Anda di halaman 1dari 4

PENANGANAN BECAK BERMOTOR PADA SATUAN LALU LINTAS POLRES LAMONGAN DALAM RANGKA MEWUJUDKAN KAMSELTIBCAR LANTAS

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Permasalahan Kilas pandang perkembangan becak bermotor baik yang ada di Lamongan maupun daerah daerah lain seperti Medan. Gorontalo, Kediri dsb. Berdasarkan fakta dan berita di berbagai media. Dampak adanya becak bermotor di wilayah Kab. Lamongan. Kritikan dan opini public ( tokoh yang berbicara maupun kutipan berita ). Kondisi kamseltibcar lantas di wilayah Kab. Lamongan. Kondisi secara umum Satuan lalu lintas Polres Lamongan. Adanya Kesenjangan antara kondisi hukum positif dengan kondisi factual dilapangan semakin maraknya operasionalisasi becak motor ( kebijakan lisan dari Bupati dijadikan sebagai icon kabupaten Lamongan dan ingin memanusiakan masyarakat pengayuh becak, masuk dalam APBD tetapi belum masuk dalam Perda, adanya dukungan dari akademisi ITS Surabaya yang diusung oleh Dishub ) sehingga diperlukan penanganan Polri secara umum ( didasarkan pada pengalaman daerah lain ) yang kemudian diarahkan ke penaganan sat lantas Polres Lamongan. Uraian ditutup dengan penegasan permasalahan, dilihat dari kesenjangan dilapangan perlu penanganan khusus oleh satuan lalu lintas Polres Lamongan terhadap becak bermotor yang menjadi maksud dan tujuan penelitian

1.2 Perumusan Permasalahan Keberadaan becak motor belum diatur dalam hukum positif perundang undangan Indonesia, tetapi kenyataan dilapangan keberadaannya semakin bertambah sehingga perlu penanganan khusus oleh sat lantas polres Lamongan yang kemudian dirumuskan dalam sebuah permasalahan. Persoalan : a. Bagaimanakah gambaran umum perkembangan becak bermotor di kab. Lamongan? b. Bagaimanakah penegakan hukum becak motor oleh sat lantas Polres Lamongan? c. Faktor factor apa sajakah yang menjadi kendala ? d. Upaya untuk mengatasi kendala tersebut ?

1.3 Tujuan Penelitian Berusaha menggali dan mengungkap penanganan becak bermotor oleh sat lantas Polres Lamongan dalam menghadapi kesenjangan dilapangan ( yang direumuskan dalam sebuah rumusan permasalahan ). Dapat memberikan ide / gagasan baru sebagai pedoman pelaksanaan yang efektif

1.4 Manfaat Penelitian a. Manfaat Teoritik - Memberikan saran dan masukan - Indicator sbg bahan analisa dan evaluasi atas penegakkan becak motor dilapangan yang di harapkan keberadaannya dapat bermanfaat bagi masyarakat dalam mewujudkan kamseltibcar lantas b. Manfaat Praktis - Sebagai sumber bacaan dan informasi tentang penegakkan hukum becak bermotor sehingga dapat mengembangkan program Polri dalam rangka pengendalian social gu8na menciptakan Kamseltibcar lantas. - Dapat diperoleh penanganan yang paling efektif dalam menangani masalah keberadaan becak bermotor

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kepustakaan Penelitian - Jurnal Ilmiah - Penelitian sebelumnya - Dari tingkatan akademisi ( ITS ) yang diusung oleh Dishub Lamongan

2.2 Kepustakaan Konseptual - Konsep pelanggaran pidana lalu lintas ( UU No 22 / 2009 ) - Konsep Diskresi Kepolisian ( pasal 18 UU No 2 / 2002 ) dan oleh Thomas J. Aaron - konsep Teori Manajemen - Konsep Hukum Hanz Kelsen - Konsep kebutuhan sosiologi hukum oleh Wayne La Faure Rascoe Pond - Konsep sosiologi hukum oleh Prof. Dr. Soerjono Soekanto - Konsep control social oleh Albert J. Reiss - Konsep pasal 14 UU No 2 / 2002 tentang kewenangan lain Polri - Konsep Community Policing

2.3 Kerangka Berpikir

BAB III RANCANGAN PENELITIAN

3.1 Pendekatan dan Metodologi Penelitian - Pedekatan kualitatif - Metode penelitian - > Studi Kasus - Instrumen penelitian - > peneliti sendiri - Studi Kasus ini dilakukan pada pelaksanaan pembatasan beat wilayah operasional becak bermotor.

3.2 Sumber Data / Informasi - Informan yang dipilih

3.3 Tekhnik Pengumpulan Data a. Observasi b. Studi Dokumen c. Wawancara d. Angket

3.4 Tekhnik Analisa Data

3.5 Jadwal Penelitian