Anda di halaman 1dari 12

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Aktiva tetap memiliki karakteristik yang berbeda dengan karakteristik aktiva lancar, yang berdampak terhadap pengujian substantif atas aktiva tetap. Frekuensi transaksi yang menyangkut aktiva tetap relatif sedikit maka jumlah waktu yang dikonsumsi untuk pengujian substantif atas aktiva tetap relatif lebih sedikit bila dibandingkan dengan waktu yang digunakan untuk pengujian substantif atas aktiva lancar. Karena ketepatan pisah batas transaksi yang bersangkutan dengan aktiva tetap sedikit pengaruhnya terhadap perhitungan rugi-laba maka auditor tidak mengarahkan perhatiannya terhadap masalah ketelitian pisah batas transaksi yang bersangkutan dengan aktiva tetap pada akhir tahun. Pengujian substantif atas aktiva tetap dititikberatkan pada verifikasi mutasi aktiva tetap yang terjadi dalam tahun yang diaudit. Verifikasi saldo aktiva tetap pada tanggal neraca tidak mendapat perhatian auditor karena aktiva tetap disajikan pada costnya, bukan nilainya pada tanggal neraca seperti halnya dengan aktiva lancar. 1.2 Rumusan Masalah Dari uraian latar belakang di atas, maka kami dapat mengambil rumusan masalah sebagai berikut: 1. Bagai mana cara penyajian laporan audit terhadap siklus pengeluaran pengujian substantif terhadap aktiva tetap menurut prinsip akuntansi berterima umum di Indonesia. 2. Seperti apa Perbedaan Karakteristik Aktiva Tetap dengan Aktiva Lancar

1.3 Tujuan Penulisan Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah yang telah diuraikan sebelumnya. Maka tujuan yang ingin dicapai dari penulisan ini adalah sebagai berikut : 1. Untuk mengetahui cara penyajian laopran audit terhadap siklus pengeluaran pengujian substantif terhadap aktiva tetap menurut prinsip akuntansi berterima umum di Indonesia. 2. Untuk lebih memahami Perbedaan Karakteristik Aktiva Tetap dengan Aktiva Lancar

BAB II PEMBAHASAN

2.1

Pengertian Aktiva Tetap Aktiva tetap adalah kekayaan perusahaan yang memiliki wujud, mempunyai

manfaat ekonomis lebih dari satu tahun, dan diperoleh perusahaan untuk melaksanakan kegiatan perusahaan, bukan untuk dijual kembali. Karena kekayaan ini mempunyai wujud, seringkali aktiva tetap disebut dengan aktiva tetap berwujud (tangible fixed assets).

2.2

Perbedaan Karakteristik Aktiva Tetap dengan Aktiva Lancar Aktiva tetap memiliki karakteristik yang berbeda dengan aktiva lancar.

Perbedaan karakteristik ini berdampak terhadap pengujian substantif kedua golongan aktiva tersebut. Jika auditor tidak menyadari dampak perbedaan karakteristik aktiva lancar dengan aktiva tetap, ia tidak akan dapat melakukan pengujian substantif dengan efektif terhadap kedua golongan tersebut. Perbedaan karakteristik aktiva tetap dibanding dengan aktiva lancar adalah sebagai berikut: 1. Akun aktiva tetap mempunyai saldo yang besar didalam neraca; transaksi perubahannya relatif sangat sedikit, namun umumnya menyangkut jumlah rupiah yang besar. 2. Kesalahan pisah batas transaksi yang bersangkutan dengan aktiva tetap mempunyai pengaruh kecil terhadap perhitungan laba-rugi, sedangkan kesalahan pisah batas transaksi yang bersangkutan dengan aktiva lancar berpengaruh langsung terhadap perhitungan laba-rugi tahun yang diaudit. 3. Aktiva tetap disajikan di neraca pada kosnya dikurangi dengan depresiasi akumulasian, sedangkan aktiva lancar disajikan di neraca pada nilai bersih yang dapat direalisasikan pada tanggal neraca.

2.3

Perbedaan Pengujian Substantif Aktiva Tetap dengan Aktiva Lancar Perbedaan karakteristik aktiva tetap dengan aktiva lancar tersebut diatas

mengakibatkan perbedaan pengujian substantif terhadap kedua macam aktiva tersebut. 1. Karena frekuensi transaksi yang menyangkut aktiva tetap relatif sedikit, maka jumlah waktu yang dikonsumsi untuk pengujian substantif terhadap aktiva tetap relatif lebih sedikit bila dibandingkan dengan waktu yang digunakan untuk pengujian substantif terhadap aktiva lancar. 2. Karena ketepatan pisah batas transaksi yang bersangkutan dengan aktiva tetap sedikit pengaruhnya terhadap perhitungan laba-rugi, maka auditor tidak mengarahkan perhatiaannya terhadap masalah ketelitian pisah batas transaksi yang bersangkutan dengan aktiva tetap pada akhir tahun. Dalam pengujian substantif terhadap aktiva lancar, auditor memusatkan perhatiannya terhadap ketepatan pisah batas transaksi yang bersangkutan dengan aktiva lancar, karena kesalahan dan ketidaktelitian penentuan pisah batas transaksi yang bersangkutan dengan aktiva lancar berdampak langsung terhadap perhitungan laba-rugi tahun yang diaudit. 3. Pengujian substantif terhadap aktiva tetap dititikberatkan pada verifikasi mutasi aktiva tetap yang terjadi dalam tahun yang diaudit. Verifikasi saldo aktiva tetap pada tanggal neraca tidak mendapat perhatian audit, karena aktiva tetap disajikan pada kosnya, bukan nilai bersih yang dapat direalisasikan pada tanggal neraca seperti halnya dengan aktiva lancar. Dilain pihak, pengujian substantif terhadap aktiva lancar dititikberatkan pada saldo aktiva lancar tersebut pada tanggal neraca, karena aktiva lancar harus disajikan di neraca sebesar nilai bersih yang dapat direalisasikan pada tanggal tersebut.

2.4

Prinsip Akuntansi Berterima Umum dalam Penyajian Aktiva Tetap di Neraca 1. Dasar penilaian aktiva tetap harus dicantumkan didalam neraca.

2. Aktiva tetap yang digadaikan harus dijelaskan. 3. Jumlah depresiasi akumulasian dan biaya depresiasi untuk tahun kini harus ditunjukkan didalam laporan keuangan. 4. Metode yang digunakan dalam penghitungan depresiasi golongan besar aktiva tetap harus diungkapkan didalam laporan keuangan. 5. Aktiva tetap harus dipecah ke dalam golongan yang terpisah jika jumlahnya material. 6. Aktiva tetap yang telah habis didepresiasi namun masih digunakan untuk
beroperasi, jika jumlahnya material, harus dijelaskan.

2.5

Tujuan Pengujian Substantif terhadap Saldo Aktiva Tetap Tujuan pengujian substantif terhadap saldo aktiva tetap adalah: 1. Memperoleh keyakinan tentang keandalan catatan akuntansi yang bersangkutan dengan aktiva tetap. Auditor melakukan rekonsiliasi antara saldo aktiva tetap yang dicantumkan di dalam neraca dengan akun aktiva tetap yang bersangkutan di dalam buku besar dan selanjutnya ke jurnal pengeluaran kas, jurnal umum dan buku pembantu aktiva tetap. 2. Membuktikan keberadaan aktiva tetap dan keterjadian transaksi yang berkaitan dengan aktiva tetap yang dicantumkan di neraca. Auditor melakukan berbagai prosedur audit guna membuktikan: keberadaan aktiva yang bersangkutan dan keterjadian transaksi yang berkaitan dengan aktiva tersebut, kelengkapan, hak kepemilikan atas aktiva tersebut, kewajaran penilaian atas aktiva tersebut pada tanggal neraca, dan kewajaran penyajian dan pengungkapan aktiva tersebut didalam laporan keuangan. Dalam hubungannya dengan pengujian substantif terhadap aktiva tetap, pengujian diarahkan untuk mencapai salah satu tujuannya yaitu membuktikan keberadaan aktiva tetap yang dicantumkan di neraca dalam tahun yang diaudit. Untuk membuktikan asersi keberadaan aktiva tetap dan keterjadian transaksi yang bersangkutan dengan aktiva tersebut, auditor melakukan berbagai pengujian substantif berikut ini:

a. Pengujian analitik b. Pemeriksaan bukti pendukung transaksi yang berkaitan dengan aktiva tetap. c. Inspeksi terhadap aktiva tetap d. Pemeriksaan terhadap dokumen hak milik dan kontrak e. Review terhadap pembentukan depresiasi akumulasian 3. Membuktikan hak kepemilikan klien atas aktiva tetap yang dicantumkan di neraca. 4. Membuktikan kewajaran penilaian aktiva tetap yang dicantumkan di neraca. 5. Membuktikan kewajaran penyajian dan pengungkapan aktiva tetap di neraca. 2.6 Prosedur Audit Aktiva Tetap Prosedur audit pengujian substantif terhadap saldo aktiva tetap 1. Prosedur audit awal Lakukan perosedur audit awal atas saldo akun aktiva tetap yang akan di uji lebih lanjut : a. Usut saldo aktiva tetap yang tecantum di dalam neraca ke saldo akun aktiva tetap bersangkutan di buku besar. b. c. Terhitung kembali saldo aktiva tetap di buku besar Lakukan review terhadap mutasi luar biasa dalam jumlah dan sumber posting dalam aktiva tetap serta hitung akumulasi penyusutan aktiva tetap tersebut. d. e. Usut saldo akun aktiva tetap ke kertas kerja tahun lalu Usut posting pendebetan dan pengkreditan ke dalam jurnal yang bersangkutan f. Lakukan rekonsiliasi akun kontrol terhadap aktiva tetap dalam buku besar ke buku pembantu aktiva tetap 2. Prosedur analitik a. Hitung rasio: Tingkat perputaran aktiva tetap

b.

Laba bersih dengan aktiva tetap Aktiva tetap ke modal saham Biaya reparasi dan pemeliharaan dengan aktiva tetap

Lakukan analisis hasil prosedur analitik dengan harapan dari dasarkan pada data masa lalu baik data anggaran maupun data realisasi c. d. Prosedur pengujian terhadap transaksi rinci Periksa tambahan aktiva tetap ke dokumen yang mendukung timbulnya transaksi tersebut Periksa berkurangnya aktiva tetap ke dokumen yang

mendukung timbulnya transaksi tersebut Lakukan pemeriksaan pisah batas (cut off) transaksi aktiva tetap Lakukan review terhadap akun biasa maintanance maupun biaya reparasi Prosedur pengujian terhadap saldo akun rinci Lakukan inspeksi atau peninjauan terjadap aktiva tetap Lakukan inspeksi terhadap tambahan aktiva tetap Lakukan penyelidikan dan sesuaikan jika terjadinya perbedaan Periksan dokumen yang mendukung pembayaran dan pembelian aktiva tetap setelah tanggal neraca Periksa bukti hak kepemilikan aktiva tetap dan kontrak yang mendukung penggunaan aktiva tetap tersebut Lakukan review terhadap penyusutan aktiva tetap

e.

Prosedur verifikasi penyajian dan pengungkapan Bandingkan penyajian aktiva tetap dengan prinsip aktiva yang diterima umum 1. 2. tetap Periksa klasifikasi aktiva tetap di neraca Periksa pengungkapan yang bersangkutan dengan aktiva

Auditor melakukan rekonsiliasi antara informasi aktiva tetap yang di cantumkan di neraca dengan catatan akuntansi pendukungnya. Rekonsiliasi ini perlu dilakukan agar auditor memperoleh suatu keyakinan yang memadai bahwa informasi aktiva tetap yang dicantumkan di neraca didukung dengan catatan akuntansi yang dapat dipercaya oleh karena itu auditor melakukan 6 prosedur audit sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Usut saldo aktiva tetap yang tercantum di neraca Hitung kembali saldo aktiva tetap dibuku besar Usut saldo awal aktiva tetap tahun lalu Lakukan review terhadap mutasi aktiva tetap tersebut Usut posting pendebetan dan pengkreditan aktiva tetap Lakukan rekonsiliasi buku pembantu aktiva tetap dengan akun kontrol aktiva tetap

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Aktiva tetap adalah kekayaan perusahaan yang memiliki wujud, mempunyai manfaat ekonomis lebih dari satu tahun, dan diperoleh perusahaan untuk melaksanakan kegiatan perusahaan, bukan untuk dijual kembali. Aktiva tetap memiliki karakteristik yang berbeda dengan aktiva lancar. Perbedaan karakteristik ini berdampak terhadap pengujian substantif kedua golongan aktiva tersebut. Jika auditor tidak menyadari dampak perbedaan karakteristik aktiva lancar dengan aktiva tetap, ia tidak akan dapat melakukan pengujian substantif dengan efektif terhadap kedua golongan tersebut. Perbedaan karakteristik aktiva tetap dengan aktiva lancar tersebut mengakibatkan perbedaan pengujian substantif terhadap kedua macam aktiva tersebut. Tujuan pengujian substantif terhadap saldo aktiva tetap adalah Memperoleh keyakinan tentang keandalan catatan akuntansi yang bersangkutan dengan aktiva tetap, Membuktikan keberadaan aktiva tetap dan keterjadian transaksi yang berkaitan dengan aktiva tetap yang dicantumkan di neraca, membuktikan hak kepemilikan klien atas aktiva tetap yang dicantumkan di neraca, membuktikan kewajaran penilaian aktiva tetap yang dicantumkan di neraca dan membuktikan kewajaran penyajian dan pengungkapan aktiva tetap di neraca. Prosedur Audit Aktiva Tetap dibagi manjadi 2 yaitu, Prosedur audit awal dan Prosedur analitik

Contoh Kasus Audit Fixed asset


AUDIT ASSET TETAP; Sebuah Kasus Audit Asset Tetap

Pada Desember 2006 Indonesia Corruptin Watch (ICW) melaporkan kasus dugaan korupsi ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam ruislaag (tukar guling) antara asset PT. Industri Sandang Nusantara (ISN), sebuah BUMN yang bergerak di bidang tekstil, dengan asset PT. GDC, sebuah perusahaan swasta. Dalam ruislaag tersebut PT. ISN menukarkan tanah seluas 178.497 meter persegi di kawasan Senayan dengan Tanah seluas 47 hektar beserta Pabrik dan mesin di karawang. Berdasarkan hasil temuan Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK) semester II Tahun Anggaran 1998/1999, menyatakan ruislaag itu berpotensi merugikan kerugian Negara sebesar Rp. 121, 628 miliar.

Kerugian itu terdiri dari kekurangan luas bangunan pabrik dan mesin milik PT. GDC senilai Rp. 63,954 miliar, berdasarkan penilaian aktiva tetap oleh PT. Sucofindo pada 1999; penyusutan nilai asset pabrik milik PT. GDC senilai Rp. 31,546 miliar; dan kelebihan perhitungan harga tanah senilai Rp. 0,127 miliar. Selain itu juga ditemukan bahwa terdapat nilai saham yang belum dibayarkan oleh PT GDC sebesar Rp. 26 miliar.

Telaah Kasus Dalam kasus Ruislaag di atas, karena ketidakjelasan prosedur dan syarat-syarat tukar guling asset, sehingga sangat rawan untuk diselewengkan. Seharusnya keputusan Tukar Guling tidak hanya menjadi wewenang salah satu pejabat saja, melainkan melibatkan beberapa pejabat sebagai pengendali dan control yang baik. Selain itu juga diperlukan sebuah aturan baku oleh perusahaan mengenai tukar guling, sehingga kemungkinan penyelewengan menjadi berkurang. Diperlukan juga control dari lembaga bersangkutan terhadap penelitian tim penilik yang meneliti kelengkapan mengenai status asset, dokumen kelengkapan asset, sehingga tidak ada manipulasi dari nilai asset tersebut serta proses tukar menukar.

10

Walaupun menggunakan jasa Appraisal, penilaian asset tetap juga tetap harus diawasi untuk mencegah kecurangan-kecurangan.

Dari kasus diatas dapat dibuktikan bahwa PT. ISN memiliki pengendalian intern yang sangat buruk. Sehingga PT. ISN rawan dicurangi oleh rekanan-rekanan bisnisnya maupun oleh oknum-oknum pejabat perusahaan yang ingin mengambil keuntungan. Oleh karena itu hal pertama yang harus dibenahi oleh PT. ISN adalah soal Pengendalian Internnya.

11

DAFTAR PUSTAKA

Boynton, dkk. 2003, Modern Auditing Edisi Ke-7, Penerbit Erlangga, Jakarta http://suhediary.blogspot.com/2010/07/pengujian-substantif-terhadap-aktiva.html Johnson, Kell Boynton. 2003. Modern Auditing : edisi ke 7. Jakarta : Erlangga Mulyadi. 2008. Auditing. Edisi ke 6. Jakarta: Salemba Empat Munawir. 2005. Auditing Modrn. Edisi ke 5. Yogyakarta : bpfe

12