Anda di halaman 1dari 13

KEBIJAKAN MONETER II : KEBIJAKAN MONETER DAN PEREKONOMIAN TERBUKA

KELOMPOK 5 :

ANNISA PRATIWI NOVIA FEBRIANI REMON ASTRA SAFELA SYAFRINAWATI

0910512052 0910512094 0910512060 0910511007

JURUSAN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS ANDALAS PADANG 2012

MUNDELL-FLEMING MODEL Model ini memiliki asumsi penting yakni perekonomian terbuka kecil dengan mobilitas modal sempurna. Karena perekonomian terbuka kecil, maka negara tersebut tidak memiliki kekuatan untuk menetapkan tingkat suku bunga berbeda dengan suku bunga negara lain. Artinya tingkat suku bunga domestik ditentukan oleh tingkat suku bunga dunia. Penjelasan model ini pada pasar barang dan jasa masih dengan metode IS-LM namun mengalami sedikit modifikasi dengan adanya simbol baru yakni r* dan e. Model Mundell-Fleming mengasumsikan perekonomian terbuka di mana perdagangan dan keuangan ditambahkan; IS-LM mengasumsikan perekonomian tertutup. Model ini, sering digambarkan sebagai paradigma kebijakan dominan untuk mempelajari kebijakan moneter dan fiskal perekonomian-terbuka, membuat satu asumsi penting dan ekstrim: perekonomian yang sedang dipelajari adalah perekonomian terbuka kecil dan ada mobilitas modal sempurna, berarti bahwa ia dapat meminjam atau meminjamkan sebanyak yang ia inginkan dalam pasar keuangan dunia, dan karenanya, tingkat bunga perekonomian dikontrol oleh tingkat bunga dunia, dinotasikan secara matematis sebagai r = r*. Satu pelajaran penting model ini yaitu kinerja perekonomian bergantung pada sistem kurs yang diadopsinyamengambang atau tetap. Model ini akan membantu menjawab pertanyaan sistem kurs mana yang sebaiknya diadopsi suatu negara. Model Mundell-Fleming menunjukkan dampak hampir tiap kebijakan ekonomi pada perekonomian terbuka kecil bergantung pada apakah kurs mengambang atau tetap. Model Mundell-Fleming menunjukkan kekuatan kebijakan moneter dan fiskal untuk mempengaruhi permintaan agregat bergantung pada sistem kurs.

Zero capital mobility: jika balance of payment nol serta terjadi ekuilibrium antara pasar barang (IS) dan pasar uang (LM), maka suku bunga domestik akan sama dengan suku bunga luar negeri. Namun jika balance of payment positif, maka kurva IS bergeser ke kanan dan suku bunga domestik akan lebih tinggi daripada suku bunga luar negeri (karena tidak bisa terjadi perpindahan modal (capital mobility) pada kondisi zero capital mobility). Sebaliknya, jika balance of payment negatif, maka kurva IS bergeser ke kiri dan suku bunga domestik akan lebih rendah daripada suku bunga luar negeri (karena tidak bisa terjadi perpindahan modal (capital mobility) pada kondisi zero capital mobility).

Perfect capital mobility: jika balance of payment nol serta terjadi ekuilibrium antara pasar barang (IS) dan pasar uang (LM), maka suku bunga domestik akan sama dengan suku bunga luar negeri. Namun jika balance of payment positif, maka kurva IS bergeser ke kanan dan suku bunga domestik akan lebih tinggi daripada suku bunga luar negeri. Karena terjadi perpindahan modal (capital mobility) pada kondisi perfect capital mobility, maka akan ada capital inflow ke dalam negeri, sehingga suku bunga domestik kembali turun dan menyamai suku bunga luar negeri. Sebaliknya, jika balance of payment negatif, maka kurva IS bergeser ke kiri dan suku bunga domestik akan lebih rendah daripada suku bunga luar negeri. Karena terjadi perpindahan modal (capital mobility) pada kondisi perfect capital mobility, maka akan ada capital outflow ke dalam negeri, sehingga suku bunga domestik kembali turun dan menyamai suku bunga luar negeri. KETERKAITAN ANTAR SEKTOR EKONOMI MAKRO DALAM PEREKONOMIAN TERBUKA:

II. Kebijakan Moneter dan Perekonomian Terbuka


KAITAN ANTAR SEKTOR EKONOMI MAKRO DALAM EKONOMI TERBUKA
EXTERNAL SECTOR Balance of Payment Current Account Export of Goods and NF Services. Import of Goods and NF Services. Transfer (Net) - Official - Private Capital Account Official Private - Direct Investment - Medium/Long-Term Capital (Net) - Short-Term Capital (Net) Overall Balance Change in NFA REAL SECTOR National Account C : Private Consumption I : Private Investment G : General Govt. Investment and Consumption X : Export of Goods and NF Service M : Import of Goods and NF Service
(2)

(6)

(1)

(3)

Revenue Tax, etc Grant Expenditure Current Capital Overall Balance Financing Domestic Financing (Net) - Banking System (MA and DMBs) - Non-Banking External Financing MONETARY SECTOR

(7)

(5)

Monetary Authority (MA) (4) Net Foreign Asset (NFA) Net Domestic Asset (8) - Net Claim on Central Govt - Liquidity Support Govt Bonds - Net Open Market Operation (9) (SBI & Fasbi) - Liquidity Credit to DMBs - Net Other Items (10) Reserve Money

Deposit Money Banks (DMBs) NFA Banks Reserve Net Claim on Govt Securities (SBI) Credit to Private Sector Net Other Items Liabilities to MA Private Sector Deposits
4

Keterkaitan antar sektor ekonomi makro dalam perekonomian terbuka: 1. Neraca pembayaran (balance of payment), terdiri atas: a. Neraca berjalan (current account) 1) Neraca perdagangan a) Ekspor (+) b) Impor (-) 2) Net factor (NF) services a) Pendapatan orang Indonesia di luar negeri (+) b) Pendapatan orang asing di Indonesia (-) 3) Transfer: bantuan atau hibah dari luar negeri (+) a) Pemerintah (official), contoh: bantuan pemerintah Brunei kepada pemerintah Indonesia, bantuan Ford Foundation kepada pemerintah Indonesia b) Swasta (private): bantuan pemerintah Brunei kepada PT Semen Padang, bantuan Ford Foundation kepada PT Semen Padang. b. Neraca modal (capital account) 1) Pemerintah (official): pinjaman dari luar negeri kepada pemerintah Indonesia, biasaya berupa pembelian surat utang atau obligasi negara (+), contoh: pinjaman pemerintah Jepang kepada pemerintah Indonesia, pinjaman sebuah bank di Jerman kepada pemerintah Indonesia. 2) Swasta (private): investasi atau pinjaman dari luar negeri kepada perusahaan Indonesia (+). a) Investasi langsung (direct investment): PT Unilever mendirikan pabrik di Indonesia. b) Medium / Long Term Capital: pinjaman jangka menengah atau panjang dari orang atau perusahaan asing, biasanya berupa pembelian saham atau obligasi (surat utang) perusahaan Indonesia oleh orang/perusahaan asing: pembelian saham PT Indosat oleh perusahaan Qatar, pembelian obligasi PT Gudang Garam oleh orang Inggris. c) Short Term Capital: pinjaman jangka pendek dari orang atau perusahaan asing: pinjaman PT Bakrie and Brothers kepada sebuah bank di Singapura.

c. Keseimbangan umum (overall balance): neraca berjalan + neraca modal d. Perubahan terhadap aset asing oleh orang Indonesia, biasanya berupa cadangan devisa (mata uang asing): 1) Aset asing bertambah jika keseimbangan umum bernilai positif 2) Aset asing berkurang jika keseimbangan umum bernilai negative

2. Pendapatan nasional (national account): a. Konsumsi rumah tangga (private consumption): + b. Investasi rumah tangga atau perusahaan (private investment): + c. Konsumsi dan investasi pemerintah (General Govt. Investment and Consumption): + d. Ekspor dan pendapatan orang Indonesia di luar negeri: + e. Impor dan pendapatan orang asing di Indonesia: Peningkatan ekspor dan pendapatan orang Indonesia di luar negeri (peningkatan transaksi berjalan) akan meningkatkan pendapatan nasional, sedangkan

peningkatan impor dan pendapatan orang asing di Indonesia (peningkatan transaksi berjalan) akan meningkatkan pendapatan nasional (arti panah warna pink yang di sebelah kiri).

3. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN): a. Pendapatan (revenue): + 1) Pajak, bea cukai, dividen BUMN, dll (tax, etc) 2) Hibah atau bantuan (grant): adanya bantuan dari pemerintah atau perusahaan atau orang asing kepada pemerintah Indonesia akan meningkatkan pendapatan dalam APBN (arti panah warna pink yg dari official transfer ka grant). b. Pengeluaran (expenditure): - : pengeluaran pemerintah dalam APBN ini merupakan pengeluaran dan investasi pemerintah dalam komponen pendapatan nasional (arti panah dari expenditure ka general goverment investment and consumption). 1) Belanja barang 2) Belanja modal c. Keseimbangan umum (overall balance): pendapatan pengeluaran

d. Pembiayaan (financing): jika ternyata pengeluaran lebih besar dari pendapatan, sehingga keseimbangan umum bernilai negatif (defisit)
1) Pembiayaan dalam negeri:

a) Sistem perbankan 1) Otoritas Moneter (monetary authority): Bank Indonesia selaku bank sentral: bank Indonesia meminjamkan uang kepada pemerintah, biasanya dengan membeli surat utang negara. 2) Bank Umum: bank umum meminjamkan uang kepada pemerintah, biasanya dengan membeli surat utang negara. b) Bukan sistem perbankan: lembaga keuangan bukan bank meminjamkan uang kepada pemerintah, biasanya dengan membeli surat utang negara.
2) Pembiayaan luar negeri: pemerintah atau perusahaan atau orang asing meminjamkan

uang kepada pemerintah, biasanya dengan membeli surat utang negara: adanya pinjaman dari pemerintah atau perusahaan atau orang asing kepada pemerintah Indonesia akan meningkatkan pembiayaan luar negeri untuk menutup defisit APBN (arti panah warna pink yg dari official capital account ka external financing).

4. Otoritas Moneter (monetary authority): Bank Indonesia selaku bank sentral a. Aset asing bersih (net foreign asset): kepemilikan aset asing oleh orang Indonesia (dikelola oleh bank sentral), biasanya berupa cadangan devisa (mata uang asing). Perubahan positif dalam overall balance of payment akan meningkatkan cadangan devisa (berupa mata uang asing) yang dikelola oleh BI, perubahan negatif dalam overall balance of payment akan menurunkan cadangan devisa (berupa mata uang asing) yang dikelola oleh BI (arti panah dari change in NFA di balance of payment ka NFA di monetary authority). b. Aset domestik bersih (net domestic asset): 1) Tagihan terhadap utang pemerintah pusat (net claim on central govt.): Peningkatan pembiayaan dalam negeri dari otoritas moneter (bank sentral) akan meningkatkan tagihan terhadap utang pemerintah pusat yang dimiliki oleh

otoritas moneter (bank sentral) (arti panah dari net claim on central goverment di monetary authority ka banking system di domestic financing (net)). 2) Bantuan likuiditas terhadap pemerintah (liquidity support on govt. bonds) 3) Operasi pasat terbuka (net open market operation) 4) Bantuan likuiditas kepada bank umum (liquidity credit to DMBs) 5) Lain-lain c. Uang Cadangan (reserve money)

5. Bank Umum a. Aset asing bersih (net foreign asset): kepemilikan aset asing oleh orang Indonesia (dimiliki oleh bank umum di Indonesia), biasanya berupa cadangan devisa (mata uang asing). Peningkatan dalam investasi atau pinjaman dari luar negeri kepada perusahaan Indonesia akan meningkatkan cadangan devisa (berupa mata uang asing) yang dimiliki oleh Bank Umum di Indonesia, penurunan dalam investasi atau pinjaman dari luar negeri kepada perusahaan Indonesia (berupa mata uang asing) akan menurunkan cadangan devisa (berupa mata uang asing) yang dimiliki oleh Bank Umum di Indonesia (arti panah dari private capital account di balance of payment ka NFA di Deposit Money Banks). b. Cadangan Bank Umum (banks reserve): peningkatan cadangan di bank umum akan meningkatkan cadangan di bank sentral (arti panah dari banks reserve di Deposit Money Banks ka reserve money di monetary authority). c. Tagihan terhadap utang pemerintah pusat (net claim on central govt.): Peningkatan pembiayaan dalam negeri dari bank umum akan meningkatkan tagihan terhadap utang pemerintah pusat yang dimiliki oleh bank umum (arti panah dari net claim on central govt. di deposit money banks ka banking system di domestic financing (net)). d. Sekuritas (Securities/SBI): pembelian Sertifikat Bank Indonesia oleh Bank Sentral dari Bank Umum akan menambah cadangan bank dan jumlah uang beredar, penjulan Sertifikat Bank Indonesia oleh Bank Sentral kepada Bank Umum akan menurunkan cadangan bank dan jumlah uang beredar (arti panah dari

Securities/SBI di deposit money banks ka net open market operation di monetary authority). e. Kredit ke sektor swasta (credit to private sector) f. Lain-lain g. Utang kepada ototitas moneter (liabilities to monetary authority): pemberian bantuan likuiditas kepada bank umum akan meningkatkan utang bank umum kepada otoritas moneter (bank sentral) (arti panah dari liabilities to monetary authority di deposit money banks ka liquidity credit to DMBs). h. Tabungan atau deposito rumah tangga dan perusahaan (private sector deposit) 6. Nasabah (rumah tangga dan perusahaan) PURCHASING POWER PARITY

II. Kebijakan Moneter dan Perekonomian Terbuka


PURCHASING POWER PARITY (PPP)

Output domestik = Y = C+ I + G + X Q

International Trade

Trade Account dalam BOP = X(Y*, P, e) Q(Y, P*, e)

Exchange rate

DD(QP*)

SS(XP/e) Foreign Prices (P*): Traded goods Non-traded goods

Domestic Prices (P): Traded goods Non-traded goods

Foreign exchange

Exchange rate (e)

Law of One Prices


Asumsi: Homogeneous traded goods and flexibel non-traded good prices No international trade barriers Small transportation costs Comparable inflation measurement

Absolute PPP: P = e P* Relative PPP: = * + e/e


5

1. Output domestik (konsumsi + investasi + pengeluaran pemerintah + ekspor impor), akan menghasilkan tingkat harga domestik (dalam negeri tertentu). 2. Setiap negara akan melakukan perdagangan internasional (ekspor (yg dipengaruhi oleh pendapatan negara lain, harga barang domestik, dan nilai tukar) impor (yg

dipengaruhi oleh pendapatan domestik, harga barang di luar negeri, dan nilai tukar). 3. Proses perdagangan tersebut (ekspor dan impor) akan menghasilkan nilai tukar (kurs) tertentu dari mata uang domestik terhadap mata uang asing. 4. Jika barang yang dapat diperdagangkan bersifat homogen dan harga barang yang tidak dapat diperdagangkan fleksibel, tidak ada hambatan dalam perdagangan internasional, biaya transportasi relatif kecil, dan ukuran inflasi yang digunakan adalah setara, maka akan terjadi hukum satu harga (law of one price), yang mengimplikasikan persamaan daya beli terhadap suatu barang di seluruh dunia. Menurut hukum ini, jika harga sebuah hamburger di Amerika Serikat adalah 3 dolar AS dan kurs 1 dolar AS = Rp 9.000, maka harga sebuah hamburger di Indonesia adalah Rp 27.000 (absolute PPP). Jika inflasi di Amerika Serikat adalah 3 persen per tahun, dan rupiah terdepresiasi terhadap dolar AS sebesar 5 persen per tahun, maka inflasi di Indonesia adalah 8 persen per tahun (relative PPP), INTERERST RATE PARITY (IRT)

II. Kebijakan Moneter dan Perekonomian Terbuka


INTEREST RATE PARITY (IRP)

Domestic Interest rate (r)

Domestic foreign exchange market: Spot Forward

Exchange rate

Domestik Money Market= MS = MD(Y, P, e, r)

International Capital Mobility

Capital Account dlm BOP: Inflow: I(Y, r, e) Outflow: O(Y*, r, e) Foreign money market DD[O(1+r*)] M*S = M*D(Y*,P*,e,r*) SS[I(1+r/e)]

Foreign exchange
Exchange rate: spot (e) or forward (f)

Foreign interest rate (r*)

Arbritrage mechanisms Asumsi: Homogeneous financial assets Efficient foreign exchange market No capital control or perfect capital mobility Small risks Covered IRP: r = r* + (f-e)/e Uncovered IRP: r= r* + e/e
6

1. Ekuilibrium (keseimbangan) di pasar uang domestik terjadi ketika penawaran uang (yg merupakan kebijakan bank sentral domestik) sama dengan permintaan uang (yg dipengaruhi oleh pendapatan domestik, harga domestik, nilai tukar, dan suku bunga domestik). Keseimbangan tersebut akan menghasilkan tingkat suku bunga domestik tertentu (r). 2. Sementara itu, ekuilibrium (keseimbangan) di pasar uang luar negeri terjadi ketika penawaran uang (yg merupakan kebijakan bank sentral luar negeri) sama dengan permintaan uang (yg dipengaruhi oleh pendapatanluar negeri, harga luar negeri, nilai tukar, dan suku bunga luar negeri). Keseimbangan tersebut akan menghasilkan tingkat suku bunga domestik tertentu (r). 3. Pada setiap negara akan terjadi capital inflow (yg dipengaruhi oleh pendapatan domestik, suku bunga domestik, dan nilai tukar) dan capital outflow (yg dipengaruhi oleh pendapatan luar negeri, suku bunga domestik, dan nilai tukar). 4. Proses tersebut akan menghasilkan nilai tukar (kurs) tertentu dari mata uang domestik terhadap mata uang asing, baik di pasar spot (nilai sekarang) maupun di pasar forward (nilai akan datang). 5. Jika aset keuangan yang diperdagangkan homogen, pasar valuta asing sudah efisien, tejadi mobilitas modal yang sempurna karena tidak ada kontrol modal, dan risiko yang ada relatif kecil, maka akan terjadi kesetaraan suku bunga (interest rate parity) di seluruh dunia. Menurut aturan ini, jika suku bunga di Amerika Serikat adalah 2 persen dan pemerintah Indonesia menetapkan nilai tukar 1 dolar AS = Rp 9.900, sedangkan nilai tukar di pasar uang adalah 1 dolar AS = Rp 9.000, maka suku bunga di Indonesia adalah 2,1 persen (covered IRP). Jika suku bunga di Amerika Serikat adalah 2 persen per tahun, dan rupiah terdepresiasi terhadap dolar AS sebesar 5 persen per tahun, maka inflasi di Indonesia adalah 7 persen per tahun (uncovered IRP)

TEMA

POKOK

IMPOSSIBLE

TRINITY

(TRILEMA)

KEBIJAKAN

DALAM

EKONOMI TERBUKA

II. Kebijakan Moneter dan Perekonomian Terbuka


TEMA POKOK: IMPOSSIBLE TRINITY (TRILEMA) KEBIJAKAN DALAM EKONOMI TERBUKA
Tiga tujuan dalam ekonomi terbuka: (1) Stabilitas nilai tukar, (2) Kebebasan arus modal antarnegara, dan (3) Efektivitas kebijakan (moneter) untuk tujuan ekonomi domestik (inflasi dan pertumbuhan ekonomi). Impossible Trinity: Hanya dua tujuan yang bisa dicapai.

Rezim Nilai Tukar Otonomi (independensi) Kebijakan Moneter Domestik


Kontrol Caital immobility, Nilai tukar stabil Bebas Nilai tukar fluktuasi, absorpsi capital free mobility
Uang Beredar Kredit Suku Bunga

Sasaran:

Nilai tukar

Inflasi Pertumbuhan ekonomi

Rezim Devisa

Alternatif solusi untuk otonomi kebijakan moneter:


Rezim nilai tukar tetap dan kontrol devisa Rezim nilai tukar floating dan devisa bebas
7

1. Tiga tujuan dalam ekonomi terbuka: a. Stabilitas nilai tukar b. Kebebasan arus modal antar negara c. Efektivitas kebijakan (moneter) untuk tujuan ekonomi domestik (inflasi dan pertumbuhan ekonomi). 2. Impossible Trinity: Hanya dua tujuan yang bisa dicapai. 3. Rezim nilai tukar tetap (fixed) dan kontrol devisa akan menghasilkan stabilitas nilai tukar dalam rangka efektivitas kebijakan (moneter) untuk tujuan ekonomi domestik (inflasi dan pertumbuhan ekonomi), namun mengharuskan adanya kontrol devisa untuk menjamin stabilitas jumlah uang beredar, sehingga kebebasan arus modal antar negara tidak terpenuhi. 4. Rezim nilai tukar fleksibel (floating) dan devisa bebas akan menjamin adanya kebebasan arus modal antar negara, sehingga dapat mendukung rangka efektivitas kebijakan (moneter) untuk tujuan ekonomi domestik (inflasi dan pertumbuhan ekonomi), namun tidak dapat menjamin terjadinya stabilitas nilai tukar karena tidak adanya kontrol devisa.

DAFTAR PUSTAKA:
http://pustakabakul.blogspot.com/2012/02/model-mundel-fleming.html fe-manajemen.unila.ac.id/~perkuliahan/bahanajar/.../6Mankiw12.ppt