Anda di halaman 1dari 62

Bab1 KONSEP DASAR KETUNALARASAN

1. Pengertian Istilah Tuna Laras berasal dari kata tuna dan laras. Tuna berarti kurang, laras berarti sesuai. Jadi anak tunalaras anak yang bertingkah laku kurang sesuai dengan linkungan. Anak tuna laras tidak sama dengan anak yang mengalami kerusakan pendengaran atau penglihatan. Mereka ini menyadari apa yang terjadi pada dirinya yaitu kehilangan pendengaran atau penglihatan. Berbeda halnya dengan anak tunalaras, yang mengalami gangguan bukan pada fisiknya melainkan pada prilaku yang wujudnya tidak diharapkan oleh lingkungannya. Perilakunya sering bertentangan dengan norma-norma yang terdapat didalam masyarakat tempat ia berada. Tingkah lakunya sering membuat orang menjadi marah, karena merasa terganggu atau dirugikan, sehingga tidak jarang mereka terpaksa berhubungan dengan polisi, kepala sekolah bahkan dengan pengadilan. Umumnya anak tunalaras tidak bahagia dengan dirinya dan tidak popular dilingkungan teman-temannya serta tidak berhasil disekolah. Sering mereka berselisih dengan lingkungan karena tingkah laku yang tidak terkendali dan sangat mengganggu seperti tingkah laku yang agresif, hiperaktif, menutup diri dan tidak peduli dengan lingkungannya, serta sering melakukan hal-hal yang melanggar normanorma yang ada dimasyarakat. Penggunaan istilah yang berbeda-beda itu didasarkan pada sudut pandangan tiap-tiap ahli yang menangani masalah tersebut, seperti halnya pekerja sosial menggunakan istilah social maladjustment terhadap anak yang melakukan

penyimpangan tingkah laku; psychiater atau psycholog menggunakan istilah emotional disturbance, sedang para ahli hukum menyebutnya dengan juvenile delinquency.walaupun istilah tentang penyimpangan tingkah laku itu bermacammacam, namun kami tetap menggunakan istilah tunalaras sesuai dengan tercantum dalam UU-RI No.2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional junto PPNo.72 No.72 1991 tentang Pendidikan Luar Biasa, yang berbunyi : Tunalaras adalah gangguan atau hambatan atau kelainan tingkah laku sehingga kurang dapat menyesuaikann diri dengan baik terhadap lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat (UU-RI No.2 tahun 1989). UU-AS PL. 94-142 tentang Pendidikan Luar Biasa, mengemukakan tunalaras dengan istilah gannguan emosi sebagai berikut : gangguan emosi adalah suatu kondisi yang menunjukkan salah-satu atau lebih gejala-gejala berikut dalam satu kurun waktu dengan tingkat yang tinggi yang mempengaruhi prestasi belajar :

a. Ketidakmampuan belajar yang tidak dapat dikaitkan dengan factor-faktor mental b. Ketidakmampuan menjalin hubungan yang menyenangkan dengan teman dan guru c. Bertingkah laku yang tidak pantas pada keadaan normal d. Perasaan tertekan atau tidak bahagia terus menerus e. Cenderung menunjukkan gejala-gejala fisik seperti takut pada masalah-masalah sekolah. Gangguan emosi termasuk penderita schizophrenia atau autistic. Tidak termasuk mereka yang socially maladjusted, kecuali mengalami gangguan emosi yang emosi yang berat (Rosemberg, et al., 1992).

1. Klasifikasi dan Karakteristik

Klasifikasi dan karakteristik yang dimaksud disini ialah penggolongan anak tuna laras atas jenis penyimpangan perilakunya, sifat-sifat khas dari setiap golongan, dan taraf berat ringannya ketunalarasan seorang anak. Setiap orang dapat menyatakan seorang anak menyimpang tingkah lakunya dari anak yang normal, tetapi tidak banyak yang mengetahui, berapa macam jenis ketunalarasan itu, apa ciri-cirinya, dan seberapa berat ketunalarasan yang dialami seseorang. Bila diperhatikan dengan cermat tingkah laku anak-anak, baik dirumah, disekolah ataupun dimasyarakat luas, dapat beraneka ragam tingkah laku yang mereka tunjukkan. Ada anak yang diam dan malu, tak suka bergaul dengan teman

sebayanya, ada pula yang ribut suaranya, seolah-olah minta diperhatikan terus, dan ada pula yang sibuk mengganggu temannya, dan tak pernah duduk diam di tempatnya dan sebagainya. Tujuan dan rincian klasifikasi dan karakteristik anak tunalaras ialah untuk memudahkan mengenalinya, dapt mengupayakan terapi yang tepat, dan

mengadakan itervensi yung optimal. Menurut Hallahan dan Kauffman (1986), kenyataannya banyak sekali hal-hal dapat menyebabkan anak terjadi tunalaras, karena itu anak tunalaras dapat diklasifikan sesuai dengan masalah yang dialaminya. Tetapi belum ada kesepakatan mengenai system untuk menetapkan pengklasifikasian tersebut disebabkan beberapa masalah, anatara lain : a. Kurangnya realibitas dan validitas system klasifikasi. Klasifikasi

ketunalarasan itu sering berubah-ubah sesuai dengan siapa orng yang membuat klasifikasi tersebut. b. Kebanyakan orang tua menduga-duga saja mengapa anak menjadi anak yang tunalaras. c. Pertimbangan yang berdasarkan Undang-undang.

Selanjutnya dua cara yang dipakai untuk menetapkan klasifikasi dan karakteristik anak tunalaras : a. Klasifikasi Psikiatrik (klinis), yang terbagi dua : 1. Sistim klasifikasi kelainan secara psikopatologi The klasification System Of Psycopatological Disorders in Children from Group for Advancement of Psychiatry), disingkat menjadi GAP. 2. Siatem klasifikasi klinis yang baru (diagnostic and statistical manual of mental deficiency edisi III) disingkat DSM III membagi kelainan prilaku menjadi lima kelompok, yaitu : Kelainan intelektual, keterbelakangan mental, yang m,enggunakan istilah ringan (mild), sedang (moderale), berat(servere) dan parah (profound). Kelainan tingkah laku Gangguan emosi Gangguan fisik, yang terdiri dari : Orang yang makannya terlalu banyak, sehingga m,engganggu pencernaannya. Gangguan gerakan atau Tik, ialah gerakan kelompok otot yang berulang-ulang, cepat, tidak disengaja, dan tidak bertujuan (maramis, 1992) Gangguan lain, seperti gangguan tidur.

Gangguan perkembangan, termasuk autisme, yaitu anak yang mengalami gangguan intelek, bahasa, dan tingkah laku.

b. Klasifikasi berdasarkan tingkah laku (Behavioral Classification) Menurut Quay dan sejawatnya (Hallahan dan Kauffman, 1986) definisi klsifikasi ini bersifat operasional, sistemnya reliable, valid, dan mencakup semua jenis kelainan tingkah laku. Menggunakan ukuran tingkah laku yang

dipakai oleh guru-guru, orangtua, terhadap ciri-ciri sejarah kehidupan anak, dan jawaban anak pada kuesioner yang diberikan kepada mereka.

Kesemuanya adalah untuk mendapatkan empat dimensi atau sifat-sifat yang berhubungan, yaitu kekacauan tingkah laku, kecemasan dan menarik diri, kurang dewasa dan agresif bersosialisasi. Pada klasifikasi empat dimensi tersebut telah ditemukan sifat-sifat yang konsisten dari tingkah laku anak tunalaras, sebagai dasar bagi klasifikasi dan karakteristik untuk mengenal tingkah laku dari berbagai jenis ketunalarasan. 3. Prevalensi Yang dimaksud prevalensi ialah suatu perkiraan atau ramalan mengenai meratanya jumlah anak tunalaras berdasarkan penelitian para ahli tingkah laku di suatu tempat, pada suatu waktu tertentu . Prevalensi itu tidak sama terutama disebabkan karena definisi tingkah laku yang bermasalah masih belum ada yang baku. Sebagai contoh anak prevalensi anak tunalaras dari beberapa penelitian di Amerika Serikat. Schults et al, Mackie melaporkan hasil survey pengawas dan kepala Sekolah Luar Biasa (SLB), terhadap sekolah Umum dan Lembaga, bahwa 2% dari populasi usia sekolah adalah tunalaras. Kemudian laporan dari Negaranegara bagian dan Kolumbia menyebutkan behwa dugaan prevalensi terendah 0,50% dan tertinggi 15% adalah ana tunalaras. Jumlah sekolah luar biasa bagi anak tunalaras (SLB-E) di Indonesia tahun 1993 atau 1994 ada 13 buah, termasuk sekolah swasta, dengan jumlah siswa 508 orang. Ini berarti baru 508 orang anak tunalaras, yang tertampung di dalam pendidikan secara formal (Depdikbud, 1993). Sedangkan menurut hasil penelitian yang dilakukan terhadap 3215 murid kelas I-VI sekolah dasar di Jakarta ternyata 24.6% adalah tunalaras (Nafsiah dan Mulyono, 1992).

Dari Polda Metro jaya melaporkan bahwa tahun 1993 telah terjadi kenakalan remaja, antara lain dengan merusak 390 buah bus kota, sebagai akibat perkelahian, dan lain-lain. Berdasarkan ilustrasi diatas ternyata di Indonesia juga belum ada rentangan prevalensi yang jelas.

BAB II PERSPEKTIF TEORITIK SEBAB-SEBAB TERJADINYA TUNALARAS

Perspektif Teoritik Seperti dijelaskan sebelumnya pengkajian tentang anak tunalaras atau anak yang mengalami gangguan tingkah laku (behavioral disorders) mencakup populasi yang berbeda-beda sehingga sulit untuk dibuat suatu defenisi atau pengertian kelainan tingkah laku yang dapat mencakup semua jenis populasi. Setiap defenisi juga menggunakan pendekatan yang berbeda-beda dalam mencari sebab-sebab terjadinya gangguan tingkah laku. Rosenberg etal (1992), menggunakan enam macam pendekatan teoritik yang berbeda-beda tetapi mempunyai tujuan yang sama yaitu ingin mengetahui mengapa kelainan tingkah laku itu terjadi dan apa yang menyebabkannya.

1. Teori Biofisika Teori ini tmbul berdasarkan asumsi bahwa gangguan emosi disebabkan oleh faktor-faktor biofisik atau kelainan kimia tubuh. Faktor ini dapat terjadi sebelum anak lahir., saat kelahiran dan setelah kelahiran. Teori biofisika tidak dikonsepkan sebagai teori tunggal tntang gangguan tingkah laku manusia, tetapi terdiri dari teori-teori yang sangat luas pada sejumlah dimensi. Sejumlah teori-teori biofisika yang akan digunakan untuk menjelaskan gangguan tingkah laku pada anak remaja adalah transmisi genetic, kerusakan otak atau tidak berfungsinya syaraf, kelainan biokimia, dan temperamen (Rosenberg et al, 1992).

a. Transmisi Genetik (genetic transmission) Menurut teori ini, gangguan tingkah laku terjadi melalui proses transmisi genetic, yaitu melalui gen atau plasma pembawa sifat dalam keturunan atau melalui kombinasi gen. dapat juga disebabkan oleh tidak adanya gen tertentu, sehingga memunculkan gangguan tingkah laku secara potensial, yang terjadi melalui pewarisan. Melalui pewarisan kelemahan konstitusional jasmaniah tertentu juga dapat menimbulkan kelainan tingkah laku. Teori tranmisi genetic muncul pertama kali untuk mmenjelaskan tingkah laku pola 1 tingkah laku untuk menjelaskan pola

psychotic dari autisme dan schizophrenia dengan gejala hiperaktif, agresif, dan pembangkang (rule breaking).

b. Kerusakan Otak atau tidak berfungsinya syaraf (brain injury and neurological dysfunction). Kerusakan otak dan tidak berfungsinya syaraf menyebabkan kelainan tingkah laku. Disfungsi minimal otak adalah istilah yang ditinjau terutama dari aspek medis. Ada suatu kelainan, atau hambatan perkembangan yang terjadi dibagian atau di pusat otak tertentu yang menimbulkan gangguan ringan (disfungsi minimal). Meskipun kelainan di otak ini tidak selalu, bahkan jarang dapat dibuktikan secara struktural, tetapi disfungsi yang minimal itu dapat dijelaskan bahwa ada suatu gangguan otak yang fungsional.

c. Kelainan biokimia Gangguan tingkah laku ada hubungannya dengan kimia tubuh. Hal ini dapat diakui karena kimia mempunyai efek terhadap tingkah laku seperti halnya apa yang terjadi

pada anak hiperaktif; jika memakan makanan yang merangsang tingkah lakunya akan lebih aktif. Begitu juga sebaliknya dengan memberikan obat-obatan tertentu dapat mengontrol tingkah laku dan mengurangi aktifitas seperti pada anak agresif dan sebaliknya pada anak autisme. d. Temperamen Temperamen adalah sifat-sifat dasar tertentu dari kelakuan, prinsipprinsip elementer yang dapat ditemui kembali dalam semua perbuatan kita dan menjadi tipe kelangsungan jalannya kelakuan kita.

Temperamen seseorang dapat dilihat dari sejumlah tingkah laku dalam

kehidupannya seperti tingkat keaktifannya, kebiasaan makan dan tidur, penyesuaian pada stimulus baru, kwalitas perasaan dan perhatiannya.

2. Teori Psikodinamika Teori psikodinamika tentang gangguan tingkah laku merupakan system psikoterapi yang disusun berdasarkan aliran Freudian dan neo Freudian dengan psikoanalisanya. Teori psikologo freud didasakan atas keyakinan bahwa dalam diri manusia terdapat dorongan yang kuat yang

mempengaruhi tingkah laku manusia dan energi psikis yang sangat dinamik. Energy psikis inilah yang mendorong individu bertingkah laku. Yang menjadi pokok dalam teori psikodinamika bahwa tingkah laku itu merupakan fungsi internal (intrapsychic) yang terjadi dan hanya dapat dimengerti pada perkembangan dini. Teori psikodinamika freud merupakan pendekatan psikodinamika yang sangat terkenal , yang menggambarkan struktur kepribadian manusia atas tiga kekuatan yang selalu berinteraksi, yaitu id, ego dan superego. Ketiga kekuatan ini masing-masing mempunyai fungsi, sifat, prinsip kerja dan dinamika sendiri-sendiri. Tetapi ketiganya berhubungan erat sehingga sulit untuk dipisahkan satu sama lain. Jika ketiga komponen itu berjalan tidak seimbang, maka akan terjadi hambatan atau gangguan pada tingkah laku. Adapun fungsi dan prinsip kerja dari ketiga kekuatan itu adalah :

a. Id, merupakan kekuatan biologis dan system orisinil di dalam kepribadian. Dari kekuatan inilah kedua aspek lainnya tumbuh dan berkembang. Freud menyebutnya dengan realitas psikis yang

sesungguhnya dan bersifat subjektif. Id berisikan hal-hal yang dibawa sejak lahir tanpa unsur-unsur biologis termasuk insting. slalu mengejar kepuasan naluri adalah perwklan jiwa id didominasi bnatang id fungsix kpuasan b. Ego, merupakan kekuatan kedua dari kehidupan jiwa yang bertugas sebagai pengatur dan sebagai aspek psikologis dari kepribadian. Ego timbul karena kebutuhan organisme untuk berhubungan dengan dunia luar / prinsip realitas. Ego berfungsi logis/ rasional untuk melihat kenyataan dalam usahanya memenuhi pemuasan dorongan ID secara realitas untuk meredukksi ketegangan yang timbul dalam organisme. Ego dapat pula dipandang sebagai aspek eksekutif dari kepribadian, mengontrol jalan-jalan kebutuhan serta caraobjek-objek yang dapat 3 yang ditempuh, memilih kebutuhancara memenuhinya dan memilih Didalam

memenuhi

kebutuhan.

menjalankan fungsinya sering ego harus mempersatukan pertentanganpertentangan antara id dan super ego dan dunia luar. Peran utama ego adalah menjadi perantara antara kebutuhan-kebutuhan instinktif dengan keadaan lingkungan untuk kepentingan organism dan akhirnya ego menjamin kesatuan kepribadian. ego memenuhi kpuasan id egois brlebihan

c. Superego, adalah kekuatan ketiga yang merupakan aspek sosiologis dari kepribadian. Pembentukan superego melalui jalan internalisasi, artinya pendidikan orang tua, masyarakat atau guru disekolah berupa perintah atau larangan diolah sedemikian rupa, sehingga menghasilkan nilai-nilai moral yang memberikan batasan mana yang baik dan mana yang buruk, sehingga nilai-nilai yang ada pada superego mewakili nilai-nilai moral. Oleh Karen itu superego menentukan apakah sesuatu itu benar atau salah, pantas atau tidak, susila atau tidak, sehingga individu dapat bertindak sesuai moral yang ada dalam masyarakat super ego prinsip krjax nilai

3. Teori Behavioral Tokoh behaviorisme yang mempelajari tentang tingkah laku percaya bahwa tinggkah laku manusia baik dalam keadaan normal maupun menyimpang dapat dipelajari dan dimodifikasi dan penyimpangan terjadi Karena hasil belajar. Ada kaitan fungsional antara kejadian-kejadian dilingkungan anak dengan tinggkah laku yang ditunjukkan. Berbeda dengan teori biofisik yang menekankan pada factor-faktor dasar proses internal yang tidak tampak, tetapi teori behavioral menekankan pada faktor eksternal terhadap tingkah laku yang dapat diamati, seperti factor lingkungan yang dapat mendorong seseorang untuk bertingkah laku normal maupun menyimpang. Bootsin mengemukakan beberapa asumsi dasar tentang tingkah laku: a. Bahwa tingkah laku yang ditunjukkan dapat diobservasi. b. Bahwa tingkah laku manusia baik karena pengaruh lingkungan maupun dari pengalaman dapat diamati dan diukur intensitasnya.

c. Bahwa tingkah laku manusia seperti halnya gejala alam lainnya yang dapat diramalkan dan dapat dikontrol. d. Bahwa belajar merupakan factor utama yang mempengaruhi tingkah laku, baik tingkah laku (Rosenberg et al., 4 normal maupun yang menyimpang 1992)

4. Teori Tingkahlaku Kognitif (cognitive behavioral) Para psikologi mempergunakan istilah kognitif untuk menerangkan kegiatan mental, misalnya penggunaan bahasa, berfikir, menalarkan, memecahkan masalah, membuat konsep mempelajari materi yang rumit, dan mengingat. Sedangkan aliran behaviorisme meneliti tingkah laku yang dapat diamati dan menggunakan metode yang objektif.

5. Teori Sosiologi Setiap individu terikat dengan sistem sosial, mempunyai normanormal, peraturan-peraturan dan istiadat tertentu baik secara tertulis ataupun tidak, misalnya tidak ada peraturan atau undang-undang yang secara ekspilit ataupun implisit yang mengatur dua orang yang sedang berbicara. Dan tidak ada hukuman yang diatur oleh undang-undang bila seseorang menutup mukanya waktu berbicara dengan lawan bicara. Tetapi bila kita berbicara dengan seseorang lalu kita membuang muka kita ke atas, sambil menutup muka dengan kedua telapak tangan kita, tentu hal tersebut akan dianggap aneh atau luar biasa oleh orang lain. Lawan bicara kita pun akan tersinggung. Karena itu pandangan secara sosiologi mengemukakan 4 (empat) teori yang secara langsung berhubungan dengan

tingkah laku yang menyimpang yang telah didentiikasi oleh des Jarlis, sebagai berikut: a. Pembangkang (rule breaking ) b. Kecacatan standar moral social ( Anomie) c. Kegagalan bersosialisasi (socialization failure) d. Penglabelan (labeling theory) (Roosenberg et al., 1992)

a. Pembangkang ( rule breaking)

Beberapa peraturan adalah eksplesit, seperti undang-undang secara formal, serta hukum-hukum dan peraturan-peraturan, dimana anggota suatu masyarakat setuju untuk memakainya. 5 Peraturan-peraturan berkenaan dengan lain yang

secara implisit, dan yang

aturan-aturan

yang tidak tertulis, dibawa kedalam interaksi sosial.

b. Kecacatan Standar Moral

Hal ini terjadi bila suatu sistem dalam masyarakat tidak dapat menampung dan mengadaptasi norma-norma yang kerap kali berubah-ubah. Meningkatnya tingkah laku yang menyimpang erat kaitannya dengan hal

tersebut diatas, dan kreasi yang tidak pasti karena harapan yang normatif terganggu dalam suatu sistem social (Rosenberg et al., 1992)

c. Kegagalan bersosialisasi (socialization failure)

Apter dan conoley, menyebutkan bahwa hidup bermasyarakat adalah proses dimana anak-anak belajar mengikuti peraturan-peraturan

masyarakat dan nilai-nilai yang berlaku (Rosenberg et al., 1992 ). Hidup bermasyarakat adalah suatu proses secara kritis yang menjamin

kelangsungan dan kesinambungan cara-cara hidup yang telah dipilih. Beberapa factor penyebab kegagalan hidup bermasyarakat. Pertama, kekurangan secara biofisik, mengakibatkan anak tak dapat menguasai keterampilan dan menghambat kelancaran dari beberapa keterampilan social. Kedua, karena pengajaran dan model orang tua yang tidak memadai kurangnya tanggung jawab. Ketiga, anak bingung karena tidak ada kosistensi dari pemuka masyarakat terhadap norma-norma sosial.

d. Penglabelan \ Memberikan label pada peserta didik dengan pola yang berbeda-berbeda pada tingkah laku social dan akademik adalah biasa dilakukan oleh para pendidik anak luar biasa. Para pendidik anak luar biasa menyadari bahwa seseorang anak dianggap menyimpang tidaklah semata-mata karena mereka merusak peraturan social atau

karena melakukan kejahatan tertentu ditempat-tempat khusus, atau di sekolah luar biasa.

6. Teori Ekologi

Teori ini memfokuskan pada interaksi antara individu-individu dan lingkungannya. Kosekwensinya, tingkah laku yang tergganggu, menurut pandangan ekologi tak dapat secara sempit didefenisikan atau ditinjau dari segi sebab yang tunggal. Menurrut phodes & paul, bahwa teori ekologi tentang tingkah laku yang berkelainan berfokus kepada adaptasi mutual dari individu-individu dan tata cara masyarakat (Rosenberg et al., 1992). Individu-individu diterima secara normal, jika mereka dan elemen-elemen social (masyarakat) dari ekosistem bekerja sama didalam suatu cara yang seimbang; cocok antara tingkh laku seseorang individu dengan tuntunan dari lingkungan. Menurut Apter, ada 5 asumsi sebagai dasar pandangan ekologi pada masalah tingkahlaku anak-anak, yaitu:

a. Anak-anak adalah bagian yang tak terpisahkan dari berbagai sistem sosial yang berbeda. b. Tingkah laku yang menyimpang tidak akan muncul dengan sendirinya dari anak, tetapi adalah dari suatu ketidaksesuian antara tingkah laku anak yang diharapkan.

c. Intervensi dirancang untuk membuat sistem kerja, dan dilakukan untuk kebutuhan intervensi yang akan datang. d. Perbaikan dalam setiap bagian dari suatu sistem berguna bagi seluruh sistem. e. Intervensi mesti melibatkan anak,lingkungan, sikap dan harapanharapan dari yang terlibat didalam ekosistem (Rosenberg et al., 1992). Jadi anak adalah individu yang terkait dengan sistem yang berpengaruh didalam kontek sosial Dimana anak berada, demikian pula intervensi yang akan diberikan bagi perbaikan tingkahlaku individu tersebut.

BAB III PEMBAHASAN


A. SEBELUM LAHIR ( PRENATAL ) Menurut para ahli biologi seorang anak memulai kehidupan dari sebuah sel yaitu dari saat pertemuan ovum dengan sebuah sperma. Kemudian sel tersebut berkembang dan tumbuh menjadi organ tubuh, tulang, otot, jaringan dan bagian pembuahan sampai saat bayi dilahirkan, rahim ibunya. Di dalam bahasa Inggris

bagian tubuh lainnya. Sejak terjadi lamanya 40 minggu, bayi berada dalam

periode ini disebut prenatal, yang artinya sebelum lahir. Selama 40 minggu di dalam rahim, bayi telah mengalami 3 (tiga) tahap perkembangan.

1.

Tahap pertama, sejak terjadi pembuahan sampai usia 2 minggu disebut

germinal.
2. 3. Tahap kedua, sejak usia 2 minggu hingga 8 minggu disebut embrionik. Tahap ketiga sejak usia 8 minggu sampai saat dilahirkan, disebut janin. Di dalam rahim, janin dan ibu masih bersatum, yang dihubungkan oleh plasenta dan air ketuban. Setiap gerak, nafas, emosi, makanan dan penyakit ibu langsung dirasakan sebagai rangsangan oleh janin. Janin telah mulai aktif bergerak di dalam rahim ibunya. Ia telah dapat berputar, menendang,jongkok, mengisap jari, dan sebagainya. Ia mulai merespon setiap rangsangan dan menjadi pengalaman indera baginya, sekaligus mempengaruhi pertumbuhannya dan perkembangannya. Beberapa di antara pengalaman pengalaman indera tersebut ada yang bersifat merusak jaringan otak sehingga dapat menyebabkan anak bertingkahlaku menyimpang di kemudian hari.

B.

Faktor Faktor yang

berpengaruh terhadap terjadinya tunalaras

sebelum lahir yaitu : 1. Faktor Ibu Ibu berperan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan janin yang ada dalam rahimnya. Kegiatan dan keadaan ibu sehari hari yang berpengaruh terhadap janinnya antara lain: a) Penyakit

Seorang ibu yang mengidap penyakit kronis, seperti kencing manis, TBC, penyakit kelamin, radang saluran kencing, rubella, bila hamil dapat mengakibatkan hal yang buruk pada bayinya. Infeksi yang ditimbulkan penyakit tersebut menulari janin melalui peredaran darah ibu, dan bila tidak diadakan pencegahan secara tepat, akan lahirlah bayi cacat. Misalnya penyakit rubella ( cacar Jerman ). Menurut pendapat Davidoff ( terjemahan Juniati,1988) bahwa dapat dipastikan, enam puluh persen bayi yang bawaan, seperti penyakit jantung,cacat penglihatan dan tuli. Hal ini terjadikarena jantung, susunan syaraf pusat dan alat indera janin sedang tumbuh dan berkembang dengan sangat cepat. Jadi

walaupun ibu hamil yang menderita rubella mungkin tidak seberapa berakibat terhadap dirinya, tetapi banyak bayi yang lahir buta, tuli, kepala yang sangat kecil, ternyata ibu ibu mereka mengidap penyakit rubella. Dan lebih jauh lagi, virus rubella dapat terus tumbuh pada jaringan tubuh sampai anak berusia 2 tahun.

Bila infeksi rubella terjadi sebulan atau 28 hari sebelum pembuahan kemungkinan untuk janin menjadi cacat adalah 42%,bila terjadi infeksi setelah pembuahan sampai usia 12 minggu,maka kecacatan akan terjadi 52%,kalau infeksi terjadi antara 13 minggu dan 26 minggu setelah pembuahan, kecacatan akan terjadi 23%. Masih menguntungkan, karena bila infeksi terjadi setelah 26 minggu dari pembuahan, bayi yang lahir adalah normal ( Batzhaw & Perret,1986). Tabel 3.1 Persentasi Bayi Cacat Akibat Janin Ketularan Virus Robella Waktu terkena infeksi 0 28 hari sebelum pembuatan 0 12 minggu setelah pembuahan 13 26 minggu setelah pembuahan Persentase bayi cacat 42 52 23

Sumber : Batshaw & Perret, 1986 Berdasarkan uraian di atas, besar sekali kemungkinan bagi seorang bayi yang ibunya terkena rubella akan menjadi tunalaras di kemudian hari. Karena seseorang yang menderita cacat, selalu bersikap canggung, merasa malu, rendah diri, mudah tersinggung dalam pergaulan. Akibatnya mereka sering memperlihatkan tingkah laku yang tidak sesuai dengan lingkungannya (tunalaras). b) Keadaan Gizi Ibu Selama di dalam rahim janin mendapatkan gizi dari makanan ibu. Zat zat yang diperlukan untuk pertumbuhan dan menjaga metabolism tubuh, seperti karbonhidrat ,protein, lemak, vitamin, mineral, dan air, hendaklah cukup di dalam makanan itu. Janin

memperoleh zat zat tersebut melalui peredaran darah dalam tubuh ibu dan sampai ke plasenta. Bila kelaparan yang parah pada ibu terjadi diawal kehamilan, dapat menyebabkan gangguang pada lapisan lemak yang sangat penting untuk melindungi saraf. Menurut Davidoff ( terjemahan,Jumiati,1988),jika kepalaran tersebut berlangsung terus menerus dalam waktu yang lama, dapat menyebabkan pengurangan besarnya sel sel otak. Dapat dipahami bila sel sel otak berkurang jumlahnya tentu akan mempengaruhi fungsi otak. Bila fungsi otak tidak berkembang sebagaimana mestinya, dapat pengurangan besarnya sel sel otak. c) Keadaan Emosi Ibu Menurut para ahli dokter kandungan, bahwa setiap kali manusia mengalami tegangan emosi yang kuat seperti marah yang amat sangat, rasa cemas yang keterlaluan menyebabkan membanjirnya hormone adrinalin keseluruhan tubuh. Demikian juga

keadaannya bagi seorang ibu yang sedang hamil. Bila ia mengalami stress berat, misalnya karena harta bendanya bahis terbakar atau suami yang sangat\ dicintainya meninggal, maka adrinalin yang membanjir di tubuhnya akan diteruskan kepada janin melalui plasenta. Keadaan ini dapat membahayakan janin, karena janin terlalu banyak menerima hormone adrinalin. Dari penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pengaruh emosi dan stress berat yang dialami ibu hamil dapat mengakibatkan terjadinya ketunalarasan. d) Radiasi Radiasi merupakan salah satu penyebab kerusakan pada janin. Dari hasil penelitian terhadap pengaruh radiasi kepada wanita hami di Hirosima dalam Perang Dunia II menunjukkan adanya hubungan langsung antara tempat bom yang dijatuhkan dengan jarak wanita hamil berbeda, berkaitan dengan kerusakan anak yang dilahirkan. Wanita yang selamat dan berada setengah mil dari tempat kejadian mengalami keguguran kandungannya, yang berada kira kira satu seperempat mil dari kejadian kebanyakan melahirkan anak yang microcephaliuc dan yang berjarak kira kira dua mil, anaknya lahir sehat tetapi ternyata mengidap leukemia di kemudian hari. Berdasarkan hasil penelitian Cooper & Cooper bahwa

ibu hamil yang menggunakan pengobatan kanker dengan memakai radiasi, ternyata dari 75 bayi yang lahir terdapat 20 orang yang rusak susunan saraf pusatnya, termasuk 16 orang microcephalic ( Batshaw & Perret, 1986 ). Tabel 3.2 Akibat radiasi yang dialami ibu hamil terhadap bayinya Jarak mil
11

Akibat Keguguran Microcephalic Leukemia

/4 mil

2 mil Sumber : Batshow dan Perret,1986.

Dewasa ini pemakaian sinar X sudah sedemikian meluasnya, namun tetap berbahaya bila digunakan bagi wanita hamil dengan tidak memperhitungkan jarak waktu pemberiannya terutama X-ray di bagian perut. Sebagai penggantinya, untuk mengetahui keadaan janin dalam kandungan dipergunakan alat, yaitu ultrasound. e) Pemakaian Berbagai Obat Pemakaian berbagai obat obatan tertentu, seperti thalidomide

anticovulsants,obat anti kanker, hormone sex, obat anti jerawat, anti biotic,alcohol dan tembakau selalu menyebabkan kerusakan janin. Walaupun ada beberapa obat yang tidak terlihat akibatnya sewaktu anak dilahirkan tetapi setelah anak menjadi lebih besar, akibatnya baru terlihat. Karena itu, dokter menganjurkan agar wanita hamil mengurangi atau jangan menggunakan obat obatan tersebut,jika tidak atas petunjuk dokter. 1. Thalidomide Semula orang tidak memperhatikan pengaruh sampingan yang ditimbulkan oleh obat ini. Banyak wanita hamil terutama di Eropa yang menggunakan obat ini untuk menghilangkan rasa mual mual. Tetapi pada tahun 1961, mulai ada laporan mengenai kasus teratogenic yang ada dalam thalidomide, menyebabkan kecacatan pada janin. Obat ini dapat menyebabkan anak lahir tanpa tangan atau kaki.

Dari penelitian terhadap anak anak yang lahir cacat dilakukan oleh Mc Bride, Taussing, melaporkan bahwa ibu ibu hamil yang menggunakan thalidomide pada semester pertama dari kehamilannya ternyata melahirkan anak cacat. Selanjtunya, Knap, Lenz & Nowack, menyebutkan bahwa kecacatan yang ditimbulkan oleh obat ini sangat erat hubungannya dengan umur kehamilan dan pemakaian obat. Bila pada umur 21 sampai 35 hari kehamilan menggunakan obat ini, anak yang lahir akan cacat yaitu tidak

bertangan,pemakaian obat yang dimulai lebih lama, yaitu pada hari ke 23 sampai hari ke 30, anak yang lahir mengalami cacat rumpung tangan dan kakinya. Tetapi pemakaian obat yang dimulai pada hari ke 40 setekah pembuahan, anak yang lahir adalah normal ( Batshaw &Perret, 1986). 2. Anticonvulsants ( Obat anti kejang )

Anticonvulsants adalah obat yang selalu dipakai untuk menghilangkan kejang kejang. Menurut Americanm Academy of Pediatrics, obat tersebut cenderung membentuk janin jadi abnormal ( Batshaw &Perret, 1986). Dari hasil kajian para ilmuan terhadap ibu ibu hamil yang mengidap epilepsy dan menggunakan dilantin ( sejenis obat anti kejang ), ternyata mereka melahirkan bayi dengan bentuk muka abnormal, tangan dan kakinya cacat. Sedangkan anak yang lahir dari ibu ibu yang epilepsy tetapi tidak menggunakan obat yang mengandung akibat sampingan bagi janin ( teratogenik ) ternyata bayi yang mereka lahirkan adalah normal. Jenis obat abti kejang yang lain ialah pentobarbital,misolin dan depakain. Obat obat ini sering menyebabkan spina bifida. 3. Obat anti Kanker

Menurut Jick, Holmes,hunter,et al., bahwa obat abti kanker berlomba cepat untuk membunuh sel sel di dalam tumor yang cepat membelah dan berkembang. Sementara sel sel janin juga sedang membelah dan berkembang. Karena itu pemakaian obat anti kanker ( methotrexate ) harus hati hati sebab dapat menimbulkan kasus kecacatan pada kerangka kepala, mata dan telinga.

4.

Obat Jerawat

Sepintas lalu kita berpikir bahwa obat jerawat tidak akan menimbulkan akibat apapun terhadap pertumbuhan dan perkembangan janin. Berbagai jenis obat jerawat,mulai dari produk teknologi bebas. 5. Alkohol dan Heroin tinggi sampai ke produk tradisional dapat kita jumpai di pasaran

Alcohol adalah sejenis minuman yang merusak karena mengandung racun. Racun ini dapat menghancurkan janin. Interaksi antara zat beracun dari alcohol dengan lapisan kulit janin memungkinkan penyebab kecacatan. Pada peminum alcohol berat ( kronis ) diperkirakan akan melahirkan 35 persen anak cacat. Kecacatan anak - anak dari ibu

peminum ini sangat tergantung pada seberapa banyak alcohol yang diminum oleh ibu tersebut selama ia hamil. Para dokter menasihatkan agar ibu ibu menghindari alcohol selama waktu hamil. 2. Faktor Turunan

Pengaruh sifat sifat yang diterima anak dari kromosom kedua orang tuanya terhadap perilaku anak setelah lahir. Menurut kamus kedokteran, (

Dorland,1984),kromosom berarti bagian sel yang mengandung sifat turun-temurun. Pertemuan antara sperma dan ovum di dalam rahim `ibu menghasilkan pembuahan, yaitu satu bentuk sel yang disebut zigot. Sel ini menerima kromosom dari sperma dan ovum. Jadi sejak dari awal kejadiannya di dalam rahim ibu manusia itu telah mewarisi sifat sifat yang ada pada ayah dan ibunya,baik itu berupa bentuk fisik,mental ataupun perilaku. Para ahli genetika tingkahlaku telah melakukan beberapa penelitian untuk mengetahui seberapa jauh pengaruh turunan pada perilaku seseorang. Hasil penelitian penelitian melaporkan bahwa sangat sulit untuk dapat menentukan secara pasti antara factor turunan dengan perilaku manusia. Menurut mereka hal ini disebabkan norma masyarakat yang tidak memungkinkan melakukan perkawinan silang pada manusia,jumlah anak manusia pada setiap generasi umumnya sangat sedikit, jika dibandingkan dengan anak

hewan dan jarak antar astu generasi ke generasi yang lainnya sangat panjang. Manusia pada umumnya mempunyai cirri cirri fisik dan kecerdasan tertentu yang berbeda beda tetapi berkesinambungan. Misalnya sejak dahulu kala rangka tubuh bangsa bangsa Asia tenggara lebih kecil jika dibandingkan dengan rangka tubuh bangsa Eropah. Demikian pula dengan warna mata, warna rambut, dan kecerdasan dari generasi kegenerasi mempunyai kesamaan yang berkesinambungan. Ciri cirri yang berkesinambungan ini besar sekali kemungkinannya karena adaanya factor gen yang menetukan. Tetapi, menurut Davidoff, bahwa cirri cirri yang berkesinambungan ini tergantung, baik pada factor turunan maupun pada factor lingkungan. C. SAAT LAHIR ( PERINATAL ) Proses kelahiran seorang bayi banyak mempengaruhi perkembangan anak seterusnya. Ada bayi yang lahir normal, tanpa kendala. Tetapi ada pula bayi yang harus lahir dengan pertolongan alat alat tertentu atau ibu yang mesti dioperasi untuk melahirkan bayinya atau yang malahirkan bayi kembar, sehingga saat kelahiran mengalami proses yang lama. Dengan kata lain, bayi mengalami hambatan dalam proses kelahirannya. Keadaan ini memungkinkan berakibat buruk pada fisik,mental ataupun pada tingkah lakunya dikemudian hari. Hambatan (masalah) dalam proses kelahiran bayi ini biasanya disebabkan oleh dua faktro,yaitu factor ibu dan factor bayi. D. 1. Faktor Faktor Penyebab saat lahir ( perinatal ) yaitu : Faktor ibu

Banyak sekali penyebab masalah pada kelahiran bayi yang berkaitan dengan factor ibu. Seperti telah dibahas dalam sub sub tentang pengaruh factor ibu terhadap masa sebelum bayi dilahirkan (prenatal),yaitu mengenai pengaruh penyakit kronis yang diderita ibu sedang hamil, keadaan gizi ibu, keadaan emosi ibu dan pemakaian beragam obat obatan serta minuman keras yang menyebabkan berbagai kerusakan pada bayi yang dikandungannya. Bayi bayi yang telah rusak ini,akan akan mengalami masalah sewaktu dilahirkan. Selain factor factor yang telah disebutkan diatas, ibu yang hamil pada usia muda, biasanya kurang dapat menjaga kesehatan dirinya dan kesehatan kandungannya, sehingga

menimbulkan masalah sewaktu melahirkan. Demikian pula kehamilan pada wanita wanita yang berusia 35 tahun, mempunyai resiko yang tinggi untuk mendapat masalah sewaktu melahirkan. Disamping hal hal yang telah disebutkan di atas, pinggul ibu yang kecil, dapat juga sebagai sebab masalah dalam proses lahirnya bayi dan jika tidak cepat mendapatkan pertolongan, bisa mengakibatkan kematian ataupun kecacatan pada bayi. 2. Faktor Bayi Lain lagi masalah yang ditimbulkan oleh bayi itu sendiri, misalnya bayi sungsang, bayi kembar, ataupun bayi yang cacat tubuhnya, seperti bayi dengan kepala yang sangat besar. Quinn dan Rapoport, menyebutkan bahwa semua permasalahan yang telah disebutkan di atas tidak jarang menyebabkan bayi cacat dan menjadi tunalaras setelah usianya semakin bertambah ( Rosenbrg,et al..,1992 ). Walaupun kebanyakan kecacatan yang dialami bayi sewaktu ia dilahirkan adalah akibat dari masa kehamilan ( prenatal) namun tidak semuanya sebagai akibat dari masa kehamilan. Misalnya pendarahan yang dialami ibu sewaktu melahirkan, dapat berakibat buruk kepada bayi. Bayi yang lahir sungsang dan harus dioperasi atau bayi kembar yang harus dioperasi dapat menyebabkan bayi terkena akibat dari anastesi, sehingga bayi menjadi lesu, walaupun tidak sampai cacat. Yang jelas, semakin berat kecacatan seseorang, semakin besar kemungkinan ia bertingkahlaku menyimpang. E. Setelah lahir ( Postnatal ) Setelah bayi dilahirkan, ia mulai mempunyai lingkungan yang berbeda dengan

lingkungan semasa di dalam kandungan ibunya. Secara normal, ia mulai berinteraksi dengan ibunya, ayahnya,saudara saudaranya yang lain ( bila ada ) dan siapa saja yang berada dilingkungan hidupnya. Kehangatan hidup di luar lingkungan kandungan ibu mulai dirasakan bayi. Tetapi disisi lain,saat saat balita ini dapat pula menjadi saat saat permulaan baginya mendapatkan pengalaman pengalaman yang tidak menyenangkan. Sebagai seorang manusia, bayi ini telah mempunyai hubungan yang erat antara badaniayah,jiwanya dan lingkungan sosialnya. Dengan perkataan lain ia telah mempunyai hubungan holistic yang tidak terpisahkan.

F. 1.

Faktor Faktor Penyebab setelah lahir ( postnatal ) Faktor Orangtua Yang dimaksud faktor orangtua di sini terutama ialah bapak dan ibu

bayi tersebut. Besarnya pengaruh orangtua kepada perkembangan anak, agama Islam telah

mengisyaratkan, bahwa bapak dan ibulah yang telah memberikan pola tingkah laku dan membangu watak anaknya. Paternite dan Loney, mengadakan penelitian mengenai hubungan hiperaktif dengan lingkungan rumah. Ia membandingkan antara simtom simtom hiperaktif dengan lingkungan rumah dari 94 anak laki laki yang hiperaktif. Mereka menyebutkan bahwa hubungan antara orangtua dan anak adalah negative, bagi anak agresif dan tingkahlaku yang bermasalah. Mereka mengatakan bahwa semakin buruk hubungan antara anak dengan orangtua, semakmin besar kemungkinan anak menjadi agresif ataupun mempunyai amasalah dalam tingkah lakunya, dan

semakin baik hubungan antara anak dengan orangtua semakin besar kemungkinan anak bertingkah laku sosial secara baik. Selain itu, ada beberapa sebab dini pada usia balita seorang anak menjadi tunalaras berkaitan dengan sikap ibu dan bapak. 1. Sikap ibu. Ada sikap ibu yang tidak menunjang perkembangan perilaku

anak yang baik, sehingga menyebabkan hubungan anaka dan ibu menjadi negative, dan mendorong terjadinya ketunalarasan anak. Sikap ibu dapat menunjang pembentukan tingkah laku yang normal, antara lain mencurahkan kasih saying, memberikan layanan terhadap kebutuhan anaknya,membiasakan anak hidup dalam disiplin dan teratur. Ibu yang sejak dini telah membiasakan anak menyusu dan makan minum tepat pada waktunya, telah menanamkan sikap disiplin yang kokoh pada anaknya. Pada fase kedua sesuai dengan Charlotte Buhler, ibu sudah dapat bermani menanamkan azaz agama dan Pancasil. Setiap ada kegiatan agama anak selalu diikutsertakan. Anak dibiasakan bermain di lingkungan rumah dengan saling

hormat dan menyayangi sesame teman. Semua cara ibu dijabarkan dari nilai nilai luhur agama dan pancasila. 2. Sikap bapak. Ada balita yang haus dan kering akan kasih saying dan perhatian

bapak. Bapak sering tidak pulang, kalau pulanh, mabuk dan marah marah. Dirumah cekcok dengan ibu dan sering memukuli ibu. Sejak balita, anak telah menyaksikan tingkahlaku yang kasar, dan akhirnya menjadi model bagi anak. Sering terdengar anak membunuh bapak kandung yang suka menyiksa ibunya. Dan tragisnya, sering anak tersebut masih berusia sekolah dasar. 2. Faktor saudara saudara kandung Bagi anak balita yang mempunyai beberapa saudara yang lebih besar ataupun mempunyai keluarga besar ( lebih dari dua orang ), kerap dapat disaksikan, mereka saling berebut mainan, cemburu, menyerang, berkelahi dan akhirnya sama sama menangis. Tingkah laku anak anak yang demikian adalag wajar. Tetapi para orangtua hendaklah bijaksana memberikan pengarahan, agar tingkah laku anak yang sering bermusuhan dapat berubah menjadu saling kasih saying. 3. Pengaruh anggota lain dalam keluarga Di Indonesia, jarang satu keluarga hanya terdiri keluarga inti saja. Tetapi biasanya dalam satu keluarga, selain bapak, ibu dan anak, ada lagi beberapa anggota lain,seperti nenek, bibi, paman, pembantu dan lain lain. Selain kedua bapak dan ibu, anak tentu akan terpengaruh oleh tingkah laku semua anggota keluarga yang ada di dalam rumah, terutama disebabkan bapak dan ibu mereka sibuk dan sering pergi pagi, pulang petang. Bapak dan ibu mereka kurang kesempatan untuk membimbing, mengarahkan dan memperhatikan anak anaknya. Akibatnya, anak lebih banyak berinteraksi dengan keluarga yang lain di rumah dibandingkan dengan kedua orangtuanya, sehingga pola tingkah laku anak banyak ditentukan oleh anggota keluarga di rumah daripada kedua orangtuanya. 4. Keadaan sosial ekonomi keluarga

Beberapa penelitian menyebutkan, bahwa factor sosial ekonomi keluarga berperan terhadap terjadinya anak tunalaras. Namun demikian, masih banyak juga kita jumpai anak

tunalaras dari orang tua yang berstatus ekonomi tinggi dan menengah. Hanya saja jenis ketunalarasannya akan berbeda-beda. Demikian pula masa terjadinya

ketunalarasan tersebut, tentu berbeda antara masa anak balita dengan anak remaja.Lagipula penyebab ketunalarasan itu bukanlah tunggal. Karena itu kalau hanya factor ekonomi saja, belum tentu menjadi sebab anak tunalaras, tetapi hal tersebut dapat disebabkan oleh factor interen dan factor eksteren sedangkan masa terjadinya bisa dimulai pada saat anak masih dalam kandungan ibu(pranatal), sewaktu proses kelahiran(prenatal) dan setelah anak dilahirkan (postnatal).

BAB IV ISI

Tunalaras adalah individu yang mengalami hambatan dalam mengendalikan emosi dan control sosial. Individu tunalaras biasanya menunjukkan perilaku menyimpang yang tidak sesuai dengan norma dan aturan yang berlaku di sekitarnya. Tunalaras dapat disebabkan karna faktor internal dan faktor eksternal yaitu pengaruh dari lingkungan sekitar

1. Lingkungan keluarga adalah unit social terkecil yang memberikan dasar utama bagi perkembangan anak. Baik buruk struktur keluarga memberikan dampak baik atau buruknya perkembangan jiwa dan jasmani anak. Situasi dan kehidupan keluarga yang memungkinkan timbulnya perilaku menyimpang (tunalaras) pada anak di antaranya adalah:

a. Disharmonisasi dalam keluarga dan rumah tangga berantakan. Rumah tangga yang berantakan disebabkan oleh kematian ibu atau bapak, perceraian di antara mereka, hidup terpisah, poligami, ketidak cocokan dan sering konflik, merupakan sumber yang subur munculnya penyimpangan tingkah laku pada anak dan remaja. Keadaan ini berakibat: 1) Anak kurang mendapatkan perhatian,kasih sayang dan tuntutan pendidikan orang tua karna bapak atau ibu masing-masing sibuk mengurusi

permasalahannya serta konflik batin sendiri.Keadaan kehidupan anak akan lebih parah lagi apabila salah satu dari kedua orangtua mereka berpisah, misalnya karna kematian, perceraian atau poligami. 2) Kebutuhan anak baik kebutuhan fisik maupun psikis tidak terpenuhi secara wajar. Anak menjadi terlantar karna tidak ada kasih sayang yang konsisten sejak bayi. Anak-anak yang kurang mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari orang tua merasa dirinya kkuang aman, merasa kehilangan tempat berlindung dan tempat berpijak. 3) Anak tidak dibiasakan dengan disiplin dan control dii yang baik di rumah sesuai dengan norma-norma yang ada dalam kehidupan masyarakat maupun norma-norma agama.

b. Pola kriminal orangtua . Sikap hidup, tradisi dan filsafat hidup orang tua besar sekali pengaruhnya dalam kepribadian anak dalam keluarga. Karena itu tingkah laku kriminal

orangtua sangat mudah menular kepada anak-anaknya. Orangtua yang suka marah, sewenang-wenang, agresif dan meledak-ledak akan timbul iklim psikhis yang tidak menyenangkan. Dan ini dapat merangsang reaksi emosional yang

impulsive kepada anak-anaknya. Tingkah laku orangtua yang asusila dan kriminal itu akan memberikan dampak negatif terhadap anggota keluarganya. c. Keadaan ekonomi keluarga Tingkah laku anak dapat juga dipengaruhi oleh faktor ekonomi keluarga, baik dari ekonomi rendah maupun di kalangan ekonomi rendah maupun di kalangan ekonomi tinggi. d. Sikap orangtua Tingkah laku pada anak dapat juga dikarenakan sikap orangtua yang menolak kehadiran anaknya di tengah-tengah mereka.

2. Lingkungan masyarakat Pengaruh Lingkungan masyarakat disebut juga pengaruh budaya atau kultur. Kebudayaan menyangkut nilai-nilai, norma-norma umum dan istiadat yang diserap oleh anak-anak dan remaja kehidupannya. Faktor lain yang merangsang terjadinya penyimpangan tingkah laku pada anak dan remaja 3. Lingkungan Sekolah Sekolah adalah lembaga pendidikan yang sangat penting di mana anak didik untuk menjadi anggota masyarakat yang baik. Tetapi sekolah juga bisa menjadikan anak tidak merasa membosankan, sehingga anak sering tidak masuk sekolah bahkan sering membolos. Kondisi sekolah yang tidak menguntungkan anatara lain adalah.

a. Lingkungan fisik yang kurang memenuhi persyaratan Bangunan sekolah yang sangat minim fasilitasnya, kurang menarik dan tidak menyenangkan bagi anak-anak untuk belajar, seperti halnya gedung sekolah yang tidak ada, ruangan kelas yang sempit dan tidak mencukupi.

b. Disiplin sekolah yang kaku dan tidak konsisten Ada sekolah yang menggunakan peraturan sangat kaku, sehingga apabila ada yang melanggarnya dengan sengaja atau tidak sengaja, mereka diberi sanksi hukuman yang kadang-kadang tidak sesuai dengan tingkat pelanggaran yang dilakukan c. Guru yang tidak simpatik Guru yang baik dan yang diharapkan adalah guru yang penuh dedikasi pada profesinya. Karna itu d. Masalah kurikulum sekolah Kurikulum sekolah juga dapat merupakan salah satu unsur yang menimbulkan kebosanan dan antipati anak untuk belajar di sekolah. Kurikulum merupakan salah satu alat untuk mencapai tujuan pendidikan, sekaligus merupakan pedoman dalam pelaksanaan pengajara di sekolah. e. Masalah metode dan teknik mengajar Dalam kegiatan belajar mengajar di kelas sampai saat ini umumnya guru lebih senang menggunakan metode ceramah untuk penyampaian materi kepada siswa. Mereka mendengarkan secara pasif dan dialami selama berjam-jam setiap hari.

Gangguan-gangguan yang dialami dalam proses perkembangan anak dan remaja menuju kedewasaan maupun hambatan-hambatan lainnya sebagai akibat dari perlakuan dan sikap lingkungan yang tidak wajar terhadap mereka, akan menimbulkan frustrasi yang sangat dalam dan membekas pada jiwanya. Dalam hubungan ini ada beberapa mekanisme pelarian dan pembelaan (Maramis, 1992), yang akan di jelaskan berikut. 1) Fantasi, yaitu keinginan yang tak terkabul dipuaskan dalam imajinasi. 2) Rasionalisasi, yaitu cara menolong diri yang tidak wajar dan berusaha untuk membuktikan bahwa perbuatannya benar dan dapat diterima (rasional). 3) Identifikasi, yaitu menyamakan diri sendiri dengan seseorang atau sesuatu hal yang dikaguminya

4) Proyeksi, yaitu melemparkan kesalahan, pikiran, perasaan diri sendiri kepada orang lain atau menyalahkan orang lain terhadap kesulitan yang dialaminya. 5) Regresi, yaitu kembali ke tarap perkembangan yang sudah dilaluinya, 6) Agresi, yaitu reaksi primitif dalam bentuk kemarahan yang hebat tanpa kendali, 7) Narsisme, yaitu menganggap dirinya paling sempurna, superior paling penting, paling hebat dan disertai cinta diri yang berlebih-lebihan dan bertingkah laku semaunya. 8) Fikrasi, yaitu respons individu yang stereotypis bentuknya; pelekatan pada satu pola tingkah laku yang kaku dan tak wajar. 9) Autisme, yaitu gejala menutup diri secara total terhadap dunia luar dan tidak mau berkomunikasi dengan dunia sekitarnya. 10) Teknik anggur asam (sourgrve technique), yaitu usaha untuk memberikan sifat buruk, jelek dan negative kepada objek-objek yang tidak bisa dicapai, 11) Teknik jeruk manis (sweet orange technique), yaitu usaha memberikan sifat yang yang baik dan unggul pada semua kegagalan kesalahan dan kekurangan diri sendiri agar dapat menyenangkan diri sendiri

BAB V

PEMBAHASAN 1.1 Hakekat dan Tujuan Asesmen

Salvia dan ysseldyke ( 1985) mendefenisikan asesmen sebagai suatu proses pengumpulan informasi yang akan digunakan untuk membuat suatu pertimbangan dan keputusan yangberhubungan dengan seseorang anak. Dalam kaitannya dengan maslah penanggulangan kelainan tingkah laku ( behavior disorders ). Salvia dan Ysseldyke merumuskan tujuan asesmen 1. Untuk menjaring 2. Pengidentifikasian untuk klasifikasi 3. Untuk mengembangkan program pengajaran 4. Untuk mengukur kemajuan siswa 5. Untuk mengevaluasi keektifitasan program

Keakuratan hasil asesmen ini akan sangat tergantung pada: 1. Dasar pengetahuan dari guru ketika melakukan asesmen 2. Pemahaman mengenai prosedur/tatacara pelaksanaan dan peforma yang tepat dalam melakukan kegiatan asesmen 3. Kemampuan guru dalam melakukan analisa terhadap data-data yang telah diperoleh dengan mengurangi kecendrungan terjadinya bias dan prejudis. 4. Kemampuan seorang guru untuk menggunakan informasi yang diperolehnya terhadap pemenuhan kebutuhan khusus atau kondisi -kondisi spesifik seorang individu,

5. a.

apalagi individu dengan gangguan emosi dan perilaku.Beberapa model pelaksanaan asesmen yang dapat kita lakukan antara lain:

Baseline asesmen

Tujuan dari pelaksanaan asesmen ini adalah untuk memperoleh infor masi yang berkaitan dengan keterampilan-keterampilan/kecakapankecakapan apa yang saat dilakukan asesmen telah dimiliki oleh seorang individu. Selanjutnya juga untuk mengetahui kesulitan dan keterbatasan apa yang dihadapi oleh seorang individu, keinginan seorang individu, dan kebutuhan-kebutuhannya. Asesmen ini dilakukan pada kontak pertama yang dilakukan oleh seorang asesor terhadap client-nya, dalam rangka memperoleh gambaran secara menyeluruh mengenai cli ent tersebut. Kemungkinan lain adalah bahwa sesmen ini dilakukan karena alasanalasan penting dari sejumlah program pembelajaran yang akan dilakukannya. 1. b. progress asesmen Tujuan melaksanakan asesmen ini adalah untuk mengetahui tentang p rogram layanan pendidikan yang sedang berjalan sehingga guru mendapatkan informasi yang jelas mengenai level perubahan yang terjadi. Asesmen ini merupakan kelanjutan dari baseline asesmen yang telah dilakukan. 1. c.

Spesifik asesmen

Tujuan dari asesmen ini adalah untuk mendapatkan informasi yang berkaitan dengan hal-hal sepesifik yang ada pada anak. Misalnya ketika seorang anak memiliki perilaku eksentrik tertentu s

eoarang guru mungkin diharapkan mampu menemukan : bentuk perilakunya seperti apa? apakah perilakunya merupakan sebuah stereotip tertentu dengan anak yang mengalami gangguan spesifik; Pemicu muncul perilaku tersebut apa saja?; Situasi seperti apa yang dapat mengurangi atau meredakan perilaku eksentrik tersebut; berapa lama perilaku eksentrik ini terjadi apabila kita tidak melakukan perlakuan khusus pada anak tersebut. Biasanya seorang guru diminta melakukan kegiatan asesmen ini apabila ia tidak terlibat lagi dengan siswa pada kegiatan intervensi berikutnya. 1. d. final asesmen Kegiatan asesmen ini bertujuan untuk mengetahui sejauhmana tujuan-tujuan pembelajaran dapat tercapai, dan seberapa besar proses ini menyisakan permasalahan atau kebutuhan anak yang belum terlayani sehingga perlu dibuat keterangan yang jelas yang nantinya digunakan sebagai bahan rujukan bagi guru lain, orangtua, atau bagi ahli lainnya. Kegiatan asesmen ini biasanya dilakukan pada saat terakhir guru ini melakukan hubungan dengan siswanya. 1. e. follow up asemen Kegiatan asesmen ini bertujuan untuk memahami hal-hal apa yang harus mendapatkan tindak lanjut dari hasil pengumpulan data yang telah dilakukan. Hal ini dilakukan untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas dan lebih konfirmatif tentang kondisi anak yang betulbetul membutuhkan tindak lanjut.

2.1 Alat dan Teknik Asesmen

Berikut ini beberapa metode yang dapat kita gunakan supaya kita dapat memperoleh informasi. Instrumen ini sangat beragam tergantung pada kebutuhan data apa yang kita perlukan untuk digali dari siswa di dalam kelas. metodemetode tersebut antara lain:

Wawancara atau Interview Observasi Spesifik tes Pengukuran kondisi fisik Pelaksanaan evaluasi diri Portofolio Questionaire atau angket dan lain-lain

Masing-masing metode memiliki kelebihan dan kekurangannya masingmasing. Oleh sebab itu di harapkan guru atau tim asesor dapat menggunakan metode tersebut secara traingulasi (Gall, Borg & Gall, 1997) dalam rangka menjaga kesahihan/validitas dan keajegan/reliabilitas dari data yang diperoleh. Cotoh format untuk memperoleh data tentang riwayat anak sebagai berikut A. Identifikasi Anak Biodata Anak Nama Temp. Tgl. Lahir Usia Agama : : : :

Berat Badan Saudara Sekolah Kelas Alamat Hobby

: : : : : :

Biodata Orang Tua Nama Ayah Temp. Tgl. Lahir Usia Agama Pekerjaan Pendidikan Terakhir : : : : : :

Nama Ibu Temp. Tgl Lahir Usia Agama Pekerjaan Pendidikan Terakhir

: : : : : :

B. C.

Riwayat Kesehatan Anak Hasil Asesmen 1. Instrumen hasil observasi di Sekolah dan di Lingkungan Rumah 2. 3. 4. Instrumen diisi oleh Orang Tua Wawancara dengan Orang Tua Wawancara dengan Guru Kelas

3.1 Kesimpulan Kesimpulan dari makalah ini adalah: 1. Asesmen merupakan sebuah aktifitas yang diharapkan mampu mengungkap kesulitan siswa yang terlihat (visible) dan yang sulit dilihat secara jelas (invisible). 2. Asesmen yang dilakukan diharapkan memberikan informasi yang jelas mengenai kondisi anak yang berkaitan dengan kemampuan, kesulitan dan factorfaktor yang melatar belaknginya

3. Asesmen yang dilakukan oleh kita dapat berupa baseline, progres, specifik, final, dan follow-up asesmen. 4. Dari hasil asesmen yang dilakukan memunculkan kebutuhan adanya penyesuaian kurikul um bagi pembelajaran anak di dalam kelas begitu juga di rumah. 5. Kurikulum yang digunakan harus merupakan kurikulum yang fleksibel yang memberikan keleluasaan kepada guru untuk melakukan adaptasi sesuai kebutuhan anak.

BAB VI MATERI UPAYA PENCEGAHAN KETUNALARASAN

A.UPAYA-UPAYA KELUARGA Kelurga adalah unit terkecil yang mengenal anak pertama dan utama. Upaya pencegahan dapat dilaksanakan secara dini dan secara individual, sehingga lebih terfokus kepada sifat-sifat ketunalarasan yang kemungkinan dapat tumbuh atau berkembang dari anak normal di dalam keluarga. Upaya ini dapat dilaksanakan dalam 2 tahap. Pertama, upaya yang dilakukan selama anak masih dalam kandungan ibu, sampai ia dilahirkan. Kedua, setelah anak lahir, sampai mereka mengakhiri masa remajanya. Pada umumnya anak remaja masih menjadi peserta didik, terutama, di

Sekolah Manengah Umum Tingkat Atas (SMA), ataupun yang sederajat dengan tingkat SMA. Dalam pembahasan upaya pencegahan ketunalarasan ini obyek pembahasan bukan tingkah laku anak yang bermasalah, tetapi tingkah laku anak normal, jangan sampai menjadi anak yang tingkah laku kacau atau bermasalah. Karena itu,upaya keluarga pada tahap sewaktu anak masih dalam kandungan ialah:pertama,menjaga kesehatan ibu yang sedang hamil.menurut penelitian yang dilakukan Batshaw dan Perret,bhwa ibu hamil perlu sekali menjaga kondisi kesehatannya,karena kondisi fisik dan mentalnya dapat mempengaruhi taraf ke aktifan dan konsentrasi anak setelah lahir,keluarga perlu memperhatikan hal-hal seperti sikap dan respon ibu terhadap bayi. Dengan memahami tahap-tahap perkembangan anak normal, terutama perkembangan emosi dan tingkah laku anak normal,para bapak dan ibu dapat membandingkan dengan perkembangan anak-anak mereka. Misalnya anak usia 3-4 tahun,dapat bermain dengan anak lain, menunjukkan rasa sayang kepada saudarasaudaranya,dan dapat melaksanakan tugas-tugas sederhana. Upaya keluarga untuk mencegah ketunalarasan sifatnya individual, tidak sama antara satu anak dengan anak yang lain. Namun begitu secara umum ada hal yang perlu di ketahui oleh para orang tua di dalam keluaraga yang dapat terpakai untuk pencegahan segala bentuk ketunalarasan. Maka perlu dapat mengenal klasifikai tunalaras secara umum,dengan ciri-cirinya yang spesifik.ada beberapa perlakuan langsung orang tua pada anak untuk : a. Pencegahan tingkah laku anak hiperaktif

Definisi istilah hiperaktif sampai saat ini belum ada kesepakatan di antara para ahli tingkah laku ataupun para ahli Pendidikan Luar Biasa. Koepernik et al., yang di kutip kauffman, 1985 menunjukkan tingkat aktivitas tinggi yang umum di antara bejenis-jenis perbedaan anak-anak termasuk : 1. Anak normal usia 2 dan 3 tahun 2. Anak yang usianya lebih tua dengan umur mental 2 atau 3 tahun 3. Anak yang IQ nya sangat tinggi 4. Anak yang di omeli terus oleh orang tua atau guru 5. Anak yang merasa cemas atau tertekan 6. Anak yang di keluarkan dari lingkungannya 7. Beberapa anak autistik 8. Beberapa anak epilepsi Menurut kauffman (1985) bahwa hiperaktif nampaknya tidak dapat hilang secara otomatis sebagaimana anak menjadi dewasa.karena itu perlu di upayakan beberapa cara pencegahan : 1. Memberi perhatian yang cukup 2. Memberikan contoh dalam perbuatan 3. Membiasakan anak dengan perbuatan/kegiatan yang bertujuan positif 4. Suasana rumah yang tentram 5. Pendidikan agama sejak dini 6. Membangiun hubungan akrab dengan anak.

b. Pencegahan tingkah anak agresif Rentang selalu buah mulut tetangganya sebab bila bertemu dengan anak yang lebih kecil, sebaya ataupun yang lebih besar,Rentan selalu mengejarnya, dan mengigit mereka sampai luka. Walaupun tingkah laku Rentan demikian tapi keua orang tuanya tetap marah bila ada orang mengatakan bahwa anak mereka nakal.Untuk pencegahan terjadinya anak agresif dapat diterapkan cara-cara pencegahan terjadinya agresif sejak dini, ditambah lagi dengan hal-hal berikut ini : 1. Batas anak menonton adegan kekerasan dari TV 2. Meningkatkan kebagian 3. Batasi percekcokan dalam rumah 4. Berikan kesempatan bermain keluar pada anak 5. Memberikan batas waktu

c. Pencegahan tingkah laku tak menurut (disobedience) Banyak orang tua mengeluh karena anaknya tidak mau menuruti nasehat ataupun perintah mereka meskipun anak anak tersebut adalah anak anak normal, menurut teori ilmu jiwa perkembangan adalah normal anak tak mau menurut tetapi tingka laku tak patu ini dapat diarahkan agar tidak berkembang menjadi tingkalaku anti sosial karena jika sifat tak mau menurut merupakan suatu cara dalam hidup seorang anak ia mungkin mengembangkan kebiasaan sikap berfaham negatif dimana akan menetang

setiap buah fikiran dan perinsip prinsip orang lain dalam segala bidang tampa dasar pemikiran yang jernih Ada beberapa sebab mengapa anak menjadi tak suka menuruti perintah orang tua, pertama masalah disiplin orang tua yang menerapkan disiplin sangat keras atau sangat lemah atau tidak konsisten hasilnya sama bagi anak, konsisten hasil sama bagi anak, yaitu anak dengan mudah tak mau mengikuti perintah orang tua, kedua, orang tua yang tidak mempunyai waktu untuk anaknya, ketiga, anak dengan IQ tinggi atau yang sedang mengalami gangguan fisik atau fisik berikut ini adalah berupa upayah yang dapat dilakukan keluarga untuk menghindari atau mencegah terjadinya tingka laku anti sosial pada anak. 1. Bangunlah keakrban. 2. Memberikan tanggapan yang cukup. 3. Hindari sifat diktator. 4. Berikan contoh. 5. Siapkan aturan aturan : a. Buat aturan secara spesifik b. Berikan alasan c. Jangan terlalu banya aturan d. Beri pilihan dan fleksibel e. Pencegahan tingkah laku anak cemas (anxietywithdrawal)

d. Pencegahan tingkah laku delikwensi (delinqency)

Menurut rosenberg, et al., (1992) istilah delinqency sering ditunjukkan untuk anak anak atau orang dewasa yang tidak mau menurut perintah baik itu perintah orang tua mereka, ataupun peraturan peraturan resmi diwilaya tempat mereka berada. Menurut Kvaraceus, (rosenberg, et al., (1992)) istilah delinqency diberikan kepada pemudah yang telah pernah melakukan kejahatan, seperti menyerang, memperkosa, membunuh dan merampok (Kauffman,1985). Keluarga adalah unsur pertama dan utama yang diharapkan dan sangat berperan dalam pencegahan ini. Beberapa upaya tersebut ialah : 1. Kontrol dari orang tua 2. Penyuluhan hukum 3. Solidaritas dan keterbukaan 4. Tentram, damai dan kasih sayang 5. Meningkatkan ekomoni keluraga.

B. UPAYA UPAYA SEKOLAH Semua peserta didik disekolah normal, Sekolah turut mengupayakan agar para peserta didik disekolah mereka masing masing terhindar dari ketunalarasan, upaya upaya tersebut dilakukan melalui beberapa jalur.

a. Badan Pembantu Penyelenggaran Pendidikan (BP3) Anggota dan pimpinan BP3 terdiri dari orang tua murid, fungsi badan ini membantu dana yang berasal dari para orang tua murid untuk

menyelelanggarakan pendidikan, dalam arti sempit dan luas b. Meningkatkan hubungan guru dengan orang tua Hal ini dilakukan sekolah dengan mengundang para orang tua/wali murid pada saat penerimaan rapot anak anak. c. Meningkatkan kegiatan siswa diluar sekolah dibawah bimbingan guru Adapun bimbingan guru : 1. Bidang agama 2. Olah raga 3. Kesenian 4. Les bidang bidang studi yang memerlukan tambahan d. Organisasi siswa sekolah (OSIS) e. Menjaga disiplin sekolah, meningkatkan karisma guru Menjalin disiplin sekolah melibatkan aparat sekolah adalah sebagai berikut : 1. Setiap kelas bila gurunya tidak hadir digantikan oleh guru yang lain dengan izin kepada seklah lengkap dengan materi yang akan diajarkan. 2. Tidak ada murid yang boleh pulang ketika jam sekolah berakhir 3. Setiap pekerjaan rumah diperiksah guru, dan kertas kerja dikembalikan kepada siswa, ditanda tangani oleh orang tua, diarsipkan disekolah f. Bimbingan dan konseling BK besar sekali mencegah ketuna larasan. Karena salah satu fungsi BK adalah pencegahan siswa dari berbagai permasalahan yang akan dapat mengganggu, menghambat ataupun menimbulkan kesulitan dalam proses pengembangan

C. UPAYA UPAYA MASYARAKAT/INSTANSI TERKAIT Tidak sedikit upaya masyarakat untuk mencegah terjadinya ketunalarasan umumnya dan kenakalan ramaja khususnya. Dibawah ini beberapa upaya tersebut antara lain. a. Meningkatkan kegiatan pemuda Baik ditingkat rukun warga, keluarga. Rukun warga ataupun dikelurahan pada pemimpin masyarakat selalu aktif mengadakan yang melibatkan pemuda dan pemudah setempat. Misalnya dengan mengadakan kegiatan hari hari besar nasional, agama, ataupun kegiatan pemuda dan remaja b. Bergabung dengan kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah, instansi terkait, sebagai contoh dibawah ini ada beberapa kegiatan bersama yang dilakukan diwilaya khusus ibu kota (DKI) Jakarta Sasaran oprasional kegiatan terpadu kali ini adalah :

1. Sekolah Dengan banyaknya instansi terkait yang dilibatkan dalam kegiatan ini membuktikan betapa besarnya perhatian pemerintah kepada kenakalan remaja. (tunalaras). Beberapa program yang dilakukan sekololah yaitu seminar pemberian a. Biasiswa b. Seminar dikalangan remaja c. Kegiatan pramuka d. Ceramah e. Pesantren kilat

f. Penataran kepemimpinan OSIS g. Konsilidasi h. Kegiatan Palangmerah i. Musyawarah sekolah dan temu ramah

2. Diluar lingkungan sekolah a. Latihan kerja b. Membantu kantor pos c. Kegiatan yang dilakukan nondepartemen yaitu dialok d. Program ormas

BAB VII

BENTUK-BENTUK TERAPI ANAK TUNA LARAS 1. PSIKOTERAPI Psikoterapi adalah suatu jenis pengobatan atau penyembuhan terhadap gangguan mental dan tingkah laku, yang dilakukan oleh seseorang yang berlatih secara profesional dengan seseorang penderita (klien) melalui komunikasi verbal dan nonverbal serta berusaha menghilangkan gangguan emosiaonal, mengubah gangguan tingkah laku dan memupuk perkembangan kepribadian yang baik. (Meramis, 1992). a. Psikoterapi supportif (supportive pscyo-therapy). supportive pscyotherapy disebut juga relationship printed pscyotherapy, dimana selama proses pengobatan dan penyembuhan klien atau

sopport untuk memperkuat pertahanan dan integrasi diri. Klien yang membutuhkan pertolongan adalah mereka yang mengalami gangguan yang berhubungan dengan kecemasan, perasaan malu yang abnormal, perasaan bersalah, perasaan kecewa, frustasi dalam suatu pertemuan atau karena tekanan-tekanan eksternal lainnya. 1. Psikokaterais (ventitalis) Arti yang sebenarnya pembersihan. Psikoterapi adalah suatu proses pengungkapan masalah-masalah psikologis seperti pelepasan emosi sehingga klien merasa lega dan tidak terbebani. Melalui asosiasi bebas (free Association) dapat memanggil kembali pengalaman-pengalaman masa lampau dan pelepasan kembali segala emosi yang berkaitan dengan situasi-situasi traumatik dimasa yang lampau, namun hanya menghasilkan perbedaan sementara atas pengalaman-pengalaman yang menyakitkan yang dialami klien. 2. Sugesti dan frustasi. Sugesti adalah usaha terapis untuk menanamkan pikiran-pikiran untuk membangkitkan kepercayaan tertentu secara halus dan sangat hati-hati kepada klien. Empati memberikan pandangan-pandangan yang luas agar klien dapat melihat permasalahan-permasalahan objektif dan rational. 3. Penjaminan kembali (reasurance) Penjaminan kembali juga merupakan tehknik psikoterapi, yang dilakukan dengan cara komentar yang halus, juga dilakukan dengan menyatakan secara tegas dan menunjukkan tentang apa yang telah dicapai oleh klien. Penjaminan kembali

yang

dilakukan secara jujur akan menambah keyakinan klien akan kejujuran

terapis sehingga menimbulkan dan kepercayaan penuh terhadapnya. 4.Bimbingan Bimbingan diperlukan untuk mengatasipersolan persoalan atau

kesulitan yang dialami individu

dalam kehidupannya, atau untuk mencegah

terjadinya kesulitan kesulitan, agar mencapai tujuan yang diharapkan yang kesehjateraan hidup individu. 5.Konseling Tujuan utama dari konseling adalah klien lebih menyadari diri, memiliki kesadaran yang penuh atas kehidupan batinnya menerim perasaan perasaannya sendiri tujuan jangka panjang dan luas mencakup penemuan otonomi dan kebebasan aktualisasi diri penemuan evaluasi internal kepribadian menjadi lebih terintegrasi dalam hubungan ini. b.Psikoterapi wawasan (insight pserapiycotheraphy). Terapi wawasan adalah terapi yang diberikan kepada klien yang mengalami gangguan tingkah laku mental atua gangguan tingkah laku yang berorientasi pada wawasan atau, pengertian klien, mengerti diri, berrtanggang jawab atas siapa dirinya. Teknik terapi wawasan dilakukan dengan: 1).Wawancara (interviu) Untuk menentukan diagnosa tentang jenis gangguan tingkah laku diperlukan adanyanya percakapan dengan klien yaitu wawan cara.Mellui wawancara berusaha mengungkapkan perasaan perasaan dan keyakinan keyakinan lagi klien yang keliru, yang ada. Wawancara dapat dilakukan secara lembut dan dapat juga dengan kasar dan keras. Wawancara keras dilakukan untuk memaksa klien membuka diri tentang hal hal yang mengganggu pikirannya. melalui wawancara lembut pula akan menimbulkan wawasan baru tentang dinamika perasaanya, tentang hubungannya dengan orang orang sekelilingnnya. 2).Interview Sikap,yaitu tehnik apakah sikap menerima atau tidak sesuai dengan kenyataan kenyataan keyakinan klien yang keliru, yang tidak sesuai dengan kenyataan kenyataan yang

menolakinterview yag menimbulkan sikap antipati dari klien apakan menutup saluran informasi yang sangat dari klien.

3).Bimbingan sosial perorangan (social case suatu work) Terapi bimbingan perorangan adalah proses dalam individu atas dasar orang perorangan sehingga mencapai tingkat perkembangan kepribadian yang maaksimal dan penyesuaian diri yang baik. Didalam kegiatan bimbingan perorangan atau bimbigan sosial perorangan mempunyai beberapa komponen; (1) pribadi (person) yaitu anak yang mempunyai masalah yang ada dalam hal ini adalah anak tunalaras; (2) tempat, dimana bimbingan itu dilakukan; (3) adanya tenaga profesional (terapis, psikolog, dokter); (4) yang membantu klien mengatasi diharapkan yaitu penyelesaian. 4).Rekondising Tehnik kondisioning ini berasal dari teori belajar baik kondisioning operan maupun kondisioning responden. Kan bagi kedua duanya diberikan dengan memberikan pengutan bagi tingkah laku yang diinginkan. Pada kodisioning operan diberikan penguatan yag positif penguatan pada kondisioning dan penguatan negatif.Terdapat perbedaan dad pada kodisioning responden.Pada yang operan masalah sehingga mencapai tujuan yang

kondisioning responden penguatan diberikan sebelum tindakan yang diperkuat, sedangkan pada kondisioning operan penguatan diberikan sesudah tindakan diberbuat (Linda L. Davidof, 1980). c. Terapi Psikonalitik Terapi psikonalitik termasuk psikoterapai rekonstruktif karena dengan terapi ini berusaha untuk mengerti tentang konflik konflik yang ada pada alam tak sadar dengan usaha untuk mendapatkan perubahan yang luas dari struktur kepribadian dan pengeluasan dari pada pertumbuhan kepribadian dengan pengembangan potensi penyesuain diri yang baru (Meramis, 1992).

1).Analisis mimpi (anlysis of dream) Dengan analisis mimpi dapat diartikan sebagai keinginan yang tak sadar yang muncul dalam kesadaran. Dengan perealisasian dari keinginan. 2).Asosiasi bebas (free associaton) Asosiasi - asosiasi merupakan pertanda adanya hal hal yang mencemaskan. Terapis menyampaikan klien. hal itu kepada klien, membimbing klien kearah peningkatan pemahaman atas dinamika dinamika yang mendasari, yang kadang kadang tidak disadari kata lain bahwa mimpi itu tidak lain dari pada

3).Resistensi

Resistensi bersifat positif dalam proses penyembuhan karena dengan penolakan ini terapis akan mengetahui seberapa kemampuan klien menyerap pesan pesan terapis, sehingga terapis juga mampu menilai tehnik tehnik maupun pendekatan yang digunakan dalam proses penyembuhan.
4).Tranferensi (tranference)

Tranferensi merupakan proses pengalihsn sasaran masa lampau dialihkan kesasaran masa sekarang.Transferensi ini dikatakan positif karena dapat merupakan sasaran untuk dapat memahami masa lampau dan didalam transferensi klien didorong atau diupayakan untuk mentransferansi sikap sikap kepada trapis. 5).Isi Ketidaksadaran (uncouncious content) Ketidak sadaran mengandung berbagai ide dan efek yang ditekan. Bahan bahan dialam tidak tak sadar biasanya tidak dapat diingat kembali, tanpa usaha. Isi yang terpendam hanya dapat dikeluarkan dari alam ketidak sadaran ke dalam alam sadar hanya bila sensor itu dibuat tak berdaya seperti pada pembentukan

gejala neurotik, dibuat santai (separti dalam keadaan mimpi) atau dalam keadaan dikelabui (separti dalam lelucon). 6).Penafsiran (interpatition) Penafsiran adalah suatu prosedur dasar dalam menganalisa asosiasi asosiasi bebas, mimpi mimpi, resistensi resistensi dan transferensi. Prosedurnya terdiri atas tindakan tindakan terapi yang menyatakan, menerangkan, bahkan mengajarkan klien makna makna tingkah laku yang dimanivestasikan oleh mimpi mimpi asosias bebas, resistensi-resistensi dan oleh hubungan terautik itu sendiri. Fungsi penafsiran penafsiran mendorong ego untuk mengasimilasi bahan bahan baru dan mempercepat proses penyingkapan terapis menyebabkan pemahaman dan tidak terhalanginya bahan tak sadar pada klien.
2. TERAPI TINGKAH LAKU (BEHAVIOR THERAPY)

Terapi tingkah laku merupakan penerapan berbagai tehnik dan prosedur yang ada pada berbagai teoti belajar. Prinsip prinsip belajar yang sistematis dapat diterapkan untuk mengatasi gangguan tingkah laku menuju kearah tingkah laku yang adaptif. Melalui belajar dapat membantu manusia menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Berdasarkan terapi tingkah laku dapat dilakukan tingkah laku. teori belajar, modifikasi tingkah laku dan terhadap masalah masalah penyimpangan

a.Tujuan Terapi Tingkah laku Tujuan terapi tingkah laku adalah: (1)menghapus pola pola tingkah laku yang maladaptip dan membantu klien dalam mempelajari pola pola tingkah laku yang konstruktif: (2) mengubah tingkah laku; (3)tujuan spesifik dipilah oleh pilhannya klien ; (4)tujuan tujuan yang luas dipecah dalam sub tujuan sub tujuan yang tepat. Tujuan terapi tingkah laku adalah menciptakan kondisi kondisi yang baru bagi proses belajar.

Terapi

tingkah

laku

pada

hakekatnya

merupakan

proses

penghapusan hasil belajar yang maladaptid dan memberikan pengalaman pengalaman belajar yang didalamnya mengandung respon respon yang layak yang belum dipelajari. b.Ciri ciri terapi tingkah laku Terapi tingkah laku oleh: (1) pemusatan perhatian kepada tingkah tujuan-tujuan

laku yang tampak dan spesifik; (2) kecermatan dan penguraan masalah ; (4) penafsiran objek atas hasil-hasi (Gerald Corey, 1988). c.Tehnik-tehnik terapi perilaku

treatmen; (3) perumusan prosedur treatrnent yang s pesifik yang sesuai dengan

Penggunaan tehnik- tehnik dalam terapi tingkah laku harus di sesuaika dengan kebutuhan kebutuhan individual klien dan tidak ada tehnik yang diterapkan secara rutin pada setiap klien tanpa disertai metode metode alternatif untuk mencapai tujuan yang diharapkan klien . 1).Tehnik desetititasi sistematik Desentisasi sistematik adalah salah satu tehnik yang banyak digunakan dalam terapi tinkah laku tehnik ini digunakan untuk menghapus tingkah laku yang diperkuat secara negatif,dan menyertakan pemunculan tingkah laku atau respon yang berlawan dengan tinkah laku yang hendak dihapuskan itu,.desensiti sasi diarakan kepada mengajar klien untuk menampilkan suatu respon yang tidak konsisten dengan kecemasan. 2).Tehnik Inplosif dan Pembanjiran Tekhnik pembanjiran dan tehnik inplonsif ini sendiri atas

pemunculan stimulus berkondisi secara berulang ulang tanpa penguatan.

3).Tehknik Latihan asertif Latihan asertif dapat diterapkan terutama pada situasi situasi interpersonal dimana individu mengalami kesulitan untuk menerima kenyatan bahwa menyatakan atau menegaskan diri adalah tindakan yang layak atau benar. 4).Tehknik aversi (hukuman ) Tehknik aversi adalah cara cara yang paling konteroversial yang digunakan oleh para behavioris, meskipun secara luas digunakan untuk mengubah tingkah laku yang diinginkan. Misanya bagi anggota atau karyawan dari suatu perusahaan yang melakukan penyimpangan akan bertindak dengan cara pemecatan atau penunggakan pembayaran upah/gaji. 5).Tehknik pengkondisian peran Menurut skinner (1971), jika suatu tingkah laku diganjar perkuatan yang menggunakan muncul kembali tingkah laku tersebut Prinsip perkuatan pola pola tingkah laku, merupakan inti dari pengkondisian opera. a). Perkuatan positif ; pembentukan suatu pola tingkah laku dengan memberikan ganjaran atau perkuatan segera setelah tingkalaku yang diharapkan muncul. b). Pembentuk respon ; Pembentukan respon respon yang pada berwujud pengembangan mulanya tidak suatu akan tinggi. yang menerangkan perkuatan, pemeliharaan atau penghapusan

terdapat dalam

pembendaharaan tingkah laku individu. c).Penghapusa ; Tingkah laku maladepted adalah menarik perkuatan diri tingkah laku yang maladapted itu. d).Tingkah laku intermiten ; Tingkah laku yang dikondisikan intermiten oleh perkuatan

pada umumnya lebih tahan terhadap yang terus

penghapusan dibandingkan dengan tingkah laku yang dikondisikan melalui pemberian perkuatan menerus.

5).Token economy Metode token economay dapat digunakan untuk membentuk tingkah laku apabila persetujuan dan permukuat - permukuat yang tidak bisa diraba lainnya tidak memberi pengaruh

3.TERAPI SOSIAL (SOCIOTEHERAPAY) Terapi sosial diberikan dalam keadaan individu berada dalam situasi kelompok, karena manusia pada hakekatnya adalah dengan sistem sosial. a.Terapi kelompok Dalam suasana kelompok, ada kelompok homogen dan mahluk sosial. Terapi sosial ditunjukkan kepada individu individu yang mengalami gangguan dalam hubungannya

kelompok hetorogen suatu kelompok homogin apabila sifat dan kualitas anggota anggotanya adalah sama.sebaliknya kelompok heterogen, walaupun ada perbedaan individual diharapkan para anggota kelompok dapat menolak kepentingan pribadinya demi mencapai tujuan bersama. b.Terapi keluarga ( family tehrapay) Terapi keluarga atau pemihakan itu sendiri yang menjadi sumber setres, sehingga berakibat buruk terhadap anggota, keluarga, satu orang bila interaksi atau pola seperti anaknya.sukar untuk mengobati

komunikasi itu yang mengalami gangguan, karena semua anggota keluarga merupakan kesatuan dan merka terus menerus saling mempengaruhi

BAB VII PEMBAHASAN

PENANGGULANGAN TINGKAH LAKU ANAK TUNALARAS 1. Penanggulangan Anak Hiperaktif Karena tinggah laku yang diperhatikan anak hiperaktif selalu mencemaskan para orang tua,ahli ilmu jiwa ,ahli ilmu penyakit anak,adan ahli pendidikan,maka interfensi dan penanggulangan tingkah laku anak hiperaktif banyak dibicarakan.ada beberapa alternative yang dikemukakan oleh beberapa para ahli untuk

menanggulangi masalah tersebut,sesuai dengan sudut pandang mereka masingmasing. Intervensi Biofisik Menurut teori ini, individu yang normal, secara hayati di pandang lengkap dan sehat, memiliki perkembangan yang sesuai dengan usia kalendernya. Sedangkan anak hiperaktif mempunyai penyakit tertentu didalam tubuh mereka, yang menyebabkan mereka menjadi hiperaktif. Penyakit ini dikarenakan dari tidak normalnya turunan (genetis), factor organik (system saraf pusat ) yang rusak tak berfungsinya otak secara minimal, atau factor lingkungan (toksin, infeksi,p enyakit dan lain-lainya). Pandangan biofisik ini menghasilkan rancangan dengan

penyembuhan/penanggulangan tingkah laku hireaktif secara langsung mengunakan obat dan diet.

1) Terapi dengan memakai obat . Menurut barkley (1981),safer & krager (1984,1988) yang dikutip oleh rosenbeng etal.(1992) menyatakan bahwa diatas 600.000 anak-anak populasi anak sekolah (1-2%) mengunakan obat untuk menangani tingkah laku hiperaktif jenis abot yamg sering digunakan ialah obat perangsang (stimulus) antara lain seperti pemolina,dekstroamfetemina dan metilfenidat dekstoamfetamina dan metal-fenidat dapt disuntikkan dan mudah diserap system pencernaan. 2) Terapi dengan melakukan diet. Selain pemberian obat untuk menanggulagi tingkah laku hiperaktif dapat juga dilakukan penanggulangan dengan cara diet. Diet yang dimaksud disini ialah menambah unsur-unsur yang tidak ada dalam makanan, misalnya beberapa vitamin, dan beberapa mineral, misalnya seng (tayler,1985) teori yang menyebutkan, bahwa kekurangan (deficiency) dalam stuktur kimia tubuh dapat diatasi dengan memberikan vitamin dalam dosis yang tingi.namun demikian terutama pada orang tua dianjurkan lebih hati-hati untuk menerapkan pemakian diet ini karena: pertama belum ada hasil penelitian yang sungguhsungguh dapat dipercaya mengenai hasil dan efek diet yang jitu menanggulangi tingkah laku anak hiperaktif untuk

Intervesi Behavioral Intervensi model behavioral meniti beratkan penanggulangan tingkah laku hiperaktif pada tingah laku individu yang dapat diobserpasi.menurut Resenbeng Et al. (1992), bahwa semua tingkah laku,baik yang sesuai ataupun yang menyimpang ,pada dasarnya diperoleh dengan dipelajari.menurut behavior ini bahwa masa depan individu sangat dipegaruhi oleh kejadian -kejadian lingkungan yang merupakan pengalaman baginya.jadi menurt model behavior ini,anak menjadi hiperaktif,karena tingkah laku yang dipelajarinya dari lingkungan. Beberapa

teknis yang dapat dipergunakan untuk menangulangi tingka laku anak tunalaras (termaksud tingkah laku menarik diri atau social withdrawal, dan kenakalan yang membangkan peraturan) antara lain antara lain ialah: a) Meningkatkan tingkah laku yang positif Setiap anak,walapun ia seorang anak hiperaktif ,ataupun normal tetapi memiliki tingkah laku positif tidak anak yang tidak mempunyai segi positif sedikit pun. Bahkan anak yang paling parah hiperaktifnya masih bias mengsyikan sebuah mainannya,menonton televise ,walaupun dalam tempo yang relative singkat . Ada beberapa strategi untuk meningkatkan tingkah laku yang positif tersebut a) Membuat daftar kelakuan baik anak

b) Member imbalan c) Membuat perjanjian (kontrak )secara tertulis d) System token b) Mengurangi tingka laku negative Ada beberapa alternative yang tersedia untuk menguragi frekuensi tingkah laku yang tidak diinginkan antara lain: a) Pembiasan b) Hukuman Modifikasi tingkah laku kongnitif Belakang ini telah diterapkan kombinasi psikologi kongnitif dan modifikasi tingkah laku kepada peserta didik hiperaktif .pengaruh kongnitif pada prinsip prinsip tigkah laku terpusat pada peran media dalam belajar dan bagaimana

proses simbolik internal mempengaruhi tingka laku . Terapi-terapi lainya a) Progressive relaxation Semula terapi ini diterapkan untuk orang dewasa yang mengalami rasa cemas (anxiety) dan masalah yang berhubungan dengan otot,lalu diterapkan untuk hiperaktif .tehnik ini diterapkan bagi anak hiperaktif karena diyakini bahwa tingkah laku anak hiperaktif yang tidak cocok itu adalah akibat kurangnya fungsi system saraf pusat. b) Stimulasi minimal

Strategi ini menggunakan ruangan kelas pencoban yang dirancang untuk mentes pengaruh stimulus yang menimimal mungkin,pada masalah belajar dan tingkah laku anak . 2. Penanggulangan Anak Agresif Tingkah laku agresif ini sangat menarik perhatian guru-guru ,karena sifat dari tindakan meraka yang bengis.secra alamiah banyak pendidik dan para orang tua ingin mendapatkan cara penanggulangan cara yang cepat dan tepat untuk anak agresif tetepi sayangnya pada kasus-kasus umumya menghendaki penanggulangan yang meminta waktu dan energy dan proses yang akan lebih efektif jika ditangani dengan perencanan yang lebih teliti,teratur dan dimonitor. Tingkah laku agesif Nampak berbeda dari penyimpangan tingkah laku yang lain karena pertama ,tingkah laku anak agresif selalu menimbulkan kerugian bagi lingkunganya atau orang lain.kedua tingkah laku agresif selalu mempunyai mangsa atau korban. c) Intervensi psikodinamika Menurut sejarah,orang-orang memprektekan psikodinamik memekai cara kekerasan untuk menenggulangi tingkah laku anak agresif. Dalam pandangan mereka tingkah laku agresif adalah suatu mekanisme pertahan yang diciptakan oleh individu untuk menghadapi timbulnya

kecemasan,karena tidak terpecakannya konfik intra psikis lagi pula menurut teori psikoanalisa,tingkah laku agresif adalah suatu dorongan instinktif yang pernah ada sedangkan manusia yangb baik dapat men ghadapkan untuk mengubah saluran,merubah tujuan ,atau mengadakan sublimasi(berkowitz,1962) dan dikutip resenbeng,et al,(1992). 3. Penanggulangan anak social withdrawa Istilah social withdrawal dalam tulisan ini tetep dipakai.menurut odom dan klyen, rosenbeng,et al,(1992),anak social withdrawa mempunyai 3 karakterristik yaitu pertama membiasakan dirinya dengan bermain sendiri.kedua jarang sekali mengadakan social interaksi dengan teman teman sebaya ketiga mereka jarang berbicara .dengan singkat disebutkan ada tiga pengarahan guru,bantuan teman sebaya mengelola peserta didik. a) Intervensi yang diarahkan guru b) Penanggulangan dengan bantuan teman sebaya c) Intervensi mengelola peserta didik 4. Penanggulangan tingkah laku rule breaking dan delinkwensi

Menurut Rosenbeng,et al,(1992),ada beberapa pendekatan dan intervensi untuk menanggulangi tingkah laku anak rule-breaking dan delinkwensi yaitu: a) Intervensi psikodinamik b) Model psikoterapi c) Intervensi behavioral d) Intervensi tingkah laku kongnitif e) Teknik ekologi Beberapa diantara teknik yang telah dibahas untuk penanggulangan tingkah laku hiperaktif dan agresif tidak dibahas lagi pada bagian ini. Berikut ini ada beberapa tehnik untuk menanggulangi tigkah laku hiperaktif dan agresif . a) Pemecahan masalah interpersonal b) Perspective taking c) Intervensi dengan pendekatan secara ekologi. 5. Penanggulangan anak tuna laras di Indonesia Walaupuan termaksud kedalam istilah anak tunalaras ada beberapa jenis anak biasa,terapi sangat menarik perhatian masyrakat laus adalah mereka mereka yang bertingkah laku merusak mengganggu dan tak jarang menyebapkan korban bagi lingkungan ditempat mereka berada (misalnya anak hiperaktif ,anak agresif rule breaking,delinkwensi,dan sebagainya.) keberadan mereka dimana saja selalu meresakan lingkunganya.untuk

menanggulagi tingkah laku mereka yaitu upaya masing-masing orang tua,upaya sekolah ,upya masyarakat dan upaya pemerintah.