Anda di halaman 1dari 4

Shalawat Kamilah. Disebut shalawat kamilah, mungkin karena jumlah (doa dalam shalawat tersebut) yang tidak terhitung.

Meskipun kita hanya membaca sekali, tapi dalam bacaan itu kita memohonkan shalawat sebanyak sempurnanya bilangan yang artinya tak terhingga. Ada yang menisbahkan shalawat kamilah dengan Shalawat nariah, artinya bahwa shalawat kamilah dan shalawat nariyah adalah sama bacaannya dengan sebutan yang berbeda ada pula yang mengatakan bahwa shalawat di bawah inilah shalawat kamilah: Allahumma shalli wa sallim wa baarik ala sayyidina Muhammadin wa ala aalihi adada kamaalillahi wa kamaa yalidu bikamaalihi Allahumma shalli wa sallim wa baarik ala asadina Muhammadin wa ala aalihi adada kamaalillahi wa kamaa yalidu bikamaalihi Allahumma shalli wa sallim wa baarik ala nuuril huda Muhammadin wa ala aalihi adada kamaalillahi wa kamaa yalidu bikamaalihi artinya: Ya Allah, limpahkanlah keberkahan dan keselamatan atas junjungan kami Muhammad seluruh keluarganya sebanyak kesempurnaan Allah dan apa yang tercipta dari kesempurnaan tersebut sedangkan bunyi dari Shalawat Nariyah adalah:

Ya Allah, limpahkanlah keberkahan dengan keberkahan yang sempurna, dan limpahkanlah keselamatan dengan keselamatan yang sempurna untuk penghulu kami Muhammad, yang dengan beliau terurai segala ikatan, hilang segala kesedihan, dipenuhi segala kebutuhan, dicapai segala keinginan dan kesudahan yang baik, serta diminta hujan dengan wajahnya yang mulia, dan semoga pula dilimpahkan untuk segenap keluarga, dan shahabatnya sebanyak hitungan setiap yang Engkau ketahui . Untuk penjelasan tentang arti dan makna shalawat, keutamaan serta alasan bershalawat adalah sebagai berikut

Arti shalawat secara umum Shalawat adalah bentuk jamak dari kata salat yang berarti doa atau seruan kepada Allah. Membaca shalawat untuk Nabi, memiliki maksud mendoakan atau memohonkan berkah kepada Allah swt untuk Nabi dengan ucapan, pernyataan serta pengharapan, semoga beliau (Nabi) sejahtera (beruntung, tak kurang suatu apapun, keadaannya tetap baik dan sehat).

Salam berarti damai, sejahtera, aman sentosa dan selamat. Jadi saat seorang muslim membaca shalawat untuk Nabi, dimaksudkan mendoakan beliau semoga tetap damai, sejahtera, aman sentosa dan selalu mendapatkan keselamatan. Sedangkan Definisi secara khusus beserta penjelasan alasan dan keutamaan bershalawat adalah sebagai berikut:

Kita senantiasa memanjatkan shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad Rasulullah:

Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Sayyidina Muhammad Rasulullah Allah SWT berfirman:

Sesungguhnya Allah dan Malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman bershalawat salamlah kepadanya. (QS Al-Ahzab 33: 56) Shalawat dari Allah berarti rahmat. Bila shalawat itu dari Malaikat atau manusia maka yang dimaksud adalah doa. Sementara salam adalah keselamatan dari marabahaya dan kekurangan. Tidak ada keraguan bahwa membaca shalawat dan salam adalah bagian dari pernghormatan (tahiyyah), maka ketika kita diperintah oleh Allah untuk membaca shalawat -yang artinya mendoakan Nabi Muhammad- maka wajib atas Nabi Muhammad melakukan hal yang sama yaitu mendoakan kepada orang yang membaca shalawat kepadanya. Karena hal ini merupakan ketetapan dari ayat:

Maka lakukanlah penghormatan dengan penghormatan yang lebih baik atau kembalikanlah penghormatan itu. (QS. An Nisa: 86) Doa dari Nabi inilah yang dinamakan dengan syafaat. Semua ulama telah sepakat bahwa doa nabi itu tidak akan ditolak oleh Allah. Maka tentunya Allah akan menerima Syafaat beliau kepada setiap orang yang membaca shalawat kepadanya. Banyak sekali hadits yang menjelaskan keutamaan membaca shalawat kepada Nabi. Diantaranya:

Barangsiapa berdoa (menulis) shalawat kepadaku dalam sebuah buku maka para malaikat selalu memohonkan ampun kepada Allah pada orang itu selama namaku masih tertulis dalam buku itu.

Barangsiapa yang ingin merasa bahagia ketika berjumpa dengan Allah dan Allah ridlo kepadanya, maka hendaknya ia banyak membaca shalawat kepadaku (Nabi).

Barangsipa membaca shalawat kepadaku di waktu hidupnya maka Allah memerintahkan semua makhlukNya memohonkan maaf kepadanya setelah wafatnya.

Mereka yang berkumpul (di suatu majlis) lalu berpisah dengan tanpa dzikir kepada Allah dan membaca shalawat kepada nabi, maka mereka seperti membawa sesuatu yang lebih buruk dari bangkai. Para ulama sepakat (ittifaq) diperbolehkannya menambahkan lafadz sayyidina yang artinya tuan kita, sebelum lafadz Muhammad. Namun mengenai yang lebih afdhol antara menambahkan lafadz sayyidina dan tidak menambahkannya para ulama berbeda pendapat. Syeikh Ibrahim Al-Bajuri dan Syeik Ibnu Abdis Salam lebih memilih bahwa menambahkan lafadz sayyidina itu hukumnya lebih utama, dan beliau menyebutkan bagian ini melakukan adab atau etika kepada Nabi. Beliau berpijak bahwa melakukan adab itu hukumnya lebih utama dari pada melakukan perintah (muruatul adab afdholu minal imtitsal) dan ada dua hadits yang menguatkan ini. Yaitu hadits yang menceritakan sahabat Abu Bakar ketika diperintah oleh Rasulullah mengganti tempatnya menjadi imam shalat subuh, dan ia tidak mematuhinya. Abu bakar berkata:

Tidak sepantasnya bagi Abu Quhafah (nama lain dari Abu Bakar) untuk maju di depan Rasulullah. Yang kedua, yaitu hadits yang menceritakan bahwa sahabat Ali tidak mau menghapus nama Rasulullah dari lembara Perjanjian Hudaibiyah. Setelah hal itu diperintahkan Nabi, Ali berkata

Saya tidak akan menghapus namamu selamanya. Kedua hadits ini disebutkan dalam kitab Shahih Bukhori dan Muslim.Taqrir (penetapan) yang dilakukan oleh Nabi pada ketidakpatuhan sahabat Abu Bakar dan ali yang dilakukan karena melakukan adab dan tatakrama ini menunjukkan atas keunggulan hal itu.

Keutamaan Shalawat Tidak diragukan lagi bahwa membaca shalawat mempunyai keutamaan yang sangat besar di sisi Allah. Allah telah berfirman :

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya (QS. AlAhzab : 56). Ibnu Katsir rahimahullah dalam menjelaskan maksud ayat di atas berkata bahwa Allah taala mengabarkan kepada para hambanya tentang kedudukan hamba dan nabi-Nya di sisi makhluk-Nya yang tinggi. Dimana Allah taala memujinya di hadapan para malaikat yang dekat, dan para malaikat pun bershalawat kepadanya. Kemudian (Allah taala) memerintahkan penduduk jagad raya bagian bawah (penduduk bumi) agar bershalawat dan mengucapkan salam atasnya, sehingga berkumpul segala pujian atasnya dari dua penghuni alam jagad raya yang di atas dan yang di bawah (Tafsir Ibnu Katsir 3/508).

Selain itu, Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam melalui lisannya yang mulia juga telah menjelaskan :

Barangsiapa yang bershalawat kepadaku dengan satu shalawat hatinya, maka Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali dengan shalawat yang diucapkannya itu, menghapus darinya sepuluh kejelekan, dan mengangkat derajatnya sepuluh tingkatan (HR. Nasai no. 1297 dalam Ash-Shughra dari Anas bin Malik radliyallaahu anhu; shahih).

Jangan kalian menjadikan kuburanku sebagai (tempat) hari raya dan jangan kalian jadikan rumah kalian sebagai kuburan. Dan bershalawatlah kepadaku dimanapun kalian berada karena sesungguhnya shalawat kalian (itu) sampai kepadaku (HR Abu Dawud no. 2042; shahih).

Karena shalawat merupakan ibadah, maka segala sesuatunya harus berdasarkan contoh dari Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam.