Anda di halaman 1dari 15

SISTEM INFORMASI AKUNTANSI KEAMANAN SISTEM INFORMASI

OLEH: Kelompok 4 Made Ucca Pavitrin K. Ni Putu Yunia D. S. I Made Agus Setiawan Lana Suryani Nining Pratiwi Kadek Chendi Antasari (1015351007) (1015351009) (1015351011) (1015351013) (1015351016) (1015351018)

FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS UDAYANA 2012

KATA PENGANTAR

Om Swastiastu, Puji syukur kami panjatkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat-NYA lah kami bisa menyelesaikan tugas Sistem Informasi Akuntansi dengan judul Kemanan Sistem Informasi tepat pada waktunya. Tulisan ini hanya berisi secara garis besar tentang Keamanan Sistem Informasi dimana kami bermaksud agar para pembaca tidak hanya mampu memahami tentang sistem informasi, tetapi juga memahami keamanan sistem informasi dalam sistem informasi akuntansi. Untuk kesempurnaan dari tulisan ini segala saran-saran perbaikan dari Dosen mata kuliah Sistem Informasi Akuntansi serta saran-saran dari para pembaca sangat kami harapkan.

Terima Kasih.

Denpasar, Maret 2012

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR........................................................................................................i DAFTAR ISI..................................................................................................................ii PENDAHULUAN............................................................................................................ 1 LATAR BELAKANG.................................................................................................... 1 RUMUSAN MASALAH ................................................................................................1 TUJUAN.................................................................................................................... 1 PEMBAHASAN.............................................................................................................. 2 KEAMANAN SISTEM INFORMASI: SEBUAH TINJAUAN..................................................2 Siklus Hidup Sistem Keamanan Informasi..............................................................2 Sistem Keamanan Informasi dalam Organisasi......................................................2 Menganalisis Kerentanan dan Ancaman................................................................3 KERENTANAN DAN ANCAMAN...................................................................................3 Tingkat Keseriusan Kecurangan Sistem Informasi.................................................3 Individu yang Dapat Menjadi Ancaman bagi Sistem Informasi...............................3 Ancaman Aktif pada Sistem Informasi...................................................................5 SISTEM KEAMANAN SISTEM INFORMASI....................................................................5 Lingkungan Pengendalian.....................................................................................6 Pengendalian Ancaman Aktif.................................................................................7 Pengendalian Ancaman Pasif................................................................................7 Keamanan Internet...............................................................................................8 PENGELOLAAN RISIKO BENCANA..............................................................................8 Mencegah Terjadinya Bencana..............................................................................8 Perencanaan Kontingensi untuk Mengatasi Bencana.............................................8 ii

DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................11

iii

PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG Sistem keamanan informasi merupakan suatu subsistem dalam suatu organisasi yang bertugas mengendalikan risiko yang terkait dengan sistem informasi berbasis komputer. Sistem keamanan informasi memiliki elemen utama sistem informasi, seperti perangkat keras, database, prosedur, dan pelaporan. Sebagai contoh, data terkait dengan penggunaan sistem dan pelanggaran keamanan bisa jadi dikumpulkan secara real time, disimpan dalam database, dan digunakan untuk menghasilkan laporan. Dalam perusahaan diperlukan suatu keamanan data karena terkadang data yang dimiliki oleh perusahaan dapat di curia tau disabotase dan hal ini dapat merugikan perusahaan. RUMUSAN MASALAH Masalah yang akan dibahas dalam topik kali ini adalah: 1. Bagaimana keamanan sistem informasi sebagai sebuah tinjauan? 2. Bagaimana kerentanan dan ancaman dalam sistem informasi akuntansi? 3. Bagaimana sistem keamanan sistem informasi dalam perusahaan? 4. Bagaimana pengelolaan risiko bencana dalam sistem infomasi akuntansi? TUJUAN Tujuan pembahasan ini adalah: 1. Memahami keamanan sistem informasi sebagai sebuah tinjauan. 2. Mengetahui kerentanan dan ancaman dalam sistem informasi akuntansi. 3. Mengetahui sistem keamanan sistem informasi dalam perusahaan. 4. Memahami pengelolaan risiko bencana dalam sistem infomasi akuntansi.

PEMBAHASAN
KEAMANAN SISTEM INFORMASI KEAMANAN SISTEM INFORMASI: SEBUAH TINJAUAN Sistem keamanan informasi merupakan suatu subsistem dalam suatu organisasi yang bertugas mengendalikan risiko yang terkait dengan sistem informasi berbasis komputer. Sistem keamanan informasi memiliki elemen utama sistem informasi, seperti perangkat keras, database, prosedur, dan pelaporan. Siklus Hidup Sistem Keamanan Informasi Sistem keamanan elektronik merupakan sebuah sistem informasi. Sistem keamanan computer dikembangkan dengan menerapkan metode analisis, desain, implementasi, serta operasi evaluasi, dan pengendalian. Tujuan setiap tahap siklus hidup ini adalah sebagai berikut: Fase Siklus Hidup Analisis Sistem Desain Sistem Implementasi Sistem Operasi, evaluasi, dan pengendalian sistem Tujuan Analisis kerentaan sistem dalam arti ancaman yang relevan dan eksposur kerugian yang terkait dengan ancaman tersebut. Desain ukuran keamanan dan rencana kontingensi untuk mengendalikan eksposur kerugian yang teridentifikasi. Menerapkan ukuran keamanan seperti yang telah didesain. Mengoperasikan sistem dan menaksir efektivitas dan efisiensi. Membuat perubahan sebagaimana diperlukan dengan kondisi yang ada.

Secara kolektif, keempat fase tersebut disebut manajemen risiko sistem informasi. Manajemen risiko sistem informasi merupakan proses untuk menaksir dan mengendalikan risiko sistem komputer. Sistem Keamanan Informasi dalam Organisasi Agar sistem keamanan informasi bisa efektif, ia harus dikelola oleh chief security officer (CSO). Tugas utama CSO adalah memberikan laporan kepada dewan direksi untuk mendapatkan persetujuan dewan direksi. Laporan ini mencakup setiap fase dari siklus hidup. Fase Siklus Hidup Analisis Sistem Desain Sistem Implementasi Sistem, operasi, evaluasi, dan pengendalian sistem Tujuan Sebuah ringkasan terkait dengan semua eksposur kerugian yang relevan. Rencana detail mengenai pengendalian dan pengelolaan kerugian, termasuk anggaran sistem keamanan secara lengkap. Mengungkapkan secara spesifik kinerja sistem keamanan, termasuk kerugian dan pelanggaran keamanan yang terjadi, analisis kepatuhan, serta biaya operasi sistem keamanan.
2

Menganalisis Kerentanan dan Ancaman Terdapat dua pendekatan dalam menganalisis kerentanan dan ancaman, yaitu: 1. Pendekatan Kuantitatif. Pendekatan ini dipergunakan untuk menaksir risiko, menghitung setiap eksposur kerugian sebagai hasil kali iaya kerugian setiap item eksposur dengan kemungkinan terjadinya eksposur tersebut. Manfaat terbesar dari analisis ini adalah dapat menunjukkan ancaman yang paling mungkin terjadi bukanlah ancaman dengan eksposur kerugian terbesar. Kelemahan pendekatan kuantitatif: a. Sulitnya mengidentifikasi biaya yang relvan untuk setiap item kerugian dan menaksir probabilitas terjadinya eksposur tersebut. b. Sulit mengestimasikan kemungkinan terjadinya suatu kerugian di masa datang secara tepat, terlebih dalam lingkungan teknologi yang mengalami perubahan sangat cepat 2. Pendekatan Kualitatif Pendekatan ini secara sederhana merinci daftar kerentanan dan ancaman terhadap sistem, kemudian secara subjektif meranking item-item tersebut berdasarkan kontribusi setiap item tersebut terhadap total eksposur kerugian perusahaan. KERENTANAN DAN ANCAMAN Kerentanan merupakan suatu kelemahan di dalam suatu sistem. Ancaman merupakan suatu potensi eksploitasi terhadap suatu kerentanan yang ada. Ada dua kelompok ancaman, yaitu aktif dan pasif. Ancaman aktif mencakup kecurangan sistem informasi dan sabotase komputer. Ancaman pasif mencakup kegagalan sistem, termasuk bencana alam, seperti gempa bumi, banjir, kebakaran, dan angin badai. Kegagalan sistem menggambarkan kegagalan komponen peralatan sistem, seperti kegagalan harddisk, matinya aliran listrik, dan sebagainya. Tingkat Keseriusan Kecurangan Sistem Informasi Statistik menunjukkan bahwa kerugian perusahaan terkait dengan kecurangan lebih besar dari total kerugian akibat suap, perampokan, dan pencurian. Hal ini mengejutkan karena kita jarang membaca kejahatan semacam ini di dalam media massa. Hal ini terjadi karena di sebgian besar kasus kecurangan yang terdeteksi jarang diajukan ke meja hijau karena bisa membuat public mengetahui kelemahan pengendalian internal perusahaan. manajer enggan berhadapan dengan sisi negatif pubisitas yang bisa menimbulkan penghakiman masyarakat. Individu yang Dapat Menjadi Ancaman bagi Sistem Informasi Keberhasilan serangan terhadap sistem informasi memerlukan akses terhadap hardware, file, data yang sensitif, atau program yang kritis. Tiga kelompok individu yang dapat mengancam sistem informasi, yaitu personel sistem komputer, pengguna, dan penyusup. 1. Personel Sistem Komputer a. Personel Pemeliharaan Sistem
3

Personel pemeliharaan sistem biasanya memiliki kemampuan untuk berselancar dalam sistem dan mengubah file data dan file program dengan cara yang tidak legal. Beberapa personel pemeliharaan bisa saja berada dalam posisi yang memungkinkan ia melakukan modifikasi yang tidak diharapkan terhadap keamanan dalam sistem operasi b. Programmer Programmer sistem sering menulis program dan memodifikasi dan memperluas sistem operasi jaringan. Programmer aplikasi bisa saja membuat modifikasi yang tidak diharapkan terhadap program yang ada saat ini atau menulis program baru guna menjalankan hal-hal yang tidak semestinya. c. Operator Jaringan Operator diberi tingkat keamanan yang cukup tinggi sehingga memungkinkan operator secara diam-diam mengawasi semua jaringan komunikasi dan juga mengakses semua file di dalam sistem. d. Personel Administrasi Sistem Informasi Personel administrasi sistem informasi memiliki akses ke rahasia keamanan, file, program, dan lain sebagainya. Administrasi account memiliki kemampuan untuk menciptakan account fiktif atau untuk member password pada account yang sudah ada. e. Karyawan Pengendali Data Mereka yang bertanggung jawab terhadap penginputan data ke dalam komputer. Posisi ini memberi peluang bagi karyawan untuk melakukan manipulasi data input. 2. Pengguna Pengguna terkadang memiliki akses ke data yang sensitif yang dapat mereka bocorkan kepada pesaing perusahaan. 3. Penyusup a. Unnoticed Intruder Seorang pelanggan bisa saja berjalan masuk ke dalam area yang tidak dijaga dan melihat data yang sensitif di dalam computer personal yang sedang tidak ada orangnya. b. Wiretapper (penyadapan) Sebagian informasi ditransmisikan hanya dari satu ruang ke ruang lain. Informasi yang lain mungkin saja ditransmisikan antarnegara melalui internet. Jaringan internet inilah yang rentan terhadap kemungkinan wiretapping. c. Piggybacker Dengan metode ini, penyadap menyadap informasi legal dan menggantinya dengan informasi yang salah. d. Impersonating Intruder Impersonating intruder adalah individu-individu tertentu yang bertujuan melakukan kecurangan terhadap perusahaan. ada yang menggunakan user ID dan password yang didapat dengan cara tidak legal, ada yang menebak password seseorang, dan ada yang menyusup langsung ke dalam perusahaan. e. Eavesdroppers Penyusup ini menyadap dengan cara memanfaatkan interferensi elektomagnetik pada satu frekuensi yang dapat ditangkap dengan seperangkat televisi sederhana.
4

Setiap orang dengan peralatan ini dapat memonitor informasi yang sensitif selama informasi tersebut tampil di CRT (cathode-ray tubes) perusahaan. Ancaman Aktif pada Sistem Informasi Metode yang dapat digunakan dalam melakukan kecurangan sistem informasi: 1. Manipulasi input Manipulasi input merupakan metode yang biasa digunakan. Metode ini mensyaratkan kemampuan teknis yang paling minimal. Seseorang bisa saja mengubah input tanpa memiliki pengetahuan mengenai cara operasi sistem komputer. 2. Mengubah program Merubah program mungkin merupakan metode yang paling jarang digunakan untuk melakukan kejahatan komputer. Langkanya penggunaan metode ini mungkin karena dibutuhkan keahlian pemrograman yang hanya dimiliki oleh sejumlah orang yang terbatas. Selain itu, banyak perusahaan besar memiliki metode pengujian program yang dapat digunakan untuk mendeteksi adanya perubahan dalam program. 3. Mengubah file secara langsung Dalam nenerapa kasus, individu-individu tertentu menemukan cara untuk memotong (bypass) proses normal untuk menginputkan data ke dalam program computer. Jika hal itu terjadi, hasil yang dituai adalah bencana. 4. Pencurian data Sejumlah informasi ditransmisikan antarperusahaan melalui internet. Informasi ini rentan terhadap pencurian pada saat transmisi. Informasi bisa saja disadap. Ada juga kemungkinan untuk mencuri disket atau CD dengan cara menyembunyikan disket atau CD ke dalam kantong atau tas. Laporan yang tipis juga bisa dicuri dengan dimasukkan ke dalam kotak sampah. 5. Sabotase Seorang penyusup menggunakan sabotase untuk membuat kecurangan menjadi sulit dan membingungkan untuk diungkapkan. Penyusup mengubah database akuntansi dan kemudian mencoba menutupi kecurangan tersebut dengan melakukan sabotase terhadap harddisk atau media lain. 6. Penyalahgunaan atau pencurian sumber daya informasi Salah satu jenis penyalahgunaan informasi terjadi pada saat seorang karyawan menggunakan sumber daya komputer organisasi untuk kepentingan pribadi. SISTEM KEAMANAN SISTEM INFORMASI Mengendalikan ancaman dapat dicapai dengan menerapkan ukuran-ukuran keamanan dan perencanaan kontingensi. Ukuran keamanan fokus pada pencegahan dan pendeteksian ancaman, sedangkan rencana kontingensi fokus pada perbaikan terhadap akibat dampak suatu ancaman. Sebuah doktrin yang dipercaya dalam keamanan sistem informasi adalah sebagian ancaman tidak dapat dicegah tanpa pengembangan suatu sistem yang sangat aman. Lebih jauh lagi, tidak ada sistem keamanan yang sangat berharga tanpa adanya suasana kejujuran dan kesadaran. Keamanan sistem informasi merupakan sebuah aplikasi prinsip-prinsip pengendalian internal yang secara khusus digunakan untuk mengatasi masalah-masalah dalam sistem informasi.
5

Lingkungan Pengendalian Lingkungan pengendalian merupakan dasar keefektifan seluruh sistem pengendalian. Pembangunan lingkungan pengendalian yang bagus tergantung pada delapan faktor, yaitu: a. Filosofi Manajemen dan Gaya Operasi Aktivitas pertama dan terpenting dalam keamanan sistem adalah menciptakan moral yang tinggi dan suatu lingkungan yang kondusif untuk mendukung terwujudnya keamanan. Semua karyawan harus menerima pendidikan mengenai keamanan. Tujuannya adalah agar setiap karyawan memiliki kepedulian terhadap keamanan. Peraturan keamanan harus selalu dimonitor. Hubungan yang baik harus selalu dibina dengan seluruh karyawan. Komunikasi yang baik dapat mengurangi masalah rendahnya moral. b. Struktur Organisasi Dalam banyak organisasi, akuntansi, komputasi, dan pemrosesan data semuanya diorganisasi di bawah chief information officer (CIO). Divisi semacam ini tidak hanya menjalankan fungsi pencatatan akuntansi tradisional, tetapi juga berbagai fungsi komputasi. Satu hal yang penting adalah harus dibuat satu garis wewenang yang jelas untuk menentukan siapa yang bertanggungjawab mengambil keputusan terkait dengan perangkat lunak akuntansi dan prosedur akuntansi. c. Dewan Direksi dan Komitenya Dewan direksi harus menunjuk komite audit. Komite audit harus menunjuk atau menyetujui pemilihan auditor internal. Idealnya, auditor internal memiliki pengalaman yang baik terkait dengan keamanan computer dan bertindak sebagai chief computer security officer. d. Metode Pembagian Otoritas dan Tanggung Jawab Tanggung jawab semua posisi harus didokumentasikan dengan hati-hati menggunakan struktur organisasi, manual kebijakan, deskripsi kerja, dan lain sebagainya. e. Aktivitas Pengendalian Manajemen Penting untuk membangun pengendalian terkait dengan penggunaan dan pertanggungjawaban semua sumber daya sistem computer dan informasi. Harus ada anggaran yang dibuat terkait dengan akuisisi peralatan dan perangkat lunak, terkait dengan biaya operasi, dan terkait dengan penggunaan. Pengendalian anggaran penting dalam lingkungan computer karena ada kecenderungan di banyak perusahaan untuk mengeluarkan biaya terlalu banyak dalam teknologi informasi. f. Fungsi Audit Internal Chief security officer harus membangun kebijakan keamanan yang relevan dengan sistem yang ada saat ini dan relevan dengan perubahan sistem yang terjadi. Semua modifikasi sistem, baik perangkat keras, perangkat lunak, atau personalia, harus diimplementasikan sesuai dengan kebijakan keamanan yang telah dibuat. g. Kebijakan dan Praktik Personalia Pemisahan tugas, supervisi yang memadai, rotasi pekerjaan, vakasi wajib, dan pengecekan ganda semua merupakan praktik personalia yang penting. Peraturan yang terpenting barangkali adalah memisahkan pekerjaan pengguna computer dan personalia sistem computer. h. Pengaruh Eksternal Sistem informasi perusahaan harus sesuai dengan hukum dan regulasi local, federal, dan negara bagian. Hukum dan regulasi mengatur keamanan dan privasi berbagai tipe data,
6

termasuk data terkait dengan pelanggan dan kredit mereka, pelanggan dan riwayat mereka, personalia dan pemerintah. Hukum dan regulasi juga mengatur pengiriman informasi ke negara lain. Kegagalan untuk memberikan keamanan yang memadai di salah satu area ini dapat menjadi suatu tuntutan criminal. Pengendalian Ancaman Aktif Cara utama untuk mencegah ancaman aktif terkait dengan kecurangan dan sabotase adalah dengan menerapkan tahap-tahap pengendalian akses. Pertimbangan utama yang penting adalah membatasi akses illegal ke data dan peralatan yang sensitif. Filosofi di balik pendekatan berlapis untuk pengendalian akses melibatkan pembangunan banyak tahap pengendalian yang memisahkan calon penyusup dari sasaran potensial mereka. Tiga tahap yang dapat digunakan, yaitu: a. Pengendalian Akses Lokasi Tujuan pengendalian akses lokasi adalah untuk memisahkan secara fisik individu yang tidak berwenang dari sumber daya computer. Pemisahan secara fisik harus diterapkan khususnya untuk menjaga perangkat keras, area penginputan data, area output data, perpustakaan data, dan jaringan komunikasi. b. Pengendalian Akses Sistem Pengendalian akses sistem merupakan suatu pengendalian dalam bentuk perangkat lunak yang didesain untuk mencegah penggunaan sistem oleh pengguna yang illegal. Tujuan pengendalian akses sistem adalah untuk mengecek keabsahan pengguna dengan menggunakan sarana seperti ID pengguna, password, alamat Internet protocol (IP), dan perangkat keras. c. Pengendalian Akses File Pengendalian akses file mencegah akses illegal ke data dan file program. Pengendalian akses file yang paling fundamental adalah pembuatan petunjuk dan prosedur legal untuk mengakses dan mengubah file. Pengendalian Ancaman Pasif Ancaman pasif mencakup masalah seperti kegagalan perangkat keras dan mati listrik. Pengendalian terhadap ancaman semacam ini dapat berupa pengendalian preventif maupun korektif. a. Sistem Toleransi Kesalahan Sebagian besar metode yang digunakan untuk menangani kegagalan komponen sistem adalah pengawasan dan redundancy. Jika salah satu sistem gagal, bagian yang redundant akan segera mengambil alih dan sistem dapat terus beroperasi tanpa interupsi. Sistem semacam ini disebut sistem toleransi kesalahan. Toleransi kesalahan dapat diterapkan pada lima level: pada jaringan komunikasi, pada prosesor CPU, pada DASD, pada jaringan listrik, dan pada transaksi individual. b. Memperbaiki Kesalahan: Backup File 1) Backup Penuh, yaitu membuat back up semua file yang ada dalam satu disk. Dalam banyak sistem, setiap file memuat sebuah archive bit yang diset ke angka 0 selama proses backup. Sistem operasi akan secara otomatis mengeset bit ini menjadi 1 pada saat sebuah file mengalami perubahan.
7

2) Backup Inkremental, yaitu melakukan back up semua file dengan nilai archive bit 1, kapan saja file tersebut mengalami perubahan. Kemudian, setiap archive bit akan kembali diset menjadi 0 selama proses back up. 3) Backup Diferensial, pada dasarnya sama dengan backup incremental. Hanya saja, archive bit tidak diset menjadi 0 selama proses backup. Keamanan Internet Internet menciptakan jendela elektronik bagi dunia luar yang mengeliminasi semua isolasi fisik sumber daya informasi perusahaan. oleh karena itu, semua pemisahan lapisan fisik yang terkait dengan pendekatan akses berlapis guna menciptakan keamanan sistem, tidak sepenuhnya dapat mengamankan sistem informasi perusahaan. Kerentanan terkait dengan internet dapat muncul akibat kelemahan-kelemahan berikut ini: a. Sistem operasi atau konfigurasi sistem informasi b. Web server atau konfigurasi web server c. Jaringan privat atau konfigurasi jaringan privat d. Berbagai program server e. Prosedur keamanan secara umum PENGELOLAAN RISIKO BENCANA Pengelolaan risiko bencana merupakan satu hal yang penting untuk memastikan kontinuitas operasi bisni jika terjadi suatu bencana. Pengelolaan risiko bencana memerhatikan pencagahan dan perencanaan kontingensi. Mencegah Terjadinya Bencana Banyak bencana yang berasal dari sabotase dan kesalahan dapat dicegah dengan kebijakan dan perencanaan keamanan yang baik. Risiko bencana alam harus menjadi pertimbangan pada saat membangun lokasi gedung. Konsentrasi peralatan computer dan data harus ditempatkan di bagian gedung yang paling rendah eksposurnya terhadap badai, gempa bumi, banjir, kebakaran, dan tindakan sabotase. Perencanaan Kontingensi untuk Mengatasi Bencana Rencana pemulihan dari bencana harus diimplementasikan pada level tertinggi di dalam perusahaan. Langkah pertama mengembangkan rencana pemulihan dari bencana adalah adanya dukungan dari manajemen senior dan penetapan komite perencanaan. Setelah kedua hal tersebut, rencana pemulihan dari bencana harus didokumentasikan dengan hati-hati dan disetujui oleh kedua pihak tersebut. Desain perencanaan mencakup komponen berikut: a. Evaluasi terhadap kebutuhan perusahaan b. Daftar prioritas pemulihan dari bencana c. Strategi dan prosedur pemulihan d. Pusat respons darurat e. Prosedur eskalasi f. Menentukan pemrosesan komputer alternatif
8

g. h. i. j.

Rencana relokasi karyawan Rencana penggantian karyawan Perencanaan penyelamatan Perencanaan pengujian sistem dan pemeliharaan sistem

PENUTUP
1. Kesimpulan Agar dapat terhindar dari kerentanan dan ancaman, suatu perusahaan atau organisasi harus mengerti siklus hidup sistem keamanan informasi, harus dapat menganalisis kerentanan dan ancaman tersebut, harus mengetahui individu-individu yang berpotensi untuk merusak keamanan sistem informasi, dan terakhir harus dapat mengelola risiko dan bencana pada sistem keamanan informasi. 2. Saran Semakin lama, suatu kecurangan-kecurangan terhadap perusahaan semakin tinggi. Diharapkan dengan meningkatnya teknologi, tidak menumbuhkan jiwa kecurangan terhadap perusahaan. Dan semakin berkembangnya zaman, diharapkan perusahaan tetap mengawasi kerentanan dan ancaman yang akan terjadi pada sistem informasinya.

10

DAFTAR PUSTAKA
1. Bodnar, George H. 2004. Sistem Informasi Akuntansi. Yogyakarta: ANDI

11