. Defek-defek tersebut dapat berupa mild obliterationof the labial sulcus atau defek pada alveolus setelah pengangkatan benign odontogenic tumor. Hasil terbaik diperoleh saat prosedur rekonstruksi sudah dipertimbangkan sebelum eksisi lesi dilakukan. Metode graft, prinsip fiksasi, defisit jaringan lunak, rehabilitasi dental, dan persiapan pasien harus dievaluasi secara keseluruhan dan dapat ditangani dengan adekuat. 2. Manajemen Bedah dari Kista dan cystlike lesions dari Rahang a. Enukleasi Enukleasi merupakan suatu proses dimana dilakukan pembuangan total dari lesi kista. Sebuah kista dapat dilakukan prosedur enukleasi dikarenakan lapisan dari fibrous connective tissue diantara komponen epitelial (yang membatasi aspek interior kista) dan dinding tulang dari kavitas kista. Lapisan ini memperkenankan cleavage plane untuk melepaskan kista dari kavitas tulang. Enukleasi kista harus dilakukan dengan hati-hati, sebuah usaha untuk mengangkat kista dalam satu potongan tanpa fragmentasi, yang akan mengurangi kesempatan rekurensi. Namun pada praktiknya, pemeliharaan keutuhan kista tidak selalu dapat terjaga, hancurnya potongan kista dapat terjadi. Indikasi Enukleasi merupakan perawatan pilihan untuk pengangkatan kista pada rahang dan seharusnya digunakan pada kista yang dapat diangkat dengan aman tanpa terlalu membahayakan jaringan sekitar. Keuntungan Keuntungan utamanya adalah pemeriksaan patologis dari keseluruhan kista dapat dilakukan. Keuntungan lainnya adalah initial excisional biopsy (enukleasi) juga telah merawat lesi. Pasien tidak harus merawat marsupial cavity dengan irigasi konstan. Setelah akses flap mukoperiosteal sembuh, pasien tidak lagi terganggu dengan kavitas kista. Kerugian Jika terdapat indikasi-indikasi untuk melakukan marsupialisasi, maka akan terdapat banyak kerugian untuk prosedur enukleasi. Sebagai contoh, dapat membahayakan jaringan normal, fraktur tulang rahang dapat terjadi, atau gigi dapat menjadi non-vital. Teknik enukleasi y Pemberian antibiotik profilaksis tidak diperlukan, kecuali jika pasien menderita penyakit sistemik tertentu. y Untuk kista yang besar, dapat dilakukan mucoperiosteal flap dan akses ke kista didapatkan melalui labial plate of bone, yang meninggalkan alveolar crest tetap utuh untuk memastikan tinggi tulang adekuat setelah penyembuhan. y Saat akses ke kista sudah didapatkan melalui pengunaan osseus window, dokter gigi mulai mengenukleasi kista y A thin-bladed curettage merupakan instrumen yang paling tepat untuk memotong conective tissue layer dinding kista dari kavitas tulang. Permukaan yang cekung harus selalu menghadap ke kavitas tulang, sedangkan bagian yang cembung melakukan pemotongan/pelepasan kista. Tahap ini haus dilakukan dengan sangat hati-hati untuk menghindari hancurnya kista. Terlebih lagi, kista akan lebih mudah terlepas dari kavitas tulang saat intracystic pressure dijaga. y Saat kista telah berhasil diangkat, kavitas tulang harus diperiksa, adaah jaringan kista yang tertinggal. Mengirigasi dan mengeringkan kavitas dengan gauze akan mempermudah pemeriksaan. Jaringan kista yang tersisa diangkat dengan kuret. y Daerah-daerah tepi kavitas tulang dihaluskan dengan bone file sebelum ditutup. y Setelah itu, watertight primary closure seharusnya didapatkan dengan appropriately positioned sutures.

y y

Kavitas tulang akan berisi blood clots, yang akan menghilang seiring berjalannya waktu. Gambaran radiografis akan pertumbuhan tulang akan tampak dalam waktu 6 hingga 12 bulan. Jika primary closure rusak dan luka bekas operasi terbuka, luka diirigasi dengan salin steril, dan an appropriate length of strip gauze sedikit dipenuhi dengan antibiotic ointment seharusnya dimasukkakan kedalam kavitas dengan lembut. Prosedur ini dilakukan setiap 2-3 hari sekali, secara bertahap dikurangi seiring dengan pemulihan luka.

Tambahan: Enukleasi meliputi pembuangan menyeluruh pelapis kista dan isinya. Kuretase menunjuk kepada pembuangan bertahap dinding kista menggunakan kuret. Pendekatan intraoral biasanya merupakan metode pilihan untuk enukleasi meskipun kadang diindikasikan pendekatan melalui kulit submandibula. Untuk memperoleh keuntungan maksimum dari metode ini, umumnya dilengkapi dengan penutupan primer, meskipun pada kenyataannya dapat dikombinasikan dengan open packing. Indikasi Odontogenik keratocyst yang memiliki tingkat rekurensi yang tinggi. Prosedur Enukleasi dengan Penutupan Primer A Pendekatan Intaroral  Insisi dan elevasi flap  Prinsip desain flap biasa dapat diapliksitkan di sini juga, tetapi dengan modifikasi tertentu pada masing-masing kista dan lokasinya  Ketika gigi terlibat, insisi sebainya diletakkan di sekitar gigi dengan mengabaikan apakah gigi tersebu harus dipertahankan at diekstraksi. Insisi ini dapat menyediakan akses yang lengkap dan membantu dalam perbaikan yang mudah. Kedua, hal ini mengijinkan pentupan defek yang memuaskan jika ekstraksi yang tidak diharapkan pada gigi atau geligi menjadi penting selama operasi.  Ketika gigi terpengaruh secara periodontal atau ketika terdapat tmahkota artificial, bijaksana untuk menghindari leher crevice gingiva dan menempatkan insisi jauh dari leher gigi.  Untuk mengurangi perbaikan area tidak bergigi pada rahang, sebuah insisi ditempatkan di sepanjang crest  The ascending or descending limbs of the incision divergen ke arah sulkus bukal, dan ditempatkan cukup jauh dari pembengakan. Hal ini mengijinkan garis jahitan akhir berada di atas tulang penyangga yang utuh.
 Pembuangan tulang  Tulang tipis yang melapisi sebaiknya dipertahankan. Pada beberapa lesi yang besar setelah elevasi periferal flap mukoperiosteal, tulang dapat dipenetrasi dan dipatahkan dengan menggunakan elevator periosteal yang dimmasukkan antara kantung kista dan tulang, sehingga menghasilkan flap tulang mukoeriosteal yang sehat.  Dimana tulang pelapis yang berharga ini tidak dapat diselamatkan, mukoperiosteum dielevasi dan tulang yang melapisi dihilangkan dengan menggunakan bur akrilik, gouges atau rogeurs, cukup untuk menciptakan akses yang baik untuk enukleasi kantong.  Enukleasi kista Kista harus dihilangkan seluruhnya tanpa menyobek atau menusuk. Ketika memisahkan lapisan kista dari inferior alveolar neurovascular bundle, lantai antral, dan apikal gigi, harus diberikan perhatian yang besar. Disukai diseksi dengan menggunakan instrumen tumpul. Pada tempat dimana lapisan kista menempel ke kavitas, sebuah kasa gukung dipegang dengan menggunakan haemostat dan dimasukkan di antara kavitas dan pelapis kista. Sebaliknya, kista dapat diaspirasi sehingga kantung menyusut dan akses serta jarak penglihatan meningkat. Setelah enukleasi, pekerjaan yang dianjurkan pada gigi seperti pengisian akar, apicectomy, pengisian akar retrogade, atau ekstraksi dilakukan. Sekali irigasi menyeluruh dan inspeksi kavitas dan marginnya dilakukan, penutupan dengan jahitan sebaiknya dilakukan.

B Pendekatan Ekstraoral

 Indikasi Keratocyst besar dan kista dentigerous yang meliputi ramus, korpus (badan), atau angulus mandibula.  Prosedur Dibuat insisi submandibula, diseksi tajam dan tumpul dilakukan melalui bidang jaringan dengan pterygomasseteric sling terbagi; kemudian periosteum diinsisi dan flap diangkat untuk menyingkap tulang di bawahnya. Biasanya sudah terdapat perforasi dan jika tidak, jendela/bukaan dibuat dengan menggunakan pahat atau bur. Ukuran jendela bergantung pada perluasan kista. Sekarang kista dihilangkan bersama dengan pelapis dan dikirim untuk biopsi. Jika terdapat kecurigaan adanya sisasisa pelapis kista, kavitas dikuret. Insisi ditutup berlapis. Kadang disarankan untuk menempatkan drain melalui insisi dan mengamankannya dengan tujuan mencegah pembentukan hematoma.

Manajemen Postoperatif Jahitan dibuka paling baik 10 hari setelah operasi, dimana oedema pada tepi luka telah selesai, membuat hal ini menjadi mudah. Jika hal ini dicoba lebih awal, terdapat risiko membuka perbaikan (penyembuhan) selagi mencoba untuk mengidentifikasi dan memotong jahitan yang ketat. Selain dari pentingnya tindak lanjut radiologis semua kista hingga terjadi penyembuhan tulang menyeluruh, tidak perlu terapi lebih lanjut. Keuntungan Enukleasi y Semua pelapis kista dihilangkan, oleh karena itu, tidak ada kekhawatiran akan adanya perubahan neoplastik pada sisa-sisa pelapis. y Terjadi penyembuhan yang cepat karena luka ditutup secara primer. Kerugian Enukleasi y Pada orang muda, benih gigi atau gigi yang tidak erupsi yang terlibat dengan kista dikestraksi atau dihilangkan dengan pelapis kista. y Fraktur patologis rahang dapat terjadi pada enukleasi kista besar y Prosedur membahayakan struktur vital yang berdekatan y Observasi langsung penyembuhan luka jika marsupialisasi tidak mungkin. Enukleasi dengan Open Packing Teknik ini lebih disukai pada kasus kista besar yang terinfeksi dimana penutupan primer kista dapat membawa kepada pecahnya luka dan mengganggu peneymbuhan. Flap mukoperiosteal diangkat dan kista dienukleasi seperti telah dijelaskan, tetapi sebagai ganti penutupan primer, flap dikembalikan ke dalam kavitas tulang, difiksasi dengan kasa pembalut medikasi inch selama 10 hari. Pergantian pembalur diikuti dengan pembuatan sumbat akrilik seperti yang digunakan dalam marsupialisasi. Pada kasus defek besar yang ekstrim dimana dicurigai adanya fraktur patologis, penggunaan bone graft dapat mengubah kavitas. Autogenous bone graft adalah metode yang disukai. b. Marsupialisasi 1) Definisi Marsupialisasi adalah membuat suatu jendela pada dinding kista dalam pembedahan, mengambil isi kistanya dan memelihara kontinuitas antara kista dengan rongga mulut, sinus maksilaris atau rongga hidung. Bagian kista yang diambil hanyalah isi dari kista, batas dari dinding kista dengan oral mukkosa dibiarkan pada tempatnya. Proses ini dapat mengurangi tekanan intrakista dan membantu penyusutan dari kista serta pengisian tulang. Marsupialisasi dapat digunakan sebagai suatu perawatan tunggal atau sebagai suatu perawatan awal dan selanjutnya dilakukan tahap enukleasi. 2) Indikasi Faktor-faktor ini harus diperhatikan sebelum memutuskan perawatan marsupialisasi : a) Jumlah kerusakan jaringan jika letak kista berdekatan dengan struktur anatomis yang vital, perawatan dengan enukleasi akan mengakibatkan kerusakan jaringan yang tidak perlu. Sebagai contoh, jika enukleasi akan menyebabkan fistula pada sekitar rongga hidung atau dapat menyebabkan keruskan a jaringan saraf (saraf alveolar inferior), serta dpat menyebabkan devitalisasi dari gigi yang vital.; maka marsupialisasi diperlukan. b) Akses pembedahan jika akses pembedahan sulit dicapai, maka biasanya bagian dari dinding kista akan tertinggal, menyebabkan rekurensi. Karena hal itu, marsupialisasi dapat dipertimbangkan c) Membantu erupsi gigi jika gigi yang belum bererupsi terlibat dengan kista (dentigerous cyst) dan gigi tersebut dibutuhkan untuk kestabilan lengkung dental, maka marsupialisasi dapat membanu akses erusi gigi tersebut

d) B /tidaknya tindakan bedah jika pasien kista memiliki penyakit sistemik atau tingkat st ess yang tinggi dapat dipilih marsupialisasi karena caranya mudah dan tidak menimbulkan stress yang besar e) Ukuran kista pada ukuran kista yang sangat besar, enukleasi dapat menyebabkan resiko patahnya tulang rahang. Maka itu dapat dipilihkan marsupialisasi dan dilakukan enukleasi setelah adanya pengisian kembali oleh tulang gigi f) Kerugian dari marsupialisasi adalah kemungkinan tertinggalnya jaringan yang patologis, tanpa adanya pemeriksaan histopatologi. Walaupun setelah pengeluaran isi kista dapat dilakukan pemeriksaan histopatologi, tetapi lesi yang lebih agresif dapat tertinggal pada jaringan kista yang tersisa. elain itu pasie n juga harus memperhatikan kebersihan rongga kista, karena biasanya debri makanan terperangka p disana. Untuk itu, pasien harus rutin mengirigasi kavitas kista bebrapa kali dalam sehari, sampai bebrapa bulan selanjutnya, tergantung pada besarnya ukuran kista dan laju pengisian tulang.

3) T

o o o o o o o o o o o o

o o

Antibiotik profilaksis sistemik tidak diindikasikan untuk pasien yang sehat. Anastesi, kemudian dilakukan aspirasi. Bila aspirasi membantu diagnosis sementara kista, prosedur marsupialisasi dapat dilakukan. Insisi inisial biasanya sirkular atau eliptik dan menciptakan window yang besar (1 cm atau lebih) pada kavitas kista. Bila tulang telah terekspansi dan menjadi tipis karena kista, insisi pertama kali dilakukan dari tulang menuju kavitas kista. Pada kasus ini, isi jaringan window dilakukan pemeriksaan patologis. Bila sisa tulang masih tebal, osseous window dihilangkan dengan burs atau rongeur. Insisi kista dilakukan untuk membuang lapisan window lalu dilakukan pemeriksaan patologis. Isi kista dibuang dan bila mungkin dilakukan pemeriksaan visual pada lapisan jaringan kista yang tersisa. Irigasi kista dilakukan untuk membuang sisa fragmen dari debris. Area ulserasi atau ketebalan dinding kista harus diperhatikan drg untuk mencegah kemungkinan adanya perubahan displasia atau neoplasma pada dinding kista. Bila ada ketebalan yang cukup dari dinding kista d jika ada akses, perimeter dinding kista sekitar an window dapat disuture pada mukosa mulut. Kavitas harus dipacked dengan gauze yang telah dioleskan benzoin atau salep antibiotik. Setelah terjadi initial healing (biasanya 1 minggu), lakukan pencetakan pada rongga mulut untuk membuat obturator dari akrilik. Tujuan penggunaan obturator ini ialah untuk mencegah masuknya makanan ke dalam kavitas. Obturator ini dilepas saat tidur untuk mencegah agar tidak tertelan. Obturator ini harus dikurangi ukurannya seiring dengan terisinya kavitas oleh tulang. Ketika dilakukan marsupialisasi kista pada maksila, drg memiliki 2 pilihan. Pertama, kista dapat dibedah (akses dari) rongga mulut atau melalui sinus maksila atau sinus nasalis. Bila sebagian besar maksila telah terserang kista dan telah terkena antrum rongga nasalis, kista dapat menyerang aspek fasial alveolus. Ketika window pada dinding kista telah dibuat, pembukaan kedua dapat dilakukan pada antrum maksila atau rongga hidung yang berdekatan. Pembukaan mulut kem udian ditutup untuk penyembuhan. Lapisan kista harus kontinu dengan lapisan antrum atau rongga hidung. Marsupialisasi jarang digunakan sebagai bentuk tunggal perawatan kista.

o o o

Biasanya diikuti dengan enukleasi. Pada kasus kista dentigerous, mungkin tidak te rdapat sisa kista yang dibuang ketika gigi bererupsi ke lengkung rahang. Bila bedah lanjut kontraindikasi karena masalah medis lainnya, marsupialisasi dapat dilakukan tanpa enukleasi selanjutnya. Kavitas harus dijaga kebersihannya. Manfaat marsupialisasi pada large dental cyst:  Kontur jaringan oral dapat dipelihara secara utuh.  Gigi yang terlihat pada radiograf kelihatannya terlibat dalam kista bisanya vital & gigi ini tidak dicabut (dapat dipertahankan.  Anesthesia yang disebabkan karena surgical trauma terhadap nerve yang besar dapat dieliminasi.  Jarang terjadi perdarahan karena pembuluh darah yang besar jarang mengalami gangguan yang disebabkan oleh metode manipulatif.  Bahaya fraktur surgical pada mandibula pada kista yang besar dapat dihindari.  Kemungkinan terjadinya oral fistula pada sinus maksilaris / kavitas nasal karena enukleasi dapat dihindari.

c. Enukleasi setelah marsupialisasi Enukleasi sering dilakukan setelah prosedur marsupialisasi (dengan jeda waktu). Proses healing cepat terjadinya setelah marsupialisasi, tetapi besar kavitas mungkin tidak berkurang secara nyata. Tujuan utama dilakukannya marsupialisasi telah dicapai, selanjutnya enukleasi dapat dilakukan tanpa injuri pada struktur sekitarnya. a. Indikasi Indikasi teknik kombinasi ini berdasarkan evaluasi dari besarnya jaringan yang akan terluka jika enukleasi dilakukan, besar akses untuk enukleasi, apakah gigi impaksi yang berhubungan dengan kista akan diuntungkan dengan adanya eruptional guidance dari marsupialisasi, kondisi medis pasien, dan besar dari lesi. Namun, apabila lesi tidak hilang sepenuhnya setelah marsupialisasi, enukleasi perlu dipertimbangkan. Indikasi lainnya adalah kavitas kista pasien sulit untuk dibersihkan. Dokter gigi juga mungkin berkeingina untuk memeriksa seluruh lesi secara histologis. b. Keuntungan y Pade fase marsupialisasi, keuntungannya berupa teknik yang sederhana dan aman bagi struktur vitas sekitarnya. y Pada fase enukleasi, seluruh lesi dapat tersedia untuk pemeriksaan histologis. y Perkembangan dari tepi kista yang menebal, sehingga enukleasi sekunder menjadi lebih mudah. c. Kerugian y Pada fase marsupialisasi, kista tidak dapat sepenuhnya diangkat untuk pemeriksaan histologi. y Namun, hal tersebut dapat dilakukan setelah enukleasi sekunder untuk mendeteksi adanya kemungkinan kondisi patologis yang lain. d. Teknik y Kista dilakukan tindakan marsupialisasi terlebih dahulu. Lalu kita menunggu proses healing dari osseous. y Bila ukuran kista telah mengecil, sehingga dapat dilakukan pengangkatan total, enukleasi dilakukan sebagai perawatan definitif. y Waktu tepat dilakukannya enukleasi adalah saat tulang menutupi struktur vital sekitarnya sehingga mencegah injuri saat enukleasi dan juga ia menyediakan kekuatan yang cukup bagi rahang untuk mencegah fraktur saat tindakan bedah. y Insisi pertama berbeda dengan enukleasi tanpa marsupialisasi. Kista ini mempunyai lapisan tepi epitel dengan kavitas oral setelah marsupialisasi. y Akses (window) ini merupakan bagian kista yaitu jembatan epitel antara kavitas kista dan rongga mulut. y Epitel ini harus diangkat total dengan cystic liningnya, dengan teknik eliptic incisions, melingkari bukaan akses tersebut sampat terasa menyentuh tulang. y Selanjutnya enukleasi dapat mudah dilakukan denga pendekatan ini. y Setelah kista dienukleasi, jaringan lunak oral harus menutupi defek. y Bila dibutuhkan, mobilisasi jaringan lunak untuk menutupi tulang yang terbuka dengan bantuan flap dan penjahitan. y Bila tidak dapat tertutup seluruhnya, packing kavitas dengan kassa yang dioleskan antibiotik. Ganti packing secara berkala dan jaga rongga mulut tetap bersih sampai jaringan granulasi hilang dan epitel menutupi telah menutupi luka.

d. Enukleasi dengan kuretase Dilakukan kuretase tulang 1-2 mm di seluruh tepi kavitas kista setelah prosedur enukleasi. Hal ini dilakukan untuk mengangkat seluruh sel epitel yang tersisa di tepi-tepi dinding kavitas atau tulang untuk mencegah rekurensi kista. a. Indikasi y Bila dilakukan enukleasi pada odontogenic keratocyst. Karena tingginya rasio (20-60%) rekurensi kista tersebut. Alasan rekurensi agresif ini berdasarkan meningkatnya aktivitas mitotic dan selularitas epitel kista tersebut. Anak kista dapat ditemukan di tepi lesi utama. Tepi kista seringkali sangat tipis dan berfragmen-fragmen sehingga butuh kuretasi agresif dari kavitas tulang. y Perawatan pencegahan rekurensi dapat dipilih berdasarkan hal-hal ini: (1) jika area dapat diakses, enukleasi kedua dapat dilakukan. (2) jika area tidak terjangkau, reseksi tulang dengan margin 1 cm dapat dipertimbangkan. Pasien harus selalu selalu dimonitor karena rekurensi odontogenic keratocyst dapat terjadi bertahun-tahun kemudian. y Kista rekurensi. Alasannya sama dengan kasus di atas. b. Keuntungan y Mengurangi kemungkinan rekurensi. c. Kerugian y Bersifat lebih destruktif pada jaringantulang dan lainnya di sekitar. Pulpa gigi dapat terpotong akses suplai neurovaskularnya jika kuretasi degan dengan ujung akar. Serabut saraf dan pembuluh darah juga dapat rusak sehingga kuretasi harus dilakukan dengan sangat hati-hati. d. Teknik y Setelah enukleasi, kavitas tulang diperiksa lokasi dan jaraknya dengan struktur-struktur sekitar. y Kuret yang tajam atau bur tulang dengan irigasi steril digunakan untuk mengangkat 1 mm lapisan -2 tulang di sekeliling kavitas dengan hati-hati. y Kavitas dibersihkan dan ditutup.

Narasumber BM: drg.evy

Penggunaan klinis Antihistamin adalah obat yang paling banyak dipakai sebagai terapi simtomatik untuk reaksi alergi yang terjadi pada anak. Semua jenis antihistamin sangat mirip aktivitas farmakologinya. Pemilihan antihistamin terutama terhadap efek sampingnya dan bersifat individual. Pada seorang pasien yang memberikan hasil kurang memuaskan dengan satu jenis antihistamin dapat ditukar dengan jenis lain, terutama dari subkelas yang berbeda.

Berbagai kasus alergi pada anak dalam penanganannya sering diberikan terapi antihistamin. Penyakit alergi pada anak yang paling sering menggunakan anthistamin adalah urtikaria, dermatitis, asma, rhinitis dan gangguan alergi lainnya.

1.

Pada asma. Histamin merupakan salah satu mediator yang penting pada asma alergik. Sebagai antagonis reseptor H1, antihistamin mempunyai pengaruh pada fungsi paru. Penelitian menunjukkan bahwa obat ini dapat memperbaiki gejala dan fungsi paru pada asma. Oleh karena itu, tidak seperti pada kortikosteroid intranasal, perbaikan yang didapat karena antihistamin pada asma tidak hanya disebabkan perbaikan salu ran napas bagian atas. Penelitian pada generasi pertama antihistamin menunjukkan sangat sedikit efek perbaikannya pada asma dan efek sampingnya sangat mengganggu; oleh karena itu antihistamin ditinggalkan; tetapi dengan munculnya generasi kedua antihistamin yang dikatakan lebih aman dan bekerja lebih spesifik terhadap reseptor H1, menjadi menarik untuk dipelajari kembali. menunjukkan bahwa terfenadin dapat mengurangi gejala asma serta kebutuhan bronkodilator dan sedikit memperbaiki fungsi paru, tetapi memerlukan dosis sangat besar yaitu 240-540 mg sehari. Grant dkk melaporkan bahwa cetirizin 15-20 mg sehari dapat mengurangi gejala rinitis dan asma, namun perbaikan fungsi paru tidak berbeda bermakna dibanding plasebo. Perludikemukakan bahwa pemakaian

antihistamin perlu mempertimbangkan selain kefektifannya juga keamanan. Jika mungkin untuk pengobatan alergi dipakai antihistamin generasi kedua yang selain efektif, aman dan dapat dikatakan hampir bebas efek samping. Sejauh ini obat-obat yang memenuhi kriteria tadi adalah loratadin, setirizin dan feksofenadin. Ketiga obat tersebut selain mempunyai efek antihistamin juga anti-inflamasi alergik, artinya dapat menghambat migrasi eosinofil. Seperti diketahui eosinofil berperan penting pada inflamasi alergi yang terjadi pada rinitis alergik maupun asma. Penelitian menunjukkan bahwa ketiga antihistamin tadi mampu menekan produksi atau penampilan ICAM (inter-1 cellular adhesion molecule-1) pada sel endotel kapiler,yang diperlukan untuk migrasi eosinofil dari kapiler ke jaringan. Konsekuensi pemakaian obat yang mempunyai aksi antihistamin maupun anti inflamasi adalah berkurangnya gejala dan menurunnya reaktivitas jaringan terhadap zat -zat yang memprovokasinya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa antihistamin khususnya generasi kedua bermanfaat pada rinitis yang disertai asma. Pada penelitian paralel acak buta ganda terkontrol, kembaCiprandi dkkmelaporkan pemberian terfenadin secara kontinyu selama 12 bulan pada anak-anak sekolah yang menderita rinokonjungtivitis dan atau asma intermiten ringan yang alergi tungau debu rumah. Dibanding dengan pasien yang mendapat plasebo, pasien yang mendapat terapi terfenadin 1 mg/kgBB menunjukkan perbaikan gejala alergi secara bermakna (p< 0,003) dan penurunan inflamasi terlihat dari infiltrasi sel radang dan ekspresi ICAM-1 di hidung (p<0,001). Absensi sekolah dan kunjungan ke dokter juga berkurang (p<0,003). Tidak didapatkan efek samping pada kedua kelompok 2. Rinitis alergi dan rinitis alergik perenial sangat baik reaksinya terhadap antihistamin. Hampir 70-90% pasien rinitis alergik musiman mengalami pengurangan gejala (bersin, keluar ingus, sumbatan hidung). Hasil yang terbaik didapat bilamana antihistamin diberikan sebelum kontak. Walaupun pada rinitis vasomotor hasilnya kurang memuaskan tetapi efek antikolinergiknya dapat mengurangi gejala pilek. 3. Pada urtikaria akut sangat bermanfaat untuk mengurangi ruam dan rasa gatal. Manfaatnya pada urtikaria kronik kurang dan pada keadaan ini AH1 pilihan adalah yang berefek sel rendah dan mempunyai m asa kerja panjang, misal hidroksizin atau AH1 nonsedatif lainnya. Pemberiannya cukup sekali sehari sehing meningkatkan kepatuhan. Apabila gejala belum diatasi dapat dikombinasi dengan AH2, dan kalau perlu ditambah simpatomimetik. 4. Pada reaksi anafilaksis akut antihistamin H1 digunakan sebagai terapi tambahan setelah epinefrin. Preparat yang banyak dipakai adalah difenhidramin. Pada serum sickness antihistamin berfungsi untuk mengurangi urtikaria tetapi mempunyai efek yang kecil terhadap artralgia, demam, dan tidak mengurangi lama penyakitnya. Pada dermatitis kontak dan erupsi obat fikstum, antihistamin oral dapat mengurangi rasa gatal. Hindari penggunaan antihistamin topikal karena dapat menyebabkan sensititasi. Antihistamin juga dapat dipakai sebagai terapi tambahan pada reaksi alergi obat dan reaksi akibat transfusi.