Anda di halaman 1dari 16

Psidium guajava L

I.

Pendahuluan Jambu biji (Psidium guajava L.) juga dikenal dengan nama Glima Breueh (Aceh), Masiambu (Nias), Jambu Biawas,Jambu Biji, Jambu Pertukal, Jambu Susu, (Ind.), Jambu Klutuk (Sunda), (Heyne, 1987). Jambu biji dalam bahasa inggris sering disebut Lambo Guava, Common Guava, Yel- low Guava, atau Apple Guava (Dweck, Anthony C., 2001 ). Selama ini orang hanya mengenal jambu biji sebagai buah untuk dikonsumsi sebagai sumber vitamin C. Namun belum banyak yang mengetahui bahwa selain sebagai sumber vitamin C, jambu biji juga merupakan obat cukup ampuh untuk mengatasi berbagai penyakit seperti diabetes melitus, demam berdarah, dan diare. Penelitian mengenai kemampuan jambu biji sebagai obat telah banyak dilakukan, diantaranya oleh E.A. Conde Garcia, V.T. Nascimento dan A.B. Santiago Santos (2003), Rosangela de Oliveira Teixeira, et.al. (2003), I Ketut Adnyana (2004), Aulia Ajizah (2004), Vieira (2001), Qian et al. (2004), Belemtougri et al. (2006), dan Masonari Sunagawa; et.al. (2004). Potensi jambu biji di Indonesia untuk dijadikan obat alternatif terhadap berbagai penyakit sangat besar. Hal ini disebabkan karena jambu biji mudah ditemukan di Indonesia, dan harganya relatif terjangkau. Mengapa tanaman ini mudah ditemukan di Indonesia? Sebenarnya tanaman jambu biji berasal dari Brazilia Amerika Tengah, menyebar ke Thailand dan kemudian ke Negara Asia seperti Indonesia. Jambu biji yang berkembang di Indonesia terdiri dari beberapa varietas diantaranya yaitu: Jambu sukun (jambu tanpa biji, tumbuh secara partenokarpi dan bila tumbuh dekat dengan jambu biji akan cenderung berbiji kembali), jambu bangkok (buahnya besar, dagingnya tebal dan sedikit bijinya, rasanya agak hambar), setelah diadakan percampuran dengan jambu susu rasanya berubah asam-asam manis, jambu merah, jambu pasar minggu, jambu sari, jambu apel, jambu palembang, dan jambu merah getas (Kemal Prihatman, 2000).

Page | 1

Meskipun jambu biji terdiri dari beberapa jenis, tetapi pada umumnya tanaman jambu biji merupakan tanaman buah jenis perdu, dengan batang yang memiliki kulit kayu bersisik coklat kehijauan. Bunganya berwarna putih dan wangi. Daunnya tumbuh menyilang dengan tangkai yang pendek, panjang daun hingga 15 cm. Buah jambu biji berbentuk bulat atau oval. Tanaman ini dapat tumbuh hingga 9 meter (KemalPrihatman, 2000). Buah jambu biji biasa dikonsumsi langsung dalam keadaan setengah matang yaitu kulit buah berwarna hijau dan dagingnya berwarna putih dan rasanya manis seperti apel, atau bisa juga dikonsumsi dalam keadaan sangat matang yaitu kulit buah berwarna kekuningan dan dagingnya berwarna putih sampai merah cerah. Selain buahnya, bagian dari tanaman ini yang sering digunakan sebagai obat yaitu daunnya. Daun jambu biji biasa digunakan sebagai minuman seperti halnya teh. (E.A. Conde Garcia, V.T. Nascimento dan A.B. Santiago Santos, 2003) II. Komposisi Kimia A. Buah Jambu Biji Menurut Anthony C. Dweck (2001) buah jambu biji dapat

dijadikan sebagai obat alternatif karena mengandung berbagai zat yang berfungsi sebagai penghambat berbagai jenis penyakit, diantaranya jenis flavonoid, minyak atsiri, dan juga terdapat saponin berkombinasi dengan asam oleanolat., Morin-3-O- -L-lyxopyranoside, dan morin-3-O-Larabopyranoside dan flavonoid, guaijavarin (Gambar 1), dan quercetin (Gambar 2). Komposisi kimia jambu biji dapat dilihat pada Tabel 1.

Page | 2

Page | 3

Page | 4

Kandungan karbohidrat yang dihasilkan 100 gram jambu biji sebesar 14,32 gram; ditetapkan berdasarkan perhitungan Carbohydrate by difference yang dilakukan dengan cara menghitung selisih pengurangan total kandungan jambu biji dikurangi kandungan total lemak, total protein, air, dan mineral. Dari 14.32 gram karbohidrat dihasilkan 285 kj kalori. Selain itu buah jambu biji juga mengandung beberapa jenis minyak atsiri. Kandungan minyak atsiri yang paling banyak dapat dilihat pada Tabel 2.

B. Daun Jambu Biji Daun jambu biji mengandung total minyak 6% dan minyak atsiri 0,365% [Burkill, 1997], 3,15% resin, 8,5% tannin, dan lain-lain. Komposisi utama minyak atsiri yaitu -pinene (Gambar 3.), -pinene limonene, menthol, terpenyl acetate, isopropyl alcohol, longicyclene, caryophyllene,

Page | 5

-bisabolene, caryophyllene oxide, - copanene, farnesene, humulene, selinene, cardinene and curcumene [Zakaria, 1994]. Minyak atsiri dari daun jambu biji juga mengandung nerolidiol, -sitosterol, ursolic, crategolic, dan guayavolic acids. Selain itu juga mengandung minyak atsiri yang kaya akan cineol dan empat triterpenic acids sebaik ketiga jenis flavonoid yaitu; quercetin, 3-L-4-4-arabinofuranoside (avicularin)

(Gambar 4.) dan 3-L-4-pyranoside dengan aktivitas anti bakteri yang tinggi [Oliver-Bever, 1986].

Selain minyak atsiri, daun mengandung, nerolidiol, -sitosterol, ursolat, krategolat, dan asam guayavolat. Daun juga mengandung minyak lemak 6%, dan avikularin Lima konstituen termasuk satu asam baru pentacyclic triterpenoid asam guajanoat dan empat senyawa -sitosterol yang dikenal sebagai uvaol, asam oleanolat, dan asam ursolat telah diisolasi dari daun jambu biji.

Page | 6

C. Kulit Kayu Kulit kayu mengandung 12-30 % tannin dan pada salah satu sumber menyebutkan bahwa pada kulit kayu mengandung 27,4 %, atau polyphenol, resin dan Kristal kalsium oksalat. D. Akar Pada akar juga mengandung kaya akan tannin. Tumbuhan ini juga mengandung leukocyanidins, sterol and asam galat. Disini mengandung karbohidrat dan garam yang sangat tinggi. Akar, batang dan daun juga mengandung asam tannat yang tinggi. E. Biji Di dalam buah, biji ini merebut tempat terbanyak, dilaporkan mengandung minyak lemak, protein dan amilum. Biji juga mengandung 10 macam senyawa fenol dan flavonoid termasuk senyawa baru berupa glikosida flavonol terasilasi : Quersetin-3-O-beta-D-(2-O-galoil-

glukosida)-4-O-vinil-propionat. F. Tanaman secara umum mengandung glikosida gentiobiosida dari asam elagat. Juga mengandung quersetin glikosida yang lain guiajaverin, suatu glikosida bergula arabinopirosida dari quersetin. G. Ranting Mengandung mineral-mineral seperti Ca (0.30-1.00%), Mg (0.060.30%), P (0.10-0.38%), K (0.21-0.39%), dan Na (0.03-0.20%). Kadar fluorida berkisar antara 0.02-0.11 ppm, Cu (0.02-0.14 ppm), Fe (2.86-5.14 ppm), Zn (0.31-0.57 ppm), Mn (0.00-0.26 ppm), dan Pb (0.00-0.11 ppm)

Page | 7

III.

Jambu Biji Sebagai Obat Mengobati diabetes mellitus Ekstrak buah dan daun jambu biji mengandung guava polyphenol yang bersifat anti oksidan. Hasil penelitian Masanori Sunagawa; dkk (2004) menyebutkan bahwa konsumsi ekstrak jambu biji tidak menurunkan kandungan glukosa dalam darah pada jangka waktu cepat setelah pemberian glukosa. Tetapi kandungan glukosa dalam darah menurun dalam jangka waktu lama setelah pemberian ekstrak jambu biji.Penurunan kandungan glukosa dalam darah disebabkan karena adanya stimulasi sekresi insulin setelah mengkonsumsi ekstrak buah jambu biji dalam jangka waktu lama. Hal ini dapat dilihat dari meningkatnya kandungan insulin dalam darah setelah pemberian ekstrak jambu biji. Grafik perubahan kandungan glukosa dalam darah dan konsentrasi plasma insulin dalam darah dapat dilihat pada Gambar 5.

Gambar 5. Perubahan Kandungan Glukosa dan Plasma Insulin dalam Darah Setelah Pemberian Ekstrak Buah Jambu Biji. Dalam

Page | 8

penelitian tersebut digunakan jus jambu biji yang dilarutkan dalam air konsentrasi 25% yang dikonsumsi selama 32 minggu. Mengobati diare Bagian dari jambu biji yang digunakan untuk mengobati diare pada umumnya adalah bagian daun. Daun jambu biji mengandung tannin dan zat lain seperti minyak atsiri, asam ursolat, asam psidiolat, asam kratogolat, asam oleanolat, asam guajaverin dan vitamin. Vieira; dkk. (2001) melalui penelitiannya telah membuktikan bahwa ekstrak daun jambu biji dalam etanol, aseton, dan air dapat menghambat pertumbuhan bakteri penyebab diare yaitu Staphylococcus aureus dan E. Coli. Daya hambat ekstrak jambu biji terhadap beberapa jenis bakteri pada penelitian tersebut dapat dilihat pada Tabel 3.

Menurut Adnyana (2004) ekstrak etanol daun jambu biji daging buah putih memiliki kemampuan hambat bakteri yang lebih besar daripada jambu biji daging buah merah (KHM terhadap Escherichia coli (60 mg/ml vs >100 mg/ml), Shigella dysenteriae (30 mg/ml vs 70 mg/ml),

Page | 9

Shigella flexneri (40 mg/ml vs 60 mg/ml), dan Salmonella typhi (40 mg/ml vs 60 mg/ml). Dalam penelitian tersebut efektivitas ekstrak daun jambu biji daging buah putih dibandingkan dengan yang berwarna merah sebagai antidiare berdasarkan aktivitas antimikroba, konsistensi feses, berat feses, waktu diare, dan uji waktu lintas usus. Aktivitas ekstrak daun jambu biji terhadap pertumbuhan berbagai jenis bakteri penyebab diare dapat dilihat pada Tabel 4.

Mengobati demam berdarah Seperti diketahui, demam berdarah dengue (DBD) merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dengue dengan angka kematian dan kesakitan yang cukup tinggi. Sampai saat ini pengobatan DBD masih bersifat suportif, yaitu mengatasi kehilangan cairan plasma akibat peningkatan permeabilitas pembuluh darah kapiler. Sampai saat ini obat demam berdarah memang belum ditemukan. Tak heran bila pola pengobatannya pun hanya bersifat pendukung semata (Sampurno, 2004). Namun penelitian terbaru mengungkapkan bahwa virus penyebab demam berdarah dapat dihambat pertumbuhannya. Hasil

Page | 10

penelitian kerja sama Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dengan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya

menunjukkan ekstrak daun jambu biji dipastikan bisa menghambat pertumbuhan virus dengue penyebab demam berdarah dengue (DBD). Bahan itu juga mampu meningkatkan jumlah trombosit hingga 100 ribu milimeter per kubik tanpa efek samping. Pada penelitian tersebut digunakan hewan model mencit dengan pemberian oral ekstrak daun jambu biji terbukti dapat menurunkan permeabilitas pembuluh darah. Pada penelitian tersebut dilaporkan juga bahwa ekstrak daun jambu biji terbukti dapat meningkatkan jumlah sel hemopoetik terutama megakriosit pada preparat dan kultur sumsum tulang mencit. Peningkatan tersebut diperkirakan dapat tercapai dalam tempo delapan hingga 48 jam setelah ekstrak daun jambu biji dikonsumsi. Pada uji keamanan (toksisitas) ekstrak daun jambu biji termasuk zat yang praktis tidak toksik (Fu et. Al., 1992. Pengujian lebih lanjut dilakukan tim peneliti dipimpin oleh Prof. DR. Dr. Sugeng Sugijanto DSA dan dr M. Nasrudin untuk pasien DBD anak, Prof. dr. Edy Soewandojo SpPD untuk pasien DBD dewasa (2004) pada penelitian tersebut diharapkan ekstrak daun jambu biji dapat dijadikan obat antivirus dengue berupa suplemen yang dipasarkan ke masyarakat. Di antaranya dalam bentuk kapsul buat orang dewasa dan sirup untuk anak-anak. Daun jambu biji tua dapat menghambat pertumbuhan virus penyebab demam berdarah karena ternyata mengandung berbagai macam komponen yang berkhasiat, diantaranya kelompok senyawa tannin dan flavonoid yang dinyatakan sebagai quersetin. Quersetin dan rutin merupakan senyawa-senyawa flavonoid yang biasa ditemukan dalam kelas Angiosermae.( YantiMaryanty. 2005). Quersetin adalah senyawa golongan flavonoid jenis flavonol dan flavon, senyawa ini banyak terdapat pada tanaman family myrtaceae dan

Page | 11

solanacea. Telah dikenal sejumlah glikosida flavonol yaitu turunan dari quersetin, diantaranya adalah quersetin 3-L rhamonoside atau

quersitrin yang digunakan untuk pewarna tekstil, quersetin3-rutinoside yang biasa disebut rutin dan quersetin 3 glukoside atau isoquersitrin yang berkhasiat diantaranya untuk mengobati kerapuhan pembuluh kapiler pada manusia. Senyawa rutin terdapat dalam tanaman tembakau dari family Solanaceae dan Eucalyptus macrorynhdari familia Myrtaceae (Harborne,1987). dalam (Sri Yuliani,Laba Udarno, dan Eni Hayani, 2003). Quersetin dalam ekstrak daun jambu biji dapat menghambat aktivitas enzim reverse trancriptase yaitu enzim yang diperlukan oleh virus untuk mereplikasi diri (Daniel Irawan, 2006). Berarti Quersetin dapat menghambat pertumbuhan virus berinti RNA. Virus Dengue merupakan virus RNA untai tunggal, genus flavovirus, terdiri dari 4 serotipe yaitu Den-1, 2, 3 dan 4. Struktur antigen ke-4 serotipe ini sangat mirip satu dengan yang lain, namun antibodi terhadap masing-masing serotipe tidak dapat saling memberikan perlindungan silang. Variasi genetik berbeda pada ke-4 serotipe ini tidak hanya menyangkut antar serotipe, tetapi juga didalam serotipe itu sendiri tergantung waktu dan daerah

penyebarannya. Pada masing-masing segmen codon, variasi diantara serotipe dapat mencapai 2,6 - 11,0 % pada tingkat nukleotida dan 1,3 7,7 % untuk tingkat protein (Fuet al, 1992). Anti bakteri Ekstrak daun memiliki aktivitas menghambat pertumbuhan bakteri Gram-positif dan Gram-negatif Escherichia coli, Salmonella typhi, Staphylococcus aureus, Proteus mirabilis, Mycobacterium phlei and Shigella dysenteria. Dalam penelitian lain dilaporkan mampu

menghambat pertumbuhan Streptococcus Spp. Daun jambu biji kaya akan tannin dan bahan-bahan antiseptik. Dalam pengenceran 1:10.000 masih memiliki daya hambat terhadap S. aureus. Empat senyawa antibakteri telah diisolasi dari daun jambu, 2 diantaranya merupakan glikosida

Page | 12

flavonoid baru, morin-3-O--L-liksopiranosida dan morin-3-O-alfa-Larabopiranosida, dan 2 yang lain diketahui sebagai senyawa-senyawa flavonoid : guaijavarin and quersetin. Ekstrak daun jambu biji bisa

digunakan untuk mengobati luka pada kulit dan mencegah infeksi. Obat Perut Anak Kembung Tiga lembar daun jambu biji muda dan segar, lima butir adas, dan 1/2 jari kulit batang pulosari yang dipotong kecil-kecil, lalu cuci sampai bersih. Bahan-bahan tersebut direbus dalam 2 cangkir air sampai tersisa satu cangkir. Setelah dingin, disaring dan air saringannya digunakan sebagai obat. Cara pemakaiannya, bayi umur 3 bulan 5-7 kali sehari (masing-masing satu sendok), bayi umur enam bulan 3 kali sehari (masing masing satu sendok makan), anak umur 3 tahun 3 kali sehari (masingmasing 2 sendok makan), dan anak diatas 3 tahun 1 kali sehari (satu cangkir). Obat Penurun Kadar Kolesterol Darah yang tinggi Sebanyak 7 lembar daun jambu biji, 2 genggam daun ceremai dan 10 lembar daun sirih (ketiganya herba segar),dicuci sampai bersih. Bahanbahan tersebut direbus dalam 3 gelas air sampai tersisa separonya. Pada saat merebud panci harus ditutup. Setelah dingin, disaring, dan air saringannya diminum pagi dan malam hari, masing-masing gelas. Obat Sering Buang Air Kecil (Anyang-anyangan) Kurang lebih segenggam daun jambu segar dan tepung beras digongseng sampai kuning. Selanjutnya direbus dalam 3 gelas air sampai air rebusannya tersisa separonya. Setelah dingin, disaring, dan air saringannya diminum sehari 3 kali, masing-masing aetengah gelas. Luka dan Luka Berdarah dan Sariawan Daun jambu biji yang baru dipetik diambil secukupnya, kemudian dicuci. Selanjuntnya ditempelkan pada luka, dan dibalut dengan perban.

Page | 13

Perban dan ramuan tersbut diganti 3 kali sehari sampai lukanya sembauh. Untuk pemakaian luar, daun yang masih segar direbus, dan air rebusannya digunakan untuk mencuci luka. Cara lain, giling daun segar sampai halus, lalu bubuhkan pada luka berdarah akibat kecelakaan dan benda tajam atau borok disekitar tulang. Sariawan, larutan kumur atau sakit gigi Untuk Sariawan diambil 1 genggam daun jambu biji dan 1 potong kulit batang jambu biji lalu direbus bersama dengan 2 gelas air sampai mendidih. Selanjutnya disaring untuk diambil airnya. Ramuan ini diminum 2 kali sehari. Untuk sebagai larutan kumur mulut, ramuan ditunggu dingin lalu langsung digunakan untuk dikumur. Untuk sakit gigi, kunyah daun jambu biji yang sudah dicuci. Demam Berdarah Untuk demam berdarah, Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik menyebutkan bahwa pemberian ekstrak kering daun jambu biji selama 5 hari mempercepat pencapaian jumlah trombosit >100.000/l, pemberian ekstrak kering setiap 4-6 jam meningkatkan jumlah trombosit >100.000/l setelah 12-14 jam, tanpa menimbulkan efek samping yang berarti. Dengan demikian, ekstrak daun jambu biji dapat digunakan untuk pengobatan kuratif demam berdarah. Untuk meraciknya, di ambil daun Jambu Biji sebanyak 3-5 lembar, di rebus dengan air sebanyak 2 gelas lalu diminum setiap 4 jam.

Page | 14

Daftar Pustaka

1. Harborne. 1987.

Metode Fitokimia. Penuntun cara modern

menganalisi tumbuhan. Terjemahan Kosasih Padmawinata dan Iwang Soediro. Penerbit ITB. Bandung. 2. Heyne, K.1987. Tumbuhan Berguna Indonesia. Jilid III. Jakarta: Yayasan Sarana Wana Jaya. 3. I Ketut Adnyana; dkk. 2004. Efek ekstrak daun jambu biji daging buah putih dan jambu biji daging buah merah sebagai antidiare. Acta Pharmaceutica Indonesia XXIX. 4. Kemal Prihatman. 2000. TTG Budidaya Pertanian Jambu Biji/Jambu Batu. Jakarta : Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. 5. Yuliani,Sri; Udarno, Laba; dan Hayani, Eni. 2003. Kadar tanin dan Quersetin Tiga Tipe Daun Jambu Biji (Psidium guajava). Buletin TRO XIV.

Page | 15