Anda di halaman 1dari 1

Rabi'ul Awal

Kelahiran Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam Ulama berselisih pendapat tentang tanggal kelahiran Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Mayoritas ulama berpendapat bahwa beliau dilahirkan hari senin. Bahkan hampir semua ulama sepakat akan hal ini. Mengingat sebuah hadis, dimana Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ditanya tentang puasa hari senin, kemudian beliau menjawab:


Itu adalah hari di mana aku dilahirkan, dan diturunkan kepadaku status kenabian. (HR. Muslim) Sedangkan bulan kelahiran beliau, diperselisihkan para ulama. Ada yang mengatakan lahir bulan Ramadlan, ada yang berpendapat bulan Rajab, dan ada yang menyebutkan bulan Rabi'ul Awal, dan ini merupakan pendapat umumnya kaum muslimin. Sampai Ibnul Jauzi dan beberapa ulama lainnya menukilkan adanya kesepakatan bahwa bulan kelahiran beliau adalah Rabi'ul awal. Namun yang benar, ini bukan pendapat yang disepakati ulama, tetapi pendapat mayoritas ulama. Kemudian, para ulama juga berselisih pendapat tentang tanggal kelahiran Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Diantara pendapat ulama tentang tanggal kelahiran beliau adalah tanggal 2, 8, 10, 12, 17, 18, dan tanggal 22. Pendapat yang lebih kuat dalam masalah ini, berdasarkan penelitian ahli sejarah Muhammad Sulaiman Al Mansurfury dan ahli astronomi Mahmud Basya disimpulkan bahwa hari senin pagi yang bertepatan dengan permulaan tahun dari peristiwa penyerangan pasukan gajah dan 40 tahun setelah kekuasaan Kisra Anusyirwan atau bertepatan dengan 20 atau 22 april tahun 571, hari senin tersebut bertepatan dengan tanggal 9 Rabiul Awal tahun gajah. (Ar Rahiqum Makhtum, hal. 35). Bid'ah di Rabi'ul Awal Acara bid'ah yang paling menonjol di bulan ini adalah peringatan Maulid Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Bid'ah ini pertama kali digalang oleh Bani Ubaid Al Qaddah pada akhir abad keenam hijriyah. Mereka menyebut dirinya sebagai keturunan Fatimah. Dia berasal dari daerah Ahwaz, dan mendirikan aliran Bathiniyah. Ubaidillah Al Qaddah berasal dari Irak, kemudian pindah ke mesir, dan berdakwah di suatu masyarakat fanatis Rafidhah. Dia mengaku anaknya Muhammad bin Ismail bin Ja'far As Shadiq. Padahal Muhammad bin Ismail bin Ja'far As Shadiq ketika meninggal, beliau tidak memiliki Anak. (Al Bida' Al Hauliyah, hal. 71) Para ulama memberikan komentar yang sangat buruk terhadap bani ubaid ini. Imam Al Ghazali mengatakan: Aliran mereka yang nampak adalah aliran syiah rafidhah, dan batin mereka adalah kekafiran murni. (Fadhaih Al Bathiniyah, hal. 37). Syaikhul Islam ketika ditanya tentang bani Ubaid, beliau menjawab: Mereka adalah manusia yang paling fasik, manusia paling kafir, siapa yang menganggap mereka masih beriman dan bertaqwa berarti dia telah bersaksi dengan persaksian yang tidak dia ketahui (realitanya). (Al Bida' Al Hauliyah, hal. 72). bahkan ada seorang ulama yang menulis buku khusus yang mengupas secara detail semua rahasia kejahatan Bani Ubaid. Buku itu berjudul Kasyful Asrar wa hatkul astar yang ditulis oleh Al Qodli Abu Bakr Al Baqillani. Semua ulama sepakat bahwa peringatan maulid Nabi adalah acara bid'ah yang tidak dikenal para sahabat, tabi'in, tabi' tabi'in, dan para ulama besar setelahnya. Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh mengatakan: Bid'ah ini peringatan Maulid pertama kali diadakan oleh Abu Siad Al Kukburi di abad keenam hijriyah. (Fatwa Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh) Syaikh Hamud At Tuwaijiri mengatakan: Peringatan maulid adalah bid'ah yang dimunculkan dalam islam oleh Sultan Irbil di akhir abad keenam hijriyah atau awal abad ketujuh. (Ar Raddul Qowi, hal. 89)