Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI PANGAN ACARA I PENENTUAN EMPAT RASA DASAR

Disusun oleh : Nama NIM Kelompok/Shift Tanggal Asisten : Septiani Ekaningrum : 09/282913/KU/13350 : 10/D : 13 Oktober 2011 : 1. Fasty Arum Utami 2. Slamet Sunaryo PROGRAM STUDI GIZI KESEHATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2011

BAB I PENDAHULUAN A. Acara I B. Hari/tanggal C. Tujuan : Penentuan Empat Rasa Dasar : Kamis, 13 Oktober 2011 :

1. Mampu menghitung bahan untuk membuat suatu larutan dengan konsentrasi tertentu 2. Mampu menyiapkan dan membuat bahan larutan garam, gula, asam sitrat, dan pil kina dengan konsentrasi tertentu 3. Mampu mengetahui sensitivitas pribadi terhadap empat rasa dasar : asin, manis, asam, dan pahit

BAB II METODE PERCOBAAN A. Alat dan Bahan A.1 Alat 1) Gelas 2) Sendok 3) Kertas label 4) Gelas ukur A.2 Bahan 1) Garam 2) Gula pasir 3) Asam cuka 4) Pil kina 5) Aquadest 6) Air kumur B. Cara Kerja menyiapkan larutan sesuai dengan konsentrasi di bawah ini: 1. Garam dapur 2. Gula pasir 3. Asam cuka 4. Pil kina : 0%; 0,5%; 1%; 2%; 3% : 0%; 1%; 2%; 3%; 5% : 0%; 0,1%; 0,2%; 0,3%; 0,4% : 0%; 0,1%; 0,2%; 0,3% 17buah 5buah 20buah 1buah

Memberi kode untuk tiap jenis konsentrasi larutan

Menghidangkan 4 seri sampel masing-masing 5 gelas @ berisi 100 larutan dan mencantumkan label kode pada tiap-tiap gelas sampel

Mengatur gelas di atas meja sesuai dengan besar konsentrasi dari rendah ke tinggi

Meletakkan uji formulir uji cita rasa dan air untuk kumur di atas meja

Melakukan uji cita rasa menggunakan formulir uji cita rasa yang sudah disediakan (setiap mencicipi satu sampel, berkumur dengan air)

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Tabel Hasil percobaan penentuan empat rasa dasar Rasa Asin Manis Asam Pahit Keterangan: 0 = tidak ada rasa 1 = ada sedikit sekali rasa 2 = rasa lebih meningkat tetapi masih belum sesuai 3 = rasa cocok untuk saya 4 = rasa cukup kuat 5 = rasa sangat kuat/ mudah dideteksi/ tidak diragukan 1 (0%) 0 0 0 0 2 0 1 0 5 Kode Larutan 3 2 1 1 5 4 4 1 1 5 5 5 2 2

Perhitungan bahan yang dibutuhkan serta jumlah pelarut yang dibutuhkan 1. Asam cuka Rumus V1. M1= V2. M2 V1 = volume yang dibutuhkan untuk membuat konsentrasi yang diinginkan V2 = volume larutan yang diinginkan (100ml) M1 = konsentrasi bahan yang digunakan (25%) M2 = konsentrasi yang akan dibuat a. Asam cuka 0% V1. M1 V1. 25% V1 = V2. M2 = 100. 0% = 0 ml

Dalam pembuatan larutan hanya menggunakan aquades 100ml b. Asam cuka 0,1% V1. M1 V1. 25% V1 asam cuka c. Asam cuka 0,2% = V2. M2 = 100. 0,1% = 0,4ml

Dalam pembuatan larutan hanya menggunakan aquades 99,6ml dan 0,4ml

V1. M1 V1. 25% V1 asam cuka

= V2. M2 = 100. 0,2% = 0,8ml

Dalam pembuatan larutan hanya menggunakan aquades 99,2ml dan 0,8ml

d. Asam cuka 0,3% V1. M1 V1. 25% V1 asam cuka e. Asam cuka 0,4% V1. M1 V1. 25% V1 asam cuka 2. Gula pasir Rumus (jumlah gram)= konsentrasi yang diinginkan X volume pelarut a. Gula pasir 0% Gram = 0% X 100 = 0 gr dalam pembuatan larutan menggunakan aquades 100ml b. Gula pasir 1% Gram = 1% X 100 = 1gr dalam pembuatan larutan menggunakan aquades 99ml + 1gr gula c. Gula pasir 2% Gram = 2% X 100 = 2gr dalam pembuatan larutan menggunakan aquades 98ml + 2gr gula d. Gula pasir 3% Gram = 3% X 100 = 3gr dalam pembuatan larutan menggunakan aquades 97ml + 3gr gula e. Gula pasir 5% Gram = 5% X 100 = V2. M2 = 100. 0,4% = 1,6ml = V2. M2 = 100. 0,3% = 1,2ml

Dalam pembuatan larutan hanya menggunakan aquades 98,8ml dan 1,2 ml

Dalam pembuatan larutan hanya menggunakan aquades 98,4ml dan 1,6ml

= 5gr dalam pembuatan larutan menggunakan aquades 95ml + 5gr gula 3. Garam Rumus (jumlah gram) =konsentrasi yang diinginkan X volume pelarut a. Garam 0% Gram = 0% X 100 = 0 gr dalam pembuatan larutan menggunakan aquades 100ml b. Garam 0,5% Gram = 0,5% X 100 = 0,5gr dalam pembuatan larutan menggunakan aquades 99,5ml + 0,5gr garam c. Garam 1% Gram = 1% X 100 = 1gr dalam pembuatan larutan menggunakan aquades 99ml + 1gr garam d. Garam 2% Gram = 2% X 100 = 2gr dalam pembuatan larutan menggunakan aquades 98ml + 2gr garam e. Garam 3% Gram = 3% X 100 = 3gr dalam pembuatan larutan menggunakan aquades 97ml + 3gr garam 4. Pil kina Rumus (jumlah gram) = konsentrasi yang diinginkan X volume pelarut a. Pil kina 0% Gram = 0% X 100 = 0 gr dalam pembuatan larutan menggunakan aquades 100ml b. Pil kina 0,1% Gram = 0,1% X 100 = 0,1gr dalam pembuatan larutan menggunakan aquades 99,9ml + 0,1gr pil kina

c. Pil kina 0,2% Gram = 0,2% X 100

= 0,2 gr dalam pembuatan larutan menggunakan aquades 99,8ml + 0,2gr pil kina d. Pil kina 0,3% Gram = 0,3% X 100 =0,3gr dalam pembuatan larutan menggunakan aquades 99,7ml + 0,3gr pil kina

B. PEMBAHASAN B.1 Materi Umum Hal terpenting yang diperhatikan saat pemilihan bahan makanan apa yang akan dikonsumsi adalah flavor dari makanan itu sendiri. Flavor merupakan sebuah atribut dari sebuah bahan makanan yaitu rupa makanan (kenampakan), aroma, rasa, serta rasa saat makanan itu berada di mulut, tekstur, temperature dan bahkan bunyi yang timbul saat makanan itu dikunyah. Flavor merupakan kombinasi dari rasa, aroma, rasa saat disentuh, kenampakan, serta bunyi yang ditimbulkan. Sejak lahir kita telah memiliki kemampuan untuk merasakan dan mencium aroma. Tetapi bisa saja saat indra pengecap kita berjalan baik, indra penciuman kita kurang efektif. Hal ini dapat membiaskan flavor yang kita rasakan dari sebuah bahan makanan. Rasa diperoleh dari 10.000 taste buds. Taste bud adalah kluster sel yang bentuknya menyerupai pulp buah jeruk. Taste bud dapat dijumpai pada lidah, pipi, tenggorokan dan langit-langit rongga mulut. Sel ini mengikat molekul makanan pada saliva dan memberitahukan sang otak untuk menginterpretasikannya. Meski lidah sering dikatakan mempunyai daerah dengan partikel sensasi rasa yang spesifik, contohnya di bagian ujung lidah spesifik untuk merasakan rasa manis, pada kenyataannya sebuah single cell dari taste bud bisa memiliki reseptor-reseptor untuk semua tipe rasa (manis, asin, asam, dan pahit) tetapi memang ada rasa yang lebih dominan dirasakan.(Drummond, 2004) Lidah merupakan massa jaringan ikat dan otot lurik yang diliputi oleh membrane mukosa. Membran mukosa melekat erat pada otot karena jaringan penyambung lamina propia menembus ke dalam ruang-ruang antar berkas-berkas otot. Pada bagian bawah lidah membran mukosanya halus. Lidah juga merupakan suatu kartilago yang akarnya 1 berada pada bagian posterior rongga mulut dekat dengan katup epiglotis yang menuju ke laring. (Snell RS. Head and neck. 2007)

Gambar 1. Anatomi lidah (1) (Cotton wood, 2006)

Gambar 2. Lokasi 4 rasa dasar pada lidah (Pustekkom, 2008) Lidah adalah alat indera yang berfungsi untuk merasakan rangsangan rasa dari bendabenda yang masuk ke dalam mulut kita. Lidah dapat merespon berbagai jenis dan macam rasa seperti rasa manis, rasa pahit, rasa asam dan rasa asin. Kita dapat menikmati makanan dan minuman karena adanya indra pengecap ini. Bagian lidah yang depan

berguna untuk merasakan rasa asin, bagian yang sebelah samping untuk rasa asam, bagian tepi depan berfungsi untuk merasakan rasa manis dan bagian lidah yang belakang untuk rasa pahit. (Pearce, 2004). Tiap rasa pada zat yang masuk ke dalam rongga mulut akan direspon oleh lidah di tempat yang berbeda. Terdapat empat jenis papilla, yaitu ; 1. Filiformis, terdapat di bagian posterior lidah. Papilla ini sangat banyak diseluruh permukaan lidah dan tidak mengandung vili pengecap. Papilla filiformis lebih berfungsi untuk menerima rasa sentuh, daripada rasa pengecapan yang sebenarnya. (Snell RS. Head and neck. 2007) 2. Fungiformis, di bagian anterior lidah dan diantara filiformis, menyebar pada permukaan ujung dan sisi lidah. Menyerupai jamur karena mempunyai tangkai yang sempit, permukaan halus, bagian atas melebar, mengandung vili pengecap, tersebar di permukaan atas lidah, dan epitel berlapis pipih tidak bertanduk. (Snell RS. Head and neck. 2007) 3. Foliata, pada pangkal lidah bagian lateral dan terdapat beberapa tonjolan-tonjolan padat. (Snell RS. Head and neck. 2007) 4. Sirkumvalata, papilla yang sangat besar dengan permukaan yang pipih meluas di atas papilla lain, susunan seperti parit, tersebar di daerah V bagian posterior lidah. Terdapat delapan hingga dua belas buah dari papilla ini yang terletak pada bagian dasar lidah. Banyak kelenjar mukosa dan serosin, serta banyak vili pengecap yang terdapat di sepanjang sisi papilla. (Snell RS. Head and neck. 2007) Setiap vili pengecap terdiri dari dua macam sel, yaitu sel pengecap dan sel penunjang, pada sel pengecap terdapat silia (rambut gustatori) yang memanjang ke taste pores. Zat-zat kimia dari makanan yang kita makan, mencapai vili pengecap melalui taste pores. (Snell RS. Head and neck. 2007) Mekanisme reaksi antara substansi perangsang dengan vili pengecap untuk memulai potensial reseptor adalah dengan pengikatan zat kimia kecap pada molekul reseptor protein yang menonjol melalui membran vili. Hal ini kemudian membuka saluran ion, yang membuat ion natrium masuk dan mendepolarisasi sel. Selanjutnya, zat kimia kecap secara bertahap dibersihkan dari vili pengecap oleh saliva, yang menghilangkan rangsangan. (Guyton AC, 2000) Lidah dapat mengalami perubahan faali, secara etiologi Beberapa penyebab terjadinya gangguan pengecapan, sebagai berikut : 1. Drug induced dapat menyebabkan ageusia dan phantogeusia. Misalnya : penisilamin, griseofulvin, metronidazole, dan litium karbonat.( Snow JB, Martin JB. 2001.) 2. Post influenza like hipogeusia dan hiposmia Gangguan penciuman dan pengecapan selama mengidap penyakit saluran napas. (Snow JB, Martin JB. 2001.)

3. Acute zinc loss Zinc merupakan kofaktor pembentukan alkaline fosfatase, enzim yang banyak pada membran taste bud. Defisiensi zinc dapat mengakibatkan terjadinya gangguan pengecapan berupa ageusia dan hipogeusia.( Snow JB, Martin JB. 2001.) 4. Lesi atau cedera pada mukosa lidah, taste bud, atau saraf kranial ke batang otak. Kerusakan N. IX (N. glosofaringeus) mengakibatkan gangguan pengecapan 1/3 posterior lidah, menyebabkan ageusia, disgeusia, dan hipogeusia.( Snow JB, Martin JB. 2001.) 5. Gangguan produksi saliva, sangat berpengaruh dalam hal pengecapan. Suatu zat makanan hanya dapat dinikmati rasanya jika larut dalam saliva. Melalui taste pores suatu zat dapat mencapai sel-sel pengecap dan mempengaruhi ujung-ujung sel pengecap dan melalui serabut saraf seseorang dapat merasakan rasa makanan. Dengan berkurangnya produksi saliva, sel-sel pengecap akan mengalami kesulitan dalam menerima rangsang rasa yang dapat menyebabkan terjadinya ageusia dan hipogeusia.( Snow JB, Martin JB. 2001.) 6. Gangguan pada rongga dan mukosa mulut yang meliputi infeksi, inflamasi, dan mukositis akibat pajanan radiasi yang dapat merusak sensasi rasa berupa ageusia dan phantogeusia. Lesi akibat radioterapi yaitu pada mikrovili taste bud.( Snow JB, Martin JB. 2001.) 7. Proses degeneratif pada sistem saraf pusat (parkinson, alzheimer disease, proses penuaan normal) dapat menyebabkan berkurangnya fungsi pengecapan (hipogeusia), dimana penurunannya terlihat paling menonjol pada usia dekade ketujuh.( Snow JB, Martin JB. 2001.) 8. Pada proses penuaan normal dapat menyebabkan berkurangnya rasa pengecapan akibat perubahan pada membran sel-sel pengecapan. Pada awal kelahiran, manusia memiliki 10.000 taste bud, tetapi setelah usia 50 tahun, taste bud akan mengalami penurunan fungsi bahkan banyak yang mengalami kematian sehingga taste bud berkurang. Selain itu, pada usia lanjut produksi saliva berkurang yang dapat menyebabkan mukosa rongga mulut menjadi kering dan rentan terhadap gesekan. Gesekan ini akan menambah dampak pengurangan taste bud pada usia lanjut. Akibat proses penuaan normal ini dapat menyebabkan terjadinya gangguan pengecapan berupa ageusia dan hipogeusia. (Snow JB, Martin JB. 2001.) 9. Kebersihan mulut yang buruk dapat menyebabkan gangguan pengecapan berupa hipogeusia dan cacogeusia. (Snow JB, Martin JB. 2001.) 10. Keganasan pada kepala dan leher dapat mengakibatkan berkurangnya nafsu makan (hipogeusia) dan ketidakmampuan dalam mendeteksi suatu rasa (ageusia).( Snow JB, Martin JB. 2001.) 11. Gangguan endokrin dapat terlibat dalam gangguan pengecapan. Diabetes melitus, hipogonadisme, dan pseudohipoparatiroid dapat mengurangi sensasi rasa (hipogeusia).

Sedangkan hipotiroid dan defisiensi korteks adrenal dapat meningkatkan sensasi rasa. (Snow JB, Martin JB. 2001) 12. Gejala yang khas pada anemia defisiensi besi adalah atrofi papilla lidah. Permukaan lidah menjadi licin dan mengkilap karena papilla lidah menghilang. Atrofi papilla lidah ini dapat menyebabkan gangguan pengecapan berupa ageusia dan hipogeusia. (Snow JB, Martin JB. 2001.) 13. Penyakit herediter Disautonomia Familial tipe I seperti Sindrom Riley-Day menyebabkan penurunan (hipogeusia) atau hilangnya sensasi rasa (ageusia) karena tidak berkembangnya taste bud. (Snow JB, Martin JB. 2001.)

B.2 Fungsi perlakuan i. Pemberian kode untuk setiap larutan dimaksudkan agar larutan yang telah dibuat dengan konsentrasi yang berbeda-beda itu tidak tertukar dan untuk memudahkan dalam pemasukan data pada formulir uji cita rasa ii. Pengadukan bahan terlarut bertujuan untuk homogenisasi larutan dan agar zat lebih cepat terlarut iii. Mengatur gelas dari konsentrasi rendah ke konsentrasi tinggi agar praktikan melakukan uji cita rasa dari konsentrasi rendah ke tinggi, tidak terbalik. iv. Menggunakan formulir uji cita rasa sebagai arsip praktikum v. Berkumur setiap selesai mencicipi satu sampel bertujuan untuk menetralkan kembali rasa pada lidah vi. Mencicipi sampel dari konsentrasi rendah ke knsentrasi tinggi agar tidak terjadi bias mengenai tingkatan rasa karena jika kita mencicipi sampel dengan konsentrasi yang tinggi (pekat) maka rasa itu akan tertinggal kuat di lidah.

B.3 Hasil praktikum Dari hasil praktikumdapat diketahui sensitivitas seseorang. Pada uji rasa asin dengan konsentrasi 0% dan 0,5% tidak didapati rasa asin hal ini tidak sesuai karena seharusnya pada konsentrasi 0,5% sudah didapati sedikit rasa asin. Pada konsentrasi 1% ada rasa asin yang lebih meningkat tetapi masih belum sesuai dengan selera praktikan. Pada konsentrasi garam 2% sudah terasa asin yang cukup kuat sedangkan pada larutan garam 3% terdapat rasa asin yang sangat kuat. Pada uji manis yang menggunakan larutan gula pasir, diperoleh hasil : pada larutan gula dengan konsentrasi 0% tidak didapati rasa manis. Pada konsentrasi 1%, 2%, dan 3%ada sedikit sekali rasa manis, seharusnya semakin tinggi konsentrasi larutan maka semakin tinggi pula sderajat kemanisan yang bisa dirasakan tetapi dari hasil praktikum

dengan konsentrasi larutan yang berbeda tingkat kemanisan tetap sama. Pada konsentrasi 5% terdapat rasa manis yang lebih meningkat tetapi masih belum sesuai dengan selera praktikan. Hal ini membuktikan bahwa sensitivitas rasa manis praktikan menurun atau bahkan bisa dikatakan rendah. Pada uji rasa asam dengan konsentrasi larutan 0% dan 0,1% belum didapati rasa asam. Seharusnya pad konsentrasi 0,1% didapati sedikit rasa asam. Pada konsentrasi 0,2% dan 0,3% ada sedikit sekali rasa asam pada hal ini perbedaan konsentrasi seharusnya menyebabkan perbedaan tingkat rasa asam, sedangkan pada konsentrasi 0,4% terdapat rasa asam yang lebih meningkat tetapi masih belum sesuai dengan selera praktikan. Hal ini membuktikan bahwa sensitivitas rasa asam praktikan menurun atau bahkan bisa dikatakan rendah. Selanjutnya uji sensitivitas terhadap rasa pahit dengan menggunakan larutan pil kina. Pada larutan pil kina berkonsentrasi 0% tidak didapati rasa pahit karena memang tidak dilarutkan pil kina. Akan tetapi pada konsentrasi 0,1%, 0,2%, dan 0,3% semua didapati rasa pahit yang sangat kuat. Kepekaan terhadap rasa pahit lebih kuat dibandingkan rasa yang lain, yang memang diperlukan karena sensasi ini memberikan fungsi perlindungan yang penting. Banyak manusia mempunyai pengecapan yang tidak peka terhadap substansisubstansi tertentu, khususnya untuk berbagai tipe komponen tiourea. Sebuah substansi yang sering digunakan oleh para ahli psikologis untuk memperlihatkan ketidakpekaan pengecapan adalah feniltiokarbamida, dimana sekitar 15-30% dari manusia memperlihatkan ketidakpekaan pengecapan, persentase yang sesungguhnya bergantung pada metode pengujian dan konsentrasi substansi. (Guyton AC, 2000) Perbedaan persepsi rasa setiap orang dipengaruhi oleh : usia, jenis kelamin, perokok berat (>20 batang per hari) yang memberikan pengaruh buruk dan kondisi kesehatan. Semakin bertambahnya usia, maka sensitivitas rasa semakin berkurang. Biasanya orang tua mengeluh tidak adanya rasa makanan. Keluhan ini dapat disebabkan karena dengan bertambahnya usia mempengaruhi kepekaan rasa akibat berkurangnya jumlah pengecap pada lidah, kehilangan unsur-unsur reseptor pengecap juga dapat mengurangi fungsional yang dapat mempengaruhi turunnya sensasi rasa, perubahan ini harus diingat orang tua mengenai berkurangnya kenikmatan pada saat makan (Papas AS et al., 2000). Pada orang usia lanjut, permukaan dorsal lidah cenderung menjadi lebih licin karena atrofi papilla lidah. Perubahan histopatologi pada lidah menunjukkan adanya atrofi papilla yang sering dimulai dari ujung lidah dan sisi lateral. Beberapa peneliti melaporkan jumlah taste buds yang terdapat pada papilla circumvalata berkurang yang menyebabkan menurunnya sensitivitas rasa. (Sayuti, 2000).

Untuk kategori jenis kelamin, dapat dijelaskan bahwa seorang wanita mempunyai sensitivitas rasa yang lebih baik jika dibandingkan dengan seorang pria. Pada perokok berat terdapat perubahan faali funglsi lidah karena lidah juga mengalami perubahan seperti augesia (hilangnya daya pengecapan) baik parsial maupun total. Selain itu, orang sehat lebih sensitive terhadap rasa makanan dibandingkan pada orang yang sakit.(Cowart, et al.2004). Faktor-faktor yang mempengaruhi rasa menurut Winarno, 2004: 1. Senyawa kimia a. Rasa manis disebabkan karena adanya senyawa organic yang mengandung OH, beberapa asam amino, aldehid dan gliserol. Contoh : pemanis buatan dalam konsentrasi tinggi cenderung memberikan rasa pahit b. Rasa pahit disebabkan oleh alkaloid-alkaloid. Contoh: kafein, kuinon, senyawa fenol seperti naringin c. Rasa asam disebabkan adanya donor proton. Intensitas keasaman tergantung pada ion H+ yang merupakan hasil hidrolisis asam. Contoh: asam pada cuka d. Rasa asin disebabkan oleh garam-garam organic, yang umumnya adalah NaCL, kecuali garam iodide dan bromide yang memberikan rasa pahit, sedangkan garam Pb dan Be memberikan rasa manis. 2. Suhu Suhu mempengaruhi kemampuan kuncup cecapan. Sensitivitas berkurang bila suhu >20C dan <30C di mana akan menimbulkan sedikit perbedaan rasa. 3. Konsentrasi Threshold merupakan batas terendah terhadap suatu rasa agar masih bisa dirasakan. Setiap orang memiliki threshold yang berbeda dan berbeda pula untuk setiap rasa. Contoh : NaCL 0,087% dan sukrosa 0,4% 4. Interaksi dengan komponen rasa lain Interaksi antar komponen ini dapat mengakibatkan peningkatan atau penurunan intensitas rasa. Efek interaksi ini berbeda pada tingkat konsentrasi dan tresholdnya. Misalnya penambahan asam pada konsentrasi tresholdnya akan menambah rasa asin pada NaCL sedangkan pada gula akan mengurangi rasa asin pada NaCL dan kafein.

KESIMPULAN

1. Perhitungan bahan yang dibutuhkan serta jumlah pelarut yang dibutuhkan a. Asam cuka Rumus V1. M1= V2. M2 V1 = volume yang dibutuhkan untuk membuat konsentrasi yang diinginkan V2 = volume pelarut (100ml) M1 = konsentrasi bahan yang digunakan (25%) M2 = konsentrasi yang akan dibuat Asam cuka 0% V1. M1 = V2. M2

V1. 25% = 100. 0% V1 = 0 ml

Dalam pembuatan larutan hanya menggunakan aquades 100ml Asam cuka 0,1% V1. M1 = V2. M2

V1. 25% = 100. 0,1% V1 = 0,4ml

Dalam pembuatan larutan hanya menggunakan aquades 99,6ml dan 0,4ml asam cuka Asam cuka 0,2% V1. M1 = V2. M2

V1. 25% = 100. 0,2% V1 = 0,8ml

Dalam pembuatan larutan hanya menggunakan aquades 99,2ml dan 0,8ml asam cuka

Asam cuka 0,3% V1. M1 = V2. M2

V1. 25% = 100. 0,3% V1 = 1,2ml

Dalam pembuatan larutan hanya menggunakan aquades 98,8ml dan 1,2 ml asam cuka Asam cuka 0,4% V1. M1 = V2. M2

V1. 25% = 100. 0,4% V1 = 1,6ml

Dalam pembuatan larutan hanya menggunakan aquades 98,4ml dan 1,6ml asam cuka

b. Gula pasir Rumus (jumlah gram)= konsentrasi yang diinginkan X volume pelarut Gula pasir 0% Gram = 0% X 100

= 0 gr dalam pembuatan larutan menggunakan aquades 100ml Gula pasir 1% Gram = 1% X 100

= 1gr dalam pembuatan larutan menggunakan aquades 99ml + 1gr gula Gula pasir 2% Gram = 2% X 100

= 2gr dalam pembuatan larutan menggunakan aquades 98ml + 2gr gula Gula pasir 3% Gram = 3% X 100

= 3gr dalam pembuatan larutan menggunakan aquades 97ml + 3gr gula Gula pasir 5% Gram = 5% X 100

= 5gr dalam pembuatan larutan menggunakan aquades 95ml + 5gr gula

c. Garam Rumus (jumlah gram) =konsentrasi yang diinginkan X volume pelarut Garam 0% Gram = 0% X 100

= 0 gr dalam pembuatan larutan menggunakan aquades 100ml Garam 0,5% Gram = 0,5% X 100

= 0,5gr dalam pembuatan larutan menggunakan aquades 99,5ml + 0,5gr garam Garam 1% Gram = 1% X 100

= 1gr dalam pembuatan larutan menggunakan aquades 99ml + 1gr garam Garam 2% Gram = 2% X 100

= 2gr dalam pembuatan larutan menggunakan aquades 98ml + 2gr garam Garam 3% Gram = 3% X 100

= 3gr dalam pembuatan larutan menggunakan aquades 97ml + 3gr garam d. Pil kina Rumus (jumlah gram) = konsentrasi yang diinginkan X volume pelarut Pil kina 0% Gram = 0% X 100

= 0 gr dalam pembuatan larutan menggunakan aquades 100ml Pil kina 0,1% Gram = 0,1% X 100

= 0,1gr dalam pembuatan larutan menggunakan aquades 99,9ml + 0,1gr pil kina Pil kina 0,2% Gram = 0,2% X 100

= 0,2 gr dalam pembuatan larutan menggunakan aquades 99,8ml + 0,2gr pil kina Pil kina 0,3% Gram = 0,3% X 100

=0,3gr dalam pembuatan larutan menggunakan aquades 99,7ml + 0,3gr pil kina 2. Perbedaan persepsi rasa setiap orang dipengaruhi oleh : usia, jenis kelamin, perokok berat (>20 batang per hari) yang memberikan pengaruh buruk, dan kondisi kesehatan. Selain itu ada pula factor lain yang mempengaruhi rasa

makanan : senyawa kimia, suhu, konsentrasi, dan interaksi dengan komponen lain

Yogyakarta, 19 Oktober 2011 Asisten Praktikan

(. Fasty Arum U)

(Slamet Sunaryo)

(Septiani E)

DAFTAR PUSTAKA

Cotton wood. Tongue. 2006. diakses 18 Oktober 2011 dari http://anukp.wordpress.com Coward, B. J. et al. bitter taste in ageing : compound specific declaim in sensitivity. Physiol behave. 56(6), 1237-1241 Drummond, E.K. and Brefere. 2004. Nutrition for foodservice & culinary professionals fifth edition. Hoboken New jersey, United States of America Guyton AC, Hall JE. 2000. Buku ajar fisiologi kedokteran. Jakarta: EGC Papas AS, Niessen LC, Chauncey HH. 1991. Geriatric Dentistry, Aging and Oral Health. Mosby Year Book. America. p. 19. Pearce EC. 2004. Anatomi dan fisiologi untuk paramedis. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Sayuti Hasibuan. 1998. Keadaan-keadaan di Rongga Mulut yang Perlu Diketahui pada Usia Lanjut. Majalah Kedokteran Gigi USU. No.4. Januari. hlm. 43. Snell RS. Head and neck. In: Taylor C, Horvath K, editors. Clinical anatomy by regions. Edition 8. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins. 2007; 778-80. Snow JB, Martin JB. 2001. Gangguan pada penciuman, pengecapan, dan pendengaran. Dalam: Isselbacher KJ, editor. Harrison prinsip-prinsip ilmu penyakit dalam volume1. Jakarta: EGC. Winarno, 2004. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: Gramedia