Anda di halaman 1dari 5

Hidden Curriculum : Dalam proses pendidikan, para pengajar dituntut untuk mampu melakukan kegiatan yang disebut proses

tranformasi, yaitu kegiatan mengubah "sesuatu" yang ada dalam diri peserta didik, menjadi "sesuatu" yang dianggap sebagai hasil atau keluaran dari kegiatan pendidikan. Biasanya, dalam proses transformasi tersebut akan didapat perubahan yang berupa: Semula tidak tahu, tidak mengerti, tidak paham menjadi tahu, menjadi mengerti dan paham terhadap sesuatu yang dipelajari Yang semula tidak mampu melakukan, tidak atau kurang terampil mengerjakan sesuatu menjadi mampu melakukan sesuatu, menjadi terampil mengerjakan suatu pekerjaan tertentu sesuai yang dipelajari tersebut Semula tidak biasa (berkaitan dengan perilaku), tidak suka, dll. menjadi biasa, menjadi suka, dll. Contohnya, seorang Guru SD yang bertugas mendidik anak-anak agar mampu membaca tulis, maka tugas utama sang guru adalah merubah Si Murid dari tidak dapat tahu abjad menjadi tahu, mengerti, mampu membedakan, dan mampu memahaminya sampai dengan merangkainya menjadi kata dan kalimat. Juga harus merubah dari tidak dapat menulis menjadi mampu dan terampil menulis, serta dari tidak suka membaca menjadi suka membaca. Jikalau anak setelah sekian lama belajar dan tetap tidak ada perubahan pengetahuan, keterampilan dan perubahan kebiasaannya, pendidikan tersebut dapat dinyatakan gagal. Masalahnya, dalam proses kegiatan pendidikan, sebagaimana minum obat, ada juga efek samping atau "side effek" yang sering terabaikan oleh kelompok pengajar. Efek samping proses pendidikan inilah yang disebut dengan "hidden Curriculum". Efek samping tersebut baru akan tampak ketika peserta didik terjun di lingkungan masyarakat. Jika efek sampingnya menyolok maka kondisi yang bersangkutan ketika di lingkungan masyarakat akan menyolok pula, demikian pula sebaliknya. Ada beberapa institusi pendidikan yang menekankan "disiplin keras" pada peserta didiknya, dengan tujuan agar para lulusannya nanti menjadi orang - orang yang tangguh, disiplin tinggi, berani menghadapi berbagai rintangan dengan tegar, tidak takut menghadapi situasi apapun, bertanggung jawab dan lain sebagainya. Dalam pendidikan yang menekankan "disiplin keras" sudah tentu berlaku "hukuman keras" untuk mereka yang dianggap melanggar disiplin. Dalam proses pendidikan seperti itu, tidur dan bangun tidur jelas harus sesuai waktu yang telah ditentukan, mandi sekian menit, berpakaian sekian menit, makan sekian menit, juga masalah baris berbaris dan lari merupakan kegiatan rutin sehari-hari. Menyenangkan melihat anak-anak muda memiliki disiplin tinggi seperti itu, tetapi .......... kembali masalah hidden kurikulumnya sering terabaikan dan tidak banyak terfikirkan oleh para pendidiknya. Mereka-mereka yang "merasa" memiliki disiplin tinggi karena didikan yang keras merasa atau berpikiran bahwa orang-orang yang tidak seperti dia berarti tidak disiplin. Oleh karenanya mereka kemudian menganggap para YUNIOR yang baru datang adalah kelompok orang-orang yang tidak disiplin dan harus mendapat hukuman keras. Semua orang yang tidak berperilaku seperti dia, dianggapnya tidak disiplin dan mereka pantas dihukum keras. Hidden Curriculum pendidikan keras adalah kekerasan.

Ada banyak cara dalam proses transformasi agar orang menjadi bertanggung jawab, memiliki disiplin tinggi, menjadi tegar, ulet dan mandiri. Pada jaman dulu, guru SR (sekolah rakyat / SD) membawa rotan keliling kelas untuk membuat anak-anak rajin belajar, siapa malas pasti pulang dengan tangan biru kena sabetan rotan Bapak atau Ibu Guru. Seiring dengan perkembangan metodologi pendidikan dan pengetahuan para Guru, rasanya tidak ada lagi Guru membawa rotan dan memukuli anak muridnya, dan nyatanya anak-anak setidaknya tidak kalah pintar dari para SENIORnya dulu. Para pendidik seyogyanya mencari cara dan strategi yang tepat untuk melaksanakan proses pendidikan, dengan menekan sesedikit mungkin efek samping yang ditimbulkan. Efek samping (hidden curriculum) sejauh ini tidak dapat dihilangkan, hanya dapat dikurangi dan ditekan. Karenanya, sekiranya institusi pendidikan tertentu merasa bahwa kebijakan "pendidikan keras" harus tetap dijalankan, maka para pendidik, para pembina harus berusaha agar efek samping yang timbul tidak sampai "meracuni" anak didik, yang berdampak mengancam kehidupan institusi itu sendiri. Salam. wisnudarjonotu.blogspot.com/2007/07/hidden-curriculum.html 4 pilar IPS UNESCO : salah satu indikator kualitas kesejahteraan suatu bangsa, ditentukan oleh pendidikan, karenanya arah kebijakan pendidikan suatu bangsa menunjukan arah kesejahteraan yang ingin dicapai bangsa tersebut. Untuk itu UNESCO memberi koridor pendidikan dalam 4 pilar yakni : learning to know, learning to do, learning to be, dan learning to live together. Dalam perjalanan selanjutnya, pilar ke empat ditambahkan menjadi lerarning to live together in peace an harmony. Berikut ini penjelasan tentang ke-4 pilar pendidikan tersebut : Lerning to know : Artinya siswa memiliki pemahaman dan penalaran yang bermakna terhadap produk dan proses pendidikan (apa,bagaimana, dan mengapa) yang memadai. Dalam pembelajaran misalnya, siswa diharapkan memahami secara bermakna fakta, konsep, prinsip, hukum, teori, model, idea , dan hubungan antar idea tersebut; dan alasan yang mendasarinya, serta menggunakan idea itu untuk menjelaskan dan memprediksi proses-proses berikutnya. Lerning to do : Artinya siswa memiliki keterampilan dan dapat melaksanakan proses pembelajaran yang memadai untuk memacu peningkatan perkembangan intelektualnya. Beberapa hal yang mendukung penerapan learning to do dalam pembelajaran adalah : (1) Pembelajaran berorientasi pada pendekatan konstruktivisme. (2) Belajar merupakan proses yang aktif, dinamik, dan generatif Lerning to be : Artinya siswa dapat menghargai atau mempunyai apresiasi terhadap nilai-nilai dan keindahan akan produk dan proses pendidikan , yang ditunjukkan dengan sikap senang belajar, bekerja keras, ulet, sabar, disiplin, jujur, serta mempunyai motif berprestasi yang tinggi dan rasa percaya diri. Aspek-aspek di atas mendukung usaha siswa meningkatkan kecerdasan dan mengembangkan keterampilan intelektual dirinya secara berkelanjutan. Lerning to live together in peace and harmony : Artinya siswa dapat bersosialisasi dan berkomunikasi dalam proses pendidikan , melalui bekerja atau belajar bersama atau dalam kelas, saling menghargai pendapat orang lain, menerima pendapat yang berbeda,

belajar mengemukakan pendapat dan atau bersedia sharing ideas dengan orang lain dalam kegiatan pembelajaran atau bidang lainnya. Tujuan Ilmu Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar Tujuan merupakan komponen yang harus diperhatikan dalam mengembangkan suatu kurikulum. Zais (dalam Sumaatmaja, 1994:27) menegaskan bahwa sebagai komponen dalam kurikulum tujuan adalah bagian yang paling sensitif, sebab tujuan tidak akan hanya mempengaruhi bentuk kurikulum melainkan juga secara langsung menjadi fokus dari suatu program pendidikan. Sumber tujuan dapat dikelompokkan menjadi tiga sumber yaitu : sumber empirik, sumber filosofi, dan sumber kajian (Zais dalam Sumaatmaja, 1994: 31). Sumber empiris mengacu kepada apa yang diinginkan masyarakat, sumber filosofi merupakan kajian yang diisyaratkan untuk dicapai dalam suatu program pendidikan dan sumber kajian merupakan tujuan apa yang harus dicapai melalui bidang studi yang bersangkutan. Ketiga sumber di atas digunakan dalam mengembangkan tujuan, kemudian dikontruksi dalam pola hierarkhi tujuan. Sumber empirik dan sumber filosofis dikelompokkan menjadi tujuan akhir atau tujuan pendidikan nasional, sedangkan sumber bidang kajian dikelompokkan kedalam tujuan yang merupakan alat mencapai tujuan akhir. Dalam mewujudkan tujuan pendidikan nasional dirincilah tujuan dengan ruang lingkup dan sasaran yang lebih jelas. Tujuan Pendidikan nasional dirinci menjadi tujuan institusional, dimana tujuan pendidikan dasar sebagaimana tercantum dalam Undangundang No 20 tahun 2003 yaitu : Pendidikan dasar bertujuan untuk memberikan bekal kemampuan dasar kepada peserta didik dan untuk mengembangkan kehidupannya sebagai pribadi, anggota masyarakat, warga negara dan anggota umat manusia serta mempersiapkan peserta didik mengikuti pendidikan menengah. Tujuan institusional dirinci menjadi tujuan kurikuler dan mencapainya dilakukan oleh bidang studi/mata pelajaran. Salah satu mata pelajaran yang disajikan di sekolah dasar adalah pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial. Pengembangan tujuan Pendidikan IPS menurut Schuncke (dalam Simanguson,2007:8) didasarkan atas tiga karakteristik yakni : pengetahuan, nilai sikap, proses/keterampilan. Pendapat tersebut merupakan cakupan dalam mengembangkan tujuan Ilmu Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar menurut Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yaitu pelajaran IPS bertujuan agar siswa mampu mengembangkan pengetahuan dan keterampilan dasar yang berguna bagi dirinya dalam kehidupan sehari-hari. Secara rinci tujuan pndidikan Ilmu Pengetahuan Sosial sebagai salah satu mata pelajaran di sekolah dasar mempunyai tujuan sebagai berikut :Mengenalkan kepada siswa tentang hubungan antara manusia dengan lingkungan hidupnya, Memberikan pengetahuan agar siswa memahami peristiwa-peristiwa serta perubahan yang terjadi di sekitarnya, Mengembangkan kemampuan siswa untuk mengenal kebutuhan-kebutuhan serta menyadari bahwa manusia lain pun memiliki kebutuhan, Menghargai bidaya masyarakat sekitar, bangsa dan juga bangsa lainnya, Memahami dan dapat menerapkan prinsip-prinsip ekonomi yang bertalian dengan dirinya sendiri maupun dalan hubungannya dengan orang lain dan bangsa-bangsa lain di dunia, Memahami bahwa

antar manusia yang satu dengan yang lainnya saling membutuhkan serta dapat menghormati harkat dan nilai manusia, Memupuk rasa tanggung jawab terhadap pekerjaan dan hasilnya serta menghargai setiap jenis pekerjaan maupun hasil pekerjaan yang dilakukan orang lain, Memahami dan bertanggung jawab dalam pemeliharaan, pemantapan dan pengelolaan sumber daya manusia dan sumber daya alam, Memahami dan menghargai sejarah bangsanya, serta hak-haknya sebagai manusia hidup di suatu negara yang merdeka dan memahami cara hidup yang demokratis. Proses Belajar Mengajar Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar Proses belajar mengajar Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan interaksi antar siswa dengan guru dalam usaha untuk mencapai tujuan tertentu. Belajar tertuju kepada siswa, sedang mengajar tertuju kepada kegiatan guru dan siswa. Proses belajar mengajar merupakan pertautan dari kegiatan siswa dan guru, dalam hal ini Sudjana (2003:6) mengemukakan bahwa : Mengajar atau teaching merupakan kegiatan atau perlakuan profesional yang kemaren oleh guru. Belajar merupakan kegiatan atau upaya yang dilakukan oleh siswa sebgai atau respon terhadap kegiatan mengajar yang telah dilakukan oleh guru. Keseluruhan pertautan kegiatan memungkinkan berkenaan terjadi interaksi belajar mengajar yang disebut pengajaran (instruction) Selanjutnya proses belajar mengajar Ilmu Pengetahuan Sosial mengacu kepada strategi pembelajaran dan aktivitas belajar siswa. Srategi pembelajaran berkaitan dengan masalah, cara atau sistem penyampaian materi kurikulum dalam rangka mencapai tujuan. Sudjana (2003:147) mengemukakan bahwa srategi pembelajaran pada hakekatnya adalah tindakan nyata dari guru yang melaksanakan pembelajaran melalui cara tertentu yang dinilai lebih efesien dan efektif Dalam mengembangkan perencanaan pengajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar, pertama yang perlu diperhatikan adalah tujuan dan organisasi kurikulum itu perlu dipertimbangkan berbagai variabel fakor kejelasan, lingkungan kondusif, konsistensi dan kontinuitas (Sumaatmaja, 1994:38). Dengan demikian, proses belajar mengajar tidak hanya sekedar menentukan metode pengajaran saja, juga mempertimbangkan kebermaknaan bagi siswa. Piaget (dalam Sumaatmaja, 1994:109111) menekankan bahwa terjadinya asimilasi adalah kelanjutan dari proses akomodasi saja, tetapi harus dilanjutkan samapai kepada proses asimilasi agar belajar memberi makna bagi siswa. Apabila tujuan Ilmu Pengetahuan Sosial SD meliputi tiga aspek (pengetahuan, keterampilan dan sikap/nilai) maka proses belajar mengajar Ilmu Pengetahuan Sosial SD mengacu kepada tujuan tersebut. Dalam hal ini proses diarahkan kepada pengembangan kemampuan siswa menyerapkan pengetahuan sosial (fakta, konsep dan generalisasi) dan mengembangkan keterampilan sosial. Disini tampak bahwa guru tidak dapat menentukan secara kaku metode apa yang akan digunakan, sebab penggunaan metode dalam belajar mengajar akan dipengaruhi oleh tujuan materi. Keterampilan Guru Dalam Proses Belajar Mengajar Pendidikan IPS di SD

Keterampilan guru merupakan seperangkat perilaku nyata guru pada waktu memberikan pelajaran pada siswanya (Charles Jhonson, dalam Rochman Natawidjaya,2000: 153). Dalam memberikan pelajaran tersebut tentunya harus dan memerlukan beberapa kemampuan profesional dalam melakukan proses belajar mengajar pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial di SD tersebut. Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang kriteria profesional guru, maka rincian kendalanya dalam melaksanakan tugas sehari-hari, Natawidjaya (2000: 190) mengatakan guru harus memiliki beberapa keterampilan yaitu yaitu: Mempunyai kemampuan mengembangkan kepribadian, Menguasai landasan kependidikan, Menguasai bahan pengajaran, Mampu menyusun program pengajaran, Mampu melaksanakan program pengajaran, Mampu melihat dari proses yang telah dilaksanakan, Mampu mengadakan program bimbingan, Menyelenggarakan administrasi sekolah, Berinteraksi dengan teman sejawat dan masyarakat, Menyelenggarakan penelitian untuk keperluan pengajaran. Dari uraian di atas jelas bahwa setiap guru dituntut memiliki kompetensi untuk mengembangkan profesinya. Kompetensi guru ini dapat terwujud jika setiap guru mempunyai latar belakang yang cukup memadai, serta diteruskan dengan monitoring untuk pembinaan secara berkelanjutan. Guru dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik mempunyai tanggung jawab yang kompleks. Mengajar pendidikan IPS dengan baik dapat tercapai dengan optimal bila guru memenuhi persyaratan yang memadai serta perencanaan yang matang sebelum mengajar. Maka perubahan yang dilakukan guru dalam hubungannya dengan pelaksanaan tugas mengajar pendidikan IPS sehari-hari di kelas harus inovatif. Lebih khususnya lagi performasi yang dimaksud adalah keterampilan guru dalam membuka pelajaran, pelaksanaan pelajaran dan menutup atau mengakhiri pelajaran (Suciati :1994). Ketiga kemampuan guru tersebut tampil secara terpadu dan dilaksanakan secara bertahap.

6
Berdasarkan paparan di atas, dalam perspektif formal dan realistik, IPS ditingkat sekolah pada dasarnya bertujuan untuk mempersiapkan para peserta didik sebagai warga negara yang menguasai pengetahuan (knowledge), keterampilan( skills), sikap dan nilai (attitudes and values) yang dapat digunakan sebagaikemampuan mengambil keputusan dan berpartisipasi dalam berbagai kegiatankemasyarakatan agar menjadi warga negara yang baik. Oleh karena itu, kegiatan-kegiatan belajar dan mengajar serta situasi berikut ini (Permendiknas No. 22Tahun 2006) hendaknya menjadi orientasi utama pelaksanaan Pendidikan IPS disekolah dasar. 1) Mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakatdan lingkungannya. 2) Memiliki kemampuan dasar untuk berpikir logis dan kritis, rasa ingintahu, inkuiri, memecahkan masalah, dan ketrampilan dalam kehidupansosial. 3) Memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dankemanusiaan. 4) Memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerjasama dan berkompetisidalam masyarakat yang majemuk, di tingkat lokal, nasional dan global.