Anda di halaman 1dari 1

Hipoglikemi merupakan efek samping yang paling sering terjadi akibat dosis insulin terlalu besar, tidak tepatnya

waktu makan dengan waktu tercapainya kadar puncak insulin, atau karena adanya faktor yang meningkatkan sensitivitas terhadap insulin, misal insufisiensi adrenal atau pituitari, ataupun aktifitas fisik yang terlalu banyak. Hipoglikemi juga dijumpai pada pasien DM tipe 2 dengan neuropati otonomik. Pasien tersebut memiliki gangguan pada meknisme respon counter regulatory hormone, sehingga penurunan kadar gula dalam darah setelah konsumsi OAD tidak diikuti oleh respon hormonal untuk meningkatkan kembali kadar gula dalam darah, akibatnya pasien mengalami hipoglikemi (Ian Tanu,2008). Hipoglikemia sering juga disebabkan oleh sulfonilurea dan insulin. Hipoglikemia alibat sulfonilurea dapat berlangsung lama, sehingga harus diawasi dengan benar sampai semua obat telah berhasil di ekskresi, yang terkadang memerlukan waktu lama (sekitar 24 hingga 36 jam, bahkan mungkin lebih bagi penderita dengan gagal ginjal kronik). Reaksi ini lebih sering terjadi pada pasien lanjut usia dengan gangguan hepar atau ginjal, terutama yang menggunakan sediaan dengan masa kerja panjang (Annisa,2010). Hipoglikemia memiliki gejala adrenergik (berdebar-debar, banyak berkeringat, gemetar, dan memiliki rasa lapar) dan gejala neuroglikopenik (merasa pusing, gelisah, kesadaran menurun, bahkan hingga koma). Semua penderita diabetes melitus yang mendapat obat hipoglikemik oral, maupun insulin harus mendapat penyuluhan mengenai gejala hipoglikemia dan bagaimana mengatasinya. Demikian pula keluarga penderita (Annisa,2010). Hipoglikemia dapat diatasi dengan memberikan air manis, minuman yang mengandung gula murni, berkalori, bukan gula pemanis. Penderita juga dapat diberi suntikan glukosa 40% intravena atau glukagon jika diperlukan. Untuk pasien yang tidak sadar, pemberian glukosa 40% intravena merupakan tindakan darurat yang pertama kali diberikan (Annisa,2010).