Anda di halaman 1dari 7

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH

Keberadaan Negara Indonesia sebagai Negara berkembang saat ini mulai mendapat respons positif dari masyarakat khususnya dalam perkembangan usaha yang dikembangkan atau dijalankan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Jiwa pebisnis yang timbul dalam masyarakat dipengaruhi oleh berbagai faktor yang salah satunya adalah minimnya lapangan pekerjaan, yang mengakibatkan beberapa masyarakat Indonesia untuk mendapat penghasilan dari kegiatan wirausaha. Kegiatan wirausaha ini semakin beraneka ragam jenis dan juga modalnya. Mulai dari usaha yang bermodalkan keahlian saja hingga usaha yang mengharuskan seseorang untuk mengeluarkan modal uang yang besar. Usaha yang beromset besar biasanya memerlukan modal yang besar pula, kecuali bagi orang yang telah menekuninya dalam jangka waktu yang lama, maka mereka dapat mengumpulkan modal dimulai dari sedikit demi sedikit. Dalam berbisnis, tentunya tidak luput dari sebuah persaingan diantara sesama pelaku bisnis. Persaingan juga ada kalanya dikatakan persaingan yang sehat, adakalanya juga persaingan yang tidak sehat. Maka dari itu, diperlukan adanya koridor yang jelas dan tegas dalam mengatur persaingan usaha dalam kegiatan bisnis masyarakat sehingga tidak terjadi praktek-praktek yang bertentangan dengan peraturan dan sewenang-wenang. Dan, di dalam kesempatan ini kelompok kami akan membahas mengenai Hukum Persaingan Usaha dalam Menanggulangi Praktek Monopoli agar nantinya dapat bermanfaat bagi pembaca dalam memahami praktek monopli dalam kegiatan bisnis dan bagaimana pengaturannya.

B. PERUMUSAN MASALAH

Makalah ini akan membahas : 1. Apakah yang dimaksud dengan Praktek Monopoli ? 2. Bagaimana Hukum Persaingan Usaha memberikan koridor yang jelas bagi praktek-praktek Monopoli dalam persaingan usaha ?

BAB II PEMBAHASAN

A. DEFINISI MONOPOLI Monopoli adalah usaha yang dilakukan oleh sekelompok kecil pelaku bisnis Indonesia yang dekat dengan otoritas telah menyebabkan inefisiensi dalam dunia usaha Indonesia dalam jangka panjang. Sedangkan, praktek monopoli adalah pemusatan kekuatan ekonomi oleh satu atau lebih pelaku usaha yang mengakibatkan dikuasainya produksi dan atau pemasaran atas barang dan atau jasa tertentu sehingga menimbulkan persaingan usaha tidak sehat dan dapat merugikan kepentingan umum. Dari definisi diatas, dapat kita ketahui bahwa monopoli adalah merupakan salah satu praktek persaingan usaha yang tidak sehat. Dikarenakan ada beberapa pihak yang dapat berlaku sewenang-wenang sehingga merugikan kepentingan umum. Dapat kita ambil contoh suatu kasus yang merupakan praktek monopoli adalah adanya dugaan pelanggaran terkait dengan tender paket pekerjaan pembangunan jaringan air bersih, Kecamatan Singkep (pipa transmisi diameter delapan inci, bak reservoir dan pembagi instalasi pengolahan air) di Daik Lingga, Kepulauan Riau Tahun Anggaran 2008. Berdasarkan hasil pemeriksaan, maka pelaku usaha yang diduga melakukan pelanggaran dan ditetapkan sebagai Terlapor adalah sebagai berikut PT Dwitama Fortuna Perkasa (terlapor I), PT Graha Citra Perdana (terlapor II), PT Eka Balingga (terlapor III),

PT Bintan Alam Jaya (terlapor IV), dan Unit Pengadaan Barang/Jasa (selanjutnya disebut UPBJ) Pemerintah Kabupaten Lingga Tahun Anggaran 2008 (terlapor V). Dan, sebagai putusan dari kasus diatas merupakan perkara yang dilaporkan oleh pelaku usaha ke KPPU, Perkara Nomor 12/KPPU-L/2009. Dalam perkara ini, Majelis Komisi perlu untuk menilai perilaku para terlapor I, terlapor II, terlapor III, dan terlapor IV dalam hal persekongkolan horizontal dan menilai apakah telah terjadi persekongkolan vertikal antara terlapor I dan terlapor V. Maka dari itu, diperlukan adanya peraturan yang tegas yang harus diterapkan untuk menanggulangi persaingan usaha yang tidak sehat. Dan, dalam hal ini Indonesia sudah memiliki Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat dan dalam melaksanakan pengawasan praktek monopoli terdapat KPPU yang memiliki wewenang antara lain: a) menerima laporan dari masyarakat dan atau dari pelaku usaha tentang dugaan terjadinya praktek monopoli, b) melakukan penelitian tentang dugaan adanya praktek monopoli, c) melakukan penyelidikan dan atau pemeriksaan terhadap kasus dugaan praktek monopoli, d) menyimpulkan hasil penyelidikan dan atau pemeriksaan tentang ada atau tidak adanya praktek monopoli, e) memanggil pelaku usaha yang diduga telah melakukan pelanggaran, f) memanggil dan menghasilkan saksi, g) meminta bantuan penyidik untuk menghadirkan pelaku usaha, saksi, saksi ahli, atau setiap orang yang tidak bersedia memenuhi panggilan, h) meminta keterangan dari instansi Pemerintah, i) mendapatkan, meneliti, dan atau menilai surat, dokumen, atau alat bukti lain guna penyelidikan dan atau pemeriksaan, j) memutuskan ada atau tidak adanya kerugian di pihak pelaku usaha lain atau masyarakat,

k) memberitahukan putusan Komisi kepada pelaku usaha yang diduga melakukan praktek monopoli, l) bahkan menjatuhkan sanksi berupa tindakan administratif kepada pelaku usaha.

B. KORIDOR HUKUM PERSAINGAN USAHA

Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) merupakan lembaga independen yang bertanggungjawab kepada Presiden untuk mengawasi larangan praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat sebagaimana telah diatur dalam UU No. 5 Tahun 1999 Tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Keberadaan KPPU diharapkan dapat menjamin masyarakat agar tidak menjadi korban dari taktik bisnis para pelaku usaha/produsen yang lebih mengutamakan keuntungan sebesar-besarnya dibandingkan kepuasan konsumen untuk mendapatkan barang yang berkualitas dari harga yang telah dibayar. Komisi yang menangani telah dibentuk, yang menjalankan fungsi sesuai koridor dalam UU No. 5 Tahun 1999 Tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Sehingga untuk selanjutnya perlu kita pelajari lebih dalam mengenai materi yang terdapat dalam isi tiap pasal dari bunyi Undang-Undang tersebut, apakah telah dapat mengakomodir kepentingan berbagai pihak ?

Memperhatikan kandungan materi khususnya yang bersifat prosedural tidak ditemukan suatu materi yang bersifat lengkap sebagai acuan untuk menangani kasus dugaan pelanggaran terhadap UU No.5/1999, oleh karenanya masih saja terjadi pro dan kontra tentang hukum acaranya. Maka dapat dikatakan bahwa hukum persaingan usaha di Indonesia belum sempurna dalam hal penanganan kasus secara prosedural.

BAB III PENUTUP

Kesimpulan Berdasarkan makalah diatas dapat kami simpulkan bahwa dalam dunia usaha di Indonesia masih kental dengan praktek monopoli. Oleh karena itu diperlukan peraturan yang jelas mengatur lalu lintas usaha sehingga tidak terjadi kesewenang-wenangan yang dilakukan oleh pihak-pihak yang berada dalam posisi dominan. Bukan itu saja, untuk mendukung pengimplementasian peraturan perundang-undangan yang mengatur para pelaku usaha perlu dibentuk badan yang mengawasi kegiatan usaha para pelaku usaha sehingga peraturan yang disusun dapat dipertanggung jawabkan secara nyata yang dalam hal ini disebut Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU).

Namun dalam perkembangannya saat ini, peraturan pemerintah yang disusun dalam rangka penegakkan persaingan usaha yang sehat itu tidak lagi mampu memberikan pengaturan yang lebih rinci, sehingga banyak terdapat penyalahgunaan kegiatan usaha oleh para pelaku usaha, se[erti melakukan tindakan monopoli.

Saran