Anda di halaman 1dari 32

BAB I PENDAHULUAN

Kota Paristi adalah kota dengan jumlah kepadatan penduduk pada tahun 2012 yaitu 1662 orang dengan luas wilayah 4,43 ha dengan kontur 3,00 m di atas permukaan tanah dan di lalui lalu lintas baik yang berat dan ringan. Sistem yang di pilih adalah sistem Rigid Intake and Settling Tank dengan alasan karakteristik air sungai yang dasarnya berlumpur, airnya keruh, dan kedalaman airnya berubah-ubah menurut musim, dengan demikian diperlukan perancangan sistem dan bangunan pengambilan air yang baik dan efisien. Sehingga dengan sistem tersebut diharapkan air dapat dialirkan ke pipa transmisi dan distribusi menghasilkan air menjadi jernih dan tetap terdistribusi dalam perubahan musim. Dari karakteristik sungai yang diketahui, data dan informasi yang diperlukan untuk menganalisis penyediaan air bersih adalah data kepadatan penduduk Kota Paristi pada tahun 2012, yaitu 1662 orang, kontur dan ground level (GL) Kota Paristi, ukuran jalan dan kondisi lalu lintas, industri di Kota Paristi, serta beberapa fasilitas umum yang terdapat di Kota Paristi.

BAB II KRITERIA DESAIN

2.1 Perhitungan Proyeksi Penduduk Untuk menghitung proyeksi penduduk terdapat beberapa metode yang bisa digunakan, diantaranya : 1. 2. Metode Aritmatika Metode Geometri

a. Perhitungan Dengan Metode Aritmatika Perhitungan proyeksi metode aritmatika dapat dilakukan dengan menggunakan rumus : ( Dengan : Pn Po r n = jumlah penduduk pada tahun ke-n (orang) = jumlah penduduk tahun pertama pencatatan (orang) = angka pertumbuhan penduduk (%) = jumlah tahun rencana dari n tahun ( ))

Perhitungan dengan metode aritmatika : Jumlah penduduk tahun 2012 adalah 1662 orang, dengan rasio penduduk 1,5 dengan enam tahap pelayanan yang tebagi setiap lima tahun, maka jumlah penduduk pada tahun 2017 adalah : ( ( ( ( )) ))

b. Perhitungan Dengan Metode Geometri Perhitungan proyeksi ( Dengan : Pn Po r = jumlah penduduk pada tahun ke-n (orang) = jumlah penduduk tahun pertama pencatatan (orang) = angka pertumbuhan penduduk (%) ) metode geometri dapat dilakukan dengan

menggunakan rumus :

= jumlah tahun rencana dari n tahun

Perhitungan dengan metode geometri: Jumlah penduduk tahun 2012 adalah 1662 orang, dengan rasio penduduk 1,5 dengan enam tahap pelayanan yang tebagi setiap lima tahun, maka jumlah penduduk pada tahun 2017 adalah : ( ( ) )

Berikut adalah tabel hasil perhitungan proyeksi penduduk berdasarkan metode Aritmatika dan Geometri : Tabel 2.1 Hasil Perhitungan Proyeksi Penduduk Dengan Metode Aritmatika dan Geometri Tahun 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 2024 2025 2024 2025 2026 2027 2028 2029 2030 2031 2032 2033 Geometri 1662 1687 1712 1738 1764 1790 1817 1845 1872 1900 1929 1958 1987 2017 2047 2078 2109 2141 2173 2205 2238 2272 2306 2341 Aritmatika 1662 1687 1712 1737 1762 1787 1812 1837 1861 1886 1911 1936 1961 1986 2011 2036 2061 2086 2111 2136 2161 2186 2210 2235 3

Tahun 2034 2035


Sumber : Hasil Analisis

Geometri 2376 2411

Aritmatika 2260 2285

2500 Jumlah Penduduk (Orang)

2000

1500

1000 0 10 20 30 Banyaknya Tahun (n) Geometris Aritmatika

Sumber : Hasil Analisis

Gambar 2.1. Proyeksi Pertumbuhan Penduduk Tahun 2012 2037

Dari Gambar 2.1 menunjukkan proyeksi penduduk dengan metode gometris lebih tinggi jumlahnya dari pada metode aritmatika. Sehingga metode aritmatik sebagai metode yang tepat untuk memprediksikan kebutuhan air penduduk Kota Paristi yang akan datang, karena dilihat dari grafik kenaikan penduduk setiap 5 tahun naik dengan konstan. 2.2 Proyeksi Kebutuhan Air Bersih Untuk memenuhi kebutuhan air minum dalam suatu kota, perlu diperkirakan terlebih dahulu jumlah kebutuhan air masing-masing fasilitas. Standar kebutuhan air minum untuk berbagai fasilitas dapat diperoleh dari berbagai literatur : Tabel 2.2 Proyeksi Kebutuhan Air Minum Asumsi Kebutuhan Air Rumah tangga Makan, minum, mencuci Sekali mandi Sekali buang air Berkebun per m
2

Jumlah Kebutuhan (liter) 20 30 40 80 8 15 12

Publik Membersihkan jalan per m2 Menyiram tanaman dan taman kota per m2 Sekolah Rumah sakit Pasar* Kantor Komersial Hotel Tempat pemotongan hewan (perekor) Laundri per kg pakaian kering
Sumber: Water Supply Engineering Design, *Jurnal TL ITB

1 2 2 200 650 6-12 2

100 150 600 40 70

Dari data-data standar kebutuhan air pada Tabel 2.2, maka dapat diasumsikan standar kebutuhan air pada Kota Paristi pada tahun 2012, yaitu sebagai berikut: Tabel 2.3. Asumsi Standar Kebutuhan Air Penduduk Kota Paristi Tahun 2012 No. 1 2 Bangunan Perumahan Perkantoran Perdagangan a. Pasar Tradisional b. Pertokoan c. Pabrik Makanan dalam Kemasan d. Pengolahan Buah Sekolah a. SD b. SMP c. SMA Puskesmas Tempat Ibadah a. Mesjid b. Gereja Hidran Pemadam Kebakaran Keran Umum Standar Kebutuhan Air (l/o/hari) 120 2 6 6 345600 l/industri/hari 518400 l/industri/hari 2 2 2 200 l/bed/hari 10 10 3888000 l/unit/hari 40 Jumlah Pengguna (orang) 1662 125 150 5 1 industri 1 industri 410 175 150 3 bed 60 50 1 unit 30

5 6 7 8

Sumber : Hasil Analisis

Pelayanan air di Kota Paristi direncanakan untuk 25 tahun pelayanan mulai dari tahun 2013 dengan enam tahap pelayanan yang terbagi setiap lima tahun. Hal ini dimaksudkan agar dapat mengantisipasi perkembangan dan menghemat biaya dan sumber daya air daripada langsung merencanakan 25 tahun mendatang.

2.2.1 Studi Kebutuhan Air Bersih 2.2.1.1. Domestik Kota Paristi dengan jumlah penduduk pada tahun 2012 adalah 1662 orang. Jika diasumsikan setiap 5 tahun kebutuhan air rumah (domestik) tetap tidak ada peningkatan dan dimulai pada tahun pertama kebutuhan airnya sebanyak 120 l/o/h yang dapat dilihat pada Tabel 2.4

Tabel 2.4 Asumsi Kebutuhan Air Domestik per 5 tahun ke depan Tahun 2012 2017 2022 2027 2032 2037
Sumber : Hasil Analisis

Jumlah Penduduk (orang) 1662 1787 1911 2036 2161 2285

Kebutuhan Air (l/o/h) 120 120 120 120 120 120

Kebutuhan Total (l/hari) 199440 214440 229320 244320 259320 274200

2.2.1.2 Perkantoran Kota Paristi memiliki 8 kantor dengan jumlah keseluruhan pegawai pada tahun 2012 adalah 125 orang. Jika diasumsikan % pegawai setiap 5 tahun ke depan dari jumlah penduduk tetap, maka% pegawai = ((150/1662)x100%=7,9%). Jika diasumsikan setiap 5 tahun kebutuhan air meningkat sebesar 2 l/o/h dan pada tahun pertama kebutuhan airnya sebesar 2 l/o/h dapat dilihat pada Tabel 2.5

Tabel 2.5 Asumsi Kebutuhan Air Perkantoran per 5 tahun Tahun 2012 2017 2022 2027 2032 2037
Sumber : Hasil Analisis

Jumlah Pegawai (orang) 125 129 138 147 156 165

Kebutuhan Air (l/o/h) 2 4 6 8 10 12

Kebutuhan Total (l/hari) 250 516 828 1176 1560 1980

2.2.1.3 Perdagangan a. Pasar Kota Paristi memiliki pasar tradisional sebanyak 2 unit dengan jumlah keseluruhan pengguna pasar pada tahun 2012 adalah 150 orang. Jika diasumsikan setiap 5 tahun jumlah pengguna pasar bertambah sebanyak 25 orang, serta kebutuhan air naik sebesar 2 l/o/h dan dimulai pada tahun pertama kebutuhan airnya sebesar 6 l/o/h dapat dilihat pada Tabel 2.6. Tabel 2.6 Asumsi Kebutuhan Air Pasar per 5 tahun Tahun 2012 2017 2022 2027 2032 2037
Sumber : Hasil Analisis

Jumlah Pengguna Pasar (orang) 150 175 200 225 250 275

Kebutuhan Air (l/o/h) 6 8 10 12 14 16

Kebutuhan Total (l/hari) 900 1400 2000 2700 3500 4400

b. Pertokoan Kota Paristi memiliki pertokoan sebanyak 5 unit dengan jumlah keseluruhan pengguna toko pada tahun 2012 adalah 5 orang. Jika diasumsikan setiap 5 tahun jumlah pengguna toko bertambah sebanyak 5 orang, serta kebutuhan air naik sebesar 2 l/o/h dan dimulai pada tahun pertama kebutuhan airnya sebesar 6 l/o/h dapat dilihat pada Tabel 2.7

Tabel 2.7 Asumsi Kebutuhan Air Pertokoan per 5 tahun Tahun 2012 2017 2022 2027 2032 2037
Sumber : Hasil Analisis

Jumlah Pengguna Toko (orang) 5 10 15 20 25 30

Kebutuhan Air (l/o/h) 6 8 10 12 14 16

Kebutuhan Total (l/hari) 30 80 150 240 350 480

c. Pabrik Makanan dalam Kemasan Kota Paristi memiliki industri pabrik makanan dalam kemasan dengan kebutuhan air 4 l/det sehingga dalam sehari kebutuhan airnya yaitu 345.600 l/h. Jika diasumsikan setiap 5 tahun industri tersebut naik sebesar 2 l/h dapat dilihat Tabel 2.8 Tabel 2.8 Asumsi Kebutuhan Air Pabrik Makanan dalam Kemasan per 5 tahun Tahun 2012 2017 2022 2027 2032 2037
Sumber : Hasil Analisis

Industri 1 1 1 1 1 1

Kebutuhan (l/h) 345600 345602 345604 345606 345608 345610

d. Pengolahan Buah Kota Paristi memiliki industri pengolahan buah dengan kebutuhan air 6 l/det sehingga dalam sehari kebutuhan airnya yaitu 518.400 l/h. Jika diasumsikan setiap 5 tahun industri tersebut naik sebesar 2 l/h dapat dilihat Tabel 2.9 Tabel 2.9 Asumsi Kebutuhan Air Pengolahan Buah per 5 tahun Tahun 2012 2017 2022 2027 2032 2037
Sumber : Hasil Analis

Industri 1 1 1 1 1 1

Kebutuhan (l/h) 518400 518402 518404 518406 518408 518410

2.2.1.4 Sekolah a. SD Kota Paristi memiliki SD sebanyak 3 unit dengan jumlah murid SD keseluruhan pada tahun 2012 adalah 360 orang dan pegawai 50 orang. Jika diasumsikan setiap 5 tahun jumlah siswa SD bertambah sebanyak 5 orang dan pegawai bertambah sebanyak 3 orang serta kebutuhan air sekolah naik sebesar 1,5 l/o/h dan dimulai pada tahun pertama kebutuhan airnya sebesar 2 l/o/h dapat dilihat pada Tabel 2.10 Tabel 2.10 Asumsi Kebutuhan Air SD per 5 tahun Tahun 2012 2017 2022 2027 2032 2037
Sumber : Hasil Analisis

Jumlah Pengguna SD (orang) 410 417 424 431 438 444

Kebutuhan Air (l/o/h) 2 3.5 6 7.5 9 10.5

Kebutuhan Total (l/hari) 820 1460 2544 3233 3942 4662

b. SMP Kota Paristi memiliki SMP sebanyak 2 unit dengan jumlah murid SMP keseluruhan pada tahun 2012 adalah 130 orang dan pegawai 45 orang. Jika diasumsikan setiap 5 tahun jumlah siswa SMP bertambah sebanyak 5 orang dan pegawai bertambah sebanyak 2 orang serta kebutuhan air sekolah naik sebesar 1,5 l/o/h dan dimulai pada tahun pertama kebutuhan airnya sebesar 2 l/o/h dapat dilihat pada Tabel 2.11. Tabel 2.11 Asumsi Kebutuhan Air SMP per 5 tahun Tahun 2012 2017 2022 2027 2032 2037
Sumber : Hasil Analisis

Jumlah Pengguna SMP (orang) 175 182 189 196 203 210

Kebutuhan Air (l/o/h) 2 3.5 6 7.5 9 10.5

Kebutuhan Total (l/hari) 350 637 1134 1470 1827 2205

C. SMA Kota Paristi memiliki SMA sebanyak 1 unit dengan jumlah murid SMA keseluruhan pada tahun 2012 adalah 120 orang dan pegawai 30 orang. Jika diasumsikan setiap 5 tahun jumlah siswa SMA bertambah sebanyak 5 orang dan pegawai bertambah sebanyak 2 orang serta kebutuhan air sekolah naik sebesar 1,5 l/o/h dan dimulai pada tahun pertama kebutuhan airnya sebesar 2 l/o/h dapat dilihat pada Tabel 2.12. Tabel 2.12 Asumsi Kebutuhan Air SMA per 5 tahun Tahun 2012 2017 2022 2027 2032 2037
Sumber : Hasil Analisis

Jumlah Pengguna SMA (orang) 150 157 162 169 173 180

Kebutuhan Air (l/o/h) 2 3.5 6 7.5 9 10.5

Kebutuhan Total (l/hari) 300 550 972 1268 1557 1890

2.2.1.5 Puskesmas Puskesmas di kota Paristi terdapat 1 unit dengan jumlah tempat tidur 3 pada tahun 2012. Jika diasumsikan setiap 5 tahun jumlah tempat tidur bertambah 1 dan kebutuhan air meningkat sebesar 6 l/bed/h dan dimulai pada tahun pertama kebutuhan airnya sebesar 200 l/bed/h dapat dilihat pada Tabel 2.13. Tabel 2.13 Asumsi Kebutuhan Air Puskesmas per 5 tahun Tahun 2012 2017 2022 2027 2032 2037
Sumber : Hasil Analisis

Jumlah Bed 3 4 5 6 7 8

Kebutuhan Air (l/bed/h) 200 206 212 218 224 230

Kebutuhan Total (l/bed/h) 600 824 1060 1308 1568 1840

2.2.1.6 Tempat Ibadah a. Mesjid Kota Paristi memiliki mesjid sebanyak 3 unit dengan jumlah pengguna mesjid keseluruhan pada tahun 2012 adalah 60 orang. Jika diasumsikan setiap 5

10

tahun jumlah pengguna mesjid bertambah sebanyak 6 orang dan kebutuhan air naik sebesar 10 l/o/h dan dimulai pada tahun pertama kebutuhan airnya sebesar 10 l/o/h dapat dilihat pada Tabel 2.14. Tabel 2.14 Asumsi Kebutuhan Air Mesjid per 5 tahun Tahun 2012 2017 2022 2027 2032 2037
Sumber : Hasil Analisis

Jumlah Pengguna Mesjid (orang) 60 66 72 78 84 90

Kebutuhan Air (l/o/h) 10 20 30 40 50 60

Kebutuhan Total (l/hari) 600 1320 2160 3120 4200 5400

b. Gereja Kota Paristi memiliki mesjid sebanyak 2 unit dengan jumlah pengguna gereja keseluruhan pada tahun 2012 adalah 50 orang. Jika diasumsikan setiap 5 tahun jumlah pengguna gereja bertambah sebanyak 4 orang dan kebutuhan air naik sebesar 3 l/o/h dan dimulai pada tahun pertama kebutuhan airnya sebesar 10 l/o/h dapat dilihat pada Tabel 2.15. Tabel 2.15 Asumsi Kebutuhan Air Gereja per 5 tahun Tahun 2012 2017 2022 2027 2032 2037
Sumber : Hasil Analisis

Jumlah Pengguna Gereja (orang) 50 54 58 62 66 70

Kebutuhan Air (l/o/h) 10 13 16 19 22 25

Kebutuhan Total (l/hari) 500 702 928 1178 1452 1750

2.2.1.7 Hidran Pemadam Kebakaran Kota Paristi memiliki hidran pemadam kebakaran sebanyak 1 unit dengan kebutuhan air 9 liter per detik selama 5 jam sehingga dalam sehari kebutuhan airnya yaitu 3.888.000 liter per hari. Jika diasumsikan setiap 5 tahun kebutuhan hidran pemadam kebakaran naik sebesar 15 l/unit/h dapat dilihat Tabel 2.16

11

Tabel 2.16 Asumsi Kebutuhan Air Hidran Pemadam Kebakaran per 5 tahun Tahun 2012 2017 2022 2027 2032 2037
Sumber : Hasil Analisis

Hidran 1 1 1 1 1 1

Kebutuhan Total (l/hari) 3888000 3888015 3888030 3888045 3888060 3888075

2.2.1.8 Keran Umum Kota Paristi memiliki keran umum sebanyak 2 unit dengan jumlah pengguna keseluruhan pada tahun 2012 adalah 30 orang. Jika diasumsikan setiap 5 tahun jumlah pengguna keran umum bertambah sebanyak 5 orang dan kebutuhan air tetap sebesar 40 l/o/h dapat dilihat pada Tabel 2.17 Tabel 2.17 Asumsi Kebutuhan Air Keran Umum per 5 tahun Tahun 2012 2017 2022 2027 2032 2037
Sumber : Hasil Analisis

Jumlah Pengguna Keran Umum (orang) 30 35 40 45 50 55

Kebutuhan (l/o/h) 40 40 40 40 40 40

Kebutuhan Total (liter) 1200 1400 1600 1800 2000 2200

2.3 Kehilangan Air (Losses) Jika diasumsikan kehilangan air (losses) menurun 3% setiap 5 tahun, dikarenakan pelayanan yang semakin meningkat. Penurunan persentase relatif kecil karena jumlah penduduk yang semakin meningkat pula pada kota ini dan dimulai pada tahun pertama kehilangan airnya (losses) sebesar 45%. Asumsi kehilangan air dapat dilihat pada Tabel 2.18. Tabel 2.18 Asumsi Kehilangan Air (Lossess) Tahun Losses
Sumber : Asumsi

2012 45%

2017 42%

2022 39%

2027 36%

2032 33%

2037 30%

12

2.4 Jumlah Kebutuhan Air Jumlah kebutuhan air yang diperlukan oleh kota Paristi setiap 5 tahun selama 25 tahun perencanaan (2012-2037) dapat dilihat pada Tabel 2.19 Tabel 2.19 Jumlah Kebutuhan Air Kota Paristi setiap 5 Tahun
Jenis Kebutuhan 2012 Domestik Perkantoran Perdagangan a. Pasar b. Pertokoan Pengolahan Buah Pabrik Makanan dalam Kemasan Sekolah a. SD b. SMP c. SMA Puskesmas Tempat Ibadah a. Mesjid b. Gereja Kebutuhan Kota (l/hari) Fasilitas Keran Umum Hidran Pemadam Kebakaran Total Fasilitas (l/hari) Total Kebutuhan Kota (l/hari) Total Kebutuhan Kota (l/det)
Sumber: Hasil Analisis

Kebutuhan pada tahun (liter/hari) 2017 214440 516 1400 80 518402 345602 1459.5 637 549.5 824 1320 702 1085932 1400 3888015 3889415 4975347 57.59 2022 229320 828 2000 150 518404 345604 2544 1134 972 1060 2160 928 1105104 1600 3888030 3889630 4994734 57.81 2027 244320 1176 2700 240 518406 345606 3233 1470 1268 1308 3120 1178 1124024 1800 3888045 3889845 5013869 58.03 2032 259320 1560 3500 350 518408 345608 3942 1827 1557 1568 4200 1452 1143292 2000 3888060 3890060 5033352 58.26 2037 274200 1980 4400 480 518410 345610 4662 2205 1890 1840 5400 1750 1162827 2200 3888075 3890275 5053102 58.48 199440 250 900 30 518400 345600 820 350 300 600 600 500 1067790 1200 3888000 3889200 4956990 57.37

2.5 Total Kebutuhan Air Total kebutuhan air yang diperlukan Kota Paristi setiap lima tahun dalam jangka waktu perencanaan selama 25 tahun (2011-2037) dapat dilihat pada Tabel 2.20.

13

Tabel 2.20 Total Kebutuhan Air setiap 5 Tahun Jenis Kebutuhan Total Kebutuhan Kota (l/hari) Losses Total Kebutuhan Air pada tahun n % pelayanan Total Kebutuhan Air dengan % pelayanan (L/hari) Total Kebutuhan Air dengan % pelayanan (L/det)
Sumber: Hasil Analisis

Kebutuhan pada tahun (liter/hari) 2012 2017 2022 2027 2032 2037 4956990 4975347 4994734 5013869 5033352 5053102 2230646 2089646 1947946 1804993 1661006 1515931 7187636 7064993 6942680 6818862 30% 40% 50% 60% 2156291 2825997 3471340 4091317 24.96 32.71 40.18 47.35 6694359 6569032 70% 80% 4686051 5255226 54.24 60.82

2.6 Perhitungan Faktor Puncak Pemakaian air tiap suatu wilayah tidak akan selalu sama dari waktu ke waktu. Fluktuasi pemakaian air adalah keadaan tidak seimbang dari penggunaan air oleh konsumen pada suatu wilayah, pada kondisi penggunaan air akan mencapai maksimum di saat tertentu dan sebaliknya akan mencapai minimum di saat yang lain, di mana kondisi ini tergantung dari variasi kegiatan/aktivitas dari masyarakat pada wilayah tersebut. Faktor Hari Maksimum adalah angka perbandingan antara kebutuhan air pada hari maksimum dengan kebutuhan air rata-rata sedangkan Faktor Jam Puncak adalah angka perbandingan antara kebutuhan air pada jam puncak dengan kebutuhan air rata-rata. Rumus Faktor puncak (Peak Factors):

Dimana: P = Rata-rata persentase tahunan pemakaian air pada jam puncak T =Waktu (diasumsikan dalam 5 tahun terdapat 90 hari faktor puncak)

Total supply air dalam jaringan pipa setiap 5 tahun, diasumsikan dalam 5 tahun terdapat 75 hari puncak dapat dilihat pada Tabel 2.21. Tabel 2.21 Total Kebutuhan Air setiap 5 tahun dengan Persentase Pelayanan
Jumlah Kebutuhan Air Kehilangan Air/ Kebocoran Faktor Puncak l/hari Tahun % l/hari Tahun 4956990 2012 5 2230646 2012 4975347 2017 10 2089646 2017 4994734 2022 15 1947946 2022 5013869 2027 20 1804993 2027 5033352 2032 25 1661006 2032 5053102 2037 30 1515931 2037

14

1. Jumlah hari puncak 2. Presentasi faktor puncak Total Supply air dalam jaringan pipa
Sumber: Hasil Analisis

hari % Tahun l/hari l/det

90 115 2012 2479734 29

90 115 2017 3249897 38

90 115 2022 3992041 46

90 115 2027 4705015 54

90 115 2032 5388959 62

90 115 2037 6043510 70

2.6 Perhitungan Jam Puncak dan Hari Maksimum Diketahui: Faktor jam puncak Faktor hari maks = 1.5 = 1.1

Pemakaian air rata-rata pada jam puncak setiap 5 tahun selama 25 tahun dapat dilihat pada tabel 2.22 Tabel 2.22 Pemakaian Air pada Jam Puncak Tahun 2012 2017 2022 2027 2032 2037
Sumber: Hasil Analisis

Pemakaian RataRata l/det 25 33 40 47 54 61

Faktor Jam Puncak 1.5 1.5 1.5 1.5 1.5 1.5

Pemakaian Jam Puncak (l/det) 37 49 60 71 81 91

Pemakaian air rata-rata pada hari maksimum setiap 5 tahun selama 25 tahun dapat dilihat pada Tabel 2.23 . Tahun 2012 2017 2022 2027 2032 2037
Sumber: Hasil Analisis

Tabel 2.23 Pemakaian Air pada Hari Max Pemakaian RataRata l/det 25 33 40 47 54 61 Faktor Hari Max 1.1 1.1 1.1 1.1 1.1 1.1 Pemakaian Hari Max (l/det) 27 36 44 52 60 67

Berikut ini adalah grafik perbandingan pada pemakaian jam puncak, pemakaian hari max, dan pemakaian rata-rata pada Gambar 2.2

15

100

75

50

25

0 2007

2012

2017

2022

2027

2032

2037

Pemakaian Rata-Rata Pemakaian Hari Max


Sumber: Hasil Analisis

Pemakaian Jam Puncak

Gambar 2.2 Grafik Pemakaian air pada saat Jam Puncak dan Hari Maksimal

Dari Gambar 2.2 Kota Paristi mengalami peningkatan pemakaian air bersih pada pemakaian jam puncak dan pemakaian hari max dari pemakaian rata-rata ini dikarenakan pada saat tersebut adalah hari-hari libur nasional yang memungkinkan melakukan banyak aktifitas sehingga penggunaan air bersih mengalami peningkatan juga. 2.7 Perhitungan Dimensi Saluran Saluran terbuka direncanakan untuk kapasitas pengolahan sebesar 67 L/detik dengan perhitungan dimensi sebagai berikut: Diketahui : v Q Perhitungan : = 0.7 m/detik = 0.067

Dimensi saluran terbuka adalah sebagai berikut: Mencari Luas Penampang (A)

Mencari Tinggi dan Lebar Saluran

16

Sehingga dimensi saluran tersebut adalah: Lebar (b) = 0.438 m Tinggi (h) = 0.438 m + 0.15 m (freeboard) = 0.588 m 2.8 Perhitungan Dimensi Intake Intake tersebut direncanakan untuk kapasitas sebesar 67 L/detik. Digunakan dua buah pompa yang memiliki kapasitas pompa sebesar 67 L/detik, dimana 1 buah pompa digunakan sebagai cadangan. Berdasarkan debit tersebut, dapat dilakukan perhitungan sebagai berikut : Perhitungan dimensi intake sumur Kapasitas pengolahan (Q) : : 67 L/detik = 0.067 m3/detik

Vpipa (V minimum agar tidak terjadi pengendapan) : 1.5 m/detik Maka luas penampang pipa (A) :

Diameter pipa (d) :

V saringan = 0,2 m/detik

17

Luas kotor

=2xA = 2 x 0.335 m2 = 0.67 m2

2.9 Sistem Transmisi Air Bersih Rancangan sistem penyediaan air minum di Kota Paristi ini akan menggunakan sumber air dari Sungai Ciraum. Sungai Ciraum ini lebarnya 3 meter memiliki debit 95 liter/det ( diasumsikan Q= 92 l/det), muka air rendah 1 meter dan muka air tinggi / banjir tidak melimpas melewati tebing 4 meter. Karena kebutuhan air untuk Kota Paristi pada tahun 2037 adalah 91 liter/det berarti debit yang tersedia pada sungai cukup untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Pada perencanaan penyediaan air di Kota Paristi, intake yang akan digunakan adalah dengan bantuan pompa, sumur sebagai proses pengendapan, dan penyaring kasar serta pipa intake. Bentuk tipikal intake dapat dilihat pada Gambar 2.3 yaitu Intake jenis Rigid Intake and Settling Tank.

Gambar 2.3 Rigid Intake and Settling Tank dengan Sumur sebagai Proses Pengendapan

Letak intake di Sungai Ciraum direncanakan pada aliran sungai dengan ketinggian 5 meter. Sedangkan IPA dan reservoir direncanakan pada lokasi dengan ketinggian 3 meter yang berjarak 46 meter dari intake.

18

Sistem transmisi air bersih adalah sistem perpipaan atau sistem transportasi dari bangunan pengambilan air baku ke bangunan pengolahan air bersih atau reservoir untuk selanjutnya diteruskan ke daerah pelayanan melalui sistem distribusi. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan sistem transmisi adalah: Sistem transportasi untuk membawa air baku Adapun cara untuk mengalirkan air dari sumber ke reservoir yaitu : 1. Sistem saluran terbuka (open channel). Pada sistem ini tekanan air sama dengan tekanan udara terbuka yaitu 1 atm. 2. Sistem saluran tertutup (close conduit), air dialirkan melalui saluran tertutup untuk menghindari kontaminasi dimana tekanan air sama dengan tekanan udara luar. 3. Sistem pipa (pipe line), air dialirkan melalui sistem perpipaan dengan tekanan lebih besar daripada tekanan udara luar. Demi effisiensi dan menjaga kualitas air baku yang dibawa maka pada sistem transmisi air baku dari sumber ke resevoir untuk pemenuhan kebutuhan di Kota Paristi, yaitu menggunakan saluran tertutup dan jaringan pipa

menggunakan bantuan pompa. Tipe pengaliran jaringan pipa transmisi Tipe pengaliran jaringan pipa transmisi yang meliputi sistem perpompaan, sistem gravitasi dan sistem gabungan perpompaan dan gravitasi. Sistem pemompaan diterapkan pada kondisi dimana letak dari bangunan intake lebih rendah dari bangunan pengolahan. Sebaliknya sistem gravitasi diterapkan pada kondisi dimana elevasi letak bangunan penangkap air relatif tinggi atau sama dengan bangunan pengolahan air. Sistem gabungan diterapkan pada kondisi topografi bangunan intake ke bangunan pengolahan yang naik turun. Pada Kota Paristi, pengaliran jaringan pipa transmisi menggunakan sistem pompa karena elevasi letak bangunan intake ke bangunan IPA dan reservoir adalah datar. Kapasitas yang diangkut Kualitas air yang diangkut dalam sistem transmisi sesuai dengan kapasitas hari maksimum sehingga pada saat terjadi kebutuhan maksimum sistem transmisi dapat memenuhi kebutuhan masyarakat, yaitu 67 ltr/det. Menentukan tempat bak pelepas tekan

19

Bak pelepas tekan dibuat untuk menghindari tekanan yang tinggi, sehingga tidak akan merusak sistem perpipaan yang ada. Bak ini dibuat di tempat dimana tekanan tertinggi mungkin terjadi atau pada stasiun penguat (booster pump) sepanjang jalur pipa transmisi. Penempatan sistem transmisi Yang perlu diperhatikan dalam perletakan dan penempatan sistem transmisi adalah : - Kondisi air yang dibawa dan kondisi lingkungan. - Pemilihan jalur transmisi yang terpendek - Pemilihan konstruksi yang paling ekonomis - Terletak pada lokasi tanah yang mudah terkontrol - Sedikit mungkin menggunakan perlengkapan sistem Peralatan dan perlengkapan sistem transmisi Pemilihan peralatan dan perlengkapan sistem transmisi harus

disesuaikan dengan kebutuhan dan juga memperhatikan segi ekonomis. Menghitung panjang dan diameter pipa Panjang pipa dihitung berdasarkan jarak dari bangunan penangkap air ke bangunan pengolahan, sedangkan diameter pipa ditentukan sesuai dengan debit hari maksimum.

2.10 Dasar Perhitungan Pipa Transmisi Pipa transmisi dari Sungai Ciraum pada perencanaan penyediaan air bersih ini akan dipasang sepanjang jalur yaitu dari intake ke reservoir. Besarnya Mayor Losses tergantung pada kondisi antara lain: gesekan bahan pipa kecepatan aliran dimensi pipa panjang saluran yang ditempuh Pada saat mengalirkan air dari intake ke reservoir, akan terjadi kehilangan tinggi tekan akibat gesekan aliran air terhadap dinding pipa. Oleh sebab itu, kehilangan dari tinggi tekan ini harus diketahui nilainya. Perhitungan kehilangan tekanan dalam pipa akibat gesekan aliran terhadap dinding pipa ( Mayor Losses) menggunakan persamaan :

20

Hazen-william :

Dimana: Hf = Kehilangan energi (m) L = Panjang pipa (m) C = Koefisien gesekan pipa dari Hazen dan William D = Diameter pipa (m) Q = Debit aliran (m3/detik)

2.10.1 Perhitungan Diameter Pipa Transmisi Dalam melakukan perhitungan diameter pipa transmisi digunakan persamaan Hazen-William,yaitu sebagai berikut:

Dimana : Q = Kapasitas kebutuhan maksimum per hari (m3/det) C = Koefisien kekasaran pipa menurut Hazen Wlliam D = Diameter pipa (m) S = Slope / kemiringan muka tanah

Nilai koefisien kekasaran pipa menurut Hazen-William dapat dilihat pada Tabel 2.24. Tabel 2.24 Koefisien Hazen-William Nilai CH 140 130 120 110 100 95 60-80 Jenis Pipa Pipa sangat halus Pipa halus, semen, besi tuang baru Pipa baja dilas baru Pipa baja dikeling baru Pipa besi tuang tua Pipa besi dikeling tua Pipa besi tua

Sumber : Bambang Triatmodjo

Besarnya kapasiitas air yang dialirkan melalui pipa transmisi diambil dari kebutuhan maksimum perhari pada tahun perencanaan terakhir yaitu sebesar 0.067 m/detik. Pada rancangan penyediaan air bersih akan digunakan jenis pipa

21

besi tuang., karena ketahanan pipanya cukup kuat. Besi tuang memiliki koefesien kekasaran 100. Berikut ini adalah contoh perhitungan sisa tekan (head loss) pada saat air dibawa dari intake ke reservoir. 2.10.1.1 Analisa Perhitungan dari Intake ke IPA Diketahui : Panjang jalur pipa transmisi 46 m (x), beda kontur dari intake ke IPA sebesar 2 m (y). Panjang pipa sesungguhnya dapat dicari menggunakan rumus berikut: ( )

Dimana : X=panjang jalur pipa transmisi yang diukur pada peta (m) Y= beda kontur antara intake dan reservoir L=panjang pipa sesungguhnya (m) Dari panjang pipa ini maka dapat dicari panjang Ekuivalen pipa transmisi dengan cara mengalikan panjang pipa sesungguhnya (L) dengan head loss yang diakibatkan oleh minor dan mayor dengan asumsi kehilangan mayor 100% dan minor 10%, sehingga total kehilangan head loss sebesar 110%.

Mencari kemiringan muka tanah dapat menggunakan rumus : H (awal) = 3 m + 2 m = 5 m H (akhir) = 3 m H =2m

Untuk mengetahui seberapa besar diameter yang diperlukan untuk mengalirkan debit sebesar 0.067 m/detik, dapat dilakukan dengan rumus berikut :

22

D = 0.20 m 7.72 In 8 in Dari perhitungan diketahui untuk mengalirkan debit sebesar 0.067 m/detik diperlukan pipa yang berdiameter 7.72 In pembulatan 8 in, di pasaran pipa yang ada berukuran 2 In, 6 In, 8 In untuk pipa jenis besi tuang.

a. Menghitung Head Loss Mayor Losses Dengan diameter sebesar 0.26 dapat dicari seberapa besar head losse (mayor losses) yang terjadi. Perhitungan dapat dilihat sebagai berikut :

Jadi, untuk menghitung sisa tekanan pada pipa transmisi adalah : Sisa tekan = Hawal-H akhir-H mayor ( )

b. Menghitung Daya Pompa

Dimana : D = kerapatan air (kg/m3) g = percepatan gravitasi (m/detik2) Q = debit air yang dipompa (m3/detik) H = total head (m) P = Daya Pompa

P e p e pt em

23

c. Daya yang diperlukan oleh pompa

Dimana : ep = efisiensi pompa (0,7 0,95 untuk pompa resiprokal dan 0,4 0,85 untuk pompa sentrifugal) ept = efisiensi transmisi daya, bila pompa sudah dikopel dengan motor listrik m ept = 1; em = efisiensi motor pompa. P = Daya Pompa (watt)

2.10.1.2 Analisa Perhitungan dari IPA ke Reservoir - Diasumsikan jarak antara IPA ke Reservoir adalah 34 m (x) - Diasumsikan selisih muka air antara IPA ke reservoir adalah 10 m (y) Panjang pipa sesungguhnya dapat dicari menggunakan rumus berikut:

Dimana : X=jarak IPA ke Reservoir (m) Y= selisih muka air antara ipa dan reservoir L=panjang pipa sesungguhnya (m) Dari panjang pipa ini maka dapat dicari panjang Ekuivalen pipa transmisi dengan cara mengalikan panjang pipa sesungguhnya (L) dengan head loss yang diakibatkan oleh minor dan mayor dengan asumsi kehilangan mayor 100% dan minor 10%, sehingga total kehilangan head loss sebesar 110%.

=38.98 m a. Mayor Losses Dengan asumsi diameter yang akan digunakan untuk transmisi dari IPA ke Reservoir sama dengan diameter yang dipakai untuk transmisi dari Intake ke

24

IPA yaitu, sebesar 0,0521 dapat dicari seberapa besar head losse (mayor losses) yang terjadi. Perhitungan dapat dilihat sebagai berikut :
( )

Menghitung daya pompa dari IPA ke Reservoir H = Hs + Hf


( Hf didapat dari menjumlahkan nilai mayor losses dan minor losses)

= 10 + (1.23+0) = 10 + 1.23 = 11.23 m

D = 0.75 kw

Sisa tekanan pompa yang ada di ujung pipa masuk ke bak reservoir : = 10 m ( = 8.77 m Jadi, pompa dengan head = 10 m dan daya 0.75 kw dapat dipakai dan pipa dengan diameter 8 in memenuhi karena Hf = 8.77 m < Hpompa = 10 m. 2.11 Reservoir Reservoir adalah tempat penyimpanan air hasil produksi untuk sementara waktu sebelum didistribusikan ke daerah pelayanan (konsumen). Hal ini dimaksudkan agar kontinuitas antara kaporit dengan air bersih berlangsung minimal 30 menit. Dari reservoir, dengan sistem pompa maupun gravitasi air didistribusikan ke penduduk. Sebelum air masuk ke reservoir, air baku dari intake diolah terlebih dahulu di Instalasi Pengolahan Air (IPA). Hal ini dimaksudkan agar air yang akan didistribusikan telah cukup bersih dan bebas dari zat-zat pencemar lainnya. Jarak reservoir dari intake adalah 50 meter dan pada ketinggian +10,00 meter di atas permukaan laut. Dari reservoir nantinya yang akan langsung didistribusikan ke rumah-rumah penduduk dan sebagian akan disimpan sebagai cadangan. 0) m

25

2.12. Sistem Reservoir Bangunan reservoir ini akan dibangun di atas permukaan tanah dengan ketinggian tertentu sehingga tekanan air pada titik terjauh masih dapat tercapai. Bangunan seperti ini biasa disebut dengan Elevated Reservoir. Fungsi reservoir, yaitu: Penyimpanan (storage), untuk melayani fluktuasi pemakaian per jam, cadangan air untuk pemadam kebakaran, pelayanan darurat, akibat putus sumber, transmisi atau kerusakan pada bangunan pengolahan air. Pemerataan aliran dan tekanan (equalizing), biasanya akibat variasi pemakaian di dalam daerah distribusi. Kapasitas reservoir dapat dihitung dengan memasukkan faktor Q harian maksimum sebagai pertimbangan untuk menyimpan cadangan air pada reservoir. Sedangkan Q puncak harian digunakan untuk pertimbangan meratakan tekanan. Dik: 15% - 20% dari Q harian max untuk menyimpan cadangan 12% - 15% dari Q puncak harian untuk meratakan tekanan Q harian max = 67 liter/detik x 3600 detik/jam x 24 jam x 1 hari = 5.788.800 liter/hari. Q harian puncak = 91 liter/detik x 3600 detik/jam x 24 jam x 1 hari = 7.862.400 liter/hari. Pada Kota Paristi digunakan reservoir sebagai alternatif menyimpan cadangan air, karena tekanan telah dikendalikan oleh bak pelepas tekan yang terdapat pada pipa transmisi. Maka,

Q harian max = 20% x 5.788.800 = 1.157.760 1.157,76 m3 ,

Jadi kapasitas reservoir dapat dibangun dengan ukuran yaitu: 13 m x 11 m x 8 m.

13 26

11

13 Gambar 2.5. Sketsa Dimensi Reservoir Sebuah reservoir akan dibuat berbentuk persegi panjang dengan panjang 13 meter, lebar 11 meter dan tinggi 8 meter untuk menampung dan meyimpan cadangan air di Kota Paristi dimana struktur bangunannya dibuat dari campuran beton bertulang dengan tebal dindingnya 10 cm. Air akan dialirkan dari reservoir memanfaatkan bantuan pompa kepada penduduk Kota Paristi. 2.13 Definisi Sistem Distribusi Air Bersih Sistem distribusi air bersih adalah pendistribusian atau pembagian air melalui sistem perpipaan dari bangunan pengolahan (reservoir) ke daerah pelayanan (konsumen) pada Kota Paristi. Jaringan perpipaan distribusi akan dibangun secara menyeluruh pada desa tersebut, tapi pendistribusian airnya kepada masyarakat hanya mencapai 80% pada tahun 2037. Dalam perencanaan sistem distribusi air bersih disini, beberapa faktor yang harus diperhatikan antara lain adalah : 1. Daerah layanan sekitar 80% dari total keseluruhan desa dan jumlah penduduk yang akan dilayani adalah 2285 jiwa sampai pada tahun 2035. 2. Kebutuhan air. Kebutuhan air adalah debit air yang harus disediakan untuk distribusi daerah pelayanan adalah sebanyak 5.255.226 liter/hari. 2.14 Pipa Distribusi Pipa distribusi adalah pipa yang membawa air ke konsumen yang terdiri dari : 1. Pipa Induk: yaitu pipa utama pembawa air yang akan dibagikan ke pada konsumen. 2. 3. Pipa Cabang: yaitu pipa cabang dari pipa induk. Pipa Dinas: yaitu pipa pembawa air yang langsung melayani konsumen

27

2.15

Tipe Pengaliran Tipe pengaliran sistem distribusi air bersih meliputi Aliran Pemompaan.

Tipe pengaliran secara gravitasi diterapkan bila tekanan air pada titik terjauh yang diterima konsumen masih mencukupi. Jika kondisi ini tidak terpenuhi pengaliran harus menggunakan sistem pemompaan. Pada Kota Paristi, tipe pengaliran distribusi menggunakan pompa karena elevasi pada kota ini datar.

2.16 Pola Jaringan Macam pola jaringan sistem distribusi air bersih : 1. Sistem Cabang Sistem cabang adalah sistem pendistribusi air bersih yang bersifat terputus membentuk cabang - cabang sesuai dengan daerah pelayanan. Keuntungan : - Tidak membutuhkan perhitungan dimensi pipa yang rumit karena debit dapat dibagi berdasarkan cabang-cabang pipa pelayanan. - Untuk pengembangan daerah pelayanan lebih mudah karena hanya tinggal menambah sambungan pipa yang telah ada. Kerugian : - Jika terjadi kebocoran atau kerusakan pengaliran pada seluruh daerah akan terhenti. - Pembagian debit tidak merata. - Operasional lebih sulit karena antara pipa yang satu dengan yang lain saling berhubungan. 2. Sistem Loop Sistem loop adalah sistem perpipaan melingkar dimana ujung pipa yang satu bertemu kembali dengan ujung pipa yang lain. Keuntungan : - Debit terbagi merata karena perencanaan diameter berdasarkan pada jumlah kebutuhan total. - Jika terjadi kebocoran atau kerusakan atau perubahan diameter pipa maka hanya daerah tertentu yang tidak mendapat pengaliran, sedangkan untuk daerah yang tidak mengalami kerusakan aliran air tetap berfungsi. - Pengoperasian jaringan lebih mudah. Kerugian :

28

- Perhitungan dimensi perpipaan membutuhkan kecermatan agar debit yang masuk pada setiap pipa merata.

Pola yang digunakan pada jaringan distribusi ini menggunakan sistem cabang, karena pengembangan daerah pelayanan lebih mudah dan hanya tinggal menambah sambungan pipa yang telah ada. Berikut ini adalah Tabel 2.25 hasil perhitungan Total Suplay Air sistem cabang untuk Kota Paristi.

Tabel 2.25 Total Suplay Air sistem cabang Kota Paristi Debit (L/det) 57.67 0.55 45.22 6.51 0.54 0.17 0.04 0.30 4.33 Kebocoran Persentase Losses (%) (L/det) 30% 17.30 30% 0.17 30% 13.57 30% 1.95 30% 0.16 30% 0.05 30% 0.01 30% 0.09 30% 1.30 Faktor Puncak (%) 115% 115% 115% 115% 115% 115% 115% 115% 115% Total Suplai Air (L/det) 86.21 0.82 67.61 9.73 0.80 0.26 0.07 0.45 6.48

Jalur R-A A-A1 A-B B-B1 B-C C-C1 C-D D-D1 D-E

Panjang (m) 40 266 102 368 110 134 60 320 194

Sumber: Hasil Analisis

Dari data hasil analisis diatas, dapat diketahui debit yang harus dipenuhi oleh reservoir sebelum didistribusikan ke jalur-jalur yang ada adalah sebesar 57.67 L/det agar pelayanan kebutuhan air di Kota Paristi terpenuhi. Untuk lebih jelasnya (headloss pada setiap pipa dan kecepatan aliran di setiap pipa, diameter pipa ) dapat dilihat pada Tabel 2.26.

29

Tabel 2.26 Perhitungan H. Avalibe (Sisa Tekan Total) Debit Jalur R-A A-A1 A-B B-B1 B-C C-C1 C-D D-D1 D-E (L/det) 57.67 0.55 45.22 6.51 0.54 0.17 0.04 0.30 4.33 Debit tiap titik (L/det) 111.33 53.11 1.38 0.67 0.33 Diameter pipa (m) 0.38 0.04 0.34 0.13 0.04 0.02 0.01 0.03 0.11 Jarak (m) 40 266 102 368 110 134 60 320 194 Headloss (m) 0.013 0.887 0.038 0.357 0.371 0.802 0.704 1.445 0.231 Diameter Revisi (m) 0.405 0.050 0.350 0.140 0.050 0.025 0.013 0.038 0.125 Kecepatan (m3/s) 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 HF (m) 0.012 0.664 0.036 0.328 0.275 0.669 0.599 1.052 0.194 HL (m) 0.002 0.133 0.007 0.066 0.055 0.134 0.120 0.210 0.039 H. Avalibe (m) 0.015 0.797 0.044 0.394 0.330 0.803 0.719 1.262 0.233

Sumber : Hasil Analisis

30

BAB III LAYOUT SISTEM 3.1 Skema Penyebaran Air bersih


( R )Hl = 131.501 m Q = 57.67 l/det

L = 40 m Hl = 0.015 = 16 inc (A) Hl = 131.501 m Hl = 0.394 = 14 inc Q = 45.22 Q = 57.67 l/det

A1 (35 m) L = 266 m

Hl = 0.797 = 2 inc Q = 0.555

B1 (50 m) L = 368 m Hl = 0.062 = 5.5 inc Q = 36.51

(B) Hl = 103.599m L = 102 m

Hl = 0.330 = 2 inc Q = 0.54

( C ) Hl =83.905 m L =110 m

C1 ( 35 cm) L = 134 m

Hl = 0.803 = 1 inc Q = 0.17

Hl = 0.719 = 0.5 inc Q = 0.04

(D) Hl = 55.794 m L = 60 m

D1 ( 35 cm) L =320 m

Hl = 0.180 = 1.5 inc Q = 0.30

Hl = 0.233 = 9 inc Q = 4.33

(E) Hl = 50 m L = 194 m