Anda di halaman 1dari 15

BAB I PENDAHULUAN

Penyakit malaria adalah salah satu penyakit yang penularannya melalui gigitan nyamuk anopheles betina. Penyebab penyakit malaria adalah genus plasmodia family plasmodiidae. Malaria adalah salah satu masalah kesehatan penting di dunia. Secara umum ada 4 jenis malaria, yaitu tropika, tertiana, ovale dan quartana. Di dunia ada lebih dari 1 juta meninggal setiap tahun (Dirjen P2Pl, 2011). Indonesia telah berhasil menekan jumlah kasus malaria dari 4,96 per 1.000 penduduk pada tahun 1990 menjadi 1,96 per 1.000 penduduk pada tahun 2010. Walaupun secara nasional telah berhasil menurunkan lebih 50 persen kasus malaria, tetapi pada tingkat provinsi dan kabupaten/kota masih terjadi disparitas (perbedaan) yang cukup besar, kata Menkes dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, Dr. PH, pada puncak peringatan Hari Malaria Sedunia tanggal 25 April 2011 di Jakarta (Dirjen P2PL, 2011). Terjadinya suatu penyakit disebababkan tiga aspek yaitu Host, Agent dan Environment. Host dalam hal ini manusia, untuk menjadi sakit sakit tergantung banyak hal yaitu perilaku, daya tahan tubuh, imunitas. Agent untuk malaria adalah Plasmodium, sedangkan environment adalah lingkungan, lingkungan yang mendukung terjadinya penularan malaria adalah lingkungan yang sesuai bagi nyamuk penular malaria untuk berkembangbiak dan memungkinkan terjadinya kontak antara nyamuk dan manusia (Bina ikawati, 2009). Pemberantasan penyakit menular adalah upaya untuk menurunkan dan menurukan angka mordibitas dan mortalitas akibat penyakit menular. Malaria merupakan salah satu penyakit yang penularannya melalui gigitan nyamuk anopheles betina dan sering kali malaria meningkat dalam jumlah dan luas wilayah yang terjangkit dan secara sporadis selalu terjadi kejadian luar biasa. Meningkatnya kasus penyakit menular, khusunya penyakit vektor born disease dapat disebabkan tingginya mobilitas penduduk dan kurangnya perilaku masyarakat terhadap pembersihan sarang nyamuk. Kegiatan yang dapat dilakukan dalam pencegahan dan pemutusan rantai penularan malaria adalah abatisasi, fogging dan pengobatan penderita. Agar kegiatan efektif dan efisien maka perlu dilakukan tindakan epidemiologi seperti surveilans epidemiologi dimana hasil kegiatan tersebut
1

dapat menentukan tindakan pengambilan keputusan dalam perencanaan maupun evaluasi kegiatan (Bhisma murti, 1997). Surveilans epidemilogi merupakan pengamatan penyakit pada populasi yang dilakukan pada populasi yang dilakukan secara terusmenerus dan berkesinambungan, untuk menjelaskan pola penyakit, mempelajari riwayat penyakit dan memberikan data untuk pengendalian dan penanggulan suatu penyakit. Surveilans epidemiologi tidak terbatas pada pengumpulan data, tetapi juga tabulasi dan interpretasi data serta publikasi dan distribusi informasi. Seperti halnya dalam masalah malaria, surveilans penyakit mencakup empat aspek yaitu kasus, vektor dan ekologinya, peran serta masyarakat dan tindakan dalam pengendalian.

BAB II PEMBAHASAN

A. 1.

Malaria Pengertian Malaria Malaria adalah penyakit menular yang menyerang dalam bentuk infeksi akut ataupuan kronis. Penyakit ini disebabkan oleh protozoa genus plasmodium bentuk aseksual, yang masuk ke dalam tubuh manusia dan ditularkan oleh nyamuk Anhopeles betina. Istilah malaria diambil dari dua kata bahasa italia yaitu mal=buruk dan area=udara atau udara buruk karena dahulu banyak terdapat di daerah rawa- rawa yang mengeluarkan bau busuk. Penyakit ini dapat menyerang semua orang baik bayi, anak-anak maupun orang dewasa (Depkes RI, 1991).

2.

Etiologi Malaria disebabkan oleh protozoa yang termasuk ke dalam genus Plasmodium. Pada manusia terdapat 4 spesies yaitu Plasmodium falciparum, Plasmodium vivax, Plasmodium malariae dan Plasmodium ovale (Harijanto P.N.2000). Kerja plasmodium adalah merusak sel-sel darah merah. Dengan perantara nyamuk anopheles, plasodium masuk ke dalam darah manusian dan berkembang biak dengan membelah diri. Secara parasitologi dikenal 4 genus Plasmodium dengan karakteristik klinis yang berbeda bentuk demamnya, yaitu : 1. Plasmodium vivax, secara klinis dikenal sebagai Malaria tertiana disebabkan serangan demamnya yang timbul setiap 3 hari sekali. 2. Plasmodium malaria, secara klinis juga dikenal juga sebagai Malaria Quartana karena serangan demamnya yang timbul setiap 4 hari sekali. 3. Plasmodium ovale, secara klinis dikenal juga sebagai Malaria Ovale dengan pola demam tidak khas setiap 2-1 hari sekali. Sering dijumpai pada daerah Afrika dan Pasifik Barat, di Indonesia dijumpai di Nusa Tenggara dan Irian, memberikan infeksi yang paling ringan dan dapat sembuh spontan tanpa pengobatan, menyebabkan malaria ovale. 4. Plasmodium falciparum, secara klinis dikenal sebagai Malaria tropicana atau Malaria tertiana maligna sebab serang-an demamnya yang biasanya timbul setiap 3 hari sekali dengan
3

gejala yang lebih berat dibandingkan infeksi oleh jenis plasmodium lainnya. Plasmodium falciparum, memberikan banyak komplikasi dan mempunyai perlangsungan yang cukup ganas, mudah resisten dengan pengobatan dan menyebabkan malaria tropika/ falsiparum (demam tiap 24-48 jam). 3. Siklus Hidup Plasmodium Parasit malaria memerlukan dua hospes untuk siklus hidupnya, yaitu manusia dan nyamuk Anopheles betina (Harijanto P.N.2000). a. Silkus Pada Manusia Pada waktu nyamuk Anopheles infektif mengisap darah manusia, sporozoit yang berada dalam kelenjar liur nyamuk akan masuk ke dsalam peredaran darah selama kurang lebih 30 menit. Setelah itu sporozoit akan masuk ke dalam sel hati dan menjadi tropozoit hati. Kemudian berkembang menjadi skizon hati yang terdiri dari 10.000 sampai 30.000 merozoit hati. Siklus ini disebut siklus eksoeritrositer yang berlangsung selama kurang lebih 2 minggu. Pada P. vivax dan P. ovale, sebagian tropozoit hati tidak langsung berkembang menjadi skizon, tetapi ada yang memjadi bentuk dorman yang disebut hipnozoit. Hipnozoit tersebut dapat tinggal di dalam sel hati selama berbulan-bulan sampai bertahun- tahun. Pada suatu saat bila imunitas tubuh menurun, akan menjadi aktif sehingga dapat menimbulkan relaps (kambuh) (Depkes RI.1991). Merozoit yang berasal dari skizon hati yang pecah akan masuk ke dalam peredaran darah dan menginfeksi sela darah merah. Di dalam sel darah merah, parasit tersebut berkembang dari stadium tropozoit sampai skizon (8-30 merozoit). Proses perkembangan aseksual ini disebut skizogoni. Selanjutnya eritrosit yang terinfeksi skizon) pecah dan merozoit yang keluar akan menginfeksi sel darah merah lainnya. Siklus inilah yang disebut dengan siklus eritrositer. Setelah 2-3 siklus skizogoni darah, sebagian merozoit yang meninfeksi sel darah merah dan membentuk stadium seksual yaitu gametosit jantan dan betina. (Depkes RI. 1991). b. Siklus Pada Nyamuk Anopheles Betina Apabila nyamuk Anopheles betina menghisap darah yang mengandung gametosit, di dalam tubuh nyamuk, gamet jantan
4

dan gamet betina melakukan pembuahan menjadi zigot. Zigot ini akan berkembang menjadi ookinet kemudian menembus dinding lambung nyamuk. Di luas dinding lambung nyamuk ookinet akan menjadi ookista dan selanjutnya menjadi sporozoit yang nantinya akan bersifat infektif dan siap ditularkan ke manusia (Harijanto, 2000). Masa inkubasi atau rentang waktu yang diperlukan mulai dari sporozoit masuk ke tubuh manusia sampai timbulnya gejala klinis yang ditandai dengan demam bervariasi, tergantung dari spesies Plasmodium. Sedangkan masa prepaten atau rentang waktu mulai dari sporozoit masuk sampai parasit dapat dideteksi dalam darah dengan pemeriksaan mikroskopik (Harijanto, 2000). 4. Patogenesis Malaria Patogenesis malaria akibat dari interaksi kompleks antara parasit, inang dan lingkungan. Patogenesis lebih ditekankan pada terjadinya peningkatan permeabilitas pembuluh darah dari pada koagulasi intravaskuler. Oleh karena skizogoni menyebabkan kerusakan eritrosit maka akan terjadi anemia. Beratnya anemi tidak sebanding dengan parasitemia menunjukkan adanya kelainan eritrosit selain yang mengandung parasit. Hal ini diduga akibat adanya toksin malaria yang menyebabkan gangguan fungsi eritrosit dan sebagian eritrosit pecah melalui limpa sehingga parasit keluar. Faktor lain yang menyebabkan terjadinya anemia mungkin karena terbentuknya antibodi terhadap eritrosit (Harijanto, 2000). Limpa mengalami pembesaran dan pembendungan serta pigmentasi sehingga mudah pecah. Dalam limpa dijumpai banyak parasit dalam makrofag dan sering terjadi fagositosis dari eritrosit yang terinfeksi maupun yang tidak terinfeksi. Pada malaria kronis terjadi hyperplasia dari retikulosit diserta peningkatan makrofag (Harijanto, 2000). Pada malaria berat mekanisme patogenesisnya berkaitan dengan invasi merozoit ke dalam eritrosit sehingga menyebabkan eritrosit yang mengandung parasit mengalami perubahan struktur dan biomolekular sel untuk mempertahankan kehidupan parasit. Perubahan tersebut meliputi mekanisme,diantaranya transport membrane sel, Sitoadherensi, Sekuestrasi dan Resetting (Harijanto, 2000).

Sitoadherensi merupakan peristiwa perlekatan eritrosit yang telah terinfeksi P. falciparum pada reseptor di bagian endotelium venule dan kapiler. Selain itu eritrosit juga dapat melekat pada eritrosit yang tidak terinfeksi sehingga terbentuk roset (Harijanto,2006). Resetting adalah suatu fenomena perlekatan antara sebuah eritrosit yang mengandung merozoit matang yang diselubungi oleh sekitar 10 atau lebih eritrosit non parasit, sehingga berbentuk seperti bunga. Salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya Resetting adalah golongan darah dimana terdapatnya antigen golongan darah A dan B yang bertindak sebagai reseptor pada permukaan eritrosit yang tidak terinfeksi. (Harijanto P.N, 2000). 5. Gejala Malaria Gejala klinis penyakit malaria sangat khas dengan adanya serangan demam yang intermiten, anemia sekunder dan splenomegali. Gejala didahului oleh keluhan prodromal berupa, malaise, sakit kepala, nyeri pada tulang atau otot, anoreksia, mual, diare ringan dan kadang-kadang merasa dingin di punggung. Keluhan ini sering terjadi pada P.vivax dan P.ovale, sedangkan P.falciparum dan P.malariae keluhan prodromal tidak jelas bahkan gejala dapat mendadak. Demam periodik berkaitan dengan saat pecahnya schizon matang (sporolasi). Pada malaria tertiana (P.Vivax dan P. Ovale), pematangan schizon tiap 48 jam maka periodisitas demamnya setiap hari ke-3, sedangkan malaria kuartana (P. Malariae) pematangannya tiap 72 jam dan periodisitas demamnya tiap 4 hari. Gejala klasik malaria biasanya terdiri atas 3 (tiga) stadium yang berurutan, yaitu : a. Stadium dingin (Cold stage) Penderita akan merasakan dingin menggigil yang amat sangat, nadi cepat dan lemah, sianosis, kulit kering, pucat, kadang muntah. Periode ini berlangsung antara 15 menit sampai 1 jam diikuti dengan meningkatnya temperatur. b. Stadium demam (Hot stage) Muka penderita terlihat merah, kulit panas dan kering, nadi cepat dan panas badan tetap tinggi dapat sampai 40C atau lebih, dapat terjadi syok (tekanan darah turun), kesadaran delirium sampai terjadi kejang (anak). Periode ini lebih lama dari
6

fase dingin, dapat sampai 2 jam atau lebih, c. Stadium berkeringat (Sweating stage) Pada stadium ini penderita berkeringat banyak sekali. Hal ini berlangsung 2-4 jam. Meskipun demikian, pada dasarnya gejala tersebut tidak dapat dijadikan rujukan mutlak, karena dalam kenyataannya gejala sangat bervariasi antar manusia dan antar Plasmodium. Anemia merupakan gejala yang sering dijumpai pada infeksi malaria, dan lebih sering dijumpai pada penderita daerah endemik terutama pada anak-anak dan ibu hamil. Derajat anemia tergantung pada spesies penyebab, yang paling berat adalah anemia karena P.falcifarum. Anemia di sebabkan oleh penghancuran eritrosit yang berlebihan. eritrosit normal tidak dapat hidup lama (reduced survival time) dan gangguan pembentukan eritrosit karena depresi eritropoesis dalam sumsum tulang (Mansjoer, 2001).Splenomegali adalah pembesaran limpa yang merupakan gejala khas malaria kronik. Limpa merupakan organ penting dalam pertahanan tubuh terhadap infeksi malaria. Limpa akan teraba setelah 3 hari dari serangan infeksi akut dimana akan terjadi bengkak, nyeri dan hiperemis. Pembesaran terjadi akibat timbunan pigmen eritrosit parasit dan jaringan ikat bertambah (Harijanto, 2000). 6. Penularan Malaria Penyakit malaria disebabkan oleh parasit yang disebut plasmodium spp yang hidup dalam tubuh manusia dan dalam tubuh nyamuk. Menurut epidemiologi penularan malaria secara alamiah terjadi akibat adanya interaksi antara tiga faktor yaitu Host, Agent, dan Environment. Manusia adalah host vertebrata dari Human plasmodium, nyamuk sebagai Host invertebrate, sementara Plasmodium sebagai parasit malaria sebagai agent penyebabpenyakit yang sesungguhnya, sedangkan faktor lingkungan dapat dikaitkan dalam beberapa aspek, seperti aspek fisik, biologi dan sosial ekonomi. Penyakit malaria ditularkan melalui dua cara yaitu secara alamiah dan non alamiah (Prabowo, 2004) : a. Penularan secara alamiah adalah melalui gigitan nyamuk anopheles betina yang mengandung parasit malaria. Saat menggigit nyamuk mengeluarkan sporosit yang masuk ke peredaran darah tubuh manusia sampai sel sel hati manusia. Setelah satu sampai dua minggu digigt, parasit kembali masuk ke
7

dalam darah dan mulai menyerang sel darah merah dan mulai memakan haemoglobin yang membawa oksigen dalam darah. Pecahnya sel darah merah yang terinfeksi plasmodium ini menyebabkan timbulnya gejala demam disertai menggigil dan menyebabkan anemia. b. Penularan non alamiah adalah penularan yang terjadi bukan melalui gigitan nyamuk anopheles. Beberapa penularan malaria secara non alamiah antara lain : malaria bawaan (Kongenital) adalah malaria pada bayi baru lahir, transfusion malaria yakni infeksi malaria yang ditularkan melalui transfusi darah, pemakaian jarum suntik secara bersama- sama pada pecandu narkoba. B. Epidemiologi Malaria Epidemiologi malaria adalah ilmu yang mempelajri penyebaran malaria dan factor-faktor yang mepengaruhinya dalam masyarakat. Dalam epidemiologi selalu ada 3 faktor yang diselidiki : host (manusia sebagai host intermediate dan nyamuk sebagai host definitif), agent (penyebab penyakit malaria, plasmodium) dan environment (lingkungan). Penyebaran malaria terjadi bila ketiga faktor tersebut saling mendukung. 1. Agent Parasit Malaria Agent atau penyebab penyakit malaria adalah semua unsur atau elemen hidup ataupun tidak hidup dalam kehadirannya bila diikuti dengan kontak yang efektif dengan manusia yang rentan akan memudahkan terjadinya suatu proses penyakit. Agent penyebab malaria adalah protozoa dari genus plasmodium. 2. a. Host (Pejamu) Manusia (host intermediate) Penyakit malaria dapat menginfeksi setiap manusia, ada beberapa faktor intrinsik yang dapat mempengaruhi manusia sebagai penjamu penyakit malaria antara lain: usia/umur, jenis kelamin, suku/ras, social, ekonomi,status perkawinan, riwayat penyakit sebelumnya, cara hidup, keturunan, status gizi, dan tingkat imunitas.

1) Umur : Perbedaan angka kesakitan malaria pada berbagai golongan umur selain dipengaruhi oleh faktor kekebalan juga dipengaruhi oleh faktor lain seperti pekerjaan , pendidikan dan migrasi penduduk. 2) Jenis kelamin : Perbedaan angka kesakitan malaria pada anak laki-laki dan perempuan dipengaruhi oleh faktor pekerjaan, migrasi penduduk dan lain-lain. 3) Riwayat malaria sebelumnya : Orang yang pernah terinfeksi malaria sebelumnya biasanya akan terbentuk imunitas sehingga akan lebih tahan terhadap infeksi malaria. 4) Ras : Beberapa ras manusia atau kelompok penduduk mempunyai kekebalan alamiah terhadap malaria, misalnya siekle cell anemia merupakan kelainan yang timbul karena penggantian asam amino glutamat pada posisi 57 rantai hemoglobin. 5) Kebiasaan : Kebiasaan sangat berpengaruh terhadap penyebaran malaria. Misalnya kebiasaan tidak menggunakan kelambu saaat tidur dan senang berada diluar rumah pada malam hari. 6) Status gizi : Status gizi ternyata berinteraksi secara sinergis dengan daya tahan tubuh. Makin baik status gizi seseorang, makin tidak mudah orang tersebut terkena penyakit . Dan sebaliknya makin rendah status gizi seseorang makin mudah orang tersebut terkena penyakit. 7) Sosial ekonomi : Faktor social ekonomi sangat berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk mencukupi kebutuhan dasarnya seperti : sandang, pangan dan papan. Semakin tinggi sosisla ekonomi seseorang semakin mudah pula seseorang mencukupi segala kebutuhan hidupnya termasuk di dalamnya kebutuhan akan pelayanan kesehatan, makanan yang bergizi serta tempat tinggal yang layak dan lain-lain. 8) Daya tahan tubuh : Immunitas ini merupakan suatu pertahanan tubuh. Masyarakat yang tinggal di daerah endemis malaria biasanya mempunyai imunitas yang alami sehingga mempunyai pertahanan alam terhadap infeksi malaria. b. Nyamuk (host definitif) Nyamuk Anopheles yang menghisap darah hanya nyamuk Anopheles betina. Darah diperlukan untuk pertumbuhan telurnya. Perilaku nyamuk sangat menentukan dalam proses penularan malaria. Beberapa sifat dan perilaku sangat penting adalah:
9

1) Tempat hinggap atau istirahat a) Eksofilik: nyamuk hinggap dan istirahat di luar rumah. b) Endofilik: nyamuk hinggap dan istirahat di dalam rumah. 2) Tempat menggigit a) Eksofagik: lebih suka menggigit di luar rumah. b) Endofagik: lebih suka menggigit di dalam rumah. 3) Obyek yang digigit a) Antrofofilik: lebih suka menggigit manusia. b) Zoofilik:lebih suka menggigit binatang. 4) Faktor lain yang penting adalah : a) Umur nyamuk (longevity) semakin panjang umur nyamuk semakin besar kemungkinannya untuk menjadi penular atau vektor malaria. b) Kerentanan nyamuk terhadap infeksi gametosit. c) Frekuensi menggigit manusia. d) Siklus gonotrofik yaitu waktu yang diperlukan untuk matangnya telur. 3. Environment (lingkungan) Lingkungan adalah lingkungan manusia dan nyamuk berada. Nyamuk berkembang biak dengan baik bila lingkungannya sesuai dengan keadaan yang dibutuhkan oleh nyamuk untuk berkembang biak. Kondisi lingkungan yang mendukung perkembangan nyamuk tidak sama tiap jenis/spesies nyamuk. Nyamuk Anopheles aconitus cocok pada daerah perbukitan dengan sawah non teknis berteras, saluran air yang banyak ditumbuhi rumput yang menghambat aliran air. Nyamuk Anopheles balabacensis cocok pada daerah perbukitan yang banyak terdapat hutan dan perkebunan. Jenis nyamuk Anopheles maculatus dan Anopheles balabacensis sangat cocok berkembang biak pada tempat genangan air seperti bekas jejak kaki, bekas jejak roda kendaraan dan bekas lubang galian. Lingkungan yang mendukung kehidupan dan perkembangbiakkan nyamuk dapat dikelompokkan menjadi 4 (empat) macam yaitu:

10

a. Lingkungan fisik 1) Suhu udara Suhu udara sangat mempengaruhi panjang pendeknya siklus sporogoni atau masa inkubasi ekstrinsik. Makin tinggi suhu (sampai batas tertentu) makin pendek masa inkubasi ekstrinsik, dan sebaliknya makin rendah suhu makin panjang masa inkubasi ekstrinsik. Pada suhu 26,7 oC, masa inkubasi ekstrinsik untuk tiap spesies adalah adalah P. falciparum : 10 12 hari., P. vivax P. malariae : 14 hari, P. ovale : 15 hari. 2) Kelembaban udara (relative humidity) Kelembaban yang rendah memperpendek umur nyamuk. Tingkat kelembaban 63% misalnya, merupakan angka paling rendah untuk memungkinkan adanya penularan di Punjad India. Kelembaban mempengaruhi kecepatan berkembang biak, kebiasaan menggigit, istirahat dan lain-lain dari nyamuk. 3. Hujan Terdapat hubungan langsung antara hujan dan perkembangan larva nyamuk menjadi bentuk dewasa. Besar kecilnya pengaruh tergantung pada jenis hujan, derasnya hujan, jumlah hari hujan, jenis vektor dan jenis tempat perindukan (breeding places). Hujan yang diselingi oleh panas akan memperbesar kemungkinan berkembang biaknya Anopheles. 4) Angin Kecepatan angin pada saat matahari terbit dan terbenam yang merupakan saat terbangnya nyamuk ke dalam atau ke luar rumah, adalah salah satu faktor yang ikut menentukan jumlah kontak antara manusia dan nyamuk. Jarak terbang nyamuk (flight range) dapat diperpendek atau diperpanjang tergantung kepada arah angin. : 8 11 hari,

5)

Sinar matahari Pengaruh sinar matahari terhadap pertumbuhan larva nyamuk berbeda-beda. An. sundaicus lebih suka tempat teduh, sebaliknya An. hyrcanus spp lebih
11

menyukai tempat yang terbuka. An. barbirostris dapat hidup baik di tempat yang teduh maupun di tempat yang terang. 6) Arus air An. barbirostris menyukai tempat perindukan yang airnya statis atau mengalir sedikit. An. minimus menyukai tempat perindukan yang aliran airnya cukup deras dan An. letifer di tempat yang airnya tenang. 7) Ketinggian Secara umum malaria berkurang pada ketinggian yang semakin bertambah. Hal ini berkaitan dengan menurunnya suhu rata-rata. Pada ketinggian di atas 2000 m jarang ada transmisi malaria. Hal ini biasa berubah bila terjadi pemanasan bumi dan pengaruh dari El-nino. Di pegunungan Irian Jaya yang dulu jarang ditemukan malaria kini lebih sering ditemukan malaria. b. Lingkungan kimia. Dari lingkungan ini yang baru diketahui pengaruhnya adalah kadar garam dari tempat perindukan. Sebagai contoh An. sundaicus tumbuh optimal pada air payau yang kadar garamnya berkisar antara 12 18% dan tidak dapat berkembang baik pada kadar garam 40o/oo ke atas, meskipun di beberapa tempat di Sumatera Utara An. sundaicus ditemukan pula dalam air tawar. An. Letifer dapat hidup di tempat yang asam/ pH rendah. c. Lingkungan biologik (flora dan fauna) Tumbuhan bakau, lumut, ganggang dan berbagai jenis tumbuh-tumbuhan lain dapat mempengaruhi kehidupan larva nyamuk karena dapat menghalangi sinar matahari yang masuk ke tempat perindukan serta melindungi jentik nyamuk dari serangan mahluk hidup lain. Adanya berbagai jenis ikan pemangsa larva seperti ikan kepala timah (panchax spp), gambusia, nila, mujair dan lain-lain dapat mempengaruhi populasi nyamuk di suatu daerah. Selain itu adanya ternak besar seperti sapi dan kerbau yang kandangnya diletakkan tidak
12

jauh dari rumah dapat mengurangi jumlah gigitan nyamuk pada manusia (Cattle Barrier). d. Lingkungan sosial budaya Faktor ini kadang-kadang besar sekali pengaruhnya dibandingkan dengan faktor lingkungan lainnya. Prinsipnya ialah menciptakan keadaan lingkungan yang menguntungkan bagi nyamuk dimana adanya kebiasaan hidup yang membuat tempat perindukan nyamuk seperti membiarkan tergenangnya air dipekarangan dan jarang membersihkan tempat tinggal. Kebiasaan untuk berada di luar rumah sampai larut malam di mana vektornya lebih bersifat eksofilik dan eksofagik akan memperbesar jumlah gigitan nyamuk. Penggunaan kelambu, kawat kasa pada rumah dan penggunaan zat penolak nyamuk/repellent yang intensitasnya berbeda sesuai dengan perbedaan status sosial masyarakat, akan mempengaruhi angka kesakitan malaria. Faktor yang cukup penting pula adalah pandangan/persepsi masyarakat di suatu daerah terhadap penyakit malaria. Apabila malaria dianggap sebagai suatu kebutuhan (demand) untuk diatasi, upaya untuk menyehatkan lingkungan akan dilaksanakan oleh masyarakat secara spontan. Akibat dari derap pembangunan yang kian cepat adalah kemungkinan timbulnya tempat perindukan buatan manusia sendiri (manmade breeding places). Pembangunan bendungan, penambangan timah dan pembukaan tempat pemukiman baru adalah beberapa contoh kegiatan pembangunan yang sering menimbulkan perubahan lingkungan yang menguntungkan bagi nyamuk malaria (man-made malaria). Perpindahan penduduk dapat menjadi faktor penting untuk meningkatkan malaria. Meningkatnya parawisata dan perjalanan dari daerah endemik mengakibatkan meningkatnya kasus malaria yang diimpor. Pengetahuan tentang host, agent dan environment penting bagi seorang yang menangani atau bertanggung jawab dalam mengendalikan dan memberantas malaria.

13

BAB III KESIMPULAN

1.

Malaria adalah penyakit menular yang menyerang dalam bentuk infeksi akut atau puan kronis. Penyakit ini disebabkan oleh protozoa genus plasmodium bentuk aseksual, yang masuk ke dalam tubuh manusia dan ditularkan oleh nyamuk Anhopeles betina. Pada manusia terdapat 4 spesies yaitu Plasmodium falciparum, Plasmodium vivax, Plasmodium malariae dan Plasmodium ovale. Epidemiologi malaria adalah ilmu yang mempelajri penyebaran malaria dan factor-faktor yang mepengaruhinya dalam masyarakat. Dalam epidemiologi malaria ada 3 faktor yang diselidiki yaitu host (manusia sebagai host intermediate dan nyamuk sebagai host definitif), agent (penyebab penyakit malaria, plasmodium) dan environment (lingkungan). Penyebaran malaria terjadi bila ketiga faktor tersebut saling mendukung.

2.

3.

4.

14

DAFTAR PUSTAKA
Bina Ikawati, 2009. Penyelidikan Epidemiologi Peningkatan Kasus Malaria di Dusun Bendawuluh, Desa Beji, Kecamatan Banjarmanu,Kabupaten Banjar Negara. Bhisma Murti. Prinsip dan Metode Riset Epidemiologi. Gajah Mada University Press, Yogyakarta, 1997 Depkes RI. 1991. Pedoman Kerja Puskesmas Jilid III. Jakarta: Depkes RI.

Harijanto PN, 2000. Epidemiologi, pathogenesis, manifestasi klinis dan penanganan. EGC.Jakarta Helmin Rumbiak, 2006. Analisis Manajemen Lingkungan Terhadap Malaria.Tesis Magister Kesehatan Lingkungan Universitas Diponegoro Kemenkes RI, 2011. Malaria merupakan maslah kesehatan penting di dunia. Dirjen P2PL. Jakarta Prabowo, 2004. Mencegah dan Mengatasi Malaria. EGC.Jakarta

15