Anda di halaman 1dari 107

Cover dalam

TSUNAMI
Bahan Pengayaan Bagi Guru SD/MI
Penulis: Dra. Lili Nurlaili, M.Ed
Nara Sumber: Subandono Diposaptono
PUSAT KURIKULUM
BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN
KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL
JAKARTA, 2009
Modul Ajar
Pengintegrasian Pengurangan Risiko
Modul Ajar Pengintegrasian
Pengurangan Risiko Tsunami
Bahan Pengayaan Bagi Guru SD/MI
Penulis: Dra. Lili Nurlaili, M.Ed
Nara Sumber: Subandono Diposaptono
Editor: Ninil R Miftahul Jannah dan Dian Afriyanie
Ilustrator Sampul : Adinda Mubarina (SD Glagah Yogya Timur Yogyakarta)
Ilustrator Isi:
Rizki Goni, Feri Rahman, Antan Juliansyah, Feri Fauzi, Rigan A.T.
Lay Out Isi:
Galang Gumilar, Antan Juliansyah, Feri Fauzi, Rudini Rusmawan, Ardi H, Agusbobos.
ISBN : 978-979-725-234-2
Program Safer Communities through Disaster Risk Reduction (SCDRR)
Jl. Tulung Agung No. 46, Jakarta 10310, INDONESIA
Telp : +62 21 390 5484 (hunting)
Fax : +62 21 391 8604
E-mail : secretariat@sc-drr.org
Website : www.sc-drr.org
Program masyarakat yang lebih aman melalui pengurangan risiko bencana (Safer Communities through
Disaster Risk Reduction disingkat SCDRR), merupakan proyek kerja sama antara United Nations Development
Programme (UNDP), BAPPENAS, BNPB dan Kementerian Dalam Negeri, dengan dukungan dana UNDP,
Department for International Development (DFID) Pemerintah Inggris dan Australian Agency For International
Development (AusAID)
SAMBUTAN
I
ndonesia yang merupakan salah satu negara kepulauan terbesar di dunia
berada di kawasan yang disebut cincin api, dimana risiko untuk terjadi
bencana alam seperti tsunami, gempa bumi, letusan gunung api, banjir dan
longsor sangat tinggi. Bencana alam ini telah menimbulkan ribuan korban
jiwa, kerugian materil dan meninggalkan banyak orang untuk berjuang
membangun kembali tempat tinggal dan mata pencahariannya.
Kesiapsiagaan merupakan hal yang penting dan harus dibangun pada setiap tingkat
kelompok di masyarakat. Pengalaman menunjukkan bahwa kehancuran akibat
bencana dapat secara drastis dikurangi jika semua orang lebih siap menghadapi
bencana. Sekolah adalah pusat pendidikan yang tidak hanya memberikan kita
ilmu pengetahuan tetapi juga bekal untuk kelangsungan hidup kita, kesiapsiagaan
terhadap bencana merupakan bagian dari ketrampilan untuk kelangsungan
hidup kita. Sekolah juga seringkali menjadi tempat penghubung dan tempat
belajar bagi seluruh masyarakat. Anak-anak merupakan peserta ajar yang paling
cepat dan mereka tidak hanya mampu memadukan pengetahuan beru ke dalam
kehidupan sehari-hari, tetapi juga menjadi sumber pengetahuan bagi keluarga
dan masyarakatnya dalam hal prilaku yang sehat dan aman, yang mereka dapatkan
di sekolah. Oleh karenanya, menjadikan pencegahan bencana menjadi salah satu
fokus di sekolah dengan memberdayakan anak-anak dan remaja untuk memahami
tanda-tanda peringatan bencana dan langkah-langkah yang dapat diambil untuk
mengurangi risiko dan mencegah bencana, merupakan suatu langkah awal yang
penting dalam membangun ketangguhan bencana seluruh masyarakat. Jadi
kesiapsiagaan haruslah menjadi bagian dari materi yang diberikan dalam dunia
pendidikan khususnya pendidikan dasar dan menengah.
Pusat Kurikulum sebagai lembaga yang bertanggung jawab dalam
pengembangan model-model kurikulum sebagai referensi satuan pendidikan
dalam pengembangan kurikulumnya, telah berhasil dalam menyusun
serangkaian modul ajar dan modul pelatihan untuk pengintegrasian
pengurangan risiko bencana ke dalam tingkat satuan pendidikan. Secara
keseluruhan modul ini terdiri atas 15 modul ajar dan 3 modul pelatihan, yaitu:
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa untuk SD.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa untuk SMP.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa untuk SMA.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Tsunami untuk SD.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Tsunami untuk SMP.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Tsunami untuk SMA.
KEPALA
PUSAT KURIKULUM
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Longsor untuk SD.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Longsor untuk SMP.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Longsor untuk SMA.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran untuk SD.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran untuk SMP.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran untuk SMA.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Banjir untuk SD.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Banjir untuk SMP.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Banjir untuk SMA.
Modul Pelatihan Pengintegrasian Pengurangan Risiko Bencana untuk SD,
SMP dan SMA.
Penyusunan modul-modul tersebut merupakan hasil kerjasama antara Pusat
Kurikulum dengan Direktorat Kawasan Khusus dan Daerah Tertinggal BAPPENAS
dalam sebuah Program Safer Community Through Disaster Risk Reduction (SCDRR)
In Development yang didanai oleh United Nations Development Program (UNDP)
yang bertujuan untuk membangun masyarakat yang aman dari ancaman melalui
berbagai upaya pengurangan risiko bencana.
Setiap modul ajar dilengkapi dengan contoh-contoh silabus, rencana pelaksanaan
pembelajaran dan model bahan ajar. Sedangkan modul pelatihan terdiri dari
panduan fasilitasi dan bahan bacaan bagi pelatih mengenai penyelenggaraan
penanggulangan bencana, pengurangan risiko bencana, sekolah siaga bencana,
pendidikan PRB, dan strategi pengintegrasian pendidikan PRB ke dalam kurikulum
satuan pendidikan.
Diharapkan modul-modul tersebut dapat bermanfaat dan dijadikan bahan acuan
bagi para pihak yang berkepentingan dalam kesiapsiagaan di sekolah.
Jakarta, Desember 2009
Kepala Pusat Kurikulum
Dra. Diah Harianti, M.Psi
SAMBUTAN
I
ndonesia sebagai negara kepulauan dengan letak geografsnya pada posisi
pertemuan 4 lempeng tektonik, merupakan wilayah yang rawan bencana.
Selain itu dengan kompleksitas kondisi demograf, sosial dan ekonomi di
Indonesia yang berkontribusi pada tingginya tingkat kerentanan masyarakat
terhadap ancaman bencana, serta minimnya kapasitas masyarakat dalam
menangani bencana menyebabkan risiko bencana di Indonesia menjadi
tinggi. Pada tahun 2005, Indonesia menempati peringkat ke-7 dari sejumlah
negara yang paling banyak dilanda bencana alam (ISDR 2006-2009, World
Disaster Reduction Campaign, UNESCO).
Berangkat dari hal tersebut dan guna mendukung paradigma pengurangan
risiko bencana di sektor pendidikan, maka Pusat Kurikulum-sebuah unit eselon
II di bawah Badan Penelitian dan Pengembangan pada Kementerian Pendidikan
Nasional bekerjasama dengan Direktorat Kawasan Khusus dan Daerah Tertinggal
BAPPENAS tengah melaksanakan kegiatan Program Safer Community Through
Disaster Risk Reduction (SCDRR) In Development melalui dana hibah UNDP. Kegiatan
ini bertujuan membangun masyarakat yang aman dari ancaman melalui berbagai
upaya pengurangan risiko bencana.
Dalam kerjasama ini, Pusat Kurikulum telah mengembangkan kurikulum khususnya
dalam mengintegrasikan materi-materi dan kompetensi Pengurangan Risiko
Bencana (PRB) ke dalam mata pelajaran IPA, IPS, Bahasa Indonesia dan Pendidikan
Jasmani yang ada di sekolah mulai dari jenjang SD atau yang sederajat sampai
SMA atau yang sederajat. Model pengintegrasian materi dan kompetensi PRB
dengan mata pelajaran-mata pelajaran ini bertujuan agar muatan kurikulum dan
beban belajar tidak menjadi lebih berat. Disamping mengintegrasikan ke mata
pelajaran yang sudah ada PRB juga bisa dijadikan muatan lokal (Mulok) serta ekstra
kurikuler.
Modul Pengintegrasian Pengurangan Risiko Bencana ini disusun dalam rangka
untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya pengetahuan tentang bencana
dan mensosialisasikan langkah-langkah preventif untuk mengurangi risiko bencana
yang dapat menimpa di wilayah Indonesia. Tanpa adanya upaya terus-menerus
untuk mendiseminasikan informasi tentang ancaman dan langkah-langkah yang
dapat diambil untuk mengurangi risiko-risiko yang dapat ditimbulkannya, sulit bagi
kita untuk mewujudkan guru dan peserta didik yang tangguh dalam menghadapi
bencana.
Modul ini dapat menjadi salah satu solusi yang memungkinkan bagi para guru untuk
mengajarkan peserta didik dari hari ke hari di sekolah secara berkesinambungan,
sehingga proses, internalisasi pengetahuan kebencanaan bukan hanya dipahami
KEPALA BADAN PENELITIAN
DAN PENGEMBANGAN
KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL
dan diketahui dalam ingatan belaka tapi juga mendorong munculnya respon cepat
penyelamatan yang benar dari peserta didik ketika menghadapi bencana.
Diharapkan modul ini dapat dimanfaatkan, antara lain:
Sebagai alat pemandu dalam membantu para guru dalam melakukan
pengajaran tentang pengurangan risiko bencana kepada peserta didik di
sekolah sebagai upaya membangun kesiapsiagaan dan keselamatan dari
bencana di sekolah.
Membuka peluang dan membangun kreatiftas guru dalam menerapkan
pengetahuan tentang pengurangan risiko bencana yang disesuaikan
dengan konteks sekolah yang dibinanya
Memberikan gambaran secara lebih sistematis dan komprehensif cara
pengintegrasian pengetahuan tentang pengurangan risiko bencana
ke dalam mata pelajaran, muatan lokal dan pengembangan diri di
Sekolah.
Mendorong inisiatif para guru, sekolah dan gugus dalam mengupayakan
pengurangan risiko bencana dan membangun budaya keselamatan di
sekolah, lingkungan rumah dan lingkungan sekitar.
Semoga Modul Pengintegrasian Pengurangan Risiko Bencana ini menjadi
bermanfaat dan membantu bagi semua guru untuk meningkatkan pengetahuan,
meningkatkan ketrampilan dan membentuk sikap anak untuk menjadi lebih
tanggap terhadap ancaman bencana.
Jakarta, Desember 2009
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan
Kementerian Pendidikan Nasional
Prof. Dr. H. Mansyur Ramly
SAMBUTAN
M
enyikapi situasi kejadian bencana dan kenyataan luasnya cakupan wilayah
tanah air yang memiliki berbagai ancaman bencana, pemerintah Indonesia
telah melakukan sejumlah inisiatif guna mengurangi risiko bencana ditanah
air. Pada akhir tahun 2006 Bappenas meluncurkan buku Rencana Aksi Nasional
Pengurangan Risiko Bencana (RAN PRB) 2006 2009, sebagai komitmen dalam
mengarusutamakan pengurangan risiko bencana dalam pembangunan nasional, yang
merupakan pelengkap dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN)
2005 2009 yang telah ada. Berdasarkan RAN PRB 2006 2009 tersebut, Pemerintah
telah mengalokasikan anggaran untuk program pencegahan dan pengurangan risiko
bencana, sebagaimana tertuang dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) mulai tahun
2007. Lebih lanjut pada April 2007, Pemerintah menerbitkan Undang Undang Nomor
24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, yang menjadi tonggak sejarah
dalam upaya penanggulangan bencana di Indonesia, dan diikuti dengan peraturan
turunannya, serta dibentuknya Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNBP)
melalui Peraturan Presiden Nomor 8 Tahun 2008.
Untuk mendukung prakarsa prakarsa yang telah dimulai oleh Pemerintah Indonesia
tersebut, UNDP bekerjasama dengan Bappenas, BNPB dan Kementerian Dalam Negeri
telah menginisiasi sebuah program yang ditujukan untuk mewujudkan masyarakat
yang lebih aman melalui pengurangan risiko bencana dalam pembangunan atau
yang dikenal dengan Program Safer Communities Through Disaster Risk Reduction in
Development (SCDRR in Development). Program SCDRR ini kan berlangsung selama 5
tahun (2007 2012) dan dirancang untuk mendorong agar pengurangan risiko bencana
menjadi sesuatu yang lazim dalam proses pembangunan yang terdesentralisasi. Untuk
mewujudkan hal itu maka upaya pengarusutamaan pengurangan risiko bencana
kedalam proses pembangunan mutlak harus dijalankan. Upaya tersebut dilaksanakan
melalui 4 pilar sasaran program SCDRR, yaitu : (1) Diberlakukannya kebijakan, peraturan
dan kerangka kerja regulasi pengurangan risiko bencana; (2) Diperkuatnya kelembagaan
pengurangan risiko bencana dan kemitraan diantara mereka; (3) Dipahaminya risiko
bencana dan tindakan yang dapat diambil untuk mengurangi risiko tersebut oleh
masyarakat dan pengambil kebijakan melalui pendidikan dan penyadaran publik;
(4) Didemonstrasikannya pengurangan risiko bencana sebagai bagian dari program
pembangunan.
Terkait dengan sasaran ketiga mengenai perlunya pendidikan dan penyadaran
publik terhadap pengurangan risiko bencana, selama beberapa tahun ini pemerintah
bersama-sama beberapa lembaga swadaya masyarakat, dan institusi pendidikan di
tingkat nasional maupun daerah telah melakukan berbagai upaya dalam pendidikan
kebencanaan, termasuk memasukkan materi kebencanaan kedalam muatan lokal,
pelatihan untuk guru, kampanye dan advokasi, hingga school road show untuk kegiatan
simulation drill di sekolah-sekolah. Namun demikian, kegiatan-kegiatan tersebut belum
terkoordinasi dengan baik dan belum terintegrasi dalam satu kerangka yang dapat
DIREKTUR KAWASAN KHUSUS
DAN DAERAH TERTINGGAL, BAPPENAS
SELAKU NATIONAL PROJECT
DIRECTOR SCDRR
disepakati bersama. Dilain pihak, pemetaan aktivitas pendidikan diberbagai wilayah rawan
bencana di Indonesia serta intervensi dan dukungan peningkatan kapasitas untuk pendidikan
masih sangat minim dan terpusat, khususnya di wilayah Jawa dan Sumatera. Kajian kesiapsiagaan
masyarakat terhadap bencana yang telah dilakukan di berbagai wilayah menunjukkan rendahnya
tingkat kesiapsiagaan komunitas sekolah dibanding masyarakat serta aparat (LIPI, 2006 2007).
Hal ini sangat ironis, karena sekolah adalah basis dari komunitas anak-anak, yang merupakan
kelompok rentan yang perlu dlindungi dan secara bersamaan perlu ditingkatkan pengetahuan
dan keterampilannya.
Di sisi lain, tantangan dalam mengintegrasikan upaya-upaya pengurangan risiko bencana
kedalam sistem pendidikan juga telah banyak dikaji, seperti : (1) Beratnya beban kurikulum siswa;
(2) Kurangnya pemahaman guru mengenai bencana ; (3) Kurangnya kapasitas dan keahlian guru
dalam integrasi PRB kedalam kurikulum; (4) Minimnya panduan, silabus dan materi ajar yang
terdistribusi dan dapat diakses oleh guru; (5) Terbatasnya sumberdaya (tenaga, biaya dan sarana);
dan (6) Kondisi bangunan fsik sekolah, sarana dan prasarana pada ummnya memprihatinkan,
tidak berorientasi pada AMDAL dan konstruksi tahan gempa.
Untuk menjawab tantangan tersebut dan guna melaksanakan integrasi pengurangan risiko
bencana ke dalam sistem pendidikan, dalam rangka mewujudkan budaya aman dan siaga
bencana, maka SCDRR telah mendukung Kementerian Pendidikan Nasional dalam menyusun
Strategi Pengarusutamaan Pengurangan Risiko Bencana kedalam Sistem Pendidikan Nasional.
Strategi ini akan disahkan melalui suatu bentuk kebijakan ditingkat nasional yang diharapkan
dapat menjadi acuan bagi pelaksanaan integrasi PRB ke dalam sistem pendidikan baik intra
maupun ekstrakurikuler secara nasional.
Untuk mendukung implementasi kebijakan tesebut, maka SCDRR mendukung Pusat Kurikulum,
Kementerian Pendidikan Nasional dalam menyusun modul ajar dan modul pelatihan
pengintegrasian pengurangan risiko bencana ke dalam intra dan ekstrakurikuler. Modul-modul
ini berisi model pembelajaran, materi ajar lengkap dengan panduan pengajarannya, dalam hal
integrasi PRB kedalam intra dan ekstrakurikuler.
Diharapkan modul-modul yang disusun oleh Pusat Kurikulum Kementerian Pendidikan Nasional
ini dapat menjadi acuan standar dan/atau memperkaya bahan-bahan yang sudah ada dan sudah
disusun oleh berbagai pihak lainnya, sehingga dapat bermanfaat dan digunakan oleh praktisi
pendidikan dan pemangku kepentingan lainnya dalam rangka peningkatan kesiapsiagaan
sekolah terutama didaerah rawan bencana. Terima Kasih.
Jakarta, Desember 2009
Direktur Kawasan Khusus dan Daerah Tertinggal, Bappenas
Selaku National Project Director SCDRR
Dr.Ir Suprayoga Hadi, MSP
DAFTAR ISI
SAMBUTAN KEPALA PUSAT KURIKULUM III
SAMBUTAN KEPALA BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN,
KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL V
SAMBUTAN DIREKTUR KAWASAN KHUSUS DAN DAERAH TERTINGGAL,
BAPPENAS SELAKU NATIONAL PROJECT DIRECTOR SCDRR VII
DAFTAR ISI IX
DAFTAR TABEL XI
DAFTAR GAMBAR XIII
DAFTAR KOTAK XV
BAB I PENDAHULUAN 1
1.1 Landasan dan Pedoman 1
1.1.1 Landasan Filosofs 3
1.1.2 Landasan Sosiologis 4
1.1.3 Landasan Yuridis 4
1.1.4 Pedoman Pengembangan Produk 5
1.1.5 Pengintegrasian Pengurangan Risiko Bencana ke Dalam
Sistem Pendidikan Nasional 6
1.2 Kerangka Kerja Pendidikan untuk Pengurangan Risiko Bencana 7
1.2.1 Pendidikan untuk Pengurangan Risiko Bencana
dan Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan 7
1.2.2 Konsep Pendidikan untuk Pengurangan Risiko Bencana 8
BAB II FENOMENA DAN PERISTIWA TSUNAMI 10
2.1 Fenomena Tsunami di Indonesia 10
2.2 Peristiwa Tsunami di Indonesia 18
BAB III PENGURANGAN RISIKO TSUNAMI 22
3.1 Pengurangan Risiko Bencana 22
3.1.1 Bencana 23
Daftar Isi
x
3.1.2 Risiko Bencana, Konstruksi dari Ancaman, Kerentanan
dan Kapasitas 25
3.1.3 Pengurangan Risiko Bencana 27
3.1.4 Upaya Pengurangan Risiko Bencana 27
3.2 Kesiapsiagaan Tsunami 30
3.2.1 Tindakan Sebelum Terjadi Tsunami 30
3.2.2 Tindakan Saat Terjadi Tsunami 32
3.2.3 Tindakan Setelah Terjadi Tsunami 35
BAB IV MATERI PEMBELAJARAN PENGURANGAN RISIKO TSUNAMI 39
4.1 Identifkasi Materi Pembelajaran Pengurangan Risiko Tsunami 39
4.2 Pemetaan Indikator Siswa 41
4.3 Pendekatan Kegiatan Belajar Mengajar 41
BAB V PENGINTEGRASIAN MATERI POKOK PENGURANGAN
RISIKO TSUNAMI KE DALAM KURIKULUM
TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN DASAR (SD/MI) 44
5.1 Pengintegrasian Pengurangan Risiko Tsunami
ke dalam Mata Pelajaran 44
5.1.1 Identifkasi Materi Pembelajaran Tentang PRB 44
5.1.2 Analisis Kompetensi Dasar (KD) Yang Memungkinkan
dapat diinyegrasikan dengan PRB 44
5.1.3 Menyusun Silabus yang Terintegrasi PRB 45
5.1.4 Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) 45

5.2 Pengintegrasian Pengurangan Risiko
Bencana ke dalam Muatan Lokal 70
5.2.1 Analisis Konteks Muatan Lokal
5.2.2 Penyusunan Standar Kompetensi (SD) dan Kompetensi
Dasar (KD) Muatan Lokal Pengurangan Risiko Tsunami 72
5.2.3 Penyusunan Silabus dan RPP Muatan Lokal Pengurangan
Risiko Tsunami 73

DAFTAR ISTILAH 84
DAFTAR PUSTAKA 88
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Aktiftas Tsunami di Indonesia 19
Tabel 2.2 Kejadian Tsunami di Indonesia sejak tahun 1961-2007 20
Tabel 4.1 Identifkasi Materi
Pembelajaran Pengurangan Risiko Tsunami 40
Tabel 4.2 Pemetaaan Indikator Siswa 41
Tabel 5.1 Materi Pembelajaran Pengurangan Risiko Tsunami 46
Tabel 5.2 Pemetaan Standar Kompetensi (SK)-
Kompetensi Dasar (KD) ke dalam Mata Pelajaran IPA 47
Tabel 5.3 Pemetaan Standar Kompetensi (SK)-
Kompetensi Dasar (KD) ke dalam Mata Pelajaran IPS 48
Tabel 5.4 Pemetaan Standar Kompetensi (SK)-
Kompetensi Dasar (KD) ke dalam Mata Pelajaran
Bahasa Indonesia 50
Tabel 5.5 Pemetaan Standar Kompetensi (SK)-
Kompetensi Dasar (KD) ke dalam Mata Pelajaran Penjas 52
Tabel 5.6 Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD)
Muatan Lokal PRB untuk Sekolah Dasar/Madrasah
Ibtidaiyah 73
Daftar Tabel
xii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Mesjid di Aceh yang selamat dari tsunami 10
Gambar 2.2 Perbedaan gelombang angin dan gelombang tsunami 17
Gambar 2.3 Peta distribusi Tsunami di Indonesia tahun 1600 -2007 20
Gambar 3.1 Proses terjadinya bencana 23
Gambar 3.2 Wilayah di Asia yang terkena dampak tsunami
26 Desember 2004 24
Gambar 3.3 Persentase orang terkena Bencana
Berdasarkan Jenis Bencana 25


Daftar Gambar
xiv
DAFTAR KOTAK
Kotak 5.1.1 Contoh Rencana pelaksanaan pembelajaran terintegrasi
PRB tsunami 61
Kotak 5.2.1 Contoh Rencana pelaksanaan pembelajaran terintegrasi
PRB tsunami 64
Kotak 5.3.1 Contoh Rencana pelaksanaan pembelajaran terintegrasi
PRB tsunami 66
Kotak 5.4.1 Contoh Rencana pelaksanaan pembelajaran terintegrasi
PRB tsunami 67
Kotak 5.5.1 Contoh Model Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Tsunami 78
Daftar Kotak
xvi
1.1 Landasan dan Pedoman
Berdasarkan hasil Konferensi Sedunia tentang Pengurangan Risiko Bencana (World
Conference on Disaster Reduction) yang diselenggarakan pada tanggal 18-22 Januari
2005 di Kobe, Hyogo, Jepang; dan dalam rangka mengadopsi Kerangka Kerja Aksi
2005-2015 dengan tema Membangun Ketahanan Bangsa dan Komunitas Terhadap
Bencana memberikan suatu kesempatan untuk menggalakkan suatu pendekatan
yang strategis dan sistematis dalam meredam kerentanan dan risiko terhadap
bahaya. Konferensi tersebut menekankan perlunya mengidentifkasi cara-cara
untuk membangun ketahanan bangsa dan komunitas terhadap bencana.
Pada bulan Januari 2005, lebih dari 4.000 perwakilan pemerintah, organisasi non-
pemerintah (NGO), institusi akademik, dan sektor swasta berkumpul di Kobe, Jepang,
pada World Conference on Disaster Reduction (WCDR) kesebelas. Konferensi tersebut
mengakhiri perundingan-perundingan tentang Kerangka Kerja Aksi Hyogo 2005-
2015 : Membangun Ketahanan Bangsa dan Komunitas terhadap Bencana (HFA).
Kerangka aksi ini diadopsi oleh 168 negara dan menetapkan tujuan yang jelas
secara substansial mengurangi kerugian akibat bencana, baik korban jiwa maupun
kerugian terhadap aset-aset sosial, ekonomi, dan lingkungan suatu masyarakat
dan negara dan merinci seperangkat prioritas untuk mencapai tujuan setidaknya
pada tahun 2015.
HFA menekankan bahwa pengurangan risiko bencana adalah isu sentral kebijakan
pembangunan, selain juga menjadi perhatian berbagai bidang ilmu, kemanusiaan,
dan lingkungan. Bencana merusak hasil-hasil pembangunan, memelaratkan rakyat
dan negara. Tanpa usaha yang serius untuk mengatasi kerugian akibat bencana,
bencana akan terus menjadi penghalang besar dalam pencapaian Sasaran
Pembangunan Millenium. Untuk membantu pencapaian hasil yang diinginkan,
HFA mengidentifkasi lima prioritas aksi yang spesifk: (1) Membuat pengurangan
risiko bencana sebagai prioritas; (2) Memperbaiki informasi risiko dan peringatan
dini; (3) Membangun budaya keamanan dan ketahanan; (4) Mengurangi risiko pada
sektor-sektor utama; (5) Memperkuat kesiapan untuk bereaksi.
BAB I
PENDAHULUAN
Pendahuluan
2
HFA memberikan suatu kesempatan untuk menggalakkan suatu pendekatan yang
strategis dan sistematis dalam meredam kerentanan dan risiko terhadap bahaya.
Konferensi tersebut menekankan perlunya mengidentifkasi cara-cara untuk
membangun ketahanan bangsa dan komunitas terhadap bencana. Karena bencana
dapat diredam secara berarti jika masyarakat mempunyai informasi yang cukup dan
didorong pada budaya pencegahan dan ketahanan terhadap bencana, yang pada
akhirnya memerlukan pencarian, pengumpulan, dan penyebaran pengetahuan
dan informasi yang relevan tentang bahaya, kerentanan, dan kapasitas.
Oleh karena itu diperlukan usaha-usaha antara lain: (1) menggalakkan dimasuk-
kannya pengetahuan tentang pengurangan risiko bencana sebagai bagian
yang relevan dalam kurikulum pendidikan di semua tingkat dan menggunakan
jalur formal dan informal lainnya untuk menjangkau anak-anak muda dan anak-
anak dengan informasi; menggalakkan integrasi pengurangan risiko bencana
sebagai suatu elemen instrinsik dalam dekade 20052014 untuk Pendidikan bagi
Pembangunan Berkelanjutan (United Nations Decade of Education for Sustainable
Development); (2) menggalakkan pelaksanaan penjajagan risiko tingkat lokal
dan program kesiapsiagaan terhadap bencana di sekolah-sekolah dan lembaga-
lembaga pendidikan lanjutan; (3) menggalakkan pelaksanaan program dan
aktivitas di sekolah-sekolah untuk pembelajaran tentang bagaimana meminimalisir
efek bahaya; (4) mengembangkan program pelatihan dan pembelajaran tentang
pengurangan risiko bencana dengan sasaran sektor-sektor tertentu, misalnya: para
perancang pembangunan, penyelenggara tanggap darurat, pejabat pemerintah
tingkat lokal, dan sebagainya; (5) menggalakkan inisiatif pelatihan berbasis
masyarakat dengan mempertimbangkan peran tenaga sukarelawan sebagaimana
mestinya untuk meningkatkan kapasitas lokal dalam melakukan mitigasi dan
menghadapi bencana; (6) memastikan kesetaraan akses kesempatan memperoleh
pelatihan dan pendidikan bagi perempuan dan konstituen yang rentan; dan (7)
menggalakkan pelatihan tentang sensitivitas gender dan budaya sebagai bagian tak
terpisahkan dari pendidikan dan pelatihan tentang pengurangan risiko bencana.
Kampanye Pendidikan tentang Risiko Bencana dan Keselamatan di Sekolah yang
dikoordinir oleh UN/ISDR (United Nations/International Strategy for Disaster Reduction)
hingga penghujung tahun 2007 dengan didasari berbagai pertimbangan. Anak-
anak adalah kelompok yang paling rentan selama kejadian bencana, terutama
yang sedang bersekolah pada saat berlangsungnya kejadian. Pada saat bencana,
gedung sekolah hancur, mengurangi usia hidup murid sekolah dan guru yang
sangat berharga dan terganggunya hak memperoleh pendidikan sebagai dampak
bencana. Pembangunan kembali sekolah juga memerlukan waktu yang tidak
sebentar dan pastilah sangat mahal.
Kampanye ditujukan kepada murid sekolah dasar dan menengah, para guru,
pembuat kebijakan pendidikan, orangtua, insinyur dan ahli bangunan. Selain
itu juga ditujukan kepada lembaga pemerintah yang bertanggung-jawab atas
isu manajemen bencana, mendiknas, para pemimpin politik di tingkat nasional,
pembuat keputusan di masyarakat, dan otoritas lokal. Pesan yang bisa disampaikan
antara lain: (1) pendidikan tentang risiko bencana menguatkan anak-anak dan
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Tsunami Untuk SD/MI
3
membantu membangun kesadaran yang lebih besar isu tersebut di dalam
masyarakat; (2) fasilitas bangunan sekolah yang bisa menyelamatkan hidup dan
melindungi anak-anak sebagai generasi penerus bangsa dari suatu kejadian
bencana alam; dan (3) pendidikan tentang risiko bencana dan fasilitas keselamatan
di sekolah akan membantu negara-negara menuju ke arah pencapaian Tujuan
Pembangunan Millenium.
Sekolah dipercaya memiliki pengaruh langsung terhadap generasi muda,
yaitu dalam menanamkan nilai-nilai budaya dan menyampaikan pengetahuan
tradisional dan konvensional kepada generasi muda. Untuk melindungi anak-
anak dari ancaman bencana alam diperlukan dua prioritas berbeda namun tidak
bisa dipisahkan aksinya yaitu pendidikan untuk mengurangi risiko bencana dan
keselamatan dan keamanan sekolah.
Sekolah juga harus mampu melindungi anak-anak dari suatu kejadian bencana
alam. Investasi dalam memperkuat struktur gedung sekolah sebelum suatu
bencana terjadi, akan mengurangi biaya/anggaran jangka panjang, melindungi
generasi muda penerus bangsa, dan memastikan kelangsungan kegiatan belajar-
mengajar setelah kejadian bencana. Pendidikan di sekolah dasar dan menegah
membantu anak-anak memainkan peranan penting dalam penyelamatan
hidup dan perlindungan aset/milik masyarakat pada saat kejadian bencana.
Menyelenggarakan pendidikan tentang risiko bencana ke dalam kurikulum sekolah
sangat membantu dalam membangun kesadaran akan isu tersebut di lingkungan
masyarakat.
Mengurangi risiko bencana dimulai dari sekolah. Seluruh komponen, dalam hal
ini anak-anak sekolah, para guru, para pemimpin masyarakat, orangtua, maupun
individu yang tertarik dengan pendidikan tentang risiko bencana dan keselamatan
di sekolah, lembaga swadaya masyarakat, organisasi kemasyarakatan, institusi lokal/
regional/nasional/ internasional, sektor swasta dan publik untuk dapat berpartisipasi
secara aktif. Keterlibatan media juga diperlukan untuk mendorong sebuah budaya
ketahanan terhadap bencana dan keterlibatan komunitas yang kuat dalam rangka
kampanye pendidikan publik secara terus-menerus dan dalam konsultasi publik di
segenap lapisan masyarakat. Bencana?! Jika Siap Kita Selamat.
Padatnya kurikulum pendidikan nasional tidak boleh kita jadikan alasan untuk tidak
melakukan kegiatan pengurangan risiko bencana di sekolah secara berkelanjutan.
Pembelajaran tentang pengurangan risiko bencana di sekolah-sekolah bisa
dilaksanakan dengan mengintegrasikan materi pembelajaran pengurangan
risiko bencana ke dalam (1) mata pelajaran pokok/paket, (2) muatan lokal, dan (3)
ekstrakurikuler dan pengembangan diri. Atau secara khusus mengembangkan dan
menyelenggarakan kurikulum muatan lokal dan ektrakurikuler/pengembangan
diri yang didedikasikan khusus untuk pendidikan pengurangan risiko bencana.
1.1.1 Landasan Filosofs
Bencana merupakan suatu bentuk gangguan terhadap kehidupan dan
penghidupan masyarakat, oleh karena itu, secara flosofs, pengurangan risiko
Pendahuluan
4
bencana merupakan bagian dari pemenuhan tujuan bernegara Republik
Indonesia, yaitu melindungi segenap rakyat dan bangsa, serta seluruh
tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan
kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan
kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
Upaya melindungi segenap rakyat dan bangsa dikuatkan pula dengan hak
setiap orang atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat,
dan harta benda yang dibawah kekuasaannya, serta berhak atas rasa aman
dari ancaman ketakutan untuk untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang
merupakan hak asasi, hak hidup sejahtera lahir batin, bertempat tinggal, dan
mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh
pelayanan kesehatan (Pasal 28 G ayat (1) dan Pasal 28 H ayat (1) UUD 1945.
1.1.2 Landasan Sosiologis
Ada tiga pertimbangan sosiologis yang patut diketengahkan, yaitu Pertama
secara geografs, demografs dan geologis, Indonesia merupakan negara
rawan bencana, baik bencana alam dan bencana akibat ulah manusia, seperti
kegagalan atau mal praktik teknologi. Kedua, adalah bahwa perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi, serta kondisi sosial masyarakat, telah
menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan yang berakibat pada
terjadinya bencana. Ketiga, adalah kondisi struktur manajemen bencana
itu sendiri. Kematian, cidera dan kerugian materi, serta masalah lingkungan
dan ekonomi dapat dikurangi apabila penyelenggaraan penanggulangan
bencana telah dilakukan secara komprehensif yang mencakup pendekatan
yang bersifat pencegahan, pengurangaan risiko, tindakan kesiapsiagaan
tindakan tanggap terhadap bencana, serta upaya pemulihan. Disamping itu,
pendekatan yang mengedepankan pentingnya partisipasi dari semua tingkat
pemerintahan, baik pemerintah pusat dan daerah, mengambil peran yang
aktif dalam menciptakan manajemen bencana yang efektif. Serta pentingnya
partisipasi publik dan pemangku kepentingan dalam penanganan bencana.
1.1.3 Landasan Yuridis
Pertimbangan yuridis adalah menyangkut masalah-masalah hukum serta peran
hukum dalam penanganan bencana. Hal ini dikaitkan dengan peran hukum
dalam pembangunan, baik sebagai pengatur perilaku, maupun instrumen
untuk penyelesaian masalah. Hukum sangat diperlukan, karena hukum atau
peraturan perundang-undangan dapat menjamin adanya kepastian dan
keadilan dalam penanganan bencana. Undang-Undang No.24 Tahun 2007
tentang Penanggulangan Bencana ditempatkan guna memberikan jawaban
atau solusi terhadap permasalahan yang berkaitan dengan penanganan
bencana, merupakan landasan yuridis paling dekat untuk pelaksanaan usaha-
usaha pengurangan risiko bencana di Indonesia.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Tsunami Untuk SD/MI
5
1.1.4 Pedoman pengembangan produk
Program pendidikan pengurangan risiko bencana (PRB) bertujuan untuk
meminimalisir risiko bencana dan meningkatkan kapasitas sekolah dalam
melaksanakan pengurangan risiko bencana, kesiapsiagaan, mitigasi, dan
peringatan dini. PRB oleh satuan pendidikan dapat dilakukan dengan cara
mengintegrasikan materi pendidikan pengurangan risiko bencana dalam
kurikulum yang berlaku di sekolah, mata pelajaran, muatan lokal, kegiatan
pengembangan diri dan ekstrakurikuler, dan bahan ajar.
Dasar hukum yang menjadi pedoman perancangan dan pengembangan serial
modul dan modul pelatihan adalah:
1. Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
2. Undang-undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak
3. Undang-undang No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana
4. Undang-undang No. 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan
Jangka Panjang Nasional Tahun 2005 - 2025
5. Peraturan Presiden No. 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Nasional Tahun 2004 - 2009
6. Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional
Pendidikan
7. Peraturan Presiden No. 8 Tahun 2008 tentang Badan Nasional
Penanggulangan Bencana
8. Peraturan Presiden No. 32 Tahun 2008 tentang Pengesahan ASEAN
Agreement on Disaster Management and Emergency Response (Persetujuan
ASEAN mengenai Penanggulangan Bencana dan Penanganan Darurat)
9. Peraturan Pemerintah No. 21 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan
Penanggulangan Bencana
10. Peraturan Mendiknas No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi
11. Peraturan Mendiknas No. 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi
Lulusan
12. Peraturan Mendiknas No. 24 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan Standar Isi
dan Standar Kompetensi Lulusan, yang disempurnakan dengan Peraturan
Mendiknas No. 6 Tahun 2007
13. Peraturan Mendiknas No. 40 Tahun 2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja
Balitbang Depdiknas
14. Peraturan Mendiknas No. 50 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan
Pendidikan oleh Pemerintah Provinsi
15. Peraturan Mendiknas No. 24 tTahun 2007 tentang Standar Sarana dan
Prasarana untuk SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/MA
16. Surat Edaran Mendiknas No. 33/MPN/SE/2007 tentang Sosialisasi KTSP
Pendahuluan
6
1.1.5 Pengintegrasian Pengurangan Risiko Bencana ke dalam Sistem
Pendidikan Nasional
UU No.20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 38 Ayat (2):
Kurikulum pendidikan dasar dan menengah dikembangkan sesuai dengan
relevansinya oleh setiap kelompok atau satuan pendidikan dan komite
sekolah/madrasah dibawah koordinasi dan supervisi dinas pendidikan atau
kantor departemen agama kabupaten/kota untuk pendidikan dasar dan
provinsi untuk pendidikan menengah
Kebijakan yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun
2005 tentang Standar Nasional Pendidikan menyatakan bahwa penyusunan
kurikulum merupakan tanggung jawab setiap satuan pendidikan (sekolah
dan madrasah). Oleh karena itu tidak lagi dikenal apa yang disebut dengan
kurikulum nasional, yang pada periode sebelumnya menjadi tanggung jawab
pemerintah pusat.
Dalam PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 17
menyebutkan:
1 Kurikulum tingkat satuan pendidikan SD/MI/SDLB, SMP/MTs/SMPLB, SMA/
MA/SMALB, SMK/MAK, atau bentuk lain yang sederajat dikembangkan
sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah/karakteristik daerah,
sosial budaya masyarakat setempat, dan peserta didik
2 Sekolah dan komite sekolah, atau madrasah dan komite madrasah,
mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan silabusnya
berdasarkan kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi lulusan,
dibawah supervisi dinas kabupaten/kota yang bertanggung jawab di
bidang pendidikan untuk SD, SMP, SMA, dan SMK dan departemen yang
mengurusi urusan pemerintahan di bidang agama untuk MI, MTs, MA, dan
MAK
Penjabaran kurikulum dilakukan dengan penyusunan silabus dan bahan ajar
sesuai dengan kondisi geografs dan demografs untuk daerah, kebutuhan,
potensi dan karakteristik satuan pendidikan dan peserta didik, yang selanjutnya
diimplementasikan dalam kegiatan pembelajaran. Dalam Permendiknas No.
24 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan Standar Isi dan Standar Kompetensi
Lulusan Pasal 1:
1 Satuan pendidikan dasar dan menengah mengembangkan dan
menetapkan kurikulum tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah
sesuai kebutuhan satuan pendidikan.
2 Satuan pendidikan dasar dan menengah dapat mengembangkan
kurikulum dengan standar yang lebih tinggi dari standar isi dan standar
kompetensi lulusan.
3 Kurikulum satuan pendidikan dasar dan menengah ditetapkan oleh
kepala satuan pendidikan dasar dan menengah setelah memperhatikan
pertimbangan dari Komite Sekolah atau Komite Madrasah.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Tsunami Untuk SD/MI
7
Dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional Pasal 32 Ayat 1, juga telah mengakomodasi kebutuhan pendidikan
bencana dalam terminologi pendidikan layanan khusus. Yakni pendidikan
bagi peserta didik di daerah terpencil atau terbelakang, masyarakat adat
yang terpencil, dan/atau mengalami bencana alam, bencana sosial, dan tidak
mampu dari segi ekonomi.
1.2 Kerangka Kerja Pendidikan Untuk Pengurangan Risiko
Bencana
1.2.1 Pendidikan Untuk Pengurangan Risiko Bencana dan Pendidikan Untuk
Pembangunan Berkelanjutan
Pada bulan Desember 2002, Majelis Umum PBB mengadopsi resolusi 57/254
untuk menempatkan Dekade Pendidikan Bagi Pembangunan Berkelanjutan
(Decade of Education for Sustainable Development - DESD), mulai 2005-2014,
dibawah koordinasi UNESCO. Pendidikan untuk pengurangan bencana
(alam) telah diidentifkasi sebagai masalah inti yang akan dibahas di bawah
DESD. Pendidikan dipandang dalam konsep yang lebih luas. Sebagaimana
didefnisikan dalam Bab 36 dalam Agenda 21, Pendidikan sangat penting
untuk mencapai perlindungan lingkungan dan kesadaran etika, nilai-nilai
dan sikap, keterampilan dan perilaku yang konsisten dengan pembangunan
berkelanjutan. Baik formal dan pendidikan non-formal sangat diperlukan untuk
pembangunan berkelanjutan . Pendidikan dan pengetahuan berkontribusi
untuk meningkatkan kesadaran tentang bahaya (alam) serta kerentanan
dan ancaman yang ada yang dihadapi oleh masyarakat. Juga memberikan
kontribusi untuk menumbuhkembangkan keterampilan hidup.
Dasawarsa ini didukung oleh Kerangka Aksi Hyogo 2005 2015 yang
menyoroti pentingnya pendidikan dan pembelajaran sebagai bagian dari
prioritas aksi, menggunakan pengetahuan, inovasi dan pendidikan untuk
membangun sebuah budaya keselamatan dan ketahanan di semua tingkat.
Inisiatif pengurangan risiko bencana harus berakar di semua lembaga-
lembaga pendidikan, khususnya di sekolah-sekolah dan memasukkan dalam
program pendidikan. Pendidikan pengurangan risiko bencana yang mencakup
semua aspek peningkatan kesadaran publik, pendidikan dan pelatihan yang
bertujuan untuk menciptakan dan atau meningkatkan budaya pencegahan
melalui identifkasi dan pemahaman risiko, serta belajar mengenai langkah-
langkah pengurangan risiko bencana, dan tanggap bencana.
Oleh karena itu Pendidikan untuk Pengurangan Risiko Bencana - sebagai bagian
dari Pengurangan Risiko Bencana (PRB) - harus melekat dengan Pendidikan
untuk Pembangunan Berkelanjutan (Education for Sustainable Development -
ESD), dan mendukung kerangka ESD yang mencakup 3 aspek, yaitu:
1 Pendidikan untuk pengurangan risiko bencana adalah interdisipliner.
Oleh karena itu, pertimbangan penting diberikan kepada dampak, dan
hubungan antara, masyarakat, lingkungan, ekonomi dan budaya.
2 Pendidikan untuk pengurangan risiko bencana dan meningkatkan
Pendahuluan
8
pemikiran kritis dan pemecahan masalah, dan ketrampilan hidup sosial dan
emosional untuk pemberdayaan kelompok rentan atau terkena bencana.
3 Pendidikan untuk pengurangan risiko bencana mendukung Tujuan
Pembangunan Milenium. Tanpa mempertimbangkan Pengurangan Risiko
Bencana dalam perencanaan pembangunan, semua upaya pembangunan
termasuk inisiatif DESD dihancurkan dalam hitungan detik.
Kerangka kerja Pendidikan untuk pengurangan risiko bencana atau pendidikan
pengurangan risiko bencana dikembangkan mengikuti arahan UN-ISDR
sebagai berikut: Pendidikan pengurangan risiko bencana adalah sebuah
proses pembelajaran bersama yang bersifat interaktif di tengah masyarakat
dan lembaga-lembaga yang ada. Cakupan pendidikan pengurangan risiko
bencana lebih luas daripada pendidikan formal di sekolah dan universitas.
Termasuk di dalamnya adalah pengakuan dan penggunaan kearifan tradisional
dan pengetahuan lokal bagi perlindungan terhadap bencana alam.
HFA pada PRIORITAS AKSI 3, Poin Aktivitas kunci termaktub rekomendasi
bahwa PRB dimasukkan dalam kurikulum sekolah, pendidikan formal dan
informal.
Menggalakkan dimasukkannya pengetahuan pengurangan risiko bencana
dalam bagian yang relevan dalam kurikulum sekolah di semua tingkat dan
menggunakan jalur formal dan informal lainnya untuk menjangkau pemuda
dan anak-anak; menggalakkan integrasi pengurangan risiko bencana sebagai
suatu elemen intrinsik Dekade Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan
(2005-2015) dari PBB .
1.2.2 Konsep Pendidikan Untuk Pengurangan Risiko Bencana
Pendidikan pengurangan risiko bencana adalah usaha sadar dan terencana
dalam proses pembelajaran untuk memberdayakan peserta didik dalam
upaya untuk pengurangan risiko bencana dan membangun budaya aman
serta tangguh terhadap bencana. Pendidikan PRB lebih luas dari penddidikan
bencana, bahkan lebih dari pendidikan tentang pengurangan risiko bencana.
Tetapi mengembangkan motivasi, keterampilan, dan pengetahuan agar
dapat tertindak dan mengambil bagian dari upaya untuk pengurangan risiko
bencana.
Tujuan pendidikan untuk pengurangan risiko bencana adalah:
1 Menumbuhkembangkan nilai dan sikap kemanusiaan
2 Menumbuhkembangkan sikap dan kepedulian terhadap risiko bencana
3 Mengembangkan pemahaman tentang risiko bencana, pemahaman tentang
kerentanan sosial, pemahaman tentang kerentanan fsik, serta kerentanan
prilaku dan motivasi,
4 Meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan untuk pencegahan dan
pengurangan risiko bencana, pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan
yang bertanggungjawab, dan adaptasi terhadap risiko bencana
5 Mengembangkan upaya untuk pengurangan risiko bencana diatas, baik secara
individu maupun kolektif
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Tsunami Untuk SD/MI
9
6 Meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan siaga bencana
7 Meningkatkan kemampuan tanggap darurat bencana
8 Mengembangkan kesiapan untuk mendukung pembangunan kembali
komunitas saat bencana terjadi dan mengurangi dampak yang disebabkan
karena terjadinya bencana
9 Meningkatkan kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan besar dan
mendadak
2.1 Fenomena Tsunami di Indonesia
Bencana merupakan fenomena yang terjadi karena komponen-komponen pemicu,
ancaman dan kerentanan bekerja bersama secara sistematis, sehingga menyebabkan
terjadinya risiko pada komunitas. Bencana secara sederhana didefnisikan sebagai
suatu gangguan serius terhadap keberfungsian suatu masyarakat sehingga
menyebabkan kerugian yang meluas pada kehidupan manusia dari segi materi,
ekonomi atau lingkungan dan yang melampaui kemampuan masyarakat tersebut
untuk mengatasi dengan menggunakan sumberdaya-sumberdaya mereka sendiri.
Pemicu merupakan faktor-faktor luar yang menjadikan potensi ancaman yang
tersembunyi muncul ke bermukaan sebagai ancaman nyata. Ancaman adalah
kejadian-kejadian, gejala alam atau kegiatan manusia yang berpotensi untuk
menimbulkan kematian, luka-luka, kerusakan harta benda, gangguan sosial
ekonomi atau kerusakan lingkungan.
Apakah yang dimaksud dengan tsunami? Secara harfah, tsunami berasal dari
Bahasa Jepang. Tsu berarti pelabuhan dan nami berarti gelombang. Secara
umum tsunami diartikan sebagai gelombang laut yang besar di pelabuhan. Jadi,
secara bebas kita bisa mendeskripsikan tsunami sebagai gelombang laut dengan
periode panjang yang ditimbulkan gangguan impulsif yang terjadi pada medium
laut. Gangguan impulsif itu bisa berupa gempa bumi tektonik di laut, erupsi vulkanik
(meletusnya gunung api) di laut, longsoran di laut, atau jatuhnya meteor di laut.
Dalam literatur berbahasa Inggris, tsunami kadang-kadang disebut pula sebagai
tidal wave atau gelombang pasang. Istilah ini sebenarnya tidak tepat karena sama
sekali tidak mempunyai hubungan
dengan fenomena pasang surut
air laut sebagaimana lazimnya,
yang ditentukan oleh gaya tarik
benda-benda astronomis (gaya
tarik menarik antara bumi, bulan
dan matahari).

BAB II
FENOMENA DAN PERISTIWA TSUNAMI
Gambar 2.1 Mesjid di Aceh yang selamat dari
Tsunami (sumber: google)
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Tsunami untuk SD/MI
11
Gelombang tsunami yang ditimbulkan oleh gaya impulsif ini bersifat transien, yakni
gelombangnya bersifat sesar. Gelombang seperti ini berbeda dengan gelombang
laut lainnya yang bersifat kontinyu seperti gelombang laut yang ditimbulkan oleh
gaya gesek angin atau gelombang pasang surut yang ditimbulkan oleh gaya tarik
benda angkasa.
Perbedaan gelombang tsunami dengan gelombang yang dibangkitkan oleh angin
adalah terletak pada gerakan airnya. Gelombang yang dibangkitkan oleh angin
hanya menggerakkan partikel air laut di permukaan air laut bagian atas. Namun
pada gelombang tsunami menggerakkan seluruh kolom air dari permukaan sampai
dasar laut.
Ciri lainnya dari tsunami adalah panjang gelombangnya yang besar, bisa mencapai
puluhan kilometer. Kecepatan rambatnya di laut yang dalam berkisar dari 400
sampai 1.000 km/jam. Kecepatan penjalan tsunami tersebut sangat tergantung
dari kedalaman laut dan penjalarannya dapat mencapai ribuan kilometer dari
pusatnya.
Dalam buku literatur oseanograf fsik atau coastal engineering, terdapat teori yang
mengatakan bahwa gelombang tsunami disebut gelombang perairan dangkal
apabila nilai perbandingan antara kedalaman laut dengan panjang gelombang
lebih kecil dari seperduapuluh. Karena nilai perbandingan antara kedalaman laut
dengan panjang gelombang tsunami lebih kecil dari seperduapuluh (1/20) maka
tsunami sering dianggap sebagai gelombang perairan dangkal
Pemicu Tsunami
Tsunami dapat dipicu oleh bermacam-macam gangguan berskala besar
terhadap air laut, misalnya gempa bumi, pergeseran lempeng, meletusnya
gunung berapi di bawah laut, atau tumbukan benda langit. Pada dasarnya
tsunami dapat terjadi apabila dasar laut mengalami perubahan secara tiba-
tiba dan bergerak secara vertikal. Berikut ini beberapa faktor-faktor yang bisa
menimbulkan tsunami.
1. Longsoran Lempeng Bawah Laut
Gerakan yang besar pada kerak bumi biasanya terjadi di pertemuan antar
lempeng tektonik. Celah retakan antara kedua lempeng tektonik ini disebut
dengan sesar. Pada sesar terjadi gerakan vertical antara kedua lempeng yang
bisa menimbulkan longsoran. Sebagai contoh, di sekeliling tepian Samudra
Pasifk yang biasa disebut dengan lingkaran api, lempeng samudra yang
lebih padat menghunjam masuk ke bawah lempeng benua, sementara
lempeng benua cenderung naik secara vertikal. Proses ini dinamakan dengan
penghunjaman. Gerakan subduksi sangat efektif menimbulkan longsoran
bawah laut yang bisa membangkitkan gelombang tsunami.
2. Gempa Bumi Bawah Laut
Gempa tektonik merupakan salah satu gempa yang diakibatkan oleh
pergerakan lempeng bumi. Jika gempa semacam ini terjadi di bawah laut,
maka air di atas wilayah lempeng yang bergerak tersebut berpindah dari posisi
keseimbangannya menimbulkan gelombang. Gelombang terjadi karena air
Fenomena dan peristiwa Tsunami
12
ini bergerak akibat pengaruh gravitasi mencari posisi keseimbangannya yang
baru. Bila gempa yang terjadi menimbukan gerakan yang bersifat vertikal
(naik atau turun),maka gelombang tsunami dapat terjadi.
3. Aktivitas Vulkanik
Adanya gunung berapi yang terletak di dasar samudra dapat menaikkan air dan
membangkitkan gelombang tsunami. Contoh yang terjadi pada meletusnya
Gunung Krakatau di Selat Sunda tahun 1883 yang menimbukan gelombang
tsunami setinggi lebih dari 30 m, menerjang dan menyapu pantai di sebelah
barat Jawa dan sebelah selatan Sumatera.
4. Tumbukan Benda Luar Angkasa
Tumbukan dari benda luar angkasa seperti meteor merupakan gangguan
terhadap air laut yang datang dari luar permukaan air. Kejadian tsunami yang
disebabkan faktor ini sangat jarang terjadi, namun dampaknya bisa jadi lebih
merusak, karena datangnya yang sulit diduga dimana tempatnya akan jatuh.
Di samping itu juga, besar dan kecepatan meteor ketika tumbukan dengan
permukaan laut sangat menentukan besarnya gelombang tsunami yang akan
ditimbulkannya.
Karakteristik Tsunami
Perilaku gelombang tsunami sangat berbeda dari ombak laut biasa. Gelom-
bang tsunami bergerak dengan kecepatan tinggi dan dapat merambat
menyeberangi samudra tanpa banyak kehilangan energi. Hal ini karena
amplitudo gelombang begitu kecil tapi sangat panjang. Seperti diketahui
energi gelombang dipengaruhi oleh besar amplitudo dan panjang
gelombang. Dengan amplitude yang begitu kecil, energi gelombang tidak
mudah hilang atau terserap, sementara panjang gelombang yang begitu
panjang menjamin gelombang mampu merambat dengan kecepatan tinggi.
Tsunami dapat merambat melalui wilayah yang berjarak ribuan kilometer
dari sumbernya, sehingga mungkin ada selisih waktu beberapa menit antara
munculnya gelombang ini dengan bencana yang akan ditimbulkannya di
pantai. Begitu mendekati pantai ke tempat yang lebih dangkal, amplitude
gelombang membesar yang diikuti dengan melambatnya kecepatan rambat
gelombang. Gelombang meninggi menerjang segala macam benda yang
menghalanginya.
Periode tsunami cukup bervariasi, mulai dari 2 menit hingga lebih dari 2 jam.
Panjang gelombangnya sangat besar, antara 100 1000 km. Bandingkan
dengan ombak laut biasa di pantai yang mungkin hanya memiliki periode
beberapa detik dan panjang gelombang beberapa meter. Oleh karena itulah
pada saat masih di tengah laut, gelombang tsunami hampir tidak nampak dan
hanya terasa seperti ayunan air saja.
Bila lempeng samudra bergerak naik, air di sekitar wilayah tersebut akan ikut
naik, namun di sekitar pantai akan surut. Selanjutnya gelombang tsunami
akan datang menerjang pantai.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Tsunami untuk SD/MI
13
PERBANDINGAN GELOMBANG TSUNAMI DAN OMBAK LAUT BIASA
Parameter Gelombang
Tsunami
2 menit - 2 jam
100 - 1000 km
10 detik
50 m
Ombak Biasa
Periode gelombang
Panjang gelombang
Bila lempeng samudra bergerak turun, air laut di pantai tersebut akan ikut
surut. Pada pantai yang landai, surutnya air bisa mencapai lebih dari 500 meter
menjauhi pantai. Masyarakat yang tidak sadar akan datangnya bahaya
kemungkinan akan tetap tinggal di pantai karena rasa ingin tahu apa yang
sedang terjadi. Atau justru mereka memanfaatkan momen saat air laut surut
tersebut untuk mengumpulkan ikan-ikan yang banyak bertebaran di pantai.
Bila lempeng samudra bergerak turun (atau naik), di wilayah pantai air laut akan
surut sebelum datangnya tsunami. Gelombang tsunami mempunyai amplitude
yang memperhitungkan kedalaman laut. Ini yang membedakan dengan
gelombang pada ombak biasa. Gelombang tsunami diakibatkan perubahan
struktur bumi di kedalaman laut, sementara ombak biasa diakibatkan oleh
arus udara (angin). Oleh karena itu, gelombang tsunami sangat dipengaruhi
kedalaman laut. Makin dangkal kedalaman laut, makin lambat perambatan
gelombang. Gelombang tsunami bergerak dengan kecepatan yang setara
dengan akar kuadrat hasil perkalian antara percepatan gravitasi (g = 9,8 m/
det2 ) dan kedalaman air laut.
v (g d)
dimana
v = kecepatan
g = gravitasi = 9,8 m/det2
d = kedalaman
Sebagai contoh, di Samudra Hindia, dimana kedalaman air pada daerah
gempa sebelah barat Aceh sekitar 2000 meter, gelombang tsunami merambat
dengan kecepatan 140 m/det (504 km/jam) dengan hanya sedikit energi yang
hilang, bahkan untuk jarak yang jauh. Sementara pada kedalaman 10 meter,
mendekati pantai kecepatannya hampir mencapai 10 m/det (36 km/jam),
sama dengan kecepatan lari manusia tercepat, kita harus lari dengan sepenuh
tenaga agar bisa lolos dari gelombang tersebut.
Energi dari gelombang tsunami merupakan fungsi perkalian antara besar
gelombang dan kecepatannya. Besar gelombang ditentukan oleh tinggi
(amplitudo) dan panjang gelombang. Makin besar amplitude dan panjang
Fenomena dan peristiwa Tsunami
14
gelombang, maka energi gelombang juga makin besar. Nilai energi ini
dianggap konstan, yang berarti besar gelombang berbanding terbalik
dengan kecepatan merambat gelombang. Oleh karena itu, ketika gelombang
mencapai daratan, tingginya meningkat sementara kecepatannya menurun.
Saat memasuki wilayah pantai yang lebih dangkal, kecepatan gelombang
tsunami menurun sedangkan tingginya meningkat, menciptakan gelombang
yang berpotensi sangat merusak.
Karena

v = -
T
Maka
v ~
dimana
v = kecepatan
= panjang gelombang
T = periode
Karena kecepatan bergantung pada panjang gelombang, maka makin lambat
kecepatan rambat gelombang, panjang gelombang juga makin pendek.
Sementara itu, periode gelombang dianggap konstan.
Sementara itu, energi gelombang sebanding dengan kuadrat kecepatan
rambat gelombang.
E ~ v
2
~ A
dimana
E = Energi gelombang
A = amplitude (tinggi gelombang)
Persamaan di atas menunjukkan bahwa ketika kecepatan rambat v berkurang,
maka panjang gelombangnya ? juga menurun, sementara tinggi gelombang
A justru meningkat.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Tsunami untuk SD/MI
15

Sumber: Wikipedia
Kedalaman (m)
Kecepatan
(km/jam)
7000
4000
2000
200
100
50
10
943
713
504
159
113
80
36
Panjang Gelombang
(km)
282
213
151
48
34
23
11
Selagi orang-orang yang berada di tengah laut bahkan tidak menyadari
adanya tsunami, gelombang tsunami dapat mencapai ketinggian hingga
30 meter atau lebih ketika mencapai wilayah pantai dan daerah yang lebih
dangkal. Tsunami dapat menimbulkan kerusakan yang sangat parah di wilayah
yang jauh dari sumber terjadinya gelombang, meskipun peristiwa terjadinya
gelombang di tengah laut itu sendiri kemungkinan tidak dapat dirasakan oleh
seseorang yang kebetulan berada di atas permukaannya.
Gelombang tsunami bergerak maju ke segala arah dari sumbernya, sehingga
wilayah yang berada di sekitar daerah sumber gelombang berpotensi akan
terkena dampaknya. Namun demikian, gelombang tsunami dapat saja berbelok
akibat adanya gangguan berupa benda padat seperti daratan. Bukan hanya
itu, gangguan tersebut dapat meredam energi gelombang dan mengubah
pola gelombang, seperti periode, panjang gelombang, dan kecepatan
rambatnya. Hal ini bergantung peristiwa alam yang mempengaruhinya dan
kondisi geografs wilayah sekitarnya.
Fenomena dan peristiwa Tsunami
16
Megatsunami
Berbagai bukti yang menunjukkan bahwa megatsunami, yaitu tsunami yang
mencapai ketinggian gelombang hingga 100 meter, memang mungkin
terjadi. Peristiwa yang langka ini biasanya disebabkan oleh sebuah pulau yang
cukup besar amblas ke dasar samudra. Megatsunami juga bisa disebabkan
oleh adanya benda angkasa luar dengan massa yang cukup besar, jatuh ke
laut dengan kecepatan tinggi. Energi yang ditimbulkannya cukup besar untuk
menimbulkannya megatsunami. Faktor lain yang berpotensi menimbulkan
megatsunami adalah jatuhnya sebongkah besar es (di Antartika) ke laut
dari ketinggian ratusan meter. Gelombang yang ditimbulkannya dapat
menyebabkan kerusakan yang sangat dahsyat pada cakupan wilayah pantai
yang sangat luas.
Seiche
Satu hal yang berkaitan dengan tsunami antara lain adalah seiche, yaitu fuktuasi
atau pengalunan permukaan danau atau badan air yang kecil yang disebabkan
oleh gempa-bumi kecil, angin, atau oleh keragaman tekanan udara. Seringkali
gempa yang besar menyebabkan tsunami dan seiche sekaligus, atau sebagian
seiche justru terjadi karena tsunami.
Tsunami Dengan Gelombang Tertinggi
Gelombang tsunami tertinggi yang tercatat sampai saat ini adalah tsunami di
Alaska pada tahun 1958 yang disebabkan oleh amblasnya lempeng tektonik
di Teluk Lituya. Tsunami ini memiliki ketinggian lebih dari 500 meter dan
menghancurkan pohon-pohon dan tanah pada dinding ford. Saat gelombang
tsunami kembali ke laut, gelombang tersebut langsung menyebar dan
tingginya menurun dengan cepat. Tingginya gelombang saat berada di pantai
lebih disebabkan karena topograf wilayahnya, daripada karena energi yang
dikeluarkan oleh peristiwa amblasnya lempeng.
Fjord
suatu teluk sempit di antara tebing-tebing atau lahan terjal. Biasa djumpai di
Norwegia, Alaska, Selandia Baru, dll. Sebelumnya ford ini merupakan sungai
gletser yang terbentuk di wilayah pegunungan di kawasan pantai. Saat suhu
menjadi hangat, sungai gletser ini mencair, akibatnya permukaan air laut naik
dan membanjiri lembah di sela-sela pegunungan tersebut.
Tanda Peringatan
Tsunami bisa terjadi kapan saja, pada saat musim hujan ataupun musim
kemarau baik siang maupun malam hari. Tanda peringatan akan terjadinya
bencana tsunami antara lain:
1. Biasanya diawali gempa bumi yang sangat kuat dan biasanya sekurang-
kurangnya 6,5 skala richter, berlokasi di bawah laut. Setiap orang akan dapat
merasakan gempa tersebut jika berada di dekat dengan pusat gempa.
Namun tsunami bisa tetap terjadi meskipun tidak merasakan goncangan
sama sekali. Disamping itu, tsunami tidak selalu diawali gempa bumi di
laut, bisa juga karena meletusnya gunung api di laut, longsoran tanah di
laut atau jatuhnya meteor di laut.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Tsunami untuk SD/MI
17
2. Bila Anda menyaksikan permukaan laut turun secara tiba-tiba, waspadalah
karena itu tanda gelombang raksasa akan datang (merupakan tanda
peringatan datangnya tsunami)
3. Timbul bau garam dan angin dingin di pantai. Hal ini menunjukkan bahwa
di laut lepas sedang terjadi turbulensi air laut.
4. Laut menjadi berubah warna atau mendengar suara gemuruh lebih keras
dari biasanya. Hal itu akibat resonansi bunyi gulungan air dengan dasar
laut yang terus mengalami pendangkalan. Berarti gelombang tsunami
sedang mendekat.
Di atas telah dijelaskan tanda-tanda akan terjadinya tsunami, tsunami juga
disebabkan oleh Gempa dalam skala besar yang menimbulkan patahan
berdimensi ratusan kilometer jaraknya dari pusat gempa. Hal itu juga
menyebabkan timbulnya deformasi vertikal di sumber gempa. Deformasi
berupa penurunan permukaan dasar laut mengakibatkan penjalaran energi
menjadi gelombang tsunami di pantai.
Gambar 2.2 Perbedaan gelombang angin dan gelombang tsunami (sumber: google)
Selain tenggelamnya pulau-pulau kecil, rusaknya industri turisme pantai dan
infrastruktur pesisir, hancurnya industri perikanan, dan rusaknya pertanian
yang ditimbulkan oleh tsunami, maka banyak aspek kehidupan lain yang juga
akan terkena dampak negatif tsunami.
Dalam rangka mengantisipasi dampak negatif tersebut, pemerintah Indonesia
melakukan 3 (tiga) macam riset tentang tsunami:
1. Riset yang ditujukan untuk mengidentifkasi lokasi pusat gempa dan
karakteristik gempa.
2. Riset yang diarahkan untuk membuat model penjalaran tsunami dan
prediksi tinggi gelombang tsunami pada saat mencapai pantai.
3. Riset yang ditujukan untuk mencari cara-cara yang tepat dalam pemantauan
tsunami dan perlindungan pantai terhadap bahaya tsunami.
Fenomena dan peristiwa Tsunami
18
Perkembangan riset tsunami di Indonesia masih dalam tahap pengembangan
yang melibatkan berbagai instansi terkait seperti Badan Meteorologi dan Geo
Fisika (BMG), BPPT, LIPI, dan ITB. Akan tetapi riset ini berjalan lamban karena
beberapa faktor penghambat antara lain:
1. Minimnya jumlah ilmuwan dan fasilitas yang tersedia.
2. Kurang tertariknya ilmuwan melakukan riset tsunami mungkin dikarenakan
kegiatan ini secara ekonomi tergolong kering.
3. Fasilitas untuk pemantauan, baik untuk pemantauan gempa sebagai
sumber dan penyebab tsunami juga masih dirasa kurang. Idealnya untuk
tiap jarak 100 km di sepanjang pantai yang ada di kepulauan Indonesia
diletakkan satu alat pemantau gempa dan gelombang.
4. Masih kurangnya koordinasi dan komunikasi di antara pusat-pusat kegiatan
riset tsunami yang ada di Indonesia
2.2 Peristiwa Tsunami di Indonesia
Selama ini, tindakan dalam usaha penanggulangan bencana dilakukan oleh
pemerintah yang pelaksanaannya kemudian dilakukan bersama antara pemerintah
daerah dengan organisasi-organisasi terkait dan masyarakat yang tertimpa
bencana. Pada saat menghadapi bencana, masyarakat yang belum mampu untuk
menanganinya sendiri harus menunggu bantuan yang kadang-kadang tidak segera
datang.
Untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan oleh bencana disuatu wilayah,
tindakan pencegahan bencana perlu dilakukan oleh masyarakat. Pada saat bencana
terjadi, korban yang timbul umumnya disebabkan oleh kurangnya persiapan.
Persiapan yang baik akan bisa membantu masyarakat untuk melakukan tindakan
yang tepat guna dan tepat waktu.
Bencana bisa menimbulkan kerusakan dan korban jiwa. Dengan mengetahui cara
pencegahannya masyarakat bisa mengurangi risiko ini. Penanggulangan bencana
ini hendaknya menjadi tanggung jawab bersama antara masyarakat dan pihak-
pihak yang terkait. Kerjasama ini sangat penting untuk memperlancar proses
penanggulangan bencana.
Geografs Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak pada lempeng
bumi yang labil, memiliki pantai terpanjang kedua di dunia. Lempeng bumi yang
labil disisi barat Sumatra, di selatan Jawa ke timur Indonesia dan berputar ke utara
melalui Nusa Tenggara, Maluku, dan diteruskan ke Sulawasi. Lempeng bumi yang
labil ini mempunyai potensi besar terjadinya gempa bumi pada dasar laut dalam
yang memungkinkan terjadinya tsunami.
Potensi tersebut menjadi lebih besar lagi karena sebagian besar pusat gempa
tektonik terletak di bawah dasar laut dalam yang posisinya relatif dekat dengan
pantai terutama pantai barat Sumatra dan pantai selatan Jawa, Nusa Tenggara,
Maluku dan Sulawesi
Berdasarkan hubungan antara tsunami, aktivitas kegempaan, dan karakteristik
seismotektonik, latief, et.al (2000) membagi ke dalam enam zona seismotektonik.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Tsunami untuk SD/MI
19
Busur Banda
Selat Maluku
A
B
C
D
E
F
Busur Sunda bagian barat
Busur Sunda bagian timur
Selat Makasar
Papua bagian utara
19
11
35
9
32
3
109
17,43
10,09
32, 11
8,26
29,36
2,75
100
Zona Daerah
Jumlah
tsunami
Presentasi
Kejadian (%)
Jumlah
korban jiwa
>300.000
3.260
5.570
1.020
7.570
360
Tabel 2.1 Aktivitas tsunami di Indonesia
(sumber: Hidup akrab dengan gempa dan tsunami)
Zona A meliputi Busur Sunda bagian barat yang terletak di sebelah barat laut Selat
Sunda antara lain Pulau Sumatera dan Pulau Andalas. Pada zona A telah terjadi
tsunami sebanyak 19 kali dalam kurun waktu 1600-2007. Kontribusi kejadian
tsunami yang telah terjadi di zona ini adalah 17,73%, 17 diantaranya diakibatkan
oleh gempa bumi dan 2 lainnya diakibatkan oleh meletusnya gunung api di bawah
laut.
Zona B meliputi Busur Sunda bagian timur yang terbendang antara Selat Sunda
ke timur sampai Sumba. Wilayah itu meliputi Pulau Jawa, Bali, Lombok, Sumbawa
dan Sumba. Pada zona ini telah terjadi tsunami sebanyak 11 kali dalam kurun
waktu 1600-2007. Kontribusi kejadian tsunami yang telah terjadi di zona ini
terhadap keseluruhan tsunami yang telah terjadi di Indonesia adalah 10,09%. 10
kali diantaranya diakibatkan oleh gempa bumi dan 1 lainnya diakibatkan oleh
meletusnya gunung api di bawah laut.
Zona C terletak di Laut Banda antara lain Flores, Timor, Kepulauan Banda, Kepulauan
Tanimbar, Seram, dan Pulau Buru. Pada zona ini telah terjadi tsunami sebanyak
35 kali dalam kurun waktu 1600-2007. Kontribusi kejadian tsunami yang telah
terjadi di zona ini terhadap keseluruhan tsunami yang telah terjadi di Indonesia
adalah 32,11%. 32 kali diantaranya diakibatkan oleh gempa bumi dan 2 lainnya
diakibatkan oleh meletusnya gunung api di bawah laut dan 1 tsunami diakibatkan
oleh longsoran. Tsunami Flores 1992 merupakan tsunami yang terjadi di zona ini.
Zona D berada di Selat Makassar. Pada zona ini telah terjadi tsunami sebanyak 9 kali
dalam kurun waktu 1600-2007. Kontribusi kejadian tsunami yang telah terjadi di
zona ini terhadap keseluruhan tsunami yang telah terjadi di Indonesia adalah 8,26%.
Tsunami di daerah ini semuanya diakibatkan oleh gempa bumi dan menimbulkan
korban jiwa sekitar 1.020 orang.
Zona E terletak di Laut Maluku termasuk di dalamnya Sangihe dan Halmahera.
Pada zona ini telah terjadi tsunami sebanyak 32 kali dalam kurun waktu 1600-2007.
Kontribusi kejadian tsunami yang telah terjadi di zona ini terhadap keseluruhan
tsunami yang telah terjadi di Indonesia adalah 29,36%. 28 kali diantaranya
diakibatkan oleh gempa bumi dan 4 lainnya diakibatkan oleh meletusnya gunung
api di bawah laut.
Fenomena dan peristiwa Tsunami
20
Zona F berada di sebelah utara Papua. Pada zona ini telah terjadi tsunami sebanyak
3 kali dalam kurun waktu 1600-2007. Kontribusi kejadian tsunami yang telah terjadi
di zona ini terhadap keseluruhan tsunami yang telah terjadi di Indonesia adalah
2,75%. 2 kali diantaranya diakibatkan oleh gempa bumi dan 2 lainnya diakibatkan
oleh meletusnya gunung api di bawah laut.
Gambar 2. 3 Peta distribusi Tsunami di Indonesia tahun 1600 -2007
(sumber: Hidup akrab dengan gempa dan tsunami).
Kalau diinventarisasi berdasakan laporan media massa dan dari berbagai sumber,
maka sepanjang tahun 1961 2007 ada sekitar 22 kejadian tsunami yang melanda
kawasan pesisir di Indonesia. Daerah bencana beserta dampak tsunami bisa dilihat
pada tabel 3 dibawah ini:
-
Jumlah korban
(tewas/luka)
2/6
110/479
71 tewas
58/100
392 tewas
64/97
316 tewas
2/25
27/200
13/400
83/108
7 tewas
1.952/2.126
38/400
3/63
107 tewas
34 tewas
4 tewas
>210.000 tewas
Tidak terdata
668 tewas
Daerah Bencana
NTT, Flores Tengah
Sumatera
Maluku, Seram dan Sanana
Tinambung (Sulsel)
Tambo (Sulteng)
Majene (Sulsel)
NTT, Flores dan P. Atauro
NTT, Larantuka
NTT dan P. alor
NTT, Flores dan P. Babi
Banyuwangi (Jatim)
Palu (sulteng)
P. Biak (Papua)
Tabuna Maliabu (Maluku)
Banggai (Sulteng)
NAD dam Sumut
Pulau Nias
NTB dan Pulau Sumbawa
NTB, Sumbawa, Bali
dan Lombok
NTT, Flores Timur, dan
P. Pantar
Jawa Barat, Jawa Tengah
dan DI Yogyakarta
Bengkulu dan Sumatera
Barat
No
1
2
3
4
5
6
7
8
10
12
13
14
15
16
17
18
19
20
9
11
21
22
Tahun
1961
1964
1965
1967
1968
1969
1977
1977
1982
1989
1992
1994
1996
1996
1998
2000
2004
2005
1979
1987
2006
2007
Pusat Gempa
8,2 LS & 122,0 BT
5,8 LS & 95,6 BT
2,4 LS & 126,0 BT
3,7 LS & 119,3 BT
0,7 LS & 119,7 BT
3,1 LS & 118,8 BT
11,1 LS & 118,5 BT
8,0 LS & 125,3 BT
8,4 LS & 123,0 BT
8,1 LS & 125,1 BT
8,5 LS & 121,9 BT
5,8 LS & 95,6 BT
5,8 LS & 95,6 BT
0,5 LS & 136,0 BT
2,0 LS & 124,9 BT
0,6 LS & 119,9 BT
2,9 LS & 95,6 BT
2,06 LS & 97,01 BT
8,4 LS & 115,9 BT
8,4 LS & 124,3 BT
9,4 LS & 107,2 BT
4,67 LS & 101,3 BT
Run-up maksimum
(meter)
Tidak terdata
Tidak terdata
Tidak terdata
Tidak terdata
8-10
10
Tidak terdata
Tidak terdata
Tidak terdata
Tidak terdata
Tidak terdata
11,2-26,2
19,1
13,7
2,75
3
34
3,5
Tidak terdata
Tidak terdata
7,6
3,6
Tabel 2.2 Kejadian Tsunami di Indonesia sejak tahun 1961 2007
Sumber: Hidup akrab dengan gempa dan tsunami.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Tsunami untuk SD/MI
21
-
Jumlah korban
(tewas/luka)
2/6
110/479
71 tewas
58/100
392 tewas
64/97
316 tewas
2/25
27/200
13/400
83/108
7 tewas
1.952/2.126
38/400
3/63
107 tewas
34 tewas
4 tewas
>210.000 tewas
Tidak terdata
668 tewas
Daerah Bencana
NTT, Flores Tengah
Sumatera
Maluku, Seram dan Sanana
Tinambung (Sulsel)
Tambo (Sulteng)
Majene (Sulsel)
NTT, Flores dan P. Atauro
NTT, Larantuka
NTT dan P. alor
NTT, Flores dan P. Babi
Banyuwangi (Jatim)
Palu (sulteng)
P. Biak (Papua)
Tabuna Maliabu (Maluku)
Banggai (Sulteng)
NAD dam Sumut
Pulau Nias
NTB dan Pulau Sumbawa
NTB, Sumbawa, Bali
dan Lombok
NTT, Flores Timur, dan
P. Pantar
Jawa Barat, Jawa Tengah
dan DI Yogyakarta
Bengkulu dan Sumatera
Barat
No
1
2
3
4
5
6
7
8
10
12
13
14
15
16
17
18
19
20
9
11
21
22
Tahun
1961
1964
1965
1967
1968
1969
1977
1977
1982
1989
1992
1994
1996
1996
1998
2000
2004
2005
1979
1987
2006
2007
Pusat Gempa
8,2 LS & 122,0 BT
5,8 LS & 95,6 BT
2,4 LS & 126,0 BT
3,7 LS & 119,3 BT
0,7 LS & 119,7 BT
3,1 LS & 118,8 BT
11,1 LS & 118,5 BT
8,0 LS & 125,3 BT
8,4 LS & 123,0 BT
8,1 LS & 125,1 BT
8,5 LS & 121,9 BT
5,8 LS & 95,6 BT
5,8 LS & 95,6 BT
0,5 LS & 136,0 BT
2,0 LS & 124,9 BT
0,6 LS & 119,9 BT
2,9 LS & 95,6 BT
2,06 LS & 97,01 BT
8,4 LS & 115,9 BT
8,4 LS & 124,3 BT
9,4 LS & 107,2 BT
4,67 LS & 101,3 BT
Run-up maksimum
(meter)
Tidak terdata
Tidak terdata
Tidak terdata
Tidak terdata
8-10
10
Tidak terdata
Tidak terdata
Tidak terdata
Tidak terdata
Tidak terdata
11,2-26,2
19,1
13,7
2,75
3
34
3,5
Tidak terdata
Tidak terdata
7,6
3,6
Tabel 2.2 Kejadian Tsunami di Indonesia sejak tahun 1961 2007
Sumber: Hidup akrab dengan gempa dan tsunami.
-
Jumlah korban
(tewas/luka)
2/6
110/479
71 tewas
58/100
392 tewas
64/97
316 tewas
2/25
27/200
13/400
83/108
7 tewas
1.952/2.126
38/400
3/63
107 tewas
34 tewas
4 tewas
>210.000 tewas
Tidak terdata
668 tewas
Daerah Bencana
NTT, Flores Tengah
Sumatera
Maluku, Seram dan Sanana
Tinambung (Sulsel)
Tambo (Sulteng)
Majene (Sulsel)
NTT, Flores dan P. Atauro
NTT, Larantuka
NTT dan P. alor
NTT, Flores dan P. Babi
Banyuwangi (Jatim)
Palu (sulteng)
P. Biak (Papua)
Tabuna Maliabu (Maluku)
Banggai (Sulteng)
NAD dam Sumut
Pulau Nias
NTB dan Pulau Sumbawa
NTB, Sumbawa, Bali
dan Lombok
NTT, Flores Timur, dan
P. Pantar
Jawa Barat, Jawa Tengah
dan DI Yogyakarta
Bengkulu dan Sumatera
Barat
No
1
2
3
4
5
6
7
8
10
12
13
14
15
16
17
18
19
20
9
11
21
22
Tahun
1961
1964
1965
1967
1968
1969
1977
1977
1982
1989
1992
1994
1996
1996
1998
2000
2004
2005
1979
1987
2006
2007
Pusat Gempa
8,2 LS & 122,0 BT
5,8 LS & 95,6 BT
2,4 LS & 126,0 BT
3,7 LS & 119,3 BT
0,7 LS & 119,7 BT
3,1 LS & 118,8 BT
11,1 LS & 118,5 BT
8,0 LS & 125,3 BT
8,4 LS & 123,0 BT
8,1 LS & 125,1 BT
8,5 LS & 121,9 BT
5,8 LS & 95,6 BT
5,8 LS & 95,6 BT
0,5 LS & 136,0 BT
2,0 LS & 124,9 BT
0,6 LS & 119,9 BT
2,9 LS & 95,6 BT
2,06 LS & 97,01 BT
8,4 LS & 115,9 BT
8,4 LS & 124,3 BT
9,4 LS & 107,2 BT
4,67 LS & 101,3 BT
Run-up maksimum
(meter)
Tidak terdata
Tidak terdata
Tidak terdata
Tidak terdata
8-10
10
Tidak terdata
Tidak terdata
Tidak terdata
Tidak terdata
Tidak terdata
11,2-26,2
19,1
13,7
2,75
3
34
3,5
Tidak terdata
Tidak terdata
7,6
3,6
Tabel 2.2 Kejadian Tsunami di Indonesia sejak tahun 1961 2007
Sumber: Hidup akrab dengan gempa dan tsunami.
3.1 Pengurangan Risiko Tsunami
Pengelolaan yang tidak baik dalam sumber daya alam dan sumber daya manusia
akan mengakibatkan terjadi bencana. Selain itu, kondisi alam dan keanekaragaman
penduduk dan budaya di Indonesia dapat juga menyebabkan terjadinya bencana
alam, bencana akibat ulah manusia, dan kedaruratan kompleks. Pada umumnya
risiko bencana alam meliputi bencana akibat faktor geologi (gempa bumi, tsunami
dan letusan gunung api), bencana akibat hidrometeorologi (banjir, tanah longsor,
kekeringan, angin topan), bencana akibat faktor biologi (wabah penyakit manusia,
penyakit tanaman/ternak, hama tanaman) serta kegagalan teknologi (kecelakaan
industri, kecelakaan transportasi, radiasi nuklir, pencemaran bahan kimia). Bencana
akibat ulah manusia terkait dengan konfik antar manusia akibat perebutan
sumberdaya yang terbatas, alasan ideologi, religius serta politik. Sedangkan
kedaruratan kompleks merupakan kombinasi dari situasi bencana pada suatu
daerah.
Bencana alam dapat terjadi secara tiba-tiba maupun melalui proses yang
berlangsung secara perlahan. Beberapa jenis bencana seperti gempa bumi, hampir
tidak mungkin diperkirakan secara akurat kapan, dimana akan terjadi dan besaran
kekuatannya. Sedangkan beberapa bencana lainnya seperti banjir, tanah longsor,
kekeringan, letusan gunungapi, dan tsunami masih dapat diramalkan sebelumnya.
Meskipun demikian kejadian bencana selalu memberikan dampak kejutan dan
menimbulkan banyak kerugian baik jiwa maupun materi. Kejutan tersebut terjadi
karena kurangnya kewaspadaan dan kesiapan dalam menghadapi ancaman
bahaya.
Secara umum terdapat peristiwa bencana yang terjadi berulang setiap tahun.
Bahkan sekarang ini peristiwa bencana menjadi lebih sering dan terjadi silih
berganti, misalnya dari kekeringan, kemudian kebakaran, lalu diikuti banjir.
Akibatnya muncul anggapan bahwa bencana tersebut sebagai sesuatu hal yang
memang harus terjadi. Padahal semua itu merupakan fenomena alamiah yang
melekat pada bumi dan timbulnya korban dan kerugian disebabkan oleh beberapa
faktor ketidaksiapan. Beberapa faktor tersebut adalah :
1. Kurangnya pemahaman terhadap karakteristik bahaya
2. Sikap atau perilaku yang mengakibatkan penurunan kualitas sumberdaya
alam
BAB III
PENGURANGAN RISIKO TSUNAMI
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Tsunami Untuk SD/MI
23
3. Kurangnya informasi/peringatan dini yang menyebabkan ketidaksiapan;
dan
4. Ketidakberdayaan/ketidakmampuan dalam menghadapi ancaman
bahaya.
3.1.1 Bencana
Bencana merupakan fenomena yang terjadi karena komponen-komponen,
ancaman, dan kerentanan bekerja bersama secara sistematis, sehingga
menyebabkan terjadinya risiko pada komunitas. Ancaman merupakan
kejadian-kejadian, gejala alam atau kegiatan manusia yang berpotensi untuk
menimbulkan kematian, luka-luka, kerusakan harta benda, gangguan sosial
ekonomi atau kerusakan lingkungan. Kerentanan adalah kondisi-kondisi yang
ditentukan oleh faktor-faktor atau proses-proses fsik, sosial ekonomi dan
lingkungan hidup yang meningkatkan kerawanan suatu komunitas terhadap
dampak ancaman bencana. Risiko merupakan suatu peluang dari timbulnya
akibat buruk, atau kemungkinan kerugian dalam hal kematian, luka-luka,
kehilangan dan kerusakan harta benda, gangguan kegiatan mata pencaharian
dan ekonomi atau kerusakan lingkungan yang ditimbulkan oleh interaksi
antara ancaman bencana dan kondisi kerentanan.
Dalam Undang-undang No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana
menyebutkan bahwa bencana merupakan suatu peristiwa atau rangkaian
peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan
masyarakat yang disebabkan baik oleh faktor alam dan/atau faktor non alam
maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa,
kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.
Menurut ISDR bencana adalah suatu gangguan serius terhadap keberfungsian
suatu masyarakat sehingga menyebabkan kerugian yang meluas pada
kehidupan manusia dari segi materi, ekonomi atau lingkungan dan yang
melampaui kemampuan masyarakat yang bersangkutan untuk mengatasi
dengan menggunakan sumberdaya mereka sendiri.
Adapun komponen yang berpengaruh terhadap besar kecilnya dampak suatu
bencana antara lain sebagai berikut: bahaya, kerentanan, risiko bencana, dan
kapasitas.
Terjadinya Bencana
Bahaya
Kerentanan
Kejadian
RISIKO
BENCANA
BENCANA
Gambar 3.1 Proses terjadinya bencana
Pengurangan Risiko Tsunami
24
Berdasarkan sumber bencananya, terdapat tiga jenis bencana: (1) bencana
alam, yaitu bencana yang murni yang disebabkan oleh peristiwa alam,
contohnya gempa bumi, gunung meletus, angin puting beliung. (2) bencana
akibat ulah manusia, yaitu bencana yang disebabkan oleh kekhilapan manusia
seperti kebakaran dan kornsleting listrik. (3) bencana kompleks, yaitu bencana
yang diakibatkan oleh gabungan antara perilaku alam dan ulah manusia
sebagai contoh banjir akibat hujan diluar normal dan penggundulan hutan.
Bahaya
Dilihat dari potensi bencana yang ada, Indonesia merupakan negara dengan
potensi bencana yang sangat tinggi. Beberapa potensi bencana yang ada
antara lain adalah bencana alam seperti gempa bumi, gunung meletus, banjir,
tanah longsor, dan lain-lain. Potensi bencana yang ada di Indonesia dapat
dikelompokkan menjadi 2 kelompok utama, yaitu potensi bahaya utama
dan potensi bahaya ikutan. Potensi bahaya utama ini dapat dilihat antara lain
pada peta potensi bencana gempa di Indonesia yang menunjukkan bahwa
Indonesia adalah wilayah dengan zona-zona gempa yang rawan, peta potensi
bencana tanah longsor, peta potensi bencana letusan gunung api, peta potensi
bencana tsunami, peta potensi bencana banjir, dan lain-lain.
Gambar 3. 2: Wilayah di Asia yang terkena dampak tsunami 26 Desember 2004
Dari indikator-indikator di atas dapat disimpulkan bahwa Indonesia
memiliki potensi bahaya utama yang tinggi. Hal ini tentunya sangat tidak
menguntungkan bagi negara Indonesia.
Disamping tingginya potensi bahaya utama, Indonesia juga memiliki potensi
bahaya ikutan yang sangat tinggi. Hal ini dapat dilihat dari beberapa indikator
misalnya likuifaksi, persentase bangunan yang terbuat dari kayu, kepadatan
bangunan, dan kepadatan industri berbahaya. Potensi bahaya ikutan \ ini sangat
tinggi terutama di daerah perkotaan yang memiliki kepadatan, persentase
bangunan kayu (utamanya di daerah pemukiman kumuh perkotaan), dan
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Tsunami Untuk SD/MI
25
jumlah industri berbahaya, yang tinggi. Dengan indikator diatas, perkotaan
Indonesia merupakan wilayah dengan potensi bencana yang sangat tinggi.
3.1.2 Risiko Bencana, Konstruksi dari Ancaman, Kerentanan dan Kapasitas
Banjir, 38 %
Gempa,
31 %
Kebakaran,
17 %
Epidemik,
4 %
Mass
movwet,
2 %
Letusan
Gunung Api,
3 %
Kekeringan,
6 %

Gambar 3.3 Persentase Orang Terkena Bencana Berdasarkan Jenis Bencana
Gambar di atas menunjukkan persentase orang terkena bencana berdasarkan
jenis bencana di Indonesia antara kurun waktu 1980 2008. Kejadian bencana
di Indonesia terus meningkat sepanjang tahun. Ini membuktikan bahwa
Indonesia merupakan negara yang rapuh dalam menghadapi ancaman
bencana.
Perbedaan kemampuan dalam mengenali karakteristik bahaya membuat
besaran risiko yang mengena pada situasi bencana juga akan berbeda. Semakin
mampu untuk mengenali dan memahami fenomena bahaya itu dengan baik,
maka manusia akan semakin dapat mensikapinya dengan lebih baik. Sikap dan
tanggap yang didasarkan atas pengenalan dan pemahaman yang baik akan
dapat memperkecil risiko bencana. Kehancuran dahsyat yang terjadi akibat
gempa dan tsunami di Aceh dan Sumatra Utara, serta DI Yogyakarta dan Jawa
Tengah, juga memunculkan kebingungan bagaimana harus mensikapinya;
hiruk pikuk di Alor dan Palu saat terjadi gempa menunjukkan betapa bangsa
Indonesia belum mampu dengan baik menghadapi ancaman bahaya yang
melingkupi.
Pengurangan Risiko Tsunami
26
Ancaman Bencana
Ancaman bencana seperti yang tertuang dalam UU No. 24 Tahun 2007
tentang Penanggulangan Bencana adalah suatu kejadian atau peristiwa
yang bisa menimbulkan bencana. Sedangkan menurut Dr. Krishna S. Pribadi
ancaman bencana merupakan:
1. Suatu peristiwa besar yang jarang terjadi, dalam lingkungan alam atau
lingkungan binaan, yang mempengaruhi kehidupan, harta atau kegiatan
manusia, sedemikian rupa sehingga dapat menimbulkan bencana.
2. Suatu fenomena alam atau buatan manusia yang dapat menimbulkan
kerugian fsik dan ekonomi atau mengancam jiwa manusia dan
kesejahteraannya, bila terjadi di suatu lingkungan permukiman, kegiatan
budi daya atau industri.
Ancaman bencana dapat bersifat membahayakan bagi suatu lingkungan
akibat kondisi lingkungan yang rentan.
Kerentanan
Kerentanan adalah seberapa besar suatu masyarakat, bangunan, pelayanan
atau suatu daerah akan mendapat kerusakan atau terganggu oleh dampak
suatu bahaya tertentu, bergantung kepada kondisinya, jenis konstruksi dan
kedekatannya kepada suatu daerah yang berbahaya atau rawan bencana.
Faktor-faktor yang dapat menyebabkan kerentanan tersebut adalah :
1. Institusi lokal yang lemah dalam membuat kebijakan dan peraturan serta
penegakan kebijakan tersebut, terutama terkait dengan penanggulangan
bencana dan upaya pengurangan risiko bencana, termasuk di dalamnya
adalah lemahnya aparat penegak hukum;
2. Kurangnya penyebaran informasi mengenai kebencanaan, baik melalui
penyuluhan, pelatihan serta keahlian khusus yang diperlukan dalam
upaya-upaya pengurangan risiko bencana; dan
3. Penduduk terkait dengan pertumbuhan penduduk yang sangat cepat.
Kenyataan menunjukkan kerentaan cukup tinggi dari masyarakat, infrastruktur
serta elemen-elemen di dalam kota/kawasan yang berisiko bencana. Karena
kurangnya pemahaman adanya bahaya sekitarnya, maka masyarakat dikatakan
rentan terhadap bencana. Bangunan dibantaran sungai, bangunan tepat di
lereng tempat mengairnya lahar gunung berapi, bangunan di tepi pantai,
bangunan yang permanen dan tidak tahan gempa dan lain-lain merupakan
contoh kerentaan suatu lingkungan
Kapasitas
Kapasitas adalah kemampuan dari masyarakat dalam menghadapi bencana.
Misalnya pengetahuan rendah, maka kapasitasnya rendah, contohnya:
1. Tidak tahu kalau di dekat rumahnya terdapat ancaman tanah longsor
2. Tidak tahu kalau membangun rumah di bantaran kali dapat menyebabkan
banjir
3. Tidak tahu kalau mengikis tebing untuk diambil tanahnya dapat
menyebabkan longsor,
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Tsunami Untuk SD/MI
27
4. Tidak tahu kalau menebang pohon tanpa mengganti dengan pohon baru
dapat menyebabkan banjir dan tanah longsor
5. Tidak memiliki keterampilan bagaimana membuat rumah tahan gempa
6. Tidak memiliki keterampilan bagaimana meng-evakuasi kalau terjadi
gempa
7. Tidak memiliki keterampilan bagaimana menyelamatkan diri dan orang
lain ketika terjadi bencana, dan lain-lain.
3.1.3 Pengurangan Risiko Bencana
Pengurangan risiko bencana adalah konsep dan praktik mengurangi risiko
bencana melalui upaya sistematis untuk menganalisa dan mengelola faktor-
faktor penyebab dari bencana termasuk dengan dikuranginya paparan
terhadap ancaman, penurunan kerentanan manusia dan properti, pengelolaan
lahan dan lingkungan yang bijaksana, serta meningkatkan kesiapsiagaan
terhadap kejadian yang merugikan.
3.1.4 Upaya Pengurangan Risiko Bencana Mitigasi Bencana
Tujuan dari mitigasi bencana gempa bumi adalah untuk mengembangkan
strategi mitigasi yang dapat mengurangi hilangnya kehidupan dari alam
sekitarnya serta harta benda, penderitaan manusia, kerusakan ekonomi dan
biaya yang diperlukan untuk menangani korban bencana yang dihasilkan
oleh bencana gempa bumi. Rencana mitigasi bencana gempa bumi dapat
meningkatkan cara pandang yang luas dan terintegrasi terhadap sistem
pengurangan risiko bencana yang meliputi elemen-elemen berikut :
1. Identifkasi bencana dan kerentanannya serta evaluasi risiko bencana
tersebut.
2. Strategi pengurangan bencana yang bersumber dari wilayah dan dimiliki
oleh pemegang kebijakan.
3. Seperangkat peraturan, perundang-undangan dan regulasi yang
menyediakan kerangka kerja yang komprehensif untuk interaksi antara
berbagai organisasi dan institusi yang berbeda.
4. Mekanisme koordinasi institusi yang kuat.
5. Sistem yang solid untuk mengendalikan pemenuhan dan penguatan kode
dan standar untuk konstruksi bangunan yang aman.
6. Perencanaan dan tataguna lahan dan pemukiman yang menggabungkan
kepedulian akan bencana dan pengurangan risiko.
7. Penggunaan peralatan komunikasi untuk pengurangan risiko akibat
bencana yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan
bencana, pendidikan, pelatihan dan penilaian.
8. Manajemen kesiapsiagaan dan kedaruratan berdasarkan pemahaman
risiko.
9. Kerjasama dan koordinasi antar instansi, antar kota, antar organisasi.
Dalam upaya mengurangi risiko bencana maka diperlukan kesiapsiagaan
yang lebih baik. Oleh karena itu siswa juga harus harus memahami pengertian
Pengurangan Risiko Tsunami
28
dari tsunami, sebab-sebab terjadinya, dampaknya, serta hal-hal apa saja yang
harus diperhatikan sebelum, saat dan setelah terjadinya tsunami tersebut.
Penanggulangan Bencana
Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 tahun 2007 tentang
Penanggulangan Bencana, pasal 33-38, dinyatakan, bahwa:
Penyelenggaraan penanggulangan bencana terdiri atas 3 (tiga) tahap
meliputi:
1. prabencana;
2. saat tanggap darurat; dan
3. pasca bencana.
Penyelenggaraan penanggulangan bencana pada tahapan prabencana
meliputi:
1. dalam situasi tidak terjadi bencana; dan
2. dalam situasi terdapat potensi terjadinya bencana.
Penyelenggaraan penanggulangan bencana dalam situasi tidak terjadi
bencana sebagaimana dimaksud meliputi:
1. perencanaan penanggulangan bencana;
2. pengurangan risiko bencana;
3. pencegahan;
4. pemaduan dalam perencanaan pembangunan;
5. persyaratan analisis risiko bencana;
6. pelaksanaan dan penegakan rencana tata ruang;
7. pendidikan dan pelatihan; dan
8. persyaratan standar teknis penanggulangan bencana.
Perencanaan penanggulangan bencana meliputi:
1. pengenalan dan pengkajian ancaman bencana;
2. pemahaman tentang kerentanan masyarakat;
3. analisis kemungkinan dampak bencana;
4. pilihan tindakan pengurangan risiko bencana;
5. penentuan mekanisme kesiapan dan penanggulangan dampak bencana;
dan
6. alokasi tugas, kewenangan, dan sumber daya yang tersedia.
Pengurangan risiko bencana , dilakukan untuk mengurangi dampak buruk
yang mungkin timbul, terutama dilakukan dalam situasi sedang tidak terjadi
bencana. Kegiatan meliputi:
1. pengenalan dan pemantauan risiko bencana;
2. perencanaan partisipatif penanggulangan bencana;
3. pengembangan budaya sadar bencana;
4. peningkatan komitmen terhadap pelaku penanggulangan bencana; dan
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Tsunami Untuk SD/MI
29
5. penerapan upaya fsik, nonfsik, dan pengaturan penanggulangan
bencana.
Pencegahan meliputi:
1. Identifkasi dan pengenalan secara pasti terhadap sumber bahaya atau
ancaman bencana;
2. kontrol terhadap penguasaan dan pengelolaan sumber daya alam yang
secara tiba-tiba dan/atau berangsur berpotensi menjadi sumber bahaya
bencana;
3. pemantauan penggunaan teknologi yang secara tiba-tiba dan/atau
berangsur berpotensi menjadi sumber ancaman atau bahaya bencana;
4. penataan ruang dan pengelolaan lingkungan hidup; dan
5. penguatan ketahanan sosial masyarakat.
Berdasarkan informasi dari Undang-undang tersebut, banyak hal yang dapat
diidentifkasi, dijadikan bahan pengayaan bagi guru, yang tidak diajarkan ke
siswa. Selain kompetensi yang harus dikuasai siswa tentu harus dikuasai guru,
sebaiknya kepala sekolah dan guru menambah kompetensi lainnya seperti:
1. menyusun Program untuk meningkatkan keamanan sekolah terhadap
Bencana.
2. menyusun rencana aksi sekolah, seperti.
3. perencanaan penanggulangan bencana;
4. pengurangan risiko bencana;
5. pencegahan;
6. pemaduan dalam perencanaan pembangunan;
7. persyaratan analisis risiko bencana;
8. pelaksanaan dan penegakan rencana tata ruang;
9. Perencanaan penanggulangan bencana meliputi:
pengenalan dan pengkajian ancaman bencana;
pemahaman tentang kerentanan masyarakat;
analisis kemungkinan dampak bencana;
pilihan tindakan pengurangan risiko bencana;
penentuan mekanisme kesiapan dan penanggulangan dampak
bencana; dan
alokasi tugas, kewenangan, dan sumber daya yang tersedia.
10. Pengurangan risiko bencana , dilakukan untuk mengurangi dampak buruk
yang mungkin timbul, terutama dilakukan dalam situasi sedang tidak
terjadi bencana. Kegiatan meliputi:
pengenalan dan pemantauan risiko bencana;
perencanaan partisipatif penanggulangan bencana;
pengembangan budaya sadar bencana;
peningkatan komitmen terhadap pelaku penanggulangan bencana;
dan
Pengurangan Risiko Tsunami
30
penerapan upaya fsik, nonfsik, dan pengaturan penanggulangan
bencana.
11. Pencegahan meliputi:
identifkasi dan pengenalan secara pasti terhadap sumber bahaya atau
ancaman bencana;
kontrol terhadap penguasaan dan pengelolaan sumber daya alam
yang secara tiba-tiba dan/atau berangsur berpotensi menjadi sumber
bahaya bencana;
pemantauan penggunaan teknologi yang secara tiba-tiba dan/atau
berangsur berpotensi menjadi sumber ancaman atau bahaya bencana;
penataan ruang dan pengelolaan lingkungan hidup; dan
penguatan ketahanan sosial masyarakat.
3.2 Kesiapsiagaan
3.2.1 Tindakan sebelum terjadi tsunami
Penanggulangan bencana tsunami selama ini dilakukan oleh pemerintah
yang pelaksanaannya kemudian dilakukan bersama antara pemerintah daerah
dengan organisasi-organisasi yang terkait dan masyarakat yang tertimpa
bencana. Seharusnya masyarakat dapat melakukan beberapa tindakan dalam
rangka pengurangan risiko bencana tsunami yaitu:
1. Hindari bertempat tinggal di daerah tepi pantai yang landai kurang dari 10
meter dari permukaan laut. Berdasarkan penelitian, daerah ini merupakan
daerah yang mengalami kerusakan terparah akibat bencana Tsunami,
badai dan angin ribut.
2. Disarankan untuk menanam tanaman yang mampu menahan gelombang
seperti bakau, palem, ketapang, waru, beringin atau jenis lainnya
3. Ikuti tata guna lahan yang telah ditetapkan oleh pemerintah setempat
4. Buat bangunan bertingkat dengan ruang aman di bagian atas
5. Bagian dinding yang lebar usahakan tidak sejajar dengan garis pantai
Selain itu, bencana dapat direduksi apabila masyarakat sadar dan siapsiaga
menghadapi bencana, caranya dengan mempersiapkan diri dengan cara:
1. Mempromosikan budaya pencegahan dan keselamatan menghuni di
kawasan ini.
2. Mempersiapkan rencana manajemen menghadapi bencana
3. Mendorong terbentuknya kepanitiaan dan gugus tugas di wilayah ini.
4. Mempersiapkan peralatan tepat guna untuk pelatihan bagi generasi muda
atau siswa dalam mereduksi terjadinya bencana.
5. Membiayai kegiatan-kegiatan yang mengarah pada reduksi terjadinya
bencana baik diakibatkan oleh alam maupun kegiatan manusia.
6. Mereduksi risiko melalui organisasi formil maupun non formil (pemerintah
dan swasta).
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Tsunami Untuk SD/MI
31
Ada beberapa strategi perencanaan wilayah dalam rangka mencari solusi
rancangan untuk menghadapi bencana Tsunami, antara lain:
1. Dalam lingkup makro, pemilihan kegiatan untuk daerah tertentu harus
tepat, misalnya:
perencanaan evakuasi dan jalur mitigasi. Bercermin dari kasus di Banda
Aceh dan Pangandaran maka dapat ditawarkan escape hill, jalur mitigasi
dan early warning system dan pengamatan visual ke laut.
perencanaan zoning, yakni:
- defend artinya pantai dilengkapi dengan barrier untuk menahan
terjangan gelombang.
- retreat artinya menarik kegiatan menjauhi garis pantai, dan sepanjang
pantai ditanami dengan penghijauan yang berfungsi sebagai sabuk
hijau.
- accomodate artinya meletakkan kegiatan yang cocok di daerah garis
pantai, misalnya daerah ini dibuat tambak.
- counter attack artinya pantai dilengkapi denga sarana penghadang
gelombang mencocokkan aktivitas dengan kondisi pantai dan yang
terakhir menjauhkan kegiatan vital dari garis pantai.
2. Dalam lingkup mikro, ada beberapa alternatif antara lain:
Menghindari daerah terpaan. Menghindari daerah bahaya tsunami,
adalah dengan metode penanggulangan yang paling efektif. Pada
perencanaan wilayah, hal ini mencakup penempatan bangunan dan
infrastruktur di bagian tapak yang tinggi atau menaikkan struktur
di atas terpaan tsunami atau menguatkan podium (tempat berpijak
bangunan).
Batas air

Memperlambat arus air. Teknik memperlambat arus air termasuk
membuat penahan serta daya hancur gelombang. Hutan buatan yang
dirancang khusus, saluran air, jalur hijau, dapat memperlambat dan
menahan arus dan puing-puing yang dibawa ombak. Agar teknik ini
efektif harus ada perkiraan yang tepat dari terpaan yang akan terjadi.
Pengurangan Risiko Tsunami
32
Elemen Guna
Menghambat
Gelombang
Membelokkan kekuatan air. Teknik pembelokkan kekuatan tsunami,
menjauh dari struktur bangunan yang lemah, yaitu dengan menata
struktur, melalui penggunaan tembok-tembok bersudut dan saluran
air, dan menggunakan permukaan dengan lapisan yang memudahkan
jalannya air.
Dinding
Bypass
Menghambat terpaan air. Struktur kokoh seperti tembok, terasering
(penahan gundukkan/tanah curam berbentuk anak tangga) atau
jalur hijau, struktur parkir dan kontruksi lain yang kokoh dapat
menahan kekuatan gelombang. Menahan, bagaimanapun juga dapat
mengakibatkan peningkatan tinggi gelombang ke arah lain.
Dinding
Penahan
Selain itu pengurangan risiko kerusakan akibat tsunami dapat diperkecil
bila: menyediakan jarak ruang yang maksimum antar bangunan,
meninggikan bangunan di atas batas ketinggian terpaan banjir dan
menempatkan akses-akses utama di luar area banjir, dan jalan-jalan
akses penunjang tegak lurus dengan tepi pantai.
3.2.2 Tindakan saat terjadi bencana.
Beberapa tindakan yang perlu dilakukan untuk menghindari bertambahnya jumlah
korban pada saat terjadi bencana akan diuraikan di bawah ini.
1. Tindakan untuk mengurangi kemungkinan risiko
Beberapa tindakan untuk mengurangi kemungkinan risiko yaitu:
Mewujudkan keberdayaan individu, keluarga, komunitas, masyarakat,
dan negara; serta mengatasi ketidakberlanjutan pembangunan
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Tsunami Untuk SD/MI
33
Membangun pondasi rasa aman yang segala kegiatannya mendorong
untuk ketercukupan kebutuhan dasar.
Membangun berbagai perangkat pengurangan risiko bencana (PRB)
dan kegiatan-kegiatan yang dapat mengurangi risiko bencana melalui
mencegah dan memitigasi bahaya, serta meredam kerentanan dari
ancaman
Seluruh kemampuan komunitas digunakan untuk menangani ancaman.
Sehingga tidak diperlukan bantuan eksternal karena kemampuan yang
ada dapat menanganinya
Mengidentifkasi, mengevaluasi, & memonitor risiko-risiko bencana
dan meningkatkan pemanfaatan peringatan dini
Menggunakan pengetahuan, inovasi, dan pendidikan untuk membangun
suatu budaya aman dan ketahanan pada semua tingkatan
Mengurangi faktor-faktor risiko dasar
Memperkuat kesiapsiagaan terhadap bencana dengan respon yang
efektif pada semua tingkatan
Selain itu, lakukanlah mengungsi dengan cepat, jika ada pemberitahuan
untuk mengungsi. Otoritas lokal tidak akan meminta orang untuk
meninggalkan tempat, jika memang sungguh-sungguh keadaan
belum dalam bahaya. Kita perlu menuruti nasehat mereka. Selanjutnya,
dengarkan radio dan televisi lokal dan ikuti instruksi dari pejabat yang
menangani keadaan darurat.
Pada saat terjadi bencana pakailah pakaian pelindung dan sepatu
yang kokoh. Karena wilayah bencana dan bekasnya berisi banyak
risiko. kuncilah rumah. jika kita hanya mempunyai waktu sedikit seperti
kasus tsunami, rebut kebutuhan yang telah disediakan dalam kotak
persediaan bencana dan pergilah.
Jangan lupa membawa kotak P3K, meliputi resep dokter, gigi palsu,
kacamata, dan alat bantu pendengar. kotak persedian bencana. pakaian
pengganti dan sleeping bag. Serta kunci mobil dan atau motor (jika
punya mobil/motor).
2. Penyelamatan Diri
Di dalam Ruangan
Cara-cara yang dilakukan untuk menyelamatkan diri pada saat tsunami
berlangsung apabila sedang berada di dalam ruangan:
- Jangan panik
- Segera berlari mencari tempat yang lebih tinggi
- Naik ke lantai yang lebih tinggi atau atap rumah .
- Tidak perlu menunggu peringatan tsunami
- Selamatkan diri anda, bukan barang anda
- Jangan hiraukan kerusakan di sekitar, teruslah mencari tempat yang
tinggi
Pengurangan Risiko Tsunami
34
- Tetaplah bertahan di daerah ketinggian sampai ada pemberitahuan
resmi dari pihak berwajib tentang keadaan aman
- Jika anda berpegangan atap rumah saat gelombang tsunami
berlangsung jangan membelakangi arah laut supaya terhindar dari
benturan benda benda yang dibawa - oleh gelombang.
- Anda dapat membalikan badan saat gelombang berbalik arah kembali
ke laut
- Tetap berpegangan kuat hingga gelombang benar-benar reda
Di luar Ruangan
Prinsip-prinsip sebagai cara untuk menyelamatkan diri pada saat tsunami
berlangsung apabila sedang berada di luar ruangan
- Jangan panik
- Bila sedang berada di pantai atau dekat laut dan merasakan bumi
bergetar,
- Segera berlari ke tempat yang tinggi dan jauh dari pantai.
- Naik ke lantai yang lebih tinggi, atap rumah atau memanjat pohon.
- Tidak perlu menunggu peringatan Tsunami
- Tsunami dapat muncul melalui sungai dekat laut, jadi jangan berada di
sekitarnya
- Selamatkan diri anda, bukan barang anda
- Jangan hiraukan kerusakan di sekitar, teruslah berlari
- Jika terseret tsunami, carilah benda terapung yang dapat digunakan
sebagai rakit
- Selamatkan diri melalui jalur evakuasi tsunami ke tempat evakuasi yang
sudah disepakati bersama
- Tetaplah bertahan di daerah ketinggian sampai ada pemberitahuan
resmi dari pihak berwajib tentang keadaan aman
- Jika anda berpegangan pada pohon saat gelombang tsunami
berlangsung jangan membelakangi arah laut supaya terhindar dari
benturan benda benda yang dibawa oleh gelombang.
- Anda dapat membalikan badan saat gelombang berbalik arah kembali
ke laut
- Tetap berpegangan kuat hingga gelombang benar-benar reda
Di dalam Gedung Bertingkat
Beberapa tindakan yang dilakukan untuk menyelamatkan diri pada saat
tsunami berlangsung apabila sedang berada di dalam gedung bertingkat:
- Jangan panik
- Segera berlari menuju lantai yang paling tinggi
- Naik ke lantai yang lebih tinggi atau atap gedung.
- Tidak perlu menunggu peringatan tsunami
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Tsunami Untuk SD/MI
35
- Selamatkan diri anda, bukan barang anda
- Jangan hiraukan kerusakan di sekitar, teruslah menuju lantai yang
tertinggi
- Tetaplah bertahan sampai ada pemberitahuan resmi dari pihak berwajib
tentang keadaan aman
- Jika anda berpegangan pada sesuatu balok atau kayu di lantai gedung
tersebut saat gelombang tsunami berlangsung, jangan membelakangi
arah laut supaya terhindar dari benturan benda benda yang dibawa
oleh gelombang.
- Anda dapat membalikan badan saat gelombang berbalik arah kembali
ke laut
- Tetap berpegangan kuat hingga gelombang benar-benar reda
3.2.3 Tindakan Sesudah Terjadi Bencana
Segera setelah bencana tsunami menimpa, masyarakat dari berbagai
daerah di sekitar bencana dan dari daerah-daerah yang jauh bahkan dari
luar negeri berbondong-bondong mendatangi daerah-daerah bencana
untuk memberikan bantuan darurat serta membantu membersihkan
puing, mendirikan tenda dan MCK darurat dan mengerjakan apa saja untuk
mengurangi penderitaan mereka yang selamat.
Tidak ada satu kelompok atau satu organisasi tunggal yang dapat menangani
keseluruhan akibat bencana. Karena bencana merupakan permasalahan
kompleks yang menuntut adanya penanganan kolektif yang melibatkan
berbagai disiplin dan kelompok kelembagaan yang berbeda dengan kata lain,
melalui kemitraan. Ini merupakan hal yang penting untuk dipertimbangkan.
Masyarakat harus dipersiapkan dengan sebaik-baiknya langkah-langkah yang
harus dilakukan setelah bencana tsunami terjadi dengan cara:
1. kapasitas untuk mengelola selama kejadian-kejadian yang mendatangkan
malapetaka
2. kapasitas untuk memulihkan diri setelah bencana tsunami
3. kapasitas untuk menyerap tekanan atau kekuatan-kekuatan yang
menghancurkan, melalui perlawanan atau adaptasi
Masyarakat perlu memperkuat kapasitas mereka, karena tidak ada masyarakat
yang sepenuhnya aman dari bahaya alam ataupun bahaya-bahaya terkait
kegiatan manusia. Masyarakat merupakan sesuatu yang kompleks dan
seringkali tidak berbentuk satu kesatuan. Di antara orang-orang yang tinggal
di suatu daerah yang sama ada perbedaan-perbedaan dalam hal kekayaan,
status sosial dan pekerjaan, dan mungkin pula ada pembagian-pembagian
lain yang lebih serius di dalam masyarakat.
Pengurangan Risiko Tsunami
36
1. Beberapa tindakan yang dapat dilakukan setelah tsunami berlalu
yaitu:
Hindari instalasi listrik bertegangan tinggi dan laporkan jika menemukan
kerusakan kepada PLN
Hindari memasuki wilayah kerusakan kecuali setelah dinyatakan aman
Jauhi reruntuhan bangunan
Laporkan diri ke lembaga pemerintah, lembaga adat atau lembaga
keagamaan
Upayakan penampungan sendiri kalau memungkinkan. Ajaklah sesama
warga untuk melakukan kegiatan yang positif. Misalnya mengubur
jenazah, mengumpulkan benda-benda yang dapat digunakan kembali,
sembahyang bersama, dan lain sebagainya. Tindakan ini akan dapat
menolong kita untuk segera bangkit, dan membangun kembali
kehidupan
Bila diperlukan, carilah bantuan dan bekerja sama dengan sesama
serta lembaga pemerintah, adat, keagamaan atau lembaga swadaya
masyarakat
Ceritakan tentang bencana ini kepada keluarga, anak, dan teman anda
untuk memberikan pengetahuan yang jelas dan tepat. Ceritakan juga
apa yang harus dilakukan bila ada tanda-tanda tsunami akan datang.
Tenang dan sabar. Tetap tenang dan berpikir rasional akan membantu
menyelamatkan kita dan terhindar dari tindakan yang tidak masuk akal.
Biasanya banyak orang yang akan mencari pemenuhan kebutuhan
untuk keselamatan keluarganya sendiri. Kesabaran akan membantu
semua orang terbebas dari situasi sulit dengan mudah.
Mendengarkan radio dan televisi lokal yang memberitakan informasi
dan instruksi. Otoritas lokal akan menyediakan jalan keluar yang sesuai
dengan situasi terakhir.
Memeriksa luka-luka. Memberi bantuan P3K untuk diri sendiri dan
kemudian membantu orang lain sampai mendapat bantuan.
Membantu tetangga yang memerlukan bantuan khusus bayi, orang
jompo, orang dengan kecacatan dan orang lain yang membutuhkan
bantuan.
Melihat kemungkinan kerusakan di rumah. Bencana dapat menyebabkan
kerusakan yang besar karenanya kita harus berhati-hati.
Menggunakan lampu senter atau lentera yang menggunakan baterei.
Menghindari penggunaan lilin. Lilin dapat menyebabkan kebakaran.
Memeriksa saluran listrik dan gas yang dapat mengakibatkan
kebakaran.
Memeriksa bagian bangunan yang dianggap rawan untuk segera
dirobohkan.
Mengambil gambar dari kerusakan untuk kebutuhan klaim asuransi.
Hubungi anggota keluarga lain untuk pemberitahuan.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Tsunami Untuk SD/MI
37
Yakin kita mempunyai persediaan air yang cukup, jika aliran air terputus,
karena air mudah tercemar pada saat terjadi bencana.
2. Menjalin Kerjasama
Penanggulangan bencana tsunami hendaknya menjadi tanggung jawab
bersama antara masyarakat dan pemerintah serta pihak-pihak terkait.
Kerjasama ini sangat penting untuk memperlancar proses penanggulangan
bencana. Dalam setiap kejadian bencana di Indonesia ada beberapa pihak
yang bekerja sama dalam melakukan usaha-usaha penanganannya. Adalah
hak masyarakat untuk menghubungi instansi terkait ini karena keberadaan
pihak-pihak ini adalah untuk mendampingi masyarakat dalam usaha
penanggulangan bencana. Hubungan dengan pihak-pihak ini sebaiknya
dijalin dalam tahap sebelum bencana, saat bencana dan setelah bencana.
Untuk memperkuat kesiapsiagaan, masyarakat bisa mendapatkan pelatihan
dan bantuan dari instansi/organisasi dibawah ini :
Dinas Sosial : Adalah instansi Pemerintah yang menangani bidang
kesejahteraan dalam membantu masyakakat yang dilanda bencana.
Tentara Nasional Indonesia (TNI) : Bisa memberi pelatihan kepada
masyarakat untuk meningkatkan kemampuan dalam bidang operasi di
lapangan.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofsika (BMKG): Adalah instansi
Pemerintah yang memberi informasi tentang perkembangan cuaca, gempa
bumi dan kegiatan gunung berapi.
Search and Rescue (SAR): Adalah lembaga yang bertugas dalam hal
melakukan pencarian, pertolongan dan penyelamatan terhadap orang
yang mengalami musibah atau diperkirakan hilang dalam suatu bencana.
Rumah Sakit (Unit Gawat Darurat): Adalah instansi pemerintah maupun
swasta yang memiliki kapasitas/kewenangan dalam hal pelayanan
kesehatan masyarakat luas. Dalam hal penanganan bencana, rumah
sakit melakukan penanganan korban bencana baik dalam penanganan
penderita gawat darurat maupun tindakan-tindakan perawatan korban
bencana secara berkelanjutan.
Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat): Adalah instansi pemerintah
yang memiliki tugas untuk memberikan pelayanan kesehatan di tingkat
lapisan masyarakat terkecil, dan instansi ini memiliki kemampuan untuk
melakukan tindakan-tindakan penanganan penderita gawat darurat
sebelum dilakukan evakuasi selanjutnya ke rumah sakit.
Polisi Daerah: Adalah instansi pemerintah yang memiliki kewenangan
dalam hal keamanan dan ketertiban masyarakat sekaligus memiliki fungsi
sebagai pihak yang melakukan tindakan-tindakan yang bersifat darurat
dalam penanganan bencana di masyarakat. Instansi kepolisian biasanya
ada di setiap tingkatan masyarakat hingga yang terkecil.
Hansip/Linmas: adalah kelompok masyarakat yang ditugaskan untuk
membantu tugas kepolisian dalam melakukan pengamanan wilayah
domisili tugas mereka. Kelompok ini terdiri dari anggota-anggota
Pengurangan Risiko Tsunami
38
masyarakat terpilih dan dipercayai untuk melakukan pengawasan terhadap
keamanan dan ketertiban wilayah.
Palang Merah Indonesia (PMI): Adalah lembaga yang bertugas untuk
membantu masyarakat dalam meringankan penderitaan masyarakat yang
dilanda bencana.
Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) : LSM lokal bisa bekerja sama
dengan masyarakat dalam menanggulangi bencana dan membantu
masyarakat untuk membina hubungan ke luar.
Media Massa: Media Massa Cetak maupun Elektronik (televisi dan radio)
bisa menyebarkan berita tentang bencana dan bisa membantu untuk
mencari bantuan.
Kelompok Masyarakat Penanggulangan Bencana (KMPB): Terdiri atas
anggota-anggota masyarakat yang pembentukannya adalah hasil dari
keputusan masyarakat bersama.
Satkorlak/Satlak/BPBD: badan pemerintah daerah yang melakukan
penyelenggaraan penanggulangan bencana di daerah.
BNPB: lembaga pemerintah non-departemen sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
BAB IV
MATERI PEMBELAJARAN PENGURANGAN
RISIKO TSUNAMI
4.1 Identifkasi Materi Pembelajaran Pengurangan Risiko Tsunami
Muatan pendidikan pengurangan risiko bencana untuk siswa SD/MI disusun dengan
mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:
a. Kepentingan dan kemampuan peserta didik dan lingkungannya
Muatan pendidikan PRB dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta
didik memiliki peluang atau kesempatan untuk selamat dan membantu orang
lain agar selamat ketika Tsunami terjadi. Untuk mendukung pencapaian tujuan
tersebut perlu peningkatan kompetensi/kapasitas peserta didik disesuaikan
dengan potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik
serta tuntutan lingkungan, termasuk kearifan lokal yang dimiliki masyarakat
dalam lingkungan tersebut. Kegiatan pembelajaran PRB berpusat pada
peserta didik.
b. Keragaman risiko bahaya dan karakteristik daerah dan lingkungan
Setiap daerah memiliki risiko, kebutuhan, tantangan, dan keragaman
karakteristik lingkungan. Masing-masing daerah memerlukan pendidikan PRB
sesuai dengan karakteristik daerah dan pengalaman hidup sehari-hari. Oleh
karena itu, kurikulum harus mengakomodir keragaman tersebut yang relevan
dengan kebutuhan pendidikan PRB.
c. Kondisi sosial budaya masyarakat setempat
Pengembangan muatan pendidikan PRB dilakukan dengan memperhatikan
karakteristik sosial budaya masyarakat setempat dan menunjang kelestarian
keragaman budaya. Penghayatan dan apresiasi pada budaya setempat
diperlukan, termasuk kearipan lokal yang ada.
d. Peningkatan kesadaran akan adanya risiko bencana akibat gempa
Muatan pendidikan PRB dimaksudkan untuk menumbuhkembangkan
kesadaran siswa akan adanya risiko bahaya tsunami. Untuk itu diperlukan
pengetahuan dan pemahaman terjadinya tsunami, hal-hal yang terjadi ketika
dan setelah tsunami.
Materi Pembelajaran Pengurangan Risiko Tsunami
40
e. Peningkatan kompetensi/kapasitas diri agar dapat mengurangi bahaya
bencana yang diakibatkan tsunami
Pendidikan PRB dilakukan secara sistematik dan terpadu dengan pendidikan
mata pelajaran lain, untuk meningkatkan kompetensi siswa secara holistik
yang memungkinkan potensi diri (afektif, kognitif, psikomotor) berkembang
secara optimal, agar selamat ketika tsunami terjadi. Sejalan dengan itu,
kurikulum disusun dengan memperhatikan potensi, tingkat perkembangan,
minat, kecerdasan intelektual, emosional, sosial, spritual, dan kinestetik peserta
didik.
f. Menyeluruh dan berkesinambungan
Substansi muatan pendidikan PRB mencakup keseluruhan dimensi kompetensi
yang diperlukan, dimensi kognitif, psikomotor dan afektif.
g. Belajar sepanjang hayat
Pengembangan muatan pendidikan PRB diarahkan kepada proses
pengembangan, pembudayaan, dan pemberdayaan peserta didik yang
berlangsung sepanjang hayat.
Adapun materi pembelajaran pengurangan risiko tsunami untuk setiap
jenjang kelas adalah sebagai berikut:
MATERI PEMBELAJARAN KELAS
A. Sebelum Terjadi Bencana Tsunami
t4FKBSBIUTVOBNJ
t1FOHFSUJBOUTVOBNJ
t1FOZFCBCUTVOBNJ
t+FOJTKFOJTUTVOBNJ
t,BSBLUFSJTUJLEBFSBICBIBZBUTVOBNJ
t1FUBCBIBZBUTVOBNJ
t5BOEBUBOEBCBIBZBUTVOBNJ
,FMBT*7
,FMBT*7
,FMBT7
,FMBT7
,FMBT7*
,FMBT7*
,FMBT7*
B. Tindakan Saat Terjadi Tsunami
t1SPTFTUFSKBEJOZBUTVOBNJ
t1FOZFMBNBUBOLFUJLBUFSKBEJUTVOBNJ
t5JOEBLBOTFTBBUTFUFMBICFODBOBUTVOBNJ
,FMBT*7
,FMBT7
,FMBT7*
C. Tindakan Setelah Terjadi Tsunami
t%BNQBLUTVOBNJ
,FMBT7*
Tabel 4.1 Identifkasi Materi Pembelajaran Pengurangan Risiko Tsunami
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Tsunami Untuk SD/MI
41
4.2 Pemetaan Indikator Siswa
Kompetensi tersebut dapat dielaborasi ke dalam indikator-indikator sebagai berikut :
MATERI PEMBELAJARAN
A. Sebelum Terjadi Bencana Tsunami
- Se[arah tsunaml
- Pengertlan tsunaml
- Penyebab tsunaml
- 1enls-[enls tsunaml
- Karakterlstlk daerah bahaya tsunaml

- Peta bahaya tsunaml
- Tanda-tanda bahaya tsunaml
B. Tindakan Saat Terjadi Tsunami
- Proses ter[adlnya tsunaml

- Penyelamatan ketlka ter[adl tsunaml

- Tlndakan sesaat setelah bencana
tsunaml
C. Tindakan Setelah Terjadi Tsunami
- Dampak tsunaml
INDIKATOR PERILAKU
- Mendeskrlpslkan se[arah tsunaml
- Men[elaskan pengertlan tsunaml
- Menganallsls penyebab tsunaml
- Menyebutkan [enls-[enls tsunaml
- Mengldentlkasl karakterlstlk
daerah bahaya tsunaml
- Menggambar peta bahaya
tsunaml
- Menganallsls tanda-tanda bahaya
tsunaml
- Mendeskrlpslkan proses
ter[adlnya tsunaml
- Mencerltakan penyelamatan
ketlka ter[adl tsunaml
- Menslmulaslkan tlndakan sesaat
setelah bencana tsunaml
- Mengldentlkasl dampak tsunaml
KELAS
Kelas |v
Kelas |v
Kelas v
Kelas v
Kelas v|
Kelas v|
Kelas v|
Kelas |v
Kelas v
Kelas v|
Kelas |v, v
dan v|
B. Pemetaan Indikator Siswa
Kompetensl tersebut dapat dlelaborasl ke dalam
lndlkator-lndlkator sebagal berlkut :

4.3 Pendekatan Kegiatan Belajar Mengajar
Terapan pendidikan kesiapsiagaan bencana maupun pendidikan bencana, bermuara
pada (1) Pemahaman tentang bencana, (2) Pemahaman tentang kerentanan, (3)
Pemahaman tentang kerentanan fsik dan fasilitas-fasilitas penting untuk keadaan
darurat bencana, dan (4) Sikap dan kepedulian terhadap risiko bencana.
Tujuan pendidikan pengurangan risiko bencana, dalam pelaksanaan di sekolah
perlu dijabarkan menjadi indikator perilaku siswa. Penetapan indikator perilaku
siswa dalam pengurangan risiko bencana mempertimbangan beberapa aspek,
yaitu:
1. Perkembangan psikologis anak, diperlukan terutama dalam menentukan isi/
materi yang diberikan kepada anak agar tingkat keluasan dan kedalamannya
sesuai dengan tahap perkembangan anak dan peristiwa bencana yang dialami
oleh anak.
2. Berbasis lingkungan, dengan mengutamakan nilai-nilai kearifan lokal. Ini
mempunyai makna bahwa siswa diajak untuk bersahabat dengan alam
lingkungan sekitar yang sarat dengan nilai-nilai kearifan lokal.
Tabel 4.2 Pemetaaan Indikator Siswa
Materi Pembelajaran Pengurangan Risiko Tsunami
42
3. Mempunyai nilai aplikatif yang tinggi, karena siswa bisa langsung menerapkan
pengetahuan dan keterampilan dasar yang benar-benar diperlukan pada saat
bencana maupun tanggap darurat.
Adapun pendekatan yang dapat dilaksanakan pada kegiatan pembelajaran PRB, agar
lebih menyenangkan siswa, sebaiknya digunakan pendekatan cooperative learning
dan simulasi, serta pendekatan dan metode lainnya jika diperlukan. Pendidikan
pengurangan risiko bencana adalah sebuah proses pembelajran bersama yang
bersifat interaktif di tengah masyarakat dan lembaga-lembaga yang ada. Cakupan
pendidikan pengurangan risiko bencana lebih luas daripada pendidikan formal di
sekolah dan universitas. Termasuk di dalamnya adalah pengakuan dan penggunaan
kearifan tradisional dan pengetahuan terhadap bencana (UN-ISDR).
Pengintegrasian materi ajar PRB di dalam kurikulum harus dikembangkan
berdasarkan prinsip-prinsip pengembangan Kuikulum Tingkat Satuan Pendidikan
(KTSP). Oleh karena itu perlu adanya kajian terhadap mata pelajaran-mata pelajaran
yang dapat dikembangkan dengan materi ajar PRB tsunami.
BAB V
PENGINTEGRASIAN MATERI POKOK
PENGURANGAN RISIKO TSUNAMI KE
DALAM KURIKULUM TINGKAT SATUAN
PENDIDIKAN MENENGAH (SD/MI)
I
ntegrasi pendidikan pengurangan risiko bencana kedalam Kurikulum Tingkat
Satuan Pendidikan (KTSP) dimaknai sebagai menggabungkan muatan pendidikan
PRB dan muatan KTSP, atau memasukkan muatan pendidikan PRB dalam
muatan KTSP. Pengintegrasian pendidikan PRB dilakukan dengan memperhatikan
keterpaduan dan kesinambungan muatan pendidikan PRB dan muatan KTSP
(termasuk program ekstrakurikuler yang dimiliki sekolah), sumber daya yang
dimiliki untuk melaksanakan pendidikan PRB. Pengintegrasian muatan pendidikan
PRB dapat dilakukan dengan muatan mata pelajaran pokok, mata pelajaran muatan
lokal, dan/atau program ekstrakurikuler. Pengintegrasian dilakukan secara terpadu
sehingga menyatu, saling terkait dan berkesinambungan secara harmonis.
Pengintegrasian dilakukan dengan mempertimbangkan muatan pendidikan PRB,
standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran pokok dan muatan lokal,
objek kajian mata pelajaran pokok, program pembiasaan, dan/ atau ketersediaan
sumber daya guru yang akan melaksanakannya. Cara pengintegrasian yang dipilih
mempunyai implikasi tuntutan pengerjaan administratif yang berbeda-beda
sebelum pelaksanaan pendidikan PRB dilakukan.
Pengintegrasian pendidikan PRB ada baiknya dilakukan secara terpadu dan
menyeluruh kepada salah satu cara berikut: mata pelajaran pokok, muatan lokal,
atau kegiatan ekstra kurikuler. Agar perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi mudah
dilakukan secara menyeluruh dan berkesinambungan.
Selanjutnya adalah, bila muatan pendidikan PRB dintegrasikan dengan muatan
mata pelajaran, merumuskan standar kompetensi dan kompetensi dasar muatan
pendidikan PRB. Membuat perencanaan pembelajaran dan evaluasi muatan
Pendidikan PRB atas dasar standar kompetensi dan kompetensi dasar muatan
Pendidikan PRB kedalam silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran. Bila
muatan Pendidikan PRB diintegrasikan dengan program pembiasaan, maka
selanjutnya adalah menyusun program pelaksanaan muatan pendidikan PRB
tersebut.
Permen Diknas No. 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses mengamanatkan
bahwa proses pembelajaran untuk mencapai kompetensi dasar dilakukan secara
interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk
berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas,
Pengintegrasian Materi Pokok Pengurangan Risiko Tsunami
Ke Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Dasar (SD/MI)
44
dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fsik serta
psikologis peserta didik. Selain itu, proses pembelajaran juga harus menggunakan
metode yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan mata pelajaran,
yang dapat meliputi proses eksplorasi, elaborasi, dan konfrmasi.
Berbagai model pembelajaran dapat diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar
agar anak mendapatkan pengalaman belajar yang bermakna sesuai dengan tingkat
perkembangannya. Untuk itu, guru perlu mengupayakan kegiatan pembelajaran
tersebut. Salah satu model pembelajaran yang dapat diberikan pada siswa adalah
model pembelajaran terintegrasi.
Pembelajaran integrasi yang memasukkan materi tertentu ke dalam suatu bidang
studi dengan menggunakan tema sebagai pemersatu kegiatan, diharapkan akan
dapat memotivasi anak dalam belajar dan memberikan pengetahuan, sikap, atau
keterampilan yang bermakna bagi anak.
Terdapat beberapa alternatif cara mengitegrasikan pendidikan PRB kedalam
kurikulum satuan pendidikan. Pertama adalah mengintegrasikan muatan
pendidikan PRB kedalam mata pelajaran pokok. Kedua adalah mengintegrasikan
muatan pendidikan PRB kedalam mata muatan Lokal. Ketiga adalah
mengintegrasikan muatan pendidikan PRB kedalam kegiatan ekstra kurikuler.
Keempat adalah mengintegrasikan secara lintas mata pelajaran, atau kedalam
beberapa mata pelajaran pokok, mata pelajaran muatan lokal, dan/atau kegiatan
ekstra kurikuler.
5.1 Pengintegrasian Pengurangan Risiko Tsunami ke dalam Mata
Pelajaran.
Setelah mengetahui tentang bencana dan pengurangan risiko bencana, dibawah
ini akan diuraikan tahapan-tahapan dalam integrasi materi PRB dalam pendidikan.
Tahapan dalam pengintegrasian materi PRB terhadap mata pelajaran di tingkat SD
sebagai berikut:
1. Identifkasi Materi Pembelajaran tentang Pengurangan Risiko
Bencana
Materi pembelajaran adalah bahan yang diperlukan untuk pembentukan
pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dikuasai siswa dalam rangka
memenuhi standar kompetensi dan kompetensi dasar yang ditetapkan.
Konsep mengenai pendidikan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) dapat
diintegrasikan ke dalam mata pelajaran pokok dalam kurikulum, diantaranya:
IPA, IPS, Bahasa Indonesia, dan Penjas Orkes.
2. Analisis Kompetensi Dasar yang Memungkinkan dapat diintegrasikan
dengan PRB
Kompetensi-kompetensi dasar yang terdapat pada KTSP dapat diintegrasikan
dengan materi PRB dalam bentuk model KTSP daerah bencana. Model ini
disusun sesuai dengan kondisi, kebutuhan, potensi, dan karakteristik satuan
pendidikan dan peserta didik di daerah bencana yang diharapkan dapat
digunakan sebagai acuan atau referensi bagi satuan pendidikan di daerah lain
yang punya karakteristik yang sama.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Tsunami Untuk SD/MI
45
Setelah kurikulum, bahan ajar sebagai acuan yang lebih operasional dalam
melaksanakan pembelajaran di sekolah, merupakan komponen yang sangat
berperan dalam memberikan pengetahuan dan pemahaman mengenai
bencana dan kesiapsiagaan bencana terhadap warga negara, khsusnya
peserta didik.
Melalui bahan ajar yang disusun pada pembelajaran tematik dan di setiap
mata pelajaran dapat diintegrasikan mengenai jenis-jenis bencana beserta
penyebabnya, usaha-usaha yang dapat dilakukan dalam menghindari
terjadinya beberapa bencana, apa yang harus dilakukan ketika terjadi
bencana, dampak yang ditimbulkan oleh bencana dan usaha-usaha yang
dalam mengurangi dampak tersebut, apa yang dilakukan setelah bencana itu
terjadi, dan lain-lain.
3. Menyusun Silabus yang Terintegrasi Pengurangan Risiko Bencana
Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata
pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi
dasar, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator,
penilaian, alokasi waktu, dan sumber/bahan/alat belajar yang diintegrasikan
dengan nilai-nilai pengurangan risiko bencana (PRB).
Silabus merupakan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar
ke dalam materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator
pencapaian kompetensi untuk penilaian.
Silabus Integrasi PRB dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan masing-
masing sekolah dan jenis ancaman bencana yang rentan di wilayahnya.
Langkah-langkah penyusunan silabus yang mengintegrasikan PRB diantaranya
adalah sebagai berikut.
a. Mengkaji dan menentukan standar kompetensi (SK) yang dapat
diintegrasikan dengan PRB.
b. Mengkaji dan menentukan kompetensi dasar (KD) yang sesuai dengan SK
yang diintegrasikan.
c. Merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi (dengan mengacu pada
SK dan KD).
d. Mengidentifkasi Materi Pokok/Pembelajaran yang sesuai dengan PRB
tsunami.
e. Mengembangkan kegiatan pembelajaran berintegrasi PBR tsunami,
seperti penyampaian informasi bahaya tsunami, simulasi penyelamatan
diri, pertolongan pertama, dan lainnya.
f. Menentukan Jenis Penilaian.
g. Menentukan alokasi waktu.
h. Menentukan sumber belajar yang berhubungan dengan PRB tsunami.
4. Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Rencana pembelajaran merupakan langkah awal dari suatu menejemen
pembelajaran yang berisi kebijakan strategic tentang pelaksanaan
pembelajaran yang akan dilakukan. Dalam rencana pembelajaran selalu
terdapat komponen yang saling berkaitan yaitu tujuan, bahan ajar, metode/
Pengintegrasian Materi Pokok Pengurangan Risiko Tsunami
Ke Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Dasar (SD/MI)
46
teknik, media, alat evaluasi, dan penjadwalan setiap langkah kegiatan.
Komponen-komponen tersebut saling berkaitan dan diintegrasikan dengan
nilai-nilai usaha pengurangan risiko bencana (PRB).
Rencana pelaksanaan pembelajaran disusun untuk setiap komptensi
dasar yang dapat dilaksanakan dalam satu kali pertemuan atau lebih. Guru
merancang penggalan RPP untuk setiap pertemuan yang disesuaikan dengan
penjadwalan di satuan pendidikan. RPP yang terintegrasi PRB tsunami
disusun sesuai dengan kompetensi dasar yang relevan dengan materi ajar PRB
tsunami.
Untuk lebih jelasnya, tahapan pengintegrasian dijelaskan sebagai berikut.
5.1.1 Identifkasi Materi Pembelajaran Pengurangan Risiko Tsunami.
Setelah dianalisis, pengurangan risiko tsunami dapat diintegrasikan
pada beberapa mata pelajaran. Pemetaan materi pembelajaran untuk
pengintegrasian pengurangan risiko tsunami adalah sebagai berikut.
Tabel 5.1: Materi Pembelajaran Pengurangan Risiko Tsunami
MATERI PEMBELAJARAN TAHAPAN PERISTIWA NO
t4FKBSBIUTVOBNJ
t1FOHFSUJBOUTVOBNJ
t1FOZFCBCUTVOBNJ
t+FOJTKFOJTUTVOBNJ
t,BSBLUFSJTUJLEBFSBICBIBZBUTVOBNJ
t1FUBCBIBZBUTVOBNJ
t5BOEBUBOEBCBIBZBUTVOBNJ
t1SPTFTUFSKBEJOZBUTVOBNJ
t1FOZFMBNBUBOLFUJLBUFSKBEJUTVOBNJ
t5JOEBLBOTFTBBUTFUFMBICFODBOB
UTVOBNJ
t%BNQBLUTVOBNJ
1. Sebelum Terjadi Bencana Tsunami
2. Tindakan Saat Terjadi Tsunami
3. Tindakan Setelah Terjadi Tsunami
5.1.2 Analisis Kompetensi Dasar (KD) yang dapat diintegrasikan
Berikut adalah standar kompetensi dan kompetensi dasar untuk beberapa
mata pelajaran di tingkat satuan pendidikan dasar (SD/MI) yang dapat
diintegrasikan dengan materi pengurangan risiko tsunami.
T
a
b
e
l

5
.
2

T
a
b
e
l

P
e
m
e
t
a
a
n

S
K
-
K
D

k
e

d
a
l
a
m

m
a
t
a

p
e
l
a
j
a
r
a
n

I
P
A
-

P
e
n
g
e
r
t
l
a
n

t
s
u
n
a
m
l
-

M
e
n
d
e
s
k
r
l
p
s
l
k
a
n

s
e
[
a
r
a
h

t
s
u
n
a
m
l

-

M
e
n
[
e
l
a
s
k
a
n

p
e
n
g
e
r
t
l
a
n

t
s
u
n
a
m
l
B
.


T
i
n
d
a
k
a
n

S
a
a
t

T
e
r
j
a
d
i

T
s
u
n
a
m
i




-

P
r
o
s
e
s

t
e
r
[
a
d
l
n
y
a

t
s
u
n
a
m
l
-

M
e
n
d
e
s
k
r
l
p
s
l
k
a
n

p
r
o
s
e
s

t
e
r
[
a
d
l
n
y
a




t
s
u
n
a
m
l
K
L
S
/
S
M
T
M
A
T
E
R
I

P
E
M
B
E
L
A
J
A
R
A
N

P
R
B
I
N
D
I
K
A
T
O
R

P
E
R
I
L
A
K
U

S
I
S
W
A

(
I
N
D
I
K
A
T
O
R

P
E
M
B
E
L
A
J
A
R
A
N

P
R
B
)
M
A
T
A
P
E
L
A
-
J
A
R
A
N
S
T
A
N
D
A
R

K
O
M
P
E
T
E
N
S
I

(
S
K
)

K
O
M
P
E
T
E
N
S
I

D
A
S
A
R

(
K
D
)

K
L
S
/
S
M
T
M
A
T
E
R
I

P
E
M
B
E
L
A
J
A
R
A
N

P
R
B
I
N
D
I
K
A
T
O
R

P
E
R
I
L
A
K
U

S
I
S
W
A

(
I
N
D
I
K
A
T
O
R

P
E
M
B
E
L
A
J
A
R
A
N

P
R
B
)
M
A
T
A
P
E
L
A
-
J
A
R
A
N
S
T
A
N
D
A
R

K
O
M
P
E
T
E
N
S
I

(
S
K
)

K
O
M
P
E
T
E
N
S
I

D
A
S
A
R

(
K
D
)

I
V
A
.

S
e
b
e
l
u
m

T
e
r
j
a
d
i

B
e
n
c
a
n
a







T
s
u
n
a
m
i




-

S
e
[
a
r
a
h

t
s
u
n
a
m
l

|
P
A
I
V
I
V
7
.

M
e
m
a
h
a
m
l

g
a
y
a


d
a
p
a
t






m
e
n
g
u
b
a
h


g
e
r
a
k

d
a
n
/
a
t
a
u






b
e
n
t
u
k

s
u
a
t
u

b
e
n
d
a
7
.
l

M
e
n
y
l
m
p
u
l
k
a
n

h
a
s
l
l

p
e
r
c
o
b
a
a
n








b
a
h
w
a

g
a
y
a

(
d
o
r
o
n
g
a
n

d
a
n








t
a
r
l
k
a
n
)

d
a
p
a
t

m
e
n
g
u
b
a
h

g
e
r
a
k








s
u
a
t
u

b
e
n
d
a
7
.
2

M
e
n
y
l
m
p
u
l
k
a
n

h
a
s
l
l

p
e
r
c
o
b
a
a
n








b
a
h
w
a

g
a
y
a

(
d
o
r
o
n
g
a
n

d
a
n








t
a
r
l
k
a
n
)

d
a
p
a
t

m
e
n
g
u
b
a
h








b
e
n
t
u
k

s
u
a
t
u

b
e
n
d
a
I
V
C
.

T
i
n
d
a
k
a
n

S
e
t
e
l
a
h

T
e
r
j
a
d
i






T
s
u
n
a
m
i



-

D
a
m
p
a
k

t
s
u
n
a
m
l
-

M
e
n
g
l
d
e
n
t
l

k
a
s
l

d
a
m
p
a
k

t
s
u
n
a
m
l
9
.

M
e
m
a
h
a
m
l


p
e
r
u
b
a
h
a
n






k
e
n
a
m
p
a
k
a
n

p
e
r
m
u
k
a
a
n

b
u
m
l

9
.
l

M
e
n
d
e
s
k
r
l
p
s
l
k
a
n

p
e
r
u
b
a
h
a
n








k
e
n
a
m
p
a
k
a
n

b
u
m
l

|
P
A
V V
A
.

S
e
b
e
l
u
m

T
e
r
j
a
d
i

B
e
n
c
a
n
a







T
s
u
n
a
m
i




-

P
e
n
y
e
b
a
b

t
s
u
n
a
m
l

-

M
e
n
g
a
n
a
l
l
s
l
s

p
e
n
y
e
b
a
b

t
s
u
n
a
m
l
5
.

M
e
m
a
h
a
m
l

h
u
b
u
n
g
a
n

a
n
t
a
r
a





g
a
y
a
,

g
e
r
a
k
,

d
a
n

e
n
e
r
g
l
,

s
e
r
t
a





f
u
n
g
s
l
n
y
a
5
.
l

M
e
n
d
e
s
k
r
l
p
s
l
k
a
n

h
u
b
u
n
g
a
n









a
n
t
a
r
a

g
a
y
a
,

g
e
r
a
k

d
a
n

e
n
e
r
g
l








m
e
l
a
l
u
l

p
e
r
c
o
b
a
a
n

(
g
a
y
a








g
r
a
v
l
t
a
s
l
,

g
a
y
a

g
e
s
e
k
,

g
a
y
a








m
a
g
n
e
t
)
-

1
e
n
l
s
-
[
e
n
l
s

t
s
u
n
a
m
l
-

M
e
n
y
e
b
u
t
k
a
n

[
e
n
l
s
-
[
e
n
l
s

t
s
u
n
a
m
l
V
B
.


T
i
n
d
a
k
a
n

S
a
a
t

T
e
r
j
a
d
i

T
s
u
n
a
m
i




-

P
e
n
y
e
l
a
m
a
t
a
n

k
e
t
l
k
a

t
e
r
[
a
d
l







t
s
u
n
a
m
l
-

M
e
n
c
e
r
l
t
a
k
a
n

p
e
n
y
e
l
a
m
a
t
a
n




k
e
t
l
k
a

t
e
r
[
a
d
l

t
s
u
n
a
m
l
V
C
.

T
i
n
d
a
k
a
n

S
e
t
e
l
a
h

T
e
r
j
a
d
i






T
s
u
n
a
m
i




-

D
a
m
p
a
k

t
s
u
n
a
m
l
-

M
e
n
g
l
d
e
n
t
l

k
a
s
l

d
a
m
p
a
k

t
s
u
n
a
m
l
7
.

M
e
m
a
h
a
m
l


p
e
r
u
b
a
h
a
n

y
a
n
g






t
e
r
[
a
d
l

d
l


a
l
a
m


d
a
n

h
u
b
u
n
g
a
n
-




n
y
a

d
e
n
g
a
n

p
e
n
g
g
u
n
a
a
n





s
u
m
b
e
r

d
a
y
a

a
l
a
m
7
.
6

M
e
n
g
l
d
e
n
t
l

k
a
s
l

p
e
r
l
s
t
l
w
a


a
l
a
m








y
a
n
g

t
e
r
[
a
d
l

d
l

|
n
d
o
n
e
s
l
a

d
a
n







d
a
m
p
a
k
n
y
a

b
a
g
l

m
a
k
h
l
u
k

h
l
d
u
p







d
a
n

l
l
n
g
k
u
n
g
a
n
T
a
h
a
p

1
.

I
d
e
n
t
i

k
a
s
i

M
a
t
a

P
e
m
b
e
l
a
j
a
r
a
n

a
p
a

s
a
j
a

y
a
n
g

d
a
p
a
t

t
e
r
i
n
t
e
g
r
a
s
i

d
e
n
g
a
n

P
R
B
.
D
l

b
a
w
a
h

l
n
l

t
e
r
d
a
p
a
t

c
o
n
t
o
h

f
o
r
m
a
t

a
n
a
l
l
s
l
s

K
D

d
a
r
l

b
e
b
e
r
a
p
a

m
a
t
a

p
e
l
a
[
a
r
a
n

y
a
n
g

d
a
p
a
t

d
l
l
n
t
e
g
r
a
s
l
k
a
n

d
a
l
a
m

p
e
n
d
l
d
l
k
a
n

p
e
n
g
u
r
a
n
g
a
n

r
l
s
l
k
o

b
e
n
c
a
n
a

t
s
u
n
a
m
l
.
K
L
S
/
S
M
T
M
A
T
E
R
I

P
E
M
B
E
L
A
J
A
R
A
N

P
R
B
I
N
D
I
K
A
T
O
R

P
E
R
I
L
A
K
U

S
I
S
W
A

(
I
N
D
I
K
A
T
O
R

P
E
M
B
E
L
A
J
A
R
A
N

P
R
B
)
M
A
T
A
P
E
L
A
-
J
A
R
A
N
S
T
A
N
D
A
R

K
O
M
P
E
T
E
N
S
I

(
S
K
)

K
O
M
P
E
T
E
N
S
I

D
A
S
A
R

(
K
D
)

V
I
A
.

S
e
b
e
l
u
m

T
e
r
j
a
d
i

B
e
n
c
a
n
a







T
s
u
n
a
m
i

t

K
a
r
a
k
t
e
r
i
s
t
i
k

d
a
e
r
a
h




b
a
h
a
y
a

t
s
u
n
a
m
i
I
P
A
K
L
S
/
S
M
T
M
A
T
E
R
I

P
E
M
B
E
L
A
J
A
R
A
N

P
R
B
I
N
D
I
K
A
T
O
R

P
E
R
I
L
A
K
U

S
I
S
W
A

(
I
N
D
I
K
A
T
O
R

P
E
M
B
E
L
A
J
A
R
A
N

P
R
B
)
M
A
T
A
P
E
L
A
-
J
A
R
A
N
S
T
A
N
D
A
R

K
O
M
P
E
T
E
N
S
I

(
S
K
)

K
O
M
P
E
T
E
N
S
I

D
A
S
A
R

(
K
D
)

I
P
S
I
V
A
.

S
e
b
e
l
u
m

T
e
r
j
a
d
i

B
e
n
c
a
n
a







T
s
u
n
a
m
i


-

S
e
[
a
r
a
h

t
s
u
n
a
m
l

-

P
e
n
g
e
r
t
l
a
n

t
s
u
n
a
m
l

-

M
e
n
d
e
s
k
r
l
p
s
l
k
a
n

s
e
[
a
r
a
h

t
s
u
n
a
m
l
-

M
e
n
[
e
l
a
s
k
a
n

p
e
n
g
e
r
t
l
a
n

t
s
u
n
a
m
l

I
V
B
.


T
i
n
d
a
k
a
n

S
a
a
t

T
e
r
j
a
d
i

T
s
u
n
a
m
i


-

P
r
o
s
e
s

t
e
r
[
a
d
l
n
y
a

t
s
u
n
a
m
l
l
.

M
e
m
a
h
a
m
l

s
e
[
a
r
a
h
,

k
e
n
a
m
p
a
k
a
n




a
l
a
m
,

d
a
n

k
e
r
a
g
a
m
a
n

s
u
k
u





b
a
n
g
s
a

d
l

l
l
n
g
k
u
n
g
a
n




k
a
b
u
p
a
t
e
n
/
k
o
t
a

d
a
n

p
r
o
v
l
n
s
l
l
.
l

M
e
n
d
e
s
k
r
l
p
s
l
k
a
n

k
e
n
a
m
p
a
k
a
n







a
l
a
m

d
l

l
l
n
g
k
u
n
g
a
n

k
a
b
u
p
a
t
e
n
/







k
o
t
a

d
a
n

p
r
o
v
l
n
s
l

s
e
r
t
a








h
u
b
u
n
g
a
n
n
y
a

d
e
n
g
a
n








k
e
r
a
g
a
m
a
n

s
o
s
l
a
l

d
a
n

b
u
d
a
y
a
-

M
e
n
d
e
s
k
r
l
p
s
l
k
a
n

p
r
o
e
s

t
e
r
[
a
d
l
n
y
a


t
s
u
n
a
m
i
-

M
e
n
g
l
d
e
n
t
l

k
a
s
l



k
a
r
k
t
e
r
i
s
t
i
k

d
a
e
r
a
h



b
a
h
a
y
a

t
s
u
n
a
m
i
V
I
B
.


T
i
n
d
a
k
a
n

S
a
a
t

T
e
r
j
a
d
i

T
s
u
n
a
m
i

t

T
l
n
d
a
k
a
n

s
e
s
a
a
t

s
e
t
e
l
a
h



b
e
n
c
a
n
a

t
s
u
n
a
m
i
-

M
e
n
s
l
m
u
l
a
s
l
k
a
n

t
l
n
d
a
k
a
n



s
e
s
a
a
t

s
e
t
e
l
a
h

b
e
n
c
a
n
a

t
s
u
n
a
m
l
V
I
C
.

T
i
n
d
a
k
a
n

S
e
t
e
l
a
h

T
e
r
j
a
d
i

T
s
u
n
a
m
i

t

D
a
m
p
a
k

t
s
u
n
a
m
l
-

M
e
n
g
l
d
e
n
t
l

k
a
s
l

d
a
m
p
a
k



t
s
u
n
a
m
i
V
I
t

P
e
t
a

b
a
h
a
y
a

t
s
u
n
a
m
i
-

M
e
n
g
g
a
m
b
a
r

p
e
t
a

b
a
h
a
y
a



t
s
u
n
a
m
i
V
I
t

T
a
n
d
a
-
t
a
n
d
a

b
a
h
a
y
a

t
s
u
n
a
m
i
-

M
e
n
g
a
n
a
l
l
s
l
s

t
a
n
d
a
-
t
a
n
d
a



b
a
h
a
y
a

t
s
u
n
a
m
i
3
.

M
e
m
a
h
a
m
l


p
e
n
g
a
r
u
h





k
e
g
l
a
t
a
n

m
a
n
u
s
l
a

t
e
r
h
a
d
a
p





k
e
s
e
l
m
b
a
n
g
a
n

l
l
n
g
k
u
n
g
a
n
3
.

M
e
m
a
h
a
m
l


p
e
n
g
a
r
u
h





k
e
g
l
a
t
a
n

m
a
n
u
s
l
a

t
e
r
h
a
d
a
p





k
e
s
e
l
m
b
a
n
g
a
n

l
l
n
g
k
u
n
g
a
n
3
.
l

M
e
n
g
l
d
e
n
t
l

k
a
s
l

k
e
g
l
a
t
a
n








m
a
n
u
s
l
a

y
a
n
g

d
a
p
a
t








m
e
m
p
e
n
g
a
r
u
h
l








k
e
s
e
l
m
b
a
n
g
a
n

a
l
a
m








(
e
k
o
s
l
s
t
e
m
)
3
.
2

M
e
n
g
l
d
e
n
t
l

k
a
s
l

b
a
g
l
a
n







t
u
m
b
u
h
a
n

y
a
n
g

s
e
r
l
n
g






d
l
m
a
n
f
a
a
t
k
a
n

m
a
n
u
s
l
a
y
a
n
g






m
e
n
g
a
r
a
h

p
a
d
a

k
e
t
l
d
a
k
-





s
e
l
m
b
a
n
g
a
n

l
l
n
g
k
u
n
g
a
n
T
a
b
e
l

P
e
m
e
t
a
a
n

S
K
-
K
D

k
e

d
a
l
a
m

m
a
t
a

p
e
l
a
j
a
r
a
n

I
P
S
5
.
3

T
a
b
e
l

P
e
m
e
t
a
a
n

S
t
a
n
d
a
r

K
o
m
p
e
t
e
n
s
i

(
S
K
)
K
o
m
p
e
t
e
n
s
i

D
a
s
a
r

(
K
D
)

k
e

d
a
l
a
m

M
a
t
a

P
e
l
a
j
a
r
a
n

I
P
S
K
L
S
/
S
M
T
M
A
T
E
R
I

P
E
M
B
E
L
A
J
A
R
A
N

P
R
B
I
N
D
I
K
A
T
O
R

P
E
R
I
L
A
K
U

S
I
S
W
A

(
I
N
D
I
K
A
T
O
R

P
E
M
B
E
L
A
J
A
R
A
N

P
R
B
)
M
A
T
A
P
E
L
A
-
J
A
R
A
N
S
T
A
N
D
A
R

K
O
M
P
E
T
E
N
S
I

(
S
K
)

K
O
M
P
E
T
E
N
S
I

D
A
S
A
R

(
K
D
)

I
P
S
I
V
C
.

T
i
n
d
a
k
a
n

S
e
t
e
l
a
h

T
e
r
j
a
d
i






T
s
u
n
a
m
i




-

D
a
m
p
a
k

t
s
u
n
a
m
l
-

M
e
n
g
l
d
e
n
t
l

k
a
s
l

d
a
m
p
a
k

t
s
u
n
a
m
l
V
A
.

S
e
b
e
l
u
m

T
e
r
j
a
d
i

B
e
n
c
a
n
a







T
s
u
n
a
m
i


-

P
e
n
y
e
b
a
b

t
s
u
n
a
m
l
-

1
e
n
l
s
-
[
e
n
l
s

t
s
u
n
a
m
l

l
.

M
e
n
g
h
a
r
g
a
l

b
e
r
b
a
g
a
l





p
e
n
l
n
g
g
a
l
a
n

d
a
n

t
o
k
o
h

s
e
[
a
r
a
h





y
a
n
g

b
e
r
s
k
a
l
a

n
a
s
l
o
n
a
l


p
a
d
a





m
a
s
a

H
l
n
d
u
-
8
u
d
h
a

d
a
n

|
s
l
a
m
,





k
e
r
a
g
a
m
a
n

k
e
n
a
m
p
a
k
a
n

a
l
a
m





d
a
n

s
u
k
u

b
a
n
g
s
a
,

s
e
r
t
a

k
e
g
l
a
t
a
n





e
k
o
n
o
m
l

d
l

|
n
d
o
n
e
s
l
a

l
.
l

M
e
n
g
e
n
a
l


k
e
r
a
g
a
m
a
n








k
e
n
a
m
p
a
k
a
n

a
l
a
m

d
a
n

b
u
a
t
a
n








s
e
r
t
a

p
e
m
b
a
g
l
a
n

w
l
l
a
y
a
h

w
a
k
t
u








d
l

|
n
d
o
n
e
s
l
a

d
e
n
g
a
n








m
e
n
g
g
u
n
a
k
a
n

p
e
t
a
/
a
t
l
a
s
/
g
l
o
b
e








d
a
n

m
e
d
l
a

l
a
l
n
n
y
a
-

M
e
n
g
a
n
a
l
l
s
l
s

p
e
n
y
e
b
a
b

t
s
u
n
a
m
l
-

M
e
n
y
e
b
u
t
k
a
n

[
e
n
l
s
-
[
e
n
l
s

t
s
u
n
a
m
l
V
B
.


T
i
n
d
a
k
a
n

S
a
a
t

T
e
r
j
a
d
i

T
s
u
n
a
m
i


-

P
e
n
y
e
l
a
m
a
t
a
n

k
e
t
l
k
a

t
e
r
[
a
d
l




t
s
u
n
a
m
l
-

M
e
n
c
e
r
l
t
a
k
a
n

p
e
n
y
e
l
a
m
a
t
a
n



k
e
t
l
k
a

t
e
r
[
a
d
l

t
s
u
n
a
m
l
V
C
.

T
i
n
d
a
k
a
n

S
e
t
e
l
a
h

T
e
r
j
a
d
i






T
s
u
n
a
m
i




-

D
a
m
p
a
k

t
s
u
n
a
m
l
-

M
e
n
g
l
d
e
n
t
l

k
a
s
l

d
a
m
p
a
k



t
s
u
n
a
m
l
V
I
A
.

S
e
b
e
l
u
m

T
e
r
j
a
d
i

B
e
n
c
a
n
a







T
s
u
n
a
m
i

-

K
a
r
a
k
t
e
r
l
s
t
l
k

d
a
e
r
a
h

b
a
h
a
y
a


t
s
u
n
a
m
l
-

P
e
t
a

b
a
h
a
y
a

t
s
u
n
a
m
l
-

T
a
n
d
a
-
t
a
n
d
a

b
a
h
a
y
a

t
s
u
n
a
m
l
l
.

M
e
m
a
h
a
m
l

g
e
[
a
l
a

a
l
a
m

y
a
n
g






t
e
r
[
a
d
l

d
l

|
n
d
o
n
e
s
l
a

d
a
n






s
e
k
l
t
a
r
n
y
a
2
.
l

M
e
n
d
e
s
k
r
l
p
s
l
k
a
n

g
e
[
a
l
a







(
p
e
r
l
s
t
l
w
a
)

a
l
a
m

y
a
n
g

t
e
r
[
a
d
l








d
l

|
n
d
o
n
e
s
l
a

d
a
n

n
e
g
a
r
a








t
e
t
a
n
g
g
a


2
.
2

M
e
n
g
e
n
a
l

c
a
r
a
-
c
a
r
a








m
e
n
g
h
a
d
a
p
l

b
e
n
c
a
n
a

a
l
a
m
-

M
e
n
g
l
d
e
n
t
l

k
a
s
l

k
a
r
a
k
t
e
r
l
s
t
l
k



d
a
e
r
a
h

b
a
h
a
y
a

t
s
u
n
a
m
l
-

M
e
n
g
g
a
m
b
a
r

p
e
t
a

b
a
h
a
y
a



t
s
u
n
a
m
l
-

M
e
n
g
a
n
a
l
l
s
l
s

t
a
n
d
a
-
t
a
n
d
a



b
a
h
a
y
a

t
s
u
n
a
m
l
V
I
B
.


T
i
n
d
a
k
a
n

S
a
a
t

T
e
r
j
a
d
i

T
s
u
n
a
m
i


-

T
l
n
d
a
k
a
n

s
e
s
a
a
t

s
e
t
e
l
a
h




b
e
n
c
a
n
a

t
s
u
n
a
m
l
-

M
e
n
s
l
m
u
l
a
s
l
k
a
n

t
l
n
d
a
k
a
n



s
e
s
a
a
t

s
e
t
e
l
a
h

b
e
n
c
a
n
a

t
s
u
n
a
m
l
V
I
C
.

T
i
n
d
a
k
a
n

S
e
t
e
l
a
h

T
e
r
j
a
d
i






T
s
u
n
a
m
i




-

D
a
m
p
a
k

t
s
u
n
a
m
l
-

M
e
n
g
l
d
e
n
t
l

k
a
s
l

d
a
m
p
a
k

t
s
u
n
a
m
l
K
L
S
/
S
M
T
M
A
T
E
R
I

P
E
M
B
E
L
A
J
A
R
A
N

P
R
B
I
N
D
I
K
A
T
O
R

P
E
R
I
L
A
K
U

S
I
S
W
A

(
I
N
D
I
K
A
T
O
R

P
E
M
B
E
L
A
J
A
R
A
N

P
R
B
)
M
A
T
A
P
E
L
A
-
J
A
R
A
N
S
T
A
N
D
A
R

K
O
M
P
E
T
E
N
-
S
I

(
S
K
)

K
O
M
P
E
T
E
N
S
I

D
A
S
A
R

(
K
D
)

I
V
A
.

S
e
b
e
l
u
m

T
e
r
j
a
d
i

B
e
n
c
a
n
a

T
s
u
n
a
m
i

t

S
e
j
a
r
a
h

t
s
u
n
a
m
i

t

P
e
n
g
e
r
t
i
a
n

t
s
u
n
a
m
i
B
A
H
A
S
A
I
N
D
O
N
E
S
I
A
-

M
e
n
d
e
s
k
r
l
p
s
l
k
a
n

s
e
[
a
r
a
h



t
s
u
n
a
m
i

-

M
e
n
[
e
l
a
s
k
a
n

p
e
n
g
e
r
t
l
a
n



t
s
u
n
a
m
i
8
.

M
e
n
g
u
n
g
k
a
p
-
k
a
n

p
l
k
l
r
a
n
,





p
e
r
a
s
a
a
n
,

d
a
n

l
n
f
o
r
m
a
s
l






s
e
c
a
r
a

t
e
r
t
u
l
l
s

d
a
l
a
m

b
e
n
t
u
k






k
a
r
a
n
g
a
n
,

p
e
n
g
u
m
u
m
a
n
,





d
a
n

p
a
n
t
u
n

a
n
a
k
8
.
l

M
e
n
y
u
s
u
n


k
a
r
a
n
g
a
n








t
e
n
t
a
n
g

b
e
r
b
a
g
a
l

t
o
p
l
k








s
e
d
e
r
h
a
n
a

d
e
n
g
a
n








m
e
m
p
e
r
h
a
t
l
k
a
n








p
e
n
g
g
u
n
a
a
n

e
[
a
a
n

(
h
u
r
u
f








b
e
s
a
r
,

t
a
n
d
a

t
l
t
l
k
,

t
a
n
d
a

-







k
o
m
a
,

d
l
l
.
)

I
V
B
.


T
i
n
d
a
k
a
n

S
a
a
t

T
e
r
j
a
d
i

T
s
u
n
a
m
i

t

P
r
o
s
e
s

t
e
r
[
a
d
l
n
y
a

t
s
u
n
a
m
l
-

M
e
n
d
e
s
k
r
l
p
s
l
k
a
n

p
r
o
s
e
s



t
e
r
[
a
d
l
n
y
a

t
s
u
n
a
m
l
I
V
C
.

T
i
n
d
a
k
a
n

S
e
t
e
l
a
h

T
e
r
j
a
d
i

T
s
u
n
a
m
i

t

D
a
m
p
a
k

t
s
u
n
a
m
l
-

M
e
n
g
l
d
e
n
t
l

k
a
s
l

d
a
m
p
a
k



t
s
u
n
a
m
i
4
.

M
e
n
g
u
n
g
k
a
p
-
k
a
n

p
l
k
l
r
a
n
,





p
e
r
a
s
a
a
n
,

d
a
n

l
n
f
o
r
m
a
s
l





s
e
c
a
r
a

t
e
r
t
u
l
l
s

d
a
l
a
m

b
e
n
t
u
k





p
e
r
c
a
k
a
p
a
n
,


p
e
t
u
n
[
u
k
,

c
e
r
l
t
a
,





d
a
n

s
u
r
a
t
3
.

M
e
m
a
h
a
m
l

t
e
k
s

a
g
a
k





p
a
n
[
a
n
g

(
l
5
0
-
2
0
0

k
a
t
a
)
,





p
e
t
u
n
[
u
k

p
e
m
a
k
a
l
a
n
,

m
a
k
n
a





k
a
t
a

d
a
l
a
m

k
a
m
u
s
/
e
n
s
l
k
l
o
p
e
d
l
4
.
3

M
e
l
e
n
g
k
a
p
l

b
a
g
l
a
n

c
e
r
l
t
a








y
a
n
g

h
l
l
a
n
g

(
r
u
m
p
a
n
g
)







d
e
n
g
a
n

m
e
n
g
g
u
n
a
k
a
n







k
a
t
a
/

k
a
l
l
m
a
t

y
a
n
g

t
e
p
a
t








s
e
h
l
n
g
g
a

m
e
n
[
a
d
l

c
e
r
l
t
a







y
a
n
g

p
a
d
u
3
.
3

M
e
n
e
m
u
k
a
n

m
a
k
n
a

d
a
n








l
n
f
o
r
m
a
s
l


s
e
c
a
r
a


t
e
p
a
t







d
a
l
a
m

k
a
m
u
s
/
e
n
s
l
k
l
o
p
e
d
l








m
e
l
a
l
u
l

m
e
m
b
a
c
a








m
e
m
l
n
d
a
l
T
a
b
e
l

P
e
m
e
t
a
a
n

S
K
-
K
D

k
e

d
a
l
a
m

m
a
t
a

p
e
l
a
j
a
r
a
n

B
a
h
a
s
a

I
n
d
o
n
e
s
i
a

5
.
4

T
a
b
e
l

P
e
m
e
t
a
a
n

S
t
a
n
d
a
r

K
o
m
p
e
t
e
n
s
i

(
S
K
)
-
K
o
m
p
e
t
e
n
s
i

D
a
s
a
r

(
K
D
)

k
e

d
a
l
a
m

M
a
t
a

P
e
l
a
j
a
r
a
n

B
a
h
a
s
a

I
n
d
o
n
e
s
i
a
K
L
S
/
S
M
T
M
A
T
E
R
I

P
E
M
B
E
L
A
J
A
R
A
N

P
R
B
I
N
D
I
K
A
T
O
R

P
E
R
I
L
A
K
U

S
I
S
W
A

(
I
N
D
I
K
A
T
O
R

P
E
M
B
E
L
A
J
A
R
A
N

P
R
B
)
M
A
T
A
P
E
L
A
-
J
A
R
A
N
S
T
A
N
D
A
R

K
O
M
P
E
T
E
N
-
S
I

(
S
K
)

K
O
M
P
E
T
E
N
S
I

D
A
S
A
R

(
K
D
)

B
A
H
A
S
A
I
N
D
O
N
E
S
I
A
V
A
.

S
e
b
e
l
u
m

T
e
r
j
a
d
i

B
e
n
c
a
n
a







T
s
u
n
a
m
i


-

P
e
n
y
e
b
a
b

t
s
u
n
a
m
l


-

1
e
n
l
s
-
[
e
n
l
s

t
s
u
n
a
m
l
-

M
e
n
g
a
n
a
l
l
s
l
s

p
e
n
y
e
b
a
b

t
s
u
n
a
m
l
-

M
e
n
y
e
b
u
t
k
a
n

[
e
n
l
s
-
[
e
n
l
s

t
s
u
n
a
m
l
V
B
.


T
i
n
d
a
k
a
n

S
a
a
t

T
e
r
j
a
d
i

T
s
u
n
a
m
i


-

P
e
n
y
e
l
a
m
a
t
a
n

k
e
t
l
k
a

t
e
r
[
a
d
l




t
s
u
n
a
m
l

6
.

M
e
n
g
u
n
g
k
a
p
-
k
a
n

p
l
k
l
r
a
n

d
a
n





p
e
r
a
s
a
a
n


s
e
c
a
r
a

l
l
s
a
n

d
a
l
a
m





d
l
s
k
u
s
l

d
a
n

b
e
r
m
a
l
n

d
r
a
m
a
2
.

M
e
n
g
u
n
g
k
a
p
-
k
a
n

p
l
k
l
r
a
n
,





p
e
n
d
a
p
a
t
,

p
e
r
a
s
a
a
n
,

f
a
k
t
a






s
e
c
a
r
a

l
l
s
a
n

d
e
n
g
a
n





m
e
n
a
n
g
g
a
p
l

s
u
a
t
u

p
e
r
s
o
a
l
a
n
,






m
e
n
c
e
r
l
t
a
k
a
n

h
a
s
l
l

p
e
n
g
a
m
a
t
a
n
,





a
t
a
u

b
e
r
w
a
w
a
n
c
a
r
a


2
.
l

M
e
n
a
n
g
g
a
p
l


s
u
a
t
u

p
e
r
s
o
a
l
a
n








a
t
a
u

p
e
r
l
s
t
l
w
a

d
a
n








m
e
m
b
e
r
l
k
a
n

s
a
r
a
n








p
e
m
e
c
a
h
a
n
n
y
a


d
e
n
g
a
n








m
e
m
p
e
r
h
a
t
l
k
a
n

p
l
l
l
h
a
n

k
a
t
a








d
a
n

s
a
n
t
u
n

b
e
r
b
a
h
a
s
a
6
.
l

M
e
n
g
o
m
e
n
t
a
r
l


p
e
r
s
o
a
l
a
n








f
a
k
t
u
a
l

d
l
s
e
r
t
a
l

a
l
a
s
a
n

y
a
n
g








m
e
n
d
u
k
u
n
g

d
e
n
g
a
n








m
e
m
p
e
r
h
a
t
l
k
a
n

p
l
l
l
h
a
n

k
a
t
a







d
a
n

s
a
n
t
u
n

b
e
r
b
a
h
a
s
a
-

M
e
n
c
e
r
l
t
a
k
a
n

p
e
n
y
e
l
a
m
a
t
a
n

k
e
t
l
k
a

V
C
.

T
i
n
d
a
k
a
n

S
e
t
e
l
a
h

T
e
r
j
a
d
i






T
s
u
n
a
m
i




-

D
a
m
p
a
k

t
s
u
n
a
m
l
-

M
e
n
g
l
d
e
n
t
l

k
a
s
l

d
a
m
p
a
k

t
s
u
n
a
m
l
V
I
A
.

S
e
b
e
l
u
m

T
e
r
j
a
d
i

B
e
n
c
a
n
a

T
s
u
n
a
m
i

K
a
r
a
k
t
e
r
l
s
t
l
k

d
a
e
r
a
h

b
a
h
a
y
a






t
s
u
n
a
m
l

P
e
t
a

b
a
h
a
y
a

t
s
u
n
a
m
l

T
a
n
d
a
-
t
a
n
d
a

b
a
h
a
y
a

t
s
u
n
a
m
l
2
.

M
e
m
b
e
r
l
k
a
n

l
n
f
o
r
m
a
s
l

d
a
n





t
a
n
g
g
a
p
a
n

s
e
c
a
r
a

l
l
s
a
n



2
.
l

M
e
n
y
a
m
p
a
l
k
a
n


p
e
s
a
n
/







l
n
f
o
r
m
a
s
l

y
a
n
g

d
l
p
e
r
o
l
e
h

d
a
r
l








b
e
r
b
a
g
a
l

m
e
d
l
a


d
e
n
g
a
n








b
a
h
a
s
a

y
a
n
g

r
u
n
t
u
t
,

b
a
l
k








d
a
n

b
e
n
a
r

-

M
e
n
g
l
d
e
n
t
l

k
a
s
l

k
a
r
a
k
t
e
r
l
s
t
l
k



d
a
e
r
a
h

b
a
h
a
y
a

t
s
u
n
a
m
l
-

M
e
n
g
g
a
m
b
a
r

p
e
t
a

b
a
h
a
y
a

t
s
u
n
a
m
l
-

M
e
n
g
a
n
a
l
l
s
l
s

t
a
n
d
a
-
t
a
n
d
a

b
a
h
a
y
a



t
s
u
n
a
m
l
V
I
B
.


T
i
n
d
a
k
a
n

S
a
a
t

T
e
r
j
a
d
i

T
s
u
n
a
m
i




-

T
l
n
d
a
k
a
n

s
e
s
a
a
t

s
e
t
e
l
a
h

b
e
n
c
a
n
a






t
s
u
n
a
m
l
-

M
e
n
s
l
m
u
l
a
s
l
k
a
n

t
l
n
d
a
k
a
n

s
e
s
a
a
t


s
e
t
e
l
a
h

b
e
n
c
a
n
a

t
s
u
n
a
m
l
V
I
C
.

T
i
n
d
a
k
a
n

S
e
t
e
l
a
h

T
e
r
j
a
d
i






T
s
u
n
a
m
i




-

D
a
m
p
a
k

t
s
u
n
a
m
l
-

M
e
n
g
l
d
e
n
t
l

k
a
s
l

d
a
m
p
a
k



t
s
u
n
a
m
l
5
.

M
e
m
a
h
a
m
l

w
a
c
a
n
a

l
l
s
a
n





t
e
n
t
a
n
g

b
e
r
l
t
a


d
a
n

d
r
a
m
a





p
e
n
d
e
k


5
.
2

M
e
n
c
e
r
l
t
a
k
a
n

l
s
l


d
r
a
m
a

p
e
n
d
e
k







y
a
n
g

d
l
s
a
m
p
a
l
k
a
n

s
e
c
a
r
a

l
l
s
a
n
K
L
S
/
S
M
T
M
A
T
E
R
I

P
E
M
B
E
L
A
J
A
R
A
N

P
R
B
I
N
D
I
K
A
T
O
R

P
E
R
I
L
A
K
U

S
I
S
W
A

(
I
N
D
I
K
A
T
O
R

P
E
M
B
E
L
A
J
A
R
A
N

P
R
B
)
M
A
T
A
P
E
L
A
-
J
A
R
A
N
S
T
A
N
D
A
R

K
O
M
P
E
T
E
N
-
S
I

(
S
K
)

K
O
M
P
E
T
E
N
S
I

D
A
S
A
R

(
K
D
)

P
E
N
-
J
A
S
I
V
A
.

S
e
b
e
l
u
m

T
e
r
j
a
d
i

B
e
n
c
a
n
a







T
s
u
n
a
m
i


-

S
e
[
a
r
a
h

t
s
u
n
a
m
l

-

P
e
n
g
e
r
t
l
a
n

t
s
u
n
a
m
l

-

M
e
n
d
e
s
k
r
l
p
s
l
k
a
n

s
e
[
a
r
a
h

t
s
u
n
a
m
l
-

M
e
n
[
e
l
a
s
k
a
n

p
e
n
g
e
r
t
l
a
n

t
s
u
n
a
m
l

I
V
B
.


T
i
n
d
a
k
a
n

S
a
a
t

T
e
r
j
a
d
i

T
s
u
n
a
m
i


-

P
r
o
s
e
s

t
e
r
[
a
d
l
n
y
a

t
s
u
n
a
m
l
-

M
e
n
d
e
s
k
r
l
p
s
l
k
a
n

p
r
o
e
s

t
e
r
[
a
d
l
n
y
a


t
s
u
n
a
m
l
I
V
C
.

T
i
n
d
a
k
a
n

S
e
t
e
l
a
h

T
e
r
j
a
d
i






T
s
u
n
a
m
i




-

D
a
m
p
a
k

t
s
u
n
a
m
l
-

M
e
n
g
l
d
e
n
t
l

k
a
s
l

d
a
m
p
a
k

t
s
u
n
a
m
l
V
A
.

S
e
b
e
l
u
m

T
e
r
j
a
d
i

B
e
n
c
a
n
a







T
s
u
n
a
m
i


-

P
e
n
y
e
b
a
b

t
s
u
n
a
m
l
-

1
e
n
l
s
-
[
e
n
l
s

t
s
u
n
a
m
l

l
2
.

M
e
n
e
r
a
p
k
a
n

b
u
d
a
y
a

h
l
d
u
p








s
e
h
a
t
l
2
.
l

M
e
n
g
e
n
a
l

b
e
r
b
a
g
a
l

u
p
a
y
a










d
a
l
a
m

m
e
n
[
a
g
a

k
e
b
e
r
s
l
h
a
n










l
l
n
g
k
u
n
g
a
n
-

M
e
n
g
a
n
a
l
l
s
l
s

p
e
n
y
e
b
a
b

t
s
u
n
a
m
l
-

M
e
n
y
e
b
u
t
k
a
n

[
e
n
l
s
-
[
e
n
l
s

t
s
u
n
a
m
l
V
B
.


T
i
n
d
a
k
a
n

S
a
a
t

T
e
r
j
a
d
i

T
s
u
n
a
m
i


-

P
e
n
y
e
l
a
m
a
t
a
n

k
e
t
l
k
a

t
e
r
[
a
d
l




t
s
u
n
a
m
l
-

M
e
n
c
e
r
l
t
a
k
a
n

p
e
n
y
e
l
a
m
a
t
a
n



k
e
t
l
k
a

t
e
r
[
a
d
l

t
s
u
n
a
m
l
l
l
.

M
e
m
p
r
a
k
t
l
k
-
k
a
n

p
e
n
[
e
l
a
[
a
h
a
n







d
l

l
l
n
k
u
n
g
a
n

s
e
k
l
t
a
r

s
e
k
o
l
a
h
,







d
a
n

n
l
l
a
l
-
n
l
l
a
l

y
a
n
g

t
e
r
k
a
n
d
u
n
g







d
l

d
a
l
a
m
n
y
a
`
`
`
)
l
l
.
l

M
e
m
p
r
a
k
t
l
k
k
a
n

p
e
m
b
u
a
t
a
n









r
e
n
c
a
n
a

k
e
g
l
a
t
a
n










p
e
n
[
e
l
a
[
a
h
a
n
T
a
b
e
l

P
e
m
e
t
a
a
n

S
K
-
K
D

k
e

d
a
l
a
m

m
a
t
a

p
e
l
a
j
a
r
a
n

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n

J
a
s
m
a
n
i
5
.
5

T
a
b
e
l


P
e
m
e
t
a
a
n

S
t
a
n
d
a
r

K
o
m
p
e
t
e
n
s
i

(
S
K
)

K
o
m
p
e
t
e
n
s
i

D
a
s
a
r

(
K
D
)

k
e

d
a
l
a
m

M
a
t
a

P
e
l
a
j
a
r
a
n

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n

j
a
s
m
a
n
i
K
L
S
/
S
M
T
M
A
T
E
R
I

P
E
M
B
E
L
A
J
A
R
A
N

P
R
B
I
N
D
I
K
A
T
O
R

P
E
R
I
L
A
K
U

S
I
S
W
A

(
I
N
D
I
K
A
T
O
R

P
E
M
B
E
L
A
J
A
R
A
N

P
R
B
)
M
A
T
A
P
E
L
A
-
J
A
R
A
N
S
T
A
N
D
A
R

K
O
M
P
E
T
E
N
-
S
I

(
S
K
)

K
O
M
P
E
T
E
N
S
I

D
A
S
A
R

(
K
D
)

P
E
N
-
J
A
S
V
B
.


T
i
n
d
a
k
a
n

S
a
a
t

T
e
r
j
a
d
i

T
s
u
n
a
m
i


-

P
e
n
y
e
l
a
m
a
t
a
n

k
e
t
l
k
a

t
e
r
[
a
d
l




t
s
u
n
a
m
l
-

M
e
n
c
e
r
l
t
a
k
a
n

p
e
n
y
e
l
a
m
a
t
a
n



k
e
t
l
k
a

t
e
r
[
a
d
l

t
s
u
n
a
m
l
V
C
.

T
i
n
d
a
k
a
n

S
e
t
e
l
a
h

T
e
r
j
a
d
i






T
s
u
n
a
m
i




-

D
a
m
p
a
k

t
s
u
n
a
m
l
-

M
e
n
g
l
d
e
n
t
l

k
a
s
l

d
a
m
p
a
k



t
s
u
n
a
m
l
V
I
A
.

S
e
b
e
l
u
m

T
e
r
j
a
d
i

B
e
n
c
a
n
a







T
s
u
n
a
m
i

-

K
a
r
a
k
t
e
r
l
s
t
l
k

d
a
e
r
a
h

b
a
h
a
y
a


t
s
u
n
a
m
l
-

P
e
t
a

b
a
h
a
y
a

t
s
u
n
a
m
l
-

T
a
n
d
a
-
t
a
n
d
a

b
a
h
a
y
a

t
s
u
n
a
m
l
l
l
.

M
e
m
p
r
a
k
t
l
k
-
k
a
n

p
e
n
[
e
l
a
[
a
h
a
n







d
l

l
l
n
k
u
n
g
a
n

s
e
k
l
t
a
r

s
e
k
o
l
a
h
,







d
a
n

n
l
l
a
l
-
n
l
l
a
l

y
a
n
g

t
e
r
k
a
n
d
u
n
g







d
l

d
a
l
a
m
n
y
a
l
l
.
M
e
m
p
r
a
k
-
t
l
k
k
a
n

p
e
n
[
e
l
a
[
a
h
a
n






d
a
n

p
e
r
k
e
m
a
h
a
n

d
l

a
l
a
m

b
e
b
a
s
,






s
e
r
t
a

n
l
l
a
l
-
n
l
l
a
l

y
a
n
g






t
e
r
k
a
n
d
u
n
g

d
l

d
a
l
a
m
n
y
a
l
l
.

l

M
e
m
p
r
a
k
t
l
k
k
a
n


a
k
t
l
v
l
t
a
s











p
e
n
[
e
l
a
[
a
h
a
n

d
l

a
l
a
m

b
e
b
a
s











s
e
c
a
r
a

s
e
d
e
r
h
a
n
a
,

s
e
r
t
a

n
l
l
a
l











k
e
r
[
a

s
a
m
a
,

t
a
n
g
g
u
n
g

[
a
w
a
b
,











d
l
s
l
p
l
l
n
,

d
a
n

k
e
s
e
l
a
m
a
t
a
n
l
l
.
l

M
e
m
p
r
a
k
t
l
k
k
a
n

p
e
m
b
u
a
t
a
n









r
e
n
c
a
n
a

k
e
g
l
a
t
a
n










p
e
n
[
e
l
a
[
a
h
a
n
-

M
e
n
g
l
d
e
n
t
l

k
a
s
l

k
a
r
a
k
t
e
r
l
s
t
l
k



d
a
e
r
a
h

b
a
h
a
y
a

t
s
u
n
a
m
l
-

M
e
n
g
g
a
m
b
a
r

p
e
t
a

b
a
h
a
y
a



t
s
u
n
a
m
l
-

M
e
n
g
a
n
a
l
l
s
l
s

t
a
n
d
a
-
t
a
n
d
a



b
a
h
a
y
a

t
s
u
n
a
m
l
V
I
B
.


T
i
n
d
a
k
a
n

S
a
a
t

T
e
r
j
a
d
i

T
s
u
n
a
m
i


-

T
l
n
d
a
k
a
n

s
e
s
a
a
t

s
e
t
e
l
a
h




b
e
n
c
a
n
a

t
s
u
n
a
m
l
-

M
e
n
s
l
m
u
l
a
s
l
k
a
n

t
l
n
d
a
k
a
n



s
e
s
a
a
t

s
e
t
e
l
a
h

b
e
n
c
a
n
a

t
s
u
n
a
m
l
V
I
C
.

T
i
n
d
a
k
a
n

S
e
t
e
l
a
h

T
e
r
j
a
d
i






T
s
u
n
a
m
i




-

D
a
m
p
a
k

t
s
u
n
a
m
l
-

M
e
n
g
l
d
e
n
t
l

k
a
s
l

d
a
m
p
a
k

t
s
u
n
a
m
l
Pengintegrasian Materi Pokok Pengurangan Risiko Tsunami
Ke Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Dasar (SD/MI)
54
5.1.3. Penyusunan Silabus Integrasi Standar Kompetensi/Kompetensi Dasar
(SK/KD)
Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata
pelajaran/ tema tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi
dasar, materi pokok/ pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator
pencapaian kompetensi untuk penilaian, penilaian, alokasi waktu, dan sumber
belajar.
Di dalam menyusun silabus, haruslah memperhatikan beberapa prinsip antara
lain:
1. Ilmiah adalah : Keseluruhan materi dan kegiatan yang menjadi muatan
dalam silabus harus benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara
keilmuan (dikaitkan dengan PRB tsunami).
2. Relevan adalah : Cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran dan urutan
penyajian materi dalam silabus sesuai dengan tingkat perkembangan fsik,
intelektual, sosial, emosional, dan spiritual peserta didik (contoh: peserta
didik di Sekolah Dasar mendapat materi tentang bencana tsunami relevan
dengan tingkat kedalaman, tingkat kesukaran dan urutan penyajian di
SD).
3. Sistematis adalah: Komponen-komponen silabus saling berhubungan
secara fungsional dalam mencapai kompetensi (dikaitkan juga PRB
tsunami)
4. Konsisten adalah: Adanya hubungan yang konsisten (ajeg, taat asas)
antara kompetensi dasar, indikator, materi pokok/ pembelajaran, kegiatan
pembelajaran, sumber belajar, dan sistem penilaian (yang mampu menilai
materi PRB tsunami).
5. Memadai adalah: Cakupan indikator, materi pokok/pembelajaran, kegiatan
pembelajaran, sumber belajar, dan sistem penilaian cukup untuk menunjang
pencapaian kompetensi dasar (sesuai dengan jenjang pendidikan dasar).
6. Aktual dan Kontekstual adalah: Cakupan indikator, materi pokok/
pembelajaran, kegiatan pembelajaran, sumber belajar, dan sistem penilaian
memperhatikan perkembangan ilmu, teknologi, dan seni mutakhir dalam
kehidupan nyata, dan peristiwa yang terjadi (terutama dikaitkan dengan
PRB tsunami).
7. Fleksibel adalah: Keseluruhan komponen silabus dapat mengakomodasi
keragaman peserta didik, pendidik, serta dinamika perubahan yang terjadi
di sekolah dan tuntutan masyarakat (misal: peserta didik yang pernah
terkena bencana tsunami tentu akan lebih mendalami materi dibandingkan
peserta didik yang belum pernah mengalaminya).
8. Menyeluruh adalah: Komponen silabus mencakup keseluruhan ranah
kompetensi (kognitif, afektif, psikomotor). Hal ini dimungkinkan karena PRB
tsunami dapat diaplikasikan peserta didik pada saat terjadinya tsunami.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Tsunami Untuk SD/MI
55
Adapun Komponen Silabus adalah:
1. Standar Kompetensi
2. Kompetensi Dasar
3. Indikator
4. Materi Pokok/Pembelajaran
5. Kegiatan Pembelajaran (mengacu pada indikator)
6. Penilaian
7. Alokasi Waktu
8. Sumber Belajar
Langkah-langkah pengembangan silabus sebagai berikut:
1. Mengkaji dan menentukan standar kompetensi
2. Mengkaji dan menentukan kompetensi Dasar
3. Merumuskan indikator pencapaiankompetensi
4. Mengidentifkasi materi pokok/pembelajaran
5. Mengembangkan kegiatan pembelajaran
6. Menentukan jenis penilaian
7. Menentukan alokasi waktu
8. Menentukan sumber belajar
7
.
1


M
e
n
y
i
m
-








p
u
l
k
a
n
h
a
s
i
l









p
e
r
c
o
b
a
a
n








b
a
h
w
a









g
a
y
a









(
d
o
r
o
n
g
a
n









d
a
n

t
a
r
i
k
a
n
)









d
a
p
a
t









m
e
n
g
u
b
a
h









g
e
r
a
k

s
u
a
t
u









b
e
n
d
a

p
e
r
c
o
b
a
a
n

b
a
h
w
a

g
a
y
a

d
a
p
a
t

m
e
n
g
u
b
a
h

g
e
r
a
k

s
u
a
t
u

b
e
n
d
a
1
.

M
e
n
j
e
l
a
s
k
a
n




p
e
n
g
e
r
t
i
a
n





t
s
u
n
a
m
i
2
.

M
e
n
d
i
s
k
u
s
i
k
a
n





j
e
n
i
s
-
j
e
n
i
s





t
s
u
n
a
m
i
3
.

M
e
n
d
e
s
k
r
i
p
s
i
k
a
n





D
a
e
r
a
h

r
a
w
a
n




t
s
u
n
a
m
i
4
.

M
e
n
u
n
j
u
k
k
a
n





c
a
r
a
-
c
a
r
a





p
e
n
y
e
l
a
m
a
t
a
n





d
i
r
i
s
a
a
t

t
e
r
j
a
d
i
n
y
a




t
s
u
n
a
m
i
P
a
p
e
r

a
n
d

p
e
n
c
i
l

t
e
s
t
P
e
r
f
o
r
m
a
n
c
e

t
e
s
t
P
e
r
f
o
r
m
a
n
c
e

t
e
s
t
P
e
r
f
o
r
m
a
n
c
e

t
e
s
t
4
x
3
5

m
e
n
i
t
K
o
m
p
e
t
e
n
s
i

D
a
s
a
r
M
a
t
e
r
i

P
e
m
-
b
e
l
a
-
j
a
r
a
n
-

M
e
n
g
a
m
a
t
l

g
a
m
b
a
r

-

T
a
n
y
a

[
a
w
a
b

t
e
n
t
a
n
g

t
s
u
n
a
m
l
-

M
e
m
b
a
c
a

t
e
k
s

t
e
n
t
a
n
g



t
s
u
n
a
m
i
-

T
a
n
y
a

[
a
w
a
b

t
e
n
t
a
n
g

[
e
n
l
s
-



j
e
n
i
s

t
s
u
n
a
m
i

-

M
e
n
d
l
s
k
u
s
l
k
a
n

p
r
o
s
e
s



t
e
r
j
a
d
i
n
y
a

t
s
u
n
a
m
i

-

M
e
m
b
u
a
t

k
e
s
l
m
p
u
l
a
n

h
a
s
l
l



d
i
s
k
u
s
i
-

M
e
n
u
n
[
u
k
k
a
n

p
a
d
a

p
e
t
a



d
a
e
r
a
h

r
a
w
a
n

t
s
u
n
a
m
i

-

M
e
m
b
e
r
l

w
a
r
n
a

p
a
d
a

p
e
t
a
,



d
a
e
r
a
h

r
a
w
a
n

t
s
u
n
a
m
i
-

M
e
n
d
l
s
k
u
s
l
k
a
n

d
a
l
a
m



k
e
l
o
m
p
o
k

t
i
n
d
a
k
a
n

y
a
n
g



d
i
l
a
k
u
k
a
n

s
a
a
t

t
e
r
j
a
d
i
n
y
a



t
s
u
n
a
m
i
-

M
e
n
d
e
m
o
n
s
t
r
a
s
l
k
a
n

c
a
r
a
-


c
a
r
a

p
e
n
y
e
l
a
m
a
t
a
n

d
i
r
i



y
a
n
g

d
i
l
a
k
u
k
a
n

s
a
a
t



t
e
r
j
a
d
i
n
y
a

t
s
u
n
a
m
i
-

M
e
n
d
l
s
k
u
s
l
k
a
n

d
a
l
a
m



k
e
l
o
m
p
o
k

d
a
m
p
a
k

t
s
u
n
a
m
i
-

M
e
m
p
r
e
s
e
n
t
a
s
l
k
a
n

h
a
s
l
l



d
i
s
k
u
s
i
K
e
g
i
a
t
a
n

P
e
m
b
e
l
a
j
a
r
a
n
I
n
d
i
k
a
t
o
r
P
e
n
i
l
a
i
a
n
A
l
o
k
a
s
i
W
a
k
t
u
S
u
m
b
e
r
/
b
a
h
a
n
b
e
l
a
j
a
r
1
.

B
u
k
u
-
b
u
k
u





t
e
n
t
a
n
g






t
s
u
n
a
m
i
2
.

g
a
m
b
a
r
-




g
a
m
b
a
r





t
e
n
t
a
n
g





t
s
u
n
a
m
i
M
o
d
e
l

S
i
l
a
b
u
s

t
e
r
i
n
t
e
g
r
a
s
i

P
R
B

T
s
u
n
a
m
i


N
a
m
a

S
e
k
o
l
a
h


:

S
e
k
o
l
a
h

D
a
s
a
r

N
e
g
e
r
l

|

T
a
n
g
e
r
a
n
g

S
e
l
a
t
a
n

(
T
a
n
g
s
e
l
)

M
a
t
a

P
e
l
a
j
a
r
a
n

















:

I
P
A

K
e
l
a
s
/
S
e
m
e
s
t
e
r

















:

I
V
/
2

S
t
a
n
d
a
r

K
o
m
p
e
t
e
n
s
i










:

7
.

M
e
m
a
h
a
m
i

g
a
y
a


d
a
p
a
t


m
e
n
g
u
b
a
h


g
e
r
a
k

d
a
n
/
a
t
a
u


b
e
n
t
u
k

s
u
a
t
u

b
e
n
d
a
K
o
m
p
e
t
e
n
s
i

D
a
s
a
r
M
a
t
e
r
i

P
e
m
-
b
e
l
a
j
a
r
a
n
K
e
g
i
a
t
a
n

P
e
m
b
e
l
a
j
a
r
a
n
I
n
d
i
k
a
t
o
r
P
e
n
i
l
a
i
a
n
A
l
o
k
a
s
i
W
a
k
t
u
S
u
m
b
e
r
/
b
a
h
a
n
b
e
l
a
j
a
r
1
.
1

M
e
n
g
e
n
a
l









k
e
r
a
g
a
m
a
n








k
e
n
a
m
p
a
k
a
n








a
l
a
m

d
a
n








b
u
a
t
a
n

s
e
r
t
a








p
e
m
b
a
g
i
a
n








w
i
l
a
y
a
h








w
a
k
t
u








d
i

I
n
d
o
n
e
s
i
a








d
e
n
g
a
n








m
e
n
g
g
u
-







n
a
k
a
n







p
e
t
a
/
a
t
l
a
s
/







g
l
o
b
e

d
a
n







m
e
d
i
a







l
a
i
n
n
y
a

k
e
r
a
g
a
m
a
n

k
e
n
a
m
p
a
k
a
n

a
l
a
m

d
a
n

b
u
a
t
a
n

s
e
r
t
a

p
e
m
b
a
g
i
a
n

w
i
l
a
y
a
h

w
a
k
t
u

d
i

I
n
d
o
n
e
s
i
a

d
e
n
g
a
n

m
e
n
g
g
u
n
a
k
a
n

p
e
t
a
/
a
t
l
a
s
/
g
l
o
b
e

d
a
n

m
e
d
i
a

l
a
i
n
n
y
a

-

M
e
n
g
a
m
a
t
l

g
a
m
b
a
r

-

Q
u
l
s

t
e
n
t
a
n
g


t
s
u
n
a
m
l
-

M
e
m
b
a
c
a

t
e
k
s

t
e
n
t
a
n
g



s
e
j
a
r
a
h

t
s
u
n
a
m
i
-

T
a
n
y
a

[
a
w
a
b

t
e
n
t
a
n
g

p
r
o
s
e
s



t
e
r
j
a
d
i
n
y
a

t
s
u
n
a
m
i

-

M
e
n
d
l
s
k
u
s
l
k
a
n

p
e
n
y
e
b
a
b



t
e
r
j
a
d
i
n
y
a

t
s
u
n
a
m
i

-

M
e
m
b
u
a
t

k
e
s
l
m
p
u
l
a
n

h
a
s
l
l



d
i
s
k
u
s
i
-

M
e
n
e
m
u
t
u
n
[
u
k
k
a
n

p
a
d
a



p
e
t
a

d
a
e
r
a
h

r
a
w
a
n

t
s
u
n
a
m
i

-

M
e
m
b
e
r
l

w
a
r
n
a

p
a
d
a

p
e
t
a
,



d
a
e
r
a
h

r
a
w
a
n

t
s
u
n
a
m
i
-

M
e
n
d
l
s
k
u
s
l
k
a
n

d
a
l
a
m



k
e
l
o
m
p
o
k

u
n
t
u
k



m
e
n
s
i
m
u
l
a
s
i
k
a
n

m
e
n
o
l
o
n
g



k
o
r
b
a
n

t
s
u
n
a
m
i

-

M
e
n
s
l
m
u
l
a
s
l
k
a
n

c
a
r
a
-

c
a
r
a



m
e
n
o
l
o
n
g

k
o
r
b
a
n


t
s
u
n
a
m
i
-

M
e
n
d
l
s
k
u
s
l
k
a
n

d
a
l
a
m



k
e
l
o
m
p
o
k

h
a
s
i
l

s
i
m
u
l
a
s
i

-

M
e
m
p
r
e
s
e
n
t
a
s
l
k
a
n

h
a
s
l
l



d
i
s
k
u
s
i
1
.

M
e
n
j
e
l
a
s
k
a
n




s
e
j
a
r
a
h





t
s
u
n
a
m
i
2
.

M
e
n
d
i
s
k
u
s
i
k
a
n





p
r
o
s
e
s

t
e
r
j
a
d
i
n
y
a





t
s
u
n
a
m
i
3
.

M
e
n
g
g
a
m
b
a
r
k
a
n





d
a
e
r
a
h

r
a
w
a
n





t
s
u
n
a
m
i
4
.

M
e
n
s
i
m
u
l
a
s
i
k
a
n

c
a
r
a
-
c
a
r
a

m
e
n
o
l
o
n
g
k
o
r
b
a
n

t
s
u
n
a
m
i
P
a
p
e
r

a
n
d

p
e
n
c
i
l

t
e
s
t
P
e
r
f
o
r
m
a
n
c
e

t
e
s
t
P
e
r
f
o
r
m
a
n
c
e

t
e
s
t
P
e
r
f
o
r
m
a
n
c
e

t
e
s
t
4
x
3
5

m
e
n
i
t
1
.

B
u
k
u
-
b
u
k
u





t
e
n
t
a
n
g






t
s
u
n
a
m
i

2
.

g
a
m
b
a
r
-




g
a
m
b
a
r





t
e
n
t
a
n
g





t
s
u
n
a
m
i
M
o
d
e
l

S
i
l
a
b
u
s

t
e
r
i
n
t
e
g
r
a
s
i

P
R
B

T
s
u
n
a
m
i

N
a
m
a

S
e
k
o
l
a
h


:

S
e
k
o
l
a
h

D
a
s
a
r

N
e
g
e
r
l

|

T
a
n
g
e
r
a
n
g

S
e
l
a
t
a
n

(
T
a
n
g
s
e
l
)
M
a
t
a

P
e
l
a
j
a
r
a
n


:

I
P
S
K
e
l
a
s
/
S
e
m
e
s
t
e
r


:

V
/
1
S
t
a
n
d
a
r

K
o
m
p
e
t
e
n
s
i

:

1
.

M
e
n
g
h
a
r
g
a
i

b
e
r
b
a
g
a
i

p
e
n
i
n
g
g
a
l
a
n

d
a
n

t
o
k
o
h

s
e
j
a
r
a
h

y
a
n
g

b
e
r
s
k
a
l
a

n
a
s
i
o
n
a
l


p
a
d
a

m
a
s
a

H
i
n
d
u
-
B
u
d
h
a












d
a
n

|
s
l
a
m
,

k
e
r
a
g
a
m
a
n

k
e
n
a
m
p
a
k
a
n

a
l
a
m

d
a
n

s
u
k
u

b
a
n
g
s
a
,

s
e
r
t
a

k
e
g
l
a
t
a
n

e
k
o
n
o
m
l

d
l

|
n
d
o
n
e
s
l
a
K
o
m
p
e
t
e
n
s
i

D
a
s
a
r
M
a
t
e
r
i

P
e
m
-
b
e
l
a
j
a
r
a
n
K
e
g
i
a
t
a
n

P
e
m
b
e
l
a
j
a
r
a
n
I
n
d
i
k
a
t
o
r
P
e
n
i
l
a
i
a
n
A
l
o
k
a
s
i
W
a
k
t
u
S
u
m
b
e
r
/
b
a
h
a
n
b
e
l
a
j
a
r
5
.
2

M
e
n
c
e
r
i
t
a
-
k
a
n

i
s
i


d
r
a
m
a
p
e
n
d
e
k

y
a
n
g

d
i
s
a
m
p
a
i
k
a
n

s
e
c
a
r
a

l
i
s
a
n

D
r
a
m
a

p
e
n
d
e
k
-

M
e
n
g
a
m
a
t
l

g
a
m
b
a
r

-

T
a
n
y
a

[
a
w
a
b

t
e
n
t
a
n
g

t
s
u
n
a
m
l
-

M
e
m
b
a
c
a

t
e
k
s

t
e
n
t
a
n
g



t
s
u
n
a
m
l
-

T
a
n
y
a

[
a
w
a
b

t
e
n
t
a
n
g

[
e
n
l
s
-



[
e
n
l
s

t
s
u
n
a
m
l

-

M
e
n
d
l
s
k
u
s
l
k
a
n

p
r
o
s
e
s



t
e
r
[
a
d
l
n
y
a

t
s
u
n
a
m
l

-

M
e
m
b
u
a
t

k
e
s
l
m
p
u
l
a
n

h
a
s
l
l



d
l
s
k
u
s
l
-

M
e
n
u
n
[
u
k
k
a
n

p
a
d
a

p
e
t
a



d
a
e
r
a
h

r
a
w
a
n

t
s
u
n
a
m
l

-

M
e
m
b
e
r
l

w
a
r
n
a

p
a
d
a

p
e
t
a
,



d
a
e
r
a
h

r
a
w
a
n

t
s
u
n
a
m
l
-

M
e
n
d
l
s
k
u
s
l
k
a
n

d
a
l
a
m



k
e
l
o
m
p
o
k

t
l
n
d
a
k
a
n

y
a
n
g



d
l
l
a
k
u
k
a
n

s
a
a
t

t
e
r
[
a
d
l
n
y
a



t
s
u
n
a
m
l
-

M
e
n
d
e
m
o
n
s
t
r
a
s
l
k
a
n

c
a
r
a
-


c
a
r
a

p
e
n
y
e
l
a
m
a
t
a
n

d
i
r
i



y
a
n
g

d
l
l
a
k
u
k
a
n

s
a
a
t



t
e
r
[
a
d
l
n
y
a

t
s
u
n
a
m
l
-

M
e
n
d
l
s
k
u
s
l
k
a
n

d
a
l
a
m



k
e
l
o
m
p
o
k

d
a
m
p
a
k

t
s
u
n
a
m
l
-

M
e
m
p
r
e
s
e
n
t
a
s
l
k
a
n

h
a
s
l
l



d
l
s
k
u
s
l
l
.

M
e
n
[
e
l
a
s
k
a
n
p
e
n
g
e
r
t
i
a
n

t
s
u
n
a
m
l
2
.

M
e
n
d
l
s
k
u
s
l
k
a
n

[
e
n
l
s
-
[
e
n
l
s

t
s
u
n
a
m
l
3
.

M
e
n
d
e
s
k
r
i
p
s
i
k
a
n

D
a
e
r
a
h

r
a
w
a
n

t
s
u
n
a
m
l
4
.

M
e
n
u
n
[
u
k
k
a
n

c
a
r
a
-
c
a
r
a

p
e
n
y
e
l
a
-
m
a
t
a
n

d
i
r
i

s
a
a
t

t
e
r
[
a
d
l
n
y
a

t
s
u
n
a
m
l

P
a
p
e
r

a
n
d

p
e
n
c
i
l

t
e
s
t
P
e
r
f
o
r
m
a
n
c
e

t
e
s
t
P
e
r
f
o
r
m
a
n
c
e

t
e
s
t
P
e
r
f
o
r
m
a
n
c
e

t
e
s
t
4
x
3
5

m
e
n
i
t
l
.

8
u
k
u
-
b
u
k
u





t
e
n
t
a
n
g






t
s
u
n
a
m
l

2
.

g
a
m
b
a
r
-




g
a
m
b
a
r






t
e
n
t
a
n
g






t
s
u
n
a
m
l
M
o
d
e
l

S
i
l
a
b
u
s

t
e
r
i
n
t
e
g
r
a
s
i

P
R
B

T
s
u
n
a
m
i
N
a
m
a

S
e
k
o
l
a
h



:

S
e
k
o
l
a
h

D
a
s
a
r

N
e
g
e
r
l

|

T
a
n
g
e
r
a
n
g

S
e
l
a
t
a
n

(
T
a
n
g
s
e
l
)
M
a
t
a

P
e
l
a
j
a
r
a
n




:

8
a
h
a
s
a

|
n
d
o
n
e
s
l
a

K
e
l
a
s
/
S
e
m
e
s
t
e
r




:

v
|
/
l
S
t
a
n
d
a
r

K
o
m
p
e
t
e
n
s
i


:

5
.

M
e
m
a
h
a
m
l

w
a
c
a
n
a

l
l
s
a
n

t
e
n
t
a
n
g

b
e
r
l
t
a


d
a
n

d
r
a
m
a

p
e
n
d
e
k


K
o
m
p
e
t
e
n
s
i

D
a
s
a
r
M
a
t
e
r
i

P
e
m
-
b
e
l
a
j
a
r
a
n
K
e
g
i
a
t
a
n

P
e
m
b
e
l
a
j
a
r
a
n
I
n
d
i
k
a
t
o
r
P
e
n
i
l
a
i
a
n
A
l
o
k
a
s
i
W
a
k
t
u
S
u
m
b
e
r
/
b
a
h
a
n
b
e
l
a
j
a
r
1
2
.
1

M
e
n
g
e
n
a
l









b
e
r
b
a
g
a
i










u
p
a
y
a










d
a
l
a
m










m
e
n
j
a
g
a










k
e
b
e
r
s
i
h
a
n










l
i
n
g
k
u
n
g
a
n
k
e
b
e
r
s
i
h
a
n

l
i
n
g
k
u
n
g
a
n

-

M
e
n
g
a
m
a
t
l

g
a
m
b
a
r

-

Q
u
l
s

t
e
n
t
a
n
g


t
s
u
n
a
m
l
-

M
e
m
b
a
c
a

t
e
k
s

t
e
n
t
a
n
g



s
e
[
a
r
a
h

t
s
u
n
a
m
l
-

T
a
n
y
a

[
a
w
a
b

t
e
n
t
a
n
g

p
r
o
s
e
s



t
e
r
[
a
d
l
n
y
a

t
s
u
n
a
m
l

-

M
e
n
d
l
s
k
u
s
l
k
a
n

p
e
n
y
e
b
a
b



t
e
r
[
a
d
l
n
y
a

t
s
u
n
a
m
l

-

M
e
m
b
u
a
t

k
e
s
l
m
p
u
l
a
n

h
a
s
l
l



d
i
s
k
u
s
i
-

M
e
n
u
n
[
u
k
k
a
n

p
a
d
a

p
e
t
a



d
a
e
r
a
h

r
a
w
a
n

t
s
u
n
a
m
l

-

M
e
m
b
e
r
l

w
a
r
n
a

p
a
d
a

p
e
t
a
,



d
a
e
r
a
h

r
a
w
a
n

t
s
u
n
a
m
l
-

M
e
n
d
l
s
k
u
s
l
k
a
n

d
a
l
a
m



k
e
l
o
m
p
o
k

u
n
t
u
k



m
e
n
s
l
m
u
l
a
s
l
k
a
n

m
e
n
o
l
o
n
g



k
o
r
b
a
n

t
s
u
n
m
a
l

-

M
e
n
s
l
m
u
l
a
s
l
k
a
n

c
a
r
a
-

c
a
r
a



m
e
n
o
l
o
n
g

k
o
r
b
a
n

t
s
u
n
a
m
l
-

M
e
n
d
l
s
k
u
s
l
k
a
n

d
a
l
a
m



k
e
l
o
m
p
o
k

h
a
s
l
l

s
l
m
u
l
a
s
l

-

M
e
m
p
r
e
s
e
n
t
a
s
l
k
a
n

h
a
s
l
l



d
i
s
k
u
s
i
1
.

M
e
n
j
e
l
a
s
k
a
n




s
e
j
a
r
a
h





t
s
u
n
a
m
l
2
.

M
e
n
d
i
s
k
u
s
i
k
a
n





p
r
o
s
e
s

t
e
r
[
a
d
l
n
y
a





t
s
u
n
a
m
l
3
.

M
e
n
g
g
a
m
b
a
r
k
a
n





d
a
e
r
a
h

r
a
w
a
n





t
s
u
n
a
m
l
4
.

M
e
n
s
i
m
u
l
a
s
i
k
a
n





c
a
r
a
-
c
a
r
a





m
e
n
o
l
o
n
g





k
o
r
b
a
n

t
s
u
n
a
m
l
P
a
p
e
r

a
n
d

p
e
n
c
i
l

t
e
s
t
P
e
r
f
o
r
m
a
n
c
e

t
e
s
t
P
e
r
f
o
r
m
a
n
c
e

t
e
s
t
P
e
r
f
o
r
m
a
n
c
e

t
e
s
t
4
x
3
5

m
e
n
l
t
l
.

8
u
k
u
-
b
u
k
u





t
e
n
t
a
n
g






t
s
u
n
a
m
l

2
.

g
a
m
b
a
r
-




g
a
m
b
a
r






t
e
n
t
a
n
g






t
s
u
n
a
m
l
M
o
d
e
l

S
i
l
a
b
u
s

t
e
r
i
n
t
e
g
r
a
s
i

P
R
B

T
s
u
n
a
m
i
N
a
m
a

S
e
k
o
l
a
h



:

S
e
k
o
l
a
h

D
a
s
a
r

N
e
g
e
r
l

|

T
a
n
g
e
r
a
n
g

S
e
l
a
t
a
n

(
T
a
n
g
s
e
l
)
M
a
t
a

P
e
l
a
j
a
r
a
n



:

P
e
n
j
a
s
K
e
l
a
s
/
S
e
m
e
s
t
e
r



:

|
v
/
2
S
t
a
n
d
a
r

K
o
m
p
e
t
e
n
s
i






:

l
2
.

M
e
n
e
r
a
p
k
a
n

b
u
d
a
y
a

h
l
d
u
p

s
e
h
a
t
Pengintegrasian Materi Pokok Pengurangan Risiko Tsunami
Ke Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Dasar (SD/MI)
60
5.1.4. Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
RPP adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasian
pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi dasar. RPP paling luas
mencakup 1 (satu) kompetensi dasar yang meliputi 1 (satu) atau beberapa
indikator untuk 1 (satu) kali pertemuan atau lebih.
Dalam menyusun RPP yang akan diintegrasikan tentang bencana tsunami
perlu memperhatikan beberapa hal, antara lain:
1. Memperhatikan perbedaan individu peserta didik (misal: peserta didik
yang telah mengerti tentang tsunami dan yang belum).
2. Mendorong partisipasi aktif peserta didik (contoh: peserta didik diajak
untuk memecahkan masalah apabila terjadinya bencana tsunami).
3. Mengembangkan budaya membaca dan menulis yang berkaitan dengan
bencana tsunami.
4. Memberikan umpan balik dan tindak lanjut dikaitkan dengan bencana
tsunami.
5. Keterkaitan dan keterpaduan antara materi bencana tsunami dengan
indikator pencapaiannya.
Menerapkan teknologi informasi dan komunikasi (misal: gambar-gambar dan
informasi dari Internet mengenai tsunami).
Langkah-langkah menyusun RPP yang mengintegrasikan PRB Tsunami:
1. Mengisi kolom identitas.
2. Menentukan alokasi waktu yang dibutuhkan untuk pertemuan yang telah
ditetapkan.
3. Menentukan SK, KD, dan Indikator yang akan digunakan (terdapat pada
silabus yang telah disusun).
4. Merumuskan tujuan pembelajaran berdasarkan SK, KD, dan Indikator yang
telah ditentukan. (Lebih rinci dari KD dan Indikator, pada saat-saat tertentu
rumusan indikator sama dengan tujuan pembelajaran, karena indikator
sudah sangat rinci sehingga tidak dapat dijabarkan lagi).
5. Mengidentifkasi materi ajar berdasarkan materi pokok/pembelajaran yang
terdapat dalam silabus. Materi ajar merupakan uraian dari materi pokok/
pembelajaran dikaitkan dengan PRB tsunami.
6. Menentukan metode pembelajaran yang akan digunakan.
7. Merumuskan langkah-langkah pembelajaran yang terdiri dari kegiatan
awal, inti, dan akhir dikaitkan dengan PRB tsunami.
8. Menentukan alat/bahan/ sumber belajar yang digunakan sesuai dengan
PRB tsunami.
9. Menyusun kriteria penilaian, lembar pengamatan, contoh soal, teknik
penskoran, dll sesuai dengan PRB tsunami.
Dibawah ini akan merupakan contoh penyusunan rencana pelaksanaan
pembelajaran (RPP).
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Tsunami Untuk SD/MI
61
Kotak 5.1.1 Contoh Rencana Pelaksanaan Pembelajaran terintegrasi PRB Tsunami
Sekolah : Sekolah Dasar Negeri 1 Tangerang Selatan (Tangsel)
Mata Pelajaran : IPA
Kelas/Semester : IV/2
Alokasi Waktu : 2 X 35 menit (1 X pertemuan)
A. Standar Kompetensi : 7. Memahami gaya dapat mengubah gerak dan/atau
bentuk suatu benda
B. Kompetensi Dasar : 7.1 Menyimpulkan hasil percobaan bahwa gaya
(dorongan dan tarikan) dapat mengubah gerak suatu
benda
C. Tujuan Pembelajaran :
Setelah mempelajari kompetensi dasar ini, peserta didik mampu:
1. Mendeskripsikan pengertian tsunami
2. Mengidentifkasi jenis-jenis tsunami
3. Menganalisis daerah rawan tsunami
4. Mempresentasikan cara-cara penyelamatan diri saat terjadinya tsunami
D. Materi Pembelajaran :
Perubahan kenampakan bumi
E. Model/Metode Pembelajaran :
Diskusi, tanya jawab, problem solving, presentasi
F. Langkah-langkah kegiatan pembelajaran :
1) Awal :
- Menunjukkan peta Indonesia
- Menceritakan daerah rawan bencana di Indonesia
2) Inti :
- Mengamati gambar peristiwa tsunami
- Tanya jawab tentang pengertian tsunami
- Membaca teks tentang tsunami
- Tanya jawab tentang jenis-jenis tsunami
- Mendiskusikan proses terjadinya tsunami
- Membuat kesimpulan hasil diskusi
- Mendiskusikan dalam kelompok tindakan yang dilakukan saat terjadinya
tsunami
- Mendemonstrasikan cara-cara penyelamatan diri yang dilakukan saat
terjadinya tsunami
3) Akhir
- Menunjukkan pada peta daerah rawan tsunami
- Menugaskan peserta didik mencari dari berbagai sumber tentang tsunami
Pengintegrasian Materi Pokok Pengurangan Risiko Tsunami
Ke Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Dasar (SD/MI)
62
G. Sumber belajar :
Buku-buku yang relevan tentang tsunami, gambar-gambar tentang tsunami
H. Penilaian :
Indikator
Pencapaian
Kompetensi

1. Menjelaskan
pengertian tsunami
2. Mendiskusikan
jenis-jenis tsunami
3. Mendeskripsi-kan
Daerah rawan tsunami
4. Menunjukkan cara-
cara penyelamatan diri
saat terjadinya tsunami
Teknik

Paper and
pencils test
Performance
test
Performance
test
Performance
test
Bentuk

- pilihan ganda
- isian singkat
- diskusi
- tanya jawab
- penugasan

- Presentasi
Instrumen

terlampir
terlampir
terlampir
Terlampir
PENILAIAN
K. Sumber belajar : Buku-buku yang relevan tentang tsunami,
gambar-gambar tentang tsunami
L. Penilaian
Lampiran
I. Pilihlah salah satu jawaban yang paling tepat antara a, b, c dan d
1. Yang harus kita lakukan ketika tsunami adalah . . .
a. Jangan panik
b. Segera pergi ke tempat terbuka
c. Berlindung di bawah meja
d. a, b, c benar
2. Dampak negatif tsunami adalah . . .
a. Tanah subur
b. Korban jiwa
c. Senang
d. Keuntungan
3. Faktor penyebab terjadinya tsunami adalah . . .
a. Penggundulan hutan
b. Tanah longsor
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Tsunami Untuk SD/MI
63
c. Pergerakan lapisan bumi
d. Banjir
4. Tsunami yang disebabkan oleh tekanan atmosfr disebut . . .
a. Tsunami asmosfr
b. Tsunami tektonik
c. Tsunami longsoran
d. Tsunami lokal
5. Yang bukan termasuk penyebab terjadinya tsunami adalah . . .
a. Pergeseran lapisan tanah
b. Letusan gunung berapi
c. Runtuhan di bawah permukaan tanah
d. Erosi
II. Isilah titik-titik di bawah ini
1. Pengertian tsunami adalah . . .
2. Penyebab tsunami adalah . . .
3. Tindakan penyelamatan yang harus dilakukan ketika tsunami terjadi adalah . .
.
4. Sebutkan jenis-jenis tsunami. . .
5. Sebutkan 5 daerah yang rawan tsunami . . .
KUNCI JAWABAN:
I
1. D
2. B
3. C
4. A
5. D
II
1. Tsunami adalah gelombang besar yang diakibatkan oleh pergeseran bumi di
dasar laut
2. Faktor penyebab tsunami: Tsunami paling sering disebabkan oleh gempa bumi,
tetapi dapat pula dikarenakan tanah longsor, letusan gunung berapi, dan
sangat jarang oleh meteor atau benturan lain di permukaan lautan.
3. Cara penyelamatan:
- Bila sedang berada di pantai atau dekat laut dan merasakan bumi bergetar,
segera berlari ke tempat yang tinggi dan jauh dari pantai.
- Naik ke lantai yang lebih tinggi, atap rumah atau memanjat pohon.
- Tidak perlu menunggu peringatan Tsunami.
- Tsunami dapat muncul melalui sungai dekat laut, jadi jangan berada di
sekitarnya.
Pengintegrasian Materi Pokok Pengurangan Risiko Tsunami
Ke Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Dasar (SD/MI)
64
4. Jenis-jenis tsunami adalah 1. Tsunami iring udara; 2. Tsunami atmosfer; 3.
Tsunami local; 4. Mikrotsunami.
5. Aceh, Sumatera Utara, Banten, Jawa Barat, Sulawesi.
III.
a) Diskusikanlah dalam kelompok kamu masing-masing tentang jenis-jenis
tsunami.
b) Buatlah laporan hasil diskusi kelompokmu dengan lengkap dan baik.
c) Presentasikanlah hasil diskusi kelompokmu di depan kelas agar kelompok lain
dapat menanggapinya dan memberikan masukan.
IV.
a) Carilah dari berbagai sumber (buku, majalah, media, internet dll) tentang
daerah-daerah rawan tsunami di Indonesia.
b) Buatlah laporan hasil temuanmu dengan lengkap dan baik disertai data, tabel,
gambar, grafk dan lainnya, sehingga hasil laporanmu menjadi lengkap dan
bermanfaat buatmu dan teman-temanmu lainnya.
c) Kumpulkanlah portofolio hasil laporanmu pada gurumu tepat waktu.
V.
a) Perhatikanlah gambar-gambar yang ditayangkan oleh gurumu di depann kelas.
Gambar tersebut menunjukkan cara-cara penyelamatan diri saat terjadinya
tsunami (misal: gambar sebelum terjadi tsunami, saat tsunami dan setelah
tsunami)
b) Latihlah dalam kelompokmu gambar-gambar tersebut
c) Demonstrasikanlah gerakan pada gambar tersebut di depan kelas (caracara
penyelamatan sebelum, saat dan setelah tsunami)
Kotak 5.2.1 Contoh Rencana pelaksanaan pembelajaran terintegrasi PRB tsunami
Sekolah : Sekolah Dasar Negeri 1 Tangerang Selatan (Tangsel)
Mata Pelajaran : IPS
Kelas/Semester : V/1
Alokasi Waktu : 2 X 35 menit (1 X pertemuan)
A. Standar Kompetensi : 1. Menghargai berbagai peninggalan dan tokoh sejarah
yang berskala nasional pada masa Hindu-Budha dan
Islam, keragaman kenampakan alam dan suku bangsa,
serta kegiatan ekonomi di Indonesia
B. Kompetensi Dasar : 1.1 Mengenal keragaman kenampakan alam dan buatan
serta pembagian wilayah waktu di Indonesia dengan
menggunakan peta/atlas/globe dan media lainnya
C. Tujuan Pembelajaran :
Setelah mempelajari kompetensi dasar ini, peserta didik mampu :
1. Mendeskripsikan sejarah tsunami
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Tsunami Untuk SD/MI
65
2. Mendiskusikan proses terjadinya tsunami
3. Menggambarkan daerah rawan tsunami
4. Mensimulasikan cara-cara menolong korban tsunami
D. Materi Pembelajaran : Keragaman kenampakan alam dan buatan serta
pembagian wilayah waktu di Indonesia dengan
menggunakan peta/atlas/globe dan media lainnya.
E. Model/Metode Pembelajaran :
Diskusi, tanya jawab, problem solving, presentasi.
F. Langkah-langkah kegiatan pembelajaran :
1) Awal :
- Mengamati gambar
- Quis tentang tsunami
- Membaca teks tentang sejarah tsunami
2) Inti :
- Tanya jawab tentang proses terjadinya tsunami
- Mendiskusikan penyebab terjadinya tsunami
- Membuat kesimpulan hasil diskusi
- Menemutunjukkan pada peta daerah rawan tsunami
- Memberi warna pada peta, daerah rawan tsunami
- Mendiskusikan dalam kelompok untuk mensimulasikan menolong korban
tsunami
- Mensimulasikan cara-cara menolong korban tsunami
- Mendiskusikan dalam kelompok hasil simulasi
- Mempresentasi-kan hasil diskusi
3) Akhir :
- Menunjukkan pada peta daerah rawan tsunami
- Menugaskan peserta didik mencari dari berbagai sumber tentang tsunami
I. Sumber belajar : Buku-buku yang relevan tentang tsunami, gambar-
gambar tentang tsunami
J. Penilaian :
Pengintegrasian Materi Pokok Pengurangan Risiko Tsunami
Ke Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Dasar (SD/MI)
66
Indikator
Pencapaian
Kompetensi

1. Menjelaskan
sejarah tsunami
2. Mendiskusikan proses
terjadinya tsunami
3. Menggambarkan
Daerah rawan tsunami
4. Mensimulasi-kan cara-
cara menolong
korban tsunami
Teknik

Paper and
pencils test
Performance
test
Performance
test
Performance
test
Bentuk

- pilihan ganda
- isian singkat
- diskusi
- tanya jawab
- penugasan

- Presentasi
Instrumen

terlampir
terlampir
terlampir
Terlampir
PENILAIAN
I. Sumber belajar : Buku-buku yang relevan tentang tsunami,
gambar-gambar tentang tsunami
J. Penilaian
5.3.1 Contoh Rencana Pelaksanaan Pembelajaran terintegrasi PRB Tsunami
Sekolah : Sekolah Dasar Negeri 1 Tangerang Selatan (Tangsel)
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Kelas/Semester : VI/1
Alokasi Waktu : 2 X 35 menit (1 X pertemuan)
A. Standar Kompetensi : 5. Memahami wacana lisan tentang berita dan drama
pendek
B. Kompetensi Dasar : 5.2 Menceritakan isi drama pendek yang disampaikan
secara lisan
C. Tujuan Pembelajaran :
Setelah mempelajari kompetensi dasar ini, peserta didik mampu:
1. Mendeskripsikan pengertian tsunami
2. Mengidentifkasi jenis-jenis tsunami
3. Menganalisis daerah rawan tsunami
4. Mempresentasikan cara-cara penyelamatan diri saat terjadinya tsunami
D. Materi Pembelajaran : Drama pendek
E. Model/Metode Pembelajaran :
Diskusi, tanya jawab, problem solving, presentasi
F. Langkah-langkah kegiatan pembelajaran :
1) Awal :
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Tsunami Untuk SD/MI
67
- Menunjukkan peta Indonesia
- Menceritakan daerah rawan bencana di Indonesia
2) Inti :
- Mengamati gambar peristiwa tsunami
- Tanya jawab tentang pengertian tsunami
- Membaca teks tentang tsunami
- Tanya jawab tentang jenis-jenis tsunami
- Mendiskusikan proses terjadinya tsunami
- Membuat kesimpulan hasil diskusi
- Mendiskusikan dalam kelompok tindakan yang dilakukan saat terjadinya
tsunami
- Mendemonstrasikan cara-cara penyelamatan diri yang dilakukan saat
terjadinya tsunami
3) Akhir
- Menunjukkan pada peta daerah rawan tsunami
- Menugaskan peserta didik mencari dari berbagai sumber tentang tsunami
K. Sumber belajar : Buku-buku yang relevan tentang tsunami, gambar-
gambar tentang tsunami
L. Penilaian :
Indikator
Pencapaian
Kompetensi

1. Menjelaskan
pengertian tsunami
2. Mendiskusikan
jenis-jenis tsunami
3. Mendeskripsi-kan
Daerah rawan tsunami
4. Menunjukkan cara-
cara penyelamatan diri
saat terjadinya tsunami
Teknik

Paper and
pencils test
Performance
test
Performance
test
Performance
test
Bentuk

- pilihan ganda
- isian singkat
- diskusi
- tanya jawab
- penugasan

- Presentasi
Instrumen

terlampir
terlampir
terlampir
Terlampir
PENILAIAN
K. Sumber belajar : Buku-buku yang relevan tentang tsunami,
gambar-gambar tentang tsunami
L. Penilaian
5.4.1 Contoh Rencana Pelaksanaan Pembelajaran terintegrasi PRB Tsunami
Sekolah : Sekolah Dasar Negeri 1 Tangerang Selatan (Tangsel)
Mata Pelajaran : Penjas
Kelas/Semester : V/1
Alokasi Waktu : 2 X 35 menit (1 X pertemuan)
A. Standar Kompetensi : 12. Menerapkan budaya hidup sehat
Pengintegrasian Materi Pokok Pengurangan Risiko Tsunami
Ke Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Dasar (SD/MI)
68
B. Kompetensi Dasar : 12.1 Mengenal berbagai upaya dalam menjaga
kebersihan lingkungan
C. Tujuan Pembelajaran :
Setelah mempelajari kompetensi dasar ini, peserta didik mampu:
1. Mendeskripsikan sejarah tsunami
2. Mendiskusikan proses terjadinya tsunami
3. Menggambarkan daerah rawan tsunami
4. Mensimulasikan cara-cara menolong korban tsunami
D. Materi Pembelajaran :
Perubahan kenampakan bumi
E. Model/Metode Pembelajaran :
Diskusi, tanya jawab, problem solving, presentasi
F. Langkah-langkah kegiatan pembelajaran :
1) Awal :
- Mengamati gambar
- Quis tentang tsunami
- Membaca teks tentang sejarah tsunami
2) Inti :
- Mengamati gambar peristiwa tsunami
- Tanya jawab tentang pengertian tsunami
- Membaca teks tentang tsunami
- Tanya jawab tentang jenis-jenis tsunami
- Mendiskusikan proses terjadinya tsunami
- Membuat kesimpulan hasil diskusi
- Mendiskusikan dalam kelompok tindakan yang dilakukan saat terjadinya
tsunami
- Mendemonstrasikan cara-cara penyelamatan diri yang dilakukan saat
terjadinya tsunami
3) Akhir :
- Menunjukkan pada peta daerah rawan tsunami
- Menugaskan peserta didik mencari dari berbagai sumber tentang
tsunami
G. Sumber belajar : Buku-buku yang relevan tentang tsunami, gambar-
gambar tentang tsunami
H. Penilaian :
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Tsunami Untuk SD/MI
69
Indikator
Pencapaian
Kompetensi

1. Menjelaskan
sejarah tsunami
2. Mendiskusikan proses
terjadinya tsunami
3. Menggambarkan
Daerah rawan tsunami
4. Mensimulasi-kan cara-
cara menolong
korban tsunami
Teknik

Paper and
pencils test
Performance
test
Performance
test
Performance
test
Bentuk

- pilihan ganda
- isian singkat
- diskusi
- tanya jawab
- penugasan

- Presentasi
Instrumen

terlampir
terlampir
terlampir
Terlampir
PENILAIAN
I. Sumber belajar : Buku-buku yang relevan tentang tsunami,
gambar-gambar tentang tsunami
J. Penilaian
5.1.5 Penyusunan Bahan Ajar
Bahan ajar merupakan informasi, alat, dan teks yang diperlukan guru/instruktur
untuk perencanaan dan penelaahan implementasi pembelajaran. Bahan ajar
adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru/instruktur
dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas. Bahan yang dimaksud
bisa berupa bahan tertulis maupun bahan tidak tertulis.
Jadi dapatlah dikatakan bahwa bahan ajar adalah seperangkat materi yang
disusun secara sistematis baik tertulis maupun tidak sehingga tercipta
lingkungan/suasana yang memungkinkan siswa untuk belajar.
Sedangkan fungsi bahan ajar adalah :
1. Pedoman bagi guru
2. Pedoman bagi siswa
3. Alat evaluasi
Tujuannya adalah:
1. Membantu siswa
2. Memberikan banyak pilihan
3. Memudahkan guru
4. Lebih menarik
Langkah-langkah Menyusun Bahan Ajar yang Mengintegrasikan PRB Tsunami
1. Memahami Teknik Penyusunan Bahan Ajar
2. Mengidentifkasi Materi Pembelajaran tentang PRB Tsunami
3. Menganalisis Kompetensi Dasar yang Dapat Diintegrasikan materi PRB
tsunami
4. Menyusun Silabus dan RPP yang mengintegrasikan Materi PRB tsunami
5. Menyusun Bahan Ajar yang Mengintegrasikan Materi PRB tsunami
Pengintegrasian Materi Pokok Pengurangan Risiko Tsunami
Ke Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Dasar (SD/MI)
70
5.2 Pengintegrasian Pengurangan Risiko Bencana dalam Muatan
Lokal
Muatan Lokal merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi
yang disesuaikan dengan ciri khas dan potensi daerah, termasuk keunggulan
daerah, yang materinya tidak dapat dikelompokkan ke dalam mata pelajaran yang
ada. Substansi mata pelajaran Muatan lokal ditentukan oleh satuan pendidikan
disesuaikan dengan karakteristik daerah masing-masing.
Muatan Lokal merupakan bagian dari struktur dan muatan kurikulum yang terdapat
pada Standar Isi dan harus diwujudkan dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan.
Keberadaan mata pelajaran Muatan Lokal merupakan bentuk penyelenggaraan
pendidikan yang tidak terpusat, sebagai upaya agar penyelenggaraan pendidikan
di masing-masing daerah lebih meningkat relevansinya terhadap keadaan dan
kebutuhan daerah yang bersangkutan. Hal ini sejalan dengan upaya peningkatan
mutu pendidikan nasional sehingga keberadaan mata pelajaran Muatan Lokal
mendukung dan melengkapi mata pelajaran yang lain.
Muatan lokal merupakan mata pelajaran, sehingga satuan pendidikan harus
mengembangkan standar kompetensi dan kompetensi dasar untuk setiap jenis
Muatan Lokal yang diselenggarakan. Satuan pendidikan dapat menyelenggarakan
satu mata pelajaran muatan lokal setiap semester. Ini berarti bahwa dalam satu
tahun satuan pendidikan dapat menyelenggarakan dua mata pelajaran Muatan
Lokal. Pelaksanaan pembelajaran Muatan Lokal dapat dilaksanakan secara
berkesinambungan sesuai dengan kompetensi yang dicapai.
5.2.1. Analisis Konteks Muatan Lokal
Analisis konteks diperlukan untuk menjawab sejumlah pertanyaan:
Mengapa pelajaran pengurangan risiko Tsunami diperlukan?
Seberapa penting siswa memiliki kompetensi tersebut?
Bagaimana ketersediaan bahan ajar?
Siapa yang mengajarkan? Adakah guru yang terlatih untuk mengajarkan
hal tersebut?
Bagaimana metode pembelajarannya? Jangan sampai pembelajaran hanya
bersifat teori, karena yang diperlukan bukan penguasaan teori, melainkan
sikap dan prilaku.
Bagaimana sistem penilaiannya?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut dijawab dengan mengkaji peluang dan
tantangan yang dihadapi oleh masing-masing daerah dan sekolah.
Adapun pengembangan mata pelajaran muatan lokal pengurangan risiko
tsunami yang dilakukan oleh sekolah atau komite sekolah, hendaknya
memperhatikan langkah-langkah berikut:
1. Mengidentifkasi keadaan dan kebutuhan daerah
Kegiatan ini dilakukan untuk menelaah dan mendata berbagai keadaan dan
kebutuhan daerah yang bersangkutan. Data tersebut dapat diperoleh dari
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Tsunami Untuk SD/MI
71
berbagai pihak yang terkait di daerah yang bersangkutan seperti Pemda/
Bappeda, Instansi vertikal terkait, Perguruan Tinggi, dan dunia usaha/industri.
Keadaan daerah seperti telah disebutkan di atas dapat ditinjau dari potensi
daerah yang bersangkutan yang meliputi aspek sosial, ekonomi, budaya, dan
kekayaan alam.
Kebutuhan daerah dapat diketahui antara lain dari:
- Rencana pembangunan daerah bersangkutan termasuk prioritas
pembangunan daerah, baik pembangunan jangka pendek,
pembangunan jangka panjang, maupun pembangunan berkelanjutan
- Pengembangan ketenagakerjaan termasuk jenis kemampuan-
kemampuan dan keterampilan-keterampilan yang diperlukan;
- Aspirasi masyarakat mengenai pelestarian alam dan pengembangan
daerahnya, serta konservasi alam dan pemberdayaannya.
2. Menentukan fungsi dan susunan atau komposisi muatan lokal
Berdasarkan kajian dari beberapa sumber seperti di atas dapat diperoleh
berbagai jenis kebutuhan. Berbagai jenis kebutuhan ini dapat mencerminkan
fungsi muatan lokal di daerah, antara lain untuk memahami dan mangantisipasi
bencana yang terjadi, pelestarian alam dan pengembangan daerah, serta
konservasi alam dan pemberdyaannya.
3. Menentukan bahan kajian muatan lokal
Kegiatan ini pada dasarnya untuk mendata dan mengkaji berbagai
kemungkinan muatan lokal yang dapat diangkat sebagai bahan kajian sesuai
dengan dengan keadaan dan kebutuhan sekolah. Penentuan bahan kajian
muatan lokal didasarkan pada kriteria berikut:
- Kesesuaian dengan tingkat perkembangan peserta didik;
- Kemampuan guru dan ketersediaan tenaga pendidik yang diperlukan;
- Tersedianya sarana dan prasarana;
- Tidak bertentangan dengan agama dan nilai luhur bangsa;
- Tidak menimbulkan kerawanan sosial dan keamanan;
- Kelayakan berkaitan dengan pelaksanaan di sekolah;
- Lain-lain yang dapat dikembangkan sendiri sesuai dengan kondisi dan
situasi daerah.
4. Mengembangkan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar serta
silabus, dengan mengacu pada Standar Isi yang ditetapkan oleh
BSNP.
Pengembangan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar adalah langkah
awal dalam membuat mata pelajaran muatan lokal agar dapat dilaksanakan
di sekolah.
Pengintegrasian Materi Pokok Pengurangan Risiko Tsunami
Ke Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Dasar (SD/MI)
72
5.2.2. Penyusunan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Muatan Lokal
Pengurangan Risiko Tsunami
Standar kompetensi merupakan kemampuan yang menyeluruh mencakup
tiga ranah kemampuan (kognitif, psikomotor, dan afektif ). Kompetensi dasar
merupakan bagian atau dapat juga disebut tahapan dari pencapaian standar
kompetensi. Indikator, merupakan ciri atau bukti bahwa kompetensi tersebut
dikuasai oleh siswa.
Adapun langkah-langkah dalam mengembangkan standar kompetensi dan
kompetensi dasar adalah sebagai berikut:
1. Pengembangan Standar Kompetensi
Standar Kompetensi adalah ukuran kompetensi minimal yang harus dicapai
peserta didik setelah mengikuti suatu proses pembelajaran pada satuan
pendidikan tertentu. Sedangkan kompetensi itu didefnisikan sebagai
kemampuan bersikap, berpikir, dan bertindak secara konsisten sebagai
perwujudan dari pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang dimiliki
peserta didik. Penentuan Standar Kompetensi dengan didasarkan pada
materi sebagai basis pengetahuan.
2. Pengembangan Kompetensi Dasar
Kompetensi dasar merupakan kompetensi yang harus dikuasai siswa.
Penentuan ini dilakukan dengan melibatkan guru, ahli bidang kajian, ahli
dari instansi lain yang sesuai dan ahli lain yang relevan.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Tsunami Untuk SD/MI
73
STANDAR KOMPETENSI
1. Mengetahui arti dan jenis
tsunami dan karakteristiknya
2. Memiliki kepedulian terhadap
bencana tsunami yang
terjadi di lingkungan
sekitar tempat tinggalnya
KOMPETENSI DASAR
1.1 Mendeskripsikan pengertian
tsunami
1.2 Mengenal jenis-jenis tsunami
dan karakteristiknya
1.1 Menyebutkan upaya-upaya
kesiapsiagaan yang harus
dilakukan untuk dirinya sendiri,
keluarga, sekolah, dan masyarakat
1.2 Menunjukkan peran aktif dalam
kegiatan peduli bencana tsunami
(misal: mengumpulkan mainan,
dana, alat sekolah, buku bacaan
yang dapat disumbangkan
kepada korban)
5.2.3. Penyusunan Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Langkah-langkah Pengembangan Silabus muatan lokal PRB sebagai berikut:
1. Mengkaji Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar
Mengkaji standar kompetensi dan kompetensi dasar muatan lokal PRB
tsunami, dengan memperhatikan hal-hal berikut:
- urutan berdasarkan hierarki konsep disiplin ilmu dan/atau tingkat
kesulitan materi, tidak harus selalu sesuai dengan urutan yang ada di
SI,
- keterkaitan antara standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam
mata pelajaran muatan lokal PRB Tsunami ,
- keterkaitan antara standar kompetensi dan kompetensi dasar antar
mata pelajaran.
2. Mengidentifkasi Materi Pokok/Pembelajaran
Mengidentifkasi materi pokok/pembelajaran yang menunjang pencapaian
kompetensi dasar dengan mempertimbangkan:
- potensi peserta didik,
- relevansi dengan karakteristik daerah,
- tingkat perkembangan fsik, intelektual, emosional, sosial, dan spritual
peserta didik,
- kebermanfaatan bagi peserta didik,
- struktur keilmuan,
5.6 Tabel Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) Muatan Lokal
PRB untuk Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah
Pengintegrasian Materi Pokok Pengurangan Risiko Tsunami
Ke Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Dasar (SD/MI)
74
- aktualitas, kedalaman, dan keluasan materi pembelajaran,
- relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan lingkungan,
dan
- alokasi waktu.
3. Mengembangkan Kegiatan Pembelajaran
Kegiatan pembelajaran dirancang untuk memberikan pengalaman belajar
yang melibatkan proses mental dan fsik melalui interaksi antar peserta
didik, peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya
dalam rangka pencapaian kompetensi dasar. Pengalaman belajar yang
dimaksud dapat terwujud melalui penggunaan pendekatan pembelajaran
yang bervariasi dan berpusat pada peserta didik. Pengalaman belajar
memuat kecakapan hidup yang perlu dikuasai peserta didik.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam mengembangkan kegiatan
pembelajaran adalah sebagai berikut:
- Kegiatan pembelajaran disusun untuk memberikan bantuan kepada
para pendidik, khususnya guru, agar dapat melaksanakan proses
pembelajaran secara profesional.
- Kegiatan pembelajaran memuat rangkaian kegiatan yang harus
dilakukan oleh peserta didik secara berurutan untuk mencapai
kompetensi dasar.
- Penentuan urutan kegiatan pembelajaran harus sesuai dengan hierarki
konsep materi pembelajaran.
- Rumusan pernyataan dalam kegiatan pembelajaran minimal
mengandung dua unsur penciri yang mencerminkan pengelolaan
pengalaman belajar siswa, yaitu kegiatan siswa dan materi.
4. Merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi
Indikator merupakan penanda pencapaian kompetensi dasar yang
ditandai oleh perubahan perilaku yang dapat diukur yang mencakup
sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Indikator dikembangkan sesuai
dengan karakteristik peserta didik, mata pelajaran, satuan pendidikan,
potensi daerah dan dirumuskan dalam kata kerja operasional yang terukur
dan/atau dapat diobservasi. Indikator digunakan sebagai dasar untuk
menyusun alat penilaian.
5. Menentukan Jenis Penilaian
Penilaian pencapaian kompetensi dasar peserta didik dilakukan berdasarkan
indikator. Penilaian dilakukan dengan menggunakan tes dan non tes dalam
bentuk tertulis maupun lisan, pengamatan kinerja, pengukuran sikap,
penilaian hasil karya berupa tugas, proyek dan/atau produk, penggunaan
portofolio, dan penilaian diri.
Penilaian merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh,
menganalisis, dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar peserta
didik yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga
menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Tsunami Untuk SD/MI
75
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penilaian.
- Penilaian diarahkan untuk mengukur pencapaian kompetensi.
- Penilaian menggunakan acuan kriteria; yaitu berdasarkan apa yang bisa
dilakukan peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran, dan
bukan untuk menentukan posisi seseorang terhadap kelompoknya.
- Sistem yang direncanakan adalah sistem penilaian yang berkelanjutan.
Berkelanjutan dalam arti semua indikator ditagih, kemudian hasilnya
dianalisis untuk menentukan kompetensi dasar yang telah dimiliki dan
yang belum, serta untuk mengetahui kesulitan siswa.
- Hasil penilaian dianalisis untuk menentukan tindak lanjut. Tindak lanjut
berupa perbaikan proses pembelajaran berikutnya, program remedi
bagi peserta didik yang pencapaian kompetensinya di bawah kriteria
ketuntasan, dan program pengayaan bagi peserta didik yang telah
memenuhi kriteria ketuntasan.
- Sistem penilaian harus disesuaikan dengan pengalaman belajar yang
ditempuh dalam proses pembelajaran. Misalnya, jika pembelajaran
menggunakan pendekatan tugas observasi lapangan maka evaluasi
harus diberikan baik pada proses (keterampilan proses) misalnya teknik
wawancara, maupun produk/hasil melakukan observasi lapangan yang
berupa informasi yang dibutuhkan.
- Penilaian dilakukan dengan menggunakan tes dan non tes dalam
bentuk tertulis maupun lisan, pengamatan kinerja, pengukuran
sikap, penilaian hasil karya berupa tugas, proyek dan/atau produk,
penggunaan portofolio, dan penilaian diri.
- Pelaporan mata pelajaran muatan lokal dinilai secara kuantitatif.
6. Menentukan Alokasi Waktu
Penentuan jumlah jam pelajaran tiap minggu untuk mata pelajaran
muatan lokal 2 jam pelajaran. Jika jumlah jam pelajaran dianggap belum
mencukupi dalam satu minggu maka kekurangan jam pelajaran tersebut
dapat mengambil dari 4 jam pelajaran pada struktur kurikulum yang
ditentukan. Alokasi waktu pada setiap kompetensi dasar didasarkan pada
jumlah minggu efektif dan alokasi waktu mata pelajaran per minggu dengan
mempertimbangkan jumlah kompetensi dasar, keluasan, kedalaman,
tingkat kesulitan, dan tingkat kepentingan kompetensi dasar. Alokasi
waktu yang dicantumkan dalam silabus merupakan perkiraan waktu rerata
untuk menguasai kompetensi dasar yang dibutuhkan oleh peserta didik
yang beragam.
7. Menentukan Sumber Belajar
Sumber belajar adalah rujukan, objek dan/atau bahan yang digunakan
untuk kegiatan pembelajaran, yang berupa media cetak dan elektronik,
nara sumber, serta lingkungan fsik, alam, sosial, dan budaya. Penentuan
sumber belajar didasarkan pada standar kompetensi dan kompetensi dasar
serta materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator
pencapaian kompetensi. Dalam implementasinya, silabus dijabarkan
Pengintegrasian Materi Pokok Pengurangan Risiko Tsunami
Ke Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Dasar (SD/MI)
76
dalam rencana pelaksanaan pembelajaran, dilaksanakan, dievaluasi,
dan ditindaklanjuti oleh masing-masing guru. Silabus harus dikaji dan
dikembangkan secara berkelanjutan dengan memperhatikan masukan
evaluasi hasil belajar, evaluasi proses (pelaksanaan pembelajaran), dan
evaluasi rencana pembelajaran.
Pengembangan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Muatan Lokal
PRB Tsunami
Setelah silabus selesai dibuat, maka guru perlu merencanakan pelaksanaan
pembelajaran untuk satu kali tatap muka. Adapun komponen dari RPP berisi
antara lain:
1. Tujuan Pembelajaran,
2. Materi Ajar,
3. Metode Pembelajaran,
4. Kegiatan Pembelajaran,
5. Sumber Belajar,
6. Penilaian.
K
o
m
p
e
t
e
n
s
i

D
a
s
a
r
M
a
t
e
r
i

P
e
m
-
b
e
l
a
j
a
r
a
n
K
e
g
i
a
t
a
n

P
e
m
b
e
l
a
j
a
r
a
n
I
n
d
i
k
a
t
o
r
P
e
n
i
l
a
i
a
n
A
l
o
k
a
s
i
W
a
k
t
u
S
u
m
b
e
r
/
b
a
h
a
n
b
e
l
a
j
a
r
2
.
2

M
e
n
u
n
j
u
k
-







k
a
n

p
e
r
a
n








a
k
t
i
f

d
a
l
a
m








k
e
g
i
a
t
a
n








p
e
d
u
l
i








b
e
n
c
a
n
a








t
s
u
n
a
m
i
P
e
d
u
l
i

b
e
n
c
a
n
a

t
s
u
n
a
m
i


-

M
e
n
g
a
m
a
t
l

g
a
m
b
a
r


p
e
r
i
s
t
i
w
a

t
s
u
n
a
m
i

-

T
a
n
y
a

[
a
w
a
b

b
e
n
t
u
k
-

b
e
n
t
u
k

k
e
p
e
d
u
l
i
a
n


t
e
r
h
a
d
a
p

b
e
n
c
a
n
a



t
s
u
n
a
m
i
-

M
e
n
d
l
s
k
u
s
l
k
a
n


p
e
r
a
n
a
n

y
a
n
g

d
a
p
a
t


d
i
l
a
k
u
k
a
n

m
e
n
o
l
o
n
g


k
o
r
b
a
n

b
e
n
c
a
n
a


t
s
u
n
a
m
i

-

M
e
n
g
g
a
l
a
n
g

d
a
n
a


d
a
n

t
e
n
a
g
a

u
n
t
u
k


m
e
m
b
a
n
t
u

k
o
r
b
a
n


b
e
n
c
a
n
a

t
s
u
n
a
m
i

1
.

M
e
n
g
i
d
e
n
t
i

k
a
s
i





b
e
n
t
u
k
-
b
e
n
t
u
k





k
e
p
e
d
u
l
i
a
n





t
e
r
h
a
d
a
p

b
e
n
c
a
n
a





t
s
u
n
a
m
i
2
.

B
e
r
p
e
r
a
n

a
k
t
i
f





d
a
l
a
m

k
e
g
i
a
t
a
n





p
e
d
u
l
i

b
e
n
c
a
n
a





t
s
u
n
a
m
i

P
e
r
f
o
r
m
a
n
c
e

t
e
s
t
P
e
r
f
o
r
m
a
n
c
e

t
e
s
t
4
x
3
5

m
e
n
i
t
1
.

B
u
k
u
-
b
u
k
u





t
e
n
t
a
n
g






t
s
u
n
a
m
i
M
o
d
e
l

S
i
l
a
b
u
s

M
u
l
o
k

P
R
B

T
s
u
n
a
m
i


N
a
m
a

S
e
k
o
l
a
h


:

S
e
k
o
l
a
h

D
a
s
a
r

N
e
g
e
r
l

|

T
a
n
g
e
r
a
n
g

S
e
l
a
t
a
n

(
T
a
n
g
s
e
l
)

M
a
t
a

P
e
l
a
j
a
r
a
n



:

P
e
n
a
n
g
g
u
l
a
n
g
a
n

P
e
s
l
k
o
P
l
s
l
k
o

8
e
n
c
a
n
a

T
s
u
n
a
m
l


K
e
l
a
s
/
S
e
m
e
s
t
e
r



:

I
V
/
1

S
t
a
n
d
a
r

K
o
m
p
e
t
e
n
s
i













:

2
.
M
e
m
l
l
l
k
l

k
e
p
e
d
u
l
l
a
n

t
e
r
h
a
d
a
p


b
e
n
c
a
n
a

t
s
u
n
a
m
l

y
a
n
g

t
e
r
[
a
d
l

d
l

l
l
n
g
k
u
n
g
a
n

s
e
k
l
t
a
r

t
e
m
p
a
t

t
l
n
g
g
a
l
n
y
a
Pengintegrasian Materi Pokok Pengurangan Risiko Tsunami
Ke Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Dasar (SD/MI)
78
5.5.1 Contoh Model Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Tsunami
Sekolah : Sekolah Dasar Negeri
Mata Pelajaran : Pengurangan Risiko Bencana Tsunami
Kelas/Semester : IV/1
Alokasi Waktu : 2 X 35 menit (1 X pertemuan)
A. Standar Kompetensi : 2. Memiliki kepedulian terhadap bencana tsunami yang
terjadi di lingkungan sekitar tempat tinggalnya
B. Kompetensi Dasar : 2.2 Menunjukkan peran aktif dalam kegiatan peduli
bencana tsunami (misal : mengumpulkan mainan, dana,
alat sekolah, buku bacaan yang dapat disumbangkan
kepada korban)
C. Tujuan Pembelajaran :
Setelah mempelajari kompetensi dasar ini, peserta didik mampu:
1. Mengidentifkasi bentuk-bentuk kepedulian terhadap bencana tsunami
2. Berperan aktif dalam kegiatan peduli bencana tsunami
D. Materi Pembelajaran :
Bencana tsunami, bentuk-bentuk kepedulian bencana
E. Model/Metode Pembelajaran :
Diskusi, tanya jawab, VCT pelaksanaan
F. Langkah-langkah kegiatan pembelajaran :
1) Awal :
- Menceritakan bencana tsunami yang terjadi di Indonesia melalui gambar
dan video (kalau ada)
2) Inti :
- Mengamati gambar peristiwa tsunami
- Tanya jawab bentuk-bentuk kepedulian terhadap bencana tsunami
- Mendiskusikan peranan yang dapat dilakukan menolong korban bencana
tsunami
- Menggalang dana dan tenaga untuk membantu korban bencana tsunami
3) Akhir
- Menemutunjukkan pada peta daerah-daerah terkena bencana tsunami
- Menugaskan peserta didik mengumpulkan dana dan buku-buku layak
pakai dari lingkungan sekitar
Sumber belajar : Buku-buku yang relevan tentang tsunami, gambar-
gambar tentang tsunami
Penilaian :
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Tsunami Untuk SD/MI
79
Indikator
Pencapaian
Kompetensi

1. Mengidenti-kasi
bentuk-bentuk
kepedulian terhadap
bencana tsunami
2. Berperan aktif dalam
kegiatan peduli bencana
tsunami
Teknik

Performance
test
Performance
test
Bentuk

- diskusi
- tanya jawab
- diskusi
- VCT
pelaksanaan
Instrumen

terlampir
terlampir
PENILAIAN
t 4VNCFSCFMBKBSBuku-buku yang relevan tentang tsunami,
gambar-gambar tentang tsunami
t 1FOJMBJBO
5.3 Pengintegrasian Materi Pengurangan Risiko Tsunami Pada
Kegiatan Pengembangan Diri
Kegiatan ekskul lebih dikenal dengan istilah kegiatan pengembangan diri
(istilah di dalam KTSP). Pengembangan diri merupakan kegiatan pendidikan di
luar mata pelajaran sebagai bagian integral dari kurikulum sekolah/madrasah.
Kegiatan pengembangan diri juga merupakan upaya pembentukan watak
dan kepribadian peserta didik yang dilakukan melalui kegiatan pelayanan
konseling berkenaan dengan masalah pribadi dan kehidupan sosial, kegiatan
belajar, dan pengembangan karir, serta kegiatan ekstra kurikuler. Untuk satuan
pendidikan kejuruan, kegiatan pengembangan diri, khususnya pelayanan
konseling ditujukan guna pengembangan kreativitas dan karir, sedangkan
untuk satuan pendidikan khusus, pelayanan konseling menekankan
peningkatan kecakapan hidup sesuai dengan kebutuhan khusus peserta
didik.
Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik
untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan,
potensi, bakat, minat, kondisi dan perkembangan peserta didik, dengan
memperhatikan kondisi sekolah/madrasah.
Pengembangan diri bertujuan menunjang pendidikan peserta didik dalam
mengembangkan :
1. Bakat
2. Minat
3. Kreativitas
4. Kompetensi dan kebiasaan dalam kehidupan
5. Kemampuan kehidupan keagamaan
6. Kemampuan sosial
7. Kemampuan belajar
8. Wawasan dan perencanaan karir
9. Kemampuan pemecahan masalah
10. Kemandirian
Pengintegrasian Materi Pokok Pengurangan Risiko Tsunami
Ke Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Dasar (SD/MI)
80
Fungsi Kegiatan EkstraKurikuler
1. Pengembangan, yaitu fungsi kegiatan ekstra kurikuler untuk
mengembangkan kemampuan dan kreativitas peserta didik sesuai dengan
potensi, bakat dan minat mereka.
2. Sosial, yaitu fungsi kegiatan ekstra kurikuler untuk mengembangkan
kemampuan dan rasa tanggung jawab sosial peserta didik.
3. Rekreatif, yaitu fungsi kegiatan ekstra kurikuler untuk mengembangkan
suasana rileks, mengembirakan dan menyenangkan bagi peserta didik
yang menunjang proses perkembangan.
4. Persiapan karir, yaitu fungsi kegiatan ekstra kurikuler untuk
mengembangkan kesiapan karir peserta didik.
Prinsip Kegiatan EkstraKurikuler
1. Individual, yaitu prinsip kegiatan ekstra kurikuler yang sesuai dengan
potensi, bakat dan minat peserta didik masing-masing.
2. Pilihan, yaitu prinsip kegiatan ekstrakurikuler yang sesuai dengan keinginan
dan diikuti secara sukarela peserta didik.
3. Keterlibatan aktif, yaitu prinsip kegiatan ekstrakurikuler yang menuntut
keikutsertaan peserta didik secara penuh.
4. Menyenangkan, yaitu prinsip kegiatan ekstrakurikuler dalam suasana yang
disukai dan mengembirakan peserta didik.
5. Etos kerja, yaitu prinsip kegiatan ekstrakurikuler yang membangun
semangat peserta didik untuk bekerja dengan baik dan berhasil.
6. Kemanfaatan sosial, yaitu prinsip kegiatan ekstrakurikuler yang
dilaksanakan untuk kepentingan masyarakat.
Jenis Kegiatan EkstraKurikuler
1. Krida, meliputi Kepramukaan, Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa
(LDKS), Palang Merah Remaja (PMR), Pasukan Pengibar Bendera Pusaka
(PASKIBRAKA).
2. Karya Ilmiah, meliputi Kegiatan Ilmiah Remaja (KIR), kegiatan penguasaan
keilmuan dan kemampuan akademik, penelitian.
3. Latihan/lomba keberbakatan/prestasi, meliputi pengembangan bakat
olah raga, seni dan budaya, cinta alam, jurnaistik, teater, keagamaan.
4. Seminar, lokakarya, dan pameran/bazar, dengan substansi antara lain karir,
pendidikan, kesehatan, perlindungan HAM, keagamaan, seni budaya
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Tsunami Untuk SD/MI
81
Format Kegiatan EkstraKurikuler
1. Individual, yaitu format kegiatan ekstrakurikuler yang diikuti peserta didik
secara perorangan.
2. Kelompok, yaitu format kegiatan ekstrakurikuler yang diikuti oleh
kelompok-kelompok peserta didik.
3. Klasikal, yaitu format kegiatan ekstrakurikuler yang diikuti peserta didik
dalam satu kelas.
4. Gabungan, yaitu format kegiatan ekstrakurikuler yang diikuti peserta didik
antar kelas/ antar sekolah/madrasah.
Pelaksanaan Kegiatan EkstraKurikuler
1. Kegiatan ekstrakurikuler yang bersifat rutin, spontan dan keteladanan
dilaksanakan secara langsung oleh guru, konselor dan tenaga kependidikan
di sekolah/madrasah.
2. Kegiatan ekstrakurikuler yang terprogram dilaksanakan sesuai dengan
sasaran, substansi, jenis kegiatan, waktu, tempat dan pelaksana
sebagaimana telah direncanakan.
Penilaian Ekstrakurikuler
1. Hasil dan proses kegiatan ekstrakurikuler dinilai secara kualitatif dan
dilaporkan kepada pimpinan sekolah/madrasah dan pemangku
kepentingan lainnya oleh penanggung jawab kegiatan.
M
A
T
E
R
I

K
E
G
I
A
T
A
N
1
.

M
e
m
a
h
a
m
i





A
r
t
i

d
a
n

j
e
n
i
s





b
e
n
c
a
n
a





t
s
u
n
a
m
i

&





k
a
r
a
k
t
e
r
i
s
t
i
k
n
y
a
2
.

M
e
n
g
i
d
e
n
t
i

k
a
s
i





r
i
w
a
y
a
t

k
e
j
a
d
i
a
n





b
e
n
c
a
n
a

t
s
u
n
a
m
i
3
.

M
e
n
g
a
n
a
l
i
s
i
s





d
a
m
p
a
k

b
e
n
c
a
n
a





t
s
u
n
a
m
i

d
a
n





p
e
n
c
e
g
a
h
a
n
n
y
a




M
a
t
e
r
i

K
e
g
i
a
t
a
n



T
U
J
U
A
N

P
E
M
B
E
L
A
J
A
R
A
N
t

%
B
Q
B
U

N
F
O
K
F
M
B
T
L
B
O



a
r
t
i

d
a
n

j
e
n
i
s

b
e
n
c
a
n
a




t
s
u
n
a
m
i

d
a
n



k
a
r
a
k
t
e
r
i
s
t
i
k
n
y
a
t

%
B
Q
B
U

N
F
O
D
F
S
J
U
B
L
B
O



b
e
n
c
a
n
a

t
s
u
n
a
m
i

y
a
n
g



t
e
r
j
a
d
i

d
i

I
n
d
o
n
e
s
i
a



d
a
n

l
i
n
g
k
u
n
g
a
n
n
y
a
t

%
B
Q
B
U

N
F
O
E
F
T
L
S
J
Q
T
J
L
B
O



p
e
n
y
e
b
a
b

t
e
r
j
a
d
i
n
y
a



b
e
n
c
a
n
a

t
s
u
n
a
m
i
,

d
a
n



d
a
m
p
a
k

y
a
n
g

d
i
t
i
m
b
u
l
k
a
n
-


n
y
a


s
e
r
t
a

p
e
n
c
e
g
a
h
a
n
n
y
a




M
E
T
O
D
O
L
O
G
I
t

$
F
S
B
N
B
I
t

5
B
O
Z
B

K
B
X
B
C
t

%
J
T
L
V
T
J
t

4
J
N
V
M
B
T
J
t

$
F
S
B
N
B
I
t

5
B
O
Z
B

K
B
X
B
C
t

%
J
T
L
V
T
J
t

4
J
N
V
M
B
T
J
t

$
F
S
B
N
B
I
t

5
B
O
Z
B

K
B
X
B
C
t

%
J
T
L
V
T
J
t

4
J
N
V
M
B
T
J

A
L
O
K
A
S
I

W
A
K
T
U
2

x

4
5

2

x

4
5

2

x

4
5












M
E
D
I
A
t

F
l
i
p
c
h
a
r
t
t

4
Q
J
E
P
M
t

"
M
B
U

Q
F
S
B
H
B
t

F
l
i
p
c
h
a
r
t
t

4
Q
J
E
P
M
t

"
M
B
U

Q
F
S
B
H
B
t

F
l
i
p
c
h
a
r
t
t

4
Q
J
E
P
M
t

"
M
B
U

Q
F
S
B
H
B
#
V
L
V

i
"
Z
P

4
J
B
H
B

#
F
O
D
B
O
B
w

d
a
n

b
u
k
u
-
b
u
k
u

l
a
i
n

y
a
n
g

r
e
l
e
v
a
n
#
V
L
V

i
"
Z
P

4
J
B
H
B

#
F
O
D
B
O
B
w

d
a
n

b
u
k
u
-
b
u
k
u

l
a
i
n

y
a
n
g

r
e
l
e
v
a
n
#
V
L
V

i
"
Z
P

4
J
B
H
B

#
F
O
D
B
O
B
w

d
a
n

b
u
k
u
-
b
u
k
u

l
a
i
n

y
a
n
g

r
e
l
e
v
a
n
S
U
M
B
E
R

B
E
L
A
J
A
R

/

R
E
F
E
R
E
N
S
I
C
.

P
e
n
g
i
n
t
e
g
r
a
s
i
a
n

P
a
d
a

K
e
g
i
a
t
a
n

E
k
s
t
r
a
k
u
r
i
k
u
l
e
r
P
r
o
g
r
a
m

K
e
g
i
a
t
a
n

E
k
s
k
u
l

(
P
r
a
m
u
k
a
)

y
a
n
g

m
e
n
g
i
n
t
e
g
r
a
s
i
k
a
n

P
R
B

T
s
u
n
a
m
i
C
o
n
t
o
h

P
e
n
y
u
s
u
n
a
n

S
i
l
a
b
u
s

I
n
t
e
g
r
a
s
i

P
R
B


T
s
u
n
a
m
i

d
a
l
a
m

K
e
g
i
a
t
a
n

E
k
s
t
r
a
k
u
r
i
k
u
l
e
r

(
P
r
a
m
u
k
a
)

B
u
k
u

A
y
o

S
i
a
g
a

B
e
n
c
a
n
a


d
a
n

b
u
k
u
-
b
u
k
u

l
a
i
n

y
a
n
g

r
e
l
e
v
a
n
B
u
k
u

A
y
o

S
i
a
g
a

B
e
n
c
a
n
a


d
a
n

b
u
k
u
-
b
u
k
u

l
a
i
n

y
a
n
g

r
e
l
e
v
a
n
M
A
T
E
R
I

K
E
G
I
A
T
A
N
4
.

M
e
n
u
n
j
u
k
k
a
n





P
e
r
i
l
a
k
u





k
e
s
i
a
p
s
i
a
g
a
a
n





b
e
n
c
a
n
a

t
s
u
n
a
m
i
5
.

B
e
r
p
e
r
a
n

a
k
t
i
f





s
e
b
a
g
a
i

p
r
a
m
u
k
a






d
a
l
a
m

p
r
o
g
r
a
m





K
e
s
i
a
p
s
i
a
g
a
a
n





B
e
n
c
a
n
a

t
s
u
n
a
m
i




T
U
J
U
A
N

P
E
M
B
E
L
A
J
A
R
A
N
t

%
B
Q
B
U

N
F
M
B
L
V
L
B
O

L
F
H
J
B
U
B
O



k
e
s
i
a
p
s
i
a
g
a
a
n

b
e
n
c
a
n
a



s
e
c
a
r
a

s
e
d
e
r
h
a
n
a

d
a
n



p
r
a
k
t
i
s
,

y
a
n
g

m
u
n
g
k
i
n

d
a
p
a
t



d
i
l
a
k
u
k
a
n

d
i
r
i

s
e
n
d
i
r
i
,



k
e
l
u
a
r
g
a
,

s
e
k
o
l
a
h
,



d
a
n

m
a
s
y
a
r
a
k
a
t
t

#
F
S
Q
B
S
U
J
T
J
Q
B
T
J

B
L
U
J
G

E
B
M
B
N



u
p
a
y
a

k
e
s
i
a
p
s
i
a
g
a
a
n



b
e
n
c
a
n
a

d
i

l
i
n
g
k
u
n
g
a
n



s
e
k
o
l
a
h

d
a
n

m
a
s
y
a
r
a
k
a
t
t

.
B
N
Q
V

N
F
O
K
B
E
J

i
M
F
B
E
F
S
w



d
a
l
a
m

h
a
l

k
e
s
i
a
p
s
i
a
g
a
a
n



b
e
n
c
a
n
a
t

#
F
S
Q
B
S
U
J
T
J
Q
B
T
J

B
L
U
J
G

E
B
M
B
N



k
e
g
i
a
t
a
n

k
e
s
i
a
p
s
i
a
g
a
a
n



b
e
n
c
a
n
a

t
s
u
n
a
m
i



d
i
w
i
l
a
y
a
h
n
y
a




M
E
T
O
D
O
L
O
G
I
t

$
F
S
B
N
B
I
t

5
B
O
Z
B

K
B
X
B
C
t

%
J
T
L
V
T
J
t

4
J
N
V
M
B
T
J
t

$
F
S
B
N
B
I
t

5
B
O
Z
B

K
B
X
B
C
t

%
J
T
L
V
T
J
t

#
F
S
N
B
J
O


p
e
r
a
n
t

1
F
O
V
H
B
T
B
O
t

$
V
S
B
I


p
e
n
d
a
p
a
t
t

,
V
O
K
V
O
H
B
O


l
a
p
a
n
g
a
n

A
L
O
K
A
S
I

W
A
K
T
U
4

x

4
5

6

x

4
5












M
E
D
I
A
t

F
l
i
p
c
h
a
r
t
t

4
Q
J
E
P
M
t

"
M
B
U

Q
F
S
B
H
B
t

F
l
i
p
c
h
a
r
t
t

4
Q
J
E
P
M
t

"
M
B
U

Q
F
S
B
H
B
S
U
M
B
E
R

B
E
L
A
J
A
R

/

R
E
F
E
R
E
N
S
I
Daftar Istilah
84
DAFTAR ISTILAH
Pengurangan Risiko Bencana
Pengurangan risiko bencana adalah konsep dan praktik mengurangi risiko bencana
melalui upaya sistematis untuk menganalisa dan mengelola faktor-faktor penyebab
dari bencana termasuk dengan dikuranginya paparan terhadap ancaman,
penurunan kerentanan manusia dan properti, pengelolaan lahan dan lingkungan
yang bijaksana, serta meningkatkan kesiapsiagaanan terhadap kejadian yang
merugikan.
Pendidikan
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana
belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan
potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat dan Negara
Pengarusutamaan PRB
Proses dimana pertimbangan-pertimbangan pengurangan risiko bencana
dikedepankan oleh organisasi/individu yang terlibat di dalam pengambilan
keputusan dalam pembangunan ekonomi, fsik, politik, sosial-budaya suatu negara
pada level nasional, wilayah daerah dan/atau lokal; serta proses-proses dimana
pengurangan risiko bencana dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan
tersebut
Pendidikan Siaga Bencana
Usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk
memiliki kecakapan hidup dalam mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian
dan langkah-langkah yang tepat guna dan berdaya guna.
Komite Sekolah
Organisasi mandiri yang dibentuk dalam rangka meningkatkan mutu, pemerataan,
dan efsiensi pengelolaan pendidikan di satuan pendidikan. Ia menjadi ruang bagi
orangtua, masyarakat, dan pihak sekolah menyampaikan aspirasi dan merumuskan
kebijakan bagi peningkatan pendidikan di sekolah. Ia merupakan badan independen
yang tidak memiliki hubungan hirarkis dengan Kepala Sekolah. Ia menjadi mitra
kepala sekolah dalam menjalankan peran dan fungsinya dalam memajukan
sekolah.
KTSP
Kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan
pendidikan. Sekolah dan kepala sekolah mengembangkan KTSP dan silabus
berdasarkan a). Kerangka dasar kurikulum, b). Standar kompetensi, dibawah
supervisi Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota atau Provinsi.
Kurikulum
Seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahanpelajaran serta
cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran
untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Bencana Tsunami Untuk SD/MI
85
Ekstrakurikuler
adalah kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran dan pelayanan konseling untuk
membantu pengembangan peserta didik sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat
dan minat mereka melalui kegiatan yang secara khusus diselenggarakan oleh
pendidik dan atau tenaga kependidikan yang berkemampuan dan berkewenangan
di sekolah/madrasah.
Standar Kompetensi
ukuran kompetensi minimal yang harus dicapai peserta didik setelah mengikuti
suatuproses pembelajaran pada satuan pendidikan tertentu.
Kompetensi
kemampuan bersikap, berpikir, dan bertindak secara konsisten sebagai
perwujudan dari pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang dimiliki peserta didik.
Standar Nasional Pendidikan
Standar Nasional Pendidikan adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan
di seluruh wilayah hukum NKRI. Lingkup standar nasional pendidikan meliputi: a.
standar isi, b. standar proses, c. standar kompetensi lulusan, d. standar pendidik
dan tenaga kependidikan, e. standar sarana dan prasarana, f. standar pengelolaan,
g. standar pembiayaan, h. standar penilaian pendidikan.
Sumber/bahan belajar
adalah rujukan, obyek dan/atau bahan yang digunakan untuk kegiatan
pembelajaran. Sumber belajar dapat berupa media cetak dan elektronik, nara
sumber, serta lingkungan fsik, alam, sosial, dan budaya.
Standar isi
adalah ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam
kriteria tentang kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian, kompetensi mata
pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi oleh peserta didik pada
jenjang dan jenis pendidikan tertentu.
Standar proses
adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan pelaksanaan
pembelajaran pada satu satuan pendidikan untuk mencapai standar kompetensi
lulusan.
Standar kompetensi lulusan
adalah kualifkasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan
keterampilan.
Standar pendidik dan tenaga kependidikan
adalah kriteria pendidikan prajabatan dan kelayakan fsik maupun mental, serta
pendidikan dalam jabatan.
Standar sarana dan prasarana
adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan kriteria minimal
tentang ruang belajar, tempat berolahraga, tempat beribadah, perpustakaan,
laboratorium, bengkel kerja, tempat bermain, tempat berkreasi dan berekreasi,
Daftar Istilah
86
serta sumber belajar lain, yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran,
termasuk penggunaan teknologi informasi dan komunikasi.
Standar pengelolaan
adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan perencanaan,
pelaksanaan, dan pengawasan kegiatan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan,
kabupaten/kota, provinsi, atau nasional agar tercapai efsiensi dan efektivitas
penyelenggaraan pendidikan.
Standar pembiayaan
adalah standar yang mengatur komponen dan besarnya biaya operasi satuan
pendidikan yang berlaku selama satu tahun; dan
Standar penilaian pendidikan
adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan mekanisme, prosedur,
dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik.
Bencana
adalah suatu peristiwa yang disebabkan oleh alam atau ulah manusia, yang
dapat terjadi secara tibatiba atau perlahan-lahan, yang menyebabkan hilangnya
jiwa manusia, kerusakan harta benda dan lingkungan, di mana masyarakat
setempat dengan segala kemampuan dan sumberdayanya tidak mampu untuk
menanggulanginya.
Bahaya
adalah situasi, kondisi, atau karakteristik biologis, geografs, sosial, ekonomi, politik,
budaya dan teknologi suatu masyarakat di suatu wilayah untuk jangka waktu
tertentu yang berpotensi menimbulkan korban dan kerusakan.
Kerentanan
adalah tingkat kekurangan kemampuan suatu masyarakat untuk mencegah,
menjinakkan, mencapai kesiapan, dan menanggapi dampak bahaya tertentu.
Kerentanan dapat berupa kerentanan fsik, ekonomi, sosial dan tabiat, yang dapat
ditimbulkan oleh beragam penyebab.
Kemampuan
adalah penguasaan sumberdaya, cara, dan kekuatan yang dimiliki masyarakat,
yang memungkinkan mereka untuk, mempersiapkan diri, mencegah, menjinakkan,
menanggulangi, mempertahankan diri serta dengan cepat memulihkan diri dari
akibat bencana
Risiko
adalah kemungkinan timbulnya kerugian pada suatu wilayah dan kurun waktu
tertentu yang timbul karena suatu bahaya menjadi bencana. Risiko dapat berupa
kematian, luka, sakit, hilang, jiwa terancam, hilangnya rasa aman, mengungsi,
kerusakan atau kehilangan harta dan gangguan kegiatan masyarakat.
Pencegahan
adalah upaya yang dilakukan untuk mencegah terjadinya bencana dan jika mungkin
dengan meniadakan bahaya.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Bencana Tsunami Untuk SD/MI
87
Mitigasi
adalah upaya yang dilakukan untuk mengurangi dampak bencana, baik secara
fsik struktural melalui pembuatan bangunan-bangunan fsik, maupun non fsik-
struktural melalui perundang-undangan dan pelatihan.
Kesiapsiagaan
adalah upaya yang dilakukan untuk mengantisipasi bencana, melalui
pengorganisasian langkah-langkah yang tepat guna dan berdaya guna.
Peringatan Dini
adalah upaya untuk memberikan tanda peringatan bahwa bencana kemungkinan
akan segera terjadi, yang menjangkau masyarakat, segera, tegas tidak
membingungkan, resmi
Tanggap Darurat
adalah upaya yang dilakukan segera pada saat kejadian bencana, untuk
menanggulangi dampak yang ditimbulkan, terutama berupa penyelamatan korban
dan harta benda, evakuasi dan pengungsian.
Bantuan Darurat
merupakan upaya untuk memberikan bantuan berkaitan dengan pemenuhan
kebutuhan dasar berupa pangan, sandang, tempat tinggal sementara, perlindungan,
kesehatan, sanitasi dan air bersih
Pemulihan
adalah proses pengembalian kondisi masyarakat yang terkena bencana, dengan
memfungsikan kembali sarana dan prasarana pada keadaan semula dengan
melakukan upaya memperbaiki prasarana dan pelayanan dasar (jalan, listrik, air
bersih, pasar, puskesmas, dll).
Rehabilitasi
adalah upaya langkah yang dilakukan setelah kejadian bencana untuk membantu
masyarakat memperbaiki rumahnya, fasilitas umum dan fasilitas sosial penting, dan
menghidupkan kembali roda perekonomian.
Rekonstruksi
adalah program jangka menengah dan jangka panjang guna perbaikan fsik, sosial
dan ekonomi untuk mengembalikan kehidupan masyarakat pada kondisi yang
sama atau lebih baik dari sebelumnya.
Penanggulangan Bencana
adalah seluruh kegiatan yang meliputi aspek perencanaan dan penanggulangan
bencana, pada sebelum, saat dan sesudah terjadi bencana, mencakup tanggap
darurat, pemulihan, pencegahan, mitigasi dan kesiapsiagaan
Daftar Pustaka
88
DAFTAR PUSTAKA
Badan Nasional Penanggulangan Bencana. 2008. Jakarta: Implementasi Pengurangan
Risiko Bencana di Indonesia 2007-2008
SC-DRR/UNDP.2008. Jakarta: Draft Nol Strategi Nasional Pengarusutamaan
Pengurangan Risiko Bencana di Dalasm Sistem Pendidikan
Konsorsium Pendidikan Bencana.2008. Jakarta. Draft Kerangka Kerja Pengurangan
Risiko Bencana Berbasis Sekolah
UN/ISDR. 2007. Perkataan Menjadi Tindakan: Panduan Untuk Mengimplementasikan
Kerangka Kerja Hyogo.
UN/ISDR. 2009. Terminology on Disaster Risk Reducation
ERA/UNDP. 2008. Yogyakarta. Draft Panduan Desa Tangguh. Tidak dipublikasikan.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana. 2008. Jakarta: Pedoman Penyusunan
Rencana Penanggulangan Bencana
Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesi. 2005. Jakarta. Naskah Akademis
Undang-Undang Penanggulangan Bencana
INEE/UNESCO. 2004. Paris. Minimum Standards for Education in Emergencies, Chronic
Crises and Early Reconstruction.
Tsunami Evaluation Coalition (TEC). SIDA. 2008. Laporan Ringkas: Sebuah Riak Dalam
Pembangunan? Perspektif Jangka Panjang Tanggap Bencana Tsunami Samudera
Hindia, 2004
RiskRED. 2008. Concept Note: Formal and Informal Education for Disaster Risk Reduction
A contribution from Risk RED for the International Conference on School Safety,
Islamabad, May 2008
UNSECO. 2007. Bangkok. Natural Disaster Preparedness and Education for Sustainable
Development
The German Committee for Disaster Reduction (DKKV) & the UN ISDR Thematic
Platform on Knowledge and Education (TPK&E). Bonn. 2009. Concept Note Learning
to Live with Risk - Disaster Risk Reduction to encourage Education for Sustainable
Development. World Conference on Education for Sustainable Development
(WCESD) 31 March 2 April 2009, Bonn
Lassa, Jonatan. 2008. Pengurangan Risiko Bencana Berbasis Komunitas. Presentasi
dalam Lokakarya Pembelajaran Pengembangan Model Desa Tangguh, ERA/UNDP,
Yogyakarta, Desember 2008
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Bencana Tsunami Untuk SD/MI
89
Diposaptono, Subandono, Budiman. Hidup akrab dengan Gempa dan Tsunami.
Buku ilmiah populer. Bogor. Januari 2008.
Jannah, Ninil RM. 2008. Pengintegrasian Materi Tentang Bencana Kedalam
Pendidikan Nasional, Memadukan Pendekatan Praktis dan Teoritis. Makalah
presentasi dalam Lokakarya Pengintegrasian Materi Pendidikan Bencana Dalam
Kurikulum Sekolah, diselenggarakan MPBI di Yogyakarta 25 September 2008.
PLAN Internasional Indonesia. 2009. Jakarta. Konsep Keselamatan Sekolah dan
Sekolah Ramah Anak. Tidak dipublikasikan, ditulis untuk Konsorsium Pendidikan
Bencana
H, Anastasia Rima. 2009. Jakarta. Sistem Pendidikan Nasional. Tidak dipublikasikan,
ditulis untuk Konsorsium Pendidikan Bencana
Konsorsium Pendidikan Bencana. 2009. Jakarta. Laporan Lokakarya di 4 Wilayah
dalam Review Draft Nol Strategi Nasional Pengurangan Risiko Bencana di Dalam
Sistem Pendidikan. Tidak dipublikasikan.