Anda di halaman 1dari 17

Islam: Agama yang Berkembang Paling Pesat di Eropa

H
A R U N

A H Y A

Selama 20 tahun terakhir, jumlah kaum Muslim di dunia telah meningkat secara perlahan. Angka statistik tahun 1973 menunjukkan bahwa jumlah penduduk Muslim dunia adalah 500 juta; sekarang, angka ini telah mencapai 1,5 miliar. Kini, setiap empat orang salah satunya adalah Muslim. Bukanlah mustahil bahwa jumlah penduduk Muslim akan terus bertambah dan Islam akan menjadi agama terbesar di dunia. Peningkatan yang terusmenerus ini bukan hanya dikarenakan jumlah penduduk yang terus bertambah di negara-negara Muslim, tapi juga jumlah orang-orang mualaf yang baru memeluk Islam yang terus meningkat, suatu fenomena yang menonjol, terutama setelah serangan terhadap World Trade Center pada tanggal 11 September 2001. Serangan ini, yang dikutuk oleh setiap orang, terutama umat Muslim, tiba-tiba saja telah mengarahkan perhatian orang (khususnya warga Amerika) kepada Islam. Orang di Barat berbicara banyak tentang agama macam apakah Islam itu, apa yang dikatakan Al Qur'an, kewajiban apakah yang harus dilaksanakan sebagai seorang Muslim, dan bagaimana kaum Muslim dituntut melaksanakan urusan dalam kehidupannya. Ketertarikan ini secara alamiah telah mendorong peningkatan jumlah warga dunia yang berpaling kepada Islam. Demikianlah, perkiraan yang umum terdengar pasca peristiwa 11 September 2001 bahwa "serangan ini akan mengubah alur sejarah dunia", dalam beberapa hal, telah mulai nampak kebenarannya. Proses kembali kepada nilai-nilai agama dan spiritual, yang dialami dunia sejak lama, telah menjadi keberpalingan kepada Islam. Hal luar biasa yang sesungguhnya sedang terjadi dapat diamati ketika kita mempelajari perkembangan tentang kecenderungan ini, yang mulai kita ketahui melalui surat-surat kabar maupun berita-berita di televisi. Perkembangan ini, yang umumnya dilaporkan sekedar sebagai sebuah bagian dari pokok bahasan hari itu, sebenarnya adalah petunjuk sangat penting bahwa nilai-nilai ajaran Islam telah mulai tersebar sangat pesat di seantero dunia. Di belahan dunia Islam lainnya, Islam berada pada titik perkembangan pesat di Eropa. Perkembangan ini telah menarik perhatian yang lebih besar di tahun-tahun belakangan, sebagaimana ditunjukkan oleh banyak tesis, laporan, dan tulisan seputar "kedudukan kaum Muslim di Eropa" dan "dialog antara masyarakat Eropa dan umat Muslim." Beriringan dengan berbagai laporan akademis ini, media massa telah sering menyiarkan berita tentang Islam dan Muslim. Penyebab ketertarikan ini adalah perkembangan yang terus-menerus mengenai angka populasi Muslim di Eropa, dan peningkatan ini tidak dapat dianggap hanya disebabkan oleh imigrasi. Meskipun imigrasi dipastikan memberi pengaruh nyata pada pertumbuhan populasi umat Islam, namun banyak peneliti mengungkapkan bahwa permasalahan ini dikarenakan sebab lain: angka perpindahan agama yang tinggi. Suatu kisah yang ditayangkan NTV News pada tanggal 20 Juni 2004 dengan judul "Islam adalah agama yang berkembang paling pesat di Eropa" membahas laporan yang dikeluarkan oleh badan intelejen domestik Prancis. Laporan tersebut menyatakan bahwa jumlah orang mualaf yang memeluk Islam di negara-negara Barat semakin terus bertambah, terutama pasca peristiwa serangan 11 September. Misalnya, jumlah orang mualaf yang memeluk Islam di Prancis meningkat sebanyak 30 hingga 40 ribu di tahun lalu saja.

Gereja Katolik dan Perkembangan Islam


Gereja Katolik Roma, yang berpusat di kota Vatican, adalah salah satu lembaga yang mengikuti fenomena tentang kecenderungan perpindahan agama. Salah satu pokok bahasan dalam pertemuan bulan Oktober 1999 muktamar gereja Eropa, yang dihadiri oleh hampir seluruh pendeta Katolik, adalah kedudukan Gereja di milenium baru. Tema utama konferensi tersebut adalah tentang pertumbuhan pesat agama Islam di Eropa. The National Catholic Reporter melaporkan sejumlah orang garis keras menyatakan bahwa satu-satunya cara mencegah kaum Muslim mendapatkan kekuatan di Eropa adalah dengan berhenti bertoleransi terhadap Islam dan umat Islam; kalangan lain yang lebih objektif dan rasional menekankan kenyataan bahwa oleh karena kedua agama percaya pada satu Tuhan, sepatutnya tidak ada celah bagi perselisihan ataupun persengketaan di antara keduanya. Dalam satu sesi, Uskup Besar Karl Lehmann dari Jerman menegaskan bahwa terdapat lebih banyak kemajemukan internal dalam Islam daripada yang diketahui oleh banyak umat Nasrani, dan pernyataanpernyataan radikal seputar Islam sesungguhnya tidak memiliki dasar. (1)

Mempertimbangkan kedudukan kaum Muslim di saat menjelaskan kedudukan Gereja di milenium baru sangatlah tepat, mengingat pendataan tahun 1999 oleh PBB menunjukkan bahwa antara tahun 1989 dan 1998, jumlah penduduk Muslim Eropa meningkat lebih dari 100 persen. Dilaporkan bahwa terdapat sekitar 13 juta umat Muslim tinggal di Eropa saat ini: 3,2 juta di Jerman, 2 juta di Inggris, 4-5 juta di Prancis, dan selebihnya tersebar di bagian Eropa lainnya, terutama di Balkan. Angka ini mewakili lebih dari 2% dari keseluruhan jumlah penduduk Eropa. (2)

Kesadaran Beragama di Kalangan Muslim Meningkat di Eropa


Penelitian terkait juga mengungkap bahwa seiring dengan terus meningkatnya jumlah Muslim di Eropa, terdapat kesadaran yang semakin besar dalam menjalankan agama di kalangan para mahasiswa. Menurut survei yang dilakukan oleh surat kabar Prancis Le Monde di bulan Oktober 2001, dibandingkan data yang dikumpulkan di tahun 1994, banyak kaum Muslims terus melaksanakan sholat, pergi ke mesjid, dan berpuasa. Kesadaran ini terlihat lebih menonjol di kalangan mahasiswa universitas.(3) Dalam sebuah laporan yang didasarkan pada media masa asing di tahun 1999, majalah Turki Aktel menyatakan, para peneliti Barat memperkirakan dalam 50 tahun ke depan Eropa akan menjadi salah satu pusat utama perkembangan Islam.

Islam adalah Bagian Tak Terpisahkan dari Eropa


Bersamaan dengan kajian sosiologis dan demografis ini, kita juga tidak boleh melupakan bahwa Eropa tidak bersentuhan dengan Islam hanya baru-baru ini saja, akan tetapi Islam sesungguhnya merupakan bagian tak terpisahkan dari Eropa. Eropa dan dunia Islam telah saling berhubungan dekat selama berabad-abad. Pertama, negara Andalusia (7561492) di Semenanjung Iberia, dan kemudian selama masa Perang Salib (1095-1291), serta penguasaan wilayah Balkan oleh kekhalifahan Utsmaniyyah (1389) memungkinkan terjadinya hubungan timbal balik antara kedua masyarakat itu. Kini banyak pakar sejarah dan sosiologi menegaskan bahwa Islam adalah pemicu utama perpindahan Eropa dari gelapnya Abad Pertengahan menuju terang-benderangnya Masa Renaisans. Di masa ketika Eropa terbelakang di bidang kedokteran, astronomi, matematika, dan di banyak bidang lain, kaum Muslim memiliki perbendaharaan ilmu pengetahuan yang sangat luas dan kemampuan hebat dalam membangun.

Bersatu pada Pijakan Bersama: "Monoteisme"


Perkembangan Islam juga tercerminkan dalam perkembangan dialog antar-agama baru-baru ini. Dialog-dialog ini berawal dengan pernyataan bahwa tiga agama monoteisme (Islam, Yahudi, dan Nasrani) memiliki pijakan awal yang sama dan dapat bertemu pada satu titik yang sama. Dialog-dialog seperti ini telah sangat berhasil dan membuahkan kedekatan hubungan yang penting, khususnya antara umat Nasrani dan Muslim. Dalam Al Qur'an, Allah memberitahukan kepada kita bahwa kaum Muslim mengajak kaum Ahli Kitab (Nasrani dan Yahudi) untuk bersatu pada satu pijakan yang disepakati bersama: Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)." (QS. Ali 'Imran, 3: 64) Ketiga agama yang meyakini satu Tuhan tersebut memiliki keyakinan yang sama dan nilai-nilai moral yang sama. Percaya pada keberadaan dan keesaan Tuhan, malaikat, Nabi, Hari Akhir, Surga dan Neraka, adalah ajaran pokok keimanan mereka. Di samping itu, pengorbanan diri, kerendahan hati, cinta, berlapang dada, sikap menghormati, kasih sayang, kejujuran, menghindar dari berbuat zalim dan tidak adil, serta berperilaku mengikuti suara hati nurani semuanya adalah sifat-sifat akhak terpuji yang disepakati bersama. Jadi, karena ketiga agama ini berada pada pijakan yang sama, mereka wajib bekerja sama untuk menghapuskan permusuhan, peperangan, dan penderitaan yang diakibatkan oleh ideologi-ideologi antiagama. Ketika dilihat dari sudut pandang ini, dialog antar-agama memegang peran yang jauh lebih penting. Sejumlah seminar dan konferensi yang mempertemukan para wakil dari agama-agama ini, serta pesan perdamaian dan persaudaraan yang dihasilkannya, terus berlanjut secara berkala sejak pertengahan tahun 1990-an.

Kabar Gembira tentang Datangnya Zaman Keemasan

Dengan mempertimbangkan semua fakta yang ada, terungkap bahwa terdapat suatu pergerakan kuat menuju Islam di banyak negara, dan Islam semakin menjadi pokok bahasan terpenting bagi dunia. Perkembangan ini menunjukkan bahwa dunia sedang bergerak menuju zaman yang sama sekali baru. Yaitu sebuah zaman yang di dalamnya, insya Allah, Islam akan memperoleh kedudukan penting dan ajaran akhlak Al Qur'an akan tersebar luas. Penting untuk dipahami, perkembangan yang sangat penting ini telah dikabarkan dalam Al Qur'an 14 abad yang lalu: Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai. Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al Qur'an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai. (QS. At Taubah, 9: 32-33) Tersebarnya akhlak Islami adalah salah satu janji Allah kepada orang-orang yang beriman. Selain ayat-ayat ini, banyak hadits Nabi kita SAW menegaskan bahwa ajaran akhlak Al Qur'an akan meliputi dunia. Di masa-masa akhir menjelang berakhirnya dunia, umat manusia akan mengalami sebuah masa di mana kezaliman, ketidakadilan, kepalsuan, kecurangan, peperangan, permusuhan, persengketaan, dan kebobrokan akhlak merajalela. Kemudian akan datang Zaman Keemasan, di mana tuntunan akhlak ini mulai tersebar luas di kalangan manusia bagaikan naiknya gelombang air laut pasang dan pada akhirnya meliputi seluruh dunia. Sejumlah hadits ini, juga ulasan para ulama mengenai hadits tersebut, dipaparkan sebagaimana berikut: Selama [masa] ini, umatku akan menjalani kehidupan yang berkecukupan dan terbebas dari rasa waswas yang mereka belum pernah mengalami hal seperti itu. [Tanah] akan mengeluarkan panennya dan tidak akan menahan apa pun dan kekayaan di masa itu akan berlimpah. (Sunan Ibnu Majah) Penghuni langit dan bumi akan ridha. Bumi akan mengeluarkan semua yang tumbuh, dan langit akan menumpahkan hujan dalam jumlah berlimpah. Disebabkan seluruh kebaikan yang akan Allah curahkan kepada penduduk bumi, orang-orang yang masih hidup berharap bahwa mereka yang telah meninggal dunia dapat hidup kembali. (Muhkhtasar Tazkirah Qurtubi, h. 437) Bumi akan berubah seperti penampan perak yang menumbuhkan tumbuh-tumbuhan ... (Sunan Ibnu Majah) Bumi akan diliputi oleh kesetaraan dan keadilan sebagaimana sebelumnya yang diliputi oleh penindasan dan kezaliman. (Abu Dawud) Keadilan akan demikian jaya sampai-sampai semua harta yang dirampas akan dikembalikan kepada pemiliknya; lebih jauh, sesuatu yang menjadi milik orang lain, sekalipun bila terselip di antara gigi-geligi seseorang, akan dikembalikan kepada pemiliknya Keamanan meliputi seluruh Bumi dan bahkan segelintir perempuan bisa menunaikan haji tanpa diantar laki-laki. (Ibn Hajar al Haitsami: Al Qawlul Mukhtasar fi `Alamatul Mahdi al Muntazar, h. 23) Berdasarkan pernyataan-pernyataan di atas, Zaman Keemasan akan merupakan suatu masa di mana keadilan, kemakmuran, keberlimpahan, kesejahteraan, rasa aman, perdamaian, dan persaudaraan akan menguasai kehidupan umat manusia, dan merupakan suatu zaman di mana manusia merasakan cinta, pengorbanan diri, lapang dada, kasih sayang, dan kesetiaan. Dalam hadits-haditsnya,Nabi kita SAW mengatakan bahwa masa yang diberkahi ini akan terjadi melalui perantara Imam Mahdi, yang akan datang di Akhir Zaman untuk menyelamatkan dunia dari kekacauan, ketidakadilan, dan kehancuran akhlak. Ia akan memusnahkan pahampaham yang tidak mengenal Tuhan dan menghentikan kezaliman yang merajalela. Selain itu, ia akan menegakkan agama seperti di masa Nabi kita SAW, menjadikan tuntunan akhlak Al Qur'an meliputi umat manusia, dan menegakkan perdamaian dan menebarkan kesejahteraan di seluruh dunia. Kebangkitan Islam yang sedang dialami dunia saat ini, serta peran Turki di era baru merupakan tanda-tanda penting bahwa masa yang dikabarkan dalam Al Qur'an dan dalam hadits Nabi kita sangatlah dekat. Besar harapan kita bahwa Allah akan memperkenankan kita menyaksikan masa yang penuh berkah ini.
Rujukan: 1. "Europe's Muslims Worry Bishops," National Catholic Reporter, 22 Oktober 1999 2. "Muslims in Europe," The Economist, 18 Oktober 2001. 3. Time, 24 Desember 2001.

http://www.harunyahya.com/indo/artikel/067.htm

MENJUNJUNG JALAN YANG BENAR YANG DITUNJUKKAN OLEH NABI KITA


Nabi kita telah menggambarkan hari akhir dimana kita saat ini hidup dengan cukup detail. Salah satu cirinya adalah muslim yang hidup di periode itu akan menghadapi banyak kesulita, masalah dan derita. Karena, seperti yang diungkapkan oleh nabi, pada masa ini dimana orang tidak beragama lagi, ideologi materialisme dan darwinisme akan digunakan untuk propaganda secara intensif. Selama masa ini, banyak orang akan meninggalkan nilai-nilai moral beragama, penganut yang setia jumlahnya sedikit, Allah akan ditolak secara terang-terangan (tentu saja tidak bisa dilakukan). Negara-negara Islam seperti Irak dan Afghanistan akan diinvasi, muslim akan terdesak di Baitul Maqdis, pemimpin-pemimpin tiran akan menindas masyarakat di negara-negara Islam. Di masa ini, kekacauan dan teror akan melingkupi dunia, korupsi akan tumbuh di satu tempat tetapi akan mati di tempat lain dan orang-orang tidak bersalah dengan tidak wajar akan dibunuh, wanita dan anak-anak akan dibantai, orang-orang akan hidup dalam ketakutan dan teror dan walaupun dengan semua itu, muslim tetap terpecah belah. (Penjelasan lebih lanjut untuk topik ini, lihat http://www.endoftimes.net/) Akan tetapi, saat memperingatkan para muslim secara detail tentang masalah yang akan mereka hadapi, diri dari Nabi Muhammad juga itu. menunjukkan Allah Yang bagaimana Kuasa cara akan menyelamatkan masalah-masalah Maha

membebaskan dunia Islam dan seluruh umat manusia dari semua kesulitan dan masalah dengan mengirimkan Imam Mahdi saat bencana akhir dunia berada di tingkat terparah. Imam Mahdi adalah orang suci keturunan para Nabi, yang menurut hadis dan pernyataan ilmuwan Muslim akan muncul 1400 Hijriyah, di abad ini, dengan kata lain, akan memimpin manusia dari kegelapan menuju cahaya. Rasulullah (utusan Allah) telah menjelaskan secara detail karakter fisik dari Imam Mahdi, jenis perjuangan yang akan dilakukannya, darimana datangnya dan apa yang akan dia lakukan. Rasulullah telah memberikan ciri-ciri yang menakjubkan tentang hal ini. Menurut penjelasan, Imam Mahdi akan turun di Istanbul, akan melancarkan perjuangan intelektual melawan darwisnisme dan materialisme, akan menetralisir korupsi yang menjauhkan manusia dari nilai moral agama, merekonstruksi kesatuan negara Islam Turki dengan menyatukan dunia Islam, akan menghentikan semua jenis ketidakadilan, akan memberikan jalan agar manusia menjadi sangat kaya baik dalam bentuk materi maupun fisik, bersama dengan Nabi Isa, akan membuat nilai moral Islam menguasai dunia. Dia akan menjadi alat di masa kebahagiaan yang terjadi di seluruh dunia, saat Allah memperlihatkan gelarnya al-Hadi (pemberi petunjuk), saat manusia benar-benar bertahan dengan nilai moral yang diperintahkan Allah, saat kegembiraan dan kebahagiaan berkuasa. (Penjelasan lebih lanjut, lihat www.awaitedmahdi.com)

Oleh karena itu, semua masalah yang ada di dunia Islam, korupsi dan ketidakteraturan di seluruh dunia, menggembar-gemborkan kedatangan manusia suci ini. Setiap dari ratusan kejadian yang diramalkan nabi kita sebagai tanda kedatangan Imam Mahdi telah terjadi hingga 1400 Hijriyah. Seperti yang telah diramalkan nabi, air Eufrat telah dihentikan, terjadi perang Iran-Irak, penyerangan berdarah terjadi di Kabah, telah terjadi gerhana bulan dan matahari dengan jarak 15 hari di bulan Ramadhan, Afghanistan telah diinvasi, seluruh wilayah Irak telah diduduki, Komet Haley melintas, api terlihat dari Timur saat sumur minyak dibakar selama invasi Irak ke Kuwait, kegelapan korupsi dan asap terlihat di Menara Kembar di Amerika saat diserang tanggal 11 September, pemimpin Sham dan Mesir dibunuh, Azerbaijan diinvasi, Komet Lulin, yang memiliki 2 ekor dan melintas berlawanan arah dari komet lainnya, dan sudah terlihat ratusan tanda lainnya. Semua itu adalah bukti bahwa kita berada di masa Imam Mahdi.

Di masa suci yang diramalkan oleh Nabi, tidak dapat diterima bahwa seorang muslim yang tulus yang mengikuti Nabi kita tidak mencari Imam Mahdi dan mempersiapkan jalan untuknya dengan memperjuangkan kesatuan, dan keselamatan dari Dunia Islam. Seluruh dunia Islam harus bersatu dalam semangat dan kegembiraan hidup di masa Imam Mahdi, mencari Imam Mahdi dan berjuang untuk dunia untuk mempertahankan perdamaian, ketenangan dan kemakmuran dengan Imam Mahdi sebagai penolong. Jangan dilupakan bahwa kemunculan Imam Mahdi dan kedaulatan nilai moral Islam adalah takdir dari Allah. Allah akan membuat Imam Mahdi berhasil apakah manusia mendukungnya atau tidak. Melalui Imam Mahdi, Allah akan

menghapuskan pengingkaran dan akan mendirikan kedaulatan moral Islam. Untuk itu, semua orang yang berniat menjadi penolong Imam Mahdi dan ingin berjuang menjadi salah satunya, yang menginginkan kesatuan dunia Islam-Turki dan yang melaksanakan perjuangan intelektual untuk keselamatan Muslim yang ditindas di seluruh dunia, sebenarnya sedang berjuang untuk dirinya sendiri. Seperti yang diwahyukan Allah dalam surat Al-Ankabut : Dan barang siapa berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu untuk dirinya sendiri. Sungguh, Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam. (Surat Al-Ankabut : 6)

Oct 17, 2010

http://us3.harunyahya.com/Detail/T/724BBCSO189/productId/32674/

Makna Berkurban
Berkurban adalah merupakan salah satu perintah Allah bagi hambanya yang mampu, berkurban merupakan perintah Allah yang sejak jaman Nabi Adam yaitu menyuruh anak-anak Nabi Adam yaitu Qabil dan Habil untuk mengurbankan sebagian dari ternak dan hasil ladang mereka, dan juga kepada Nabi Ibrahim untuk mengurbankan anaknya yaitu Nabi Ismail, kita semua tahu Nabi Ismail adalah anak yang sangat dinantikan dan dicintai oleh Nabi Ibrahim namun karena ketaatan nya kepada Allah maka Nabi Ibrahim lebih mentaati perintah Rabb nya meskipun harus mengorbankan hal yang sangat dicintainya yaitu anaknya sendiri. Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): Aku pasti membunuhmu!. Berkata Habil: Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa. Begitu pula perintah Allah kepada kita terkait masalah kurban bukan seberapa berat daging kurban yang kita sembelih bukan juga darah yang mengalir dari hewan kurban yang kita sembelih yang Allah nilai dari kurban kita, akan tetapi nilai ketaatan dan keikhlasan kita kepada Allah yang dinilai seberapa ikhlas dan taatnya kita, hanya kita dan Allah saja yang tahu ketaatan dan keikhlasan kitalah yang kelak akan menjadi catatan amal kita kelak di yaumil akhir. Ketaatan kita kepada Allah bersumber dari keimanan yang ada dalam hati kita, karena keimananlah yang menjadi sumber segala acuan tingkah laku kita sehingga tercermin pribadi yang senantiasa menjaga setiap tingkah laku dan langkah dalam hidupnya yang berpedoman pada AlQuran dan Sunnah, semoga dengan berkurban kita lebih bisa memaknai arti dari kurban itu sendiri sehingga kita bisa semakin taat kepada Allah dan kita pun semakin dekat dengan Nya sehingga kita bisa merasakan nikmat yang paling besar dalam hidup kita yaitu nikmat hidup dalam keimanan dan ketaatan kepada Allah.

http://majalahislamonline.wordpress.com/2010/11/14/makna-berkurban/#more-600

Ajaibnya Makkah, Hidup Orang Miskin Mudah


Saturday, 13 November 2010 18:31

Orang miskin hidup susah itu ada di mana-mana, tapi miskin hidup mudah, hanya ada di Makkah.

Hidayatullah.com --Kota suci Makkah dianggap sebagai salah satu kota yang paling mahal untuk ditinggali, berdasarkan tingginya biaya akomodasi di daerah sekitar Masjidil Haram. Hal tersebut, menurut para pakar ekonomi, telah menciptakan kesan keliru yang mengira orang-orang kaya dan proyek-proyek raksasa saja yang hanya ada di sana. Kenyataannya, banyak orang miskin Saudi dan orang asing yang papa tinggal tak jauh dari Masjidil Haram. Jumlahnya berlipat dan keturunan mereka, yang tidak mendapatkan kesempatan untuk memperoleh pekerjaan, menekuni bisnis kecil-kecilan guna menyambung hidup diri sendiri dan keluarga. Bisnisnya, seringkali hanya bernilai beberapa riyal saja. Meskipun demikian, masih bisa memberi makan beberapa mulut yang kelaparan. Sebut saja Mohsen Attiyah. Dia adalah pria Saudi berusia 62 tahun. Pekerjaannya menjual kayu siwak di pelataran Masjidil Haram. Bisnis kelas guremnya itu dilakoni untuk menghidupi istri dan delapan anaknya. "Saya telah menjual siwak selama lebih dari 25 tahun. Saya memulai usaha ini dengan modal tidak lebih dari 25 riyal," cerita Attiyah. Pria itu membeli kayu siwak dalam jumlah agak banyak seharga 300 riyal. Lalu dia memotong-motongnya menjadi tangkai kecil sebanyak kira-kira 700 buah. Setiap tangkai dijual kembali dengan harga 3 riyal. "Saya mendapat keuntungan antara 1.400-2.100 riyal." Meskipun untungnya lumayan, tapi barang dagangannya tidak habis dalam waktu sekejap. "Kadang butuh waktu berhari-hari untuk menjual habis seluruh siwak saya," katanya, seraya menjelaskan bahwa kota Makkah adalah tempat terbaik untuk menjual barang dagangan semacam itu. Lain Attiyah, lain pula Arshad Haj. Pendatang asing ilegal ini masih berusia 22 tahun. Bisnisnya adalah menjual

jasa gunting, sebagai tukang potong rambut. Modal bisnisnya adalah gunting seharga 6 riyal. Dengan gunting di tangan, dia mencukur kepala-kepala para jamaah di dekat pintu Masjidil Haram. Imbalannya 3 riyal per kepala. Selama bulan Ramadhan dan musim haji, tarif layanannya bisa naik hingga 5 riyal. "Saya memperoleh pendapatan sekitar 120 riyal di hari-hari biasa. Tapi bisa mendapat tiga kali lipatnya di musim ramai." Bakr Kano, pria pendatang ilegal asal Chad, punya cerita lain. Bisnis skala mikronya bergelut di dunia air mineral. Layaknya air yang dijual, bisnis itu menjadi penyelamat dan penyambung hidup keluarganya. Kano membeli 30 kardus berisi botol-botol air mineral seharga 18 riyal per karton, yang akan dijual lagi dengan harga 30 riyal. "Setiap hari saya menjual sekitar dua sampai tiga karton air mineral di lampu merah dan mendapatkan keuntungan lebih dari 36 riyal sehari," katanya berkisah. Adalagi bisnis gurem lainnya, tapi yang ini unik. Namanya bisnis mengucap salam. Bisnis ini biasa dilakukan oleh para penyapu jalan. Mereka mengucapkan "Assalamu'alaikum" kepada para pengendara mobil yang kaya di dekat lampu pengatur lalu lintas. Para pengemudi mobil biasanya menganggap mereka adalah orang miskin yang layak diberi sedekah. Sambil membalas salam, mereka pun memberi sejumlah uang. "Saya mendapatkan uang lebih banyak dari menjual salam daripada dari pekerjaan saya," kata seorang petugas penyapu jalan. Menurut Syeikh Muhammad Al-Sahli, seorang profesor ilmu syariah di Universitas Umm Al-Qura, orang miskin bisa menghasilkan uang di Makkah karena Nabi Ibrahim alaihissalam berdoa kepada Allah memohon karuniaNya atas penduduk kota suci itu. Dia mengatakan, sejumlah orang miskin yang datang ke Makkah mampu menemukan berbagai macam sumber pendapatan, seperti menjual air mineral dan kayu siwak. "Beberapa di antara mereka bahkan ada yang kemudian menjadi pengusaha dan pedagang," katanya.

http://www.hidayatullah.com/cermin-a-features/f/14163-ajaibnya-makkah-hidup-orangmiskin-mudah

Gayus dan Fenomena Rusaknya Pemegang Amanah


Monday, 15 November 2010 11:02

Ketika amanah telah dikhianati, sedang keyakinan dinodai, maka, apa lagi yang masih tersisa? Oleh: Hartono Ahmad Jaiz & Hamzah Tede

Kasus tahanan bernama Gayus Tambunan yang bisa ngelencer ke luar tahanan, meski seharusnya ia berada di balik jeruji besi mengagetkan banyak kalangan. Ia bahkan secara bebas berkeliaran dengan mengeluarkan uang sogokan ratusan juta rupiah. Kompol Iwan mengakui, ia telah mendapatkan uang sekitar Rp 370 juta dari Gayus yang diperolehnya sejak Juli hingga Oktober 2010. Dikabarkan, sejak Juli 2010, sebenarnya Gayus tidak mendekam di tahanan Mako Brimob. Kecuali, bila esok harinya Gayus akan menjalani persidangan, malam harinya ia hadir di tahanan. Memang ironis. Ketika sebagian rakyat Indonesia kesulitan bayar uang sekolah, sementara itu Gayus Tambunan, terdakwa kasus mafia pajak yang seharusnya mendekam di tahanan, menghambur-hamburkan uang ratusan juta rupiah sehingga bisa bebas keluar tahanan, bisa menonton pertandingan tenis antara Daniela Hantuchova dan Yanina Wickmayer dalam ajang Commonwealth Bank Tournament of Champions di Nusa Dua, Bali (Jumat tanggal 5 November 2010 Bandingkanlah dengan kasus banyaknya orang yang tak mampu bayar uang sekolah. Di Jakarta, misalnya di perkampungan nelayan tradisional Muara Angke, Jakarta Utara, yang tak jauh dari kantor para wakil rakyat berkiprah, banyak kita saksikan orangtua tak mampu membiayai anak mereka sekolah.

Di tempat yang tak jauh dari Istana Negara tempat presiden beraktivitas itu, menurut Sinar Harapan edisi Sabtu 17 April 2010, terdapat sejumlah anak usia sekolah yang pontang-panting cari duit agar tetap bisa melanjutkan pendidikan. Antara lain terjadi pada diri Chusnul Khotimah (17 tahun) siswa kelas 12 sebuah SMK di sana. Ayahnya terkena stroke dan ibunya tidak punya pekerjaan tetap. Akibatnya, Chusnul sering nunggak bayar SPP. Karena malu, Chusnul jadi sering bolos. Jangankan untuk bayar SPP, untuk makan saja ia kesulitan. Beruntung, kesulitan Chusnul mendapat respon positif dari salah seorang gurunya, guru Bahasa Inggris. Chusnul diberdayakan: membantu apa saja, termasuk mengoreksi hasil tugas murid-murid sang guru. Bahkan Chusnul sampai menginap di rumah sang guru, karena tugas yang harus diselesaikannya baru selesai hingga tengah malam. Akibatnya, Chusnul harus meninggalkan adiknya, Aisyah (15 tahun), yang juga punya persoalan sama: sering nunggak SPP, bolos sekolah karena tak ada ongkos, menahan lapar dan haus karena tak punya uang untuk beli makanan. Berbeda dengan Chusnul yang diberdayakan, sehingga punya sedikit penghasilan untuk bayar SPP dan ongkos menuju sekolah, Aisyah menempuh cara yang berbeda. Ia merayu sang pacar setiap butuh uang untuk bayar SPP dan sebagainya. Sebuah solusi yang rawan, karena bisa terperosok kepada perbuatan mendekati zina bahkan zina itu sendiri. Selain Chusnul dan Aisyah, masih ada sejumlah anak usia sekolah yang bernasib sama, antara lain Ridwan Saleh (18 tahun), Daniri (17 tahun), Ari Marwan (17 tahun), Supian (15 tahun), dan sebagainya. Mereka sering nunggak SPP karena ketiadaan biaya, bahkan ada yang terancam tidak bisa ikut Ujian Nasional (UN). Orangtua mereka ada yang sudah meninggal, pengangguran, buruh kasar, pemulung, tukang becak, petani, dan sebagainya. Kalau yang berada di dekat pusat kekuasaan saja masih kesulitan, apalagi yang jauh. Misalnya, sebagaimana terjadi di Kecamatan Tangen, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Menurut Harian Joglo Semar edisi Rabu 05 Mei 2010, terdapat sekitar puluhan anak lulusan Sekolah Dasar dari keluarga miskin di Kecamatan Tangen, tidak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Salah satu diantaranya Ari Wibowo (13 tahun), warga Dukuh Kerjan, Katelan, Kecamatan Tangen, yang lulus SD tahun 2009 namun tidak bisa melanjutkan ke SMP, lantaran orangtuanya tak mampu. Sugimin (55 tahun), ayah Ari, sehari-hari bekerja sebagai buruh tani. Penghasilannya minim. Jangankan buat bayar sekolah, untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari saja masih sangat kurang. Masih di Jawa Tengah, kali ini di Rembang, seorang penarik becak bernama Jari, terpaksa menjual becak satusatunya untuk melunasi tunggakan iuran sekolah anaknya di Madrasah Aliah Negeri (MAN) Rembang, Jawa Tengah. Besarnya tunggakan iuran sekolah mencapai Rp 1.265.000. Dari tunggakan sebesar itu, ia sudah melunasi Rp 400.000. Selebihnya ditutup dari hasil jualan becak. Masih ada sembilan siswa-siswi lainnya yang bernasib sama. Mereka semula tidak diizinkan mengikuti kegiatan belajar dan tidak mendapatkan bangku sekolah pada Tahun Ajaran 2010-2011. Untungnya, pihak manajemen sekolah kemudian membuat kebijakan yang manusiawi, sehingga mereka tetap bisa sekolah, namun harus tetap melunasi tunggakan. (antarajateng.com edisi Selasa tanggal 13 Juli 2010). Di Tasikmalaya, Jawa Barat, juga begitu. Menurut antarajawabarat.com edisi Kamis, 22 Jul 2010, terdapat sekitar 20 siswa kelas 11 SMK Al-Khoeriyah, Kecamatan Cibeureum, Kota Tasikmalaya, pernah dilarang masuk sekolah karena belum melunasi administrasi keuangan sekolah seperti SPP. Salah satu diantaranya bernama Aziz. Aziz jelas merasa kecewa akibat kebijakan manajemen sekolah yang melarang dirinya dan sejumlah siswa lainnya tidak boleh belajar selama urusan adminsitrasi belum dilunasi. Orangtua Aziz saat itu belum punya uang

untuk melunasi iuran bulanan selama dua bulan dan daftar ulang sekolah, yang jumlah keseluruhannyanya hanya sebesar Rp 300 ribu. Selain Aziz, ada Erin warga kampung Sukasirna, Kelurahan Ciherang, Kecamatan Cibeureum, Tasikmalaya. Ia juga mengalami nasib serupa. Bahkan, yang membuat Erin sedih, pihak sekolah pada saat upacara bendera mengumumkan nama-nama siswa-siswi yang belum lunas biaya administasi, sekaligus menyampaikan kebijakan bahwa siswa-siswi bersangkutan tidak dizinkan masuk kelas. Hal inilah yang membuat Erin pingsan di lapangan upacara. Orangtua Erin sehari-hari berjualan gorengan dengan penghasilan sekitar Rp 40 ribu per hari. Tunggakan yang harus dilunasi Erin hanya Rp 500 ribu saja, terdiri dari angsuran uang bangunan sekolah dan uang daftar ulang sekolah. Tapi uang sejumlah itu bagi Erin dan keluarganya cukup berat untuk diperoleh dalam waktu singkat. Bahkan, perlakuan sebagaimana terjadi pada Aziz dan Erin (siswa-siswi SMK di Tasikmalaya), juga harus dialami siswa sekolah dasar, sebagaimana menimpa kakak beradik siswa SD Negeri 1 Sukomulyo, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Mereka adalah Ica Nur Safitri (kelas dua) dan kakaknya Karlina Saradevi (kelas empat). Ayah mereka, Baron, hanyalah seorang pemulung barang bekas di sekitar Kabupaten Lamongan, dan baru pulang sekitar 2-3 pekan sekali dengan penghasilan sekitar Rp200 ribu. Ica dan Karlina belum melunasi kewajiban masing-masing sebesar hanya Rp 330 ribu (atau kumulatif Rp 660 ribu), terdiri dari biaya daftar ulang, lembar kerja siswa (LKS) dan keperluan buku lainnya. Karena belum lunas, keduanya sempat dipulangkan. Hal ini yang membuat Sumirah (45 tahun), ibunda Ica dan Karlina sedih. Apa tidak ada cara lain Sumirah sendiri tidak tinggal diam menghidupi keluarganya. Ia bekerja sebagai pemungut sampah di Perum Gresik Kota Baru (GKB) dengan upah Rp 350 ribu per bulan. Sore hari Sumirah bekerja paruh waktu di salah satu usaha katering dengan upah Rp 400 ribu per bulan. Namun penghasilan sebesar itu belum mencukupi kehidupan Sumirah dan sembilan anaknya. Bahkan, Karlina (putri keempat) ikut mencari nafkah. Usai sekolah, ia ngamen di jalanan sampai sekitar pukul 16:00 wib. Pulang ngamen, Karlina bergegas mengaji. Saat ini ia sudah menguasai Iqra IV. Subhanallah, himpitan ekonomi tak membuatnya lupa pada agama. Bukti Kedhaliman Contoh Gayus adalah bukti rusaknya para pemegang amanah di negeri Indonesia. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: { } .

'Barangsiapa diberi beban oleh Allah untuk memimpin rakyatnya lalu mati dalam keadaan menipu rakyat, niscaya Allah mengharamkan bau Surga atasnya'." (Hadits shahih riwayat Muslim - 203) Di sisi lain, kita saksikan banyak musibah betubi-tubi, boleh jadi akibat ulah kita semua. Tengok saja, di harihari baik yaitu Bulan Dzulhijjah (bulan haji) yang puluhan pertamanya merupakan hari-hari paling baik sepanjang tahun, justru banyak kemusyrikan di mana-mana. Sampai-sampai ada kelompok yang ramai-ramai menanam kepala kerbau di Gunung Merapi yang meletus. Padahal berqurban untuk selain Allah, baik itu disebut tumbal, sesaji ataupun apapun namanya, adalah upacara kemusyrikan, dosa paling besar, dapat menghapus keislaman, dan menjadikan kekal di neraka bila sampai matinya tidak bertaubat. Dan itu menjadikan murka Allah Taala sehingga tidak mustahil menimpakan bencana.

Apalagi kenyataannya, para pelaku kemusyrikan dengan upacara-upacara yang mereka gelar itu justru mengikuti kemusyrikan yang dipegangi oleh penguasa yakni di antaranya Kraton setempat, Sebagaimana di tempat-tempat lain adalah pemerintah daerah setempat masing-masing. Sehingga duit yang berasal dari rakyat (mayoritas Muslimin) justru untuk menentang Allah sedahsyat-dahsyatnya yakni upacara kemusyrikan. Ketika amanah telah dikhianati, sedang keyakinan telah dinodai bahkan diberangus dengan kemusyrikan, maka apa lagikah yang masih tersisa? Kepada manusia, sudah dhalim dan tidak punya belas kasihan. Sedang kepada Allah Taala telah mengkhianati sedahsyat-dahsyatnya dengan membuat tandingan sesembahan yang diberi sesaji didekati dengan qurban untuk selain Allah; maka di sinilah puncak kedhaliman yang sejati. Dalam al-Quran ada sebutan: dholuman jahula (72) [ /72 73]

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh. (Yang dimaksud dengan amanat di sini ialah tugas-tugas keagamaan). sehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allah menerima taubat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Al-Ahzab/ 33: 72, 73). Imam Al-Baghawi menjelaskan: : . ( ()183 / 6

Al-Kalbi berkata: dhaluman (dhalim) ketika maksiat terhadap Tuhannya. Jahula (bodoh) tidak tahu apa siksaannya dalam meninggalkan amanah. (Tafsir Al-Baghawi juz 6 halaman 381). Sadarilah wahai manusia, dan marilah kita bertaubat, agar kelak di akherat tidak menyesal dengan penyesalan yang tidak ada akhirnya.

http://www.hidayatullah.com/kajian-a-ibrah/14182-gayus-dan-fenomena-rusaknyapemegang-amanah

Para Pemimpin Harus Jadikan Bencana Sebagai Pelajaran


Tuesday, 02 November 2010 11:06

Pemimpin bangsa semestinya sensitif dengan musibah-musibah yang terjadi seperti saat ini, ujar Dr Musthafa Umar Hidayatullah.comBencana bertubi-tubi di bumi pertiwi membuat banyak pihak bertanya-tanya. Ada apa gerangan di bumi tercinta ini? Pertanyaan serupa juga dirasakan Dr Musthafa Umar, doktor dari University Malaya Malaysia. Pria yang setiap bulan melakukan perjalanan dakwah ke Malaysia sering bertanya dalam hati. Apa yang salah dengan kita sehingga bencana sering terjadi. Menurut pakar tafsir yang aktif berdakwah di Riau dan Malaysia ini, para pemimpin Indonesia mesti mengambil pelajaran dari bencana agarselamat dan sampai ke tujuan yakni ridho Allah SWT. Pemimpin bangsa semestinya sensitif dengan musibah-musibah seperti ini. Mesti lebih sensitif dibanding rakyat biasa, ujar alumni doktoral tafsir dari Universitas Malaya Malaysia Dr Musthafa Umar Lc, MA kepada hidayatullah.com, Jumat (29/10) di Pekanbaru. Inilah petikan wawancara dengan pendakwah yang telah menulis 26 judul buku dan kini sedang menyelesaikan Tafsir Makrifah itu dengan koresponden Hidayatullah Riau. Bagaimana kita harus memahami bencana yang datang dalam waktu yang berdekatan? Apabila musibah terjadi silih berganti bermakna berkaitan dengan waktu. Allah yang memilih waktunya, Allah tidak letakkan dalam rentang waktu yang jauh, tapi Allah letakkan dalam rentang waktu yang dekat. Pasti ada hikmah di sebaliknya. Hikmah yang paling besar dari musibah adalah memberikan peringatan kepada manusia. Apabila ditetapkan musibah dalam rentang waktu yang singkat, bermakna peringatan Allah itu bertubi-tubi. Apabila peringatan Allah itu bertubi-tubi, berkesinambungan, maka sepatutnya manusia segera kembali sadar apa yang telah dilakukan selama ini. Mungkin kita telah melakukan kesilapan yang besar, mungkin juga kesalahan yang fatal, maka Allah ingatkan. Supaya tidak terus berlanjutan kepada kebinasaan yang lebih besar. Akhirnya kita akan menderita semua. Maka semua mesti melihat (bencana) ini sebagai peringatan yang keras dari sisi Allah SWT. Ada pesan yang jelas sehingga kita mengambil sikap yang benar dan tepat dalam menghadapi musibah. Kalau kita lihat untuk Indonesia. Umpamanya tsunami di Mentawai, Gunung Merapi yang Meletus di Yogjakarta, banjir di Jakarta, kita bisa melihat arah dari musibah itu: tsunami dari bawah ke atas, air laut yang di bawah naik ke atas, yang satu lagi dari atas ke bawah yaitu dari puncak gunung turun ke bawah, yang satu lagi adalah berada di tengah-tengah dan air itu terkurung, ia tidak turun ke muka bumi. Sepatutnya kita merasa aman dengan alam semesta yang telah Allah tetapkan aturannya, tapi sekarang Allah takdirkan ia menjadi musibah bagi kita. Maka mungkin kita telah banyak melakukan pengrusakan terhadap sistem yang telah Allah tetapkan, maka mestilah kita kembali ke aturan yang asas, supaya kita dapat menjalani semua ini dengan baik. Sekarang kita sudah dikepung. Dari bawah sudah diingatkan, dari atas sudah diingatkan, di tengah-tengah juga sudah diingatkan. Maka kalau tidak juga menerima peringatan, sungguh ini suatu keangkuhan dan kesombongan. Belajar dari musibah yang dDiceritakan dalam al-Quran, bagaimana kita menyikapi musibah yang terjadi sekarang Ini? Dalam kisah-kisah kaum terdahulu, Allah tetapkan atas mereka musibah yang bermacam-macam. Ada musibah untuk menguji mereka, ada musibah untuk menyiksa dan mengazab mereka.

Jika berkaitan dengan kesalahan yang dilakukan, maka ia adalah musibah yang menyiksa, menyengsarakan mereka. Penyelesaiannya adalah dengan bertaubat, memohon ampun, meminta maaf kepada Allah SWT. Dalam ayat al-Quran disebutkan, karena kesombongan manusia dan karena perbuatan mereka yang selalu merencanakan yang jahat terhadap kebenaran, karena mereka lebih suka mengikuti hawa nafsu daripada mengikuti kehendak Allah, maka tidaklah yang melakukan perbuatan tercela itu melainkan mereka sendiri yang akan menanggung akibatnya. Tidaklah yang mereka tunggu melainkan berlakunya ketetapan Allah sebagaimana berlaku ketetapan Allah atas kaum-kaum terdahulu. Jadi, jika kita melihat ayat al-Quran kita akan menjumpai bagaimana orang yang dahulu dibinasakan, diazab dengan berbagai macam siksaan. Maka yang sekarang juga begitu, akan dibinasakan dengan tsunami, dengan gempa bumi, dengan gunung meletus, dengan terbenamnya di dalam banjir yang besar. (Itu terjadi) Apabila melakukan perbuatan yang tercela, kemaksiatan dan pelanggaran. Tapi Allah menyebut ini dengan sunnatullah, ketetapan Allah. Ketetapan Allah itu akan diberlakukan kepada orang terdahulu atau kepada orang sekarang serta akan berlanjut sampai hari kiamat. Allah tutup dengan menyebut berulang dua kali, berkaitan dengan sunnatullah. Yang demikian adalah sunatullah yang telah berlaku sejak dahulu, dan kamu sekali-kali tidak akan menemukan perubahan bagi sunatullah itu. [QS Al-Fath: 23] Pasti (sunnatullah) itu akan dijalankan seperti itu. Karena yang menjalankannya adalah Allah yang menciptakan alam semesta ini. Apa pelajaran lain yang kita dapatkan dari bencana yang berturut-turut Ini? Pelajaran yang paling berharga sebenarnya adalah mengambilnya menjadi peringatan. Apabila kita tidak menjadikannya sebagai peringatan untuk memperbaiki diri maka semua ini menjadi sia-sia. Sebenarnya peringatan itu adalah yang paling berharga. Ada yang mengingatkan kita. Umpamanya ada alat yang mendeteksi -- untuk keselamatan kita -- berkaitan dengan kecepatan. Umpamanya bus tidak boleh melebihi kecepatan 80 Km/jam. Apabila bus ini melebihi kecepatan itu maka alat tersebut akan berbunyi, dia memberikan alarm peringatan. Maka peringatan ketika itu sangat penting, karena peringatan itu yang akan menyelematkan bus ini dengan penumpang yang ramai di dalamnya. Tapi di saat pemimpin bus, yang menentukan jalan bus ini yaitu supirnya tidak mengambil pengajaran, tidak peduli dengan peringatan yang keluar dari alarm ini, maka dialah yang akan mungkin mencampakkan bus ini ke jurang kebinasaan. Dan dia yang mesti dipersalahkan. Sebab dia yang bertanggungjawab atas keselamatan bus. Apabila kita kaitkan kepada masyarakat, kepada bangsa, maka pemimpin bangsa semestinya mengetahui perkara ini, pemimpin bangsa semestinya sensitif dengan musibah-musibah seperti ini. Mesti lebih sensitif dibanding rakyat biasa. Tidaklah perkara di alam ini berlaku begitu saja. Sebab yang mengurus alam ini adalah Yang Maha Bijaksana. Pasti dibalik penetapan waktu musibah, pemilihan tempat musibah, pemilihan jenis musibah adalah dengan kebijaksanaan dari Allah. Ini pengajaran yang sangat berharga. Kalau tidak juga mengambilnya sebagai pengajaran sama seperti supir yang tidak mengambil pelajaran dari alarm yang sudah dibunyikan. Itu yang harus disikapi? Ini yang harus disikapi, kalau tidak sama dengan membawa bus ini ke dalam jurang kebinasaan. Sama dengan membawa negara ini kedalam jurang kebinasaan.

Sudah tercatatn, dibinasakannya Kaum nabi Nuh dahulu, Firaun dan tentaranya dahulu, Qorun dan pengikutnya dahulu dan berkelanjutan sampai pada masa Rasulullah seperti kafir Quraisy yang juga dibinasakan. Semua itu, kita tidak mau berlaku pada diri kita, keluarga kita dan bangsa kita. Ini pelaran sangat berharga dari apa yang berlaku, apabila kita melihat nilai-nilai yang ada dalam agama kita. Setelah pemimpin dan masyarakat mengambil pelajaran dari peristiwa ini, selanjutnya apa? Sama seperti bus tadi, setelah berbunyi alarm, tanda ia telah melebihi batas yang dibenarkan. Maka, pertama, ia harus turunkan batas tersebut. Yang Kedua, ia mesti pastikan bahwasanya mungkin jalan itu baik, biasa saja, tidak ada belok. Tetapi satu ketika, mungkin secara tiba-tiba ia menyadari ada yang melintas umpamanya, mungkin ada lubang di hadapannya yang ia tidak tahu, ia mesti berjaga-jaga terhadap kemungkinan yang akan berlaku. Setelah kita mengambil pengajaran dari musibah, maka kita harus waspada. Untuk waspada, pastikan kita selalu mengikuti aturan yang sudah ditetapkan, syariat yang telah diturunkan. Memastikan ini bukanlah kerja mudah, sebab memerlukan kesabaran, istiqomah (tetap pendirian). Bukan hanya melipatkan satu-dua golongan tapi melibatkan semua lapisan masyarakat. Yang kita harapkan adalah tujuan bersama tercapai, seperti bus tadi, tujuan bersama penumpang yang berada di dalamnya adalah selamat dan sampai ke tujuan. Maka begitu juga kita, keinginan kita bersama adalah selamat dan sampai ke tujuan yakni ridho Allah SWT. Apa yang membedakan orang kafir dan orang beriman dalam memahami suatu Bencana? Baik, bagi orang kafir mereka tidak melihat hidup ini melalui pandangan keimanan. Kafir disebut kafir karena mereka menutupi yakni menutupi kebenaran. Kebenaran yang paling besar yang mereka tutupi adalah kebenaran Allah sebagai Tuhan yang mengatur dan menguruskan alam semesta. Kita (orang beriman) menyakini Allah SWT yang mengatur alam semesta. Bahkan ketika apa-apa yang berlaku di alam ini kita kaitkan dengan Allah. Tapi orang kafir, karena keimanan mereka yang tidak ada kepada Allah, mereka tidak kaitkan kepada Allah. Maka apapun yang berlaku tidak menjadi perigatan dan pengajaran. Tapi bagi kita, ini adalah suatu peringatan dan pengajaran. Bagi orang kafir, (bencana) ini adalah fenomena alam biasa. Hukum alam biasa, memang gunung itu akan meletus, memang gempa bumi itu apabila ia menggegarkan lapisan laut kemudian itu akan tumpah ke darat, memang kalau kita tidak buat saluran yang bagus, maka kita akan terperangkap dalam banjir. Mereka melihatnya hanya sebagai hukum sebab akibat begitu saja. Memang di alam ini berjalan hukum sebab akibat, tapi kita mesti memahami ada satu hukum selain hukum sebab akibat yaitu hukum kuasa mutlak Allah SWT. Dalam Islam, hukum sebab akibat itupun berjalan dengan kuasa mutlak Allah. Ada yang sudah ada sebabnya tapi tidak berakibat apa-apa. Malah ada yang tidak punya sebab apa-apa, tapi akibatnya ada. Karena yang sebenarnya berkuasa di alam ini adalah Allah SWT, bukan alam itu sendiri dengan hukum yang ada saja. Jika kita mengambil pelajaran dari musibah ini, perubahan apa yang akan dilakukan untuk keselamatan Bangsa? Sebenarnya telah disebut dalam ayat Quran dengan sangat jelas: yang membuat alam di darat dan di laut ini binasa adalah manusia. Telah tampak kerusakan di darat dan laut karena tangan-tangan manusia. "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." [QS. ArRum (30): 41] Maka falsafah yang mudah adalah apabila kita tidak mau ada kerusakan di darat dan laut dengan musibahmusibah yang kita lihat sekarang ini, maka tahan tangan-tangan ini dari melakukan kerusakan. Dengan cara

pastikan setiap apa yang kita buat sesuai dengan Syariah Allah SWT. Hanya itu, tidak ada yang lain. Perubahan yang kita harapkan adalah perubahan yang bersifat sejati, bukan perubahan yang palsu. Musibah hari ini, bukan musibah untuk kelompok tertentu. Musibah ini sudah musibah nasional untuk satu bangsa. Maka sepatutnya perubahan yang diharapkan adalah perubahan satu bangsa, bukan perubahan kelompok tertentu. Dan baru akan selesai musibah ini apabila yang berubah adalah bangsa secara keseluruhan. Perubahan yang diharapkan adalah perubahan yang sebenarnya yaitu perubahan dalam diri masing-masing yaitu kembali ke jalan yang benar, mengikuti petunjuk dan tidak lagi melakukan kerusakan di muka bumi. Apakah ada hubungannya perubahan dengan aturan suatu bangsa? Sebenarnya aturan yang sudah ada bisa untuk meyelamatkan, hanya saja sekarang masalah yang muncul adalah adanya suatu kesengajaan untuk tidak menjalankan aturan. Maka di sini kesalahan bukan lagi pada aturan, tetapi pada pelaksanaan dalam menjalan aturan, akhirnya kerusakan berlaku. Yang kita harapkan sekarang adalah: pertama, aturan yang sudah ada pastikan seperti yang Allah tetapkan, supaya tidak ada perselelisihan antara aturan yang kita tetap dengan aturan yang telah Allah tetapkan. Sebab aturan yang telah Allah tetapkan pasti baik benarnya, pasti ada faedah dan manfaatnya. Kedua, setelah kita menetapkan aturan, maka kita jalankan aturan tersebut. Tidak ada maknanya aturan yang kita tetapkan di jalan raya, tapi kita sendiri tidak mengikutinya. Kita katakan mesti berhenti di sini, kemudian kita lewat saja, mesti kecepatan tidak boleh lebih dari 70 km/jam, tapi kita melampaui batas. Tidak boleh parkir di sini, kita justru letakkan mobil di situ. Dengan tidak mengikuti aturan, maka kita telah melakukan ketidaknyamanan di jalan raya dan bisa membawa kecelakaan dan akan mengorbankan orang lain.

http://www.hidayatullah.com/berita/wawancara/14008-para-pemimpin-harus-jadikanbencana-sebagai-pelajaran-