Anda di halaman 1dari 23

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Adanya tekanan yang sama kuat terhadap bisnis manufaktur saat ini, menuntut perusahaan, untuk lebih cerdas dalam menjalankan operasinya. Fungsi produksi dan operasi yang mentransformasikan input menjadi output bertanggungjawab untuk menghasilkan produk dalam kuantitas dan kualitas yang telah ditentukan, tepat waktu, secara efektif dan efisien.Kebijakan produksi dan operasi, kapasitas produksi( sumber daya dan fasilitas) , jadwal produksi, inovasi, dan peningkatan berkelanjutan harus dikomnsentrasikan untuk memenuhi kepuasan pelanggan, agar perusahaan memiliki keunggulan dalam intensitas persaingan yang sangat ketat ini. Kemampuan dalam menghasilkan produk dalam waktu, kuantitas dan kualitas yang dapat belumlah cukup untuk mendukung keunggulan bersaing perusahaan. Produk harus dihasilkan melalui proses yang efisien dimana optimalisasi penggunaan sumber daya menjadi pedoman dalam setiap proses transformasi. Menghasilkan produk dengan biaya produksi yang rendah tanpa mengorbankan atribut kepuasan pelanggan, berarti perusahaan telah bergerak menuju keunggulan bersaingnya. Dengan biaya produksi yang rendah, perusahaan dapat menawarkan produk tersebut kepada pelanggan dengan harga yang lebih rendah relative dari pesaing tanpa mengorbankan proporsi margin yang telah direncanakan. Untuk memastikan bahwa proses produksi dan operasi telah berjalan sesuai dengan kebijakan dan strategi yang telah ditetapkan, membantu mengidentifikasi kelemahan-kelemahan yang masih terjadi yang dapat menghambat tercapainya tujuan fungsi ini dan mencari perbaikannya, perusahaan melakukan audit atas fungsi produksi dan operasi baik yang dilakukan secara adhoc maupun periodic.

B. Rumusan Masalah Dengan makalah ini diharapkan mahasiswa mampu a. Memahami audit produksi dan operasi b. Mengetahui bagaimana audit ini dapat membantu perusahaan dalam meningkatkan kinerja produksi dan operasinya.

BAB II PEMBAHASAN A. Definisi Audit Produksi Dan Operasi Audit operasional terhadap fungsi produksi atau sering disebut dengan audit produksi merupakan suatu bentuk audit yang dilaksanakan perusahaan dengan tujuan untuk mengetahui tingkat efisiensi dan efektivitas kegiatan dibidang produksi.

Selain itu, produksi juga berfungsi untuk mengukur seberapa baik manajemen menjalankan fungsi perencanaan, organisasi, pelaksanaan, dan pengawasan kegiatan produksi dan seberapa efektifkah manajemen dalam membuat keputusan yang tepat untuk mencapai tujuan produksi yang telah ditetapkan.

Menurut Bayangkara (2008:177), audit produksi melakukan penilaian secara komprehensif terhadap keseluruhan fungsi produksi dan operasi untuk menentukan apakah fungsi ini telah berjalan dengan memuaskan (ekonomis, efektif, dan efisien). Beberapa alasan yang mendasari perlunya dilakukan audit produksi, antara lain: 1. Proses produksi dan operasi harus berjalan sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan. 2. Kekurangan/kelemahan yang terjadi harus ditemukan sehingga segera dapat diperbaiki 3. Konsistensi berjalannya proses harus diungkapkan. 4. Pendekatan proaktif haras menjadi dasar dalam peningkatan proses. 5. Berjalannya tindakan korektif hams mendapat dorongan dan dukungan dari berbagai pihak yang terkait.

B. Prinsip Prinsip Umum Beberapa prinsip umum yang memberikan panduan terhadap pelaksanaan audit ini, dapat menjadikan pedoman oleh auditor dalam menjalankan tugas profesinya. Prinsip- prinsip itu antara lain : 1. Tujuan utama audit adalah untuk menentukan apakah proses produksi dan operasi yang berjalan sudah sesuai dengan criteria yang ditentukan atau tidak. 2. Auditor harus secara objektif dan sistematis mengumpulkan dan menganalisis data yang

cukup, dan relevan sebagai dasar penilaian terhadap ketaatan perusahaan dalam menerapkan criteria yang ditetapkan. 3. Auditor harus mengklarifikasi ketidaksuaian yang terjadi antara aktivitas produksi dan operasi dengan kebutuhan criteria (standart) yang telah ditetapkan dan membuat rekomendasi untuk peningkatan.

C. Tujuan dan Manfaat Audit Produksi C.1 Tujuan Tujuan pelaksanaan audit produksi menurut Bayangkara (2008:178) adalah untuk mengetahui: 1. Apakah produk yang dihasilkan telah mencerminkan kebutuhan pelanggan (pasar). 2. Apakah strategi serta rencana produksi dan operasi sudah secara cermat menghubungkan antara kebutuhan untuk memuaskan pelanggan dengan ketersediaan sumber daya serta fasilitas yang dimiliki perusahaan. 3. Apakah strategi, rencana produksi dan operasi telah mempertimbangkan kelemahan-kelemahan internal, ancaman lingkungan eksternal serta peluang yang dimiliki perusahaan. 4. Apakah proses transformasi telah berjalan secara efektif dan efisien. 5. Apakah penempatan fasilitas produksi dan operasi telah mendukung berjalannya proses secara ekonomis, efektif, dan efisien. 6. Apakah pemeliharaan dan perbaikan fasilitas dan operasi telah berjalan sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan dalam mendukung dihasilkannya produk yang sesuai dengan kuantitas, kualitas, dan waktu yang telah ditetapkan. 7. Apakah setiap bagian yang terlibat dalam proses produksi dan operasi telah melaksanakan aktivitasnya sesuai dengan ketentuan serta aturan yang telah ditetapkan perusahaan.

C.2 Manfaat Audit fungsi produksi dan operasi dapat membantu manajemen dalam menilai bagaimana fungsi produksi berjalan dalam mendukung pencapaian tujuan perusahaan secara keseluruhan, secara rinci manfaat yang diberikan oleh audit produksi adalah sebagai berikut:

1. Dapat memberikan gambaran kepada pihak yang berkepentingan tentang ketaatan dan kemampuan fungsi produksi dan operasi dalam menerapkan kebijakan serta strategi yang telah ditetapkan. 2. Dapat memberikan informasi tentang usaha-usaha perbaikan proses produksi dan operasi yang telah dilakukan perusahaan serta hambatan-hambatan yang dihadapi. 3. Dapat menentukan area permasalahan yang masih dihadapi dalam mencapai tujuan produksi dan operasi serta tujuan perusahaan secara keseluruhan. 4. Dapat menilai kekuatan dan kelemahan strategi produksi dan operasi serta kebutuhan perbaikannya dalam meningkatkan kontribusi fungsi produksi terhadap pencapaian tujuan perusahaan. D. Tahap tahap Audit Bayangkara (2008:178-180) menyebutkan tahap audit produksi meliputi: 1. Audit Pendahuluan Audit pendahuluan diawali dengan perkenalan antara pihak auditor dengan organisasi auditte. Pertemuan ini bertujuan untuk mengonfirmasi scope audit, mendiskusikan rencana audit dan penggalian informasi umum tentang organisasi auditte, objek yang akan diaudit, mengenal lebih lanjut kondisi perusahaan dan prosedur yang diterapkan pada proses produksi. Pada tahap ini auditor melakukan overview terhadap perusahaan secara umum, produk yang dihasilkan, proses produksi yang dijalankan, melakukan peninjauan terhadap pabrik(fasilitas produksi), layout pabrik, sistem komputer yang digunakan dan berbagai sumber daya penunjang keberhasilan fungsi ini dalam mencapai tujuannya. Hasil pengamatan pada tahap audit ini dirumuskan ke dalam bentuk tujuan audit sementara.

2. Review dan Pengujian Pengendalian Manajemen Pada tahap ini auditor melakukan review dan pengujian terhadap beberapa perubahan yang terjadi pada struktur perusahaan, sistem manajemen kualitas, fasilitas yang digunakan dan/atau personalia kunci dalam perusahaan, sejak hasil audit terakhir. Berdasarkan data yang diperoleh pada audit pendahuluan, auditor melakukan penilaian terhadap tujuan utama produksi dan operasi serta variabel-variabel yang mempengaruhinya. Disamping itu, pada

tahap ini auditor juga mengidentifikasikan dan mengklasifikasikan penyimpangan dan gangguan-gangguan yang mungkin terjadi yang mengakibatkan terhambatnya pencapaian tujuan produksi. Review terhadap hasil audit terdahulu juga dilakukan untuk menentukan berbagai tindakan korektif yang harus diambil.

3. Audit Lanjutan (terinci) Pada tahap ini auditor melakukan audit lebih dalam dan pengembangan temuan terhadap fasilitas, prosedur, catatan-catatan (dokumen) yang berkaitan dengan produksi dan operasi. Konfirmasi kepada pihak perusahaan selama audit dilakukan untuk mendapatkan penjelasan dari pejabat yang berwenang tentang adanya hal-hal yang merupakan kelemahan yang ditemukan auditor. Untuk mendapatkan informasi yang lengkap, relevan dan dapat dipercaya, auditor menggunakan daflar pertanyaan (audit checlist) yang ditujukan kepada berbagai pihak yang berwenang dan berkompeten berkaitan dengan masalah yang diaudit. Dalam wawancara yang dilakukan, auditor harus menyoroti keseluruhan dari ketidaksesuaian yang ditemukan dan menilai tindakan-tindakan korektif yang telah dilakukan.

4. Pelaporan Hasil dari keseluruhan tahapan audit sebelumnya yang telah diringkaskan dalam kertas kerja audit (KKA), merupakan dasar dalam membuat kesimpulan audit dan rumusan rekomendasi yang akan diberikan auditor sebagai altematif solusi atas kekurangan-kekurangan yang masih ditemukan. Pelaporan menyangkut penyajian hasil audit kepada pihak-pihak yang berkepentingan terhadap hasil audit tersebut.

5. Tindak Lanjut Rekomendasi yang disajikan auditor dalam laporannya merupakan altematif perbaikan yang ditawarkan untuk meningkatkan berbagai kelemahan (kekurangan) yang masih terjadi pada perusahaan. Tindak lanjut (perbaikan) yang dilakukan merupakan bentuk komitmen manajemen untuk menjadikan organisasinya menjadi lebih baik dari sebelumnya. Dalam rangka perbaikan ini auditor mendampingi manajemen dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengendalikan program-program perbaikan yang dilakukan agar dapat mencapai tujuannya secara efektif dan efisien.

E. Ruang Lingkup Secara keseluruhan ruang lingkup audit memuat : a. Rencana produksi dan operasi. Suatu rencana induk memuat tentang: *Jadwal induk produksi Membuat spesifikasi tentang apa yang akan dibuat dan kapan akan dibuat sesuai dengan rencana produksi. *Penilaian atas penggunaan kapasitas produksi Pertimbangan kebutuhan kapasitas berpengaruh secara mendasar terhadap jadwal produksi utama. Rencana induk produksi harus meminimalkan terjadinya kapasitas menganggur, untuk menjadikan operasi berjalan efektif dan efisien. *Tingkat persediaan *Perencanaan keseimbangan lintas produksi

b. Produktivitas dan peningkatan nilai tambah. Lean production adalah suatu metode produksi yang ramping, yang dikembangkan oleh produsen yang menggunakan focus berulang dalam rancangan prosesnya mampu secara signifikan memberikan keuntungan bagi perusahaan yang menerapkannya . Keunggulan lean production didukung oleh kebijakan dan praktik produksi yang secara maksimal mengoptimalkan penggunaan sumber daya perusahaan untuk meningkatkan keunggulan bersaingnya, kebijakan dan praktek itu meliputi : a. Penghapusan persediaan. b. Tingkat cacat no. c. Meminimalkan kebutuhan tempat. d. Kemitraan dengan pemasok. e. Tanggung jawab pemasok. f. Meminimalkan aktivitas yang tidak menambah nilai. g. Pengembangan angkatan kerja. h. Menciptakan tantangan dalam bekerja

c. Pengendalian produksi dan operasi. Tujuan utama dari pengendalian produksi dan operasi meliputi tiga hal penting dalam keunggulan bersaing perusahaan, meliputi : a. Maksimumkan tingkat pelayanan. Pengendalian harus mejamin bahwa pelayanan telah diberikan secara tepat. Beberapa elemen yang harus mendapat perhatian khusus adalah : kualitas produk, ketersediaan produk, harga yang kompetitif, penyediaan untuk stok pengaman dan penyerahan yang tepat waktu. b. Minimumkan investasi pada persediaan. Pengendalian harus mampu memandu seluruh aktivitas (utama dan pendukung) manufaktur ke dalam suatu proses yang terintegrasi, sehingga proses berjalan dengan mulus sesuai rencana dan jadwal yang sudah ditentukan. Pengendalian yang baik akan mencapai arus produksi yang mulus dengan persediaan minimum dan waktu tunggu yang pendek. c. Efisiensi produksi dan operasi: Efisiensi produksi dan operasi adalah sesuatu yang mutlak dan harus menjadi budaya kerja pada setiap bagian yang terlibat dalam proses produksi dan operasi.

Pengendalian produksi dan operasi meliputi pengendalian terhadap keseluruhan komponen dan tahapan dalam proses produksi mulai dari penangan bahan baku sampai dengan penanganan penyerahan produk jadi ke gudang . secara rinci tersebut meliputi hal-hal sebagai berikut : a. Pengendalian bahan baku. b. Pengendalian peralatan dan fasilitas produksi. c. Pengendalian transformasi. d. Pengendalian kualitas. e. Pengendalian barang jadi.

BAB III KESIMPULAN

Audit operasional terhadap fungsi produksi atau sering disebut dengan audit produksi merupakan suatu bentuk audit yang dilaksanakan perusahaan dengan tujuan untuk mengetahui tingkat efisiensi dan efektivitas kegiatan dibidang produksi. Beberapa alasan yang mendasari perlunya dilakukan audit produksi, antara lain: 1. Proses produksi dan operasi hams berjalan sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan. 2. Kekurangan/kelemahan yang terjadi hams ditemukan sehingga segera dapat diperbaiki 3. Konsistensi berjalannya proses hams diungkapkan. 4. Pendekatan proaktif haras menjadi dasar dalam peningkatan proses. 5. Berjalannya tindakan korektif hams mendapat dorongan dan dukungan dari berbagai pihak yang terkait. Dalam audit mempunyai prinsip prinsip kerja sebagai pedoman kerja auditor. Tahap audit meliputi : 1. Audit pendahuluan 2. Review dan pengujian terhadap pengendalian manajemen 3. Audit lanjutan 4. Pelaporan 5. Tindak lanjut Ruang lingkup audit meliputi : 1. Rencana produksi dan operasi 2. Produktifitas dan peningkatan nilai tambah 3. Pengendalian produksi dan operasi

PERANCANGAN PRODUK DAN SELEKSI PROSES JASA


BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Semua organisai/perusahaan mempunyai maksud dan tujuan. Mereka membuat dan menjual berbagai produk atau menawarkan jasa-jasa tertentu. Produk adalah sesuatu atau kebutuhan yang mampu memberikan kepuasan, bisa berupa barang ataupun jasa. Organisasiorganisasi perusahaan harus selalu menyesuaikan desain produk dan jenis jasa yang mereka tawarkan dengan apa yang dibutuhkan dan diinginkan para konsumen. Berbagai desain produk dan jasa baru muncul menjadi kenyataan karena seseorang percaya bahwa ada kebutuhan akan produk dan jasa tersebut. Adalah tanggung jawab para manajer untuk selalu menemukan produ-produk dan jasa-jasa baru yang mungkin ditawarkan oleh organisasi. Kemajuan teknologi yang begitu pesat, mengakibatkan segala sesuatu dengan cepat kelihatan ketinggalan zaman karena telah usang. Hal ini tentu akan sangat berpengaruh terhadap usaha bidang industri. Untuk itu, maka mereka melakukan kegiatan penelitian dan pengembangan untuk mengatasi masalah-masalah tersebut. Kegiatan dari penelitian ini sangat bermacam-macam. Kegiatan yang merupakan tujuan paling penting adalah mengenai mengembangkan berbagai produk dan jasa baru, karena kemungkinan-kemungkinan akhir suatu produk sering sangat besar dan produk baru dapat melipatgandakan bisnis organisasi. Penelitian ini bisa berupa Kombinasi antara beberapa produk dengan tujuan memaksimumkan keuntungan dan juga meminimumkan biaya, sehingga Perusahaan memperoleh banyak keuntungan/laba dengan mencapai Nilai Optimum target yang sudah direncanakan melalui penelitian tersebut. Perusahaan diciptakan untuk menghasilkan produk berupa barang dan jasa. Seiring dengan perkembangan zaman, perusahaan semakin banyak berdiri sehingga persainganpun semakin ketat. Dengan demikian, perusahaan perusahaan tersebut melakukan inovasi terhadap produk yang dihasilkan baik berupa barang dan jasa agar perusahaan tersebut dapat bersaing. Inovasi yang dilakukan dapat berupa desain atau rancangan dari produk yang akan diciptakan serta melakukan seleksi proses jasa yang akan dihasilkan.

Seperti yang kita ketahui, daya saing dan kemampuan perusahaan sebagian tergantung pada desain dan kualitas produk dan jasa yang dihasilkan. Oleh karena itu, hubungan antara inovasi produk dengan teknologi proses dan inovasi proses merupakan hal yang menarik untuk diamati. Memprediksi sifat dan dampak inovasi dapat membawa suatu perusahaan pada posisi yang lebih bersaing daripada perusahaan yang tidak mengantisipasi kejadian ini. Desain system produksi sebagian besar tergantung pada desain produk dan jasa yang dihasilkannya. Suatu produk atau jasa yang dibuat dengan suatu desain tertentu dapat sangat mahal untuk diproduksi, tetapi dapat lebih murah bila didesain lain. Dengan demikian, agar perusahaan tersebut dapat bersaing dengan perusahaan lainnya, maka perusahaan tersebut harus meningkatkan kualitas produk dan jasa yang dihasilkannya serta melakukan inovasi terhadap produk dan jasa yang dihasilkan tersebut dengan cara membuat desain/rancangan produk dan jasa serta seleksi proses jasa sehingga perusahaan tersebut dapat bersaing dan lebih unggul dari perusahaan lainnya. 1.2 Rumusan Masalah Dari latar belakang di atas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut : 1.2.1 Bagaimana perancangan suatu produk dan jasa? 1.2.2 Bagaimana antaraksi antara disain produk-jasa dan disain sistem produksi? 1.3 Tujuan Adapun tujuan yang dari penulisan makalah ini adalah : 1.3.1 Untuk mengetahui perancangan suatu produk dan jasa. 1.3.2 Untuk mengetahui antaraksi antara disain produk-jasa dan disain sistem produksi. 1.4 Manfaat 1.4.1 Dapat mengetahui perancangan suatu produk dan jasa. 1.4.2 Dapat mengetahui antaraksi antara disain produk-jasa dan disain sistem produksi.

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Perancangan Produk dan Jasa a. Perancangan Produk Kemungkinan diproduksinya dan biaya produksi yang paling minimum untuk suatu produk pada mulanya ditentukan oleh pendesain produk. Insinyur produksi yang paling pintar pun tidak dapat mengubah keadaan ini, ia hanya dapat bekerja dalam batasbatas desain produk. Karena itu, waktu yang nyata untuk mulai berfikir tentang caracara dasar produksi untuk produkproduk adalah selama produk itu masih dalam tingkat desain. Usaha untuk merencanakan kemungkinan diproduksinya dan biaya pemabrikan yang rendah disebut desain produksi, untuk membedakannya dari desain fungsional. Yang pasti adalah bahwa tanggung jawab pertama pendesain produk adalah menciptakan sesuatu yang secara fungsional memenuhi persyaratan. Tetapi, begitu persyaratan fungsional terpenuhi, biasanya ada desain -desain pengganti, yang semuanya memenuhi persyaratan fungsional. Dengan adanya desain, perancangan proses untuk pempabrikan harus dilaksanakan untuk menentukan secara terperinci prosesproses yang diperlukan dan urutannya. Desain produksi mulamula menentukan biaya yang paling minimum yang dapat dicapai melalui faktor -faktor seperti perincian bahan, teloransi, dan metodemetode penyatuan sukusuku. Perencanaan proses produksi terakhir lalu mencoba mencapai biaya minimum tersebut melalui perincian prosesproses dan urutanya yang memenuhi persyaratan. Dalam melaksanakan fungsifungsinya, perencana proses menentukan desain dasar sistem produktif. Dalam perancangan dan pengembangan produk, hal yang paling penting adalah gagasan atau ide. Meskipun penelitian memberikan dasar bagi pengembangan aplikasiapliaksi inovatif, gagasan-gagasan datang dari berbagai sumber dan bukan hanya dari para peneliti. Setiap orang dalam organisasi adalah sumber gagasan potensial. Oleh karena itu, perusahaan menciptakan suasana yang inovatif dalam oragnisasinya. Perusahaan pertama yang memasarkan produk atau jasanya hampir selalu mempunyai keuntungan sebagai yang pertama. Masalah yang sering dihadapi adalah adanya perusahaan yang meniru produk mereka atau bahkan memperbaiki produk mereka.

1. Product Life Cycles Dalam kaitan dengan perancangan dan pengembangan produk, harus mengetahui mengenai konsep Life Cycles. Konsep ini menyatakan bahwa hampir semua produk baru yang ditawarkan kepada masyarakat akan menjalani suatu siklus kehidupan yang etrdiri atas 4 (empat) tahap dalam periode waktu terbatas. Secara ringkas keempat tahap PLC tersebut dapat diperinci sebagai berikut : a. Tahap pengenalan (introduction) Dalam tahap ini, operasi penjualan tidak selalu bekerja baik. Masih terdapat masalah keterlambatan dalam perluasan kapasitas produksi, masalah-masalah teknis yang belum dapat diatasi, dan harga tinggi. b. Tahap pertumbuhan (growth) Dalam tahap ini, produk diperbaiki dan distandardisasi, menajdi dapat diandalkan dalam pengguanan dan harga lebih rendah, serta para konsumen membeli dengan sedikit desakan. Kuantitas penjualan perusahaan akan meningkat cukup besar. c. Tahap kejenuhan (maturity) Volume penjualan mulai menurun pertambahannya karena setiap orang atau pembeli potensial sekarang telah memiliki produk, sehingga penjualan sangat tergantung pada penggantian dan pertambahan penduduk. d. Tahap penurunan (decline) Tahap penurunan yaitu tahap penurunan dalam permintaan terhadap produk. Hampir semua produk akan mengalami tahap keempat ini, oleh karena itu perusahaan harus senantiasa bekerja pada pengembangan produk-produk baru untuk menggantikan produkproduk lama.

2. Kecenderungan dalam Pengembangan Produk Ada beberapa alasan adanya pengembangan produk, antara lain : a. Banyak perusahaan mengurangi macam produk dan menghentikan pembuatan barangbarang dalam garis produknya yang hanya menguntungkan secara marginal. b. Banyak perusahaan sedang mencoba untuk menyederhanakan produk-produk mereka melalui perancangan kembali bagian-bagian dan komponen-komponen sehingga unit-unit dengan jumlah lebih sedikit akan melakukan pekerjaan yang sama. 3. Proses Pengembangan Produk Baru Proses pengembangan produk baru, terdiri 5 langka sebagai berikut : a. Pencarian gagasan Sumber utama gagasan-gagasan produk baru adalah dari pasar atau teknologi yang telah ada. Gagasan pasar merupakan berbagai kebutuhan dan keinginan para konsumen yang belum terpenuhi. b. Seleksi produk Gagasan-gagasan tersebut dianalisis dengan kriteria antara lain : potensi pasar, kelayakan finansial, dan kesesuaian operasi. Tujuan analisis adalah untuk menyaring gagasangagasan yang jelek, karena menerima suatu gagasan jelek dan mengembangkan menjadi suatu produk akan membuat perusahaan rugi. c. Disain produk pendahuluan Bersangkutan dengan pengembangan desaian terbaik bagi gagasan produk baru. d. Pengujian (testing) Pengujian terhadap prototype-prototype ditujukan pada pengujian pemasaran dan kemampuan teknikal produk. Salah satu cara yangd apat dilakukan adalah dengan melakukan uji pasar.

e. Disain akhir (final) Dalam tahap ini, spesifikasi-spesifikasi produk dan komponen-komponennya dan gambar-gambar eprakitan disusun yang memberikan basis bagi proses produksinya. Pengembangan produk baru, bukanlah pekerjaan yang mudah karena adanya berbagai hamabtan, antara lain : a. Kurangnya gagasan (ide) pengembangan produk baru yang baik. Kondisi pasar yang semakin bersaing, akerna banyaknya pesaing dan berbagai produk substitusi. b. Batasan-batasan yang semakin bertambah dari masyarakat dan pemerintah. c. Biaya proses pengembangan produk baru yang sangat mahal. d. Tingginya tingkat kegagalan produk baru dalam pemasarannya, karena ternyata tidak memenuhi pengharapan konsumen atau tidak memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen. e. Jangka waktu kehidupan produk bau yang pendek. 4. Disain Produk dan Spesifikasi Kualitas Berbagai keputusan harus dibuat manajemen sehubungan dengan desaian produk dan jasa, antara lain : a. Manajemen harus membuat keputusan yang menyangkut trade-off antara bentuk dan fungsi. b. Para perancang harus membuat keputusan tentang bahan-bahan yang digunakan. Dalam pembuatan pilihan bahan diantara berbagai kemungkinan yang ada, para perancang perlu selalu mempertimbangkan faktor-faktor : kebutuhan spesifikasi produk atau komponen, biaya-biaya bahan relatif, dan biaya-biaya pemrosesan relatif.

Keputusan-keputusan lain juga harus memperhatikan : a. Desain Modular (Modular Design) Untuk mengambangkan serangkaian komponen-komponen produk dasar yang dapat dirakit menajdi sejumlah besar produk yang berbeda-beda. Bila suatu komponen atau subrakitan dapat digunakan dalam beberapa produk atau dalam sekelompok produk, maka biaya produksi dapat ditekan. Jadi desain modular adalah suatu cara untuk menghasilkan beragam produk dengan tetap mempertahankan jumlah komponen dan sub-rakitan pada suatu tingkat yang wajar. Dengan komponenkomponen yang di desain modular, kita dapat menikmati keuntungan akibat volume dan kurva pengalaman, sementara tetap dapat menawarkan ragam produk di pasaran. b. Diversifikasi Diversifikasi adalah kesempatan untuk menambah atau memperluas macam produk yang dibuat dan dijual. Kebaikannya adalah kemampuan untuk menawarkan lebih banyak pilihan kepada para langganan, sedangkan kelemahannya akan membuat fungsi pemasaran makin sulit, karena terlalu banyak macam produk akan membingungkan langganan. c. Standarisasi Standarisasi adalah sesuatu yang agak lain, yaitu proses penentuan spesifikasi ukuran, bentuk, dan karakteristik-karakteristik lain pada barang-barang yang dibuat. Produk pesanan memang cenderung lebih mahal daripada produk standar, tetapi manager harus berusaha mencapai kaseimbangan yang dapat diterima oleh klien dan pelanggan. Dengan keseimbangan yang sesuai akan didapatkan keuntungan ekonomis dari standarisasi. Pos pos biaya yang terpengaruh adalah persediaan bahan baku, persediaan barang setangah jadi, biaya set-up, pemanfaatan waktu produksi yang lebih panjang, pengendalian kualitas yang lebih baik dengan ragam produk yang lebih sedikit, kesempatan untuk mekanisasi dan otomasi, pembalian yang lebih menguntungkan, pemanfaatan tanga kerja yang abih baik, biaya pelatihan yang lebih rendah, dan sebagainya.

d. Penyederhanaan. Bila dua tau lebih komponen yang pada akhirnya dirakit menjadi satu secara ketat, ada kemungkinan unit tersebut dapat didesain sebagai satu kesatuan, sehingga menghilangkan operasi perakitan. Hal ini kerap kali dapat dilakukan bila suatu jenis material tunggal dapat memenuhi persyaratan untuk semua permukaan komponen tersebut. Contoh lain ialah penggantian tutup plastik tekan untuk berbagai keperluan. Biaya material dan tenaga kerja pada tutup tekan sangat lebih murah. e. Reliabilitas (keandalan) Reliabilitas adalah probabilitas bahwa suatu komponen atau produk akan aus pada lama waktu tertentu di bawah kondisi penggunaan normal. f. Konflik-konflik Disain Konflik yang timbul lebih sering diakibatkan karena orang-orang produksi, teknisi, pemasaran, dan keuangan dalam organisasi sering mempunyai tujuan-tujuan yang berbeda. g. Dimensi kulaitas pada disaian produk Kualitas merupakan faktor yang terdapat dalam suatu produk yang menyebabkan produk tersebut benilai sesuai dengan maksud untuk apa produk itu diproduksi. b. Perancangan Jasa Meskipun tidak ada istilah yang tepat sesuai untuk menguraikannya, proses yang serupa dengan desain produksi juga terdapat pada jasa, yang terjadi dan menggambarkan antaraksi antara desain jasa yang ditawarkan dengan desain sistem produksinya. Perancangan produk dan perancangan jasa tidak mempunyai perbedaan secara mendasar, hanya dalam suatu organisasi jasa, pelayanan yang diberikan merupakan produk-nya. Organisasiorganisasi jasa biasanya lebih fleksibel dan dapat merubah kegiatan-kegiatan mereka lebih cepat dibanding perusahaan-perusahaan manufaktur. Motivasi untuk mengubah jasa ang ditawarkan dapat berupa faktorfaktor biaya atau kualitas jasa yang diukur sebagai prestasi

waktu dan dimensidimensi lainnya. Beberapa macam penyesuaian dalam bentuk jasa yang ditawarkan adalah sebagai berikut : 1. Pengalihan berbagai kegiatan yang bersangkutan dengan jasa kepada klien dan pelanggan. Hal ini merupakan teknik penurunan biaya yang paling lazim. Dalam rumah sakit, pasar swalayan, dan jasa penyediaan makanan siap santap, pasien atau pelanggan menjalankan beberapa kagiatn yang semula merupakan bagian dari jasa itu. Hasilnya biasanya berupa turunnya biaya tenaga kerja dan hilangnya beberapa kegiatan yang semula dilaksanakan oleh system produksinya. 2. Menghilangkan beberapa aspek jasa secara keseluruhan. 3. Mengubah bauran jasa yang ditawarkan. 4. Mengubah waktu reaksi untuk jasa, yaitu memberikan jasa yang kurang baik dengan menerapkan sumber daya yang lebih sedikit pada system operasinya. 5. Mengubah aspekaspek lain dari kualitas jasa, mungkin berupa perubahan ragam jasa yang ditawarkan. Contoh : (Yourdon, 1970) Suatu penelitian simulasi menyangkut jasa komputer memberikan sebuah contoh. Empat bauran jasa komputasi ditawarkan oleh suatu biro jasa: 100 persen bagi-waktu (time sharing), 100 persen proses batch dan dua alternative lainnya merupakan campuran bagiwaktu dan proses batch menurut jadwal yang telah ditentukan. Suatu program komputer dikembangkan untuk mensimulai operasi dengan empat campuran bauran jasa tersebut dengan memperhitungkan asumsi asumsi pada penjualan yang dihasilkan, kapasitas dan semua jenis biaya. Program selanjutnya menghitung laporan rugi laba, waktu yang diperlukan untuk mencapai titik pulang pokok dan kemampulabaan. Meskipun hanya satu konfigurasi alat yang dipakai, program yang sama dengan mudah dapat dipakai untuk melakukan perhitungan yang sama pada tiga atau lebih mesin dasar seperti IBM 360/50, GE-265 dan XDS-940. Ketiga mesin tersebut mempunyai kapasitas yang ketersediaan perangkat lunak yang berbeda- beda dan biaya sewa perbulan yang bervaiasi. Hasil akhir dari penelitian ini menggabungkan estimasi

pasar dan proyeksi, desain jasa yang ditawarkan dan antaraksinya dengan konfigurasi alat (desain sistem produksi, menurut istilah kita). Kombinasi yang menghasilkan laba maksimum kemungkinan yang akan dipilih. 2.2 Antaraksi antara Disain Produk-Jasa dan Disain Sistem Produksi Pada tingkat industri yang luas terdapat antaraksi antara disain produk-jasa dan disain sistem produksi. Baik disain produk maupun disain jasa dapat tersangkut disini, misalnya dalam industri komputer dan transportasi, puncaknya berada pada jasa dan bukan pada produk fisik. Proses serupa terjadi juga dalam suatu perusahaan, di mana disain produk dan jasa sebagian tergantung pada disain sistem produksinya, dan sebaliknya. a. Antaraksi antara Disain Produk dan Disain Sistem Produksi Produksibilitas (tingkat kemudahan untuk diproduksi) dan biaya produksi minimum yang mungkin untuk suatu produk pada mulanya ditetapkan oleh pendisain produk. Prekayasa produksi yang terpandai pun tak dapat mengubah keadaan ini. Ia dapat bekerja hanya dalam batasan-batasan produk yang telah ditetapkan sebelumnya. Karenanya, saat yang tepat untuk mulai berpikir tentang cara-cara produksi dasar dari produk tersebut ialah pada tahap disain. Upaya suara sadar mendisain untuk mendapatkan produksibilitas dan biaya manufaktur yang rendah disebut sebagai disain produksi untuk membedakannya dari disain fungsional. Tepatnya, tanggung jawab pertama pendisain produk ialah menciptakan sesuatu yang secara fungsional memenuhi persyaratan-persyaratan. Tetapi, umumnya bisa didapatkan beberapa disain alternatif yang kesemuanya memenuhi persyaratan fungsional itu. Disain yang diciptakan dengan baik telah menyempitkan pilihan yang tersedia dan menentukan spesifikasinya. Misalnya kasting pasir, yang sesuai dari sudut pandang fungsi dan biaya. Berdasarkan disain yang ditetapkan, perencanaan proses manufaktur dilakukan dengan menetapkan rincian spesifikasai proses yang dibutuhkan dan urutannya secara cermat. Disain produksi pertama kali menetapkan biaya minimum yang mungkin dan dapat dicapai melalui berbagai faktor, seperti spesifikasi bahan, toleransi, konfigurasi dasar dan metode perakitan. Perencanaan akhir suatu proses kemudian mencoba mencapai tingkat biaya minimum itu melalui spesifikasi proses dan urutannya untuk memenuhi persyaratan disain yang telah digariskan secara tepat. Disini perencanaan proses dapat bekerja dalam keterbatasan-keterbatasan peralatan yang tersedia. Tetapi, bila volume cukup besar dan

disainnya stabil, atau keduanya, perencana proses dapat juga mempertimbangkan peralatan khusus termasuk proses-proses otomatis dan semi otomatis serta mungkin tata letak yang khusus. Dalam melaksanakan fungsinya, perencanaan proses telah menetapkan disain dasar sistem produksi. Falsafah yang mendasari disain produksi adalah bahwa umumnya selalu terdapat bermacam-macam disain yang masih memenuhi persyaratan fungsional. Disini kita harus memperluas pemikiran kita, karena daerah-daerah biaya yang dapat dipengaruhi oleh disain cenderung lebih luas daripada apa yang kita pikirkan. Adapun komponen-komponen biaya yang sudah pasti pengaruhnya berupa biaya tenaga kerja langsung dan biaya material langsung. Tetapi, ada juga yang tidak sedemikian jelas pengaruhnya seperti pada biaya perawatan, biaya pemasangan alat-alat, biaya tenaga kerja tak langsung, dan biaya manufaktur. b. Antaraksi antara disain jasa dan disain sistem produksi Antaraksi antara disain jasa yang ditawarkan dan disain sistem produksinya untuk berbagai macam jasa dapat dilihat pada tabel di bawah ini: Jasa Jenis perubahan pada jasa Jenis perubahan sistem untuk menampung kebutuhan produksi sistem produksinya menampung untuk kebutuhan

dari jasa yang ditawarkan Pelayanan perawatan Spesialisasi dengan tingkatan Perubahan tata letak dan di rumah sakit untuk menghemat biaya penjadwalan aktivitas

(misal perawat pembantu) Pasar makanan Swalayan biaya untuk menekan Perubahan tata letak dan tata arus. Keseimbangan jumlah meja bayar untuk mempertahankan standar waktu Jasa pos Pengurangan pelayanan untuk Introduksi menekan biaya (misal: jumlah semiotomatis hantaran surat per hari) pemilahan alat untuk (sorting).

Perbaikan sebagainya

sistem

dan untuk waktu

memperbaiki penyampaian Jasa makanan

Penghapysa pelayanan untuk Perubahan tata letak dan menekan biaya, seperti pada tata arus kafetaria, mengiurangi dan biaya juga waktu pada untuk tunggu penyalur

makanan masal Jasa komputer (misal Perubahan bauran jasa yang Perubahan dalam biro jasa) ditawarkan waktu, (misalnya batch, bagi peralatan konfigurasi (misalnya,

proses

dan mesin dasar dan peralatan perifer)

sebagainya) Perlindungan kebakaran Kenaikan waktu atau reaksi

penurunan Relokasi pospos siaga dalam dan/atau penambahan/pengurangan pospos tersebut untuk mempertahankan standar waktu reaksi

memberikan pelayanan

Perlindungan polisi

Kenaikan waktu

atau reaksi

penurunan Peningkatan dalam penurunan polisi. jumlah

atau staf staf

memberikan pelayanan

Relokaso

berdasarkan pola kriminal yang selalu berubah Pelayanan darurat medis Kenaikan waktu atau reaksi. penurunan Relokasi pospos anbulan Perubahan dan/atau penambahan

bauran jasa

yang tersedia atau pengurangan pos pos untuk

untuk keadaan gawat

mempertahankan standar waktu reaksi. Perubahan alat dan/atau tingkat

pelatihan paramedis.

Jasa kabin pesawat

Perubahan penumpang

rasio

ratarata Peningkatan usahausaha terhadap humas melalui media.

pramugara/i. Menghilangkan jasa dan mengurangi kualitas jasa untuk menekn biaya

BAB III PENUTUP 3.1 Simpulan Adapun simpulan dari pembahasan di atas adalah sebagai berikut :

Dalam perancangan dan pengembangan produk, hal yang paling penting adalah gagasan atau ide.

Perancangan produk dan perancangan jasa tidak mempunyai perbedaan secara mendasar, hanya dalam suatu organisasi jasa, pelayanan yang diberikan merupakan produk-nya. Organisasi-organisasi jasa biasanya lebih fleksibel dan dapat merubah kegiatan-kegiatan mereka lebih cepat dibanding perusahaan-perusahaan manufaktur.

Pada tingkat industri yang luas terdapat antaraksi antara disain produk-jasa dan disain sistem produksi.

3.2 Saran Adapun saran yang dapat penulis sampaikan adalah bahwa setiap perusahaan harus melakukan disain/perancangan terhadap produk maupun jasa yang akan dibuat agar perusahaan-perusahaan tersebut dapat bersaing dan lebih unggul dari perusahaan lainnya.