Anda di halaman 1dari 15

Pengertian bayi tabung posted in Pengetahuan, Persiapan, Proses | Sering kali kita mendengar ikut bayi tabung aja

atau anaknya dia dari hasil bayi tabung. Apa sih sebenarnya definisi atau pengertian bayi tabung itu? Apakah ini adalah cara untuk mendapatkan anak? Kalau dilihat dari kata bayi & tabung, mungkin bayi tabung berarti bayi dari hasil pembuahan di tabung. Ada juga yang bilang bayi tabung adalah bayi dari hasil tabungan memang benar juga sih soalnya proses bayi tabung itu tidak murah alias menguras kantong. Tetapi bayi tabung itu sebenarnya adalah proses pembuahan sel telur dan sperma di luar tubuh wanita, dalam istilah kerennya in vitro vertilization (IVF). In vitro adalah bahasa latin yang berarti dalam gelas/tabung gelas (nah nyambung juga kan dengan kata tabung). Dan vertilization adalah bahasa Inggrisnya pembuahan. Dalam proses bayi tabung atau IVF, sel telur yang sudah matang (seperti masak telur saja ya) diambil dari indung telur lalu dibuahi dengan sperma di dalam sebuah medium cairan. Setelah berhasil, embrio kecil yang terjadi dimasukkan ke dalam rahim dengan harapan dapat berkembang menjadi bayi

BAGAIMANA CARA MENANGANI BAYI KUNING SETELAH LAHIR? Posted on March 31, 2011 by admin Hiperbilirubinemia http://medicastore.com DEFINISI Hiperbilirubinemia adalah kadar bilirubin yang tinggi di dalam darah, PENYEBAB Sel darah merah yang tua, rusak dan abnormal dibuang dari peredaran darah, terutama di dalam limpa. Selama proses pembuangan berlangsung, hemoglobin (protein pengangkut oksigen di dalam sel darah merah) dipecah menjadi pigmen kuning yang disebut bilirubin. Bilirubin dibawa ke hati, dimana secara kimiawi diubah dan kemudian dibuang ke usus sebagai bagian dari empedu.

Pada sebagian besar bayi baru lahir, kadar bilirubin darah secara normal meningkat sementara dalam beberapa hari pertama setelah lahir, menyebabkan kulit berwarna kuning (jaundice). Pada orang dewasa, bakteri yang dalam keadaan normal ditemukan di dalam usus akan memecahkan bilirubin. Pada bayi baru lahir, bakteri ini sangat sedikit sehingga banyak bilirubin yang dibuang melalui tinja yang menyebabkan tinjanya berwarna kuning terang. Tetapi bayi baru lahir juga memiliki suatu enzim di dalam ususnya yang dapat merubah sebagian bilirubin dan menyerapnya kembali ke dalam darah, sehingga terjadi jaundice (sakit kuning). Karena kadar bilirubin darah semakin meningkat, maka jaundice menjadi semakin jelas. Mula-mula wajah bayi tampak kuning, lalu dada, tungkai dan kakinya juga menjadi kuning. Biasanya hiperbilirubinemia dan sakit kuning akan menghilang setelah minggu pertama. Kadar bilirubin yang sangat tinggi bisa disebabkan oleh pembentukan yang berlebihan atau gangguan pembuangan bilirubin. Kadang pada bayi cukup umur yang diberi susu ASI, kadar bilirubin meningkat secara progresif pada minggu pertama; keadaan ini disebut jaundice ASI. Penyebabnya tidak diketahui dan hal ini tidak berbahaya. Jika kadar bilirubin sangat tinggi mungkin perlu dilakukan terapi cahaya bilirubin. GEJALA Sebagian besar kasus hiperbilirubinemia tidak berbahaya, tetapi kadang kadar bilirubin yang sangat tinggi bisa menyebabkan kerusakan otak (keadaannya disebut kern ikterus). Kern ikterus adalah suatu keadaan dimana terjadi penimbunan bilirubin di dalam otak, sehingga terjadi kerusakan otak. Biasanya terjadi pada bayi yang sangat prematur atau bayi yang sakit berat. Gejalanya berupa: - rasa mengantuk - tidak kuat menghisap - muntah - opistotonus (posisi tubuh melengkung, leher mendekati punggung) - mata berputar-putar ke atas - kejang

- bisa diikuti dengan kematian. Efek jangka panjang dari kern ikterus adalah keterbelakangan mental, kelumpuhan serebral (pengontrolan otot yang abnormal, cerebral palsy), tuli dan mata tidak dapat digerakkan ke atas. DIAGNOSA Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala, hasil pemeriksaan fisik dan hasil pemeriksaan darah yang menunjukkan adanya peningkatan kadar bilirubin. PENGOBATAN Hiperbilirubinemia ringan tidak memerlukan pengobatan. Lebih sering menyusui bayi, akan mempercepat pembuangan isi usus sehingga mengurangi penyerapan kembali bilirubin dari usus dan menurunkan kadar bilirubin dalam darah. Jika kadar bilirubin lebih tinggi, bisa dilakukan fototerapi, dimana bayi disinari dengan cahaya bilirubin. Cahaya yang diarahkan ke kulit bayi menyebabkan suatu perubahan kimia pada molekul bilirubin di dalam jaringan bawah kulit. Dengan adanya perubahan ini, maka bilirubin bisa segera dibuang tanpa harus diubah terlebih dahulu oleh hati. Jika kadar bilirubin sangat tinggi, dilakukan terapi ganti, dimana darah bayi dibuang untuk membuang bilirubin dan diganti dengan darah segar. Pada jaundice ASI, kadang pemberian ASI harus dihentikan selama 1-2 hari. Segera setelah kadar bilirubin mulai menurun, ASI boleh kembali diberikan. Sinar Biru Untuk Melawan Bayi Kuning http://www.ayahbunda.co.id

Bayi baru lahir sering diterapi dengan sinar biru. Apa hebatnya sinar ini? Ikterus adalah warna kuning yang tampak pada putih mata (sklera) dan kulit bayi baru lahir. Warna kuning itu pertanda terjadinya penumpukan bilirubin, yaitu senyawa hasil pemecahan sel darah merah, bisa karena sel darah merah sudah tua atau ada proses penghancuran yang abnormal. Semasa dalam kandungan, bilirubin dikeluarkan melalui plasenta ibu. Setelah lahir, bayi harus mengeluarkannya sendiri. Pengeluaran bilirubin oleh bayi memerlukan fungsi hati yang sempurna dan makanan dalam usus yang membawanya keluar sebagai feses. Kadar bilirubin yang normal bergantung pada usia bayi. Contohnya, kadar bilirubin 12 mg/dl pada bayi kurang dari 24 jam adalah abnormal. Tetapi kadar tersebut pada bayi cukup bulan usia 3 hari adalah normal. Bila bayi tampak kuning, perlu diperiksa kadar bilirubin untuk menentukan apakah kadarnya masih normal atau sudah abnormal sehingga perlu terapi. Dianggap di atas normal bila kadar biliburin lebih dari 12 mg/dl. Bila kadar bilirubin di atas normal, dokter akan melakukan terapi sinar biru pada bayi kuning tersebut. Terapi ini dilakukan di rumah

sakit. Bayi diletakkan di bawah lampu yang memancarkan spektrum cahaya biru dengan panjang gelombang tertentu (ukurannya sekitar 450 nanometer). Fungsi terapi sinar biru ini akan mengubah bilirubin menjadi senyawa yang larut dalam air sehingga dapat dikeluarkan dari tubuh bayi. Berapa lama bayi menjalani terapi sinar biru tergantung pada kadar bilirubin, biasanya sekitar 2-4 hari. Bila kadar bilirubin 12-15 mg/dl, terapi dilakukan selama 2-3 hari. Bila kadarnya mencapai 15-20 mg/dl terapi dilakukan selama 3-4 hari. Biliblanket. Selain terapi sinar biru, dapat pula dilakukan dengan biliblanket, yaitu selimut yang mengandung serat optik yang juga terdapat pada sinar biru. Bedanya, selimut ini dapat langsung menutup tubuh bayi sehingga Anda dapat langsung menyusui dan memeluknya. Di Indonesia juga tersedia biliblanket, namun tidak begitu efektif dalam menurunkan kadar bilirubin. Yang paling efektif adalah terapi sinar biru. Tranfusi darah. Bila kadar bilirubin bayi baru lahir di atas 20 mg/dl, dokter akan malakukan transfusi darah untuk menukar darah bayi. Karena, bilirubin yang sangat tinggi berisiko tinggi masuk ke dalam otak sehingga terjadi gangguan pada otak dan kualitas perkembangan bayi. Gejala kuning: Kulit, selaput lendir (gusi, mata) berwarna kuning. Bayi rewel, mengantuk, lemas. Kurang aktif menyusu. Urin berwarna kuning tua (pekat). Cara terapi: Bayi dalam boks disinar dari jarak 10 23,5 cm. Saat diterapi, mata bayi ditutup dengan kain kassa, agar retinanya aman. Selama menjalani terapi, bayi harus sering disusui karena ASI efektif dalam melancarkan proses buang air kecil dan buang air besar, dan bayi terhindar dari dehidrasi akibat efek panas sinar biru tersebut. Belum ditemukan efek negatif dari terapi sinar biru terhadap kesehatan bayi bila dilaksanakan dengan tepat. Terapi sinar biru masih dianggap aman dan tidak mahal.

tetanus DEFINISI Tetanus (lockjaw) adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh racun yang dihasilkan oleh bakteri Clostridium tetani. Disebut juga lockjaw karena terjadi kejang pada otot rahang. Tetanus banyak ditemukan di negara-negara berkembang. PENYEBAB Bakteri an-aerob Clostridium tetani. Spora dari Clostridium Tetani dapat hidup selama bertahun-tahun di dalam tanah dan kotoran hewan. Jika bakteri tetanus masuk ke dalam tubuh manusia, bisa terjadi infeksi baik pada luka yang dalam maupun luka yang dangkal. Setelah proses persalinan, bisa terjadi infeksi pada rahim ibu dan pusar bayi yang baru lahir (tetanus neonatorum). Yang menyebabkan timbulnya gejala-gejala infeksi adalah racun yang dihasilkan oleh bakteri, bukan bakterinya. GEJALA Gejala-gejala biasanya muncul dalam waktu 5-10 hari setelah terinfeksi, tetapi bisa juga timbul dalam waktu 2 hari atau 50 hari setelah terinfeksi. Gejala yang paling sering ditemukan adalah kekakuan rahang. Gejala lainnya berupa gelisah, gangguan menelan, sakit kepala, demam, nyeri tenggorokan, menggigil, kejang otot dan kaku kuduk, lengan serta tungkai.

Penderita bisa mengalami kesulitan dalam membuka rahangnya (trismus). Kejang pada otot-otot wajah menyebabkan ekspresi penderita seperti menyeringai dengan kedua alis yang terangkat. Kekakuan atau kejang otot-otot perut, leher dan punggung bisa menyebabkan kepala dan tumit penderita tertarik ke belakang sedangkan badannya melengkung ke depan. Kejang pada otot sfingter perut bagian bawah bisa menyebabkan sembelit dan tertahannya air kemih. Gangguan-gangguan yang ringan, seperti suara berisik, aliran angin atau goncangan, bisa memicu kekejangan otot yang disertai nyeri dan keringat yang berlebihan. Selama kejang seluruh tubuh terjadi, penderita tidak dapat berbicara karena otot dadanya kaku atau terjadi kejang tenggorokan. Hal tersebut juga menyebabkan gangguan pernafasan sehingga terjadi kekurangan oksigen. Biasanya tidak terjadi demam. Laju pernafaan dan denyut jantung serta refleks-refleks biasanya meningkat. Tetanus juga bisa terbatas pada sekelompok otot di sekitar luka. Kejang di sekitar luka ini bisa menetap selama beberapa minggu. DIAGNOSA Diduga suatu tetanus jika terjadi kekakuan otot atau kejang pada seseorang yang memiliki luka. Untuk memperkuat diagnosis bisa dilakukan pembiakan bakteri dari apusan luka. PENGOBATAN

Untuk menetralisir racun, diberikan immunoglobulin tetanus. Antibiotik tetrasiklin dan penisilin diberikan untuk mencegah pembentukan racun lebih lanjut. Obat lainnya bisa diberikan untuk menenangkan penderita, mengendalikan kejang dan mengendurkan otot-otot. Penderita biasanya dirawat di rumah sakit dan ditempatkan dalam ruangan yang tenang. Untuk infeksi menengah sampai berat, mungkin perlu dipasang ventilator untuk membantu pernafasan. Makanan diberikan melalui infus atau selang nasogastrik. Untuk membuang kotoran, dipasang kateter. Penderita sebaiknya berbaring bergantian miring ke kiri atau ke kanan dan dipaksa untuk batuk guna mencegah terjadinya pneumonia. Untuk mengurangi nyeri diberikan kodein. Obat lainnya bisa diberikan untuk mengendalikan tekanan darah dan denyut jantung. Setelah sembuh, harus diberikan vaksinasi lengkap karena infeksi tetanus tidak memberikan kekebalan terhadap infeksi berikutnya.

PROGNOSIS Tetanus memiliki angka kematian sampai 50%. Kematian biaanya terjadi pada penderita yang sangat muda, sangat tua dan pemakai obat suntik. Jika gejalanya memburuk dengan segera atau jika pengobatan tertunda, maka prognosisnya buruk.

PENCEGAHAN Mencegah tetanus melalui vaksinasi adalah jauh lebih baik daripada mengobatinya. Pada anak-anak, vaksin tetanus diberikan sebagai bagian dari vaksin DPT (difteri, pertusis, tetanus). Dewasa sebaiknya menerima booster Pada seseorang yang memiliki luka, jika: # Telah menerima booster tetanus dalam waktu 5 tahun terakhir, tidak perlu menjalani vaksinasi lebih lanjut # Belum pernah menerima booster dalam waktu 5 tahun terakhir, segera diberikan vaksinasi # Belum pernah menjalani vaksinasi atau vaksinasinya tidak lengkap, diberikan suntikan immunoglobulin tetanus dan suntikan pertama dari vaksinasi 3 bulanan. Setiap luka (terutama luka tusukan yang dalam) harus dibersihkan secara seksama karena kotoran dan jaringan mati akan mempermudah pertumbuhan bakteri Clostridium tetani. sumber : Apotik online dan media informasi obat - penyakit :: m e d i c a s t o r e . c o m

KEHAMILAN RESIKO TINGGI (RESTI) A. Definisi Kehamilan risiko tinggi adalah kehamilan yang dapat mempengaruhi optimalisasi ibu maupun janin pada kehamilan yang dihadapi. Ibu hamil dengan kehamilan risiko tinggi adalah ibu hamil yang mempunyai risiko atau bahaya yang lebih besar pada kehamilan atau persalinannya dibandingkan dengan ibu hamil dengan kehamilan (persalinan) normal. Dengan demikian, untuk menghadapi kehamilan atau janin risiko tinggi harus diambil sikap proaktif, berencana dengan upaya promotif dan preventif, sampai pada waktunya

harus diambil sikap tepat dan cepat, untuk dapat menyelamatkan ibu dan bayinya atau hanya dipilih ibunya saja. Kehamilan risiko tinggi adalah kehamilan dengan ibu atau perinatal berada atau akan berada dalam keadaan membahayakan (kematian atau komplikasi serius) selama gestasi atau dalam rentang waktu nifas atau neonatal. Perkiraan insidensi kehamilan risiko tinggi sangat bervariasi, terutama bergantung pada kriteria definisi yang digunakan dan ketepatan pegumpulan data. Meskipun demikian, menurut sebagian besar standar, sekitar 20% kehamilan yang terjadi di Amerika Serikat berada pada risiko sedang dan kira-kira 5% kehamilan berada pada risiko sangat tinggi. Sekitar separuh kasus dapat dikenali pada masa antenatal dan seperempat kasus lainnya dikenali selama persalinan. B. Yang Termasuk Kehamilan Resiko Tinggi Beberapa peneliti menetapkan kehamilan dengan risiko tinggi sebagai berikut. 1. Poedji Rochyati a. Primipara muda umur kurang dari 16 tahun. b. Primipara tua umur di atas 35 tahun. c. Primipara sekunder dengan umur anakterkecil diatas 5 tahun. d. Tinggi badan kurang dari 145 cm. e. Riwayat kehamilan yang buruk : 1) Pernah keguguran. 2) Pernah persalinan prematur, lahir mati. 3) Riwayat persalinan dengan tindakan (ekstraksi vakum, ekstraksi forceps, operasi seksio sesarea). f. Preeklampsia-eklampsia. g. Gravida serotinus. h. Kehamilan perdarahan antepartum i. j. Kehamilan dengan kelainan letak Kehamilan dengan penyakit ibu yang mempengaruhi kehamilan

2. Ida Bagus Gde Manuaba menyederhanakan faktor risiko yang perlu diperhatikan sebagai berikut

a.

Berdasarkan anamnesis 1) Umur penderita : a) Kurang dari 19 tahun b) Umur diatas 35 tahun c) Perkawinan di atas 30 tahun 2) Riwayat Operasi : a) Operasi plastik pada fistel vagina atau tumor vagina. b) Operasi persalinan atau operasi pada rahim. 3) Riwayat Kehamilan a) Keguguran berulang. b) Kematian intrauteri. c) Sering mengalami perdarahan saat hamil. d) Terjadi infeksi saat hamil. e) Anak terkecil 5 tahun tanpa KB f) Riwayat mola hidatidosa atau korio karsinoma. 4) Riwayat Persalinan

a) Persalinan prematur. b) Persalinan dengan berat bayi lahir rendah. c) Persalinan lahir mati. d) Persalinan dengan induksi. e) Persalinan dengan plasenta manual. f) Persalinan dengan perdarahan pascapartus. g) Persalinan dengan tindakan (ekstraksi forceps, ekstraksi vakum, letak sungsang, ekstraksi versi, dan operasi sesarea). b. Hasil pemeriksaan fisik 1) Hasil pemeriksaan fisik umum: a) Tinggi badan kurang dari 145 cm. b) Deformitas pada tulang panggul. c) Kehamilan disertai anemia, penyakit jantung, diabetes melitus, paru, hepar atau ginjal. 2) Hasil pemeriksaan kehamilan:

a) Kehamilan trimester satu: hiperemesis gravidarum berat, perdarahan, infeksi intrauteri, nyeri abdomen, serviks inkompeten, dan kista ovarium serta mioma uteri. b) Kehamilan trimester kedua dan ketiga: preeklampsia-eklampsia, perdarahan, kehamilan ganda, hidramnion, dan dismaturitas serta gangguan pertumbuhan. c) Kehamilan dengan kelainan letak : sungsang, lintang, kepala belum masuk PAP minggu ke 36 pada primigravida dan hamil dengan dugaan disproporsi sefalopelvik, kehamilan lewat waktu (di atas 42 minggu). d) In partu: persalinan dengan risiko tinggi memerlukan perhatian serius karena pertolongan akan menentukan tinggi rendahnya kematian ibu dan neonatus (perinatal). e) Keadaan risiko tinggi dari sudut ibu: (1) Ketuban pecah dini (2) Persalinan lama melampaui batas waktu perhitungan partograf WHO. (3) Persalinan terlantar (4) Ruptur Uteri. (5) Persalinan dengan kelainan letak janin: sungsang, kelainan posisi kepala dan letak lintang. (6) Distosia karena tumor jalan lahir, distosia bahu bayi, atau bayi yang besar. (7) Perdarahan antepartum: (plasenta previa, solusio plasenta, ruptur sinus marginalis dan ruptur vasa previa). (8) Retensio plasenta. f) Keadaan risiko tinggi ditinjau dari sudut janin: (1) Pecah ketuban disertai perdarahan (pecahnya vasa previa) (2) Dismaturitas. (3) Makrosomia. (4) Infeksi intrauteri. (5) Distres janin. (6) Pembentukan kaput besar. g) Keadaan risiko tinggi pascapartus (1) Persalinan dengan retensio plasenta. (2) Atonia uteri pascapartus. (3) Persalinan dengan robekan perinium yang luas, robekan serviks, vagina dan ruptur uteri.

C. Bahaya Kehamilan Dengan Risiko Tinggi 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Bayi lahir belum cukup bulan. Bayi lahir dengan berat kahir rendah (BBLR). Keguguran (abortus). Persalinan tidak lancar/macet. Perdarahan sebelum dan sesudah persalinan. Janin mati dalam kandungan. Ibu hamil/bersalin meninggal dunia. Keracunan kehamilan/kejang-kejang.

D. Diagnosis Penegakkan diagnosis kehamilan dan janin dengan risiko tinggi adalah dengan : 1. Melakukan anamnesis yang intensif (baik). 2. Melakukan pemeriksaan fisik. 3. Melakukan pemeriksaan penunjang, seperti : a. Pemeriksaan laboratorium. b. Pemeriksaan rontgen c. Pemeriksaan ultrasonografi dan d. Pemeriksaan lain yang dianggap perlu E. Pencegahan Kehamilan risiko tinggi dapat dicegah bila gejalanya ditemukan sedini mungkin sehingga dapat dilakukan tindakan perbaikinya. Yang harus dilakukan bagi seorang ibu hamil dengan risiko tinggi yaitu: 1. Memeriksakan kehamilan secara teratur sesuai dengan anjuran petugas kesehatan atau dokter. 2. Merencanakan persalinan aman. 3. Istirahat cukup, istirahat malam kurang lebih delapan jam dan istirahat siang kurang lebih dua jam. 4. Boleh melakukan kegiatan sehari-hari asal tidak berlebihan. 5. Memenuhi kebutuhan gizi untuk ibu hamil dengan mengkonsumsi makanan yang bergizi.

6.

Segera ke Bidan, Dokter, Puskesmas atau Rumah Sakit apabila didapatkan tanda-tanda sebagai berikut: a. Badan panas lebih dari dua hari. b. Perdarahan melalui vagina. c. Keluar ketuban melalui vagina. d. Sakit kepala terus menerus. e. Muntah-muntah. f. Batuk campur darah. g. Kejang-kejang. h. Gerakan janin tidak terasa . Bengkak berat pada kelopak mata atau seluruh tubuh Mengenal Proses Terjadinya Bayi Tabung Friday, July 15th, 2011. 4915 views. Ketika hubungan suami isteri yang dilakukan secara konvensional tidak mampu mengantarkan sperma sampai ke sel indung telur dalam rahim, proses bayi tabung bisa menjadi alternatif bagi pasangan suami isteri (pasutri) untuk mendapatkan keturunan. Di Indonesia sendiri proses bayi tabung memang jarang dilakukan. Biayanya yang sangat mahal menyebabkan pasutri yang susah memiliki keturunan enggan memilih proses bayi tabung sebagai alternatif solusi. Selain itu, pro kontra keabsahan cara bayi tabungbagi pasturi agar mendapatkan keturunanjika dinilai dari kaca mata agama, juga menjadi bahan pertimbangan utama bagi sebagian besar masyarakat. Tidak mengherankan jika akhirnya mereka cenderung menghindari program ini. Namun bagi Anda yang telah memutuskan proses bayi tabung sebagai alternatif solusi untuk mendapatkan keturunan, ada baiknya Anda mempertimbangkan hal-hal berikut ini: (1) Memiliki keyakinan yang kuat agar proses pembuatan bayi tabung bisa berhasil; (2)

Menjaga kesehatan tubuh secara optimal sebelum penyuntikan sperma dilakukan. Hal ini bertujuan untuk mengontrol hormon tubuh agar sesuai yang diharapkan dan berlangsung selama kurang lebih tiga minggu; (3) Persiapan menghadapi proses pengeluaran sel telur dari rahim serta proses seleksi untuk mendapatkan sel telur yang terbaik; (4) Persiapan menjalani proses injeksi sel telur ke dalam rahim setelah sel telur tersebut dibuahi secara In Vitro Fertilization (IVF); (5) Setelah proses injeksi selesai dilakukan, pihak isteri harus kembali bersiap mendapatkan suntikan hormon untuk penguatan sel telur selama 17 hari. Baru setelah itu bisa dideteksi apakah kehamilan bisa terjadi ataukah sebaliknya. Adapun proses pembuatan bayi tabung berlangsung dalam tiga tahap. Tahap pertama, tahap Persiapan Petik Ovum (Per-Uvu) yang meliputi fase down regulation dan terapi stimulasi. Fase down regulation merupakan suatu proses untuk menciptakan suatu keadaan seperti menopouse agar indung telur siap menerima terapi stimulasi. Tahapan ini berlangsung antara dua minggu hingga satu bulan. Setelah fase down regulation selesai lalu dilanjutkan dengan terapi stimulasi. Tujuan dari terapi ini untuk merangsang pertumbuhan folikel pada indung telur. Dengan demikian jumlahnya semakin banyak sehingga pada akhirnya bisa didapatkan sel telur yang telah matang ketika tiba pada operasi petik ovum. Tahap kedua, tahap operasi petik ovum/Ovum Pick-Up (OPU). Tahap ini bisa dilakukan ketika sudah terdapat tiga folikel atau lebih yang berdiameter 18 mm pada pagi hari dan pertumbuhan folikelnya seragam. Selain itu kadar E2 juga harus mencapai 200pg/ml/folikel matang. Tahap ketiga, tahap post OPU. Tahap ini meliputi dua fase, yaitu transfer embrio dan terapi obat penunjang kehamilan. Fase transfer embrio merupakan proses memasukkan dua atau maksimum tiga embrio yang sudah terseleksi ke dalam rahim. Setelah proses ini selesai lalu dilanjutkan dengan terapi obat penunjang kehamilan. Tujuan dari terapi tersebut untuk mempersiapkan rahim agar bisa menerima implantasi embrio sehingga embrio bisa berkembang normal. Proses bayi tabung memang tidak bisa dilakukan secara instan. Oleh karena itu bagi pasutri yang telah memilih cara bayi tabung untuk mendapatkan keturunan, sejak awal memang dituntut mempersiapkan diri dengan baik agar mampu menjalani seluruh prosedur yang telah ditetapkan sehingga bisa mendapatkan hasil yang optimal.