Anda di halaman 1dari 14

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Mikroorganisme merupakan makhluk hidup yang sangat kecil dan sangat penting dalam memelihara keseimbangan ekologi dan ekosistem di bumi. Beberapa mikroorganisme bersifat menguntungkan dan ada pula yang bersifat merugikan, baik terhadap manusia maupun hewan. Sebagai contoh, mkroorganisme yang menguntungkan dapat dimanfaatkan dalam pembuatan makanan yang dapat dikonsumsi oleh manusia maupun hewan. Akan tetapi, tidak sedikit mikroorganisme yang dapat merugikan manusia yang dapat menimbulkan penyakit yang berbahaya bagi tubuh manusia. Oleh karena itu, penting sekai untuk mengetahui segala sesuatu mengenai mikroorganisme, baik jenis, sifat, peran, maupun patogenesis mikroorganisme untuk menghindari infeksi yag disebabkan oleh mokroorganisme ataupun untuk megobati penyakit yang ditimbulkannya. Selain itu, pengetahuan tentang mikroorganisme sangat bermanfaat dalam kehidupan kita sehari-hari dalam rangka menjalani hidup yang bersih dan sehat. (Radji,2011) Sebagai seorang analis kesehatan, ketika menjalankan tugas untuk menguji suatu spesimen, khususnya terhadap mikroorganisme, terlebih bakteri yang berukuran sangat kecil dan tidak dapat dilihat dengan mata telanjang dibutuhkan bantuan alat pendukung. Salah satu alat tersebut adalah mikroskop. Namun, bila suatu jenis bakteri dilihat denan mikroskop tanpa melalui proses pewarnaan, memang bakteri tersebut dapat dilihat, tetapi karena ukurannya kecil dan benig (tidak berwarna) maka sukar sekali untuk bisa dilihat dengan teliti. Agar dapat dilihat dengan jelas, supaya dapat dipelajari dengan sebaik-baiknya, maka sebelum dilihat harus diwarnai terlebih dahulu. (Entjang, 2003) Pewarnaan bakteri dapat dilakukan dengan sa,tu macam zat warna ataupun lebih. Pewarnaan bakteri dengan menggunakan atu macam zat warna disebut pewarnaan sederhana. Pewarnaan dengan menggunakan lebih dari satu macam zat warna diberi naa sesuai dengan penemunya. (Entjang, 2003) Zat warna yang sering digunakan adalah fuchin bewarna merah, methylen blue dengan warna biru, dan gentian violet dengan warna ungu. Pada pewarnaan sederhana yang sering dipakai adalah methyen blue. Hasil pewarnaannya akan lebih baik bila diberi sedikit KOH (kalium hidroksida). (Entjang, 2003) 1.2 Rumusan Masalah
1

1. Bagaimana cara untuk melakukan pewarnaan gram (cat gram)? 2. Bagaimana penggolongan bakteri yang terlihat saat hasil pengecatan diamati dibawah mikroskop (dari warna, bentuk, sifat dan penataannya)? 1.3 Tujuan 1. Untuk mengetahui cara utuk melakukan pewarnaan gram (cat gram). 2. Untuk mengetahui penggolongan bakteri yang terlihat saat hasil pewarnaan diamati di bawah mikroskop (dari warna, bentuk, sifat, dan penataannya). 1.4 Manfaat Manfaat yang diperoleh dalam melakukan kegiatan ini adalah mahasiswa dapat melakukan pengwarnaan gram yang mempermudah dalam melkukan pengamatan terhadap bakteri, baik dari segi warna, bentuk, sifat, dan penataannya.

BAB II DASAR TEORI 2.1 Pengecatan Gram Pada tahun 1884, seorang dokter berkebangsaan Denmark, Christian Gram, membuat zat warna khusus yang sangat penting dalam bidang bakteriologi. Dalam proses pewarnaan yang dilakukan oleh Christian Gram, digunakan empat jenis reagen berbeda, yakni karbol kristal ungu, lugol, alkohol 96%, dan fuchin. Zat warna kristal karbol ungu dan lugol akan membentuk senyawa kompleks yang berwarna ungu. Setelah pencucian dengan alkohol 96%, beberapa kelompok bakteri dapat melepaskan zat warna ungu dengan mudah, sedangkan kelompok yang ain dapat mempertahankan zat warna ungu tersebut. Bakteri yang tidak mempertahankan zat warna ungu dalam pencucian dengan alkohol 96% merupakan bakteri Gram-negatif, sedangkan kelompok bakteri yang mempertahankan zat warna ungu tersebut merupakan bakteri Grampositif. Karena tidak berwarna setelah dicuci dengan alkohol 96%, bakteri gram-negatif perlu diwarnai dengan zat warna lain untuk mengetahui bentuknya di bawah mikroskop, yaitu dengan zat warna merah air fuchin atau safranin. Dengan demikian, bakteri gramnegatif akan berwarna merah. Sebaliknya, zat warna ungu yang tercuci oleh alkohol 96% pada bakteri gram-positif menyebabkan penambahan zar warna safranin tidak berpengaruh. Dengan demikian, sel bakteri gram-positif tetap berwarna ungu atau biru lembayung. (Radji,2011) Perbedaan hasil pewarnaan gram pada bakteri gram-positif dan gram-negatif dijelaskan oleh beberapa teori.
a. Teori Salton. Teori ini menjelaskan bahwa dinding sel bateri gram-negatif

mengandung kadar lipid yag tinggi, sekitar 20%. Lipid ini dapat larut pada tahap pencucian sediaan dengan alkohol 96% sehingga pori-pori pada dinding sel membesar dan zat warna yang sudah diserap oleh sel akan dilepaskan kembali; akibatnya, bakteri tersebut menjadi tidak berwarna. Sebaliknya pada bakteri gram-positif, pencucian dengan alkohol 96% akan menyebabkan protein pada dinding sel mengalami denaturasi sehingga pori-pori mengecil dan kompleks ungu kristal iodium tetap terperangkan di dalam dinding sel; akibatnya, bakteri berwarna ugu. b. Teori lain menyebutkan bahwa perbedaan wana bakteri gram-positif dan gramnegatif berkaitan dengan permeabilitas dinding sel. Teori ini didasarkan pada
3

ketebalan lapisan peptidoglikan dalam dinding sel. Susunan dinding sel bakteri gram-positif terdiri atas lapisan pentidoglikan yang tebal sekali (kurang lebih tiga puluh lapisan) sehingga permeabilitas dinding sel bakteri gram-positif kurang dan kompleks ungu kristal iodium tidak dapat eluar dari dinding sel. Lapisan pepridoglikan bakteri gram-negatif sangat tipis, hanya satu sampai dua lapisan, sehingga permeabilitas dinding sel gram-negatif lebih besar dan meungkinkan keluarnya kompleks ungu kristal iodium dari dinding sel. (Radji,2011) 2.2 Bentuk, Anatomi, dan Struktur Sel Bakteri 2.2.1 Bentuk Bakteri Bentuk dasar bakteri terdiri atas bentuk bulat (kokus), batang (basil),dan spiral (spirilia) serta terdapat bentuk antara kokus dan basil yang disebut kokobasil. Berbagai macam bentuk bakteri : 1. Bakteri Kokus :

kokus a. Monokokus yaitu berupa sel bakteri kokus tunggal b. Diplokokus yaitu dua sel bakteri kokus berdempetan c. Tetrakokus yaitu empat sel bakteri kokus berdempetan berbentuk segi empat. d. Sarkina yaitu delapan sel bakteri kokus berdempetan membentuk kubus e. Streptokokus yaitu lebih dari empat sel bakteri kokus berdempetan membentuk rantai.

f. Stapilokokus yaitu lebih dari empat sel bakteri kokus berdempetan seperti buah anggur 2. Bakteri Basil :

basil a. Monobasil yaitu berupa sel bakteri basil tunggal b. Diplobasil yaitu berupa dua sel bakteri basil berdempetan c. Streptobasil yaitu beberapa sel bakteri basil berdempetan membentuk rantai 3. Bakteri Spirilia :

spirilia a. Spiral yaitu bentuk sel bergelombang b. Spiroseta yaitu bentuk sel seperti sekrup c. Vibrio yaitu bentuk sel seperti tanda baca koma

2.2.2

Anatomi dan struktur sel bakteri a. Dinding Sel Pada bakteri jelas adanya dinding sel yang terpisah dari protoplasmanya. Hal ini dapat dibuktikan dengan proses plasmolisis. Dinding yang kaku dan kuat menyebabkan bakteri mempunyai bentuk yang tetap dan terlindung dari pengaruh buruk dari luar. Karena dinding sel bersifat kaku, maka dengan menempatkan bakteri dalam larutan hypertonis, protoplasma akan mengerut dan terlepas dari dinding sel, sehingga dinding sel akan terlihat jelas. (Entjang,2003) b. Membran sitoplasma Membran sitoplasma merupakan lapisan tipis yang berada tepat di dalam dinding sel yang melapisi sitoplasma sel. Fungsipenting membran sitoplasma adalah sawar selektif untuk keluar masuknya senyawa kimia dari luar dan dari dalam sel. Selain mengandung beberapa enzimyang dapat mencerna nutrisi dan menghasilkan energi ATP, membran plasma juga berfungsi untuk menjamin pemisahan materi genetik (DNA) ke sel anakan pada saat terjadi pembelahan sel. (Radji,2011) c. Sitoplasma Sitoplasma merupakan substansi yang berada di dalam membran plasma dan mengandung 80% air. Selain itu, sitoplasma mengandung protein, lemak, enzim, karbohidrat, ion-ion organik, dan berbagai senyawa berbobt molekul rendah. Struktur utama prokariot terdiri atas area nukleus yang mengandung DNA, ribisom, berbagai inklusi, dan granul. (Radji,2011) d. Nukleus (inti) Nukelus bakteri mengandung DNA untai ganda berbentuk melingkar yang disebut dengan kromosom bakteri. Berbeda dari kromosom eukariot, kromosom bakteri tidak dikelilingi oleh membran inti sel dan tidak mengandung protein histon. (Radji,2011)
e. Kapsul (Glikokaliks)

Selaput lendir yang membungkus seluruh permukaan bakteri dan merupakan bagian dari sel bakteri disebut dengan kapsul atau glikokaliks. Disebut glikokaliks karena bagian ini tersusun atas polisakaridan dan polipeptida. Keberadaan kapsul ditunjukkan dengan pewarnaan negatif pada kapsul bakteri. (Entjang,2003)
6

f. Flagel Flagel adalah bagian bakteri yang berbentuk seperti benang dengan diameter 12-30 nanometer dan pada umumnya mengandung protein yang disebut flagelin. g. Pili dan Fimbria Pili merupakan organ tambahan berbentuk benang yang lebih pendek, lebih lurus, dan lebih kecil dari flagel, yang berfungsi sebagai alat untuk menempel dan bukan untuk bergerak. Organ ini mengandung protein yang disebut pilin. Fimbria terdapat diseluruh permukaan sel bakteri. Organ ini berperan dalam adhesi bakteri dengan sel hospes. (Radji,2011) h. Ribosom Ribosom pada bakteri memiliki fungsi yang sama dengan ribosom yang ada pada sel manusia, yakni untuk sintesis protein. Pengamatan dengan mikroskop elektron menunjukkan bahwa sitoplasma dipenuhi oleh ribosom sehingga sitoplasma tampak bergranul. (Radji,2011) i. Mesosom Mesosom merupakan cekungan atau lekukan ke dalam yang relatif besar. Lekukan membran plasma ini dapat memperluas permukaan membran dan berfungsi sebagai tempat kerja enzim yang terlibat dalam respirasi dan transpor elektron. Mesosom, yang merupakan tempat menempelnya kromosom bakteri, juga berfungsi dalam proses pembelahan sel. (Radji,2011) j. Inklusi Inklusi merupakan substansi cadangan di dalam sitoplasma sel prokariot, yang mengandung berbagai substansi, seperti glikogen, metafosfat anorganik, asam polihidroksibutirat, belerang atau senyawa yang mengandung nitrogen, yang biasa digunakan sebagai nutrisi bagi sel. (Radji,2011)

BAB III METODE 3.1 Waktu dan Tempat 3.1.1 Waktu Praktikum ini dilaksanaka dalam dua tahap, yaitu: Tahap 1 Merupakan proses pewarnaan bakteri yang dilaksanakan pada Jumat, 16 Februari 2012. Tahap 2 Merupakan proses pembacaan preparat bakteri yang telah diwarnai sebelumnya Jumat, 16 Februari 2012. Proses pembacaan dilaksanakan pada Kamis, 23 Februari 2012. 3.1.2 Tempat Pelaksanaan praktikum bakteriologi ini, dilaksanakan di Laboratorium Bakteriologi Jurusan Analis Kesehatan Politekik Kesehatan Denpasar. 3.2 Alat, Bahan, dan Reagen 3.2.1 Alat
1. Kaca preparat (object glass)

2. Ose 3. Pinset
4. Api bunsen

5. Mikroskop 6. Rak pewarnaan 7. Label 8. Tissue 3.2.2 Bahan 1. Biakan bakteri 2. Air garam fisiologis 3. Aquadest 3.2.3 Reagen 1. 2. 3. Carbol gentian (gram I) Lugol/iodine (gram II) Alkohol 96% (gram III)
8

4. 3.3 Langkah Kerja 3.3.1

Safranin/fuchin (gram IV)

Pembuatan Sediaan
1. Diambil kaca preparat, difiksasi kaca preparat dan diberi label.

2. Diambil ose, lalu dipanaskan dalam api bunsen. 3. Diambil 1 ose NaCl, diteteskan pada kaca objek.
4. Dibuka cawan petri yang berisi sampel. Diambil 1 ose koloni, dicampur

dengan NaCl pada kaca preparat. 5. Dihapuskan pada kaca preparat. 6. Diletakkan pada posisi miring dan dikerigkan pada suhu kamar. 7. Dipanaskan mulut cawan petri dan ditutup kembali. 3.3.2 Fiksasi 1. Fiksasi dilakukan dengan cara mengelilingi kaca preparat pada api bunsen sebanyak tiga kali. 3.3.3 Pewarnaan 1. Diteteskan cat gram I pada kaca preparat, ditunggu hingga 1 menit, lalu dibilas dengan air mengalir. 2. Diteteskan cat gram II pada kaca preparat, ditunggu hingga 1 menit, lalu dibilas dengan air mengalir. 3. Diteteskan cat gram III pada kaca preparat, ditunggu hingga menit, lalu dibilas dengan air mengalir. 4. Diteteskan cat gram IV pada kaca preparat, ditunggi -1 menit, lalu dibilas dengan air mengalir. 5. Dikeringkan dengan cara diaginkan dan diletakkan pada rak preparat. 3.3.4 Pembacaan 1. 2.
3.

Disiapka mikroskop diatas meja kerjayang rata dan kokoh. Diatur posisi duduk (ergonomi) yang baik agar tidak mengganggu Dihidupkan mikroskop dengan menekan tombol on/off pada Ditaruh slide pada meja mikroskop. Diatur lensa objek pada posisi 10x. Dinaikkan makrometer full ke atas. Diturunkan pelan-pelan hingga menemukan lapang pandang.
9

pengamatan. mikroskop untuk memulai langkah selanjutnya. 4. 5. 6. 7.

8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15.

Setelah mendapatkan lapang pandang, diatur fokus mata kanan dan Ditutup siafragma. Dinaikkan kondensor, diturunkan pelanpelan hingga menemukan Dibuka diafragma seluas lapang pandang. Diteteskan oil imersi dengan mencari celah diatara lensa objektif. Diputar lensa objektif ke 100x. Diatur mikrometer, jika kurang terang, diterangkan dengan Identifikasi bakteri gram apa yang ditemukan Bakteri gram positif berwarna ungu. Bakteri gram negatif berwarna merah.

mata kiri dengan mengatur cincin diopter pada lensa okuler.

polygon (segi banyak dengan sisi biru-biru tajam).

membesarkan lampu.

10

BAB IV PEMBAHASAN 4.1 Data Hasil Pengamatan 1. Preparat I

Ciri-ciri Warna Sifat Penataan 2.

: Berbentuk batang (basil) : Ungu : Bakteri gram positif : bergerombol

Preparat II

Ciri-ciri Warna Sifat Penataan

: Berbentuk batang (basil) : Ungu : Bakteri gram positif : - Berantai - Sendiri-sendiri

11

4.2 Pembahasan Proses pewarnaan gram sangat dipengaruhi oleh dinding sel bakteri yang benjadi objek pengecatan. Perbedaan ketebalan dinding sel pada bakteri mempengaruhi penyerapan dan pengikatan warna yang ditambahkan pada bakteri tersebut. Dinding sel bakteri mempunyai struktur yang sangat kompleks yang terdiri atas komponen yang kaku dan kuat serta berfungsi untuk mempertahankan bentuk dan keutuhan sel. Semua dinding sel bakteri mengandung makromolekul yang disebut peptidoglikan. Komponen ini memberikan kekuatan yang diperlukan untuk mempertahankan keutuhan sel. Berdasarkan perbedaan struktur dinding sel dan respon terhadap pewarnaan gram, maka bakteri digolongkan dalam bakteri gram positif dan bakteri gram negatif. Dinding sel bakteri gram positif lebih tebal daripada dinding sel bakteri gram negatif. Oleh karena itu, pengikatan terhadap warna yang dicatkan pada kedua jenis bakteri ini sangat berbeda. Dibawah ini adalah tabel penyerapan warna pada keempat tahapan pengecatan gram. Tabel 4.1 Deferensiasi zat warna pada proses pewarnaan gram Perlakuan Gram-positif Pewarnaan dengan Ungu muda karbol kristal ungu Pemberian lugol Pencucian alkohol 96% Pewarnaan dengan Ungu air fuchin Merah cairan Ungu tengguli dengan Ungu Ungu tengguli Tidak berwarna Gram-negatif Ungu muda Keterangan Zat warna diserap dalam dinding sel dan protoplasma Terbentuk kompleks kristal ungu iodium Zat warna dilarutkan oleh alkohol dan keluar dari sel Zat warna kontras air fuchin akan sel menyebabkan berwarna merah. (Radji,2011) Dinding sel kebanyakan bakteri gram positif terdiri atas beberapa lapisan peptidoglikan yang tebal dan kaku (20-80nm). Hal inilah yang membedakan dari dinding sel bakteri gram negatif. Dinding sel bakteri gram negatif hanya terdiri atas lapisan peptidoglikan yang tipis. Disamping itu, dinding sel beberapa bakteri gram positif mengandung substansi dinding sel yang disebut asam teikoat. Fungsi asam teikoat belum diketahui sepenuhnya, tetapi diperkirakan berperan dalam pertumbuhan dan pembelahan sel.
12

bakteri gram-negatif

Dinding sel bakteri gram negatif tidak mengandung asam teikoat. Karena hanya mengandung sedikit peptidoglikan, dinding sel bakteri gram negatif umunya lebih rentan terhadap guncangan fisik. Dibawah ini adalah tabel mengenai struktur, fungsi, dan makromolekul penyusun sel bakteri. Tabel 4.2 Struktur, fungsi dan makromolekul penyususn sel bakteri Bagian Sel Flagel Pili Fimbria Kapsul (glikokaliks) Fungsi Makromolekul Pergerakan bakteri Protein Mating, transfer DNA secara Protein konjugasi Alat menempel permukaan sel hospes dan Alat menempel permukaan mencegah untuk bertahan sel pada Protein pada Polisakarida, polipeptida hospes, fagositosis, terhadap keutuhan Peptidoglikan, asam teikoat sel,

lapisan lendir

sebagai cadangan nutrisi, dan kekeringan Dinding sel bakteri gram Mempertahankan positif isi sel dan

bentuk

mencegah lisis sel Dinding sel bakteri gram Mempertahankan keutuhan Peptidoglikan, negatif Membran plasma isi sel dan bentuk sel, lipopolisakarida, fosfolipida, protein sel, Fosfolipida dan protein mencegah lisis sel Sawar permeabilitas produksi Ribosom Inklusi Kromosom Plasmid energi,

tempat transportasi larutan, terdapat berbagai jenis enzim Tempat translasi (sintesis) RNA dan protein protein Tempat penyimpanan nutrisi Materi genetik sel Materi genetik ekstrakromosomal (Radji,2011) Karbohidrat, lemak, protein, dan senyawa anorganik DNA DNA

13

BAB V PENUTUP 5.1 Simpulan 1. Cara melakukan pewarnaan gram melalui empat tahapan, yakni pewarnaan dengan karbol kristal ungu, pemberian cairan lugol, pencucian dengan alkohol 96%, dan pewarnaan dengan air fichin. 2. Penggolongan bakteri hasil pengecatan gram adalah sebagai berikut: a. Preparat I Ciri-ciri Warna : Berbentuk batang (basil) : Ungu

Sifat: Bakteri gram positif Penataan b. Preparat II Ciri-ciri Warna : Berbentuk batang (basil) : Ungu : Bergerombol

Sifat: Bakteri gram positif Penataan : - Berantai - Sendiri-sendiri 5.2 Saran

Menurut saya praktikum sudah berjalan dengan lancar dan konsudusif karena praktikan sudah bisa mencoba pengecatan secara bergiliran dan teratur. Saya harapkan hal ini dapat terus dipertahankan dan ditingkatkan, sehingga praktikan dapat menambah keterampilan dan pengetahuan dalam melakukan pewarnaan bakteri, baik dengan pewarnaan gram, maupun jenis pewarnaan yang lainnya.

14