Anda di halaman 1dari 34

Proses Manajemen Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Belum Diperiksa Langsung ke: navigasi, cari Proses

manajemen adalah daur beberapa gugusan kegiatan dasar yang berhubungan secara integral, yang dilaksanakan di dalam manajemen secara umum, yaitu proses perencanaan, proses pengorganisasian, proses pelaksanaan dan proses pengendalian, dalam rangka mencapai sesuatu tujuan secara ekonomis. Sesungguhnya keempat proses itu merupakan hasil ikhtisar dari pelbagai pendapat praktisi dan ahli mengenai manajemen.

[sunting] Aneka Gagasan


Menurut Henri Fayol : "perencanaan, pengorganisasian, pengendalian, koordinasi". Menurut Gulick dan Urwick: "Perencanaan, pengorganisasian, staffing, pengarahan, koordinasi, pelaporan dan peranggaran". Menurut William M. Fox: "Perencanaan, pengorganisasian, pengendalian". Menurut Ernest Dale: "Perencanaan, pengorganisasian, staffing, pengarahan, pengendalian, inovasi, representasi". Menurut Koontz dan O'Donnell: "perencanaan, pengorganisasian, staffing, pengarahan, pengendalian".

[sunting] Saripati Semua gagasan itu didasarkan pada pra-anggapan yang menghendaki pembagian proses kerja para manajer menjadi bagian-bagian yang dapat dilaksanakan. Proses-proses itu berulangkali dinyatakan sebagai "langkah-langkah dasar manajemen", batu-batu fondasi manajemen. 1. Proses perencanaan meliputi gagasan bahwa manajemen mengantisipasi berbagai kondisi seperti peluang dan kendala di masa depan, dan berusaha menetapkan lebih dulu apa yang harus mereka lakukan dan apa yang akan mereka capai. 2. Proses pengorganisasian berarti menempatkan orang dan prasarana serta sarana dan sumberdaya dalam suatu tata-hubungan yang kondusif untuk bekerja sama menuju sasaran bersama. 3. Proses pelaksanaan meliputi pemberian arahan, perintah kerja, dorongan dan motivasi kerja, serta pemecahan masalah. Sementara itu 4. Proses pengendalian dilakukan dengan pengamatan, mencermati laporan, dan melakukan inspeksi supaya pekerjaan di semua bagian sesuai dengan persyaratan kualitas dan ketentuan rencana hasil, dan sesuai dengan anggaran biaya.

[sunting] Realitas Sebenarnya Pekerjaan manajemen dalam kenyataannya tidak sesederhana mengucapkan daftar kata "perencanaan", "pengorganisasian", "pelaksanaan" dan "pengendalian" seperti mantera. Tetapi keempat kata itu mewakili rumpun kegiatan yang kompleks menurut bidang kegiatan lembaga yang dimanajemeni sebagai kategorisasi pemikiran. Proses manajemen itu ditanamkan karena sederhana dan gampang dipahami pada para peserta gugus-mutu, dalam rangka memanajameni pekerjaan mereka masing-masing. http://id.wikipedia.org/wiki/Proses_Manajemen

Proses Manajemen

Merencanakan (Planning)

Proses menetapkan sasaran dan tindakan yang perlu untukmencapai sasaran tadi. Manajer memikirkan dengan matang terlebih dahulu sasaran dan tindakan serta tindakan mereka berdasarkan metode, rencana, atau logika dan bukan berdasarkan perasaan.

Mengorganisasikan (Organizing)

Proses mempekerjakan dua orang atau lebih untuk bekerja sama dalam cara terstruktur guna mencapai sasaran spesifik atau beberapa sasaran. Proses mengatur dan mengalokasikan pekerjaan, wewenang, dan sumber daya di antara anggota organisasi, sehingga mereka dapat mencapai sasaran organisasi.

Memimpin (Actuiting).

Proses mengarahkan dan mempengaruhi aktivitas yang berkaitan dengan pekerjaan dari anggota kelompok atau seluruh organisasi. Mengarahkan, mempengaruhi, dan memotivasi karyawan untuk melaksanakan tugas yang penting.

Mengendalikan (Controlling).

Proses untuk memastikan bahwa aktivitas sebenarnya sesuai dengan aktivitas yang direncanakan.Manajer harus yakin tindakan yang dilakukan oleh anggota organisasi benarbenar menggerakkan organisasi kea rah sasaran yang telah dirumuskan.
(Stoner, 1996 : 10-12)

Sumber: http://id.shvoong.com/business-management/management/2112579-prosesmanajemen/#ixzz1qBeHGXuR

SIFAT-SIFAT YANG MEMBANTU KITA UNTUK MENGERTI MANAJEMEN


Untuk menegtahui sifat-sifat dari manajemen tersebut kita harus mengetahui beberapa hal antara lain : 1. manajemen mempunyai tujuan. 2. Manajemen menyebabkan terjadinya hal tertentu 3. manajemen merupakan suatu aktiftas, jadi bukanlah berati seorang atau kelompok orang. 4. Manajemen dilaksanakan melalui, dengan dan melalui usaha-usaha fihak lain. 5. Manajemen biasanya berkaitan dengan usaha-usaha suatukelompok. 6. menajemen bersifat abstrak. 7. manajemen dibantu oleh komputer; bukan diganti olehnya. 8. manajemen merupakan alat yang luar biasa untuk me

Empat Sifat Utama Seorang Manager


Taman Dialog Kemanusiaan Prof KH Ali Yafie Dalam Islam manajemen dipandang sebagai perwujudan amal sholeh yang harus bertitik tolak dari niat baik. Niat baik tersebut akan memunculkan motivasi aktivitas untuk mencapai hasil yang bagus demi kesejahteraan bersama. Ada empat landasan untuk mengembangkan manajemen menurut pandangan Islam, yaitu: kebenaran, kejujuran, keterbukaan, dan keahlian. Seorang manajer harus memiliki empat sifat utama itu agar manajemen yang dijalankannya mendapatkan hasil yang maksimal. Yang paling penting dalam manajemen berdasarkan pandangan Islam adalah harus ada jiwa kepemimpinan. Kepemimpinan menurut Islam merupakan faktor utama dalam konsep manajemen. Manajemen menurut pandangan Islam merupakan manajemen yang adil. Batasan adil adalah pimpinan tidak 'menganiaya' bawahan dan bawahan tidak merugikan pimpinan maupun perusahaan yang ditempati. Bentuk penganiayaan yang dimaksudkan adalah mengurangi atau tidak memberikan hak bawahan dan memaksa bawahan untuk bekerja melebihi ketentuan. Seyogyanya kesepakatan kerja dibuat untuk kepentingan bersama antara pimpinan dan bawahan. Jika seorang manajer mengharuskan bawahannya bekerja melampaui waktu kerja yang ditentukan, maka sebenarnya manajer itu telah mendzalimi bawahannya. Dan ini sangat bertentangan dengan ajaran agama Islam. Unsur kejujuran dan kepercayaan dalam sangat penting dalam manajemen Islam. Nabi Muhammad SAW adalah seorang yang sangat terpercaya dalam menjalankan manajemen bisnisnya. Manajemen yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW, adalah menempatkan manusia bukan sebagai faktor produksi yang semata diperas tenaganya untuk mengejar target produksi. Nabi Muhammad SAW mengelola (manage) dan mempertahankan (mantain) kerjasama dengan

stafnya dalam waktu yang lama dan bukan hanya hubungan sesaat. Salah satu kebiasaan Nabi adalah memberikan reward atas kreativitas dan prestasi yang ditunjukkan stafnya. Ada empat pilar etika manajemen bisnis menurut Islam seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW. Pilar pertama, tauhid artinya memandang bahwa segala aset dari transaksi bisnis yang terjadi di dunia adalah milik Allah, manusia hanya mendapatkan amanah untuk mengelolanya. Pilar kedua, adil artinya segala keputusan menyangkut transaksi dengan lawan bisnis atau kesepakatan kerja harus dilandasi dengan akad saling setuju. Pilar ketiga, adalah kehendak bebas artinya manajemen Islam mempersilahkan umatnya untuk menumpahkan kreativitas dalam melakukan transaksi bisnisnya sepanjang memenuhi asas hukum ekonomi Islam, yaitu halal. Dan keempat adalah pertanggungjawaban artinya semua keputusan seorang pimpinan harus dipertanggungjawabkan oleh yang bersangkutan. Keempat pilar tersebut akan membentuk konsep etika manajemen yang fair ketika melakukan kontrak-kontrak kerja dengan perusahaan lain atau pun antara pimpinan dengan bawahan.

Nabi Muhammad SAW : Penemu Konsep Manajemen Modern


Posted on April 26, 2009 | Leave a comment

Sebagai Rasul terakhir Allah SWT, Nabi Muhammad SAW tercatat dalam sejarah adalah pembawa kemaslahatan dan kebaikan yang tiada bandingan untuk seluruh umat manusia. Bagaimana tidak karena Rasulullah SAW telah membuka zaman baru dalam pembangunan peradaban dunia. Beliaulah adalah tokoh yang paling sukses dalam bidang agama (sebagai Rasul) sekaligus dalam bidang duniawi (sebagai pemimpin negara dan peletak dasar peradaban Islam yang gemilang selama 1000 tahun berikutnya). Kesuksesan Rasulullah SAW itu sudah banyak dibahas dan diulas oleh para ahli sejarah Islam maupun Barat. Namun ada salah satu sisi Muhammad SAW ternyata jarang dibahas dan kurang mendapat perhatian oleh para ahli sejarah maupun agama yaitu sisinya sebagai seorang pebisnis ulung. Padahal manajemen bisnis yang dijalankan Rasulullah SAW hingga kini maupun di masa mendatang akan selalu relevan diterapkan dalam bisnis modern. Setelah kakeknya yang merawat Muhammad SAW sejak bayi wafat, seorang pamannya yang bernama Abu Thalib lalu memeliharanya. Abu Thalib yang sangat menyayangi Muhammad SAW sebagaimana anaknya sendiri adalah seorang pedagang. Sang paman kemudian mengajari Rasulullah SAW cara-cara berdagang (berbisnis) dan bahkan mengajaknya pergi bersama untuk berdagang meninggalkan negerinya (Makkah) ke negeri Syam (yang kini dikenal sebagai Suriah) pada saat Rasulullah SAW baru berusia 12 tahun. Tidak heran jika beliau telah pandai berdagang sejak berusia belasan tahun. Kesuksesan Rasulullah SAW dalam berbisnis tidak terlepas dari kejujuran yang mendarah daging dalam sosoknya. > Kejujuran itulah telah diakui oleh penduduk Makkah sehingga beliau digelari Al Shiddiq. Selain itu, Muhammad SAW juga dikenal sangat teguh memegang kepercayaan (amanah) dan tidak pernah sekali-kali mengkhianati kepercayaan itu. Tidak heran jika beliau juga mendapat julukan Al Amin (Terpercaya). Menurut sejarah, telah tercatat bahwa Muhammad SAW melakukan lawatan bisnis ke luar negeri sebanyak 6 kali diantaranya ke Syam (Suriah), Bahrain, Yordania dan Yaman. Dalam semua lawatan bisnis, Muhammad selalu mendapatkan kesuksesan besar dan tidak pernah mendapatkan kerugian. Lima dari semua lawatan bisnis itu dilakukan oleh beliau atas nama seorang wanita pebisnis terkemuka Makkah yang bernama Khadijah binti Khuwailid. Khadijah yang kelak menjadi istri Muhammad SAW, telah lama mendengar reputasi Muhammad sebagai pebisnis ulung yang jujur dan teguh memegang amanah. Lantaran itulah, Khadijah lalu merekrut Muhammad sebagai manajer bisnisnya. Kurang lebih selama 20 tahun sebelum diangkat menjadi Nabi pada usia 40 tahun, Muhammad mengembangkan bisnis Khadijah sehingga sangat maju pesat. Boleh dikatakan bisnis yang dilakukan Muhammad dan Khadijah (yang menikahinya pada saat beliau berusia 25 tahun) hingga pada saat pengangkatan kenabian Muhammad adalah bisnis konglomerat. Pola manajemen bisnis apa yang dijalankan Muhammad SAW sehingga bisnis junjungan kita itu mendapatkan kesuksesan spektakuler pada zamannya ? Ternyata jauh sebelum para ahli bisnis modern seperti Frederick W. Taylor dan Henry Fayol pada abad ke-19 mengangkat

prinsip manajemen sebagai sebuah disiplin ilmu, ternyata Rasulullah SAW telah mengimplementasikan nilai-nilai manajemen modern dalam kehidupan dan praktek bisnis yang mendahului masanya. Berdasarkan prinsip-prinsip manajemen modern, Rasulullah SAW telah dengan sangat baik mengelola proses, transaksi, dan hubungan bisnis dengan seluruh elemen bisnis serta pihak yang terlihat di dalamnya. Seperti dikatakan oleh Prof. Aflazul Rahman dalam bukunya Muhammad: A Trader bahwa Rasulullah SAW adalah pebisnis yang jujur dan adil dalam membuat perjanjian bisnis. Ia tidak pernah membuat para pelanggannya mengeluh. Dia sering menjaga janjinya dan menyerahkan barang-barang yang dipesan dengan tepat waktu. Muhammad SAW pun senantiasa menunjukkan rasa tanggung jawab yang besar dan integritas yang tinggi dalam berbisnis. Dengan kata lain, beliau melaksanakan prinsip manajemen bisnis modern yaitu kepuasan pelanggan (customer satisfaction), pelayanan yang unggul (service exellence), kemampuan, efisiensi, transparansi (kejujuran), persaingan yang sehat dan kompetitif. Dalam menjalankan bisnis, Muhammad SAW selalu melaksanakan prinsip kejujuran (transparasi). Ketika sedang berbisnis, beliau selalu jujur dalam menjelaskan keunggulan dan kelemahan produk yang dijualnya. Ternyata prinsip transparasi beliau itu menjadi pemasaran yang efektif untuk menarik para pelanggan. Beliau juga mencintai para pelanggannya seperti mencintai dirinya sehingga selalu melayani mereka dengan sepenuh hatinya (melakukan service exellence) dan selalu membuat mereka puas atas layanan beliau (melakukan prinsip customer satisfaction). Dalam melakukan bisnisnya, Muhammad SAW tidak pernah mengambil margin keuntungan sangat tinggi seperti yang biasa dilakukan para pebisnis lainnya pada masanya. Beliau hanya mengambil margin keuntungan secukupnya saja dalam menjual produknya.Ternyata kiat mengambil margin keuntungan yang dilakukan beliau sangat efektif, semua barang yang dijualnya selalu laku dibeli Orang-orang lebih suka membeli barang-barang jualan Muhammad daripada pedagang lain karena bisa mendapatkan harga lebih murah dan berkualitas. Dalam hal ini, beliau melakukan prinsip persaingan sehat dan kompetitif yang mendorong bisnis semakin efisien dan efektif. Boleh dikatakan Rasulullah SAW adalah pelopor bisnis yang berdasarkan prinsip kejujuran, transaksi bisnis yang adil dan sehat. Beliau juga tidak segan mensosialisasikan prinsip-prinsip bisnisnya dalam bentuk edukasi dan pernyataan tegas kepada para pebisnis lainnya. Ketika menjadi kepala negara, Rasulullah SAW mentransformasikan prinsip-prinsip bisnisnya menjadi pokok-pokok hukum. Berdasarkan hal itu, beliau melakukan penegakan hukum pada para pebisnis yang nakal. Beliau pula yang memperkenalkan asas Facta Sur Servanda yang kita kenal sebagai asas utama dalam hukum perdata dan perjanjian. Di tangan para pihaklah terdapat kekuasaan tertinggi untuk melakukan transaksi bisnis yang dibangun atas dasar saling setuju. Berdasarkan apa yang dibahas di atas ini, jelas junjungan yang kita cintai itu adalah pebisnis yang melaksanakan manajemen bisnis yang mendahului zamannya. Bagaimana tidak karena prinsip-prinsip manajemen Rasulullah SAW baru dikenal luas dan diimplementasikan para pebisnis modern sejak abad ke-20, padahal Rasulullah SAW hidup pada abad ke-7. Pakar manejemen bisnis terkemuka Indonesia, Rhenald Kasali pun mengakuinya dengan mengatakan bahwa

semua bisnis yang diinginkan niscaya juga akan sukses jika mau menduplikasi karakter Muhammad SAW dalam berbisnis. Dengan begitu, kita dapat mengatakan kepada pelaku bisnis, Sumber : http://gilangwhp.wordpress.com/2007/11/22/nabi-muhammad-saw-penemu-konsepmanajemen-modern

MANAJER DAN KEGIATANNYA

MANAJER DAN KEGIATANNYA SERTA BERBAGAI PENDEKATAN MANAJERIAL


A. MANAJER Manajer adalah orang yang menjalankan kegiatan manajemen. Dalam berbagai jenis organisasi, istilah manajer dapat direpresentasikan oleh istilah lain, seperti presiden, ketua, wakil presiden, wakil ketua, kepala bagian, dan seterusnya. Beberapa keahlian diperlukan agar para manajer dapat menjalankan fungsi-fungsi manajernya dengan baik. Keahlian-keahlian tersebut diantaranya adalah keahlian teknis, keahlian konseptual, keahlian berkomunikasi dan berinteraksi, keahlian dalam pengambilan keputusan, keahlian dalam pengaturan waktu, keahlian dalam manajemen global, serta keahlian dalam teknologi.[1] B. TINGKATAN MANAJER DAN TANGGUNG JAWABNYA Menurut tingkatannya, manajer dapat dibedakan menjadi 3, yaitu:[2] 1. Top Manajer (Manajer puncak) Top manager bertanggung jawab terhadap perusahaan secara keseluruhan. Tugas mereka adalah menetapkan tujuan, strategi, dan kebijakan perusahaan secara umum, yang kemudian akan diterjemahkan lebih spesifik oleh manajer di bawahnya. Contoh dari tugas-tugas Top manajer adalah membuat kebijakan mengenai rencana perluasan pasar (expantion), kebijakan mengenai kesejahteraan karyawan dan menetapkan besarnya penjualan yang dicapai.

2. Middle manajer (Manajer madya) Tugas Middle manager adalah mengawasi beberapa unit kerja dan menerapkan rencana sesuai dengan tujuan dan tingkatan yang lebih tinggi. Selanjutnya mereka melaporkan hasil pekerjaannya kepada Top manager. Contohnya adalah kepala klinik suatu rumah sakit, dekan pada suatu universitas, manajer divisi. Posisi Middle manager berada di antara top manager dan lower manager. 3. First-line manager (Manajer bawah) Merupakan tingkatan yang paling bawah dalam suatu organisasi, yang memimpin dan mengawasi tenaga-tenaga operasional. Sebutan lain untuk jabatan ini, antara lain supervisor, kepala departemen, dan mandor (foreman). Mereka bertanggung jawab atas satu unit kerja dan diharapkan mampu menyelesaikan tugas dengan tujuan jangka pendek yang sesuai dengan rencana top manager dan middle manager.

C. PERANAN MANAJER Menurut Mintzberg ada 3 peranan utama yang dimainkan oleh setiap manajer dimanapun letak hirarkinya. Dari 3 peranan utama ini kemudian olehnya diperinci menjadi 10 peranan. Manajer atas, tengah dan bawah melakukan ini. Peranan-peranan itu antara lain:[3] 1. Peranan hubungan antarapribadi (Interpersonal Role) Bagaimana seorang manajer berhubungan dengan orang lain. Peranan ini dibagi 3 peranan: a. Peranan sebagai Figurehead, yakni suatu peranan yang dilakukan untuk mewakili organisasi yang dipimpinnya di dalam setiap kesempatan dan persoalan yang timbul secara formal. Peranan ini sangat dasar dan sederhana, maka manajer dianggap sebagai symbol dan berkewajiban untuk melaksanakan serangkaian tugas-tugas. b. Peranan sebagai pemimpin (leader) c. Peranan sebagai pejabat perantara (liaison manager), 2. Peranan yang berhubungan dengan informasi (Informational Role) Bagaimana seorang manajer menukar dan memproses informasi. Peranan ini terdiri dari peranan-peranan: a. Sebagai monitor b. Sebagai disseminator (penyebar informasi) c. Sebagai juru bicara (spokesman)

3. Peranan pembuat keputusan (Decisional Role) Ada 4 peranan manajer yang dikelompok ke dalam pembuatan keputusan berikut: a. Peranan sebagai entrepreneur b. Peranan sebagai penghalau gangguan (disturbance handler) c. Peranan sebagai pembagi sumber (resource allocator) d. Peranan sebagai negoisator. D. BEBERAPA PENDEKATAN TENTANG MANAJER

1. Pendekatan tingkatan dan tugas-tugas manajer Tingkat manajer yang terdapat dalam suatu perusahaan dikelompokkan atas 3 kelompok, yaitu Top manager (manajer puncak), Middle manager (manajer menengah), dan lower manager (manajer terendah). Pada dasarnya tugas-tugas manajer pada semua tingkatan itu sama dalam proses manajemen, yakni membenahi semua fungsi manajemen dengan baik, supaya tujuan optimal dapat dicapai. 2. Pendekatan luas peekrjaan manajer Luas pekerjaan manajer meliputi masalah internal dan eksternal perusahaan yang dipimpinnya. Masalah internal perusahaan harus dibenahi dengan baik, supaya semua potensi perusahaan lebih berdaya gunad an berhasil guna dalam mencapai tujuan yang diinginkan. Masalah eksternal perusahaan harus diperhitungkan, diamati dan dimplikasikan mengenai kondisi-kondisi yang mendukung dan menghambat tercapainya tujuan perusahaan, seperti tingkat persaingan, peraturan pemerintah, situasi perekonomian nasional dan internasional. Semakin tinggi kedudukan seorang manajer maka skop tugasnya akan semakin luas (internal dan eksternal), sebaliknya manajer yang kedudukannnya lebih rendah skop tugasnya lebih banyak untuk membenahi tugas-tugas internal perusahaan. Manajer adalah intisari manajemen dan titik sentral dari semua aktifitas yang akan dikerjakan dalam memncapai tujuan. 3. Pendekatan sifat kerja manajer Kerja adalah sejumlah aktivitas fisik dan pikiran yang dilakukan seseorang dalam mengerjakan suatu pekerjaan. Dalam melakukan pekerjaan seseorang harus mengorbankan daya fisik dan daya pikirnya supaya iad apat mengerjakan tugastugasnya. Kerja daya fisik hasilnya konkret, sedang kerja daya pikir (mental) hasilnya abstrak. Sifat kerja manajer dibedakan atas kerja fisik dan kerja pikir. Manajer dalam suatu perusahaan dikelompokkan atas tiga tingkatan yaitu top manager, middle manager dan lower manager. 4. Pendekatan sifat-sifat seorang manajer Sifat-sifat manajer/pemimpin yang akan berhasil dalam tugasnya ditentukan dengan 2 cara: a. Cara Deduktif Menurut cara ini sifat-sifat dan cirimanajer ditentukan berdasarkan hasil analisis jabatan (job analysis). Karena dengan analisis jabatan akan diketahui tugas-tugas dan tanggung jawab (job description) dan kualifikasi-kualifikasi dari manajer yang akan menjabat jabatan tersebut. Cara ini disebut cara deduktif, karena dengan penganalisisan jabatan itu dapat direduksi factor-faktor yang secara logis dapat memudahkan fungsi-fungsi manajer dengan hasil baik.

b. Cara Induktif Menurut cara ini sifat dan ciri-ciri manajer ditentukan dengan mencari sifat dan ciri-ciri khusus sejumlah manajer yang telah sukses. Sifat dan ciri-ciri khsus para manajer yang sukses inilah yang kemudian dijadikan sifat dan ciri-ciri bagi seorang manajer. Cara induktif ini akan memungkinkan mamnajer berhasil dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Penentuan sifat dan kualifikasi-kualifikasi manajer sangat membantu untuk memilih manajer/pemimpin yang baik. [4]
DAFTAR PUSTAKA

Ernie Tisnawati Sule & Kurniawan Saefullah. Pengantar Manajemen. Jakarta: Kencana, 2006 Miftah Thoha. Kepemimpinan dalam Manajemen; Suatu Pendekatan Perilaku. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004 Amirullah dan Haris Budiyono. Pengantar Manajer. Yogyakarta: Graha Ilmu, 2004 Malayu S.P. Hasibuan. Manajemen: Dasar, Pengertian dan Masalah. Jakarta: Bumi Aksara, 2006

ILMU MANAJEMEN MANAJEMEN Manajemen adalah seni dalam menyelesaikan masalah melalui orang lain dengan tujuan tertentu. pelaku manajemen sering disebut dengan Manajer. baik itu kelompok ataupun perseorangan. Asalkan dia menerapkan prinsip-prinsip manajemen berarti sudah bisa dikatakan manajer. 4 pokok prinsip manajemen: 1. planning (PErencanaan) unsur krusial pertama adalah planning. seorang manajer harus mempunyai planning dalam menjalankan kegiatannya. tanpa planning yang jelas, tujuan dari manajemen mustahil akan tercapai. 2. organizing (pengaturan) kedua adalah organizing. seorang manajer harus bisa mengatur atau mengarahkan karyawannya untuk mencapai tujuan perusahaan. kecakapan manajer dalam mengatur sangat mempengaruhi pada samapi atau tidak nya sebuah tujuan perusahaan. 3. Actuating(menggerakkan) Menggerakkan atau Actuating adalah suatu tindakan untuk mengusahakan agar semua anggota kelompok berusaha untuk mencapai sasaran sesuai dengan perencanaan manajerial dan usahausaha organisasi. Jadi actuating artinya adalah menggerakkan orang-orang agar mau bekerja dengan sendirinya atau penuh kesadaran secara bersama-sama untuk mencapai tujuan yang dikehendaki secara efektif. Dalam hal ini yang dibutuhkan adalah kepemimpinan (leadership). 4. controlling (pengawasan) Pengawasan merupakan tindakan seorang manajer untuk menilai dan mengendalikan jalannya suatu kegiatan yang mengarah demi tercapainya tujuan yang telah ditetapkan.

Obituari Bapak Manajemen Peter F.Drucker


OPINI | 22 December 2010 | 14:25 Dibaca: 219 Komentar: 0 Nihil

Efficiency is doing things right; effectiveness is doing the right things, Management is doing things right; leadership is doing the right things, The best way to predict the future is to create it. (Peter F.Drucker, 1909-2005) Mungkin beberapa diantara Anda familiar dengan petikan kata-kata di atas yang sering didapat dari pelatihan, seminar, maupun dari buku-buku yang Anda baca. Barangkali Anda tidak menyadari kalau kata-kata mutiara di atas merupakan wisdom quote dari seseorang yang dalam khazanah manajemen sering ditahbiskan menjadi Bapak Manajemen. Siapakah Dia? Dialah Peter Ferdinand Drucker, yang dalam buku-buku dalam literatur manajemen sering dikenal Peter F.Drucker merupakan tokoh penting dalam dunia manajemen. Agak janggal, kalau seseorang yang pernah mendalami atau menimba ilmu manajemen tidak pernah mendengar namanya sama sekali. Tepat hari ini, tanggal 11 November di tahun 2005, Peter F.Drucker yang oleh majalah Business Week digelari Sang Penemu Manajemen meninggal dunia pada usia 96 tahun di California, Amerika serikat. Beliau meninggal dunia dengan meninggalkan tulisan-tulisan manajemen yang memukau, yang sering diacu banyak akademisi maupun praktisi manajemen dan bisnis. Adi karya-nya yang monumental, yang sering dicomot, adalah buku berjudul Management: Tasks, Responsibilities, Practices. Drucker menghabiskan masa hidupnya sebagai pengajar dan menjadi konsultan di beberapa perusahaan besar. Beberapa hari lalu, saya mencoba mengulik kembali dan membaca tulisan-tulisan Drucker di deretan buku koleksi pribadi di rumah. Ada sebuah buku yang berisi kumpulan tulisan dan pemikiran klasik sang maestro yang dicomot dari artikel yang dimuat di Harvard Business Review. Setidaknya ada 38 artikel sumbangan tulisan Drucker yang dimuat di Harvard Business Review, sebuah sumbangan pemikiran paling banyak di jurnal manajemen kenamaan saya pikir. Beberapa pemikiran dan prediksi tentang bergulirnya manajemen dan perekonomian saat ini sudah ditulis olehnya jauh hari sebelum peristiwa itu terjadi. Sebut saja, tulisannya adanya privatisasi dan desentralisasi (ditulis di tahun 1940-an), munculnya Jepang sebagai kekuatan ekonomi dunia (ditulis di tahun 1960-1970 an), serta munculnya peran penting ilmu marketing. Dari kumpulan tulisan yang dikumpulkan dan dipublikasikan tadi, saya melihat Sang Bapak Manajemen, di samping handal menuliskan dengan tulisan yang runtut, pertanyaanpertanyaan yang diajukan terasa cukup menohok dan jenial. Salah satunya sebuah pertanyaan yang diajukan kepada Jack Welch di tahun 1981 ketika tidak lama Welch menjabat menjadi CEO GE di kantor pusatnya di New York. Jika Anda sedang menyelami sebuah bisnis, apa yang akan Anda lakukan ?, tanyanya kepada Welch. Dan jika jawabannyatidak, apa yang Anda lakukan? sambungnya. Berdasar pertanyaan yang cukup menohok dan jenial itu, Welch akhirnya menggelindingkan sebuah rules yang sering diulang-ulang dalam buku teks manajemen dan case study di kelas-kelas MBA . Jika sebuah bisnis dalam lingkungan group GE tidak bisa menjadi No.1 atau No.2 di bidangnya, the business would have to be fixed, sold, or closed. Mantra Welch berdasar insight pertanyaan Drucker, menyebabkan GE tumbuh menjelma menjadi

perusahaan yang sehat dan kuat. Dan Jack Welch sendiri dikenang sebagai CEO monumental dalam sejarah manajemen. Kedua, saya melihat Drucker adalah pemerhati yang detail dan jeli. Kalau Anda sempatkan membaca tulisan Drucker tentang Teori Bisnis di Harvard Business Review (edisi SeptemberOktober 1994), tulisan itu tidak hanya menganalisis tetapi juga mampu mengupas serangkaian masalah yang menelikungnya. Sebuah cerita menarik tentang termehekmeheknya Chrysler, General Motors dan Ford di era 80-90-an akibat digempur mobil impor dari Jepang yang lebih kecil dan murah. Sebuah cerita yang cukup menginspirasi yang mengingatkan perlunya teori bisnis perlu diuji terus menerus. Bukan untuk diimami dengan membabi buta. Akhirnya, kita melihat bahwa peninggalan pemikiran Peter F.Drucker merupakan sumbangan yang tidak ternilai untuk kemajuan manajemen dunia. Peninggalan dan warisan terkadang tidak mesti dalam bentuk kenikmatan dan cumbuan materi yang kadang melengahkan serta memabukkan. Tapi juga percikan tulisan dan ilmu, yang menggugah, menginspirasi serta mencerahkan. Semoga Blog Manuver Bisnis ini-pun mampu berkontribusi betapapun kecilnya untuk merekahnya dunia manajemen di tanah air khususnya. Selamat jalan Peter F.Drucker..

Bukan satu kebetulan mungkin beberapa hari sebelum mengikuti Workshop Aplikasi Wajan Bolic Untuk Optimalisasi Penangkapan Signal Internet & HP 4G Tanpa Simcard yang menampilkan salah satu pejuang teknologi informasi kondang negeri ini, DR Onno W Purbo di Banjarmasin, saya membeli buku Classic Drucker. Didalam buku ini hampir seluruhnya mengisahkan pemikiran-pemikiran brillian dari Bapak Manajemen Dunia Peter F Drucker yang pernah dipublikasikan di media bisnis internasional ternama Harvard Business Review. Tapi tulisan ini bukan ingin bercerita tentang keseluruhan buku Drucker, karena saya belum khatam membacanya. Lalu, apa hubungannya bapak manajemen dunia dengan Bapak Onno yang jelas-jelas beda piring nasinya?? Dan dimana pula muncul kata bukan satu kebetulan itu?? Ok, saya akan coba jelaskan satu-satu. Pertama. Pada Pendahuluan buku Classic Drucker alinea ketiga, tertulis kutipan lama Drucker tahun 1963 yang berbunyi, Tidak ada yang lebih sia-sia selain melakukan pekerjaan dengan efisien padahal pekerjaan itu sebetulnya tidak perlu dilakukan sama sekali. Kutipan usang ini, karena sudah ditulis Drucker 44 tahun yang lalu, mengajak kita untuk berhenti sejenak ditengah rutinitas. Kemudian meninjau ulang jejak yang telah kita toreh baik dalam pekerjaan maupun dalam hidup. Apakah benar kita telah melakukan hal yang betul-betul penting? Jangan-jangan saking seriusnya kita dengan sesuatu, bahkan mengerjakannya dengan kualitas efisien dan efektif yang tak diragukan, hanya untuk pekerjaan yang sebenarnya tidak terlalu penting! So, hubungan dengan workshopnya Pak Onno adalah bahwa saya kemudian tersadar, paling tidak dalam asumsi pikir pribadi, Pak Onno dengan konsep perjuangannya mencerdaskan Indonesia melalui pembebasan penguasaan teknologi informasi, berusaha melepaskan hal-hal yang tidak penting dalam pengelolaan kebijakan teknologi informasi di negeri ini. Termasuk juga melepaskan pola pikir generic bahwa teknologi informasi itu mahal dan mewah. Buktinya! Sebuah teknologi tingkat tinggi di sosialisasikan hanya dengan dengan menggunakan sebuah wajan atau rinjing. Singkatnya seorang Doktor keliling-Indonesia bahkan negara tetangga hanya untuk jualan rinjing?! Gak penting banget gitu lo! Bagi segelintir orang mungkin seperti itu. Tapi dibalik itu semua Pak Onno dan kawan-kawan berupaya melepaskan kulit dari kacangnya dan mengajak kita bersama berkonsentrasi untuk menikmati kacangnya (Ini kok malah cerita kacang
).

Teknologi

Informasi bukanlah satu hal yang mewah. Tidak harus menggunakan parabola yang mentereng, cukup sedikit kreatifitas di ulek sedikit dengan rumus matematis plus beberapa alat penunjang yang relatif murah dan mudah didapatkan, kemudian siap dimasukkan ke Penggorengan yaitu rinjing buatan orang Nagara HSS seharga 35 ribu. (Nah ini soal masak-memasak lagi ) Dengan alat yang disebut Wajanbolic, kalo bahasa Banjar-nya Rinjingbolic diambil dari persamaan kata Parabolic (parabola), kita sudah bisa menangkap signal wireless dan kemudian terhubung dengan jaringan baik itu intranet maupun internet. Konsekwensi dari itu,

secara sederhana, kita sudah bisa menghubungkan komputer kita dengan komputer yang jaraknya berjauhan, bisa lebih 3 Km atau bahkan ribuan kilometer, antar kota, antar provinsi bahkan antar negara tanpa harus membentangkan kabel yang puanjang sekali. Bayangkan! Hanya dengan perantara sebuah Rinjing kita bisa berkomunikasi secara global. Kedigdayaan Onno cs tidak sampai disitu, mereka bahkan bisa menggunakan barang-barang tidak penting menjadi perantara yang amat penting, seperti kaleng, rangka jendela, tutup panci, kotak minuman dan lain sebagainya. Pinter bukan?! Setelah bisa terkoneksi dengan dunia global via internet, kita juga diajak membuat Telkom Pribadi, ingat Telkom bukan telepon! Dengan membuat telkom pribadi maka kita dalam komunitas kecil satu kantor, satu RT, satu RW dapat bertelepon ria sebebas-bebasnya tanpa takut dapat tagihan pulsa yang besar. Bahkan menggunakan pesawat telepon biasa kita bisa berkomunikasi dengan rekan diseluruh dunia hanya dengan pulsa lokal yang super murah dan flat lagi. (Tentang ini insya Allah akan saya muat dalam tulisan tersendiri). Kita bisa mengkalkulasi sendiri berapa besar modal pemerintah membangun perusahaan sebesar Telkom?. Sementara dengan teknologi yang sederhana dan aplikasi gratisan, karena berbasis open source, ternyata kita bisa bikin Telkom sendiri. Hebat bukan. Disini jelas relevansi pemikiran Peter F Drucker, tentang mana hal yang penting dan mana yang tidak penting, dengan apa yang selama ini diboyong oleh Bapak Onno W Purbo. Bagi Onno yang terpenting adalah seluruh rakyat Indonesia bisa mengakses informasi seluasluasnya dengan biaya murah, soal bagaimana caranya mari kita gunakan segala potensi yang ada. Bagi saya yang bekerja dalam lingkungan birokrasi agak susah menyelami pola pikir seperti ini. Karena terkadang ditengah rutinitas dan kungkungan kebijakan yang telah ditetapkan, pola pikir cenderung menjadi mapan. Untuk itu perlu pencerahan secara kontinu yang dapat selalu membuat tersadar bahwa yang abadi adalah perubahan bukan kemapanan. Tentang pencerahan itu, ide perubahan yang dibawa oleh Onno dalam kerangka pembangunan kesejahteraan rakyat adalah bahwa apabila rakyat bisa secara mandiri mengembangkan kemampuan dan kecerdasannya, khususnya via teknologi informasi, maka pemerintah tentu akan terkurangi bebannya di sektor pendidikan. Karena rakyat mampu

meningkatkan kualitas pendidikannya secara mandiri. Dan tentunya alokasi 20% dari anggaran itu bisa diarahkan ke sektor lain. Sekali lagi perlu ditegaskan bahwa penting dan tak penting hanya bisa dilihat apabila kita mampu melaksanakan saran Drucker, untuk berhenti sejenak dan melihat sudah sejauh mana langkah kita berayun. Penting dan tak penting bergerak sesuai dengan perubahan jaman, selama kita bisa terus mengendarai perubahan maka kita akan selalu menjadi pemenang. Merdeka! Itu baru menjawab pertanyaan pertama di alenia kedua tulisan ini, tentang koneksitas antara Drucker dan Onno. Lalu bagaimana dengan pertanyaan kedua, tentang dimana asal muncul kata bukan satu kebetulan? Maka saya hanya bisa mengutip sebuah iklan permen pelega tenggorokan yang memvisualisasikan seorang guru bertanya pada muridnya, Kenapa Patimura bisa tertangkap oleh Belanda? Dan sang murid menjawab, Takdir Pak. Maka itu pula jawabannya, takdir lah yang berusaha menunjukkan bahwa satu kejadian bukanlah satu kebetulan belaka, karena sudah ada yang mengatur. Wassalam. Samsul Ramli Tim Teknologi Informasi dan Komunikasi Daerah

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Banjar

Penulis: Peter F. Drucker Judul: Classic Drucker Penerbit: PT. Bhuana Ilmu Populer Tahun: Cetakan I, 2007 Tebal: xiii + 337 hal Tampaknya, adalah kodrat manusia untuk bekerja. Ada yang bekerja mulai pagi hingga petang. Ada yang mulai malam sampai keesokan pagi. Ada yang menjadi atasan dan memerintah puluhan bawahan. Ada yang bekerja dengan komando dan cambuk di punggungnya. Ada yang mengembara dari satu kota ke kota lain. Ada yang menggelar dagangan di pasar. Ada yang membuka usaha di rumah. Semua itu membuat kehidupan manusia sibuk dan penuh warna. Karenanya bekerja dan seluruh keriuhannya adalah tentang manusia, tentang bakatbakatnya, tentang pencapaian keberhasilan, tentang pencarian manusia untuk menemukan makna hidupnya. Tidakkah manajemen melihat hal ini? Dalam manajemen bisnis modern yang menuntut perbaikan secara terus-menerus, alat-alat kuantitatif semakin memegang peranan penting. Idiom yang terkenal adalah kita dapat melakukan perbaikan jika kita dapat mengukurnya. Jika sesuatu itu tak dapat diukur, kita pun tak tahu harus melakukan apa untuk memperbaikinya. Oleh karena itu, rumus-rumus matematikan dan statistik semakin luas dipakai untuk menjalankan manajemen, yang terangkum dalam satu istilah paling populer saat ini: mutu. Kelemahan utama pola pikir manajemen kuantitatif adalah mereka tak mampu bertindak pada faktor yang bersifat kualitatif. Hal yang kualitatif tak dapat diukur, maka ia tak dapat dibenahi. Jika ia ingin dibenahi, ia harus dimanipulasi sedemikian rupa agar dapat disifati dengan angka-angka statistik. Padahal unsur terutama dalam manajemen adalah sesuatu yang paling kualitatif, yang paling tidak dapat dikuantitatifkan: manusia. Ya! manajemen kontemporer yang mengagungkan mutu dan perbaikan terus-menerus mengangkat tangan jika menyangkut manusia. Paling-paling ia menyarankan manusia perlu dilatih dengan berbagai ketrampilan untuk meningkatkan kompetensinya. Padahal, hanya karena manusia bertindaklah, sebuah organisasi bergerak. Manusia selalu menjadi pusat perhatian Peter F. Drucker. Manajemen, bagi Drucker, adalah tentang manusia dan performanya. Fungsi manajemen adalah bagaimana membuat manusia menjadi produktif. Namun demikian, Drucker juga melihat bahwa kerja manusia selalu dilandasi pada keinginan manusia untuk mencapai keberhasilan, meraih kepuasan, lebih jauh lagi: menemukan kebahagiaan. Sebuah organisasi, dalam kacamata Drucker, adalah tempat manusia menemukan makna hidupnya. Oleh karena itu, Drucker mendorong agar manajemen selalu bertindak untuk membangun manusia yang bekerja di dalamnya untuk mencapai kualitas hidup yang baik. Drucker bukan hanya disebut oleh Business Week sebagai Sang Penemu Manajemen. Drucker adalah seorang pemikir serius, seorang filosof manajemen paling terkemuka.Lahir di Vienna,Austriapada tahun 1909, kemudian hijrah ke Amerika Serikat. Di usia 41 tahun artikel pertamanya yang diterbitkan oleh Harvard Business Review (HBR) berjudul Management Must Manage!. Di artikel ini Drucker membongkar peran manajer agar bersedia memikul beban kepemimpinan. Manajer harus diingatkan untuk melakukan hal yang benar bagi perusahaannya, bukan hanya bagi pemegang saham, dan pasti bukan hanya bagi

dirinya sendiri.Paramanajer selalu ingat pada staf mereka, Mereka bukan sekedar karyawan, mereka adalah manusia. Sebuah statement yang penuh visi dan kebijaksanaan. Drucker wafat di akhir tahun 2005, di usia 95 tahun. Beliau meninggalkan puluhan buku, ratusan artikel, yang telah dialihbahasakan ke puluhan bahasa. Sebuah warisan yang luar biasa, dimana jutaan orang menggali pelajaran dan kebajikan manajemen. Bahkan diyakini sampai bertahun-tahun ke depan masih banyak manajer muda yang membuka-buka buku dan artikel Drucker, membaca, menandai dengan spidol kuning dan mengutipnya. Salah satu kumpulan artikel Drucker diterbitkan olehHarvardBusinessSchool, yang diIndonesiaditerbitkan oleh PT. Bhuana Ilmu Populer: Classic Drucker. Buku tebal bersampul merah ini berisikan 14 artikel karya Drucker plus 1 wawancara yang diterbitkan sebelumnya dalam Harvard Business Review (HBR).Adaberagam topik yang dimuat dalam buku ini. Bab pertama adalah tentang bagaimana manajer bertanggung jawab mengelola dirinya sendiri. Kutipan menarik dari bab ini adalah pemikiran Drucker bahwa Terlalu banyak orang yang bekerja bukan dengan cara mereka sendiri, dan itu menjamin tidak adanya kinerja. Menurut Drucker, kinerja tinggi seseorang tercapai jika seseorang melakukan sesuatu dengan cara mereka sendiri; suatu cara yang unik dan given sebagaimana talenta diberikan pada setiap manusia secara berbeda. Drucker mengakui bahwa setiap manusia adalah unik. Seseorang berhasil melakukan sesuatu dengan baik pada saat mereka melakukannya sesuai cara terbaik mereka. Bab lain adalah tentang keputusan yang efektif. Kata Drucker, keputusan yang efektif selalu didasari pada pemahaman konseptual tertinggi. Manajer yang efektif tidak tertarik dalam kecepatan dalam pengambilan keputusan. Sebaliknya mereka menganggap bahwa ketrampilan luar biasa dalam memanipulasi banyak variable adalah gejala berpikir yang ceroboh. Manajer yang efektif ingin mengetahui segala sesuatu di balik keputusan dan mengapa keputusan itu dibuat. Mereka menginginkan dampak alih-alih popularitas. Itu berarti mereka tahu kapan sebuah keputusan dibuat berdasarkan prinsip dan kapan dibuat secara pragmatis. Bab lain membahas tentang fenomena outsourcing. Artikel ini diberi judul mengesankan: mereka bukan karyawan, mereka manusia. Menurut Drucker, berkurangnya hubungan antara manusia dan organisasi tempat mereka bekerja merupakan bahaya laten bagi bisnis. Tugas manajemen terpenting adalah mengembangkan bakat. Penerapan outsourcing semestinya memberikan lebih banyak waktu bagi manajer untuk saling mengenal dan memahami; membimbing dan mendengarkan; memberi tantangan dan motivasi bagi pekerjanya. Sudah menjadi rahasia umum bahwa menjamurnya outsourcing disebabkan keengganan perusahaan untuk mengelola manusia. Namun Drucker memberikan visi bahwa di situlah saatnya perusahaan benar-benar mengelola berbagai bakat yang paling dibutuhkan perusahaan dalam persaingan. Di akhir artikel, Drucker mengingatkan bahwa Pekerja mungkin beban terbesar kita, tetapi manusia adalah peluang kita terbesar. Masih adalah belasan bab lain yang amat menarik dipelajari, dinikmati dan ditandai. Silakan beli buku tebal seharga sekitar Rp. 98.000 ini, baca, resapi dan timba kebajikan manajemen. Mudah-mudahan dari sana selalu ada penerus Drucker yang melihat bahwa

manajemen semestinya semakin berorientasi pada manusia dan kemanusiaan, serta mengangkat harkat manusia.

Pengertian Manajemen dan Perangkat Organisasi Definisi Paul Hubert Casselman dalam bukunya berjudul The Cooperative Movement and some of its Problems yang mengatakan bahwa : Cooperation is an economic system with social content. Artinya koperasi harus bekerja menurut prinsip-prinsip ekonomi dengan melandaskan pada azasazas koperasi yang mengandung unsur-unsur sosial di dalamnya. Unsur sosial yang terkandung dalam prinsip koperasi lebih menekankan kepada hubungan antar anggota, hubungan anggota dengan pengurus, tentang hak suara, cara pembagian dari sisa hasil usaha dan sebagainya seperti yang dapat kita lihat dalam: Kesamaan derajat yang diwujudkan dalam one man one vote dan no voting by proxy. Kesukarelaan dalam keanggotaan Menolong diri sendiri (self help) Persaudaraan/kekeluargaan (fraternity and unity) Demokrasi yang terlihat dan diwujudkan dalam cara pengelolaan dan pengawasan yang dilakukan oleh anggota. Pembagian sisa hasil usaha proporsional dengan jasa-jasanya. Definisi Manajemen menurut Stoner adalah suatu proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumberdayasumberdaya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Menurut Prof. Ewell Paul Roy, Ph.D mengatakan bahwa manajemen koperasi melibatkan 4 unsur (perangkat) yaitu: 1) Anggota 2) Pengurus 3) Manajer 4) Karyawan merupakan penghubung antara manajemen dan anggota pelanggan Sedangkan menurut UU No. 25/1992 yang termasuk Perangkat Organisasi Koperasi adalah: a). Rapat anggota b). Pengurus c). Pengawas Rapat Anggota Koperasi merupakan kumpulan orang atau badan hukum koperasi. Koperasi dimiliki oleh anggota, dijalankan oleh anggota dan bekerja untuk kesejahteraan anggota dan masyarakat. Rapat anggota adalah tempat di mana suara-suara anggota berkumpul dan hanya diadakan pada waktu-waktu tertentu. Setiap anggota koperasi mempunyai hak dan kewajiban yang sama. Seorang anggota berhak menghadiri rapat anggota dan memberikan suara dalam rapat anggota serta mengemukakan pendapat dan saran kepada pengurus baaik di luar maupun di dalam rapat anggota. Anggota juga harus ikut serta mengadakan pengawasan atas jalannya organisasi dan usaha koperasi. Pengurus Koperasi Pengurus koperasi adalah orang-orang yang bekerja di garis depan, mereka adalah otak dari gerakan koperasi dan merupakan salah satu faktor yang menentukan berhasil tidaknya suatu koperasi. Tugas dan kewajiban pengurus koperasi adalah memimpin organisasi dan usaha koperasi serta mewakilinya di muka dan di luar pengadilan sesuai dengan keputusan-keputusan rapat anggota. Pengawas

Tugas pengawas adalah melakukan pemeriksaan terhadap tata kehidupan koperasi, termasuk organisasi, usaha-usaha dan pelaksanaan kebijaksanaan pengurus, serta membuat laporan tertulis tentang pemeriksaan. Pengawas bertindak sebagai orang-orang kepercayaan anggota dalam menjaga harta kekayaan anggota dalam koperasi. Syarat-syarat menjadi pengawas yaitu: mempunyai kemampuan berusaha. mempunyai sifat sebagai pemimpin, yang disegani anggota koperasi dan masyarakat sekelilingnya. Dihargai pendapatnya, diperhatikan saran-sarannya dan diindahkan nasihat-nasihatnya. Seorang anggota pengawas harus berani mengemukakan pendapatnya. Rajin bekerja, semangat dan lincah. pengurus sulit diharapkan untuk bekerja full time. Pengurus mempunyai tugas penting yaitu memimpin organisasi sebagai keseluruhan. Tugas manajer tidak dapat dilaksanakan sebagai tugas sambilan tapi harus dilaksanakan dengan penuh ketekunan.

Manajemen
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Langsung ke: navigasi, cari

Kata Manajemen berasal dari bahasa Perancis kuno mnagement, yang memiliki arti seni melaksanakan dan mengatur.[1] Manajemen belum memiliki definisi yang mapan dan diterima secara universal.[2] Mary Parker Follet, misalnya, mendefinisikan manajemen sebagai seni menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain. Definisi ini berarti bahwa seorang manajer bertugas mengatur dan mengarahkan orang lain untuk mencapai tujuan organisasi.[3] Ricky W. Griffin mendefinisikan manajemen sebagai sebuah proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran (goals) secara efektif dan efesien. Efektif berarti bahwa tujuan dapat dicapai sesuai dengan perencanaan, sementara efisien berarti bahwa tugas yang ada dilaksanakan secara benar, terorganisir, dan sesuai dengan jadwal.[4]

Etimologi
Kata manajemen mungkin berasal dari bahasa Italia (1561) maneggiare yang berarti "mengendalikan," terutamanya "mengendalikan kuda" yang berasal dari bahasa latin manus yang berati "tangan". Kata ini mendapat pengaruh dari bahasa Perancis mange yang berarti "kepemilikan kuda" (yang berasal dari Bahasa Inggris yang berarti seni mengendalikan kuda), dimana istilah Inggris ini juga berasal dari bahasa Italia.[5] Bahasa Prancis lalu mengadopsi kata ini dari bahasa Inggris menjadi mnagement, yang memiliki arti seni melaksanakan dan mengatur.[1]

Sejarah Perkembangan Ilmu Manajemen


Banyak kesulitan yang terjadi dalam melacak sejarah manajemen. Namun diketahui bahwa ilmu manajemen telah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Hal ini dibuktikan dengan adanya piramida di Mesir.[6] Piramida tersebut dibangun oleh lebih dari 100.000 orang selama 20 tahun. Piramida Giza tak akan berhasil dibangun jika tidak ada seseorangtanpa memedulikan apa sebutan untuk manajer ketika ituyang merencanakan apa yang harus dilakukan, mengorganisir manusia serta bahan bakunya, memimpin dan mengarahkan para pekerja, dan menegakkan pengendalian tertentu guna menjamin bahwa segala sesuatunya dikerjakan sesuai rencana.
Piramida di Mesir. Pembangunan piramida ini tak mungkin terlaksana tanpa adanya seseorang yang merencanakan, mengorganisasikan dan menggerakan para pekerja, dan mengontrol pembangunannya.

Praktik-praktik manajemen lainnya dapat disaksikan selama tahun 1400-an di kota Venesia, Italia, yang ketika itu menjadi pusat perekonomian dan perdagangan di sana. Penduduk Venesia mengembangkan bentuk awal perusahaan bisnis dan melakukan banyak kegiatan yang lazim terjadi di organisasi modern saat ini. Sebagai contoh, di gudang senjata Venesia, kapal perang diluncurkan sepanjang kanal dan pada tiap-tiap perhentian, bahan baku dan tali layar ditambahkan ke kapal tersebut. Hal ini mirip dengan model lini perakitan (assembly line) yang dikembangkan oleh Henry Ford untuk merakit mobil-mobilnya. Selain lini

perakitan tersebut, orang Venesia memiliki sistem penyimpanan dan pergudangan untuk memantau isinya, manajemen sumber daya manusia untuk mengelola angkatan kerja, dan sistem akuntansi untuk melacak pendapatan dan biaya.[rujukan?] Daniel Wren membagi evolusi pemikiran manajemen dalam empat fase, yaitu pemikiran awal, era manajemen sains, era manusia sosial, dan era moderen.[7]
[sunting] Pemikiran awal manajemen

Sebelum abad ke-20, terjadi dua peristiwa penting dalam ilmu manajemen.[2] Peristiwa pertama terjadi pada tahun 1776, ketika Adam Smith menerbitkan sebuah doktrin ekonomi klasik, The Wealth of Nation. Dalam bukunya itu, ia mengemukakan keunggulan ekonomis yang akan diperoleh organisasi dari pembagian kerja (division of labor), yaitu perincian pekerjaan ke dalam tugas-tugas yang spesifik dan berulang. Dengan menggunakan industri pabrik peniti sebagai contoh, Smith mengatakan bahwa dengan sepuluh orangmasingmasing melakukan pekerjaan khususperusahaan peniti dapat menghasilkan kurang lebih 48.000 peniti dalam sehari. Akan tetapi, jika setiap orang bekerja sendiri menyelesaikan tiaptiap bagian pekerjaan, sudah sangat hebat bila mereka mampu menghasilkan sepuluh peniti sehari. Smith menyimpulkan bahwa pembagian kerja dapat meningkatkan produktivitas dengan (1) meningkatnya keterampilan dan kecekatan tiap-tiap pekerja, (2) menghemat waktu yang terbuang dalam pergantian tugas, dan (3) menciptakan mesin dan penemuan lain yang dapat menghemat tenaga kerja.[8] Peristiwa penting kedua yang memengaruhi perkembangan ilmu manajemen adalah Revolusi Industri di Inggris. Revolusi Industri menandai dimulainya penggunaan mesin, menggantikan tenaga manusia, yang berakibat pada pindahnya kegiatan produksi dari rumah-rumah menuju tempat khusus yang disebut pabrik. Perpindahan ini mengakibatkan manajer-manajer ketika itu membutuhkan teori yang dapat membantu mereka meramalkan permintaan, memastikan cukupnya persediaan bahan baku, memberikan tugas kepada bawahan, mengarahkan kegiatan sehari-hari, dan lain-lain, sehingga ilmu manajamen mulai dikembangkan oleh para ahli.
[sunting] Era manajemen ilmiah

Frederick Winslow Taylor.

Era ini ditandai dengan berkembangan perkembangan ilmu manajemen dari kalangan insinyurseperti Henry Towne, Frederick Winslow Taylor, Frederick A. Halsey, dan Harrington Emerson[9] Manajemen ilmiah, atau dalam bahasa Inggris disebut scientific management, dipopulerkan oleh Frederick Winslow Taylor dalam bukunya yang berjudul Principles of Scientific Management pada tahun 1911. Dalam bukunya itu, Taylor mendeskripsikan manajemen ilmiah adalah "penggunaan metode ilmiah untuk menentukan cara terbaik dalam menyelesaikan suatu pekerjaan." Beberapa penulis seperti Stephen Robbins menganggap tahun terbitnya buku ini sebagai tahun lahirya teori manajemen modern.[2] Henry Gantt yang pernah bekerja bersama Taylor di Midvale Steel Company menggagas ide bahwa seharusnya seorang mandor mampu memberi pendidikan kepada karyawannya untuk bersifat rajin (industrious ) dan kooperatif. Ia juga mendesain sebuah grafik untuk membantu

manajemen yang disebut sebagai Gantt chart yang digunakan untuk merancang dan mengontrol pekerjaan. Manajemen ilmiah kemudian dikembangkan lebih jauh oleh pasangan suami-istri Frank dan Lillian Gilbreth. Keluarga Gilbreth berhasil menciptakan micromotion yang dapat mencatat setiap gerakan yang dilakukan oleh pekerja dan lamanya waktu yang dihabiskan untuk melakukan setiap gerakan tersebut.[9] Era ini juga ditandai dengan hadirnya teori administratif, yaitu teori mengenai apa yang dilakukan oleh para manajer dan bagaimana cara membentuk praktik manajemen yang baik.[9] Pada awal abad ke-20, seorang industriawan Perancis bernama Henri Fayol mengajukan gagasan lima fungsi utama manajemen: merancang, mengorganisasi, memerintah, mengoordinasi, dan mengendalikan.[10] Gagasan Fayol itu kemudian mulai digunakan sebagai kerangka kerja buku ajar ilmu manajemen pada pertengahan tahun 1950, dan terus berlangsung hingga sekarang.[2] Selain itu, Henry Fayol juga mengagas 14 prinsip manajemen yang merupakan dasar-dasar dan nilai yang menjadi inti dari keberhasilan sebuah manajemen. Sumbangan penting lainnya datang dari ahli sosilogi Jerman Max Weber. Weber menggambarkan suatu tipe ideal organisasi yang disebut sebagai birokrasibentuk organisasi yang dicirikan oleh pembagian kerja, hierarki yang didefinisikan dengan jelas, peraturan dan ketetapan yang rinci, dan sejumlah hubungan yang impersonal. Namun, Weber menyadari bahwa bentuk "birokrasi yang ideal" itu tidak ada dalam realita. Dia menggambarkan tipe organisasi tersebut dengan maksud menjadikannya sebagai landasan untuk berteori tentang bagaimana pekerjaan dapat dilakukan dalam kelompok besar. Teorinya tersebut menjadi contoh desain struktural bagi banyak organisasi besar sekarang ini.[2] Perkembangan selanjutnya terjadi pada tahun 1940-an ketika Patrick Blackett melahirkan ilmu riset operasi, yang merupakan kombinasi dari teori statistika dengan teori mikroekonomi. Riset operasi, sering dikenal dengan "Sains Manajemen", mencoba pendekatan sains untuk menyelesaikan masalah dalam manajemen, khususnya di bidang logistik dan operasi. Pada tahun 1946, Peter F. Druckersering disebut sebagai Bapak Ilmu Manajemenmenerbitkan salah satu buku paling awal tentang manajemen terapan: "Konsep Korporasi" (Concept of the Corporation). Buku ini muncul atas ide Alfred Sloan (chairman dari General Motors) yang menugaskan penelitian tentang organisasi.[11]
[sunting] Era manusia sosial

Era manusia sosial ditandai dengan lahirnya mahzab perilaku (behavioral school) dalam pemikiran manajemen di akhir era manajemen ilmiah. Mahzab perilaku tidak mendapatkan pengakuan luas sampai tahun 1930-an. Katalis utama dari kelahiran mahzab perilaku adalah serangkaian studi penelitian yang dikenal sebagai eksperimen Hawthrone. Eksperimen Hawthrone dilakukan pada tahun 1920-an hingga 1930-an di Pabrik Hawthrone milik Western Electric Company Works di Cicero, Illenois.[2]. Kajian ini awalnya bertujuan mempelajari pengaruh berbagai macam tingkat penerangan lampu terhadap produktivitas kerja. Hasil kajian mengindikasikan bahwa ternyata insentif seperti jabatan, lama jam kerja, periode istirahat, maupun upah lebih sedikit pengaruhnya terhadap output pekerja dibandingkan dengan tekanan kelompok, penerimaan kelompok, serta rasa aman yang

menyertainya. Peneliti menyimpulkan bahwa norma-norma sosial atau standar kelompok merupakan penentu utama perilaku kerja individu.[9] Kontribusi lainnya datang dari Mary Parker Follet. Follett (18681933) yang mendapatkan pendidikan di bidang filosofi dan ilmu politik menjadi terkenal setelah menerbitkan buku berjudul Creative Experience pada tahun 1924.[9] Follet mengajukan suatu filosifi bisnis yang mengutamakan integrasi sebagai cara untuk mengurangi konflik tanpa kompromi atau dominasi. Follet juga percaya bahwa tugas seorang pemimpin adalah untuk menentukan tujuan organisasi dan mengintegrasikannya dengan tujuan individu dan tujuan kelompok. Dengan kata lain, ia berpikir bahwa organisasi harus didasarkan pada etika kelompok daripada individualisme. Dengan demikian, manajer dan karyawan seharusnya memandang diri mereka sebagai mitra, bukan lawan. Pada tahun 1938, Chester Barnard (18861961) menulis buku berjudul The Functions of the Executive yang menggambarkan sebuah teori organisasi dalam rangka untuk merangsang orang lain memeriksa sifat sistem koperasi. Melihat perbedaan antara motif pribadi dan organisasi, Barnard menjelaskan dikotonomi "efektif-efisien". Menurut Barnard, efektivitas berkaitan dengan pencapaian tujuan, dan efisiensi adalah sejauh mana motif-motif individu dapat terpuaskan. Dia memandang organisasi formal sebagai sistem terpadu di mana kerjasama, tujuan bersama, dan komunikasi merupakan elemen universal, sementara pada organisasi informal, komunikasi, kekompakan, dan pemeliharaan perasaan harga diri lebih diutamakan. Barnard juga mengembangkan teori "penerimaan otoritas" didasarkan pada gagasan bahwa bos hanya memiliki kewenangan jika bawahan menerima otoritas itu.
[sunting] Era modern

Era modern ditandai dengan hadirnya konsep manajemen kualitas total (total quality managementTQM) di abad ke-20 yang diperkenalkan oleh beberapa guru manajemen, yang paling terkenal di antaranya W. Edwards Deming (19001993) and Joseph Juran (lahir 1904). Deming, orang Amerika, dianggap sebagai Bapak Kontrol Kualitas di Jepang.[9] Deming berpendapat bahwa kebanyakan permasalahan dalam kualitas bukan berasal dari kesalahan pekerja, melainkan sistemnya. Ia menekankan pentingnya meningatkan kualitas dengan mengajukan teori lima langkah reaksi berantai. Ia berpendapat bila kualitas dapat ditingkatkan, (1) biaya akan berkurang karena berkurangnya biaya perbaikan, sedikitnya kesalahan, minimnya penundaan, dan pemanfaatan yang lebih baik atas waktu dan material; (2) produktivitas meningkat; (3) market share meningkat karena peningkatan kualitas dan harga; (4) profitabilitas perusahaan peningkat sehingga dapat bertahan dalam bisnis; (5) jumlah pekerjaan meningkat. Deming mengembangkan 14 poin rencana untuk meringkas pengajarannya tentang peningkatan kualitas. Kontribusi kedua datang dari Joseph Juran.[9] Ia menyatakan bahwa 80 persen cacat disebabkan karena faktor-faktor yang sebenarnya dapat dikontrol oleh manajemen. Ia merujuk pada "prinsip pareto." Dari teorinya, ia mengembangkan trilogi manajemen yang memasukkan perencanaan, kontrol, dan peningkatan kualitas. Juran mengusulkan manajemen untuk memilih satu area yang mengalami kontrol kualitas yang buruk. Area tersebut kemudian dianalisis, kemudian dibuat solusi, dan diimplementasikan.

[sunting] Teori manajemen


[sunting] Manajemen ilmiah

Manajemen ilmiah kemudian dikembangkan lebih jauh oleh pasangan suami-istri Frank dan Lillian Gilbreth. Keluarga Gilbreth berhasil menciptakan micromotion yang dapat mencatat setiap gerakan yang dilakukan oleh pekerja dan lamanya waktu yang dihabiskan untuk melakukan setiap gerakan tersebut.[9] Gerakan yang sia-sia yang luput dari pengamatan mata telanjang dapat diidentifikasi dengan alat ini, untuk kemudian dihilangkan. Keluarga Gilbreth juga menyusun skema klasifikasi untuk memberi nama tujuh belas gerakan tangan dasar (seperti mencari, menggenggam, memegang) yang mereka sebut Therbligs (dari nama keluarga mereka, Gilbreth, yang dieja terbalik dengan huruf th tetap). Skema tersebut memungkinkan keluarga Gilbreth menganalisis cara yang lebih tepat dari unsur-unsur setiap gerakan tangan pekerja.[9] Skema itu mereka dapatkan dari pengamatan mereka terhadap cara penyusunan batu bata. Sebelumnya, Frank yang bekerja sebagai kontraktor bangunan menemukan bahwa seorang pekerja melakukan 18 gerakan untuk memasang batu bata untuk eksterior dan 18 gerakan juga untuk interior. Melalui penelitian, ia menghilangkan gerakan-gerakan yang tidak perlu sehingga gerakan yang diperlukan untuk memasang batu bata eksterior berkurang dari 18 gerakan menjadi 5 gerakan. Sementara untuk batu bata interior, ia mengurangi secara drastis dari 18 gerakan hingga menjadi 2 gerakan saja. Dengan menggunakan teknik-teknik Gilbreth, tukang baku dapat lebih produktif dan berkurang kelelahannya di penghujung hari.[rujukan?]
[sunting] Pendekatan kuantitatif

Pendekatan kuantitatif adalah penggunaan sejumlah teknik kuantitatifseperti statistik, model optimasi, model informasi, atau simulasi komputeruntuk membantu manajemen dalam mengambil keputusan. Sebagai contoh, pemrograman linear digunakan para manajer untuk membantu mengambil kebijakan pengalokasian sumber daya; analisis jalur kritis (Critical Path Analysis) dapat digunakan untuk membuat penjadwalan kerja yang lebih efesien; model kuantitas pesanan ekonomi (economic order quantity model) membantu manajer menentukan tingkat persediaan optimum; dan lain-lain.[rujukan?] Pengembangan kuantitatif muncul dari pengembangan solusi matematika dan statistik terhadap masalah militer selama Perang Dunia II.[12] Setelah perang berakhir, teknik-teknik matematika dan statistika yang digunakan untuk memecahkan persoalan-persoalan militer itu diterapkan di sektor bisnis. Pelopornya adalah sekelompok perwira militer yang dijuluki "Whiz Kids."[12] Para perwira yang bergabung dengan Ford Motor Company pada pertengahan 1940-an ini menggunakan metode statistik dan model kuantitatif untuk memperbaiki pengambilan keputusan di Ford.
[sunting] Klasifikasi

Ada 6 macam teori manajamen diantaranya:

Aliran klasik: Aliran ini mendefinisikan manajemen sesuai dengan fungsi-fungsi manajemennya. Perhatian dan kemampuan manajemen dibutuhkan pada penerapan fungsifungsi tersebut.

Aliran perilaku: Aliran ini sering disebut juga aliran manajemen hubungan manusia. Aliran ini memusatkan kajiannya pada aspek manusia da perlunya manajemen memahami manusia. Aliran manajemen Ilmiah: aliran ini menggunakan matematika dan ilmu statistika untuk mengembangkan teorinya. Menurut aliran ini, pendekatan kuantitatif merupakan sarana utama dan sangat berguna untuk menjelaskan masalah manajemen. Aliran analisis sistem: Aliran ini memfokuskan pemikiran pada masalah yang berhubungan dengan bidang lain untuk mengembangkan teorinya. Aliran manajemen berdasarkan hasil: Aliran manajemen berdasarkan hasil diperkenalkan pertama kali oleh Peter Drucker pada awal 1950-an. Aliran ini memfokuskan pada pemikiran hasil-hasil yang dicapai bukannya pada interaksi kegiatan karyawan. Aliran manajemen mutu: Aliran manajemen mutu memfokuskan pemikiran pada usahausaha untuk mencapai kepuasan pelanggan atau konsumen.

[sunting] Fungsi manajemen


Fungsi manajemen adalah elemen-elemen dasar yang akan selalu ada dan melekat di dalam proses manajemen yang akan dijadikan acuan oleh manajer dalam melaksanakan kegiatan untuk mencapai tujuan.[rujukan?] Fungsi manajemen pertama kali diperkenalkan oleh seorang industrialis Perancis bernama Henry Fayol pada awal abad ke-20.[rujukan?] Ketika itu, ia menyebutkan lima fungsi manajemen, yaitu merancang, mengorganisir, memerintah, mengordinasi, dan mengendalikan. Namun saat ini, kelima fungsi tersebut telah diringkas menjadi tiga[rujukan?], yaitu:
1. Perencanaan (planning) adalah memikirkan apa yang akan dikerjakan dengan sumber yang dimiliki. Perencanaan dilakukan untuk menentukan tujuan perusahaan secara keseluruhan dan cara terbaik untuk memenuhi tujuan itu. Manajer mengevaluasi berbagai rencana alternatif sebelum mengambil tindakan dan kemudian melihat apakah rencana yang dipilih cocok dan dapat digunakan untuk memenuhi tujuan perusahaan. Perencanaan merupakan proses terpenting dari semua fungsi manajemen karena tanpa perencanaan, fungsi-fungsi lainnya tak dapat berjalan. 2. Pengorganisasian (organizing) dilakukan dengan tujuan membagi suatu kegiatan besar menjadi kegiatan-kegiatan yang lebih kecil. Pengorganisasian mempermudah manajer dalam melakukan pengawasan dan menentukan orang yang dibutuhkan untuk melaksanakan tugas-tugas yang telah dibagi-bagi tersebut. Pengorganisasian dapat dilakukan dengan cara menentukan tugas apa yang harus dikerjakan, siapa yang harus mengerjakannya, bagaimana tugas-tugas tersebut dikelompokkan, siapa yang bertanggung jawab atas tugas tersebut, pada tingkatan mana keputusan harus diambil. 3. Pengarahan (directing) adalah suatu tindakan untuk mengusahakan agar semua anggota kelompok berusaha untuk mencapai sasaran sesuai dengan perencanaan manajerial dan usaha

[sunting] Sarana manajemen


Man dan machine, dua sarana manajemen.

Untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan diperlukan alat-alat sarana (tools). Tools merupakan syarat suatu usaha untuk mencapai hasil yang ditetapkan. Tools tersebut dikenal dengan 6M, yaitu men, money, materials, machines, method, dan markets.[rujukan?]

Man merujuk pada sumber daya manusia yang dimiliki oleh organisasi. Dalam manajemen, faktor manusia adalah yang paling menentukan. Manusia yang membuat tujuan dan manusia pula yang melakukan proses untuk mencapai tujuan. Tanpa ada manusia tidak ada proses kerja, sebab pada dasarnya manusia adalah makhluk kerja. Oleh karena itu, manajemen timbul karena adanya orang-orang yang berkerja sama untuk mencapai tujuan. Money atau Uang merupakan salah satu unsur yang tidak dapat diabaikan. Uang merupakan alat tukar dan alat pengukur nilai. Besar-kecilnya hasil kegiatan dapat diukur dari jumlah uang yang beredar dalam perusahaan. Oleh karena itu uang merupakan alat (tools) yang penting untuk mencapai tujuan karena segala sesuatu harus diperhitungkan secara rasional. Hal ini akan berhubungan dengan berapa uang yang harus disediakan untuk membiayai gaji tenaga kerja, alat-alat yang dibutuhkan dan harus dibeli serta berapa hasil yang akan dicapai dari suatu organisasi. Material terdiri dari bahan setengah jadi (raw material) dan bahan jadi. Dalam dunia usaha untuk mencapai hasil yang lebih baik, selain manusia yang ahli dalam bidangnya juga harus dapat menggunakan bahan/materi-materi sebagai salah satu sarana. Sebab materi dan manusia tidaki dapat dipisahkan, tanpa materi tidak akan tercapai hasil yang dikehendaki. Machine atau Mesin digunakan untuk memberi kemudahan atau menghasilkan keuntungan yang lebih besar serta menciptakan efesiensi kerja. Metode adalah suatu tata cara kerja yang memperlancar jalannya pekerjaan manajer. Sebuah metode daat dinyatakan sebagai penetapan cara pelaksanaan kerja suatu tugas dengan memberikan berbagai pertimbangan-pertimbangan kepada sasaran, fasilitas-fasilitas yang tersedia dan penggunaan waktu, serta uang dan kegiatan usaha. Perlu diingat meskipun metode baik, sedangkan orang yang melaksanakannya tidak mengerti atau tidak mempunyai pengalaman maka hasilnya tidak akan memuaskan. Dengan demikian, peranan utama dalam manajemen tetap manusianya sendiri. Market atau pasar adalah tempat di mana organisasi menyebarluaskan (memasarkan) produknya. Memasarkan produk sudah barang tentu sangat penting sebab bila barang yang diproduksi tidak laku, maka proses produksi barang akan berhenti. Artinya, proses kerja tidak akan berlangsung. Oleh sebab itu, penguasaan pasar dalam arti menyebarkan hasil produksi merupakan faktor menentukan dalam perusahaan. Agar pasar dapat dikuasai maka kualitas dan harga barang harus sesuai dengan selera konsumen dan daya beli (kemampuan) konsumen.

[sunting] Prinsip manajemen


Artikel utama untuk bagian ini adalah: Prinsip manajemen

Prinsip-prinsip dalam manajemen bersifat lentur dalam arti bahwa perlu dipertimbangkan sesuai dengan kondisi-kondisi khusus dan situasi-situasi yang berubah.[rujukan?] Menurut Henry Fayol, seorang pencetus teori manajemen yang berasal dari Perancis, prinsip-prinsip umum manajemen ini terdiri dari[rujukan?]:
1. Pembagian kerja (Division of work) 2. Wewenang dan tanggung jawab (Authority and responsibility)

3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14.

Disiplin (Discipline) Kesatuan perintah (Unity of command) Kesatuan pengarahan (Unity of direction) Mengutamakan kepentingan organisasi di atas kepentingan sendiri Penggajian pegawai Pemusatan (Centralization) Hirarki (tingkatan) Ketertiban (Order) Keadilan dan kejujuran Stabilitas kondisi karyawan Prakarsa (Inisiative) Semangat kesatuan, semangat korps

[sunting] Manajer
Manajer adalah seseorang yang bekerja melalui orang lain dengan mengoordinasikan kegiatan-kegiatan mereka guna mencapai sasaran organisasi.[rujukan?]
[sunting] Tingkatan manajer

Piramida jumlah karyawan pada organisasi dengan struktur tradisional, berdasarkan tingkatannya.

Pada organisasi berstruktur tradisional, manajer sering dikelompokan menjadi manajer puncak, manajer tingkat menengah, dan manajer lini pertama (biasanya digambarkan dengan bentuk piramida, di mana jumlah karyawan lebih besar di bagian bawah daripada di puncak). Manejemen lini pertama (first-line management), dikenal pula dengan istilah manajemen operasional, merupakan manajemen tingkatan paling rendah yang bertugas memimpin dan mengawasi karyawan non-manajerial yang terlibat dalam proses produksi. Mereka sering disebut penyelia (supervisor), manajer shift, manajer area, manajer kantor, manajer departemen, atau mandor (foreman). Manajemen tingkat menengah (middle management) mencakup semua manajemen yang berada di antara manajer lini pertama dan manajemen puncak dan bertugas sebagai penghubung antara keduanya. Jabatan yang termasuk manajer menengah di antaranya kepala bagian, pemimpin proyek, manajer pabrik, atau manajer divisi. Manajemen puncak (top management), dikenal pula dengan istilah executive officer, bertugas merencanakan kegiatan dan strategi perusahaan secara umum dan mengarahkan jalannya perusahaan. Contoh top manajemen adalah CEO (Chief Executive Officer), CIO (Chief Information Officer), dan CFO (Chief Financial Officer). Meskipun demikian, tidak semua organisasi dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan menggunakan bentuk piramida tradisional ini. Misalnya pada organisasi yang lebih fleksibel dan sederhana, dengan pekerjaan yang dilakukan oleh tim karyawan yang selalu berubah, berpindah dari satu proyek ke proyek lainnya sesuai dengan permintaan pekerjaan.

[sunting] Peran manajer

Henry Mintzberg, seorang ahli riset ilmu manajemen, mengemukakan bahwa ada sepuluh peran yang dimainkan oleh manajer di tempat kerjanya. Ia kemudian mengelompokan kesepuluh peran itu ke dalam tiga kelompok[13]. yang pertama adalah peran antar pribadi, yaitu melibatkan orang dan kewajiban lain, yang bersifat seremonial dan simbolis. Peran ini meliputi peran sebagai figur untuk anak buah, pemimpin, dan penghubung. Yang kedua adalah peran informasional, meliputi peran manajer sebagai pemantau dan penyebar informasi, serta peran sebagai juru bicara. Yang ketiga adalah peran pengambilan keputusan, meliputi peran sebagai seorang wirausahawan, pemecah masalah, pembagi sumber daya, dan perunding. Mintzberg kemudian menyimpulkan bahwa secara garis besar, aktivitas yang dilakukan oleh manajer adalah berinteraksi dengan orang lain.[13]
[sunting] Keterampilan manajer

Gambar ini menunjukan keterampilan yang dibutuhkan manajer pada setiap tingkatannya.

Robert L. Katz pada tahun 1970-an mengemukakan bahwa setiap manajer membutuhkan minimal tiga keterampilan dasar.[14] Ketiga keterampilan tersebut adalah:
1. Keterampilan konseptual (conceptional skill) Manajer tingkat atas (top manager) harus memiliki keterampilan untuk membuat konsep, ide, dan gagasan demi kemajuan organisasi. Gagasan atau ide serta konsep tersebut kemudian haruslah dijabarkan menjadi suatu rencana kegiatan untuk mewujudkan gagasan atau konsepnya itu. Proses penjabaran ide menjadi suatu rencana kerja yang kongkret itu biasanya disebut sebagai proses perencanaan atau planning. Oleh karena itu, keterampilan konsepsional juga meruipakan keterampilan untuk membuat rencana kerja. 2. Keterampilan berhubungan dengan orang lain (humanity skill) Selain kemampuan konsepsional, manajer juga perlu dilengkapi dengan keterampilan berkomunikasi atau keterampilan berhubungan dengan orang lain, yang disebut juga keterampilan kemanusiaan. Komunikasi yang persuasif harus selalu diciptakan oleh manajer terhadap bawahan yang dipimpinnya. Dengan komunikasi yang persuasif, bersahabat, dan kebapakan akan membuat karyawan merasa dihargai dan kemudian mereka akan bersikap terbuka kepada atasan. Keterampilan berkomunikasi diperlukan, baik pada tingkatan manajemen atas, menengah, maupun bawah. 3. Keterampilan teknis (technical skill) Keterampilan ini pada umumnya merupakan bekal bagi manajer pada tingkat yang lebih rendah. Keterampilan teknis ini merupakan kemampuan untuk menjalankan suatu pekerjaan

tertentu, misalnya menggunakan program komputer, memperbaiki mesin, membuat kursi, akuntansi dan lain-lain.

Selain tiga keterampilan dasar di atas, Ricky W. Griffin menambahkan dua keterampilan dasar yang perlu dimiliki manajer, yaitu:[4]
1. Keterampilan manajemen waktu Merupakan keterampilan yang merujuk pada kemampuan seorang manajer untuk menggunakan waktu yang dimilikinya secara bijaksana. Griffin mengajukan contoh kasus Lew Frankfort dari Coach. Pada tahun 2004, sebagai manajer, Frankfort digaji $2.000.000 per tahun. Jika diasumsikan bahwa ia bekerja selama 50 jam per minggu dengan waktu cuti 2 minggu, maka gaji Frankfort setiap jamnya adalah $800 per jamsekitar $13 per menit. Dari sana dapat kita lihat bahwa setiap menit yang terbuang akan sangat merugikan perusahaan. Kebanyakan manajer, tentu saja, memiliki gaji yang jauh lebih kecil dari Frankfort. Namun demikian, waktu yang mereka miliki tetap merupakan aset berharga, dan menyianyiakannya berarti membuang-buang uang dan mengurangi produktivitas perusahaan. 2. Keterampilan membuat keputusan Merupakan kemampuan untuk mendefinisikan masalah dan menentukan cara terbaik dalam memecahkannya. Kemampuan membuat keputusan adalah yang paling utama bagi seorang manajer, terutama bagi kelompok manajer atas (top manager). Griffin mengajukan tiga langkah dalam pembuatan keputusan. Pertama, seorang manajer harus mendefinisikan masalah dan mencari berbagai alternatif yang dapat diambil untuk menyelesaikannya. Kedua, manajer harus mengevaluasi setiap alternatif yang ada dan memilih sebuah alternatif yang dianggap paling baik. Dan terakhir, manajer harus mengimplementasikan alternatif yang telah ia pilih serta mengawasi dan mengevaluasinya agar tetap berada di jalur yang benar. [sunting] Etika manajerial Artikel utama untuk bagian ini adalah: Etika manajerial

Etika manajerial adalah standar prilaku yang memandu manajer dalam pekerjaan mereka. Ada tiga kategori klasifikasi menurut Ricky W. Griffin:[4]

Perilaku terhadap karyawan Perilaku terhadap organisasi Perilaku terhadap agen ekonomi lainnya

[sunting] Bidang manajemen


Manajemen administrasi perkantoran Manajemen pergantian Manajemen komunikasi Manajemen constraint Manajemen biaya Manajemen hubungan pelanggan Manajemen harga pendapatan Manajemen enterprise Manajemen fasilitas Manajemen integrasi Manajemen pengetahuan

Manajemen pemasaran Manajemen mikro Manajemen sakit Manajemen pandangan Manajemen procurement Manajemen program Manajemen projek Manajemen proses Manajemen produksi Manajemen kualitas Manajemen sumber daya manusia Manajemen risiko Keahlian manajemen Manajemen pengeluaran Manajemen rantai suplai Manajemen sistem Manajemen waktu Manajemen stress Manajemen strategis Manajemen keuangan Manajemen personalia Manajemen organisasi Manajemen Pertunjukan Manajemen Persiapan dan Pelaksanaan

[sunting] Referensi
1. ^ a b Oxford English Dictionary 2. ^ a b c d e f Robbins, Stephen dan Mary coulter. 2007. Management, 8th Edition. NJ: Prentice Hall. 3. ^ Vocational Business: Training, Developing and Motivating People by Richard Barrett Business & Economics - 2003. - Page 51. 4. ^ a b c Griffin, R. 2006. Business, 8th Edition. NJ: Prentice Hall. 5. ^ (Inggris) Online Etymology: Manage 6. ^ C.S. George Jr. 1972. The History of Management Thought, ed. 2nd. Upper Saddle River, NJ. Prentice Hall. h.4 7. ^ (Inggris) Wren, Daniel dan Arthur Bedeian. 2009. The Evolution of Management Thought 8. ^ Smith, Adam. 1776. An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations. 9. ^ a b c d e f g h i http://www.referenceforbusiness.com/management/Or-Pr/Pioneers-ofManagement.html 10. ^ Fayol, Henry. 1949. Administration, industrielle et generale. 11. ^ Drucker, Peter. 1946. Concept of Corporation. John Day Company. 12. ^ a b (Inggris) Kisah Whiz Kids 13. ^ a b Mintzberg 1973. The Nature of Managerial Work 14. ^ Robert L. Katz. Skills of an Effective Administrator.