Anda di halaman 1dari 25

Kemiskinan di Indonesia Itu Salah Siapa?

[Motivation Spirit]
OPINI | 18 March 2012 | 04:36 Dibaca: 166 Komentar: 1 1 dari 1 Kompasianer menilai menarik

Gambar1 - Kemiskinan di Indonesia Itu Salah Siapa?

PERHATIAN! DILARANG KOMENTAR SEBELUM MEMBACA SELURUHNYA! :) Ini bukan berita, bukan rekayasa, memang tidak cukup data, tapi layak untuk diperhatikan atas opini yang tersisa di kepala. Hanya ingin melampiaskan satu pertanyaan yang tersedia sejak lama, Rakyat Indonesia Banyak Yang Miskin Itu SALAH SIAPA? Harap baca tanpa sesak di dada, jangan baca jika tiada berguna, hilangkan gundah dan gelisah, mulai gunakan nurani dan teruslah membaca Ini tentang apa yang ada, hanya ingin menyampaikan segenap rasa yang tercipta, kegelisahan, kegundahan, dan ketidak pastian atas apa yang menimpa Indonesia. Sahabat Indonesia Yang Luar Biasa Lihatlah Ada sosok hebat di mata dunia dari segala arah, Anda hanya bisa melihat sosok itu ketika ada benda yang mampu menampilkan sosok di depannya 180% terbalik. Jika Anda belum mampu melihatnya sekarang, beranjaklah dari tempat duduk Anda saat ini, berdirilah dengan tegap di depan

sebuah benda yang bernama Cermin. Sekarang, Anda sudah melihat sosok hebat itu. Sosok yang menjadi penentu atas nasibnya, sosok yang akan menjadikannya seperti apa hidupnya, sosok yang menjadi pengendali segala hidupnya. Selain kehendak Tuhan, sosok tersebut telah mendapat nikmat yang tak terhingga untuk dapat menjadikan dirinya seperti apa yang dia tanamkan semasa hidupnya. Lihatlah Lihat Indonesia secara menyeluruh, lihatlah segala yang terjadi dari segala sisi. Bukan untuk mendukung sang Penguasa Ibu Pertiwi saat ini, hanya ajakan kecil untuk mencoba evaluasi diri dan melihat segalanya secara adil dengan kaca mata sang cendekiawan.

Gambar2 - Berdoalah Agar Tahu Bahwa Ada Dzat Yang Berkuasa

Yang kutahu, Tuhan tidak begitu saja memberikan apa yang kita inginkan. Tuhan tidak begitu saja merubah sebuah keadaan suatu kaum. Tuhan pun tidak begitu saja memberikan kenikmatan maupun kesengsaraan. Jika Tuhan demikian, masihkah kita harus selalu mencari kuda hitam untuk disalahkan atas nasib yang ada pada kita saat ini? Terlalu naif untuk menyalahkan orang lain (siapapun) atas nasib yang menimpa, baik maupun buruk adalah hasil dari bercocok tanamnya kita di masa lampau. Kita menanam cabe, kita akan memanen cabe, dan bukan Tomat yang kita panen. Artinya sangat sederhana, jika kita menanam kebaikan, maka kemenangan mutlak milik Anda. Susah di dunia, bukan berarti kita adalah orang paling hina, karena setiap manusia (semua) akan menjadi sangat miskin dan bahkan menjadi orang termiskin di dunia saat Ajal menjelma di hadapannya. Hanya tubuh berbujur kaku, hanya kain kafan yang menjadi baju, hanya tanah sempit yang menjadi hunian. Tidak ada mobil mewah, tidak ada rumah megah, dan tidak ada pakian serba wah yang ada hanyalah tubuh yang terkubur di dalam tanah.

Indonesia memiliki SDA yang melimpah, Indonesia memiliki banyak potensi, Indonesia tetap tanah air kita yang menjadikan kita merasakan hidup sebagai warga yang merdeka atas perjuangan mereka para pejuang Indonesia. Tidak ada alasan kita harus menyalahkan (siapapun) atas kondisi ini, akuilah jika ini adalah tanggung jawab atas pribadi masing-masing, kemudian menjadi keharusan kebersamaan atas perubahan untuk lebih baik di masa mendatang. Sejak badai ekonomi puluhan tahun yang silam yang menimpa Indonesia dan beberapa Negara tetangga, Indonesia terasa sulit untuk bangkit menjadi Macan ASIA, ekor kucing pun mungkin tidak. Berbeda dengan negara tetangga yang terhitung sangat cepat untuk bangkit. Apa yang salah? Pemerintah? Bukan! Hidup kita tidak 100% ditentukan oleh siapa yang memimpin kita, seperti Pak Mario Teguh katakan Jika untuk kebaikan, tidak perlu menunggu pemimpin! Lakukan Sendiri! Dan Pak Mario Teguh pun bertanya Apakah dengan memilih presiden A, lantas esok hidup kita akan berubah? Tidak, bukan? Selain itu, Bong Chandra di salah satu tulisannya (maaf lupa), pernah menyampaikan bahwa perbedaan waktu atas kebangkitan dari keterpurukan adalah karena jumlah Entrepreneur di Inonesia yang masih sangat minim sehingga lapangan pekerjaan pun kurang. Dampaknya banyak warga yang kesulitan menghidupi keluarganya bahkan dirinya sendiri. Menjadi sosok wirausahawan memang tidak dapat dipelajari secara cepat oleh semua orang, tapi yang saya tahu segala macam ilmu pada dasarnya bisa dipelajari. Hanya ajakan kecil untuk coba melihat diri kita sendiri secara menyeluruh, sudahkah berusaha menjadi berguna untuk diri sendiri juga orang lain? Mampu melihat dan menyadari tanggung jawab pribadi masing-masing (Baik secara individu maupun social)? Mari sahabat Indonesia menatap lebih jauh dan lebih baik dengan menyadari bahwa hidup kita adalah tanggung jawab kita sendiri, orang lain tidak akan menjadi saksi atas apapun di akhir nanti. DO THE BEST & BETTER! YES, WE CAN DO IT! Be Your Super Self! Lulu Kemaludin Yours Resources: Gambar #1 : www.sudahtahu.com/wp-content/uploads/2012/02/KriteriaKemiskinan-di-Indonesia-Menurut-Badan-Pusat-Statistik-BPS.jpg Gambar #2 : www.putrahermanto.files.wordpress.com/2009/11/berdoa.jpg
http://regional.kompasiana.com/2012/03/18/kemiskinan-di-indonesia-itu-salah-siapa-motivation-

spirit/

Mengapa Kemiskinan Di Indonesia Menjadi Masalah Berkelanjutan?


Senin, 08 Agustus 2011 13:41 wib

Bappeda

SEJAK awal kemerdekaan, bangsa Indonesia telah mempunyai perhatian besar terhadap terciptanya masyarakat yang adil dan makmur sebagaimana termuat dalam alinea keempat Undang-Undang Dasar 1945. Program-program pembangunan yang dilaksanakan selama ini juga selalu memberikan perhatian besar terhadap upaya pengentasan kemiskinan karena pada dasarnya pembangunan yang dilakukan bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Meskipun demikian, masalah kemiskinan sampai saat ini terus-menerus menjadi masalah yang berkepanjangan. PADA umumnya, partai-partai peserta Pemilihan Umum (Pemilu) 2004 juga mencantumkan program pengentasan kemiskinan sebagai program utama dalam platform mereka. Pada masa Orde Baru, walaupun mengalami pertumbuhan ekonomi cukup tinggi, yaitu rata-rata sebesar 7,5 persen selama tahun 1970-1996, penduduk miskin di Indonesia tetap tinggi.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), persentase penduduk miskin di Indonesia tahun 1996 masih sangat tinggi, yaitu sebesar 17,5 persen atau 34,5 juta orang. Hal ini bertolak belakang dengan pandangan banyak ekonom yang menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi yang tinggi dapat meningkatkan pendapatan masyarakat dan pada akhirnya mengurangi penduduk miskin. Perhatian pemerintah terhadap pengentasan kemiskinan pada pemerintahan reformasi terlihat lebih besar lagi setelah terjadinya krisis ekonomi pada pertengahan tahun 1997. Meskipun demikian, berdasarkan penghitungan BPS, persentase penduduk miskin di Indonesia sampai tahun 2003 masih tetap tinggi, sebesar 17,4 persen, dengan jumlah penduduk yang lebih besar, yaitu 37,4 juta orang.

Bahkan, berdasarkan angka Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) pada tahun 2001, persentase keluarga miskin (keluarga prasejahtera dan sejahtera I) pada 2001 mencapai 52,07 persen, atau lebih dari separuh jumlah keluarga di Indonesia. Angka- angka ini mengindikasikan bahwa program-program penanggulangan kemiskinan selama ini belum berhasil mengatasi Penyebab masalah kemiskinan di Indonesia. kegagalan

Pada dasarnya ada dua faktor penting yang dapat menyebabkan kegagalan program penanggulangan kemiskinan di Indonesia. Pertama, program- program penanggulangan kemiskinan selama ini cenderung berfokus pada upaya penyaluran bantuan sosial untuk orang miskin.Hal itu, antara lain, berupa beras untuk rakyat miskin dan program jaring pengaman sosial (JPS) untuk orang miskin. Upaya seperti ini akan sulit menyelesaikan persoalan kemiskinan yang ada karena sifat bantuan tidaklah untuk pemberdayaan, bahkan dapat menimbulkan ketergantungan. Program-program bantuan yang berorientasi pada kedermawanan pemerintah ini justru dapat memperburuk moral dan perilaku masyarakat miskin. Program bantuan untuk orang miskin seharusnya lebih difokuskan untuk menumbuhkan budaya ekonomi produktif dan mampu membebaskan ketergantungan penduduk yang bersifat permanen. Di lain pihak, program-program bantuan sosial ini juga dapat menimbulkan korupsi dalam penyalurannya.

Alangkah lebih baik apabila dana-dana bantuan tersebut langsung digunakan untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), seperti dibebaskannya biaya sekolah, seperti sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP), serta dibebaskannya biaya- biaya pengobatan di pusat kesehatan masyarakat (puskesmas).

Faktor kedua yang dapat mengakibatkan gagalnya program penanggulangan kemiskinan adalah kurangnya pemahaman berbagai pihak tentang penyebab kemiskinan itu sendiri sehingga programprogram pembangunan yang ada tidak didasarkan pada isu-isu kemiskinan, yang penyebabnya berbeda-beda secara lokal.

Sebagaimana diketahui, data dan informasi yang digunakan untuk program-program penanggulangan kemiskinan selama ini adalah data makro hasil Survei Sosial dan Ekonomi Nasional (Susenas) oleh BPS dan data mikro hasil pendaftaran keluarga prasejahtera dan sejahtera I oleh BKKBN.

Kedua data ini pada dasarnya ditujukan untuk kepentingan perencanaan nasional yang sentralistik, dengan asumsi yang menekankan pada keseragaman dan fokus pada indikator dampak. Pada kenyataannya, data dan informasi seperti ini tidak akan dapat mencerminkan tingkat keragaman dan kompleksitas yang ada di Indonesia sebagai negara besar yang mencakup banyak wilayah yang sangat berbeda, baik dari segi ekologi, organisasi sosial, sifat budaya, maupun bentuk ekonomi yang berlaku secara lokal.

Bisa saja terjadi bahwa angka-angka kemiskinan tersebut tidak realistis untuk kepentingan lokal, dan bahkan bisa membingungkan pemimpin lokal (pemerintah kabupaten/kota). Sebagai contoh adalah kasus yang terjadi di Kabupaten Sumba Timur. Pemerintah Kabupaten Sumba Timur merasa kesulitan dalam menyalurkan beras untuk orang miskin karena adanya dua angka kemiskinan yang sangat berbeda antara BPS dan BKKBN pada waktu itu.

Di satu pihak angka kemiskinan Sumba Timur yang dihasilkan BPS pada tahun 1999 adalah 27 persen, sementara angka kemiskinan (keluarga prasejahtera dan sejahtera I) yang dihasilkan BKKBN pada tahun yang sama mencapai 84 persen. Kedua angka ini cukup menyulitkan pemerintah dalam menyalurkan bantuan-bantuan karena data yang digunakan untuk target sasaran rumah tangga adalah data BKKBN, sementara alokasi bantuan didasarkan pada angka BPS. Secara konseptual, data makro yang dihitung BPS selama ini dengan pendekatan kebutuhan dasar (basic needs approach) pada dasarnya (walaupun belum sempurna) dapat digunakan untuk memantau perkembangan serta perbandingan penduduk miskin antardaerah. Namun, data makro tersebut mempunyai keterbatasan karena hanya bersifat indikator dampak yang dapat digunakan untuk target sasaran geografis, tetapi tidak dapat digunakan untuk target sasaran individu rumah tangga atau keluarga miskin. Untuk target sasaran rumah tangga miskin, diperlukan data mikro

yang dapat menjelaskan penyebab kemiskinan secara lokal, bukan secara agregat seperti melalui model-model ekonometrik.

Untuk data mikro, beberapa lembaga pemerintah telah berusaha mengumpulkan data keluarga atau rumah tangga miskin secara lengkap, antara lain data keluarga prasejahtera dan sejahtera I oleh BKKBN dan data rumah tangga miskin oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan, dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Meski demikian, indikatorindikator yang dihasilkan masih terbatas pada identifikasi rumah tangga. Di samping itu, indikatorindikator tersebut selain tidak bisa menjelaskan penyebab kemiskinan, juga masih bersifat sentralistik dan seragam-tidak dikembangkan dari kondisi akar rumput dan belum tentu mewakili keutuhan Strategi sistem sosial ke yang spesifik-lokal. depan

Berkaitan dengan penerapan otonomi daerah sejak tahun 2001, data dan informasi kemiskinan yang ada sekarang perlu dicermati lebih lanjut, terutama terhadap manfaatnya untuk perencanaan lokal. Strategi untuk mengatasi krisis kemiskinan tidak dapat lagi dilihat dari satu dimensi saja (pendekatan ekonomi), tetapi memerlukan diagnosa yang lengkap dan menyeluruh (sistemik) terhadap semua aspek yang menyebabkan kemiskinan secara lokal.

Data dan informasi kemiskinan yang akurat dan tepat sasaran sangat diperlukan untuk memastikan keberhasilan pelaksanaan serta pencapaian tujuan atau sasaran dari kebijakan dan program penanggulangan kemiskinan, baik di tingkat nasional, tingkat kabupaten/kota, maupun di tingkat komunitas. Masalah utama yang muncul sehubungan dengan data mikro sekarang ini adalah, selain data tersebut belum tentu relevan untuk kondisi daerah atau komunitas, data tersebut juga hanya dapat digunakan sebagai indikator dampak dan belum mencakup indikator-indikator yang dapat menjelaskan akar penyebab kemiskinan di suatu daerah atau komunitas.

Dalam proses pengambilan keputusan diperlukan adanya indikator-indikator yang realistis yang dapat diterjemahkan ke dalam berbagai kebijakan dan program yang perlu dilaksanakan untuk penanggulangan kemiskinan. Indikator tersebut harus sensitif terhadap fenomena-fenomena kemiskinan atau kesejahteraan individu, keluarga, unit-unit sosial yang lebih besar, dan wilayah. Kajian secara ilmiah terhadap berbagai fenomena yang berkaitan dengan kemiskinan, seperti faktor penyebab proses terjadinya kemiskinan atau pemiskinan dan indikator-indikator dalam pemahaman gejala kemiskinan serta akibat-akibat dari kemiskinan itu sendiri, perlu dilakukan. Oleh karena itu, pemerintah kabupaten/kota dengan dibantu para peneliti perlu mengembangkan sendiri sistem pemantauan kemiskinan di daerahnya, khususnya dalam era otonomi daerah sekarang. Para peneliti tersebut tidak hanya dibatasi pada disiplin ilmu ekonomi, tetapi juga disiplin ilmu sosiologi, ilmu antropologi, Belum dan lainnya. memadai

Ukuran-ukuran kemiskinan yang dirancang di pusat belum sepenuhnya memadai dalam upaya pengentasan kemiskinan secara operasional di daerah. Sebaliknya, informasi-informasi yang dihasilkan dari pusat tersebut dapat menjadikan kebijakan salah arah karena data tersebut tidak dapat mengidentifikasikan kemiskinan sebenarnya yang terjadi di tingkat daerah yang lebih kecil. Oleh karena itu, di samping data kemiskinan makro yang diperlukan dalam sistem statistik nasional, perlu juga diperoleh data kemiskinan (mikro) yang spesifik daerah. Namun, sistem statistik yang dikumpulkan secara lokal tersebut perlu diintegrasikan dengan sistem statistik nasional sehingga keterbandingan antarwilayah, khususnya keterbandingan antarkabupaten dan provinsi dapat tetap terjaga.

Dalam membangun suatu sistem pengelolaan informasi yang berguna untuk kebijakan pembangunan kesejahteraan daerah, perlu adanya komitmen dari pemerintah daerah dalam penyediaan dana secara berkelanjutan. Dengan adanya dana daerah untuk pengelolaan data dan informasi kemiskinan, pemerintah daerah diharapkan dapat mengurangi pemborosan dana dalam pembangunan sebagai akibat dari kebijakan yang salah arah, dan sebaliknya membantu

mempercepat proses pembangunan melalui kebijakan dan program yang lebih tepat dalam pembangunan. Keuntungan yang diperoleh dari ketersediaan data dan informasi statistik tersebut bahkan bisa jauh lebih besar dari biaya yang diperlukan untuk kegiatan-kegiatan pengumpulan data tersebut. Selain itu, perlu adanya koordinasi dan kerja sama antara pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholder), baik lokal maupun nasional atau internasional, agar penyaluran dana dan bantuan yang diberikan ke masyarakat miskin tepat sasaran dan tidak tumpang tindih.

Ketersediaan informasi tidak selalu akan membantu dalam pengambilan keputusan apabila pengambil keputusan tersebut kurang memahami makna atau arti dari informasi itu. Hal ini dapat disebabkan oleh kurangnya kemampuan teknis dari pemimpin daerah dalam hal penggunaan informasi untuk manajemen.

Sebagai wujud dari pemanfaatan informasi untuk proses pengambilan keputusan dalam kaitannya dengan pembangunan di daerah, diusulkan agar dilakukan pemberdayaan pemerintah daerah, instansi terkait, perguruan tinggi dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) dalam pemanfaatan informasi untuk kebijakan program.

Kegiatan ini dimaksudkan agar para pengambil keputusan, baik pemerintah daerah, dinas-dinas pemerintahan terkait, perguruan tinggi, dan para LSM, dapat menggali informasi yang tepat serta menggunakannya secara tepat untuk membuat kebijakan dan melaksanakan program pembangunan yang sesuai.

Pemerintah daerah perlu membangun sistem pengelolaan informasi yang menghasilkan segala bentuk informasi untuk keperluan pembuatan kebijakan dan pelaksanaan program pembangunan yang sesuai. Perlu pembentukan tim teknis yang dapat menyarankan dan melihat pengembangan sistem pengelolaan informasi yang spesifik daerah. Pembentukan tim teknis ini diharapkan mencakup pemerintah daerah dan instansi terkait, pihak perguruan tinggi, dan peneliti lokal maupun nasional, agar secara kontinu dapat dikembangkan sistem pengelolaan informasi yang spesifik daerah.

Berkaitan dengan hal tersebut, perlu disadari bahwa walaupun kebutuhan sistem pengumpulan data yang didesain, diadministrasikan, dianalisis, dan didanai pusat masih penting dan perlu dipertahankan, sudah saatnya dikembangkan pula mekanisme pengumpulan data untuk kebutuhan komunitas dan kabupaten.

Mekanisme pengumpulan data ini harus berbiaya rendah, berkelanjutan, dapat dipercaya, dan mampu secara cepat merefleksikan keberagaman pola pertumbuhan ekonomi dan pergerakan sosial budaya di antara komunitas pedesaan dan kota, serta kompromi ekologi yang meningkat.
Sumber: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0402/10/ekonomi/847162.htm http://www.asmakmalaikat.com/go/artikel/ekonomi/Eko41.htm

http://bappeda.pekanbaru.go.id/berita/14/mengapa-kemiskinan-di-indonesia-menjadi-masalahberkelanjutan/page/1/

Kemiskinan dalam Statistik dan Realitas


MONDAY, 06 DECEMBER 2010 07:49 ARTICLE INDEX Kemiskinan dalam Statistik dan Realitas Makin Dililit Utang Demokrasi Maju Pesat Treadmill Penegakan Hukum

Korupsi Makin Kreatif All Pages

Page 1 of 5

Beberapa pihak menyebut salah satu indikasi kekurangberhasilan Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) adalah masih tetap tingginya angka kemiskinan di Indonesia. Namun, Presiden SBY justru mengklaim bahwa pemerintahannya telah sukses menurunkan angka kemiskinan. Presiden menyebut, penurunan angka kemiskinan selama enam tahun masa pemerintahannya sudah 3,6 persen. Disebut, angka kemiskinan pada 2004 adalah 16,9 persen. Lalu, selama enam tahun pemerintahannya, angka itu disebutnya turun menjadi 13,3 persen. Menurut Presiden, penurunan tersebut, sudah lebih baik daripada capaian negara-negara lain. Presiden menambahkan, sebuah studi mengatakan bahwa sebuah negara bisa dikatakan baik jika mampu mengurangi angka kemiskinan hingga 0,3 persen setiap tahun.

Dalam lampiran Pidato Kenegaraan (16/8/2010) dipaparkan pula bahwa tingkat kemiskinan pada tahun 2010 menurun dibanding tahun 2009. Pada bulan Maret 2010, jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan nasional), baik secara absolut maupun persentase mengalami penurunan apabila dibandingkan dengan pada bulan Maret tahun 2009. Jumlah penduduk miskin pada bulan Maret 2009 sebanyak 32,53 juta menurun menjadi 31,02 juta pada bulan Maret 2010.

Dengan demikian, jumlah penduduk miskin pada bulan Maret 2010 menurun sebesar 1,51 juta dibandingkan dengan jumlah penduduk miskin pada bulan Maret 2009, atau setara dengan penurunan tingkat kemiskinan sebesar 0,82 persen.

Selama periode Maret 2009 hingga Maret 2010, penduduk miskin di daerah perkotaan berkurang 0,81 juta, yaitu dari 11,91 juta pada bulan Maret 2009 menjadi 11,10 juta pada bulan Maret 2010. Sementara itu, di daerah perdesaan berkurang 0,69 juta orang, yaitu dari 20,62 juta pada Maret 2009 menjadi 19,93 juta pada bulan Maret 2010. Meskipun demikian, proporsi jumlah penduduk miskin antara daerah perkotaan dan perdesaan tidak banyak berubah selama periode ini. Pada bulan Maret 2009, sebanyak 63,38 persen penduduk miskin berada di daerah perdesaan, sedangkan pada bulan Maret 2010 menjadi sebesar 64,23 persen.

Klaim pemerintah yang sedang berkuasa itu adalah wajar. Semua pemerintah Indonesia, dari sejak rezim Soekarno, Soeharto, Habibie, Gus Dur, Megawati hingga SBY, selalu mengatakan telah berhasil menurunkan angka kemiskinan sebagai bukti tekad untuk mengakhiri kemiskinan yang membelenggu rakyat.

Tapi target mengakhiri (mengurangi) kemiskinan itu, selalu masih jauh dari harapan. Hingga hari ini, lebih 90 juta rakyat Indonesia masih berada di bawah garis kemiskinan, jika mengacu pada kriteria Bank Dunia, berpendapatan minimal USD 2 per kapita per hari.

Dan jika mengikuti standar yang digunakan pemerintah (BPS), jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan yakni Rp.211,726) di Indonesia pada Maret 2010 mencapai 31,02 juta (13,33 persen). Turun 1,51 juta dibandingkan dengan Maret 2009 sebesar 32,53 juta (14,15 persen).

Penurunan ini jauh lebih kecil daripada penurunan angka kemiskinan dari Maret 2008 ke Maret 2009. Sebagaimana dikemukakan Kepala BPS Rusman Herawa, pada Maret 2009 jumlah penduduk miskin mencapai 32,53 juta jiwa, sementara pada Maret 2008 mencapai 34,96 juta jiwa, turun 2,43 persen. Sedangkan penurunan angka kemiskinan dari Maret 2009 ke Maret 2010 hanya sebesar 0,82 persen.

Jika dilihat dalam realita, jumlah penduduk miskin Indonesia jauh dari angka yang dipublikasikan pemerintah (BPS) tersebut. Pertanyaannya, apakah realistis orang yang berpengeluaran Rp.7000 per hari untuk semua kebutuhannya, mulai dari makan dan segala kebutuhan lainnya, tidak lagi tergolong miskin.

Barangkali akan lebih realistis bila penentuan garis kemiskinan mengacu pada Bank Dunia yakni berpendapatan sebesar USD 2 per kapita per hari, ekivalen Rp. 552.000 per bulan (kurs Rp.9.200/USD 1). Jika mengacu pada Bank Dunia, maka jumlah orang miskin di Indonesia lebih 90 juta orang.

Maka, kini saatnya para elit (penguasa) pengambil kebijakan politik ekonomi Indonesia segera bertobat, supaya rakyat tidak makin miskin. Guru Besar IPB Prof Ali Khomsan dengan nada tanya mengatakan apakah pemerintah telah gagal dalam program penanggulangan kemiskinan? Bagaimana dampak program beras untuk rakyat miskin (raskin), Asuransi Kesehatan untuk Rakyat Miskin (Askeskin), sekolah gratis, kompor gas gratis yang selama ini dimaksudkan untuk memperbaiki kesejahteraan rakyat miskin?

Menurut Prof Ali Khomsan, kehidupan yang kini dirasakan semakin sulit membuat rakyat miskin memimpikan kembali zaman normal ataupun zaman Orde Baru yang meski sama-sama sulit, saat itu harga pangan relatif terjangkau oleh daya beli mereka.

Semua rakyat kecil merasakan betapa harga berbagai barang, termasuk kebutuhan bahan pokok semakin membubung, terlebih setelah pemerintah menaikkan tarif dasar listrik, mulai 1 Juli 2010. Tentu saja, kondisi ini membuat beban rakyat yang sudah berat semakin berat.

Dengan tidak menafikan perlunya statistik naik turunnya angka kemiskinan, tetapi yang lebih merasakan apakah akibat dari kenaikan harga ini sangat luar biasa adalah rakyat miskin itu sendiri. Bagi mereka, logika dan realitasnya

adalah jumlah warga miskin akan bertambah banyak karena harga-harga semakin tinggi dan tidak diimbangi kenaikan pendapatan. Akibatnya, semakin banyak warga yang tidak mampu memenuhi kebutuhan dasarnya, seperti pangan, sandang, papan, kesehatan, dan pendidikan.

Mungkinkah orang mampu memenuhi gizi jika hanya mampu makan sekali sehari tanpa lauk yang memadai? Mungkinkah seseorang memenuhi kebutuhan kesehatan hidup dan pendidikan anak-anaknya jika untuk membeli beras saja dia tidak mampu?

Hal ini pulalah menjadi lingkaran setan kemiskinan yang Indonesia tidak pernah keluar dari belenggunya. Semua orang tahu bahwa jalan yang bisa digunakan untuk memutus mata rantai lingkaran setan kemiskinan adalah kesempatan memperoleh pendidikan. Namun kemiskinan, telah membuat si miskin sulit untuk memperoleh pendidikan. Karena kebijakan pendidikan tidak memberi kesempatan luas kepada orang miskin.

Pelita Online, sebuah media penguatan masyarakat sipil menulis, beberapa program pengentasan kemiskinan yang telah dilakukan cenderung mengalami kegagalan karena pendekatan yang digunakan juga salah dan tidak menyentuh akar persoalan kemiskinan yang banyak dialami masyarakat (www.lkts.org/pelita-online/index.php).

Pertama, kebijakan yang tidak menyentuh pada akar persoalan kemiskinan masyarakat. Kenaikan harga-harga barang kebutuhan pokok yang membuat masyarakat tidak mampu memenuhi kebutuhanya dan semakin terpuruk pada kemiskinan disikapi dengan memberikan konversi dan pembagian beras dan lain sebagainya.

Kedua, sebagai persoalan multikompleks, seharusnya pendekatan yang digunakan juga tidak melulu pada satu aspek akan tetapi banyak aspek secara terpadu, konsisten, dan berkesinambungan harus dilakukan. Termasuk pelibatan warga miskin untuk mampu menemukan akar persoalan kemiskinan yang dihadapi, juga harus dilakukan.

Ketiga, konsep pengentasan kemiskinan yang berbeda pada (pemerintah, LSM, perguruan tinggi) membuat konsep ini tidak membekas pada warga miskin. Keempat, pengentasan warga miskin dijalankan sebagai proyek dengan target-target tertentu dan waktu yang tersedia terbatas. Pemikiran mengenai proyek membuat orang mudah terjebak, bahkan menjadi kesempatan menjarah uang Negara (korupsi). Makanya, miskin masih menjadi salah satu tanda Indonesia hari ini.BI/CRS-MS (Berita Indonesia 81)

http://www.beritaindonesia.co.id/berita-utama/kemiskinan-dalam-statistik-dan-realitas

Komparasi Sistem Ekonomi Islam dan Sistem Ekonomi Lainnya dalam Pengentasan Kemiskinan
joomla 2.5
Written by Aris Amrullah
inShare

Kemiskinan di indonesia masih menjadi masalah nasional, angka kemiskinan di negeri ini masih menunjukan angka yang sangat memprihatinkan yaitu tercatatat di Berita Resmi Statistik Badan Pusat Statistik (BPS) Maret 2011 Sebanyak 30,02 Juta orang (12,49%).pengetasan kemiskinan harusnya menjadi objek prioritas pembangunan nasional karena jelas tertuang dalam Undang-undang 1945 pasar 34 bahwa fakir miskin dan anak-anak terlantar di pelihara oleh negara. tetapi pada realitanya masih banyak fakir miskin dan anak-anak yang terlantar yang belum di pelihara oleh negara dilihat dari banyaknya angka kemiskinan di negeri ini.

Kemiskinan menurut may (Randy, Riant: 2007) adalah keadaan ketidak terjaminnya pendapatan, kurangnya kualitas kebutuhan dasar, ketidak mampuan memelihara kesehatan dengan baik, ketergantungan dan ketiadaan bantuan, adanya prilaku anti sosial, kurangnya jaringan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik, kurang infrastuktur dan keterpencilan, serta ketidakmampuan dan terpisah.

Lalu apa yang menyebabkan kemiskinan di indonesia masih cukup tinggi, apakah negara indonesia adalah negara yang benar-benar miskin memiliki tanah yang tandus, tidak punya barang tambang, tidak punya laut dan hutan? Ternyata tidak, indonesia adalah negara yang sangat kaya kekayaan alamnya. Potensi-potensi kekayaan alam di indonesia sangat banyak, hanya sistem pengelolaan perekonomian indonesia yang menggunakan sistem kapitalisme. Sistem kapitalisme menghendaki seluruh kekayaan alam di kuasai oleh kaum swasta atau kaum pemodal, sehingga jika kekayaan alam tadi negara tidak mampu untuk mengelolanya maka siapapun yang memiliki modal berhak untuk mengelolanya. Pemerintah yang tidak amanah berseteru dengan pemodal untuk menyerahkan potensi alam tadi.

Menurut laporan Global Hunger Index (GHI) yang dibuat oleh International Food Policy Research Institute menyebutkan bahwa sepanjang tahun 2010 terdapat 1 miliar penduduk dunia yang mengalami kelaparan. Tingkat kelaparan di 25 negara bahkan sudah mencapai level ekstrim, sementara untuk negara lainnya masuk level serius. Adapun di Indonesia menurut BPS penduduk miskin masih sangat tinggi mencapai 32,03 juta orang. Padahal Indonesia memiliki potensi kekayaan alam yang melimpah ruah seperti sektor tambang meliputi potensi minyak (9.746,40 juta barel), gas (176,60 triliun kubik), batu bara (145,8 miliar ton), emas (1.300 ton), potensi hutan Indonesia yang saat ini hasil hutan diperkirakan sebesar US$ 2.5 miliar, selain itu terdapatnnya potensi laut yang diperkirakan dari sektor kelautan diperoleh sebesar US$ 82 miliar dengan asumsi 1 $ sebesar Rp 10.000. Artinya, dari potensi laut dapat dihasilkan pendapatan sebesar Rp 820 triliun.

Pada dasarnya kemiskinan adalah sebuah keadaan kekurangan baik material, jaminan sosial, pemenuhan kebutuhan hidup, kesehatan, dan akses untuk memperbaiki kehidupan. Maka dengan itu upaya untuk mengentaskan kemiskinan harus berfokus pada beberapa bidang antara lain pemenuhan kebutuhan fakir miskin seperti pemehuan sandang, pangan dan papan, pemenuhan akses kesehatan dan akses perbaikan kualtias hidup seperti beasiswa pendidikan, pelatihan kerja atau usaha,dan peminjaman modal usaha. Berbagai program telah digulirkan oleh pemerintah dalam upaya pengentasan kemiskinan di indonesia seperti pembagian beras miskin (Raskin), Jaminan kesehatan si miskin dan beasiswa serta pelatihan kerja bagi anak-anak warga miskin, tetapi anehnya program-program tadi hanya sedikit mengurangi kemiskinan. Oleh karena itu perlunya mencari titik temu pemberantasan kemiskinan di indonesia, apakah sistemnya atau teknisknya? Ini perlu di kaji dengan seksama agar jangan salah sasaran, ketika menyatakan bahwa suatu masalah terjadi karena sistemnya maka cepat-cepat di tanggulangi dengan memperbaiki atau merubah sistem itu, akan sangat mustahil jika kesalahan terletak pada sistem lalu yang di rubah teknisnya maka tidak akan berpengaruh.

Sistem adalah sebagai kebulatan dari sejumlah unsur (nilai ide, orang, benda dan peristiwa) yang subsitem satu

dengan yang lain saling berhubungan dan berinteraksi untuk mencapai tujuan (Bactiar chamsyah, dkk, 2008: 386). Dalam kontek ini sistem sebagai kebulatan dari sejumlah unsur-unsur yang dipakai oleh suatu negara untuk mengatur perekonomiannya dengan tujuan untuk mencapai kesejahteraan rakyatnya. Unsur-unsur dalam sistem perekonomian meliputi ideologi, pelaku ekonomi, objek yang harus diatur dalam kontek ini adalah kekayaan negara, dan peristiwa atau kejadian yaitu peristiwa-peristiwa transaksi ekonomi seperti perdagangan, pemerataan pendapatan, pemungutan kontribusi rakyat dan lain sebagainya.

Sistem adalah serangkaian unsur yang saling berhubungan dan berinteraksi, unsur-unsur tadi tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Sistem yang dimaksudkan disini adalah sistem ekonomi yaitu serangkain cara yang digunanakan oleh suatu negara untuk mengalokasikan sumber-sumber daya yang dimiliki. Gampangnya sistem ekonomi adalah suatu cara untuk membagi kekayaan negara kepada rakyatnya. Dalam perkembangan selanjutnya munculnya dua sistem ekonomi yang ekstrem di dunia yang memiliki latar belakang dan cara pembagian kekayan negara yang saling bertentangan, yaitu sistem ekonomi kapitalis atau biasa disebut sistem pasar dan sistem ekonomi sosialis atau biasa disebut sistem komando.

Sistem ekonomi kapitalis yaitu sistem ekonomi yang menyerahkan urusan ekonomi kepada individu secara keseluruhan, negara hanya sebagai penjaga keamanan aktifitas ekonomi. Sistem ini umumnya diterapkan di negaranegara barat yang memiliki latar belakang penindasan oleh kalangan bangsawan atau keluarga kerajaan yaitu sebagai pemilik tanah (kaum Feodal) yang memeras para kaum buruh dan tani, kaum Feodal ini mengatas namakan negara atau kerajaan memeras rakyat, bertindak semena-mena dan memperkaya diri sendiri, lambat laun munculah revolusi seperti Revolusi industri di inggris, dan Revolusi Perancis yang memaksa kaum feodal untuk menyerahkan tanah dan kekayaannya kepada rakyat.

Sistem feodalisme pun berakhir berganti menjadi sistem swasta atau kapitalisme yaitu semua kekayaan dan interaksi-interaksi ekonomi diserahkan sepenuhnya kepada swasta tanpa campur tangan pemerintah, lambat laun pula sistem ini melahirkan golongan kapitalis yaitu sekelompok orang yang menang dalam kompetisi ekonomi yang sebagai para pemilik modal yang kikir, tidak peduli dengan nasib sesama, dan memperkaya diri. Kaum kapitalis tak ubahnya seperti kaum feodal bertindak sewenang-wenang terhadap para buruh. Sistem kapitalis telah menyebar di seluruh dunia. Negara-negara di dunia pun bereaksi baik pro atau kontra, negara yang pro akan menerapkan sistem ini dalam mengatur ekonomi negaranya, tetapi negara-negara yang kontra menolak dengan progresif karena sistem ini menghendaki untuk bersaing secara bebas dikhawatirkan sistem ini dapat mengalahkan negaranya dengan negara yang lebih maju dalam hal persaingan ekonomi. Menurut mereka kapitalis adalah mahzab baru penjajahan barat

setelah kolonialisme.

Negara-negara yang kontrapun membentuk sistem ekonomi baru yaitu sistem ekonomi terpimpin atau sistem ekonomi sosialis yaitu sistem ekonomi yang menghendaki seluruh pengaturan penyebaran kekayaan negara di atur oleh negara. Negaralah yang bertugas meratakan kekayaan negara kepada seluruh rakyatnya agar kesejahteraan dapat di nikmati oleh seluruh rakyat tidak oleh sebagian golongan. Dari sistem ini ternyata munculah golongan pemerintahan yang kejam, pemerintah dengan seenaknya menentukan hidup seseorang, bukan hanya itu tetapi sistem sosialis juga berideologi komunis yaitu menganggap rendah di luar ideologi ini, bahkan berprinsip cara apapun dihalalkan demi kepentingan kaum komunis. Sistem ini juga menyalami perlawanan dari rakyatnya, rakyat merasa ingin di hargai kreatifitasnya dan ingin bebas tanpa di kekang . Sistem ini tidak berkembang lama bahkan sekarang sistem sosialisme murni bisa di bilang hancur dengan di tandai keruntuhan imperium Uni Sovyet tahun 1989an dengan di simbolkan oleh runtuhnya tembok berlin yang diserbu oleh rakyat karena ketidak percayaan rakyat jerman terhadap ide pembaharuan sistem ekonomi sosialis.

Hingga saat ini sistem yang masih dianggap oleh sebagian besar negara-negara di dunia sebagai sistem pemecahan masalah ekonomi adalah sistem kapitalisme. Tetapi seiring dengan berjalannya waktu sistem kapitalis yang dianggap sebagai solusi tunggal ini membawa kesengsaraan bagi banyak rakyat indonesia. Kesengsaraan di indonesia akibat sistem ekonomi kapitalis terjadi tahun 1998 di tandai oleh krisis moneter yang dikarenakan hutang luar negeri indonesia yang mencapai jutaan dollar serta merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dollar. Masalah pertukaran mata uang menjadi kendala dalam sistem ini karena nilai mata uang negara-negara di dunia berbeda nilainya, makin makmur negara tersebut maka makin mahal pula nilai uangnya, dalam sistem kapitalis standar uang di tetapkan atas mata uang negara yang menjadi bapak sistem ini yaitu Dollar Amerika serikat (U$), oleh karena itu nilai-nilai mata uang lainnya sangat tergantung pada dollar, jika dollar merosot nilainya maka mata uang lainnya pun akan mengikuti. Contoh kasus lagi krisis keuangan global tahun 2008 yang di mulai oleh krisis keuangan bapak kapitalis (AS) yang disebabkan oleh kredit macet atas perumahaan, krisis ini membawa kehancuran ekonomi Amerika Serikat , bukan hanya itu tetapi negara-negara penganut sistem ekonomi kapitalis pun mengalami gejolak ekonomi menyikuti bapak ekonomi mereka.

Krisis keuangan yang menimpa negara AS mengguncang perekonomian global. Perusahaan-perusahaan besar banyak yang ambruk, bank-bank internasional dan pemerintahan di berbagai negara mengucurkan dana dalam jumlah besar ke pasar uang untuk meredakan guncangan krisis. Sementara ribuan orang kini terancam jadi pengangguran karena banyak perusahaan besar terancam tutup. Krisis inipun dirasakan di indonesia banyaknya

perusahaan yang gulung tikar, ribuan karyawan mengalami pemutusan hubungan kerja, ribuan usaha kecil mikro mengalami kelesuan dan jutaan kemiskinanpun tidak bisa di elakan lagi.

Dengan ini membuktikan bahwa kedua sistem ekonomi konvensional dunia yaitu sistem ekonomi kapitalis dan sosialis tidak bisa mengentaskan kemiskinan bahkan bagai bola salju yang terus menggelinding semakin lama semain besar, bola ini terus saja menggelinding dari awalnya membawa ribuan orang miskin, berjalan membawa ratusan ribu, terus menggelinding lagi membawa jutaan orang miskin sampai akhirnya membawa milyaran orang miskin yang biasanya di tandai oleh krisis maut. Anehnya setelah krisis maut negara-negara maju hanya mengamati, meniru dan memodifikasi (ATM) dari sistem yang jelas-jelas gagal selanjutnya hasil dari ATM munculah sistem ekonomi Neo-liberal buah ATM dari sistem ekonomi kapitalis / liberalis, sistem ekonomi kerakyatan buah ATM dari sistem ekonomi Sosialis, dan sistem ekonomi campuran atau buah ATM dari penggabungan sistem ekonomi sosialis dan kapitalis. Sistem-sistem hasil ATM (Amati, Tiru dan Modifikasi) ini ternyata belum mampu mengentaskan kemiskinan, serta menyangkat kesejahteraan rakyat. Oleh karena itu perlu adanya sistem yang lebih canggih, dari sumber yang jelas, dan telah terbukti dapat mengentaskan kemiskinan dan menyangkat kesejahteraan rakyat.

Sistem itu adalah sistem ekonomi islam atau sistem ekonomi Robbani. Sistem ekonomi yang telah terkubur tahun 1924 di tandai dengan runtuhnya pusat kekuasaan islam dunia (khilafah islamiyah) di Turki. Sistem ini sebelumnya telah hidup 1302 tahun (622 M-1924 M) dimulai dari hijrahnya Rasullah SAW ke Madinah tahun 622 M. peristiwa hijrah terjadi Revolusi multidimensi madinah yaitu dengan perubahan dari sistem kesukuan ke sistem khilafah dunia, dari sistem ekonomi feodal yang berpihak pada golongan bangsawan suku ke sistem ekonomi Robbani yang bukan hanya berpihak pada golongan Bangsawan seperti sistem ekonomi Feodal, bukan hanya berpihak pada golongan pemodal (Kapital) seperti sistem ekonomi kapitalis, dan bukan hanya berpihak pada golongan buruh seperti pada sistem ekonomi sosialis, tetapi sistem ekonomi Rabbani secara adil menguntungkan seluruh golongan baik golongan bangsawan (pejabat), golongan Pemodal (pengusaha) dan golongan buruh.

Selama ribuan tahun sistem ini terbukti dapat mensejahteraan berbagai golongan, dapat di tilik dari sejarah islam dari sejak di pimpin oleh Rosullah, Kholifaturosyidin, sampai akhir khilafah Turki Utsmani tahun 1924. Pada Zaman Rasullah diawali dengan hijrahnya Rasul ke madinah, Rasullah SAW melakukan revolusi sistem ekonomi yang ada yaitu dengan(Aris Amrullah, 2010: 11):

1. Menghapus Sistem Feodal (sistem kepemilikan tanah dikuasai oleh bangsawan)

2. Menetapkan sistem moneter berbasis Emas dan perak (Dinar-dirham)

3. Menetapan rencana anggaran pendapatan dan belanja Negara berbasis Zakat

Sedangkan menurut Didin Hafiudin dan Hendri Tanjung dalam bukunya Manajemen Syariah dalam aplikatif disebutkan Rasullah SAW melakukan kebijakan pembagian kekuasaan Negara, yaitu dengan:

1. Menempatkan orang pada posisinya sesuai dengan kemapuannya. (the right man in the right place). Alhadis: Apabila sebuah urusan diserahkan bukan pada ahlinya maka tunggulah kehancuran. (HR. Bukhari)

2. Menolak orang-orang lemah yang meminta jabatannya karena lemahnya kemampuan pada bidang tersebut. Ini di riwayatkan penolakan permintaan jabatan dari Sahabat Rasullah SAW yang sangan beliau cintai yaitu Abu Dzar Al Ghifari. Rasullah bersabda: Ini (jabatan) adalah amanah yang berat dan engkau adalah orang yang lemah

Kebijakan-kebijakan yang diambil Rasullah SAW menjadi langkah awal dalam sistem ekonomi islam, secara sederhana Rasullah SAW merubah sistem kepemilikan yang sebelumnya Feodal yaitu sistem penguasaan tanah oleh kaum bangsawan menjadi sistem islam yang memberikan tanah-tanah tersebut kepada orang-orang yang mampu untuk mengelolanya. Sistem moneter di tetapkan dengan sistem emas dan perak karena emas dan peraklah barang yang langka yang nilainya tidak akan susut termakan waktu, emas dan perak pula benda yang tidak akan habis di makan zaman. Selanjutnya Rasullah SAW juga menetapkan Rencana Pendapatan dan belanja Negara, pendapatan didapatkan dari Zakat, Infak, Shodaqoh, Jizyah, Ghonimah, dan keuntungan bagi hasil Negara dengan rakyat dalam mengelola sumber daya. Sedangkan pengeluaran Negara dari pendapatan tadi untuk biaya pertahanan Negara, penyaluran Zakat kepada yang berhak menerimanya, pembayaran Gaji pegawai negeri, pembayaran utang bagi rakyat yang meninggal dalam keadaan miskin, cadangan Negara, dan lain sebagianya. Sistem the right man in the right place ala Rasullah SAW melahirkan para pelayan publik yang professional, sigap dalam melayani rakyat dan amanah dengan jabatannya.

Dari sistem ekonomi islam pada masa Rasullah SAW rakyat dapat hidup sejahtera, tidak adanya kecemburuan sosial, kesenjangan social, dan masalah-masalah sosial lainnya. Berbeda dengan sistem ekonomi kapital yang melahirkan kaum kapital yang bertindak sewenang-wenang terhadap buruhnya, pendapatan dari Pajak yang sangat banyak macamnya menyebabkan beratnya pengusaha untuk membayarnya dan penyaluran pajakpun tidak berpihak

pada fakir miskin seperti pada masa Rasullah SAW tetapi untuk kepentingan para pengusaha.

Usaha Rasullah SAW untuk merevolusi sistem terus berlangsung yang diteruskan oleh para kholifaturasyidin seperti Abu Bakar, Umar bin Khottab, Ustman Bin Affan dan Ali bin Abi tholib hinga sampai kepada Kerajaan-kerajaan islampun revolusi ekonomi terus berlangsung hingga kesejahteraan untuk semua golongan dapat dan kondisi, maka Kholifah umar menambahkan beberapa kebijakan antara lain (Aris Amrullah, 2010: 11):

1. Menyempurnakan hukum dagang

2. Memantau Harga

3. Keserhanaan penampilan kholifah dalam penampilan untuk mengurangi kesenjangan sosial.

4. Menyita harga para pejabat yang menyalahgunakan amanah

Kholifah Umar bin Khattab menyempurakan hukum dagang yaitu salah satunya dengan mengurangi beban pajak bagi barang-barang pokok, agar barang-barang pokok dapat masuk ke kota-kota dan bisa bersaing dengan produk dari negeri lain. Umar juga membuat kebijakan pencerdasan kepada para pedagang terhadap hukum-hukum dagang yang berlandaskan syariat islam, seperti kebijakan tidak bolehnya orang jahil (bodoh) terhadap hukum dagang untuk berdagang di pasar. Agar kecurangan dalam perdangan dapat di minimalisir. Selain itu untuk Pemerintah juga selalu memantau harga dipasar, ketika harga itu melambung tinggi dan di sinyalir ada kecurangan penimbunan maka umar langsung mengungkap para penimbun barang dan menjualnya, sebaiknya ketika harga barang turun drastis yang sangat merugikan para pedangan maka umar membeli barang tadi untuk di simpan dengan harga normal. Umar juga tegas terhadap para pejabat yang melakukan kecurangan atau menyalahgunakan amanah, dengan tidak segan-segan menyita hartanya.

Kebijakan ekonomi terus di lanjutkan oleh pemimpin-pemimpian sebelumnya, sampai sistem ekonomi islam terkubur dengan runtuhnya pusat kekuasaan islam terakhir di Turki tahun 1924. Kehancuran ekonomi sosialis dan bencana ekonomi kapitalis membuat orang-orang islam berusaha untuk membangkitkan sistem ekonomi islam. Penggalian teori-teori ekonomi islam pun mulai gencar di lakukan oleh para ilmuwan muslim. Kebangkitan kembali terhadap sistem ekonomi diawali dengan pendirian lembaga keuagan syariah atau lembaga keuangan yang

menggunakan aturan islam yaitu dengan menggantian sistem ribawi menjadi sistem bagi hasil. Pusat-pusat kajian ekonomi islam pun mulai marak di berbagai Negara, karena mereka yakin hanya sistem ekonomi islamlah yang dapat menyalamatkan umat manusia dari kemiskinan dan musibah ekonomi.

Umat islam rindu akan kejayaan islam. Rindu akan kesejahteraan akibat dari sistem ekonomi islam. Walaupun sekarang islam belum punya kekuasaan (khilafah islamiyah) tetapi tidak menutup semangat terhadap perjuangan kejayaan islam. Sistem ekonomi islamlah solusi satu-satunya sistem yang telah terbukti membawa kemakmuran bagi semesta alam, bukan sistem sosialis yang telah terkubur, bukan sistem kapitalis yang telah membuat bencana ekonomi bagi manusia diseluruh dunia, juga bukan sistem ATM dari kedua sistem itu yang terbukti sama saja dengan sistem aslinya yaitu menyengsarakan rakyat.

Indonesia memiliki sistem ekonomi bukan kapitalis, bukan sosialis, bukan pula campuran, mungkin bisa dibilang sistem bukan-bukan. Ini dapat di tilik dari sejarah sistem Indonesia yang tergantung dari kecondongan Indonesia ke Negara kapitalis atau sosialis, ibarat kata ketika angin bertium ke barat Indonesia menggunakan sistem kapitalis, sebaliknya ketika Indonesia dekat dengan Negara-negara timur maka sistem sosialislah yang berlaku. Oleh karena itu Indonesia harus memantapkan langkah untuk menerapkan sistem ekonomi islam yang terbukti secara historis dapat mengentaskan kemiskinan.

DAFTAR PUSTAKA Amrullah Aris. 2010. Karya tulis ilmiah : Membangun Indonesia dengan Ekonomi Islam, Serang : BEM FE Untirta

Berita Resmi Statistik Badan Pusat Statistik (BPS). 2011. Profil Kemiskinan di indonesia Maret 2011, Jakarta : Berita Resmi Statistik No. 45/07/Th. XIV, 1 Juli 2011

Chamsyah bactiar, dkk. 2008. 100 Tahun Muhammad Natsir berdamai dengan sejarah. Jakarta : Republika

R. Wrihatnolo Randy, Riant Nugroho Dwidjowijoto. 2007. Manajemen Pemberdayaan, Sebuah Pengantar dan Panduan untuk Pemberdayaan Masyarakat, Jakarta : PT Elex Media Komputindo

Website dan jurnal http://putrijulaiha.wordpress.com/2011/04/08/sistem-perekonomian-indonesia/ (diakses 18/12/2011)

http://hizbut-tahrir.or.id/2008/10/02/krisis-ekonomi-as-pertanda-tamatnya-sistem-kapitalis/ (diakses 18/12/2011)

http://id.wikipedia.org/wiki/Kalender_Hijriyah (diakses 18/12/2011) T. Tirmidi Lipi, Jurnal Krisis Moneter Indonesia sebab, dampak, peran IMF dan Saran (diakses 18/12/2011)

Ditulis oleh Aris Amrullah, Mahasiswa Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, meraih Juara 1 Lomba Artikel Ekonomi Islam Dalam Temu Ilmiah Regional Fossei Regional Banten

http://www.fossei.org/index.php/articles/komparasi-sistem-ekonomi-islam

Artikel
28 Mei 2011 | 22:21 wibHome Artikel Detail

AKAR KEMISKINAN NELAYAN INDONESIA


00

Riyono, S.Kel, MSi* Tidak banyak yang tahu bahwa tanggal 6 April merupakan hari Nelayan Nasional. Keberadaan nelayan memang tidak menarik untuk diperbicangkan, kemiskinan dan penderitaan sebagai kaum termarginalkan selalu mengiringi kehidupan mereka. Kebangaan Indonesia dengan semboyan nenek moyangku seorang pelaut sudah hilang di generasi saat ini. Melimpah ruahnya kekayaan laut sampai sekarang hanya dinikmati oleh kalangan tertentu dan tidak mambawa efek kepada kesejahteraan nelayan. Kekayaan alam nusantara yang sudah mengundang Colombus untuk mengarungi lautan lepas dari Amerika Serikat menuju bumi pertiwi ini ibarat cerita di negeri dongeng bagi nelayan.

Prof Purbayu, pakar ekonomi pembangunan menyebutkan bahwa kekayaan alam Indonesia menduduki peringkat atas, hanya Brasil yang bisa menandinginya. Namun ironisnya kelimpahan dan kekayaan itu tidak membawa kesejahteraan rakyat, khususnya nelayan. Kondisi kemiskinan semakin hari semakin bertambah, terutama nelayan di pesisir pantai.

Lebih dari 22 persen dari seluruh penduduk Indonesia justru berada di bawah garis kemiskinan dan selama ini menjadi golongan yang paling terpinggirkan karena kebijakan dalam pembangunan yang lebih mengarah kepada daratan. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2008, penduduk miskin di indonesia mencapai 34,96 juta jiwa dan 63,47 persen % di antaranya adalah masyarakat yang hidup di kawasan pesisir dan pedesaan. Tahun 2010 angka kemiskinan yang dikeluarkan BPS terakhir mencapai 35 juta orang atau 13,33 persen dari jumlah penduduk yang mencapai sekitar 237 juta jiwa, sedangkan Bank Dunia melaporkan kemiskinan di Indonesia masih berkisar sekitar 100 juta.

Prof. Herman Soewardi, Para pakar ekonomi sumberdaya melihat kemiskinan masyarakat pesisir, khususnya nelayan lebih banyak disebabkan karena faktor-faktor sosial ekonomi yang terkait karakteristik sumberdaya serta teknologi yang digunakan. Faktor-faktor yang dimaksud membuat sehingga nelayan tetap dalam kemiskinannya.

Akar Kemiskinan di Nelayan

Banyak pendapat pakar tentang kemiskinan di pesisir, Panayotou (1982) mengatakan bahwa nelayan tetap mau tinggal dalam kemiskinan karena kehendaknya untuk menjalani kehidupan itu (preference for a particular way of life). Pendapat Panayotou (1982) ini dikalimatkan oleh Subade dan Abdullah (1993) dengan menekankan bahwa nelayan lebih senang memiliki kepuasaan hidup yang bisa diperolehnya dari menangkap ikan dan bukan berlaku sebagai pelaku yang semata-mata beorientasi pada peningkatan pendapatan.

Karena way of life yang demikian maka apapun yang terjadi dengan keadaannya, hal tersebut tidak dianggap sebagai masalah baginya. Way of life sangat sukar dirubah. Karena itu maka meskipun menurut pandangan orang lain nelayan hidup dalam kemiskinan, bagi nelayan itu bukan kemiskinan dan bisa saja mereka merasa bahagia dengan kehidupan itu.

Kemiskinan di komunitas nelayan masuk dalam kategori kemiskinan cultural dan kemiskinan structural. Jika kita telusuri kemiskinan nelayan sebenarnya hanya karena tiga factor pokok, pertama rendahnya political will pemerintah dalam membangun dunia kelautan dan perikanan secara integral. Kondisi ini bisa kita lihat dengan orientasi pembangunan ke perdesaan darat, bukan pesisir. Penempatan nelayan sebagai obyek pembangunan akhirnya mematikan inisiatif dan daya ungkit kearifan lokal.

Ini berbeda dengan di Sri Lanka, misalnya, pembangunan untuk mengatasi kemiskinan nelayan begitu signifikan hasilnya karena prinsip program pembangunan yang dianut adalah helping the poor to help themselves. Menjadikan nelayan berdaya berasal dari diri nelayan sendiri melalui pengembangan kearifan lokal akhirnya mengangkat nelayan Sri lanka semakin sejahtera. Kedua, lambannya proses alih teknologi di masyarakat pesisir. Nelayan luar negeri mencuri ikan di Negara kita dengan kapal serta alat canggih sehingga hasilnya bisa untuk hidup satu bulan. Kecanggihan teknologi pencuri ikan

telah merugikan Negara hampir 40 trilyun per tahun karena illegal fishing. Nelayan kita sangat jauh tertinggal secara teknologi, baik penangkapan ataupun pengolahan. Kapal tangkap yang hanya dilengkapi jaring tradisional hanya bisa menjangkau puluhan mil dari pantai, hasilnyapun tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan primer, apalagi sekunder dan tersier. Hasil yang sedikit itupun kadang harus disisihkan untuk membayar hutang ke rentenir.

Ketiga, minimnya sinergi antara pemerintah dan stakeholder pembangunan perikanan kelautan. Kita ambil contoh bagaimana antar departemen saling berebut mangsa nelayan untuk dijadikan obyek proyek pengentasan kemiskinan. Ini menunjukkan ego sektoral dan rendahnya komitmen berpihak kepada nelayan, lemahnya koordinasi antar departemen atau dinas dalam pengentasan kemiskinan nelayan membuat program yang saling tumpang tindih akhirnya menindih nelayan sehingga semakin miskin.

Boleh jadi banyak bantuan, namun karena tidak adanya spirit kebersamaan dan integralitas antar sector membuat bantuan akhirnya menjadi bancakan yang tidak meninggalkan bekas di hati nelayan. Sinergisitas di pemerintahan sangat sulit dilaksanakan dan pemerintah juga kurang menyapa stakeholder swasta, ormas, LSM sebagai pilar yang terlibat secara langsung dalam keseharian kehidupan nelayan.

Ini terjadi karena tidakadanya rasa saling percaya antara pemerintah dan stakeholder. Misalnya LSM selalu dituding kritis dan berorientasi materi, padahal sejujurnya apa yang dilakukan teman LSM adalah mencari akar masalah yang riil di tingkat nelayan sehingga memiliki identifikasi dan data yang akurat tentang kondisi nelayan. Tujuan itu akhirnya menghasilkan pendekatan yang tepat bagi program pengentasan kemiskinan.

Selama ini pemerintah sering tidak memahami masalah serta tugasnya dalam menangani kemiskinan di nelayan, sehingga karena memiliki dana yang penting penyerapan anggaran tercapai. Padahal tidak jelas output dan outcamenya. Parahnya program dinas sering kita temukan hanya copy paste program tahun sebelumnya dengan sedikit modifikasi di nomer urut program. Tiga masalah diatas merangkup berbagai pendapat para ahli dan akademisi yang kadang hanya berputar putar pada tataran konsep dan teori.

Kebangkitan Nelayan

Mengharapkan kebijakan pemerintah rasanya sulit untuk bangkit dari keterpurukan nelayan Indonesia. Sekarang ini saja sudah lenyap jati diri nelayan, yang ada hanyalah buruh, kuli dan nelayan gurem yang terpaksa menerima kondisi kemiskinan ini. Layak kiranya gerakan sipil dan komunitas muda merintis berbagai usaha untuk membangun keberanian dan kemandirian buruh nelayan agar memiliki harapan hidup ke depan yang lebih baik. Gerakan mahasiswa hendaklah segera bersama nelayan, jangan terseret arus politik. Peran pendampingan masih sangat diharapkan ditengah aparat yang terbatas jumlahnya. Adakanlah Kuliah Kerja Nyata dan kuliah kerja usaha di lingkungan nelayan, ajarkanlah mereka tentang usaha dan teknologi secara kontinyu. Jika gerakan mahasiswa mau menggarap isu proletar kerakyatan maka optimisme nelayan pelan pelan akan bangkit. Gerakan masyarakat professional seperti ICMI yang telah mendeklarasikan akan lebih dekat dengan isu grassroot hendaknya segera bergabung. Masyarakat profesi ini memiliki keahlian dan tenaga trampil yang sudah mandiri, mereka bekerja karena panggilan pengabdian, bukan karena materi.

Jika isu ini diangkat dan dilakukan akan membuat pondasi semangat dan harapan yang dibangun oleh gerakan mahasiswa akan berlanjut, sumberdaya dan sumberdana masyarakat profesi lebih kuat dan fleksibel dalam membuat program yang mewadahi kearifan local nelayan.

Bersatunya gerakan mahasiswa dan gerakan sipil akan menjadikan agenda pengentasan kemiskinan semakin banyak yang menyelesaikan, terutama kemiskinan di lingkungan pesisir. Kebersamaan dalam agenda dan kepentingan untuk mengentaskan kemiskinan akan menjadikan bangsa ini sibuk bekerja, bukan hanya sibuk berkomentar tentang kemiskinan nelayan.

Belajar dari Muhammad Yunus pengentas kemiskinan di India, rupanya bersatunya gerakan sipil dan professional harus didukung oleh keberpihakan tokoh yang rela tidak popular, hidup bersama nelayan membangkitkan semangat dan harapan hidup ke depan. Saat ini belum ada tokoh yang menjadi tempat curhat nelayan, kiranya DPR masih ingat akan janjinya saat pemilu merekalah yang harusnya bisa menjadi bapak nelayan. Namun kapan kemiskinan nelayan ini akan berakhir? Siapa yang akan peduli? jangan sampai kekayaan laut kita hanya menjadi bancakan Negara asing.

*Penulis adalah Pemerhati masalah kelautan dan pertanian; Pengurus Harian DPW PKS Jateng

Sumber: PKS Jateng Online ( Riyono, S.Kel, MSi* )

http://pks-jateng.or.id/index.php/read/news/detail/149/Akar-Kemiskinan-Nelayan-Indonesia