Anda di halaman 1dari 33

Belum Ada Judul...

.. eu... mm... eu..!

Friday, August 17
PancaSila?

1. Ketuhanan Yang Maha Esa 2. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab 3. Persatuan Indonesia 4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmah Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan 5. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia ...Mohon maaf, saya hanya sedikit mencoba mengingatkan :-)

Baca juga: Pancasila dalam Doktrin Zionisme dan Freemasonry Pendidikan Pancasila, Freemasonry, & Pergolakan Umat Islam: Rancunya Pelajaran PPKn Pancasila sebagai Ideologi Gagal? Pancasila Sudah Tamat? Pancasila Bukan Ideologi CopyLeft Ali Anis 1 komentar

Wednesday, August 15
Ketidak-pastian Hukum...
... dan Krisis Keteladanan

CopyLeft Ali Anis 0 komentar

Tuesday, April 3
Krisis Ideologi?
(Antara Kita & Mereka) Apa kata dunia... Bagaimana kita di mata dunia... Itulah kata-kata 'racun' yang keluar dari mulut-mulut mereka. Riya' memang... Itulah kesan pertama kalau kita mau merenungi.

Kita begitu risih & risau dengan kata-kata di atas... hina banget gitu loh! Kita yang kaya, semua potensi ada di Indonesia, unsur bumi, udara, air & SDM yang melimpah, semuanya ada di sini. Yang hilang & tidak ada hanyalah cara pandang terhadap diri & bangsa kita sendiri... Mengapa kita mesti minder... mengapa kita mesti mengekor mengapa kita mesti menghamba mengapa mesti kita hiraukan ajakan, rayuan, pujian, nasihat & harapan mereka yang ngiler dengan semua potensi yang ada di bangsa ini? Dengan nasionalisme, kita dituntut untuk bangga & bela negara, bela bendera & lagu kebangsaan, bela budaya & adat. Di sisi lain cara pandang mereka melihat kita (dunia) adalah sebaliknya... bak melihat sapi perah yang siap untuk diperas. Mereka melabrak semua sekat, batas & aturan yang ada di hadapannya. Walaupun toh mereka mematuhi aturan, sebenarnya aturan-aturan tersebut telah mereka akali sebelumnya sampai akhirnya disyahkan oleh oknum-oknum pejabat dewan perwakilan yang hanya mementingkan perut & partainya sendiri. Menengok sejenak ke masa kemarin... Kita dilenakan dengan banyaknya partai dalam Pemilu 2009... Daerah-daerah Tingkat I, II sampai tingkat Desa terus di pecah-pecah dengan alasan pemekaran... dan secara tidak sadar kita ikut terlibat di dalamnya... Ada apa ini? Kita dikotak-kotak! Mau kemana kita? Mau jadi apa kita??? So...

Jadilah Bangsa Sendiri first! bukan Jadilah Bagian dari Dunia first! ...karena kita memang sudah ke-ting-gal-an! Jangan hiraukan omongan mereka apa kata dunia... persetan dengan posisi kita di mata dunia... Kita yang kaya & berpenduduk Muslim yang besar, inilah potensi terbesar bangsa ini!!! Ceuk kasarna mah... Kita punya ideologi yaitu Pancasila dengan UUD'45-nya... tetapi tidak dipakai & dicampakkan; Kita harus total ngiblat ke barat (ideologi barat) pasti tidak mau, soalnya mayoritas bangsa ini adalah muslim; Kita mau pakai ideologi (yakin mayoritas bangsa ini setuju) Islam, mereka yang kebakaran jenggot... mereka tidak mau bangsa ini berideologi ke-tauhidan (lihat sejarah!) sehingga kalau ada usaha2 penegakkan ideologi Islam mereka pasti dengan segala cara berusaha untuk menahan, menggerecoki & menggagalkannya. So... jadilah begini keadaan bangsa ini... kehilangan jati diri & kehilangan kepastian ideologi alias KRISIS IDEOLOGI. Ngambang... tidak jelas arah tujuan... terombang-ambing... tidak jelas mau ke mana kita... kacian kita! Jelas sudah siapa mereka & siapa kita Kebangkitan & keruntuhan suatu bangsa tergantung pada sikap & tindakan bangsa itu sendiri. Q13:11. Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum (bangsa) sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. -- oOo -Sedikit nyajak... Wahai Saudara2 se-iman, se-bangsa & se-tanah air... Kembalilah ke Islam Kembalilah ke Pesantren (yang mengajarkan Quran & Hadits) Jangan hiraukan mereka! Kembalilah ke Quran Kembalilah ke Sunnah Jangan hiraukan mereka! Karena ini adalah Jalan Dan karena ini adalah Cahaya

Akan ada Dua Kebahagiaan yang akan kita peroleh Dan kalaupun Dunia belum bisa kita raih Insya Allah Akhirat kita peroleh Sudah jelas siapa kita Dan sudah jelas siapa mereka Bangun dan bangkitlah! Sudah jelas apa yang kita kehendaki Dan sudah jelas apa yang akan kita kendarai Tunggu apa lagi Saudara-saudaraku! Lihatlah diri-dirimu Dan lihatlah disekitarmu Dan jangan hiraukan mereka! Belajarlah dari sejarah & jangan mau dibohongi oleh sejarah Kita yang kaya jangan merana Kita yang beriman teruslah berjuang Dan karena ini adalah amanah Dengan Islam kita pasti jaya Maju terus Maju Terus Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar!

Baca Juga: Dunia Akui Kehebatan Murid-murid SD Indonesia CopyLeft Ali Anis 0 komentar

Saturday, March 3
Uruslah kami...

Keun Bae: Pemerintah lebih melayani & memperhatikan kepentingan Pemilik Modal (Pengusaha Industri Kendaraan Bermotor... PRINSIP EKONOMI) dibanding ngurus & melayani kepentingan rakyat dengan membuat system transportasi yg layak & nyaman... "Terimakasih untuk Pemda DKI Jakarta untuk program BusWay-nya... sangat membantu, upgrade terus!"

Baca Juga: Posisi Indonesia dalam ajang balapan sepeda motor dunia GrandPrix (GP) 2011... CopyLeft Ali Anis 2 komentar

Thursday, March 1
Kata orang Singapore tentang Indonesia
Suatu pagi di Bandar Lampung, kami menjemput seseorang di bandara. Orang itu sudah tua, kisaran 60 tahun. Sebut saja si bapak. Si bapak adalah pengusaha asal Singapura, dengan logat bicara gaya melayu, english, (atau singlish) beliau menceritakan pengalaman2 hidupnya kepada kami yang masih muda. Mulai dari pengalaman bisnis, spiritual, keluarga, bahkan percintaan hehehe... "Your country is so rich!" Ah biasa banget kan denger kata2 begitu. Tapi tunggu dulu... "Indonesia doesn't need the world, but the world needs Indonesia" "Everything can be found here in Indonesia, you don't need the world..."

"Mudah saja, Indonesia paru2 dunia. Tebang saja hutan di Kalimantan, dunia pasti kiamat. Dunia yang butuh Indonesia!" "Singapore is nothing, we can't be rich without Indonesia. 500.000 orang Indonesia berlibur ke Singapura setiap bulan. Bisa terbayang uang yang masuk ke kami, apartemen2 dan condo terbaru kami yang membeli pun orang2 indonesia, gak peduli harga yang selangit, laku keras. Lihatlah rumah sakit kami, orang Indonesia semua yang berobat." "Kalian tahu bagaimana kalapnya pemerintah kami ketika asap hutan Indonesia masuk? Ya, benar2 panik. Sangat terasa, we are nothing." "Kalian gak tau kan kalo Agustus kemarin dunia krisis beras. Termasuk di Singapura dan Malaysia, kalian di Indonesia dengan mudah dapat beras." "Lihatlah negara kalian, air bersih dimana2... lihatlah negara kami, air bersih pun kami beli dari Malaysia. Saya pernah ke Kalimantan, bahkan pasir pun mengandung permata. Terlihat glitter kalo ada matahari bersinar. Petani disana menjual Rp3000/kg ke sebuah pabrik China. Dan si pabrik menjualnya kembali seharga Rp 30.000/kg. Saya melihatnya sendiri." "Kalian sadar tidak kalo negara2 lain selalu takut meng-embargo Indonesia?! Ya, karena negara kalian memiliki segalanya. Mereka takut kalau kalian menjadi mandiri, makanya tidak di embargo. Harusnya KALIANLAH YANG MENG-EMBARGO DIRI KALIAN SENDIRI. Belilah dari petani2 kita sendiri, belilah tekstil garmen dari pabrik2 sendiri. Tak perlu kalian impor kalo bisa produksi sendiri." "Jika kalian bisa mandiri, bisa MENG-EMBARGO DIRI SENDIRI, Indonesia will rules the world..."
Dari: http://rykers.blogspot.com/2009/10/kata-orang-singapore-tentang-indonesia.html

CopyLeft Ali Anis 0 komentar

Saturday, February 3
The New Rulers of The World
Sebuah Film Dokumenter karya John Pilger, menceritakan bagaimana Bangsa Indonesia telah digadaikan kekayaan alamnya sejak tahun 1967 yang mengakibatkan kebangkrutan bangsa ini. Melalui lembaga keuangan dunia, IMF dan World Bank telah berhasil mengobokobok kedaulatan bangsa ini lewat kaki tangannya di Indonesia yang dikenal dengan sebutan "Mafia Berkeley" dan merampok kekayaan alam yang dimiliki Indonesia, hingga bangsa ini menjadi bangsa pengemis.

Part-2, Part-3, Part-4, Part-5, Part-6

More...

Bank Indonesia (BI) Milik Siapa?

Download Free Political Documentaries And Watch Many Interesting, Controversial Free Documentary Films On That You Won't Find On The TV! AMERICA BUILD FROM PAPUA GOLD (Negara Amerika Dibangun dari Emas Papua) Indonesia: Bangsa yang Tergadai

CopyLeft Ali Anis 0 komentar

Thursday, January 4
Membumikan Mandat Pasal 33 UUD '45

Oleh: Arimbi HP dan Emmy Hafild Diterbitkan oleh: Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Friends of the Earth (FoE) Indonesia 1999

Pendahuluan 1. Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan. 2. Cabang-cabang produksi yang penting bagi Negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh Negara. 3. Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Demikian pasal 33 ayat (1), (2) dan (3) Undang-undang Dasar 1945. Penjelasan pasal 33 menyebutkan bahwa "dalam pasal 33 tercantum dasar demokrasi ekonomi, produksi dikerjakan oleh semua, untuk semua dibawah pimpinan atau penilikan anggota-anggota masyarakat. Kemakmuran masyarakat-lah yg diutamakan, bukan kemakmuran orang seorang". Selanjutnya dikatakan bahwa "Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung dalam bumi adalah pokok-pokok kemakmuran rakyat. Sebab itu harus dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat".

[Gambar: Tambang Grasberg (Freeport) adalah

tambang emas terbesar di dunia & tambang tembaga ketiga terbesar di dunia] Sehingga,

sebenarnya secara tegas Pasal 33 UUD 1945 beserta penjelasannya, melarang adanya penguasaan sumber daya alam ditangan orang-seorang. Dengan kata lain monopoli, oligopoli maupun praktek kartel dalam bidang pengelolaan sumber dayya alam adalah bertentangan dengan prinsip pasal 33. Kemudian Hak Negara menguasai sumber daya alam dijabarkan lebih jauh -setidaknya-dalam 11 undang-undang yang mengatur sektor-sektor khusus yang memberi kewenangan luas bagi negara untuk mengatur dan menyelenggarakan penggunaan, persediaan dan pemeliharaan sumber daya alam serta mengatur hubungan hukumnya. Prinsip ini tertuang dalam: 1. UU Pokok Agraria No. 5 tahun 1960; 2. UU Pokok Kehutanan No. 5 tahun 1967; 3. UU Pokok Pertambangan No. 11 tahun 1967; 4. UU Landasan kontinen No. 1 tahun 1973; 5. UU No. 11 tahun 1974 tentang Ketentuan Pokok Pengairan; 6. Uu 13 tahun 1980 tentang Jalan; 7. UU No. 20 tahun 1989 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertahanan Keamanan; 8. UU No. 4 tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup; 9. UU No. 9 tahun 1985 tentang Ketentuan Pokok Perikanan; 10. UU No. 5 tahun 1984 tentang Perindustrian; dan 11. UU No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Hayati. Pasal 33 UUD 1945 menyebutkan bahwa sumber daya alam dikuasai negara dan dipergunakan sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat. Sehingga dapat disimpulkan bahwa monopoli pengaturan, penyelengaraan, penggunaan, persediaan dan pemeliharaan sumber daya alam serta pengaturan hubungan hukumnya ada pada negara. Pasal 33 mengamanatkan bahwa perekonomian indonesia akan ditopang oleh 3 pemain utama yaitu koperasi, BUMN/D (Badan Usaha Milik Negara/Daerah), dan swasta yang akan mewujudkan demokrasi ekonomi yang bercirikan mekanisme pasar, serta intervensi pemerintah, serta pengakuan terhadap hak milik perseorangan (Indrawati,1995). Penafsiran dari kalimat "dikuasai oleh negara" dalam ayat (2) dan (3) tidak selalu dalam bentuk kepemilikan tetapi utamanya dalam bentuk kemampuan untuk melakukan kontrol dan pengaturan serta memberikan pengaruh agar perusahaan tetap berpegang pada azas kepentingan mayoritas masyarakat dan sebesarbesarnya kemakmuran rakyat (Indrawati, ibid). Jiwa pasal 33 berlandaskan semangat sosial, yang menempatkan penguasaan barang untuk kepentingan publik (seperti sumber daya alam) pada negara. Pengaturan ini berdasarkan anggapan bahwa pemerintah adalah pemegang mandat untuk melaksanakan kehidupan kenegaraan di Indonesia. Untuk itu, pemegang mandat ini seharusnya punya legitimasi yang sah dan ada yang mengontrol tidak tanduknya, apakah sudah menjalankan pemerintahan yang jujur dan adil, dapat dipercaya (accountable), dan tranparan (good governance). Permasalahan dan Tantangan Global Pengelolaan Sumber Daya Alam Masalahnya ternyata sekarang sistem ekonomi yang diterapkan bersikap mendua. Karena ternyata hak menguasai oleh negara itu menjadi dapat didelegasikan kesektor-sektor swasta besar atau Badan Usaha Milik Negara buatan pemerintah sendiri, tanpa konsultasi apalagi sepersetujuan rakyat. "Mendua" karena dengan pendelegasian ini, peran swasta di dalam pengelolaan sumberdaya alam yang bersemangat sosialis ini menjadi demikian besar, dimana akumulasi modal dan kekayaan terjadi pada perusahaan-perusahaan swasta yang mendapat hak mengelola sumberdaya alam ini.

Sedangkan pengertian "untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat" menjadi sempit yaitu hanya dalam bentuk pajak dan royalti yang ditarik oleh pemerintah, dengan asumsi bahwa pendapatan negara dari pajak dan royalti ini akan digunakan untuk sebasar-besar kemakmuran rakyat. Keterlibatan rakyat dalam kegiatan mengelola sumberdaya hanya dalam bentuk penyerapan tenaga kerja oleh pihak pengelolaan sumberdaya alam tidak menjadi prioritas utama dalam kebijakan pengelolaan sumberdaya alam di Indonesia. Sehingga akhirnya sumber daya alam dan kenikmatan yang didapat hanya dikuasai oleh sekelompok orang saja. Maka ada erosi makna pasal 33 yang seyogyanya diberikan untuk kepentingan orang banyak. Contoh nyata dalam pemberian Hak Pengusahaan Hutan (HPH) oleh Menteri Kehutanan pada 579 konsesi HPH di Indonesia yang didominasi hanya oleh 25 orang pengusaha kelas atas. Masyarakat lokal yang masih menggantungkan hidupnya pada sumberdaya hutan dan ari generasi ke generasi telah berdagang kayu, harus diputuskan dari ekonomi kayu. Karena monopoli kegiatan pemanfaatan hutan dan perdagangan kayu pun diberikan kepada para pemegang Hak Pemilikan Hutan (HPH) ini. Monopoli kegiatan pemanfaatan ini malah disahkan melalui seperangkat peraturan, mulai dari UU Pokok Kehutanan No. 5 tahun 1957 sampai peraturan pelaksanaannya yang membekukan hak rakyat untuk turut mengelola hutan. Seperti pembekuan Hak Pemungutan Hasil Hutan (HPHH) bagi masyarakat lokal hanya melalui teleks Menteri Dalam Negeri kepada Gubernur (Lihat teleks N0. 522.12/81/sj.). Begitu pula dalam bidang pertambangan Migas (Minyak dan Gas Bumi) dan Pertambangan Umum. Untuk kontrak bagi hasil dalam kuasa Pertambangan Migas, Pertamina (Perusahaan Minyak Negara) memang pemegang tunggal kuasa pertambangan Migas, tetapi kontrak bagi hasil dari eksploitasi sampai pemasarannya diberikan ke perusahaan-perusahaan besar. Sedangkan dibidang pertambangan umum, rakyat penambang emas di Kalimantan Tengah dan Barat misalnya (Pemerintah mengistilahkan mereka sebagai PETI=Pengusaha Tambang Tanpa Ijin), harus tergusur untuk memberikan tempat bagi penambang besar. Dengan logika yang sama seperti di sektor kehutanan, penambang emas rakyat dianggap tidak mempunyai teknologi dan manajemen yang baik, sehingga 'layak' digusur hanya dengan dalih tidak mempunyai ijin. Sedangkan penambang emas besar dianggap akan memberikan manfaat besar karena kemampuan teknologi dan manajemen mereka. Rakyat pendulang emas tidak mendapat tempat sama sekali dalam kebijakan pengelolaan pertambangan di Indonesia, dan kehidupan mereka semakin buruk. Praktek monopoli sumberdaya alam ternyata telah merambah kesektor pariwisata. Tempattempat yang menjadi tujuan wisata tidak bebas lagi menuju kepantai. Praktik ini banyak terlihat di tempat-tempat wisata baru di Indonesia, seperti di Anyer-Jawa Barat dan SenggigiNTB.Sementara penghasilan negara dari sektor pengelolaan sumberdaya alam ini tidaklah langsung 'menetas' pada masyarakat lokal di sekitar sumberdaya alam itu sendiri (seperti yang diagungkan oleh pendekatan trickle down effect), melainkan lebih banyak ke kantong para pengusahanya dan ke pusat pemerintahannya. Tingkat korupsi yang tinggi, lemahnya pengawasan, kurangnya transparansi serta akuntabilitas pemerintah menyebabkan upaya untuk meningkatkan kemakmuran rakyat sebesar-besarnya dari sektor pengelolaan sumberdaya alam menjadi kabur dalam praktiknya. Ternyata kita menerapkan Pasal 33 dengan "malu-malu kucing". Jiwa sosialisme ini yang memberikan hak monopoli kepada Negara, dilaksanakan melalui pemberian peran yang sangat besar kepada swasta, dan meniadakan keterlibatan rakyat banyak dalam pelaksanaannya. Ini adalah sistem ekonomi pasar tetapi dengan mendelegasikan hak monopoli negara ke swasta. Sehingga dapat dikatakan bahwa pengelolaan sumberdaya alam di Indonesia mengambil jiwa sosialisme yang paling jelek yaitu penguasaan dan monopoli negara, serta menerapkan dengan cara otoritarian. Serta mengambil sistem ekonomi pasar

bebas yang paling jelek, yaitu memberikan keleluasaan sebesar-besarnya kepada pemilik modal, tanpa perlindungan apapun kepada rakyat kecil. Sedangkan di pihak lain, tantangan-tantangan baru di tingkat global bermunculan, seperti adanya GATT (General Agreement on Trade and tariff), APEC (Asia Pacific Economic Cooperation), AFTA (Asean Free Trade Agreement) dan NAFTA (North american Free Trade Agreement). Era perdagangan bebas akan menyusutkan peran pemerintah dalam mengatur kegiatan ekonomi. Sektor swasta akan menjadi semakin menonjol, dimana perusahaan-perusahaan besar dengan modal kuat akan memonopoli kegiatan perekonomian dunia. Sedangkan pasal 33 secara "kagok", kita harus mengkaji posisi negara dalam pengelolaan sumberdaya alam dalam era perdagangan bebas yang akan melanda dunia. Karena itu mengkaji secara mendalam dan hati-hati akan makna dan mandat pasal 33 UUD 1945 menjadi sangat penting agar bangsa ini bisa terus ada dalam kancah pergaulan internasional tanpa harus meninggalkan jiwa kerakyatan yang terkandung dalam konstitusinya. Penerapan Pasal 33 saat ini: Pengusaha (Pemilik Modal/Kapitalis) Untung, Rakyat Buntung Dalam perjalanan waktu, penerapan pasal ini dilapangan menimbulkan polemik, kontroversi bahkan perlawanan masyarakat. Apalagi jargon'demi kepentingan umum' dan atau 'demi pembangunan' seolah-olah menjadi cara sah untuk menggusur rakyat dari sumberdaya alamnya. Rakyatlah yang menanggung resiko terbesar dari aktivitas eksploitasi sumberdaya alam diatas, tanpa mendapat perlindungan selayaknya. Seperti kasus PT. IIU, rakyat tidak dapat lagi menikmati air bersih sumber penghidupan mereka, ladang penggembalaan mereka menghilang, terkena longsor dan banjir. Pemberian HPH seolah-olah anugrah bagi pengusaha untuk memiliki kawasan HPH secara mutlak akan melarang masyarakat lokal untuk turut menikmati hutan tersebut, seperti mengambil damar, gaharu, menggembalakan ternak atau berburu. Lagipula, masuknya masyarakat lokal kedalam kawasan HPH dianggap sebagai perambahan dan mengganggu keamanan kawasan tersebut. Ini menunjukkan hutan produksi indonesia hanya dikuasai sekelompok orang dengan menegasikan kepentingan masyarakat luas. Lebih jauh, hasil penelitian WALHI tentang rente ekonomi penguasaan hutan di Indonesia menunjukkan bahwa pendapatan dari hasil eksploitasi hutan sebesar US$ 2,5 miliar pertahunnya, hanya 17 % yang masuk kekas negara, selebihnya masuk kekantung pengusaha. Bank Dunia (World Bank, 1993) malah menghitung hanya 12 % yang masuk ke kas negara. Sistem Konsesi Kepemilikan kehutanan jelas telah mencabut masyarakat lokal dari sumberdaya kehutanan yang dahulunya pernah mereka nikmati. Sebelum sistem konsesi pada tahun 1970-an, masyarakat lokal Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi telah melakukan perdagangan kayu skala kecil selama ratusan tahun. Masyarakat Dayak di Kalimantan misalnya telah berdagang kayu dan produk hutan laninnya dengan Cina dan Arab. Sedang disektor pertambangan, rakyat Amungme dan Komoro di bumi Irian kehilangan lahannya karena tergusur aktivitas pertambangan tembaga PT. Freeport. DiAceh Utara 82 Desa yang berada disekitar kegiatan pertambangan Minyak dan Gas Bumi PT. Mobil oil dan PT. Arun NGL, seringkali menerima 'getah' dari aktivitas kedua perusahaan itu. Terjadi semburan api tak terkendali (blow out) dan pecahnya pipa transmisi gas telah mencemarkan sungai dan perkebunan mereka. WALHI mencatat kejadian diatas terjadi berturut-turut pada tahun 1983/1984. Bahkan pada tahun 1992 rakyat di Desa Puuk telah menggugat Mobil Oil dan Pertama karena gagalnya panen udang/ikan akibat tercemar limbah minyak. Dikecamatan

puruk Cahu, Kalimantan Tengah pendulang emas tradisional harus tergusur karena lahan tambangnya diberikan kepada perusahaan emas besar dari Australia, PT. Indo Muro Kencana. Sementara sekarang rakyat disekitarnya tidak dapat memakai air sungai karena tercemar limbah pertambangan. Dan banyak lagi kasus serupa yang semakin hari semakin meningkat ke permukaan, tanpa adanya sambutan penyelesaian yang berarti. Sistem ekonomi rakyat lainnya dalam pengelolaan sumber daya alam yang telah dihancurkan adalah rotan. Masyarakat lokal di Kalimantan dan sumatera telah berdagang rotan sejak lama. Tetapi sejak tahun 1989 -berdasarkan keuntungan dari perdagangan valuta asing yang didapat dari larangan ekspor log- aturan larangan ekspor rotan mentah diterapkan. Konon katanya untuk tujuan meningkatkan nilai (value added) dari pemrosesan rotan. Sayangnya peraturan ini memberikan monopoli pengusahaan rotan ke ASMINDO (Asosiasi Meubel Indonesia). Peraturan ini tidak lagi mengakui bahwa masyarakat di Kalimantan dan sumatera telah sejak lama melakukan ekspor rotan ke Jepang, Philipina, taiwan dan negara-negara lainnya. Dengan memaksa rotan harus diproses terlebih dahulu, lampit (sejenis karet terbuat dari rotan) yang dahulunya merupakan sumber uang cash bagi masyarakat adat di Kalimantan telah pula terkena larangan untuk diekspor. Hasilnya adalah bencana bagi banyak perekonomian rakyat didaerah itu.Sekarang, perusahaan perabotan yang akan dikembangkan sebagian besar malah kolaps dan terkena kredit macet. Ekspor rotan hasil pemrosesan telah menurun tajam, sementara ekspor rotan mentah malah dimonopoli ASMINDO dibawah ekspor kemanusiaan (semisal ekspor rotan ke Jerman untuk pusat pelatihan cacat fisik). Sedangkan perekonomian rakyat di Kalimantan tidak pernah bangkit lagi. Mirip dengan tragedi rotan adalah perekonomian jeruk dan cengkeh setelah adanya aturan tata niaga. Sampai lima tahun lalu, petani cengkeh dan jeruk adalah kelompok petani yang kaya di Indonesia. Mereka menikmati harga yang pantas karena tingginya permintaan domestik. Keadaan diatas telah berubah sejak BPPC (Badab Penyangga dan Pengawasan Cengkeh) terlibat dalam monopoli perdagangan cengkeh, dan BIMANTARA memonopoli perdagangan jeruk. Atas nama "membantu" para petani untuk menjaga harga, mereka memonopoli distribusi cengkeh dan jeruk. Para petani tidak diijinkan lagi untuk menjual langsung produknya, kecuali kepada para distributor yang ditunjuk oleh BPPC dan BIMANTARA. Sejak itu harga cengkeh jatuh dari antara Rp. 6.000 - 12.000 menjadi hanya Rp. 1.500, bahkan seringkali di bawah harga RP. 1.500. Disamping itu, distributor yang ditunjuk, taitu Koperasi Unit Desa (KUD), tidaklah mempunyai kapasitas untuk membeli produk dalam jumlah besar dan menyimpannya. Sementara distributor independen akan terkena sanksi jika mereka melakukan aktivitasnya. Akibatnya para petani menjadi kelebihan cengkeh, tidak ada yang bisa membeli. Cengkeh banyak dibiarkan busuk dipohonnya. Banyak pula cengkehnya, karena biaya merawatnya jauh lebih tinggi dari harga jualnya. Kondisi petani jeruk tidaklah berbeda jauh dengan petani cengkeh. Begitu tata niaga kedua jenis ini tidak lagi menguntungkan, kedua perusahaan pemegang monopoli itu meninggalkan aktivitanya dan membiarkan perekonomian cengkeh dan jeruk dalam kondisi yang parah. Sementara Bank Dunia menunjukkan walaupun Indonesia sudah melakukan pembangunan yang gencar dengan pertumbuhan ekonomi rata-rata 7% pertahun selama 25 tahun, dan menguras sumberdaya minyak dan hutan, Indonesia masih termasuk dalam kelompok negara berpendapatan menengah ke bawah (World Bank,1995). Dimana jumlah rakyat yang tergolong miskin hanya tinggal 27 juta saja pada tahun1994, yaitu sekitar 15% saja dari populasi total.

Data Bank Dunia, diatas mesti dilihat dengan cara pandang yang kritis. Tingkat kemiskinan ditentukan oleh bagaimana definisi miskin itu ditentukan. Bagi Indonesia, garis kemiskinan ditentukan oleh pendapatan sejumlah Rp.18.250 per bulan untuk daerah pedesaan dan Rp.28.000 untuk daerah perkotaan. Artinya orang dengan pendapatan tersebut diatas tidak lagi disebut miskin. Padahal, sangat dipahami pendapatan sebesar itu tidak akan mampu untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia, akan sandang, pangan, papan apalagi rekreasi. Jika garis kemiskinan ini ditingkatkan menjadi dua kalinya saja, misalnya Rp. 56.000 untuk perkotaan, seluruh kebutuhan tersebut masih belum dapat dipenuhi. Dan jumlah penduduk yang masuk dalam kategori berpenghasilan dibawah Rp. 56.000 ini sejumlah 75 juta jiwa. Kecendrungan yang berkembang dalam pereduksian makna pasal 33 UUD 1945 malah semakin buruk, perubahan peruntukan lahan -tanpa mengindahkan penataan ruang- seperti yang terjadi dalam proyek perumahan dan bisnis Pantai Indah Kapuk di Jakarta, ternyata 'melegitimasi' Penguasaan Pantai pada satu kelompok saja, demikian pula kontroversi rencana pembangunan Pantai Utara Jakarta dan Teluk Naga, Jawa Barat. Dikawasan SIJORI (Singapura-Johor-Riau), sekelompok pengusaha telah menjual tanah dan pulau-pulau di propinsi Riau Kepulauan kepada Singapura, untuk kepentingan reklamasi pantai disingapura. Demikian pula berita, bahwa seorang pengusaha besar Indonesia telah menawarkan akan menyuplai air bersih kepada singapura, yang diambil dari air tanah dalam kawasan konsesi seluas 500.000 hektar di Propinsi Riau. Kehadiran GATT (General Agreement on Trade and Tariff) dan Mekanisme Pasar Bebas Pasar bebas adalah suatu keadaan dimana dua pihak melakukan transaksi dagang secara sukarela, dimana pihak penjual menyatakan kerelaannya untuk menjual dan pihak pembeli kerelaannya untuk membeli dengan harga yang disepakati bersama. Mekanisme pasar dalam penentuan harga ditentukan oleh penawaran dan permintaan. Jika permintaan meningkat, maka harga akan naik, permintaan turun maka harga akan turun. Sebaliknya jika penawaran tinggi, maka harga turun. Penawaran rendah, maka harga akan naik. Ekonomi didalam pasar bebas diatur oleh para pelaku/kapitalis, sedangkan intervensi/fungsi pemerintah sangatlah minimal. Pasar bebas juga mengasumsikan bahwa setiap prodeusen berada dalam situasi persaingan sempurna. Artinya tidak ada subsidi atau monopoli alam pasar. Harga sudah merupakan sesuatu yang mutlak ditentukan oleh pasar, sehingga produsen tidak bisa meraih keuntungan sebesar-besarnya dengan menentukan harga yang tinggi. Oleh karena itu, perusahaan akan menawarkan harga yang serendah-rendahnya agar dapat bersaing dipasar. Keuntungan perusahaan biasanya sangat sedikit, dan akumulasi kekayaan bukan dari margin keuntungan yang tinggi, tetapi dari omzet penjualan yang tinggi. Konsep pasar bebas sebenarnya konsep yang ideal dan egalitarian. Perdagangan dilakukan secara sukarela, dan karena persaingan sempurna, maka konsumen akan mendapatkan harga yang semurah-murahnya, dan produsen mendapatkan keuntungan yang setimpal. Keuntungan produsen biasanya ditentukan dengan penekanan harga yang serendah-rendahnya. Dalam prinsip ini, suatu ekonomi dikatakan efisien, jika tidak ada yang dirugikan dalam kegiatan yang membuat orang lain menjadi lebih baik (no one worse off to make some one better off). Kelemahan pasar bebas adalah bahwa karena persaingan sempurna, maka yang kuat akan menang, yang lemah akan kalah. Seseorang dengan modal dasar yang besar (kaya) akan lebih leluasa dalam melakukan transaksi dagang, dan mempunyai pilihan-pilihan lebih banyak. Akses kepada kapital, informasi, pendidikan dan hubungan relasinya pasti lebih baik dari seseorang dengan modal kecil (miskin). Keuntungan yang diraihnya akan jauh lebih besar daripada seseorang dengan modal lebih kecil.

Structural Adjustment Programs (SAPs) Structural Adjustment Programs (SAPs) adalah program untuk menyesuaikan perekonomian suatu negara (biasanya yang berhutang berat) kedalam sistem ekonomi pasar bebas. Ada tiga hal yang dilakukan dalam SAPs ini, yaitu: 1. mengurangi defisit anggaran pemerintah 2. mengurangi defisit 3. membiarkan harga ditentukan sesuai dengan mekanisme pasar bebas Hal-hal yang menyebabkan distorsi pasar seperti monopoli, subsidi harga atau penetapan harga dasar harus dihapuskan. Untuk menyeimbangkan anggaran belanja negara tersebut, maka anggaran-anggaran yang tidak perlu harus dihapuskan. Sayangnya, pengurangan biaya pengeluaran negara biasanya sangat dipengaruhi politik negara tersebut. Misalnya, negara tidak akan mau mengurangi anggaran pertahanannya begitu saja, walaupun anggaran itu cukup besar. Biasanya, yang akan mendapat pemotongan adalah pelayanan kesehatan gratis dll. DiKenya misalnya, pelayanan kesehatan dan pendidikan harus dikurangi, sehingga rumah-rumah sakit pemerintah kekurangan obat dan peralatan karena harus melaksanakan SAPs. Karena subsidi harga harus dihentikan, harga bahan makanan pokok menjulang tinggi, sehingga banyak rakyat yang menjadi bertambah miskin. SAPs menyebabkan yang kaya bertambah kaya, yang miskin bertambah miskin. SAPs, GATT dan Indonesia Bagi Indonesia, dimana perekonomiannya bukanlah perekonomian pasar bebas, dan bukan pula perekonomian sosialis, melainkan monopoli karena relasi politik, proteksi dagang lebih diberikan kepada pengusaha besar dan bukan pengusaha kecil. Perdagangan bebas akan mempunyai dampak positif. Contoh dampak positif misalnya seperti harga mobil, kertas, dan semen akan turun. Konsumen akan mempunyai pilihan-pilihan yang lebih banyak dengan harga yang hampir sama dengan negara lain.Indonesia tidak berada dibawah SAPs Dana Moneter Dunia. Karena SAPs yang berada dibawah Dana Moneter Dunia ini biasanya sangat kejam kepada rakyat kecil. Sampai saat ini, karena Indonesia belum mencapai kondisi krisis hutang (walaupun nyaris sedikit lagi) Indonesia masih berada dibawah SAPs Bank Dunia. Dlam SAPs Bank Dunia ini antara lain harus dilakukan beberapa perubahan seperti pengurangan peran negara dalam pengaturan kegiatan ekonomi, termasuk peran BUMN, penghapusan monopoli, menghilangkan subsidi BBM, listrik, dan terigu, serta pengetatan anggaran belanja negara.Segi positif SAPs di Indonesia misalnya bahwa dana yang digunakan untuk membeli terigu dari Bogasari yang lebih mahal dari harga pasar dunia dapat dimamfaatkan untuk pelayanan kesehatan rakyat miskin. Monopoli BPPC terhadap cengkeh harus dihapuskan, demikian pula monopoli perdagangan jeruk oleh BIMANTARA, dan monopoli perdagangan rotan dan kayu oleh ASMINDO dan APKINDO. Sehingga rakyat dapat mengelola cengkeh, jeruk dan langsung dapat mengekspor kayu dan rotan. Tetapi dampak positif ini tidak akan terasa kepada rakyat kecil jika pemerintah tidak dengan sungguh-sungguh melaksanakan kebijakan ekonomi yang memberdayakan rakyat kecil. Walaupun dalam sistem ekonomi pasar bebas peran negara dalam kehidupan ekonomi diminimalkan, intervensi pemerintah dalam batas-batas tertentu masih dapat dilakukan. Hanya dalam bentuk apa intervensi ini akan dilaksanakan, tergantung kepada komitmen politik pemerintah suatu negara. Intervensi pemerintah dalam sistem pasar bebas biasanya adalah dalam pendistribusian kekayaan dari si kaya kepada si miskin untuk mengurangi dampak dari persaingan bebas. Distribusi kekayaan dimana uang pajak ini lalu digunakan untuk program-program mengentaskan kemiskinan, bantuan kredit dengan bunga dibawah harga pasar, jasa informasi pasar, pelayanan kesehatan gratis, pemberian kupon makanan bagi rakyat yang berada dibawah garis kemiskinan, pemberian bea siswa bagi anak-anak tidak

mampu, ataupun penetapan dasar suatu harga barang tertentu. Misalnya subsidi harga BBM di Indonesia. Biaya produksi BBm sebenarnya jauh lebih tinggi, sehingga kalau dibiarkan produsen menentukan sendiri harga BBM, sehingga akan mahal dan tidak terjangkau rakyat banyak. Karena itu, maka pemerintah mensubsidi harga BBM, dengan membeli harga BBM dari produsen lebih tinggi dari harga dasar jual yang kemudian ditetapkan oleh pemerintah. Sebaliknya, untuk mengontrol agar harga beras tidak terlalu mahal, sehingga dapat dijangkau oleh banyak pihak dan agar tidak terjadi pergolakan politik, maka pemerintah Indonesia dan banyak pemerintah negara lain mengkontrol kenaikan harga beras dan delapan bahan makanan pokok. Disini pemerintah tidak mensubsidi petani, tetapi petani mensubsidi banyak orang dengan menjual dibawah harga pasar. Kebijakan seperti ini disebut dengan cheap food policy. Dampak GATT dan SAPs pada Rakyat Kecil Secara selintas, permasalahan ekonomi rakyat akibat adanya monopoli sumber-sumber daya mereka, tampaknya akan tertolong dengan adanya GATT. Karena GATT akan melarang adanya bentuk-bentuk monopoli itu. Tapi pada saat yang sama GATT juga akan membawa bahaya bagi petani di Indonesia.Segi negatifnya, misalnya harga BBM akan naik yang akan mengakibatkan harga transportasi akan naik. Melihat tingkah laku inflasi di Indonesia, dimana setiap kenaikan harga BBM akan menyebabkan kenaikan harga-harga barang konsumsi, maka harga-harga barang konsumsipun akan naik. Kenaikan harga akan menimpa rakyat kecil jauh lebih berat daripada mereka dengan kondisi ekonomi lebih baik. Kemungkinan yang lain adalah kenaikan harga beras. Kenaikan harga beras akan menolong petani tetapi akan menyengsarakan rakyat miskin diperkotaan. Selain itu ada juga kemungkinan bahwa biaya pendidikan di sekolah negeri akan meningkat, demikian pula dengan biaya dan harga obat di Pusat-pusat Kesehatan Masyarakat (PUSKESMAS). Namun bagi rakyat miskin di Indonesia, yang jumlahnya mencapai 75 juta jiwa tersebut, GATT mempunyai dampak negatif. Seperti yang telah disebutkan dimuka, kelemahan utama sistem pasar bebas adalah bahwa yang kaya akan makin kaya, yang kuat akan makin kuat, yang miskin akan kalah bersaing dengan yang kaya. Dalam konteks global, negara miskin dan berkembang akan kalah bersaing dengan negara industri kaya. Negara industri menguasai teknologi dan informasi serta modal yang sangat diperlukan didalam suatu sistem persaingan sempurna. Dalam hal ini, yang harus menjadi perhatian kita semua, terutama pemerintah adalah petani dan pengrajin serta pengusaha kecil. Didalam negeri, kelompok ini tertekan karena digilas oleh pengusaha besar tanpa ada usaha perlindungan dari pemerintah. Apabila GATT benarbenar diterapkan maka penggilasan itu akan menjadi ganda, tidak hanya dari pengusaha domestik, tetapi juga dari petani dan pengusaha negara industri kaya. Petani buah-buahan, petani produksi buah, pengusaha garmen kecil-kecilan, dsb akan kalah besaing dengan buahbuahan impor dan produksi pakaian impor. Demikian juga dengan peternaka ayam dan sapi. Peternak ayam kecil akan kalah bersaing dengan peternak ayam besar, karena peternak ayam besar akan lebih efektif (cost effective). Daging impor dari Australia dan Selandia Baru saat ini harganya sudah sama dengan daging lokal, bahkan ada yang lebih murah. Dampak negatif dari perdagangan bebas dan SAPs yang langsung mengena rakyat miskin antara lain: 1. Upah buruh akan semakin ditekan, karena perusahaan harus menekan biaya, buruh akan semakin diperas. 2. Menurunnya ekonomi pedesaan karena kekalahan bersaing dengan produk pertanian

internasional. 3. Meningkatnya urbanisasi kekota. 4. Meningkatnya sektor informal yang tidak dilindungi oleh Undang-undang dan peraturan perburuhan. 5. Lingkungan akan lebih terancam, karena perdagangan meningkatkan permintaan yang akan meningkatkan eksploitasi sumber daya alam. Posisi dan Usulan WALHI Perdagangan bebas kelihatannya tidak akan terelakkan, jika kita tidak siap maka perdagangan bebas bak "air bah" yang akan melanda negeri kita, dan hanya mereka yang kuat dan mempunyai informasi yang cukuplah yang sanggup bertahan. Dalam kondisi menuju perdagangan bebas diperlukan intervensi pemerintah untuk pendistribusian kekayaan dari si Kaya kepada si Miskin untuk mengurangi dampak dari persaingan bebas. Dalam konteks ini, seharusnya fungsi menguasai negara untuk kemakmuran rakyat diterapkan, dengan lebih menekankan fungsi pelayanannya (service), perlindungan serta pemberdayaan rakyat berekonomi kecil serta sungguh-sungguh, tidak hanya dalam bentuk pernyataan-pernyataan kosong.Walaupun dalam era perdagangan dan pasar bebas, prinsip pasal 33 masih sangat relevan dalam pengelolaan sumberdaya alam kita. Peran negara dalam konteks pengelolaan sumberdaya alam dan pasar bebas seharusnya difokuskan kepada pengaturan agar sumberdaya alam Indonesia tidak dimonopoli oleh sekelompok swasta atas nama negara dan agar dikelola secara berkesinambungan baik dari segi ekologis maupun ekonomis. Peran negara dalam "kepemilikan" yang dalam hal ini "monopoli kepemilikan" atas sumberdaya alam Indonesia sebaiknya dialihkan kepada peran "pengaturan" yaitu intervensi agar pengumpulan kekayaan dan modal dari hasil pengelolaan sumberdaya alam kita tidak terjadi hanya kepada golongan tertentu saja. Artinya, negara tidak bisa lagi mentransferkan hak monopolinya atas sumberdaya alam kepada segelintir swasta yang ditunjukkan. Karena itu, praktik penguasaan sumberdaya alam secara monopolistis, seperti dibidang kehutanan dan pertambangan, yang didukung dengan seperangkat peraturan yaitu UU Pokok Kehutanan No.5/1967 dan UU Pertambangan No.11/1967 adalah bertentangan dengan makna pasal 33 UUD 1945. Sehingga sebenarnya praktek di bidang kehutanan dan pertambangan selama ini, yang didasarkan pada kedua Undang-undang itu adalah tidak sah. Sebaliknya, negara harus membuka peluang rakyat sebesar-besarnya untuk ikut terlibat langsung dalam pengelolaan sumberdaya alam. Pasal 33 UUD 1945 harus diterjemahkan dalam situasi ekonomi sekarang sebagai "pengelolaan sumberdaya alam dengan sistem pasar bebas yang populis". Rakyat diberikan hak untuk memiliki dan mengelola sumberdaya alam dengan cara pengelolaan yang diatur oleh negara dengan cara demokratis. Dapat disimpulkan bahwa, pasal 33 UUD 1945 bersifat populis karena menempatkan masyarakat sebagai kelompok utama, tetapi makna itu dikaburkan dalam kebijakan maupun aturan pelaksanaannya. Berdasarkan kondisi dan argumen diatas, maka terlihat ada beberapa masalah utama yang harus dikaji lebih jauh agar masyarakat luas dapat turut menikmati hasilhasil sumberdaya alam. Secara rinci, maka usulan kami adalah sebagai berikut: 1. Bahwa harus disadari sumberdaya alam yang tersedia walaupun memang rahmat dari Tuhan, bukan berarti tidak ada pemiliknya. Sudah berabad-abad lamanya masyarakat lokal mengelola dan mempunyai akses langsung ke sumberdaya alam disekitarnya. Karena itu hakhak mereka haruslah diakui baik dalam perundangan nasional, maupun kebijaksanaan sektoral. 2. Makna pasal 33 UUD 1945 tidaklah menutup akses masyarakat ke sumberdaya alamnya, sehingga setiap usaha penguasaan sumber-sumber daya alam haruslah melibatkan

masyarakat, dalam pengambilan keputusan sampai skala menikmati hasil pengolahan sumber-sumber itu. Contoh buruk dalam pemberian konsesi kehutanan dan pertambangan harus dihapus. Dan karenanya perlu segera merevisi UU Kehutanan dan UU Pertambangan agar lebih berwawasan kerakyatan. 3. Keterlibatan masyarakat mutlak diperlukan dalam setiap pemanfaatan sumber-sumberdaya alam, tidak saja bagi penentuan arah tujuan suatu kegiatan tetapi juga sebagai sarana pengawas kegiatan pengolahan sumberdaya alam. Peran serta ini sangat penting untuk menjaga keseimbangan hak negara yang dimandatkan pasal 33 UUD 45 untuk mengatur, menyelenggarakan, menggunakan, persediaan dan pemeliharaan sumberdaya alam serta pengaturan hukumnya. Dengan hak rakyat untuk mendapatkan keuntungan sebanyakbanyaknya dari pengolahan sumberdaya alam itu. 4. Pemerintah yang baik (good governance) sangat penting dalam pengelolaan sumberdaya alam yang adil. Intervensi negara harus lebih difokuskan kebidang pelayanan umum, seperti pemerataan distribusi kekayaan antara si kaya dan si miskin lewat kebijakan pajak, pelayanan informasi pasar dan teknologi, pengaturan perundang-undangan anti monopoli dan anti trust, serta pemberian kredit usaha kecil. CopyLeft Ali Anis 0 komentar

Friday, November 9
Negeri Kaya Raya, Warga Terlunta-lunta
Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). (QS. As-Syura [42] : 30). Sampai 2009 konon Freeport sudah berhasil mengeruk lebih dari 7 juta ton tembaga dan sekitar 725 juta ton emas. Harganya setara dengan Rp 290.000.000 triliun. Bila belanja Negara (Indonesia) per tahun sekitar Rp 1.000 triliun, maka dari hasil emas Papua itu saja (belum yang lain-lain) sudah bisa memenuhi kebutuhan belanja negara selama 290.000 tahun alias 2.900 abad. Diperkirakan, hingga tahun 2041 masih terdapat cadangan tembaga sebanyak 18 juta ton, dan cadangan emas sekitar 1.430 ton. Belum lagi kekayaan hutan dan laut. Namun kekayaan yang melimpah ruah itu semua kenyataannya berbeda dengan kondisi warga. Warga belum tentu tercukupi sandang-panganpapan dan lapangan kerja. Sehingga, banyak yang mencari kerja ke luar negeri sebagai babu. Di negeri orang, ratusan ribu babu berasal dari negeri yang kekayaan alamnya melimpah ruah ini ada yang mendapat perlakuan tidak manusiawi disamping tidak memperoleh upah, sebagaimana terjadi pada Sumiati, Husna, Rohani, Kikim Komalasari dan sebagainya (lihat Derita Korban Kejahatan Pengiriman Babu-babu, nahimunkar.com, edisi December 1, 2010 10:14 pm). Pepatah lama mengatakan: Ayam bertelur di lumbung padi, mati kelaparan. Kata-kata itu dulu hanya dianggap biasa, bahkan seakan mengada-ada, namun kini bagi yang arif dan tidak mati rasa tentu akan mampu menyerap maknanya bahwa itu adalah sindiran yang luar biasa terhadap keadaan yang aneh tapi nyata ini.

*** Beberapa waktu lalu sejumlah harian nasional mempublikasikan jalinan kerja sama antara PT Pertamina dengan Exxon Mobil Corporation untuk mengelola Blok Natuna Timur (sebelumnya bernama Blok Natuna D Alpha), yang memiliki kandungan gas alam terbesar di dunia. Yaitu, sebesar 222 triliun kaki kubik potensi gas alam senilai Rp 6.287,25 triliun. Posisi Blok Natuna Timur yang ditemukan sejak 1973 ini, berada pada kilometer 225 sebelah timur laut Pulau Natuna. Sedangkan Pulau Natuna sendiri terletak di kilometer 600 sebelah timur laut Singapura dan di kilometer 1.100 sebelah utara Jakarta. Cadangan gas alam di sini diperkirakan dapat dieksplorasi selama 30 tahun ke depan. (Republika online edisi Sabtu, 04 Desember 2010) Dalam hal ini, Pertamina merasa tidak dapat mengelola kekayaan alam itu sendirian, karena memerlukan investasi besar (sekitar 52 miliar dolar AS) dan membutuhkan penerapan teknologi tinggi. Sebelum akhirnya diputuskan Exxon Mobil Corporation dari Amerika Serikat sebagai mitra yang pas, ada tujuh peminat lain yang berasal dari berbagai negara, yaitu Shell (Belanda), Statoil (Norwegia), Total (Prancis), Chevron (Amerika), Eni SpA (Italia), China National Petrolium Corporation (Cina), Petronas (Malaysia). Sebelum bernama Pertamina, perusahaan minyak dan gas bumi yang dimiliki Pemerintah Indonesia ini, pada awal berdirinya (sejak tanggal 10 Desember 1957) bernama PT PERMINA. Barulah pada tahun 1971 bernama PERTAMINA. Perusahaan ini didirikan dengan maksud untuk menyelenggarakan usaha di bidang minyak dan gas bumi, baik di dalam maupun di luar negeri serta kegiatan usaha lain yang terkait atau menunjang kegiatan usaha di bidang minyak dan gas bumi tersebut. Sehingga, dapat memberikan kontribusi dalam meningkatkan kegiatan ekonomi untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. Sedangkan Exxon Mobil Corporation, didirikan sejak 1911 dengan nama EXXON. Barulah pada 30 November 1999, perusahaan penghasil dan pengecer minyak ini bernama EXXONMOBIL setelah terjadinya penggabungan antara Exxon dan Mobil. Penghasilan ExxonMobil pada tahun 2005 mencapai 371 milyar dolar Amerika, dengan jumlah karyawan di seluruh dunia mencapai 88.300 orang. Di Indonesia, kehadiran ExxonMobil sudah lebih dari seratus tahun, khususnya dalam melakukan kegiatan eksplorasi dan eksploitasi ladang gas dan minyak di sini, terutama di Aceh, Sumatera Utara, dan Blok Cepu (Jawa Tengah dan Jawa Timur). Dalam upayanya itu, Exxon bekerja sama dengan PT Arun dan PT Pertamina. Di Blok Cepu cadangan minyak di kawasan ini diperkirakan mencapai lebih dari 600 juta barrel, dan kandungan gas alam yang signifikan. (Kompas, Selasa, 26 Januari 2010) Selain memiliki kekayaan gas alam, Indonesia juga memiliki kekayaan lain berupa emas, tembaga, perak, molybdenum, rhenium. Kesemuanya berada di tanah Papua, dan dikelola oleh Freeport, sebuah perusahaan pertambangan asal Amerika Serikat dan penghasil emas terbesar di dunia. Di Indonesia, khususnya di tanah Papua, Freeport melakukan eksplorasi di dua tempat, yaitu kawasan tambang Erstberg (sejak 1967) dan kawasan tambang Grasberg (sejak 1988). Selain itu, Freeport juga mengeksplorasi tembaga di kawasan Tembaga Pura, Kabupaten Mimika. Sampai 2009 konon Freeport sudah berhasil mengeruk lebih dari 7 juta ton tembaga dan

sekitar 725 juta ton emas. Setara dengan Rp 290.000.000 triliun bila dikalikan dengan harga emas saat ni yang mencapai Rp 400.000 per gram (725.000.000.000.000.000 X 400.000 = 290.000.000.000.000.000.000). Bila belanja negara per tahun sekitar Rp 1.000 triliun, maka dari hasil emas Papua bisa memenuhi kebutuhan belanja negara selama 290.000 tahun. Diperkirakan, hingga tahun 2041 masih terdapat cadangan tembaga sebanyak 18 juta ton, dan cadangan emas sekitar 1.430 ton. Belum lagi kekayaan hutan dan laut. Namun itu semua tidak membuat rakyatnya tercukupi sandang-pangan-papan dan lapangan kerja. Sehingga, banyak yang mencari kerja ke luar negeri sebagai babu. Di negeri orang, para babu ini ada yang mendapat perlakuan tidak manusiawi disamping tidak memperoleh upah, sebagaimana terjadi pada Sumiati, Husna, Rohani, Kikim Komalasari dan sebagainya (lihat Derita Korban Kejahatan Pengiriman Babu-babu, nahimunkar.com, edisi December 1, 2010 10:14 pm). TKI Terlantar Ada juga, yang dalam upayanya mencari kerja di negeri orang, mereka terlunta-lunta, terlantar, atau ditelantarkan oleh bangsanya sendiri yang bertindak sebagai penyalur tenaga kerja, meski sudah membayar sejumlah rupiah dalam jumlah yang sangat besar untuk ukuran rakyat biasa. Sebagaimana pernah terjadi pada Ardi alias Ardi Rumekso alias Ardi Spanyol, warga Jalan Jatiluhur RT 001 RW 005 no. 297, Kelurahan Ngesrep, Kecamatan Banyumanik, Kodya Semarang, Jawa Tengah. Pada suatu hari, 15 September 2007, Ardi mendapat informasi tentang adanya peluang bekerja di luar negeri melalui perusahaan pengerah tenaga kerja Anugerah Presidian. Nama Anugerah Presidian diambil dari nama salah satu anak Pak Koesno, mantan pejabat Depnaker Semarang, yang ketika masih aktif berdinas, konon ia mengurus penempatan tenaga kerja Indonesia untuk magang kerja ke Jepang. Selain itu, Koesno juga dikenal sebagai salah satu tenaga pengajar di sebuah perguruan tinggi. Dorongan ingin memperbaiki taraf hidup, dan tumbuhnya kepercayaan kepada sosok Koesno di atas, membuat Ardi tidak ragu-ragu mentransfer sejumlah uang, agar ia bisa ditempatkan di luar negeri untuk bekerja dengan penghasilan yang diharapkannya tinggi. Maka, pada tanggal 24 September 2007 Ardi pun mentransfer uang pembayaran via BNI sebesar Rp 40 juta ke rekening Anugerah Presidian di Bank Mandiri. Sekitar dua belas hari kemudian (06 Oktober 2007), Ardi melakukan pembayaran lagi untuk keperluan notaris. Hampir sebulan kemudian (tanggal 05 November 2007), Ardi kembali menstransfer uang sebesar Rp 20 juta ke sebuah rekening bernomor 135.000517 6530. Meski demikian, Ardi baru diberangkatkan pada 24 Maret 2008 menuju Prancis. Ia dan Kasmuri tiba di Prancis pada tanggal 25 Maret 2008. Sehari kemudian, tanggal 26 Maret 2008, Ardi dan Kasmuri sudah tiba di Spanyol. Harapan mendapatkan pekerjaan yang layak, sehingga dapat meningkatkan taraf hidup, buyar sudah. Kondisi hidup di Spanyol justru lebih buruk dibanding saat ia masih berada di tanah air. Ardi dan Kasmuri ditempatkan di sebuah penampungan di Caspe, sekitar 100 kilometer arah timur dari provinsi Zaragoza, Spanyol. Di Caspe ini Ardi dan kasmuri ditampung di garasi. Di tempat ini semua aktivitas seperti makan, mandi, mencuci dan menjemur pakain, serta memasak dilakukan. Di garasi ini

terdapat 15 orang asal Indoneisa, termasuk Ardi dan Kasmuri, hidup berdesakan tanpa penghangat. Bahkan, perlengkapan tidur pun tidak disediakan, sehingga Ardi dan Kasmuri harus mengais-ngais dari tempat sampah. Urusan makan juga bermasalah. Sehari hanya diberi makan dua kali, itu pun sering terlambat. Bahkan, kadang makanan tak tersedia, sehingga Ardi dan kawan-kawan harus ngemis-ngemis bahan makanan kepada orang Spanyol, atau mencuri-curi di kebun dan mencari sisa-sisa makanan orang Spanyol. Tak tahan berada dalam kondisi di bawah garis kemanusiaan, akhirnya Ardi dan Kasmuri memutuskan untuk kembali ke tanah air. Tanggal 15 Mei 2008, Ardi dan kasmuri akhirnya bisa pulang ke Indonesia, berkat perjuangan keluarga di tanah air. Sekitar jam 10:25 waktu setempat, Ardi dan kasmuri bertolak dari bandara Spanyol dengan penerbangan SQ377. Keesokan harinya, tanggal 16 Mei 2008, mereka tiba di Singapura sekitar pukul 07:35 pagi, dan pada pukul 09:25 wib mereka sudah mendarat di Jakarta dengan SQ 954. Ardi menyimpulkan, praktik yang dilakukan Koesno dan anak-anaknya adalah penipuan dan pelecehan terhadap bangsa sendiri. Sebelum berangkat, Ardi dijanjikan mendapat handphone dan uang saku 500 Euro. Itu semua merupakan paket yang layak diterimanya setelah membayar biaya sebesar Rp 60 juta lebih. Ternyata, janji itu palsu. Ardi sama sekali tidak dibekali handphone, bahkan uang saku yang ia terima hanya sebesar 250 Euro, itu pun setelah Ardi ngotot. Begitu juga dengan masalah penginapan, yang dijanjikan gratis, ternyata diharuskan membayar sebesar 80 Euro setiap bulannya. Masih ditambah biaya makan sebesar 1 Euro per hari untuk dua kali makan saja. Bila sudah mendapatkan pekerjaan, dikenai biaya sebesar 5 Euro (ongkos transport) per hari. Masih ada lagi. Bagi yang sudah bekerja, dikenakan biaya sewa papael (surat kerja resmi) sebesar 3 Euro per hari. Padahal, para pekerja tidak selalu mendapat upah. Ada kalanya meski sudah bekerja selama dua minggu, upah yang seharusnya dibayarkan sama sekali tidak diterima. Dokumen keimigrasian seperti paspor juga tidak diurus. Begitu juga dengan surat kesehatan dan dokumen lainnya, tidak gratis tetapi dikenakan biaya sebesar 100 Euro. Ardi adalah salah satu rakyat Indonesia yang kaya. Namun ia harus mengais rezeki di negeri orang. Itu pun tidak berhasil, meski ia sudah keluar modal sebanyak Rp 60 juta lebih. Ia tidak dianiaya oleh majikannya yang orang asing, tetapi ditipu oleh bangsanya sendiri. Bagaimana bangsa lain mau menghargai bangsa Indonesia, bila orang semacam Ardi tidak dihargai oleh bangsanya sendiri, bahkan diperlakukan lebih rendah dari pembantu. Nasib serupa Ardi juga dialami Winanto (24 tahun), warga Desa Ngadirejo, Kecamatan Wonoasri, Kabupaten Madiun, Jawa Timur. Uang yang disetorkan Winanto untuk bisa bekerja di Malaysia, tidak sebesar Ardi, tetapi hanya Rp 4,5 juta saja. Uang sebanyak itu ia setorkan pada bulan Mei 2008 kepada M (38 tahun) warga Desa Blemben, Kecamatan Jambon, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, yang selama ini dikenal sebagai calo TKI. Kepada Winanto, sang calo TKI menjanjikan akan memberangkatkan Winanto dengan pesawat udara ke Malaysia. Ternyata, pada Juni 2008 Winanto dan lima calon tenaga kerja asal Ponorogo lainnya, diberangkatkan ke Dumai (Kepulauan Riau) dengan bus antar kota. Di Dumai, Winanto dan kawan-kawan ditempatkan di sebuah ruko, dan ditelantarkan, tanpa ada kejelasan kapan akan berangkat ke Malaysia. Selama dua minggu lebih tanpa ada kejelasan. Tiba-tiba, calo TKI berinisial I meminta uang sebesar Rp 2 juta per orang dengan alasan

untuk membeli tiket kapal laut menuju Malaysia. Konon, sang calo di Dumai ini sama sekali tidak menerima uang dari M (calo TKI asal Ponorogo). Winanto tak punya uang sebanyak itu. Akhirnya ia berhasil menghubungi kerabatnya di Pekanbaru, minta bantuan dana agar bisa kembali ke Madiun. Pertengahan Agustus 2008 Winanto berhasil kembali ke kampung halamannya. Peristiwa tersebut ia laporkan ke Polwil Madiun. Nasib Winanto masih lebih beruntung, bila dibandingkan dengan nasib Sri Harini asal Kendal, Jawa Tengah. Gadis kelahiran tahun 1983 ini sudah bekerja sejak September 2006 di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA). Pada pertengahan September 2008, keluarga sang majikan mengajak Sri berlibur ke Muenchen, Jerman. Ternyata, upaya itu bagian dari rencana sang majikan menelantarkan Sri Harini. Ketika sedang asyik berbelanja di pusat perbelanjaan tiba-tiba mereka meninggalkan Sri begitu saja. Sri Harini ditinggalkan begitu saja di Jerman, tanpa uang dan tanpa dokumen. Sang majikan yang tergolong kasar, mudah marah, dan emosional untuk hal-hal sepele, menyimpan dokumen keimigrasian Sri Harini. Berada di negeri asing tanpa uang dan dokumen, membuat Sri hanya bisa menangis, dan menangis, sampai akhirnya ia ditolong laki-laki budiman bernama Shafiq, warga Jerman keturunan Turki. Selama dua bulan Sri ikut membantu dua toko yang dimiliki Shafiq. Sementara itu Shafiq berusaha terus mencari nomor telepon kantor perwakilan RI yang bisa dihubungi. Akhirnya, Sri mendapat pertolongan dari Konjen RI di Frankfurt. Dari Grobogan, Jawa Tengah, pernah terbetik kabar tentang tujuh calon tenaga kerja Indonesia yang ditelantarkan meski sudah menyetorkan uang puluhan juta ke perusahan pengerah tenaga kerja PT Avco Jaya Manunggal, yang sejak dua setengah tahun sebelumnya berjanji akan memberangkatkan mereka paling lambat Desember 2009 ke Korea, namun hingga pertengahan Januari 2010 tak kunjung terlaksana. Ketujuh calon TKI ini adalah Pujianto (29 tahun), telah menyerahkan uang sebesar Rp 22,5 juta. Purnami (36 tahun), warga Desa Gundi, Godong, telah menyerahkan uang sebesar Rp 21 juta. Sumini (32 tahun), warga Desa Rajek, Godong, telah menyerahkan uang sebesar Rp 22,5 juta. Sri Wahyuni (31 tahun), warga Desa Bugel, Godong, telah menyerahkan uang sebesar Rp 28 juta. Lainnya, yaitu Nuryanto (25 tahun) warga Desa Nambuhan, Purwodadi, telah menyerahkan uang sebesar Rp 21,5 juta. Sedangkan Juni (29 tahun) warga Jatisono, Kecamatan Gajah, Kabupaten Demak, telah menyerahkan uang sebesar Rp 24,5 juta. Yang paling banyak menyetor uang adalah, Kartini (30 tahun), warga Desa Werdoyo, Kecamatan Kebongagung, Kabupaten Demak, sudah menyerahkan uang senilai Rp 35 juta. PT Avco Jaya Manunggal yang berkantor di Dusun Deresan, Desa Beringin, Kecamatan Godong ini untuk meyakinkan korbannya, membekali mereka dengan sejumlah pendidikan, setelah korban menyetor uang dalam jumlah banyak. Nasib Serli, TKI asal NTT lain lagi. Serli sudah sejak tahun 2007 lalu bekerja sebagai Pembantu Rumah Tangga di Malaysia. Setiap hari Serli harus bekerja dari pukul 07.00 WIB hingga pukul 02.00 WIB dini hari tanpa istirahat, dan hanya diberi makan 2 kali sehari,

dengan makan malam berupa mie instan, dan tidak dibayarkan gajinya sejak awal bekerja. Selain itu, Serli kerap disiksa serta dipukuli majikannya. Pada April 2010, majikannya mengirm Serli pulang, tanpa alasan yang jelas. Serli hanya dibekali uang sebesar Rp 1 juta, dan disuruh naik pesawat jurusan Padang. Di Padang, Serli terlantar. Akhrnya ia dipulangkan oleh Disnakertrans Sumatera Barat dan LSM Nurani Perempuan ke kampung halamannya pada 4 Mei 2010. Bila Serli terlantar di Padang, Sumatera Barat, yang masih bagian dari negerinya sendiri, nasib yang lebih pahit dialami Jumiati (26 tahun), tenaga kerja asal Desa Larangan, Kecamatan Larangan, Brebes, Jawa Tengah. Ia ditelantarkan di Sri Langka, setelah sebelumnya menjadi korban kekerasan majikannya saat bekerja di Arab Saudi. Jumiati berangkat ke Riyadh, Arab Saudi pada 9 November 2009. Karena tak tahan diperlakukan majikannya, Jumiati akhirnya kabur ke KBRI di Arab Saudi. Gaji dua bulan Jumiati habis digunakan untuk mengurus permasalahannya. Namun, Jumiati justru dikembalikan ke majikannya oleh pihak KBRI dan agensi yang mengirimnya kerja ke Riyadh. Sekitar Juli 2010, sang majikan berkunjung ke rumah adiknya di Sri Langka. Jumiati dibawa serta, kemudian dipekerjakan untuk merawat anak adik sang majikan yang masih bayi. Di sinilah Jumiati terlantar. Ia ingin pulang karena kondisinya sakit-sakitan, sebagaimana diceritakan Nurcholis (30 tahun) suami Jumiati. Kasus TKI terlantar akibat ditipu tekong (calo) dialami oleh Mita Marwati (30 tahun) asal Semarang dan Salmi (45 tahun) TKW asal Boyoli Jawa Tengah. Mita dijanjikan bekerja di sebuah perusahaan di Malaysia dengan gaji 600 ringgit per bulan ditambah tips dan bonus tiap hari. Ternyata, setelah membayar sejumlah uang, Mita hanya sampai di tempat penampungan di pantai impian, Tanjungpinang. Selama berada di penampungan singgah, Mita dua kali dipukul Asni salah seorang tekong yang menampungnya. Beruntung Mita bisa meloloskan diri hingga sampai di rumah singgah Engku Putri Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau. Hampir sama dengan Mita, Salmi mengaku ditipu tekong dengan cara ditinggalkan di atas kapal Bukit Raya, sesaat setelah tiba di pelabuhan Kijang-Bintan. Sebelumnya, Salmi mengaku dijanjikan akan dipekerjakan di luar negeri dengan gaji Rp 1,5 juta per bulan. Untuk itu, Salmi dimintai uang Rp 1 juta. Sebelum sampai di rumah singgah Engku Putri, Salmi sempat tidur selama berhari-hari di pelabuhan Kijang, kadang di semak atau di gubuk yang ditemuinya. Salmi akhirnya ditolong seorang tukang ojek setelah sebelumnya berjalan bebeberapa hari tanpa tujuan. Oleh tukang ojek, Salmi diantar ke kantor polisi di Kijang. Polisi kemudian merujuk Salmi ke rumah singgah Engku Putri. Akhirnya, Mita dan Salmi pada tanggal 04 Oktober 2010 dipulangkan ke kampung halaman masing-masing, setelah pihak pengelola rumah singgah Engku Putri menghubungi Pemda Jawa Tengah. Seharusnya, rakyat Indonesia tidak perlu sampai repot-repot mencari kerja ke luar negeri, karena dengan kekayaan alamnya yang sedemikian melimpah, bila dikelola dengan baik mampu memberikan lapangan pekerjaan bagi sebagian besar rakyatnya. Dengan kekayaan

alam yang melimpah, kesejahteraan rakyat dapat dijamin berada pada tingkatan yang membanggakan. Fakta tentang kekayaan alam Indonesia yang melimpah berhadapan dengan fakta tentang rakyatnya yang harus cari kerja ke luar negeri, menunjukkan bahwa keberkahan telah sedemikian jauh dari bangsa kita. Mungkin, karena syariat Islam yang seharusnya dijadikan landasan hidup berbangsa dan bernegara hanya dijadikan komoditas politik semata. Itu semua salah siapa? Jawabannya adalah benarlah firman Allah Taala, Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). (QS. As-Syura [42] : 30). Wujud kesalahan itu di antaranya apa? Ini jawabannya: Dari Abdullah bin Umar, ia berkata, Rasulullah saw menghadapi kami lalu bersabda: Wahai orang-orang Muhajirin, lima perkara jika kamu ditimpa lima perkara ini (maka keadaanmu mengalami bermacam-macam adzab) aku mohon kepada Allah agar kamu tidak mendapatinya. (1) tidaklah perbuatan keji (zina) yang dilakukan secara nampak hingga terang-terangan di suatu kaum kecuali akan tersebar wabah penyakit thoun dan penyakit-penyakit lainnya yang tidak ada pada orang-orang terdahulu mereka yang telah lalu. (2) tidaklah orang-orang mengurangi takaran dan timbangan kecuali mereka akan disiksa dengan paceklik, sulitnya (bahan) kebutuhan, dan dhalimnya penguasa atas mereka. (3) tidaklah mereka menahan zakat harta mereka kecuali akan ditahan pula untuk mereka hujandari langit, dan seandainya bukan karena (adanya) hewan-hewan maka mereka (manusia tak bayar zakat harta itu) tidak dihujani. (4) dan tidaklah orang-orang membatalkan janji Allah dan janji Rasul-Nya kecuali Allah akan menjadikan musuh dari selain mereka (yakni orang-orang kafir) maka mereka (musuh) itu mengambil sebagian apa yang ada di tangan mereka (pembatal janji itu). (5) dan selagi pemimpin-pemimpin (pemerintahan, bangsa, masyarakat) mereka tidak berhukum dengan kitab Allah, dan mereka memilih-milih dari apa yang diturunkan Allah (maka tiada lain) kecuali Allah menjadikan keganasan satu sama lain di antara mereka. (HR Ibnu Majah no 4019, hasan menurut Al-Albani dalam As-Silisilah As-Shohihah 106/ 4009). Bagaimana mau tidak diadzab dengan aneka derita, semua dari lima keburukan itu sudah dilanggar seluruhnya. Zina bukan lagi terang-terangan, malah dijadikan bisnis. Hingga Gubernur Jawa Timur memerintahkan agar pusat pelacuran di Surabaya ditutup saja walaikotanya padahal perempuan justru ngeyel menolak dengan alasan yang dibuat-buat. Itu

belum masalah zina di seantero negeri dengan aneka kasusnya dari pembantu rumah tangga sampai tingkat aparat dan anggota dewan yang terhormat, apalagi artis, jangan dikata lagi! Pembaca yang kami hormati, bagaimana zina telah dipersilakan di negeri ini, sampai seorang ibu pun ada yang mempersilakan anaknya yang masih umur 13 tahun untuk berzina. Nia Dinata, sineas (orang yang ahli tentang cara dan teknik pembuatan film) yang kerap mengangkat tema perempuan menyatakan kepada anaknya (ABG lelaki 13 tahun), untuk melakukan seks tidak harus pergi jauh-jauh dari Indonesia. Silakan kamu lakukan di Tanah Air tapi kamu harus tahu tentang bagaimana penyakit menular, HIV/AIDS dan lain sebagainya. "Silakan kamu melakukan itu dengan pacarmu tapi dengan syarat sama-samamau. Tapi kamu tahu dulu tentang sex education. Tentunya, satu sama lainharus bisa bertanggung jawab atas perbuatannya," katanya. (okezone, ABG Impikan ke Belanda Demi Seks Bebas, Senin, 6 Desember 2010 - 08:51 wib) Benarlah firman Allah Taala dalam surat An-Nas, untuk berlindung kepada Allah dari bisikan syetan di dada-dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia. Nia Dinata juga dikenal membela pornografi dengan bukti gigihnya memprotes rancangan undang-undang anti pornografi. Pembelaannya terhadap pornografi itu dapat dibaca di (http://www.nahimunkar.com/cewek-cewek-penentang-uu-pornografi-buruk-muka-cermindibelah dapat juga dibaca di buku Pangkal Kekeliruan Golongan Sesat, oleh Hartono Ahmad jaiz dkk, Pustaka Nahi Munkar, Jakarta, 2009, hal 331-334). Dan itu bukan hanya dalam hal bermaksiat, tetapi sudah sampai pada cara berfikir, sehingga ketika ada artis yang ditolak masyarakat ketika mau mencalonkan diri sebagai kepala daerah karena telah dikenal sebagai wanita yang berpenampilan seronok alias umbar aurat, tahu-tahu ada yang mengqiyaskannya dengan Nabi. Sama-sama semula ditolak warga, kata seorang artis yang dikenal sebagai pengacara. Astaghfirulloh Nabi shallallahu alaihi wasallam ditolak karena mentauhidkan Allah, penolaknya itu orang-orang kafirin musyrikin yang memang benci kepada aturan Allah. Lha kalau artis seronok, ditolaknya itu karena mengumbar aurat alias pengusung maksiat, sedang yang menolaknya itu masyarakat yang justru taat kepada Allah. Itulah cara berfikir seorang pembela yang sangat dungu, menyamakan antara emas dengan kotoran manusia hanya karena sama-sama kuningnya. Keburukan yang kedua, curang dalam takaran dan timbangan. Di mana di negeri ini yang orang-orangnya bersih dari itu. Dari penujual barang di pinggir jalan sampai di tempat yang mewah banyak sekali pelaku-pelaku curangnya. Penulis pernah naik taksi menuju ke satu pergedungan. Tukang taksi bertanya, Pak di gedung itu isinya yang paling banyak apa Pak? Saya jawab, ya orang bekerja dan sebagainya. Dia bantah dengan perkataan: Bukan Pak. Isinya paling banyak ya maling. Astaghfirullah tukang taksi itu masih saja ngoceh dan saya mengelus dada sambil senyum kecut.

Ketika isinya seperti itu, maka apabila yang memimpin negeri itu dhalim, maka sudah sesuai dengan hadits tersebut. Ini bukan menjustifikasi pemimpin yang dhalim, ini hanya analisis kenyataan. Keburukan lainnya, membatalkan janji Allah dan janji Rasul-Nya, sudah tidak dapat dihitung lagi. Mulutnya bersyahadat, bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang haq disembah selain Allah; namun betapa banyaknya orang yang rajin meminta-minta mengenai nasib hidupnya ke dukun, ke isi kubur malahan dipimpin oleh orang-orang bersorban atau perempuan berjilbab rapat dan perginya itu dengan istilah yang seolah Islami, yakni tour ziarah, tour religi dan sebagainya. Kesesatan tentang ini dapat dibaca di buku Pendangkalan Akidah Berkedok Ziarah. Di samping itu juga banyak yang berdoa atau menyembah, atau minta berkah atau minta dihindarkan dari mala petaka ke batu, gunung, laut, bahkan kerbau dan sebagainya dengan aneka upacara dan cara. Aneka kemusyrikan pun merajalela. Tidak dapat dihitung lagi, dan itu sering justru disponsori penguasa. Itu berarti membatalkan janji Allah dengan dipimpin oleh penguasa setempat. Juga membatalkan janji Rasul, untuk mengikuti Rasul dalam ibadah kepada Allah, tetapi betapa banyaknya bidah-bidah yang mereka buat. Ada shalawat bikinan yang tidak disyariatkan seperti apa yang disebut Shalawat Nariyah. Shalawat Nariyah telah dikenal oleh banyak orang. Mereka beranggapan, barangsiapa membacanya sebanyak 4.444 kali dengan niat agar kesusahan dihilangkan, niscaya akan terpenuhi. Ini adalah anggapan batil yang tidak berdasar sama sekali. Apalagi jika kita mengetahui lafadh bacaannya, serta kandungan syirik yang ada di dalamnya. Mengandung kemusyrikan menurut Syaikh Jamil Zainu, karena ada lafal Muhammad, yang dengan beliau terurai segala ikatan, hilang segala kesedihan, dipenuhi segala kebutuhan, Bagaimana mungkin Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam akan rela, jika dikatakan bahwa beliau kuasa menguraikan segala ikatan dan menghilangkan segala kesedihan. Padahal Al-Quran menyeru kepada beliau untuk memaklumkan: Katakanlah, Aku tidak kuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, niscaya aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman. (QS. Al-Araf [7] : 188) (Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu, Minhajul Firqah An-Najiyah wat Thaifah Al-Manshurah, diterjemahkan Ainul Haris Umar Arifin Thayib Lc, Jalan Golongan Selamat, Darul Haq, Jakarta, cet. I, 1419 H, hlm. 173-176. Lihat pula di buku Hartono Ahmad Jaiz, Aliran dan Paham Sesat di Indonesia, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, cetakan 7, 2004M, halaman 266-268). Ada juga shalat bikinan yang tidak disyariatkan seperti shalat Raghaib di awal bulan Rajab, dan ada juga perayaan-perayaan atau upacara-upacara bikinan atas nama agama yang tidak disyariatkan. Itu yang mereka semarakkan dan dibela mati-matian. Padahal sudah ada ancaman dari Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam: Dari Abdullah bin Mas'ud bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidaklah seorang nabi yang diutus oleh Allah pada suatu umat sebelumnya melainkan dia

memiliki pembela dan sahabat yang memegang teguh sunnah-sunnah dan mengikuti perintah-perintahnya, kemudian datanglah setelah mereka suatu kaum yang mengatakan sesuatu yang tidak mereka lakukan, dan melakukan sesuatu yang tidak diperintahkan. Barangsiapa yang berjihad dengan tangan melawan mereka maka dia seorang mukmin, barangsiapa yang berjihad dengan lisan melawan mereka maka dia seorang mukmin, barangsiapa yang berjihad dengan hati melawan mereka maka dia seorang mukmin, dan setelah itu tidak ada keimanan sebiji sawi." (Hadits Shahih Riwayat Muslim, No. 71) Ketika negerinya kaya raya, penduduknya adalah Ummat Islam yang jumlahnya terbesar sedunia, tetapi ternyata hidupnya tidak berkah, maka tentu ada yang salah. Kesalahannya tidak jauh dari apa yang sudah dituturkan dalam ayat dan Hadits. Yaitu masyarakat yang curang, membatalkan janji Allah dan janji Rasul-Nya, mengatakan apa-apa yang tidak mereka kerjakan (pidatonya dan ucapannya bagus-bagus, tetapi pelaksanaannya nol besar atau bahkan sebaliknya, misalnya. Ucapannya melarang kemusyrikan dan bidah tetapi lakonnya penuh dengan keburukan sampai yang menyerempet itu, misalnya.) dan mereka mengerjakan apa-apa yang tidak diperintahkan. Misalnya tidak ada perintah untuk merayakan ini dan itu tetapi mereka rayakan. Tidak ada suruhan untuk upacara ini dan itu (mengenai orang mati, misalnya) tetapi mereka adakan upacara ini dan itu. Bahkan kadang mereka bela mati-matian, malahan ormas terbesar atas nama Islam pun di barisan depan dalam membela yang tidak diperintahkan itu. Lha kalau kenyataannya seperti itu, ya wajar. Negerinya kaya raya, warganya terlunta-lunta. Salah siapa? Ya salah para ulamanya, pemimpinnya, tokohnya, pendidiknya (bahkan atas nama pendidikan Tinggi Islam tetapi isinya menyesatkan baca buku Ada Pemurtadan di IAIN), dan kesalahan mereka itu menyeret Ummat dan warganya. Akibatnya Allah menjadikan musuh dari selain mereka (yakni orang-orang kafir) maka mereka (musuh) itu mengambil sebagian apa yang ada di tangan mereka (pembatal janji itu). Dalam hal yang sudah diketahui secara umum, apa yang disebut kerjasama pengelolaan bahan-bahan tambang: emas, tembaga, minyak bumi, gas alam dan sebagainya di mana-mana itu adalah ungkapan eufemisme dari isi hadits tersebut. Yaitu orang kafir yang sejatinya adalah musuh mengambil sebagian apa yang ada di tangan Muslimin yang membatalkan janji Allah dan janji Rasul. Dalam kasus Indonesia, yang diambil oleh kafir musuh itu justru bukan sekadar sebagian, tetapi ada yang menyebutnya bagian terbesar. Akibatnya, untuk menutupi kebutuhan Negara maka warga lah yang diperas dengan apa yang disebut pajak, yang tampaknya semakin menggila, hingga kini sudah dirancang, sampai orang yang makan di warteg (warung tegal) yakni warung kelas rakyat saja akan dipungut pajak. Bahasa gampangnya, kekayaan yang melimpah itu direlakan untuk orang-orang kafir yang dalam hadits disebut musuh, sedang anak sendiri diperas habis-habisan. Padahal kekayaan yang melimpah itu sebagaimana di awal tulisan ini dari satu sumbernya saja hitungannya sudah mencukupi anggaran Negara selama 2.900 abad. Tetapi justru yang dikeruk adalah apa-apa yang ada di tangan warga, dengan cara memungut pajak.

Perlu diketahui, 70 persen penerimaan negara berasal dari pajak, yang petugasnya adalah para pegawai pajak yang total jumlah karyawan Ditjen Pajak seluruh Indonesia sebanyak 32 ribu orang. Padahal harta orang Muslim itu dilindungi, makanya pemungut pajak itu sangat diancam dalam Islam. Dalam sebuah hadits yang shahih Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Tidak halal harta seseorang muslim kecuali dengan kerelaan dari pemiliknya. Adapun dalil secara khusus, ada beberapa hadits yang menjelaskan keharaman pajak dan ancaman bagi para penariknya, di antaranya bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya pelaku/pemungut pajak (diadzab) di neraka. [HR Ahmad 4/109, Abu Dawud kitab Al-Imarah : 7] Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah dan beliau berkata, Sanadnya bagus, para perawinya adalah perawi (yang dipakai oleh) Bukhari-Muslim, kecuali Ibnu Lahiah; kendati demikian, hadits ini shahih karena yang meriwayatkan dari Abu Lahiah adalah Qutaibah bin Said Al-Mishri. Dan hadits tersebut dikuatkan oleh hadits lain, seperti. Dari Abu Khair Radhiyallahu anhu beliau berkata ; Maslamah bin Makhlad (gubernur di negeri Mesir saat itu) menawarkankan tugas penarikan pajak kepada Ruwafi bin Tsabit Radhiyallahu anhu, maka ia berkata : Sesungguhnya para penarik/pemungut pajak (diadzab) di neraka. (HR Ahmad 4/143, Abu Dawud 2930) Berkata Syaikh Al-Albani rahimahullah, (Karena telah jelas keabsahan hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Lahiah dari Qutaibah) maka aku tetapkan untuk memindahkan hadits ini dari kitab Dhaif Al-Jamiah Ash-Shaghir kepada kitab Shahih Al-Jami, dan dari kitab Dhaif At-Targhib kepada kitab Shahih At-Targhib. Hadits-hadits yang semakna juga dishahihkan oleh Dr Rabi Al-Madkhali hafidzahulllah dalam kitabnya, Al-Awashim wal Qawashim hal. 45. (lihat Pajak dalam Islam (Nasehat untuk Para Pemungut Pajak) Oleh: Abu Ibrahim Muhammad Ali, Majalah Al-Furqon, Edisi I, Tahun VI/Sya'ban 1427/2006.) nahimunkar.com, April 8, 2010 3:43 am, http://www.nahimunkar.com/pajak-dalam-islam. Setelah jelas duduk soalnya, bahwa semua kesengsaraan di negeri yang kaya raya itu akibat kejahatan manusia itu sendiri, mungkin masih ada pertanyaan: kenapa yang kena sengasaranya kok hanya yang kecil-kecil? Sedang yang gede-gede justru makin senang dan kenyang? Hal itu ada penjelasan, orang-orang jahat atau aqidahnya rusak tidak diadzab padahal jelas jahat. Karena di lingkungannya ada orang-orang yang beristighfar, minta ampun kepada Allah Taala.

Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun [*] (QS. Al-Anfal [8]: 33). [*]. Di antara mufassirin mengartikan yastagfiruuna dengan bertaubat dan ada pula yang mengartikan bahwa di antara orang-orang kafir itu ada orang muslim yang minta ampun kepada Allah. Dari sisi lain, orang jahat pun ada yang justru sukses dalam kejahatannya. Itulah yang disebut istidraj. Ada keterangannya dalam hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam: Dari Uqbah bin Amir dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Jika kalian melihat Allah memberikan dunia kepada seorang hamba pelaku maksiat dengan sesuatu yang ia sukai, maka sesungguhnya itu hanyalah merupakan istidraj." Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam membacakan ayat: '(Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang Telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa) '. (QS. Al An'am [6] : 44). (HR Ahmad No. 16673 , komentar Syuaib al-Arnauth: hadits hasan, dan riwayat At-Thabrani dan Al-Baihaqi). Semoga hal ini menjadi peringatan bagi kita semua. Amien ya Rabbal alamien.
*Hartono Ahmad Jaiz dan Hamzah Tede adalah penulis buku Pendangkalan Akidah Berkedok Ziarah.

Baca juga:

AMERICA BUILD FROM PAPUA GOLD (Negara Amerika Dibangun dari Emas Papua) INDONESIA: BANGSA YANG TERGADAI

CopyLeft Ali Anis 0 komentar

Monday, February 7
Demokrasi dan Kesejahteraan
Perdebatan di seputar fatwa haramnya golput oleh MUI beberapa waktu lalu tampaknya masih belum mereda. Pasalnya, MUI sendiri juga mereka yang berkepentingan terhadap suksesnya Pemilu 2009 seperti melupakan alasan utama di balik kemungkinan maraknya golput pada Pemilu 2009 nanti.
[Buletin Jum'at Al-Islam edisi: 441]

Di luar alasan teknis Pemilu seperti tidak terdatanya sejumlah calon pemilih setidaknya ada dua alasan mengapa sebagian masyarakat memilih golput. Pertama: alasan ekonomi. Intinya, sebagian kalangan yang memilih golput sudah semakin sadar, bahwa Pemilu, termasuk Pilkada, tidak menjanjikan kesejahteraan apapun bagi rakyat. Bagi mereka, selama ini terpilihnya para wakil rakyat, kepala daerah, atau presiden dan wakil presiden yang serba baru tidak membawa perubahaan apa-apa yang bisa sedikit saja meningkatkan kesejahteraan rakyat. Padahal, sebagaimana dikatakan pengamat politik J Kristiadi, Harapan masyarakat sebenarnya sederhana. Begitu mereka nyoblos atau mencontreng, kesejahteraan mereka bisa menjadi lebih baik dengan pemerintahan terpilih. Kenyataannya, ada ruang yang sangat luas dan terkadang manipulatif (menipu, red.) antara Pemilu dan kesejahteraan itu. (Kompas, 2/2/2009). Kedua: alasan ideologis. Bagi calon pemilih yang golput dengan alasan ini, Pemilu (baca: demokrasi) tidak akan pernah menjanjikan perubahan apapun. Pasalnya, demokrasi hanya semakin mengokohkan sekularisme. Padahal sekularismelah yang selama ini menjadi biang dari segala krisis yang terjadi. Sekularisme sendiri adalah sebuah keyakinan dasar (akidah) yang menyingkirkan peran agama dari kehidupan. Dalam konteks Indonesia yang mayoritas Muslim, sekularisme telah nyata menjauhkan syariah Islam untuk mengatur segala aspek kehidupan masyarakat (ekonomi, politik, pendidikan, peradilan, sosial, dll). Padahal mayoritas rakyat Indonesia yang Muslim sesungguhnya menyetujui penerapan syariah Islam itu di negeri ini. Hal ini sudah dibuktikan oleh berbagai survei yang dilakukan oleh sejumlah lembaga survei seperti PPIM UIN Syarif Hidayatullah (2001), Majalah Tempo (2002). Roy Morgan Research (2008), SEM Institute (2008), LSM Setara (2008), dll yang rata-rata menunjukkan bahwa 70-80% masyarakat Indonesia setuju dengan penerapan syariah Islam dalam negara (Lihat kembali: Al-Islam, Edisi 434/XII/08). Dalam hal ini, pengamat politik Bima Arya mengatakan, adanya survey yang menyebutkan mayoritas masyarakat di Indonesia mendukung syariah memang cukup masuk akal. Itu terjadi karena adanya kejenuhan dari masyarakat terhadap sistem yang ada, ujarnya (Eramuslim, 19/12/08). Pertanyaannya, jika mayoritas masyarakat saat ini pro-syariah, lalu mengapa partai-partai Islam tetap kalah dari partai-partai sekular pada Pemilu 2004 lalu dan kemungkinan juga pada Pemilu 2009 nanti? Jawabannya, karena boleh jadi mereka melihat tidak adanya satu partai Islam pun yang sungguh-sungguh memperjuangkan penerapan syariah Islam di Indonesia. Barangkali, karena itulah, di antara mereka yang pro syariah ini lebih memilih golput. Walhasil, kenyataan inilah yang seharusnya dipahami oleh MUI terlebih dulu juga oleh para tokoh, ulama, politikus, ormas, dan terutama parpol peserta Pemilu yang menolak golput. Lebih dari sekadar keinginan mayoritas umat Islam di atas, penegakkan syariah Islam secara kffah dalam negara tentu merupakan kewajiban dari Allah SWT yang dibebankan kepada kaum Muslim. Kewajiban inilah yang sesungguhnya lebih layak difatwakan oleh MUI dan tentu selaras dengan fatwa MUI tahun 2005 yang telah memfatwakan haramnya sekularisme. Demokrasi: Memiskinkan Rakyat Kondisi masyarakat yang miskin alias tidak sejahtera jelas dialami oleh sebagian rakyat Indonesia saat ini. Padahal semua orang tahu, Indonesia adalah negeri yang kaya-raya. Seluruh jenis barang tambang nyaris ada di Indonesia. Minyak bumi, gas, batubara, emas,

tembaga dan beberapa yang lain bahkan ada di negeri ini dengan kadar yang melimpah. Kekayaan laut Indonesia berupa ikan dan hasil-hasil laut lainnya juga luar biasa. Indonesia pun memiliki areal hutan tropis yang sangat luas. Dengan semua kekayaan alam yang melimpah-ruah itu, rakyat Indonesia seharusnya makmur dan sejahtera, dan tidak ada yang miskin. Namun, akibat diterapkannya sistem ekonomi kapitalis sejak negara ini merdeka, sebagian besar kekayaan alam yang melimpah-ruah itu hanya dinikmati oleh segelintir orang, yang sebagian besarnya bahkan pihak asing. Contoh kecil: Di Bumi Papua, kekayaan tambang emasnya setiap tahun menghasilkan uang sebesar Rp 40 triliun. Sayangnya, kekayaan tersebut 90%-nya dinikmati perusahaan asing (PT Freeport) yang sudah lebih dari 40 tahun menguasai tambang ini. Wajarlah jika gaji seorang CEO PT Freeport Indonesia mencapai sekitar Rp 432 miliar pertahun (=Rp 36 miliar perbulan atau rata-rata Rp 1.4 miliar perhari). Padahal, rakyat Papua sendiri hingga saat ini hanya berpenghasilan Rp 2 juta saja pertahun (=Rp 167 ribu perbulan). Pemerintah Indonesia pun hanya mendapatkan royalti dan pajak yang tak seberapa dari penghasilan PT Freeport yang luar biasa itu (Jatam.org, 30/3/07). Di Kaltim, batubara diproduksi sebanyak 52 juta meter kubik pertahun; emas 16.8 ton pertahun; perak 14 ton pertahun; gas alam 1.650 miliar meter kubik pertahun (2005); minyak bumi 79.7 juta barel pertahun, dengan sisa cadangan masih sekitar 1.3 miliar barel. Namun, dari sekitar 2.5 juta penduduk Kaltim, sekitar 313.040 orang (12.4 persen) tergolong miskin. Di Aceh, cadangan gasnya mencapai 17.1 tiliun kaki kubik. Hingga tahun 2002, sudah 70 persen cadangan gas di wilayah ini dikuras oleh PT Arun LNG dengan operator PT ExxonMobile Oil yang sudah berdiri sejak 1978, Namun, Aceh menempati urutan ke-4 sebagai daerah termiskin di Indonesia. Jumlah penduduk miskinnya sekitar 28.5 persen. Itulah secuil fakta ironis di negeri ini, yang puluhan tahun menerapkan demokrasi, bahkan terakhir disebut-sebut sebagai salah satu negara paling demokratis di dunia. Ironi ini sebetulnya mudah dipahami karena watak demokrasi di manapun, termasuk di negeri ini, secara faktual selalu berpihak kepada para kapitalis/pemilik modal. Demokrasi di negeri ini, misalnya, telah melahirkan banyak UU dan peraturan yang lebih berpihak kepada konglomerat, termasuk asing. Di antaranya adalah melalui kebijakan swastanisasi dan privatisasi. Kebijakan ini dilegalkan oleh UU yang notabene produk DPR atau oleh Peraturan Pemerintah yang dibuat oleh Presiden sebagai pemegang amanah rakyat. UU dan peraturan tersebut memungkinkan pihak swasta terlibat dalam pengelolaan (baca: penguasaan) kekayaan milik rakyat. Sejak tahun 60-an Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan UU Penanaman Modal Dalam Negeri (UU No. 6/1968). UU ini memberikan peluang kepada perusahaan swasta untuk menguasai 49 persen saham di sektor-sektor milik publik, termasuk BUMN. Tahun 90-an Pemerintah kemudian mengeluarkan PP No. 20/1994. Isinya antara lain ketentuan bahwa investor asing boleh menguasai modal di sektor-sektor milik publik, termasuk BUMN, hingga 95 persen. Secara tidak langsung demokrasi juga sering menjadi pintu bagi masuknya intervensi para pemilik modal, bahkan para kapitalis asing. Lahirnya UUD amandemen 2002 adalah kran awal dari intervensi asing dalam perundang-undangan. Ditengarai ada dana asing USD 4,4 miliar dari AS untuk mendanai proyek di atas. Hasilnya, lahirlah UU Migas, UU Listrik dan UU Sumber Daya Air (SDA) yang sarat dengan kepentingan asing. Dampaknya, tentu saja adalah semakin leluasanya pihak asing untuk merampok sumber-sumber kekayaan alam

negeri ini, yang notabene milik rakyat. Dampak lanjutannya, rakyat bakal semakin merana, karena hanya menjadi pihak yang selalu dikorbankan; hanya menjadi tumbal demokrasi, yang ironisnya selalu mengatasnamakan rakyat. Rakyat Sejahtera Hanya dengan Syariah Islam Dengan sedikit paparan di atas, jelas bahwa jika memang semua kalangan menghendaki terwujudnya kesejahteraan rakyatsebagaimana yang juga sering dijanjikan oleh para caleg dan elit parpol setiap kali kampanye menjelang Pemilumaka tidak ada cara lain kecuali seluruh komponen bangsa ini harus berani mencampakkan sekularisme, yang menjadi dasar dari sistem politik demokrasi dan sistem ekonomi kapitalis yang terbukti gagal mensejahterakan rakyat. Selanjutnya, seluruh komponen bangsa ini harus segera menerapkan syariah Islam secara kffah dalam negara; baik dalam bidang politik, ekonomi, pendidikan, peradilan, sosial, keamanan dan pertahanan, dll. Yakinlah, hanya dalam negara yang menerapkan syariah secara kffah-lahyang dalam sistem politik Islam disebut dengan sistem Khilafahkesejahteraan rakyat bakal benar-benar terwujud. Bukti historis menunjukkan, sistem syariah telah mampu menciptakan kesejahteraan bagi jutaan manusia pada setiap kurun Kekhilafahan Islam pada masa lalu selama berabad-abad, tanpa pernah mengenal kata krisis. Pada masa Kekhilafahan Umar bin al-Khaththab ra. (13-23 H/634-644 M), misalnya, hanya dalam 10 tahun masa pemerintahannya, kesejahteraan rakyat merata ke segenap penjuru negeri. Pada masanya, di Yaman, misalnya, Muadz bin Jabal sampai kesulitan menemukan seorang miskin pun yang layak diberi zakat (Al-Qaradhawi, 1995). Pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz (99-102 H/818-820 M), hanya dalam 3 tahun umat Islam terus mengenangnya sebagai khalifah yang berhasil menyejahterakan rakyat. Yahya bin Said, seorang petugas zakat masa itu, berkata, Saya pernah diutus Umar bin Abdul Aziz untuk memungut zakat ke Afrika. Setelah memungutnya, saya bermaksud memberikannya kepada orang-orang miskin. Namun, saya tidak menjumpai seorang miskin pun. Umar bin Abdul Aziz telah menjadikan setiap individu rakyat pada waktu itu berkecukupan. (Ibnu Abdil Hakam, Srah Umar bin Abdul Azz, hlm. 59). Pada masanya pula, kemakmuran tidak hanya ada di Afrika, tetapi juga merata di seluruh penjuru wilayah Khilafah Islam, seperti Irak dan Bashrah (Abu Ubaid, Al-Amwl, hlm. 256). Allah SWT telah berfirman: "Seandainya penduduk negeri beriman dan bertakwa, Kami pasti akan membukakan pintu keberkahan bagi mereka dari langit dan bumi" (QS al-Araf [7]: 96).

Arsip Buletin Al Islam Download e-Book


Telaah Kitab Demokrasi Sistem Kufur Karya Syekh Abdul Qadim Zallum Khilafah menurut Ahlus Sunnah wal Jamaah? Pendapat Abubakar Ba'asyir mengenai Demokrasi... Mengapa HAMAS ikut permainan Demokrasi?

CopyLeft Ali Anis 2 komentar Home

Siapa sih pemilik atau penguasa PEMERINTAHAN & NEGARA ini? ...termasuk BUMN & BUMD.

"Negara seharusnya ditegakkan atas dasar Penegakkan Hukum & Amanah bukan Politik!"

Kunaonnn..?
Mengapa banyak peneliti Indonesia lebih betah berkarya di Malaysia? Mengapa BJ Habibie lebih betah tinggal di Jerman? Mengapa Aa Gym lebih bisa diterima di Singapura & Malaysia? Mengapa... dan mengapa... Moslem Countries Today! Mengapa Cina ingin membuat Muslim Indonesia Sekuler? Caape deeh..!

Males Mikir... Teu Paduli...


IDEOLOGI DO-IT & PRINSIP EKONOMI (PROFIT)! #Kuduna mah BBM, Sembako, obat-obatan (produk farmasi dasar) jeung sakabeh nu nyangkut Hajat Hidup Orang Banyak teh dikuasai ku nagara/pamarentah, jangan diserahin ka mekanisme pasar (nu sifatna liberal) atawa dijual ka asing anu kapitalis. Sok we tingali! gara-gara pasal 33 UUD'45 dilanggar, BBM jadi langka jeung mahal, harga sembako jadi diatur sama yg punya modal besar, pendidikan & kesehatan nu layak jadi marahal da yang ngelolana orientasina kana untung/bisnis. Conto: harga obat bisa jadi naek 10x lipat ti harga pabrik gara-gara system & aturannana dipegang ku 'maranehna' termasuk para (sabagian) dokter (punten)... jlsjbn.

#Mau Pintar, kok Mahal! Semua serba uang yg berbicara. Tak punya uang, jangan harap dapat pendidikan yg baik dan bermutu. Mau cepat kerja? Kuliah di anu saja! Kuliah S1 hanya 3 tahun. Dijamin! Tak lulus, uang kembali.

Inilah Biangnya UU Badan Hukum Pendidikan (BHP) telah mengubah tugas negara dalam menjamin pendidikan bagi rakyat menjadi sekedar membantu pelaksanaan pendidikan. Biaya pendidikan harus dibebankan kepada masyarakat. Sesuai namanya, Badan Hukum, geraknya tentu seperti perusahaan. Buntutnya adalah komersialisasi, bukan pendidikan itu sendiri.

#Ayeuna PLN (Perusahaan Listrik Nagara) jeung nu ngurus cai (PAM) jangan sampe di serahkeun ka sawasta atawa dijual ka asing! Kahade nya!!!

Kunjungi Kami...

Pajabat... Pamingpin... Panguasa...


JANGAN BERIKAN JABATAN KEPADA ORANG YANG MEMINTA JABATAN! Dari Abu Musa r.a. berkata: "Aku dan dua orang lelaki dari anak cucu pamanku masuk ke tempat Nabi saw. Lalu salah seorang dari lelaki tersebut berkata: 'Ya Rasulullah, angkatlah kami sebagai pengurus untuk mengurusi sebagian apa yang Allah serahkan pengurusannya itu kepadamu'. Dan yang seorang lagi juga mengatakan seperti itu. Maka jawab Rasulullah saw.: 'Demi Allah, sungguh kami tidak akan menyerahkan kepengurusan atas pekerjaan ini kepada seseorang yang memintanya, atau kepada seseorang yang sangat menginginkannya (ambisi)'." (HR. Ahmad, Bukhari & Muslim). Umar bin al-Khaththab ra. saat menjadi khalifah, begitu terkenal dengan kata-katanya yang menunjukkan kapasitasnya sebagai seorang penguasa agung (al-imm al-azham): Seandainya ada seekor keledai terperosok di kota Bagdad karena jalan rusak, aku khawatir Allah SWT akan meminta pertanggungjawaban diriku di Akhirat nanti. KORUPSI? Khalifah Umar bin Abdul Aziz pernah didatangi putranya saat dia sedang berada di ruang kerjanya dan kemudian bercerita tentang keluarga dan masalah yang terjadi di rumah. Seketika itu Umar bin Abdul Aziz mematikan lampu ruangan dan anaknya bertanya, Mengapa ayah mematikan lampu sehingga hanya berbicara dalam ruangan yang gelap? Dengan sederhana sang ayah menjawab, Lampu minyak yang kita gunakan ini adalah amanah dari rakyat yang hanya dipergunakan untuk kepentingan pemerintahan bukan untuk urusan keluarga. 4 Kriteria Pemimpin dalam Islam FAST (Fatonah, Amanah, Sidiq & Tabligh) Fatonah: pintar/cerdas; Amanah: memegang janji & dapat dipercaya; Sidiq: benar/jujur; Tabligh: menyampaikan

Obat Anti Korupsi?


1. Tidak berminat atau tergiur atau gatel dengan sesuatu yang bukan haknya atau miliknya. 2. Meninggalkan atau menghindari sesuatu yang bersifat syubhat! (tidak jelas statusnya). Sesungguhnya yang halal sudah jelas dan yang haram sudah jelas, di antara keduanya ada perkara syubhat yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Barang siapa berhati-hati dengan yang syubhat, ia telah memelihara agama dan kehormatannya. Barang siapa yang terjatuh pada syubhat, maka ia telah terjerumus pada yang haram. (HR Muslim) ..., dan barang siapa yang melakukan tindakan syubhat, maka ia telah melakukan tindakan yang haram, sebagaimana halnya seorang penggembala yang menggembalakan kambingnya di seputar pagar (tanah milik orang lain), kadang-kadang bisa jatuh melewati pagar itu. Ketahuilah sesungguhnya setiap penguasa memiliki pagar pembatas, dan sesungguhnya pagar (batas) Allah adalah apa yang diharamkannya. (HR Bukhari) 3. Zuhud & Qana'ah Must Read: Dalil2 Kehidupan Dunia!

Balik ka... (About Me)


Ref. "Seseorang di antara kalian tidak (dikatakan) beriman sehingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri." (HR Bukhari & Muslim) Powered by Blogger.