Anda di halaman 1dari 6

RANGKAIAN ARUS SEARAH

A. Arus Listrik Arus listrik didefinisikan sebagai aliran muatan listrik melalui sebuah konduktor. Arus ini bergerak dari potensial tinggi ke potensial rendah, dari kutub positif ke kutub negatif, dari anoda ke katoda. Arah arus listrik ini berlawanan arah dengan arus elektron. Muatan listrik dapat berpindah apabila terjadi beda potensial. Beda potensial dihasilkan oleh sumber listrik, misalnya baterai atau akumulator. Setiap sumber listrik selalu mempunyai dua kutub, yaitu kutub positif (+) dan kutub negatif (). Apabila kutub-kutub baterai dihubungkan dengan jalur penghantar yang kontinu, kita peroleh rangkaian listrik tampak seperti pada gambar. Dalam hal ini, baterai
Gambar 1. (a) Rangkaian listrik sederhana, (b) skema rangkaian listrik

(sumber beda potensial) digambarkan dengan simbol

Arus listrik yang mengalir pada kawat tersebut didefinisikan sebagai jumlah total muatan yang melewatinya per satuan waktu pada suatu titik. Maka arus listrik I dapat dirumuskan:

Dengan Q adalah jumlah muatan yang melewati konduktor pada suatu titik selama selang waktu t. Arus listrik diukur dalam coulomb per sekon dan diberi nama khusus yaitu ampere yang diambil dari nama fisikawan Prancis bernama Andre Marie Ampere (17751836). Satu ampere didefinisikan sebagai satu coulomb per sekon (1 A = 1 C/s). Alat untuk mengukur kuat arus listrik dinamakan amperemeter (disingkat ammeter). B. Hambatan Listrik dan Beda Potensial (Hukum Ohm) Dalam arus listrik terdapat hambatan listrik yang menentukan besar kecilnya arus listrik. Semakin besar hambatan

listrik, semakin kecil kuat arusnya, dan sebaliknya. George Simon Ohm (1787-1854), melalui eksperimennya menyimpulkan bahwa arus I pada kawat penghantar sebanding dengan beda potensial V yang diberikan ke ujung-ujung kawat penghantar tersebut: I V. Misalnya, jika kita menghubungkan kawat penghantar ke kutub-kutub baterai 6 V, maka aliran arus akan menjadi dua kali lipat dibandingkan jika dihubungkan ke baterai 3 V. Besarnya arus yang mengalir pada kawat penghantar tidak hanya bergantung pada tegangan, tetapi juga pada hambatan yang dimiliki kawat terhadap aliran elektron. Kuat arus listrik berbanding terbalik dengan hambatan: I R. Aliran elektron pada kawat penghantar
Gambar 2. Grafik hubungan (a) kuat arus dengan beda potensial , (b) kuat arus dengan hambatan rangkaian listrik

diperlambat karena adanya interaksi dengan atom-

atom kawat. Makin besar hambatan ini, makin kecil arus untuk suatu tegangan V. Dengan demikian, arus I yang mengalir berbanding lurus dengan beda potensial antara ujung-ujung penghantar dan berbanding terbalik dengan hambatannya. Pernyataan ini dikenal dengan Hukum Ohm, dan dinyatakan dengan persamaan:

Dengan R adalah hambatan kawat atau suatu alat lainnya, V adalah beda potensial antara kedua ujung penghantar, dan I adalah arus yang mengalir. Hubungan ini sering dituliskan:

Pada kehidupan sehari-hari, kadang kita menemukan sebuah alat listrik yang bertuliskan 220 V/2 A. Tulisan tersebut menginformasikan bahwa alat tersebut akan bekerja optimal dan tahan lama ketika dipasang pada tegangan 220 V dan kuat arus 2 A.

C. Hambatan Jenis Kita mungkin menduga bahwa hambatan yang dimiliki kawat yang tebal lebih kecil daripada kawat yang tipis, karena kawat yang lebih tebal memiliki area yang lebih luas untuk aliran elektron. Kita tentu juga memperkirakan makin panjang suatu penghantar, maka hambatannya juga makin besar, karena akan ada lebih banyak penghalang untuk aliran elektron.

Berdasarkan eksperimen, Ohm juga merumuskan bahwa hambatan R kawat logam berbanding lurus dengan panjang l, berbanding terbalik dengan luas penampang lintang kawat A, dan bergantung kepada jenis bahan tersebut. Secara matematis dituliskan:

dengan: R = hambatan kawat penghantar () l = panjang kawat penghantar (m) = hambatan jenis kawat penghantar (.m) A = luas penampang lintang penghantar (m2) Konstanta pembanding disebut hambatan jenis (resistivitas). Hambatan jenis kawat berbeda-beda tergantung bahannya. Tabel 1. Hambat jenis berbagai bahan pada suhu 0C.

D. Daya dan Energi Listrik Energi listrik berguna untuk kita karena dapat diubah menjadi bentuk energi lain. Energi listrik dapat diubah menjadi energi panas atau cahaya pada alat-alat listrik tersebut, karena arus biasanya agak besar, dan terjadi banyak tumbukan antara elektron dan atom pada kawat. Pada setiap tumbukan, terjadi transfer energi dari elektron ke atom yang

ditumbuknya, sehingga energi kinetik atom bertambah dan menyebabkan suhu elemen kawat semakin tinggi. Daya yang diubah oleh peralatan listrik merupakan energi yang diubah bila muatan Q bergerak melintasi beda potensial sebesar V. Daya listrik merupakan kecepatan perubahan energi tiap satuan waktu, dirumuskan:

Muatan yang mengalir tiap satuan waktu Q/t merupakan arus listrik, I, sehingga didapatkan:

Persamaan tersebut menunjukkan bahwa daya yang dihasilkan dapat diubah oleh suatu perangkat untuk nilai arus I yang melewatinya dan beda potensial V di antara ujungujung penghantar. Daya atau laju perubahan energi pada hambatan R dapat dituliskan berdasarkan Hukum Ohm sebagai berikut:

dengan: P = daya listrik (watt) I = kuat arus listrik (A) R = hambatan kawat penghantar () V = beda potensial listrik (V) Energi listrik pada suatu sumber arus listrik dengan beda potensial selama selang waktu tertentu dinyatakan oleh:

Karena P = I . V, maka: W = P . t

Jadi daya listrik juga didefinisikan sebagai banyaknya energi listrik tiap satuan waktu. Satuan energi listrik adalah joule (J). Energi listrik yang digunakan dalam kehidupan seharihari oleh pelanggan listrik diukur dengan satuan kWh (kilowatt-hour). 1 kWh = 3,6 106 J

Meskipun konduktivitas logam tidak bergantung pada potensial dan kuat arus, namun ada faktor lain yang mempengaruhinya, yaitu suhu. Berdasarkan percobaan diketahui bahwa umumnya hambatan berbanding lurus terhadap suhu t. Dalam suatu batas perubahan suhu tertentu, perubahan hambatan jenis sebanding dengan besar perubahan suhu (t). Mengingat bahwa hambatan R berbanding lurus terhadap hambatan jenis maka perubahan nilai hambatan akan menikuti hubungan Rt = R0 + R = R0 + R0 t

sehingga atau dengan

Rt = hambatan pada suhu 0C R0 = hambatan mula-mula = koefisien suhu hambatan jenis (0C) t = perubahan suhu (0C) Koefisien suhu hambatan jenis () tergantung pada jenis bahan. Meskipun hambatan jenis sebagian besar bertambah akibat kenaikan suhu, namun pada bahan tertentu hambatan jenis justru akan semakin kecil akibat kenaikan suhu. Pengurangan hambatan jenis ini dinyatakan dengan nilai yang negatif seperti pada grafit dan sebagian besar bahan semikonduktor. SOAL DAN PENYELESAIAN 1. Diketahui kuat arus sebesar 0,5 ampere mengalir pada suatu penghantar yang memiliki beda potensial 6 volt. Tentukan hambatan listrik penghantar tersebut! Diketahui : V = 6 V I = 0,5 A Ditanyakan: R = ... ? Penyelesaian : V=IR

2. Sebuah kawat yang panjangnya 90 m mempunyai diameter 3 mm dan hambatan jenis 6,28x10-8 m. Berapakah (a) hambatan kawat dan (b) hambatan kawat kedua yang bahan dan beratnya sama dengan yang pertama, akan tetapi diameternya tiga kali diameter kawat pertama? Penyelesaian : (a) Luas penampang kawat

Hambatan kawat pertama

(b) Karena d2 = 3d1 maka r2 = 3r1. Berat kedua kawat sama sehingga, m2 g = m1 g V2 = V1 l1 = 3 l2 Jika sama untuk kedua kawat (r22) l2 = (r12) l1 atau (3r1)2 l2 = r12 l1

Perbandingan luas penampang kedua kawat adalah

A1 = 3 l2 Perbandingan hambatan kedua kawat

Maka

Jadi, hambatan kawat kedua adalah 0,03 .