Anda di halaman 1dari 4

BABI PENDAHULUAN

1.1 Latar BeJakang Tumbuhan tingkat tinggi yang menghuni hutan tropika tercatat sebanyak 60 % dari 250.000 jenis tumbuhan yang ada di dunia. Di samping itu masih ada biota lainnya, yaitu: jamur, serangga, dan mikroorganisme yang hidup di darat maupun laut, yang melengkapi keanekaragaman flora dan fauna tropika. Indonesia adalah negara yang termasuk salah satu dari tujuh negara megadiversity dan merupakan negara terkaya kedua dalam keanekaragaman hayati setelah Brazilia. Hal ini dibuktikan dengan adanya 30.000 spesies tumbuhan dari hutan tropika menghuni hutan Indonesia (Achmad, 1995; Ersam, 2001). Pemanfaatkan tumbuhan diawali sejak jaman prasejarah, misalnya, kayu dari pepohonan digunakan untuk tombak sebagai alat berburu, daun digunakan untuk menutupi tubuh manusia sehingga berfungsi sebagai pakaian. Selain itu tanaman juga digunakan sebagai sumber makanan pokok, dimana berbagai buah-buahan dikonsumsi secara langsung. Adanya tuntutan hidup yang lebih besar membuat manusia memanfaatkan tanaman untuk berbagai hal, diantaranya yaitu : getah curare digunakan untuk racun pada mata anak panah yang digunakan dalam berburu, bunga tanaman kumis kucing (Orthosiphon stamineus) digunakan sebagai peluruh air seni (deuretik),

radang kandung kemih, infeksi ginjal dan rematik. Temulawak (Curcuma xanthoriza) dimanfaatkan sebagai penyembuh penyakit kolesterol, darah tinggi, haid kurang lancar serta hepatitis (Widiyastuti,1997). Tanaman Mesua ferrea dimanfaatkan sebagai bahan yang dapat menyembuhkan rematik dan aromanya dapat digunakan sebagai terapi

penghilang stress. Sedangkan getah Garcinia cowa di Thailand digunakan sebagai penurun demam (Peres dan Nagem, 1997). Kulit buah manggis (Garcinia mangostana) dapat berfungsi sebagai anti radang tenggorokan dan obat diare (Chairungsrilerd,1996). Pemanfaatan bagian-bagian tertentu dari tumbuhan sebagai racun dan ramuan obat dapat terjadi, dikarenakan adanya kandungan senyawa metabolit sekunder, yang oleh tumbuhan difungsikan sebagai alat untuk mempertahankan eksistensi dirinya terhadap lingkungan. Senyawa metabolit sekunder yang dihasilkan masing-masing tumbuhan disesuaikan dengan kondisi lingkungan dan tingkat kebutuhannya, diantaranya adalah xanton, kumarin, terpenoid, flavonoid terprenilasi, triterpenoid dan steroid (Goh, dkk. 1992). Disamping itu, tumbuh-tumbuhanjuga menghasilkan senyawa metabolit primer yang dipergunakan untuk kelangsungan hidup dan berkembang biak. Contoh metabolit primer ini diantaranya yaitu lemak, protein dan asam nukleat (Herbert, 1995). Salah satu famili tumbuhan tingkat tinggi yang penting adalah Clusiaceae yang terdiri dari 40 genus dan 1000 spesies, hidup di daerah tropis dan subtropis. Clusiaceae merupakan sumber xanton, kumarin dan benzofenon, contoh spesies yang termasuk dalam famili Clusiaceae adalah G. mangostana. Dari penelitian terhadap kulit buah G.

mangostana yang berasal dari Taiwan, Thailand dan Cina dilaporkan menghasilkan
berbagai jenis senyawa metabolit sekunder dengan kerangka dasar xanton yang terprenilasi dan teroksidasi, seperti garsimangoson A, mangostenol, kalabaxanton (Peres, 1997; Suksamram, 2002; Huang, 2001).

1.2 Permasalahan

Berdasarkan laporan penelitian terdahulu dan pendekatan khemotaksonomi bahwa kandungan kimia dalam satu famili mempunyai model molekul yang sejenis, dan kandungan kimia dalam satu spesies pada umumnya sama (Venkataraman, 1972), maka permasalahan pada penelitian ini adalah apakah pada kayu akar G. mangostana asal Blitar akan dapat ditemukan senyawa xanton teroksigenasi dan terprenilasi, seperti yang terdapat pada kulit buah G. mangostana asal Thailand dan Cina.

1.3 Hipotesis

Memperhatikan uraian di atas, kandungan kimia yang dihasilkan oleh setiap bagian tumbuhan dalam satu spesies pada prinsipnya sarna, perbedaan kuantitas dapat terjadi akibat perbedaan lingkungan tempat tumbuhnya (Ersam, 2001; Venkataraman, 1972). Sehingga dari kayu akar G. mangostana akan ditemukan pula xanton teroksigenasi dan terprenilasi seperti pada kulit buahnya.

1.4 Tujuan Penelitian

Berdasarkan permasalahan dan hipotesis di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengisolasi senyawa yang terdapat pada ekstrak diklorometana dari kayu akar tumbuhan G. mangostana Linn. serta menentukan sturktur senyawa tersebut. Untuk mencapai tujuan tersebut terhadap kayu akar G. mangostana dilakukan ekstraksi menggunakan pelarut berturut-turut dari non polar sampai polar, fraksinasi digunakan metode kromatografi cair vakum (KCV) dan kromatografi grafitasi (KKG). Sedangkan untuk penentuan struktur dilakukan dengan memanfaatkan data spektroskopi UV, IR dan IH_NMR.

..,

Penelitian ini dilakukan di Laboratoriurn Kirnia Organik, Jurusan Kirnia FMIPA ITS Surabaya. Analisis UV dilakukan di Laboratoriurn Instrurnentasi Kirnia MIPA ITS, sedangkan analisis IR dan IH_NMR dilakukan di Laboratoriurn Dasar Bersarna (LDB) Universitas Airlangga.