Anda di halaman 1dari 91

BPK - RI

LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN


LAPORAN KEUANGAN

PERUSAHAAN UMUM BULOG


Untuk tahun yang berakhir pada 31 Desember 2003

Nomor Tanggal

: 37.A/Auditama V/GA/XII/2004 : 31 Desember 2004

Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia Jalan Gatot Subroto No. 31 Jakarta 10210 Telp. (021) 5700380, 5738740, 5720957, 5738727, 5704395 pesawat 517 Fax. (021) 5700380.

DAFTAR ISI Halaman I. LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN II. DASAR PENUGASAN DAN RUANG LINGKUP AUDIT 1. 2. Dasar Penugasan ................. Ruang Lingkup Audit ... i v v v

III. LAPORAN KEUANGAN 1. Neraca per 31 Desember 2003 ................. 2. Laporan Laba (Rugi) untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2003 .................................. 3. Laporan Arus Kas untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2003 . 4. Laporan Perubahan Ekuitas untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2003 .................................. 5. Laporan Laba (Rugi) Per Segmen Usaha untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2003 .. 6. Catatan atas Laporan Keuangan. a. Gambaran Umum Perusahaan b. Ikhtisar Kebijakan Akuntansi c. Penjelasan Akun-Akun Neraca dan Laba (Rugi) .. 7
7 10 22

1 3

LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA


Nomor : 37.A/Auditama V/GA/XII/2004 LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN Kami telah mengaudit neraca Perum Bulog tanggal 31 Desember 2003, serta laporan laba rugi, laporan perubahan ekuitas, dan laporan arus kas untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut. Kami juga melakukan pengujian atas kepatuhan perusahaan terhadap peraturan perundangundangan dan pengendalian intern. Laporan keuangan, kepatuhan terhadap peraturan perundangundangan dan pengendalian intern adalah tanggung jawab manajemen perusahaan. Tanggung jawab kami terletak pada pernyataan pendapat atas laporan keuangan, kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan dan pengendalian intern berdasarkan audit kami. Neraca awal Perum Bulog tanggal 21 Januari 2003 yang merupakan neraca pembukaan diaudit oleh auditor independen lain yang laporannya bertanggal 28 April 2004 berisi pendapat wajar tanpa pengecualian atas neraca awal tersebut. Kami melaksanakan audit berdasarkan Standar Audit Pemerintahan yang ditetapkan oleh Badan Pemeriksa Keuangan dan standar auditing yang ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia. Standar tersebut mengharuskan kami merencanakan dan melaksanakan audit agar kami memperoleh keyakinan memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material. Suatu audit meliputi pemeriksaan, atas dasar pengujian, bukti-bukti yang mendukung jumlah-jumlah dan pengungkapan dalam laporan keuangan. Audit juga meliputi penilaian atas prinsip akuntansi yang digunakan dan estimasi signifikan yang dibuat oleh manajemen, serta penilaian terhadap penyajian laporan keuangan secara keseluruhan. Selain itu audit mencakup pengujian atas kepatuhan perusahaan terhadap kontrak, persyaratan bantuan dan pasal-pasal tertentu peraturan perundang-undangan serta kepatuhan terhadap pengendalian intern. Kami yakin bahwa audit kami memberikan dasar memadai untuk menyatakan pendapat. Perusahaan mencatat aset kelolaan yang merupakan aset-aset yang berasal dari Lembaga Pemerintah Non Departemen (LPND) Bulog yang belum diakui sebagai penyertaan modal negara pada Perum

BPK RI/AUDITAMA KN V

Bulog dalam akun Aktiva Lain-lain di kelompok Aktiva dan di akun Bantuan Pemerintah yang Belum Distatuskan di kelompok Pasiva masing-masing sebesar Rp492.570.916.433,00. Dalam tahun 2003 terjadi perubahan-perubahan atas aset kelolaan, diantaranya adanya pelunasan piutang dalam aset kelolaan, penjualan persediaan rusak dalam aset kelolaan. Perubahan-perubahan yang terjadi dalam aset kelolaan tersebut oleh perusahaan tidak dicatat dalam aset kelolaan baik di Aktiva Lain-lain maupun di Bantuan Pemerintah yang Belum Distatuskan sehingga saldo aset kelolaan tidak berubah. Perubahan-perubahan aset kelolaan dicatat oleh perusahaan dalam akun lain dalam perusahaan, seperti dalam pendapatan lain-lain, dan pendapatan ditangguhkan. Menurut pendapat kami, agar sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia, perubahan tersebut seharusnya dicatat dalam aset kelolaan itu sendiri sehingga tidak membuat posisi keuangan perusahaan menjadi lebih tinggi dari seharusnya (overstated). Menurut pendapat kami, kecuali untuk dampak tidak dicatatnya perubahan-perubahan aset kelolaan, seperti yang kami uraikan dalam paragraf di atas, laporan keuangan yang kami sebut di atas menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan Perum Bulog tanggal 31 Desember 2003, dan hasil usaha, serta arus kas untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. Catatan No. 3.26.1 atas laporan Keuangan menjelaskan bahwa dalam tahun 2003 Perum Bulog menerima pendapatan lain-lain dari restitusi pajak yang merupakan pengembalian kelebihan pajak pertambahan nilai atas nama LPND Bulog tahun 1998 sampai dengan tahun 2000 berdasarkan Surat Keputusan Dirjen Pajak No. 81/WPJ.07/KP.0109/2003 tanggal 6 Juni 2003, No. 90/WPJ.07/KP.0109/2003 tanggal 12 Juni 2003, dan No. 141/WPJ.07/KP.0109/2003 tanggal 7 Oktober 2003 senilai Rp4.194.172.847. Seperti dijelaskan dalam Catatan No. 3.29. atas laporan keuangan, tentang penerapan Undangundang Nomor 13 Tahun 2003, perusahaan belum menerapkan PSAK Nomor 57 tentang Kewajiban Diestimasi, Kewajiban Kontijensi, dan Aktiva Kontinjensi terhadap kewajibankewajiban yang mungkin timbul dengan diberlakukannya Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan, karena estimasi yang andal mengenai jumlah kewajiban tersebut belum dapat dibuat dan manajemen berkeyakinan, kecil kemungkinan untuk terjadi pemutusan hubungan kerja yang akan mengakibatkan terjadinya arus keluar sumber daya. Oleh karena itu, kewajiban yang mungkin timbul berkaitan dengan diberlakukannya Undang-undang tersebut tidak tampak dalam laporan keuangan.

ii

BPK RI/AUDITAMA KN V

Kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan dan pengendalian intern kami laporkan kepada manajemen Perum Bulog dalam suatu laporan terpisah nomor .37.B /Auditama V/GA/XII/2004 tanggal 31 Desember 2004.

Auditor Utama Keuangan Negara V Penanggung Jawab Audit,

Drs. Misnoto, Ak. MA Register Negara No. D-1416 Jakarta, 31 Desember 2004

iii

BPK RI/AUDITAMA KN V

DASAR PENUGASAN DAN RUANG LINGKUP AUDIT

DASAR PENUGASAN DAN RUANG LINGKUP AUDIT 1. Dasar Penugasan a. b. c. d. e. f. Undang-undang Dasar Tahun 1945 pasal 23 E, 23 F dan 23 G; Undang-undang Republik Indonesia Nomor 5 tahun 1973 tentang Badan Pemeriksa Keuangan dan peraturan perundangan lainnya yang berlaku; Undang-undang Republik Indonesia Nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara; Undang-undang Republik Indonesia Nomor 15 tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara; Surat BPK-RI No. 114/S/VII-XV/5/2003 tanggal 28 Mei 2003 perihal Pelaksanaan audit Laporan Keuangan BUMN Tahun Buku 2003 Surat Tugas Badan Pemeriksa Keuangan No. 43/ST/VII-XV.2/8/2003 tanggal 19 Agustus 2004, perihal penugasan untuk melakukan audit atas laporan keuangan Perum Bulog tahun buku 2003. 2. Ruang Lingkup Audit Audit ini bersifat general audit atas laporan keuangan Perum Bulog (Persero) untuk tahun buku yang berakhir pada 31 Desember 2003. Audit dilaksanakan berdasarkan standar auditing yang ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia dan Standar Audit Pemerintahan yang diterbitkan Badan Pemeriksa Keuangan. Standar tersebut mengharuskan kami untuk merencanakan dan melaksanakan audit agar memperoleh keyakinan memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material. Suatu audit meliputi pemeriksaan atas dasar pengujian bukti-bukti yang mendukung jumlah-jumlah dan pengungkapan dalam laporan keuangan. Audit juga meliputi penilaian atas prinsip akuntansi yang digunakan dan estimasi signifikan yang dibuat oleh manajemen, serta penilaian terhadap penyajian laporan keuangan secara keseluruhan. Selain itu audit mencakup pengujian atas kepatuhan perusahaan terhadap kontrak dan pasal-pasal tertentu peraturan perundang-undangan serta kepatuhan terhadap pengendalian intern. Kontrak dan pasal-pasal tertentu peraturan perundang-undangan yang kami uji mencakup:

a. Undang-undang No. 1 tahun 1995 mengenai Perseroan Terbatas. b. Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 2003 tentang Pendirian Perum Bulog c. Kepres No. 18 tahun 2004 tentang Pengadaan Barang/Jasa Instansi Pemerintah Tahun
2003.

d. Instruksi Presiden Republik Indonesi Nomor 9 Tahun 2002 Tentang Penetapan Kebijakan
Perberasan.

BPK RI/AUDITAMA KN V

e. Keputusan Menteri Keuangan RI N0. 340/KMK.02/2003 tanggal 23 Juli 2003 tentang


Harga Pembelian Beras oleh Pemerintah kepada PERUM BULOG Tahun 2003.

f. Keputusan Menteri Keuangan Nomor: 339/KMK.02/2003 tanggal 23 Juli 2003 tentang


Anggaran Biaya dan Pendapatan Perum Bulog Dalam Rangka Pelaksanaan Tugas Pemerintah Melalui Pengelolaan Persediaan, Distribusi dan Pengendalian Harga Beras Tahun 2003 ( Master Budget Versi Baru Perum)

g. Keputusan Menteri Keuangan No. 353/KMK 02/04 tentang PL 480 h. Keputusan Menteri Keuangan Nomor: 344/KMK.02/2004 tanggal 13 Juli 2004 tentang
Penetapan Modal Perusahaan Umum (Perum) Bulog pada saat Pendiriannya.

i. SK Menteri Keuangan N0. 138/KMK.03/2002 tanggal 4 Agustus 2002 tentang Perubahan


atas Keputusan Menteri Keuangan N0. 520/KMK.04/2000 tentang Jenis-jenis Harta yang termasuk dalam Kelompok Harta Berwujud Bukan Bangunan untuk Keperluan Penyusutan.

j. SK Menteri Keuangan RI No. 339/KMK.02/2003 tentang Anggaran Biaya dan Pendapatan


PERUM BULOG dalam rangka Pelaksanaan Tugas Pemerintah Melalui Pengelolaan Persediaan, Distribusi dan Pengendalian Harga Beras Tahun 2003.

k. SK Direksi Perum Bulog No. Kep-01/Dirut/05/2003 tentang Organisasi dan Tata Kerja
Perum Bulog

l. SK Meneg BUMN No. KEP-182/MBU/2003 tanggal 27 Maret 2003 tentang Pembentukan


Tim Penyelesaian Pendirian Perum Bulog dengan tugas melakukan inventarisasi kekayaan termasuk hutang piutang Bulog yang akan diusulkan menjadi modal Perum Bulog.

m. Keputusan Tim Penyelesaian Pendirian Perum Bulog Nomor: KEP-01/TPP.BULOG/2003


tanggal 10 April 2003 tentang Pembentukan Sub Tim dan Sekretariat Tim Penyelesaian Pendirian Perum Bulog.

n. Petunjuk Pelaksanaan Program Beras Keluarga Miskin (Raskin) dan Program Kompensasi
Pengurangan Subsidi Bahan Bakar Minyak (PKPS-BBM) Bidang Pangan tahun 2003

o. Keputusan Kepala Badan Urusan Logistik Nomor : KEP-04/KA/01/2003 Tentang


Pedoman Umum Pengadaan Dalam Negeri Melalui Pola Kemitraan Dengan Pusat Pengolahan Padi Terpadu (P3T).

p. Keputusan Kepala Badan Urusan Logistik Nomor : Kep-16/Ka/01/2003 Tentang Petunjuk


Pelaksanaan Pengadaan Gabah Dan Beras Dalam Negeri Tahun 2003.

q. Keputusan Kepala Badan Urusan Logistik Nomor : KEP-17/KA/01/2003 Tentang Tata


Kerja Satuan Tugas Operasional Pengadaan Gabah Dalam Negeri (SATGAS ADA DN).

r. Keputusan Kepala Badan Urusan Logistik Nomor : KEP-18/KA/01/2003


Pengadaan Dalam Negeri.

Tentang

Tatacara Teknis Pemeriksaan Kualitas Gabah, Beras Dan Karung Plastik Dalam Rangka

vi

BPK RI/AUDITAMA KN V

s. Keputusan Kepala Badan Urusan Logistik Nomor : KEP-19/KA/01/2003 Tentang


Pengolahan/Giling Gabah Pengadaan Dalam Negeri.

t. Keputusan Bersama Direktur Jenderal Bina Pengolahan Dan Pemasaran Hasil Pertanian
Departemen Pertanian Republik Indonesia Dan Kepala Badan Urusan Logistik Nomor : /Skb/Bpphp/ I/2003 Tanggal Januari 2003

u. Kep

/Up/01/2003 Tentang Persyaratan Kualitas Gabah/Beras Untuk Pengadaan Dalam Ketahanan Pangan Departemen Pertanian Badan Urusan Logistik

Negeri Tahun 2003.

v. Keputusan Bersama Kepala Badan Bimas


Republik Indonesia Dan Nomor : 02/SKB/BBKP/I/2003

Kepala

w. KEP-08/UP/01/2003 Tanggal 16 Januari 2003 Tentang Harga Pembelian Gabah Oleh


Kontraktor Pengadaan Gabah/Beras Dalam Negeri Dari Petani/Kelompok Tani.

x. Keputusan Kepala BULOG No. Kep 142/KA/07/2002 tentang Peraturan Pergudangan di


Lingkungan Badan Urusan Logistik (Buku Hijau).

y. SE Dirjen Pajak N0. SE-07/PJ.42/2002 Tanggal 5 Agustus 2002 tentang Penghitungan


Penyusutan atas Komputer, Printer, Scanner dan sejenisnya.

z. Keputusan Direksi Perum BULOG No. Kep-01/Dirut/05/2003 tentang Organisasi dan tata
Kerja Perum BULOG.

aa. Harga Pokok Beras & Anggaran Biaya & Pendapatan (Master Budget) Tahun 2003 bb. Keputusan No. 162/KA 08/2001 tentang Kewenangan Penandatanganan Cek, SPP dst

Kami yakin bahwa audit kami memberikan dasar yang memadai untuk menyatakan pendapat. Pelaksanaan audit di lapangan mulai tanggal 23 Agustus 2004 sampai dengan 31 Desember 2004.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

vii

BPK RI/AUDITAMA KN V

LAPORAN KEUANGAN

PERUSAHAAN UMUM BULOG NERACA KOMPARATIF PER 31 DESEMBER 2003 DAN 21 JANUARI 2003 (dalam Rupiah penuh) Perkiraan AKTIVA AKTIVA LANCAR Kas dan Setara Kas Investasi Jangka Pendek Uang Muka Piutang, setelah dikurangi dengan penyisihan piutang sebesar Rp1.763.343.944 tahun 2003 Pendapatan YMH Diterima Biaya Dibayar Di Muka Persediaan Pajak Dibayar Di Muka Biaya Ditangguhkan Aktiva Lancar Lainnya JUMLAH AKTIVA LANCAR INVESTASI JANGKA PANJANG AKTIVA PAJAK TANGGUHAN AKTIVA TETAP Tanah Bangunan Akumulasi Penyusutan Bangunan Mesin-mesin Akumulasi Penyusutan Mesin-Mesin Kendaraan Akumulasi Penyusutan Kendaraan Inventaris Akumulasi Penyusutan Inventaris JUMLAH AKTIVA TETAP AKTIVA LAIN-LAIN TOTAL AKTIVA 3.11 Catatan 31-12-2003 21-01-2003

3.1 3.2 3.3 3.4 3.5 3.6 3.7 3.8 3.9 3.10

1.286.737.414.439 614.926.353.500 12.963.010.944

575.102.545.866 2.986.570.000.000 15.295.073.078

635.545.829.301 299.018.404.274 11.182.393.838 271.142.500 426.721.483 392.585.009 5.907.221.939.910 4.928.264.294.758 68.942.028.630 66.027.974 5.066.001.596.874 1.847.002.591.259 13.604.013.316.893 10.651.916.636.744 19.009.944.615 -

3.12.1 3.12.2 3.12.3 3.12.4 3.12.5

1.897.276.162.624 1.061.178.901.953 (97.423.368.164) 122.065.465.563 (6.019.883.607) 38.762.613.833 (12.920.594.829) 106.229.735.624 (34.747.674.310) 3.074.401.358.687 506.060.647.835

1.820.575.377.205 1.016.758.985.582 12.001.920.027 33.997.796.000 60.062.541.873 2.943.396.620.687 495.585.948.736

3.13.

17.203.485.268.030 14.090.899.206.167

Lihat catatan atas laporan keuangan yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan ini.

PERUSAHAAN UMUM BULOG NERACA KOMPARATIF PER 31 DESEMBER 2003 DAN 21 JANUARI 2003 (dalam Rupiah penuh) Perkiraan KEWAJIBAN JANGKA PENDEK Hutang Bank Hutang Usaha Hutang Pajak Biaya YMH Dibayar Pendapatan Ditangguhkan Beban L/C Yang Belum Dilimpahkan JUMLAH KEWAJIBAN JANGKA PENDEK KEWAJIBAN JANGKA PANJANG KEKAYAAN NEGARA YANG BELUM DISTATUSKAN EKUITAS Modal Akumulasi Laba (Rugi) JUMLAH EKUITAS TOTAL KEWAJIBAN DAN EKUITAS Catatan 31-12-2003 21-01-2003

3.14 3.15 3.16 3.17 3.18 3.19

9.359.758.674.358 1.116.052.018.013 7.195.737.670 25.461.349.991 12.219.898.049 52.054.120.096 10.572.741.798.177 -

5.673.999.830.229 1.543.071.279.182 725.685.800 9.838.915.411 14.613.025.161 1.514.674.824 7.243.763.410.607 -

3.20

783.551.930.126

492.570.916.433

3.21.1 3.21.2

6.354.564.879.127 (507.373.339.400) 5.847.191.539.727

6.354.564.879.127 6.354.564.879.127

17.203.485.268.030 14.090.899.206.167

Lihat catatan atas laporan keuangan yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan ini.

PERUSAHAAN UMUM BULOG LAPORAN LABA (RUGI) Untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2003 (dalam Rupiah penuh) Perkiraan PENDAPATAN USAHA Penjualan Harga Pokok Penjualan Laba (Rugi) Kotor Biaya Usaha Biaya Penjualan Biaya Umum dan Administrasi Biaya Pegawai Biaya Umum Biaya Pajak Biaya Susut Biaya Penyisihan dan Penyusutan Biaya Eksploitasi Umum Biaya Eksploitasi Penggunaan Karung Jumlah Biaya Usaha Laba (Rugi) Usaha Biaya / Bunga Bank Laba (Rugi) Sebelum Pendapatan dan Biaya Lain-Lain Pendapatan dan Biaya Lain-Lain Pendapatan Lain-lain Biaya Lain-lain Jumlah Pendapatan dan Biaya Lain-Lain Laba (Rugi) Sebelum PPh Badan Penghasilan (Beban) PPh Badan Pajak Kini Pajak Tangguhan Jumlah Penghasilan (Beban) PPh Badan Laba (Rugi) Aktivitas Normal Pos Luar Biasa Laba (Rugi) Bersih 3.27.1 3.27.2 3.26.1 3.26.2 Catatan Jumlah

3.22 3.23

8.985.912.081.075 7.645.739.190.254 1.340.172.890.821 37.191.954.683 349.856.262.780 201.929.382.017 413.236.759 29.802.153.679 152.874.864.682 434.365.686.759 1.174.085.908 1.207.607.627.267 132.565.263.554 1.287.327.862.108 (1.154.762.598.554) 785.538.335.295 157.159.020.756 628.379.314.539 (526.383.284.015) 19.009.944.615 19.009.944.615 (507.373.339.400) (507.373.339.400)

3.24.1 3.24.2 3.24.2 3.24.2 3.24.2 3.24.2 3.24.2 3.24.2

3.25

Lihat catatan atas laporan keuangan yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan ini

PERUSAHAAN UMUM BULOG LAPORAN ARUS KAS Untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2003 (dalam Rupiah penuh) Arus Kas Dari Aktivitas Operasi Laba (Rugi) Sebelum PPh Badan Penyesuaian Untuk : Pendapatan dan Biaya Lain-Lain Beban Bunga Laba Operasi Sebelum Perubahan Modal Kerja Kenaikan Investasi Jangka Pendek Penurunan Uang Muka Kenaikan Piutang Kenaikan Pendapatan Yang Masih Hrs Diterima Kenaikan Biaya Dibayar Di Muka Kenaikan Persediaan Kenaikan Biaya Yg Ditangguhkan Kenaikan Aktiva LainLain Kenaikan Hutang Kas Dihasilkan Dari Operasi Penerimaan Jasa Giro Dan Bunga Deposito Penerimaan Subsidi Pemerintah Penerimaan Sewa Penerimaan dana bantuan gaji PNS Penerimaan Restitusi Pajak Pembayaran Bunga Pembayaran Pajak Pembayaran Provisi Pembayaran Administrasi Jasa Giro Penerimaan (Pembayaran) Lainnya Arus Kas Bersih Dari Aktivitas Operasi Arus Kas Dari Aktivitas Investasi Penambahan Aktiva Tetap Penambahan Aktiva LainLain Hasil Penjualan Aktiva Tetap Arus Kas Bersih Yang Digunakan Untuk Aktivitas Investasi Arus Kas Dari Aktivitas Pendanaan Penambahan Kekayaan Penambahan Kekayaan Yang Belum Distatuskan Arus Kas Bersih Yang Digunakan Untuk Aktivitas Pendanaan Penurunan Kas Dan Setara Kas Kas Dan Setara Kas Awal Periode Kas Dan Setara Kas Akhir Periode (526.383.284.015) (628.379.314.539) 1.287.327.862.108 132.565.263.554 (614.926.353.500) 2.332.062.134 (330.482.756.077) (6.841.045.214) (34.136.474) (759.083.044.431) (66.027.974) (1.644.388.554.906) 3.384.268.984.774 30.779.128.329 230.885.623.364 82.189.258.453 3.428.646.798 77.943.163.367 4.194.172.847 (1.287.327.862.108) (94.449.893.103) (20.187.990.585) (7.150.301.272) (2.486.577.769) (849.617.368.125) (131.494.111.137) (10.474.699.099) 280.483.950 (141.688.326.286) 290.981.013.693 290.981.013.693 (700.324.680.718) 1.987.062.095.157 1.286.737.414.439

Lihat catatan atas laporan keuangan yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan ini

PERUSAHAAN UMUM BULOG LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS Untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2003 (dalam Rupiah penuh) Uraian Saldo per 21 Januari 2003 Penyertaan Modal Negara Dana Bulog Modal Donasi Laba (Rugi) Tahun Berjalan Saldo per 31 Desember 2003 Modal Ditempatkan Penyertaan Modal 6.354.564.879.125 6.354.564.879.125 Cadangan Saldo Laba Rugi (507.373.339.400) (507.373.339.400) Jumlah 6.354.564.879.125 (507.373.339.400) 5.847.191.539.725

Lihat catatan atas laporan keuangan yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan ini

PERUSAHAAN UMUM BULOG


LAPORAN LABA RUGI PER SEGMENTASI USAHA Untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2003 (dalam Rupiah penuh) No. 1 2 3 4 5 6 7 Keterangan Pendapatan Usaha - Penjualan - Harga Pokok Penjualan Laba (rugi) Kotor (2-3) Biaya Usaha - Biaya Penjualan - Biaya Umum dan Administrasi Biaya Pegawai Biaya Umum Biaya Pajak Biaya Susut Biaya Penyisihan dan Penyusutan Biaya Eksploitasi Umum - Jumlah Biaya Umum dan Administrasi Jumlah Biaya Usaha Laba (Rugi) Usaha Biaya / Bunga Bank Laba (Rugi) Sebelum Pendapatan dan Biaya Lain-Lain - Pendapatan Lain-Lain - Biaya Lain-Lain Jumlah Pendapatan dan Biaya Lain-Lain Laba(rugi) Sebelum PPh Badan - Pajak Kini - Pajak Tangguhan Jumlah Penghasilan (Beban) PPh Badan Laba (Rugi) Aktivitas Normal Pos Luar Biasa Laba (Rugi) Bersih Segmentasi Usaha Pelayanan Publik Komersial 8.985.912.081.075 7.645.739.190.254 1.340.172.890.821 37.191.954.683 349.856.262.780 201.929.382.017 413.236.759 29.802.153.679 152.874.864.682 435.539.772.667 1.170.415.672.584 1.207.607.627.267 132.565.263.554 1.287.327.862.108 (1.154.762.598.554) 163.223.627.805 15.747.117.578 147.476.510.227 (1.007.286.088.327) 17.806.615.121 17.806.615.121 (989.479.473.206) (989.479.473.206) Non Segmen 622.314.707.490 141.411.903.178 480.902.804.312 480.902.804.312 1.203.329.494 1.203.329.494 482.113.737.784 482.113.737.784 Jumlah 8.985.912.081.075 7.645.739.190.254 1.340.172.890.821 37.191.954.683 349.856.262.780 201.929.382.017 413.236.759 29.802.153.679 152.874.864.682 435.539.772.667 1.170.415.672.584 1.207.607.627.267 132.565.263.554 1.287.327.862.108 (1.154.762.598.554) 785.538.335.295 157.159.020.756 628.379.314.539 (526.383.284.015) 19.009.944.615 19.009.944.615 (507.373.339.400) (507.373.339.400)

8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22

Lihat catatan atas laporan keuangan yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan ini

CATATAN LAPORAN KEUANGAN

PERUSAHAAN UMUM BULOG CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN TB 2003 Untuk Tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2003 (Dalam Rupiah Penuh)

1.

GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 1.1. Pendirian Perusahaan Perusahaan Umum BULOG selanjutnya disebut Perusahaan adalah badan usaha yang didirikan dengan Peraturan Pemerintah No.7 Tahun 2003. Sebagai Badan Usaha Milik Negara yang berstatus Perum, maka Perum BULOG mempunyai dua tugas, yaitu tugas publik dan tugas komersil. Dalam tugas publik, Perum BULOG melaksanakan penugasan pemerintah yaitu: penyaluran beras untuk rakyat miskin (raskin) dan pengamanan stock dalam rangka ketahanan pangan, dan stabilisasi harga, sedangkan dalam tugas komersial, Perum Bulog berupaya untuk mendapatkan profit. Dengan demikian, pengelolaan kegiatan Bulog tidak sepenuhnya dapat mengikuti kaedah-kaedah sebagaimana perusahaan umum lainnya, terutama dalam kegiatan publik. 1.2. Sifat, Maksud dan Tujuan Sesuai dengan PP No. 7 tahun 2003, sifat, maksud dan tujuan perusahaan adalah sebagai berikut : Sifat usaha dari Perusahaan adalah menyediakan pelayanan bagi kemanfaatan umum dan sekaligus memupuk keuntungan berdasarkan prinsip pengelolaan Perusahaan. Maksud didirikannya Perusahaan adalah : o o untuk menyelenggarakan usaha logistik pangan pokok yang bermutu dan memadai bagi pemenuhan hajat hidup orang banyak; dalam hal tertentu melaksanakan tugas-tugas tertentu yang diberikan Pemerintah dalam pengamanan harga pangan pokok, pengelolaan cadangan pangan Pemerintah dan distribusi pangan pokok kepada golongan masyarakat tertentu, khususnya pangan pokok beras dan pangan pokok lainnya yang ditetapkan oleh Pemerintah dalam rangka ketahanan pangan. Tujuan Perusahaan adalah turut serta membangun ekonomi nasional khususnya dalam rangka pelaksanaan program pembangunan nasional di bidang pangan. 1.3. Kegiatan Usaha Pokok Untuk mencapai maksud dan tujuan tersebut, Perusahaan menyelenggarakan kegiatan usaha-usaha logistik pangan pokok serta usaha lainnya yang dapat menunjang tercapainya

For A Brighter Future

PERUSAHAAN UMUM BULOG CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN TB 2003 Untuk Tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2003 (Dalam Rupiah Penuh)

maksud dan tujuan Perusahaan. Dalam kaitannya dengan kegiatan usaha perusahaan, sesuai PP Nomor 7 tahun 2003 tentang Pendirian Perum Bulog pasal 6 ayat 2 huruf b disebutkan bahwa dalam hal tertentu melaksanakan tugas-tugas tertentu yang diberikan Pemerintah dalam pengamanan harga pangan pokok, pengelolaan, cadangan pangan Pemerintah dan distribusi pangan pokok kepada golongan masyarakat tertentu, khususnya pangan pokok beras dan pangan pokok lainnya yang ditetapkan oleh Pemerintah dalam rangka ketahanan pangan. Perum Bulog menerima penugasan pemerintah khususnya untuk stabilisasi harga gabah/beras sebagaimana yang tertuang dalam Inpres No. 9 tahun 2002 tentang Penetapan Kebijakan Perberasan Nasional. Dalam penugasan tersebut Perum Bulog diwajibkan : 1. Menyediakan dan menyalurkan beras bersubsidi bagi kelompok masyarakat miskin dan rawan pangan. 2. Pengadaan beras untuk penyediaan dan penyaluran beras bagi kelompok masyarakat miskin dan rawan pangan sebagaimana dimaksud dalam angka 1, dilakukan dengan mengutamakan pengadaan beras yang berasal dari gabah petani dalam negeri. 3. Menyediakan dan menyalurkan beras untuk menanggulangi keadaan darurat dan menjaga stabilisasi harga beras dalam negeri melalui pengelolaan cadangan beras pemerintah. Pengadaan untuk cadangan beras pemerintah sebagaimana dimasud dalam angka 1, dilakukan dengan mengutamakan pengadaan beras yang berasal dari gabah petani dalam negeri.

1.4.

Visi Perusahaan Menjadi lembaga pangan yang handal untuk memantapkan ketahanan pangan Adapun penjabaran visi tersebut adalah sebagai berikut: Menjadi Perusahaan Umum di bidang Pangan yang handal dalam rangka memantapkan Ketahanan Pangan Nasional dari berbagai aspek, yaitu: o Tersedianya kebutuhan pangan bagi masyarakat Indonesia, baik tepat waktu, kualitas, jumlah dan tempat.

For A Brighter Future

PERUSAHAAN UMUM BULOG CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN TB 2003 Untuk Tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2003 (Dalam Rupiah Penuh)

o o

Sebagai pengendali harga pangan di tingkat Produsen dan Konsumen. Melayani hasil produksi pangan dari petani dan memenuhi kebutuhan pangan bagi masyarakat Indonesia.

Menjadi Perusahaan Umum di bidang Pangan yang handal dalam arti profesional dan kompetitif dalam: o o o o o Pelaksanakan tugas publik dan komersial dalam bidang usaha pangan berskala Nasional dan Internasional. Pemenuhan kepentingan dan kepercayaan terhadap pemegang saham. Pemenuhan kepuasan pelanggan, baik petani (produsen) maupun konsumen (masyarakat). Pencapaian kinerja yang produktif dan penciptaan nilai (value creation). Pemberdayaan dan pengembangan SDM

Menjadi Perusahaan Umum di bidang Pangan yang handal dalam arti senantiasa memiliki kepekaan atas tanggung jawabnya terhadap kepentingan masyarakat dan lingkungan serta taat dan menjunjung tinggi nilai-nilai etika dalam melaksanakan bisnis.

1.5.

Misi Perusahaan Berdasarkan visi perusahaan diatas, maka Perum Bulog memiliki misi sebagai berikut: Menyelenggarakan tugas pelayanan publik untuk menunjang keberhasilan pangan nasional. Menyelenggarakan kegiatan ekonomi di bidang pangan secara berkelanjutan, yang memberikan manfaat kepada perekonomian Nasional. Menyelenggarakan ekonomi di bidang pangan dan usaha lain secara berkelanjutan dan bermanfaat kepada stakeholders. Menjalankan usaha dalam bidang produksi, pemasaran dan jasa di bidang komoditi pangan guna mendukung program pengembangan hasil pertanian khususnya Pangan dan bidang usaha lainnya dengan upaya memaksimalkan produktivitas, efisiensi dan kemampuan untuk menghasilkan laba.

For A Brighter Future

PERUSAHAAN UMUM BULOG CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN TB 2003 Untuk Tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2003 (Dalam Rupiah Penuh)

1.6.

Direksi dan Dewan Pengawas Susunan Dewan Pengawas dan Direksi Perusahaan adalah sebagai berikut: Ketua Dewan Pengawas Anggota Dewan Pengawas : : M.P. Simatupang - Rachmad Pambudy - Sudar S.A - Anshari Ritonga Direktur Utama Direktur Keuangan Direktur Operasi Direktur Pengemb. & IT Direktur Umum dan SDM : : : : : Widjanarko Puspoyo Saean Achmady Bambang Budi Prasetyo Tito Pranolo Agus Saefullah

2.

IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI 2.1. Dasar Pengukuran dan Penyusunan Laporan Keuangan Laporan Keuangan disusun dengan menggunakan Asumsi Kelangsungan Usaha dan atas Dasar Akrual, pengukuran aktiva, kewajiban, pendapatan dan beban diakui pada periode terjadinya. Laporan Keuangan disusun berdasarkan Nilai Historis : o o Aktiva dicatat sebesar pengeluaran kas/setara kas atau sebesar nilai wajar untuk memperoleh aktiva tersebut. Kewajiban dicatat sebesar jumlah yang diterima sebagai penukar dari kewajiban, atau dalam keadanan tertentu dalam jumlah kas/setara kas yang diharapkan akan dibayarkan untuk memenuhi kawajiban dalam kegiatan usaha normal. Laporan Arus Kas disusun dengan mengunakan metode tidak langsung. Laporan Interim merupakan laporan antar periode, disusun untuk keperluan manajemen dan memudahkan dalam penyusunan Laporan Keuangan. Periode Laporan Interim adalah triwulanan. Laporan Keuangan Gabungan merupakan penggabungan dari laporan yang disusun oleh seluruh unit kerja (Subddivre, Divre,dan Kantor Pusat) Laporan unit kerja hanya

For A Brighter Future

10

PERUSAHAAN UMUM BULOG CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN TB 2003 Untuk Tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2003 (Dalam Rupiah Penuh)

merupakan dasar untuk mengevaluasi kinerja masing-masing unit kerja dan merupakan bagian dari laporan keuangan perusahaan yang lengkap. Laporan Keuangan Konsolidasi merupakan laporan gabungan perusahaan dengan anak perusahaan. Laporan Keuangan disusun terdiri dari : o o o o o Neraca Laporan Laba-Rugi Arus Kas Perubahan Ekuitas Catatan Atas Laporan Keuangan

2.2.

Kas dan Setara Kas Kas, adalah alat pembayaran yang siap dan bebas dipergunakan untuk membiayai kegiatan Perusahan dalam bentuk Rupiah maupun Mata Uang Asing. Setara Kas, merupakan investasi yang sifatnya sangat likuid, berjangka pendek yang dengan cepat dapat dijadikan Kas dalam jumlah tertentu tanpa menghadapi resiko perubahan nilai signifikan. Setara Kas terdiri dari rekening giro dalam bentuk rupiah maupun Mata Uang Asing dan Uang Dalam Perjalanan. Semua alat-alat likuid yang tidak segera diperlukan oleh perusahaan disimpan dalam bank sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

2.3.

Piutang Piutang Usaha, merupakan Piutang yang timbul dari kegiatan usaha Perum Bulog, terdiri dari piutang yang terjadi dari transaksi dengan Pemerintah dan transaksi non Pemerintah. Piutang Lainnya, merupakan Piutang yang timbul diluar dari kegiatan usaha Perum Bulog. Piutang transaksi dengan Pemerintah diakui berdasarkan jumlah yang dapat ditagih kepada Pemerintah. Selisih antara Piutang yang diakui dengan realisasi penyelesaian dengan Pemerintah, diakui sebagai beban atau pendapatan periode yang bersangkutan.

For A Brighter Future

11

PERUSAHAAN UMUM BULOG CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN TB 2003 Untuk Tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2003 (Dalam Rupiah Penuh)

Piutang transaksi dengan non Pemerintah diakui berdasarkan jumlah yang dapat ditagih setelah diperhitungkan dengan penyisihan.

Berdasarkan hasil analisis piutang masing-masing debitur, terhadap Piutang Usaha dilakukan Penyisihan Piutang,

Kriteria piutang ditentukan oleh umur piutang dan tingkat kolektabilitas piutang per debitur. Umur piutang ditentukan/dihitung sejak timbul/terjadinya piutang (dalam satuan bulan), sedangkan tingkat kolektabilitas piutang ditentukan oleh kemampuan bayar debitur.

Piutang usaha kepada Pemerintah dikategorikan sebagai Piutang Lancar. Besarnya penyusutan 0%.

Piutang usaha kepada Non Pemerintah : o o o o Piutang lancar, bila berumur kurang dari setahun dan pembayarannya lancar (kontinyu). Besarnya penyusutan 0%. Piutang kurang lancar, bila berumur lebih dari setahun dan ada pembayaran namun tidak lancar. Besarnya penyusutan 15%. Piutang diragukan, bila berumur lebih dari setahun, tidak ada pembayaran dan diragukan pengembaliannya. Besarnya penyusutan 50%. Piutang macet, bila berumur lebih dari setahun, tidak ada pembayaran, sulit diharapkan untuk dapat ditagih dan bermasalah (sengketa/peradilan). Besarnya penyusutan 100%

Piutang Usaha yang diklasifikasikan sebagai diragukan dan macet dikelompokan dalam kelompok Aktiva Lain-Lain.

Penghapusan Piutang dari Neraca berdasarkan Keputusan Direksi atas dasar hasil/keputusan Rapat Pembahasan Bersama (RPB) antara Direksi dan Dewan Pengawas, sesuai dengan Keputusan Menteri.

2.4.

Pengalihan Piutang Usaha (Anjak Piutang) Anjak piutang dengan resource diakui sebagai kewajiban anjak piutang sebesar nilai piutang yang dialihkan. Selisih antara nilai piutang yang dialihkan dengan dana yang diterima ditambah

For A Brighter Future

12

PERUSAHAAN UMUM BULOG CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN TB 2003 Untuk Tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2003 (Dalam Rupiah Penuh)

dengan retensi, diakui sebagai beban bunga selama periode anjak piutang. 2.5. Persediaan Pengelompokan Persediaan o Persediaan Barang Dagangan Barang dagangan yang siap untuk dijual dalam kegiatan normal Perusahaan. Barang dagangan yang dalam proses pengolahan Barang dagangan dalam perjalanan (dalam proses pemin dahan/movement) o Persediaan Barang Pelengkap/Pembantu : Tidak dimaksudkan untuk dijual Diperlukan untuk menunjang kegiatan usaha yang terkait dengan barang dagangan, antara lain Karung/Karplas/ Kartago, Obat-obatan untuk perawatan Persediaan Komoditi Dagangan. Penilaian Persediaan : o Barang Dagangan Berdasarkan biaya perolehan dengan menggunakan metode rata-rata tertimbang. Harga beli/harga pengadaan barang dagangan dan biaya-biaya yang terkait langsung dengan pembelian/pengadaan diakui sebagai biaya perolehan. Biaya-biaya yang terkait langsung dengan pengolahan/ prosessing barang dagangan diakui sebagai biaya perolehan. o Barang Pelengkap/Pembantu Harga beli/harga pengadaan/harga penerimaan Barang Pelengkap/ Pembantu selama periode diakui sebagai beban periode yang bersangkutan. Pada akhir periode (tanggal neraca) berdasarkan pemeriksaan fisik (stock opname), sisa/saldo Barang Pelengkap/ Pembantu diakui sebagai Persediaan dan dinilai menurut harga pembelian/pengadaan/penerimaan terakhir. Khusus untuk karung pembungkus bekas baik (yang masih dapat digunakan) dinilai sebesar 75% dari harga pembelian yang terakhir dari jenis karung yang bersangkutan.

For A Brighter Future

13

PERUSAHAAN UMUM BULOG CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN TB 2003 Untuk Tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2003 (Dalam Rupiah Penuh)

Harga Perolehan Persediaan o Harga Beli/Harga Penerimaan Barang Dagangan Harga beli barang dagangan atas kegiatan pembelian DN diakui pada saat penerimaan barang berdasarkan harga beli DN. Harga beli barang dagangan atas kegiatan pembelian LN (import) diakui pada saat penerimaan barang berdasarkan harga beli LN/harga import. Harga beli DN. Harga penerimaan barang dagangan atas kegiatan giling/prosessing dan reprosessing diakui pada saat penerimaan barang berdasarkan harga pokok bahan baku barang dagangan yang digiling/prosessing atau reprosessing. o Harga Beli/Harga Penerimaan Barang Pelengkap/Pembantu Harga beli barang pelengkap/pembantu atas kegiatan pembelian DN diakui pada saat penerimaan barang sebagai beban/biaya periode yang bersangkutan berdasarkan harga beli DN. Harga penerimaan barang pelengkap/pembantu atas kegiatan penerimaan movement diakui pada saat penerimaan barang sebagai beban/biaya periode yang bersangkutan berdasarkan harga pelimpahan (SH-5). o Biaya Perolehan Barang Dagangan Biaya perolehan barang dagangan atas kegiatan pembelian DN adalah biayabiaya yang terkait langsung dengan pembelian DN diakui pada saat penerimaan barang. Biaya perolehan barang dagangan atas kegiatan pembelian LN (import) adalah biaya-biaya yang terkait langsung dengan pembelian LN diakui pada saat penerimaan barang. Biaya perolehan barang dagangan atas kegiatan movement nasional diakui pada saat pengiriman/ penerimaan barang dan sebagai beban Bulog Pusat (dilimpahkan). Biaya perolehan barang dagangan atas kegiatan movement regional diakui pada saat pengiriman/ penerimaan barang dan sebagai beban Divre yang bersangkutan. penerimaan barang dagangan atas kegiatan movement (nasional/regional) diakui pada saat penerimaan barang berdasarkan harga

For A Brighter Future

14

PERUSAHAAN UMUM BULOG CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN TB 2003 Untuk Tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2003 (Dalam Rupiah Penuh)

Biaya perolehan barang dagangan atas kegiatan giling/ prosessing dan reprosessing adalah biaya-biaya yang terkait langsung dengan giling/prosessing atau reprosessing diakui pada saat penerimaan barang. Penghapusan Persediaan dari Neraca berdasarkan Keputusan Direksi atas dasar hasil/ keputusan Rapat Pembahasan Bersama (RPB) antara Direksi dan Dewan Pengawas, sesuai dengan Keputusan Menteri.

2.6.

Investasi Deposito berjangka disajikan sebesar nilai nominalnya sebagai investasi jangka pendek . Investasi dalam bentuk surat berharga (efek) yang nilai wajarnya tersedia dapat berupa efek hutang (debt securities) dan efek ekuitas (equity securities) : o Untuk diperdagangkan disajikan sebesar nilai wajar sebagai investasi jangka pednek. Laba/rugi yang timbul dari pengukuran nilai wajar diakui pada periode berjalan. o Untuk dimiliki hingga jatuh tempo (held to maturity) disajikan sebesar harga perolehan disesuaikan dengan amortisasi premi atau amortisasi diskonto sebagai investasi jangka panjang. o Investasi dalam bentuk surat beharga yang tidak memenuhi kreterian untuk diperdagangkan atau untuk dimiliki, disajikan sebesar nilai wajar. Laba/rugi yang timbul dari pengukuran nilai wajar disajikan sebagai komponen ekuitas. Investasi dalam bentuk penyertaan saham : o o Perusahaan mempunyai kepemilikan saham kurang dari 20% disajikan sebesar nilai terendah antara harga perolehan dan nilai bersih yang dapat direalisasi. Perusahaan mempunyai kepemilikan saham 20% s/d 50% disajikan dengan metode ekuitas sebesar nilai perolehan setelah diperhitungkan dengan bagian laba/rugi bersih perusahaan asosiasi serta dikurangi dengan pendapatan deviden

2.7.

Aktiva Tetap Aktiva Tetap adalah aktiva berwujud yang diperoleh dalam bentuk siap pakai atau 15

For A Brighter Future

PERUSAHAAN UMUM BULOG CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN TB 2003 Untuk Tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2003 (Dalam Rupiah Penuh)

dibangun terlebih dahulu, yang dipergunakan dalam operasi perusahaan dan tidak dimaksudkan untuk dijual kembali dalam kegiatan normal Perusahaan dan mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun. Biaya perolehan aktiva tetap adalah jumlah Kas atau setara Kas yang dibayarkan atau nilai wajar imbalan lain yang diberikan untuk memperoleh suatu aktiva tetap tersebut dalam kondisi siap untuk dipergunakan. Pengeluaran setelah perolehan (Subsequent Expenditures) pada properti, pabrik dan peralatan hanya diakui sebagai suatu aktiva jika pengeluaran meningkatkan kondisi aktiva melebihi standar kinerja semula. Terhadap Aktiva Tetap dilakukan penyusutan dengan menggunakan metode garis lurus (Straight Line Methode). Pada akhir masa manfaat ekonomis nilai sisa adalah Rp 1,- (nilai residu=Rp1). Nilai perolehan aktiva tetap eks. LPND Bulog adalah hasil penilaian berdasarkan hasil Inventasisasi dan Penilaian Kekayaan dan Kewajiban (IPKK) LPND Bulog. Masa manfaat ekonomis aktiva tetap sesuai ketentuan perpajakan. Aktiva tetap bangunan dikelompokan : o Kelompok-I, yaitu bangunan permanen yang dibangun sesuai standar Bulog seperti GBB, GDT, GBM, Kantor, Rumjab masa manfaat ekonomis ditetapkan selama 20 tahun. o Kelompok-II, yaitu bangunan permanen yang dibangun tidak sesuai dengan standar Bulog seperti bangunan yang diperoleh dari kompensasi, masa manfaat ekonomis ditetapkan selama 20 tahun. o o Kelompok-III, yaitu bangunan semi permanen yang dibangun sesuai standar Bulog seperti GSP, masa manfaat ekonomis ditetapkan selama 10 tahun. Kelompok-IV, yaitu bangunan semi permanen yang dibangun tidak sesuai dengan standar Bulog seperti bangunan yang diperoleh dari kompensasi, pembelian, masa manfaat ekonomis ditetapkan selama 10 tahun.

Aktiva tetap bukan bangunan dikelompokan : o Kelompok-I, semua Inventaris (Inventaris Gudang, Inventaris Kantor, Inventaris Rumdis, Inventaris Laboratorium dan Inventaris Lainnya) kecuali Alat Pengatur

For A Brighter Future

16

PERUSAHAAN UMUM BULOG CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN TB 2003 Untuk Tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2003 (Dalam Rupiah Penuh)

Udara (AC, Kipas Angin dan sejenisnya), serta Kedaraan Roda Dua (Motor, Sepeda dan sejenisnya) masa manfaat ekonomis ditetapkan selama 4 tahun. o Kelompok-II, seperti Kendaraan Roda Empat (Mobil, Truck, Bus, Speedboad dan sejenisnya), Alat Pengatur Udara (AC, Kipas Angin dan sejenisnya) dan MesinMesin masa manfaat ekonomis ditetapkan selama 8 tahun. Aktiva tetap yang masa manfaatnya dalam satu periode kurang dari 6 bulan tidak dilakukan penyusutan dalam periode yang bersangkutan Masa manfaat ekonomis aktiva tetap eks. LPND Bulog berdasarkan taksiran Sisa Masa Manfaat Ekonomis.

2.8.

Aktiva dalam Pembangunan Aktiva dalam pembangunan meliputi bangunan dan prasarana lainnya, yang dinyatakan berdasarkan biaya pembangunan, biaya pegawai langsung, biaya tidak langsung dalam pembangunan tersebut dan biaya-biaya pinjaman yang digunakan untuk membiayai aktiva selama masa pembangunan. Akumulasi biaya aktiva dalam pembangunan akan direklasifikasi ke aktiva tetap yang bersangkutan dan kapitalisasi biaya pinjaman dihentikan pada saat pembangunan selesai dan aktiva tersebut siap untuk dipergunakan.

2.9.

Aktiva Tidak Berwujud Aktiva Tidak Berwujud disajikan dalam Aktiva Lain-lain Terhadap Aktiva Tidak Berwujud dilakukan Penyusutan (Amortisasi) dengan menggunakan metode garis lurus (straight line methode) Periode Penyusutan (Amortisasi) ditetapkan maksimal selama 20 (dua puluh) tahun.

2.10. Kapitalisasi Pengeluaran Modal/Biaya Terhadap pembelian inventaris kantor, gudang, rumah dinas dan laboratorium yang sifatnya sebagai perlengkapan, diakui sebagai beban pada periode yang bersangkutan Terhadap pembelian inventaris kantor, gudang, rumah dinas dan laboratorium yang

For A Brighter Future

17

PERUSAHAAN UMUM BULOG CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN TB 2003 Untuk Tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2003 (Dalam Rupiah Penuh)

sifatnya sebagai sarana diakui sebagai aktiva Terhadap inventaris kantor, gudang, rumah dinas dan laboratorium yang sifatnya sebagai perlengkapan, diadministrasikan secara tersendiri di luar neraca

2.11. Modal Modal PERUM BULOG, merupakan Kekayaan Negara yang dipisahkan dari APBN dan tidak terbagi atas saham Besarnya modal Perusahaan pada saat pendirian adalah sebesar seluruh nilai kekayaan Negara yang dikelola oleh LPND Bulog yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan berdasarkan perhitungan bersama yang dilakukan oleh Departmen Keuangan, Kantor Menteri Negara BUMN dan LPND Bulog Setiap penambahan dan pengurangan penyertaan modal Negara dalam Perusahaan ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah Penerbitan obligasi dalam rangka pengarahan dana masyarakat oleh Perusahaan ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah Struktur modal Perusahaan terdiri dari : o o o o Modal Negara Modal Donasi Cadangan Umum Akumulasi Laba-Rugi

2.12. Bantuan Pemerintah/Subsidi Penerimaan dana yang berasal dari Pemerintah/APBN untuk memperoleh suatu aktiva, diakui sebagai Pos Dana APBN yang selanjutnya akan diakui sebagai penambahan penyertaan modal Negara setelah ada penetapan dari Pemerintah Penerimaan dana yang berasal dari Pemerintah/APBN yang terkait dengan penggantian pembiayaan atas penugasan Pemerintah diakui sebagai pendapatan periode yang bersangkutan sesuai dengan peruntukannya Penerimaan dana yang berasal dari Pemerintah/APBN yang terkait dengan subsidi Pemerintah diakui sebagai pendapatan periode yang bersangkutan For A Brighter Future 18

PERUSAHAAN UMUM BULOG CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN TB 2003 Untuk Tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2003 (Dalam Rupiah Penuh)

Penerimaan dana yang berasal dari Pemerintah/APBN berupa bantuan Gaji PNS diakui sebagai pendapatan periode yang bersangkutan

2.13. Pengakuan Pendapatan dan Beban Pendapatan, diakui dengan menggunakan dasar Akrual, yaitu diakui pada saat kejadian, kecuali: o o Subsidi beban Pemerintah yang ditetapkan sesuai ketentuan yang berlaku Tagihan bunga atas Piutang yang digolongkan sebagai Piutang diragukan dan macet Pendapatan Ditangguhkan, merupakan pendapatan yang memiliki masa manfaat ekonomis lebih dari satu periode akuntansi Beban, diakui dengan menggunakan dasar Akrual, yaitu beban yang memiliki hubungan yang jelas dengan pengakuan pendapatan Beban Ditangguhkan, merupakan beban yang memiliki masa manfaat ekonomis lebih dari satu periode akuntansi

2.14. Biaya Pinjaman Biaya atas pinjaman yang digunakan untuk membiayai pembangunan atau pemasangan aktiva dalam pembangunan dikapitalisasi. Beban keuangan ini mencakup beban bunga, selisih kurs, amortisasi premi swap dan biaya pinjaman lainnya. Kapitalisasi biaya-biaya pinjaman ini dihentikan pada saat pembangunan aktiva tetap telah selesai dan siap untuk digunakan.

2.15. Pajak Penghasilan Perusahaan menerapkan metode pajak tangguhan dalam perhitungan beban pajak penghasilan Aktiva dan Kewajiban pajak tangguhan diakui atas konsekuensi pajak mendatang yang timbul dari perbedaan antara jumlah tercatat menurut Laporan Keuangan dengan dasar pengenaan pajak menurut ketentuan perpajakan

For A Brighter Future

19

PERUSAHAAN UMUM BULOG CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN TB 2003 Untuk Tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2003 (Dalam Rupiah Penuh)

Koreksi fiskal akibat ayat-2 tersebut diakui sebagai beban/pendapatan periode kini (berjalan)

2.16. Transaksi dan Saldo Dalam Mata uang Asing Penyusunan dan penyajian Laporan Keuangan menggunakan Mata Uang Rupiah. Transaksi dalam Mata Uang Asing selama periode akuntansi dijabarkan dalam mata uang Rupiah, menggunakan kurs yang terjadi pada saat transaksi. Pada tanggal Neraca, Aktiva dan Kewajiban moneter dalam mata uang Asing dijabarkan dalam mata uang Rupiah, dengan mengunakan Kurs Tengah Bank Indonesia. Selisih akibat perbedaan kurs pada saat terjadi transaksi dengan tanggal neraca diakui sebagai Pendapatan/Biaya periode yang bersangkutan.

2.17. Kontribusi Biaya/Beban Usaha Kontribusi biaya/beban usaha biaya pegawai, biaya umum dan biaya berdasarkan formula sebagi berikut : Kontribusi biaya/beban usaha Penugasan Pemerintah (PSO) di hitung berdasarkan formula : BUP = TPP TP x 100 % penyisihan piutang, biaya peyusutan aktiva tetap untuk masing-masing segmen dihitung

BUP TPP TP

= = =

Beban Usaha Penugasan Pemerintah Total Penghasilan Usaha Penugasan Pemerintah Total Penghasilan Perum Bulog

Kontribusi biaya/beban usaha Komersil di hitung berdasarkan formula : BUK = TPK TP x 100 %

For A Brighter Future

20

PERUSAHAAN UMUM BULOG CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN TB 2003 Untuk Tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2003 (Dalam Rupiah Penuh)

BUK TPK TP

= = =

Beban Usaha Komersil Total Penghasilan Usaha Komersil Total Penghasilan Perum Bulog

Penyajian Laporan Keuangan TA 2003 yang telah dilakukan Kontribusi biaya/beban usaha hanya pada Laporan Keuangan Gabungan Bulog, disajikan dalam Catatan Atas Laporan Keuangan.

2.18. Koreksi Pembukuan Periode Lalu Terhadap koreksi-koreksi pembukuan yang timbul akibat kesalahan pada periode akuntansi yang lalu, diakui pada periode akuntansi berjalan.

For A Brighter Future

21

PERUSAHAAN UMUM BULOG CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN TB 2003 Untuk Tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2003 (Dalam Rupiah Penuh)

31-12-2003
3. PENJELASAN AKUN-AKUN NERACA DAN LABA (RUGI)

21-01-2003

3.1 3.1.1

KAS DAN SETARA KAS Kas

1.286.737.414.439 4.395.110.866

575.102.545.866 4.989.208.028

Jumlah tersebut merupakan saldo buku kas di Divre-Divre dan Bulog Pusat, telah sesuai dengan hasil kas opname pada tanggal 31 Desember 2003 dan 21 Januari 2003 yang diklasifikasikan sesuai tujuan penggunaannya terdiri dari : - Kas manajemen - Kas Eksploitasi - Kas Valas - Kas lain-lain 1.854.653.483 1.299.856.307 140.073.741 1.100.527.335 4.395.110.866 3.1.2 Setara Kas 1.282.342.303.573 3.662.728.157 302.852.132 1.023.627.739 4.989.208.028 570.113.337.838

Jumlah tersebut merupakan setara kas di Divre-Divre dan Bulog Pusat pada tanggal 31 Desember 2003 dan 21 Januari 2003, terdiri dari : - Bank - Uang Dalam Perjalanan 1.273.313.655.081 9.028.648.492 1.282.342.303.573 Bank Jumlah 1.273.313.655.081 563.098.323.546 7.015.014.292 570.113.337.838 563.098.323.546

tersebut merupakan dana yang ada di Bank di Divre-Divre dan Bulog Pusat telah sesuai dengan hasil

pada tanggal 31 Desember 2003 dan 21 Januari 2003, rekonsiliasi terdiri dari : Berdasarkan Bank : - Bank Bukopin - Bank Rakyat Indonesia

1.084.378.581.406 98.081.503.258

319.730.894.122 158.287.607.055

For A Brighter Future

22

PERUSAHAAN UMUM BULOG CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN TB 2003 Untuk Tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2003 (Dalam Rupiah Penuh)

31-12-2003
- Bank Mandiri - Bank BNI - Bank Lainnya Jumlah Berdasarkan peruntukannya : - Manajemen - Eksploitasi - Satgas - Jaminan - Investasi - Dana Cadangan - Lainnya Jumlah 64.525.085.988 11.256.700.729 12.189.312.389 61.840.334.356 26.982.997.743 145.668.777.031 950.850.446.845 1.273.313.655.081 75.899.033.687 13.959.303.515 995.233.215 1.273.313.655.081

21-01-2003
54.682.775.697 29.199.237.494 1.197.809.178 563.098.323.546

56.664.195.579 9.669.545.083 3.549.929.617 40.704.098.048 452.510.555.219 563.098.323.546

Jumlah lainnya sebesar Rp 950,850,446,845 tersebut termasuk penerimaan pembayaran imbal dagang RI-Rusia sebesar Rp 795.239.806.284

Uang Dalam Perjalanan

9.028.648.492

7.015.014.292

Jumlah tersebut merupakan transfer dana yang masih dalam perjalanan di Divre-Divre dan Bulog Pusat pada tanggal 31 Desember 2003 dan 21 Januari 2003, terdiri dari : - Droping Dana Manajemen - Lainnya Jumlah 3.514.724.296 5.513.924.196 9.028.648.492 290.855.817 6.724.158.475 7.015.014.292

3.2.

INVESTASI JANGKA PENDEK

614.926.353.500

2.986.570.000.000

Jumlah tersebut merupakan penempatan dana Bulog dalam bentuk deposito berjangka 3 s/d 6 bulan diperpanjang secara otomatis (rollover) di Bulog Pusat pada tanggal 31 Desember 2003 dan 21 Januari 2003 dalam bentuk rupiah dan US $ terdiri dari :

For A Brighter Future

23

PERUSAHAAN UMUM BULOG CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN TB 2003 Untuk Tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2003 (Dalam Rupiah Penuh)

31-12-2003
Berdasarkan bank : - Bank Bukopin - Bank Rakyat Indonesia - Bank Mandiri - Bank Lainnya Jumlah Berdasarkan penempatan : - Deposito Dalam Rupiah - Deposito Dalam US $ Jumlah 360.300.000.000 254.626.353.500 614.926.353.500 1.099.603.500 343.112.250.000 141.200.000.000 129.514.500.000 614.926.353.500

21-01-2003

1.833.293.450.000 684.294.550.000 327.842.000.000 141.140.000.000 2.986.570.000.000

1.964.565.000.000 1.022.005.000.000 2.986.570.000.000

3.3.

UANG MUKA

12.963.010.944

15.295.073.078

Jumlah tersebut merupakan pemberian uang muka di Divre-Divre dan Bulog Pusat yang belum dipertanggungjawabkan pada tanggal 31 Desember 2003 dan 21 Januari 2003 terdiri dari : - Uang Muka Manajemen - Uang Muka Pengadaan - Uang Muka Eksploitasi - Uang Muka Lain-Lain Jumlah 7.999.478.751 4.918.625 2.237.938.682 2.720.674.886 12.963.010.944 9.227.457.652 5.198.901.613 868.713.813 15.295.073.078

3.4.

PIUTANG

635.545.829.301

299.018.404.274

Jumlah tersebut merupakan saldo piutang di Divre-Divre dan Bulog Pusat setelah diperhitungkan dengan akumulasi penyisihan piutang pada tanggal 31 Desember 2003 dan 21 Januari 2003, terdiri dari :

For A Brighter Future

24

PERUSAHAAN UMUM BULOG CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN TB 2003 Untuk Tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2003 (Dalam Rupiah Penuh)

31-12-2003
3.4.1 Piutang Usaha - Piutang Golongan Anggaran Pusat - Piutang Depkeu - Piutang Pemerintah (Imbal Dagang) - Piutang Departemen Lainnya - Piutang BUMN - Piutang Klaim - Piutang Swasta - Akumulasi Penyisihan Piutang Jumlah 3.4.2 Piutang Lainnya - Piutang Pegawai - Lain-Lain - Akumulasi Penyisihan Piutang Jumlah 810.584.448 471.090.379 1.281.674.827 (78.718.295) 1.202.956.532 245.795.268.654 262.399.179.656 73.508.438.944 27.218.206.264 8.079.580 14.133.700.723 12.964.624.597 636.027.498.418 (1.684.625.649) 634.342.872.769

21-01-2003

103.520.679.700 126.806.072.523 6.091.214.398 6.308.869.882 54.802.896.866 297.529.733.369 297.529.733.369

1.488.670.905 1.488.670.905 1.488.670.905

3.5.

PENDAPATAN YANG MASIH HARUS DITERIMA 11.182.393.838 271.142.500

Jumlah tersebut merupakan pendapatan yang masih harus diterima di Divre-Divre dan Bulog Pusat pada tanggal 31 Desember 2003 dan 21 Januari 2003 terdiri dari : - Jasa Giro/Deposito - Lainnya Jumlah 4.070.206.124 7.112.187.714 11.182.393.838 6.142.500 265.000.000 271.142.500

Jumlah pendapatan lainnya sebagian besar merupakan pendapatan dari Kerja Sama Operasi pengadaan, penyimpanan dan penyaluran gula kristal putih impor dengan PT PN X. Lihat Catatan No. 3.28.4.

For A Brighter Future

25

PERUSAHAAN UMUM BULOG CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN TB 2003 Untuk Tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2003 (Dalam Rupiah Penuh)

31-12-2003
3.6. BIAYA DIBAYAR DIMUKA 426.721.483

21-01-2003
392.585.009

Jumlah tersebut merupakan biaya dibayar dimuka di Divre-Divre dan Bulog Pusat pada tanggal 31 Desember 2003 dan 21 Januari 2003, terdiri dari : - Biaya Umum dan Pegawai - Biaya Lainnya Jumlah 384.437.379 42.284.104 426.721.483 365.025.905 27.559.104 392.585.009

3.7. 3.7.1

PERSEDIAAN Persediaan di Gudang

5.907.221.939.910 5.502.762.706.583

4.928.264.294.758 4.270.088.814.334

Jumlah tersebut merupakan nilai persediaan barang dagangan dan barang pelengkap/pembantu di gudang di Divre-Divre pada tanggal 31 Desember 2003 dan 21 Januari 2003, terdiri dari : Barang Dagangan - Beras - Gabah - Gula Pasir Jumlah Barang Pelengkap/Pembantu - Karung Pembungkus - Obat-Obatan (PQC) Jumlah 3.7.2 Persediaan Dalam Proses Jumlah tersebut merupakan nilai 48.612.098.652 4.052.449.922 52.664.548.574 63.227.650.603 persediaan barang 32.050.274.977 32.050.274.977 46.468.344.897 dagangan dan barang 4.611.936.215.775 680.435.718.571 157.726.223.663 5.450.098.158.009 3.986.494.237.520 251.544.301.837 4.238.038.539.357

pelengkap/pembantu dalam proses/di PP di Divre-Divre pada tanggal 31 Desember 2003 dan 21 Januari 2003, terdiri dari :

For A Brighter Future

26

PERUSAHAAN UMUM BULOG CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN TB 2003 Untuk Tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2003 (Dalam Rupiah Penuh)

31-12-2003
Barang Dagangan - Gabah Barang Pelengkap/Pembantu - Karung Pembungkus - Obat-Obatan (PQC) 1.993.439.961 704.814.132 2.698.254.093 3.7.3. Persediaan Dalam Perjalanan Jumlah tersebut merupakan nilai 294.105.408.464 persediaan barang 60.529.396.510

21-01-2003

44.782.223.587

1.686.121.310 1.686.121.310 611.707.135.527 dagangan dan barang

pelengkap/pembantu dalam perjalanan di Divre-Divre (movement regional) dan Bulog Pusat (movement nasional) pada tanggal 31 Desember 2003 dan 21 Januari 2003 terdiri dari : Barang Dagangan - Beras - Gula Pasir 292.035.764.120 420.344 292.036.184.464 Barang Pelengkap/Pembantu - Karung Pembungkus 3.7.4. Pengadaan LN (Import) Dalam Penyelesaian 2.069.224.000 9.580.622.716 602.126.512.811 602.126.512.811

47.126.174.260

Jumlah tersebut merupakan nilai persediaan barang dagangan dalam proses import di Bulog Pusat pada tanggal 31 Desember 2003.

3.8.

PAJAK DIBAYAR DIMUKA

68.942.028.630

Jumlah tersebut merupakan pajak dibayar dimuka (tidak final) di Divre-Divre dan Bulog Pusat pada tanggal 31 Desember 2003 terdiri dari :

For A Brighter Future

27

PERUSAHAAN UMUM BULOG CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN TB 2003 Untuk Tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2003 (Dalam Rupiah Penuh)

31-12-2003
- PPH Ps. 22 - PPN Jumlah 52.540.592.049 16.401.436.581 68.942.028.630

21-01-2003
-

3.9.

BIAYA DITANGGUHKAN

66.027.974

Jumlah tersebut merupakan biaya yang telah direalisir tetapi belum menjadi beban TA 2003 di Divre-Divre dan Bulog Pusat pada tanggal 31 Desember 2003.

3.10.

AKTIVA LANCAR LAINNYA

5.066.001.596.874

1.847.002.591.259

Jumlah tersebut merupakan Aktiva Lancar Lainnya di Divre-Divre dan Bulog Pusat pada tanggal 31 Desember 2003 dan 21 Januari 2003, terdiri dari: - Bank Hasil Penjualan (HP) - HP Komoditi Yang Belum Dilimpahkan - Deposito Yang Dijaminkan - Selisih Lur OPK - Pos Dalam Penyelesaian Jumlah 2.572.339.435.646 10.596.366.439 2.004.692.500.000 3.178.764.054 475.194.530.735 5.066.001.596.874 1.390.556.331.385 21.403.217.906 41.986.479.151 393.056.562.817 1.847.002.591.259

3.10.1

Bank Hasil Penjualan (HP)

2.572.339.435.646

1.390.556.331.385

Jumlah tersebut merupakan dana hasil penjualan komoditi yang ada di bank di DivreDivre dan Bulog Pusat pada tanggal 31 Desember 2003 dan 21 Januari 2003 terdiri dari:

For A Brighter Future

28

PERUSAHAAN UMUM BULOG CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN TB 2003 Untuk Tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2003 (Dalam Rupiah Penuh)

31-12-2003
Berdasarkan Bank : - Bank Bukopin - Bank Rakyat Indonesia - Bank Mandiri - Bank BNI - Bank Lainnya Jumlah Berdasarkan peruntukan : - HP Beras - HP Gula Pasir - HP Karung Jumlah 3.10.2 HP Komoditi Yang Belum Dilimpahkan 2.527.648.810.506 44.572.598.225 118.026.915 2.572.339.435.646 1.825.641.028.720 415.447.570.285 330.152.673.299 936.052.576 162.110.766 2.572.339.435.646

21-01-2003

1.364.356.224.435 11.731.928.656 13.966.507.102 295.156.570 206.514.622 1.390.556.331.385

1.390.512.948.394 43.382.991 1.390.556.331.385

10.596.366.439

21.403.217.906

Jumlah tersebut merupakan dana hasil penjualan komoditi yang ada di bank di DivreDivre yang belum dilimpahkan ke Bulog Pusat pada tanggal 31 Desember 2003 dan 21 Januari 2003.

3.10.3

Deposito Yang Dijaminkan

2.004.692.500.000

Jumlah tersebut merupakan Deposito yang dijaminkan di Bulog Pusat Pusat pada tanggal 31 Desember 2003 terdiri dari : - Jaminan L/C Pengadaan Komoditi - Jaminan L/C Imbal Dagang RI-Rusia - Jaminan L/C Dana Talangan Gula - Jaminan L/C Kredit Operasional - Jaminan L/C Lainnya Jumlah 944.627.500.000 404.065.000.000 268.000.000.000 386.000.000.000 2.000.000.000 2.004.692.500.000 -

For A Brighter Future

29

PERUSAHAAN UMUM BULOG CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN TB 2003 Untuk Tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2003 (Dalam Rupiah Penuh)

31-12-2003
3.10.4 Selisih Lur OPK 3.178.764.054

21-01-2003
41.986.479.151

Jumlah tersebut merupakan BA penjualan/distribusi beras kepada penerima manfaat (raskin) di Divre-Divre yang belum dilimpahkan ke Bulog Pusat pada tanggal 31 Desember 2003 dan 21 Januari 2003.

3.10.5

Pos Dalam Penyelesaian

475.194.530.735

393.056.562.817

Jumlah tersebut merupakan pos dalam penyelesaian di Divre-Divre dan Bulog Pusat pada tanggal 31 Desember 2003 dan 21 Januari 2003 terdiri dari : - Ayat Silang - Transaksi Hubungan Antar Kantor (RAK) - Lainnya Jumlah 2.307.767.236 337.001.452.007 135.885.311.492 475.194.530.735 364.149.278.038 28.907.284.779 393.056.562.817

3.11.

AKTIVA PAJAK TANGGUHAN

19.009.944.615

Jumlah tersebut merupakan jumlah pajak penghasilan terpulihkan (recoverable) pada periode mendatang sebagai akibat adanya perbedaan waktu yang boleh dikurangkan terhadap penghasilan yang menjadi dasar perhitungan pajak kini. Rincian perhitungan, lihat catatan butir 3.27.

3.12.

AKTIVA TETAP

3.074.401.358.687

2.943.396.620.687

Jumlah tersebut merupakan nilai buku aktiva tetap yaitu nilai perolehan dikurangi dengan akumulasi penyusutan di Divre-Divre dan Bulog Pusat pada tanggal 31 Desember 2003 dan 21 Januari 2003 terdiri dari :

3.12.1

Tanah - Tanah Untuk Bangunan 1.383.969.017.094 30 1.341.465.306.891

For A Brighter Future

PERUSAHAAN UMUM BULOG CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN TB 2003 Untuk Tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2003 (Dalam Rupiah Penuh)

31-12-2003
- Tanah Untuk Gudang - Tanah Kosong - Tanah Lainnya Jumlah 3.12.2 Bangunan - Gedung Kantor - Rumah Dinas - Gudang - Pabrik - Lainnya - Akumulasi Penyusutan Jumlah 3.12.3 Mesin-Mesin - Mesin Pabrik - Rice Miling Unit - Dryer - Genset/Pembangkit Listrik - AC Sentral - Lainnya - Akumulasi Penyusutan Jumlah 3.12.4 Kendaraan - Sedan - Jeep - Combi/Mini Bus - Truck - Bus - Pickup - Sepeda Motor For A Brighter Future 31 5.905.783.000 330.100.000 22.534.548.484 1.310.025.000 594.900.000 5.362.786.529 2.524.820.820 919.540.306 112.290.099.697 46.476.702 553.999.110 2.143.803.552 6.111.546.196 122.065.465.563 (6.019.883.607) 116.045.581.956 141.198.158.029 80.109.783.558 790.633.840.520 1.182.318.000 48.054.801.846 1.061.178.901.953 (97.423.368.164) 963.755.533.789 410.815.023.133 100.843.122.397 1.649.000.000 1.897.276.162.624

21-01-2003
311.880.678.463 165.580.391.851 1.649.000.000 1.820.575.377.205

131.239.705.616 77.223.539.102 754.813.950.641 53.481.790.222 1.016.758.985.582 1.016.758.985.581

738.961.483 2.964.252.109 38.888.493 555.685.267 1.885.898.725 5.818.233.950 12.001.920.027 12.001.920.027

5.633.283.000 330.100.000 19.279.833.100 1.310.025.000 594.900.000 4.185.773.900 2.478.169.000

PERUSAHAAN UMUM BULOG CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN TB 2003 Untuk Tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2003 (Dalam Rupiah Penuh)

31-12-2003
- Lainnya - Akumulasi Penyusutan Jumlah 3.12.5 Inventaris - Inventaris Kantor - Inventaris Gudang - Inventaris Laboratorium - Inventaris Rumah Tangga - Inventaris Lainnya - Akumulasi Penyusutan Jumlah 65.465.404.144 32.820.202.236 5.516.669.149 1.945.880.943 481.579.152 106.229.735.624 (34.747.674.310) 71.482.061.314 199.650.000 38.762.613.833 (12.920.594.829) 25.842.019.004

21-01-2003
185.712.000 33.997.796.000 33.997.796.000

30.830.013.702 17.546.199.058 4.858.030.023 5.987.300.642 840.998.448 60.062.541.873 60.062.541.873

3.13. 3.13.1

AKTIVA LAIN-LAIN Assets Kelolaan

506.060.647.835 492.570.916.433

495.585.948.736 492.570.916.433

Jumlah tersebut merupakan assets eks. LPND Bulog yang tidak sehat dan statusnya belum ditetapkan sesuai Surat Keputusan Menkeu Nomor : 344/KMK.02/2004 tanggal 13 Juli 2004 di Divre-Divre dan Bulog Pusat pada tanggal 31 Desember 2003 terdiri dari : - Uang Dalam Perjalanan - Uang Muka - Piutang - Persediaan - Persediaan Dalam Perjalanan - Pos Dalam Penyelesaian - Tanah - Bangunan 964.341.861 8.141.605.743 261.236.352.712 3.835.733.800 146.806.174 2.664.744.609 57.215.845.696 6.067.235.433 964.341.861 8.141.605.743 261.236.352.712 3.835.733.800 146.806.174 2.664.744.609 57.215.845.696 6.067.235.433

For A Brighter Future

32

PERUSAHAAN UMUM BULOG CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN TB 2003 Untuk Tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2003 (Dalam Rupiah Penuh)

31-12-2003
- Kendaraan - Mesin-Mesin - Inventaris - Aktiva Lainnya Jumlah 3.13.2 Aktiva Lain-Lain - Bangunan Dalam Pelaksanaan - Lainnya Jumlah 2.225.506.100 11.264.225.302 13.489.731.402 9.652.518.799 7.195.899.112 24.128.972.162 111.320.860.332 492.570.916.433

21-01-2003
9.652.518.799 7.195.899.112 24.128.972.162 111.320.860.332 492.570.916.433

2.112.602.250 902.430.053 3.015.032.303

3.14.

HUTANG BANK

9.359.758.674.358

5.673.999.830.229

Jumlah tersebut merupakan pinjaman/kredit Bulog kepada Bank di Bulog Pusat pada tanggal 31 Desember 2003 dan 21 Januari 2003 terdiri dari : Berdasarkan Bank : - Bank Bukopin - Bank Rakyat Indonesia - Bank Mandiri - Bank Lainnya Jumlah Berdasarkan peruntukan : - Beras/Gabah - Gula Pasir - CPO - Perhitungan Bunga - Eksploitasi - Manajemen - Lainnya Jumlah 7.742.157.575.186 278.576.973.131 191.680.266.641 153.199.257.533 181.699.700.685 812.444.901.182 9.359.758.674.358 4.268.209.061.118 68.387.427.823 943.422.414.175 295.591.690.843 98.389.236.270 5.673.999.830.229 6.419.410.097.211 2.388.066.470.863 552.282.106.284 9.359.758.674.358 3.912.180.990.318 1.513.000.903.300 248.817.936.611 5.673.999.830.229

For A Brighter Future

33

PERUSAHAAN UMUM BULOG CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN TB 2003 Untuk Tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2003 (Dalam Rupiah Penuh)

31-12-2003
3.15. 3.15.1 HUTANG USAHA Hutang Pengadaan 1.116.052.018.013 445.508.354.320

21-01-2003
1.543.071.279.182 999.054.316.543

Jumlah tersebut merupakan hutang pengadaan barang dagangan/pelengkap di Bulog Pusat pada tanggal 31 Desember 2003 dan 21 Januari 2003 terdiri dari : - Beras - Karung Pembungkus Jumlah 3.15.2 Hutang Penyaluran 410.615.670.063 34.892.684.257 445.508.354.320 427.681.628.917 964.733.350.911 34.320.965.632 999.054.316.543 354.325.789.457

Jumlah tersebut merupakan hutang peyaluran di Divre-Divre dan Bulog Pusat pada tanggal 31 Desember 2003 dan 21 Januari 2003 terdiri dari : - Golongan Anggaran - Lainnya Jumlah 3.15.3 Hutang Biaya 411.384.099.862 16.297.529.055 427.681.628.917 848.478.488 293.863.484.287 60.462.305.170 354.325.789.457 266.573.469

Jumlah tersebut merupakan hutang biaya di Divre-Divre dan Bulog Pusat pada tanggal 31 Desember 2003 dan 21 Januari 2003 terdiri dari : - Hutang Biaya Beras/Gabah - Hutang Biaya Gusir - Hutang Biaya Karung Jumlah 3.15.4 Hutang Pihak Ketiga 766.832.158 74.049.685 7.596.645 848.478.488 242.013.556.288 258.976.824 7.596.645 266.573.469 189.424.599.713

Jumlah tersebut merupakan hutang pihak ketiga di Divre-Divre dan Bulog Pusat pada tanggal 31 Desember 2003 dan 21 Januari 2003 terdiri dari : - Hutang Jaminan - Hutang Kepada Pemerintah (Beras LN) - Hutang Lainnya Jumlah For A Brighter Future 34 45.236.551.667 193.160.803.331 3.616.201.290 242.013.556.288 25.440.507.810 161.328.630.030 2.655.461.873 189.424.599.713

PERUSAHAAN UMUM BULOG CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN TB 2003 Untuk Tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2003 (Dalam Rupiah Penuh)

31-12-2003
3.16. HUTANG PAJAK 7.195.737.670

21-01-2003
725.685.800

Jumlah tersebut merupakan pajak terutang di Divre-Divre dan Bulog Pusat pada tanggal 31 Desember 2003 dan 21 Januari 2003 terdiri dari : 3.16.1 PPH - PPH Ps.21 - PPH Ps.22 - PPH Ps.23 Jumlah 3.16.2 PPN 768.009.553 401.911.147 245.151.972 120.946.434 768.009.553 6.427.728.117 389.750.968 265.695.168 5.116.448 118.939.352 389.750.968 335.934.832

3.17.

BIAYA YANG MASIH HARUS DIBAYAR 25.461.349.991 9.838.915.411

Jumlah tersebut merupakan biaya yang masih harus dibayar di Divre-Divre dan Bulog Pusat pada tanggal 31 Desember 2003 dan 21 Januari 2003 terdiri dari : - Biaya Umum dan Biaya Pegawai - Biaya Eksploitasi - Biaya Lainnya Jumlah 4.561.656.965 17.739.365.611 3.160.327.415 25.461.349.991 1.727.870.070 2.345.056.453 5.765.988.888 9.838.915.411

3.18.

PENDAPATAN DITANGGUHKAN

12.219.898.049

14.613.025.161

Jumlah tersebut merupakan pendapatan yang diterima namun belum dapat diakui sebagai pendapatan pada tanggal 31 Desember 2003 dan 21 Januari 2003.

3.19.

BEBAN L/C YANG BELUM DILIMPAHKAN 52.054.120.096 35 1.514.674.824

For A Brighter Future

PERUSAHAAN UMUM BULOG CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN TB 2003 Untuk Tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2003 (Dalam Rupiah Penuh)

31-12-2003

21-01-2003

Jumlah tersebut merupakan realisasi penarikan kredit di Divre-Divre yang belum dilimpahkan pada tanggal 31 Desember 2003 dan 21 Januari 2003 terdiri dari : - Beras/Gabah - Gula pasir - Lainnya Jumlah 35.125.335.893 15.155.180.134 1.773.604.070 52.054.120.096 1.106.778.089 407.896.735 1.514.674.824

3.20.

KEKAYAAN NEGARA YANG BELUM DISTATUSKAN 783.551.930.126 170.537.683.853 492.570.916.433 -

3.20.1

Pos APBN

Jumlah tersebut merupakan tambahan aktiva Perum Bulog meliputi pembangunan sarana UPGB, pengadaan mesin-mesin pengolah gabah/beras, dan inventaris yang dananya berasal dari Pemerintah/APBN dalam tahun 2003, dengan rincian : - Tanah - Bangunan - Mesin - Kendaraan - Inventaris Jumlah 3.20.2 Assets Kelolaan 31.082.899.514 104.700.000.006 34.754.784.333 170.537.683.853 492.570.916.433 492.570.916.433

Jumlah tersebut merupakan aset eks. LPND Bulog yang tidak sehat dan statusnya belum ditetapkan sesuai Surat Keputusan Menkeu Nomor : 344/KMK.02/2004 tanggal 13 Juli 2004 di Divre-Divre dan Bulog Pusat pada tanggal 31 Desember 2003 dan 21 Januari 2003 terdiri dari : - Uang Dalam Perjalanan - Uang Muka - Piutang - Persediaan For A Brighter Future 36 964.341.861 8.141.605.743 261.236.352.712 3.835.733.800 964.341.861 8.141.605.743 261.236.352.712 3.835.733.800

PERUSAHAAN UMUM BULOG CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN TB 2003 Untuk Tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2003 (Dalam Rupiah Penuh)

31-12-2003
- Persediaan Dalam Perjalanan - Pos Dalam Penyelesaian - Tanah - Bangunan - Kendaraan - Mesin-Mesin - Inventaris - Aktiva Lainnya Jumlah 3.20.3 Lainnya 146.806.174 2.664.744.609 57.215.845.696 6.067.235.433 9.652.518.799 7.195.899.112 24.128.972.162 111.320.860.332 492.570.916.433 120.443.329.840

21-01-2003
146.806.174 2.664.744.609 57.215.845.696 6.067.235.433 9.652.518.799 7.195.899.112 24.128.972.162 111.320.860.332 492.570.916.433 -

Jumlah kekayaan negara yang belum distatuskan lainnya sebagian besar berkaitan dengan aset-aset LPND, yaitu belum dicatatnya aset-aset LPND dalam aset Perum Bulog atau salah mencatat jumlah aset-aset LPND ke dalam aset Perum Bulog.

3.21. 3.21.1

EKUITAS Modal Pemerintah

5.847.191.539.727 6.354.564.879.127

6.354.564.879.127 6.354.564.879.127

Jumlah tersebut merupakan penyertaan modal pemerintah kepada Perusahaan sesuai Surat Keputusan Menkeu Nomor : 344/KMK.02/2004 tanggal 13 Juli 2004 di DivreDivre dan Bulog Pusat pada tanggal 31 Desember 2003 dan 21 Januari 2003. 3.21.2 Akumulasi Laba (Rugi) (507.373.339.400) -

Jumlah tersebut merupakan kerugian Perusahaan pada TA 2003 (21 Januari s/d 31 Desember 2003)

For A Brighter Future

37

PERUSAHAAN UMUM BULOG CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN TB 2003 Untuk Tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2003 (Dalam Rupiah Penuh)

31-12-2003
3.22. 3.22.1 PENJUALAN Pelayanan Publik (PSO) 8.985.912.081.075 8.985.912.081.075

Jumlah tersebut merupakan realisasi hasil penjualan pada segmentasi usaha PSO selama periode tahun 2003 (21 Januari s/d 31 Desember 2003) terdiri dari : Beras - Penjualan Kepada Golongan Anggaran Pusat - Penjualan Kepada Golongan Departemen - Penjualan Kepada BUMN - Penjualan Kepada OPK/Raskin - Penjualan Beras Lainnya dan Karung 782.904.259.399 158.533.461.897 1.003.655.600 6.772.718.742.615 76.789.394.265 7.791.949.513.776 Gula Pasir Penjualan Eksport CPO 723.635.561.786 470.327.005.513

3.23.

HARGA POKOK PENJUALAN

7.645.739.190.254

Jumlah tersebut merupakan harga pokok penjualan pada segmentasi usaha PSO selama periode tahun 2003 (21 Januari s/d 31 Desember 2003) terdiri dari : - Beras - Penjualan Gula Pasir - Penjualan karung - Penjualan CPO Jumlah 6.559.863.217.510 613.654.000.714 1.894.966.517 470.327.005.513 7.645.739.190.254

3.24. 3.24.1

BIAYA USAHA Biaya Penjualan

1.207.607.627.267 37.191.954.683

Jumlah tersebut merupakan realisasi biaya penjualan di Divre-Divre selama periode tahun 2003 (21 Januari s/d 31 Desember 2003)

For A Brighter Future

38

PERUSAHAAN UMUM BULOG CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN TB 2003 Untuk Tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2003 (Dalam Rupiah Penuh)

31-12-2003
3.24.2 Biaya Umum dan Administrasi Biaya Pegawai 1.170.415.672.584 349.856.262.780

Jumlah tersebut merupakan realisasi biaya pegawai di Divre-Divre dan Bulog Pusat selama periode tahun 2003 (21 Januari s/d 31 Desember 2003) terdiri dari : - Gaji dan Honor - Tunjangan - Kesehatan - Kesejahteraan - Biaya Pegawai Lainnya Jumlah Biaya Umum 107.990.728.565 167.593.363.886 39.469.041.409 24.334.401.538 10.468.727.382 349.856.262.780 201.929.382.017

Jumlah tersebut merupakan realisasi biaya umum di Divre-Divre dan Bulog Pusat selama periode tahun 2003 (21 Januari s/d 31 Desember 2003) terdiri dari : - Biaya Operasional - Biaya Pemeliharaan - Biaya kantor - Biaya Rapat/Seminar - Biaya Litbang - Biaya Diklat - Biaya Umum Lainnya Jumlah Biaya Pajak 47.844.457.795 54.149.802.330 39.898.954.570 8.295.333.931 5.959.603.950 2.316.772.781 43.464.456.660 201.929.382.017 413.236.759

Jumlah tersebut merupakan beban biaya pajak (final) di Divre-Divre dan Bulog Pusat selama periode tahun 2003 (21 Januari s/d 31 Desember 2003), diluar pajak badan. Biaya Susut periode tahun 2003 (21 Januari s/d 31 Desember 2003) terdiri dari : For A Brighter Future 39 29.802.153.679

Jumlah tersebut merupakan biaya susut barang dagangan di Divre-Divre selama

PERUSAHAAN UMUM BULOG CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN TB 2003 Untuk Tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2003 (Dalam Rupiah Penuh)

31-12-2003

- Beras - Gabah - Gula Pasir - Karung Jumlah Biaya Penyisihan Piutang dan Penyusutan Aktiva

28.111.085.813 186.000 892.131.866 798.750.000 29.802.153.679 152.874.864.682

Jumlah tersebut merupakan realisasi biaya penyisihan piutang dan penyusutan aktiva tetap di Divre-Divre dan Bulog Pusat selama periode tahun 2003 (21 Januari s/d 31 Desember 2003) terdiri dari : Biaya Penyisihan Piutang : - Biaya Penyisihan Piutang Usaha - Biaya Penyisihan Piutang Lainnya Jumlah Biaya Penyusutan Aktiva Tetap - Biaya Penyusutan Bangunan - Biaya Penyusutan Mesin-Mesin - Biaya Penyusutan Kendaraan - Biaya Penyusutan Inventaris Jumlah Biaya Eksploitasi Umum 97.423.368.164 6.019.883.606 12.920.594.802 34.747.674.166 151.111.520.738 434.365.686.759 1.074.063.292 689.280.652 1.763.343.944

Jumlah tersebut merupakan realisasi biaya eksploitasi umum di Divre-Divre dan Bulog Pusat selama periode tahun 2003 (21 Januari s/d 31 Desember 2003) terdiri dari : - Beras - Gabah - Gula Pasir Jumlah For A Brighter Future 40 429.208.072.281 5.114.218.939 43.395.539 434.365.686.759

PERUSAHAAN UMUM BULOG CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN TB 2003 Untuk Tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2003 (Dalam Rupiah Penuh)

31-12-2003
Biaya Eksploitasi Penggunaan Karung 1.174.085.908

Jumlah tersebut merupakan realisasi biaya eksploitasi penggunaan karung di DivreDivre dan Bulog Pusat selama periode tahun 2003 (21 Januari s/d 31 Desember 2003).

3.25.

BIAYA/BUNGA BANK

1.287.327.862.108

Jumlah tersebut merupakan realisasi biaya dan beban pinjaman (bunga) di Bulog Pusat selama periode tahun 2003 (21 Januari s/d 31 Desember 2003) terdiri dari : - Beras/Gabah - Gula Pasir - Lainnya Jumlah 1.262.532.688.888 23.984.773.082 810.400.138 1.287.327.862.108

Jumlah biaya/bunga bank beras/gabah sebagian besar merupakan beban bunga kredit bank untuk pengadaan Beras/Gabah sesuai penugasan oleh Pemerintah, serta tugas untuk selalu menjaga penyediaan stock yang cukup untuk ketahanan pangan, stabilitas harga gabah/beras, pengelolaan cadangan beras pemerintah, dan distribusi raskin.

3.26.

PENDAPATAN DAN BIAYA LAIN-LAIN

628.379.314.539

Jumlah tersebut merupakan realisasi pendapatan dan biaya lain-lain di Divre-Divre dan Bulog Pusat selama periode tahun 2003 (21 Januari s/d 31 Desember 2003) terdiri dari:

3.26.1

Pendapatan Lain-Lain - Beras/Gabah - Gula Pasir - Karung - Pendapatan Sewa Assets - Jasa Giro dan Bunga Deposito

785.538.335.295 83.345.947.529 72.710.180.855 7.167.499.421 3.428.646.798 234.955.829.488

For A Brighter Future

41

PERUSAHAAN UMUM BULOG CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN TB 2003 Untuk Tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2003 (Dalam Rupiah Penuh)

31-12-2003
- Hasil Klaim/Denda - Subsidi Pemerintah (Subsidi Perawatan Persediaan) - Laba Penjualan Assets - Selisih Kurs - Lainnya Jumlah 6.122.262.772 82.189.258.453 350.958.950 196.706.504.105 98.561.246.924 785.538.335.295

Pendapatan Gula pasir merupakan pendapatan dari Kerja Sama Operasi pengadaan, penyimpanan dan penyaluran gula kristal putih impor dengan PT PN IX, PT PN XI dan PT RNI berdasarkan Surat Menteri Perindustrian dan Perdagangan RI (Menperindag) No.198/MPP/II/2003 tanggal 21 Februari 2003. Jumlah pendapatan lain-lain lainnya sebagian besar merupakan penerimaan dana yang berasal dari Pemerintah/APBN yang sebesar Rp77.943.163.367. Di dalam pendapatan lain-lain lainnya tersebut, juga termasuk restitusi pajak yang merupakan realisasi pengembalian kelebihan pajak pertambahan nilai tahun 1998 sampai dengan tahun 2000 yang diterima dalam tahun 2003 berdasarkan Surat Keputusan Dirjen Pajak No. 81/WPJ.07/KP.0109/2003 tanggal 6 Juni 2003, No. 90/WPJ.07/KP.0109/2003 tanggal 12 Juni 2003, dan No. 141/WPJ.07/KP.0109/2003 tanggal 7 Oktober 2003 senilai Rp4.194.172.847. berupa bantuan Gaji PNS untuk tahun 2003

3.26.2

Biaya Lain-Lain - Beras/Gabah - Gula Pasir - Karung - Biaya Adm Jagir/Deposito - Biaya Pajak Budep/JAgir - Biaya Provisi - Selisih Kurs - Lainnya Jumlah

157.159.020.756 10.064.451.132 5.406.561.665 276.104.781 7.150.301.272 25.507.864.473 20.187.990.585 69.017.816.410 19.547.930.438 157.159.020.756

For A Brighter Future

42

PERUSAHAAN UMUM BULOG CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN TB 2003 Untuk Tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2003 (Dalam Rupiah Penuh)

31-12-2003
3.27. PAJAK PENGHASILAN BADAN 19.009.944.615

Jumlah tersebut merupakan taksiran pajak penghasilan badan tahun 2003 yang terdiri dari: - Pajak Kini - Pajak Tangguhan Jumlah 19.009.944.615 19.009.944.615

Untuk keperluan perhitungan pajak tangguhan, Aktiva Tetap eks LPND dianggap sebagai aktiva tetap perolehan baru pada awal tahun 2003 dan disusut dengan manfaat ekonomis sesuai ketentuan perpajakan. 3.27.1 Pajak Kini Rincian taksiran pajak penghasilan sebagai berikut : - Pajak penghasilan bukan final - Pajak penghasilan final Jumlah 25.507.864.473 25.507.864.473 -

Rekonsiliasi antara rugi sebelum pajak menurut laporan laba rugi dengan rugi setelah pajak adalah sebagai berikut : Laba (Rugi) sebelum pajak Perbedaan temporer : - Penyusutan aktiva tetap - Beban penyisihan piutang ragu-ragu Jumlah Perbedaan yang tidak dapat diperhitungkan menurut fiskal - Pendapatan restitusi pajak - Beban pegawai - Beban umum - Beban lain-lain For A Brighter Future 43 (4.194.172.847) 61.727.037.414 8.230.699.694 31.350.284.982 61.603.138.107 1.763.343.944 63.366.482.051 (526.383.284.015)

PERUSAHAAN UMUM BULOG CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN TB 2003 Untuk Tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2003 (Dalam Rupiah Penuh)

31-12-2003
- Penyusutan aktiva kendaraan & rumah jabatan - Penghasilan jasa giro & bunga deposito - Pendapatan sewa tanah/bangunan - Beban berhubungan dengan penghasilan final Jumlah Laba (Rugi) Fiskal Jumlah pajak dibayar Pajak dibayar dimuka : - PPh pasal 22 - PPh pasal 23 - PPh pasal 25 Jumlah Lebih bayar pajak 3.27.2 Pajak Tangguhan Rincian taksiran pajak tangguhan sebagai berikut : Saldo awal aktiva (kewajiban) pajak tangguhan Biaya penyusutan aktiva tetap beda waktu : - Biaya penyusutan komersil - Dikurangi biaya penyusutan beda tetap - Biaya penyusutan komersil beda waktu - Dikurangi biaya penyusutan menurut fiskal Jumlah Biaya penyisihan piutang Jumlah beda waktu Penghasilan (beban) pajak tangguhan (30 %) Saldo akhir aktiva (kewajiban) pajak tangguhan 151.111.520.738 18.882.720.314 132.228.800.424 70.625.662.317 61.603.138.107 1.763.343.944 63.366.482.051 19.009.944.615 19.009.944.615 52.540.592.049 52.540.592.049 52.540.592.049 19.009.944.615 18.882.720.314 (234.955.829.488) (3.428.646.798) 28.829.180.151 (93.558.726.578) (556.575.528.542)

For A Brighter Future

44

PERUSAHAAN UMUM BULOG CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN TB 2003 Untuk Tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2003 (Dalam Rupiah Penuh)

3.28. 3.28.1.

KEJADIAN PENTING SETELAH TANGGAL NERACA. Perkembangan Penyelesaian Aset Kelolaan Eks LPND Bulog Pendirian Perum Bulog didasarkan pada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor: 7 tahun 2003 yang diundangkan tanggal 20 Januari 2003. Dalam PP tersebut dinyatakan bahwa besarnya modal Perusahaan pada saat Peraturan Pemerintah mulai berlaku adalah sebesar seluruh nilai Kekayaan Negara yang dikelola oleh LPND Bulog yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan berdasarkan perhitungan bersama dilakukan oleh Departemen Keuangan, Kantor Menteri Negara BUMN, dan LPND Bulog. Berdasarkan hasil inventarisasi tim terpadu/gabungan kemudian diterbitkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor: 344/KMK.02/2004 tanggal 13 Juli 2004 tentang Penetapan Modal Perusahaan Umum (Perum) Bulog pada saat pendiriannya. Nilai penyertaan Modal Negara yang ditetapkan sebagai modal Perum Bulog pada saat pendiriannya adalah sebesar Rp.6.354.564.879.127,00. Nilai penyertaan modal Negara tersebut belum termasuk kekayaan negara yang belum ditetapkan statusnya sebesar Rp492.570.916.433,00. Nilai kekayaan Negara yang belum ditetapkan statusnya tersebut secara definitif ditetapkan kemudian oleh Menteri Keuangan sebagai Penyertaan Modal Negara (PMN) pada Perum Bulog berdasarkan hasil penelitian dan perhitungan yang dilakukan oleh Tim Interdep yang keanggotaannya terdiri dari wakil-wakil Departemen Keuangan dan Perum Bulog. Direksi Perum Bulog kemudian membentuk Tim Penyelesaian Aset Kelolaan Eks LPND Bulog dengan Keputusan Direksi No. KD-267/DS200/09/2004 tanggal 3 September 2004. Tim tersebut terdiri dari wakil-wakil Departemen Keuangan, Kementrian BUMN, BPKP dan Perum Bulog. Tim terdiri dari tiga sub tim, yaitu; Sub Tim Bidang I untuk penyelesaian uang muka, piutang, dan piutang tidak lancar Sub Tim Bidang II untuk penyelesaian aktiva tetap, bangunan dalam pelaksanaan, aktiva lain-lain bangunan dan aktiva tetap rusak Sub Tim Bidang III untuk penyelesaian uang dalam perjalanan, pos dalam penyelesaian, persediaan dalam proses dan aktiva lain-lain serta lainnya. Hasil kerja sub tim bidang I berkaitan dengan Piutang Cuba per 31 Desember 1999 sebesar USD28.913.419,51. Tanggal 21 Desember 2004 membahas piutang beras Cuba dengan Direktur Deplu Amerika Latin dan Caribia atas undangan Deputy Sekneg Bidang dukungan Kebijakan Kantor Sekneg. Piutang beras Pemerintah Zanzibar kepada Pemerintah Indonesia cq. Perum Bulog per 31

For A Brighter Future

45

PERUSAHAAN UMUM BULOG CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN TB 2003 Untuk Tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2003 (Dalam Rupiah Penuh)

September 1995 sebesar Tan Shiling 650.000.000,00 ditambah beras sejumlah 7.474,10 ton dengan kualitas 15% broken. Mengingat saat ini Pemerintah Zanzibar sedang dalam kesulitan keuangan maka piutang tersebut tidak dapat dibayar kembali kepada Pemerintah Indonesia cq. Perum Bulog. Sub Tim Bidang II sepakat agar nilai tanah & bangunan, kendaraan, mesin-mesin, inventaris, aktiva lain bangunan, aktiva lain/aktiva tetap rusak dan bangunan dalam pelaksanaan sebesar Rp119.681.510.124 diusulkan untuk distatuskan menjadi PMN dengan dasar nilai buku/perolehan. Rapat terakhir sub tim bidang II tanggal 15 Desember 2004 sepakat untuk membentuk tim pemeriksaan terhadap kendaraan dinas yang akan dihapuskan di Kantor Pusat, yang nantinya akan dilelang. 3.28.2. Penerimaan Dana APBN untuk Proyek tahun 2004 Dalam tahun 2004 Perum Bulog masih menerima dana yang berasal dari APBN. Berdasarkan surat pengesahan Daftar Isian Proyek Tahun Anggaran 2004 No. 001/LIII/1/-/2004 tanggal 1 Januari 2004, Perum Bulog menerima Anggaran Proyek Pengembangan Teknologi dan Sarana Logistik Bulog dalam rupiah murni sebesar Rp128.924.042.000,00. Dan DIPP Nomor 522/DIPP/0/2004 sebesar Rp49.922.837.000,00. Tujuan pembangunan proyek adalah peningkatan kualitas cadangan pangan nasional, meningkatkan pengembangan sarana logistik nasional, dan menstimulasi kualitas kelembagaan pangan masyarakat. Sasaran proyek tahun 2004 adalah perbaikan & penyelesaian sarana pergudangan bulog, pengembangan sarana pasca panen 28 unit, pengembangan dan pemantapan sarana sistem informasi logistik Bulog. 3.28.3. Program Imbal Beli Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Federasi Rusia Pada tanggal 24 April 2003 telah ditandatangani Kontrak Pengadaan Pesawat Sukhoi dan Helikopter MI, masing-masing dengan perjanjian No. P/336011321001 dan No. P/336011321002.melalui skema imbal beli antara Pemerintah RI yang diwakili oleh Perum Bulog sebagai pembeli, Mabes TNI sebagai pemakai dan FSUE Rosoboronexport mewakili Pemerintah Federasi Rusia sebagai penjual. Nilai kontrak pembelian empat pesawat Sukhoi dan dua Helikopter MI-35P beserta suku cadang, peralatan dan training adalah sebesar USD192.900.000,00. Pembayaran atas pembelian pesawat Sukhoi dan Helikopter kepada Perum Bulog bersumber dari APBN tahun 2003 dan 2004. Untuk pelaksanaan pembayaran tersebut Perum Bulog telah menandatangani perjanjian dengan Departemen Pertahanan Republik

For A Brighter Future

46

PERUSAHAAN UMUM BULOG CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN TB 2003 Untuk Tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2003 (Dalam Rupiah Penuh)

Indonesia yang bernomor PK/11/XI/2003 / PKK-107/11/2003 tanggal 19 Nopember 2003 tentang pembayaran pengadaan 2 unit pesawat tempur sukhoi SU-27SK, 2 unit SU-30 MK dan 2 unit holikopter MI-35P. Pasal 4 perjanjian tersebut menyebutkan bahwa Dephan akan membayar kepada perum Bulog sejumlah US$192.900.000,00. Sebagai pihak pembeli, Perum Bulog berkewajiban melakukan pembayaran baik dengan uang muka maupun cicilan pembayarn melalui pembelian komoditas dari suplier lokal. Dalam tahun 2003 Perum Bulog telah melakukan kewajibannya sebagai berikut : USD 26.000.000,00 16.969.778,93 42.969.778,93 Rp 220.350.000.000,00 143.835.856.593,01 364.185.856.593,01

Uang Muka Pengiriman Komoditas - Tahap I Total

Sedangkan penggantian yang telah dilakukan pemerintah dalam tahun 2003 melalui APBN tahun 2003 sebesar Rp.660.896.400.000,00 atau ekuivalen USD77.570.000,00. Dalam tahun 2004 Perum Bulog telah melakukan pengiriman komoditas sebagai berikut: USD Pengiriman Komoditas - Tahap II - Tahap III - Tahap IV - Tahap V Sisa Pembayaran Tunai Total 38.535.525,16 36.979.661,11 37.034.518,58 37.371.685,76 8.830,46 149.930.221,07 328.107.415.219,71 319.479.626.026,66 347.716.162.858,27 347.422.941.537,57 83.005.760,00 1.342.809.151.402,21 Rp

Sedangkan penggantian yang telah dilakukan pemerintah dalam tahun 2004 melalui APBN tahun 2004 sebesar Rp991.838.000.000,00 atau ekuivalen USD115.330.000,00. Dari total pembayaran dan penggantian oleh pemerintah maka terdapat kekurangan penggantian karena selisih kurs sebesar Rp54.260.607.995,22. Disamping itu Perum Bulog masih menanggung biaya bunga bank, beban pajak, biaya provisi & Adm bank. Secara keseluruhan terdapat kekurangan penggantian sebagai berikut:

For A Brighter Future

47

PERUSAHAAN UMUM BULOG CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN TB 2003 Untuk Tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2003 (Dalam Rupiah Penuh)

USD Pembayaran 2003 Pembayaran 2004 Total Pembayaran Penggantian 2003 Penggantian 2004 Total Penggantian Kekurangan Penggantian karena selisih Kurs Biaya bunga bank Beban Pajak (PPN 10%) Biaya Provisi & Adm Bank Total Kekurangan Penggantian 16.644.092,05 42.969.778,93 149.930.221,07 192.900.000,00 77.570.000,00 115.330.000,00 192.900.000,00

Rp 364.185.856.593,01 1.342.809.151.402,21 1.706.995.007.995,22 660.896.400.000,00 991.838.000.000,00 1.652.734.400.000,00 54.260.607.995,22 68.268.568.759,95 145.616.641.316,00 623.368.861,38 268.769.186.932,55

Atas kekurangan penggantian tersebut Perum Bulog telah meminta penggantian kepada Pemerintah dengan mengirimkan surat kepada Departemen Keuangan dan Departemen Pertahanan dalam surat No. B-585/II/DK.400/II/2004 tanggal 7 Oktober 2004 perihal permohonan penggantian kekurangan biaya dalam rangka pembelian pesawat Sukhoi dan Helikopter tempur Mi-35P. Sampai laporan keuangan ini dibuat Perum Bulog belum menerima jawaban atas surat tersebut. 3.28.4. Perjanjian Kerjasama Pengadaan, Penyimpanan & Penyaluran Gula Kristal Impor dengan PT Perkebunan X Perum Bulog dan PT Perkebunan Nusantara X (PTPN X) melakukan kerjasama Pengadaan, Penyimpanan & Penyaluran Gula Kristal Import dengan PTPN X dengan perjanjian No. 67/II/02/2003 tanggal 26 Pebruari 2003 dengan jangka waktu selama enam bulan terhitung mulai 1 Pebruari s/d 31 Juli 2003 dengan addendum perjanjian No. PKK93/10/2003 tanggal 13 Oktober 2003 Pada tanggal 14 Januari 2004 Perusahaan dan PTPN X melakukan perhitungan laba rugi KSO gula pasir import tahun 2003 yang dituangkan dalam Berita Acara Perhitungan Rampung Kerjasama Operasi Pengadaan, Penyimpanan dan Penyaluran Gula Kristal Putih Import tanggal 14 Januari 2004. Berdasarkan perhitungan tersebut laba yang diperoleh KSO adalah sebesar Rp7.141.919.646,86, sehingga bagian laba Perusahaan adalah sebesar For A Brighter Future 48

PERUSAHAAN UMUM BULOG CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN TB 2003 Untuk Tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2003 (Dalam Rupiah Penuh)

Rp3.570.959.823,43 yang merupakan 50% laba KSO. 3.29. 3.29.1 IMBALAN KERJA KARYAWAN DANA PENSIUN Dalam tahun 2003 Perum Bulog belum menyelenggarakan program dana pensiun tersendiri bagi karyawannya. Hal tersebut berkaitan dengan status karyawan Perum Bulog yang masih berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS). Seperti PNS lainnya program pensiun karyawan Perum Bulog masih diikutkan pada program pensiun pegawai negeri sipil pada PT Taspen. Oleh karena itu dalam laporan keuangan tahun 2003 tidak ada kewajiban perusahaan yang berkaitan dengan dana pensiun. Dalam tahun 2004 karyawan Perum Bulog akan Jiwasraya. 3.29.2 PESANGON PHK Dalam Undang-undang No.13 Tahun 2003 tanggal 25 Maret 2003 tentang diikutsertakan pada program Tunjangan Hari Tua (THT) pada Asuransi

Ketenagakerjaan, terdapat pasal-pasal yang mengatur kewajiban hukum bagi perusahaan terhadap karyawannya, yaitu Bab XII mengenai Pemutusan Hubungan Kerja pasal 156 ayat (1), (2), (3) dan (4). Ayat (1) menetapkan dalam hal terjadi pemutusan hubungan kerja, pengusaha diwajibkan membayar uang pesangon dan atau uang penghargaan masa kerja dan uang pesangon hak yang seharusnya diterima. Ayat (2) menetapkan perhitungan besarnya uang pesangon berdasarkan lamanya masa kerja. Ayat (3) menetapkan perhitungan uang penghargaan masa kerja berdasarkan lamanya masa kerja. Ayat (4) menetapkan uang penggantian hak yang seharusnya diterima. Kriteria pengakuan dan pengukuran kewajiban perusahaan terhadap karyawannya sebagaimana diuraikan di atas, mengacu kepada pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) Nomor 57, yang mengatur tentang pengakuan dan pengukuran kewajiban diestimasi, kewajiban kontinjensi dan aktiva kontinjensi. Kewajiban diestimasi menurut paragraph 15 PSAK 57 harus diakui apabila ketiga kondisi berikut dipenuhi : a. Perusahaan memiliki kewajiban kini (baik bersifat hukum maupun bersifat konstruksi) sebagai akibat peristiwa masa lalu.

For A Brighter Future

49

PERUSAHAAN UMUM BULOG CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN TB 2003 Untuk Tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2003 (Dalam Rupiah Penuh)

b. Besar kemungkinan (probable) penyelesaian kewajiban tersebut mengakibatkan arus keluar sumber daya, dan c. Estimasi yang handal mengenai jumlah kewajiban tersebut dapat dibuat. Perusahaan akan memiliki kewajiban yang sama berupa pembayaran uang pesangon, uang penghargaan masa kerja dan uang penggantian hak terhadap karyawan tetap, apabila terjadi pemberhentian terhadap karyawan, namun manajemen berkeyakinan, kecil kemungkinan untuk terjadi Pemutusan Kerja (PHK) yang akan mengakibatkan terjadinya arus keluar sumber daya, dan estimasi yang handal belum dapat dilakukan. Berdasarkan kondisi yang terjadi di perusahaan, maka kedua persyaratan di atas belum terpenuhi. Dengan demikian estimasi kewajiban yang mungkin timbul dengan diberlakukannya undang-undang tersebut tidak tampak dalam laporan keuangan.

3.30

REKLASIFIKASI AKUN
Dalam rangka perbandingan antara Neraca 31 Desember 2003 dan Neraca 21 Januari 2003, maka dilakukan reklasifikasi akun-akun dalam neraca pembuka sehingga penyajiannya dapat disesuaikan dengan penyajian neraca per 31 Desember 2003. Akun-akun yang direklasifikasi adalah sebagai berikut: o Kas, Bank dan sebagian UDP dikelompokkan kembali dalam akun Kas & Setara Kas. Bagian UDP yang dikelompokan dalam Kas dan Setara Kas yaitu Dana Manajemen sebesar Rp290.855.817 dan UDP manajemen lainnya sebesar Rp6.724.158.475. sedangkan bagian lainnya UDP yaitu HP yang belum dilimpahkan sebesar Rp21.403.217.906 dikelompokan dalam akun aktiva lancar lainnya o Bank HP sebesar Rp1.390.556.331.385 dikelompokan dalam akun aktiva lancar lainnya o Hutang Pengadaan, Hutang Penyaluran, Hutang Biaya dan Hutang Pihak Ketiga dikelompokan dalam satu akun, yaitu akun Hutang Usaha.

For A Brighter Future

50

BPK-RI

LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN LAPORAN KEUANGAN PERUSAHAAN UMUM BULOG


Untuk tahun yang berakhir pada 31 Desember 2003

KEPATUHAN TERHADAP PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN dan PENGENDALIAN INTERN


Nomor Tanggal : 37.B /Auditama V/GA/ XII /2004 : 31 Desember 2004

Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia Jl. Gatot Subroto No.31 Jakarta Pusat 10210 Telp. (021) 5700380, 5738740, 5720957, 5738727, 5704395 pesawat 517 Fax. (021) 5700380.

DAFTAR ISI

Halaman I. LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN ATAS KEPATUHAN TERHADAP PERUNDANG UNDANGAN .. II. LAMPIRAN A 1. Terdapat beberapa kontrak pekerjaan dan pengadaan yang nilainya lebih dari Rp50.000.000,00 dilakukan dengan cara pemilihan / penunjukan langsung .. a. Renovasi Gedung Bulog Lt 14, 15 dan 16 sebesar Rp7.096,52 juta dan penunjukkan konsultan manajemen konstruksi sebesar Rp253,27 juta. ... b. Pengadaan Furniture sebesar Rp1.499,43 juta . . c. Pengadaan Mesin Penggilingan Gabah (MPG) sebesar Rp4.890,29 juta dan Alat Pengering Mekanis sebesar Rp1.364 juta .. d. Pengadaan Plastik Sheet CO2 Stack Untuk Gassing Senilai Rp3.060,75 juta . . . e. Pengadaan Pallet / Flonder Plastik di Divre DKI Jakarta senilai Rp1.552 juta dan Rp970 juta serta Divre Jawa Barat senilai Rp2.859,80 juta ..... f. Pengadaan mesin timbangan otomatis Model LCS 50 sebanyak 42 buah senilai Rp9.421,07 juta .. III. LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN ATAS PENGENDALIAN INTERN . IV. Lampiran B 1. Penyetoran sebagian hasil penjualan (HP) beras Operasi Pasar Khusus Beras Keluarga Miskin (OPK Raskin) dan Operasi Pasar Khusus Program Kompensasi Pengurangan Subsidi Bahan Bakar Minyak (OPK PKPS BBM) oleh Divre kepada kantor Pusat mengalami kelambatan dan belum dilakukan rekonsiliasi. ...... 2. Terdapat Pembayaran Biaya Angkut Beras Raskin dan PKPS BBM untuk pengusaha angkutan Non PKP di Divre Sumut yang termasuk unsur PPN Sebesar 10 %. 3. Pelaksanaan kerjasama pengelolaan Hotel Bandara Surabaya antara Perum Bulog dan PT Jalasutra Sarana Jaya yang dilanjutkan oleh CV ii BPK RI / AUDITAMA KN V 1

3 3

4 4

5 6

12

15

Prima Athera Utama tidak sesuai perjanjian.. . 4. Bagian Akuntansi Divre Jakarta Raya tidak melakukan Rekonsiliasi Bank .. 5. Pemanfaatan rumah perusahaan, mess dan pesanggrahan Perum Bulog belum sepenuhnya sesuai dengan ketentuan. 6. Pertanggungjawaban uang muka sebesar Rp7.158,97 juta belum dilaksanakan sesuai ketentuan. . 7. Terdapat Piutang ABRI/Hankam untuk seluruh Divre Kalimantan Selatan sebesar Rp1.619,55 juta belum dilimpahkan ke kantor Pusat Bulog .. 8. Beberapa perolehan aktiva di Divre Jatim terlambat dibuatkan surat SH-5 (surat hutang 5) oleh kantor pusat ..

16 18 19 21

23 24

iii

BPK RI / AUDITAMA KN V

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

Nomor : 37.B/Auditama V/GA/ XII /2004 LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN

Kami telah mengaudit neraca Perusahaan Umum Bulog tanggal 31 Desember 2003, serta laporan laba rugi, laporan perubahan ekuitas, dan laporan arus kas untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut, dan telah menerbitkan laporan nomor 37.A/Auditama V/GA/ XII / 2004 tanggal 31 Desember 2004. Kami melaksanakan audit berdasarkan Standar Audit Pemerintahan yang diterbitkan Badan Pemeriksa Keuangan dan standar auditing yang ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia. Standar tersebut mengharuskan kami untuk merencanakan dan melaksanakan audit untuk memperoleh keyakinan memadai tentang apakah laporan keuangan bebas dari salah saji material. Kepatuhan terhadap hukum, peraturan, kontrak, dan bantuan yang berlaku bagi Perusahaan Umum Bulog merupakan tanggung jawab manajemen. Sebagai bagian dari pemerolehan keyakinan memadai tentang apakah laporan keuangan bebas dari salah saji material, kami melakukan pengujian terhadap kepatuhan Perusahaan Umum Bulog terhadap pasal-pasal tertentu hukum, peraturan, kontrak, dan persyaratan bantuan. Namun, tujuan audit kami atas laporan keuangan adalah tidak untuk menyatakan pendapat atas keseluruhan kepatuhan terhadap pasal-pasal tersebut. Oleh karena itu, kami tidak menyatakan suatu pendapat seperti itu. Hasil pengujian kami menunjukkan bahwa, berkaitan dengan unsur yang kami uji, Perusahaan Umum Bulog mematuhi, dalam semua hal yang material, pasal-pasal yang kami sebut dalam paragraf di atas. Berkaitan dengan unsur yang tidak kami uji, tidak ada

satu pun yang kami ketahui yang menyebabkan kami percaya bahwa Perusahaan Umum Bulog tidak mematuhi, dalam semua hal yang material, pasal-pasal tersebut. Namun, kami mencatat masalah-masalah tertentu yang tidak material berkaitan dengan kepatuhan Perusahaan Umum Bulog terhadap pasal-pasal tertentu hukum, peraturan, kontrak, dan persyaratan bantuan disertai saran perbaikannya yang kami kemukakan pada Lampiran A . Laporan ini dimaksudkan untuk memberikan informasi bagi dewan audit, manajemen dan dewan pengawas. Namun apabila laporan ini merupakan catatan publik distribusinya tidak dibatasi. Auditor Utama Keuangan Negara V Penanggung Jawab Audit,

Drs. M i s n o t o, Ak. MA Register Negara No. D-1416 Jakarta, 31 Desember 2004

BPK RI / AUDITAMA KN V

1. Terdapat beberapa kontrak pekerjaan dan pengadaan yang nilainya lebih dari Rp50 juta dilakukan dengan cara pemilihan/penunjukan langsung. Dalam tahun 2003 Perum Bulog melakukan beberapa kontrak pekerjaan dan pengadaan barang. Dari pemeriksaan atas beberapa kontrak pekerjaan dan pengadaan diketahui terdapat kontrak pekerjaan dan pengadaan yang nilainya lebih dari Rp50.000.000, dilakukan dengan cara pemilihan atau penunjukan langsung. Berikut ini beberapa kontrak pekerjaan dan pengadaan tersebut; a. Renovasi Gedung Bulog Lt 14, 15 dan 16 sebesar Rp7.096,52 juta dan penunjukkan konsultan manajemen konstruksi sebesar Rp253,27 juta. Dalam rangka merubah penampilan interior maupun exterior gedung Bulog serta M/E (Mekanikal Elektrikal) Bulog menganggarkan biaya sebesar Rp10 milyar, sesuai surat Deku/Plt Sestama No. 457/Plt.SESTAMA-DEKU/01/2003 tanggal 29 Januari 2003 kepada Kabulog. Kabulog menyatakan maximum biaya per lantai Rp1 milyar sesuai disposisi Kabulog tanggal 27 Januari 2003 . Pekerjaan renovasi gedung Bulog dikelompokkan menjadi 5 paket pekerjaan. Karena waktu yang mendesak maka tim pengadaan mengusulkan pengadaan dengan metode penunjukkan langsung termasuk untuk Konsultan Manajemen Konstruksi. Setelah memperhatikan penawaran PT BIMAL dan PT AAC serta memperhatikan hasil negosiasi selanjutnya Kabulog menerbitkan surat penunjukkan langsung perusahaan rancang bangun renovasi gedung Bulog I No. B-188A/IV/04/2003 tanggal 1 April 2003 kepada PT Bimal dengan nilai kontrak sebesar Rp6.722.000.000,00 dan ditambah nilai konsultan perencanaan sebesar Rp373.979.000,00, dan surat penunjukkan manajemen konstruksi No, B-181/III/03/2003 tanggal 28 Maret 2003 kepada PT AAC yang berdasarkan Berita Acara Klarifikasi dan Negosiasi Fee Manajemen Konstruksi tanggal 18 September 2003 dengan PT AAC disebutkan nilai kontrak sebesar Rp253.270.000,00. b. Pengadaan Furniture sebesar Rp1.499,43 juta Sehubungan dengan renovasi lantai 14, 15 dan 16 maka diperlukan juga furniture untuk mengisi lantai tersebut. Oleh karena itu dilakukan pengadaan furniture untuk Lantai 14, 15 dan 16. Untuk pengadaan furniture Tim Renovasi telah melakukan survey ke beberapa perusahaan yang hasil surveynya telah disampaikan kepada Direktur Utama dengan surat tertanggal 28 Juli 2003. Dari hasil survey tersebut direkomendasikan lima rekanan yang memenuhi kriteria. Namun Dirut menyetujui dua perusahaan yaitu PT Graha Sarana Estetika (PT GSE) dan PT Bijak Manunggal Lestari (PT Bimal) untuk mengajukan harga dan harga di negosiasi turun 40- 45%. Tim telah mengundang PT GSE dan PT Bimal untuk mengajukan penawaran, tetapi yang mengajukan penawaran hanya PT GSE. Harga penawaran PT GSE sebesar Rp1.845.081.057,00. Setelah dilakukan negosiasi harga menjadi Rp1.499.431.000,00 dan mendapat persetujuan Dirut tanggal 8 Agustus 2003. Kemudian dibuatkan Perjanjian Jual beli No. PJB-30A/09/2003 tanggal 3 September 2003.

BPK RI / AUDITAMA KN V

c. Pengadaan Mesin Penggilingan Gabah (MPG) sebesar Rp4.890,29 juta dan Alat Pengering Mekanis sebesar Rp1.364 juta. Dalam rangka meningkatkan operasional Perum Bulog maka dilakukan pengadaan Mesin Penggilingan Gabah (MPG) dan Alat Pengering Mekanis dalam tahun 2003. Pengadaan mesin penggilingan dilakukan dengan pemilihan langsung dengan jumlah peserta yang mengajukan penawaran adalah tiga perusahaan. Pada saat pembukaan penawaran, dari tiga rekanan tersebut yang hadir hanya dua rekanan dan akhirnya PT Kutama Makmur terpilih sebagai pelaksana pengadaan mesin MPG karena harganya terendah. Kemudian Ketua Panitia Pengadaan MPG membuat surat kepada Kabulog dengan No. 02/PP-MPG/01/2003 tanggal 9 Januari 2003 mengenai laporan klarifikasi dan negosiasi atas pembukaan Surat Penawaran Harga Penunjukkan Langsung kepada PT Kutama Makmur. Dalam surat tersebut terdapat persetujuan dari Kabulog. Selanjutnya dibuat Perjanjian antara Bulog dengan PT Kutama Makmur Indonesia No. PKK-1B/01/2003 tanggal 17 Januari 2003 dengan nilai kontrak sebesar Rp 4.890.287.496,00. Untuk Pengadaan alat pengering mekanis perum Bulog melakukannya dengan penunjukan langsung. Panitia Pengadaan dengan surat No. 01/PPAPN/X/2003 tanggal 16 Oktober 2003 kepada Dirut melaporkan proses pengadaan alat pengering mekanis dilakukan dengan metode penunjukkan langsung dan hal tersebut telah disetujui oleh Dirut tanggal 24 Oktober 2003. Kemudian ditetapkan Surat Penetapan Penyedia Jasa oleh Direktur Pengembangan & IT No. B-482/III/10/2003 tanggal 29 Oktober 2003 kepada PT Kutama Makmur dengan nilai sebesar Rp1.364.000.000,00. d. Pengadaan Plastik Sheet CO2 Stack Untuk Gassing Senilai Rp3.060,75 juta . Dalam rangka perawatan stock beras yang dimiliki Bulog maka dilakukan perawatan dengan sistem CO2 stack dengan cara pengasapan (gassing) untuk sebagian beras impor dengan tujuan agar biaya perawatan lebih hemat dan daya simpan lebih lama. Rencana perawatan dengan sistem CO2 bagi sebagian beras berawal dari pertemuan Coffee Morning tanggal 4 September 2002 antara Direksi dan staf untuk segera mempersiapkan rencana perawatan dengan sistem CO2 bagi sebagian beras impor agar biaya perawatan lebih hemat dan daya simpan lebih lama. Salah satu sarana pengasapan adalah plastik sheet untuk menutup beras pada saat pengasapan. Pada tanggal 6 Januari 2003 Didiawat mengundang empat rekanan untuk menghadiri penawaran harga penyediaan plastik sheet fumigasi pada tanggal 8 Januari 2003. Dari empat rekanan yang diundang hanya PT MCP yang menyatakan sanggup melaksanakan pekerjaan tersebut. Mengingat pertemuan tersebut di atas dan hanya satu perusahaan yang menyatakan sanggup maka kemudian dibuat Nota Intern Direkrut Operasi (Deops) No. 002/Deops/I/2003 kepada Kabulog tanggal 15 Januari 2003 antara lain menyebutkan bahwa mengingat pelaksanaan CO2 stack beras luar negeri tersebut waktunya diperkirakan akan dimulai Februari 2003 atau paling lambat Maret 2003, maka dimintakan persetujuan Kabulog agar pengadaan sarana CO2 (antara lain plastik dasar, plastik sungkup, gas CO2, lem plastik dan lain-lain) dilakukan dengan sistem penunjukan langsung. Nota Intern tersebut disetujui oleh Kabulog tanggal 21 Januari 2003. Hal tersebut diikuti dengan diterbitkan Surat Perintah Kabulog No. PRIN-17/01/2003 tanggal 22 Januari 2003 tentang pembentukan panitia pengadaan sarana perawatan dengan CO2 stack. Tanggal 23 Januari 2003 dilakukan

BPK RI / AUDITAMA KN V

undangan pengambilan dokumen pengadaan sarana perawatan CO2 Stack tahun 2003 oleh Deops kepada PT MCP. Oleh karena harga penawaran PT MCP lebih tinggi dari HPS maka pada tanggal 27 Januari 2003 dilakukan negosiasi harga, dan PT MCP bersedia menurunkan harga menjadi Rp3.060.750.000,00.

e. Pengadaan Pallet/Flonder Plastik di Divre DKI Jakarta senilai Rp1.552 juta dan Rp970 juta serta Divre Jawa Barat senilai Rp2.859,80 juta . Berkaitan dengan penyimpanan beras digudang dan dalam usaha menanggulangi kerusakan beras dibutuhkan Pallet/flonder sebagai alas penumpukan beras. Pengadaan atas pallet/flonder terjadi di Divre DKI dan Divre Jabar. Sehubungan kedatangan kapal beras eks USA PL 480 sebanyak 21.951,71 MT ETA Tanjung Priok tanggal 8-10 April 2003 dan Telex Bulog No. 381/03042003 tanggal 4 Maret 2003 tentang kedatangan gula pasir untuk stok nasional sebesar 20.000 ton pada tanggal 15 Maret 2003, maka Divre DKI Jakarta memerlukan pallet/flonder plastik. Kabulog dengan surat No. 569/03252003 kepada Divre DKI Jakarta menyetujui pengadaan pallet/flonder plastik sejumlah 4.000 unit dengan disain yang diajukan PT Yanasurya Bhaktipersada dengan prosedur penunjukan langsung karena kebutuhan mendesak. Kemudian Divre DKI Jakarta melalui No. 01/PL/DJ/03/2003 tanggal 28 Maret 2003 mengundang PT Yanasurya Bhakti persada untuk negosiasi harga yang dilakukan tanggal 31 Maret 2003, dan disepakati harga Rp388.000,00/unit. Kemudian dibuatkan Surat Perjanjian Pemborongan No. 94/1.03/04/2003 tanggal 1 April 2003 dengan nilai Rp 1.552.000.000,00. Disamping itu dibutuhkan juga flonder senilai Rp 970.000.000,00 untuk kedatangan gula pasir milik PTPN XI sebanyak 40.000 ton pada bulan Mei 2003, dan telex No.T-997/ 05082003 tanggal 8 Mei 2003 menyebutkan kedatangan gula pasir sebanyak 50.000 ton milik Bulog. Pengadaan pallet/flonder plastik tersebut diusulkan sama pengadaan sebelumnya. Selanjutnya dibuat surat perjanjian No. 154/1.03/06/2003 tgl 20 Juni 2003. Untuk pengadaan pallet/flonder plastik tersebut telah memperoleh ijin prinsip dari Bulog dengan surat No. B-136/I/08/2003 tanggal 11 Agustus 2003. Disamping DKI di Divre Jawa Barat juga terdapat pengadaan flonder sebanyak 7.240 unit. Untuk itu dibentuk panitia lelang pengadaan berdasarkan perintah Ka Divre Jabar No.SP-01/I/2003 tanggal 2 Januari 2003. Tender pengadaan tersebut ditawarkan kepada rekanan/kontraktor melalui media massa dan Lima rekanan mengajukan penawaran. Tender gagal karena dokumen yang dimasukan oleh rekanan tidak sesuai dengan yang dipersyaratkan. Selanjutnya dilakukan tender ulang tetapi tender ulang inipun gagal karena dari evaluasi tidak ada rekanan yang memenuhi syarat. Pada akhirnya pihak panitia lelang pengadaan melakukan tahap pemilihan langsung. Dalam proses pemilihan langsung, panitia melakukan penilaian hanya kepada dua rekanan yang menawarkan pekerjaan pembuatan Pallet/Flonder. Akhirnya ditetapkan CV Karya Putra sebagai pemenang dengan harga terendah. Setelah itu ditindak lanjuti dengan membuat perjanjian melalui kontrak perjanjian No.SPP.01/IV/2003 tanggal 28 April 2003 dengan nilai Rp2.859.800.000,00 termasuk PPN sebanyak 7.240 unit Pallet/Flonder.

BPK RI / AUDITAMA KN V

f.

Pengadaan mesin timbangan otomatis Model LCS 50 sebanyak 42 buah senilai Rp9.421,07 juta.

Untuk memenuhi salah satu sarana penunjang produksi beras dalam rangka pasca panen, Bulog melakukan pengadaan alat/mesin timbangan otomatis kapasitas 50 Kg (Rice Balance Machine) Model LCS 50 sebanyak 42 unit untuk digunakan di gudang-gudang pengolahan gabah/beras pada Unit Pengilingan Gabah dan Beras (UPGB) diseluruh Indonesia yang menggunakan Anggaran Bantuan Tambahan (ABT) dari APBN tahun 2003. Pengadaan alat/mesin timbangan otomatis tersebut dilaksanakan melalui penunjukan langsung oleh Pimpinan Proyek Pengembangan Teknologi dan Sarana Logistik Tahun anggaran 2003 kepada rekanan PT Kutama Makmur Indonesia dengan Surat Perjanjian /kontrak No.KTR-31/PPTSLB/XI/2003 tanggal 4 -11-2003 dan Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK) No.SPMK-37/PPTSLB/XI/2003 tanggal 5-11-2003 dengan nilai kontrak sebesar Rp9.421.071.000,00 dengan jangka waktu pelaksanaan selama 40 hari kalender Selain itu proses klarifikasi dan negosiasi harga oleh tim penunjukan langsung sesuai Berita Acara klarifikasi dan negosiasi harga No.BA-03/ABT-TIMB/PPTSLB/10/2003 tanggal 29-10-2003 bukan merupakan negosiasi karena harga penawaran tersebut di atas hanya dibandingkan dengan Pagu Anggaran sehingga tidak terlihat adanya nilai perubahan penawaran yang dilakukan oleh tim penunjukan langsung terhadap nilai penawaran rekanan. Sesuai dengan surat Keputusan Bersama Menteri Keuangan dan Kepala Bappenas No. S-42/A/2000 dan No. S-2262/D.2/05/2000 tentang petunjuk teknis Pelaksanaan Keppres No. 18 tahun 2000 tetntang pedoman pelaksanaan pengadaan barang / jasa di instansi pemerintah menyatakan antara lain : Penunjukan langsung dapat dilakukan : a. Untuk pekerjaan yang berskala kecil dengan nilai maksimum Rp 50.000.000,00. b. Untuk pekerjaan yang spesifik yang hanya dapat dilaksanakan oleh satu penyedia barang / jasa. c. Spesifikasi teknis dan gambar tidak mengarah kepada satu merk / produk tertentu. d. Sesuai perjanjian kerjasama antara lain disebutkan bahwa kedua belah pihak sepakat bahwa pengunduran dan / atau perpanjangan masa pelaksanaan pekerjaan atau pekerjaan tambah kurang tidak dibenarkan kecuali terjadi force majeur. e. Sesuai perjanjian apabila terjadi keterlambatan dalam jangka waktu penyelesaian akan dikenakan denda. Dalam Bab I Petunjuk Umum point 7f yang berbunyi : Pemilihan langsung adalah pengadaan barang/jasa tanpa melalui pelelangan dan hanya diikuti oleh penyedia barang / jasa yang memenuhi syarat, dilakukan dengan cara membandingkan penawaran dan melakukan negosiasi, baik teknis maupun harga, sehingga diperoleh harga yang wajar dan secara teknis dapat dipertanggungjawabkan. Kriteria pemilihan langsung : a. Penanganan darurat untuk keamanan dan keselamatan masyarakat dan pengadaan barang/ jasanya masih memungkinkan untuk menggunakan proses pemilihan langsung; dan atau b. Pekerjaan yang perlu dirahasiakan, menyangkut keamanan dan keselamatan Negara yang ditetapkan oleh Presiden; dan atau c. Pengadaan barang / jasa yang setelah dilakukan pelelangan ulang ternyata jumlah

BPK RI / AUDITAMA KN V

penyedia barang / jasa yang lulus prakualifikasi atau yang memasukkan penawaran kurang dari 3 (tiga) peserta. Dalam Bab II yaitu prosedur pengadaan barang jasa pemborongan dan jasa lainnya bagian B prosedur pemilihan langsung, penunjukan langsung dan swakelola ayat 1 prosedur pemilihan langsung butir b pelaksanaan angka 1 dan 2 menyatakan bahwa : a. Panitia mengundang sebanyak-banyaknya calon peserta pemilihan langsung yang memenuhi syarat sekurang-kurangnya 3 (tiga) calon penyedia barang / jasa untuk mengajukan penawaran berdasarkan dokumen pengadaan yang diberikan kepada calon peserta pemilihan langsung. b. Dalam hal pemilihan langsung dilakukan akibat terjadinya lelang ulang gagal, pemilihan langsung dapat diikuti oleh 2 (dua) peserta pemilihan langsung yang memenuhi syarat untuk mengajukan penawaran ulang berdasarkan dokumen lelang yang telah disesuaikan untuk pemilihan langsung. Hal ini mengakibatkan pelaksanaan kontrak pekerjaan dan pengadaan barang di Perum Bulog tidak memberikan kesempatan adanya persaingan usaha secara terbuka. Hal ini disebabkan Perum Bulog tidak mengikuti ketentuan Keppres No. 18 tahun 2000. Berkaitan dengan permasalahan di atas Direksi Perum Bulog menanggapi sebagai berikut : 1. Untuk renovasi lantai 14, 15, dan 16 bahwa dari analisa jadwal kegiatan pengadaan dengan tahapan kegiatan (penyusunan konsep, preliminary desain, detail desain dan pelelangan) yang berurutan, disimpulkan bahwa kegiatan fisik pekerjaan renovasi diperkirakan baru dapat dimulai pada bulan September 2003 sedangkan kebutuhan akan ruang Direksi dan Dewan Pengawas sudah mendesak, maka Kabulog memutuskan pekerjaan renovasi lantai 14, 15 dan 16 dilakukan dengan cara Penunjukan Langsung Pekerjaan Jasa Rancang Bangun (turnkey) kepada PT BIMAL dan Konsultan Manajemen Konstruksi kepada PT Alpindo Arga Cipta. 2. Proses pengadaan furniture lantai 14, 15 dan 16 Gedung Bulog I didasarkan atas adanya penawaran dan contoh-contoh furniture yang diajukan oleh rekanan Perum Bulog di mana produk yang ditawarkan merupakan barang jadi. Dari beberapa contoh yang disampaikan, Perum Bulog memilih dan menyetujui contoh-contoh furniture yang diajukan oleh PT Graha Sarana Estetika diminta untuk mengajukan penawaran harganya. Dilihat dari standar kualitas dan nilai artistiknya, Perum BUlog berpendapat bahwa harga negosiasi sebesar Rp 1.499.431.000,00 masih berada dalam batas-batas kewajaran. 3. Pengadaan MPG dilakukan dengan cara Pemilihan Langsung dari MPG eks import karena harganya jauh dibawah harga produksi dalam negeri ( 59%) walaupun diterapkan preferensi harga sebesar 15% sebagaimana ketentuan pasal 22 ayat 2 Keppres No. 18 tahun 2000. Sehingga sasaran untuk menghindari ekonomi biaya tinggi pada Pilot Project RMU dapat dicapai. Di samping itu, berdasarkan hasil negosiasi, pembayaran pengadaan MPG ke PT Kutama Makmur dapat diangsur selama 24 bulan dengan bunga 6,5 % per tahun. 4. Pengadaan APM dilakukan dengan cara penunjukan langsung kepada PT Kutama Makmur dengan pertimbangan sebagai berikut :

BPK RI / AUDITAMA KN V

a. PT Kutama Makmur adalah Agen TUnggal Pemegang Merk (ATPM) Alat Pengering Mekanis Kaneko Cina. b. APM Kaneko telah diuji oleh Puslitbang Bulog dengan hasil memenuhi persyaratan, bahkan beras hasil gilingannya melebihi persyaratan minimum Bulog. c. Harganya lebih murah dibanding produk dalam negeri. d. Agar terjadi kesinambungan teknologi antara MPG dan APM yang diadakan oleh PT Kutama Makmur. 5. Pengadaan plastic sheet CO2 stack dilakukan melalui penunjukan langsung dengan pertimbangan waktu sangat singkat / mendesak dan telah disetujui Kabulog. Dasar penunjukan langsung adalah Keppres No. 18 tahun 2000 lampiran I Bab I.C.I.4a (1) dan b (2) yang berbunyi : 1.1. Keadaan tertentu yakni pelaksanaan pekerjaan tidak dapat ditunda, atau harus dilakukan segera. 1.2. Pengadaan barang khusus, barang spesifik. Dengan demikian menurut hemat kami, prosedur penunjukan langsung sudah sesuai Keppres 18/ tahun 2000 serta kewajaran harga dan syarat teknis telah terpenuhi karena harga sudah memperhatikan harga pengadaan sarana CO2 stack tahun 1996 yang merupakan tahun terakhir perawatan beras dilakukan dengan CO2 stack dan inflasi dalam kurun waktu 6 tahun. Plastik sheet CO2 stack adalah barang spesifik karena tidak tersedia di pasaran umum dan hanya Bulog yang menggunakan teknologi CO2 stack untuk beras serta syarat teknis sudah memenuhi persyaratan sesuai hasil Litbang Bulog. 6. Atas permasalahan flonder di atas Direksi Perum Bulog belum memberikan tanggapan sampai laporan ini dibuat. Namun demikian pihak Divre Jawa Barat menjelaskan bahwa proses pengadaan barang / jasa telah dilaksanakan dengan mengacu kepada ketentuan dalam Keppres 18 tahun 2000 antara lain pasal 12 ayat (2).Cii. Dengan melaksanakan pemilihan terhadap 2 (dua) rekanan setelah 2 (dua) kali gagal tender, ternyata lebih menguntungkan dibanding penunjukan langsung, karena telah terjadi persaingan harga sehingga harga flonder per unit cukup wajar dan lebih rendah dari owner estimate (OE) yang ditetapkan. Disamping itu hasil pelaksanaan pekerjaannya sesuai dengan spesifikasi yang telah ditetapkan dan pekerjaan dilaksanakan selesai tepat pada waktunya. Namun demikian untuk masa yang akan datang apabila terjadi lagi kegagalan tender 2 (dua) kali, maka proses pemilihan langsung akan dilakukan sesuai saran BPK. 7. Mengingat jadwal waktu yang tersedia untuk melaksanakan pengadaan 42 unit timbangan dari batas TA 2003 yang dapat mengakibatkan hangusnya anggaran, maka sesuai dengan ketentuan Keppres 18 tahun 2000, metode pengadaan pengadaan 42 unit timbangan dilakukan dengan cara penunjukan langsung kepada Agen TUnggal Pemegang Merk (ATPM) yang jadwal waktunya lebih singkat. Klarifikasi dan negosiasi telah dilakukan oleh panitia penunjukan langsung sesuai dengan Berita Acara No. BA03/ABT-TIMB/PPTSLB/10/2003 dengan hasil : Harga penawaran sebesar Rp9.421.251.000,00 disepakati dinegosiasi menjadi Rp9.421.071.000,00. Minimnya hasil negosiasi ini karena pengajuan anggaran ke Dep Keu RI telah direncanakan seakurat mungkin untuk meminimalisir Sisa Anggaran Proyek (SIAP) sehingga siapapun yang mengajukan penawaran, nilainya tidak akan jauh dari pagu anggaran. BPK RI menyarankan agar Direksi Perum Bulog melakukan proses tender untuk kontrak pekerjaan dan pengadaan barang di atas Rp50.000.000 sesuai peraturan yang ada.

BPK RI / AUDITAMA KN V

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

Nomor : 37.B/Auditama V/GA/XII/ 2004

LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN Kami telah mengaudit neraca Perusahaan Umum Bulog tanggal 31 Desember 2003, serta laporan laba rugi, laporan perubahan ekuitas, dan laporan arus kas konsolidasi untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut, dan telah menerbitkan laporan nomor 37.A/Auditama V/GA/ XII/ 2004 tanggal 31 Desember 2004. Kami melaksanakan audit berdasarkan Standar Audit Pemerintahan yang diterbitkan oleh Badan Pemeriksa Keuangan dan standar auditing yang ditetapkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia. Standar tersebut mengharuskan kami untuk merencanakan dan melaksanakan audit untuk memperoleh keyakinan memadai tentang apakah laporan keuangan bebas dari salah saji material. Dalam perencanaan dan pelaksanaan audit kami atas laporan keuangan Perusahaan Umum Bulog untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2003, kami mempertimbangkan pengendalian intern entitas tersebut untuk menentukan prosedur audit yang kami laksanakan untuk menyatakan pendapat kami atas laporan keuangan dan tidak dimaksudkan untuk memberikan keyakinan atas pengendalian intern tersebut. Manajemen Perusahaan Umum Bulog bertanggung jawab untuk menyusun dan memelihara suatu pengendalian intern. Dalam memenuhi tanggung jawabnya tersebut, 9 BPK RI / AUDITAMA KN V

diperlukan estimasi dan pertimbangan dari pihak manajemen tentang taksiran manfaat dan biaya yang berkaitan dengan pengendalian intern. Tujuan suatu pengendalian intern adalah untuk memberikan keyakinan memadai, bukan keyakinan absolut, kepada manajemen bahwa aktiva terjamin keamanannya dari kerugian sebagai akibat pemakaian atau pengeluaran yang tidak diotorisasi dan bahwa transaksi dilaksanakan dengan otorisasi manajemen dan dicatat semestinya untuk memungkinkan penyusunan laporan keuangan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. Karena adanya keterbatasan bawaan dalam setiap pengendalian intern, kekeliruan atau ketidakberesan dapat saja terjadi dan tidak terdeteksi. Begitu juga, proyeksi setiap evaluasi atas pengendalian intern ke periode yang akan datang mengandung risiko bahwa suatu prosedur menjadi tidak memadai lagi karena perubahan kondisi yang terjadi atau efektifitas desain dan operasi pengendalian intern tersebut telah berkurang. Untuk tujuan laporan ini, kami menggolongkan pengendalian intern signifikan ke dalam kelompok berikut ini: Operasi Administrasi Keuangan Untuk semua golongan pengendalian intern tersebut di atas, kami memperoleh pemahaman tentang desain pengendalian intern yang relevan dan apakah pengendalian intern tersebut dioperasikan, serta kami menentukan risiko pengendalian. Pertimbangan kami atas pengendalian intern tidak perlu mengungkapkan semua masalah dalam pengendalian intern yang mungkin merupakan kelemahan material menurut Standar Audit Pemerintahan yang diterbitkan oleh Badan Pemeriksa Keuangan. Suatu kelemahan material adalah kondisi yang dapat dilaporkan yang di dalamnya desain dan operasi satu atau lebih komponen pengendalian intern tidak mengurangi risiko ke tingkat yang relatif rendah tentang terjadinya kekeliruan dan ketidakberesan dalam jumlah yang akan material dalam hubungannya dengan laporan keuangan auditan dan tidak terdeteksi dalam waktu semestinya oleh karyawan dalam melaksanakan normal fungsi yang ditugaskan kepadanya. Kami mencatat bahwa tidak ada masalah berkaitan dengan 10 BPK RI / AUDITAMA KN V

pengendalian intern dan operasinya yang kami pandang memiliki kelemahan material sebagaimana kami definisikan di atas. Namun, kami mencatat masalah-masalah tertentu yang tidak material berkaitan dengan pengendalian intern dan operasinya disertai saran perbaikannya yang kami kemukakan pada Lampiran B.

Auditor Utama Keuangan Negara V Penanggung Jawab Audit,

Drs. M i s n o t o, Ak. MA Register Negara No. D-1416 Jakarta, 31 Desember 2004

11

BPK RI / AUDITAMA KN V

1. Penyetoran sebagian hasil penjualan (HP) beras Operasi Pasar Khusus Beras Keluarga Miskin (OPK Raskin) dan Operasi Pasar Khusus Program Kompensasi Pengurangan Subsidi Bahan Bakar Minyak (OPK PKPS BBM) oleh Divre kepada Kantor Pusat mengalami kelambatan dan belum dilakukan rekonsiliasi. Dalam rangka mengemban tugas pemerintah, Perum Bulog ditugaskan menyalurkan beras untuk keluarga miskin yang rawan pangan dengan tujuan untuk mengatasi persoalan gizi, berupa Program Beras Keluarga Miskin (Raskin) dan Program Kompensasi Pengurangan Subsidi Bahan Bakar Minyak (PKPS-BBM). Dalam penyaluran beras Raskin/PKPS-BBM, Perum Bulog mengakui piutang pada saat diterbitkan Delivery Order (DO). Berdasarkan Laporan Keuangan Perum Bulog Tahun 2003 pada Divre Jateng, Sumut, Jabar dan Sulsel, diketahui piutang Raskin dan PKPS BBM per 31 Desember 2003 adalah sebagai berikut : Divre Piutang Raskin/PKPS BBM Divre Jateng 5.003.154.080,00 Divre Sumut 4.214.581.000,00 Divre Jabar 12.301.839.950,00 Divre Sulsel 6.950.264.000,00 Berdasarkan pemeriksaan atas laporan pertanggungjawaban keuangan Hasil Penjualan (HP) dari Satgas Raskin dan PKPS BBM pada bulan Desember 2003 diketahui adanya kelambatan penyetoran. Berdasarkan pemeriksaan laporan rekapitulasi pertangungjawaban keuangan Hasil Penjualan (HP) Raskin dan PKPS BBM per 31 Desember 2003 pada beberapa Divre, diketahui adanya kelambatan penyetoran HP. Berikut ini data kelambatan penyetoran dibeberapa divre yang diperiksa. 1) Divisi Regional Jawa Tengah
Jumlah piutang Per Sub Divre Raskin Sub Divre Semarang (Wil I) Sub Divre Pati (Wil II) Sub Divre Surakarta (Wil III) Sub Divre Banyumas (Wil IV) Sub Divre Kedu (Wil V) Sub Divre Pekalongan (Wil VI) Jumlah PKPS BBM Sub Divre Semarang (Wil I) Sub Divre Pati (Wil II) Sub Divre Surakarta (Wil III) Sub Divre Banyumas (Wil IV) Sub Divre Kedu (Wil V) Sub Divre Pekalongan (Wil VI) Jumlah 19,820,000.00 78,810,040.00 29,665,000.00 6,075,000.00 10,525,000.00 202,811,000.00 347,706,040.00 19,820,000.00 78,810,040.00 12,810,000.00 6,075,000.00 10,525,000.00 202,811,000.00 330,851,040.00 1 bulan 1 s.d 2 bulan 1 bulan 1 bulan 1 bulan 1 bulan 16,855,000.00 16,855,000.00 761,765,000.00 805,294,540.00 182,863,500.00 199,007,800.00 355,840,000.00 2,464,286,700.00 4,769,057,540.00 761,765,000.00 793,674,540.00 199,007,800.00 355,840,000.00 4,521,300,040.00 1 s.d 2 bulan 1 s.d 8 bulan 1 s.d 2 bulan 1 s.d 2 bulan 133,067,500.00 247,757,500.00 11,620,000.00 103,070,000.00 31 Desember 2003 Jumlah penyetoran tahun 2004 Jangka waktu Sisa yang belum penyetoran disetor per 30 Agustus 2004

79,793,500.00 1 s.d 1,5 bulan

2,331,219,200.00 2 s.d 24 bulan

12

BPK RI / AUDITAMA KN V

2) Divisi Regional Sumatra Utara


Sub Divre Jumlah piutang Per Jumlah penyetoran Jangka waktu Sisa yang belum 31 Desember 2003 Raskin Sub Divre Medan /Wil I Sub Divre P.Siantar/Wil II Sub Divre Kisaran/Wil III Sub Divre P.Sidempuan/Wil IV Jumlah PKPS BBM Sub Divre Medan /Wil I Sub Divre P.Siantar/Wil II Sub Divre Kisaran/Wil III Sub Divre P.Sidempuan/Wil IV Jumlah 257.980.000,00 95.370.000,00 109.548.000,00 39.080.000,00 501.978.000,00 257.980.000,00 80.770.000,00 109.548.000,00 36.080.000,00 484.378.000,00 1 s.d 4 bulan 2 s.d 5 bulan 2 s.d 9 bulan 1 s.d 6 bulan 3.000.000,00 17,600,000,00 14.600.000,00 1.139.510.000,00 1.139.510.000,00 733.133.000,00 733.133.000,00 2 s.d 7 bulan 167.404.000,00 22.080.000,00 189.484.000,00 1 s.d 6 bulan 3 s.d 4 bulan 1.619.125.000,00 1.451.721.000,00 4 s.d 10 bulan 221.015.000,00 3.523.299.000,00 3.712.783.000,00 4,521,300,040.00 tahun 2004 penyetoran disetor per 31 Oktober 2004

3) Divisi Regional Jawa Barat


Sub Divre Jumlah piutang Per Jumlah penyetoran Jangka waktu 31 Desember 2003 Sub Divre Banten /Wil I Sub Divre Cianjur /Wil II Sub Divre Cirebon /Wil III Sub Divre Indramayu /Wil IV Sub Divre Krawang /Wil V Sub Divre Subang /Wil VI Sub Divre Ciamis /Wil VII Sub Divre Bandung /Wil VIII Jumlah 417.668.450,00 3.748.563.500,00 257.595.500,00 1.136.695.000,00 2.105.640.000,00 2.127.041.000,00 999.682.500,00 1.508.954.000,00 1.446.445.500,00 12.301.839.950,00 11.894.529.253,00 2.037.550.000,00 3.471.851.303,00 tahun 2004 penyetoran 1 s.d 7 bulan 1 s.d 9 bulan 1 s.d 8 bulan 1 s.d 8 bulan 1 s.d 9 bulan 1 s.d 5 bulan 1 s.d 8 bulan 1 s.d 9 bulan 62.508.500,00 407.310.697,00 68.090.000,00 276.712.197,00 Sisa yang belum disetor per 30 September 2004

4) Divisi Regional Selawesi Selatan


Sub Divre Jumlah piutang Per Jumlah penyetoran Jangka waktu 31 Desember 2003 Sub Divre Polmas / Wil I Sub Divre Pare-Pare / Wil II Sub Divre Sidrap / Wil III Sub Divre Wajo / Wil IV Sub Divre Bulukumba / Wil V Sub Divre Palopo / Wil VI Sub Divre Makassar /Wil VII Jumlah 211.166.000,00 552.620.000,00 842.780.000,00 tahun 2004 211.166.000,00 552.620.000,00 842.780.000,00 penyetoran 1 s.d 2 bulan 1 s.d 2 bulan 1 s.d 10 bulan 1 s.d 2 bulan 1 s.d 3 bulan 1 s.d 2 bulan Sisa yang belum disetor per 30 Oktober 2004 -

1.848.593.000,00 1.848.593.000,00 2.790.320.000,00 2.790.320.000,00 704.785.000,00 704.785.000,00 6.950.264.000,00 6.950.264.000,00

13

BPK RI / AUDITAMA KN V

Berdasarkan Petunjuk Pelaksanaan Program Beras Keluarga Miskin (Raskin) dan Program Kompensasi Pengurangan Subsidi Bahan Bakar Minyak (PKPS-BBM) Bidang Pangan Tahun 2003, antara lain menyatakan : a. Pembayaran harga beras Raskin dan PKPS-BBM bidang pangan Rp 1.000,- per kg dari penerima manfaat kepada pelaksana Distribusi dan dari pelaksana distribusi kepada Satgas Raskin harus tunai. b. Apabila ada penerima manfaat tidak mampu untuk membayar tunai, maka prinsip pembayaran tunai dapat dikecualikan dengan syarat Kades/Lurah/Camat/Bupati/Walikota membuat jaminan tertulis sesuai format MJ dan pelunasannya harus sudah selesai pada bulan bersangkutan. c. Uang hasil penjualan harus disetor ke rekening hasil penjualan (rekening Bulog) selambat-lambatnya 1X 24 jam dari tanggal diterimanya uang hasil penjualan per titik distribusi oleh pelaksana distribusi. d. Berdasarkan bukti transfer dan daftar perincian mutasi harian, pada setiap bulannya Kadolog/Kasubdolog/Kakanlog dan pihak bank setempat melakukan rekonsiliasi atas penyetoran uang HP Raskin/PKPS-BBM tersebut dengan membuat rekonsiliasi bank. Berdasarkan Surat Edaran Ka.Bulog No.B-505/II/07/2002 tanggal 9 Juli 2002 dan Berita kawat No.1370/07092002 tanggal 7 September 2002 diantaranya menyatakan setiap hari dana hasil penjualan yang ada di rekening Sub Dolog (Sub Divre), Kanlog, Divre (Dolog) Operasional ditransfer ke rekening Bulog untuk setoran yang diterima sampai jam 14.00 WIB dan setoran yang diterima diatas jam 14.00 WIB ditransfer keesokan harinya. Transfer tersebut pada tanggal yang sama telah diterima di rekening Bulog untuk bank yang telah On Line System dan untuk yang Off Line System diterima di rekening Bulog selambatlambatnya 7 (tujuh) hari kalender setelah tanggal transfer. Hal tersebut disebabkan pengendalian Tim Raskin/PKPS-BBM Perum Bulog terhadap pelaksanaan setoran keuangan HPB Raskin yang dilakukan oleh Satgas Non Organik dan aparat Pemda masi kurang optimal.

Hal tersebut mengakibatkan. a. Perum Bulog tidak dapat segera memanfaatkan uang HP dan perusahaan menanggung beban bunga kredit komersil. b. Berpotensi terjadinya penyalahgunaan dana yang belum disetor oleh oknum petugas. Direksi Perum Bulog memberi tanggapan bahwa, memang benar masih banyaknya piutang raskin yang lambat dan macet penyetorannya hal tersebut disebabkan : a. Untuk piutang macet pada Sub Divre Pekalongan karena petugas Satgas Raskin yang bertugas di Kab.Pekalongan saat itu kurang kontrol terhadap setoran keuangan HPB Raskin yang dilakukan oleh Satgas Non Organik. b. Proses rekonsiliasi yang belum berjalan dengan baik antara catatan Satgas Raskin dengan catatan Keuangan dan Akuntansi di Kantor Subdivre. c. Titik distribusi terletak di daerah yang sangat jauh dari bank penyetoran HPB. d. Terbatasnya petugas pengumpul HPB di lingkungan Pemda maupun Sub-sub Divre dibanding luasnya sasaran wilayah penyaluran Raskin.

14

BPK RI / AUDITAMA KN V

e. Penyaluran dan penerimaan setoran uang hasil penjualan melalui perjenjang yang panjang yaitu dimulai dari aparat tingkat RT/RW dan Desa. sampai aparat Pemda Tingkat II. f. Lambatnya transfer yang dilakukan BRI Unit/Cabang yaitu bila Satgas memantau perjalanan HPB dari BRI Unit yang masih melaksanakan transfer secara manual ke BRI Cabang, biasanya H+5 atau bahkan lebih. Perlu di informasikan bahwa sebagian besar kasus keterlambatan penyetoran HP penjualan Beras Raskin/PKPS-BBM disebabkan uang digunakan/dipinjam oleh Oknum Aparat Desa/Pemda untuk keperluan pribadi dan hal tersebut telah diakui oleh aparat di Tingkat Kabupaten. BPK-RI menyarankan agar Direksi Perum Bulog lebih mengoptimalkan penyetoran HP penjualan Beras Raskin / PKPS BBM serta mengambil tindakan tegas atas keterlambatan yang terjadi.

2. Terdapat Pembayaran Biaya Angkut Beras Raskin dan PKPS BBM untuk pengusaha angkutan Non PKP di Divre Sumut Termasuk unsur PPN Sebesar 10 %. Dalam pelaksanaan operasional Beras Keluarga Miskin (Raskin) dan Pogram Kompensasi Pengganti Subsidi (PKPS) Bahan Bakar Minyak (BBM) diperlukan armada pengangkutan untuk mendistribusikan beras ke titik-titik distribusi, biaya angkutan tersebut termasuk salah satu biaya distribusi Raskin. Jumlah biaya distribusi tergantung dari jumlah kuantum beras yang akan didistribusikan dan tarif angkut yang telah ditetapkan untuk masing-masing daerah. Berdasarkan Teleks Bulog No.T.2148/10152002 dan No.T206/02052003 dan Teleks Kadivre No.T.227/02262003 tanggal 27 Pebruari 2003 maka dalam Tarif BOP Raskin dan PKPS BBM sudah termasuk PPh dan PPN. Berdasarkan hasil pemeriksaan pada Sub Divre Pematang Siantar, Kisaran dan Padang Sidempuan, sesuai laporan pertanggungjawaban realisasi Biaya Operasional (BOP) Raskin dan PKPS BBM (Laporan ML-3 ) jumlah biaya angkutan adalah sebesar Rp3.436.444.295,00. Untuk perusahaan angkutan yang PKP maka Sub Divre akan membayarkan biaya angkut sebesar tarif angkut setelah memotong PPN 10%. Atas potongan tersebut Sub Divre akan menyetor ke Kas Negara dan bukti Surat Setoran Pajak (SSP) akan diserahkan pada perusahaan angkutan tersebut. Ketika menggunakan jasa angkutan dari perusahaan angkutan non PKP, Sub Divre membayar biaya angkut sebesar plafon BOP Raskin dan PKPS BBM yang didalam plafon tersebut termasuk unsur PPN sesuai telek Bulog tersebut di atas. Berikut perhitungan biaya angkut pada tiga kantor Sub Divre di wilayah Divre Sumatra Utara :
Nama Sub Divre Biaya Angkutan (Inclusive PPN) 1 Pematang Siantar Kisaran Padang Sidempuan Jumlah 2 478.204.060,00 608.690.135,00 2.349.550.100,00 3.436.444.295,00 Biaya angkutan yg seharusnya diserahkan ke pemilik angkutan 3=100/110 x 2 434.730.963,64 553.354.668,18 2.135.954.636,36 3.124.040.268,18 4=2-3 43.473.096,36 55.335.466,82 213.595.463,64 312.404.026,82 PPN 10% PPN yang dipotong oleh Sub Divre (PKP) 5 36.291.731,00 15.489.191,00 0 51.780.922,00 Nilai PPN yang termasuk dibayarkan kepada pengusaha Non PKP 6=4-5 7.181.365,00 39.846.275,82 213.595.463,64 260.623.104,46

15

BPK RI / AUDITAMA KN V

Dari data di atas diketahui bahwa terdapat pembayaran biaya angkut kepada pengusaha angkutan non PKP termasuk PPN sebesar Rp260.623.104,46. Berdasarkan Teleks Bulog No.T.2148/10152002 dan No.T.206/02052003 dan Teleks Kadivre No.T.227/02262003 tanggal 27 Pebruari 2003 menyatakan bahwa Tarif BOP Raskin dan PKPS BBM sudah termasuk PPh dan PPN. Hal tersebut mengakibatkan terdapat pembayaran biaya angkutan sebesar Rp260.623.104,46 kepada pengusaha angkutan Non PKP yang dapat dihindari. Hal tersebut terjadi karena Sub Divre tidak sepenuhnya melaksanakan Teleks Bulog No. T.2148/10152002 dan No.T.206/02052003 dan Teleks Kadivre No.T.227/02262003 tanggal 27 Pebruari 2003 yang menyatakan bahwa BOP Raskin dan PKPS BBM tahun 2003 sudah termasuk PPN 10%. Direksi Perum Bulog memberi tanggapan bahwa, angkutan raskin di Divre Sumut yang menggunakan jasa angkutan perorangan tidak dilakukan pemotongan PPN karena non PKP. Angkutan perorangan tersebut pada umumnya dilakukan untuk angkutan daerah yang sulit dijangkau dan medannya cukup sulit sehingga tarif angkutannya berbeda/lebih tinggi. Dengan kondisi tersebut, nilai jasa angkutan ditetapkan maksimal sebesar plafon yang tersedia yaitu plafon termasuk alokasi PPN. BPK RI menyarankan agar Perum Bulog dalam membayarkan biaya angkut kepada pengusaha angkutan non PKP dengan besaran yang tidak termasuk unsur PPN dalam tarif yang ditetapkan.

3. Pelaksanaan kerjasama pengelolaan Hotel Bandara Surabaya antara Perum Bulog dan PT Jalasutra Sarana Jaya yang dilanjutkan oleh CV Prima Athera Utama tidak sesuai perjanjian. Dalam laporan keuangan 31 Desember 2003 Perum Bulog mempunyai hotel dengan nilai pembelian sebesar Rp3.300.000.000,00. Untuk mengelolanya dilakukan kerjasama dengan PT Jalasutra Sarana Jaya (PT JSJ) yang dituangkan dengan perjanjian No.PKK156/07/2002 tanggal 29 Juli 2002. Dari hasil pemeriksaan atas pengelolaan Hotel Bandara Surabaya dapat dikemukakan hal-hal sebagai berikut : Selama tahun 2003 PT JSJ baru menyetorkan pembagian hasil sebesar Rp168.000.000,00. PT JSJ mengajukan kompensasi untuk perbaikan-perbaikan dan pembelian barang yang bersifat investasi yang dilakukan terlebih dahulu oleh PT JSJ dengan usulan perhitungan sebesar Rp836.764.500,00. Perbaikan tersebut merupakan perbaikanperbaikan di luar kamar yang dilakukan oleh PT JSJ terlebih dahulu dan kemudian minta persetujuan Perum Bulog untuk dikompensasi dengan kewajiban PT JSJ.

16

BPK RI / AUDITAMA KN V

Berdasarkan hasil evaluasi Divisi Jasa diketahui bahwa PT JSJ tidak menunjukkan hasil kinerja pengelolaan hotel yang baik. Oleh karena itu PT JSJ mengundurkan diri sebagai pengelola hotel Bandara Surabaya dengan surat No.95/DIR/2/2004 tanggal 21 Pebruari 2004. Sebelum dilakukan pembatalan perjanjian dengan PT JSJ dilakukan perhitungan hak dan kewajiban antara kedua belah pihak yang tertuang dalam Berita Acara Perhitungan Kompensasi Hak dan Kewajiban Hotel Bandara Surabaya dengan Perum Bulog tanggal 12 Maret 2004. Sisa kewajiban PT JSJ sebesar Rp93.972.405,00 dan ditambah biaya balik nama listrik sebesar Rp19.283.300,00. Sisa kewajiban ini akan menjadi tanggungjawab pengelola yang baru yaitu CV Prima Athera Utama. Sejak tanggal 31 Maret 2004 pengelola hotel Bandara Surabaya beralih kepada CV Prima Athera Utama, sesuai dengan perjanjian No.PKK-77/03/2004 tanggal 31 Maret 2004. Pengelola yang baru masih mempunyai hubungan keluarga dengan pengelola yang lama. Berdasarkan pemeriksaan diketahui bahwa: CV. Prima Athera Utama tidak menyerahkan bank garansi. Sampai dengan bulan Nopember 2004 CV. Prima Athera Utama baru menyetorkan pembagian hasil sebesar Rp12.000.000,00 dari yang seharusnya Rp420.000.000,00. Belum melunasi kewajiban PT JSJ yang diambil alih sebesar Rp 113.255.705,00. CV PAU meminta kompensasi untuk perbaikan-perbaikan dan pembelian barang yang bersifat investasi yang dilakukan oleh CV. Prima Athera Utama dengan usulan perhitungan sebesar Rp420.429.383,00. Sampai akhir pemeriksaan uang tersebut belum pernah diterima oleh Perum Bulog, sehingga sisa kewajiban CV PAU dan tanggungan hutang PT JSJ kepada Perum Bulog per 31 Oktober 2004 dengan kewajiban seluruhnya menjadi sebesar Rp260.363.405,00. Berdasarkan perjanjian pengelolaan Hotel Bandara Surabaya antara Perum Bulog dengan PT Jalasutra Sarana Jaya yang dituangkan dengan perjanjian No.PKK-156/07/2002 tanggal 29 Juli 2002 disebutkan : Pada pasal 3 tentang hak dan kewajiban : Ayat 1 huruf g dimana disebutkan bahwa Pihak Kesatu (Perum Bulog) berhak menerima 10% setiap bulannya dari penerimaan kotor pengelolaan hotel dan apabila 10% nilainya kurang dari Rp53.000.000,00 maka pihak pengelola tetap membayar sebesar Rp53.000.000,00. Pasal 5 ayat 2 disebutkan bahwa apabila Pihak Kedua tidak dapat memenuhi kewajibankewajibannya dalam hal pembagian keuntungan yang menjadi hak Pihak Kesatu selama 2 triwulan maka Pihak Kesatu dapat memutuskan perjanjian ini secara sepihak dan tertulis kepada Pihak Kedua. Sedangkan berdasarkan perjanjian pengelolaan Hotel Bandara Surabaya antara Perum Bulog dengan CV. Prima Athera Utama yang dituangkan dengan perjanjian No.PKK-77/03/2004 tanggal 31 Maret 2004 disebutkan : Pada pasal 3 tentang hak dan kewajiban : Ayat 1 butir 1.1 dimana disebutkan bahwa Pihak Pertama (Perum Bulog) berhak menerima hasil pengelolaan hotel setiap bulannya sebesar Rp60.000.000,00 belum termasuk pajak-pajak. Dalam pasal 4 tentang jaminan ayat 1 disebutkan bahwa Pihak Kedua harus menyerahkan jaminan berupa Bank Garansi kepada Pihak Kesatu sebesar Rp120.000.000,00

17

BPK RI / AUDITAMA KN V

dilengkapi surat kuasa pencairan yang mempunyai masa berlaku sampai dengan tanggal 31 Juli 2005. Pasal 6 tentang sanksi-sanksi antara lain menyebutkan bahwa : Ayat 2 disebutkan bahwa jika Pihak Kedua tidak menyerahkan Bank Garansi maka Pihak Pertama berhak memutuskan perjanjian ini secara sepihak. Ayat 5 disebutkan bahwa dalam hal terjadi pemutusan perjanjian secara sepihak maka Pihak Pertama secara sepihak berhak mencairkan Bank Garansi. Hal ini mengakibatkan : a. Perum Bulog belum menerima haknya dari hasil pengelolaan hotel dimana sebagian dari penerimaan tersebut telah dikompensasikan terhadap perbaikan-perbaikan yang telah dilakukan baik oleh pihak PT Jalasutra Sarana Jaya maupun oleh CV Prima Athera Utama. b. Dengan tidak adanya Bank Garansi maka Perum Bulog tidak mendapat penggantian atas kerugian akibat wanprestasi pengelola Hotel Bandara Surabaya tersebut. c. PT Jalasutra Sarana Jaya dan CV Prima Athera Utama masih mempunyai hutang kepada Perum Bulog sebesar Rp260.363.405,00. Hal ini terjadi karena Perum Bulog tidak tegas dalam menerapkan sanksi-sanksi yang terdapat dalam klausul perjanjian kerjasama operasi. Atas masalah tersebut Direksi Perum Bulog memberi tanggapan bahwa, proses tindaklanjut atas temuan BPK terhadap kelemahan- kelemahan pengelolaan Hotel Bandara Surabaya akan dilaksanakan oleh Perum Bulog melalui tahapan sebagai berikut : a. Membuat surat kepada pihak pengelola (CV Prima Athera Utama) pada tanggal 24 Desember 2004 yang isinya menyampaikan besarnya nilai kewajiban yang harus diselesaikan sesuai temuan BPK yaitu Rp260.363.405,00 dengan rincian kewajiban bulanan, beban bea balik listrik dari nama Subdolog Surabaya Utara ke Hotel Bandara Surabaya dan kewajiban menyerahkan Bank Garansi sebesar Rp120.000.000,00 b. membuat addendum pejanjian kerjasama pengelolan Hotel Bandara Surabaya dengan mencantumkan salah satu klausul kompensasi dalam rangka perbaikan atas fisik bangunan dengan kewajiban pihak pengelola kepada Perum Bulog (pasal 3 perjanjian PKK-77/03/2004 tanggal 31 Maret 2004) Khusus dalam menentukan batas waktu dan sanksi yang akan diberikan kepada pengelola Hotel Bandara Surabaya, Perum Bulog perlu untuk mempersiapkan calon pengganti yang sanggup/bersedia melanjutkan pengelolaan dengan kondisi yang ada seperti sekarang ini. BPK RI menyarankan agar Perum Bulog melaksanakan kerjasama sesuai dengan perjanjian yang disepakati, dan pelanggaran atas perjanjian segera diambil tindakan.

4. Bagian Akuntansi Divre Jakarta Raya tidak melakukan Rekonsiliasi Bank Divre Jakarta Raya telah menempatkan dana pada bank Bukopin per 31 Desember 2003 sebesar Rp7.085.821.225,61. Selama tahun 2003 Divre Jakarta Raya tidak pernah melakukan rekonsiliasi bank terhadap rekening koran yang diterima setiap bulannya dengan catatan akuntansi. Dari hasil pemeriksaan diketahui bahwa terdapat selisih antara catatan

18

BPK RI / AUDITAMA KN V

perusahaan dengan bank sebesar Rp200.718.613,15 catatan menurut perusahaan sebesar Rp94.792.374,85 sedangkan menurut bank sebesar Rp295.510.998,47. Atas selisih tersebut sudah dilakukan koreksi dalam laporan keuangan tahun 2003. Seharusnya saldo bank menurut catatan perusahaan sama dengan saldo bank menurut menurut bank. Hal tersebut di atas mengakibatkan saldo bank pada catatan perusahaan tidak selalu sama dengan saldo menurut catatan Bank. Hal tersebut terjadi karena Divre Jakarta Raya tidak melakukan rekonsiliasi catatan perusahaan dengan rekening Koran bank secara rutin. Atas permasalahan ini sampai akhir pemeriksaan Direksi Perum Bulog belum memberikan tanggapan. Namun demikian pihak Divisi Regional DKI menjelaskan bahwa sesuai anjuran BPK terhadap Rekonsiliasi Bank, rekonsiliasi akan dilaksanakan lebih intensif lagi per tiga bulanan. BPK RI menyarankan agar dibuat rekonsiliasi bank secara periodik.

5. Pemanfaatan rumah perusahaan, mess dan pesanggrahan Perum Bulog belum sepenuhnya sesuai dengan ketentuan Perum Bulog memiliki sejumlah rumah perusahaan, mess dan pesanggrahan yang diperuntukkan untuk karyawan Perum Bulog sejumlah 245 rumah dengan rincian adalah sebagai berikut : a. Rumah di Pos Pengumben sejumlah 143 rumah b. Rumah di Sunter Podomoro sejumah 52 rumah c. Rumah di Rawa Domba sejumlah 5 rumah d. Rumah di Madrasah Cipete sejumlah 8 rumah e. Kampung Kandang Cilandak sejumlah 2 rumah f. BPTP Tambun sejumlah 23 rumah g. Mess sejumlah 2 rumah h. Pesanggrahan sejumlah 10 rumah. Dari sejumlah 245 rumah diatas telah dilakukan cek fisik di Pos Pengumben dan BPTP Tambun dan diperoleh data sebagai berikut : a. Rumah dinas yang kosong dan tidak dimanfaatkan sejumlah 12 rumah. b. Pejabat Perum Bulog yang dimutasikan ke Divre akan tetapi masih menempati rumah dinas sebanyak 17 rumah. c. Rumah dinas yang masih ditempati karyawan yang sudah pensiun bahkan beberapa diantaranya bermasalah dan telah sampai ke pengadilan sebanyak 24 rumah. d. Rumah dinas yang berubah bentuk menjadi tempat usaha dan disewakan kepada pihak ketiga oleh kopel Perum Bulog sampai dengan akhir pemeriksaan belum diketahui serah terima dan perjanjian sewa atau bagi hasil pendapatan atas sewanya. Dari analisa lebih lanjut dapat diketahui hal-hal sebagai berikut;

19

BPK RI / AUDITAMA KN V

a. Perum Bulog selama 2003 tidak melakukan penghematan atas pemanfaatan 12 rumah perusahaan yang dibiarkan kosong sehingga Perum Bulog harus mengeluarkan biaya untuk tunjangan sewa rumah atas 12 karyawan yang seharusnya menempati rumah tersebut minimal senilai Rp 3.600.000,00 (Rp25.000 x 12 bln x 12 rumah ). b. Sedangkan untuk 17 rumah yang masih ditempati karyawan yang sudah dimutasi ke Divre akan tetapi masih menempati rumah perusahaan Perum Bulog dirugikan minimal senilai Rp510.000,00(Rp 25.000 x 12 bln x 17 rumah). c. Untuk 24 rumah yang masih ditempati oleh karyawan yang sudah pensiun Perum Bulog dirugikan minimal senilai Rp15.725.000,00. d. Dengan demikian total kerugian yang ditanggung oleh Perum Bulog sebesar Rp19.835.000,00. Berdasarkan Keputusan Direksi Perum Bulog Nomor Kep142/KA/09/1999 tentang rumah perusahaan, mess dan pesanggrahan Perum Bulog Direksi Perum Bulog Pasal 8 ayat 1 mengenai berakhirnya penghunian rumah dinas jabatan berakhir apabila; 1.1 Pejabat tidak lagi menduduki suatu jabatan 1.2 Pejabat dimutasikan/dialihtugaskan ke daerah lain 1.3 Telah berakhir masa bakti/ pensiun Ayat 2. Penghunian rumah dinas pegawai berakhir apabila; 1.1 Pegawai telah memperoleh rumah dinas jabatan Badan Urusan Logistik 1.2 Pegawai dimutasikan/dialihtugaskan ke daerah lain 1.3 Status rumah telah berubah berdasarkan Surat Keputusan Ka Bulog 1.4 Telah berakhir masa bakti/ pensiun; Ayat 3. Dalam hal penghunian berakhir rumah dinas jabatan dan rumah dinas pegawai harus diserahkan kepada dinas dalam keadaan baik selambat-lambatnya dalam tempo 90 (sembilan puluh) hari kerja berturut-turut terhitung tanggal Surat Keputusan Peralihan Jabatan, Peralihan Tempat atau berakhirnya masa bakti diterima dan dan dibuatkan Berita Acara Serah Terima rumah termasuk inventaris rumah yang ada pada rumah dinas. Hal ini mengakibatkan Perum Bulog menanggung kerugian atas pembayaran tunjangan perumahan minimal sebesar Rp19.835.000,00. Hal ini disebabkan Perum Bulog tidak tegas dalam menerapkan sanksi-sanksi sesuai dengan Keputusan Direksi Nomor Kep142/KA/09/1999 tentang Rumah Perusahaan, Mess dan Pesanggrahan. Direksi Perum Bulog memberi tanggapan sebagai berikut : a. Rumah yang kosong saat ini tidak ditempati oleh yang berhak, karena yang bersangkutan memilih menempati rumah sendiri dan kepada pejabat dimaksud tidak diberikan uang tunjangan sewa rumah. b. Bagi karyawan yang masih menempati rumah meskipun yang bersangkutan sudah dimutasi ke Divre, berdasarkan kebijakan Perum Bulog kepada pejabat dimaksud diberikan tenggang waktu 90 hari TMT SK Mutasi. Kalau melebihi batas waktu di atas, dinas akan memberikan surat teguran, tetapi tidak efektif. Oleh karena itu dinas akan memberikan teguran-teguran keras dan melakukan langkah-langkah yang diperlukan. Tetapi bagi penghuni baru sudah diterapkan perjanjian penempatan rumah peusahaan sesuai dengan ketentuan dan dalam pelaksanaannya akan dilakukan lebih tegas.

20

BPK RI / AUDITAMA KN V

c. Rumah yang bermasalah di pengadilan, sampai saat ini masih belum ada putusan pengadilan dan masalah ini sekarang masih ditangani oleh Divisi Hukum. Akibat belum adanya putusan pengadilan maka yang bersangkutan tidak mau menyerahkan rumah. d. Tempat usaha Bakmi Japos, Poliklinik/Apotik dan salon Lutuye, sebelumnya adalah lahan kosong bekas kebakaran pada peristiwa Mei 1998, oleh Kopel diminta untuk dimanfaatkan dan dinas menyetujuinya, kemudian dibangun dan dipergunakan tempat usaha sampai sekarang dan akan dibuatkan perjanjian antara Perum Bulog dengan Kopel untuk menentukan batasan penggunaan fasilitas tersebut terhadap Kopel (BOT). BPK RI menyarankan agar Perum Bulog segera menertibkan penggunaan rumah perusahaan, mess dan pesanggrahan dan melakukan tindakan hukum yang lebih tegas serta membuat perjanjian dengan para pengguna agar terdapat kepastian hukum.

6. Pertanggungjawaban uang muka sebesar Rp7.158,97 juta belum dilaksanakan sesuai ketentuan. Berdasarkan laporan keuangan Kantor Pusat Perum Bulog per 31 Desember 2003, diketahui perkiraan uang muka dengan COA 1107XXXXXX menunjukkan saldo seluruhnya berjumlah Rp 8.919.355.328,00. Dari angka tersebut setelah ditelusuri lebih lanjut diketahui masih terdapat uang muka yang belum dipertanggungjawabkan diatas tiga puluh hari kalender sebesar Rp7.158.972.473,00. Uang muka tersebut merupakan uang muka yang telah dibayarkan oleh perusahaan dan telah diterima oleh petugas yang berhak dan ditunjuk oleh pejabat yang berwenang untuk melaksanakan kegiatan/operasional perusahaan, yang pada saatnya harus dipertanggungjawabkan dengan didukung bukti pengeluaran yang sah sesuai dengan waktu dan rencana pengembalian uang muka tersebut. Saldo dalam perkiraan uang muka menunjukkan bahwa uang muka yang telah diberikan tersebut sampai saat penutupan periode akuntansi 31 Desember 2003 belum dipertanggungjawabkan. Dari hasil pemeriksaan atas catatan akuntansi, perincian uang muka yang belum dipertanggungjawabkan diatas tiga puluh hari kalender sampai dengan 31 Desember 2003 untuk Kantor Pusat adalah sebagai berikut :
UANG MUKA UM pusdiklat UM roagri UM rogasar UM rolur ras UM roran UM robea UM ditak UM sekretariat UM ropeg UM ditkum 2002 143,286,629 11,000,000 179,388,986 21,850,000 15,000,000 2003 (diatas 30 hari kalender) 161,700,000 19,750,000 251,375,600 519,337,500 1,456,110,000 11,050,000 58,500,000 390,657,397 344,777,850 715,000,000 JUMLAH 304,986,629 19,750,000 251,375,600 530,337,500 1,456,110,000 11,050,000 58,500,000 570,046,383 366,627,850 730,000,000

21

BPK RI / AUDITAMA KN V

UM dirsarlog UM dit ren UM diktihal UM sesper UM divisi IT UM div ortala UM divisi umum UM counter trade UM lainnya

39,830,000 18,000,000 21,300,000 449,655,615

646,872,000 9,500,000 186,112,000 741,354,511 94,500,000 1,102,720,000 6,709,316,858

39,830,000 18,000,000 21,300,000 646,872,000 9,500,000 186,112,000 741,354,511 94,500,000 1,102,720,000 7,158,972,473

Uang muka tersebut telah dipergunakan untuk kegiatan/operasi perusahaan, namun belum dipertanggungjawabkan. Alasan utama belum dilakukan pertanggungjawaban, antara lain adalah : a. Bagian Akuntansi belum menerima bukti-bukti pengeluaran yang telah diverifikasi. b. Pihak yang seharusnya bertanggung jawab tidak segera memberikan pertanggungjawaban. Keputusan Kabulog No: KEP-69/KA/03/998 tanggal 30 Maret 1998 tentang Tata Cara Pemberian dan Pertanggungjawaban Uang Muka di Lingkungan Badan Urusan Logistik pasal 3 ayat 1 dan 5 menyatakan : a. Pertangungjawaban uang muka intern oleh penanggung jawab uang muka dilakukan segera atau selambat lambatnya 30 (tiga puluh) hari kalender setelah selesai kegiatan yang mempergunakan uang muka intern. b. Kelambatan pertangungjawaban uang muka intern setelah batas waktu yang ditetapkan dalm ayat (1) pasal ini, merupakan kelalaian penanggung jawab uang muka dan atau sanksi sesuai ketentuan yang berlaku bagi Pegawai Negeri Sipil. Keterlambatan pertanggungjawaban uang muka mengakibatkan hal-hal sebagai berikut : a. Efektivitas penggunaan uang muka terhadap maksud dan tujuan dikeluarkannya uang muka tidak diketahui dengan jelas. b. Berpotensi terjadinya penyimpangan dan kerugian perusahaan. Hal tersebut terjadi karena : a. Pejabat yang diserahi uang muka kurang memahami hakekat pertanggungjawaban uang muka, sehingga cenderung mengabaikan dan tidak beritikad sungguh-sungguh untuk mempertanggungjawabkan uang muka. b. Manajemen Perum Bulog belum melaksanakan fungsi pengawasan yang optimal berkaitan dengan pertanggungjawaban uang muka. Direksi Perum Bulog menjelaskan bahwa secara administrasi pertanggungjawaban uang muka TA 2002 dan 2003 telah dapat diselesaikan, namun ada beberapa yang tidak memenuhi ketentuan aturan keputusan Kabulog No. Kep-69/KS/03/1998 tanggal 30 Maret 1998 tentang Tata Cara Pemberian dan Pertangguangjawaban Uang Muka di lingkungan Bulog yaitu melebihi ketentuan batas diatas 30 hari kalender. Dari kelebihan waktu tersebut yang telah diselesaikan sebanyak +/- 85% dan sisanya belum.

22

BPK RI / AUDITAMA KN V

Terhadap sisa tersebut, pihak Divisi Anggaran melalui Sub Verifikasi telah meminta kepada personil yang menggunakan uang muka tersebut untuk diselesaikan pertanggungjawaban administrasinya, walaupun ada beberapa Divisi yang secara struktur organisasi saat ini tidak ada namun pihak verifikasi telah menghubungi personil yang bertanggungjawab terhadap hal itu. Dari sisa yang ada saat ini beberapa pertanggungjawaban uang muka telah diselesaikan administrasinya. Atas temuan BPK ini, pihak Divisi Anggaran akan lebih aktif untuk menerbitkan surat teguran atas uang muka yang pertanggungjawaban melebihi batas waktu. BPK RI menyarankan agar atas uang muka yang belum dipertanggungjawabkan penggunaannya segera dipertanggungjawabkan dan Divisi Anggaran lebih tegas dalam meminta pertanggungjawaban uang muka.

7. Terdapat Piutang ABRI/Hankam untuk seluruh Divre Kalimantan Selatan sebesar Rp1.619,55 juta belum dilimpahkan ke kantor Pusat (Bulog) Berdasarkan hasil pemeriksaan diketahui saldo piutang ABRI per 31 Desember 2003 di Divre Kalsel adalah sebesar Rp1.619.551.844,00 dan sudah termasuk dalam laporan gabungan Perum Bulog. Namun demikian saldo tersebut belum dilimpahkan ke Bulog untuk ditagihkan. Total penyaluran beras ABRI/Hankam tahun 2003 adalah sebesar 2.031.398 Kg, dengan nilai penjualan Rp6.790.963.514,00. Saldo awal piutang ABRI/Hankam yang tercatat per tanggal 21 Januari 2003 adalah sebesar Rp411.677.078,00. Sehingga total tagihan yang harus dilimpahkan pada tahun 2003 adalah Rp7.202.640.592,00 ( Rp411.677.078,00 + Rp6.790.963.514,00) Berdasarkan bukti pelimpahan piutang ABRI/Hankam diketahui bahwa pengiriman daftar penyimpulan ke kantor pusat Perum Bulog sering terlambat/ tidak dilakukan setiap bulan. Berdasarkan berita kawat Bulog nomor 661/04042003 Butir AA. Disebutkan agar Dolog/Subdolog setiap bulan secara rutin mengirimkan daftar penyimpulan dan rekap Daftar Penyimpulan yang telah diverifikasi/disetujui KPKN ke Dirbia (Direktorat Pembiayaan) Bulog rangkap 2. Butir CC. Agar diketahui bahwa akibat keterlambatan pengiriman dokumen ke Bulog berarti kerugian juga bagi Bulog. Dengan terlambatnya saldo piutang ABRI/Hankam dilimpahkan ke Pusat (Bulog), maka Perum Bulog terlambat menagihkan piutang tersebut yang pada akhirnya akan menghambat likuiditas Perum Bulog pada umumnya. Hal tersebut disebabkan Divre Kalimantan Selatan sering terlambat memintakan legalisir ke KPKN dan terlambat melimpahkan saldo piutangnya ke Pusat. Direksi Perum Bulog memberi tanggapan sebagai berikut :

23

BPK RI / AUDITAMA KN V

Memang benar, terdapat piutang ABRI/Hankam untuk seluruh divre kalimantan selatan sebesar Rp1.619.551.844,00 belum dilimpahkan ke kantor pusat (Bulog). Namun demikian dapat kami jelaskan bahwa: a. Keterlambatan pelimpahan HPB TNI-AD sebesar tersebut diatas adalah disebabkan karena seksi keuangan terlambat menyerahkan sebagian dokumen pengantar Daftar Penyimpulan atas HPB TNI-AD ke seksi Akuntansi, sehingga seksi akuntasi belum dapat membuku/melimpahkan HPB TNI-AD tersebut, namun surat pengantar tersebut sudah dikirim ke Bulog. b. Sebagian dokumen berkas Daftar Penyimpulan berdasarkan KU-106 memang terjadi keterlambatan pengirimannya. Namun dari informasi yang kami terima, penagihan HPB TNI oleh BULOG dilaksanakan secara bertahap/periodik dan pada akhir tahun anggaran tim penagihan HPB TNI-AD yang terdiri dari; BULOG, BPKP Pusat, dan Dep Keu datang ke Banjarmasin untuk meneliti dan merekonsiliasi jumlah Daftar Penyimpulan untuk satu tahun anggaran 2003 yang dibuat oleh Divre Kalsel dengan dilegalisir oleh KPKN Banjarmasin, untuk selanjutnya Daftar Penyimpulan yang telah dilegalisir tersebut dipakai sebagai dasar penagihan dari sisa penagihan untuk keseluruhan tagihan yang diajukan oleh BULOG tahun 2003. BPK RI menyarankan agar Direksi Perum Bulog mengistruksikan supaya piutang Raskin di Divre-divre segera dilimpahkan ke kantor Pusat Bulog agar dapat segera ditagihkan dan memberi sanksi atas keterlambatan yang terjadi.

8. Beberapa perolehan aktiva di Divre Jatim terlambat dibuatkan Surat Hutang (SH-5) oleh kantor pusat Dalam rangka menunjang kegiatan usahanya, Perum BULOG melakukan pengadaan aktiva tetap. Pengadaan aktiva tetap tersebut dapat berupa pembelian Aktiva Tetap (AT) untuk Subdivre maupun Divre yang dibayar di BULOG seperti pengadaan aktiva pendukung kegiatan di kantor seperti kendaraan, komputer maupun pembangunan / rehabilitasi bangunan di Subdivre atau Divre seperti pembangunan gedung kantor, pembangunan Unit Pengolahan Gabah dan Beras (UPBG) serta mesin Rice Milling Unit (RMU). Berdasarkan Pedoman Pembukuan dari Biro Akuntasi BULOG perolehan aktiva di Subdivre maupun di Divre dapat dibedakan menjadi pembelian aktiva tetap yang dibayar di BULOG dan pembangunan / rehabilitasi bangunan di Subdivre/Divre yang dibayar di BULOG dengan mekanisme: Untuk pembelian aktiva tetap untuk Sub Divre/Divre yang dibayar di BULOG mekanismenya adalah BULOG membayar kepada rekanan atas pembelian AT sesuai ketentuan yang berlaku. Selanjutnya AT secara fisik dikirimkan ke Subdivre/divre dengan membuat Berita Acara Penerimaan, sedangkan secara administrasi BULOG (Biro Teknis) mengirimkan Surat Hutang 5 (SH-5) yang mencantumkan spesifikasi teknis dan nilai barang. Subdivre/Divre akan membukukan penerimaan aktiva tetap, berdasarkan bukti dasar BA Penerimaan dan SH-5. Subdivre/Divre membuat dan mengirimkan KN ke Divre/BULOG. Sedangkan untuk pembangunan / rehabilitasi bangunan di Subdivre / Divre dengan pembayaran seluruhnya di BULOG mekanismenya Subdivre maupun Divre membukukan penambahan aktiva tetap berdasarkan Surat Pelimpahan dari BULOG (SH-5) yang didukung

24

BPK RI / AUDITAMA KN V

BA Serah Terima dari Kontraktor dimana subdivre / divre membuat dan mengirimkan KN ke Divre / BULOG dengan melampirkan SH-5 nya. Berdasarkan hasil pemeriksaan di Jawa Timur di temukan beberapa pembangunan atau rehab bangunan yang telah selesai pembangunan fisiknya dan telah dibuat berita acara serah terima fisik namun sampai dengan akhir Desember 2003 belum dibuatkan SH-5 dari Kantor Pusat sehingga Subdivre maupun Divre tidak dapat mencatat aktiva yang bersangkutan baik secara administrasi maupun akuntansi walaupun aktiva tersebut telah memberikan manfaat kepada Subdivre atau Divre. Penambahan atau rehab aktiva tersebut adalah : a. Rehabilitasi Atap Gudang. Dalam tahun 2003 Divre Jatim telah melaksanakan rehabilitasi atap gudang dengan dana APBN. Proyek pembangunan rehabilitasi atap gudang dengan nilai total Rp15.733.962.000 dilakukan tersebar di gudang-gudang Sub-sub Divre di Jawa Timur. Berdasarkan hasil pemeriksaan, Berita Acara Serah Terima proyek rehabilitasi atap gudang tersebut telah dibuat bulan pada akhit bulan Oktober 2003 dan pertengahan bulan Desember 2003 namun demikian sampai dengan saat pemeriksaan berakhir (31 Desember 2004) belum dibuatkan SH-5 oleh Kantor Pusat. b. Pengadaan Komputer, dan Gedung RMU Pengadaan Komputer dan Gedung Rice Milling Unit (RMU) didanai dengan APBN. Berdasarkan hasil pemeriksaan, antara Berita Acara Penerimaan Barang dan pembuatan SH-5 dapat diuraikan sebagai berikut : Komputer beserta assesorisnya dari Pusat sudah diterima sekitar bulan Oktober sampai dengan Desember 2003. Namun sampai dengan pemeriksaan berakhir belum pernah diterbitkan SH-5 nya. Proyek Pembangunan Gedung Rice Milling Plant diwilayah Divre Jawa Timur telah diterima sekitar triwulan IV tahun 2003 namun.sampai dengan akhir pemeriksaan (31 Desember 2004) belum diterbitkan SH-5nya. c. Relokasi gudang di Wiro Tuban dan Bangkalan Selama tahun 2003 terdapat 2 proyek relokasi gudang yaitu proyek relokasi 1 (satu) gudang GSP dari Jember ke Bangkalan dan proyek relokasi 1 (satu) gudang GBB dari Buduran ke Tuban. Berdasarkan Berita Acara Penyerahan Pekerjaan diketahui bahwa pembangunan gudang atau relokasi di Bangkalan, Madura selesai pada tanggal 5 Januari 2004, sedangkan proses relokasi di Wiro Tuban selesai pada tanggal 5 Juni 2003 namun sampai dengan pemeriksaan berakhir (Desember 2004) belum di buatkan SH-5. Menurut ketentuan akuntansi Bulog seharusnya pada saat barang diterima di Subdivre atau Divre dan telah di buat Berita Acara Serah Terima (BAST) nya di Divre dan Subdivre, kantor pusat langsung membuatkan SH-5, sebagai dasar pencatatan dan pengakuan aktiva. Hal tersebut mengakibatkan terhadap aktiva yang telah diterima dan dimanfaatkan oleh subdivre/divre belum dapat dibandingkan dengan beban biaya atas aktiva tersebut. Hal tersebut terjadi karena Kantor Pusat Perum Bulog kurang perhatian terhadap perlunya penerbitan SH 5 secara tepat waktu.

25

BPK RI / AUDITAMA KN V

Memang benar beberapa perolehan aktiva tersebut sampai dengan tanggal 31 Desember 2003 belum dibuatkan SH-5. Untuk proyek yang didanai APBN belum diterbitkan SH-5 sehingga belum dicatat sebagai penambahan aktiva tetap, demikian pula penambahan aktiva tetap/inventaris yang pelaksanaan pengadaannya melalui Bulog Pusat, Divre dan Subdivre akan mencatat setelah menerima SH-5 dari Perum bulog Pusat sebagai bukti dasar. Untuk rehabilitasi atap gudang akan segera dibuatkan SH-5. Sedangkan untuk relokasi Rp869.500.000,00 akan dibuatkan SH-5 untuk Subdivre Madura ditambah nilai Inventaris dan Penilaian Kekayaan dan Kewajiban IPKK dari gudang GSP yang direlokasi untuk Subdivre Jember pada gudang Pecoro akan dihapuskan 1 (satu) GSP yang direlokasi dan relokasi 1 (satu) gudang GBB dari GBB Buduran Sidoarjo ke GBB Wire Tuban dengan biaya relokasi Rp1.594.908.000,00 akan dibuatkan SH-5 yang akan dicatat pada neraca Subdivre Bojonegoro. Setelah diterbitkan SH-5, Subdivre pengirim akan menghapus nilai aktiva tetap (nilai awal ditambah biaya pembongkaran, pengangkutan dan pemasangan kembali). BPK RI menyarankan agar Kantor Bulog Pusat segera membuat SH-5 secepatnya setelah aktiva tetap diserahkan ke daerah.

26

BPK RI / AUDITAMA KN V