Anda di halaman 1dari 25

566

Zulfahmi Bustami

Zulfahmi Bustami ARGUMENTASI POSITIFIKASI HUKUM ZAKAT DI INDONESIA

Abstract : Utilize optimally of gathering and management of religious obligatory (zakat) needed governmental intervention, especially through legislating arranging it expressly, because law have energy force strong. Religious obligatory as part of system punish conducive Islam for application in Indonesia. Because Islam law as part of system punish national. Basis for base accepting of Islam law in system punish national are opening of UUD 1945 fourth paragraph, section 29 chapter of XI UUD 1945, and GBHN. A. PENDAHULUAN Syariat Islam tidak hanya berdimensi ibadah, tetapi juga mengandung dimensi sosial kemanusiaan. Zakat adalah ibadah yang bermuatan dua dimensi sekaligus, ibadah kepada Allah dan hubungan kemanusiaan. Pada perkembangan pengamalan zakat tidak hanya memenuhi kewajiban semata, tetapi mengarah kepada perkembangan perekonomian Islam. Dan dalam konteks Indonesia, berbicara tentang ekonomi Islam, akan mengarah kepada pelaksanaan zakat. Mengoptimalkan pengamalan zakat diperlukan intervensi pemerintah, terutama melalui pembuatan undang-undang yang mengatur secara tegas. Hal ini disadari bahwa undang-undang memiliki daya paksa yang kuat(law enforcement).1 Sebagai komperatif, keberhasilan pengumpulan dan pengelolaan pajak adalah sebagai contoh kongkrit dari efektivitas undang-undang. Dalam konteks ini, tidak sedikit ulama dan cendikiawan muslim Indonesia menginginkan zakat dikelola sebagaimana halnya pajak. 2
Hukum Islam. Vol. VII No. 5. Juli 2007

567

Zulfahmi Bustami

Zakat sebagai bagian integral dari sistem hukum Islam, dimungkinkan untuk diaplikasikan secara totalitas di Indonesia. Sebab bagaimanapun juga eksistensi hukum Islam diakui sebagai bagian dari hukum nasional, sebab mayoritas rakyat Indonesia adalah Muslim. Jumlahnya kurang lebih 87,21% dari keseluruhan rakyat Indonesia. 3 Kondisi objektif ini menyebabkan setiap kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah dalam berbagai aspek, tidak terkecuali aspek ekonomi, akan langsung dirasakan dampaknya oleh umat Islam, sebagai penduduk mayoritas di negeri ini. Dan ini terbukti dengan muncunya undang-undang zakat Nomor 38 tahun 1999 tentang pengelolaan zakat yang disahkan Presidan Habibie.4 Berdasarkan uraian di atas, penulis ingin mengkaji lebih dalam tentang persoalan yang dianggap penting, yakni: bagaimana argumen yang kuat tentang terwujudnya positifikasi hukum zakat di Indonesia. Jawaban ini hendaknya dapat membawa kepada paradigma filosofis dari pengumpulan dan pemberdayaan zakat di Indonesia secara umum. B. PENGERTIAN POSITIFIKASI Positifikasi adalah padanan kata dari kata mempositifkan atau memberlakukan secara positif-legal. Dalam artian bahwa zakat dapat dijadikan sebagai salah satu tata hukum yang berlaku di Indonesia, yang secara khusus ditujukan bagi ummat Islam. Dengan demikian diharapkan zakat diharapkan tidak hanya sekedar sebagai suatu hukum yang dicita-citakan (Ius constituendum), namun menjadi hukum positif yang berlaku di Indonesia (Ius constitum). Sehingga pada akhirnya zakat diharapkan tidak hanya berdayaguna bagi ummat Islam sediri, namun juga bagi seluruh rakyat Indonesia. C. ARGUMENTASI POSITIFIKASI HUKUM ZAKAT 1. Sejarah Perkembangan Zakat di Indonesia Dilihat dari aspek historis, perkembangan zakat di Indonesia telah mengalami perjalanan waktu yang panjang. Sejak masuknya Islam ke wilayah nusantara, zakat telah menjadi salah satu sumber
Hukum Islam. Vol. VII No. 5. Juli 2007

568

Zulfahmi Bustami

dana penting bagi pengembangan dakwah Islam. Kemudian ketika memasuki era kolonialisasi Barat, zakat dijadikan sebagai salah satu sumber penopang dana perjuangan melawan penjajahan. Ketika wilayah jajahan makin meluas, pemerintah Belanda mengeluarkan Bijbled No. 1892 tanggal 4 Agustus 1892, yang isinya adalah kebijakan pemerintah kolonial mengenai zakat. Lahirnya undangundang tersebut didorong oleh suatu keinginan rezim kolonial agar tidak terjadi penyelewengan (manipulasi) keuangan zakat oleh para penghulu atau naib zakat (petugas zakat) yang bekerja bagi kepentingan kolonial. Para petugas zakat tersebut tidak diberi gaji untuk membiayai hidup, kesehatan dan kesejahteraan diri dan keluarga. 5 Upaya selanjutnya yang dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda dalam rangka meminimalisir kekuatan ekonomi rakyat yang bersumber dari zakat, yaitu dengan dikeluarkannya larangan untuk membantu pelaksanaan zakat bagi pegawai pemerintah dan priyayi pribumi. Larangan tersebut tercantum dalam Bijblad No. 6200 tanggal 28 Februari 1905. Peraturan tersebut berlaku untuk seluruh wilayah jajahan. Larangan tersebut lahir didorong karena berakhirnya Perang Aceh pada tahun sebelumnya (1904), yang telah berlangsung puluhan tahun. Penerbitan larangan tersebut terutama ditujukan bagi para priyayi pribumi Aceh, untuk tidak lagi berupaya membantu pengumpulan dan pengelolaan dana zakat berdasarkan Syariat Islam yang telah berjalan sebelumnya. 6 Lahirnya ordonansi Pemerintah Belanda No. 6200 tersebut pengaturan tentang pengumpulan dan pengelolaan dana zakat diserahkan sepenuhnya kepada ummat Islam sesuai dengan ajaran Islam. Kondisi ini menjelaskan tentang upaya pemerintah Belanda untuk memisahkan antara Negara dengan ajaran agama. Bahwa tujuan utama dari kebijakan kolonial tersebut adalah untuk melemahkan perekonomian rakyat, yang bersumber dari zakat. Oleh karena itu dapat dipahami bahwa kebijakan tersebut sebagai upaya legal melemahkan kekuatan rakyat pribumi, yang mayoritas beragama Islam. 7
Hukum Islam. Vol. VII No. 5. Juli 2007

569

Zulfahmi Bustami

Pasca proklamasi kemerdekaan, Negara Republik Indonesia senantiasa mengalami dinamika. Konsep UUD 1945 dan Pancasila dengan Piagam Jakarta sebagai jiwanya pada masa awal kemerdekaan belum memberikan tempat yang layak bagi implementasi zakat. Namun secara informal terdapat ide dari beberapa tokoh masyarakat dan pejabat pemerintahan tentang implementasi zakat dan kaitannya dengan kewenangan pemerintah. Diantara gagasan tersebut adalah seperti yang disampaikan oleh Mr. Jusuf Wibisono pada tahun 1950, Menteri Keuangan ketika itu. Ia menuangkan idenya dalam sebuah makalah yang dimuat dalam majalah Al-Hikmah, tentang perlunya memasukkan zakat sebagai salah satu komponen sistem perekonomian keuangan Negara Indonesia. Juga berkembang suara-suara di kalangan anggota parlemen yang menginginkan agar persoalan zakat diatur dengan peraturan perundang-undangan dan diurus langsung oleh pemerintah atau Negara.8 Gagasan-gagasan tersebut belum menjelma menjadi kenyataan. Justru sebaliknya pemerintah melalui kementerian Agama pada tanggal 8 Desember 1951, mengeluarkan Surat Edaran tentang pelaksanaan zakat fitrah No. A/VII/17367. Surat tersebut berisikan bahwa pemerintah tidak mencampuri rakyat yang beragama Islam dalam mengumpulkan dan mengelola zakat fitrah. Dalam tugas tersebut dijelaskan bahwa tugas pemerintah hanya: 9 a. Menggembirakan dan menggiatkan masyarakat untuk menunaikan kewajibannya; b. Melakukan pengawasan supaya pemakaian dan pembagiannya dari hasil pungutan tersebut dapat di laksanakan sesuai dengan hukum agama. Tahun berikutnya perhatian terhadap permasalahan zakat terus mengalami peningkatan. Pada tahun 1964, kementerian agama menyusun Rancangan UU (RUU) tentang pelaksanaan zakat dan Rencana Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (RPPPUU) tentang pelaksanaan pengumpulan dan pembagian serta pembentukan bait al-mal. Dengan disertai alasan yang tidak jelas, RUU tersebut

Hukum Islam. Vol. VII No. 5. Juli 2007

570

Zulfahmi Bustami

belum dapat disampaikan kepada parlemen, dan begitu juga RPPPUU juga sempat diajukan kepada presiden.10 Pada tahun 1967 disusunlah RUU tentang zakat yang kemudian diajukan kepada pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPR-GR), dengan disertai surat Menteri Agama No. MA/095/1967, tanggal 5 Juli 1967. RUU ini juga mengalami kegagalan, ditolak oleh DPR-GR. Pada masa tersebut sedang berkembang sikap curiga terhadap segala upaya pengembangan di bidang ajaran Islam, dan upaya tersebut dikategorikan sebagai upaya mendirikan Negara Islam di Indonesia. 11 Beriringan dengan diajukannya RUU tersebut ke DPR, Menteri Agama juga mengirim RUU zakat kepada Menteri yang memiliki kaitan dengan bidang ini, yaitu Menteri Sosial, dan Menteri Keuangan, dengan surat No. MA/099/1967, tanggal 14 Juli 1967. Dalam surat tersebut kepada Menteri Sosial diharapkan untuk memberi saran dan konstruktif bagi penggunaan dana zakat karena berkenaan dengan kepentingan dan tujuan sosial. Demikian juga Menteri Keuangan diharapkan memberi arahan karena dianggap telah memiliki pengalaman dalam pemungutan dan pengelolaan dana pajak. Namun sangat disayangkan jawaban Menteri Keuangan yang hanya memberi saran dan belum menyentuh kepada solusi subtansif, yaitu agar permasalahan zakat ditetapkan dengan Peraturan Menteri Agama, seperti yang tercantum dalam suratnya bernomor: D.15-1-5-25.12 Pada akhir tahun 1960-an perhatian pemerintah terhadap persoalan zakat semakin meningkat secara kualitatif. Indikasinya ditandai dengan diterbitkannya Peraturan Menteri Agama (PMA) No. 4 tahun 1968 tentang pembentukan Badan Amil zakat. Untuk memperkuat PMA tersebut pada tahun itu juga dikeluarkan PMA No. 5 tahun 1968 yang berisikan tentang pembentukan bait al-ma yang statusnya semi resmi yang berbentuk yayasan. Tidak beberapa lama PMA tersebut dikeluarkan, Presiden Soeharto dalam pidatonya pada malam peringatan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW, tanggal 22 Oktober 1968 mengeluarkan anjuran untuk mengumpulkan zakat secara sistematis dan terorganisir dengan baik. 13
Hukum Islam. Vol. VII No. 5. Juli 2007

571

Zulfahmi Bustami

Menyahuti terbitnya surat anjuran tersebut, Menteri Agama mengeluarkan instruksi No. 1 tahun 1969, yang berisikan penundaan Pelaksanaan Peraturan Menteri Agama No. 4 dan 5 tahun 1968.14 Selanjutnya pada tanggal 21 Mei 1969, keluarlah Kepres No. 44 tahun 1969, tentang Pembentukan Panitia Pembangunan Uang Zakat yang diketahui oleh Menko Kesra. Ketika itu, Dr. KH. Idham Chalid. Kepres ini dalam operasionalnya diuraikan dalam Surat Edaran Menteri Agama No. 3 Tahun 1969, yang intinya hasil pengumpulan uang zakat agar dikirim kepada Presiden Soeharto melalui rekening Giro Pos No. A.10.00.15 Mengenai hasil dari surat perintah dan Kepres tersebut sampai saat ini belum dapat di peroleh data-datanya. Empat belas tahun kemudian Presiden Soeharto merealisasikan anjurannya dengan mendirikan Yayasan Amal Bhakti Muslim Pancasila (YABMP), tepat pada tanggal 17 Februari 1982, dengan Akta Notaris No. n29. Yayasan ini tercantum dalam Lembaga Negara RI No. 17, tanggal 26 Februari 1982. Tujuan utama dari pendirian yayasan ini adalah untuk memperbanyak rumah Ibadah ummat Islam yang jumlahnya dirasakan masih minim, terutama untuk daerahdaerah terpencil dan lingkungan masyarakat yang kurang mampu. Dana yayasan ini berasal dari sumbangan Instansi Pemerintah, Badan Usaha Negara dan Swasta, amal jariah, shadaqah dan hibah. Pada Instansi Pemerintah, sumbangan ditarik dari potongan gaji pegawai negeri sipil dan ABRI-Polri yang muslim. 16 Sebagai respon dari meningkatnya perhatian pemerintah pusat terhadap persoalan zakat, pemerintah daerah yang dipelopori oleh Pemda DKI Jakarta di bawah pimpinan Gubenur Ali Sadikin, berinisiatif mendirikan Badan Amil Zakat (BAZ) pada tahun 1968. selanjutnya diikuti oleh Pemda-Pemda lainnya dengan mendirikan lembaga sejenis. Seperti Bazis atau BAZ di Kalimantan Timur (1972) Sumatera Barat (1973), Jawa Barat (1974), Aceh dan Lampung (1975), Kalimantan Selantan (1977), Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Barat (1985).17 Dari kenyataan tersebut dapat dilihat bahwa terbentuknya Badan Amil Zakat pada umumnya dilakukan dengan Surat Keputusan Gubernur. Dengan demikian posisi
Hukum Islam. Vol. VII No. 5. Juli 2007

572

Zulfahmi Bustami

badan tersebut semi pemerintah. Selain itu, badan amil zakat dalam setiap daerah namanya berbeda-beda, meskipun pada umumnya menggunakan nama BAZ, Bazis atau Bazi (dengan kata infak), dan Bazid (ditambah dengan derma). Di propinsi Aceh lembaga tersebut bernama Badan Harta Agama (BHA), Lembaga Harta Agama Islam di Sumatera Utara, dan Yayasan Dana Sosial Islam di Sumatera Barat.18 Pada era tersebut perkembangan kelembagaan zakat di berbagai daerah lain cukup variatif ada yang masih berbatas konsep, lembaga tersebut ada yang baru berdiri di tingkat Kabupaten seperti di Jawa Timur, atau hanya dilakukan oleh Kantor Wilayah Departemen Agama saja, demikian juga ada yang belum memiliki pemikiran tentang zakat sama sekali, dan ada juga yang belum beroperasi sama sekali meskipun sudah terbentuk lembaganya.19 Pada tahun 1984, Menteri Agama mengeluarkan instruksi No. 2/1984, tanggal 3 Maret 1984 tentang Infak Seribu Rupiah yang diadakan khusus selama bulan Ramadhan. Operasional dari instruksi ini diatur dalam keputusan Dirjen Dimas Islam dan Urusan Haji No. 19/1984, tanggal 30 April 1984 kemudian penggunaan dananya diatur dalam Radio Gram Menteri Agama No. 16/1986 tanggal 13 Juni 1986. Selanjutnya pada tahun 1989, Menteri Agama menerbitkan Instruksi No. 16/1989 tanggal 12 Desember 1989, tentang Pembinaan Zakat, Infaq dan Shadakah dalam instruksi Menteri Agama tersebut ditetapkan semua jajaran Departemen Agama, mulai dari Propinsi (Kantor Wilayah) Kabupaten, Kotamadya (Kantor Departemen Agama), hingga tingkat Kecamatan (Kantor Urusan Agama) agar membantu Lembaga-Lembaga Keagamaan yang menyelenggarakan Pengelolaan zakat, infaq dan shadakah agar mendayagunakan hasil pengelolaannya untuk kepentingan kelangsungan pendidikan Islam, dan hal-hal lain yang mendukung pengembangan dawah Islam. 20 Ketentuan terakhir yang dikeluarkan Pemerintah mengenai zakat adalah Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Agama RI dan Menteri Dalam Negeri RI. Surat Keputusan Bersama tersebut bernomor 29 dan 47 tahun 1991, tanggal 19 Maret 1991. Mengenai petunjuk teknis operasionalnya diatur dalam Instruksi Menteri Agama
Hukum Islam. Vol. VII No. 5. Juli 2007

573

Zulfahmi Bustami

No. 5 tahun 1991, yang isinya membahas tentang Pedoman Pembinaan Teknis Badan Amil Zakat, Infaq dan Shadaqah. SKB ini secara garis besar isinya adalah sebagai berikut:21 1. Bab I, membicarakan tentang ketentuan umum, yang dijabarkan dalam pasal 1. 2. Bab II, memperbincangkan tentang maksud dan tujuan yang diuraikan dalam pasal 2 3. Bab III, menguraikan tentang bentuk, asas, sifat dan fungsi. Bab ini berisi pasal 3, 4, 5 dan 6. 4. Bab IV, menjelaskan tentang kepengurusan yang dipaparkan dalam pasal 7. 5. Bab V, tentang hak dan kewajiban. Bab ini terdiri dari pasal 8 dan pasal 9. 6. Bab VI, berisikan tentang pembinaan, yang dipaparkan dalam pasal 10, 11, 12 dan pasal 13. 7. Bab VII, fokus bahasannya tentang lain-lain. Uraian bab terdiri dari pasal 14, 15, 16 dan pasal 17. Mengenai Instruksi Menteri Agama RI No. 5 tahun 1991, tentang Pedoman Teknis Badan Amil Zakat, Infaq dan Shadaqah, yang diterbitkan pada tanggal 19 Oktober 1991, isi utamanya adalah instruksi kepada Kepala Kantor Departemen Agama Propinsi, Departemen Agama Kabupaten/Kotamadya dan Kepala Kantor Urusan Agama tingkat Kecamatan agar melaksanakan Surat Keputusan Bersama Menteri Dalam Negeri dan Menteri Agama RI tersebut di atas, sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam lampiran I dan II instruksi tersebut. Isi instruksi tersebut secara garis besar adalah :22 A. Lampiran I isinya mengenai antara lain: 1. Pendahuluan: Dalam bab ini di jelaskan latar belakang lahirnya SKB antara Menteri Dalam Negeri dan Menteri Agama. Selanjutnya tentang tujuan yang ingin diraih yaitu optimalisasi penerimaan, pengumpulan, penyaluran dan pendayagunaan zakat, infaq dan shadaqah oleh BAZIS.

Hukum Islam. Vol. VII No. 5. Juli 2007

574

Zulfahmi Bustami

2. Pembinaan teknis: Pada bab ini dijelaskan arah kebijaksanaan Bazis, yaitu; peningkatan kesadaran ummat, peningkatan iman dan taqwa, pengembangan potensi ummat dan demi kepentingan dan kesejahteraan masyarakat. Selanjutnya dijelaskan juga tentang prinsip-prinsip pengelolaan, yaitu antara lain: keterbukaan, sukarela keterpaduan, profesional dan mandiri. Berikutnya membicarakan tentang sasaran penerimaan dan penghitungan nisab zakat, dalam hal ini dibahas tentang objek yang menjadi sasaran penerimaan Bazis, yaitu terdiri dari: zakat, infak dan shadaqah. Demikian juga fitrah, dan penghitungan nisab harta yang harus dizakati. Pembahasan akhir dari lampiran tersebut terdiri dari: lingkup kewenangan, penerimaan dan pengumpulan zakat, infak dan shadaqah, penyaluran dan pendayagunaan, pengawasan dan pertanggungjawaban serta tata kerja Bazis. 3. Penutup: dijelaskan tentang operasional Bazis dibawah koordinasi Kepala Daerah/Wilayah setempat (mulai Gubernur, Bupati/ Walikota hingga Camat). Selanjutnya dijelaskan tentang hal-hal yang belum diatur akan diatur lebih lanjut oleh Dirjen Bimas Islam dan Urusan Haji. B. Lampiran II, berisi tentang tabel jenis harta dan ketentuan wajib zakat (nisab, kadar dan waktu) dan disertai dengan keterangan selengkapnya. Jenis harta tersebut dibagi kedalam enam jenis, yaitu: Pertama; tumbuh-tumbuhan, kedua; emas dan perak, ketiga; kelima; penghasilan tetap, dan keenam; zakat fitrah. Selain zakat fitrah, nishab semua jenis harta di luar tumbuh-tumbuhan dan binatang ternak ditetapkan dengan nilai 94 gram emas dengan kadar zakatnya 2,5 persen. Mengenai jumlah dana zakat, infak dan shadaqah dan realisasi pendayagunaannya dari seluruh peraturan pemerintah yang telah dipaparkan di atas, sulit dilacak datanya. Hanya dana yang masuk dan dikelola oleh Yayasan Amal Bhakti Muslim Pancasila, dibawah pimpinan Presiden Soeharto, dapat ditelusuri dan dipelajari datangnya. 23 Sampai dengan tahun 1994 telah terbangun 634 mesjid yang dibiayai oleh YABMP. Biaya pembangunan setiap mesjid
Hukum Islam. Vol. VII No. 5. Juli 2007

575

Zulfahmi Bustami

berkisar antara Rp. 120 juta hingga Rp. 140 juta. Mesjid-mesjid tersebut tersebar di 2006 Kabupaten dan 52 Kotamadya. Seluruh mesjid dapat menampung 377 ribu jamaah, sementara jumlah dana keseluruhan yang telah dikeluarkan kurang lebih 82 milyar rupiah. Selain itu, dana YABMP juga disalurkan untuk pengiriman 1000 dai ke daerah-daerah terpencil dan pemukiman-pemukiman transmigrasi. Setiap dai mendapat bantuan sebesar Rp. 100.000,- tiap bulan selama tiga tahun. Selain itu, dana YABMP juga disalurkan bagi pembangunan empat Rumah Sakit Islam, yang dibangun untuk mengenang Peristiwa Terowongan Mina yang berlokasi di empat kota embarkasi haji: Ujung Pandang, Medan, Jakarta dan Surabaya. 24 Dari kondisi tersebut dapat diperkirankan dana yang terkumpul hingga tahun terakhir berkuasanya Soeharto berjumlah ratusan miliyar rupiah. Pada awal perkembangannya, jenis harta benda yang wajib dizakati hanya terbatas pada emas, perak, hasil pertanian, barang dagangan, mata uang, barang temuan, dan binatang ternak dalam jumlah yang terbatas.25 Pokok persoalan dari kondisi tersebut berpangkal pada pembahasan masalah zakat yang terdapat dalam kitab-kitab fiqh tradisional. 26 Jenis harta benda tersebut tertuang dalam tabel berikut: JENIS HARTA BENDA YANG WAJIB DIZAKATI MENURUT KITAB FIQH KLASIK
No
1 2 3

Jenis Harta
Emas Perak Hasil pertanian/perkebunan (beras, jagung, gandum, kurama dan anggur Barang dagangan Hasil tambang Mata uang Barang temuan

Nishab
93,6 gr 624 gr 750 kg

Haul
1 th 1 th Waktu panen

Persentase
2,5% 2,5% 5% irigasi 10% tadah hujan 2,5% 2,5% 2,5% 20%

4 5 6 7

93,6 gr 93,6 gr 93,6 gr 93,6 gr

1 th 1 th 1 th Waktu ditemukan

Hukum Islam. Vol. VII No. 5. Juli 2007

576
8 Binatang Ternak : a. Unta

Zulfahmi Bustami

5 ekor

1 th

b. Sapi/kerbau

30 ekor

1 th

c. Kambing

40 ekor

1 th

1 ekor kambing biasa umur 2 tahun atau lebih 1 ekor anak sapi/kerbau umur 2 tahun atau lebih 1 ekor kambing umur 2 tahun

Sumber: Masifuk Zuhdi, masail al-Fiqhiyah, (Jakarta: Mas Agung, 1996), hlm. 261. Pada perkembangan selanjutnya jenis-jenis harta benda yang wajib dizakati mengalami perluasan dan pengembangan, meliputi sektor pertanian dan perkebunan27, seperti: kopi, cengkeh, cokelat, jeruk dan apel. Pada sektor peternakan meliputi: ayam, itik, kelinci dan burung puyuh. Selanjutnya sektor industri, jasa dan profesi seperti pegawai negeri-swasta, jaksa, pengacara, dokter, notaris, konsultan dan profesi lainnya.28 Uraian lebih lengkap tercantum dalam lampiran (tabel) tentang jenis harta benda yang wajib dizakati menurut instruksi Menteri Agama RI, No.5 tahun 1991, tanggal 18 Oktober 1991. Dari uraian mengenai jenis-jenis harta benda yang wajib dizakati pada Instruksi Menteri Agama tersebut, dapat dilihat eskalasi perkembangan zakat di Indonesia yang terus mengalami, perkembangan, seiring makin tingginya kepedulian segenap komponen masyarakat Islam dan pemerintah, perkembang itu juga didukung oleh dinamika sosial ummat Islam yang dipelopori oleh para ulama dan cendekiawan. Di samping itu, secara khusus perubahan sosial tersebut berpengaruh kepada orientasi ulama dan cendikiawan muslim Indonesia tentang perumusan kembali fiqih zakat yang sesuai dengan konteks zamannya. Kemudian dilihat dari rangkaian Peraturan Pemerintah, baik yang diterbitkan oleh Departemen Agama maupun Presiden terdapat kelambanan penguasa dalam merespon aspirasi yang berkembang di tengah masyarakat dalam masalah zakat. Padahal dilihat dari kuantitas
Hukum Islam. Vol. VII No. 5. Juli 2007

577

Zulfahmi Bustami

umat Islam Indonesia yang mayoritas beragama Islam, zakat memiliki potensi besar sebagai sumber keuangan dalam pemberdayaan ekonomi rakyat Indonesia. Kondisi ini seperti yang diakui banyak pihak, terutama cendikiawan, tidak lepas dari arah kebijakan pemerintah yang cenderung kurang peduli terhadap aplikasi syariat agama Islam, baik pada orde lama, maupun orde baru. Pada masa orde lama politik menjadi pilar utama pembangunan nasional. Sedangkan pada masa orde baru berkuasa, pembangunan ekonomi dijadikan landasan utama pembangunan nasional. Kedua kondisi tersebut mengenyampingkan hal-hal lain, yang pada prinsipnya sangat vital bagi rakyat, seperti aplikasi dan aktualisasi syariat agama, termasuk di dalamnya zakat.29 2. Hukum Islam Dalam Konteks Hukum Nasional Hukum Islam merupakan salah satu dari sistem hukum yang berlaku di Indonesia. Hal ini secara eksplisit dalam politik hukum nasional posisi hukum Islam telah diakui sebagaimana yang dirumuskan dalam GBHN. Berlakunya hukum Islam tersebut dengan demikian memiliki landasan konstitusional dan sekaligus landasan yuridis. Dilihat secara historis, hukum Islam menempati posisi yang menentukan dalam ketatanegaraan Indonesia sejak pra kemerdekaan, awal kemerdekaan, masa orde lama, dan orde baru. Kondisi itu dapat dilihat dalam rumusan Piagam Jakarta yang menjadi pijakan dasar pembukaan UUD 1945. Dalam rumusannya tercatat kalimat, Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan Syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.30 Ketentuan ini memiliki arti bahwa umat Islam Indonesia mempunyai kewajiban melaksanakan hukum Islam yang tidak hanya terbatas pada aspek hukum yang bermuatan vertikal (ibadah mahdah), tetapi juga yang berdimensi horizontal (ibadah sosial). Untuk mendukung hal tersebut diperlukan legitimasi pemerintah melalui perundang-undangan, terutama pada aspek-aspek yang memerlukan intervensi pemerintah dalam pelaksanaannya. Pada perkembangan selanjutnya meskipun tujuh kata dalam Piagam Jakarta tersebut telah dihapus dengan berbagai pertimbangan, bukan berarti bahwa hukum Islam tidak mantap eksistensi dan posisinya dalam tatanan Negara (hukum) Indonesia. Hal tersebut
Hukum Islam. Vol. VII No. 5. Juli 2007

578

Zulfahmi Bustami

dibuktikan dengan dicantumkannya Piagam Jakarta dalam Dekrit Presiden. Dalam dekrit tersebut selain ditetapkan bahwa Piagam Jakarta menjiwai UUD 1945 dan merupakan rangkaian kesatuan dalam konstitusi tersebut dalam konsideran, juga dinyatakan berlakunya kembali UUD 1945.31 Pasca Dekrit Presiden tersebut posisi hukum Islam dalam UUD 1945 semakin jelas dan mantap. Oleh karenanya dengan mengacu kepada kenyataan sila pertama Pancasila yang terdapat dalam pembukaan UUD 1945, dipahami sebagai kesesuian dengan hakikat Tuhan Yang Maha Esa, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi ummmt Islam. Kondisi tersebut secara eksplisit didukung oleh pasal 29 ayat (1) dan (2).32 Eksistensi pasal 29 ayat (1) merupakan penegasan sila pertama Pancasila. Ketentuan yang terdapat di dalamya dapat diinterpretasikan bahwa negara Indonesia adalah negara yang berketuhanan, dalam artian Tuhan (ajaran agama) dijadikan sebagai dasar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.33 Meskipun Indonesia bukan menganut paham teokrasi, akan tetapi segala kebijakannya dalam menjalankan tugas pemerintah harus seiring dengan ketentuan yang terkandung dalam sila pertama. Segala ketentuan tersebut bersumber dari ajaran agama yang diwahyukan Tuhan, dan wahyu Tuhan tersebut adalah sumber hukum yang tertinggi bagi para pemeluknya.34 Pasal 29 ayat (2) merupakan wujud implementasi dari pasal 29 ayat (1). Dalam tatanan praktis operasional, ketentuan-ketentuan normatif dalam hukum agama membutuhkan campur tangan pihak penguasa (pemerintah). Hukum merupakan salah satu kebutuhan utama rakyat, oleh karena itu Negara memiliki kewajiban untuk melaksanakan dan menjamin tegaknya hukum sesuai dangan aspirasi masyarakat.35 Pasal 29 ayat (2) memiliki korelasi yang erat dengan ketentuan yang termaktub dalam pasal 27 ayat (1).36 Penafsiran sistematis yang tergantung dalam pasal 27 ayat (1) yang berisikan jaminan atas kebebasan dan persamaan di depan hukum merupakan ketentuan hukum (lex generasi). Sementara itu, jaminan kebebasan untuk
Hukum Islam. Vol. VII No. 5. Juli 2007

579

Zulfahmi Bustami

menjalankan syariat agama masing-masing yang terdapat pada pasal 29 ayat (2) merupakan peraturan khusus (lex spesialis) bagi pemberlakuan hukum Islam di Negara Indonesia. 37 Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) sebagai haluan pembangunan nasional dalam bidang hukum seperti yang tercantum dalam Tap MPR No. II/MPR/1973, Tap MPR No. II/MPR/1978, Tap MPR No. II/MPR/1988 memfokuskan pada terwujudnya hukum baru Indonesia yang sesuai dengan cita-cita luhur Pancasila dan UUD 1945 serta bertujuan untuk kepentingan nasional. Hukum baru Indonesia berkewajiban memuat hukum agama (termasuk Islam) dan menjadikan sebagai salah satu unsur penting. Dengan demikian hukum agama menjadi bagian yang integral dan tak terpisahkan dari hukum nasional. Apalagi jika mengingat bahwa hakikat hukum harus mengutamakan kepentingan rakyat sebagai unsur terpenting negara. Sementara itu, mayoritas rakyat adalah ummat Islam, oleh karena itu hukum Islam selazimnya mendapat tempat yang proporsional dalam wacana pembangunan hukum nasional. 38 Kondisi objektif rakyat yang mayoritas beragama Islam tidak bisa diabaikan keberadaannya. Oleh karena itu setiap proses penetapan berbagai produk hukum nasional, hukum Islam tidak boleh dikesampingkan peranannya. Kemudian antara hukum nasional di satu pihak dengan aspirasi mayoritas rakyat (hukum Islam) mestinya terjadi hubungan yang saling terkait satu sama lain, sebab hukum tidak lepas hubungannya dengan kondisi objektif masyarakat.39 Kedudukan hukum Islam dalam wacana hukum nasional semakin jelas. Hal ini dibuktikan dengan adanya undang-undang nomor 14 tahun 1970, yang memuat tentang ketentuan-ketentuan pokok kekuasaan kehakiman. Pasal 10 ayat (10) menetapkan bahwa kekuasaan kehakiman di Indonesia dilakukan oleh pengadilan dalam lingkungan peradilan umum, peradilan agama, peradilan militer dan peradilan tata usaha negara. Dengan UU ini dapat dipahami tentang empat lingkungan peradilan dengan kompetensi dan lingkungan tersendiri. 40

Hukum Islam. Vol. VII No. 5. Juli 2007

580

Zulfahmi Bustami

Peradilan Agama (selanjutnya disebut dengan PA) adalah peradilan negara yang berlaku khusus bagi umat Islam, dan berkewenangan untuk menangani perkara-perkara perdata tertentu sesuai dengan hukum Islam. Keberadaan badan peradilan hukum Islam ini semakin kuat dengan diundangkannya Undang-Undang No. 7 tahun 1989 tentang Peradilan Agama. Dengan adanya UU ini kedudukan PA semakin jelas dan sejajar dengan badan peradilan lainnya. Kemudian hikmah penting lahirnya UU No. 7/1989 bagi umat Islam adalah semakin menguatnya posisi hukum Islam dalam hukum nasional. PA adalah lembaga yudikatif dan salah satu alat kelengkapan pemerintahan. PA memiliki tanggung jawab terhadap seluruh aspek pengakuan hukum. 41 Dalam Bab III 7/1898 pasal (49-53) tercantum kewenangan dana kekuasaan PA sebagaimana yang meliputi bidang-bidang hukum perdata antara lain: perkawinan, kewarisan, wasiat dan hibah yang dilakukan berdasarkan hukum Islam dan perkara wakaf dan shadaqah. Dari keterangan tersebut dapat dilihat bahwa kompetensi PA terbatas pada bidang hukum keluarga dari rakyat Indonesia yang beragama Islam, sehingga dengan demikian PA dapat dikategorikan sebagai peradilan keluarga.42 Eksistensi UU No 7/1989 menegaskan bahwa hukum Islam telah dilegitimasi secara sah sebagai bagian integral dari hukum nasional, dimana di dalamnya terkandung wawasan kebangsaan, wawasan nusantara dan wawasan Bhinneka Tunggal Ika. Selain itu aspek lainnya yang dapat dipahami bahwa hukum Islam menjadi salah satu hukum nasional yang dilandasi oleh nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945. Bukti lain telah berlakunya hukum Islam di Indonesia adalah telah diundangkannya UU No 1 tahun 1974 tentang perkawinan yang berlaku secara nasional, dan menerima eksistensi dan posisi hukum Islam sebagai dasar perkawinan. Kelahiran UU ini merupakan suatu kompromi antar berbagai kekuatan politik dengan aspirasi mayoritas rakyat Indonesia. Dalam pasal 2 UU No. 1/1974, ditetapkan bahwa perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum agama.
Hukum Islam. Vol. VII No. 5. Juli 2007

581

Zulfahmi Bustami

Adanya ketentuan ini menegaskan telah terjadinya reformasi hukum dari hukum rasial adat (yang berlaku sejak era kolonial) kepada hukum yang berdasarkan agama. Pasal tersebut bagi umat Islam menegaskan bahwa hukum Islamlah yang dipedomani dalam perkawinan mereka. Konsekuensi lebih lanjut dari perkawinan yang berpedoman kepada hukum Islam, semua akibat hukum yang terkait dengan masalah perkawinan seperti: kewarisan, pengasuhan anak, dan perwalian mesti dilaksanakan berdasarkan syariat Islam. 43 Posisi hukum Islam semakin kuat pasca diterbitkannya instruksi Presiden No 1 tahun 1991, tentang kompilasi hukum Islam di Indonesia. Untuk tahapan sosilisasi dan implementasi dan Inpres ini diikuti dengan Keputusan Menteri Agama RI No.154 tahun 1991, tanggal 22 Juni 1991. Bagi PA Kompilasi Hukum Islam (KHI) dimasudkan hukum materiil.44 Dalam lintasan sejarah, eksistensi hukum Islam telah ditransformasikan secara konstitusional, baik melalui UU 1945, yang meliputi pasal II aturan peralihan dan pasal 29 ayat (1) dan (2), juga secara ketentuan hukum yang berhubungan dengan penegakan hukum Islam seperti: penetapan pemerintahan No.1/1946 tentang pembentukan Departemen Agama 45, UU No. 22 tahun 1946 jo UU No. 32/1954 tentang Tata Cara Pencatatan Nikah (NTRC), UU Darurat No.1/1951 JIS UU No. 19 tahun 1963, UU No. 14/1970 tentang Kekuasaan Kehakiman dan UU No.III tahun 1985 tentang Mahkamah Agung. Undang Undang tersebut semakin mempertegas posisi hukum Islam dalam tatanan hukum nasional, sekaligus memberi dasar yuridis bagi implementasi hukum Islam. 46 Dengan melihat paparan di atas, peluang untuk mempositifikasikan hukum Islam dalam berbagai aspek makin terbuka, secara khusus dalam aspek muamalah (perdata) lebih terbuka dibanding bidang lainnya. Adanya UU No. 1 tahun 1974 tentang perkawinan, UUPA No. 7/1989, dan Kompilasi Hukum Islam. Aspek materiil PA secara signifikan memperjelas peluang positifikasi hukum zakat dan sekaligus metransformasikannya dari sekedar hukum normatif, menjadi hukum positif yuridis formal. 47
Hukum Islam. Vol. VII No. 5. Juli 2007

582 D. PENUTUP

Zulfahmi Bustami

Dalam uraian di atas, dapat lihat bahwa positifikasi hukum zakat diyakini oleh berbagai kalangan baik ulama, cendikiawan muslim, maupun pemerhati masalah zakat, sebagai solusi terbaik bagi terwujudnya optimalisasi pengumpulan dan pengelolaan dana zakat, sebagai salah satu kewajiban bagi kaum muslimin. Demikianlah pembahasan mengenai argumentasi positifikasi hukum zakat di Indonesia. Wallahu alam bi al-shawab. Semoga bermanfaat. Amin ya Rabbal alamin.

Hukum Islam. Vol. VII No. 5. Juli 2007

583 Endnotes :
1

Zulfahmi Bustami

2 3

Munawir Sjazali, Zakat dan Pajak, Sumber Dana Yang Menuntut Kepercayaan, dalam B. Wibowo et.al., Zakat dan Pajak, (Jakarta: Bina Rena Pari Wara, 1992), hlm. 22. Lihat Ibid., hlm. 36-37. Tarmizi Taher, Aspiring For Middle Path: Religious Harmony in Indonesia, (Jakarta: Censis, 1997), hlm. 13. Undang-undang ini pada dasarnya berisi beberapa hal yang ingin direalisasikan. Pertama, tentang perlu adanya badan amil zakat yang harus dibentuk pemerintah pada tingkat wilayah dan daerah sampai ke tingkat kelurahan, disamping lembaga yang dibentuk oleh yayasan atau badan swasta. Kedua, tentang pengumpulan zakat dapat dilakukan oleh badan amil dengan cara menerima atau mengambil dari muzakki atas pemberitahuannya, dan badan amil dapat bekerjasama dengan pihak bank. Undang-undang ini juga menjelaskan bahwa penghitungan harta, muzakki dapat meminta batuan pada badan amil. Undang-undang No. 38 Tahun 1999 Tentang Pengelolaan Zakat, pasal 11, 12, dan 14. Lihat Muhammad Daud Ali, Sistem Ekonomi Islam, Zakat dan Wakaf , (Jakarta: UI Press, 1991), hlm. 32-33. Muhammad Daud Ali dan Habibah Daud, Lembaga-Lembaga Islam di Indonesia, (Jakarta: Rajawali Press, 1995), hlm. 250-251. Belanda juga mengutamakan hukum adat dibandingkan hukum Islam bagi rakyat Indonesia. Lihat: Aqib Suminto, Politik Islam Hindia Belanda, (Jakarta: 1985), hlm. 11. Andi Lolo Tonang, Beberapa Pemikiran Tentang Mekanisme Badan Amil Zakat, dalam B. Wiwoho et.al., (ed.), Zakat dan Pajak, hlm. 262. Dapat dilihat pada Mohammad Daud Ali, Sistem Ekonomi, hlm. 35. Selanjutnya secara lebih sistematis pada tahun 1950-an, Hazairin mengajukan gagasan pendirian Bank Zakat. Menurutnya, dengan Bank ini zakat akan dapat didayagunakan tidak hanya bagi kepentingan umat Islam tetapi juga bagi rakyat Indonesia yang non muslim. Dana zakat dapat digunakan selain untuk delapan golongan yang telah ditentukan, juga dapat disalurkan sebagai pinjaman lunak jangka panjang tanpa bunga bagi rakyat miskin untuk digunakan sebagai modal usaha produktif. Dapat dibaca pada Hazairin, Tujuh Serangkai Tentang Hukum, (Jakarta: Bina Aksara, 1981), hlm. 144. Gagasannya menurut penulis cukup responsif-konstruktif serta berwawasan jauh ke depan dalam rangka pengembangan zakat di Indonesia. Seperti dikutip dari Andi Lolo Tonang, Beberapa Pemikiran Tentang Mekanisme Badan Amil Zakat, dalam B. Wiwoho et.al., (ed.), Zakat dan Pajak, Op.cit., hlm. 262.

Hukum Islam. Vol. VII No. 5. Juli 2007

584
10

Zulfahmi Bustami

11

12

13

14 15 16

Dapat dibaca pada Mingguan Gatra, (Jakarta: Edisi 7 Agustus 1999), hlm. 63. Juga Andi Lolo Tonang, dalam B. Wiwoho (ed.) et.al, Zakat dan Pajak, Op.cit., hlm. 263. Penulis berasumsi, kondisi perpolitikan Indonesia ketika itu tidak kondusif bagi pengajuan RUU dan RPPPUU kepada lembaga yang berwenang, dalam hal ini Parlemen dan Presiden. Seperti telah dimaklumi bahwa pada masa itu Partai Komunis Indonesia (PKI) dan pendukung Partai Nasionalis sekuler sedang mengalami masa perkembangannya. Bahkan pada tanggal 30 September telah meletus peristiwa pemberontakan PKI. Surat Menteri Agama tersebut isinya antara lain : Mengenai rancangan Undangundang zakat pada prinsipnya, oleh karena materinya mengenai hukum Islam yang berlaku bagi agama Islam, maka diatur ataupun tidak diatur dengan Undang-undang, ketentuan hukum Islam tersebut harus berlaku bagi ummat Islam, dalam hal mana pemerintah wajib membantunya. Namun demikian pemerintah berkewajiban moril untuk meningkatkan manfaat daripada penduduk Indonesia maka inilah perlunya diatur dengan Undang-undang. Seperti dikutip dari Andi Lolo Tonang, Zakat dan Pajak, Op.cit., hlm. 262265. Dapat dikaji pada: Mohammad Daud Ali dan Habibah Daud Arli, LembagaLembaga Islam.., hlm. 254-255. Juga Andi Lolo Tonang, dalam B. Wiwoho (ed.), et.al., Zakat dan Pajak, Op.cit., hlm. 263-264. Anjuran Presiden tersebut ditindaklanjuti dengan Surat Perintah Presiden No. 07/PRIN/10/10/1968, tanggal 31 Oktober 1968. Dalam surat tersebut Presiden memberikan tugas kepada Mayjen TNI Alamsyah Ratu Prawiranegara, Kol. H. Drs. Azwar Hamid dan Kol. Ali Affandi agar membantu pelaksanaan pengumpulan zakat. Seruan tersebut ditegaskan kembali oleh Presiden Soeharto pada sambutan Sholat Idul Fitri tanggal 2 Desember 1968, di halaman Istana Negara. Mohammad Daud Ali, Sistem Ekonomi, hlm. 37. Juga Andi Lolo Tonang, dalam B. Wiwoho, et.al., Zakat dan Pajak, Op.cit., hlm. 263. Lihat Ibid. Kutip dari Andi Lolo Tonang, dalam Ibid., hlm. 264-265. Untuk lebih lanjut dapat dibaca pada Abdul Azis Thaba, Islam dan Negara Dalam Politik Orde Baru, (Jakarta: Gema Insani Press, 1996), hlm. 286. Khusus untuk lingkup Pegawai Negeri Sipil, besarnya sumbangan untuk YABMP ini diatur berdasarkan Keputusan Pengurus Korpri No. Kep. 04/Raker/1982, tanggal 27 November 1982 dengan perincian sebagai berikut: Pegawai Golongan IV sebesar Rp. 1000,-/anggota perbulan, Pegawai Golongan III sebesar Rp. 500,-/anggota perbulan, Pegawai Golongan II sebesar Rp. 100,-/ anggota perbulan, Pegawai Golongan I sebesar Rp. 50,-/anggota perbulan. Seperti dikutip dari Andi Lolo Tonang, dalam B. Wiwoho et.al., (ed.), Zakat dan Pajak, Op.cit., hlm. 265.

Hukum Islam. Vol. VII No. 5. Juli 2007

585
17

Zulfahmi Bustami

18 19

20

21

22

23

24

25

26 27

Dikutip dari: M. Dawam Rahardjo Zakat Dalam Prespektif Social Ekonomi, dalam Jurnal Pesantren, (Jakarta: No. 2/POL.III.1986), hlm. 41. Lihat juga Muhammad Daud Ali , Sistem Ekonomi, hlm. 37. Seperti dikutip dari: Mohammad Daud Ali, Sistem Ekonomi, Op.cit. Dapat dibaca lebih jauh pada: M. Dawam Raharjo, Perspektif Deklarasi Makkah: Menuju Ekonomi Islam, (Bandung: Mizan, 1989), hlm. 189. Dapat dilihat pada Andi Lolo Tonang dalam B. Wiwoho et.al., (ed.), Zakat dan Pajak,Op.cit., hlm. 265-266. Seperti dikutip dari: Departemen Agama, Surat Keputusan Bersama Menteri Dalam Negeri dan Menteri Agama RI tentang Pembinaan Bazis dan Petunjuk Pelaksanaannya, (Jakarta: Ditjen Bimas Islam dan Urusan Haji, 1992), hlm. 924. Adanya SKB tersebut sebagai pengakuan pemerintah atas keberadaan Bazis yang dikelola oleh Pemerintah Daerah. Safwan Idris, Gerakan Zakat Bagi Pemberdayaan Ekonomi Ummat, (Jakarta: Citra Bangsa, 1997), hlm. 55. Selengkapnya dapat dilihat pada: Departemen Agama, Keputusan Bersama, Op.cit., hlm. 25-5. Presiden Soeharto juga mendirikan Yayasan Dana Sejahtera Mandiri (YDSM) melalui Instruksi Presiden No. 90 tahun 1995. Dalam operasionalnya, Yayasan ini mengumpulkan 2,5 persen keuntungan perusahaan besar di Indonesia. Dana yang terkumpul disalurkan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat lemah: fakir miskin dan kaum dhuafa. Pelaksanaan penyaluran dana tersebut dilakukan dengan berkoordinasi dengan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN)). Dalam penyalurannya, dana tersebut berbentuk Tabungan Keluarga Sejahtera (Takesra) dan Kredit Usaha Keluarga Sejahtera (Kukesra). Safwan Idris, Gerakan Zakat, Op. cit., ,hlm. 57-58. Seperti dikutip dari Abdul Aziz Thaba, Islam dan Negara, hlm. 278-288. Juga dapat dibaca pada: Munawwir Sjadzali, Islam dan Tata Negara, (Jakarta: UI Press, 1993), hlm. 160. Mengenai masalah ini telah dijelaskan pada Bab II dari kajian ini. Malah seperti yang diungkapkan oleh Safawi Idris, dua dekade sebelum ini zakat hanya ditunaikan pada aspek tanaman pangan semata, belum menyentuh kepada aspek non tanaman pangan. Dapat dibaca pada: Safwan Idris, Kata Pengantar, dalam M. Hasan Basri, Fiqh al-Zakat, (B. Aceh: Bazis Propinsi DI Aceh, 1997), hlm. iii. Masifuk Zuhdi, Maisalk al-Fiqhiyah, (Jakarta: Masa Agung, 1996), hlm. 261. Mengenai masalah ini telah dijelaskan pada Bab II dari kajian ini. Malah seperti yang diungkapkan oleh Safawi Idris, dua dekade sebelum ini zakat hanya ditunaikan pada aspek tanaman pangan semata, belum menyentuh kepada aspek non tanaman pangan. Dapat dibaca pada: Safwan Idris, Kata Pengantar, dalam M. Hasan Basri, Fiqh al-Zakat, (B. Aceh: Bazis Propinsi DI Aceh, 1997), hlm. iii. Hukum Islam. Vol. VII No. 5. Juli 2007

586
28

Zulfahmi Bustami

29

30

31

32

33

34

Ketentuan nisab 94 gram emas tersebut berbeda dengan ketentuan yang dicantumkan dalam buku Pedoman Zakat, Jilid II, yang dikeluarkan oleh Departeman Agama Tahun 1978, seluruh harta benda selain tanaman dan binatang ternak ditetapkan nisabnya dengan 96 gram emas murni. Sementara itu Didin Hafiduddin menetapkan 85 gram emas sebagai nisab. Didin Hafiduddin., Tentang Zakat, Infak dan shadaqah , (Jakarta : Gema Insani Press,1998), hlm. 39-40. perbendaan ketentuan tersebut kerena berbenda dalam mengukur nilai 20 dinar emas sebgai ukuran nisab. Lihat lebih lanjut Fakhri Ali dan Bakhtiar Effendi, Merambah Jalan Baru Islam, (Bandung: Mizan, 1992), hlm. 94-95. Piagam ini menurut Abdul Haris Nasution, terwujudnya tidak terlepas dari pemikiran ulama yang disampaikan melalui 52 ribu surat kepada PPKI. Endang Saifuddin Anshari, Piagam Jakarta 22 Juni 1945, (Jakarta; Rajawali Press, 1986), hlm. 34. Piagam ini juga dikenal dengan istilah The Jakarta Charter. Menurut Ismail Sunny, dalam periode ini hukum Islam menjadi sumber persuasif, yaitu sumber orang yang harus diyakinkan untuk menerimanya. Ismail Sunny, Kedudukan hukum Islam Dalam Sistem Ketatanegaraan Indonesia, dalam Tjun Surjaman (ed.), Hukum Islam di Indonesia, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1994), h.75. Kedua hal tersebut menurut Hukum Tata Negara Indonesia mempunyai kedudukan yang sama. Lebih lanjut dapat dibaca pada Ismail Sunny, Kedudukan Hukum Islam Dalam Ketatanegaraan Indonesia, dalam Tjun Surjaman (ed.), Hukum Islam, Op.cit., hlm. 77. Lihat Noto Negoro, Pancasila Secara Ilmiah Populer, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), hlm. 68. Pancasila mendudukkan agama pada kedudukan yang fundamental. Lihat Ichtianto, Kontribusi Hukum Islam terhadap hukum Nasional, sebuah gambaran posisi, dalam Jurnal Mimbar Agama, (Jakarta: Edisi No. 13 tahun V/1994), hlm. 18. Selain itu, hukum agama memperoleh tempat untuk dijadikan sebagai salah satu sumber hukum yang berlaku bagi penganut agama yang bersangkutan. Dalam konteks umat Islam, Syariat Islam yang di dasarkan pada Al-Quran dan AlHadits dapat dijadikan sebagai peraturan perundang-undangan di Indonesia. Dengan demikian umat Islam dapat mengimplementasikan Syariat Islam yang cocok dengan kondisi Indonesia. Dapat dibaca pada Mohammad Hatta, Memoir, (Jakarta: Tinta Emas, 1982) hlm. 460. Anwar Harjono menegaskan, bahwa Indonesia menganut faham kebutuhan. Oleh karenanya sumber hukum yang utama adalah Tuhan. Anwar Harjono, Al-Quran Sebagai Sumber Hukum Nasional, dalam Jurnal Mimbar Hukum, (Jakarta: Edisi No. IV/Tahun 1995), hlm. 8.

Hukum Islam. Vol. VII No. 5. Juli 2007

587
35

Zulfahmi Bustami

36

37

38

39

40

41

42

43

Hazairin secara tegas menyatakan, negara (pemerintah) Indonesia memiliki kewajiban untuk menjamin dan bertanggungjawab atas penerapan hukum Islam. Jika tidak dilaksanakan, maka hal itu merupakan pengingkaran terhadap Pancasila dan UUD 1945. Hazairin, Demokrasi Pancasila, (Jakarta: Rineka Cipta, 1990), hlm. 60. Bunyi pasal tersebut adalah: Segala warga Negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak kecualinya. Adanya suatu kekhususan hukum bagi pemeluk suatu agama, memerlukan suatu badan peradilan tersendiri bagi pemeluk agama tersebut. Ismail Sunny, Kedudukan Hukum Islam Dalam Ketatanegaraan Indonesia. Dalam Eddi Riudiana et.al., Hukum Islam di Indonesia, (Bandung: Remaja Rosada Karya, 1994), hlm. 79. Menurut Padmo Wahjono, hukum yang akan berlaku di masyarakat adalah hukum mayoritas. Dalam konteks Islam sebagai mayoritas maka hukum Islamlah yang berlaku. Seperti diungkapkan oleh Alamsyah Ratu Prawiranegara, Strategi Perjuangan Umat Islam di Bidang Hukum, dalam Amrullah Ahmad et.al., Dimensi Hukum Islam dalam Sistem Hukum Nasional, (Jakarta: Gema Insani Press, 1996), hlm. 243-244. Perubahan hukum dan perkembangan terkait erat dengan dinamika masyarakat, dan kondisi masyarakat senantiasa dinamis (berubah). Sudjono Dirdjosisworo, Sosiologi Hukum, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996), hlm. 79-80. Meskipun sudah terdapat UU Nomor 14 tahun 1970, namun untuk tingkat kasasi di Mahkamah Agung bagi Peradilan Agama tidak bisa langsung dijalankan, akibat adanya berbagai alasan, yang salah satunya tidak tersedianya tenaga yang berkualitas. Proses kasasi di MA baru berjalan efektif setelah adanya Surat Keputusan Bersama Ketua MA dan Menteri Agama No. 01, 02, 03 dan 04 tahun 1983. Lebih jauh dapat dilihat pada Alamsyah Ratu Prawira Negara, dalam Dimensi Hukum ., Op.cit., hlm. 242-243. Operasional dapat dilakukan dengan cara: a. reintroduksi Islam untuk menumbuhkan kesadaran agar masyarakat bertingkah laku menurut hukum, b. hukum materiil yang menjadi substansi transformasi intelektual, c. penyelenggaraan hukum keluarga. d. layanan fatwa hukum, dan e. manajemen harta agama. Untuk lebih jauh dapat dibaca pada Abdul Gani Abdullah, Pengantar Kompilasi Hukum Islam Dalam Tata Hukum Indonesia, (Jakarta: Gema Insani Press, 1994), hlm. 35. Selanjutnya dapat dibaca pada Bustanul Arifin, Pelembagaan Hukum Islam di Indonesia, (Jakarta: Gema Insani Press, 1996), hlm. 94. Dengan konsekuensi tersebut semestinya aturan-aturan yang disebut dalam pasal Undang-undang yang bertentangan dengan Islam tidak berlangsung bagi umat Islam, dalam Mimbar Hukum, No. 13 tahun V/1994, hlm. 31. Hukum Islam. Vol. VII No. 5. Juli 2007

588
44

Zulfahmi Bustami

45

46

47

Hukum materill meliputi bidang hukum perkawinan, hukum kewarisan dan hukum perwakafan, seperti yang tercantum dalam penjelasan kompilasi Hukum Islam. Dapat dibaca pada : Mohammad Daud Ali, Asas-Asas Hukum Islam, (Jakarta: Rajawali Press, 1991), hlm. 270. Departemen ini pertama kali bernama Kementerian Agama, berdirinya berdasarkan usul anggota (KNIP) yang diajukan pada tanggal 11 Nopember 1945. Deliar Noer, Administrasi Islam di Indonesia (Jakarta; Rajawali Press, 1991), h. 13-14. Wujud departemen ini ditujukan untuk mengimplementasikan pasal 29 UUD 1945, seperti ditegaskan dalam rapat kerja I Departemen Agama di Surakarta, pada tanggal 17-18 Maret 1946 lebih jauh dapat dibaca Weinata Sairin, Agama, Departemen Agama dan RUU Pemda, dalam harian Republika (Jakarta: Edisi 29 April 1999). Juga Munawir Sjadzali, keberadaan Departemen Agama merupakan jaminan bahwa Republika Indonesia bukan negara sekuler, dalam Tjung Surjaman (ed), Hukum Islam, Op.cit., hlm. 6572. Depag sebagai Lembaga Eksekutif memiliki kewenangan legislasi melalui Presiden, maka dengan demikian transformasi hukum perundang-undangan dapat dilakukan melalui departemen ini. Abul Gani Abdullah, Hukum Islam dalam sistem Masyarakat Indonesia, dalam Mimbar Hukum, No. 30 tahun VIII/1997, hlm. 8. Daud Ali, Hukum Islam UU PA dan maslahnya, dalam Mimbar Hukum, No. 30 tahun VIII/1997. hlm. 8. Daud Ali, Hukum Islam UU PA dan maslahnya, dalam Mimbar Hukum, No. 7 tahun I/1990. hlm. 21.

Zulfahmi Bustami, Dosen Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum UIN Sultan Syarif Kasim Riau Pekanbaru. Alumni Program Pascasarjana (S2) IAIN Susqa Pekanbaru (2001). Hukum Islam. Vol. VII No. 5. Juli 2007

589

Zulfahmi Bustami

Hukum Islam. Vol. VII No. 5. Juli 2007

590

Zulfahmi Bustami

Hukum Islam. Vol. VII No. 5. Juli 2007