Anda di halaman 1dari 4

PEMBAHASAN Pada percobaan kali ini dilakukan pemeriksaan fungsi hati melalui tes kombinasi bilirubin.

BIlirubin dapat dipakai sebagai parameter pemeriksaan fungsi hati karena bilirubin merupakan hasil pemecahan heme dari sel darah merah akan mengalami konjugasi di hati dengan asam glukoronat dengan batuan enzim uridyl diphosphat glucoronyl transferase (UDGPT) sehingga menjadi bilirubin-glukoronat yang lebih larut air (bilirubin direk) dan akan disekresikan ke empedu untuk mengemulsikan lemak di usus. Apabila ada gangguan fungsi hati, jumlah bilirubin indirek (hasil pemecahan heme) akan banyak terdapat di darah, sedangkan jumlah bilirubin direk sedikit terbentuk. Prinsip yang digunakan dalam percobaan ini adalah metode Jendrassik, L. et al. (1938). Serum atau plasma ditambahkan ke larutan natrium asetat dan kafein-natrium benzoat. Natrium asetat digunakan sebagai dapar pH dalam reaksi diazotasi, sementara kafein-natrium benzoat mempercepat ikatan antara bilirubin dan asam sulfanilat. Warna azobilirubin akan muncul dalam 10 menit. Untuk pemeriksaan bilirubin direk dilakukan tanpa penambahan kafein. Sedangkan bilirubin indirek merupakan bilirubin bebas yang terikat albumin harus lebih dulu dicampur dengan alkohol, kafein atau pelarut lain sebelum dapat bereaksi. Azobilirubin kemudian diukur intensitasnya menggunakan spektrofotometer. Pada umumnya pemeriksaan yang dilakukan di laboratorium klinik menggunakan alat spektrofotometer UV-Visibel. Pada pengukuran dengan menggunakan spektrofotometer, terlebih dahulu dilakukan pemilihan panjang gelombang untuk pengukuran. Panjang gelombang untuk pengukuran, dipilih panjang gelombang yang menunjukkan nilai absorpsi maksimum. Keuntungan pengukuran dengan menggunakan spektrofotometer yaitu : Mempunyai sensitivitas yang relative tinggi, pengerjaanya mudah sehingga pengukuran yang dilakukan cepat, dan mempunyai spesifisitas yang relative tinggi. Spesifisitas diperoleh dengan mereaksikan sampel yang diperiksa dengan pereaksi yang sesuai, kemudian membentuk warna yang berbeda, atau dengan pemisahahn analitis menjadi reaksi pembentukan warna. Prinsip dari spektrofotometri yaitu jika suatu molekul dikenai suatu radiasi elektromagnetik pada frekuensi yang sesuai sehingga energi molekul tersebut ditingkatkan ke level yang lebih tinggi, maka terjadi peristiwa penyerapan (absorpsi) energi oleh molekul. Banyaknya sinar yang diabsorpsi pada panjang gelombang tertentu sebanding dengan banyaknya

molekul yang menyerap radiasi, sehingga spectra absorpsi juga dapat digunakan untuk analisis kuantitatif. Pada spektrum UV-Vis ini yang memberikan serapan karena adanya gugus kromofor pada suatu senyawa. Gugus kromofor merupakan semua gugus atau atom dalam senyawa organic yang mampu menyerap sinar UV dan sinar tampak. Selain itu juga ada yang dinamakan gugus ausokrom yang merupakan gugus fungsional yang mempunyai elekton bebas seperti OH-, O-, dan CH3O- yang memberikan transisi n * . Terikatnya gugus ausokrom pada gugus kromofor akan mengakibatkan pergeseran pita absorbs menuju ke panjang gelombang yang lebih besar (batochromic) disertai dengan peningkatan intensitas yang disebut hiperkromik Hukum Lambert-Beer menyatakan bahwa konsentrasi suatu zat berbanding lurus dengan jumlah cahaya yang diabsorpsi, atau berbanding terbalik dengan logaritma cahaya yang ditranmisikan.

Dimana : A = absorban. a = absorptivitas. b = jalannya sinar pada larutan. c = konsentrasi. T = Transmitan. Transmitans (T) didefinisikan sebagai rasio cahaya yang ditransmisikan (I) terhadap cahaya yang dating (Io). Percobaan dilakukan dengan menyiapkan 3 kuvet, kuvet I berisi blangko, yaitu reagen dan air, lalu diaduk dan didiamkan selama 15 menit. Kuvet II dan III berisi sampel yang masing-masing berisi reagen I sebanyak 1 ml dan sampel sebanyak 10 ml, lalu diaduk dan didiamkan tepat 5 menit pada suhu 20oC-25oC. Absorbansi sampel diukur terhadap blangko dengan menggunakan spektrofotometri UV-Visibel. Setelah itu ditambahkan reagen II sebanyak 1 ml, lalu diaduk dan didiamkan tepat 10 menit pada suhu 20oC-25oC. Setelah itu, masing-masing kuvet (blangko dan sampel) diukur absorbansinya dengan menggunakan spektrofotometri UV-Visibel pada panjang gelombang 540 nm. Kemudian dihitung rata-rata absorbansi dari hasil pemeriksaan klinik kadar pada sampel. Dari

hasil percobaan dan perhitungan, rata-rata

absorbansi yang diperoleh sebesar 0,0225.

Kadar bilirubin sampel dapat diketahui dengan perhitungan:

Tetapi dikarenakan ketiadaan kalibrator, maka percobaan dibatasi hingga diperoleh rata-rata absorbansi saja. Interpretasi hasil pemeriksaan bilirubin adalah sebagai berikut: Dewasa: total: 0.1 1.2 mg/dL, direk: 0.1 0.3 mg/dL, indirek: 0.1 1.0 mg/dL Anak: total: 0.2 0.8 mg/dL, indirek: sama dengan dewasa. Bayi baru lahir: total: 1 12 mg/dL, indirek: sama dengan dewasa. Peningkatan kadar bilirubin direk menunjukkan adanya gangguan pada hati (kerusakan sel hati) atau saluran empedu (batu atau tumor). Bilirubin terkonjugasi tidak dapat keluar dari empedu menuju usus sehingga akan masuk kembali dan terabsorbsi ke dalam aliran darah. Peningkatan kadar bilirubin direk juga dapat disebabkan oleh: Penyakit: ikterik obstruktif karena batu atau neoplasma, hepatitis, sirosis hati, mononucleosis infeksiosa, metastasis (kanker) hati, penyakit Wilson Obat-obatan: antibiotik (amfoterisin B, klindamisin, eritromisin, gentamisin, linkomisin, oksasilin, tetrasiklin), sulfonamide, obat antituberkulosis ( asam para-aminosalisilat, isoniazid), alopurinol, diuretik (asetazolamid, asam etakrinat), mitramisin, dekstran, diazepam (valium), barbiturat, narkotik (kodein, morfin, meperidin), flurazepam, indometasin, metotreksat, metildopa, papaverin, prokainamid, steroid, kontrasepsi oral, tolbutamid, vitamin A, C, K. Penurunan kadar bilirubin direk juga dapat disebabkan oleh: Penyakit: anemia defisiensi besi Obat-obatan: barbiturat, salisilat (aspirin), penisilin, kafein dalam dosis tinggi

Peningkatan kadar bilirubin indirek sering dikaitkan dengan peningkatan destruksi eritrosit (hemolisis), seperti pada penyakit hemolitik oleh autoimun, transfusi, atau eritroblastosis fatalis. Peningkatan destruksi eritrosit tidak diimbangi dengan kecepatan kunjugasi dan ekskresi ke saluran empedu sehingga terjadi peningkatan kadar bilirubin indirek. Peningkatan kadar bilirubin indirek juga dapat disebabkan oleh:

Penyakit: eritroblastosis fetalis, anemia sel sabit, reaksi transfuse, malaria, anemia pernisiosa, septicemia, anemia hemolitik, talasemia, CHF, sirosis terdekompensasi, hepatitis

Obat-obatan: aspirin, rifampin, fenotiazin

Penurunan kadar bilirubin indirek juga dapat disebabkan oleh: Obat-obatan: barbiturat, salisilat (aspirin), penisilin, kafein dalam dosis tinggi Pada pemeriksaan bilirubin, ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi temuan laboratorium, antara lain:

Makan

malam

yang

mengandung tinggi

lemak

sebelum

pemeriksaan

dapat

mempengaruhi kadar bilirubin.


Wortel dan ubi jalar dapat meningkatkan kadar bilirubin. Hemolisis pada sampel darah dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan. Sampel darah yang terpapar sinar matahari atau terang lampu, kandungan pigmen empedunya akan menurun.

Obat-obatan tertentu dapat meningkatkan atau menurunkan kadar bilirubin

KESIMPULAN Dari hasil percobaan dan perhitungan, rata-rata absorbansi sampel yang diperoleh sebesar

0,0225. Interpretasi hasil pemeriksaan bilirubin adalah sebagai berikut: Dewasa: total: 0.1 1.2 mg/dL, direk: 0.1 0.3 mg/dL, indirek: 0.1 1.0 mg/dL Anak: total: 0.2 0.8 mg/dL, indirek: sama dengan dewasa. Bayi baru lahir: total: 1 12 mg/dL, indirek: sama dengan dewasa