Anda di halaman 1dari 14

Kata Pengantar

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, atas limpahan rahmat dan karuniaNya sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah tentang Keragaman Bahasa Bugis untuk memenuhi tugas dari Mata Pelajaran Antropologi. Tidak lupa kami ucapakan terima kasih juga kami penulis ucapkan kepada : 1. Ibu Hj.Dede Masitoh,S.Ag selaku Kepala Sekolah SMA Islam Al-Mizan 2. Ibu Hj.Zakiyah Sholihat,S.Ag selaku Wali kelas XI (Bahasa) 3. Ibu Juju Junirah,S.Pd selaku Guru Mata Pelajaran Antropologi 4. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini Penyusun menyadari bahwa makalah ini tentunya masih sangat jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat penyusun harapkan demi mencapai kesempurnaan makalah ini.

Jatiwangi, 10 April 2012

Penyusun

Daftar Isi

Kata Pengantari Daftar Isi.ii BAB 1 PENDAHULUAN 1. Latar Belakang.1 2. Maksud dan Tujuan..2 BAB II PEMBAHASAN 1. BAHASA BUGIS....................................................................3 a. Subjek dalam Bahasa Bugis5 b. Macam-macam Pola Kalimat..5 2. DIALEK MELAYU MAKASAR...6 3. KOSA KATA BAHASA BUGI..7 BAB III SIMPULAN DAN SARAN.11

Penutup.12

ii

BAB I PENDAHULUAN

1.Latar Belakang Masalah


Bahasa daerah merupakan bahasa ibu perlu dilestarikan karena bahasa daerah merupakan bagian darik e b u d a ya a n daerah dan juga merupakan unsur

k e b u d a ya a n n a s i o n a l . B a h a s a d a e r a h h a r u s t e t a p dipertahankan, salah satu bahasa daerah itu adalah bahasa Bugis.Bahasa Bugis digunakan oleh suku Bugis. Suku Bugis adalah salah satu dari berbagai suku bangsa di AsiaTenggara dengan populasi lebih dari empat juta orang. Orang Bugis berasal dari suku Bugis yang beradadi daerah Bugis yaitu Sulawesi Selatan. Sulawesi Selatan sebagai salah satu provinsi dan ibu kotanya masuk dalam katagori kota metropolitan di Indonesia. Berbagai etnis ada di provinsi tersebut, namunetnis atau suku aslinya adalah Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja. Keempat etnis ini merupakan sukuterbesar di Sulewesi Selatan.Walaupun etnis Bugis lebih dominan, akan tetapi fenomena penggunaan bahasa masih bervariasi. Hal itudisebabkan karena bahasa Bugis memiliki dialek-dialek yang berbeda, misalnya Bugis dialek Bone berbeda dengan dialek Makassar, Mandar, Toraja dan lain sebagainya. Namun, perbedaan itu merupakanciri dari daerah itu sendiri dan menunjukkan perbedaan dengan daerah yang lain.Masyarakat Bugis sekarang tidak hanya berada di Sulawesi Selatan saja. Keberadaan mereka hampir diseluruh pelosok Indonesia, seperti di ibu kota daerah, bahkan di pedesaan sekalipun. Misalnya kotaTarakan, sebagian penduduknya berasal dari suku Bugis dengan berbagai dialek, seperti dialek Bone,Makasa r, Mandar, Toraja dan lain sebagainya. Hal ini membuktikan bahwa suku Bugis mempunyai peranan penting di kota Tarakan.Suku Bugis di Tarakan menggunakan bahasa Bugis sebagai bahasa ibu, dan bahasa Bugis sebagai bahasa pergaulan sehari-hari, sedangkan bahasa Indonesia hanya digunakan dalam situasi formal. Bahasa Bugismemiliki sistem yang sama dengan bahasa -bahasa lain yang terdapat di Indonesia, seperti afiks asi,reduplikasi, dan pemajemukan.

2. Maksud dan Tujuan


a. Maksud 1. Membantu dalam proses belajar Antropologi tentang keberagaman Bahasa 2. Menambah wawasan tentang Bahasa Suku Bugis

b. Tujuan 1. Siswa dapat mengetahui Bahasa Bugis baik dari dialek dan sebagainya 2. Siswa dapat lebih memperhatikan bahkan melestarikan bahasa ibu masing-masing

BAB II PEMBAHASAN
1. BAHASA BUGIS
Bahasa Bugis merupakan bahasa yang berasal dari provinsi Sulawesi Selatan. Dalam kenyataannya ternyata banyak sekali ragam dan jenis bahasa bugis, oleh karena itu saya mencoba untuk menyajikan jenis yang paling banyak dipakai di lingkungan orang bugis.Bahasa yang digunakan etnik Bugis di Sulawesi Selatan, yang tersebar di Kabupaten Maros, Kabupaten Pangkep, Kabupaten Barru, Kota Parepare, Kabupaten Pinrang, sebahagian kabupaten Enrekang, sebahagian kabupaten Majene, Kabupaten Luwu, Kabupaten Sidenrengrappang, Kabupaten Soppeng,Kabupaten Wajo, Kabupaten Bone, Kabupaten Sinjai, Kabupaten Bulukumba, dan Kabupaten Bantaeng.Masyarakat Bugis memiliki penulisan tradisional memakai aksara Lontara.Bahasa utama di Celebes adalah bahasa Bugis, dimana B.F. Matthews, seorang agen the Netherlands Bible Society menerjemahkan Injil Matius ke dalam bahasa Bugis pada tahun 1863. Perjanjian Baru diterjemahkan dengan lengkap pada tahun 1888, dan Perjanjian Lama tiga belas tahun kemudian. Penerjemah yang sama juga membuat satu versi dari dialek Boble di Makassar, satu dialek yang dipakai di pulau bagian Selatan. Keduanya menggunakan huruf yang sama. Dia dengan jelas bekerja dalam dua bahasa secara simultan, untuk Makassar, Injil Matius muncul pada tahun 1864, Perjanjian baru tahun 1888, dan Perjanjian Lama pada tahun 1900.Struktur bahasa bugis berbeda dengan bahasa indonesia. Terdapat perbedaan subjek, objek dan predikat. Didalam bahasa bugis, posisi dalam kalimat sangat menentukan bentuk subjek atau objek. Artinya bentuk subjek maupun objek akan berubah sesuai dengan posisinya dalam kalimat. Demikian pula bentuk sedang dan akan datang juga memiliki perbedaan. Berikut struktur kalimat dalam bahasa bugis: Kebudayaan Bugis adalah kebudayaan dari suku bangsa Bugis-Makasar yang mendiami bagian terbesar dari Jazirah selatan dari Pulau Sulawesi.Jazirah itu merupakan suatu propinsi,yaitu propinsi Sulawesi Selatan. Penduduk Sulawesi Selatan terdiri dari empat suku bangsa ialah Bugis, Makasar, Toraja dan Mandar.Percakapan sehari-hari orang Bugis menggunakan bahasa Ugi (Koentjaraningrat, 1999) Orang Bugis sering juga disebut orang Ugi. Bahasa sehari-hari yang digunakan adalah bahasa Ugi atau bahasa Bugi.Menurut ahli etnolinguistik klasik, Esser, Bahasa Bugis sekelompok dengan bahasa orang Lawu, Sadan, Mandar, Pitu Ulunna Sallu, Makasar dan Seko. Bahasa Bugis terdiri pula atas beberapa dialek, seperti dialek Bone, Soppeng, Luwuk, Wajo, Bulukumba, Sidenreng, Pare-Pare dan lain-lain.Sejak berabad-abad yang lalu orang Bugis telah mengenal tulisan sendiri yang disebut aksara Lontarak, yaitu aksara tradisional yang mungkin
3

berasal dari huruf sansekerta yang ditulis di atas daun lontar (daun sejenis palem) (Zulyani Hidayah, 1999). Lontara adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Bentuk aksara lontara menurut budayawan Prof Mattulada (alm) berasal dari "sulapa eppa wala suji". Wala suji berasal dari kata wala yang artinya pemisah/pagar/penjaga dan suji yang berarti putri. Wala Suji adalah sejenis pagar bambu dalam acara ritual yang berbentuk belah ketupat. Sulapa eppa (empat sisi) adalah bentuk mistis kepercayaan Bugis-Makassar klasik yang menyimbolkan susunan semesta, api-air-angin-tanah. Huruf lontara ini pada umumnya dipakai untuk menulis tata aturan pemerintahan dan kemasyarakatan. Naskah ditulis pada daun lontar menggunakan lidi atau kalam yang terbuat dari ijuk kasar (kira-kira sebesar lidi). Lontara Bugis-Makassar merupakan sebuah huruf yang sakral bagi masyarakat bugis klasik. Itu dikarenakan epos la galigo di tulis menggunakan huruf lontara. Huruf lontara tidak hanya digunakan oleh masyarakat bugis tetapi huruf lontara juga digunakan oleh masyarakat makassar dan masyarakat luwu. Yah dahulu kala para penyair-penyair bugis menuangkan fikiran dan hatinya di atas daun lontara dan dihiasi dengan huruf-huruf yang begitu cantik sehingga tersusun kata yang apik diatas daun lontara dan karya-karya itu bernama I La Galigo.

a. SUBJEK DALAM BAHASA BUGIS saya : iyya kamu : idi dia : iyyeroe (berlaku untuk semua subjek, objek, hewan, manusia, benda) mereka : iyyemaneng roe(berlaku untuk semua subjek, objek, hewan, manusia, benda) b. MACAM-MACAM POLA KALIMAT a. kalimat akan : Rumusnya : meloka + kata kerja + keterangan/ objek meloka lao sikolangnge = saya mau berangkat ke sekolah melo = mau ka = saya lao = berangkat sikolangnge = sekolah meloka mancaji persideng = saya ingin menjadi presiden meloka minung kopi = saya ingin minum kopi meloka lao Bali ko bajai = saya mau berangkat ke Bali besok. meloka melli sapeda baru = saya ingin membeli sepeda baru b. kalimat sedang: Rumusnya : mattengngangnga + kata kerja + objek/ keterangan mattengngangnga minung kopi = saya sedang minum kopi mattengngang = sedang nga = saya
5

minung = minum kopi = kopi mattengngangnga mamotoro = saya sedang mengendara motor mattengngangnga mabbaca sure = saya sedang membaca surat mattengngangnga manre = saya sedang makan c .kalimat telah: Rumusnya : purana + kata kerja + objek/ keterangan purana maroki sure = saya telah menulis surat purana = telah, sudah maroki = menulis sure = surat purana manre = saya sudah makan purana massessa bejaju = saya telah mencuci baju

2. DIALEK MELAYU MAKASAR

Bahasa tempatan di Provinsi Sulawesi Selatan sebenarnya cukup banyak dan sangat berbeda satu samal a i n . D i a n t a r a n ya B a h a s a M a k a s s a r ( d i t u t u r P u a k M a k a s s a r m e r e k a a s a l n ya d i k o t a M a k a s s s a r , Sunnguminasa/Gowa, Takalar, Jeneponto, Bantaeng, Bulukumba, Sinjai); lalu Bahasa Bugis (dituturkan puak Bugis yang berasal dari Maros, Pangkep, Barru, Sidrap, Pinrang, Pare -pare, Enrekang, Mamuju,Bone). Lalu masih ada Puak Mandar dan Puak Toraja. Justru karena itulah maka di kota Makassar sekarang yang dominan justru bukan bahasa-bahasa daerah tetapi satu bahasa yang menyatukan yaituBahasa Melayu (Indonesia) Dialek Makassar. Bahasa ini ditandai dari nada penutur (yang cenderungnaik) dan pemakaian partikel-partikel : Ki ; Di ; Ta ; Toh; Tauwwa dan Ji (fungsinya hampir sepertilah atau kah atau deh atau kok)Yang jelas, terdapat kata-kata Melayu (indonesia) yang disesuaikan dialek
6

Makassar, misalnya katadengan akhiran n akan diucapkan ng ; Misalnya : Dinging sekali hawanya di . ( Dingin Dinging; Angin Anging), Nahtapi kebalikannyakata-kata dengan akhiran ng justru diucapkan n seperti Kari Kambin bukan Kari Kambing. Bagaimanapun gejala seperti ini adalah wajar dalam suatu dialek daerah.Buat orang luar, tentu nggak sulit memahami Ba hasa Dialek Makassar ini karena merupakan BahasaMelayu, hanya ia diucapkan dengan nada tertentu dan agak cepat. Asal mau mendengarkan dengan cukupseksama pasti bisa connect. Kata-kata asli kadang juga dipakai tergantung lingkungan penuturnya.Ini saya iseng2 nanya sama teman2 keturunan Bugis & Makassar tentang ANGKA. Saya bandingkandengan Bahasa Jawa, Melayu dan Tagalog (My sister in law) ternyata terlihat pola bahasa Nusantarayang mirip2 satu sama lain(take from http://sriandalas.multiply.com)

3. KOSA KATA BAHASA BUGI Bilangan


. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . nolo seddi duwa tellu eppa lima enneng pitu aruwa asera seppulo seppulo seddi seppulo duwa duwappulo duwappulo seddi duwappulo duwa duwappulo tellu tellupulo tellupulo seddi tellupolu duwa nol satu dua tiga empat lima enam tujuh delapan sembilan sepuluh sebelas dua belas dua puluh dua puluh satu dua puluh dua dua puluh tiga tiga puluh tiga pulu satu tiga puluh dua 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 20 21 22 23 30 31 32
7

. . . . . . .

patappulo limappulo ennengpulona pituppulo aruwapulona aserapulona siratu

empat puluh lima puluh enam puluh tujuh puluh delapan puluh sembilan puluh seratus

40 50 60 70 80 90 100

Hari dan Waktu


. . . . . . . . . . . . . . . . . sining / asining selasa araba kamisi juma` sattu aha` ele` tengasso areweng / labu kesso tengnga benni esso wenni esso wnni esso-esso wenni-wenni ele kele` senin selasa rabu kamis jum`at sabtu minggu pagi tengah hari sore tengah malam siang hari malam hari siang malam setiap hari setiap malam setiap pagi

Bulan
. . . . . . . . . . . . naagai palagunai bisaakai jettoi sarawanai pe'darawanai sujiwi pacciekai pociyai mangasierai mangase'tiwi mangalompai uleng seddi uleng duwa uleng tellu uleng eppa uleng lima uleng enneng uleng pitu uleng aruwa uleng asera uleng seppulo uleng seppulo seddi uleng seppulo duwa januari februari maret april mei juni juli agustus september oktober november desember
8

Jam
. . . . . . . . . . . . . . tette seddi tette duwa tette tellu tette eppa tette lima tette enneng tette pitu tette aruwa tette asera tette seppulo tette seppulo seddi tette seppulo dua siteng`nga siddi siteng`nga duwa jam satu jam dua jam tiga jam empat jam lima jam enam jam tujuh jam delapan jam sembilan jam sepuluh jam sebelas jam dua belas setengah satu setengah dua 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 1 12.30 01.30

Sebutan Keluarga
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . sijing / sumpulolo nene nene uttu' ambo indo wija ana bunge paccucu`wang sule`ssureng pada`roane pada`kunrai anri deang be`ne la`kka`i se`laleng ipa` metua mengi`ttung bai`seng sappo si`seng sappo ke`duwa keluarga kakek / nenek buyut bapak / ayah ibu anak sulung bungsu saudara saudara laki-laki saudara perempuan adik kakak istri suami biras (ipar sama ipar) ipar mertua menantu besan (orang tua sama orang tua) sepupu sekali sepupu dua kali
9

. . . . . . . . . . . .

sappo ke`tellu a`mure nu`re appo appo uttu appo sarompeang purambo purindo purowana sulessureng kaporo becce / asse baco / aso

sepupu tiga kali paman / om kemanakan cucu cicit cucunya cucu bapak tiri ibu tiri anak tiri saudara tiri nama bayi perempuan yang baru lahir nama bayi laki-laki yang baru lahir

Le'ba kusoronna biseangku, kucampa'na sombalakku, tamassaile punna teai labuang (Makassar) Bila perahu telah kudorong,layar telah terkembang, takkan ku berpaling kalau bukan labuhan yang kutuju. Taro ada taro gau (Bugis) Arti bahasa: Simpan kata simpan perbuatan. Makna: Konsistensi perbuatan dengan apa yang telah dikatakan. Ku alleangi tallanga na toalia (Makassar) Arti bahasa: Lebih baik tenggelam dari pada kembali (latar belakang kata tersebut dari seorang pelaut yang telah berangkat melaut) Makna: Ketetapan hati kepada sebuah tujuan yang mulia dengan taruhan nyawa. Eja pi nikana doang (Makassar) Seseorang baru dapat dikenali atas karya dan perbuatannya Teai mangkasara' punna bokona loko' (Makassar) Bukanlah orang Makassar kalau yang luka di belakang. Adalah simbol keberanian agar tidak lari dari masalah apapun yang dihadapi. Aja mumaelo nabetta taue makkalla ricappana letengnge. (Bugis) Arti bahasa: Janganlah engkau mahu didahului orang menginjakkan kaki dihujung titian Makna:Janganlah engkau mahu didahului orang lain untuk mengambil rezeki

10

BAB III SIMPULAN DAN SARAN

Bahasa Bugis perlu dipopulerkan pada setiap orang yang menggunakannya Bahasa Bugis memiliki sistem yang sama dengan bahasa-bahasa lain yang terdapat di Indonesia, seperti afiks asi,reduplikasi, dan pemajemukan. Tulisan Lontarak perlu disosialisaikan lagi kepada generasi penerus

11

Penutup

Alhamdulillah dengan segenap bantuan dari semua pihak akhirnya makalah ini telah berhasil kami selesaikan. Semoga makalah ini dapat dimanfaatkan dengan seharusnya dan membantu rekan untuk memperluas wawasan tentang kaberagaman bahasa.Mohon maaf apabila dalam penyusunan makalah ini terdapat kesalahan karena tak ada gading yang tak retak itu semua merupakan kekurangan dari penyusun.

Jatiwangi,10 April 2012

Penyusun

12