Anda di halaman 1dari 7

BAB 2 DASAR TEORI

2.1

Umum

Pergerakan lalu lintas terjadi karena kebutuhan yang tidak dipenuhi ditempat manusia berada. Pemenuhan kebutuhan merupakan kegiatan yang harus dilakukan setiap hari, misalnya pemenuhan kebutuhan akan pekerjaan, pendidikan, hiburan, rekreasi dan lain-lain. Pergerakan tersebut sebenarnya tidak perlu dilakukan kalau semua kebutuhan tersedia pada satu tempat karena adanya pembatasan dan

pengelompokkan tata guna lahan. Setiap tata guna lahan mempunyai jenis kegiatan tertentu yang akan meningkatkan pergerakan dan menarik pergerakan dalam proses pemenuhan kebutuhan. Pergerakan yang berupa pergerakan manusia dan/atau barang jelas memerlukan moda transportasi (sarana) dan media (Prasarana) tempat moda transportasi bergerak, dalam hal ini yaitu jaringan jalan.

2.2

Pengertian Sarana dan Prasarana

Sarana adalah fasilitas penunjang yang berfungsi untuk penyelenggaraan dan pengembangan kehidupan ekonomi, sosial dan budaya meliputi sarana pendidikan, kesehatan, peribadatan, olahraga, dan lain-lain. Prasarana adalah kelengkapan dasar fisik lingkungan yang memungkinkan lingkungan permukiman dapat berfungsi sebagaimana mestinya meliputi jalan, listrik, telekomunikasi, air bersih, drainase, persampahan, dan air kotor.

2.3

Konsep Manajemen Kawasan Perkotaan

Fungsi manajemen kawasan perkotaan adalah menyisipi fungsi pemerintahan yang ada dan menginternalisasi kegiatan produksi dan deliveri layanan. Tugas-tugas pokok manajemen kawasan perkotaan adalah memberikan layanan dan punya tanggung jawab atas pelayanan dibuat. Layanan harus dibuat dengan mempertimbangkan kenyamanan dan keamanan yang kemudian disampaikan pada orang yang membutuhkan. Misal pelayanan jalan harus lancar, nyaman dan aman bagi pengguna, air bersih harus sehat, bersih, dan jernih. Fungsi manajemen kawasan perkotaan dalam Pemerintah Kota harus memproduksi dan menyampaikan layanan pada masyarakat. Pemungutan pajak sebagai kompensasi atas layanan yang diberikan. Misal: air bersih datang dari tempat lain, ada yang memproduksi kemudian disalurkan pada yang membutuhkan. Sebagai timbal baliknya, mereka harus membayar pajak.

2.4 Definisi Transfortasi Transportasi dapat didefinisikan sebagai suatu proses pergerakan atau perpindahan orang dan/atau barang dari suatu tempat ke tempat lain dengan menggunakan suatu sistem tertentu untuk maksud tertentu. Kegiatan manusia yang berbagai macam dalam memenuhi kebutuhannya menyebabkan mereka perlu bergerak dan saling berhubungan. Dalam melakukan pergerakan untuk memenuhi kebutuhan tersebut terdapat dua pilihan, yaitu bergerak dengan moda transportasi atau tanpa moda transportasi (berjalan kaki). Jenis moda transportasi yang digunakan sangat beragam, seperti mobil pribadi, taksi, bus, kereta api, sepeda motor, pesawat terbang, dan kapal laut.

Pergerakan tanpa moda transportasi biasanya bergerak pendek yaitu 1-2 Km (Tamin, 1997). Untuk memenuhi kebutuhan pergerakan dengan moda transportasi ini, perlu disediakan sarana dan prasarana transfortasi yaitu: alat yang bergerak, ruang untuk alat angkut tersebut, tempat berhentinya (untuk bongkar-muat), pengaturan kegiatan tranportasi, lokasi untuk berproduksi, lokasi pemasaran, serta perencanaan yang terpadu untuk perkembangan selanjutnya .

2.5 Pengertian Terminal Prasarana dalam suatu sistem transportasi terdiri dari jalur gerak dan terminal. Jalur gerak diartikan sebagai suatu tempat pergerakan tertentu dari suatu moda transportasi (sarana) untuk menuju tempat tujuan perjalanan. Dalam sistem transportasi darat, jalur gerak meliputi jalan raya, pipa dan jalur rel. Terminal transportasi adalah titik awal, titik antara atau titik akhir dari jalur gerak transportasi. Terminal transportasi jalan dapat didefinisikan sebagai jumlah keseluruhan dari fasilitas dan lahannya, dimana lalu lintas angkutan jalan berawal, berakhir, dan/atau tempat perpindahan sebelumnya, selama atau sesudah pergerakan angkutan jalan, termasuk fasilitas pelayanan atau kendaraan-kendaraan dan perlengkapannya dimana lalu lintas bergerak (William H. Hay, 1997). Terminal transportasi jalan dapat didefinisikan sebagai: a. Titik simpul (titik awal, titik antara dan titik akhir) dalam system jaringan transportasi jalan. b. Tempat pengendalian lalu lintas dan angkutan kendaraan umum . c. Prasarana angkutan untuk melancarkan mobilitas orang dan arus barang serta fasilitas untuk kendaraan umum.

d. Tempat perpindahan intra dan antar moda transportasi.

2.6 Fungsi dan Jenis Terminal Beberapa terminal yang hanya mempunyai satu fungsi dan bongkar dan muat, terkadang sangat sederhana. Contoh: suatu tempat pemberhentian bus pada perempatan jalan, sering hanya terdiri dari tempat penumpang menunggu dan tanda yang menunjukan bahwa tempat tersebut adalah tempat pemberhentian bus. Penumpang atau barang biasanya tidak sama tiba di terminal. Sebelum waktu keberangkatan dan kadang kala terminal menyediakan fasilitas tempat menunggu bagi penumpang dan tempat penyimpanan barang sebelum naik atau dimuatkan ke kendaraan. Jika periode tunggu cukup lama mungkin diperlukan fasilitas lebih lengkap seperti fasilitas ruang tunggu yang nyaman, restoran, dan tempat hiburan bagi penumpang. Fasilitas untuk barang disediakan gudang untuk menyimpan, melindungi dari kemungkinan rusak, hilang, atau memproses barang menurut lokasi penyaluran (Edward K. Morlok, 1977). Untuk angkutan,

tersedianya fasilitas untuk pemeliharaan. Petunjuk teknis lalu lintas angkutan dan jalan, membedakan fungsi terminal khususnya terminal angkutan jalan ditinjau dari 3 (tiga) unsur, yaitu: 1. Fungsi terminal bagi penumpang, adalah untuk kenyamanan menunggu, kenyamanan perpindahan dari satu moda/kendaraan ke moda/kendaraan lain, tempat fasilitas-fasilitas informasi dan fasilitas parker kendaraan pribadi. 2. Fungsi terminal bagi pemerintah, adalah dari segi perencanaan dan managemen lalu lintas dan angkutan serta menghindari dari

kemacetan, sumber pemungutan retribusi dan kendaraan umum. 3. Fungsi terminal bagi operator/pengusaha, adalah untuk

pengaturan operasi kendaraan umum, penyediaan fasilitas istirahat dan informasi bagi awal kendaraan umum dan sebagai fasilitas pangkalan. Jenis terminal transfortasi dapat dibedakan berdasarkan moda yang dilayani, yaitu: terminal moda angkutan darat, moda angkutan air, dan moda angkutan udara. Terminal moda angkutan air: pelabuhan sungai dan pelabuhan samudera dan

amoda angkutan udara adalah terminal pesawat udara, sedangkan terminal moda darat terdiri dari stasiun kereta api dan terminal transportasi jalan. Peraturan Pemerintah RI no. 43 tahun 1993, tentang prasarana dan lalu lintas jalan, membedakan terminal angkutan jalan raya menurut jenis angkutannya, yaitu: Terminal penumpang, adalah prasarana transportasi jalan untuk keperluan dan menaikkan penumpang, perpindahan intra/antar moda tranportasi serta pengaturan kedatangan dan pemberangkatan kendaraan umum. Terminal barang, adalah prasarana transportasi jalan untuk keperluan membongkar dan memuat barang serta perpindahan intra/antar moda tranportasi Keputusan Mentri Perhubungan no.31 tahun 1995 pasal 2, terminal penumpang terbagi menjadi 3 (tiga) tipe bagian terminal menurut skala pelayanannya, yaitu: 1. Terminal penumpang tipe A, berfungsi melayani kendaraan umum untuk angkutan Antar Kota Antar Propinsi (AKAP) dan/atau angkutan lintas batas Negara, angkutan Antar Kota Dalam Propinsi (AKDP) angkutan kota dan

angkutan pedesaan. 2. Terminal penumpang tipe B, berfungsi melayani kendaraan umum untuk angkutan AKDP, angkutan kota dan/atau angkutan pedesaan. 3. Terminal penumpang tipe C, berfungsi melayani kendaraan umum untuk angkutan pedesaan.

2.7 Lokasi Terminal Dalam masyarakat yang maju, kegiatan dalam kehidupan mempunyai sifat yang kompleks, tidak hanya terikat pada pemenuhan kebutuhan sendiri, tetapi harus memikirkan pemenuhan pihak lain. Hal ini terjadi akibat adanya ketergantungan antara kegiatan yang dilakukan masyarakat. Tempat berlangsungnya suatu kegiatan yang dilakukan masyarakat disebut lokasi. Lokasi ini merupakan tempat yang dapat dikenali dan dibatasi, dimana suatu kegiatan berlangsung, Teori penentuan lokasi suatu kegiatan bertujuan untuk mencapai efisiensi dan optimasi. Efisiensi dan optimasi yang dimaksud adalah dalam hal perjalanan menuju lokasi yang bersangkutan maupun pengisian ruang. Penggunaan ruang yang efisiensi dan optimal, berarti memiliki dan menentukan kegiatan-kegiatan yang sesuai dan menguntungkan bagi suatu ruang tertentu. Di daerah perkotaan, penentuan lokasi erat hubungannya dengan usaha untuk meminimumkan pergerakan antara berbagai kegiatan atau penggunaan tanah. Pergerakan tersebut disebabkan oleh adanya hubungan antara macam-macam penggunaan tanah, sehingga penentuan lokasi adalah bagian dari penggunaan tanah. Ketersediaan lahan diluar kota lebih memungkinkan tersedia dibandingkan dengan wilayah perkotaan yang cenderung padat kemungkinan unsur topografi dan

lingkungan.