Anda di halaman 1dari 5

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang Penyakit infeksi yang menyerang jaringan pendukung gigi merupakan penyakit serius, apabila tidak dilakukan perawatan yang tepat dapat mengakibatkan kehilangan gigi, hal ini akan berdampak pada fungsi pengunyahan dan penampilan seseorang. Penyakit pada jaringan periodontal yang diderita manusia hampir di seluruh dunia dan mencapai 50% dari jumlah populasi dewasa. Negara-negara di Asia dan Afrika prevalensi dan intensitas penyakit periodontal terlihat lebih tinggi daripada di Eropa, Amerika dan Australia. Indonesia penyakit periodontal menduduki urutan ke dua utama yang masih merupakan masalah di masyarakat (Wahyukundari, 2008). Penumpukan mikroorganisme plak pada permukaan gigi merupakan penyebab utama penyakit periodontal. Penyakit periodontal dimulai dari gingivitis, bila tidak terawat dapat berkembang menjadi periodontitis dimana terjadi kerusakan jaringan periodontal berupa kerusakan fiber, ligamen periodontal dan tulang alveolar (Wahyukundari, 2008). Gingivitis dan periodontitis merupakan penyakit infeksi kronis. Interaksi antara mikroorganisme dan host menentukan perjalanan dan tingkat keparahan dari penyakit. Mikroorganisme dapat memberi efek secara langsung dengan kerusakan pada jaringan atau efek tidak langsung dengan menstimulasi respon host. Secara umum, bakteri fakultatif gram negatif atau bakteri anaerob merupakan mikroorganisme dominan yang berhubungan dengan penyakit periodontal. Bakteri yang dominan pada penyakit periodontal adalah Porphyromonas gingivalis, Actinobacillus actinomycetemcomitans, Tannerella forsythia, Fusobacterium nucleatum, Prevotella intermedia, Campylobacter rectus, Peptostreptococcus micros dan Eikenella corrodens (Carranza, 2008). Porphyromonas gingivalis merupakan penyebab utama terjadinya periodontitis dan hampir 82% dari kasus periodontitis pada semua tingkatan umur dan jenis kelamin disebabkan oleh bakteri ini (Ernawati dan Maduratna, 2001). Sosroseno dalam Ernawati dan Maduratna (2001) menyebutkan bahwa Porphyromonas gingivalis mampu menempel pada sel epitel dibanding bakteri lain melalui molekul perekat seperti fimbria, fibril dan hemaglutinin. Sedangkan Socransky dalam Ernawati dan Maduratna (2001) menyebutkan

bahwa molekul perekat mampu merangsang reaksi sistem imun yang berbeda sehingga molekul tersebut mampu memodulasi sistem imun. Sel makrofag merupakan sel efektor dalam imunitas seluler dan berfungsi mengeliminasi mikroorganisme terfagosit. Makrofag yang teraktivasi akibat stimulus berbagai sinyal aktivasi akan membunuh mikroorganisme yang terfagosit, dengan cara

memproduksi reactive oxygen intermediates, nitrit oxide (Abbas dan Lichtman, 2003). Nitrit oxide merupakan molekul yang memiliki banyak aktivitas, salah satu aktivitasnya yang terkait dengan makrofag adalah merupakan agen mikrobisidal yang kuat terhadap mikroorganisme intrasel (Abbas dan Lichtman, 2003). Fungsi makrofag muncul apabila makrofag mengalami aktivasi. Aktivasi makrofag oleh berbagai sinyal dipengaruhi oleh faktor eksternal dan internal. Faktor eksternal adalah makanan, pola makan. Faktor makanan tersebut berupa asam askorbat, asam amino arginin, polifenol, flavonoid, fitoestrogen, probiotik, dan Echinacea sp. Faktor internal meliputi persyarafan saraf vagus, flora normal lumen usus, hormon leptin, usia, status gizi, aktifitas (Muwarni, 2010). Akhir-akhir ini sedang berkembang pengobatan yang menggunakan bahan-bahan alamiah. Indonesia merupakan negara dengan kekayaan dan keragaman alam yang luar biasa. Kekayaan dan keragaman alam yang ada mebuat Indonesia disebut-sebut sebagai negara mega biodiversity kedua setelah Brazil (Fellows, dalam Maheswai, 2002). Salah satu kekayaan alam yang dimiliki Indonesia adalah tanaman obat tradisional. Kesungguhan pemerintah dalam mendorong kemajuan dunia obat tradisional di tunjukkan melalui penetapan SK Menkes No.381/Menkes/SK/III/2007 tentang Kebijakan Obat Tradisional Nasional (KONTRANAS). Tujuan dari kebijakan ini adalah mendorong pemanfaatan tanaman sebagai obat tradisional dalam upaya peningkatan pelayanan kesehatan dan menjamin tersedianya obat tradisional yang berkualitas, berkhasiat, aman dan teruji secara ilmiah, serta dapat dimanfaatkan secara luas untuk pengobatan sendiri (self medication) maupun pelayanan kesehatan formal. Kelebihan pengobatan dengan ramuan tumbuhan secara tradisional tersebut ialah tidak menimbulkan efek samping, mudah di dapat di sekitar rumah, dan mudah dikerjakan (dibuat) oleh siapa saja dalam keadaan mendesak sekalipun (Wakidi, 2003). Salah satu tumbuhan yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan obat-obatan adalah daun pepaya (Carica papaya). Beberapa manfaat daun pepaya, antara lain sebagai penguat sekresi

empedu, mengobati nyeri perut, malaria, beri-beri, asma bronkial, sebagai penambah nafsu makan dan sebagai obat anticacing kremi (Sastroamidjojo, 2001). Adapun kandungan daun pepaya antara lain: saponin, flavonoid, organic acid, carposide, benzylglukosinolate, papain, tanin, dan alkaloid seperti carpaine, dehydrocarpaine, dan pseudocarpaine (Duke, 2009; Jamil, 2006). Beberapa zat yang memiliki efek anti inflamasi adalah flavonoid. Skibola dan Smith (2001) dalam Pramono (2004) Flavonoid telah terbukti memiliki efek anti inflamasi misalnya apiin dan apigenin yang terkandung dalam seledri. Enzim papain juga merupakan anti inflamasi yang ampuh (Azza, 2011). Enzim papain dapat memecah protein menjadi asam amino arginin, yang merupakan salah satu asam amino esensial yang dalam kondisi normal tidak dapat diproduksi tubuh. Namun bila enzim papain terlibat dalam proses pencernaan protein, secara alami sebagian protein dapat diubah menjadi arginin (Yahya, 2012). Arginin berperan penting dalam imunitas seluler, yakni sebagai imunomodulator. Selain itu, arginin juga menginduksi Growth Hormon (GH) yang kemudian akan meningkatkan reactive oxygen intermediates pada makrofag (Sukmaningtyas, 2003). Berdasarkan teori yang ada diduga ekstrak daun pepaya dapat meningkatkan jumlah makrofag. Oleh karena itu, perlu pengkajian dan penelitianlebih lanjut untuk mengetahui efek pemberian ekstrak daun pepaya (Carica papaya) terhadap jumlah sel makrofag pada gingiva tikus wistar jantan yang diinduksi Porphyromonas gingivalis.

1.2. Rumusan masalah Berdasarkan latar belakang di atas maka, rumusan masalah penelitian ini adalah : 1. Apakah pemberian ekstrak daun pepaya memiliki pengaruh terhadap jumlah sel makrofag pada gingiva tikus wistar jantan yang diinduksi Porphyromonas gingivalis? 2. Berapa konsentrasi ekstrak daun pepaya yang efektif untuk meningkatkan jumlah sel makrofag?

1.3. Tujuan penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek pemberian ekstrak daun pepaya terhadap jumlah sel makrofag pada gingiva tikus wistar jantan yang di induksi Porphyromonas gingivalis dan untuk mengetahui konsentrasi yang efektif dari ekstrak daun pepaya untuk meningkatkan jumlah sel makrofag.

1.4. Manfaat penelitian Manfaat dari penelitian ini, antara lain : 1. Daun pepaya dapat di jadikan obat alternatif dalam pengobatan penyakit periodontal. 2. Dapat memberikan informasi pada pembagai tentang daun pepaya sebagai tanaman berkhasiat obat. 3. Dapat memberikan landasan empiris untuk pengembangan penelitian selanjutnya.

1.5. Hipotesis Pemberian ekstrak daun pepaya sebagai antiinflamasi dapat menigkatkan jumlah sel makrofag pada gingiva tikus wistar jantan yang di induksi Porphyromonas gingivalis.