Anda di halaman 1dari 38

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Komunikasi berasal dari kata Latin yaitu communication, dan bersumber dari kata communis yang berarti sama. Sama di sini maksudnya adalah sama makna. Menurut Carl I.Hovland, komunikasi ialah proses mengubah prilaku orang lain. Dan untuk memahami pengertian komunikasi sehingga dapat dilancarkan secara efektif Harold Lasswell menyatakan bahwa cara yang baik untuk menjelaskan komunikasi ialah menjawab pertanyaan sebagai berikut: who says what in which channel to whom with what effect?. Paradigma Lasswell menunjukkan bahwa komunikasi meliputi lima unsur sebagai jawaban dari pernyataan yang diajukan itu, yakni: komunikator, pesan, media, komunikan, efek. Jadi, berdasarkan paradigma Lasswell tersebut, komunikasi adalah proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan melalui media yang menimbulkan efek tertentu. Sendjaja (1994) menyatakan fungsi komunikasi adalah sebagai berikut: 1. Fungsi informatif. Organisasi dapat dipandang sebagai suatu sistem pemrosesan informasi. Maksudnya, seluruh anggota dalam suatu organisasi berharap dapat memperoleh informasi yang lebih banyak, lebih baik dan tepat waktu. Informasi yang didapat memungkinkan setiap anggota organisasi dapat melaksanakan pekerjaannya secara lebih pasti. Orang-orang dalam tataran manajemen

membutuhkan informasi untuk membuat suatu kebijakan organisasi ataupun guna mengatasi konflik yang terjadi di dalam organisasi. Sedangkan karyawan (bawahan) membutuhkan informasi untuk melaksanakan pekerjaan, di samping itu juga informasi tentang jaminan keamanan, jaminan sosial dan kesehatan, izin cuti, dan sebagainya. 2. Fungsi regulatif. Fungsi ini berkaitan dengan peraturan-peraturan yang berlaku dalam suatu organisasi. Terdapat dua hal yang berpengaruh terhadap fungsi regulatif, yaitu: a. Berkaitan dengan orang-orang yang berada dalam tataran manajemen, yaitu mereka yang memiliki kewenangan untuk mengendalikan semua informasi yang disampaikan. Juga memberi perintah atau intruksi supaya perintah-perintahnya dilaksanakan sebagaimana semestinya. b. Berkaitan dengan pesan. Pesan-pesan regulatif pada dasarnya berorientasi pada kerja. Artinya, bawahan membutuhkan kepastian peraturan tentang pekerjaan yang boleh dan tidak boleh untuk dilaksanakan. 3. Fungsi persuasif. Dalam mengatur suatu organisasi, kekuasaan dan kewenangan tidak akan selalu membawa hasil sesuai dengan yang diharapkan. Adanya kenyataan ini, maka banyak pimpinan yang lebih suka untuk mempersuasi bawahannya daripada memberi perintah. Sebab pekerjaan yang dilakukan secara sukarela oleh karyawan akan menghasilkan kepedulian yang lebih besar dibanding kalau pimpinan sering memperlihatkan kekuasaan dan kewenangannya.

4. Fungsi integratif. Setiap organisasi berusaha untuk menyediakan saluran yang memungkinkan karyawan dapat melaksanakan tugas dan pekerjaan dengan baik. Ada dua saluran komunikasi yang dapat mewujudkan hal tersebut, yaitu: a. Saluran komunikasi formal seperti penerbitan khusus dalam organisasi tersebut (buletin, newsletter) dan laporan kemajuan organisasi. b. Saluran komunikasi informal seperti perbincangan antar pribadi selama masa istirahat kerja, pertandingan olahraga, ataupun kegiatan darmawisata. Pelaksanaan aktivitas ini akan menumbuhkan keinginan untuk berpartisipasi yang lebih besar dalam diri karyawan terhadap organisasi. Bank syariah SUMUT adalah merupakan salah satu lembaga atau suatu

organisasi yang berprinsip Syariah atau prinsip hukum Islam dalam kegiatan perbankan (penyimpanan dana dan pembiayaan kegiatan usaha, atau kegiatan lainnya) berdasarkan fatwa yang dikeluarkan oleh lembaga Dewan Syariah Nasional (DSN) yang memiliki kewenangan dalam penetapan fatwa di bidang syariah. Perbankan syariah atau Perbankan Islam adalah suatu sistem perbankan yang dikembangkan berdasarkan syariah (hukum) Islam. Usaha pembentukan sistem ini didasari oleh larangan dalam agama Islam untuk memungut maupun meminjam dengan bunga atau yang disebut dengan riba serta larangan investasi untuk usahausaha yang dikategorikan haram (misal: usaha yang berkaitan dengan produksi makanan/minuman haram, usaha media yang tidak Islami dan lain-lain), dimana hal

ini tidak dapat dijamin oleh sistem perbankan konvensional, Jadi kegiatannya tidak lepas dari nuansa Islam. Bank Syariah adalah Bank yang menjalankan kegiatan usahanya berdasarkan Prinsip Syariah dan menurut jenisnya terdiri atas Bank Umum Syariah dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah. Bank Umum Syariah adalah Bank Syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. (UU No. 21 tahun 2008 tentang Perbankan Syariah). PT Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara, disingkat PT.Bank SUMUT (selanjutnya disebut "Bank"), merupakan bank non devisa yang kantor pusatnya beralamatkan di Jalan Imam Bonjol No. 18 Medan. Bank didirikan di Medan berdasarkan akta notaris Rusli No. 22 tanggal 04 Nopember 1961 dalam bentuk Perseroan Terbatas. Berdasarkan UU No. 13 tahun 1962 tentang ketentuan pokok Bank Pembangunan Daerah dan sesuai dengan Peraturan Daerah Tingkat I Sumatera Utara No. 5 tahun 1965 bentuk usaha diubah menjad Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Pada tanggal 16 April 1999, akta Notaris Alina Hanum Nasution. S.H, No 38, menyatakan bahwa bentuk usaha kembali menjadi Perseroan Terbatas. Akta Pendirian ini disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia berdasarkan Surat Keputusan No. C-8224 HT.01.01 TH.99 tanggal 05 Mei 1999 serta diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No. 54 tanggal 06 Juli 1999 Tambahan No. 4042.

Anggaran dasar Bank telah beberapa kali mengalami perubahan, terakhir dengan akta No. 39 tanggal 10 Juni 2008 dan akta penegasan No. 05 tanggal 10 September 2008 Notaris H. Marwansyah Notaris, S.H, mengenai penambahan modal dasar dari Rp 500.000.000.000 menjadi Rp 1.000.000.000.000. Perubahan anggaran dasar ini telah mendapat persetujuan dari Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dengan keputusannya No. AHU-87927.A.H.01.02 tanggal 20 Nopember 2008 serta diumumkan dalam berita Negara Republik Indonesia No. 10 tanggal 3 Februari 2009 Tambahan No. 3023. Usaha Syariah yang mulai beroperasi pada tanggal 4 Novemper 2004 terus menunjukan perkembangan yang pesat. Pada Desember tahun 2007 Bank Sumut Unit Usaha Syariah masih mengalami kerugian sebesar (Rp. 5,81 Milyar) dan pada bulan Desember tahun 2008 telah berlaba sebesar Rp. 7,82 Milyar. Hingga akhir Desember 2008 total asset Bank Sumut Unit Usaha Syariah sebesar Rp. 383,21 Milyar, apabila dibandingkan dengan tahun 2007 sebesar Rp. 214,42 Milyar atau mengalami pertumbuhan sebesar 78,72 %, dan sampai tahun ini juga tetap mengalami peningkatan. Bank yang dalam kamus Bahasa Indonesia Modren berarti tempat menyimpan uang dimana bank merupakan sebuah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat (Ali, 1980 : 26). Maka inti dari usaha dunia perbankan adalah masyarakat (nasabah). Karenanya sebuah bank dikatakan kuat apabila memiliki kepercayaan dari masyarakat. namun sekuat apapun bank yang dimaksud, jika

masyarakat (nasabah) kehilangan kepercayaan, bank apapun namanya dan dimana pun tempatnya di dunia serta siapapun pemiliknya tidak akan dapat bertahan hidup. Dalam hal ini bank juga harus menyadari apa yang menjadi tugas utamanya, yaitu memenuhi kebutuhan nasabah-nasabahnya dan berusaha memuaskan mereka atau memberikan pelayanan yang baik kepada mereka. Selain itu juga bank harus pula membina hubungan baik yang dinamis dan harmonis selain itu juga diperlukan komunikasi yang efektif. Dari konsep ideal dan fenomena dapat kita ambil bahwa Komunikasi dalam organisasi merupakan suatu cara untuk melakukan perubahan, mendorong dan mempertinggi motivasi, serta alat untuk mencapai tujuan. Sehingga penulis tertarik untuk meneliti yang diberi judul EFEKTIVITAS KOMUNIKASI BANK SYARIAH SUMUT JALAN KARYA KELURAHAN SEI AGUL DALAM MENINGKATKAN NASABAH DI KOTA MEDAN.

B. Batasan Istilah Untuk menghindari terjadinya kesalah pahaman dalam memahami judul proposal ini maka penulis akan memberi batasan istilah disekitar judul ini: 1. Komunikasi berfokus pada komunikasi organisasi eksternal yang sesuai dengan syariah (hukum) Islam 2. Meningkatkan Nasabah yaitu pemasaran Bank Syariah SUMUT Jl.Karya Kelurahan Sei Agul untuk menarik masyarakat dikota Medan.

C. Rumusan Masalah Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: 1. Bagaimanakah bentuk atau model komunikasi Bank Syariah SUMUT Jl.Karya Kelurahan Sei Agul dalam meningkatkan nasabah dikota Medan. 2. Bagaimana proses komunikasi Bank Syariah SUMUT Jl.Karya Kelurahan Sei Agul dalam meningkatkan nasabah dikota Medan. 3. Apa hambatan komunikasi Bank Syariah SUMUT Jl.Karya Kelurahan Sei Agul dalam mencapai efektifitas komunikasi untuk meningkatkan nasabah dikota Medan.

D. Tujuan Penelitian Adapun tujuan penelitian ini adalah: 1. Untuk mengetahui bentuk atau model komunikasi Bank SUMUT Jl.Karya Kelurahan Sei Agul dalam meningkatkan nasabah dikota Medan. 2. Untuk mengetahui proses komunikasi Bank Syariah SUMUT Jl.Karya Kelurahan Sei Agul dalam meningkatkan nasabah dikota Medan. 3. Untuk mengetahui hambatan komunikasi Bank Syariah SUMUT Jl.Karya Kelurahan Sei Agul dalam mencapai efektifitas komunikasi untuk meningkatkan nasabah dikota Medan.

E. Kegunaan Penelitian 1. Secara teoritis, penelitian ini diharapkan mampu untuk memperkaya khasanah penelitian dan dapat memperluas cakrawala pengetahuan peneliti dalam bibang ilmu komunikasi. 2. Secara akademis, penelitian ini dapat disumbangkan kepada IAIN SU khususnya Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam dalam rangka memperkaya bahan penelitian dan sumber bacaan. 3. Secara praktis, melalui penelitian ini dapat diketahui apakah efektifitas komunikasi organisasi dalam pemasaran dapat meningkatkan nasabah sehingga asset bank tersebutpun meningkat.

BAB II
LANDASAN TEORITIS

A. Komunikasi Bank Syariah Sumut Komunikasi Bank Syariah Sumut terdiri dari kata komunikasi dan Bank Syariah Sumut. Komunikasi berasal dari bahasa latin yaitu comunis yang artinya membuat kebersamaan atau membangun kebersamaan dua orang atau lebih, koomunikasi juga berasal dari akar kata dalam bahasa latin communico yang artinya membagi. Sekelompok serjana komunikasi peneliti Amerikamemberikan defenisi komounikasi adalah suatu transaksi, proses simbolik yang menghendaki orang-orang mengatur lingkungannya dengan membangun hubungan antara manusia, melalui pertukaran informasi, untuk menguatkan sikap dan tingkah laku orang lain, serta merubah sikap dan tingkah lakunya. Everett M. Rogers pakar sosiologimemberi defenisi proses dimana suatu ide dialihkan dari satu sumber kepada suatu penerima atau lebih, dengan maksud untuk merubah tingkah laku mereka (Cangara,1998;18). Bank Syariah adalah suatu organisasi atau lembaga yang menjalankan kegiatan usahanya berdasarkan Prinsip Syariah. Sedangkan Prinsip Syariah adalah prinsip hukum Islam dalam kegiatan perbankan (penyimpanan dana dan/atau pembiayaan kegiatan usaha, atau kegiatan lainnya) berdasarkan fatwa yang dikeluarkan oleh lembaga Dewan Syariah Nasional (DSN) yang memiliki

kewenangan dalam penetapan fatwa di bidang syariah. Bank Syariah menganut prinsip-prinsip sebagai berikut: 1. Prinsip Keadilan Prinsip ini tercermin dari penerapan imbalan atas dasar bagi hasil dan pengambilan margin keuntungan yang disepakati bersama antara Bank dan Nasabah 2. Prinsip Kemitraan Bank Syariah menempatkan nasabah penyimpanan dana, nasabah pengguna dana, maupun Bank pada kedudukan yang sama dan sederajat dengan mitra usaha. Hal ini tercermin dalam hak, kewajiban, resiko dan keuntungan yang berimbang di antara nasabah penyimpan dana, nasabah pengguna dana maupun Bank. 3. Prinsip Keterbukaan Melalui laporan keuangan bank yang terbuka secara berkesinambungan, nasabah dapat mengetahui tingkat keamanan dana dan kualitas manajemen bank 4. Universalitas Bank dalam mendukung operasionalnya tidak membeda-bedakan suku, agama, ras dan golongan agama dalam masyarakat dengan prinsip Islam sebagai rahmatan lil'alamiin.

10

Bank syariah SUMUT mempunyai visi Menjadi bank andalan untuk membantu dan mendorong pertumbuhan perekonomian dan pembangunan daerah di segala bidang serta sebagai salah satu sumber pendapatan daerah dalam rangka peningkatan taraf hidup rakyat, dengan Misi Mengelola dana pemerintah dan masyarakat secara professional yang didasarkan pada prinsip-prinsip compliance. Yang berdasarkan Al-Quran suroh Ali-Imran ayat 2 yang artinya; '...Dan, tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan)kebajikan dan taqwa, dan janganlah kamu tolong menolong dalam (mengerjakan )dosa dan permusuhan...(Qs.Ali-Imran:2).

B. Bentuk atau Model Komunikasi Para ahli menyebutkan banyak tentang bentuk atau model komunikasi sesuai latar belakang disiplin ilmu masing-masing. Komunikasi yang sudah menjadi satu disiplin ilmu tersendiri, Setewart L. dan Sylvia menjelaskan tiga model komunikasi. Pertama model komunikasi lenier yaitu model komunikasi satu arah, dimana komunikator memberikan satu stimulus dan komunikan memberikan satu respon atau tanggapan yang diharapkan, tanpa mengadakan seleksi dan intervertasi, seperti teori jarum hipedermik, asumsi-asumsi teori ini yaitu ketika seseorang mempersuasi orang lain maka ia menyuntikkan satu sampul persuasi kepada orang lain itu, sehingga orang lain tersebut melakukan apa yang dikehendaki. Kedua model komunikasi dua arah yaitu komunikasi interaksional, merupakan kelanjutan dari pendekatan linier. Pada model ini terjadi umpan balik gagasan, ada pengirim yang mengirimkan informasi dan ada penerima yang

11

melakukan seleksi. Interpretasi dan memberikan respon balik pesan dari pengirim, dengan demikian komunikasi terjadi dalam dua arah, sedangkan dalam setiap partisipan memiliki pesan ganda, dimana pada suatu waktu bertindak sebagai sender, sedangkan pada waktu yang lain berlaku sebagai receiver, terus seperti itu sebaliknya. Ketiga model interaksional yaitu komunikasi yang hanya dilakukan dalam konteks hubungan diantara dua orang atau lebih. Proses komunikasi ini menekankan semua perilaku adalah komunikatif dan masing-masing pihak yang terlibat dalam komunikasi memiliki konten pesan yang dibawanya, saling bertukar dalam interaksi. Model yang merupakan cara dalam menunjukkan dan menjelaskan suatu objek dimana di dalamnya dijelaskan secara kompelitisitas suatu proses, pemikiran dan hubungan antara unsure-unsur pendukungnya. Model juga bertujuan dibangun untuk dapat mengidentifikasi, menggambarkan suatu pandangan yang sama. Komunikasi tidak hanya sebatas kata-kata yang terucap melainkan bentuk apa saja dari interaksi, diterimanya pengertian yang sama adalah merupakan kunci dari komunikasi, tanpa mempunyai pemahaman dan pandangan yang sama terhadap kegunaan dan manfaat bank Syariah Sumut sulit terjadi hubungan yang erat antara nasabah dan bank tersebut. Salah satu model komunikasi untuk menggambarkan proses komunikasi adalah model sirkular yang dikenalkan oleh Osgood dan Schramm (1954). Model yang menggambarkan komunikasi sebagai proses dinamis dimana pesan diteransit melalui proses enconding dan decoding, hubungan antara keduanya merupakan

12

hubungan antara sumber pesan dengan penerima pesan secara simultan dan saling memberikan pengaruh antara satu sama yang lain (Cangara,2005;44). Bentuk komunikasi yang merupakan suatu sistim yang ditimbulkan reaksi dalam interaksi penyampaian pesan melalui lambing tersebut , baik itu secara verbal, non verbal, ataupun melalui komunikasi massa yang mengandung arti dan bisa berperan dalam merangsang untuk merubah fikiran dan tingkah laku individu lain. Komunikasi sebagai interaksi baik itu komunikasi interpersonal, komunikasi organisasi atau kelompok, dan komunikasi public sangat biasa dilakukan namun semua bentuk komunikasi yang biasa dilakukan seorang komunikator harus mampu menempatkan cara yang tepat sesuai dengan kondisi yang ada demi mendapatkan efek ataupun tujuan yang diharapkan.

C. Proses Komunikasi Organisasi Proses komunikasi dalam kehidupan organisasi terbagi dua yaitu komunikasi antara pimpinan dengan bawahan secara timbal-balik di dalam organisasi (komunikasi internal), dan komunikasi antara pimpinan organisasi dengan khalayak di luar organisasi (komunikasi eksternal). Tetapi dalam penelitian ini penulis meneliti komunikasi organisasi dalam komunikasi eksternalnya. Komunikasi eksternal ialah komunikasi antara pimpinan organisasi dengan instansi-instansi pemerintah seperti departemen, direktorat, jawatan, dan pada perusahaan-perusahaan besar. Disebabkan oleh luasnya ruang lingkup, maka

13

komunikasi lebih banyak dilakukan oleh kepala hubungan masyarakat (public relations officer) daripada oleh pimpinan sendiri (Onong Uchjana Effendy;1990). Yang dilakukan sendiri oleh pimpinan hanyalah terbatas pada hal-hal yang dianggap sangat penting, yang tidak bisa diwakili kepada orang lain, umpamanya perundingan (negotiation) yang menyangkut kebijakan organisasi. Yang lainnya dilakukan oleh kepala humas yang dalam kegiatan komunikasi eksternal merupakan tangan kanan pimpinan. Komunikasi eksternal terdiri atas dua jalur secara timbal-balik, yakni komunikasi dari organisasi kepada khalayak dan dari khalayak kepada organisasi (Drs.Onong Uchjana Effendy,1990:128). 1. Komunikasi dari Organisasi Kepada Khalayak Komunikasi dari organisasi kepada khalayak pada umumnya bersifat informatif, yang dilakukan sedemikian rupa sehingga khalayak merasa memiliki keterlibatan, setidak-tidaknya ada hubungan batin. Komunikasi dari organisasi kepada khalayak dapat melalui berbagai bentuk seperti: Majalah organisasi Press release Artikel surat kabar atau majalah Pidato radio Televisi Film dokumenter

14

Brosur Leaflet Poster Konferensi pers Pada zaman modern sekarang ini media massa memegang peranan

penting dalam penyebaran informasi untuk melancarkan komunikasi eksternal. Dibandingkan dengan komunikasi antarpersonal dan komunikasi kelompok, komunikasi massa mempunyai kelebihan dalam hal banyaknya komunikasi yang dapat dicapai. Kelemahannya ialah tidak terlihatnya mereka sehingga tidak dapat dikontrol apakah pesan yang dilancarkan diterima oleh mereka atau tidak. Yang jelas ialah bahwa media massa memiliki keampuhan untuk menyebarkan informasi karena dapat diterima oleh komunikan secara serempak dalam jumlah yang relative sangat banyak. 2. Komunikasi dari Khalayak Kepada Organisasi Komunikasi dari khalayak kepada organisasi merupakan umpan balik sebagai efek dari kegiatan komunikasi yang dilakukan oleh organisasi. Jika informasi yang disebarkan kepada khalayak itu menimbulkan efek yang sifatnya controversial (menyebabkan adanya yang pro dan kontra di kalangan khalayak), maka ini disebut opini publik (public opinion). Opini public ini sering kali merugikan organisasi, karena harus diusahakan agar segera dapat diatasi dalam arti kata tidak menimbulkan permasalahan.

15

D. Prinsip Komunikasi dalam Islam Bank Syariah SUMUT adalah suatu lembaga atau organisasi yang kegiatannya bardasarkan ajaran Islam dan dalam kegiatan komunikasi Islam, komunikator haruslah berpedoman kepada prinsip komunikasi yang digambarkan dalam Al-Quran dan Al-Hadits. Diantara prinsip komunikasi yang digariskan dalam Al-Quran dan Hadits (Syukur Kholil 2007:8), yaitu sebagai berikut: 1. Memulai pembicaraan dengan salam Komunikator sangat dianjurkan untuk memulai pembicaraan dengan mengucapkan salam, yaitu ucapan assalamualaikum. Keadaan ini

digambarkan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah haditsnya yang mempunyai arti; ucapkanlah salam sebelum kalam. 2. Berbicara dengan lemah lembut Komunikator dalam komunikasi Islam ditekankan agar berbicara secara lemah-lembut, sekalipun dengan orang-orang yang secara terang-terangan memusuhinya. hal ini antara lain ditegaskan dalam Al-Quran suroh Thaha ayat 43-44 yang artinya; pergilah kamu berdua kepada Firaun, sesungguhnya ia telah melampaui batas, maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah-lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut. Kemudian dalam suroh Ali-Imran ayat 159 juga dinyatakan; maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap

16

mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. 3. Menggunakan perkataan yang baik Disamping berbicara dengan lemah-lembut, komunikator dalam Islam juga mengharuskan menggunakan perkataan yang baik-baik yang dapat menyenangkan hati komunikan. Prinsip ini didasarkan kepada firman Allah dalam Al-Quran suroh Al-Israa ayat 53, yang artinya sebagai berikut: dan Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: "Hendaklah mereka mengucapkan Perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka.. (QS 17: 53) 4. Menyebutkan hal-hal yang baik tentang diri komunikan Komunikan akan merasa senang apabila disebut hal-hal yang baik tentang dirinya sehingga keadaan ini dapat mendorong komunikan untuk

melaksanakan pesan-pesan komunikasi sesuai dengan yang diharapkan komunikator. 5. Menggunakan hikmah dan nasehat yang baik Hikmah ialah Perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil. Prinsip menggunakan hikmah dan nasehat yang baik antara lain disebutkan dalam Al-Quran suroh An-Nahl ayat

17

125 yang artinya; Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik (QS.16: 125) 6. Berlaku adil Berlaku adil dalam berkomunikasi dinyatakan dalam suroh Al-Anam ayat 152 yang artinya; ..Dan apabila kamu berkata, Maka hendaklah kamu Berlaku adil, Kendatipun ia adalah kerabat(mu), dan penuhilah janji Allah (perintah-perintahnya). 7. Menyesuaikan bahasa dan isi pembicaraan dengan keadaan komunikan Prinsip ini dinyatakan dalam suroh An-Nahl ayat 125 yang artinya; Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik (QS.16: 125). Ayat ini mengisyaratkan tiga tingkatan manusia, yaitu kaum intelektual, masyarakat menengah, dan masyarakat awam yang harus diajak berkomunikasi sesuai dengan keadaan mereka. 8. Lebih dahulu mengatakan apa yang dikomunikasikan Dalam komunikasi Islam, komunikator dituntut melakukan terlebih dahulu apa yang disuruhnya untuk dilakukan orang lain. Karena Allah amat membenci orang-orang yang mengkomunikasikan sesuatu pekerjaan yang baik kepada orang lain yang ia sendiri belum melakukannya. Hal ini dikemukakan dalam Al-Quran suroh Ash-Shaff ayat 2-3 yang artinya;

18

Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (QS.61: 2-3) 9. Mempertimbangkan pandangan dan fikiran orang lain Pada lazimnya gabungan pandangan dan fikiran orang lain beberapa orang akan lebih baik dan bermutu dibandingkan dengan hasil pandangan dan pemikiran perseorangan. Karena itu dalam komunikasi Islam sangat dianjurkan bermusyawarah untuk mendapatkan pandangan dan pikiran dari orang banyak. Disamping itu, suatu kebijakan atau keputusan yang diambil dengan jalan musyawarah, secara psikologis dirasakan oleh sesuatu anggota masyarakat sebagai keputusan bersama dan tanggung jawab bersama yang harus dijalankan dengan sebaik-baiknya, seperti dalam suroh ayat Ali-Imran ayat 159, artinya; Dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu(QS. 3: 159). 10. Berdoa kepada Allah ketika melakukan kegiatan komunikasi yang berat Komunikator dianjurkan untuk berdoa kepada Allah manakalah melakukan kegiatan komunikasi yang dipandangnya berat, prinsip ini dikemukakan dalam Al-Quran ayat 25-28 yang artinya; Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, upaya mereka mengerti perkataanku. (QS.20: 25-28).

19

E. Faktor-Faktor Penunjang Komunikasi Efektif Yang dimaksud dengan komunikasi yang efektif, ialah komunikasi yang berhasil mencapai sasaran dengan feedback yang positif. Komunikator berhasil secara efektif memberikan pengertian kepada komunikan. Komunikan mempunyai pengertian yang sama mengenai lambang komunikasi. Dan selanjutnya komunikator Berjaya merubah tingkahlaku komunikan sesuai rencana semula. Wilbur Schramm menuliskan apa yang dinamakannya the condition of success in communication (kondisi suksesnya komunikasi), yaitu suatu kondisi yang harus dipenuhi jika kita menginginkan suatu pesan dapat membangkitkan tanggapan (respons) yang dikehendaki. Sehingga Faktor-faktor yang mempengaruhi komunikasi efektif terdiri dari komunikator, pesan, dan komunikan (Lathief Rousydiy, 1985;91). Uraiannya adalah sebagai berikut : 1. Komunikasi di tinjau dari komunikator Ditinjau dari faktor komunikator, untuk melaksanakan komunikasi efektif terdapat dua faktor, yaitu : a. Kepercayaan kepada komunikator Kepercayaan kepada kmunikator ditentukan pertama kali oleh keahliannya. Makin besar kepercayaan komunikan kepada komunikator, maka akan semakin besar pula daya pengaruhnya untuk dapat merubah tingkah laku komunikan. Bila komunikan lebih mengenal dan lebih saying kepada komunikator, maka komunikan akan lebih cenderung untuk

20

menyesuaikan diri dan merubah sikapnya kearah yang dikehendaki oelh komunikator. Pesan yang disampaikan akan lebih besar pengaruhnya, bila mana komounikator dianggap mempunyai keahlian, baik keahlian yang khusus, maupun yang umum, misalnya yang timbul dari latar belakang pendidikannya, atau status sosial, ataupun jabatan profesi yang lebih tinggi. b. Daya tarik komunikator Komunikator akan memiliki daya tarik yang cukup kuat, manakala ia dapat menunjukkan keikut sertaannya bersama komunikan dalam hubungannya dengan opini secara memuaskan. Komunikator disenagi dan dikagumi oleh komunikan, karena dianggap mempunyai persamaan dengan komunikan, sehingga komunikan bersedia untuk tunduk kepada pesanpesan yang dikomunikasikan. Prof. Hartley mengemukakan the image of the other sangat menentukan suksesnya komunikasi Komunikator menyesuaikan diri dan isi komunikasinya dengan the image dari komunikannya, yaitu

memahamikepentingannya,

kebutuhannya,

kemampuan

berfikirnya,

kesulitannya dan sebagainya. Jelasnya komunikator haruslah dapat menjajaki kesemestaannya alam mental yang terdapat pada komunikan.

21

2. Komunikasi ditinjau dari Pesan a. Pesan harus direncanakan dan disusun demikian rupa sehingga dapat menarik perhatian komunikan. b. Pesan harus menggunakan lambang-lambang tertuju pada pengalaman yang sama antara komunikator dengan komunikan, sehingga sama-sama dimengerti. c. Pesan harus membangkitkan kebutuhan pribadi komunikan dan

menyarankan beberapa cara untuk memperoleh kebutuhan tersebut. d. Pesan harus menyarankan suatu jalan untuk memperoleh kebutuhan tadi yang layak bagi situasi kelompok dimana komunikan berada pada saat ia digerakkan untuk memberikan tanggapan yang dikehendaki. 3. Komunikasi ditinjau dari Komunikan Jika efektivitas komunikasi tersebut dilihat dari sudut komunikan, maka seseorang akan dapat menerima sebuah pesan, hanya kalau terdapat empat kondisi berikut ini secara simultan menurut Chester I Barnard: a. Ia dapat benar-benar mengerti pesan komunikasi. b. Pada saat ia mengambil keputusan, ia sadar bahwa keputusannya itu sesuai dengan tujuannya. c. Pada saat ia mengambil keputusan ia sadar bahwa keputusannya itu berkaitan dengan kepentingan pribadinya. d. Ia mampu menepatinya, baik secara mental maupun secara fisik.

22

F. Hambatan atau Rintangan dalam Komunikasi Secara umum dapat dikemukakan, bahwa dimana terjadi suatu pengoveran lambang-lambang antara komunikator dan komunikan, maka di sana telah terdapat/ terlaksana komunikasi. Komunikasi terjadi apabila tidak terdapat rintangan-rintangan yang menghalang-halanginya. Dimana terdapat rintangan-rintangan, maka

komunikasi tidak dapat dilakukan, atau berjalan secara tidak sempurna sebagaimana diharapkan. Hambatan dan rintangan yang menyebabkan komunikasi tidak mencapai sasarannya seperti yang diharapkan, sehingga komunikan tidak memahami isi pesan menurut semestinya dan karenanya pula tidak bersedia menyesuaikan tingkah lakunya dengan pesan yang diterimanya. Hambatan komunikasi tersebut pada umumnya mempunyai dua sifat, obyektif dan subyektif. Hambatan yang sifatnya obyektif adalah gangguan dan halangan terhadap jalannya koomunikasi, yang tidak sengaja dibuat oleh pihak lain, tapi mungkiin disebabkan oleh keadaan yang tidak menguntungkan. Hambatan yang obyektif ini dapat juga disebabkan oleh kurangnya kemampuan berkomunikasi, misalnya kerangka pengalaman yang tidak satu nada antara komunikator dan komunikan, approach penyajian yang kurang tepat, timing yang tidak sesuai, penggunaan media yang keliru, dan sebagainya. Adapun hambatan subyektif adalah yang sengaja dibuat oleh orang lain, sehingga merupakan gangguan, penentangan terhadap suatu usaha komunikasi. Dasar gangguan dan penentangan ini biasanya disebabkan karena adanya penentangan

23

kepentingan, tamak, iri hati, dan sebagainya. Faktor perbedaan kepentingan dan prasangka adalah merupakan faktor yang paling berat, karena fakta menunjukkan, pengalaman membuktikan, bahwa yang paling sulit bagi seorang komunikator ialah menyampaikan komunikasi kepada komunikan yang terang-terangan tidak

menyukainya. Atau menyampaikan pesan yang bertentangan dengan kepentingan dan kepercayaan komunikan. Sudah merupakan sifat manusia, bila ia dihadapkan kepada suatu pesan yang tidak disukainya karena menggangu kedudukan, pendidikan atau kepentingannya, maka pasti ia akan mencemoohkan komunikasi tersebut, ataupun ia lantas mengelak dan mendiskreditkan pesan komunikasi. Gejala mencemoohkan dan mengelakkan suatu komunikasi untuk kemudian mendiskreditkan atau menyesatkan pesan komunikasi itulah yang dinamakan evasion of communication (hambatan komunikasi). Drs.oey Hong Lee dalam buku: PUBLISTIK PERS mengemukakan, bahwa rintangan-rintangan yang dimaksud di sini dapat digolongkan ke dalam lima kategori, yaitu: a. Rintangan-rintangan Geografis Komunikasi akan berjalan dengan lancer, manakalah komunikator dan komunikan berada dan berkumpul di suatu tempat yang tertentu. Akan tetapi mungkin dan sering kejadian, bahwa anatara komunikator dan komunikan terdapat rintangan-rintangan alam yang tidak dapat diatasi. Tetapi dengan

24

kemajuan

teknologi

modern

rintangan-rintangantersebut

relative

telah

berkurang dengan adanya kapal laut, pesawat udara, telepon, telegram atau alatalat komunikasi massa laiinya (pers, radio, televis dan sebagainya). b. Rintangan-rintangan Biologis Dengan rintangan biologis yang dimaksud di sini rintangan-rintangan komunikasi yang timbul, karena adanya perbedaan-perbedaan yang terdapat pada diri manusia sebagai makhluk biologis. Dan perbedaan-perbedaan tersebut dapat dilihat sebagai berikut: 1. Perbedaan Individu Yaitu perbedaan-perbedaan yang tedapat pada individu yang mempunyai hubungan langsung dengan proses komunikasi. Untuk dapat berkomunikasi seorang individu harus bisa bicara, bisa mendengar dan bisa melihat. Panca inderanya harus bekerja secara wajar. Akan tetapi dalam kenyataan kita jumpai orang-orang yang bercacat jasmania atau ruhaniyah. Misalnya ada orang yang buta, yang tuli, bahkan yang buta tuli dan ada yang bisu. Juga ada individu yang debil, yaitu yang keterbelakangan/ mundur penrkembangan otaknya atau individu yang menderita penyakit jiwa. Sehingga cacat-cacat tersebut tentu merupakan rintangan-rintangan yang mempersukar komunikasi.

25

2. Perbedaan Kelamin Di samping persamaan-persamaan, maka antara pria dan wanita terdapat perbedaan-perbedaan yang mempunyai pengaruh terhadap

kelancaran komunikasi atau merupakan rintangan-rintangan. Dilihat dari segi bentuk tubuh, proses metabolis dan fisiologis jelas kelihatan adanya perbedaan-perbedaan. Dan dilihat dari sudut fungsi juga wanita pada umumnya lebih memusatkan perhatiannya kepada urusan-urusan rumah tangga. Sedangkan kaum pria lebih banyak bergerak diluar rumah untuk mencari nafkah, karena itu umumnya mereka dinamis. Mereka merasa bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan jamiinan kesejahteraan rumah tangga. 3. Perbedaan Angkatan Dari segi kejiwaan orang tua umumnya konserfativ dan kadang-kadang reaksioner kurang berani, banyak pertimbangan, kaya pengalaman, tidak suka merobah adat istiadat, aturan-aturan dan norma-norma hidup tertentu yang telah dipatuhinya selama ini. Sementara kaum muda dengan darah yang panas dan semangat yang menyala-nyala ingin menempuh cara-cara baru, mendobrak kekolotan yang menghalang-halangi kemajuan. Orang-orang muda berjiwa dan bersikap berani dan kurang mempertimbangkan resiko. Sehingga antara kedua sikap ini menimbulkan konflik antara kaum tua dan angkatan muda yang kadang-kadang merintangi komunikasi. Koonflik iini

26

timbul terutama dalam masyarakat yang sedang mengalami masa peralihan dan yang sedang menghadapi perobahan-perobahan besar. 4. Perbedaan Ras Ciri dari suatu ras terletak pada fisik yang dimiliki oleh ras tersebut, umpamanya warna kulit, bentuk rambut, hidung, bibir, dan lain-lain. Dan menurut ilmu Antropologi dan Sosiologi bahwa perbedaan-perbedaandalam ciri-ciri fisik tersebut sama sekali tidak mempengaruhi kecakapan, kecerdasan dan kecerdikan sesuatu ras. Daya cipta dan kemampuan menghasilkan karya-karya kebudayaan tidak ada sangkut pautnya dengan warna kulit. Namun kenyataannya perbedaan ras tersebut menimbulkan rintangan-rintangan dalam proses komunikasi. c. Rintangan-rintangan Sosial Manusia hidup dalam kelompok, baik yang kecil maupun yang besar, seperti pada suku-suku bnagsa di dunia, maupun yang besar seperti pada Negara-negara modern. Individu-individu dalam kelompok mengadakan hubungan sosial satu dengan yang lain, mengadakan interaksi sosial. Mereka masing-masing mempunyai kedudukan-kedudukan tertentu dan status-status tertentu dalam kelompok. Makin besar kelompok maka makin beraneka warna dan banyaknya status-status tersebut. Dalam kelompok manusia dimanapun kita jumpai status-status elementer, misalnya status ayah dan ibu, guru, murid, kepala kelompok, ulama, produsen,

27

dan lain-lain. Dalam kelompok-kelompok yang modern struktur organisasi masyarakat menjadi lebih ruwet dan timbullah differensiasi lebih dalam. Disamping itu harus diperhatikan pula, bahwa tiap-tiap individu tidak hanya memiliki satu status, melainkan berbagai status bergantung kepada keadaan. Ia bisa berstatus ayah di dalam rumah, berstatus direktur dalam perusahaan, berstatus ketua dalam suatu himpunan dan sebagainya. Pada setiap status ada peranan yang sesuai dengan status itu. Pembagian anggota-anggota kelompok dalam status-status tersebut biasanya ditemukan oleh kelahiran dan peluang. Di dalam masyarakat yang statis sistem status didasarkan atas kelahiran dan tradisi. Sedang dalam masyarakat yang dinamis didasarkan atas peluang-peluang yang terbuka untuk semua lapisan. d. Rintangan-rintangan Kebudayaan Yang dimaksud dengan kebudayaan di sini, secara sederhana ialah cara hidup sesuatu bangsa. Kebudayaan itu tercermin dalam bidang ekonomi, politik, sosial, agama, filsafat, tekhnologi, kesenian dan lain-lain sebagainnya. Masing-masing bidang mempunyai lembaga-lembaganya sendiri, masingmasing lembaga tidak berdiri sendiri, tetapi saling berhubungan dan saling isi mengisi antara yang satu dengan yang lainnya. Salah satu dari unsur yang penting dalam kebudayaan itu ialah bahasa. Di dunia ini terdapat ratusan bahasa, mungkin ribuan. Masing-masing bahasa ini

28

untuk orang tidak mengetahui atau memahaminya merupakan suatu rintangan untuk berkomunikasi dengan orang-orang yang menggunakan bahasa tersebut, suatu rintangan yang bersifat kebudayaan. Perbedaan-perbedaan kebudayaan ini tidak saja dapat merintangi komunikasi antara individu, tetapi juga dapat merintangi komounikasi massa dan komunikasi sosial. e. Rintangan-rintangan Teknis Rintangan ini dijumpai dalam komunikasi dimana digunakan alat-alat, baik alat komunikasi massa, seperti radio, pers, televisi, maupun alat-alat komunikasi lainnya, seperti telepon, telegram, teleks dan alat-alat lainnya yang digunakan dalam komunikasia antar individu. Rintangan timbul karena ganguan atau kerusakan teknis pada alat-alat tersebut, sehingga komunikasi tidak dapat dilakukan sama sekali atau dilakukan dalam keadaan yang tidak sempurna. Misalnya karena terjadinya kerusakan pada mesin cetak untuk surat kabar, kerusakan proyektor film, kerusakan atau gangguan pada alat-alat penyiaran radio atau televisi. Atau juga bisa terjadi kalau aliran listrik terganggu sehingga kekuatannya menjadi berkurang.

G. Hasil Penelitian Terdahulu Husma fadillah nasution, Sekolah pasca sarjana usu 2008 meneliti yang diberi judul Analisa pengaruh promosi dan komunikasi terhadap keputusan nasabah untuk menabung di bank syariah mandiri cabang tebing tinggi yang didalamnya

29

menyatakan bahwa customer service (pelayanan pelanggan) merupakan salah satu upaya didalam meningkatkan nasabah karena dengan pelayanan yang baik nasabah akan merasa puas. Peningkatan pelayanan kepada para nasabah adalah hal yang sangat penting dalam usaha meningkatkan kepuasan para nasabah, karena para nasabah sangat besar peranannya dalam konstribusi pendapatan secara langsung maupun secara tidak langsung dalam mendukung eksistensi perusahaan Bank Syariah Mandiri. Untuk meningkatkan kepuasan nasabah, customer service dalam berhubungan dengan para nasabah selalu berusaha agar menarik perhatian dan mempengaruhi konsumen. Dimana unsur persuasif sedang berlangsung ketika seorang customer serevice mendekatkan diri dan meyakinkan konsumen agar tertarik menjadi nasabah Bank Syariah Mandiri. Komunikasi yang dilakukan antara customer service dengan nasabah adalah komunikasi antar pribadi yang bersifat langsung melalui tatap muka.

H. Pandangan Teori Landasan teori yang digunakan dalam penelitian ini yaitu communication Competensy, teori ini diperkenalkan oleh Spitzberg dan Cupac. Kata teori ini kompetensi komunikasi bahwa komunikasi ini akan efektif artinya komunikan mengubah sikapnya kalau komunikator mempunyai kompetensi misalnya: 1. Mempunyai pengetahuan tentang apa yang diinformasikan 2. Keterampilan berkomunikasi

30

3. Motivasi komunikasi yang dikemukakan oleh komunikator Dan jika pengetahuan komunikator atas topik itu makin lengkap, komunikator ini makin terampil berkomunikasi, dan menjelaskan motivasi komunikasi, maka akan mengubah sikapn komunikan (Alo Liliweri, 2011;173)

31

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis dan Pendekatan Penelitian Penelitian ini adalah penelitian yang bersifat kualitatif karena peneliti akan meneliti efektivitas Bank Syariah SUMUT yang awal berdirinya mengalami kemunduran (kerugian) sehingga tahun 2008 sampai saat ini mengalami peningkatan sehingga peneliti akan mewawancarai dan kemudian menganalisa data yakni aktivitas pengorganisasian data, yang terkumpul berupa catatan lapangan, komentar, gambar, foto dan dokumen lain-lainnnya. Pendekatan penelitian ini juga dilakukan dengan menggunakan pendekatan deskriptif dan ilmu komunikasi. Penelitian ini dimaksudkan agar memperjelas bahwa individu dan kejadian dengan melihat konteks yang mendalam seperti yang dijelaskan Moleong yang dalam bukunya metode penelitian kualitatif. Dengan demikian, penelitian ini dimaksudkan mendeskriptifkan suatu keadaan apa adanya sesuai data yang ditemukan, seperti menurut Spradley hubungan yang dilakukan peneliti pada saat memasuki situasi sosial di dalam penelitian mampu mendeskriptifkan semua masalah yang ditemui. Sehingga dalam hal ini yang menjadi data dan informasi, dalam penelitian ini adalah hasil wawancara dan hasil pengamatan yang telah dilakukan pada lembaga Bank Syariah SUMUT kelurahan Sei Agul.

32

B. Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di lingkungan Badan Usaha Milik Daerah ( BUMD) yaitu Bank Syariah SUMUT jalan Karya kelurahan Sei Agul, sebagai pengerak dan pendorong laju pembangunan di daerah yang sesuai dengan syariat Islam yang bertindak sebagai pemegang kas daerah yang melaksanakan penyimpanan uang daerah serta sebagai salah satu sumber pendapatan asli daerah

C. Informan Penelitian Pengambilan informasi ini dengan tekhnik bola salju (snowball sampling), dimana peneliti mengambil informan dalam penelitian ini berawal dari target jumlah yang kecil, dengan awal rencana kepada bagian Humas, Deller, dan kepala bagian bidang. Namun ini bisa berkembang sesuai menurut kebutuhan data yang akan diperlukan dalam penelitian ini. Seperti yang dikatakan Muadjir yaitu dengan penentuan informan ataupun sampel yang awalnya berjumlah kecil kemudian berkembang semakin banyak sesuai dengan data yang dibutuhkan.

33

D. Sumber Data Sumber pengambilan data dalam penelitian ini dibagi menjadi dua macam yaitu: 1. Sumber data primer Peneliti akan mengambil data yang langsung atau di dapat dari objek utama dalam penelitian, sehingga data primer dalam penelitian ini adalah seluruh data yang di dapat langsung dari organisasi Bank Syariah SUMUT. 2. Sumber data sekunder Peneliti akan mengambil data sekunder dari data yang didapatkan yang berupah bahan bacaan dan berkenaan dengan tujuan penelitian. Seperti yang dikatakan Jalaluddin bahwa data sekunder yaitu Data yang di dapat dari luar objek penelitian, namun masih berkenaan dengan tujuan penelitian.

E. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara: 1. Wawancara Peneliti akan menggunakan metode pengumpulan data dengan cara menanyakan sesuatu kepada seseorang yang menjadi informan atau responden seprti kata Afifuddin dalam bukunya. Sehingga penelitian melakukan wawancara yang semi berstruktur terhadap sumber utama yang telah menjadi

34

informan di atas, bertanya dan mencari informasi sedalam-dalamnya tentang tema dan tujuan dalam penelitian ini. 2. Study Dokumentasi Yaitu dengan teknik pengumpulan data dan informasi melalui pencarian dan penemuan bukti-bukti yang berasal dari sumber nonmanusia seperti data dokumentasi yang ada pada Bank Syariah SUMUT yang tidak lepas dari syariat Islam.

F. Instrumen Pengumpulan Data Instrument pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan: 1. Wawancara Yaitu dengan mempersiapkan terlebih dahulu pertanyaan-pertanyaan yang akan menjawab dari penelitian yang akan diteliti, dan kemudian akan menanyakan kepada informan dengan tidak membawa kertas pertannyaan tetapi sudah dihafal atau dipahami terlebih dahulu. 2. Study Dokumentasi Peneliti akan mengumpulkan file atau data dan kemudian akan dianalisis sesuai data yang akan dibutuhkan.

35

G. Teknik Analisis Data Dalam penelitian ini yang bersifat kualitatif dimana penelitian berusaha memaparkan keadaan dan kondisi yang ada secara alami, dari bentuk-bentuk komunikasi yang dilakukan oleh objek penelitian. Maka proses analisis data dilakukan dengan terus menerus selama masa penelitian ini dilakukan. Penyajian data yang diperoleh dilapangan secara apa adanya. Ketiga proses tersebut berlangsung secara silmultan sebagai suatu kegiatan yang utuh saat, sebelum, selama, dan sesudah pengumpulan data. Prosesnya terbentuk siklus sebagaimana dilukis oleh Bugin.
Pengumpulan Data Penyajian Data

Reduksi Data

Penarikan Kesimpulan

Analisa dilakukan secara terus menerus sampai data yang dibutuhkan dalam penelitian ini tercapai. Sesuai dengan bagan diatas, dimana bagan tersebut menggambarkan: 1. Pengumpulan data dengan wawancara dan observasi 2. Reduksi data agar data yang sudah ada tidak bertumpuk-tumpuk sehingga lebih mudah untuk diidentifikasi

36

3. Penyajian data kedalam display data dengan rapi sehingga terlihat secara jelas mana data yang sesuai dengan tujuan penelitian. Data yang disesuaikan akan dideskripsikan dalam bentuk kalimat-kalimat 4. Penarikan kesimpulan dengan cara deduktif, yaitu menarik kesimpulan dari hal-hal yang bersifat umun kepada hal-hal yang bersifat khusus.

37

DAFTAR PUSTAKA
Afifuddin, 2009, Metodologi Penelitian Kualititif, Bandung; Pustaka Setia. Bungin, Burham, 2003, Analisis Data Penelitian Kualitatif, Jakarta; PT.Raja Grafindo. Cangara, Hafeid, 1998, Pengantar Ilmu Komunikasi, Jakarta; PT.Raja Garafindo Persada. Effendy, Onong, Uchjana, 1990, Ilmu Komunikasi teori dan Praktek, Bandung; PT.Remaja Rosda Karya. http://www.banksyariahsumut.com Kholil, Syukur, 2007, Komunikasi Islam, Bandung; Cipta Pustaka Media. Liliweri, Alo, 2011, Komunikasi Serba Ada Serba Makna, Jakarta; Kencana. Muadjir, Noeng, 2006, Metodologi Penelitian Kualitatif, Yokyakarta; Rake Sarasin. Moleong, Lexy, 2000, Metode Penelitian Kualitatif, Bandung; PT.Remaja Rosda Karya Oey Hong Lee, 1965, Publisistik Pers, Jakarta; Balai Buku Ichtiar. Rahmat, Jalaluddin, 2004, Metode Penelitian Komunikasi, Bandung; PT. Remaja Rosda Karya. Rousydiy Lathief, 1985, Dasar-dasar Rhetirica Komunikasi dan Informasi, Medan; Firma Rimbow. Sendjaja, 1994, Teori-Teori Komunikasi, Universitas Terbuka

38