Anda di halaman 1dari 19

BAB I PENDAHULUAN

Mata adalah indera penglihatan yang mempunyai peran yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Walaupun mata berukuran kecil, namun kerusakannya dapat mempengaruhi kualitas hidup manusia dan dapat mengakibatkan ketergantungan hidup terhadap orang lain. Mata adalah organ yang sensitif dan juga mudah terkena penyakit. Mata dapat terganggu baik jika ada kelainan pada bagian mata itu sendiri maupun jika ada susatu penyakit sistemik . Gangguan pada mata dapat berupa keluhan mata merah, kabur, penglihatan berkurang, nyeri dan sebagainya. Salah satu bagian mata yang dapat mengalami kerusakan adalah pembuluh darah. Seluruh pembuluh darah di tubuh manusia berkemungkinan untuk mengalami kerusakan, mulai dari infeksi, spasme, kebocoran. Pembuluh darah di mata juga berkemungkinan untuk terjadi infeksi. Vaskulitis adalah inflamasi dari pembuluh darah. Vaskulitis dapat bersifat sistemik, misalnya pada leukocytoclastic vasculitis, granulomatous angiitis, giant cell arteritis, systemic nerotizing vasculitis dan thromboangiitis obliterans. Vaskulitis juga dapat terjadi pada mata, misalnya pada retinal vaskulitis dan choroidal vaskulitis. Vaskulitis pada pembuluh darah mata juga dapat terjadi karena suatu inflamasi pembuluh darah sistemik, misalnya pada Wegeners disease, Behet disease, Eales disease. Walaupun vaskulitis pada relatif jarang terjadi, namun tetap harus diwaspadai karena terdapat penurunan bahkan penglihatan yang tidak disertai dengan rasa sakit maupun mata merah, sehingga pasien tidak sadar telah mengalami penyakit tersebut. Pasien seringkali datang ketika telah terjadi perdarahan berulang, pada fase neovaskularisasi dan mengalami perdarahan vitreus. Karena pembahasan tentang vaskulitis sangatlah luas, maka pada telaah ilmiah ini akan lebih ditekankan tentang retinal vaskulitis, yang lebih sering terjadi pada mata.

BAB II

ANATOMI RETINA
Retina adalah selembar tipis jaringan saraf yang semitransparan dan multilapis yang melapisi bagian dalam dua per tiga posterior dinding bola mata. Retina membentang ke depan hampir sama jauhnya dengan korpus siliaris, dan berakhir di tepi ora serrata. Pada orang dewasa, ora serrata berada sekitar 6,5 mm di belakang garis schwalbe pada sisi temporal dan 5,7 mm di belakang garis ini pada sisi nasal. Permukaan luar retina sensorik bertumpuk dengan lapisan epitel berpigmen retina sehingga juga bertumpuk dengan membrane bruch, koroid, dan sklera.

Gambar 1. Anatomi Mata

Lapisan-lapisan retina mulai dari sisi dalamnya adalah : a. Membran limitans interna b. Lapisan serat saraf, yang mengandung akson-akson sel ganglion yang berjalan menuju nervus optikus c. Lapisan sel ganglion d. Lapisan pleksiformis dalam, yang mengandung sambungan-sambungan sel ganglion dengan sel amkrin dan bipolar

e. Lapisan inti dalam badan sel bipolar, amakrin dan sel horizontal f. Lapisan pleksiformis luar, yang mengandung sambungan-sambungan sel bipolar dan sel horizontal dengan fotoreseptor g. Lapisan inti luar sel fotoreseptor h. Membran limitans eksterna i. Lapisan fotoreseptor segmen dalam dan luar batang dan kerucut
j.

Epithelium pigmen retina.1

Gambar 2. Lapisan Retina

Retina mempunyai tebal 0,1 mm pada ora serrata dan 2,3 mm pada kutub posterior. Di tengah-tengah retina posterior terdapat makula yang merupakan daerah pigmentasi kekuningan yang disebabkan oleh pigmen luteal (xantofil), yang berdiameter 1,5 mm. Di tengah makula, sekitar 3,5 mm di sebelah lateral diskus optikus, terdapat fovea, yang merupakan suatu cekungan yang memberikan pantulan khusus bila dilihat dengan oftalmoskop. Foveola adalah bagian tengah fovea dimana sel fotoreseptornya adalah sel kerucut dan merupakan bagian retina yang paling tipis. Dua sel fotoreseptor pada retina adalah sel batang dan sel kerucut Kedua fotoreseptor ini dapat dibedakan berdasarkan karakteristik khususnya masing-masing seperti bentuk, segmen luar dan dalam, posisi nukleus, dan bentuk terminal sinapsisnya. Semua sel fotoreseptor memiliki segmen luar yang mengandung pigmen

penglihatan dan segmen dalam yang berisi nukleus dan terminal sinapsis. Segmen luar dan dalam, baik untuk sel batang ataupun sel kerucut dihubungkan oleh suatu jembatan sitoplasma yang bersilia. Rata-rata retina manusia memiliki 4,6 juta sel kerucut dan 92 juta sel batang. Penyebaran sel-sel fotoreseptor pada retina membentuk suatu pola. Distribusi sel kerucut terbanyak terdapat pada fovea, sekitar 10% dari jumlah total sel kerucut yang ada di retina sehingga berperan dalam penglihatan warna dan ketajaman penglihatan terbaik. Kemudian, distribusi sel kerucut ini menurun setelah melewati makula. Sel batang juga memiliki distribusi sendiri pada retina. Sekitar 0,25 mm sentral dari fovea, tidak terdapat sel batang. Distribusi sel batang ini kemudian akan meningkat sekitar 5 dan 7 mm pada wilayah eksenteritas berikutnya. Distribusi sel batang terbanyak terdapat pada cincin elips pada eksenteritas lempeng optik dan meluas ke retina nasal dengan lokasi terbanyak pada retina superior. Distribusi sel batang inilah yang menjadikan peranannya dalam fungsi penglihatan perifer. Klasifikasi sel-sel fotoreseptor didasarkan pada gambaran mikroskopik pada ujung sel tersebut. Sel kerucut semakin mengecil pada segmen luarnya, sedangkan sel batang berbentuk silinder atau seperti batang. Segmen luar pada sel kerucut dihubungkan oleh suatu terminal sinapsis yang lebar yang disebut pedicle, sedangkan terminal sinapsis pada sel batang berbentuk lebih kecil yang disebut sphrules. Selain berdasarkan gambaran morfologi tersebut, pengklasifikasian sel fotoreseptor juga didasarkan pada kemampuan fotosensitivitasnya. Retina menerima darah dari dua sumber yaitu khoriokapilaria dan cabangcabang arteri sentralis retina. Khoriokapilaris memperdarahi sepertiga luar retina, termasuk lapisan pleksiformis luar dan lapisan inti luar, fotoreseptor, dan lapisan epitel pigmen retina sedangkan cabang-cabang arteri sentralis retina memperdarahi dua pertiga sebelah dalam retina.1,2

BAB III VASKULITIS


4

A.

Definisi Vaskulitis adalah inflamasi dari pembuluh darah.3 Vaskulitis yang paling

banyak terjadi pada mata adalah vaskulitis pada pembuluh vena retina, atau biasa disebut periphlebitis.3 Pada beberapa kasus juga ditemukan vaskulitis dari arteriola, atau disebut periarteritis.3 Umumnya disebut dengan retinal vaskulitis. Retinal vaskulitis adalah sekumpulan manifestasi yang disebabkan oleh inflamasi pada vaskularisasi retina, yang dapat terjadi bersamaan dengan inflamasi intraokuler. B. Etiologi Penyebab dari vaskulitis belum dapat diketahui. Vaskulitis dapat merupakan penyakit primer, maupun penyakit sekunder, ataupun merupakan bagian dari suatu penyakit sistemik dan muncul bersamaan dengan penyakit mata lainnya.4,5,6 Vaskulitis juga dapat berupa suatu manifestasi lokal dan neoplasma. penyebabnya adalah multifaktorial.4 Berikut beberapa penyakit yang biasa menyertai retinal vaskulitis. Namun kebanyakan

Kelainan pada pembuluh darah retina yang tidak disebabkan oleh proses inflamasi, misalnya karena peningkatan viskositas darah, aterosklerosis dan anomali

kongenital, tidak dimasukkan dalam retinal vaskulitis, namun sama-sama termasuk dalam retinal vaskulopati.7 Perbedaan antara vaskulitis sistemik dan retinal vaskulitis adalah ukuran pembuluh darah yang terkena, pada retinal vaskulitis pembuluh darah yang terkena umumnya mikrovaskular hingga kecil, sedangkan pada vaskulitis sistemik ukurannya lebih bervariasi.7 Vaskulitis juga memiliki beberapa faktor predisposisi, misalnya faktor genetik seperti HLA-DR3 pada SLE, HLA-DR4 pada retinal vaskulitis idiopatik, reumatoid artritis dan Takayasus disease. Retinal vaskulitis juga ditemukan pada Behet diseases yang berhubungan dengan kelainan pada HLA-B5101.5 Beberapa tipe HLA lainnya juga berhubungan dengan Behet disease dan multiple sclerosis.8,9 C. Patofisiologi Terdapat beberapa mekanisme imunitas atas terjadinya vaskulitis, yaitu reaksi kompleks imun, reaksi autoantibodi, dan reaksi hipersensitivitas.9 Pada beberapa penyakit, retinal vaskulitis sendiri disebabkan oleh deposit kompleks imun yang dihasilkan oleh antigen dan antibodi. Beberapa orang dengan sistem imun rendah dapat memiliki kemampuan untuk menghilangkan debris jaringan atau antigen berlebih yang kurang efisien, sehingga kompleks imun tersebut dapat menarik sel polimorfonuklear yang akan menyebabkan kerusakan jaringan maupun pembuluh darah. Hal ini biasa terjadi pada orang dengan SLE, poliartritis nodosa, Behet disease, dan retinal vaskulitis yang penyebabnya tidak diketahui.6,10,11 Antibodi juga dapat mengikat antigen dari suatu sel maupun jaringan secara langsung, sehingga menyebabkan aktivasi sistem komplemen yang menghasilkan lisis sel maupun kerusakan toksik, seperti biasa terjadi pada keganasan, Wegener granulomatosis dan poliartritis nodosa.12,13 Autoantibodi terhadap sel endotel ditemukan pada 47% pasien retinal vaskulitis yang terkait dengan penyakit sistemik, dan ditemukan pada 35% pasien retinal vaskulitis idiopatik.14

Reaksi hipersensitivitas tipe lambat juga terjadi Wegener granulomatosis, sarcoidosis dan simpatika ophthalmia.15 Pada Eales disease ditemukan pada 50% pasien terjadi reaksi hipersensitivitas tipe lambat terhadap suatu purified protein derivavtive.7 D. Insiden Retinal vaskulitis umumnya jarang terjadi.16 Pada Behhet disease, retinal vaskulitis terjadi pada 60-80% pasien, prevalensi dari Behhet disease sendiri adalah 0,12-370/100000 penduduk, dengan ratio pria : wanita adalah 1:1.6 Retinal vaskulitis dapat terjadi pada segala usia, terbanyak pada usia dewasa muda. Dapat terjadi pada orang sehat, dengan etiologi tidak diketahui. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa insiden cukup tinggi pada orang dengan TB (>20%) namun hubungan dengan TB belum dapat dijelaskan dengan pasti. Beberapa mengemukakan bahwa tidak ada hubungan antara TB dan retinal vaskulitis.6 Kelainan retina terjadi pada 25% pasien dengan SLE, 40% pada pasien PAN. Retinal vaskulitis juga terjadi pada 3-5% pasien Wegener granulomatosa, prevalensi dari Wegener granulomatosa sendiri adalah 8 per 1 milyar penduduk.6 Sedangkan pada penderita Rheumatoid arthritis, retinal vaskulitis ditemukan pada 18% penderita yang menjalani fluorescein angiography.17 E. Klasifikasi Pembagian retinal vaskulitis dapat didasarkan pada proses peradangannya, Retinal vaskulitis termasuk dalam retinal vaskulopati yang disebabkan oleh proses inflamasi. Retinal vaskulopati dibedakan menjadi 2, yaitu karena proses inflamasi dan non-inflamasi.7

Tabel. 1 Klasifikasi Retinal Vaskulopati Klasifikasi Retinal Vaskulopati Penyakit


Non-inflammatory

Contoh

Atherosclerosis Congenital anomalies Increased blood viscosity Inflammatory Secondary to chorioretinal inflammation As part of systemic disease Vaso-occlusive disease Primary retinal vasculitis

Diabetes mellitus Coats' disease Hemoglobinopathies, paraproteinemias Toxoplasmosis, cytomegalovirus Sarcoidosis, Behqet's syndrome, polyarteritis Anticardiolipin antibody-mediated Eales disease, frosted branch angiitis

Selain itu, ada pula yang mengklasifikasikan retinal vaskulitis sebagai primer dan sekunder, karena beberapa kasus tidak diketahui etiologinya dan tidak dapat menggunakan tabel diatas, sehingga dimasukkan dalam kategori primer.7 Menurut etiologinya, retinal vaskulitis dibagi menjadi 4, yaitu retinal vaskulitis yang penyebabnya tidak diketahui/idiopatik, kelainan/penyakit pada mata itu sendiri, penyakit infeksi, dan penyakit sistemik.
F.

Manifestasi Klinis Retinal vaskulitis dengan penyebab apapun dapat menuju kepada suatu sekuel

patologik yang bentuknya hampir sama dan dapat menyertai beberapa penyakit inflamasi primer dimanapun di tubuh. Manifestasi klinis awal dari retinal vaskulitis biasanya tidak spesifik, berupa infiltrat maupun eksudat perivaskuler dan sheathing of retinal vessels atau berupa penebalan dinding dari pembuluh darah disertai involusi pembuluh darah serta white cell cuffing. Keterlibatan hanya salah satu dari arteri atau vena jarang ditemukan. Pembuluh vena biasanya terkena lebih dulu dan lebih sering dibandingkan arteriol, kombinasi keduanya biasa terjadi.18 Pada pasien dengan retinal vaskulitis, pasien dapat datang dengan keluhan penurunan penglihatan parah hingga kebutaan mendadak, baik unilateral atau bilateral.19 Tidak terdapat tanda-tanda proses penyakit pada mata bagian luar, tidak terdapat kemerahan dan nyeri pada mata. Pasien juga dapat merasa pusing, nyeri kepala, nyeri tekan pada daerah temporal, nyeri saat mengunyah. Pada beberapa kasus

seperti pada PAN, TB dapat ditemukan demam, malaise, penurunan berat badan.19 Pada banyak pasien, retinal vasculitis dapat disertai dengan anterior uveitis, vitritis atau chorioretinitis.9 Dari pemeriksaan oftalmologi dengan ophthalmoskop, dapat ditemukan edema pada makula, eksudat dan pembengkakan retina. Dilatasi pembuluh vena, perdarahan retina baik fokal maupun multipel.6 Periphlebitis dan pebhlitis menunjukkan gambaran dilatasi sebagian, iregularitas vena dan perivenous cuffing yang terdiri dari leukosit dalam berbagai ukuran. Periarteritis dan arteritis dapat menunjukkan cotton-wool spot, yaitu deposit kompleks imun pada arteriol prekapiler, seperti pada SLE dan infeksi virus lainnya. 20 Pada pemeriksaan dengan Fundus Fluorescein Angiography, yang perlu diperhatikan adalah staining daripada dinding pembuluh darah retina dan kebocoran pembuluh darah. Pemeriksaan ini lebih sensitif untuk mendiagnosis retinal vaskulitis. Kebocoran fokal dapat ditemukan pada sarcoidosis, kebocoran yang diffuse ditemukan pada retinal vaskulitis yang berkaitan dengan Ealess maupun Behet disease. Perlu dilihat cotton woll spot yang menandakan adanya mikroinfark dari retina karena oklusi arteri. Pada PAN dapat pula terjadi choroidal vaskulitis. Dapat ditemukan pula infiltrat intraretinal, yang selalu ada pada Behet disease. Dilatasi aneurisma dari retina dan nervus optikus, gambaran reduplikasi pembuluh darah juga dapat ditemukan. Retinal iskemik harus dipastikan, untuk memutuskan apakah perlu untuk dilakukannya laser photocoagulation.21 Pada suatu penelitian yang dilakukan oleh Saurabh, et al pada 113 orang dengan retinal vaskulitis, didapatkan berbagai manifestasi klinis, yang paling banyak ditemukan adalah gambaran vaskuler berlapis yaitu pada 82 pasien, lalu vitritis pada 51 pasien, pembuluh darah sklerosis pada 48 pasien, dan lain-lainnya seperti yang terlampir di tabel 2. Tabel 2. Manifestasi klinis pada retinal vaskulitis

Retinal vaskulitis pada Behhet disease akan menimbulkan gambaran edema retina, eksudat putih kekuningan, serta perdarahan. Dapat terjadi bersama dengan hipopion, pan uveitism inflamasi koroid, retina, dan makula.6 Eales disease adalah penyakit idiopatik, biasanya bersifat perifer, terkadang retinal vasculitis terjadi bilateral yang menyebabkan neovaskularisasi pada perifer. Manifestasi klinis yang dapat dapat ditemukan adalah benda terbang dan kehilangan penglihatan dalam berbagai derajat yang tidak disertai rasa nyeri. Terkadang vaskulitisnya sembuh sendiri dan perdarahan kecil dapat direabsorpsi. Hilangnya penglihatan disebabkan oleh perdarahan vitreus berualng dan jarang disebabkan oleh iskemia vaskuler. Tanda pada penyakit Easels dapat dibagi menjadi tanda inflamasi, tada iskemik dan tanda neovaskularisasi.6

10

Tanda inflamasi adalah berupa perplebitis perifer. Terdapat eksudat perivaskuler pada segmen pembuluh darah. Pada pemeriksaan dengan fluorescein, pembuluh darah dengan vaskulitis akan tertandai. Tanda iskemia berupa perdarahan retina superfisial, namun tanda dot dan blot jarang ditemukan. Didapatkan gambaran reduplikasi dan beading sebagai respon iskemik. Didapatkan area yang tidak mendapatkan perfusi. Tanda dari neovaskularisasi adalah pembuluh darah baru pada cabang pembuluh darah antara retina yang vaskuler dan avaskuler. Pada pasien pasien yang datang dengan perdarahan vitreous, 80% nya telah mengalami neovaskularisasi. Terdapat gambaran perdarahan multipel, dan dapat terjadi robekan linear pada retina.6

Gambar 3. End stage eye with severe neovascularization

Dari pemeriksaan laboratorium, perlu diperiksa darah rutin, complete blood count, kimia darah, Eritrocyte sedimentation rate. Perlu pula diperiksa fungsi hari dan ginjal, kadar globulin, serum glukosa dan urinalisis untuk menyingkirkan keterlibatan ginjal. Foto rontgen thorax juga cukup berguna untuk mendiagnosis TB maupun melihat tanda adenopathy pada sarcoidosis. Pemeriksaan antibodi treponema juga berguna untuk menyingkirkan sifilis. Pemeriksaan CRP untuk mengetahui apakah ada PAN. Interleukin 10 untuk mendiagnosis adanya limfoma intraokular.9 HIV serology diperlukan untuk mengetahui adanya HIV/AIDS.7

11

Pemeriksaan virus, bakteri maupun jamur juga diperlukan pada pasien yang mengalami imunosupresi. Menurut manifestasi klinisnya, retinal vaskulitis dibagi menjadi 4 fase : 1. Fase Inflamasi : Vena perifer yang terkena akan mengalami pembengkakan dan mengalami eksudat perivaskular., permukaan pembuluh darah tampak berlapis (sheating), perdarahan superfisial berbentuk flame-shaped. 2. Fase iskemik : ditandai dengan hilangnya pembuluh darah yang terkena dan perluasan daerah avaskuler di perifer yang dapat dilihat dengan fundus fluorescein angiography. 3. Fase neovaskularisasi retina : ditandai dengan pertumbuhn pembuluh darah abnormal pada perbatasan retina yang mendapat perfusi dan tidak mendapat perfusi. Pembuluh darah baru ini rapuh sehingga dapat menyebabkan perdarahan vitreous
4. Fase sekuel : terjadinya komplikasi seperti vitreretinopati proliperatif,

robekan retina, rubeosis iridis dan glaukoma neovaskuler.22 G. Diagnosis Diagnosis retinal vaskulitis dapat ditegakkan dari anamnesis dan pemeriksaa fisik serta pemeriksaan tambahan/penunjang. Penegakkan diagnosis ini dapat dilakukan bersama dengan penyakit yang mendasarinya ataupun kelainan mata lainnya seperti uveitis ataupun oklusi arteri retina. Dari anamnesis dapat ditemukan keluhan-keluhan umum seperti demam, penurunan berat badan dan malaise. Pada pemeriksaan oftalmologikus ditemukan keluhan utama yaitu gangguan penglihatan yang bervariasi, mulai dari pandangan mata kabur, berawan bahkan visus menurun serta kebutaan. Gangguan ini dapat bersifat sementara namun akan menjadi progresif. Selain itu ditemukan pula keluhan seperti photopsia, skotoma sentral, benda terbang dan berkurangnya persepsi warna.6

12

Dari pemeriksaan dengan oftalmoskop didapatkan gambaran pembengkakan pada pembuluh darah yang terkena baik arteri maupun vena, edema makula dan eksudat.6,23

Gambar 4 dan Vascular sheating dan Reduplication 5.

Pada pemeriksaan dengan Fundus Fluorescein Angiography didapatkan staining dari pembuluh darah yang terinflamasi. Gambaran dari pembuluh darah yang tereduplikasi juga tampak lebih jelas, vascular sheating, pembuluh darah menipis, occluded vessels, badan cytoid, roths spot, optic disc edema, optic nerve pallor.6

Gambar 6. Panuveitis, Oklusi arteri

13

Gambar 7. Roth spot dan Cotton woll spot

H.

Penatalaksanaan Terapi terhadap retinal vaskulitis meliputi penatalaksanaan terhadap gejala dan

penyakit yang mendasri terjadinya retinal vaskulitis. Pengobatan juga bergantung pada derajat keparahan, apakah prosesnya unilateral atau bilateral. Jika proses inflamasi disebabkan oleh infeksi bakteri, maka pengobatan yang diberikan adalah antibiotik. Jika penyebabnya tidak diketahui ataupun bukan proses infeksi, dapat diberikan kortikosteroid. Bila inflamasinya ringan dan visus masih baik, diberikan tetes mata kortikosteroid maupun injeksi periokuler. Pada kasus yang lebih berat dimana terjadi kehilanga penglihatan, edema makula dan kelainan retina yang meluas diberikan kortikosteroid sistemik. Dosis yang biasa digunakan adalah Prednison 40-60 mg per hari. Pengobatan ini cukup efektip, walaupun belum ada studi lebih lanjut mengenai pengobatan terhadap retinal vaskulitis. Pada beberapa pasien dengan inflamasi yang aktif, gangguan bilateral dan visus tidak dapat lebih baik daripada 20/50 diberikan terapi immunomodulary sistemik. Penggunaan cyclosporine juga menunjukkan hasil yang baik terhadap beberapa pasien. Cyclosporine bersama dengan prednison efektif hingga 90% dalam penatalaksanaan Wegener granulomatosa.9 Pada pasien dengan antiphospholipid antibodies disarankan penggunaan antikoagulan.6,13

14

Tindakan bedah seperti laser photocoagulation ataupun vitrektomi tidak diindikasikan kecuali terdapat neovaskularisasi persisten, perdarahan vitreous, robekan retina (tractional retinal detachment) ataupun glaukoma.13

15

BAB IV KESIMPULAN
Vaskulitis adalah salah satu penyakit inflamasi pada pembuluh darah, yang dapat bersifat sistemik ataupun lokal, primer maupun sekunder. Vaskulitis dapat terjadi pada seluruh pembuluh darah. Vaskulitis yang paling banyak terjadi di mata adalah retinal vaskulitis, dapat berupa periplebitis ataupun periarteritis. Retinal vaskulitis memang sulit didiagnosis karena gejalanya yang nonspesifik sehingga gambarannya juga mirip dengan kelainan mata lainnya seperti uveitis, oklusi pembuluh darah arteri. Penyebabnya juga sulit ditentukan karena jarang ditemukan. Namun umumnya penyakit ini memiliki reaksi yang baik terhadap terapi kortikosteroid. Prognosis ditentukan oleh seberapa parah derajat dan seberapa sering perdarahan vitreus mengalami rekuren, serta penyakit yang mendasarinya. Pada beberapa pasien penglihatan dapat kembali baikatau menetap pada derajat yang ringan sehingga tidak mengganggu aktivitas sehari-hari. Pada pasien yang telah sampai pada perdarahan vitreous dan glaukoma prognosisnya akan menjadi lebih buruk.

DAFTAR PUSTAKA

16

1. Riordan-Eva P : Anatomi & Embriologi Mata. In : Vaughan D, Asbury T, Riordan-

Eva P. Oftalmologi Umum. 14th edn. Jakarta : Widya Medika, 2000; p.1-30 2. American Academy of Ophthalmology. Basic Anatomy. Basic and Clinical Science Course : Retina and Vitreous, sect 12. San Fransisco. The American Academy of Ophthalmology, 2012; p.7-17
3. Kanski JJ : Retinal Vascular Disorder. In : Kanski JJ,eds. Clinical Ophthamology.

3rd edn. Canada : Saunders Elsevier, 2006; p.361


4. Asano M, Toda M, Sakaguchi N, Sakaguchi S. Autoimmune disease as a

consequence of developmental abnormality of a T cell subpopulation. J Exp Med. 1996 Aug 1;184(2):387-96. 5. American Academy of Ophthalmology. Retinal Vascular Disease. Basic and Clinical Science Course : Retina and Vitreous, sect 12. San Fransisco. The American Academy of Ophthalmology, 2012; p.166-169 6. Joussen AM, Gardner TW, Kirchoff B, Ryan SJ, eds. Retinal Arterial Occlusion. In : Joussen AM, Gardner TW, Kirchoff B, Ryan SJ. Retinal Vascular Disease. Germany : Springer Verlag, 2007; p.509, 650, 651, 668 7. Rosenbaum JT, Robertson JE.Conferences and Review: Retinal Vasculitis- A primer. West J Med 1991 Feb 154:182-185 8. Malinowski SM, Pulido JS, Goeken NE et al. The association of HLA-B8, B51, DR2, and multiple sclerosis in pars planitis. Ophthalmology 1993;100:11991205 9. Sahin Z, Retinal Vasculitis, chap 47. In :
http://www.oculist.net/downaton502/prof/ebook/duanes/pages/v4/v4c047.html#imm

10. Graham E, Spalton DJ, Sanders MD. Immunological investigations in retinal vasculitis. Trans Ophthalmol Soc UK 1981;101:1216 11. Vinje O, Moller P, Mellbye J. Immunological variables and acute-phase reactants in patients with ankylosing spondylitis (Bechterew's syndrome) and their relatives. Clin Rheumatol 1984;3:501513

17

12. Brasile L, Kremer JM, Clarke JL, Cerilli J. Identification of an autoantibody to vascular endothelial cell-specific antigens in patients with systemic vasculitis. Am J Med 1989; 87:7480 13. Del Papa N, Conforti G, Gambini D et al. Characterization of the endothelial surface proteins recognized by anti-endothelial antibodies in primary and secondary autoimmune vasculitis. Clin Immunol Immunopathol 1994;70:211216 14. Edelsten C, D'Cruz D, Hughes GR, Graham EM. Anti-endothelial cell antibodies in retinal vasculitis. Curr Eye Res 1992;11:203208 15. Haynes B, Fauci A. Disorders of the immune system. In Isselbacher K, Braunwald E, Wilson J et al (eds). Harrison's Principles of Internal Medicine, p 1774. Vol 2. New York: McGraw-Hill, 1998 16. El-Asrar AA, Herbort CP, Tabbara KF. Differential Diagnosis of retinal Vasculitis. Symposium Uveitis Update. 2006. Blo 16. P.202-218 17. Giordano N, D'Ettorre M, Biasi G et al. Retinal vasculitis in rheumatoid arthritis: An angiographic study. Clin Exp Rheumatol 1990;8:121125 18. American Academy of Ophthalmology. Retinal vascular disease. Basic and Clinical Science Course : Retina and Vitreous, sect 12. San Fransisco. The American Academy of Ophthalmology, 2012; p.166-169 19. Lang GK. A Short Textbook Ophthalmology. New York. Stuggart. 2000. P.356 20. Karpik AG, Schwartz MM, Dickey LE et al. Ocular immune reactants in patients dying with systemic lupus erythematosus. Clin Immunol Immunopathol 1985;35:295312 21, Saurabh K, Das RR, Biswas J, Kumar A. Profile of Retinal Vasculitis in Tertiary eye care center in Eastern India. 2011. Vol 59. P.297-301 22. Kurana A.K. Comprehensive Ophthalmology. 4th edition. New Delhi : New Age International publishers. 2007. P.136 23. Khaw PT, Shah P, Elkington AR. ABC of Eyes. BMJ publishing.2005.p.27

18

19