Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Islam merupakan agama yang mempunyai sejarah pergulatan teologi yang panjang. Dengan rentang sejarah yang panjang itu, teologi Islam pernah menancapkan sebuah fakta untuk turut serta meramaikan pergulatan intelektual dalam pentas peradaban ilmu pengetahuan dan politik dunia. Berbagai konsep dan sudut pandang teologis muncul secara dialektis dalam atmosfir kebudayaan Islam. Secara konsvensional Islam memang mempunyai bangunan ketuhanan yang sifatnya monoteis. Sebuah agama yang mempunyai keyakinan tentang Tuhan yang satu. Namun, dalam realitas empiriknya, Tuhan yang satu tersebut melahirkan beragam pandangan dan konsep teologis yang berbeda-beda. Artinya meskipun Tuhan sebagai obyek keyakinan umat Islam sama yakni Allah, namun ketika Allah yang satu itu direspon dan dipahami oleh banyak individu umat Islam sejagad, maka justru melahirkan beragam konsep ketuhanan. Perbedaan pandangan teologis itu berangkat dari beragamnya logika forma atau paradigama, sudut pandang dan perspektif yang digunakan oleh umat Islam sendiri dalam menangkap dan menafsirkan Tuhan. Satu pihak umat Islam ada yang menggunakan perpsketif logis, yakni usaha memahami Tuhan melalui rasio. Ada yang lebih mendasarkan pemahamannya melalui intuitif. Di sisi lain ada yang cukup puas dengan informasi teks dan seterusnya. Selain dari itu, di samping banyaknya pendekatan yang digunakan oleh umat Islam dalam memahami Tuhan, hal yang turut serta menyeruakkan bermacam-macamnya konsep teolog Islam adalah berkaitan dengan wajah Tuhan itu sendiri. Syaikh Akbar Ibnu Arabi membagi Tuhan pada dua wajah: Dzat dan Sifat. Wajah Tuhan yang terdiri dari dzat dan sifat ini menyebabkan munculnya perbedaan pandangan di kalangan para mutakallim. Ada yang menyatakan bahwa Tuhan mempunyai sifat dan ada juga yang tidak myakini bahwa tuhan mempunyai sifat. Beraneka ragamnya konsep teologi tersebut, akhirnya juga membawa beraneka ragamnya pola hidup dan pola pikir umat Islam. Bagi umat Islam yang
1

masuk pada kubu Jabariyyah akhirnya lebih cenderung fatalistik. Hal ini karena pakem teologi Jabariyyah adalah menyerahkan segala sesuatunya pada Tuhan. Sementara bagi umat Islam yang menjadi penganut Qodariyyah menjadikan umat Islam pada kelompok ini mempunyai sikap hidup yang optimis. Karena konsep teologi mereka menyatakan bahwa segala sesuatu yang dikerjakan oleh manusia merupakan tanggung jawab manusia. Oleh karena itu, termasuk nilai baik dan buruk adalah berasal dari manusia dan bukan dari Tuhan. Pola hidup dan pola pikir lainnya juga ditunjukkan oleh kelompok lainnya yang mempunyai konsep teologi berbeda. Dinamika dan dialektika sejarah teologi umat Islam di atas hingga kini masih terus menemukan geliatnya, bahkan dalam kontek Indonesia justru mengalami penguatan. Munculnya gerakan-gerakan puritanisme Islam yang mengusung tema-tema radikalisme Islam, menuntut menarik Islam ke era awal adalah representasi dari menguatnya penanaman teologi wahabi dan salafiyah. Lahirnya konsep teologi ini sebagiannya ditopang oleh lahirnya gerakan pembaharuan yang dilakukan oleh tokoh-tokoh Islam yang masuk kategori neokonservatisme. B. Pembatasan Masalah
Dalam makalah ini akan menguraikan tentang, faktor penyebab munculnya persoalan Ilmu kalam, baik intern maupun eksrern. C. Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah pada makalah ini adalah sebagai berikut: 1. Faktor apakah yang mempengaruhi munculnya persoalan-persoalan Ilmu Kalam secara intern? 2. Faktor apakah yang mempengaruhi munculnya persoalan-persoalan Ilmu Kalam secara ekstern? D. Tujuan Makalah ini disusun untuk: 1. Memenuhi tugas terstruktur, semester VI program strata satu fakultas tarbiyah kelompok kelas E ekstensen mata kuliah Ilmu Kalam 2. Sebagai bahan diskusi mahasiswa. 2

E. Manfaat Makalah ini disusun dengan harapan dapat memberikan manfaat bagi mahasiswa sebagai calon pendidik dalam memahami sejarah timbulnya persoalan-persoalan Ilmu Kalam.

BAB II SEJARAH TIMBULNYA PERSOALAN-PERSOALAN ILMU KALAM

Mempelajari faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya ilmu kalam, kejadian-kejadian politis dan historis yang menyertai pertumbuhannya,

merupakan hal yang wajib bagi kita jika akan memahami sejarah persoalanpersoalan ilmu kalam. Ilmu kalam sebagai ilmu yang berdiri sendiri belum dikenal pada masa Nabi Muhammad saw. Maupun pada masa sahabat-sahabatnya, akan tetapi baru dikenal pada masa berikutnya, setelah ilmu-ilmu keislaman yang lain satu persatu muncul. Dan setelah orang banyak membicarakan tentang kepercayaan alam ghaib (metafisika).1 Setelah terjadi kontak dengan pemikiran Yunani yang membawa pemikiran rasional dalam Islam. Yaitu pada masa

pemerintahan Bani Abbas periode pertama. Sebelumnya, pada masa Bani Umayyah, aliran-aliran teologi (Khawarij, Murjiah, Mutazilah) sudah ada, akan tetapi perkembangan pemikirannya masih terbatas.2 Para ulama disetiap ummat berusaha memelihara dan meneguhkannya dengan aneka ragam dalil yang dapat mereka kemukakan. Tegasnya ilmu teologi ini dimiliki oleh seluruh ummat. Hanya saja, dalam kenyataanynyalah yang berbeda-beda. Ada yang lemah, ada yang kuat, ada yang sempit, ada yang luas menurut keadaan masa dan keadaan hal-hal yang mepengaruhi perkembangan ummat, seperti tumbuhnya bermacam-macam rupa pembahasan. Adapun ilmu menetapkan aqidah-aqidah islamiyah dengan jalan mengemukakan dalil-dalil dan mempertahankan dalil-dalil itu, maka ilmu ini terus tumbuh bersama dengan tumbuhnya agama islam dan ilmu ini pun dipengaruhi

1 2

Ahmad Hanafi, Teologi Islam (Ilmu Kalam), Bulan Bintang, 2001, hlm. 7

Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, Rajawali Pers, 1998, hlm. 57

oleh pengaruh-pengaruh yang mempengaruhi jalan pikiran ummat manusia dan keadaan-keadaan mereka.3 Persoalan munculnya Theologi Islam tidak sekaligus muncul, dan pada masa-masa pertama berdirinya belum jelas dasar-dasarnya. Baru setelah melalui beberapa fase, maka ia mengenal berbagai golongan dan aliran dam setelah kaum muslimin selama kurang lebih tiga abad lamanya melakukan berbagai perdebatan, baik antara sesama mereka maupun dengan lawan-lawannya dan pemeluk agama lain, dan akhirnya kaum Muslimin sampai pada suatu ilmu yang menjelaskan dasar-dasar aqidahnya juga perinciannya. Setelah masaitu mereka terbawa oleh berbagai faktor, baik faktor keislaman atau bukan, faktor politik atau sosial. 4 Sebab-Sebab yang mempengaruhi ilmu kalam ada yang kembali pada ALQuranul Karim, ada yang kembali kepada para muslimin sendiri, dan karena kebudayaan asing dan agama-agama lain.

A. Faktor yang Kembali pada Al-Quran5


Al- Quran sendiri disamping ajakannya kepada tauhid dan mempercayai kenabian, dan hal-hal yang berhubungan dengan itu, menyinggung pula golongangolongan agama-agama yang ada pada masa Nabi SAW. Yang mempunyai kepercayaan tidak benar. Al-Quran membantah kepercayaan mereka dan membantah alasan-alasannya. Selain itu atas dasar firman Alloh SWT, yang artinya: ajaklah mereka kepada jalan TuuhanMu dengan hikmah dan nasehatnasehat-nasehat yang baik-baik dan bantahlah mereka dengan jalan yang lebih baik..(Q.S. An-Nahl, 16:125).
3

M. Hasbi Asy Shiddieqy, Sejarah Danpengantar Ilmu Tauhid/Kalam, Bulan Bintang,

1992, hlm. 3-4


4 5

Ahmad Hanafi, Teologi Islam (Ilmu Kalam), Bulan Bintang, 2001, hlm 19 ibd, hlm 10

Al-Quran mendebat orang-orang musyrikin dan menolak tanggapantangggapan mereka. Dan Al-Quran mengharuskan kaum muslimin berusaha mengembangkan dan membelanya. Dan dalam Al-Quran terdapat ayat-ayat mutasyabihah yang menimbulkan kecenderungan hati manusia kepada membahasnya dan kepada memarifati maksudnya. Al-Quran menghargai aqal manusia dan menghadapkannya khitab(titah) kepada aqal itu serta mengharuskan aqal memperhatikan keadaan alam dan cakrawala dan menjadikan aqal tempat berpautan taqlif, pahala dan siksa.6 Karena itu kaum Muslimin sendiri harus melepaskan akal pikirannyanya untuk menggali isi Quran Sunnah Rosul sebagai penjelas dan juru penerangnya (Quran). Pada waktu Rosululloh masih hidup, apabila terjadi suatu kesulitan atau sesuatu yang tidak bisa dipahami, atau diketahui, makka mereka bisa langsung menanyakannya kepada Rosul.7

B. Fakor yang Kembali pada Kaum Muslim


1. Sebab Politik Beberapa hal dapat di kemukakan sebagai penyebab masuknya dialektika atau perdebatan dalam agama islam. Bangsa Arab, yang mula-mula dimaksudkan marupaan bangsa yang sanggat sederhana dan tidak berpendidikan. Mereka tidak mampu memahami sesuatu yang berada diluar yang paling nyata. Akan tatapi wafatnya Nabi Muhammad SAW, telah menumbulkan perdebatan-perdebatan yang sedemikian rupa sehingga orang terpaksa berfikir dengan serius.8 Persoalan yang pertama-tama timbul adalah dalam bidang politik dan bukan dalam bidang teologi. Tetapi persoalan politik ini segera meningkat menjadi persoalan teologi. Agar hal ini menjadi jelas perlulah kita terlebih dahulu
6

M. Hasbi Asy Shiddieqy, Sejarah Danpengantar Ilmu Tauhid/Kalam, Bulan Bintang,

1992, hlm. 26
7 8

Ahmad Hanafi, Teologi Islam (Ilmu Kalam), Bulan Bintang, 2001, hlm 19

C.A Qodir, Filsafat dan Ilmu Pengetahuan dalam Islam. Yayasan Obor Manusia, 1988,

hlm. 47

kembali

sejenak

ke

dalam

sejarah

islam,

tegasnya

ke

dalam

fase

perkembangannya yang pertama. Ketika Nabi Muhammad SAW mulai menyiarkan ajaran-ajaran islam yang beliau terima dari Allah SWT di Mekkah, kota ini mempunyai system kemasyarakatan yang terletak di bawah pimpinan suku bangsa Quraisy. Sistem pemerintahan kala itu dijalankan melalui majelis yang anggotanya terdiri atas kepala-kepala suku yang dipilih menurut kekayaan dan pengaruh mereka dalam masyarakat. Tetapi, pada saat Nabi SAW diangkat sebagai pemimpin, beliau mendapat perlawanan dari kelompok-kelompok pedagang yang mempunyai solidaritas kuat demi menjaga kepentingan bisnisnya. Akhirnya, Nabi SAW bersama para pengikutnya terpaksa meninggalkan Makkah dan pergi (hijrah) ke Yatsrib (sekarang bernama Madinah) pada tahun 622 M. Ketika masih di Makkah, Nabi SAW hanya menjadi pemimpin agama. Setelah hijrah ke Madinah, beliau memegang fungsi ganda, yaitu sebagai pemimpin agama dan kepala pemerintahan. Di sinilah awal mula terbentuk sistem pemerintahan Islam pertama, yakni dengan berdirinya negara Islam Madinah. Ketika Nabi Muhammad SAW Wafat (12 Robiul awwal tahun 11 Hijriyah, 8 Juni 632 M)9, daerah kekuasaan Madinah tak sebatas pada kota itu saja, tetapi meliputi seluruh Semenanjung Arabia. Negara Islam pada waktu itu, sebagaimana digambarkan oleh William Montgomery Watt dalam bukunya yang bertajuk Muhammad Prophet and Statesman, sudah merupakan komunitas berkumpulnya suku-suku bangsa Arab. Mereka menjalin persekutuan dengan Muhammad SAW dan masyarakat Madinah dalam berbagai bentuk. Sepeninggal Nabi SAW inilah timbul persoalan di Madinah, yaitu siapa pengganti beliau untuk mengepalai negara yang baru lahir itu. Perselisihan itu mencapai puncaknya sampai terbunuhnya Utsman. Dan dari sinilah, mulai bermunculan berbagai pandangan umat Islam. Sejarah meriwayatkan bahwa Abu
9

Siradjudin Abbas, Itiqod Ahlussunnahh Wal Jamaah, Pustaka Tarbiyah Baru, 2008,

hlm. 17

Bakar as-Siddiq-lah yang disetujui oleh umat Islam ketika itu untuk menjadi pengganti Nabi SAW dalam mengepalai Madinah. Selanjutnya, Abu Bakar yang hanya memerintah dua tahun ini digantikan oleh Umar bin Khattab. Beliau memerintah selam sepuluh tahun (13-23 H/634-644 M). Untuk menentukan penggantinya Umar tidak seperti Abu Bakar. Beliau menunjuk enam sahabat dan meminta kepada merekaa untuk memilihnya, yaitu Usman, Ali, Tholhah, Zubair, Saad ibn Abi Waqos, dan Abdurrohman ibn Auf. Setelah Umar wafat terpilihlah Utsman (yang waktu itu sudah berusia 70 tahun) sebagai khalifah melalui persaingan yang sangat ketat dengan Ali ibn Abi Tholib.10 Kemudian, Umar digantikan oleh Usman bin Affan.11Usman termasuk dalam golongan pedagang Quraisy yang kaya, kaum keluarganya dari golongan masyarakat aristocrat/ bangsawan Mekkah yang memiliki pengalaman dan pengetahuan tentang dagang, admistrasi. Pengetahuan mereka ini sangat bermanfaat dalam memimpin administrasi daerah- daerah diluar Semenanjung Arabia yang masuk dibawah kekuasaan Islam.Ahli sejarah menggambarkan Usman sebagai orang yang lemah dan tak sanggup mementang ambisi kaum keluarganya yang kaya dan berpengaruh itu. Tindakan-Tindakan politik yang dilakukan Usman kerap kali mengangkat mereka (kerabat keluarganya) menjadi Gubernur-gubernur di daerah yang tunduk kepada kekeuasaan Islam. Selanjutnya perasaan tidak senang muncul di daerah akibat dari tindakan politik yang dilakukan Usman ini. Di Mesir sebagai reaksi dijatuhkannya Umar Ibn al-Khattab yang digantikan oleh Abdullah Ibn Sad Ibn abi Sarh salah satu anggota kerabat keluarga Usman sebagai Gubernur mesir. 500 pemberontak berkumpul dan kemudian bergerak ke Madinah. Perkembangan di Madinah selanjutnya membawa persoalan pada pembunuhan Usman oleh pemuka-pemuka pemberontakan dari mesir ini. Setelah

10 11

Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, Rajawali Pers, 1998, hlm. 38 Harun Nasution, Teologi Islam : Aliran-aliran, sejarah, analisis perbandingan, UI

Press, 2006, hlm. 3-5

Usman wafat( 35 H/ 655 M)12setelah memerintah selama 12 tahun. Ali Ibn Abu Thalib sebagai calon terkuat menjadi khalifah ke-empat.. Peristiwa terbunuhnya Utsman menjadi titik jelas dari permulaan berlarutlarut perselisihan bahkan peperangan diantara kaum muslimin, sebab sejak itu, timbullah orang yang menilai perbuatan Utsman r.a salah, pembunuhnya berada dipihak benar, karena perbuatannya yang dianggap salah selama memegang khilafat. Sebaliknya pihak lain mengatakan bahwa pembunuhan atas diri Utsman r.a adalah kejahatan besar dan pembunuh-pembunuhnya adalah kafir. Karena Utsman r.a dalah khalifah yang sah dan salah seorang prajurit islam yang setia. Penilaian yang saling bertentangan kemudian menjadi fitnah dan peperangan yang terjadi sewaktu Ali r.a memegang pemerintahan. 13 Di masa pemerintahan khalifah keempat ini, perang secara fisik beberapa kali terjadi antara pasukan Ali bin Abi Thalib melawan para penentangnya. Peristiwa-peristiwa ini telah menyebabkan terkoyaknya persatuan dan kesatuan umat. Sejarah mencatat, paling tidak, dua perang besar pada masa ini, yaitu Perang Jamal (Perang Unta) yang terjadi antara Ali dan Aisyah yang dibantu Zubair bin Awwam dan Talhah bin Ubaidillah serta Perang Siffin yang berlangsung antara pasukan Ali melawan tentara Muawiyah bin Abu Sufyan. Faktor penyulut Perang Jamal ini disebabkan oleh yang Ali tidak mau menghukum para pembunuh Utsman. Ali sebenarnya ingin sekali menghindari perang dan menyelesaikan perkara itu secara damai. Namun, ajakan tersebut ditolak oleh Aisyah, Zubair, dan Talhah. Zubair dan Talhah terbunuh ketika hendak melarikan diri, sedangkan Aisyah ditawan dan dikirim kembali ke Madinah. Bersamaan dengan itu, kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan Ali semasa memerintah juga mengakibatkan timbulnya perlawanan dari gubernur di Damaskus, Muawiyah bin Abu Sufyan, yang didukung oleh sejumlah bekas
12 13

A. Hanafi, Pengantar Teologi Islam, pustaka al husna, 1987, hlm 19 Ahmad Hanafi, Teologi Islam (Ilmu Kalam), Bulan Bintang, 2001, hlm 11

pejabat tinggi di masa pemerintahan Khalifah Usman yang merasa kehilangan kedudukan dan kejayaan. Gubernur Damaskus dan keluarga yang dekat dengan Usman sebagaimana halnya Talhah dan Zubeir mereka tidak mau mengakui Ali Ibn Thallib sebagai Khalifah. Ia menuntut kepada Ali agar menghukum pembunuh-pembunuh Usman, bahkan ia menuduh Ali turut andil dalam pembunuhan itu. Salah seorang pemuka pemberontak-pemberontak Mesir, yang datang ke Madinah dan kemudian membunuh Utsman r.a adalah Muhammad Abi Bakr, anak angkat dari Ali Ibn Abi Tholib. Dan pula Ali tidak mengambil tindakan keras terhadap pemberontak-pemberontak itu, bahkan Muhammad Abi Bkr diangkat menjadi Gubernur Mesir.14 Setelah berhasil memadamkan pemberontakan Zubair, Tholhah dan Aisyiah. Ali bergerak melalui Kuffah menuju Damaskus dengan sejumlah besar tentara. Pasukannya bertemu dengan pasukann Muawiyah di shiffin. Pertempuran disini dikenal dengan perang Shiffin, perang ini diakhir dengan tahkim atau atbitrase. Tetapi tahkim tidak menyelesaikan masalah bahkan menyebabkan golongan ketiga, alkhawarij, orang-orang yang keluar dari barisan Ali. Keadaan ini tidak menguntungkan Ali. Munculnya Khowarij menjadikan tentaranya semakin lemah. Pada tanggal 20 Rhomadlon 40 H (660 M) Ali terbunuh oleh seorang Khawarij. Beliau memerintah selama 6 tahun.15 Perselisihan yang terjadi antara Ali dan para penentangnya pun berangsurangsur menimbulkan aliran-aliran keagamaan dalam Islam, seperti Syiah, Khawarij, Murjiah, Mutazilah, Asy'ariyah, Maturidiyah, Ahlussunah wal Jamaah, Jabbariyah, dan Qadariah. Aliran-aliran ini sebagian besar pada awalnya muncul sebagai akibat percaturan politik yang terjadi, yaitu mengenai perbedaan pandangan dalam masalah kepemimpinan dan kekuasaan (aspek sosial dan politik). Namun, dalam

14

Harun Nasution, Teologi Islam : Aliran-aliran, sejarah, analisis perbandingan, UI

Press, 2006, hlm. 7


15

Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, Rajawali Pers, 1998, hlm. 4

10

perkembangan selanjutnya, perselisihan yang muncul mengubah sifat-sifat yang berorientasi pada politik menjadi persoalan keimanan. ''Kelompok khawarij yang akhirnya menjadi penentang Ali mengganggap bahwa Ali tidak melaksanakan keputusan hukum bagi pihak yang memeranginya sebagaimana ajaran Alquran. Karena itu, mereka menunduh Ali kafir dan darahnya halal,'' kata guru besar filsafat Islam, Prof Dr Mulyadi Kartanegara, kepada Republika. Sementara itu, kelompok yang mendukung Ali dan keturunannya (Syiah) melakukan pembelaan atas tuduhan itu. Dari sinilah, bermunculan berbagai macam aliran keagamaan dalam bidang teologi. Selain persoalan politik dan akidah (keimanan), muncul pula pandangan yang berbeda mengenai Alquran (makhluk atau kalamullah), qadha dan qadar, shifat Alloh, akal dan wahyu, serta sebagainya.16 Yang berrkembang pada setiap pemerintahan selanjutnya, yaitu masa Umayyah tentang Qodlariyah dan jabbariyah, serta paham Mutazilah. Dan pada pemerintahan Abbasiyah muncul Asyarisme. Ibn Taimiyah muncul setelah fase Abbasiyah. 2. Fase Penyelidikan dan Pemikiran Kemenangan-Kemenangan yang mereka peroleh dalam peperangan dan kemewahan hidup menyebabkan mereka merasa aman tinggal dalam negri mereka masing-masing dan memperoleh kesempatan untuk membahas masalah-masalah agama secara pembahasan falsafah yang tidak lagi membatasi diri pada kedlohiran-kedlohiran sahaja.17

16

http://republika.co.id:8080/berita/50969/Sejarah_Munculnya_Aliran_Teologi_dalam_Is

lam
17

M. Hasbi Asy Shiddieqy, Sejarah Danpengantar Ilmu Tauhid/Kalam, Bulan Bintang,

1992, hlm. 27

11

Kaum muslimin mulai mengunakan filsafat untuk memperkuat alasanalasannya. Ini adalah fase membicarakan soal-soal agama secara filosofis. Seperti contoh, orang-orang muslim dulu iman kepada Qodar baik dan buruknya dan iman seepenuhnya bahwa manusia ini ditugaskan menjalani perintah-perintah Tuhan tanpa menanyakan lebih lanjut. Datanglah kemudian orang-orang yang mengumpulkan ayat-ayat sekitar soal tersebut dan memfilsafatkannya. Disatu pihak ada ayatayat yang menunjukan adanya jabr(paksaan) dan pemberian tugas diluar kesanggupan seseorang (lihat Q.S. Al- Baqoroh,2:6; Al-Mudatsir, 74:17; At-Taubah, 9:3). Dipihak lain Quran penuh dengan ayat-ayat yang menunjukan bahwa manusia bisa melakukan perbuatannya dan bertanggung jawab terhadapnya. (lihat, Q.S Al-Isro, 17:94; An-Nisa, 4:168; Al-Kahfi,18:29; AlInsan, 76:3). Bagaimana mempertemukan ayat-ayat tersebut?

C. Faktor Ekstern (Berasal dari Luar, Kebudayaan Asing dan Agama Lain)18
Banyak diantara pemeluk-pemeluk islam yang mula-mula beragama Yahudi, Masehi, dan lain-lain bahkan diantara mereka sudah ada yang menjadi ulamanya. Setelah pikiran mereka tenangdan sudah memegang agama yang teguh yaitu Islam. Mereka mulai mengingat kembali ajaran agamanya yang dulu. Dan dimasukan ke ajaran-ajaran islam, karena itu, dalam buku-buku aliran dan golongan Islam sering kita jumpai pendapatpendapat yang jauh dari ajaran Islam yang sebenarnya. Golongan Islam yang dulu, terutama mutazilah yang membela aqidah islamiyah, berpendapat bahwa mereka tidak dapat menunaikan kewajiban mereka sebagaimana mestinya melainkan dengan mengetahui dengan sebaik-baiknya aqidah-aqidah yang dianut oleh pihak lawan serta dalildalil mereka, agar dapat disusun bantahan-bantahan terhadap lawan aqidah
18

M. Hasbi Asy Shiddieqy, Sejarah Danpengantar Ilmu Tauhid/Kalam, Bulan Bintang,

1992, hlm. 12-13

12

itu. Yaitu filsafat dan logika. Dengann masuknya filsafat, semakin banyak pula pembicaraan ilmu kalam. (contoh: jauhar, arad). Dan mereka menemukan bahwasanya lawan-lawan mereka bersenjata dalam membela aqidah mereka dengan filsafat. Karenanya dipandang perlu untuk menghadapi lawan mempergunakan senjata yang digunakan lawan sendiri. Lantaran merekapun memahami falsafah Yunaniah. Mereka memasukan kedalam ilmu tauhid hal-hal yang menjadi alat untuk mempertahankan aqidah.

13

BAB III PENUTUP


Sejarah timbulnya persoalan-persoalan Ilmu Kalam di pengaruhi oleh beberapa sebab, yaitu: 1. Faktor intern, Dasar Al-Quran, Sebab Politik, Fase Penyelidikan dan Pemikiran 2. Faktor ekstern, faktor dari luar, baik kebudayaan asing maupun agama lain. Banyak diantara pemeluk-pemeluk islam yang mula-mula beragama Yahudi, Masehi, dan lain-lain bahkan diantara mereka sudah ada yang menjadi ulamanya. Golongan Islam yang dulu, terutama mutazilah yang membela aqidah islamiyah, berpendapat bahwa mereka tidak dapat menunaikan kewajiban mereka sebagaimana mestinya melainkan dengan mengetahui dengan sebaik-baiknya aqidah-aqidah yang dianut oleh pihak lawan serta dalildalil mereka, agar dapat disusun bantahan-bantahan terhadap lawan aqidah itu. Yaitu filsafat dan logika. Dengann masuknya filsafat, semakin banyak pula pembicaraan ilmu kalam. (contoh: jauhar, arad). Dan mereka menemukan bahwasanya lawan-lawan mereka bersenjata dalam membela aqidah mereka dengan filsafat. Karenanya dipandang perlu untuk menghadapi lawan mempergunakan senjata yang digunakan lawan sendiri. Lantaran merekapun memahami falsafah Yunaniah. Mereka memasukan kedalam ilmu tauhid hal-hal yang menjadi alat untuk mempertahankan aqidah.

14

DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Hanafi, 2001, Jakarta A. Hanafi, 1987, Pengantar Teologi Islam, pustaka al husna, Jakarta Badri Yatim, 1987, Sejarah Peradaban Islam, Rajawali Pers, Jakarta C.A Qodir,1988, Filsafat dan Ilmu Pengetahuan dalam Islam. Yayasan Obor Manusia,Jakarta Harun Nasution, 2006, Teologi Islam : Aliran-aliran, sejarah, analisis perbandingan, UI Press, Jakarta http://republika.co.id:8080/berita/50969/Sejarah_Munculnya_Aliran_Teol ogi_dalam_Islam M. Hasbi Asy Shiddieqy, 1992 Tauhid/Kalam, Bulan Bintang, Jakarta Siradjudin Abbas, 2008, Itiqod Ahlussunnahh Wal Jamaah, Pustaka Tarbiyah Baru, Jakarta Sejarah Danpengantar Ilmu Teologi Islam (Ilmu Kalam), Bulan Bintang,

15