Anda di halaman 1dari 7

Lagu Cinta

Dua minggu yang lalu, entah untuk yang keberapa kalinya Wni mengatakan padaku bahwa dia bertemu Wike berboncengan dengan Rudi. Sebenarnya akhirakhir ini aku hampir percaya dengan gosip kawan-kawanku. Tetapi rasanya aku belum yakin kalau hal itu benar-benar terjadi. Masak Irwin tidak tahu, Wen, gerutuku. Mana bisa tahu kalau Irwin sibuk terus? Hari ini rapat senat, besok pertandingan sepak bola, malam minggu ngumpul dengan temen-temen motornya. Ya, kukira lebih baik kau katakana saja padanya bahwa seharusnya dia lebih banyak memperhatikan pacarnya, kata Weni tajam. Bagaimanapun aku maklum, kami bertiga bersahabat akrab. Dan tidak satu pun dari kami yang dapat berdiam diri melihat salah satu diantara kami terancam persoalan pelik. Dulu ketika aku bertengkar hebat dengan Hadi, Irwin hampir tidak bisa tinggal diam. Untunglah aku segera mencegahnya, sehingga tidak sampai terjadi baku hantam. Ta, kalau belum melihat sendiri kau tentu tidak akan percaya. Oho, jangan kau katakana bahwa mereka bersahabat! Mana ada sahabat semesra itu, sedangkan salah satunya sudah sudah punya pacar? Sungguh mati, aku curiga! Kata Weni lagi. Bagaimana kalau ternyata mereka bersaudara? gumamku. Tak kusangka Weni terbelalak. Aku tahu seluruh keluargga Wike, Ta. Cuma saja kami memang tidak akrab. Kalau akrab sih sudah kutegur dari dulu, jawabnya. Aku terdiam. Bayangan Irwin melintas. Sebenarnya dia gagah dan tampan. Hanya saja dia sering tidak memperhatikan penampilannya. Rambutnya yang ikal, selalu dipanjangkan, Ta, dengarlah, engkau lebih dekat dengan Irwin daripada aku. Cobalah kau dekati dia, apakah benar-benar tidak tahu penghianatan ini, kata Weni kembali mengusikku. Penghianatan? Jangan terlalu kejam dong menuduh. Hmm Wen, apakah kalau dia kuingatkan nanti dia tidak menuduhku yang bukan-bukan? Misalnya Misalnya kau dikira iri, begitu? Jelaskan dengan dewasa dong, dia pasti mengerti. Kau kira mudah, neng? Sudahlah, biar mereka selesaikan sendiri persoalan ini. Ini Toh persoalan pribadi. Kau tahu, kan? Dari dulu Irwin juga tidak pernah membicarakan Wike kepada kita. Bukankah ini gejala untuk menutup persoalannya? Tapi,Ta. Dia sahabat kita. Apakah kau tega?! teriak Weni. Tidak. Tapi lebih baik biarkan dulu. Kau jahat. Bukankah dulu kau yang mendesak Irwin untuk menanggapi isyarat cinta Wike? Nah, sekarang kau yang sedikit banyak ikut menanggung resiko. Dulu Irwin tak mau, tapi kau memaksanya. Kata Weni berang. Aku terhenyak. Tuhan, aku tak bermaksud menjerumuskan Irwin. Sama sekali tidak. Dulu aku begitu yakin pada pendapatku, bahwa sikap acuh tak acuhnya itu adalah karena tidak ada orang khusus yang memperhatikan dirinya. Dan aku merasa gembira ketika akhirnya Irwin mau menanggapi Wike. Bajunya tidak lagi lusuh, rambutnya sering terlihat rapi, jeans-nya yang belel jarang dipaki kuliah, dan sepatunya yang jebol itu telah diganti. Ta, kau dengar kata-kataku? Weni menekan bahuku. Aku mengangguk lesu.

Kau mau mengatakan hal ini padanya, bukan? katanya memohon. Kutatap matanya yang bundar dan jujur. Tetapi bagaimanapun aku tidak bisa memenuhi permintaannya. Tidak Wen, bagaimanapun kita telah sama-sama dewasa. Jangan kita kaburkan arti persahabatan dengan mencampuri masalah pribadi. Aku tak mau. Dulu, memang aku yang mendesaknya untuk mau pacaran dengan Wike. Tapi, setelah itu toh mereka sendiri yang tahu persoalannya. Bukan aku! Dalam hal ini, aku berada di luar garis! Jadi kau tega? tanyanya berang. Sudah kukatakan, tidak. Aku, kau dan dia bersahabat erat. Tetapi masalah ini bagiku peka, Wen, jawabku. Weni mengatupkan bibir. Aku tahu dia marah karena tidak sependapat denganku. Kalau bisa, ingin rasanya aku mengatakan hal ini pada Irwin. Kenapa tidak? pancingku. Aku pernah punya persoalan dengan Wike ketika di SMA, dan Irwin tahu itu. Aku tak ingin kata-kataku dianggapnya sebagai rasa sentiment, katanya sambil meninggalkan kamarku. ***

Aku menarik nafas panjang, sambil mengenang kami bertiga ketika berada di pantai. Begitu indah dan mengagumkan. Terutama sosok kekar diantara aku dan Weni. Sosok Irwin. Tetapi, entah kenapa sosok yang kukagumi itu akhir-akhir ini lebih sering menampakkan sinar mata dingin dan aneh. Kalau pun perasaanku benar, kelihatannya dia sedang tidak enak hati. Entah karena apa. Aku tersentak dari lamunan panjangku, ketika terdengar suitan keras. Suara yang melengking tinggi itu Cuma biasa keluar dari mulut Gara, si tukang ribut. Masyaallah, dari tadi belum selesai melamun, Ta? sapanya. Aku mencibir, dan menjawabnya dengan senyum. Ketika kami hendak ke muara kau sudah nongkrong di sini, sekarang kami balik ke base camp kau masih disini. Tunggu siapa, sih?! Menunggu kalian selesai berendam, Tuan-tuan, gurauku. Andri dan Yogy tertawa. Cuma Gara yang tidak peduli. Nah sekarang kita kembali, yok. Hampir waktu makan siang, ajaknya sambil mengamit tanganku. Kalian saja dulu. Aku suka disini, anginnya enak buat cari inspirasi, kataku. Mereka serentak terbahak. Calon seniman urung, kasihan. Yok, aku duluan! kata Yogy sambil meninggalkanku. Kutatap punggung mereka yang basah sehabis berenang di muara sungai, hingga hilang di kelokan jalan setapak. Aku kembali sendiri, menikmati kesendirianku. Hai! Siapakah yang berdiri di ujung sana? Seperti Irwin. Ya, tidak salah lagi! Tetapi kenapa di sini? Bukankah hari ini dia harus melatih turun tebing para anggota baru? Ah, mungkin dia agak sakit. Sejak berangkat kemarin ku lihat dia lebih banyak diam daripada meladeni olok-olok dan gurauan teman-temanya.

Pelan-pelan aku bangkit dari tempat dudukku. Kukebas celana panjangku dari pasir yang menempel. Aku ingin menemuinya. Ya, aku tidak bisa tinggal diam melihat wajahnya yang murung. Biarlah dia tahu kalau aku tidak membiarkannya begitu saja walaupun dia telah punya seseorang yang lebih memperhatikannya. Dengan berjingkat-jingkat menghindari pasir panas di sepanjang pantai. Syukurlah kangkung laut ini tumbuh lebat, hingga dapat di pakai sebagai pijakan menghindari panas. Win! sapaku dari bawah. Pos pengamatan itu dibangun satu meter di atas tanah. Fungsinya untuk mengamati babi hutan yang bila malam tiba sering keluyuran ke pantai mencari telur-telur penyu. Irwin menatapku tajam. Wajahnya murung dan tatapan matanya kosong. Ketika aku naik, kulihat lantai papan yang cuma berukuran empat kali empat meter itu penuh dengan puntung rokok. Aku hendak menegurnya ketika dia berkata dengan suara yang dingin dan parau. Jangan bicara tentang rokok untuk kali ini, Nona Bawel. Aku tidak butuh advismu! Kau begadang semaleman di sini, Win? tanyaku seolah tak peduli dengan ucapannya. Irwin menatapku, selintas kurasakan kegelisahan di dalam matanya. Melihat penyu naik ke darat dan menunggu babi hutan. Jawabnya. Aku tersenyum, berusaha mengembalikan suasana akrab. Apakah aku harus mendengar dustamu ini? Apa, sesungguhnya yang terjadi? Kau tidak melatih mereka turun tebing sekarang? Kembali kutatap kegelisahannya. Lalu mata itu memandang jauh ke laut lepas. Kosong dan putus asa. Win, kau sakit? desakku. Dia masih diam tanpa mengalihkan pandangannya. Atau kau sedang punya persoalan? Katakanlah barangkali aku bisa membantumu, kataku lagi. Kulihat Irwin menggigit bibirnya sebentar, lalu menggeleng. Aku tidak sakit, tapi aku minta pada Leo untuk mengundur jadwal latihanku besok. Kenapa? desakku. Irwin kembali menatapku. Mungkin dia marah karena kudesak terus-menerus. Tetapi justru aku ingin tahu persoalannya. Pada prinsipku, sejauh belum mengarah ke urusan pribadi aku berhak tahu. Karena bukankah Irwin sahabat dekatku? Terlalu pribadi, Win? gumamku. Irwin mengeluh. Sudahlah, tak apa-apa. Tapi sungguh mati, aku tak bermaksud jelek padamu. Aku hanya risi melihatmu murung sejak berangkat kemarin, kataku akhirnya. Bagaimapun juga akhirnya tidak enak mendesaknya terus-menerus. Sesaat kami samasama diam. Dan tiba-tiba aku merasakan bahwa pastilah dia amat terganggu oleh kedatanganku. Ya, sebaiknya aku lekas pergi saja. Tanpa bicara lagi aku beringsut kea rah tangga. Tetapi ketika mencapai anak tangga kedua dari atas, tiba-tiba dia mencegahku. Sejenak kau ragu-ragu. Tapi aku segera berbalik. Ta, katanya pelan. Aku mencoba bersabar menunggu perkataan selanjutnya. Kami putus, katanya kemudian. Aku terbelalak kaget. Apa?! Putus dengan Wike? tanyaku tak percaya. Wajah Weni melintas di depanku. Mungkinkah ada hubungannya dengan apa yang di ceritakannya.

Masalahnya? tanyaku tertahan. Aku tahu ini masalah yang pribadi. Tapi apa salahnya kalau Irwin mau sedikit mengatakan padaku. Aku ingin membantunya. Mungkin perkataan Weni benar, sedikit banyak aku harus ikut menanggung resikonya. Gadis yang kau katakana lembut, keibuan, dan lemah gemulai itu ternyata omong kosong! Hampir selusin kali aku memergokinya berdua dengan Rudy, drummer kita itu, jawabnya kasar. Ada nada menuduh dalam suaranya. O, Tuhan, apakah dia marah kepadaku? Penghianat, gumamnya. Aku jadi terhina. Aku merasa bahwa penderitaannya kali ini karena ulahku. Ya, ulahku. Tetapi Mungkin kau kurang perhatian padanya. Atau kau tidak bisa mengimbangi kelembutannya? kataku berusaha memperkuat argumentasiku dulu. Irwin tertawa mengejek. Sejak lahir aku punya sifat begini. Dan, ini sudah kukatakan padamu dulu, bahwa orang seperti Wike tidak mungkin bisa menerima sifat-sifatku. Aku kasar, tidak suka menyanjung, apalagi merayu. Padahal orang seperti Wike tidak akan bisa hidup tanpa kata-kata manis! katanya menyakitkan telinga. Tapi kau terus mendesakku. Katamu sifat kasar dan lembut bisa bersatu padu dengan manis asal masing-masing bisa mengisi dan mengerti. Nah, aku sudah mencoba. Tapi hasilnya nol besar, Nona. Aku tak bisa mengimbangi sifatnya yang manja setengah mati itu. Aku tak suka! Tapi kenapa kau teruskan. Kau toh bisa menilai arti kata-kataku, jawabku membela diri. Sekali lagi Irwin tersenyum sinis. Biar kau puas. Kau pikir aku tak risi mendengar kotbahmu tiap hari, he? Dan sekarang, kuharap kau tidak mencampuri urusanku lagi! katanya sambil hendak beranjak. Aku gemetar geram. Kurasakan jantungku berdegup kencang. O, Tuhan, sejauh itukah hukuman atas ulahku yang kuperbuat? Irwin akan membenciku selamanya? Win, kau menyalahkan aku? Kau marah padaku? tanyaku sesak. Irwin menoleh padaku. Matanya yang dingin menampar mukaku. Tidak Cuma marah, Non. Juga terhina. Kau puas bukan?! Win! teriakku. Seketika mataku basah. Irwin berlalu cepat melintasi hamparan kangkung laut. Kau tidak dewasa Win! Seharusnya kau menunjukkan kesalahanku ketika itu! teriakku lagi. Irwin terus berlalu, emnikung di jalan setapak, lalu menghilang di batas hutan pantai. Aku tertunduk lesu. Irwin. Inilah akhir persahabatan kita? O, mata itu alangkah menakutkan. Kelam merah. Perpaduan antara marah dan capai karena kurang tidur. Ah, seandainya aku menuruti kata-kata Weni dulu, seandainya aku mengingatkan Irwin jauh sebelum hal ini berlangsung, pasti persoalannya tidak serunyam ini. Oh, Tuhan, apakah aku harus melupakan tatap matanya dulu yang begitu hangat bersahabat? Apakah kau harus melupakan jalinan persahabatan manis di antara kami? *** Arena api unggun menjadi riuh. Pesta ikan baker benar-benar membuat meriah suasana. Gania duduk diam-diam disampingku.

Lihat, Gara hampir menghabiskan enam ekor, katanya. O, rupanya diam-diam dia menghitung jatah makan teman-teman. Enak sekali, Gan. Kau tidak ingin? Nih, tiga ekor sudah tersimpan disini, gurauku sambil menunjuk ke perutku. Gania memonyongkan bibirnya. Kalau alergi ini tidak menggerogoti kulitku, sekeranjang pun rasanya akan kuhabiskan, keluhnya. Kasihan, dia alergi ikan laut. Kulitnya yang halus ini akan segera jadi merah berbintik-bintik kalau kena secuil ikan laut yang paling lezat sekalipun. Tiba-tiba mataku menangkap bayangan tubuh yang mendekati api unggun. Irwin. Entah darimana saja dia, sejak tadi baru kelihatan. Hh, sebenarnya hatiku sakit sekali menerima perlakuannya kemarin. Tetapi bagaimanapun juga ini harus aku terima. Aku memang bersalah. Ya, itu baru kusadari sekarang. Hee, itu Irwin. Dari mana saja dia seharian? Masak kawan-kawannya mencari ikan, dia tidak ada, Gania berseloroh. Kau suka cowok macam dia, Ta? tanyanya tiba-tiba. Aku tertegun. Tetapi sebelum aku menjawab Gania sudah melanjutkan bicaranya. Acuh tak acuh, urakan, kasar, tapi baik hati. Aku cuma mendengus. Ganis tersenyum. Entah untuk apa dia berkata demikian. Bagiku, hal itu Cuma mengaduk-aduk rasa aneh di hatiku saja. Bukan tipe perayu, tapi amat menarik, lanjutnya. Aku hendak mengejek pendapatnya yang terlalu romantis, ketika kulihat Rusdi menunjukkan jarinya ke arahku diikuti pandangan Irwin. Dan aku segera tahu apa artinya. Gan, aku ambil gitar dulu ya? kataku pada Gania. Tanpa curiga dia mengangguk. Dengan tergesa-gesa aku pergi. Tetapi, rupanya Irwin tahu maksudku. Belum lagi aku sampai kedalam tenda khusus untuk cewek, tangannya yang kekar itu telah menarikku. Aku ingin bicara denganmu, katanya. Aku tak peduli. Kukira dengan sikapku yang melawan, dia akan melepaskan tanganku. Tapi dugaanku keliru. Dengan paksa ditariknya tanganku menjauhi tenda. Kau tidak ingin marah padaku?! bentaknya. Satu pertanyaan yang lucu sekali. Tidak ada yang harus di bicarakan,Win. Aku tak akan mencampuri urusanmu. Kau sendiri yang telah mengakhiri segalanya. Ha?! Mengakhiri segalanya? Bicaramu ngawur! katanya terbahak. Aku diam mengatur perasaan aneh yang tiba-tiba merambati dadaku. Seharusnya aku sudah harus mulai membunuh perasaan aneh itu. Kulihat Irwin mengeluarkan rokok dari saku jaketnya dan beberapa detik kemudian asap yang memuakkan itu keluar dari bibirnya. Kau tidak ingin melarangku merokok? tanyanya. Tidak. Kenapa. Bukan urusanku! Walaupun aku menghabiskan satu pak dalam seketika? Aku tidak berhak melarangmu. Tidak berhak memperhatikanmu. Hiduplah sendiri. Kau toh tahu sendiri, kalau kau akan segera out gara-gara rokokmu itu. Nah, apa urusanku? jawabku. Irwin menatapku tajam-tajam. Kalau mau jujur, sebenarnya aku banyak menyukai sifat-sifatnya.

Kau tidak akan merasa kehilangan kalau seandainya aku mati? tanyanya tibatiba. Aku kaget. Tapi sekuat hati aku tidak ingin menanggapi kekonyolannya. Katakan! desaknya. Aku jadi jengkel. Rasa kehilangan tentu ada, Win. Bukankah kita juga merasa kehilangan ketika Pak Dono tukang tambal ban di samping kampus kita meninggal? jawabku. Irwin termangu. Kepalanya menggeleng lemah. Cuma sebatas itu? tanyanya pelan, hampir tak percaya. Lalu? Aku dank au bersahabat. Begitu juga kau dan Pak Dono. Apa bedanya? ejekku. Sekali lagi Irwin mengeluh. Aku mencintaimu, katanya pelan. Aku terhenyak dari tempatku berdiri. Hampir pingsan rasanya ketika aku mendengar suaranya yang gemetar. Sejak dulu. Tapi aku tidak tahu harus dengan cara bagaimana mengatakan padamu. Kau terlalu sibuk dengan dirimu sendiri. Lebih-lebih lagi dengan paksaan gilamu itu, katanya. Sebentar Irwin berhenti menunggu reaksiku. Tapi ketika tahu aku hanya diam, dia segera melanjutkan bicaranya. Sebenarnya kau yang harus peka menangkap isyarat cintaku, Ta. Bukan aku yang harus kau paksa untuk peka menangkap isyarat cinta Wike. Kita lebih dekat, sedangkan aku dan Wike tidak. Isyarat cinta terkadang menjebak kita jadi salah sangka. Kau harus tahu itu, Win, kataku. Itu karena kau kurang arif. Astaga?! Apakah kau kira aku bodoh? Cuma soal cinta kau katakana aku kurang arif? Kau juga harus mengaca, dong. Apakah yang kau dapat dari Wike adalah karena kau yang tidak bisa arif bertindak, teriakku jengkel. Dengan gugup Irwin berusaha membuatku tenang. Bukan tidak bisa, Ta. Tapi aku tidak mau. Aku tidak menyukainya. Titik! bentaknya mengatasi keberanganku. Aku mendengus gelisah. Sebentar kutegakkan krah jaketku. Pasti hampir tengah malam. Udara begini dingin dan kering angina laut jelas terasa. Ah. Gania pasti telah lama menungguku di tepi api unggun yang hangat di sana. Dia paling suka menyanyikan lagu-lagu sendu di malam-malam begini. Aku memang tidak bisa berharap padamu, Ta. Tetapi aku sudah berusaha bicara jujur, keluh Irwin pelan. Mungkin dia merasakan kegelisahanku. Sejenak suasana kembali sunyi. Debur ombak terdengar menghempas-hempas karang, dan itulah yang cuma terdengar. Diam-diam Irwin merogoh kantong jaketnya. Pasti rokok lagi. Apakah kau tidak bisa mengurangi kebiasaan burukmu itu? tanyaku ketika dia hendak menyalakan rokoknya. Aku benar-benar tidak suka orang-orang yang kusayangi mati muda atau penyakitan karena nikotinjahat itu. Kakak laki-lakiku dulu begitu kecanduan tetapi kini dia sudah mau menguranginya. Yah, dulu Dion tidak beda dengan Irwin begini. Kau dengar aku, Win, ulangku, ketika dia mulai menyulutkan apinya. Sejenak ditatapnya mataku. Bukan urusanmu,Nona manis. Sekarang tidak ada lagi yang akan melarangku, bukan? oloknya. Aku jadi jengkel sekali. Dengan gusar aku beranjak.

Oke, terserah. Yang pasti, aku tidak ingin punya pacar yang jadi budak rokok, kataku sambil bergegas pergi. Serentak Irwin bangkit merengkuh bahuku. Kau bicara serius, Ta? tanyanya ragu-ragu. Matanya teduh mencari kepastian. Aku jadi terharu. Perasaan yang lama kupendam dalam-dalam, pelan-pelan timbul kembali. Seperti terkuak dari timbunan debu tebal. Ketika aku mengangguk, dia menggenggam tanganku erat-erat, hangat dan menggetarkan. Rasanya aku bahagia sekali. Dulu aku berusaha mencarinya pada Wike? Tapi sia-sia, gumamnya. Aku tersenyum dan mengajaknya terus melangkah. Kenapa kau paksa aku pacaran dengan Wike? bisiknya, begitu dekat di telingaku. Aku tidak suka melihatmu acak-acakan. Dan di sisi lain aku ingin membunuh perasaanku. Perasaan cengeng yang harus kuhilangkan demi persahabatan kita, jawabku. Irwin berhenti, menatapku tak percaya. Kutekan tangannya, agar terus melangkah. Gania telah memanggil-manggil dengan teriakannya yang manja. Malam turun semakin pekat. Di sela dentingan gitar terdengar suara lembut Gania menyanyikan lagu Cinta. Lagu kesukaannya, yang sekarang tiba-tiba saja jadi kusukai juga. .di pantai langkah cintaku mengabur ditabur bayangan cita, di lereng bukit utara, adakah kan bersatu lestari o, cinta o, cinta