Anda di halaman 1dari 9

TINJAUAN PUSTAKA

Menurut Farmakope Indonesia Edisi IV yang dikutip oleh

Himawati

(2011) sediaan serbuk adalah campuran kering bahan obat atau zat kimia yang dihaluskan, ditujukan untuk pemakaian oral atau untuk pemakaian luar. Sediaan sserbuk bisa digunakan untuk pemakaian dalam (secara oral, melalui hidung, melalui rongga tubuh) dan pemakaian luar (ditaburkan di bagian luar tubuh). Selain itu, serbuk bisa ditambah bahan bioadesif sehingga bisa melekat dan memberi efek dalam waktu lama. Sediaan serbuk bermacam-macam, ada yang berbentuk serbuk terbagi (pulveres) dan ada juga dalam bentuk serbuk tidak terbagi (pulvis). Pulveres mempunyai dosis tunggal yang biasanya dibungkus (Himawati 2011). Pulveres adalah serbuk yang dibagi dalam bobot yang kurang lebih sama, dibungkus dengan kertas perkamen atau bahan pengemas lain yang cocok. Resep serbuk ini ditulis dokter dalam dua cara, yaitu: ditulis jumlah obat lalu dibagi menjadi beberapa bungkus dan ditulis jumlah obat setiap bungkus dan buat beberapa bungkus. Serbuk yang digunakan untuk obat mempunyai syarat-syarat yang harus dipenuhi, secara umum syarat serbuk adalah: kering, halus, homogen, dan memenuhi uji keragaman bobot atau keseragaman kandungan yang berlaku untuk serbuk terbagi yang mengandung obat keras, narkotik dan psikotropik (Azmi 2011). Bahan-bahan yang digunakan pada pembuatan serbuk terbagi bungkus adalah: parasetamol 2,0 g berfungsi sebagai analgesik dan antipiretik, sulfaguanidin 1 g berfungsi sebagai antibakteri, papaverin HCl 0,2 g antispasmodik, sacharum lactis (SL) 2,0 g berfungsi sebagai zat tambahan, dan Ol. Menthaepip 1 tetes berfungsi sebagai penghilang bau. Parasetamol adalah obat pereda demam dan nyeri yang paling banyak dipergunakan. Senyawa ini dikenal dengan nama lain asetaminofen yang merupakan senyawa metabolit aktif fenasetin, namun tidak memiliki sifat karsinogenik seperti halnya fenasetin. Parasetamol bila dikombinasikan dengan obat anti inflamsi non steroid (NSAID) atau obat pereda nyeri opioid dapat

digunakan untuk mengobati nyeri yang lebih parah. Parasetamol relatif lebih aman digunakan, namun pada dosis tinggi dapat menyebabkan kerusakan hati. Parasetamol memiliki sebuah cincin benzena, tersubsitusi oleh satu gugus hidroksil dan atom nitrogen dari gugus amida pada posisi para (1,4). Senyawa ini dapat disintesis dari senyawa asal fenol yang dinitrasikan menggunakan asam sulfat dan natrium nitrat. Parasetamol dapat pula terbentuk apabila senyawa 4aminofenol direaksikan dengan senyawa asetat anhidrat. Mekanisme kerja yang sebenarnya dari parasetamol masih menjadi bahan perdebatan. Parasetamol menghambat produksi prostaglandin (senyawa penyebab inflamasi), namun paraasetamol hanya sedikit memiliki khasiat anti inflamasi. Berdasarkan studi yang dilakukan telah dapat dibuktikan bahwa parasetamol mampu mengurangi bentuk teroksidasi enzim siklooksigenase (COX) sehingga menghambatnya untuk membentuk senyawa penyebab inflamasi. Selain itu, diketahui bahwa enzim siklooksigenase ini berperan pada metabolisme asam arakidonat menjadi prostaglandin H2, suatu molekul yang tidak stabil dan dapat merubah menjadi berbagai senyawa pro-inflamasi. Kemungkinan lain mekanisme kerja parasetamol ialah menhambat enzim siklooksigenase seperti halnya aspirin, namun hal tersebut terjadi pada kondisi inflamasi, dimana terdapat konsentrasi peroksida yang tinggi. Pada kondisi ini oksidasi parasetamol tinggi sehingga menghambat aksi anti inflamsi. Hal ini dapat menyebabkan parasetamol tidak memiliki khasiat langsung pada tempat inflamasi, namun malah bekerja di sistem syaraf pusat untuk menurunkan temperatur tubuh. Metabolisme parasetamol terjadi di hati. Metabolit utamanya meliputi senyawa sulfat yang tidak aktif dan konjugat glukoronida yang dikeluarkan lewat ginjal (Anonim 2011). Sulfaguanidin disebut juga sulfaguanidinum yang berfungsi sebagai antibakteri. Sulfaguanidin mempunyai bobot molekul 232,26. Sufaguanidin berbentuk hablur atau serbuk, berwarna putih atau hampir putih akan tetapi lambat laun warna akan berubah menjadi gelap oleh pengaruh cahaya, serta sulfaguanidin tidak berbau atau hampir tidak berbau. Sufaguanidin mudah larut dalam air mendidih dan dalam asam mineral encer, sukar larut dalam etanol 95% P dan dalam aseton P, sangat sukar larut dalam air, praktis tidak larut dalam larutan

alkali hidroksida. Sulfaguanidin disimpan dalam wadah tertutup rapat dan tidak tembus cahaya (Day dan Under Wood 1993) Papaverin Hidroklorida biasanya di pasaran bernama cerespan, genabid, pavabid, pavacot, dan lainnya. Papaverin HCl pada pengobatan berfungsi sebagai peripheral vasodilator. Papaverin HCl bekerja sebagai relaksasi otot polos, menghambat cyclic nucleotida phosphodiesterase yang akan meningkatkan cAMP intraseluler sehingga menyebabkan vasodilatasi. Papaverin HCl berfungsi sebagai anti spasmodik (anonim 2008). Papaverin HCl berbentuk hablur putik atau serbuk hablur putih, tidak berbau, mempunyai rasa agak pahit tidak memutar bidang polarisasi, larutannya bereaksi asam terhadap kertas lakmus P. Papaverin HCl melebur pada suhu lebih kurang 220 disertai peruraian. Papaverin HCl larut dalam air dan kloroform, sukar larut dalam etanol, praktis tidak larut dalam eter (Wientarsih et al. 2012). Oleum Menthae pip disebut juga minyak permen. Minyak permen adalah minyak atsiri yang diperoleh dengan destilasi uap dari bagian di atas tanah tanaman berbunga Mentha piperita Linne (Familia Labiate) yang segar, dimurnikan dengan cara destilasi dan tidak didemontolisasi sebagai ataupun keseluruhan. Oleum Menthae pip berbentuk cairantidak berwarna atau kuning pucat, bau khas kuat menusuk, rasa pedas diikuti rasa dingin jika udara dihirup melalui mulut. Oleum Menthae pip larut dalam etanol 70% satu bagian volume dilarutkan dalam 3 bagian volume etanol 70% dan tidak terjadi opalesensi. Oleum Menthae pip disimpan dalam wadah tertutup rapat dan hindarkan dari panas berlebih (Wientarsih et al. 2012). Oleum Menthae pip digunakan sebagai penghilang bau. Sacharum lactis (SL) disebut juga laktosa yang berfungsi sebagai zat tambahan. SL mempunyai bobot molekul 36,30. SL berbentuk hablur atau serbuk yang berwarna putih, tidak berbau, rasa agak manis. SL larut dalam 6 bagian air, larut dalam 1 bagian air mendidih dan sukar larut dalam etanol (95%) P, serta tidak larut dalam kloroform P dan dalam eter P. SL disimpan dalam wadah tertutup baik (Ardyta 2011).

BAHAN DAN METODE

BAHAN DAN ALAT Bahan-bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah tissue rol, lap/serbet, botol 100 ml, pot plastik, parasetamol 2,0 g, sulfaguanidin 1 g, papaverin HCl 0,2 g, sacharum lactis (SL) 2,0 g, dan Ol. Menthaepip 1 tetes, dan deterjen. Alat-alat yang digunakan adalah timbangan dan anak timbangan, batu kerikil tara, pinset, kertas perkamen, sendok tanduk, mortir, stamper, sudip.

PEMBUATAN SERBUK Timbangan ditera dan dialasi kertas perkamen. Kemudian semua bahan ditimbang .....Disiapkan mortar kering dan bersih, dimasukkan papaverin lalu digerus, kemudian ditambahkan SL (1/3 nya), digerus hingga homogen lalu disisihkan (1). Setelah itu, dimasukkan sulfaguanidin, gerus tersendiri lalu ditambahkan SL (1/3 nya) digerus hingga homogen dan dicampurkan dengan (1), kemudian digerus lagi hingga homogen kemudian disisihkan (2). Lalu dimasukkan parasetamol dan digerus tersendiri kemudian ditambahkan sisa SL, dihomogenkan dan campur dengan (2) kemudian dihomogenkan lagi. Setelah itu, ditambahkan 1 tetes Ol.Menthaepip lalu dihomogenkan lagi (3). Seluruh serbuk (3) dibagi 2 dengan timbangan, masing-masing dibagi lima dengan perkiraan mata, lalu dimasukkan masing-masing ke dalam kertas perkamen. Kemudian dimasukkan ke dalam pot plastik. Setelah itu diberi etiket warna putih serta label.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Bahan aktif obat harus digunakan dengan nyaman, aman, efisien dan optimal serta dikemas dalam bentuk sediaan obat atau sediaan farmasi. Bentuk sediaan obat dapat mengandung satu atau lebih komponen bahan aktif. Pada praktikum kali ini dilakukan pembuatan serbuk yang dibagi dalam 10 bungkus. Menurut Farmakope III pulveres adalah serbuk yang dibagi dalam bobot yang lebih kurang sama, dibungkus menggunakan bahan pengemas yang cocok untuk sekali minum. Adapun tahapan pembuatan serbuk yaitu: memperkecil ukuran partikel dengan penggerusan, pencampuran dengan cara penggerusan, membagi serbuk dengan penimbangan dan visual, serta membungkus serbuk menggunakan kertas perkamen (Himawati 2011). Adapun keuntungan sediaan bentuk serbuk dibandingka sediaan bentuk lainnya adalah: 1) pemilihan variasi dosis untuk obat yang sama dapat diresepkan untuk orang yang berbeda. 2) peningkatan kestabilan dapat diharapkan terutama untuk obat yang rusak dengan adanya kelembapan atau air. 3) dosis yang besar dari obat lebih praktis diberikan dalam bentuk serbuk dibandingkan bentuk lainnya. 4) Obat akan lebih cepat dan lebih banyak terdispersi dalam lambung, sehingga akan cepat terabsorpsi. Penggerusan atau trituration dilakukan di dalam mortir dengan stamper. Mortir dan stamper bisa terbuat dari kaca, porselin, dan besi. Pada saat penggerusan dilakukan penekanan untuk memperkecil ukuran partikel serta pengadukan untuk pencampuran agar homogen. Adapun cara mencampur bahan obat satu persatu, sedikit demi sedikit dan dimulai dari bahan obat yang jumlahnya sedikit. Pembagian serbuk dengan cara visual biasanya dalam sekali membagi maksimal 10-20 bagian. Pada 10 bagian serbuk dibagi 2 sama banyak dengan timbangan kemudian masing-masing dibagi 5 secara visual. Membungkus serbuk umumnya menggunakan kertas perkamen yang mengandung zat higroskopis, akan tetapi bisa juga kertas berlilin, kertas perak, dan lain-lain. Bungkus yang digunakan harus mudah dilipat dan tidak menghisap air. Serbuk yang telah dibungkus harus disimpan dalam wadah seperti pot. Wadah yang

digunakan harus tertutup baik, melindungi dari cahaya, udara (lembab, O2, CO2), mencegah menguapnya bahan dalam sediaan, mudah mengambil sediaan dari wadahnya (Himawati 2011). Pada praktikum yang dilakukan bahan yang disediakan yaitu parasetamol, sulfaguanidin, papaverin HCl, Ol.menthapip, sacharum lactis (SL). Berdasarkan bahan-bahan yang digunakan dapat diketahui bahwa ini merupakan resep diare. Hal ini dapat dilihat dari khasiat bahan-bahan tersebut seperti parasetamol sebagai analgesik dan antipiretik, sulfaguanidin sebagai antibakteri, dan papaverin HCl sebagai antispasmodik. Dalam pembuatan obat kelengkapan resep harus diperhatikan. Resep adalah suatu permintaan tertulis dari dokter kepada apoteker untuk menyiapkan, meracik dan menyerahkan obat serta memberikan informasi tentang obat kepada pasien. Adapun unsur-unsur resep adalah: identitas dokter nama, nomor surat ijin praktek, alamat praktek dan rumah dokter penulis resep serta dapat dilengkapi dengan nomor telepon dan hari serta jam praktek. Biasanya sudah tercetak dalam blanko resep dengan urutan: Superscriptio Harus ada superscriptio atau tanda R/ di resepnya. Tanda R/ atau recipe yang artinya ambillah atau harap diambil Inscriptio Bagian inti resep, berisi nama obat, kekuatan dan jumlah obat yang diperlukan dan ditulis dengan jelas. Pada huruf R/ pertama tertulis parasetamol 0,20 g artinya obat bernama parasetamol 0,20 g. Subscriptio Bagian yang mencantumkan bentuk sediaan obat dan jumlahnya. Cara penulisan (dengan singkatan bahasa latin) tergantung dari macam formula resep yang digunakan. Pada resep tertulis m.f.pulv.d.t.d. No. X (misce fac pulveres de tales dosis nomero decem) yang artinya campur dan buatllah serbuk, bagi menjadi 10 bungkus. Signatura

Artinya merupakan aturan pakai, pada resep tertulis s.t.d.d 1 pulv. a.c (signa ter de die uno pulveres ante cibos, antecoenam) yang artinya tiga kali sehari satu bungkus sebelum makan. Setelah pembahasan semua jumlah obat, tidak kalah pentingnya bahwa nama pasien, umur dan alamat (Yolan 2011). Obat yang telah dimasukkan ke dalam wadah kemudian diberi etiket. Pada praktikum ini etiket yang diberikan yaitu warna putih yang berarti untuk obat dalam. Tulisan yang tertera pada etiket adalah anjing (b) milik Ny. Endah Berikan sehari tiga kali satu bungkus sebelum makan. Selain diberi etiket obat juga harus diberi label yang bertuliskan tidak boleh diulang tanpa resep dari dokter hewan. Hal ini disebabkan karena serbuk yang dibuat mengandung obat keras yaitu papaverin HCl.

KESIMPULAN

Sediaan obat yang dibuat pada praktikum kali ini adalah serbuk terbagi dalam bungkus (pulveres) yang dibagi ke dalam 10 kertas perkamen dan disimpan dalam pot plastik. Serbuk yang dihasilkan berkhasiat sebagai obat diare. Etiket yang diberikan pada obat tersebut adalah etiket berwarna putih yang berarti untuk obat dalam. Selain diberi etiket, obat juga diberi label yang ditempelkan di pot plastik.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2008. Papaverin HCl. [terhubung berkala]. Medicaldictionary.thefreedictionary.com/_/dict.aspx?word=papaverine+HCl. [3 Maret 2012]. Anonim. 2011. Parasetamol, obat demam dan nyeri andalan. [terhubung berkala]. http://www.apoteker.info/Topik%20Khusus/parasetamol.htm. [2 Maret 2012]. Ardyta. 2011. Pulveres. [terhubung berkala]. http://mschefinadream.blogspot.com/2011/04/pulveres-ardyta.html. [2 Maret 2012]. Azmi. 2011. Sediaan serbuk. [terhubung berkala]. http://azmi2011.student.umm.ac.id/download-as-pdf/umm_blog_article_41.pdf. [2 Maret 2012]. Day RA, Under Wood AL. 1993. Analisis Kimia Kuantitatif. Jakarta: Erlangga. Himawati ER. 2011. Percikan sediaan serbuk. [terhubung berkala]. http://www.ff.unair.ac.id/emodule/farmasipraktis/transp-serbuk.pdf. [2 Maret 2012]. Wientarsih I, Parsetyo BF, Purwono RM, Sutardi LN. 2012. Buku Praktikum Sediaan Farmasi dan Terapi Umum. Bogor: Laboratorium Farmasi FKH IPB. Yolan S. 2011. Tips dan trik membaca resep dari dokter. [terhubung berkala]. Uniqpost.com/22616/tips-dan-trik-membaca-resep-daridokter/. [3 Maret 2012].