Anda di halaman 1dari 11

Aug 28, '06 10:54 PM

Sejarah Daulah Abbasiyah


for everyone
Oleh : Mardias Gufron
A. Pengantar
Masa Daulah Abbasiyah adalah masa keemasan Islam, atau sering
disebut dengan istilah ‘’The Golden Age’’. Pada masa itu Umat Islam telah
mencapai puncak kemuliaan, baik dalam bidang ekonomi, peradaban dan
kekuasaan. Selain itu juga telah berkembang berbagai cabang ilmu
pengetahuan, ditambah lagi dengan banyaknya penerjemahan buku-buku dari
bahasa asing ke bahasa Arab. Fenomena ini kemudian yang melahirkan
cendikiawan-cendikiawan besar yang menghasilkan berbagai inovasi baru di
berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Bani Abbas mewarisi imperium besar Bani
Umayah. Hal ini memungkinkan mereka dapat mencapai hasil lebih banyak,
karena landasannya telah dipersiapkan oleh Daulah Bani Umayah yang besar.
Menjelang tumbangnya Daulah Umayah telah terjadi banyak
kekacauan dalam berbagai bidang kehidupan bernegara; terjadi kekeliruan-
kekeliruan dan kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh para Khalifah dan para
pembesar negara lainnya sehingga terjadilah pelanggaran-pelanggaran
terhadap ajaran Islam.
Di antara kesalahan-kesalahan dan kekeliruan-kekeliruan yang dibuat adalah :
1. Politik kepegawaian didasarkan pada klan, golongan, suku, kaum dan
kawan.
2. Penindasan yang terus-menerus terhadap pengikut-pengikut Ali RA
pada khususnya dan terhadap Bani Hasyim pada umumnya.
3. Penganggapan rendah terhadap kaum muslimin yang bukan bangsa
Arab, sehingga mereka tidak diberi kesempatan dalam pemerintahan.
4. Pelanggaran terhadap ajaran Islam dan hak-hak asasi manusia dengan
cara yang terang-terangan. [1]
Bani Abbas telah mulai melakukan upaya perebutan kekuasaan sejak
masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz (717-720 M) berkuasa. Khalifah itu dikenal
liberal dan memberikan toleransi kepada berbagai kegiatan keluarga Syiah.[2]
Keturunan Bani Hasyim dan Bani Abbas yang ditindas oleh Daulah Umayah
bergerak mencari jalan bebas, dimana mereka mendirikan gerakan rahasia
untuk menumbangkan Daulah Umayah dan membangun Daulah Abbasiyah.
Gerakan ini didahului oleh keturunan Bani Abbas, seperti Ali bin Abdullah bin
Abbas, Muhammad serta Ibrahim.[3]
Di bawah pimpinan Imam mereka Muhammad bin Ali Al-Abbasy mereka
bergerak dalam dua fase, yaitu fase sangat rahasia dan fase terang-terangan
dan pertempuran.[4] Selama Imam Muhammad masih hidup gerakan
dilakukan sangat rahasia. Propaganda dikirim ke seluruh pelosok negara, dan
mendapat pengikut yang banyak, terutama dari golongan-golongan yang
merasa ditindas, bahkan juga dari golongan-golongan yang pada mulanya
mendukung Daulah Umayah Setelah Imam Muhammad meninggal dan diganti
oleh anaknya Ibrahim, pada masanya inilah bergabung seorang pemuda
berdarah Persia yang gagah berani dan cerdas dalam gerakan rahasia ini yang
bernama Abu Muslim Al-Khurasani. Semenjak masuknya Abu Muslim ke dalam
gerakan rahasia Abbasiyah ini, maka dimulailah gerakan dengan cara terang-
terangan, kemudian cara pertempuran, dan akhirnya dengan dalih ingin
mengembalikan keturunan Ali ke atas singgasana kekhalifahan, Abu Abbas
pimpinan gerakan tersebut berhasil menarik dukungan kaum Syiah dalam
mengobarkan perlawanan terhadap kekhalifahan Umayah. Abu Abbas
kemudian memulai makar dengan melakukan pembunuhan sampai tuntas
semua keluarga Khalifah, yang waktu itu dipegang oleh Khalifah Marwan II bin
Muhammad. Begitu dahsyatnya pembunuhan itu sampai Abu Abbas menyebut
dirinya sang pengalir darah atau As-Saffar.[5] Maka bertepatan pada bulan
Zulhijjah 132 H (750 M) dengan terbunuhnya Khalifah Marwan II di Fusthath,
Mesir dan maka resmilah berdiri Daulah Abbasiyah.
Dalam peristiwa tersebut salah seorang pewaris takhta kekhalifahan Umayah,
yaitu Abdurrahman yang baru berumur 20 tahun, berhasil meloloskan diri ke
daratan Spanyol. Tokoh inilah yang kemudian berhasil menyusun kembali
kekuatan Bani Umayah di seberang lautan, yaitu di keamiran Cordova. Di sana
dia berhasil mengembalikan kejayaan kekhalifahan Umayah dengan nama
kekhalifahan Andalusia [6]
B. Tiga Dinasti dalam Daulah Abbasiyah
Pada awalnya kekhalifahan Daulah Abbasiyah menggunakan Kufah
sebagai pusat pemerintahan, dengan Abu Abbas As-Safah (750-754 M)
sebagai Khalifah pertama. Kemudian Khalifah penggantinya Abu Jakfar Al-
Mansur (754-775 M) memindahkan pusat pemerintahan ke Baghdad. Di kota
Baghdad ini kemudian akan lahir sebuah imperium besar yang akan
menguasai dunia lebih dari lima abad lamanya. Imperium ini dikenal dengan
nama Daulah Abbasiyah.
Dalam beberapa hal Daulah Abbasiyah memiliki kesamaan dan
perbedaan dengan Daulah Umayah. Seperti yang terjadi pada masa Daulah
Umayah, misalnya, para bangsawan Daulah Abbasiyah cenderung hidup
mewah dan bergelimang harta. Mereka gemar memelihara budak belian serta
istri peliharaan (harem). Kehidupan lebih cenderung pada kehidupan duniawi
ketimbang mengembangkan nilai-nilai agama Islam. Namun tidak dapat
disangkal sebagian khalifah memiliki selera seni yang tinggi serta taat
beragama. Tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa Daulah Abbasiyah
mengalami pergeseran dalam mengembangkan pemerintahan. Sehingga
dapatlah dikelompokkan masa Daulah Abbasiyah menjadi lima periode
sehubungan dengan corak pemerintahan. Sedangkan menurut asal usul
penguasa selama masa 508 tahun Daulah Abbasiyah mengalami tiga kali
pergantian penguasa. Yaitu Bani Abbas, Bani Buwaihi, dan Bani Saljuk, seperti
tersebut di bawah ini. Kenyataan itu menunjukkan bahwa masa pemerintahan
itu diwarnai oleh intrik istana maupun perebutan kekuasaan secara internal.
[7]
a. Bani Abbas (750-932 M)
1. Khalifah Abu Abbas As-Safah (750-754 M)
2. Khalifah Abu Jakfar al-Mansur (754-775 M)
3. Khalifah Al-Mahdi (775-785 M)
4. Khalifah Al-Hadi (785-786 M)
5. Khalifah Harun Al-Rasyid (786-809 M)
6. Khalifah Al-Amin (809-813 M)
7. Khalifah Al-Makmun (813-833 M)
8. Khalifah Al-Muktasim (833-842 M)
9. Khalifah Al-Wasiq (842-847 M)
10. Khalifah Al-Mutawakkil (847-861 M)
11. Khalifah Al-Muntasir (861-862 M)
12. Khalifah Al-Mustain (862-866 M)
13. Khalifah Al-Muktazz (866-869 M)
14. Khalifah Al-Muhtadi (869-870 M)
15. Khalifah Al-Muktamid (870-892 M)
16. Khalifah Al-Muktadid (892-902 M)
17. Khalifah Al-Muktafi (902-908 M)
18. Khalifah Al-Muktadir (908-932 M)
b. Bani Buwaihi (932-1075 M)
19. Khalifah Al-Kahir (932-934 M)
20. Khalifah Ar-Radi (934-940 M)
21. Khalifah Al-Mustaqi (940-944 M)
22. Khalifah Al-Muktakfi (944-946 M)
23. Khalifah Al-Mufi (946-974 M)
24. Khalifah At-Tai (974-991 M)
25. Khalifah Al-Kadir (991-1031 M)
26. Khalifah Al-Kasim (1031-1075 M)
c. Bani Saljuk (1075-1258 M)
27. Khalifah Al-Muqtadi (1075-1084 M)
28. Khalifah Al-Mustazhir (1074-1118 M)
29. Khalifah Al-Mustasid (1118-1135 M)
30. Khalifah Ar-Rasyid (1135-1136 M)
31. Khalifah Al-Mustafi (1136-1160 M)
32. Khalifah Al-Mustanjid (1160-1170 M)
33. Khalifah Al-Mustadi (1170-1180 M)
34. Khalifah An-Nasir (1180-1224 M)
35. Khalifah Az-Zahir (1224-1226 M)
36. Khalifah Al-Mustansir (1226-1242 M)
37. Khalifah Al-Muktasim (1242-1258 M)
C. Periodisasi dalam Daulah Abbasiyah
a. Periode pertama (750-847 M)
Diawali dengan tangan besi
Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa pendiri dari Daulah
Abbasiyah ini adalah Abu Abbas As-Safah. Di awal pemerintahannya untuk
mengukuhkan eksistensi kekhalifahan Daulah Abbasiyah, maka Abu Abbas
menerapkan kebijakan-kebijakan yang cukup tegas, kebijakan itu adalah
memusnahkan anggota keluarga daulah Bani Umayah, serta menggunakan
suatu agen rahasia yang berfungsi untuk mengawasi gerak dan gerik
keturunan Bani Umayah, bila perlu membunuhnya. Koordinator pelenyapan
keluarga Bani Umayah itu diserahkan kepada Abdullah pamannya Abu
Abbas.[8]
Perlakuan kejam itu tidak hanya kepada orang-orang Umayah yang
masih hidup, melainkan juga kepada mereka yang sudah meninggal, dengan
cara mengeluarkan jenazah mereka dan membakarnya. Sedangkan makam
yang tidak digali, adalah makam Muawiyah bin Abi Sufyan dan Umar bin Abdul
Aziz.[9] Sehingga akhirnya menimbulkan banyak pemberontakan, namun
pemberontakan-pemberontakan yang ada dapat dipatahkan oleh Abu Abbas.
Setelah Abu Abbas meninggal dia diganti oleh Abu Jakfar Al-Mansur (754-775
M)
Abu Jakfar Al-Mansur adalah Khalifah Daulah Abbasiyah yang dikenal
paling kejam. Namun dialah yang paling berjasa dalam mengkonsolidasikan
dinasti Abbasiyah sehingga menjadi kuat dan kokoh, dia meletakkan dasar-
dasar pemerintahan bani Abbasiyah dan tidak-segan-segan melakukan
tindakan tegas kepada pihak-pihak yang mengganggu pemerintahannya.[10]
Untuk menunjang langkah menuju masa kejayaan beberapa kebijakan
penting yang diambil oleh Al-Mansur yaitu memindahkan ibukota dari Kuffah
ke Baghdad, sebuah kota indah yang terdapat di tepi aliran sungai Tigris dan
Eufrat. Sementara itu perbaikan juga dilakukan di bidang administrasi
pemerintahan yang disusun secara baik dan pengawasan terhadap berbagai
kegiatan pemerintah diperketat. Petugas pos-pos komunikasi dan surat-
menyurat ditingkatkan fungsinya menjadi lembaga pengawas terhadap para
gubernur. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya
gerakan separatis dan pemberontakan. Tak urung gejala pemberontakan itu
memang muncul di mana-mana, misalnya beberapa daerah taklukan
melepaskan diri. Namun demikian pemberontakan-pemberontakan yang ada
dapat dipatahkan oleh Khalifah Abu Jakfar Al-Mansur. Selain itu salah satu
kebijakan Al-Mansur adalah melakukan invasi dan perluasan daerah
kekuasaan, antara lain ke wilayah Armenia, Mesisah, Andalusia dan Afrika.
Kalau dasar-dasar pemerintahan Daulah Abbasiyah ini telah diletakkan
dan dibangun oleh Abu Abbas As-Safah dan Abu Jakfar Al-Mansur, maka
puncak keemasan dinasti itu berada pada tujuh Khalifah sesudahnya. Sejak
masa Khalifah Al-Mahdi (775-785) hingga Khalifah Al-Wasiq (842-847 M).[11]
Pergeseran Kebijakan
Puncak popularitas daulah ini berada pada zaman Khalifah Harun Al-
Rasyid (786-809 M) dan putranya Al-Makmun (813-833 M). Kedua penguasa ini
lebih menekankan pada pengembangan peradaban dan kebudayaan Islam
ketimbang perluasan wilayah seperti pada masa Daulah Umayah. Orientasi
pada pembangunan peradaban dan kebudayaan ini menjadi unsur pembeda
lainnya antara dinasti Abbasiyah dan dinasti Umayah yang lebih
mementingkan perluasan daerah. Akibat kebijakan yang diambil ini, provinsi-
provinsi terpencil di pinggiran mulai terlepas dari genggaman mereka.[12]
Ada dua kecenderungan yang terjadi. Pertama, seorang pemimpin lokal
memimpin suatu pemberontakan yang berhasil menegakkan kemerdekaan
penuh seperti Daulah Umayah di Andalusia (Spanyol) dan Idrisiyah (Bani Idris)
di Marokko. Cara kedua, yaitu ketika orang yang ditunjuk menjadi gubernur
oleh Khalifah manjadi sangat kuat, seperti Daulah Aglabiah (Bani Taglib) di
Tunisia dan Tahiriyah di Khurasan.[13]
Pada zaman Al-Mahdi, perekonomian meningkat. Irigasi yang dibangun
membuat hasil pertanian berlipat ganda dibanding sebelumnya.
Pertambangan dan sumber-sumber alam bertambah dan demikian pula
perdagangan internasional ke timur dan ke barat dipergiat. Kota Basra
menjadi pelabuhan transit yang penting yang serba lengkap.[14]
Tingkat kemakmuran yang paling tinggi adalah pada zaman Harun Al-
Rasyid. Masa itu berlangsung sampai dengan masa Al-Makmun. Al-Makmun
menonjol dalam hal gerakan intelektual dan ilmu pengetahuan dengan
menerjemahkan buku-buku dari Yunani.
Kecenderungan orang-orang muslim secara sukarela sebagai anggota
milisi mengikuti perjalanan perang sudah tidak lagi terdengar. Ketentaraan
kemudian terdiri dari prajurit-prajurit Turki yang profesional. Militer Daulah
Bani Abbasiyah menjadi sangat kuat. Akibatnya, tentara itu menjadi sangat
dominan sehingga Khalifah berikutnya sangat dipengaruhi atau menjadi
boneka mereka.
Sebagai respon dari kenyataan tersebut Khalifah Al-Wasiq (842-847 M)
mencoba melepaskan diri dari dominasi tentara Turki tersebut dengan
memindahkan ibukota ke Samarra, tetapi usaha itu tidak berhasil mengurangi
dominasi tentara Turki.
Salah satu faktor penting yang merupakan penyebab Daulah
Abbasiyah pada periode pertama ini berhasil mencapai masa keemasan ialah
terjadinya asimilasi dalam Daulah Abbasiyah ini. Berpartisipasinya unsur-unsur
non Arab, terutama bangsa Persia, dalam pembinaan peradaban Baitul
Hikmah dan Darul Hikmah yang didirikan oleh Khalifah Harun Al-Rasyid dan
mencapai puncaknya pada masa Khalifah Al-Makmun.
Pada masa itu perpustakaan-perpustakaan tampaknya lebih
menyerupai sebuah universitas ketimbang sebuah taman bacaan. Orang-
orang datang ke perpustakaan itu untuk membaca, menulis, dan berdiskusi. Di
samping itu, perpustakaan ini juga berfungsi sebagai pusat penerjemahan.
Tercatat kegiatan yang paling menonjol adalah terhadap buku-buku
kedokteran, filsafat, matematika, kimia, astronomi dan ilmu alam. Di masa-
masa berikutnya para ilmuwan Islam bahkan mampu mengembangkan dan
melakukan inovasi dan penemuan sendiri. Di sinilah letak sumbangan Islam
terhadap ilmu dan peradaban dunia.
Zaman Keemasan
Kekhalifahan Bani Abbas biasa dikaitkan dengan Khalifah Harun Al-
Rasyid, yang digambarkan sebagai Khalifah yang paling terkenal dalam zaman
keemasan kekhalifahan Bani Abbasiyah. Dalam memerintah Khalifah
digambarkan sangat bijaksana, yang selalu didampingi oleh penasihatnya,
Abu Nawas, seorang penyair yang kocak, yang sebenarnya adalah seorang
ahli hikmah atau filsuf etika. Zaman keemasan itu digambarkan dalam kisah
1001 malam sebagai negeri penuh keajaiban.
Sebenarnya zaman keemasan Bani Abbasiyah telah dimulai sejak
pemerintahan pengganti Khalifah Abu Jakfar Al-Mansur yaitu pada masa
Khalifah Al-Mahdi (775-785 M) dan mencapai puncaknya di masa
pemerintahan Khalifah Harun Al-Rasyid.
Di masa-masa itu para Khalifah mengembangkan berbagai jenis
kesenian, terutama kesusasteraan pada khususnya dan kebudayaan pada
umumnya. Berbagai buku bermutu diterjemahkan dari peradaban India
maupun Yunani. Dari India misalnya, berhasil diterjemahkan buku-buku Kalilah
dan Dimnah maupun berbagai cerita Fabel yang bersifat anonim. Berbagai
dalil dan dasar matematika juga diperoleh dari terjemahan yang berasal dari
India. Selain itu juga diterjemahkan buku-buku filsafat dari Yunani, terutama
filsafat etika dan logika. Salah satu akibatnya adalah berkembangnya aliran
pemikiran muktazilah yang amat mengandalkan kemampuan rasio dan logika
dalam dunia Islam. Sedangkan dari sastera Persia terjemahan dilakukan oleh
Ibnu Mukaffa, yang meninggal pada tahun 750 M. Pada masa itu juga hidup
budayawan dan sastrawan masyhur seperti Abu Tammam (meninggal 845 M),
Al-Jahiz (meninggal 869 M), Abul Faraj (meninggal 967 M) dan beberapa
sastrawan besar lainnya.[15]
Kemajuan ilmu pengetahuan bukan hanya pada bidang sastra dan seni
saja juga berkembang , meminjam istilah Ibnu Rusyd, Ilmu-ilmu Naqli dan Ilmu
Aqli. Ilmu-ilmu Naqli seperti Tafsir, Teologi, Hadis, Fiqih, Ushul Fiqh dan lain-
lain. Dan juga berkembang ilmu-ilmu Aqli seperti Astronomi, Matematika,
Kimia, Bahasa, Sejarah, Ilmu Alam, Geografi, Kedokteran dan lain sebagainya.
Perkembangan ini memunculkan tokoh-tokoh besar dalam sejarah ilmu
pengetahuan, dalam ilmu bahasa muncul antara lain Ibnu Malik At-Thai
seorang pengarang buku nahwu yang sangat terkenal Alfiyah Ibnu malik,
dalam bidang sejarah muncul sejarawan besar Ibnu Khaldun serta tokoh-tokoh
besar lainnya yang memiliki pengaruh yang besar bagi perkembangan ilmu
pengetahuan selanjutnya.
b. Periode kedua (847-945 M)[16]
Kebijakan Khalifah Al-Muktasim (833-842 M) untuk memilih unsur-unsur
Turki dalam ketentaraan Kekhalifahan Daulah Abbasiyah terutama dilatar
belakangi oleh adanya persaingan antara golongan Arab dan Persia pada
masa Al-Makmun dan sebelumnya. Di masa Al-Muktasim (833-842 M) dan
Khalifah sesudahnya Al-Wasiq (842-847 M), mereka mampu mengendalikan
unsur-unsur Turki tersebut. Akan tetapi, Khalifah Al-Mutawakkil (847-861 M)
yang merupakan awal dari periode ini adalah seorang Khalifah yang lemah.
Pada masanya orang-orang Turki dapat merebut kekuasaan dengan cepat
setelah Al-Mutawakkil wafat. Mereka telah memilih dan mengangkat Khalifah
sesuai kehendak mereka. Dengan demikian Bani Abbasiyah tidak lagi
mempunyai kekuatan dan kekuasaan, meskipun resminya mereka adalah
penguasa. Usaha untuk melepaskan dari dominasi Turki selalu mengalami
kegagalan. Pada tahun 892 M, Baghdad kembali menjadi Ibukota. Sementara
kehidupan intelektual terus berkembang.
Akibat adanya persaingan internal di kalangan tentara Turki, mereka
memang mulai melemah. Mulailah Khalifah Ar-Radi menyerahkan kekuasaan
kepada Muhammad bin Raiq, Gubernur wasit dari Basra. Di samping itu,
Khalifah memberinya gelar Amirul Umara (Panglima para panglima). Meskipun
demikian, keadaan Bani Abbas tidak menjadi lebih baik. Dari dua belas
Khalifah pada periode ini, hanya empat orang yang wafat dengan wajar,
selebihnya, kalau tidak dibunuh, mereka digulingkan dengan paksa.
Pemberontakan masih bermunculan pada periode ini, seperti
pemberontakan Zanj di dataran rendah Irak Selatan dan pemberontakan
Karamitah yang berpusat di Bahrain. Namun bukan itu semua yang
menghambat upaya mewujudkan kesatuan politik Daulah Abbasiyah. Faktor-
faktor penting yang menyebabkan kemunduran Bani Abbas pada periode ini
adalah sebagai berikut, pertama, luasnya wilayah kekuasaan Daulah
Abbasiyyah yang harus dikendalikan, sementara komunikasi lambat.
Berbarengan dengan itu kadar saling percaya di kalangan para penguasa dan
pelaksana pemerintahan sangat rendah, Yang kedua, profesionalisasi tentara
menyebabkan ketergantungan kepada mereka menjadi sangat tinggi. Ketiga,
kesulitan keuangan karena beban pembiayaan tentara sangat besar. Setelah
kekuatan militer merosot, Khalifah tidak sanggup lagi memaksa pengiriman
pajak ke Baghdad.
c. Periode Ketiga (945-1055 M)
Posisi Daulah Abbasiyah yang berada di bawah kekuasaan Bani Buwaihi
merupakan ciri utama dari periode ketiga ini. Keadaan Khalifah lebih buruk
ketimbang di masa sebelumnya, lebih-lebih karena Bani Buwaihi menganut
aliran Syiah. Akibatnya kedudukan Khalifah tidak lebih sebagai pegawai yang
diperintah dan diberi gaji. Sementara itu Bani Buwaihi telah membagi
kekuasaannya kepada tiga bersaudara. Ali menguasai wilayah bagian selatan
negeri Persia, Hasan menguasai wilayah bagian utara, dan Ahmad menguasai
wilayah Al-Ahwaz, Wasit dan Baghdad. Dengan demikian Baghdad pada
periode ini tidak lagi menjadi pusat pemerintahan Islam, karena telah dipindah
ke Syiraz di mana berkuasa Ali bin Buwaihi yang memiliki kekuasaan Bani
Buwaihi.
Dalam bidang ilmu pengetahuan, Daulah Abbasiyah masih terus
mengalami kemajuan pada periode ini. Pada masa inilah muncul pemikir-
pemikir besar seperti Al-Farabi (870-950 M), Ibnu Sina (980-1037 M), Al-Biruni
(973-1048 M), Ibnu Misykawaih (930-1030 M) dan kelompok studi Ikhwan As-
Safa. Bidang ekonomi, pertanian, dan perdagangan juga mengalami
kemajuan. Kemajuan itu juga diikuti dengan pembangunan kanal, mesjid dan
rumah sakit. Patut dicatat pula bahwa selama masa Bani Buwaihi berkuasa di
Baghdad, telah terjadi beberapa kali bentrokan sosial aliran ahlu sunnah dan
syiah, dan pemberontakan tentara.
d. Periode Keempat (1055-1199 M)
Periode keempat ini ditandai dengan berkuasanya Bani Saljuk dalam
Daulah Abbasiyah. Kehadiran Bani Saljuk ini adalah atas ’’undangan’’ Khalifah
untuk melumpuhkan kekuatan Bani Buwaihi di baghdad. Keadaan Khalifah
sudah mulai membaik, paling tidak kewibawaannya dalam bidang agama
sudah kembali setelah beberapa lama dikuasai orang-orang Syiah.
Seperti halnya pada periode sebelumnya, ilmu pengetahuan juga
berkembang dalam periode ini. Nizam Al-Mulk, Perdana Menteri pada masa
Alp Arselan dan Maliksyah, mendirikan Madrasah Nizamiyah (1067 M) dan
Madrasah Hanafiyah di Baghdad. Cabang-cabang Madrasah Nizamiyah
didirikan hampir di setiap kota di Irak dan Khurasan. Madrasah ini menjadi
model bagi perguruan tinggi di kemudian hari. Madrasah ini telah melahirkan
banyak cendikiawan dalam berbagai disiplin ilmu. Misalnya yang dilahirkan
dalam periode ini adalah Az-Zamakhsari, penulis dalam bidang Tafsir dan Usul
ad-dien (Teologi), Al-Ghazali dalam bidang ilmu kalam dan tasawuf, dan Umar
Khayyam dalam bidang ilmu perbintangan. Dalam bidang politik, pusat
kekuasaan juga tidak terletak di kota Baghdad. Mereka membagi wilayah
kekuasaan menjadi beberapa provinsi dengan seorang gubernur untuk
mengepalai masing-masing provinsi. Pada masa pusa kekuasaan melemah,
masing-masing provinsi memerdekakan diri. Konflik-konflik dan peperangan
yang terjadi di antara mereka melemahkan mereka sendiri, dan sedikrit demi
sedikit kekuasaan politik Khalifah menguat kembali, terutama untuk negeri
Irak. Kekuasaan mereka berakhir di Irak di tangan Khawarizmisyah pada tahun
1199 M.
e. Periode Kelima (1199-1258 M)
Telah terjadi perubahan besar-besaran dalam kekhalifahan Daulah
Abbasiyah dalam periode kelima ini. Pada periode ini, Khalifah Abbasiyah tidak
lagi berada di bawah dinasti tertentu. Mereka merdeka dan berkuasa tetapi
hanya di baghdad dan sekitarnya. Sempitnya wilayah kekuasaan Khalifah
menunjukkan kelemahan politiknya. Pada masa inilah datang tentara Mongol
dan Tartar menghancurkan Baghdad tanpa perlawanan pada tahun 1258 M.
Faktor-faktor yang membuat Daulah Abbasiyah menjadi lemah dan
kemudian hancur dapat dikelompokkan menjadi dua faktor yaitu faktor intern
dan faktor ekstern. Di antara faktor-faktor intern adalah, pertama, adanya
persaingan tidak sehat di antara beberapa bangsa yang terhimpun dalam
Daulah Abbasiyah, terutama Arab, Persia dan Turki. Kedua, terjadinya
perselisihan pendapat di antara kelompok pemikiran agama yang ada, yang
berkembang menjadi pertumpahan darah. Ketiga, munculnya dinasti-dinasti
kecil sebagai akibat perpecahan sosial yang berkepanjangan. Keempat,
terjadinya kemerosotan tingkat perekonomian sebagai akibat dari bentrokan
politik.
Sedangkan faktor-faktor ekstern yang terjadi adalah, pertama,
berlangsungnya perang salib yang berkepanjangan dalam beberapa
gelombang. Dan yang paling menentukan adalah faktor kedua yaitu, adanya
serbuan tentara Mongol dan Tartar yang dipimpin oleh Hulagu Khan, yang
berhasil menjarah semua pusat-pusat kekuasaan maupun pusat ilmu, yaitu
perpustakaan di Baghdad.
Kekejaman Bangsa Mongol[17]
Khalifah Al-Muktasim, Khalifah Daulah Abbasiyah yang paling akhir,
beserta seluruh putra-putranya dan semua pembesar-pembesar kota Baghdad
mati dibunuh semuanya oleh tentara Mongol. Sebagian besar penduduk kota
itu disembelih laksana binatang saja. Sesudah itu mereka merampas harta
benda penduduk dan melakukan perbuatan-perbuatan kejam dab ganasnya
tiada terperikan. Sekalian isi istana dan perbendaharaan negara mereka
rampas semuanya. Istana dan gedung-gedung yang indah, madrasah dan
mesjid-mesjid yang mengagumkan mereka rusak. Buku-buku pengetahuan
yang tak ternilai harganya, mereka lemparkan ke dalam sungai Tigris
sehingga hitam lantaran tinta yang luntur. Mereka membakar di sana-sini
sehingga api mengamuk di seluruh kota. Peristiwa kekejaman ini berlaku
sampai 40 hari lamanya. Di atas bumi kota Baghdad, tak ada lagi yang
kelihatan, selain dari tumpukan bara hitam yang masih berasap.
Daulah Abbasiyah Lenyap
Dengan kematian Al-Muktasim lenyaplah Daulah Abbasiyah dari bumi
ini, berkubur dalam bumi kota Baghdad yang telah hangus di bawah runtuhan
gedung-gedung dan istana.
Dalam masa lima abad lamanya, yakni sejak dari Abu Abbas As-Safah
memerintah pada 750 M sampai hari mangkatnya Al-Muktasim pada 1258 M,
telah ada 37 orang Khalifah menduduki singgasana Daulah Abbasiyah.
Penutup
Masa Daulah Abbasiyah adalah masa keemasan Islam, Pada masa ini
kedaulatan umat Islam telah sampai ke puncak kemuliaan, baik kekayaan,
kemajuan ataupun kekuasaan. Pada zaman ini telah lahir berbagai ilmu Islam
dan berbagai ilmu penting telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Selain
itu sumbangan umat Islam bagi peradaban dunia juga dihasilkan oleh para
cendikiawan-cendikiawan besar yang hidup di masa Daulah Abbasiyah ini.
Namun ada pelajaran penting yang dapat kita petik dari perjalanan panjang
Daulah Abbasiyah yang selama berabad-abad menguasai dunia yakni agar
umat Islam jangan terlena dengan kekuasaan dunia, karena keterlenaan dan
hidup bermegah-megah menyebabkan kita jauh dari ajaran Allah SWT. Hal
juga merupakan pemicu bagi umat Islam untuk kembali bangkit merebut
kejayaan Islam yang pernah dirasakan pada masa Daulah Abbasiyah