Anda di halaman 1dari 3

Cinta kepada Nabi Saw.

(2)
Rate this item
(0 votes)

1 2 3 4 5

Cinta Umar ra. kepada Nabi Saw. Umar ra. mengisahkan, Suatu hari kami berjalan bersama Rasulullah Saw. Tiba-tiba beliau menggandeng tanganku sambil terus berjalan. Maka aku mengatakan kepada beliau, Demi Allah, wahai Rasulullah, sungguh aku mencintaimu. Maka beliau berkata kepadaku, Apakah lebih besar daripada cintamu pada anak-anakmu, hai Umar? Saya menjawab, Ya. Apakah lebih besar daripada cintamu pada keluargamu? Ya, jawabku. Apakah lebih besar daripada cintamu terhadap hartamu? Ya, jawabku. Apakah lebih besar daripada cintamu terhadap dirimu sendiri, hai Umar? Saya menjawab, Tidak. (Perhatikan betapa Umar sangat jujur terhadap dirinya sendiri begitu pula kepada Rasulullah Saw.). Nabi Saw. pun bersabda, Tidak, hai Umar; tidak sempurna imanmu hingga engkau mencintai diriku melebihi cintamu kepada dirimu sendiri. Umar berkata, Kemudian aku berhenti sembari berpikir. Lantas aku katakan kepada beliau, Demi Allah, wahai Rasulullah engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri. Maka Nabi Saw. pun bersabda, Sekarang (baru benar), hai Umar. Sekarang (baru benar), hai Umar. (HR. Bukhari dan Imam Ahmad) Abdullah bin Umar (anaknya Umar) bertanya, Ayah, apa yang engkau pikirkan sehingga engkau bisa mengatakan perkataan itu? Umar

menjawab, Saat itu terpikir dalam benakku siapa yanglebih aku butuhkan pada hari Kiamat, diriku atau Rasulullah? Maka aku mendapatkan bahwa kebutuhanku kepada beliau lebih besar daripada terhadap diriku sendiri. Dan aku teringat sewaktu aku masih dalam kesesatan lantas Allah menyelamatkanku melalui beliau. Abdullah bin Umar berkata kepadanya, Wahai ayah, adakah sesuatu yang tidak bisa engkau lupakan dari Rasulullah Saw.? Umar menjawab, Ada satu hal yang tidak dapat aku lupakan dari beliau, yaitu saat aku meminta ijin kepada beliau untuk melaksanakan umrah. Aku berkata kepada beliau, Wahai Rasulullah, berilah aku restu untuk melaksanakan umrah? Rasulullah berkata padaku, Saudaraku, jangan lupakan kami dari doamu yang saleh. Sungguh, beliau telah mengatakan kepadaku suatu kalimat yang lebih menggembirakanku daripada seluruh dunia menjadi milikku, kata Umar. (HR. Bukhari dan Imam Ahmad) Tsauban Mengajarimu Rasa Cinta dan Kerinduan Suatu ketika Rasulullah Saw. meninggalkan Tsauban, pembantunya, sepanjang hari. Tatkala beliau datang, Tsauban berkata, Sungguh engkau telah membuatku khawatir, wahai Rasulullah. Tsauban pun menangis. Nabi bertanya kepadanya, Apakah hal ini yang membuatmu menangis? Tsauban berkata, Bukan, wahai Rasulullah. Akan tetapi terbayang olehku bahwa kita tidak akan bisa bersama lagi kelak di akhirat. Saya pun dilanda rasa takut. Maka beliau bersabda, Wahai Tsauban, seseorang itu akan dibangkitkan pada hari kiamat bersama dengan orangyang dicintainya. Bergembiralah, wahai Tsauban, dengan rasa cintamu kepada Rasulullah Saw. Ya Allah, karuniailah kami cinta semacam ini! Cinta Sawad kepada Nabi Saw. Pada perang Uhud, Sawad bin Ghaziyyah berdiri di tengah-tengah pasukan, waktu itu dia agak gemuk. Nabi Saw. bersabda kepada para pasukannya, Ratakan dan luruskan. Rasulullah Saw.melihat Sawwad tidak lurus dalam barisan, maka beliau berkata padanya, Luruskan barisanmu, hai Sawad! Sawad pun menjawab, Baik, wahai Rasulullah! Sawad berusaha meluruskan berdirinya, namun masih saja tidak lurus. Nabi Saw. mendatanginya sambil memegang sebatang kayu siwak lalu menyodokkannya ke perut Sawad. Beliau berkata, Lurus, hai Sawad! Sawad berkata, Sungguh Engkau telah menyakitiku, wahai Rasulullah, padalah Allah Swt. telah mengutusmu dengan kebenaran, ijinkan aku untuk mendapatkan keadilan darimu! Rasulullah Saw.memperlihatkan perutnya sembari

berkata, Balaslah, hai Sawad! Sawad pun langsung meloncat memeluk perut beliau lalu menciumnya. Ketika ditanyakan tentang hal itu, Sawad berkata, Wahai Rasulullah, musuh telah datang, perang tidak dapat dihindarkan dan saya tidak tahu bisa jadi saya terbunuh pada peperangan ini. Untuk itulah, aku ingin agar saat terakhir bersamamu kulitku bisa menyentuh kulitmu. Kemudian Rasulullah Saw. mendoakan kebaikan untuknya. Bagaimana pendapat Anda dengan cinta semacam ini? Tidakkah Anda Malu ?!! Sebelum ada mimbar, biasanya Rasulullah Saw. menyampaikan khutbah di atas pokok pohon kurma, agar para sahabat dapat melihatnya. Ketika para sahabat membuatkan mimbar untukRasulullah Saw. beliau meninggalkan pokok pohon kurma itu dan menyampaikan khutbah di atas mimbar. Kemudian para sahabat meriwayatkan kejadian yang menakjubkan, Kami mendengar pokok pohon kurma itu menangis terisak-isak karena ditinggalkan oleh Rasulullah Saw. Maka kami melihat beliau turun dari mimbar mendekati pokok pohon kurma tersebut kemudian mengusapnya, sembari bersabda, Tidakkah engkau senang dikuburkan di sini dan kelak akan menemaniku di surga. Pelepah tersebut pun diam. (HR. Ibnu Majah) Apakah rasa cinta Anda kepada Rasulullah Saw. lebih kecil daripada pokok pohon kurma ini?! Pokok pohon menangis saat berpisah dengan Rasulullah Saw. Pokok pohon itu berbicara dan merasakan manisnya rasa cinta kepada Rasululah Saw. Lalu, apakah kita masih jauh dari cinta kepada Rasulullah ataukah kita telah mencintai beliau dengan segenap hati kita? Dan ketahuilah, Seseorang itu selalu bersama dengan orang yang dicintainya. (HR. Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi dan Imam Ahmad) (Diterjemahkan dari buku Akhlaaqul Mumin, karya Amru Khalid, seorang dai Mesir)