Anda di halaman 1dari 6

KEMIRINGAN EKLIPTIKA Studi Kitab Al-Qanun Al-Masudi (Canon Masudicus) Al-Biruni Oleh : Suhardiman Abstrak : True Obliquity dalam

bahasa Indonesia dikenal sebagi kemiringan ekliptika, selai n itu dikenal juga dengan istilah Mail Kul yaitu kemiringan ekliptika dari equat or. Dalam kitab Al-Qanun Al-Masudi juga membahas tentang bagaimana penentuan kemi ringan ekliptika yang dilakukan oleh Al-Biruni, yang selama beberapa puluh tahun pada masa itu tidak ditemukan secara akurat berapa nilai dari kemiringan eklipt ika. Berkat ketekunan dan kesabarannya, Al-biruni dapat melakukan penentuan kemi ringan ekliptika dengan akurasi yang sangat tinggi pada saat itu dengan kondisi dan sarana seadanya. Tentu hal ini merupakan penemuan yang luar biasa bagi perke mbangan dunia astronomi selanjutnya, karena setelah penemuannya ini ia melanjutk annya penelitian mengenai kecondongan (inklinasi) kemiringan ekliptika oleh masi ng-masing planet. Oelah karena itu makalah ini hendak mengupas tentang bagaimana penentuan kemiringan ekliptika menurut Al-Biruni serta tingkat keakurasianya. Keyword : Akurasi, Ekpliptika, Ekuator. A. Pendahuluan Ketika bumi bergerak mengitari matahari di bidang Ekliptika, bumi juga sekaligus berotasi terhadap sumbunya. Penting untuk diketahui, bahwasanya sumbu rotasi bu mi tidak lah sejajar dengan sumbu bidang ekliptika atau dengan kata lain, bidang ekuator tidak sejajar dengan bidang ekliptika, tetapi membentuk sudut kemiringa n ( = epsilon ) sebesar kira-kira 23,5 derajat. Sudut kemiringan ini sebenarnya tidak bernilai konstan sepanjang waktu. Nilainya semakin lama semakin mengecil . Kemiringan ekliptika itu tidak tetap pada tahun 1100 SM kemiringan itu tercatat sebesar 22 54 . Kemudian pada tahun 350 SM tercatat 23 49 . Pada tahun 1800 M terc atat 23 27 55", pada tahun 1900 M tercatat sebesar 23 27 09" dan pada tahun 2000 M sebesar 23 26 16. Oleh karena itu, kemiringan ekliptika ini berubah sekitar 0.468 " setiap tahun.

Gambar : Sistem Koordinat Ekuator Geosentrik Pusat koordinat: Bumi Bidang datar referensi: Bidang ekuator, yaitu bidang datar yang mengiris bumi me njadi dua bagian melewati garis khatulistiwa Koordinat: jarak benda langit ke bumi. Alpha = Right Ascension = Sudut antara VE dengan proyeksi benda langit pada bida ng ekuator, dengan arah berlawanan jarum jam. Biasanya Alpha bukan dinyatakan da lam satuan derajat, tetapi jam (hour disingkat h). Satu putaran penuh = 360 dera jat = 24 jam = 24 h. Karena itu jika Alpha dinyatakan dalam derajat, maka bagila h dengan 12 untuk memperoleh satuan derajat. Titik VE menunjukkan 0 h. Delta = Declination (Deklinasi) = Sudut antara garis hubung benda langit-bumi de ngan bidang ekliptika.Nilainya mulai dari -90 derajat (selatan) hingga 90 deraja t (utara). Pada bidang ekuator, deklinasi = 0 derajat. 1. Sistem Koordinat Ekuator Geosentrik Kemiringan sumbu bumi terhadap ekliptika kiranya perlu diperhatikan pula, karena kemiringannya itu tidak tetap, mirip perubahan sumbu gangsing. Perubahan ini me ngakibatkan adanya gerak goyang pada bumi sebesar 50,24" per tahun yang disebut

Presesi atau Dahriyah atau Mubadaratul I tidalain. Gerak presesi ini ke arah yan g berlawanan dengan arah rotasi bumi, yakni ke arah barat kalau dilihat dari kut ub utara langit, dan akan kembali ke posisi semula dalam jangka waktu sekitar 25 .796 tahun. Selain presesi dikenal juga gerak nutasi yaitu gerak gelombang dalam gerak prese si. Jadi gerak presesi itu tidak lurus, melainkan bergelombang yang membentuk li ngkaran kecil. Gerak nutasi membentuk satu lingkaran kecil penuh (360) memerlukan waktu sekitar 18.66 tahun, sehingga gerak nutasi sebesar 00 03 10.15" perhari. Selamjutnya ada juga yang disebut Gerak apsiden adalah gerak titik aphelium dan perihelium bergeser dari arah timur ke barat. Pergeseran titik aphelium dan pere helium ini menempuh sekali putaran (360) selama sekitar 21.000 tahun, sehingga ge rak ini sebesar 0.17" perhari. 2. Sistem Koordinat Ekliptikal Lingkaran primer dalam sistem koordinat Ekliptika (SK-ekl) adalah lingkaran ekli ptika atau disebut ekliptika. Lingkaran ekliptika merupakan lingkaran besar has il perpotongan bidang Ekliptika (bidang orbit Bumi mengelilingi Matahari) dengan Bola langit. Titik kutub lingkaran Ekliptika adalah titik Kutub Utara Ekliptika (KEU) dan titik Kutub Selatan Ekliptika (KES). Dalam SK-ekl, posisi benda langi t digambarkan dalam dan . Lambda () adalah bujur SK-ekl, yang diukur dari titik Ar ies () ke posisi sepanjang bidang ekliptika ke arah timur. Sedangkan beta () adala h lintang SKH, yang diukur dari bidang ekliptika. Tanda Positif (+) merupakan simbol untuk diatas bidang ekliptika, dan negatif () untuk dibawah bidang ekliptika. Selanjutnya titik Aries merupakan salah satu t itik potong antara ekuator langit dengan lingkaran Ekliptika (atau disingkat den gan nama Ekliptika yaitu tempat menyeberang Matahari dari belahan langit selatan ke belahan langit utara Lintang dan bujur Ekliptika titik Aries masing-masing a dalah nol derajat ( Aries = 0 dan Aries = 0). Ekliptika dengan Ekuator Langit membentuk sudut kemiringan ekliptika, e, sebesa r 23.5 . Bujur Ekliptika sebuah benda langit mempunyai harga 0 <= <= 360 (<= : kur ang dari atau sama dengan) atau bila dinyatakan dalam jam adalah 0 jam <= <= 24 jam. Harga lintang Ekliptika sebuah benda langit terletak antara +90 (titik Kutu b Utara Ekliptika) dan dari -90 (titik Kutub Selatan Ekliptika) atau -90 <= <= +90.

Gabungan Sistem Koordinat Ekliptik - Sistem Koordinat Ekuatorial Gabungan Sistem Koordinat Ekliptik - Sistem Koordinat Ekuatorial dan Sistem Koordinat Horizontal pengaruh kemiringan ekliptika B. Pembahasan 1. Kemiringan Ekliptika menurut Al-Biruni Pada 1031, Biruni menyelesaikan sebuah ensiklopedi yaitu Kitab al-Qanun al-Masudi ( Latin sebagai Canon Masudicus) yang merupakan karya besar mengenai astronomi, geografi, dan teknik. Nama Masud adalah putra Mahmud dari Ghazni , kepada siapa i a mempersembahkan buku itu. Ilmu astronomi abad pertengahan menetapkan bahwa sudut kemiringan ekliptika terh adap ekuator tidak selalu sama, tetapi berubah dengan waktu. Penentuan besaran kemiringan ekliptika ini merupakan subjek penyelidikan dan pengamatan sejak lama bagi sejumlah astronom. Untuk keperluan ini ditemukan berbagai sarana dan pengg unaan dan peralatan. Para astronom kuno menentukan kemiringan ekpliptika dengan bantuan gnomon (sema cam jam-matahari) dan dengan kuadrant dari bangunan batu. Ilmuan pendahulu, ast

ronom terkenal Khodjandi pada akhir abad ke-10 untuk pertama kalinya menggunakan sekstant dengan diameter 40m, guna menentukan kemiringan ekliptika terhadap ek uator, didalam sejarah astronomi alat ini muncul dengan nama Sekstant Fakhri. Pada tahun 891, Astronom Timur yang terkenal, Al-Battani juga melakukan pengamat an yang sama dan memperoleh nilai kemiringan ekliptika 23 35. Oleh karena itu Al-B iruni kemudian menyusun tabel besaran kemiringan tersebut dari hasil pengamatann ya sebagai astronom dan memberikan perhatian kepada para ilmuan yang menurut pen dapatnya, memeberikan angka yang cukup berselisih. Khususnya, dalam hal ini Al-B iruni menunjuk data dari Khodjandi yang juga berbeda dengan data para astronom lainnya. Al-Biruni sendiri melakukan pengukuran pertama untuk kemiringan ekliptika pada t ahun 995, sebagaimana teradapat dalam kutipannya sebagai berikut : Pada tahun 995 dan 996 saya melakukan pengukuran astronomi dengan bantuan kuadra t yang memiliki diameter 15 lokti (7,5m), saya mengamati kemiringan ekliptika. Pe ngamatan teliti menentukan keberadaan matahari pada musim salju dan musim panas menemukan besaran kemiringan terhadap ekuator sebesar 233545 Pengamatan tersebut dilakukan oleh Al-Biruni di kota Kyat (kini Khiva) yang terl etak pada garis lintang utara 4136. Pada waktu Al-Biruni pindah dari kota Kyat ke kota Urgench, ia mulai lagi mengerjakan pengamatan itu sampai tahun 1016, serta mengumumkan data baru tentang kemiringan ekliptika, berdasarkan data-data terseb ut kemiringan ia menemukan besaran nilai kemiringan ekliptika sebesar 2335 50. S anjutnya karena masih merasa tidak puas dengan hasil yang diperoleh, Al-Birun i melanjutkan pencarian dengan jalan dan sarana baru untuk penentuan kemiringan ekliptika yang lebih teliti. Setelah tinggal di kota Gazna, yang terletak di gar is Lintang Utara 3335, ia memulai lagi mengamati kemiringan ekliptika. Pada tahun 1020, ia menetapkan untuk kemiringan itu sebesar 23340. Bilangan terakhir ini ia an ggap benar, dan seterusnya ia menggunakannya untuk berbagai perhitungan. Karena menekankan sangat pentingnya ketelitian besaran kemiringan ekliptika, AlBiruni sejak awal telah melakukan kerja kerasnya. Ia secara rinci mempelajari se mua karya para astronom timur dan semua jenis instrument untuk tujuan ini. Hingg a pada tahun 995, Al-Biruni membangun kuadrant dinding berdiameter 7,5m. dengan bantuan alat ini selama dua puluh tahun (sejak tahun 995 sampai 1016) di observa torium Khorezmi, ia telah tiga kali melakukan pengamatan untuk menentukan kemiri ngan ekliptika. Pada tahun 1017, setelah kedatangannya di Gazna ia melanjutakan pekerjaannya itu . Hasil dari penyelidikan yang telah dilakukan selama bertahun-tahun dalam penel itiannya ini ditulis dalam bukunya Al-Qanun Al-Masudi (Kanon Masud) dalam Bab I ba g 4 tentang besaran sudut perpotongan antara ekuator dengan zodiak, atau tentang sudut kemiringan terbesar. Pada awal pengerjaan, Al-Biruni menyajikan data penentuan kemiringan dari astron omi lain. Ia menuliskan bahwa pada tahun 230 sebelum masehi, Erastosthenes menga mati tinggi matahari pada tengah hari musim salju dan musim panas, dengan pengam atn itu diperoleh angka sebesar 23 51. Hipparchus dan Ptolemeus membenarkan angka itu, karena sama dengan angka hasli pengamatannya yang mereka lakukan. Dengan didapatkannya nilai dari kemiringan ekliptika pada saat itu, Al-Biruni ke mudian menyelidiki perbedaan nilai itu menurut waktu, yakni dari abad ke abad. A nalisis berbagai penentuan sebelumnya oleh para astronom kuno dan timur pada aba d pertengahan. Al-Biruni sangat yakin bahwa kemiringan ekliptika tidaklah tetap dibandingkan dengan pengukuran purba (Eratosthenes, tahun 230 SM yaitu 2351) diman a kemiringan ekliptika selalu berkurang. Pengamatan Tampat Tahun Hasil Rumus Newcomb Selisih Pengamatan Arab 776 - 786 23 31 233552,8 -4,52, 8 Yahya Bin Abi Mansur Bagdad 829 23 33 233330 -230 O s rvatoruim Damaskus Damaskus 830 23 3352 233529,35 -137,5 Khor zmi Ba dad 840 23 51 233524,8 +1513,2 Hasan Samara 857 23 35 30 233516,9 +13,1 B nu Musa Samara 870 23 35 233510,8 -10,8 Far ani 870 23 35 233510,8 -10,8 Battani Rakka 880 23 35 23356,1 -6,1

Ta it Bin Qura 901 23 3330 233556,2 -126,2 Sufi Shiraz 965 23 3345 233526,3 -41,3 A u Wafa Bagdad 987 23 35 233516 +44 Khodjandi Rai 994 23 3221 233512,7 -151,7 I nu Yunus Kairo 1001 2335 23359,4 +50,6 Ta T ntan pengukuran kemiringan ekliptika terhadap ekuator menurut pengamatan para astronom timur abad pertengahan sebelum Al-Biruni Al-Biruni menyatakan bahwa walau bagaimanapun data-data yang dipaparkan oleh dar i para ilmuwan tidak cermat, secara keseluruhan data itu menunjukkan penurunan m enurut waktu (dari abad ke abad). Menurut perhitungannya penurunan kemiringan (p resesi) selama 100 tahun adalah 52,6. Para astronom barat yang belakangan menekun i penentuan kemiringan ekliptika terhadap ekuator dan perubahannya menurut waktu , sampai begitu lama tidak dapat menjelaskan perubahan menurut waktu itu seperti yang diungkapkan oleh Al-Biruni. Menurut penentuan dan dari data yang mutakhir saat ini bahwa berkurangnya kemiringan ekliptika menurut waktu (presesi) nilainy a 46,8 tiap abad. 2. Tingkat Akurasi Penentuan Kemiringan Ekliptika Untuk menilai sampai berapa jauh ketelitian hasil yang didapatkan oleh Al-Biruni mengenai kemiringan ekliptika, saat ini dapat digunakan rumus Newcomb : = 23278,2 6 0,4684 (t-1900) dalam perhitungan ini t adalah angka tahun yang dihitung dari ta hun acuan 1900 masehi. Adapun angka sesungguhnya yang diperoleh dari rumus ini a dalah = 23278,26 + 0,4684 x 880 = 23340,45. Jika diperhatikan kondisi dan sarana yang ada pada saat itu, maka dapat dilihat betapa cermat dan akuratnya pengukuran besaran kemiringan Al-Biruni pada awal ab ad ke-11 tersebut. meskipun demikian, perlu dicatat bahwa disini belum diperhati kan defraksi (pembiasan oleh atmosfir) pada saat pengamatan. Dengan telah dipastikannya nilai dari kemiringan ekliptika = 2334, Al-Biruni kemu dian menyelidiki sudut kecondongan/kemiringan (inklinasi) masing-masing titik pa da ekliptika. Untuk menjawab permasalahan ini ia menjelaskannya pada bab dua bag ian keempat dalam kitab Al-Qanun Al-Masudi, Al-Biruni menyatakan bahwa untuk memp eroleh nilai kecondongan (inklinasi) masing-masing titik pada ekliptika, perlu d iketahui jarak titik itu terhadap garis gerak harian hari yang akan dikalikan de ngan sinus sudut kemiringan ekliptika. Bukti rumus trigonometri ini dapat diliha t pada gambar berikut ini : Melihat mana yang telah diketahui, panjang AB atau CB, dapat digunakan aturan si nus (karena sudut TCA sebesar 90) a) Lengkung CB = Lengkung AB, sin CAB b) Lengkung AB = lengkung AC Cos CAB C. Kesimpulan Kemiringan eliptika ternyata sejak zaman dahulu memang tidak tetap dan mengalami pergeseran / pengurangan dari besaran harganya, hal ini ternyata mengundang dan menarik perhatian para astronom untuk melakukan penyelidikan dan percobaan men genai besaran harga kemiringan tersebut. Hal ini juga telah membuat para ilmuan maupun astronom pada masa itu menemukan berbagai alat / instrument yang digunak an untuk mengukur dan menentukan nilai kemiringan ekliptika. Setidaknya dari pem bahasan ini dapat dapat ditarik kesimpulan bahwa Al-Biruni merupakan seorang ast ronom yang tak kenal lelah dalam melakukan pekerjaannya dan memiliki perhatian y ang tinggi terhadap astronomi, hal ini dibuktikan dengan penelitiannya selama ku rang lebih dua puluh tahun ia gunakan untuk menyempurnakan kuadran yang merupaka n salah satu instrument untuk menentukan kemiringan ekliptika hingga pada bilang an detik sekalipun. Dan dari hasil kerja kerasnya itu pula ia menuliskan tentang kemiringan ekliptika dalam karya yang menjadi magnum opus nya yaitu Al-Qanun Al

-Masudi (canon masudicus), sebuah karya yang sangat mempengaruhi perkembangan ast ronomi selanjutnya. Adapun beberapa tahapan yang dilakukan oleh Al-Biruni dalam melakukan pengamatan dan perhitungan terhadap kemiringan ekliptka ini, sebelum antara lain : a. Pertama, ketika Pada awal pengerjaannya, Al-Biruni menyajikan data penen tuan kemiringan dari astronomi lain. Ia menuliskan bahwa pada tahun 230 sebelum tahun 230 sebelum masehi, Erastosthenes mengamati tinggi matahari pada tengah ha ri musim salju dan musim panas, dengan pengamatn itu diperoleh angka sebesar 23 5 1. Hipparchus dan Ptolemeus membenarkan angka itu, karena sama dengan angka hasli pengamatannya yang mereka lakukan. Dengan didapatkannya nilai dari kemiringan e kliptika pada saat itu, Al-Biruni kemudian menyelidiki perbedaan nilai itu menur ut waktu, yakni dari abad ke abad. b. Kemudian pada tahun 995, Al-Biruni membangun kuadrant dinding berdiamete r 7,5m. dengan bantuan alat ini selama dua puluh tahun (sejak tahun 995 sampai 1 016) di observatorium Khorezmi, ia telah tiga kali melakukan pengamatan untuk me nentukan kemiringan ekliptika. c. Selanjutnya tahun 1016, AL-Biruni mengumumkan data baru tentang kemiring an ekliptika, berdasarkan data-data tersebut ia menemukan kemiringan besaran nil ai kemiringan ekliptika sebesar 2335 50. d. Pada tahun 1017, setelah kedatangannya di Gazna ia melanjutakan pekerjaa nnya itu. Hasil dari penyelidikan yang telah dilakukan selama bertahun-tahun dal am penelitiannya ini ditulis dalam bukunya Al-Qanun Al-Masudi (Kanon Masud) dalam Bab I bag 4 tentang besaran sudut perpotongan antara ekuator dengan zodiak, atau tentang sudut kemiringan terbesar. e. Pada tahun 1020, ia menetapkan untuk kemiringan itu sebesar 23340. Bilangan terakhir ini ia anggap benar, dan seterusnya ia menggunakannya untuk berbagai p erhitungan. Dalam perkembangan astronomi modern saat ini, perhitungan terhadap kemiringan ek liptika dapat diketahui dan dihitung dengan menggunakan rumus newcomb, dimana de ngan menggunakan sistem perhitungan tersebut juga dapat diketahui kemiringan ekl iptika dari waktu ke waktu. Berdasarkan analisis dan perhitungan dengan mengguna kan rumus newcomb terhadap kemiringan ekliptikan sebagaimana yang dilakukan oleh Al-Biruni pada saat itu yaitu : = 23278,26 + 0,4684 x 880 = 23340,45. Dari hasil perhiungna tersebut terdapat selisi ang sangat kecil yaitu hanya 0,45 (detik). Angka ini menunjukkan betapa tingkat a kurasi yang sangat tinggi apabila kita bandingkan dengan kondisi dan sarana yang ada pada saat itu, serta betapa cermat dan akuratnya pengukuran besaran kemiri ngan Al-Biruni pada awal abad ke-11 tersebut, meskipun demikian perlu dicatat ba hwa disini belum diperhatikan defraksi (pembiasan oleh atmosfir) pada saat penga matan. Daftar Pustaka Azhari, Susiknan, Ensiklopedi Hisab Rukyat, cet. II, Yogyakarta: Pustaka Pelaja r, 2008. Biruni, Abu Raihan, Al-Qanun Al-Masudi (Kanun Masud), ebook.pdf, tt. Hakin Said dan Zahid. A, Al-biruni, His Times, Life anf Works, Karachi-18 Pakist an : Hamdard Academy Hamdard Foundation, 1981 Khazin, Muhyidin, Ilmu Falak dalam Teori dan Praktik, Yogyakarta : Buana Pustaka , 2008 Nyoman Suwitra, Astronomi Dasar, IKIP Singaraja, tt Sadykov. U Kh, Abu Raihan Al-Biruni dan Karyanya dalam Astronomi dan Geografi Ma tematika, disadur oleh Mursyid Djokolelono, Jakarta : Suara Bebas, 2007 Suber dari internet : Encyclopedia Britannica, Al-Biruni (Persia sarjana dan ilmuwan) - Britannica Onl ine Encyclopedia , diakses 2011-12-02 http://en.wikipedia.org/wiki/Mahmud_of_Ghazni, diakses 2011-12-06 http://id.wikipedia.org/wiki/Ekliptika, diakses 2011-12-06

"obliquity of the ecliptic." A Dictionary of Astronomy. 1997. Encyclopedia.com: http://www.encyclopedia.com/doc/1O80-obliquityoftheecliptic.html, diakses pada tanggal December 11, 2011.