Anda di halaman 1dari 4

TUGAS AGAMA VISHAKA Visakha dilahirkan di kota Bhaddiya, negara Anga, yang terletak di sebelah timur Magadha.

. Ayahnya bernama Dhanajaya, putra dari Mendaka, dan ibunya bernama Sumana. Waktu Visakha berusia tujuh tahun, Sang Buddha mengunjungi kota Bhaddiya. Waktu itu Mendaka minta Visakha mengunjungi Sang Buddha dan diberi lima ratus orang pengikut, lima ratus orang budak dengan memakai lima ratus kereta. Tiba di tempat yang dituju, mereka mendengarkan khotbah Sang Buddha dan Visakha memperoleh Mata Dhamma dan menjadi seorang Sotapana. Visakha kemudian mengundang Sang Buddha beserta murid-Nya untuk makan siang keesokan harinya di rumah kakeknya. Selama empat belas hari berikutnya, Mendaka menjamu Sang Buddha beserta rombongan di rumahnya.

HARI PERNIKAHAN VISHAKA Pada hari pernikahan, Dhanajaya membekali putrinya dengan lima ratus pedati penuh dengan uang, lima ratus pedati penuh dengan emas, perak, tembaga, kain sutra, mentega, beras dan kacang-kacangan masing-masing lima ratus pedati. Alat meluku dan alat pertanian lainnya lima ratus pedati, lima ratus kereta dengan membawa tiga orang budak wanita tiap-tiap kereta disertai segala keparluan mereka. Di samping itu, juga ternak yang memenuhi lapangan seluas tiga per empat league panjangnya dan delapan cambuk lebarnya, yang berdiri berhimpit-himpitan ditambah dengan enam puluh ribu sapi jantan dan enam puluh ribu sapi perah. Masih ditambah lagi dengan perhiasan Mahalatapasadhana yang mahal sekali dengan disertai sepuluh pesan yang harus ditaati oleh Visakha selama berada di rumah suaminya.

Sepuluh Pesan Untuk Vishaka Selagi Di Rumah Suaminya Sebagai Berikut : 1.Api dari dalam rumah tidak boleh dibawa ke luar rumah. 2. Api dari luar rumah tidak boleh dibawa masuk ke dalam rumah. 3. Hanya memberi kepada orang yang memberi. 4. Tidak memberi kepada orang yang tidak memberi. 5. Memberi kepada orang yang memberi dan juga kepada orang yang tidak memberi. 6. Kalau duduk, duduklah dengan tenang dan bahagia.

7. Kalau makan, makanlah dengan tenang dan bahagia. 8. Kalau tidur, tidurlah dengan tenang dan bahagia. 9. Harus menjaga baik api di rumah. 10. Harus menghormat dewa-dewa di rumah. MIGARA Migara (mertua Visakha) adalah pengikut para pertapa Nigantha, yaitu pertapa yang hidup bertelanjang bulat. Tidak lama setelah Visakha berada di rumahnya, Migara mengundang para pertapa Nigantha datang ke rumahnya dan memerintahkan Visakha untuk melayaninya dengan baik Tetapi Visakha, yang jijik melihat mereka bertelanjang bulat, menolak untuk memberi hormat. Para pertapa Nigantha mendesak Migara untuk mengirim pulang Visakha, tetapi Migara ingin menunggu saat yang tepat.

Delapan Anugerah Yang Diberikan Oleh Sang Buddha Kepada Vishaka, yaitu : 1. Selama hidupnya ia diperkenankan untuk memberikan jubah kepada para bhikkhu yang selesai ber-vassa. 2. Selama hidupnya ia diperkenankan untuk memberi makanan kepada bhikkhu yang datang ke Savatthi. 3. Selama hidupnya ia diperkenankan untuk memberi makanan kepada para bhikkhu yang pergi dari Savatthi. 4. Selama hidupnya ia diperkenankan untuk memberi makanan kepada bhikkhu yang sakit. 5. Selama hidupnya ia diperkenankan untuk memberi makanan kepada mereka yang menjaga bhikkhu yang sakit. 6. Selama hidupnya ia diperkenankan untuk memberi obat kepada bhikkhu yang sakit. 7. Selama hidupnya ia diperkenankan untuk memberi beras untuk keperluan mendadak. 8. Selama hidupnya ia diperkenankan untuk memberi baju mandi kepada para bhikkhuni. VISHAKA PARINIBANA Setelah Parinibana, Visakha bertumimbal lahir di surga Nimmanarati dan menjadi pelayan dari Raja Dewa Sunimmita. Menurut Boddhaghosa, Visakha dan Anathapindika akan menikmati hidup bahagia di alam surga selama seratus tiga puluh satu kappa, sebelum akhirnya mereka mencapai Nibbana.

SONA THERI

Walaupun seseorang hidup seratus tahun, tetapi malas dan tidak bersemangat, maka sesungguhnya lebih baik kehidupan sehari dari orang yang berjuang penuh dengan semangat. Sona adalah seorang ibu rumah tangga yang mempunyai sepuluh orang anak. Beliau merawat, mengasuh, membesarkan, mendidik anak-anaknya dengan penuh kasih sayang. Seluruh hidupnya dicurahkan hanya untuk anak-anaknya, oleh karena itu ia dikenal sebagai Sona Si Banyak Anak.

SUAMI SONA PENGIKUT SANG BUDDHA Suami Sona adalah pengikut Sang Buddha, ia belajar banyak mengenai kehidupan. Setelah beberapa tahun menjadi kepala rumah tangga, suami Sona memutuskan untuk terbebas dari belenggu kehidupan dengan cara menjalani kehidupan suci. Dengan persetujuan Sona sebagai isterinya, suami Sona meninggalkan keluarganya, menjalani kehidupan suci dan ditahbiskan (upasampada) sebagai bhikkhu. Sona menjadi orang tua tunggal yang menghidupi dan merawat kesepuluh anak-anaknya itu dengan susah payah.

SONA MENCAPAI ARAHAT Dengan usianya yang telah lanjut, Sona merasa tidak banyak waktu lagi untuk berlatih sebelum meninggalkan dunia ini. Oleh karena itu, Sona berlatih meditasi dengan giat. Setiap malam ia habiskan waktunya untuk bermeditasi dengan sikap duduk dan sikap berjalan, dan Sona hanya tidur sebentar. Dalam kegelapan malam, Sona berlatih meditasi jalan sambil memegang pilar demi pilar vihara, berjaga-jaga agar tidak tersandung benda. Dengan usahanya yang giat, tanpa mengenal lelah, ia sendirian di dalam ruangan vihara, dimana para bhikkhuni lainnya sedang keluar, Sona mencapai Tingkat Kesucian Arahat. Dia menggambarkan dalam kata-katanya sendiri terdapat dalam Apadana

KATA-KATA SONA SETELAH MENJADI ARAHAT Pada saat para bhikkhuni lainnya Meninggalkanku sendiri di vihara Mereka telah memberikanku instruksi Merebus seketel air

Mengambil air Menuangkannya ke dalam ketel Menaruh ketel di atas kompor dan duduk Kemudian pikiranku menggubah Aku melihat bahwa Sesuatu tidak kekal, Aku melihat sesuatu Sebagai penderitaan dan tidak berinti Melepaskan segala kekotoran batin Di sana aku mencapai Arahat PENENTANG BUDDHA DEVADATTA Dewadatta adalah putra raja supprabuddha dan paramita,seorang bibi sang buddha.ia tidak mencapai kesucian apapun tetapi ia terkenal dengan kekuatan batinnya yang bersifat duniawi. salah satu pendukung utamanya adalah raja ajasatthu yang membangun wihara untuknnya.

USAHA DEWADATA UNTUK MEMBUNUH SANG BUDDHA Beberapa usaha dewadatta untuk mencelakai Sang buddha : Dewadatta membayar pemanahnya untuk membunuh sang buddha ,tetapi semua pengikutnya malah menjadi pengikut sang buddha Ketika sang buddha berjalan di lereng gijjhakuta ia mendaki ke puncah dan tanpa kasihan melemparkan karang ke arah sang buddha Dewa datta membuat usaha lain yaitu melepaskan gajah nalagiri ,tetapi sang buddha menjinakan gajah itu dengan cinta kasih

5 aturan yang harus ditetapkan para bhikku Bahwa para bhikku harus selamanya hidup di hutan Bahwa mereka harus hidup dari dana yang diterima Bahwa mereka harus mengenakan jubah pamkusula Bahwa mereka harus hidup di kaki pohon Bahwa sepanjang hisup mereka tidak boleh memakan ikan ataupun daging